Anda di halaman 1dari 21

Portofolio 2

Osteoarthritis

Oleh:
Dr. Aditya Nugroho

Pendamping:
Dr. Fera Novisarlita

Wahana:
Puskesmas Tanjung Enim

KOMITE INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSAT PERENCANAAN DAN PENDAYAGUNAAN SDM KESEHATAN
BADAN PPSDM KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN RI
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi Kasus dan Portofolio yang Berjudul:

Osteoarthritis
Oleh:
dr. Aditya Nugroho

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan
program internship dokter Indonesia di wahana Puskesmas Tanjung Enim periode 14
Maret 10 Juli 2016.

Tanjung Enim,

Juni 2016

Pembimbing,

dr. Fera Novisarlita

PORTOFOLIO

Kasus-2

Topik: Osteoarthritis
Tanggal (Kasus): 09 Juni 2016
Tanggal Presentasi: Juni 2016
Tempat Presentasi: Puskesmas Tanjung Enim

Presenter: dr. Aditya Nugroho


Pendamping: dr. Fera Novisarlita

Objektif presentasi :
Keilmuan
Ketrampilan
Penyegaran
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
D
ewasa
Deskripsi : Lansia, Laki-laki, usia 56 tahun, Osteoarthritis
Tujuan :

Tinjauan Pustaka

Istimewa
Lansia
Bumil

1. Penegakkan Diagnosa
2. Penatalaksanaan
Tinjauan
Bahan bahasan:
Cara membahas:
Data pasien :

Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Diskusi
Presentasi dan diskusi
E-mail
Pos
Nama: Tn. DM
No registrasi: Usia: 56 tahun
Alamat: Lingga, Tanjung Enim
Agama: Islam
Bangsa: Indonesia
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Keadaan umum tampak sakit sedang, dengan keluhan utama nyeri pada lutut kiri yang semakin
memberat sejak 1 pekan yang lalu.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien sudah pernah berobat beberapa kali sebelumnya ke tukang urut dan ke puskesmas,
diberikan obat anti nyeri dan vitamin keluhan hilang sesaat namun kambuh kembali.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Kisaran 6 bulan yang lalu, pasien mengeluh timbul nyeri pada lutut kiri yang semakin memberat,
nyeri seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk disertai bunyi gemeretak ketika digerakan. Bengkak
tidak ada. Kemerahan tidak ada. Nyeri tidak berkurang saat dikompres, nyeri semakin memberat
saat pasien melipat lutut dan menggerakan lututnya namun berkurang dengan istirahat.
Pasien sudah pernah berobat beberapa kali sebelumnya ke tukang urut dan ke puskesmas,
diberikan obat anti nyeri dan vitamin keluhan hilang sesaat namun kambuh kembali.
Kisaran 1 pekan yang lalu, pasien mengeluh keluhan semakin memberat dan lutut kaki kiri terasa
kaku terutama muncul pagi hari ketika bangun tidur sehingga pasien membutuhkan waktu
beberapa menit sebelum dapat menggerakan lututnya. Keluhan juga dirasakan menghambat
aktivitas pasien sehari-hari. Pasien lalu berobat ke poli lansia puskesmas tanjung enim.
3

4. Riwayat penyakit dahulu


- Riwayat penyakit yang sama berupa timbul nyeri lutut kaki kiri sebelumnya disangkal.
- Riwayat kecelakaan yang menciderai lutut kaki kiri disangkal.
- Riwayat penyakit tekanan darah tinggi ada diketahui sejak kisaran 5 tahun yang lalu
teratur minum obat.
- Riwayat kencing manis disangkal
5. Riwayat Keluarga
- Riwayat penyakit keluarga berupa timbul nyeri lutut kaki kiri disangkal.
- Riwayat penyakit keluarga berupa tekanan darah tinggi dan kencing manis ada.
- Riwayat penyakit keluarga berupa penyakit nyeri persendian disangkal
6. Lain-lain
Riwayat sosial ekonomi :
- Pasien dahulu bekerja sebagai buruh dan saat ini berdagang skala kecil.
Kesan: status ekonomi menengah ke bawah.
Riwayat pekerjaan dan kebiasaan :
-

Kebiasaan berjalan ke tempat kerja dan mengangkat barang berat saat bekerja dahulu ada.
Kebiasaan merokok ada, sehari 1 bungkus rokok.

Daftar Pustaka
Arissa, M.I., 2012, Pola Distribusi Kasus Osteoartritis di RSU Dokter Soedarso Pontianak Periode
1 Januari 2008-31 Desember 2009, Naskah Publikasi, Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura, Pontianak.
Felson, D.T. & Zhang, Y., 2008, An Update on the Epidemiology of Knee and Hip Osteoarthritis
with a View to Prevention, Arthritis Rheumatology, 41: 13431355.
Koentjoro, S.L., J. Adji Suroso, J. A. & Suntoko, B., 2010, Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh
(BMI) dengan Derajat Osteoartritis Lutut Menurut Kellgren dan Lawrence, Skripsi,
Universitas Diponegoro, Semarang.
Martin, K.R., Shreffler, J. & Callahan, L.F., 2013, The role of pain intensity and pain limitation as
mediators in the relationship between arthritis status and seven psychosocial health
outcomes. Abstract presented at American College of Rheumatology Annual Scientific
Meeting, San Francisco, October 25-29.
Nainggolan, O., 2009, Prevalensi Dan Determinan Penyakit Rematik Di Indonesia, Puslitbang
Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen
Kesehatan RI.
Shu, C.J.Y. & Yea, Y.L., 2003, Influence Of Social Support On Cognitive Function In The
Elderly. Journal BioMed Central Health service research, 3, 9.
Susanti, A.D., 2010, Hubungan Antara Karakteristik Klinis dengan Tingkat Nyeri Penderita
Osteoartritis Nyeri, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Hasil Pembelajaran:
1. Diagnosis Osteoarthritis
2. Tatalaksana Osteoarthritis

RANGKUMAN PEMBELAJARAN

1. Subjektif :
Kisaran 6 bulan yang lalu, pasien mengeluh timbul nyeri pada lutut kiri yang semakin
memberat, nyeri seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk disertai bunyi gemeretak ketika digerakan.
Bengkak tidak ada. Kemerahan tidak ada. Nyeri tidak berkurang saat dikompres, nyeri semakin
memberat saat pasien melipat lutut dan menggerakan lututnya namun berkurang dengan istirahat.
Pasien sudah pernah berobat beberapa kali sebelumnya ke tukang urut dan ke puskesmas,
diberikan obat anti nyeri dan vitamin keluhan hilang sesaat namun kambuh kembali.
Kisaran 1 pekan yang lalu, pasien mengeluh keluhan semakin memberat dan lutut kaki kiri
terasa kaku terutama muncul pagi hari ketika bangun tidur sehingga pasien membutuhkan waktu
beberapa menit sebelum dapat menggerakan lututnya. Keluhan juga dirasakan menghambat
aktivitas pasien sehari-hari. Pasien lalu berobat ke poli lansia puskesmas tanjung enim.
2. Objektif :
Status Generalikus
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Laju pernapasan
Suhu
Berat Badan
Tinggi Badan
BMI
Status Gizi

: Tampak sakit sedang


: kompos mentis
: 140/90 mmHg
: 80x/menit
: 22x/menit
: 36.30C
: 65 kg
: 160 cm
: 25,3
: overweight

Keadaan Spesifik
Kulit
Warna sawo matang, turgor kembali cepat, ikterus pada kulit (-), sianosis (-), scar (-), keringat
umum(-), keringat setempat (-), pucat pada telapak tangan dan kaki (-), pertumbuhan rambut
normal.
KGB
Tidak ada pembesaran KGB pada daerah axilla, leher, inguinal dan submandibula serta tidak
ada nyeri penekanan.
Kepala
Bentuk oval, simetris, ekspresi sakit sedang, dan deformasi (-).

Mata
Eksophtalmus dan endopthalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat (-), sklera
ikterik (-), pupil isokor, reflek cahaya normal, pergerakan mata ke segala arah baik.
Hidung
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan baik, tidak ditemukan
penyumbatan maupun perdarahan, pernapasan cuping hidung(-).
Telinga
Tophi (-), nyeri tekan processus mastoideus (-), pendengaran baik.
Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah (-), atrofi papil (-), gusi berdarah (-), stomatitis
(-), rhageden (-), bau pernapasan khas (-), faring tidak ada kelainan.

Leher
Pembesaran kelenjar tiroid tidak ada, JVP (5-2) cmH 2 0, kaku kuduk (-).
Dada dan punggung
Bentuk dada simetris, nyeri tekan (-), nyeri ketok (-).
Paru-paru
I : Statis, dinamis simetris kanan = kiri,
P : Stemfremitus normal.
P : Sonor pada kedua lapangan paru.
A : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)
Jantung
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus codis tidak teraba, thrill (-)
P : batas jantung sulit dinilai
A: HR = 80x/menit, murmur (-), gallop (-)
6

Perut
I : Datar dan tidak ada pembesaran, venektasi(-)
P : Lemas, nyeri tekan (-), hepar-lien tidak teraba, turgor kulit normal.
P : timpani
A: BU(+) normal
Extremitas atas :
Eutoni, eutrophi, gerakan bebas, kekuatan +5, nyeri sendi (-), edema (-), pigmentasi normal,
acral hangat, jari tabuh (-), turgor kembali cepat, clubbing finger (-).
Extremitas bawah
Eutoni, eutrophi, gerakan lutut kiri terbatas, kekuatan +5, edema pretibial (-/-), pigmentasi
normal, clubbing finger (-), turgor kembali cepat, tofus (-), perabaan hangat pada lutut (-),
kemerahan (-), nyeri tekan sendi lutut kiri (+), krepitasi sendi lutut kiri (+)
Laboraturium
Gula darah sewaktu: 120 mg/dl
Kolesterol: 219 mg/dl
Asam urat: 5,6
-

Assessment:

Seorang laki-laki, berumur 56 tahun datang ke Puskesmas Tanjung Enim pada tanggal 09 juni
2016 pukul 09.00 WIB dengan keluhan utama nyeri pada lutut kiri yang semakin memberat sejak 1
pekan yang lalu.
Kisaran 6 bulan yang lalu, pasien mengeluh timbul nyeri pada lutut kiri yang semakin
memberat, nyeri seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk disertai bunyi gemeretak ketika digerakan.
Bengkak tidak ada. Kemerahan tidak ada. Nyeri tidak berkurang saat dikompres, nyeri semakin
memberat saat pasien melipat lutut dan menggerakan lututnya namun berkurang dengan istirahat.
Pasien sudah pernah berobat beberapa kali sebelumnya ke tukang urut dan ke puskesmas,
diberikan obat anti nyeri dan vitamin keluhan hilang sesaat namun kambuh kembali.
Kisaran 1 pekan yang lalu, pasien mengeluh keluhan semakin memberat dan lutut kaki kiri
terasa kaku terutama muncul pagi hari ketika bangun tidur sehingga pasien membutuhkan waktu
beberapa menit sebelum dapat menggerakan lututnya. Keluhan juga dirasakan menghambat
aktivitas pasien sehari-hari. Pasien lalu berobat ke poli lansia puskesmas tanjung enim.
Pasien memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi diketahui sejak kisaran 5 tahun yang
7

lalu teratur minum obat. Riwayat penyakit darah tinggi dan kencing manis di keluarga ada. Dahulu
pasien bekerja sebagai buruh dan memiliki kebiasaan berjalan ke tempat kerja dan mengangkat
barang berat saat bekerja, pasien juga memiliki kebiasaan merokok sehari 1 bungkus rokok.
Pada pemeriksaan fisik umum didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg dan BMI = 25,3
(overweight). Pemeriksaan tanda vital lain dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik spesifik
regio genu sinistra didapatkan gerakan terbatas, perabaan hangat pada lutut (-), nyeri tekan sendi
lutut kiri (+), krepitasi sendi lutut kiri (+). Pemeriksaan radiologi tidak dilakukan.
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik maka diagnosis mengarah ke penyakit yang
mengenai sendi yaitu osteoarthritis, gout arthritis dan reumatoid arthritis, pada pasien ini diagnosis
lebih mengarah ke osteoarthritis. Kriteria menurut American College of Rheumatology dibutuhkan
3 dari 6 kriteria untuk dapat ditegakan bahwa seseorang menderita osteoarthritis. Pada anamnesis
didapatkan berumur > 50 tahun, nyeri sendi lutut kiri dan kaku lutut pada pagi hari kurang dari 30
menit dan pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan dan krepitasi sendi lutut kiri, sehingga
terdapat 5 dari 6 kriteria maka dapat ditegakan bahwa psaien menderita osteoarthritis. Selain itu hal
yang mendukung diagnosis adalah faktor resiko yang ada pada pasien yaitu status gizi overweight,
mempunyai riwayat pekerjaan membawa barang berat dan kebiasaan berjalan ke tempat kerja.

3. Plan:
Diagnosis: Osteoarthritis
Penatalaksanaan :
Umum

Edukasi tentang penyakit osteoarthritis agar pasien memahami tentang penyakit yang
dideritanya, bagaimana agar penyakitnya tidak bertambah semakin parah, dan agar
persendiaanya tetap terpakai

Terapi fisik atau rehabilitasi dilakukan untuk melatih pasien agar persendianya tetap dapat
dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit.

Berat badan harus dapat dijaga agar tidak berlebih dan diupayakan untuk melakukan penurunan
berat badan.
Terapi farmakologis

Parasetamol tab 3 x 500 mg PO


8

Glukosamin tab 3 x 500 mg PO

Terapi pembedahan
Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga
untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari
hari.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad fungtionam

: dubia ad bonam

OSTEOARTHRITIS

A. Pendahuluan
Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti tulang, arthro
yang berarti sendi, dan itis yang berarti inflamasi meskipun sebenarnya penderita
osteoartritis tidak mengalami inflamasi atau hanya mengalami inflamasi ringan
(Koentjoro, 2010). Osteoarthritis ialah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai oleh
adanya kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya. Tulang
rawan (kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi ujung dari tulang, untuk
memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan pada kartilago akan berakibat tulang
bergesekan satu sama lain, sehingga timbul gejala kekakuan, nyeri dan pembatasan
gerakan pada sendi (Nainggolan, 2009).
American College of Rheumatology (2011) mengartikan osteoarthritis sebagai
sekelompok kondisi heterogen yang mengarah kepada tanda dan gejala sendi. Penyakit ini
ditandai oleh adanya abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru yang
irreguler pada permukaan persendian. Nyeri merupakan gejala khas pada sendi yang
mengalami osteoarthritis. Rasa nyeri semakin berat bila melakukan aktivitas dengan
penggunaan sendi dan rasa nyeri diakibatkan setelah melakukan aktivitas dengan
penggunaan sendi dan rasa nyeri semakin ringan dengan istirahat (Susanti, 2010).
9

Kejadian osteoarthritis banyak pada orang yang berusia di atas 45 tahun. Laki-laki
di bawah umur 55 tahun lebih sering menderita penyakit ini dibandingkan dengan wanita
pada umur yang sama. Namun, setelah umur 55 tahun prevalensi osteoarthritis lebih
banyak wanita dibandingkan pria. Hal ini diduga karena bentuk pinggul wanita yang lebar
dapat menyebabkan tekanan yang menahun pada sendi lutut. Osteoartritis juga sering
ditemukan pada orang yang kelebihan berat badan dan mereka yang pekerjaanya
mengakibatkan tekanan yang berlebihan pada sendi-sendi tubuh (Nainggolan, 2009).

B. Epidemiologi
Osteoartritis merupakan penyakit sendi pada orang dewasa yang paling umum di
dunia. Felson (2008) melaporkan bahwa satu dari tiga orang dewasa memiliki tanda-tanda
radiologis terhadap OA. OA pada lutut merupakan tipe OA yang paling umum dijumpai
pada orang dewasa. Penelitian epidemiologi dari Joern et al (2010) menemukan bahwa
orang dewasa dengan kelompok umur 60-64 tahun sebanyak 22% . Pada pria dengan
kelompok umur yang sama, dijumpai 23% menderita OA. pada lutut kanan, sementara
16,3% sisanya didapati menderita OA pada lutut kiri. Berbeda halnya pada wanita yang
terdistribusi merata, dengan insiden OA pada lutut kanan sebanyak 24,2% dan pada lutut
kiri sebanyak 24,7.

C. Faktor Resiko
Faktor-faktor yang telah diteliti sebagai faktor risiko osteoarthritis lutut antara lain
usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin perempuan, ras/etnis, genetik, kebiasaan merokok,
konsumsi vitamin D, obesitas, osteoporosis, diabetes melitus, hipertensi, hiperurisemi,
histerektomi, menisektomi, riwayat trauma lutut, kelainan anatomis, kebiasaan bekerja
dengan beban berat, aktivitas fisik berat dan kebiasaan olah raga. Terjadi peningkatan dari
angka kejadian osteoarthritis selama atau segera setelah menopause karena faktor hormon
seks (Shu, 2003).
Menurut Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal yang disusun oleh Helmi tahun
2012, terdapat beberapa faktor resiko yang terdiri dari :
1) Peningkatan usia.

10

Osteoarthritis biasanya terjadi pada usia lanjut, jarang dijumpai penderita


osteoarthritis yang berusia di bawah 40 tahun. Usia ratarata laki yang mendapat
osteoartritis sendi lutut yaitu pada umur 59 tahun dengan puncaknya pada usia 55 - 64
tahun, sedang wanita 65,3 tahun dengan puncaknya pada usia 65 74 tahun. Presentase
pasien dengan osteoarthritis berdasarkan usia di RSU dr. Soedarso menunjukan bahwa
pada usia 43-48 tahun (13,30%), usia 49- 54 tahun (16,06%), dan usia 55- 60 tahun
meningkat (27,98%) (Arissa, 2012).
2) Obesitas.
Membawa beban lebih berat akan membuat sendi sambungan tulang bekerja
dengan lebih berat, diduga memberi andil pada terjadinya osteoarthritis. Setiap kilogram
penambahan berat badan atau masa tubuh dapat meningkatkan beban tekan lutut sekitar 4
kilogram. Dan terbukti bahwa penurunan berat badan dapat mengurangi resiko terjadinya
osteoarthritis atau memperparah keadaan steoarthritis lutut (Nainggolan, 2009).

3) Jenis kelamin wanita.


Angka kejadian osteoartritis berdasarkan jenis kelamin didapatkan lebih tinggi
pada perempuan dengan nilai persentase 68,67% yaitu sebanyak 149 pasien dibandingkan
dengan laki-laki yang memiliki nilai persentase sebesar 31,33% yaitu sebanyak 68 pasien
(Arissa, 2012).
4) Riwayat trauma.
Cedera sendi, terutama pada sendi sendi penumpu berat tubuh seperti sendi pada
lutut berkaitan dengan risiko osteoartritis yang lebih tinggi. Trauma lutut yang akut
termasuk robekan terhadap ligamentum krusiatum dan meniskus merupakan faktor
timbulnya osteoartritis lutut.
5) Riwayat cedera sendi.
Pada cedera sendi berat dari beban benturan yang berulang dapat menjadi faktor
penentu lokasi pada orang-orang yang mempunyai predisposisi osteoarthritis dan
berkaitan pula dengan perkembangan dan beratnya osteoarthritis (Shu, 2003)
11

6) Faktor genetik.
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis, adanya mutasi dalam
gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti
kolagen dan proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada
osteoartritis.
7) Kelainan pertumbuhan tulang
Pada kelainan kongenital atau pertumbuhan tulang paha seperti penyakit perthes
dan dislokasi kongenital tulang paha dikaitkan dengan timbulnya osteoarthrtitis paha pada
usia muda (Shu, 2003)
8) Pekerjaan dengan beban berat.
Bekerja dengan beban rata-rata 24,2 kg, lama kerja lebih dari 10 tahun dan kondisi
geografis berbukit-bukit merupakan faktor resiko dari osteoarthritis lutut (Maharani,
2007). Dan orang yang mengangkat berat beban 25 kg pada usia 43 tahun, mempunyai
resiko lebih tinggi untuk terjadinya osteoarthritis dan akan meningkat tajam pada usia
setelah 50 tahun (Martin, 2013).
9) Tingginya kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang merupakan salah satu faktor yang dapat
meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis, hal ini mungkin terjadi akibat tulang yang
lebih padat atau keras tak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh
tulang rawan sendi (Nainggolan, 2009).
10) Gangguan metabolik menyebabkan kegemukan.
Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik pada
sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan osteoartritis lutut. Kegemukan
ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban,
tetapi juga dengan osteoartritis sendi lain, diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang
berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung koroner, diabetes
melitus dan hipertensi (Susanti, 2010).

D. Klasifikasi

12

Pada umumnya diagnosis osteoarthritis didasarkan pada gabungan gejala klinik


dan perubahan radiografi. Gejala klinik perlu diperhatikan, oleh karena tidak semua
pasien dengan perubahan radiografi osteoarthritis mempunyai keluhan pada sendi.
Terdapat 4 kelainan radiografi utama pada osteoarthritis, yaitu: penyempitan rongga
sendi, pengerasan tulang bawah rawan sendi, pembentukan kista di bawah rawan sendi
dan pembentukan osteofit. S
Sendi yang dapat terkena osteoarthritis antara lain:
1. Osteoarthritis sendi lutut.
2. Osteoarthritis sendi panggul.
3. Osteoarthritis sendi-sendi kaki.
4. Osteoarthritis sendi bahu.
5. Osteoarthritis sendi-sendi tangan.
6. Osteoarthritis tulang belakang

Pembagian osteoarthritis berdasarkan patogenesisnya dibagi menjadi osteoarthritis primer


yang disebut juga osteoarthritis idiopatik adalah osteoarthritis yang kausanya tidak diketahui dan
tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi.
Sedangkan osteoarthritis sekunder adalah osteoarthritis yang didasari oleh adanya kelainan
endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan dan imobilisasi yang lama. osteoarthritis primer
lebih sering ditemukan dari pada osteoarthritis sekunder (Arissa, 2012).

E. Patofisiologi
Rawan sendi dibentuk oleh sel tulang rawan sendi (kondrosit) dan matriks rawan
sendi. Kondrosit berfungsi mensintesis dan memelihara matriks tulang rawan sehingga
fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik. Matriks rawan sendi terutama
terdiri dari air, proteoglikan dan kolagen. Perkembangan perjalanan penyakit
osteoarthritis dibagi menjadi 3 fase, yaitu sebagai berikut :
1) Fase 1

13

Terjadinya penguraian proteolitik pada matriks kartilago. Metabolisme kondrosit


menjadi terpengaruh dan meningkatkan produksi enzim seperti metalloproteinases yang
kemudian hancur dalam matriks kartilago. Kondrosit juga memproduksi penghambat
protease yang mempengaruhi proteolitik. Kondisi ini memberikan manifestasi pada
penipisan kartilago.
2) Fase 2
Pada fase ini terjadi fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, disertai adanya
pelepasan proteoglikan dan fragmen kolagen ke dalam cairan sinovia.

3) Fase 3
Proses penguraian dari produk kartilago yang menginduksi respons inflamasi pada
sinovia. Produksi magrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL-1), tumor necrosis factor-alpha
(TNF-), dan metalloproteinase menjadi meningkat. Kondisi ini memberikan manifestasi balik
pada kartilago dan secara langsung memberikan dampak adanya destruksi pada kartilago.
Molekul-molekul pro-inflamasi lainnya seperti nitric oxide (NO) juga ikut terlibat. Kondisi ini
memberikan manifestasi perubahan arsitektur sendi dan memberikan dampak terhadap
pertumbuhan tulang akibat stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi dan stress inflamasi
memberikan pengaruh pada permukaan artikular menjadi kondisi gangguan yang progresif.

14

F. Manifestasi Klinik
Menurut Australian Physiotherapy Association (APA) (2003) dalam Nainggolan (2009)
penyakit osteoarthritis mempunyai gejala-gejala yang biasanya menyulitkan bagi kehidupan
penderitanya. Adapun gejala tersebut antara lain:
1) Nyeri sendi (recurring pain or tenderness in joint)
Keluhan nyeri merupakan keluhan utama yang sering-kali membawa penderita ke dokter,
walaupun mungkin sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya. Biasanya nyeri sendi
bertambah dikarenakan gerakan dan sedikit berkurang bila istirahat. Pada gerakan tertentu (misal
lutut digerakkan ke tengah) menimbulkan rasa nyeri. Nyeri pada osteoarthritis dapat menjalar
kebagian lain, misal osteoarthritis pinggang menimbulkan nyeri betis yang disebut sebagai
claudicatio intermitten. Korelasi antara nyeri dan tingkat perubahan struktur pada
osteoarthritis sering ditemukan pada panggul, lutut dan jarang pada tangan dan sendi apofise
spinalis.
2) Kekakuan (stiffness)
Pada beberapa penderita, kaku sendi dapat timbul setelah duduk lama di kursi, di mobil,
bahkan setelah bangun tidur. Kebanyakan penderita mengeluh kaku setelah berdiam pada posisi
tertentu. Kaku biasanya kurang dari 30 menit.
3) Hambatan gerakan sendi (inability to move a joint)
Kelainan ini biasanya ditemukan pada osteoarthritis sedang sampai berat. Hambatan
gerak ini disebabkan oleh nyeri, inflamasi, sendi membengkok, perubahan bentuk. Hambatan
gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari kursi, bangun dari tempat berbaring,
menulis atau berjalan. Semua gangguan aktivitas tergantung pada lokasi dan beratnya kelainan
sendi yang terkena.
4) Bunyi gemeretak (krepitasi)
Sendinya terdengar berbunyi saat bergerak. Suaranya lebih kasar dibandingkan dengan
artritis reumatoid dimana gemeretaknya lebih halus. Gemeretak yang jelas terdengar dan kasar
merupakan tanda yang signifikan.
5) Pembengkakan sendi (swelling in a joint)
Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh radang sendi dan bertambahnya
cairan sendi atau keduanya.
15

6) Perubahan cara berjalan atau hambatan gerak


Hambatan gerak atau perubahan cara berjalan akan berkembang sesuai dengan beratnya
penyakit. Perubahan yang terjadi dapat konsentris atau seluruh arah gerakan maupun eksentris
atau salah satu gerakan saja (Sudoyono, 2009).
7) Kemerahan pada daerah sendi (obvious redness or heat in a joint)
Kemerahan pada sendi merupakan salah satu tanda peradangan sendi. Hal ini mungkin
dijumpai pada osteoarthritis karena adanya sinovitis, dan biasanya tanda kemerahan ini tidak
menonjol dan timbul belakangan (Sudoyono, 2009)

G. Diagnosis Banding
OSTEOARTHRITIS
Inflamasi
Idiopatik

ETIOLOGI

GEJALA

PREDILEKSI
SIMETRISITAS

GAMBARAN
RADIOLOGI

REUMATOID
ARTHRITIS
Faktor genetik
Autoimun

GOUT
ARTHRITIS
Metabolik:
penimbunan kristal
monosodium
urat
monohidrat

Gejala cenderung di
Gejala cenderung pada
Onset
nyeri
pagi hari, kaku di pagi
malam hari, kaku di pagi
persendian sewaktuhari berlangsung > 60
hari berlangsung < 30 menit
waktu
menit
Cenderung
sendi
Sendi-sendi kecil: PIP,
bagian
proximal:
Sendi penyangga berat MCP,
pergelangan
MTP 1, olecranon,
tubuh: coxae, genu, vertebre siku,
pergelangan
tendon achiles dan
kaki, dll
jari-jari tangan
Asimetris
Simetris, bilateral
Asimetris
Celah sendi:
baik hingga
menyempit
Celah sendi:

Erosi: erosi pada


Celah sendi: menyempit
menyempit
pinggir tulang
Erosi: tidak ada
Erosi:
erosif
over hanging
sekitar sendi
Kista: ada
lip punched out
ada
Osteofit:
ada
pada Kista:
dengan garis
(pseudocyst)
pinggir sendi
sklerotik
Osteofit: tidak ada Kista: tidak ada
Osteofit: tidak
ada

H. Diagnostis
16

Susanti (2010) menyatakan bahwa kriteria diagnosis untuk osteoarthritis lutut, koksa dan
tangan digunakan kriteria menurut American College of Rheumatology, yaitu :

Diagnosis osteoarthritis selain berdasarkan gejala klinis juga didasarkan pada hasil
radiologi. Namun pada awal penyakit, radiografi sendi seringkali masih normal.

Pemeriksaan Radiologik
Pada penderita OA, dilakukannya pemeriksaan radiografi pada sendi yang terkena
sudah cukup untuk memberikan suatu gambaran diagnostik (Soeroso, 2006). Gambaran
Radiografi sendi yang menyokong diagnosis OA adalah :
a. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung
beban seperti lutut).
b. Peningkatan densitas tulang subkondral (sklerosis).
c. Kista pada tulang
d. Osteofit pada pinggir sendi
e. Perubahan struktur anatomi sendi.
17

Berdasarkan temuan-temuan radiografis diatas, maka OA dapat diberikan suatu


derajat. Kriteria OA berdasarkan temuan radiografis dikenal sebagai kriteria Kellgren dan
Lawrence yang membagi OA dimulai dari tingkat ringan hingga tingkat berat. Perlu
diingat bahwa pada awal penyakit, gambaran radiografis sendi masih terlihat normal
(Felson, 2006).
Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna.
Pemeriksaan darah tepi masih dalam batas batas normal. Pemeriksaan imunologi masih
dalam batas batas normal. Pada OA yang disertai peradangan sendi dapat dijumpai
peningkatan ringan sel peradangan (< 8000 / m) dan peningkatan nilai protein (Susanti,
2010).

I. Penatalaksanaan
Pengeloaan OA berdasarkan atas sendi yang terkena dan berat ringannya OA yang
diderita (Soeroso, 2006). Penatalaksanaan OA terbagi atas 3 hal, yaitu :
1. Terapi non-farmakologis
a. Edukasi
Edukasi atau penjelasan kepada pasien perlu dilakukan agar pasien dapat
mengetahui serta memahami tentang penyakit yang dideritanya, bagaimana agar
penyakitnya tidak bertambah semakin parah, dan agar persendiaanya tetap terpakai

b. Terapi fisik atau rehabilitasi


Pasien dapat mengalami kesulitan berjalan akibat rasa sakit. Terapi ini dilakukan
untuk melatih pasien agar persendianya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk
melindungi sendi yang sakit.
c. Penurunan berat badan
Berat badan yang berlebih merupakan faktor yang memperberat OA. Oleh karena
itu, berat badan harus dapat dijaga agar tidak berlebih dan diupayakan untuk melakukan
penurunan berat badan apabila berat badan berlebih

18

2. Terapi farmakologis
Penanganan terapi farmakologi melingkupi penurunan rasa nyeri yang timbul,
mengoreksi gangguan yang timbul dan mengidentifikasi manifestasi-manifestasi klinis
dari ketidakstabilan sendi (Felson, 2006).
a. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (AINS), Inhibitor Siklooksigenase-2 (COX-2), dan
Asetaminofen
Untuk mengobati rasa nyeri yang timbul pada OA lutut, penggunaan obat AINS
(Ibuprofen, Meloxicam, Piroksikam, Na Diclofenak) dan Inhibitor COX-2 (Celecoxib, Refecoxib,
Valdecoxib, Parecxib) dinilai lebih efektif daripada penggunaan asetaminofen. Namun karena
risiko toksisitas obat AINS lebih tinggi daripada asetaminofen, asetaminofen tetap menjadi obat
pilihan pertama dalam penanganan rasa nyeri pada OA. Cara lain untuk mengurangi dampak
toksisitas dari obat AINS adalah dengan cara mengombinasikannnya dengan menggunakan
inhibitor COX-2, namun dalam penggunaannya inhibitor COX-2 menimbulkan resiko pada
sistem kardiovaskular sehingga kebanyakan ditarik dari pasaran.
Kontraindikasi
hipersensitivitas

penggunaan

terhadap

asetaminofen

asetaminofen,

penyakit

adalah
G6PD

bila
dan

seseorang
gangguan

memiliki

fungsi

hati.

Kontraindikasi penggunaan ibuprofen adalah Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal


(aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, serta anak
dibawah usia 14 tahun. Penderita dengan syndroma nasal polyps, angioderma dan reaksi
bronchospasma terhadap asetosal (aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain.

b. Chondroprotective Agent
Chondroprotective Agent adalah obat obatan yang dapat menjaga atau
merangsang perbaikan dari kartilago pada pasien OA. Obat obatan yang termasuk
dalam kelompok obat ini adalah : tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat,
glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya ( Felson, 2006 ).

3. Terapi pembedahan

19

Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi
rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang
mengganggu aktivitas sehari hari.

J. Osteoarthritis dan Berat Badan


Berat badan sering dihubungkan dengan berbagai macam penyakit, termasuk OA.
Berat badan yang berlebih ternyata berkaitan dengan meningkatnya risiko seseorang
menderita OA pada kemudian hari, baik wanita maupun pria (Soeroso, 2006). Menurut
penelitian dari Grotle (2008), selain umur, berat badan yang berlebih terutama obesitas
turut berperan dalam patogenesis dan patofisiologi dari OA, lutut terutama dalam
perkembangan penyakit ke derajat yang lebih tinggi. Peran faktor metabolik dan
hormonal pada kaitannya antara OA dan obesitas juga disokong dengan adanya kaitan
antara OA dengan penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan hipertensi (Soeroso,
2006).
Untuk mendeteksi kelebihan berat badan yang diderita seseorang, ada dua cara
sederhana yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengukur Indeks Massa Tubuh (BMI)
(WHO, 2005) dan mengukur Waist-hip ratio (Vasquez, 2007). BMI dapat diukur dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

Setelah nilai didapat, maka bandingkan nilai tersebut dengan tabel klasifikasi BMI di
berikut ini :

20

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dan orang gemuk cenderung lebih sering
mengeluh tentang besarnya rasa nyeri yang dialami pada lutut mereka dibandingkan dengan
orang lain yang kurang gemuk (Soeroso, 2006). Berdasarkan penelitian lain yang dilakukan
Thumboo (2002) didapati bahwa pasien OA lutut dengan obesitas mengalami peningkatan rasa
nyeri pada daerah persendian lutut dibandingkan dengan pasien yang kurang obesitas.
Berdasarkan dua hal tersebut dapat dikatakan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor yang
meningkatkan intensitas rasa nyeri yang dirasakan pada lutut pasien OA.

21