Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang


melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Cara Mengembangkan Metode PAI di Madrasah dengan
baik dan lancar.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan limpahkan keharibaan
junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebaik-baiknya insan lintang pemimpin
bagi umat manusia karena berkat beliaulah kita masih dapat merasakan nikmatnya
Islam.
Dalam makalah

ini kami membahas tentang cara mengembangkan

metode PAI di Madrasah. Selanjutnya kami haturkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini terutama kepada
Dosen Pengampu Bapak Wasirin, M.Pd.I. yang telah memberikan arahan dalam
penyusunan makalah ini.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, di dalamnya terdapat banyak
kekurangan karena tidak ada kesempurnaan sedikitpun di dunia ini. Dengan ini
kami mengharap kritik dan saran untuk lebih memotivasi kami kedepan, terutama
untuk dosen pembimbing sebagai pembimbing kami. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, Amin...

Belitang,

Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................
1.2 Rumusan Masalah......................................................................
1.3 Tujuan.........................................................................................

BAB II

1
2
2

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metodologi Pendidikan dan Dasar Metode
Pendidikan Islam........................................................................
2.2 Prinsip-prinsip Pembelajaran PAI..............................................
2.3 Model Pembelajaran PAI............................................................
2.4 Metodologi Pengajaran PAI.......................................................
2.5 Cara Mengembangkan metode PAI di Sekolah/Madrasah.........

3
5
7
8
9

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...............................................................................
B. Saran ..........................................................................................

18
18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

19

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode merupakan langkah strategis yang dipersiapkan pendidik untuk
melakukan suatu proses pembelajaran, dengan adanya beberapa metode maka
proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan baik. Proses belajar mengajar
merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai
pemegang peranan yang utama. Peran guru adalah menciptakan serangkaian
metode yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta
berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa
yang menjadi tujuannya.
Pengaturan dan pengembangan metode dalam pengajaran adalah bagian
dari kegiatan manajemen pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru. Untuk
mewujudkan manajemen kelas di sekolah dasar, seorang guru harus kreatif dalam
menciptakan berbagai macam metode untuk mendukung meningkatnya intensitas
pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan
pengajaran.
Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting terlebih bagi
keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah lintasan perjalanan jaman dengan
perubahan serta pergeseran nilai yang bervariasi. Hal ini membawa konsekuensi
kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya.
Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang wajib diajarkan
setiap jenjang pendidikan, yaitu mulai pendidikan dasar sampai keperguruan
tinggi, hal ini sesuai dengan UU RI No. 2 Tahun 1989 pada bab IX pasal 39 ayat
2 yaitu isi kurikulum setiap jenis jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat :
1. Pendidikan Pancasila.
2. Pendidikan agama.
1

3. Pendidikan kewarganegaraan
Pendidikan agama mengemban amanat sekaligus, yaitu bidang agama dan
bidang pendidikan, di bidang pendidikan, pendidikan agama di sekolah
merupakan bagian integral dari program pendidikan dan pengajaran pada setiap
jenjang dan jenis pendidikan untuk mencapai tujuan nasional.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian metodologi pendidikan dan dasar metode pendidikan
2.
3.
4.
5.

Islam?
Sebutkan prinsip-prinsip pembelajaran PAI?
Jelaskan bagaimana model pembelajaran PAI?
Jelaskan metodologi pengajaran PAI?
Bagaimana cara mengembangkan metode PAI di sekolah/madrasah?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian metodologi pendidikan dan dasar metode
2.
3.
4.
5.

pendidikan Islam.
Untuk mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran PAI.
Untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran PAI.
Untuk mengetahui metodologi pengajaran PAI.
Untuk mengetahui cara mengembangkan metode PAI di sekolah/madrasah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metodologi Pendidikan dan Dasar Metode Pendidikan Islam

1. Pengertian Metodologi Pendidikan


Metodologi adalah suatu ilmu yang membicarakan cara atau jalan yang
harus dilalui untuk mencapai tujuan atau menguasai kompetensi tertentu.
Pendidikan adalah proses bimbingan terhadap peserta didik untuk mencapai
tujuan.
Metodologi pendidikan adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang
jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan atau
menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabus mata
pelajaran.
2. Dasar Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan islam dalam penerapannya banyak menyangkut
permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri,
sehinga dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan
dasar-dasar umum metode pendidikan Islam :
a. Dasar agama
Pelaksanaan metode pendidikan islam, dalam prakteknya berkaitan
dengan kehidupan pendidik dan kehidupan masyarakat yang luas, yang
memberikan dampak yang besar terhadap kepribadian peserta didik. Oleh
karena itu, agama merupakan salah satu dasar metode pendidikan dan
pengajaran.
Metode pendidikan islam berdasarkan pada agama islam yang
menjadi sumber ajarannya adalah al-quran dan al-hadits.
b. Dasar biologis
Perkembangan biologis manuia mempunyai pengaruh, dalam
perkembangan intelektualnya. perkembangan jasmani (biologis) seorang
juga mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya.
Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa perkembangan jasmani
dan kondisi jasmani itu sendiri, memegang peranan penting dalam proses
pendidikan.
c. Dasar psikologis

Kondisi psikologis yang menjadi dasar dalam metode pendidikan


Islam berupa sejumlah kekuatan psikologis peserta didik termasuk
motivasi, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat-bakat, dan
kecakapan akal (intelektualnya). sehingga seorang pendidik dituntut untuk
mengembangkan potensi psikologis yang ada pada peserta didik.
d. Dasar sosiologis
Interaksi yang terjadi antara sesama peserta didik dan interaksi
antara pendidik dan peserta didik, merupakan interaksi timbal balik yang
kedua belah pihak saling memberikan dampak positif pada keduanya.
Dasar penggunaan sebuah metode pendidikan islam salah satunya
adalah dasar sosiologis, baik dalam interaksi yang terjadi antara peserta
didik dengan pesrta didik, pendidik dengan pesera didik, pendidik dengan
masyarakat, dan peserta didik dengan masyarakat bahkan diantara mereka
semua dengan pemerintah.
2.2 Prinsip-prinsip Pembelajaran PAI
1. Berpusat pada peserta didik
Peserta didik memiliki perbedaan satu sama lain. Perbedaan tersebut
dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya :
a. Perbedaan minat, dan perhatian
b. Perbedaan cara belajar
c. Perbedaan kecerdasan
2. Belajar dengan melakukan : Anak aktif mencari sendiri dan bekerja
sendiri.
3. Mengembangkan kemampuan sosial : melalui diskusi, saling bertanya,
saling menjelaskan.
4. Mengembangkan keingintahuan : peserta didik dituntut untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik secara maksimal
5. Mengembangkan fitrah berTuhan : mengembangkan potensi dan bakat
yang dimiliki
6. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
a. Mengemukakan persoalan atau masalah
b. Memperjelas persoalan atau masalah
4

c. Melihat kemungkinan jawaban peserta didik


d. Mencobakan kemungkinan yang dianggap menguntungkan
e. Penilaian
7. Mengembangkan kreatifitas peserta didik
Pendidik hendaknya berupaya memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengemukkan pendapatnya sebanyak mungkin.
8. Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi
Hal ini dapat diciptakan dengan pemberian tugas yang mengharuskan
peserta didik berhubungan langsung dengan tekhnologi
9. Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik
Peserta didik diberi wawasan dan kesadaran untuk menjadi warga
Negara yang produktif dan bertanggung jawab.
10. Belajar melalui peniruan
Peniruan kebiasaan tingkah laku orang-orang disekitar khususnya
orang tua.
11. Belajar melalui pembiasaan
Cara praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak.
Pengembangan Program Pembelajaran :
1. Program waktu pembelajaran
a. Program tahunan : Standar kompetensi, Materi pembelajaran, Kalender
akademik/pendidikan
b. Program semester berisikan tentang : bulan, pokok bahasan yang
hendak diajarkan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan
yang hendak dilakukan.
c. Program mingguan dan harian : dicantumkan kompetensi-kompetensi
yang akan dikuasai dan perlu diulang bagi peserta didik, identifikasi
2.

kemajuan belajar peserta didik.


Program materi pembelajaran
a. Program modul (pokok bahasan)
b. Kompetensi yang akan dikuasai oleh peserta didik
c. Topic yang disajikan pangkal proses pembelajaran dan pengalaman
belajar tiga sub kompetensi yang akan dikuasai peserta didik
d. Pokok bahasan yang akan dipelajari
e. Kedudukan dan fungsi satuan dalam kesatuan program yang lebih luas

f. Peranan pendidik di dalam proses pembelajaran


g. media dan sumber yang akan di capai
h. Kegiatan-kegiatan pembelajaran yang harus di hayati dan dilaksanakan
oleh peserta didik.
i. Lembaran-lembaran kerja yang harus diisi peserta didik
j. Program evaluasi yang akan dilaksanakan selama berjalannya proses
3.

pembelajaran.
Program pengayaan dan remedial
Program ini mengidentifikasi modul yang perlu diulang, peserta didik
yang wajib mengikuti remedial, dan yang mengikuti program pengayaan.

4.

Program bimbingan dan konseling


Berfungsi dalam rangka memberikan bimbingan, konseling, dan
psikoterapi peserta didik yang menyangkut berbagai hal.
2.3 Model Pembelajaran PAI
1. Model pembelajaran unit merupakan suatu kesatuan yang bulat, yang terdiri
dari rangkaian bagian-bagian yang bersatu-padu dan serasi.
2. Model pembelajaran PPSI (prosedur pengembangan system instruksional)
merupakan salah satu pola dasar mengajar yang telah dipergunakan
pemerintah sebagai pola dasar terpilih
3. Model pembelajaran CBSA (cara belajar peserta didik aktif) adalah aktifitas
pelajar sendiri, dimana pola atau system pembinaan iklim kegiatan belajar
pendidik, tinggi dan aktif serta berhasil dengan baik secara tuntas.
4. Model pembelajaran tuntas merupakan model pembelajaran yang dapat
dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang
tepat semua peseta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh
hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari.
5. Model pembelajaran konstruktivisme merupakan proses aktif dalam
membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat
dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya.
6. Model pembelajaran problem solving merupakan model pembelajaran
dimana peserta didik dihadapkan pada suatu kondisi bermasalah.
7. Model pembelajaran quantum learning merupakan interaksi-interaksi yang
mengubah energy menjadi cahaya.

8. Model pembelajaran pendekatan aptitude-treatment interaction (ATI)


merupakan suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi
pembelajaran yang epektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan
kemampuannya masing-masing
9. Model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran ini ditentukan oleh pendidik,
baik tujuan metode, materi, evaluasi, dan lain-lain.
2.4 Metodologi Pengajaran PAI
1. Metode mengajar qurani dan bahasa qurani
a. Metode hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi
b. Metode kisah qurani dan nabawi
c. Metode amtsal (perumpamaan) qurani dan nabawi
d. Metode keteladanan
e. Metode pembiasaan
f. Metode ibadah dan manizah
g. Metode targhib dan tarhib
2. Metode ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan oleh
pendidik terhadap kelas.
3. Metode Tanya jawab ialah suatu cara mengajar dimana seorang pendidik
mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik tentang bahan
pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca sambil
memperhatikan proses berfikir diantara peserta didik.
4. Metode eksperimen ialah apabila seseorang peserta didik melakukan
sesuatu percobaan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh
peserta didik.
5. Metode diskusi ialah suatu proses yang melibatkan dua atu lebih individu
yang berintegrasi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai
tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar-menukar
informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah.
6. Metode sosio drama dan bermain peran ialah penyajian bahan dengan cara
memperlihatkan peragaan, baik dalam bentuk uraian ataupun kenyataan.
7. Metode mengajar beregu ialah suatu system yang mengajar yang
dilakukan oleh 2 orang pendidik atau lebih dalam mengajar sejumlah
peserta didik yang mempunyai perbedaan minat, kemempuan atu tingkat
kelas.

8. Metode pemecahan masalah ialah suatu cara menyajikan pelajaran dengan


mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah
dalam rangka pencapaian tujuan pencapaian.
9. Metode kerja kelompok ialah penyajian materi dengan cara pemberian
tugas-tugas untuki mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok
belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan.
10. Metode imla atau dikte ialah suatu cara menyajikan bahan pelajaran
dengan menyuruh peserta didik, menyalin apa-apa yang dikatakan
pendidik.
11. Metode simulasi ialah memberikan gambaran atau simulasi itu dapat
digunakan untuk melakukan proses-proses tingkah laku secara imitasi.
2.5 Cara Mengembangkan metode PAI di Sekolah/Madrasah
Pengembangan pendidikan agama Islam pada sekolah mengacu kepada
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(SNP) terutama pada standar isi, standar proses pembelajaran, standar pendidik
dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana pendidikan.
Pengembangan

pendidikan

agama

Islam

pada

sekolah

juga

mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang


Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, bahwa pendidikan Islam dapat
diklasifikasikan

ke

dalam

tiga

bentuk,

pertama,

pendidikan

agama

diselenggarakan dalam bentuk pendidikan agama Islam di satuan pendidikan pada


semua jenjang dan jalur pendidikan. Kedua, pendidikan umum berciri Islam pada
satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal, serta informal. Ketiga,
pendidikan keagamaan Islam pada berbagai satuan pendidikan diniyah dan
pondok pesantren yang diselenggarakan pada jalur formal, dan non formal, serta
informal.

Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada sekolah


diarahkan pada peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agama Islam pada
sekolah dengan perkembangan kondisi lingkungan lokal, nasional, dan global,
serta kebutuhan peserta didik. Kegiatan dalam rangka pengembangan kurikulum
adalah pembinaan atas satuan pendidikan dalam pengembangan kurikulum
pendidikan agama Islam tingkat satuan pendidikan.
Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah yang sedang berlangsung belum
semuanya memenuhi harapan kita sebagai umat Islam mengingat kondisi dan
kendala yang dihadapi, maka diperlukan pedoman dan pegangan dalam membina
pendidikan agama Islam. Ini semua mengacu pada usaha strategis pada rencana
strategis kebijakan umum Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam
Departemen Agama yaitu peningkatan mutu khusus mengenai pendidikan agama
Islam di sekolah, peningkatan mutu itu sendiri terkait dengan bagaimana kualitas
hasil pembelajaran pendidikan agama Islam pada peserta didik yang mengikuti
pendidikan di sekolah. Mutu itu sendiri sebetulnya sesuatu yang memenuhi
harapan-harapan kita. Artinya kalau pendidikan itu bermutu hasilnya memenuhi
harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita. Kita bukan hanya sebagai
pengelola, tetapi juga sebagai pelaksana bersama semua pemangku kepentingan
(stakeholder) termasuk masyarakat, orang tua. Dalam kenyataan pendidikan
agama Islam di sekolah masih banyak hal yang belum memenuhi harapan.
Misalnya kalau guru memberikan pendidikan agama Islam kepada peserta
didik, maka tentu yang kita inginkan adalah peserta didik bukan hanya mengerti
tetapi juga dapat melaksanakan praktek-praktek ajaran Islam baik yang bersifat
pokok untuk dirinya maupun yang bersifat kemasyarakatan. Karena di dalam
pendidikan agama Islam bukan hanya memperhatikan aspek kognitif saja, tetapi
juga sikap dan keterampilan peserta didik.
Peserta didik yang mendapatkan nilai kognitifnya bagus belum bisa
dikatakan telah berhasil jika nikai sikap dan keterampilannya kurang. Begitu pula
sebaliknya, jika sikap dan/atau keterampilannya bagus tetapi kognitifnya kurang,

belum bisa dikatakan pendidikan agama Islam itu berhasil. Inilah yang belum
memenuhi harapan dan keinginan kita. Contoh lainnya, hampir sebagian besar
umat Islam menginginkan peserta didiknya bisa membaca Al Quran, namun
bisakah orang tua mengandalkan kepada sekolah agar peserta didiknya bisa
membaca Al Quran, praktek pendidikan agama Islam di sekolah, bisa mengerti
dan mampu melaksanakan pokok-pokok ajaran agama atau kewajiban-kewajiban
ainiyah seperti syarat dan rukun shalat. Maka sekolah nampaknya belum bisa
memberikan harapan itu karena terbatasnya waktu alokasi atau jam pelajaran di
sekolah.
Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah penuh tantangan,
karena secara formal penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah hanya 2 jam
pelajaran per minggu. Jadi apa yang bisa mereka peroleh dalam pendidikan yang
hanya 2 jam pelajaran. Jika sebatas hanya memberikan pengajaran agama Islam
yang lebih menekankan aspek kognitif, mungkin guru bisa melakukannya, tetapi
kalau memberikan pendidikan yang meliputi tidak hanya kognitif tetapi juga sikap
dan keterampilan, guru akan mengalami kesulitan. Kita tahu bahwa sekarang di
kota-kota pada umumnya mengandalkan pendidikan Islam di sekolah saja, karena
orang-orangnya sibuk dan jarang sekali tempat-tempat yang memungkinan
mereka belajar agama Islam. Jadi guru ini kalau dipercaya untuk mendidik
pendidikan agama Islam di sekolah, keislaman mereka ini adalah tanggung jawab
moral. Oleh karena itu jangan hanya mengandalkan guru-guru yang hanya
mengajar di sekolah saja, akan lebih baik apabila menciptakan berbagai kegiatan
ekstra kurikuler yang memungkinkan mereka bisa belajar agama Islam lebih
banyak lagi.
Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah bagi peserta didik
mengandalkan pendidikan agamanya hanya dari sekolah. Namun bagi peserta
didik yang tinggal di daerah yang ada madrasah diniyah atau pesantren mengikuti
pendidikan agama Islam di sekolah tidak terlalu banyak menghadapi masalah,
karena mereka bisa sekolah dan bisa juga belajar agama Islam di diniyah atau
pesantren. Tetapi kondisi semacam ini pada masa sekarang sudah sulit dijumpai.
10

Ada beberapa kemungkinan yang dihadapi oleh peserta didik, yaitu peserta
didik belajar agama Islam dari sisa waktu yang dimiliki oleh orang tuanya. Peserta
didik belajar agama Islam dengan mengundang ustadz ke rumahnya. Ada pula
peserta didik yang hanya mengandalkan pendidikan agama Islam dari sekolahnya
tanpa mendapatkan tambahan belajar agama dari tempat lain. Dalam pendidikan
agama Islam banyak yang mesti dikuasai oleh peserta didik, seperti berkaitan
dengan pengetahuan, penanaman akidah, praktek ibadah, pembinaan perilaku atau
yang dalam Undang-Undang disebut pembinaan akhlak mulia.
Kendala dan tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran agama Islam di
sekolah antara lain karena waktunya sangat terbatas, yaitu hanya 2 jam pelajaran
per minggu. Menghadapi kendala dan tantangan ini, maka guru yang menjadi
ujung tombak pembelajaran di lapangan/sekolah, perlu merumuskan model
pembelajaran sebagai implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), khususnya kurikulum mikro pada kurikulum agama Islam di sekolah.
Cara yang bisa ditempuh guru dalam menambah pembelajaran pendidikan agama
Islam melalui pembelajaran ekstra kurikuler dan tidak hanya pembelajaran formal
di sekolah. Pembelajaran dilakukan bisa di sekolah, yaitu di kelas atau di mushala.
Bisa pula di rumah atau tempat yang disetujui. Waktu belajarnya tentu diluar jam
pelajaran formal. Cara ini memang membutuhkan tambahan fasilitas, waktu, dan
tenaga guru, tapi itulah tantangan guru yang tidak hanya mengajar tetapi memiliki
semangat dakwah untuk menyebarkan ilmu di mana pun dan kapan pun. Untuk itu
diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik antara guru dengan orang tua.
Gambaran umum tentang mutu pendikan pendidikan agama Islam di
sekolah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas pendidikan
agama Islam di sekolah yang menjadi agama sebagai benteng moral bangsa.
Kondisi ini dipengaruhi sekurang-kurangnya oleh tiga faktor, yaitu pertama
sumber daya guru, kedua pelaksanaan pendidikan agama Islam, dan ketiga terkait
dengan kegiatan evaluasi dan pengujian tentang pendidikan agama Islam di
sekolah.

11

1. Sumber daya manusia berupa guru.


Pendidikan mutu guru sebagai pendidik dan tenaga kependikan
dilaksanakan dengan mengacu pada standar pendidik dan tenaga kependidikan
mata pelajaran dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). Untuk itu dilakukan
kegiatan-kegiatan penyediaan guru pendidikan agama Islam untuk satuan
pendidikan peserta didik usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal, serta informal. Dilakukan
pula pendidikan dan pelatihan metode pembelajaran pendidikan agama Islam,
pemberian bea peserta didik Strata 1 (S 1) untuk guru pendidikan agama Islam,
dan juga melakukan sertifikasi guru pendidikan agama Islam.
Guru pendidikan agama Islam di sekolah dilihat dari segi latar belakang
pendidikan kira-kira 60% khususnya sudah mencapai S 1 dari berbagai lembaga
pendidikan tinggi. Namun lulusan S1 ini belum mejadikan guru yang bermutu
dalam menyampaikan pendidikan agama Islam. Oleh karena itu guru perlu dibina
dalam bentuk kelompok kerja guru mata pelajaran yang dikenal dengan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk meningkatkan kemampuannya,
karena peningkatan kemampuan itu harus dilakukan secara terus-menerus, belajar
sepanjang hayat, minal mahdi ilallahdi. Apalagi zaman sekarang perkembangan
ilmu pengetahuan sangat pesat yang jika tidak diikuti maka guru akan ketinggalan
informasi. Di MGMP digunakan sebagai forum meningkatkan kemampuan secara
internal melalui upaya diskusi kelompok atau belajar kelompok.
Peningkatan kemampuan guru juga diberikan kepada guru-guru yang
belum mencapai gelar S 1 sesuai dengan Undang-Undang yaitu memberikan
kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa banyak meninggalkan tugas-tugas di
sekolah yaitu dengan merancang suatu program pendidikan dualmode system.
Dualmode system adalah dua modus belajar yaitu menggunakan modul sebagai
bahan belajar mandiri (BBM), kemudian ada kuliah secara tatap muka di tempat

12

yang sudah ditunjuk dan disepakati antara mahasiswa dengan dosennya.


Dualmode system itu hakekatnya sama dengan Universitas Terbuka yang
melaksanakan belajar jarak jauh, namun berbeda dengan kelas jauh dari suatu
perguruan tinggi. Kalau kelas jauh perguruan tinggi membuka kelas di luar
kampusnya, sehingga menyulitkan untuk mengontrol kualitas pembelajaran dan
kualitas lulusannya. Program belajar jarak jauh belajarnya menggunakan sarana
atau alat, dengan alat utamanya berupa modul. Jadi yang dipelajari adalah modul
sebagai bahan kuliah. Di dalam modul itu ada tujuan pembelajarannya yang harus
dicapai setelah menyelesaikan satu materi pelajaran, ada materi pelajaran yang
diajarkannya kemudian langsung dilengkapi dengan format evaluasinya. Mereka
belajar sendiri dan mengukur kemampuan sendiri. Tetapi pada waktu-waktu
tertentu mereka diberikan kesempatan untuk berkumpul di suatu tempat yang
ditentukan, kemudian dosennya datang untuk memberikan respons, tanya jawab,
diskusi, dan pengayaan terhadap modul yang sudah dipelajari tersebut. Begitu
pula ujiannya diisi langsung oleh dosen. Inilah yang disebut dengan belajar jarak
jauh plus tatap muka.
Dengan demikian guru-guru tidak terlalu berat meninggalkan waktu
sekolah, tetapi tetap harus datang ke tempat-tempat yang telah ditunjuk untuk
kuliah tatap muka. Secara Undang-Undang pun kegiatan ini legal, karena ada
pasal atau Bab dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun
2003 pasal 31 dan SK Mendiknas No. 107/U/2001 tentang PTJJ (Perguruan
Tinggi Jarak Jauh). Dalam Undang-Undang itu secara lebih spesifik mengizinkan
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk melaksanakan pendidikan melalui
cara Perguruan Tinggi Jarak Jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi
dan informasi, misalnya dengan memanfaatkan perangkat komputer dengan
internetnya seperti e-learning atau e-mail. Belajar jarak jauh ini tidak boleh
diselenggarakan atau dibuka oleh perguruan tinggi yang tidak ditugasi, jadi harus
dikendalikan atau dikoordinasikan.
Ada dua jalur/cara dalam rangka peningkatan kualitas kemampuan guru,
pertama adanya jalur resmi untuk mengikuti pendidikan S1, kedua yang rutin
13

mengikuti kegiatan-kegiatan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).


Dari kedua jalur ini, diharapkan guru pendidikan agama Islam di sekolah tidak
berjalan begitu saja dan kemampuannya juga tidak meningkat. Sebagai orang
Islam kita berpegang kepada suatu kaidah yang menyatakan bahwa kalau hari ini
lebih jelek dari hari kemarin, maka celaka. Kalau hari ini sama dengan hari
kemarin, maka rugi, dan kalau hari ini lebih bagus dari hari kemarin, maka
beruntung. Maka harus ada upaya-upaya untuk terus menerus belajar minal mahdi
ilallahdi. Dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa jadilah kalian orang yang
mengajar, atau jadilah orang-orang belajar atau kalau tidak kedua-duanya
sekurang-kurangnya mendengarkan. Janganlah jadi yang keempat yaitu tidak
mengajar, tidak belajar, dan tidak mendengar. Untuk itulah guru yang harus selalu
meningkatkan kualitas dirinya.

2. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam


Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam berorientasi
pada penerapan Standar Nasional Pendidikan. Untuk itu dilakukan kegiatankegiatan seperti pengembangan metode pmbelajaran pendidikan agama Islam,
pengembangan

kultur

budaya

Islami

dalam

proses

pembelajaran,

dan

pengembangan kegiatan-kegiatan kerokhanian Islam dan ekstrakurikuler.


Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah masih menunjukkan
keadaan yang memprihatinkan. Banyak faktor yang menyebabkan keprihatinan
itu, antara lain pertama, dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah
secara formal, peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya 2 jam pelajaran per
minggu untuk mendidik agama. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya
yang bisa mencapai 4 6 jam per minggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah
hasil belajar yang diperolehnya sangat terbatas. Sedangkan implikasi bagi guru itu
sendiri adalah guru dituntut untuk melaksanakan kewajiban menyelenggarakan
proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu. Yang jadi persoalan adalah

14

kalau seorang guru agama ditugasi mengajar di sekolah, misalnya di sekolah dasar
(SD) ada 6 kelas kemudian di satu kelas guru mengajar 3 jam pelajaran, sehingga
maksimal pembelajaran yang dilaksanakan guru adalah 18 jam pelajaran. Berarti
guru tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan tugas yang diberikan oleh
pemerintah. Implikasinya adalah guru tersebut tidak berhak memperoleh
tunjangan-tunjangan sebagai guru karena kewajiban mengajarnya belum
memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Tuntutan itu harus
benar-benar diperhitungkan karena pemerintah memberikan dan menaikkan
tunjangan-tunjangan bukan hanya gaji kepada guru yang melaksanakan tugas
kewajibannya sesuai dengan jumlah jam pelajaran yang sudah ditentukan. Mulai
tahun 2009 ini sekurang-kurangnya gaji guru ini bisa memperoleh penghasilan 4
juta rupiah kalau sudah disertifikasi. Sehingga upaya pemerintah ini cukup bagus
yaitu dengan menaikkan kesejahteraan guru. Kemudian supaya guru-guru
memenuhi tuntutan itu, maka guru dapat menggunakan ekstra kurikuler di dalam
pembinaan agama Islam. Untuk ekstra kurikuler banyak yang bisa dilakukan.
Misalnya membina peserta didik belajar Al Quran, praktek wudlu maupun praktek
sholat dan sebagainya. Kalau tidak melalui ekstrakurikuler dan dikontrol satu
persatu maka tidak akan ketemu orang yang memang memerlukan pembinaan itu.
Jadi yang namanya mengajar itu jangan hanya cukup di dalam kelas saja, apalagi
kelas itu kurang dari tuntutan minimal wajib mengajar. Jadi seharusnya dilakukan
diskusi-diskusi dengan guru-guru agama untuk memenuhi tuntutan kewajiban
mengajar.
Pelaksanaan pendidikan agama Islam tidak hanya disampaikan secara
formal dalam suatu proses pembelajaran oleh guru agama, namun dapat pula
dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Guru bisa
memberikan pendidikan agama ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta
didik. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama semua
guru. Artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru agama saja melainkan
juga guru-guru bidang studi lainnya. Guru-guru bidang studi itu bisa menyisipkan
pendidikan agama ketika memberikan pelajaran bidang studi. Dari hasil

15

pendidikan agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk


pengetahuan, sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar.
Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin, dan
semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas
dirinya.

3. Melakukan Evaluasi
Mengenai evaluasi pendidikan agama Islam ini terkadang terjadi hal-hal
yang di luar dugaan. Misalnya ada peserta didik yang jarang sekolah, malas dan
merasa terpaksa mengikuti pelajaran agama, tetapi ketika dievaluasi dia
mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang rajin
belajar agama. Artinya yang salah itu adalah evaluasinya karena yang dilakukan
hanyalah mengukur unsur kognitifnya saja. Oleh karena itu evaluasi pendidikan
agama Islam jangan hanya mengandalkan evaluasi kemampuan kognitif saja,
tetapi harus dievaluasi juga sikap, prakteknya atau keterampilan (psikomotor) dan
sikapya (afektif). Guru melakukan pengamatan terhadap perilaku sehari-hari
peserta didik tersebut apakah peserta didik itu shalat? Kalau dilaksanakan apakah
shalatnya benar sesuai tata caranya? Evaluasi ini sebetulnya menentukan status
peserta didik tentang hasil belajarnya itu apakah sudah mencapai tujuan yang
ingin dicapai atau tidak. Kalau tujuan agama itu adalah supaya peserta didik bisa
menjalankan agama Islam dengan baik maka evaluasinya harus sesuai, dan
evaluasinya itu bukan hanya hafal tentang kaidah-kaidah tentang kemampuan
kognitif saja tetapi juga yang bersifat praktikal. Berkaitan dengan evaluasi
pendidikan agama Islam, ada usulan yang kuat dari berbagai kalangan agar
pendidikan agama Islam sebaiknya masuk pada ujian nasional, sehingga menjadi
bahan untuk dipertimbangkan peserta didik lulus atau tidak lulus di suatu lembaga
pendidikan. Ujiannya jangan sekedar mengukur kemampuan kognitif melainkan
juga kemampuan yang bersifat psikomotor, praktek dan perilaku, serta sikap
peserta didik sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam.

16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
17

Metode Pembelajaran Agama Islam adalah jalan atau cara yang diterapkan
dalam proses belajar mengajar agama Islam, guna tercapainya tujuan dan cita-cita
pendidikan Islam.
Gambaran umum tentang mutu pendikan pendidikan agama Islam di
sekolah/madrasah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas
pendidikan agama Islam di sekolah yang menjadi agama sebagai benteng moral
bangsa. Kondisi ini dipengaruhi sekurang-kurangnya oleh tiga faktor, yaitu
pertama sumber daya guru, kedua pelaksanaan pendidikan agama Islam, dan
ketiga terkait dengan kegiatan evaluasi dan pengujian tentang pendidikan agama
Islam di sekolah.

3.2 Saran
Demikian makalah dengan judul Cara Mengembangkan Metode PAI di
Madrasah ini telah selesai penulis susun. Tentunya dalam makalah ini masih
terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki karena terbatasnya pengetahuan,
sumber serta biaya dari penulis. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat
penulis harapkan. Penulis berharap semoga makalah singkat ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

18

Ahmad Zayadi dan Abdul Majid. 2004. Tadzkirah Pembelajaran PAI


Berdasarkan Pendekatan Kontekstual, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Usman Basyiruddin, 2002. Metode Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat
Pers.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
https://bangakil.wordpress.com/2012/03/02/makalah-metode-pembelajaran-paisdmi/ (Diakses pada hari Sabtu tanggal 16 April 2016 pukul 16.00 WIB)
http://komunitaskalikidang.blogspot.co.id/2013/05/metode-pembelajaran-pai-danrelevansi.html (Diakses pada hari Sabtu tanggal 16 April 2016 pukul 16.00
WIB)
http://www.pusatbahasa.diknas.go.id (Diakses pada hari Sabtu tanggal 16 April
2016 pukul 16.00 WIB)

MAKALAH
19

CARA MENGEMBANGKAN METODE PAI


DI MADRASAH

Disusun Oleh :
Kelompok 7
1. Rismaya
2. Septi Ariyanti
3. Siti Anisyah

Dosen Pengampu : Wasirin, M.Pd.I

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)


MISBAHUL ULUM GUMAWANG
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

20

21