Anda di halaman 1dari 5

Kewajiban Manusia Memelihara Dan Memakmurkan Alam

Oleh : Mushanef, S.HI














,









.






.










.


.







Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah.
Subhanallah, Allah telah membentangkan bumi yang sangat luas dengan tumbuhtumbuhan yang menghijau ranau berkemilau. Diciptakannya Laut yang biru beserta seluruh
ekosistem di dalamnya. Gunung-gunung, batu, air dan udara, semua itu merupakan
sumberdaya alam karunia Tuhan. Manusia diberikan mandat untuk memeliharanya dengan
cara mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut berdasarkan azas
kelestarian untuk mencapai kemakmuran yang dapat memenuhi kebutuhan sekarang dan
generasi yang akan datang.
Namun kenyataan berbicara lain, bahwa alam ini mengalami kerusakan yang cukup
parah, baik di daratan, lautan maupun udara yang mengakibatkan malapetaka bagi
manusia. Kerusakan itu disebabkan oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab
yang hanya mementingkan ambisi pribadi tanpa mempedulikan kelestarian alam. Untuk itu
perlu ditumbuhkan kesadaran untuk mencintai alam serta lingkungan sekitar. Allah SWT
berfirman dalam Al-Quran surat al-Hijr ayat 19-20 :




.













.




Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami
tumbuhkan padanya segala sesuatu yang menurut ukuran. Dan kami telah menjadikan
untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. Dan (Kami menciptakan pula) makhlukmakhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.
Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah.
Ayat ini memberikan gambaran bahwa betapa banyak fasilitas yang telah Allah
sediakan bagi manusia untuk dipergunakan bagi kebutuhan hidupnya, dengan catatan
haruslah dengan kedasadaran menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.
Allah menghamparkan bumi beserta seluruh isinya sebagai sumber kehidupan.
Dijadikannya gunung-gunung dengan iklim yang cocok untuk pertanian, laut dijadikan
sebagai sumber pencarian sang nelayan. Begitupula dengan sungai-sungai yang mengalir,
tumbuh-tumbuhan bahkan hewan diciptakan Allah untuk kesejahteraan umat manusia.
Sepantasnya manusia bersyukur dengan semua karunia yang Allah berikan.
Adalah suatu kenyataan, bahwa keadaan lingkungan alam di negeri kita ini sudah
mengalami kerusakan yang sangat parah dan mengkhawatirkan, karena ulah perbuatan
manusia. Kalaulah keadaan alam ini dirusak terus menerus maka kehancuran tinggal
menunggu waktunya saja.
Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah.

Coba kita renungkan!!, selama kurang lebih lima tahun belakangan ini, musibah apa
yang tidak menimpa negeri kita?!. Gelombang besar bernama tsunami sudah pernah terjadi,
banjir bandang nyaris setiap tahun kita alami, tanah longsor dan banjir lumpur pun belum
selesai kita tangani, kekeringan dan kebakaran seolah saling menjemput dan beriringan.
Gunung berapi yang terbatuk dan memuntahkan lahar, mengirim batu dan pasir yang
mematikan, seolah-olah sepakat untuk bergolak bersama di seluruh Indonesia. Belum
lagiglobal warming (pemanasan global) yang bagaikan monster yang siap menerkam kita
setiap saat. Efek global warming diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan
seperti ; naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas kejadian alam yang ekstrim
(saat kita yang di Sumatera berjuang menghadapi hujan dan banjir, di pulau Jawa justru
kewalahan melawan panas). Akibat lain ialah terpengaruhnya hasil pertanian, punahnya
berbagai jenis hewan, serta mengganggu kesehatan manusia. Ini bukan Tuhan sedang
mengombral murka, ini tentang manusia dan perilakunya. Udara kita kotor, sungai kita
tercemar, hutan kita gundul, siapa dalang dari semua ini kalau bukan manusia.
Hadirin Jamaah Jumat Yang diRahmati Allah.
Bagi umat Islam, ajaran untuk tidak berbuat kerusakan pada alam, memelihara
lingkungan, berbuat yang terbaik buat umat manusia, menjadi ajaran yang sangat dijunjung
tinggi. Diriwayatkan oleh Thabrani, Nabi SAW bersabda yang artinya:

Sayangilah apa yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang ada di langit
(Allah SWT)
begitu pula UU No. 41 Tahun 1999 tentang melestarikan hutan sudah ada, tapi kenapa
masih saja merusak alam ini?. Hal ini disebabkan karena adanya kelompok manusia yang
memiliki sifat rakus, ingin cepat kaya, ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman dan
kesadaran terhadap nilai-nilai agama dalam kehidupannya sehingga enak saja merampok
kekayaan alam.
Hadirin Jamaah Jumat Yang Berbahagia.

Kerusakan alam yang terjadi seperti sekarang ini ternyata juga pernah terjadi pada
zaman dahulu yakni pada kaum Nabi Tsamut. Oleh karena itu, Islam menyuruh kita belajar
dari sejarah, karena dari sejarah itu dapat diperoleh gambaran bagaimana umat terdahulu
berinteraksi dengan alam, bagaimana ganjaran Allah terhadap orang yang zalim dan
membangkang kepada-Nya. Bagi orang yang suka berbuat zholim dan membangkang
kepada Allah, hendaknya menyadari bahwa betapa besar nikmat yang telah Allah berikan,
maka adalah wajib mensyukuri nikmat itu dalam berbagai bentuk, seperti memanifestasikan
dalam bentuk memelihara dan memakmurkan alam. Tidakkah seyogyanya manusia belajar
dari masa lalu? Tapi ternyata manusia lupa dengan sejarah, hal ini seperti disebutkan dalam
al-Quran surat Hud ayat 61 berikut ini :

.




.









Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Sholeh, Sholeh berkata : Hai kaumku,
sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan

kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah
ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat
(rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)
Hadirin Jamaah Jumat Yang diRahmati Allah.
Karena itu, Rasul SAW meletakkan prinsip umum dalam melestarikan lingkungan
berupa larangan melakukan perusakan di muka Bumi.
Pertama, melarang pencemaran lingkungan. "Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang
kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." (HR Abu Daud, Ahmad
dan Ibnu Majah).
Kedua, menghilangkan segala bahaya di jalan dan melarang duduk-duduk di pinggir
jalan. "Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan." Para sahabat bertanya, "Bagaimana
kalau terpaksa untuk duduk dan mengobrol?" Rasulullah menjawab, "Bila terpaksa, maka
tunaikan semua hak jalan." Mereka bertanya, "Apa haknya wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab, "Menundukkan pandangan mata, menjauhkan bahaya, menjawab salam, amar
makruf dan nahi mungkar." (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, menjaga kebersihan lingkungan. "Semua amalan umatku ditampakkan
kepadaku baik dan buruknya. Aku dapatkan di antara amal kebajikan adalah menghilangkan
bahaya dari jalanan dan aku temukan di antara amalan yang buruk adalah membuang ingus
di masjid dan tidak dibersihkan." (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).
Keempat, melarang melakukan pencemaran lingkungan. "Sesungguhnya Allah itu
Maha baik yang mencintai kebaikan, Mahabersih yang mencintai kebersihan. Oleh sebab itu,
bersihkanlah halaman-halaman rumah kamu dan jangan menyerupai Yahudi." (HR Tirmidzi
dan Abu Ya'la).
Rasulullah melarang untuk membuang air kecil dalam air yang tidak mengalir karena
akan merusak air itu. (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi). Rasulullah juga menyuruh kita
untuk selalu tampil bersih dan wangi, sehingga mendatangkan ketenangan jiwa dan rasa
simpati dari orang lain.
Kelima, menganjurkan umat manusia untuk menghidupkan lahan mati dan
menanaminya dengan pepohonan. "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon kecuali buah
yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri sedekah, yang dimakan binatang buas
adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali
menjadi sedekah." (HR Muslim dan Ahmad).
Dalam hadis lain disebutkan: "Barang siapa yang menghidupkan lahan mati, baginya
pahala. Dan semua yang dimakan burung dan binatang menjadi sedekah baginya." (HR AnNasai, Ibnu Hibban dan Ahmad).
Keenam, melakukan penghematan energi. Suatu hari, Rasulullah melewati Sa'ad
sedang berwudhu (dan banyak menggunakan air). Beliau mengkritik, "Mengapa boros wahai
Sa'ad?" Sa'ad menjawab, "Apakah ada pemborosan air dalam wudhu?" Rasul menjawab, "Ya,
walaupun kamu berada di sungai yang mengalir." (HR Ibnu Majah dan Ahmad).
Hadirin Jamaah Jumat Yang Berbahagia.
Bila kita telah terlanjur berbuat kezholiman dan kerusakan, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun.
Oleh
karena
itu
dalam
ayat
tadi
Allah
juga
memerintahkan

( bertaubatlah kamu). Bila kita bertaubat kemudian diiringi dengan
amal sholeh dalam konteks ini yaitu memakmurkan dan memelihara alam, maka Insya Allah
alam nan indah ini akan terjaga kelestariannya sehingga apa yang kita nikmati saat ini juga

akan dinikmati oleh anak cucu kita dikemudian hari karena alam nan indah ini adalah titipan
anak cucu kita bukan warisan dari nenek moyang. Oleh karena itu seyogyanya kita
mewariskan mata air bukan air mata.

Khutbah Kedua Setiap Jumat


Oleh : Mushanef, S.HI











.




.







.








.








.