Anda di halaman 1dari 21

MEKANIKA BATUAN

DISTRIBUSI TEGANGAN DI SEKITAR


TEROWONGAN

OLEH
KELOMPOK I
Alexandro Vendi Themone (1206107037)
Alfred H.S. Talan

(1206107043)

Altar S. Paringlau

(1206107030)

Bagus Putra Mahardika

(1206101004)

Damiana R. Septin

(1206107047)

Gabriel Ch. Boymau

(1206101016)

Maria Mersi Bunganaen

(1206101012)

Simplisius Ngadhu Sawu

(1206101020)

Sulaiman Triswandy Jo

(1206107036)

Videntus M. Abraham

(1206101008)

UNIVERSITAS NUSA CENDANA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
KUPANG
2015

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha
Esa yang telah memberkati kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Kami juga ingin
mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data pada makalah ini.
Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam
berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna.
Begitu pula dengan makalah ini yang telah kami selesaikan. Tidak semua hal dapat kami
deskripsikan dengan sempurna dalam makalah ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin
dengan kemampuan yang kami miliki. Di mana kami juga memiliki keterbatasan
kemampuan. Maka dari itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan
dan juga kekurangan, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman
dan dosen mata kuliah ini. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu
loncatan yang dapat memperbaiki makalah penelitian kami di masa datang. Sehingga semoga
makalah penelitian berikutnya dan makalah lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih
baik.
Dengan menyelesaikan makalah ini kami mengharapkan banyak manfaat yang dapat
dipetik dan diambil dari makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberi
tahukan tentang Distribusi Tegangan Di Sekitar Terowongan.

Kupang, Januari 2015

Penulis ddd

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................................i
Daftar Isi ..............................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan ............................................................................................................1
1.1......................................................................................................................................
Latar Belakang ...........................................................................................................1
1.2......................................................................................................................................
Rumusan Masalah ......................................................................................................2
1.3......................................................................................................................................
Tujuan .........................................................................................................................2
1.4......................................................................................................................................
Manfaat .......................................................................................................................2
BAB II Pembahasan ............................................................................................................3
2.1......................................................................................................................................
Terowongan ..................................................................................................................3

2.2. Tegangan .....................................................................................................................4


2.3. Disrtibusi Tegangan Disekitar Terowongan ....................................................................6
BAB III Penutup .................................................................................................................15
3.1. Kesimpulan ................................................................................................................15
3.2. Saran ..........................................................................................................................15
Daftar Pustaka .....................................................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Dalam dunia pertambangan terowongan bukanlah merupakan hal yang baru,
istilah ini telah lama dikenal sejak dilakukannya penggalian lubang bukaan untuk
keperluan penambangan bijih atau batubara (coal). Secara umum istilah terowongan
didefinisikan sebagai lubang bukaan yang dibuat dengan dua buah lubang bukaan
yang saling berhubungan langsung atau dengan kata lain bahwa dua buah lubang
bukaan harus menembus bagian kerak bumi.
Namun dengan berkembangan pengetahuan dan teknologi, terowongan bukan
hanya dibuat untuk kepentingan penggalian atau penambangan saja, tetapi untuk kepentingan masyarakat.
Tegangan menunjukan kekuatan gaya yang menyebabkan perubahan bentuk
benda. Secara sederhana tegangan didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya
yang bekerja pada benda dengan luas penampang benda.
Dibuatnya suatu lubang bukaan pada massa batuan, akan mengakibatkan
perubahan distribusi tegangan pada massa batuan tersebut, terutama disekitar lubang
bukaan tersebut. Sebelum lubang bukaan dibuat, pada titik-titik didalam massa batuan
bekerja tegangan mula-mula (initial stress). Tegangan mula-mula pada suatu titik
dalam massa batuan merupakan hasil dari berbagai peristiwa geologi dalam massa
batuan .Oleh karena tegangan mula-mula yang ada pada massa batuan mungkin
merupakan resultan dari berbagi kondisi tegangan yang ada sebelumnya.
Bagi perancang atau pembuat terowongan, massa batuan atau tanah yang
berada di daerah penggalian terowongan merupakan material konstruksi. Penggalian
pada massa tanah atau batuan membawa perubahan kondisi tegangan di area
sekitarnya dan ruang akibat penggalian menyebabkan terjadinya displacement. Akibat
lain adalah terjadinya degradasi tegangan tanah atau batuan di area penggalian yang
bersifat merugikan bagi stabilitas.Sehingga sangat perlu sekali diketahui dan dimengerti
karakteristk teknik dari massa batuan atau tanah tersebut.

Karena itu perlu dilakukan perhitungan mengenai distribusi tegangan,


perhitungan mengenai distribusi tegangan ini ditujukan untuk terowongan yang
dibangun baik, ideal dan aman untuk digunakan, sehingga meminimalisir kejadian
yang tidak diinginkan pada saat digunakan.

1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan terowongan ?
2. Apa yang di maksud dengan tegangan ?
3. Apa saja jenis dari distribusi tegangan disekitar terowongan ?
1.3.
Tujuan
Adapun tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui tentang distribusi
tegangan disekitar terowongan.
1.4.
Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah :
1 Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang distribusi tegangan disekitar
terowongan.
2 Agar mahasiswa dapat mengaplikasikan apa yang telah dipelajari tentang pentingnya
mempelajari perhitungan distribusi tegangan disekitar terowongan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Terowongan
Terowongan adalah lubang bukaan mendatar atau sedikit miring yang dibuat di bawah tanah, gu
nung, sungai, laut, daerah industri, bahkan pemukiman padat
penduduk. Ada dua tujuan utama manusia membuat terowongan. Terowongan
yang dibuat untuk mengambil bahan galian dibawah tanah, dikenal dengan dengan
terowongan tambang. Terowongan yang dibuat untuk menembus rintangan alam atau rintangan yang di
buat oleh manusia disebut terowongan sipil.
Konsep perancangan lubang bukaan adalah sesuatu hal yang relatif baru.
Konsep ini berbeda dengan konsep perancangan struktur pada teknik sipil pada umumnya. Metod
a pelaksanaan memegang peranan yang sangat besar dalam konsep rancangan terowongan.
Metode-metode pembuatan terowongan
Berbagai macam metode pembuatan terowongan pada batuan maupun tanah telah dikemba
ngkan oleh manusia. Metode-metode tersebut memiliki karakteristik masing-masing, baik itu kelebihan
maupun kekurangan. Tetapi secara umum
metode pembuatan lubang bukaan terowongan dapat dikelompokkan menjadi 2
a. cara portal
b. cara open cut

Gambar . Penggalian Permukaan Lubang Bukaan

bagian, yaitu :

2.2. Tegangan
Dalam mekanika bahan, pengertian tegangan tidak sama dengan vektor tegangan.
Tegangan merupakan tensor derajat dua, sedangkan vektor, vektor apapun, merupakan tensor
derajat satu. Besaran skalar merupakan tensor derajat nol. Tensor ialah besaran fisik yang
keadaannya pada suatu titik dalam ruang, tiga dimensi, dapat dideskripsikan dengan

3n

komponennya, dengan n ialah derajat tensor tersebut. Dengan demikian, untuk persoalan tegangan
tiga dimensi pada suatu titik dalam ruang dapat dideskripsikan dengan 3 2 komponennya. Pada
sistem koordinat sumbu silang, tegangan tersebut adalah xx , yy , zz , txy , tyx , txz , tzx , tyz , dan tzy
seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1(a). Namun demikian, karena t xy = tyx , txz = tzx dan tyz = tzy
, maka keadaan tegangan tersebut dapat dinyatakan dengan enam komponennya, xx , yy , zz , txy ,
txz , tyz. Sedangkan untuk tegangan bidang, dua dimensi, pada suatu titik dapat dideskripsikan
dengan 22 komponennya, Gambar 1.1(b), dan karena tij = tji untuk maka tiga komponen telah dapat
mendeskripsikan tegangan bidang pada titik itu.

Pada dasarnya, tegangan secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni
tegangan normal, dengan notasi sij , i = j, serta tegangan geser dengan notasi t ij , . Perhatikan
penulisan pada paragrap di atas. Karakter indek yang pertama menyatakan bidang tempat bekerjanya
gaya, sedangkan karekter indek yang kedua menyatakan arah bekerjanya vektor tegangan tersebut.
Tegangan normal ialah tegangan yang bekerja tegak lurus terhadap bidang
pembebanan. Sedangkan tegangan geser ialah tegangan yang bekerja sejajar dengan bidang
pembebanan. Jadi keenam tegangan yang mendeskripsikan tegangan pada suatu titik terdiri atas tiga
tegangan normal, xx , yy , dan zz , serta tiga tegangan geser, txy , tyz , dan tzx. Nilai tegangan bisa
positif dan bisa pula negatif. Tegangan bernilai positif bila tegangan tersebut bekerja pada bidang
positif dengan arah positif, atau bekerja pada bidang negatif dengan arah negatif. Selain itu, nilainya
negatif.

Besar tegangan rata-rata pada suatu bidang dapat didefinisikan sebagai intensitas gaya yang
bekerja pada bidang tersebut. Sehingga secara matematis tegangan normal rata-rata dapat dinyatakan
sebagai

F
ij n
A

ij

,i=j

(1a)

= tegangan normal rata-rata (N/mm2 = MPa)

Fn

= gaya normal yang bekerja (N)

= luas bidang (mm2)

i, j

= sumbu koordinat pada sistem sumbu silang, x, y, z

Sedangkan tegangan geser rata-rata dapat dinyatakan sebagai

ij

ij

Ft
,
A

i j

(1b)

= tegangan geser rata-rata (N/mm2 = MPa)

Ft = gaya tangensial atau sejajar bidang yang bekerja (N)


A = luas bidang (mm2)
Bila bidang yang menerima pembebanan tersebut dipersempit sampai akhirnya mendekati
nol, dalam artian limit maka akan didapat tegangan pada suatu titik. Sehingga secara matematis
tegangan normal pada suatu titik dapat dinyatakan

Fn
d Fn

A 0 A
dA

ij lim

i, j

= x, y, z

i=j

(2a)

Sedangkan tegangan geser pada suatu titik, secara matematis dapat dinyatakan sebagai
F t d Ft

,
A 0 A
dA

ij lim

(2b)
i j

2.3 Disrtibusi tegangan disekitar terowongan


Disrtibusi tegangan disekitar terowongan dibagi menjadi 7 yaitu :
1. Distribusi tegangan sebelum dibuat terowongan
2. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk keadaan yang paling ideal
3. Distribusi tegangan pada terowongan bentuk lingkaran dan elips

4. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk tegangan mula-mula tidak


hidrostatik
5. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk batuan yang tidak isotrop (orthotrop)
6. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk batuan yang mempunyai perilaku plastik
sempurna di sekeliling terowongan
7. Distribusi tegangan di sekitar terowongan yang berbentuk tidak bulat untuk keadaan yang
paling ideal
2.3.1

Distribusi Tegangan Sebelum Dibuat Terowongan


Dibuatnya sebuah atau beberapa terowongan di bawah tanah akan mengakibatkan perubahan

distribusi tegangan (stress distribution) di bawah

tanah, terutama di dekat terowongan-terowongan

tersebut.
Sebelum terowongan dibuat, pada titik-titik di dalam massa batuan bekerja tegangan mulamula (initial stress). Tegangan mula-mula ini sukar diketahui secara tepat), baik besarnya maupun
arahnya. Baru sekitar 20 tahun yang lalu dengan cara pengukuran tegangan in-situ dapat diketahui
lebih banyak mengenai tegangan mula-mula ini.
Tegangan mula-mula ada 3 macam, yaitu :
a. Tegangan gravitasi (gravitational stress) yang terjadi karena berat dari tanah atau batuan
yang berada di atasnya (overburden).
b. Tegangan tektonik (tectonic stress) terjadi akibat geseran-geseran pada kulit bumi yang
terjadi pada waktu yang lampau maupun saat ini, seperti pada saat terjadi sesar dan lainlain.
c. Tegangan sisa (residual stress) adalah tegangan yang masih tersisa, walaupun penyebab
tegangan tersebut sudah hilang yang berupa panas ataupun pembengkakan pada kulit
bumi.
Jika tegangan tektonik dan tegangan sisa tidak ada atau dapat diabaikan karena kecilnya pada
suatu daerah yang akan dibuat terowongan maka

tegangan mula-mula hanya berupa tegangan

gravitasi yang dapat dihitung secara teoritis sebagai berat persatuan luas dari tanah/batu yang terdapat
di atasnya, atau dapat ditulis sebagai :
O = H
dengan :
O = tegangan mula-mula

2.3.2

= density tanah/batu di atasnya

= jarak dari permukaan tanah

Distribusi Tegangan Di Sekitar Terowongan Untuk Keadaan Yang Paling Ideal


Untuk memudahkan perhitungan distribusi tegangan disekitar terowongan maka digunakan

asumsi-asumsi sebagai berikut :


a. Geometri dari terowongan
-

Penampang terowongan merupakan sebuah lingkaran dengan jari- jari R.

Terowongan berada pada bidang horisontal.

Terowongan terletak pada kedalaman H >> R (H > 20 R).

Terowongan sangat panjang, sehingga dapat digunakan hipotesa regangan bidang (plane
strain).

b. Keadaan batuan.
-

Kontinu.

Homogen.

Isotrop.

c. Keadaan tegangan mula-mula (initial stress) hidrostatik.


0
0 0
0
0
0

0
0 0

O = H, dengan = density batuan, H = kedalaman

Symmetrical revolution di sekeliling 0z.

Gambar 2.1. Koordinat Silinder


Luas ds = A' B' C' D'
OA = r
OB = r + dr
= tegangan tangensial
r = tegangan radial

Kesetimbangan pada Or :
r
d

r
r.r.d. (r +
dr) (r + dr) d + . 2 .dr.2 + Fr.dV = 0

r
r
r.r.d r.r.d r.dr.d r. r .dr.d - r .(dr)2.d + dr.d+

Fr.dV = 0
r
r .(dr)2.d dan Fr.dV dapat diabaikan sehingga didapat :

r
r r r = 0

Kesetimbangan pada Oz :
z.ds (z + dz).ds + Fz.dV = 0

z
z .dz.ds + Fz.dV = 0

Fz.dV dapat diabaikan sehingga didapat :


z
z =0

z = konstan

Kesetimbangan terowongan :

r
(1) r r r = 0
r
(2) r = 0

z = konstan

Perpindahan dan regangan :


u = perpindahan radial
du AB A ' B'

AB
r = dr
2r 2 (r u)
u
2r
=
= r

Elastik linier (Hukum Hooke) :


r

r = E - E ( + z)

= E - E (r + z)
z

z = E - E (r + ) z = (r + ) r = -

0
0 0
r
0

0 0
0

0
0
0 0

0

0

0
r

0 0
0
z

Keadaan tegangan sebelum dan sesudah penggalian


( r )
r
r r
=0

r
( r )
r

r
r =2 r
-2r r
=0

Untuk
r=0:
r = 0
r = -0 K = - R2 x 0
R2
2
r = 0 0 r

r = r 2

0
0

R2
2
= 0 + 0 r

2.3.3

Distribusi Tegangan Pada Terowongan Bentuk Lingkaran Dan Elips

v
2

(1 k )(1

a2
a4
)

(
1

k
)(
1

3
)Cos 2
2
4
r
r

Tegangan tangensial :

v
a2
a2
a4
(1 k )(1 2 ) (1 k )(1 4 2 3 4 )Cos 2
2
r
r
r

Tegangan Radial :

rr =

v
2

(1 k )(1

r =

2a 2 3a 4
4 ) Sin 2
2
r
r

Tegangan Geser :

2.3.4

Distribusi Tegangan Di Sekitar Terowongan Untuk Tegangan Mula-Mula Tidak


Hidrostatik

Tegangan Vertikal (v) 0, Tegangan Horisontal (h) = 0, Tegangan di sekitar lubang


bukaan (terowongan dengan penampangnya berbentuk lingkaran) diberikan oleh rumus di
bawah ini (Duffaut, 1981) :
r

v
R 2 v
R4
R2
(1
)
(1 3
4
) cos 2
2
4
2
2
2
r
r
r
=

v
R 2 v
R4
(1
)
(1 3
) cos 2
2
r2
r4
= 2

v
R4
R2
(1 3
2
) sin 2
2
r4
r2

Tegangan tangensial pada kontur lingkaran :


=

3h - v

2h

v + h

2v

3v - h

untuk = 0

untuk = /6
untuk = /4

untuk = /3
untuk =/2

Dapat dilihat bahwa semua tarikan (tensile) tangensial akan hilang jika h mencapai harga
v/3 dan untuk v = h semua = 2v. Jika terowongan tidak berbentuk lingkaran kontur
yang tidak isotrop (kontur elips) maka tegangan ekstrim pada sumbu lubang bukaan.
2.3.5

Distribusi Tegangan Di Sekitar Terowongan Untuk Batuan Yang Tidak Isotrop


(Orthotrop)
Dalam hal elastik orthotrop di mana ada dua modulus yang tegak lurus E 1 dan E2, untuk

sistem pembebanan uniaksial, distribusi tegangan tidak dipengaruhi, hanya deformasinya. Jadi
distribusi yang didapat dari perhitungan sebelumnya tetap berlaku. Contoh batuan yang tidak isotrop
yaitu batuan yang berlapis seperti batuan metamorf berupa sekis atau skis yang berfungsi memperkuat
batuan dan arah perlapisan.
Ketidakisotropan dari batuan sangat mempengaruhi kekuatan dari batuan tersebut. Misalnya
kuat tekan dari batuan yang berlapis (schist) dapat bervariasi dari 1 sampai 10 kali lipat atau lebih dan
merupakan fungsi dari arah perlapisan.
Sebuah lubang bukaan dengan penampang berbentuk lingkaran dibuat di dalam massa batuan
yang berlapis, di mana kekuatan batuan tersebut digambarkan seperti mengalami tegangan
hidrostatik. Failure timbul pada kontur bagian tengah di mana sudut perlapisan dengan kontur 40 o
sampai 70o (kuat tekan batuan rendah).

Fenomena ini akan diperburuk oleh tegangan prinsipal mayor yang tegak lurus pada arah
perlapisan. Daerah tarikan pada sebuah lubang bukaan (tegangan adalah uniaksial) mempunyai
pengaruh yang berbeda posisinya terhadap perlapisan.
Antara nilai ekstrim 115 dan 62 MPa variasinya adalah diskontinu. Nilai minimum antara
sudut 20 dan 70. Evolusi dari kontur terowongan dalam dengan penampang berbentuk bulat pada
batuan schist.

2.3.6

Distribusi Tegangan Di Sekitar Terowongan Untuk Batuan Yang Mempunyai Perilaku


Plastik Sempurna Di Sekeliling Terowongan
Misalkan kurva intrinsik batuan memotong lingkaran Mohr yang menggambarkan tegangan

pada kontur lubang bukaan dan perilaku batuan sesudah kuat tekannya dilampaui dicirikan oleh
deformasi (strain) tak berhingga (perilaku plastik sempurna).
Pembuatan lingkaran Mohr dapat menentukan tegangan pada dinding (lingkaran Mohr
untuk kuat tekan, rR = 0, R = C). Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk batuan yang
mempunyai perilaku plastic sempurna dicirikan dari akibat tegangan yang disrap oleh devormasi
plastic pada daerah lingkaran yang diatasi oleh daerah elastic dari lingkungan berjari- jari R.
Daerah elastik dibatasi oleh lingkaran yang berjari-jari R'. Akibat dari tegangan diserap oleh
deformasi plastik pada daerah lingkaran sebelah dalam. Jari-jari R' dapat dihitung dengan membuat
beberapa hipotesa (dihitung oleh Katsner, untuk sebuah kurva intrinsic yang linier (Duffaut, 1981)) :

R = R
dengan

2 0 ( 1) c 1

c
1

:
R' =jari-jari daerah plastik
R = jari-jari lubang bukaan

1 sin

tan2
4 2
= 1 sin
= sudut geser dalam
Jari-jari ini dapat tak terhingga untuk batuan yang tidak mempunyai kohesi, jadi kestabilan
tidak mungkin dicapai tanpa penyangga (support). Rumus di atas dapat dipermudah jika diambil sudut
geser dalam () =19,5o = Arc sin 1/3 sehingga = 2.

R =
2.3.7

2R 0
1

3 c

Distribusi Tegangan Di Sekitar Terowongan Yang Berbentuk Tidak Bulat Untuk


Keadaan Yang Paling Ideal
Memperlihatkan distribusi tegangan pada garis keliling terowongan dengan berbagai bentuk

penampang terowongan dan berbagai keadaan tegangan mula-mula untuk keadaan yang paling ideal.
Distribusi tegangan disekitar terowongan yang dibentuk tidak bulat untuk keadaan yang paling ideal
ini berdasrkan tegangan garis-garis terowongan dengan berbagai bentuk penampang dan berbagai
tegangan mula-mula untuk keadaan paling ideal. Ritasinya H = tegangan horizontal, v = tegangan
verikal sebelum penggalian terowongan, Q = tegangan tangensial untuk tiap garis terowongan.
Lingkaran mor untuk mengetahui tegangan yang terjadi pada dinding.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan maka kesimpulan yang dapat kita ambil
adalah:
a) Terowongan adalah lubang bukaan mendatar atau sedikit miring yang dibuat di bawah ta
nah, gunung, sungai, laut, daerah industri, bahkan pemukiman padat penduduk. Ada dua
tujuan utama manusia membuat terowongan. Terowongan yang dibuat untuk mengambil
bahan galian dibawah tanah, dikenal dengan dengan
terowongan tambang. Terowongan yang dibuat untuk menembus rintangan alam atau ri
ntangan yang dibuat oleh manusia disebut terowongan sipil.
b) Tegangan merupakan tensor derajat dua, sedangkan vektor, vektor apapun, merupakan
tensor derajat satu. Besaran skalar merupakan tensor derajat nol. Tensor ialah besaran
fisik yang keadaannya pada suatu titik dalam ruang, tiga dimensi, dapat dideskripsikan
dengan 3n komponennya, dengan n ialah derajat tensor tersebut
c) Disrtibusi tegangan disekitar terowongan dibagi menjadi 7 yaitu :
1. Distribusi tegangan sebelum dibuat terowongan
2. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk keadaan yang paling ideal
3. Distribusi tegangan pada terowongan bentuk lingkaran dan elips

4. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk tegangan mula-mula tidak


hidrostatik
5. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk batuan yang tidak isotrop (orthotrop)
6. Distribusi tegangan di sekitar terowongan untuk batuan yang mempunyai perilaku plastik
sempurna di sekeliling terowongan
7. Distribusi tegangan di sekitar terowongan yang berbentuk tidak bulat untuk keadaan yang
paling ideal.
3.2 Saran
Pengetahuan mengenai distribusi tegangan disekitar terowongan adalah suatu kegiatan
yang sangat penting dan sangat bermanfaat bagi seorang mahasiswa jadi saran penulis yaitu :
1. Perlunya pengetahuan mendalam beserta praktikum langsung di lapangan
mengenai tegangan disekitar terowongan agar mahasiswa mampu mengerti dengan
lebih baik lagi.

2. Bagi mahasiswa tambang agar mempelajari lebih serius tegangan disekitar


terowongan agar mampu memperhatikan keselamatan dalam penambangan di
dunia kerja nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
Bonvallet, J., Essai en verin plat et determination de charactristique mcaniques, DEA, Institut
National Polytechnique de Lorraine, Nancy, France, 1976.
Coates, D.F.,Principes de la mcanique des roches, Monographic 874 (revision 1970), Direction des
Mines, Ministre de LEnergie des Mines et des resources, Ottawa, Canada.
Duffaut, P., Stabilite des Cavits Souterraines, BRGM, France, 1981.
Jaeger, J.C. dan N.G.W. Cook, Fundamentals of Rock Mechanics, Second Edition, John Wiley &
Sons., Inc., New York, 1976

Jumikis, A.R., Rock Mechanics, Second Edition, Trans Tech. Publications, ClausthalZellerfeld, Federal Republic of Germany, 1983.
Obert, L. dan W.I. Duvall, Rock Mechanics and the Design of Structures in Rock, John
Wiley & Sons, Inc., New York,1967.
Talobre D.F., La Mcanique des Roches, Deuxieme Edition, Dunod, Paris, 1967.