Anda di halaman 1dari 12

Gangguan Sistem Hormon Endokrin yang memicu Terjadinya Hipotiroid Kongenital

Juniati Marina
102013085
F4
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Email : paduatoni2@gmail.com
Pendahuluan
Di dalam tubuh manusia, sistem endokrin melalui hormone yang di sekresikan dan masuk
kedalam aliran darah umumnya mengatur aktivitas yang lebih memerlukan durasi dari pada
kecepatan. Kelenjar endokrin perifer mencangkup kelenjar tiroid yang mengontrol laju metabolic
basal tubuh. Kelenjar tiroid terdiri atas dua lobus jaringan endokrin yang di hubungkan di tengah
oleh suatu bagian sempit kelenjar sehingga organ ini berbentuk seperti dasi kupu-kupu. Berada di
atas trakea tepat di bawah laring. Hormone tiroid disintesis dan disimpan di molekul tiroglobulin.
Bahan dasar utrnuk sintesis hormone tiroid adalah tirosin dan iodium, dimana keduanya harus
diserap dari darah oleh sel folikel. Tirosin, suatu asam amino, di bentuk dalam jumlah memadai
oleh tubuh sehingga bukan suatu zat esensial dalam makanan. Sebaliknya, iodium yang di
butuhkan untuk sintesis hormone tiroid harus di peroleh dari makanan.1
Pada makalah ini akan di bahas mengenai kelainan yang berhungan dengan hormone tiroid
dalam tubuh yang memberikan gejala yang khas pada anak bayi berusia 2 bulan.
Skenario
Seorang ibu membawa anaknya yang berusia 2 bulan ke puskesmas karena jarang
menangis, lebih sering tidur dan malas menyusu. Bayi lahir cukup bulan dan di lahirkan secara
normal tanpa ada komplikasi. Keluhan lain di sertai sering konstipasi dan suara serak.
Catatan Tutor: Riwayat keluarga penyakit tiroid (+). Pemeriksaan Fisik:bayi tampak sedikit
kuning dan pucat, kurang aktif, ubun-ubun besar terbuka lebar, dull face, lidah besar, hipotonia,
hernia umbilikalis dan kulit kering. Laboratorium: TSH 45mikroU/ml, T4 3ug/ml. Pemeriksaan
anjuran: darah lengkap, skintigrafi kelenjar tiroid ( technetium-99 dan iodine-123), alternative
USG Tiroid.
1

Rumusan Masalah
Anak berusia 2 bulan dengan keluhan jarang menangis, lebih sering tidur dan malas menyusu.

Anamnesis
Analisis Masalah

Pemeriksaan fisik:
Inspeksi
Palpasi
Pergerakan

Pencegahan

RM

Komplikasi

Penatalaksanaan

Patofisiology

Pemeriksaan penunjang:
Rontgen
MRI
Radiografi
Diagnosis kerja
dan Diagnosis banding
Etiologi
Epidemiologi

Hipotesis
Bayi berusia 2 bulan tersebut menderita Hipotiroid congenital.
Pembahasan
Anamnesis
Tujuan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik adalah mengembangkan pemahaman
mengenai masalah medis pasien dan membuat diagnosis banding. Walaupun banyak kemajuan
dalam pemeriksaan diagnosis modern, namun anamnesis dan pemeriksaan fisik klinis masih
sangat diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Selain itu juga anamnesis ini
memungkinkan dokter untuk mengenali pasiennya serta latar belakangnya.2 Anamnesis yang baik
terdiri dari:

Identitas Pasien
Nama, tempat dan tanggal lahir, usia (2 bulan), alamat, jenis kelamin, suku dan bangsa,
agama, pekerjaan ibu, pendidikan terakhir ibu ?

Keluhan Utama
2

Ada keluhan apa datang kemari ? (anak jarang menangis tidak mau menyusu dan sering
tidur).

Riwayat Penyakit Sekarang


Sudah berapa lama keluhan tersebut di rasakan oleh si bayi ?
Ketika lahir menangis tidak ? lahirnya normal atau operasi ? usia ibu saat hamil anak ini
pada umur berapa ? anaknya lahir cukup bulan tidak ? berat abdan lahir normal tidak ?
o Keluhan lain:
Selain keluhan tersebut, ada keluhan lain tidak seperti demam ?
Apakah pasien mengalami penurunan denyut nadi ?
Waktu bayinya menangis terdengar suara serak tidak tangisannya ?
Apakah tangannya terasa gementar?
Apakah badan terasa panas dan lebih enak di udara dingin/panas?
Ada penurunan tidak dari berat badannya ? tinggi badannya seimbang tidak dari berat
badan ?
Apakah ada bengkak pada sekitar wajah atau bagian tubuh yang lain ?
Apakah anak mengalami kesulitan buang air besar?

Riwayat penyakit dahulu dan keluarga:


Apakah ibunya diketahui menghidap hipotiroidisme? Jika ya tanyakan mengenai terapi,
dosis dan durasi ?
Pada saat hamil ada mengalami penyakit tertentu tidak ?
Apakah sanak keluarga dekat pasien pernah ada riwayat penyakit tiroid maupun penyakit

metabolik lain?
Riwayat obat-obatan:
Apakah saat hamil ibu pernah mengkonsumsi obat-obatan seperti tiroksin dll ?
Apakah pasien pernah mendapatkan pengobatan atau resep dari dokter lain?
Riwayat Sosial:
Lingkungan tempat tinggalnya padat penduduk tidak ? bersih tidak ? di dataran tinggi
tidak ?
Pola makan ibu ketika hamil bagaimana ? makanannya baik tidak ? sering tidak makan

makanan yang mengandung iodium seperti garam, atau sayuran tertentu ?


Anamnesis Sistem

Setelah mendapat informasi dari semua pertanyaan di atas, selanjutnya kita


menanyakan hal-hal yang berada di luar dari keluhan pasien, guna untuk membantu dan
memperkuat saat kita menegakkan diagnosis. Dimana pertanyaann yang di berikan tentunya
di urutkan dari kepala sampai kaki. Agar kita tidak kehilangan satu informasipun.
Pemeriksaan fisik dan penunjang
Informasi yang didapatkan dalam anamnesis akan dapat diperkuat oleh hasil pemeriksaan
fisik. Saat akan melakukan pemeriksaan fisik, terlebih dahulu dokter wajib meminta izin pasien,
terutama bila pasien diharuskan membuka pakaian. Dokter harus menunjukkan sikap sopan dan
hormat, serta tidak menunjukkan kekakuan dan canggung. Pemeriksaan dilakukan secara
sistematik dan senyaman mungkin, mulai dari melihat keadaan umum pasien, tanda-tanda vital,
pemeriksaan jantung, paru, abdomen, dan ekstremitas.2
Jika dugaan berupa kelainan hipotiroid, pemeriksaan yang dapat dilakukan pertama kali
adalah inspeksi. Pada inspeksi, yang perlu diperhatikan adalah ada/tidak makroglosi, ada/tidak
wajah tipikal dengan ekspresi bodoh, ada/tidak hernia umbilikalis, ada/tidak letargi/tidak aktif,
ada/tidak hipotoni dari otot, ada/tidaknya gangguan pertumbuhan fisik (kekerdilan), dan
ada/tidaknya perkembangan mental yang terlambat.3
Kemudian pemeriksaan dilanjutkan ke palpasi, yaitu palpasi ubun-ubun untuk melihat
apakah ubun-ubun masih terbuka lebar, palpasi suhu kulit (pada kasus hipotiroid-hipotermi),
ada/tidak pembesaran tiroid, dan pengukuran lingkar kepala untuk mengecek ada tidaknya
miksudema otak. Dari pemeriksaan yang di lakukan terhadap pasien tersebut, di dapatkan bayi
tampak sedikit kuning dan pucat, kurang aktif, ubun-ubun besar terbuka lebar, dull face, lidah
besar, hipotonia, hernia umbilikalis dan kulit kering.
Pemeriksaan antropometri juga harus di lakukan untuk mengukur panjang badan, berat
badan dan lingkar kepala dari si bayi. Agar dapat mengetahui apakah berat badan dan tinggi
badannya seimbang dengan mengukur indeks massa tubuh anak tersebut.3
Bila pemeriksaan fisik belum mencukupi untuk mendiagnosa penyakit secara tepat,
biasanya dilakukan pemeriksaan penunjang, yang juga bisa digunakan untuk meyakinkan
diagnosa penyakit. Pemeriksaan penunjang terdiri dari:3
4

1) Pemeriksaan laboratorium
BMR (Basal Metabolic Rate), pemeriksaan ini sukar dan kurang dipercaya pada anak.
Kolesterol serum meninggi, alkalin fosfatase rendah, dan kadar karoten plasma meninggi.
Pemeriksaan khusus meliputi PBI menurun, hormone tiroid T3 dan T4 menurun, TSH
meningkat, dan ratio iodine uptake menurun.3
2) EKG dan EEG menunjukan voltase rendah
3) Refleksogram ( tendon Achilles) menunjukan reflex tendon yang meningkat.
4) Pemeriksaan Radiologi :
Seperti halnya ultrasonografi, CT Scan atau MRI merupakan pencitraan anatomi dan
penggunaannya lebih diutamakan untuk mengetahui posisi anatomi dari nodul atau
jaringan tiroid terhadap organ sekitarnya seperti diagnosis struma sub-sternal dan
kompresi trakea karena nodul,melihat pembesaran tiroid serta massa dari tiroid.4
Bone age Prediksi tinggi akhir. Pada hipotiroidisme ada ketidaksesuaian antara
bone age dan chronological age.5
Untuk menentukan penyebabnya maka dilakukan pemeriksaan sintigrafi kelenjar
tiroid. Radiofarmako yang digunakan adalah I-131,I-123 dan Tc99m pertechnetate.5
5) Pemeriksaan APGAR Skor
Diperhatikan/ dilakukan inspeksi dengan melihat wajah,tubuh dan kondisi umum bayi
saat datang ke dokter. Antara yang dapat dilihat pada anak dengan hipotiroid adalah:

Dicurigai adanya hipotiroid kongenital bila skor Apgar hipotiroid kongenital>5, namun
tidak ada tanda atau gejala yang tampak tidak menyingkirkan kemungkinan hipotiroid
kongenital.
Diagnosis kerja
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosa kerja/working
diagnosis yaitu Hipotiroid kongenital. Diagnosa ini dibuat atas dasar gejala klinis saat pasien
datang ke dokter seperti: bayinya sedikit kuning dan pucat, kurang aktif, ubun-ubun besar
terbuka lebar, dull face, lidah besar, hipotonia, hernia umbilikalis dan kulit kering.
Untuk mendapatkan diagnosa pasti, dilihat dari pemeriksaan penunjang seperti TSH yang
meningkat, T4 yang menurun serta dari radiologi/foto rontgen tiroid.
Perangkat diagnostik untuk Hipotiroid kongenital ialah:6

Skor Apgar Hipotiroid kongenital dengan nilai>5.


Nilai TSH >50 U/ml
Pemeriksaan USG Ada atau tidaknya goiter

Hipotiroidisme adalah hasil daripada produksi hormon tiroid yang berkurang atau kelainan
pada aktivitas reseptor hormon tiroid. Kelainan ini dapat dialami semenjak lahir atau didapat.
Apabila gejala timbul setelah periode fungsi tiroid yang tampak normal, kelainan tersebut dapat
besifat didapat, atau hanya sebagai hasil salah satu kelainan kongenital di mana manifestasinya
timbul dengan lambat.6
Diagnosis Banding
Adapun beberapa penyakit atau kelainan yang memiliki gejala atau tanda yang hamper sama
dengan hipotiroid congenital adalah:
1. Hipotiroidisme didapat
Merupakan kekurangan kadar hormon tiroid yang terjadi setelah kelahiran.
Penyebabnya adalah tiroiditis, pemakaian obat anti tiroid, tiroidektomi dan kelainan
hipofisis. Sedangkan ada juga jenis hipotiroidisme idiopatik dimana terjadi reaksi autoimun.
Pada hipotiroidisme didapat bisa ditemukan intoleransi terhadap dingin, kekerdilan,
gangguan perkembangan motorik dan mental, miksudema serta dapat disertai dengan goiter
6

maupun tidak disertai dengan goiter. Pada hipotiroidisme didapat, anak umumnya akan
bertambah berat badan namun tidak disertai pertambahan tinggi badan. Gangguan
pertumbuhan terjadi pada usia sekolah. Pada hipotiroidisme kongenital, didapati gangguan
pertumbuhan dari bulan-bulan awal kehidupan, sedangkan pada hipotiroidisme didapat
gangguan pertumbuhan ini cenderung terjadi pada usia sekolah.7
2. Sindrom Down
Merupakan kelainan dimana didapatkan 1 tambahan kromosom 21. Seperti pada
hipotiroidisme kongenital, bisa didapati adanya retardasi mental, hambatan pertumbuhan,
hipotonia dan makroglosi. Namun ada beberapa hal lain yang menyertai sindrom Down yang
tidak ditemukan pada hipotiroidisme kongenital, seperti bentuk garis tangan yang tipikal,
gangguan jantung kongenital dan pemisahan otot abdomen.3 merupakan sindroma autosomal
yang paling banyak terjadi pada manusia. Penyebabnya bermacam-macam, bisa karena
genetic, radiasi, infeksi, autoimun, umur ibu dan umur ayah juga berpengaruh dan masih
banyak factor-faktor yang lain yang di duga sebagai penyebab.3
Kecepatan pertumbuhan fisik anak dengan sindrom down lebih rendah bila di
bandingkan dengan anak yang normal. Selain itu anak dengan sindrom down juga biasa di
sertai dengan masalah pada saluran cerna atau dengan penyakit jantung bawaan yang berat,
juga lebih pendek jika di bandingkan dengan yang tampa komplikasi.3

Etiologi

Tiroid agenesis, tiroid disgenesis (aplasia, hipoplasia), tiroid ektopik sekitar 75-85%
Dishormogenesis ( TSH unresponsiveness, iodine trapping defect, defect organifikasi, defek
tiroglobulin, defisiensi stau insensitive terhadap TRH) sekitar 10-18%. Merupakan kelainan
terbanyak kongenital karena kelainan genetik autosomal resesif. Hal ini disebabkan oleh
defek pada biosintesis hormone tiroid yang menyebabkan hipotiroid congenital. Goitre sering
ditemukan pada pada pasien ini. Apabila defek yang terjadi tidak total, kompensasi dapat
terjadi dan gejala hipotirod akan terjadi lebih lambat.

Defek tiroid peroksidase.6

Hal ini akan menyebabkan defek pada pembentukan T4. Iodide yang terperangkap di
dalam kelenjar tiroid akan segera dioksidasi menjadi iodine kemudian akan bergabung
dengan tirosin yang terikat dengan tiroglobulin. Proses ini memerlukan H 2O2, tiroid
peroksidase dan hematin (enzim kofaktor) dan defek dapat terjadi pada salah satu komponen
tersebut.

Resistensi jaringan perifer terhadap hormone tiroid.


Merupakan sindrom akibat dari tidak responsifnya jaringan target terhadap hormon tiroid,
ditandai dengan meningkatnya kadar FT4 dan FT3 dalam sirkulasi dengan kadar TSH sedikit
meningkat atau normal.

Pengobatan ibu dengan obat antitiroid


Dapat terjadi pada ibu yang diberikan obat antitiroid (PTU atau karbimasol atau metimasil)
untuk penyakit graves, bayinya ditandai oleh pembesaran kelenjar tiroid, sehingga dapat
mengakibatkan gangguan pernafasan, khususnya bila diberikan obat yang dosisnya tinggi.

Sintesis atau sekresi TSH berkurang.6


Hipotiroid sentral disebabkan karena kelainan pada hipofisis atau hipotalamus. Pada bayi
sangat jarang dengan prevalensi antara 1 : 25.000sampai 1: 100.000 kelahiran.

Epidemiologi
Prevalensi di seluruh dunia sekitar 1:3000-4000. pada penderita sindrom down insiden
hipotiroid congenital lebih tinggi, yaitu 1:141. tidak ada perbedaan kasus ini berdasarkan jenis
kelamin, tetapi penelitian lain mengatakan perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki, taitu 2:1.8
Patofisiologi8
Kelenjar tiroid terbentuk pada usia 34 hari gestasi sebagai suatu divertikulum, yaitu suatu
pertumbuhan dari endoderm pada bucopharyngeal cavity. Kelenjar tiroid yang berkembang turun
ke leher anterior dan mencapai posisi orang dewasa setinggi C5-7 pada minggu ke 7 gestasi.
Proses migrasi ini dapat berhenti yang mengakibatkan terjadinya hipotiroid ektopik.

Paqda umur gestasi 10-11 minggu, kelenjar tiroid sudah mampu di hasilkan hormone
tiroid, namun kadarnya masih sedikit. Saat gestasi 18-20 bulan, kadar T4 (tiroksin) dalam
sirkulasi darah fetus semakin mencapai kadar normal. Produksi T3 ( Triiodotironin) tergantung
dari maturasi enzim deiodinase hepar, yaitu sekitar umur 30 minggu.8
Kelenjar tiroid membutuhkan tirosin dan iodium untuk membuat T3 san T4. Iodium
masuk kedalam sel folikel kelenjar tiroid dengan cara transport aktif. Di dalam sel iodium akan
di oksidasi oleh ensim tiroid peroksidase mennjadi iodide. Kemudian terjadi orgtanifikasi, yaitu
iodide akan berikatan dengan molekul tirosin sehingga terbentuk monoiodotirosin (MIT) dan
Diiodotirosin (DIT), kemudian terjadi proses coupling. Dua molekul DIT akan membentuk
tetraiodotironin=Tiroksin (T4) dan satu molekul MIT dengan satu molekul DIT akan membentuk
triiodotironin(T3). TSH akan mengaktifkan enzim-enzim yang di butuhkan oleh melepaskan
ikatan T3 dan T4 dari tiroglobulin. T4 merupakam hormone utama yang di produksi dan di
lepaskan oleh kelenjar tiroid dan hanya 10-40% dari T3 dalam sirkulasi yang di lepaskan ,
sedangkan sisanya dihasilkan dari proses monodeiodonisasa dari T4 di kelenjar perifer.
T3 merupakan mediator utama yang mempunyai efek biologis dari kelenjar tiroid dengan
mengadakan interaksi dengan reptor nuclear spesifik. Bila terjadi abnormalitas dari reseptor
tersebut menjadi resisten hormone tiroid. Pemeriksaan T3 di lakukan bila di curigai adanya
resisten hormone tiroid yaitu di temukan gejala klinis hipotiroid namun kadar T4 dan TSH nya
normal, serta di buktikan tidak adanya kelainan kadar T3.
Pengaruh kadar hormone tiroid ibu terhadap fetus sangat minimal, tetapi pennyakit tiroid
ibu dapat dapat mempengaruhi fungsi kelenjar tiroid fetus atau neonatus. Hormone T4 dapat
melewati plasenta secar bebas, sedangkan hormone-hormon tiroid lain tidak. Immunoglubulin G
autoantibodi, seperti pada autoimmune tiroiditis dapat melalui plasenta dan menghambat fungsi
tiroid. Selain itu, thionamide yang digunakan untuk menangani hipertiroid pada maternal juga
dapat menghambat sintesis hormone tiroid pada bayi.
Hormon tiroid mempunyai fungsi yang penting pada perkembangan otak pada bayi. Hormon
tiroid adalah untuk mielinasi dan untuk menghubungkan antara neuron. Saat paling critical untuk
efek hormon tiroid pada perkembangan otak ialah pada bulan-bulan pertama kelahiran.8
Hipotiroidisme kongenital merupakan keadaan dimana tubuh tidak dapat memproduksi
hormon tiroid secara adekuat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor pencetus seperti yang telah
dijabarkan sebelumnya. Hipotiroid dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan letak defek, yaitu
9

hipotiroidisme pirmer dan sekunder.Pada hipotiroidisme primer, defek terjadi langsung pada
kelenjar tiroid itu sendiri, bisa disebabkan agenesis ataupun disgenesis, bisa karena kelenjar
tiroid yang nonresponsif terhadap TSH, dan dapat pula karena sintesis hormon yang tidak
adekuat secara terus menerus. Yang kedua adalah hipotiroidisme sekunder, yaitu keadaan dimana
kerusakan bukan berasal dari kelenjar, namun berasal dari tempat lain, misalnya hipothalamus,
hipofisis, salurn cerna, penyakit autoimun, dan defek kromosom.
Gejala Klinis
Gejala hipotiroid yang khas sering kali ringan atau tidak ada selama minggu-minggu
pertama kehidupan.
Menifestasi klinis awal berupa letargi, malas minum ( menyusu), kurang aktif, distress
pernafasan,hipotonia otot, fontanel anterior, dan posterior terbuka dan lebar, pucat, sianosis
perifer, suara tangis serak, konstipasi, hipotermi, dan prolonged physiologyc jaundice.
Menifestasi klinis lanjut berupa depresi nasal bridge, muka yang sempit, kelopak mata
bengkak, kulit kasar tebal dan kering, rambut kasar, lidah besar, distensi abdomen, hernia
umbilikalis, reflex menurun, bradikardia, kardiomegali, efusi pericardial asimptomatik,
hipotensi, tuli neurosensoris, anemia tak berespon terhadap besi, gangguan pertumbuhan dan
perkembangan, retardasi mental, maturasi seksual terhambat, dan lain-lain.8
Penatalaksanaan
Medikamentosa
Tindakan utama pengobatan hipotiroid congenital adalah diagnosis dini dan replacement
hormone tiroid. Waktu paling baik pemberian hormone tiroid bila diagnosis dapat di tegakkan
sebelum bayi berumur 13 hari dan kadar hormone tiroid dalam darah mencapai normal dalam
umur 3 minggu.8
Obat yang di berikan adalah Na-Levotiroksin. Dosis obatnya berbeda-beda menurut umur pasien
dan juga berdasarkan respon klinis maupun laboratorium terhadap terapi yang di berikan.
Dosis : Umur

dosis (ug/Kg)

0-3 bulan

10-15

3-6 bulan

8-10

6-12 bulan

6-8
10

1-5 tahun

5-6

6-12 tahun

4-5

>12 tahun

2-3

Tanda-tanda overtreatment yang harus di evaluasi selama terapi hormone adalah


nervousness, hiperaktif, kecemasan, takikardia, palpitasi, tremor, demam, diaphoresis, keluham
di perut, berat badan menurun.8
Komplikasi
Terapi berlebihan dengan Na-L-Tiroksin menyebabkan nervousness, hiperaktif, kecemasan,
takikardia, palpitasi, tremor, demam, diaphoresis, keluham di perut, berat badan menurun.
Dosis berlebihan untuk jangka waktu panjang menyebabkan timbulnya osteoporosis,
sinostosis pramatur sutura tengkorak, serta kemajuan umur tulang yang tidak semestinya.
Secara umumnya, komplikasi dari hipotiroid kongenital ialah: Retardasi mental, hambatan
pertumbuhan, kelainan jantung.
Pencegahan
Dengan pemeriksaan skrining rutin untuk hipotiroid yang di lakukan pada semua bayi
yang baru lahir. Skrining yang baik akan membantu dokter mendiagnosa hipotiroidisme
kongenital dalam 3 minggu pertama kehidupan dan seterusnya dapat menghilangkan serta
meminimalisasi gejala sisa dengan pengobatan dini dan adekuat.3
Uji tapis ini dilakukan dengan kombinasi pengujian T4 dan TSH atau hanya dengan
pengujian TSH. Akan tetapi, 5-7% bayi dengan hipotiroidisme congenital akan tidak terdeteksi
pada program uji tapis bayi baru lahir sehingga bayi-bayi ini harus didiagnosis berdasarkan
gambaran klinis.3
Prognosis
Apabila di tangani dengan cepat dan baik maka akan menghasilkan prognosis yang baik.
Karena makin awal pengobatan akan semakin baik. 3 Meskipun demikian, ada study yang
menunjukan bahwa walaupun di terapi sedini mungkin dikatakan tetap ada kelainan intelektual
meski sedikit.8
Penutup
Kesimpulan
Hipotesis di terima. Seorang bayi berusia 2 bulan dengan keluhan jarang menangis, tidak
mau menyusu dan sering tidur tersebut, di sertai dengan pemeriksaan fisik di temukan tampak
11

sedikit kuning dan pucat, kurang aktif, ubun-ubun besar terbuka lebar, dull face, lidah besar,
hipotonia, hernia umbilikalis dan kulit kering di diagnose menderita Hipotiroid Kongenital.
Hipotiroidisme kongenital merupakan keadaan dimana tubuh tidak dapat memproduksi
hormon tiroid secara adekuat, sehingga penanganannya yaitu harus di berikan hormon tiroid
dalam dosis yang benar agar tidak sampai terjadi komplikasi dan mendapatkan prognosis yang
baik.

Daftar pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2009. H. 757-8.
2. Setiyohadi SB. Anamnesis. Dalam:Alwi I,Setia S, Simardibrata MK, Sudoyo AW. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-5 jilid 1. Jakarta:EGC;2009.h.25,77-9.
3. Sudjiningsih, Gde R. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC;2005.h.203-11.
4. Patel P.R. Tiroid. Lecture Notes Radiologi. Edisi kedua. Erlangga Medical Series. Jakarta:
2007.
5. Hassan R, Alatas H. Hipotiroidisme, Sindrom Down. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Vol
I.

11th

ed.

Bagian

Ilmu

Kesehatan

Anak

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Indonesia:2007.p217-20,266-8.
6. Fisher D.A.Hipotiroidisme kongenital. Buku Ajar Pediatri Rudoplh. Vol.III. 20th ed. Buku
Kedokteran EGC. Jakarta: 2007.p1930-5.
7. Roberts CG, Ladenson PW. Hypothyroidsm. New York : Lancet, 2004. p. 793-803.
8. Giri MA. Mengenal Kasus-Kasus Endokrin Anak. Surabaya: FKUNS;2011.h.10-13,

12