Anda di halaman 1dari 25

MARIFATUL ISLAM

Oleh
Kelompok 5
AJ2-B17

Maslakah

1314111230

Anis Lutfiani

1314111230

Astrid Dyah Febri Diane

131411123042

Dessy Era Puspitasari

1314111230

Lilis Kurniawati

1314111230

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketika Allah SWT menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan bagi kaum
muslimin, tentulah Allah sudah mengetahui akan berbagai hal yang akan dihadapi oleh
manusia (baca; kaum muslimin) itu sendiri. Karena Islam menginginkan adanya
penyelesaian dan kedamaian atas segala hal yang menimpa manusia dalam kehidupan
mereka. Dan seperti itulah sesungguhnya profil al-Islam. Islam merupakan pegangan
hidup manusia yang mampu mengantarkan mereka pada kebahagiaan hakiki, baik di
dunia maupun di akhirat, serta mampu mengentaskan segala problematika yang mereka
hadapi. Sejarah telah memperlihatkan kepada kita, betapa Islam mampu menjadi poros
dunia yang memimpin serta menguasai peradaban dalam waktu yang relatif lama. Dan
jika diperhatikan, kejayaan dan kemajuan Islam sangat identik dengan kekomitmenan
mereka terhadap Islam. Demikian juga sebaliknya, ketika komitmen tersebut telah
meluntur maka kejayaan Islampun mulai pudar, seiring pudarnya keimanan kaum
muslimin.
Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya telah mengingatkan kepada kita:

Rasulullah SAW bersabda, Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak
akan pernah tersesat selagi masih berpegang teguh pada keduanya; yaitu kitabullah (alQuran) dan sunah nabinya (al-Hadits). (HR. Imam Malik)
Kemunduran kaum muslimin juga merupakan bagian dari kesesatan
sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas. Karena dalam
kondisi mundur, sangat mudah bagi musuh-musuh Islam untuk melancarkan berbagai
hujaman kepada Islam, baik berbentuk politik, ekonomi, militer, pendidikan dan lain
sebagainya, sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Kemudian kemunduran seperti inipun
disebabkan karena mengendurnya komitmen kaum muslimin terhadap Islam. Untuk

itulah, perlu kiranya bagi kita untuk mengkaji ulang tentang hakekat dinul Islam secara
utuh dan menyeluruh agar kita dapat kembali meraih kejayaan yang telah hilang dari
tangan kita.
B. Tujuan Umum dan Khusus
1) Tujuan Umum
2) Tujuan Khusus

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Islam
Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama.
Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.

Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam memiliki
beberapa pengertian, diantaranya adalah:
1. Berasal dari Islaamul wajhi
Yang berarti menundukkan wajah. Hal ini dilakukan ketika seseorang
mengakui kebesaran pihak lain dan rendah hati dihadapannya.
2. Berasal dari As-salaamah
Yang berarti keselamatan, kebersihan, atau kesehatan.
3. Berasal dari salm ( ) yang berarti damai.
Dalam al-Quran Allah SWT berfirman (QS. 8 : 61)

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah


kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Kata salm dalam ayat di atas memiliki arti damai atau
perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu
bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia
pada perdamaian. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman : (QS. 49 : 9)

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu
berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan
yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka
damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang


sangat menjunjung tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru
memperbolehkan kaum muslimin berperang jika mereka diperangi oleh
para musuh-musuhnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman: (QS. 22 : 39)

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena


sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benarbenar Maha Kuasa menolong mereka itu.
4. Berasal dari kata aslama ( ) yang berarti menyerah.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan
seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada
Allah SWT. Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan
terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya.
Menunjukkan makna penyerahan ini, Allah berfirman dalam al-Quran:
(QS. 4 : 125)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan,
dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil
Ibrahim menjadi kesayanganNya.
Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk
menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya. Dalam sebuah
ayat Allah berfirman: (QS. 6 : 162)

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku


hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk
Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua
memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti sunnatullahNya. Allah berfirman: (QS. 3 : 83) :

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepada-Nya- lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik
dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka
dikembalikan.
Oleh karena itulah, sebagai seorang muslim, hendaknya kita
menyerahkan diri kita kepada aturan Islam dan juga kepada kehendak
Allah SWT. Karena insya Allah dengan demikian akan menjadikan hati
kita tentram, damai dan tenang (baca; mutmainah).
5. Berasal dari kata istaslamamustaslimun

( )

penyerahan total kepada Allah. Dalam Al-Quran Allah berfirman (QS.


37 : 26)

Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.


Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua).
Karena sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta untuk secara
total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita
miliki, hanya kepada Allah SWT. Dimensi atau bentuk-bentuk penyerahan
diri secara total kepada Allah adalah seperti dalam setiap gerak gerik,
pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan,
kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah SWT. Termasuk juga
berbagai sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain, seperti sisi
politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya,
semuanya dilakukan hanya karena Allah dan menggunakan manhaj Allah.
Dalam Al-Quran Allah berfirman (QS. 2 : 208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara


keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara


total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan
dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya.
6. Berasal dari kata saliim (
) yang berarti bersih dan suci.

Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-Quran (QS. 26 :

89):
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 37: 84)
(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci
dan bersih, yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki
kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada
kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Karena pada
hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai ajaran Islam,
adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan jiwa
manusia. Allah berfirman: (QS. 5: 6)

Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syariat Islam) itu


hendak menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk
membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya
kamu bersyukur.
7. Berasal dari salam (
) yangyang berarti selamat dan sejahtera.
Allah berfirman dalam Al-Quran: (QS. 19 :

47)

Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan


meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik
kepadaku.

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa


membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena
Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.

Adapun dari segi istilah, (ditinjau dari sisi subyek manusia terhadap dinul Islam),
Islam adalah ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada
para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga
sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang
lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.
Nama agama ini tidak berdasarkan pembawa atau tempat diturunkannya, atau
nama-nama lainnya. Islam diambil dari sikap yang harus dilakukan para penganut.
Dengan sikap itu, mereka akan mendapat dan menebarkan kedamaian serta kesejahteraan
bagi seluruh alam.
Definisi di atas, memuat beberapa poin penting yang dilandasi dan didasari oleh
ayat- ayat Al-Quran. Diantara poin-poinnya adalah:
1. Al-Khudhu (Ketundukan)
Semua yang ada dilangit dan bumi, tunduk dan patuh kepada Allah baik
dengan suka rela maupun terpaksa (Ali-Imron:83).
Demikian pula sikap orang-orang Islam terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Kami mendengar dan kami patuh. (An-Nuur:51).
2. Islam sebagai wahyu ilahi (
)
Mengenai hal ini, Allah berfirman QS. 53 : 3-4

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).
3. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW)
Membenarkan hal ini, firman Allah SWT (QS. 3 : 84)

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang


diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il,
Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa,
`Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan
seorangpun di

antara

mereka

dan hanya

kepada-Nya-lah

kami

menyerahkan diri."
4. Sebagai pedoman hidup (
Allah berfirman (QS. 45 : 20)

Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang meyakini.
5. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah
SAW
Allah berfirman (QS. 5 : 49-50)

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa


yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan
Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa
mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)

siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin?
6. Membimbing manusia ke jalan yang lurus
Allah berfirman (QS. 6 : 153)

(
)

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai- beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.


7. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat akhirat (
Allah berfirman (QS. 16 : 97)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun


perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan.

B. Keuniverselan Islam
Islam merupakan pedoman hidup yang universal, yang mencakup segala aspek
kehidupan manusia dalam semua dimensi waktu, tempat dan sisi kehidupan manusia.
1. Mencakup seluruh dimensi waktu
Artinya bahwa Islam bukanlah suatu agama yang diperuntukkan
untuk umat manusia pada masa waktu tertentu, sebagaimana syariat para
nabi dan rasul yang terdahulu. Namun Islam merupakan pedoman hidup
yang abadi, hingga akhir zaman.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran (QS. 21:107):

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat


bagi semesta alam.
Rahmat bagi semesta alam artinya bagi seluruh makhluk Allah di
muka bumi ini sepanjang masa. Rasulullah SAW sendiripun diutus sebagai
nabi dan rasul terakhir yang ada di muka bumi, yang menyempurnakan
syariat nabi-nabi terdahulu. Allah berfirman (QS. 33 : 40)

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di


antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan
adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sebagai nabi dan rasul terakhir berarti tidak akan ada lagi nabi dan
rasul yang lain yang akan menasakh (menghapus) syariat yang dibawa
oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang Rasulullah SAW lakukan
terhadap syariat para nabi dan rasul yang lain. Hal ini juga menunjukkan
bahwa risalah nabi Muhammad merupakan risalah abadi hingga akhir
zaman.
2. Mencakup seluruh dimensi ruang
Maknanya adalah bahwa Islam merupakan pedoman hidup yang
tidak dibatasi oleh batasan-batasan geografis tertentu, seperti hanya
disyariatkan untuk suku atau bangsa tertentu. Namun Islam merupakan
agama yang disyariatkan untuk seluruh umat manusia, dengan berbagai
bangsa dan sukunya yang berbeda-beda. Allah SWT berfirman (QS. 34 :
28)

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia


seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
Dari ayat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa AlQuran tidak hanya diturunkan untuk orang Arab secara khusus, namun
juga untuk orang Eropa, Rusia, Asia, Cina dan lain sebagainya.

3. Mencakup semua sisi kehidupan manusia.


Maknanya adalah bahwa Islam merupakan pedoman hidup
manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dan tidak
hanya agama yang mengatur peribadahan saja sebagaimana yang banyak
difahami oleh kebanyakan manusia pada saat ini. Sesungguhnya Islam
mencakup seluruh aspek dan dimensi kehidupan manusia, diantaranya
adalah:
a) Peribadahan
QS. 51 : 56

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan


supaya mereka menyembah- Ku.
b) Akhlak (Etika/ Tata krama/ Budi Pekerti)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

Bahwasanya aku diutus adalah untuk menyempurnakan


kebaikan akhlak/ moral. (HR. Ahmad)
c) Ekonomi
QS. 59 : 7

supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orangorang kaya saja di antara kamu.
d) Politik
QS. 5 : 51

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil


orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpinpemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu

mengambil

mereka

menjadi

pemimpin,

maka

sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.


Sesungguh nya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.
e) Sosial
QS. 5 : 2

Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan


ketaqwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam
perbuatan dosa dan permusuhan.
f) Pendidikan
QS. 31 : 13

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di


waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman
yang besar".

C. Sifat Islam
Sebagai agama atau sistem hidup yang Allah SWT turunkan kepada manusia melalui para
nabi dan Rosul, Islam memiliki sejumlah sifat yang tidak dimiliki agama dan sistem
manapun. Diantara sifat-sifatnya itu adalah:
1. Islam adalah agama/sistem yang sempurna
Kesempurnaan itu ada pada agama ini karena ia adalah agama terakhir yang dimaksudkan
untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Sejalan dengan umur manusia dan
kematangan berfikirnya, agama ini memiliki perangkat-perangkat yang lebih sempurna
dibanding dengan agama-agama sebelumnyua, hal ini dapat kita temukan terutama pada
aspek-aspek syariatnya. Islam juga diturunkan kepada Nabi paling sempurna yang
dijuluki sebagai as syaafi al-musyaffa. Julukan yang tidak diberikan kepada Nabi yang

lain karena hanya beliau Nabi Muhammad SAW yang diberi ijin untuk memberi
syafaat.kesempurnaanya dapat kita temukan juga dalam implementasi dan cakupannya
terhadap seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek kehidupan dunia maupun akhirat.
2. Nikmat yang sempurna
Disamping nikmat-nikmat lainnya, Islam merupakan nikmat yang paling sempurna.
Hidayat sejatinya daalh nikmat, hidayah yang terstruktur dalam sistem hidup yang
sempurna dalam agama ini adalah nikmat yang sangat besar karena ia hanya diberikan
kepada umat Nabi Muhammad SAW. Karena itu kemudian mereka diangkat menjadi
ummatan wasathan. Sebagai saksi atas umat didunia dan diakhirat dengan nikmat itu pula
umat mukminin menjadi umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk seluruh umat
manusia.
3. Agama / Sistem yang diridhai
Hal ini Allah utarakan berkali-kali dalam kitab suciNya. Pernyataan ini sekaligus
memberikan ketegasan bahwa agama dan sistem selainnya adalah sistem jahiliyah, batil,
dan tidak diridhai. Syariat samawi yang diturunkan sebelumnya adalah syariat yang
diridhai pada masanya. Setelah masa berlakunya habis, logika akal dan dalil syarI
menentukan bahwa syariat terahirlah yang berlaku. Pemberlakuan syariat yang telah
kadaluarasa masa berlakunya, merupakan pembangkangan terhadap syariat dan yang
menurunkannya.
Pada kesempatan haji wada, haji terakhir yang dilakukan oleh Rosululloh SAW. Allah
menurunkan tiga sifat diatas. Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu,
Aku sempurnakannikmatku kepadamu, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu. (AlMaidah:3)
4. Agama Fitrah
Bersamaan dengan penciptaan alam semesta ini, Allah menciptakan sifat dan
karakteristiknya masing-masing. Karena Islam diturunkan oleh Dzat yang telah
menciptakan alam semesta. Berikut ketentuan-ketentuan kauniyahnya maka Ia adalah
sistem yang sejalan degan fitrah kauniyah itu. Tidak ada perbedaaan anatra fitrah
kauniyah dan fitrah syariyah, karena syariat dibuat untuk menjaga fitrah kauniyah itu.
Alllah telah menciptakan manusia diatas fitrah ini. Penyimpangan atas fitrah yang bersih
lagi lurus ini merupakan keseesatan yang hanya menimbulkan kerugian dan malapetaka
bagi umat manusia dan alam semesta. Dalam hadist qudsi Allah berfirman,
Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif tapi kemudian setan
menggelincirkan mereka dari agamanya.

D. Kesempuraan Islam
Sebagai sitem yang ditetapkan dan diturnkan oleh Allah yang Maha luas dan Maha sempurna,
Islam mempunyai kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh sistem-sistem buatan manusia yang
manapun. Kesempurnaan itu dapat dilihat dari cakupannya terhadap ruang, waktu, dan muatan
sistemnya.
1. Cakupan Waktu
Sistem ini Allah berlakukan sejak awal penciptaan hingga akhir zaman. Demikian itu karena ia
diciptakan

untuk

mengatur

kehidupan

mahluk-mahlukNya

agar

terjadi

keselarasan,

keharmonisan, kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan. Karena itu kita dapati bahwa seluruh
Nabi dan Rosul (sejak nabi pertama hingga Nabi terakhir) mengajarkan hal yang sama. Risalah
mereka satu yaitu membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama mahluk kepada
penghambaan kepada Al-Khaliq. Kesempurnaan ini sangat jelas kita dapatkan pada risalah yang
di bawa Nabi terakhir, nabi Muhammad SAW. Yang menyempurnakan bangunan yang sudah
ditata dan dibangun nabi-nabi sebelumnya. Dengan berakhirnya masa pensyariaatan pada Nabi
yang terakhir, risalah Illahi mencapai kesmpurnaannya. Karena itu ia berlaku hingga akhir zaman
tidak aakan ada nabi dan risalah lagi setelah ia mencapai kesempurnaaannya.
2. Cakupan ruang
Islam diturunkan bukan terbatas untuk bangsa Arab atau bangsa apapun di belahan bumi ini, Ia
adalah rahmat bagi seluruh alam. Berlaku untuk seluruh bangsa bangsa, tidak membedakan
warna-warna kulit, ras, maupun keturunan. Pencipta mereka adalah Allah Al-khaliq, mereka
semua (anak-anak Adam) diciptakan dari tanah. Tidak ada kelebihan suatu orang atas orang yang
lain, yang membedakan adalah tingkat ketakwaan mereka kepada Allah. Setiap orang dari
keluarga manapun dna bangsa manapun berhak mendapat kemuliaan itu, selama ia bertakwa.
3. Cakupan Sistem
Islam adalah sistem komprehensif yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tentang ini
Rasululloh SAW menggambarkannya sebagai bangunan dalam hadist Jibril. Layaknya sebuah
bangunan, Said Hawwa mengatakan bahwa Islam terdiri dari pondasi, badan banguan dan
pendukung.

a. Islam dibangun diatas asas aqidah yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan
dan ideologi
b. Bangunan utamanya terdiri dari aspek-aspek normal, perilaku terhadap sesama dan sikap
terhadap Al-Khaliq yang terimplimentasikan dalam bentuk ibadah.
c. Pendukung- pendukungnya adalah jihad dan dakwah. Dengan dakwah dann jihad Islam akan
tetap kokoh , berkembangndinamis sesuai dengan karakter azasinya, serta bebas dari virus-virus
syubuhat dan ancaman sistem lain.
Karena cakupannya yang lengkap dan komprehensif itu, maka ia adalah sebuah sistem dan
pedoman hidup yang sempurna pula. Kesempurnaan ini menjadikannya lebih unggul
dibandingkan sistem-sistem lain dan karena itu ia datang untuk dimenangkan atas yang lain.
Islam adalah pedoman hidup yang menjamin kebahagian seluruh umat manusia di dunia dan
akhirat.
D. Karakteristik Islam
Sebagai agama terakhir yang sempurna, Islam memiliki karakteristik (baca;
khasaish) yang membedakannya dengan agama-agama yang terdahulu. Diantara
karakteristik Islam adalah:
1. Pertama : Robbaniyah ()
Karakter pertama dinul Islam, adalah bahwa Islam merupakan
agama yang bersifat robbaniyah, yaitu bahwa sumber ajaran Islam,
pembuat syariat dalam hukum (baca; perundang-undangan) dan
manhajnya adalah Allah SWT, yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW,
baik melalui Al-Quran maupun sunnah.
Allah SWT berfirman QS. 32 : 1-3:

Alif Laam Miim. Turunnya Al Qur'an yang tidak ada keraguan padanya,
(adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir)
mengatakan: "Dia Muhammad mengada-adakannya". Sebenarnya Al
Qur'an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu

memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka


orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka
mendapat petunjuk.
Dengan karakteristik ini, Islam sangat berbeda dengan agama
manapun yang ada di dunia pada saat ini. Karena semua agama selain
Islam, adalah buatan manusia, atau paling tidak terdapat campur tangan
manusia dalam pensyariatannya.
2. Kedua : Syumuliyah / universal ()
Artinya bahwa karakteristik Islam adalah bahwa Islam merupakan
agama yang universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia.
Menyentuh segenap dimensi, seperti politik, ekonomi, pendidikan,
kebudayaan dsb. Mengatur manusia dari semenjak bangun tidur hingga
tidur kembali. Merambah pada pensyariatan dari semenjak manusia
dilahirkan dari perut ibu, hingga ia kembali ke perut bumi, dan demikian
seterusnya. Perhatikan firman Allah QS. 2 : 208. Imam Syahid Hasan AlBanna mengemukakan: Islam adalah sistem yang syamil menyeluruh
mencakup semua aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air,
pemerintah dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan,
peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan
kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan
pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah
yang benar, tidak kurang tidak lebih.
3. Ketiga : Tawazun/ Seimbang ()
Karakter ketiga agama Islam adalah bahwa Islam merupakan
agama yang tawazun (seimbang). Artinya Islam memperhatikan aspek
keseimbangan dalam segala hal; antara dunia dan akhirat, antara fisik
manusia dengan akal dan hatinya serta antara spiritual dengan material,
demikian

seterusnya.

Pada

intinya

dengan

tawazun

ini

Islam

menginginkan tidak adanya ketertindasan satu aspek lantaran ingin


memenuhi atau memuaskan aspek lainnya, sebagaimana yang terdapat
dalam agama lain. Seperti tidak menikah karena menjadi pemuka

agamanya, atau meninggalkan dunia karena ingin mendapatkan akhirat.


Konsep Islam adalah bahwa seorang muslim yang baik adalah seorang
muslim yang mempu menunaikan seluruh haknya secara maksimal dan
merata. Hak terhadap Allah, terhadap dirinya sendiri, terhadap istri dan
anaknya, terhadap tetangganya dan demikian seterusnya.
4. Keempat : Insaniyah ()
Karakter yang keempat adalah bahwa Islam merupakan agama
yang bersifat insaniyah. Artinnya bahwa Islam memang Allah jadikan
pedoman hidup bagi manusia yang sesuai dengan sifat dan unsur
kemanusiaan. Islam bukan agama yang disyariatkan untuk malaikat atau
jin,

sehingga

manusia

tidak

kuasa

atau

tidak

mampu

untuk

melaksanakannya. Oleh karenanya, Islam sangat menjaga aspek-aspek


kefitrahan manusia, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang
terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Sehingga dari sini, Islam tidak
hanya agama yang seolah dikhususkan untuk para tokoh agamanya saja
(baca ; ulama). Namun dalam Islam semua pemeluknya dapat
melaksanakan Islam secara maksimal dan sempurna. Bahkan bisa jadi,
orang awam akan lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah dari pada
seorang ahli agama. Karena dalam Islam yang menjadi standar adalah
ketakwaannya kepada Allah.
5. Kelima : Al-Adalah / Keadilan ()
Karekteristik Islam berikutnya, bahwa Islam merupakan agama
keadilan, yang memiliki konsep keadilan merata bagi seluruh umat
manusia, termasuk bagi orang yang non muslim, bagi hewan, tumbuhan
atau makhluk Allah yang lainnya. Keadilan merupakan inti dari ajaran
Islam, apalagi jika itu menyangkut orang lain.
Allah berfirman: (QS. 5 : 8)

Berbuat adillah kalian, karena keadilan itu dapat lebih mendekatkan


kalian pada ketaqwaan. Dan bertakwalah kalian kepada Allah,

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian


kerjakan.
Inilah beberapa karakteristik terpenting dari agama Islam. Di luar kelima
karakteristik ini, sesungguhnya masih banyak karakteristik Islam lainnya. Kelima hal di
atas hanyalah sebagai contoh saja.
E.

BAB III
PEMBAHASAN

Tak Tahan Dihina Perawat


RS, Pasien Pulang
Oleh : - | Kamis, 29 Januari 2015 | 19:05 WIB

BERITA TERKAIT

(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jember - Pelayanan rumah sakit pemerintah


masih mendiskriminasi orang miskin. Seorang pasien miskin
memaksa pulang, karena merasa dihina.
Diskriminasi pelayanan ini dialami soeramh pasien bernama
Siswadi. Dia digigit ular dan harus masuk Rumah Sakit Daerah
Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
"Ada laporan masuk ke saya, infus lepas jam enam pagi, dan
keluarga sudah laporan ke perawat, tapi baru dipasang lagi jam
empat sore. Bayangkan berapa lama," kata Nurhasan, anggota
Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD Jember.
"Pelayanan terhadap orang miskin jelek sekali. Akhirnya tak kuat
dengan pelayanan kasar perawat RS Balung, dia pulang paksa hari
Minggu, dan Senin meninggal," kata Nurhasan.
Direktur RSD Balung Lilik Laksmiati mengatakan, penderita
seharusnya tidak boleh pulang sebelum pengobatan selesai. "Tapi
istrinya minta pulang," katanya.
Nurhasan menyatakan, pasien minta pulang karena sudah tak tahan
dengan lontaran-lontaran buruk perawat. "Hanya karena ada
perbedaan nama Siswadi dan Siswanto (di kartu penerima jaminan
kesehatan masyarakat), ada kata-kata seperti 'pasien selundupan'

dan sebagainya. Itu kan kasar sekali. Saya mendapat cerita ini
waktu takziah ke korban," katanya.
Pelayanan tata letak ruang rumah sakit juga dikritik Komisi D, salah
satunya tata letak ruang radiologi di RSD dr. Soebandi. Anggota
Dewan mempertanyakan peletakan ruang radiologi di lantai dua.
Ketua Komisi D Hafidi Cholis mengingatkan, pasien radiologi ratarata memiliki cacat fisik yang kesulitan untuk naik ke lantai kedua.
"Radiologi di lantai kedua apa masuk akal? Umpama ada yang jatuh
bagaimana? Coba ditelaah kembali, penempatan radiologi di lantai
kedua. Dr subandi adalah satu dari lima rumah sakit rujukan di
indonesia timur," katanya.
Hafidi juga meminta agar rumah sakit di Jember kembali pada enam
hari kerja. "Sementara untuk rekom SPM (surat keterangan untuk
orang miskin) dari anggota Dewan, supaya tak terjadi
kesalahpahaman, satu pintu melalui anggota KOmisi D DPRD
Jember," katanya.
"Kita tak harus puas dengan layanan masyarakat. Rakyat penguasa,
sehingga layanan tak ada ukurannya. Hari ini harus lebih baik dari
kemarin. Esok lebih baik dari hari ini," kata Hafidi. [beritajatim]
- See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2174241/tak-tahandihina-perawat-rs-pasien-pulang#sthash.n4iTqrPp.dpuf

Islam berasal dari As-salaamah yang berarti keselamatan, kebersihan, atau kesehatan.
Islam juga memperhatikan aspek kesehatan umatnya. Kesehatan adalah suatu keadaan fisik,
mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan (WHO,
1948).
Dalam Islam, terdapat beberapa dimensi Agama Islam. Karakter pertama dinul Islam,
adalah bahwa Islam merupakan agama yang bersifat robbaniyah, yaitu bahwa sumber ajaran

Islam, pembuat syariat dalam hukum (baca; perundang-undangan) dan manhajnya adalah Allah
SWT. Sebagai insan, hendaknya semua yang kita lakukan sesuai dengan syariat Allah SWT,
termasuk saat bekerja sebagai seorang perawat. Berita diatas tidak sesuai dengan ajaran Islam
yang membeda-bedakan pasien karena tingkat ekonominya.
Islam Al-Adalah yang berarti bersifat keadilan ( )memiliki konsep keadilan merata
bagi seluruh umat manusia, termasuk bagi orang yang non muslim, bagi hewan, tumbuhan atau
makhluk Allah yang lainnya. Keadilan merupakan inti dari ajaran Islam, apalagi jika itu
menyangkut orang lain apalagi yang sakit.
Perawat harus dapat bersikap professional dalam melaksanakan tugasnya. Dalam memberikan
pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga atau komunitas, perawat sangat memerlukan
etika keperawatan yang merupakan filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang
mendasar terhadap pelaksanaan praktik keperawatan, dimana inti dari falsafah tersebut adalah
hak dan martabat manusia. Perawat,dalam menunaikan tugas dan kewajibannya,senantiasa
berusaha

dengan

penuh

kesadaran

agar

tidak

terpengaruh

oleh

pertimbangan

kebangsaan,kesukuan,warna kulit,umur, jenis kelamin,aliran politik,agama yang dianut, dan


kedudukan sosial. Namun dalam kasus diatas, perawat membedakan tindakan kepada pasien
yang memiliki ekonomi rendah. Perawat hendaknya tidak membeda-bedakan pasien, sesuai

dengan (QS. 5 : 8)
Berbuat adillah kalian, karena keadilan itu dapat lebih mendekatkan kalian pada ketaqwaan.
Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang
kalian kerjakan.
Islam merupakan agama yang tawazun (seimbang). Islam menginginkan tidak adanya
ketertindasan seperti pada berita diatas. Konsep Islam adalah bahwa seorang muslim yang baik
adalah seorang muslim yang mempu menunaikan seluruh haknya secara maksimal dan merata.
Hak terhadap Allah, terhadap dirinya sendiri, terhadap istri dan anaknya, terhadap tetangganya
dan demikian seterusnya. Namun, hak tersebut harus diimbangi dengan kewajiban. Kewajiban
sebagai seorang perawat adalah dapat menjalankan asuhan keperawatan secara maksimal. Dalam

kasus diatas, perawat tidak dapat memberikan asuhan keperawatan secara maksimal, dapat
dilihat dari lamanya pemasangan infus setelah lepas.

BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Inilah sekelumit informasi mengenai Al-Islam, yang tidak lain dan tidak bukan
adalah agama yang benar-benar bersumber dari Allah SWT, yang tiada keraguan
sedikitpunmengenai

kebenarannya.

Islam

merupakan

agama

sempurna

yang

menyempurnakan agama- agama terdahulu yang sudah banyak dikotori oleh campur
tangan pemeluknya sendiri. Tiada jalan bagi kita semua melainkan hanya menjadikan
Islam sebagai pegangan hidup dalam segala hal, dalam beribadah, bermuamalah,
berpolitik, berekonomi, berpendidikan, bersosial dan lain sebagainya. Kebagahian
merupakan hal yang insya Allah akan dipetik, oleh mereka-mereka yang memiliki
komitmen untuk melaksanakan Islam secara kaffah, sebagaimana para pendahulupendahulu kita. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamab-Nya yang baik.
Amiin. Wallahu Alam Bishowab.
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Hadiri, Khairuddin. Klasifikasi Kandungan Al-Quran. Cet. V 1996 / 1417 H. Jakarta : Gema
Insani Press. Hawwa, Said. Al-Islam. (Terj. Oleh Abu Ridha dan AR Shaleh Tamhid)
Cet. I 2000. Jakarta : Al-Itisham Cahaya Umat. Zaidan,
Abdul Karim. Ushul al-Dawah. Cet. V 1996/ 1417 H. Beirut Libanon : Muassasatur
Risalah. CD. ROM. Al-Quran 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib
(1991 1997). CD. ROM. Mausuah Ulama al-Islam; Dr. Yusuf al-Qardhawi ; al-Fiqh
wa Ushulih. Al-Markaz al-Handasi lil Abhas al-Tatbiqiyah. CD. ROM. Mausuah alHadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al- Islamiyah al-Dauliyah.
Maulan, Rikza. 2005. Materi Halaqah Tarbiyah. Islamic E-Books Baz Collections