Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

TONSILITIS KRONIS

Oleh :
TANNIA RIZKYKA IRAWAN
H1A012059

Pembimbing :
dr. I Gusti Ayu Trisna Ariani, Sp.THT-KL

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2016

Daftar Isi
Daftar Isi...
Bab I. Pendahuluan...
Bab II. Tinjauan Pustaka...
2.1 Embriologi Tonsil
2.2 Anatomi Tonsil.......
2.3 Tonsilitis Kronis ........
2.3.1 Definisi..
2.3.2 Etiologi..
2.3.3 Faktor Predisposisi....
2.3.4 Patologi .....
2.3.5 Manifestasi Klinis......

2
3
4
4
5
5
6
6
11
11
12
13
14
15
16
17

2.3.6 Diagnosis ..
2.3.7 Tatalaksana ................................................................................
2.3.8 Prognosis .................................................................................
2.3.9 Komplikasi...
2.3.10 Pencegahan..
Bab III. Laporan Kasus.
Bab IV. Pembahasan.
Daftar Pustaka...

18
25
26

BAB I
PENDAHULUAN
Tonsilitis kronis merupakan keradangan kronik pada tonsil yang biasanya
merupakan kelanjutan dari infeksi akut berulang dari tonsil.1 Kelainan ini merupakan
penyakit yang paling sering terjadi dari seluruh penyakit tenggorok berulang dan
merupakan kelainan tersering pada anak di bidang THT. Di Indonesia infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) masih merupakan penyebab tersering morbiditas dan
mortalitas pada anak. Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi
(Indonesia) pada tahun 1994-1996, prevalensi tonsilitis kronik 36 kasus/1000 anak
sebesar 3,8% tertinggi kedua setelah nasofaringitis akut (4,6%). Data morbiditas pada
anak menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 pola penyakit anak
laki-laki dan perempuan umur 5-14 tahun yang paling sering terjadi.
Secara umum, penatalaksanaan tonsilitis kronis dibagi dua, yaitu konservatif
dan operatif. Terapi konservatif dilakukan untuk mengeliminasi kausa, yaitu infeksi,
dan mengatasi keluhan yang mengganggu. Bila tonsil membesar dan menyebabkan
sumbatan jalan napas, disfagia berat, gangguan tidur, terbentuk abses, atau tidak
berhasil dengan pengobatan konvensional, maka operasi tonsilektomi perlu
dilakukan.2
Mengingat angka kejadian yang tinggi dan dampak yang ditimbulkan dapat
mempengaruhi kualitas hidup anak, maka pengetahuan yang memadai mengenai
tonsilitis kronis diperlukan guna penegakan diagnosis dan terapi yang tepat dan
rasional.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 EMBRIOLOGI TONSIL
Tonsila palatina berasal dari proliferasi sel-sel epitel yang melapisi kantong
faringeal kedua. Perluasan ke lateral dari kantong faringeal kedua diserap dan bagian
dorsalnya tetap ada dan menjadi epitel tonsilla palatina. Pilar tonsil berasal dari arcus
branchial kedua dan ketiga. Kripta tonsillar pertama terbentuk pada usia kehamilan
12 minggu dan kapsul terbentuk pada usia kehamilan 20 minggu. Pada sekitar bulan
ketiga, tonsil secara gradual akan diinfiltrasi oleh sel-sel limfatik.
Secara histologis tonsil mengandung 3 unsur utama yaitu jaringan ikat atau
trabekula (sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf dan limfa), folikel
germinativum (sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda) serta jaringan
interfolikel (jaringan limfoid dari berbagai stadium).9

Gambar 1. Gambaran Histologi Tonsil

2.2 ANATOMI TONSIL

Tonsilla lingualis, tonsilla palatina, tonsilla faringeal dan tonsilla tubaria


membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran nafas dan saluran
pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Kumpulan jaringan ini
melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada
cincin Waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada
umur 3 tahun dan tonsil pada usia 5 tahun, dan kemudian menjadi atrofi pada masa
pubertas.
Gambar 2. Gambaran Anatomi Tonsil

Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting


dari cincin waldeyer. Jaringan limfoid lainnya yaitu tonsil lingual, pita lateral faring
dan kelenjar-kelenjar limfoid. Kelenjar ini tersebar dalam fossa Rossenmuler,
dibawah mukosa dinding faring posterior faring dan dekat orificium tuba eustachius
(tonsil Gerlachs). 9,10
Tonsilla palatina adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ovoid yang
terletak pada dinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris. Tiap tonsilla ditutupi
membran mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring.
Permukaannya tampak berlubang-lubang kecil yang berjalan ke dalam Cryptae
5

Tonsillares yang berjumlah 6-20 kripta. Pada bagian atas permukaan medial tonsilla
terdapat sebuah celah intratonsil dalam. Permukaan lateral tonsilla ditutupi selapis
jaringan fibrosa yang disebut capsula tonsilla palatina, terletak berdekatan dengan
tonsilla lingualis.
Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsila palatina adalah:2

Anterior
Posterior
Superior
Inferior
Medial
Lateral

: arcus palatoglossus
: arcus palatopharyngeus
: palatum mole
: 1/3 posterior lidah
: ruang orofaring
: kapsul yang dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior

oleh jaringan areolar longgar, sedangkan A. carotis interna terletak 2,5 cm di


belakang dan lateral tonsila.
Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil
mempunyai 10-30 kriptus yang meluas kedalam jaringan tonsil. Di dalam kriptus
biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan.2
Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong di atasnya
dikenal sebagai fossa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada
muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan. Permukaan
lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut kapsul tonsil,
sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi.2 Walaupun tonsil terletak di
orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas ke arah nasofaring
sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi hidung walau
jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah ke arah hipofaring,
sehingga sering menyebabkan terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada jalan
nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama yaitu :
1) Jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf
dan limfa.

2) Folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda.


3) Jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai
stadium.

Vaskularisasi

Tonsil mendapat darah dari a. palatine minor, a. palatine asendens, cabang


tonsil a. maksila eksterna, a. faring asendens dan a. lingualis dorsal. Tonsil lingual
terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di
garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum apeks, yaitu sudut
yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan
penjalaran duktus tiroglosus dan secara klinik merupakan tempat bila ada massa
tiroid lingual (lingual thyroid) atau Krista duktus tiroglosus.2

Arteri karotis interna berada pada kira-kira 2 cm posterolateral dari aspek


dalam tonsil; dengan demikian diperlukan ketelitian agar tetap berada pada bidang
pembedahan/pemotongan yang tepat untuk menghindari luka pada lokasi pembuluh
darah. Aliran utama limfa dari tonsil menuju superior deep cervical and jugular
lymph nodes; Penyakit peradangan pada tonsil merupakan faktor signifikan dalam
perkembangan adenitis atau abses servikal pada anak. Inervasi sensoris tonsil berasal
dari n. glosofaringeal dan beberapa cabang-cabang n. palatina melalui ganglion
sphenopalatina.4
Persarafan

Inervasi tonsil bagian atas berasal dari serabut saraf v melalui ganglion
sphenopalatina dan bagian bawah dari saraf glossofaringeus (N. IX). Pemotongan
pada n. IX menyebabkan anastesia pada semua bagian tonsil.5
Fungsi Tonsil Terhadap Sistem Imun
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2 %
dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada
tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-57%:15-30%. Pada tonsil terdapat
system imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membrane), makrofag, sel dendrite
dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen
ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis immunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel
limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG.1
Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu menangkap dan mengumpulkan bahan
asing dengan efektif dan sebagai organ produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T
dengan antigen spesifik. Jika tonsil tidak mampu melindungi tubuh, maka akan timbul
inflamasi dan akhirnya terjadi infeksi yaitu tonsilitis (tonsillolith). Aktivitas
imunologi terbesar tonsil ditemukan pada usia 3 10 tahun.6

Gambar 3. Anatomi Normal Tonsil Palatina


Adenoid atau tonsila faringeal adalah jaringan limfoepitelial berbentuk
triangular yang terletak pada aspek posterior. Adenoid berbatasan dengan kavum nasi
dan sinus paranasalis pada bagian anterior, kompleks tuba eustachius- telinga tengahkavum mastoid pada bagian lateral.
Terbentuk sejak bulan ketiga hingga ketujuh embriogenesis. Adenoid akan
terus bertumbuh hingga usia kurang lebih 6 tahun, setelah itu akan mengalami
regresi. Adenoid telah menjadi tempat kolonisasi kuman sejak lahir. Ukuran adenoid
beragam antara anak yang satu dengan yang lain. Umumnya ukuran maximum
adenoid tercapai pada usia antara 3-7 tahun. Pembesaran yang terjadi selama usia
kanak-kanak muncul sebagai respon multi antigen seperti virus, bakteri, alergen,
makanan dan iritasi lingkungan.

Gambar 4. Adenoid
2.3 TONSILITIS KRONIS
2.3.1 Definisi
Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang
terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada
anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang
keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan
yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus. 10

Gambar 5. Tonsilitis Folikularis


2.3.2 Etiologi

10

Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari


Commission on Acute Respiration Disease bekerja sama dengan Surgeon General of
the Army America dimana dari 169 kasus didapatkan data sebagai berikut :
25% disebabkan oleh Streptokokus hemolitikus yang pada
masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus

antibodi dalam serum penderita.


25% disebabkan oleh Streptokokus golongan lain yang tidak
menunjukkan kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum
penderita. Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus
influenza.

2.3.3 Faktor Predisposisi


Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu : 10
Rangsangan kronis (rokok, makanan)
Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah)
Alergi (iritasi kronis dari allergen)
Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
Pengobatan Tonsilitis akut yang tidak adekuat.
2.3.4 Patologi
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripta tonsil. Karena proses
radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada
proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini
akan mengerut sehingga kripta akan melebar.Secara klinis kripta ini akan tampak diisi
oleh Detritus (akumulasi epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang
menutupi kripta berupa eksudat berwarna kekuning kuningan). Proses ini meluas
hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar
fossa tonsilaris. Pada anak-anak, proses ini akan disertai dengan pembesaran kelenjar
submandibula. 10
2.3.5 Manifestasi Klinis

11

Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut
yang berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan
(odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan
bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau.
Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis
yang mungkin tampak, yakni :
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke
jaringan sekitar, kripta yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen
atau seperti keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang
seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripta yang
melebar dan ditutupi eksudat yang purulen.
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur
jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua
tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : 10
T0 : Tonsil masuk di dalam fossa
T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

12

Gambar 6. Gradasi Pembesaran Tonsil


2.3.6 Diagnosis
Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut:
1. Anamnesa
Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting karena hampir 50%
diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan
keluhan rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas
bau busuk, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada
leher.
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut.
Sebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan
dari kripta-kripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu
bahan seperti keju atau dempul amat banyak terlihat pada kripta. Gambaran klinis
yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya membuat lekukan,
tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat pada
kripta.
13

3. Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan
apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan
derajat keganasan yang rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus
viridans, Stafilokokus, atau Pneumokokus. 10
2.3.7 Penatalaksanaan
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan
tonsil (Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana
penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan gejalagejala.
Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotika penisilin yang lama,
irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris
dengan alat irigasi gigi (oral). Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan
dengan infeksi kronis atau berulang-ulang.
Tonsilektomi merupakan suatu prosedur pembedahan yang diusulkan oleh
Celsus dalam buku De Medicina (tahun 10 Masehi). Jenis tindakan ini juga
merupakan tindakan pembedahan yang pertama kali didokumentasikan secara ilmiah
oleh Lague dari Rheims (1757).
Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of Otolaryngology Head
and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan : 2,9

a) Indikasi absolut:
i) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas, disfagia
menetap, gangguan tidur atau komplokasi kardiopulmunar.
ii) Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofacial

14

iii) Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang
tidak hilang dengan pengobatan. Otitis media efusi atau otitis media
supuratif.
iv) Tonsilitis yang menimbulkan febris dan konvulsi
v) Biopsi untuk menentukan jaringan yang patologis (dicurigai keganasan)
b) Indikasi relatif :
i) Penderita dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali atau lebih dalam
setahun meskipun dengan terapi yang adekuat
ii) Bau mulut atau bau nafas yang menetap yang menandakan tonsilitis kronis
tidak responsif terhadap terapi
iii) Tonsilitis kronis atau rekuren yang disebabkan kuman streptococus yang
resisten terhadap antibiotik betalaktamase
iv) Pembesaran tonsil unilateral yang diperkirakan neoplasma
c) Kontra indikasi :
i) Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli hematologi
ii) Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli bedah fasilitasnya tidak
mempunyai pengalaman khusus terhadap bayi
iii) Infeksi saluran nafas atas yang berulang
iv) Perdarahan atau penderita dengan penyakit sistemik yang tidak terkontrol.
v) Celah pada palatum

2.3.8

Prognosis

Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristirahat dan


pengobatan suportif. Menangani gejala gejala yang timbul dapat membuat penderita
tonsilitis lebih nyaman. Bila antibiotik diberikan untuk mengatasi infeksi, antibiotika
tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi penatalaksanaan yang lengkap, bahkan
bila penderita telah mengalami perbaikan dalam waktu yang singkat.6
Gejala gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita
mengalami infeksi saluran nafas lainnya, infeksi yang paling sering terjadi yaitu
infeksi pada telinga dan sinus. Pada kasus kasus yang jarang, tonsilitis dapat
menjadi sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau pneumonia.6

15

2.3.9 Komplikasi
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke
daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.
Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut : 10
1. Komplikasi sekitar tonsila
Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus
dan abses.
Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi
berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi,
menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.
Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening
atau pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus
paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.
Abses Retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi
pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih
berisi kelenjar limfe.
Kista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan
fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna
putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.
Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)
Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan
2.

tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur.


Komplikasi Organ jauh
Demam rematik dan penyakit jantung rematik
Glomerulonefritis
Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
Psoriasiseritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura
Artritis dan fibrositis.

16

2.3.10 Pencegahan
Bakteri dan virus penyebab tonsilitis dapat dengan mudah menyebar dari satu
penderita ke orang lain. Resiko penularan dapat diturunkan dengan mencegah
terpapar dari penderita tonsilitis, atau yang memiliki keluhan sakit menelan. Orangorang yang merupakan karier tonsilitis semestinya sering mencuci tangan mereka
untuk mencegah penyebaran infeksi pada orang lain. Selain itu, menghindari kejadian
tonsilitis kronis juga dapat dilakukan dengan menghindari kontak dengan faktor
predisposisi yang memperberat gejala, seperti inhalan asap rokok.6

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Identitas Pasien
Nama pasien
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Pekerjaan
Tanggal Pemeriksaan

: An. PT
: 8 tahun
: Perempuan
: Mataram
: Pelajar
: 28 Juni 2016

17

3.2. Anamnesis
Keluhan utama
Pasien mengeluh rasa tidak nyaman di tenggorokan
Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh tidak nyaman di tenggorokannya sejak 3 tahun lalu. Sejak
saat itu, pasien mengaku menderita batuk pilek berulang. Ibu pasien
mengeluhkan anaknya muncul batuk dan pilek hilang timbul setiap sebulan
selama 1 tahun terakhir. Jika terjadi batuk dan pilek kadang tenggorokan
dirasakan sakit. Saat ini pasien tidak merasakan adanya nyeri menelan atau
tenggorokannya sakit. Anak sering mengorok ketika tidur, dan hal ini muncul
sekitar 6 bulan yang lalu. Saat ini pasien tidak mengalami demam, dan batuk
pilek.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien sejak 1 tahun terakhir sudah sering dirawat di poli THT RSUP

NTB dan sudah disarankan untuk operasi.


Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya batuk lama, asma, dan alergi disangkal
Riwayat sosial
Ibu pasien mengakui anaknya memiliki kebiasaan membeli jajanan di sekolah
(seperti cilok, makanan ringan, dan es) yang tidak dapat di kontrol.
Riwayat alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat dan makanan.

3.3. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : Nadi : 100 x/m, reguler kuat angkat
Frekuensi napas : 20 x/m
Suhu : 36.6 oC
Status Lokalis
No

Pemeriksaan

Telinga kanan

Telinga kiri

18

.
1.
2.

Telinga
Tragus
Daun telinga

Nyeri tekan (-), edema (-)


Nyeri tekan (-), edema (-)
Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri normal, hematoma (-), nyeri

3.

tarik aurikula (-)


tarik aurikula (-)
Serumen (+), hiperemis (-), Serumen (+), hiperemis (-),

Liang telinga

furunkel (-), edema (-), otorhea furunkel (-), edema (-), otorhea
(-)

4.

Membran timpani

(-)

Retraksi

(-),

bulging

(-), Retraksi

(-),

bulging

(-),

hiperemi

(-),

edema

(-), hiperemi

(-),

edema

(-),

perforasi (-),cone of light (+)

perforasi (-),cone of light (+)

Pemeriksaan hidung

Pemeriksaan Hidung
Hidung kanan
Hidung luar
Bentuk (normal), hiperemi

Rinoskopi anterior
Vestibulum nasi

Hidung kiri
Bentuk (normal), hiperemi

(-), nyeri tekan (-),

(-), nyeri tekan (-),

deformitas (-)

deformitas (-)

Normal, ulkus (-)

Normal, ulkus (-)

19

Cavum nasi

Bentuk (normal), mukosa Bentuk (normal), mukosa

Meatus nasi media

pucat (-), hiperemia (-)


Mukosa normal, sekret (-),

pucat (-), hiperemia (-)


Mukosa normal, sekret (-),

massa berwara putih

massa berwara putih

Konka nasi inferior

mengkilat (-).
mengkilat (-).
Edema (-), mukosa hiperemi Edema (-), mukosa

Septum nasi

(-)
hiperemi (-)
Deviasi (-), perdarahan (-), Deviasi (-), perdarahan (-),
ulkus (-)

ulkus (-)

Pemeriksaan Tenggorokan

Tonsil Dekstra: Detritus (+),


hiperemis (+), kripte melebar
(+)T4
Tonsil
sinistra:
detritus
(+),
hiperemis (+), kripte melebar (+)

20

Bibir
Mulut
Geligi
Lidah
Uvula
Palatum mole
Faring

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)


Mukosa mulut basah berwarna merah muda
Normal
Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-)
Bentuk normal, hiperemi (-), edema (-), pseudomembran (-)
Ulkus (-), hiperemi (-)
Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-),

sekret (-)
Kanan
T4
Tonsillaris hiperemi (-)

Tonsila palatine
Fossa

Kiri
T4
hiperemi (-)

dan Arkus Faringeus


Pemeriksaan

Laboratorium
Parameter

17/03/2016

Nilai Normal

HB
RBC
HCT
MCV
MCH
MCHC
WBC
EO
PLT

12,5
5,00
38,3
76,6
25,0
32,6
13,54
0,47
435

11,5 16,5g/dl
4,5-5,5 x 106 /L
40 - 50 %
82-92 fl
27-31 pg
32-37 g/dl
4-11 x 103/L
0-1 10^3/uL
150-400 103/L

3.4. Diagnosis
Tonsilitis Kronis
3.5. Deferential Diagnosis
Adenotonsilitis Kronis
3.6. Rencana Terapi Medikamentosa dan Diagnostik
Pro Tonsilektomi
Pro Foto Rontgen Toraks

21

3.7. KIE Pasien


Menginformasikan kepada pasien dan keluarganya bahwa kondisi yang terjadi
dapat diatasi dengan jalan operasi
Menjelaskan prosedur operasi dan resiko operasi
3.8. Prognosis
Dubia ad bonam

Follow up
Hari/Tanggal
Keadaan Pasien
Terapi
Rabu, 29 Juni Pasien menjalani tindakan operasi,ditemukan Obs. Vital sign dan tanda
2016

Tonsil membesar T4/T4, dilakukan tindakan perdarahan


tonsilektomi.

Ceftriaxon 0,5 gr/12 jam


Deksametason 1 amp/12
jam
Paracetamol 500 mg/6
jam
Diet Cair
Ceftriaxon 0,5 gr/12 jam

Kamis, 30 Juni Pasien post operasi hari II


2016

Keluhan : nyeri di daerah operasi(+), demam Deksametason 1 amp/12


(-), makan minum baik, perdarahan (-).

jam

Pemeriksan Fisik:

Paracetamol 500 mg/6

Nadi : 110 x/m

jam

RR : 20 x/m

Diet Bubur Saring

T: 36.7 oC

X
X

X
T0

T0

22

Jumat,

2016

Sabtu,
2016

Juli Pasien post operasi hari III

Ceftriaxon 0,5 gr/12 jam

Keluhan : Batuk(-), nyeri di daerah operasi(+), Deksametason 1 amp/12

demam (-), makan minum baik, perdarahan (-).

jam

Pemeriksan Fisik:

Paracetamol 500 mg/6

Nadi : 96 x/m

jam

RR : 22 x/m

Diet Bubur Tepung

T: 36.2 oC
Juli Post operasi hari ke IV
Keluhan : pasien tidak memiliki keluhan

Pasien

direncanakan

Pulang

Pemeriksan Fisik:
Nadi : 100 x/m
RR : 20 x/m
T: 36.0 oC

23

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien perempuan usia 8 tahun, datang dengan keluhan tidak nyaman


ditenggorokan sejak 3 tahun yang lalu. Sejak saat itu, pasien mengaku batuk pilek
berulang. Ibu pasien mengeluhkan anaknya muncul batuk dan pilek hilang timbul
setiap sebulan selama 1 tahun terakhir. Jika terjadi batuk dan pilek kadang
tenggorokan dirasakan sakit. Saat ini pasien tidak merasakan adanya nyeri menelan
atau tenggorokannya sakit. Anak sering mengorok ketika tidur, dan hal ini muncul
sekitar 6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya ukuran tonsil
yang membesar, sudah mencapai T4 pada tonsil kiri dan kanan. Keterangan tersebut
dapat digunakan sebagai acuan untuk mendiagnosa pasien dengan tonsillitis kronis.
Terapi tatalaksana dari tonsilitis kronis pada pasien adalah tindakan operasi berupa
tonsilektomi. Hal ini dikarenakan pasien telah memiliki kriteria indikasi operasi yaitu
pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas. Pasien juga diminta
untuk pemeriksaan laboratorium untuk mengecek darah lengkap, bleeding time dan
clotting time serta foto rongten thoraks yang hasilnya akan digunakan untuk
persiapan operasi.
Terapi pada pasien ini setelah operasi diberikan antibiotik untuk mencegah
terjadinya infeksi, diberikan analgetik untuk menghilangkan nyeri dan juga
deksametason untuk mengurangi peradangan dan rasa tak nyaman di bekas daerah
operasi. Diet bubur cair diberikan pada awal operasi untuk meringankan beban dari
mulut pasien karena proses mengunyah dapat menyebabkan jahitan terlepas dan
perdarahan.

Perubahan

diet

bubur

menjadi

makanan

lunak

dengan

mempertimbangkan kondisi luka operasi. Dalam 5-7 hari biasanya luka operasi sudah
dapat mengering, pada saat itu pasien sudah dapat mengkonsumsi makanan padat.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Rubin MA, Gonzales R, Ford LC. Sore Throat, Earache and Upper Respiratory
Symptoms. In: Harrisons Principle of Internal Medicine. 19th ed. McGraw Hill.
New York: 2015; pp. 225-242.
2. Rusmarjono, & Soepardi EA. Penyakit dan kelainan tonsil dan Faring. Dalam :
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher edisi
keenam. FKUI. Jakarta: 2007; hal. 195-203.
3. Nave H, Gebert A, Pabst. 2001. Morphology and immunology of the human
palatine tonsil. Anatomy Embryology 2004: 367-373.
4. Grevers G. Pharynx and Esophagus. In: Basic Otorhinolaryngology. Thieme.
New york: 2006; pp. 98-120.
5. Vanputte CL, Regan JL, Russo AF. The Special Sense. In: Seeleys Anatomy &
Physiology, 10th ed. Mc Graw Hill. New York; 2014: pp 526-538.
6. Nurjanna Z. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis di RSUP H. Adam Malik
Medan tahun 2007-2010, E-Journal FK USU, 2010:2(10);1-3.
7. Amarudin, Tolkha et Anton Christanto. 2005. Kajian Manfaat Tonsilektomi,
Cermin Dunia Kedokteran.
8. Dedya, et. Al. Tonsilitis Kronis Hipertrofi dan Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Pada Anak. Bagian/Smf Ilmu Penyakit THT FK UNLAM. 2009.
9. Derake A, Carr MM. Tonsillectomy. Dalam : Godsmith AJ, Talavera F, Allen Ed.
EMedicine.com.inc.2002 : 1 10.
10. Adams LG, Boies RL, Higler AP, BOIES Fundamentals of Otolaryngology. 6 Th
Ed. Edisi Bahasa Indonesia, EGC, Jakarta, 2001; 263-368

25