Anda di halaman 1dari 19

Presentasi Kasus

SEORANG ANAK LAKI-LAKI 1 BULAN


DENGAN PNEUMONIA

Oleh :
Fadityo G99131038/ K-13-13
Locoporta Agung G99131049/ K-12-13

Pembimbing :
Ismiranti Andarini, dr, SpA, MKes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
2013
1

BAB I
STATUS PENDERITA
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama
Usia
Jenis kelamin
Alamat
Agama
Tanggal Masuk
Tanggal Pemeriksaan
Nomor Rekam Medis
BB / TB

: An. A
: 1 bulan 10 hari
: Perempuan
: Gang Decu Waringin Rejo 1/22 Cemani
: Islam
: 5 September 2013
: 28 September 2013
: 01212862
: 3,7 kg / 55 cm

II. ANAMNESIS
A.

Keluhan Utama
Sesak nafas

B.

Riwayat Penyakit Sekarang (Alloanamnesis dari


ibu penderita)
Sejak 10 jam SMRS pasien tampak sesak nafas. Orang tua pasien
menerangkan adanya nafas dalam yang berulang ulang dari pasien. Pagi
hari menjelang masuk rumah sakit, pasien mengalami demam dan oleh
orang tua pasien dibawa ke bidan. Oleh bidan pasien diberi sirup
paracetamol. Mengetahui tetap sesak dan demam kembali kambuh, orang
tua pasien membawa pasien ke rumah sakit.
Batuk (+), muntah (+), diare (-), nyeri saat BAK (-), nyeri telinga
(+), kesulitan makan dan minum (+), gerak aktif (+), menangis kuat (+),
BAK (+),dan BAB (+). Sesampainya di rumah sakit pasien tampak lemas.

C.

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat Penyakit Serupa : disangkal


2

Riwayat Mondok

: disangkal

Riwayat Kejang

: disangkal

Riwayat Alergi

: disangkal

D.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa

: disangkal

Riwayat alergi obat dan makanan

: disangkal

E.

Pohon Keluarga
I

II

48 thn

38 thn

III

An. A/L/1 bln 10 hari


F.

Riwayat Imunisasi
-

BCG

:-

Polio

:-

DPT

:-

Campak : -

Hep-B

: 0 bulan

Kesan
:imunisasi sudah lengkap menurut DEPKES RI maupun
IDAI sesuai dengan usia pasien
G.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


Pasien dapat manatap muka, bersuara, dan mengangkat kepala.
3

Kesan : Perkembangan sesuai dengan usia


H. Riwayat Makan dan Minum Anak
Konsumsi susu formula dikarenakan ASI ibu sulit keluar.
I. Riwayat kelahiran
Pasien lahir dengan berat lahir 3400 gram, panjang 49 cm lahir SC
atas indikasi letak lintang, menangis kuat, tidak biru, cukup bulan,
ditolong oleh tenaga medis di rumah sakit dan dirawat di HCU neonatus
selama 4 hari.
J. Pemeriksaan Postnatal
Belum kontrol ke rumah sakit.
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum

: Tampak sesak.

B. Vital Sign
HR : 120 x/menit (teraba kuat, isi dan tegangan cukup, reguler)
RR : 80
C.
D.
E.
F.

x/menit (cepat,reguler, kedalaman cukup)

T : 39oC (peraksiler)
Kepala
Normocephal
Mata
Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem palpebra (-/-)
Hidung
Nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-)
Mulut
Mukosa basah (+), faring hiperemis, tonsil T1-T1 hiperemis, sianosis

(-).
G. Telinga
Sekret (-/-)
H. Leher
Pembesaran KGB (-)
I. Thoraks
Simetris (+), retraksi (+) subcostal intercostal
4

J. Cor
Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
K. Pulmo
Suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
L. Abdomen
Dinding perut > dinding dada, bising usus normal, timpani (+), supel,
hepar dan lien tidak teraba.
M. Ekstremitas
Akral
dingin

Oedem

Capilary Refill Time< 2 detik


Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat

Perhitungan Status Gizi


1. Secara klinis
Nafsu makan

: kurang

Kepala

: rambut jagung (-), rambut susah dicabut

Mata

: CA (-/-), SI (-/-)

Mulut

: bibir kering dan pecah-pecah (-)

Ekstremitas

: pitting oedem (-)

Status gizi secara klinis

: baik

2. Secara Antropometri
BB = 3,7 x 100 % = 77,08 % (WHO 2006) -2 SD < z score <0 SD
U

4,8

TB = 55 x 100 % = 98,21 % (WHO 2006) -2 SD < z score <0 SD


U

56

BB = 3,7 x 100 % = 82,22 % (WHO 2006) -3 SD < z score <-2 SD


TB

4,5

Status gizi secara antropometri : gizi kurang


5

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Laboratorium Darah
Tanggal 5 September 2013
Hb

: 12,8 g/dl

Hct

: 35 %

Eritrosit

: 3,78 juta/ul

Leukosit

: 9,9 ribu/ul

Trombosit

: 437 ribu/ul

MCV

: 93,6 /um

MCH

: 33,9 pg

MCHC

: 36,2 g/dl

RDW

: 13,6 %

MPV

: 9,8 fl

PDW

: 18 %

Eosinofil

: 0,70 %

Basofil

: 0,20 %

Netrofil

: 59,60 %

Limfosit

: 33,50 %

Monosit

: 6,00 %

Gol darah

:B

Tanggal 16 September 2013


Hb

: 8,2 g/dl

Hct

: 26 %

Eritrosit

: 2,69 juta/ul

Leukosit

: 11,4 ribu/ul

Trombosit

: 8 ribu/ul

MCV

: 96,6 /um

MCH

: 30,6 pg

MCHC

: 31,7 g/dl

RDW

: 16,0 %
6

HDW

: 2,9 g/dl

MPV

: 7,7 fl

PDW

: 19 %

Eosinofil

: 1,00 %

Basofil

: 0,20 %

Netrofil

: 59,50 %

Limfosit

: 29,60 %

Monosit

: 4,30 %

LUC/AMC

:5,40 %

Albumin

:2,4 g/dl

Tanggal 21 September 2013


Hb

: 7,7 g/dl

Hct

: 21 %

Eritrosit

: 2,52 juta/ul

Leukosit

: 24,8 ribu/ul

Trombosit: 12 ribu/ul
MCV

: 83,2 /um

MCH

: 30,6 pg

MCHC

: 36,7 g/dl

RDW

: 14,5 %

MPV

: 5,5 fl

PDW

: 18 %

Eosinofil

: 0,70 %

Basofil

: 0,20 %

Netrofil

: 81,20 %

Limfosit

: 12,20 %

Monosit

: 5,70 %

Tanggal 25 September 2013


Hb

: 10,7 g/dl
7

Hct

: 33 %

Eritrosit

: 3,61 juta/ul

Leukosit

: 15,3 ribu/ul

Trombosit

: 67 ribu/ul

MCV

: 90,0 /um

MCH

: 29,5 pg

MCHC

: 32,8 g/dl

RDW

: 14,2 %

HDW

: 3,0 g/dl

MPV

: 8,7 fl

PDW

: 68 %

Eosinofil

: 0,20 %

Basofil

: 0,30 %

Netrofil

: 81,60 %

Limfosit

: 7,70 %

Monosit

: 3,70 %

LUC/AMC

: 6,50 %

B.

Pemeriksaan radiologi
Cor besar dan bentuk normal
Pulmo tampak infiltrat di kedua lapang paru.
Sinus costophrenicus kanan kiri anterior posterior tajam
Retrosternal dan retrocardiac space dalam batas normal
Hemidiaphragma kanan kiri normal
Trakhea di tengah
Sistema tulang baik.
Kesimpulan : pneumonia

V. RESUME
Anamnesis : Pasien dengan sesak nafas yang muncul 10 jam SMRS
disertai demam yang turun dengan obat penurun panas, namun beberapa jam
kemudian demam muncul kembali. Batuk (+), muntah (+), diare (-), nyeri saat
BAK (-), nyeri telinga (+), kesulitan makan dan minum (+), gerak aktif (+),
menangis kuat (+), BAK (+),dan BAB (+). Sesampainya di rumah sakit pasien
tampak lemas.
8

Pemeriksaan fisik didapatkan RR 80 x/ menit dengan suhu 39oC


(peraksiler). Dijumpai retraksi subcostal intercostal.
Pemeriksaan penunjang ditemukan pulmo tampak infiltrat di kedua lapang
paru disertai limfositopenia (33,50 %).
VI. DIAGNOSA BANDING
1. Pneumonia
2. Bronkiolitis
VII. DIAGNOSIS KERJA
1. Pneumonia
VIII. PENATALAKSANAAN
1) O2 nasal 2 lpm
2) ASI / ASB 8 x 40-50 cc
3) Inj cefotaxime 170mg / 12 jam iv
4) Paracetamol 3 x
5) Nebu NaCl 0,9% sampai 3 cc / 8 jam
6) Nistatin 2ml / 6 jam
IX. PLANNING
1.

Diagnosis :
Foto Rontegn Thoraks

2. Monitoring :
Keadaan umum dan vital sign
Awasi tanda distress pernapasan
3. Edukasi :
Edukasi keluarga tentang penyakit, tentang kebersihan
X. PROGNOSIS
Ad vitam

: bonam
9

Ad sanam

: bonam

Ad fungsionam : bonam
XI. FOLLOW UP
7 September 2013

16 September 2013

SUBJEKTIF

Demam (+) , batuk (+) , pilek (-),


muntah (-),BAK (+), BAB (+)

Demam (+), batuk (+) , pilek (-),


muntah (-),BAK (+), BAB (+)

OBYEKTIF

KU:CM, gizi kesan baik


VS : HR=128x/mnt,kuat
RR= 42x/ menit
S= 36,8o C
Kepala :Mesocephal
Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflex cahaya
(+/+), pupil isokor (3mm/3mm),
Hidung : NCH (-/-), sekret (-/-)
Mulut:Mukosa basah (+),sianosis (-)
pharyng hiperemis (-) tonsil T1-T1
hiperemis (-)
Leher :KGB tak membesar
Thoraks : retraksi (+) intercostal
Pulmo
I : Pengembangan dada kanan=kiri
P : fremitus raba kanan=kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+ ), ST (+/+) RBK
Jantung
Bunyi jantung I-II intensitas normal,
reg, bising (-)
Abdomen
I : dinding dada // dinding perut
A : bising usus (+) normal
P : tympani, pekak alih(-)
P : supel, hepar tidak teraba, lien tidak
teraba
Ekstremitas :
Akral dingin
- - Oedem
- - -

KU:CM, gizi kesan baik


VS : HR=168x/mnt,kuat,teg ckp
RR= 60x/ menit
S= 37,1o C
Kepala :Mesocephal
Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflex cahaya
(+/+), pupil isokor (3mm/3mm)
Hidung:NCH (-/-), sekret (-/-)
Mulut:Mukosa basah (+),sianosis (-)
pharyng hiperemis (-) tonsil T1-T1
hiperemis (-)
Leher :KGB tak membesar
Thoraks :retraksi (-)
Pulmo
I : Pengembangan dada kanan=kiri
P : fremitus raba kanan=kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+ ), ST (+/+) RBK
Jantung
Bunyi jantung I-II intensitas normal, reg,
bising (-)
Abdomen
I : dinding dada // dinding perut
A : bising usus (+) normal
P : tympani, pekak alih(-)
P : supel, hepar tidak teraba, lien tidak
teraba
Ekstremitas :
Akral dingin
- - Oedem
- - -

CRT < 2
A. dorsalis pedis teraba kuat

CRT < 2
A. dorsalis pedis teraba kuat

PEMERIKSAA
N
PENUNJANG
ASS
Pneumonia
TERAPI

Diare akut tanpa dehidrasi


1. O2 HB 5 lpm
2. Diit ASI/ASB 8x5-10 cc naik
nertahap
3. Infus D1/4 S + D40% 41ml + KCL
6,8 ml + Ca Glukonas 10ml
diberikan 12 cc/jam
4. Infus aminofusin 68 ml/hari

Pneumonia
Sepsis late onset
1. O2 nasal 2 lpm
2. ASI/ASB on demand
3. Infus D 1/4 S 13 ml + D40% 12 ml
KCl 7 ml + Ca Glukonas 10 ml
diberikan 5cc/jam
4. Infus Aminofusin 68 ml/hari
5. Inj ceftazidim 170mg/12 jam

10

5. Inj ampicillin 170mg/6 jam


6. Inj Gentamicin 17 mg/ 24 jam
7. Zinc 1x100mg p.o.

6. Inj Gentamicin 17mg/kg/hari


7. Nebu NaCl 0,9% sampai 3 cc/ 8 jam
8. Dobutamin 28mg dalam NaCl 1 cc

PLANING

20 September 2013

25 September 2013

SUBJEKTIF

Demam (-) , batuk (-), pilek (-),


muntah (-),BAK (+), BAB (+)

Demam (-) , batuk (-), pilek (-), muntah


(-),BAK (+), BAB (+)

OBYEKTIF

KU:CM, gizi kesan baik


VS : HR=140x/mnt,kuat,teg ckp
RR= 40x/ menit
S= 36,7o C
Kepala :Mesocephal
Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflex cahaya
(+/+), pupil isokor (3mm/3mm),
Hidung : NCH (-/-), sekret (-/-)
Mulut:Mukosa basah (+),sianosis (-)
pharyng hiperemis (-) tonsil T1-T1
hiperemis (-)
Leher :KGB tak membesar
Thoraks : retraksi (-)
Pulmo
I : Pengembangan dada kanan=kiri
P : fremitus raba kanan=kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+ ), ST (+/+)RBK
Jantung
Bunyi jantung I-II intensitas normal,
reg, bising (-)
Abdomen
I : dinding dada // dinding perut
A : bising usus (+) normal
P : tympani, pekak alih(-)
P : supel, hepar tidak teraba, lien tidak
teraba
Ekstremitas :
Akral dingin
- - Oedem
- - -

KU:CM, gizi kesan baik


VS : HR=170x/mnt,kuat,teg ckp
RR= 44x/ menit
S= 36,7o C
Kepala :Mesocephal
Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflex cahaya
(+/+), pupil isokor (3mm/3mm)
Hidung:NCH (-/-), sekret (-/-)
Mulut:Mukosa basah (+),sianosis (-)
pharyng hiperemis (-) tonsil T1-T1
hiperemis (-)
Leher :KGB tak membesar
Thoraks :retraksi (+) epigastrium
Pulmo
I : Pengembangan dada kanan=kiri
P : fremitus raba kanan=kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+ ), ST (+/+) RBK
Jantung
Bunyi jantung I-II intensitas normal, reg,
bising (-)
Abdomen
I : dinding dada // dinding perut
A : bising usus (+) normal
P : tympani, pekak alih(-)
P : supel, hepar tidak teraba, lien tidak
teraba
Ekstremitas :
Akral dingin
- - Oedem
- - -

CRT < 2
A. dorsalis pedis teraba kuat
PEMERIKSAA Hb
: 7,7 g/dl
N
Hct
: 21%
PENUNJANG AE
: 2,2 juta/ul
AL
: 24,8 rinu/ul
AT
: 12 ribu/ul
Eosinofil
: 0.70%
Basofil
: 0,20%
Netrofil
: 81,20%
Limfosit
: 12,20%
Monosit
: 5,70%
MCV
: 83,2/um
MCH
: 30,6 pg

CRT < 2
A. dorsalis pedis teraba kuat

11

MCHC
RDW
ASS

TERAPI

PLANING

: 36,7 g/dl
: 18%

Pneumonia
Sepsis late onset
Trombositopenia
Anemia
Hipoalbumenia
1. O2 HB 3 lpm
2. ASB 8x 30-40cc
3.Infus D1/4 S 73ml + KCl 17ml + Ca
Glukonas 10ml diberikan 5ml/jam
4. Inf Aminofusin 68 ml/hari
5. Inj ceftazidim 170mg/12 jam
6. Inj gentamycin 17mg/hari
7. Nebu NaCl sampai 3 cc / 8 jam
8.Dobutamin 5mg/kgBB/hari dalam
NaCl 0,9% 24ml dengan kecepatan
1ml/jam
9. Paracetamol 36 mg = 2cc/6 jam
Transfusi PRC dan Trombosit
Concetrate

Pneumonia
Sepsis late onset
Anemia et causa defisensi besi dd infeksi
1. ASI/ASB on demand
2. Paracetamol 3x36mg p.o.
3. Nistatin 2ml/6 jam (100.000) p.o.
4. Inj gentamycin 25mg/24jam iv
5. Paracetamol syrup 3 x cth 2/3
6. Nebu NaCl 0,9% sampai 3 cc / 8 jam

Darah rutinm, TIBC, ferriritin

27 September 2013
SUBJEKTIF

Demam (-) , batuk (-), pilek (-),


muntah (-),BAK (+), BAB (+)

OBYEKTIF

KU:CM, gizi kesan baik


VS : HR=120x/mnt,kuat,teg ckp
RR= 42x/ menit
S= 37,0o C
Kepala :Mesocephal
Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflex cahaya
(+/+), pupil isokor (3mm/3mm),
Hidung : NCH (-/-), sekret (-/-)
Mulut:Mukosa basah (+),sianosis (-)
pharyng hiperemis (-) tonsil T1-T1
hiperemis (-)
Leher :KGB tak membesar
Thoraks : retraksi (-)
Pulmo
I : Pengembangan dada kanan=kiri
P : fremitus raba kanan=kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+ ), ST (-/-)
Jantung
Bunyi jantung I-II intensitas normal,
reg, bising (-)
Abdomen
I : dinding dada // dinding perut
A : bising usus (+) normal
P : tympani, pekak alih(-)
P : supel, hepar tidak teraba, lien tidak
teraba
Ekstremitas :
Akral dingin
- - Oedem

12

- - CRT < 2
A. dorsalis pedis teraba kuat
PEMERIKSAA
N
PENUNJANG
ASS
Pneumonia

TERAPI

PLANING

Sepsis late onset


Anemia
1. ASB 8x 30-40cc
2. Paracetamol 3x36 mg
3. Nistatin 2ml/6jam (100.000) p.o.
4. Nebu NaCl 0,9% 3cc/8 jam
5. Jaga kehangatan
BLPL

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PNEUMONIA
Definisi
Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan parenkim
paru meliputi alveolus dan jaringan interstisiil yang disebabkan oleh bermacammacam etiologi seperti bakteri, virus, atau jamur1
Etiologi
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus atau
bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi,dll). Secara
klinis sulit membedakan pneumonia bakterial dan pneumonia viral. Demikian
juga dengan pemeriksaan radiologis dan laboratorium, biasanya tidak dapat
menentukan etiologi.
Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada
perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi,
gambaran klinis dan strategi pengobatan. Etiologi pneumonia pada neonatus dan
13

bayi kecil meliputi Streptococcus group B dan bakteri Gram negatif seperti
E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar dan anak
balita, pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus pneumoniae,
Haemophillus influenzae tipe B dan Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak
yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi
Mycoplasma pneumoniae1.
Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh virus,
disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Virus yang terbanyak
ditemukan adalah Respiratory Syncytial virus (RSV), Rhinovirus, dan virus
parainfluenza. Bakteri yang terbanyak adalah Streptococcus pneumoniae,
Haemophillus influenzae tipe B, dan Mycoplasma pneumoniae. Kelompok anak
berusia 2 tahun ke atas mempunyai etiologi infeksi bakteri yang lebih banyak
daripada anak berusia di bawah 2 tahun.
Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya pneumonia antara lain:
a.

Status nutrisi. Status nutrisi berhubungan dengan daya tahan tubuh. Pada
anak, status daya tahan tubuhnya belum sempurna
Tidak minum ASI. ASI mengandung zat-zat imun yang berasal dari ibu,

b.

sehingga pada anak yang tidak minum ASI kurang memiliki daya tahan
tubuh.
Umur. Makin muda usia, makin rentan terhadap infeksi
Daya tahan alami paru
Trakeostomi
GER (Gastro Esofageal Reflux). Jika anak muntah, terjadu aspirasi

c.
d.
e.
f.

muntahan ke dalam saluran nafas, maka asam lambung yang terbawa


dalam muntahan tersebut akan menimbulkan inflamasi pada dinding
saluran nafas. Keadaan ini beresiko untuk infeksi sekunder oleh bakteri2
Klasifikasi
Klasifikasi pneumonia menurut WHO3:
1. Bayi berusia dibawah 2 bulan:
Pada bayi berusia kurang dari 2 bulan, perjalanan penyakitnya lebih
bervariasi, mudah terjadi komplikas, dab sering menyebabkan kematian.

Pneumonia
o Nafas cepat >60x/ menit (+) atau sesak napas (+)
14

o Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Bukan pneumonia
o Tidak ada napas cepat atau sesak napas
o Tidak perlu dirawak, cukup obat simptomatis saja

2. Usia 2 bulan 5 tahun:

Pneumonia berat
o Bila ada sesak napas
o Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Pneumonia
o Bila tidak ada sesak napas
o Ada napas cepat dengan laju napas
>50 x/ menit untuk anak usia 2 bulan 1 tahun
>40 x/ menit untuk anak usia > 1 5 tahun
o Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik

Bukan Pneumonia
o Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas
o Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya diberikan
pengobatan simptomatis seperti penurun panas

Klasifikasi pneumonia menurut MTBS:

Pneumonia berat

Pneumonia

Bukan pneumonia

Patofisiologi
Paru memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang efektif yang
diperlukan karena sistem respiratori selalu terpajan dengan udara lingkungan yang
seringkali terpolusi serta mengandung iritan, patogen, dan alergen. Sistem
pertahanan organ respiratorik terdiri dari tiga unsur, yaitu refleks batuk yang
bergantung pada integritas saluran respiratori, otot-otot pernapasan, dan pusat
kontrol pernapasan di sistem saraf pusat.
Pneumonia terjadi jika mekanisme pertahanan paru mengalami gangguan
sehingga kuman patogen dapat mencapai saluran napas bagian bawah. Agen-agen
mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi primer:
15

(1) aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi
pada orofaring, (2) infeksi aerosol yang infeksius, dan (3) penyebaran hematogen
dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan inhalasi agen-agen infeksius adalah dua
cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran secara
hematogen lebih jarang terjadi.
Setelah

mencapai

alveoli,

maka

mikroorganisme

patogen

akan

menimbulkan respon khas yang terdiri dari empat tahap berurutan:


1.

Stadium Kongesti (4 12 jam pertama): eksudat serosa masuk ke dalam


alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.

2.

Stadium Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): paru tampak merah dan
bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi
alveoli.

3.

Stadium Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari): paru tampak kelabu karena


leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.

4.

Stadium Resolusi (7 sampai 11 hari): eksudat mengalami lisis dan


direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya
semula.4

Gambaran Klinis
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat
ringannya penyakit, pada bayi gejalanya tidak jelas seringkali tanpa demam dan
batuk, namun secara umum adalah sebagai berikut:

Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare,
kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.

Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk (nonproduktif / produktif), sesak


napas, retraksi dada, napas cepat/takipnea, napas cuping hidung, air hunger,
merintih/grunting, dan sianosis1
WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas per menit

berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan


diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar. Napas
cepat/ takipnea, bila frekuensi napas:
- umur < 2 bulan

: 60 kali/menit

- umur 2-11 bulan

: 50 kali/menit
16

- umur 1-5 tahun

: 40 kali/menit

- umur 5 tahun

: 30 kali/menit

Pada pemeriksaan fisik paru dapat ditemukan tanda klinis sebagai berikut,
auskultasi terdengar suara nafas menurun dan fine crackles (ronki basah halus)
pada daerah yang terkena, dull (redup) pada perkusi.
Pemeriksaan penunjang
Foto Rontgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar
diagnosis utama pneumonia. Foto lateral dibuat bila diperlukan informasi
tambahan, misalnya efusi pleura. Pada bayi dan anak yang kecil gambaran
radiologi seringkali tidak sesuai dengan gambaran klinis. Tidak jarang secara
klinis tidak ditemukan apa-apa tetapi gambaran foto toraks menunjukkan
pneumonia berat. Gambaran radiologis yang klasik dapat dibedakan menjadi 3
macam5:
Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air bronchogram
(pneumatokel), biasanya disebabkan infeksi akibat pneumococcus atau
bakteri lain.
Pneumonia interstisial, biasanya karena virus atau Mycoplasma; gambaran
berupa corakan bronchovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan
overaeriation; bila berat terjadi pachy consolidation karena atelektasis.
Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain biasanya
menunjukkan gambaran bilateral yang difus, corakan peribronchial yang
bertambah, dan tampak infiltrat halus sampai ke perifer.
Tatalaksana
-

Kriteria Rawat Inap:


Bayi:
a.
b.
c.
d.
e.

Saturasi oksigen <92%, sianosis


Frekuensi nafas >60x/menit
Distres pernapasan, apnea intermiten, atau grunting
Tidak mau minum atau menetek
Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Anak:
a.
b.
c.
d.

Saturasi oksigen <92%, sianosis


Frekuensi nafas >50x /menit
Distres pernapasan, grunting
Terdapat tanda dehidrasi
17

e. Keluarga tidak bisa merawat di rumah


-

Medikamentosa:

Diagnosis etiologik pneumonia sangat sulit untuk dilakukan sehingga


pemberian antibiotik dilakukan secara empirik sesuai dengan pola
kuman tersering yaitu

Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Pemberian


antibiotik sesuai dengan kelompok umur. Untuk bayi di bawah 3 bulan
diberikan golongan penisillin dan aminoglikosida. Untuk umur >3 bulan,
ampisilin dipadu dengan kloramfenikol merupakan obat pilihan pertama.
Bila keadaan pasien berat atau terdapat empiema, antibiotik pilihan
adalah golongan sefalosporin.

Bila anak disertai demam ( 37,5 C) yang tampaknya menyebabkan


distress, berikan parasetamol.

Bila ditemukan adanya wheezing, beri bronchodilator kerja cepat,


dengan nebulisasi 2 agonis dan atau NaCl untuk memperbaiki
mucocilliry clearance

Suportif:

Pemberian oksigen sesuai derajat sesaknya, pemberian dilakukan sampai


tanda hipoksia (seperti tarikan dinding dada ke dalam yang berat atau
napas cepat) tidak ditemukan lagi.

Nutrisi parenteral diberikan selama pasien masih sesak. Kebutuhan


cairan rumatan diberikan sesuai umur anak, tetapi hati-hati terhadap
kelebihan cairan/overhidrasi.

Komplikasi
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis
purulenta, pneumotoraks atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis prulenta.
Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia
bakteri, curiga ke arah ini apabila terdapat demam persisten meskipun sedang
diberi antibiotik, ditemukan tanda klinis dan gambaran foto dada yang
mendukung yaitu adanya cairan pada satu atau kedua sisi dada.
Terdapat laporan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik kanan
meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup tinggi
pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh karena miokarditis merupakan
18

keadaan yang fatal, maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik
noninvasif seperti EKG, ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim3.
Langkah Promotif/Preventif
Pencegahan untuk Pneumococcus dan H.influenzae dapat dilakukan
dengan vaksin yang sudah tersedia. Efektivitas vaksin pneumokok adalah sebesar
70% dan untuk H.influenzae 95%. Infeksi H. influenzae bisa dicegah dengan
rifampisin bagi kontak di rumah tangga atau di tempat penitipan anak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Said, Maedjani. 2008. Pneumonia dalam: Respirologi Anak. Editor: Nastiti


N Rahajor, Bambang Supriyatno, Darmawan Budi. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI
2. Prober, Charles G. 2000. Pneumonia dalam: Ilmu Kesehatan Anak Nelson.
Volume 2 Edisi 15. Editor Bahasa Indonesia: A. Samik Wahab. Jakarta:
ECG
3. WHO/UNICEF. 2004. Joint Statement Management of Pneumonia in
Community Settings. New York: The United Nations NationsChildrens
Fund/ World Health Organization
4. Halinski, Thomas. 2003. The Respiratory System dalam: Rudolphs
Pediatrics 21st Edition. Editor: Colin D Rudolph, Abraham M Rudolph,
Margaret K Hostetter, George Lister, dan Norman J Siegel. New York: Mc
Graw Hill Medical
5. Rahajoe, Nastiti. 1997. Beberapa Penyakit Saluran Napas pada Bayi dan
Anak yang memerlukan Pencitraan dalam: Pencitraan Penggunaannya
untuk Menunjang Diagnosis Penyakit Saluran Napas dan Saraf pada Anak.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI

19