Anda di halaman 1dari 27

POLA KERJA SAMA DALAM HOME INDUSTRY DI JORONG KURUAK

PEKAN AHAD KUBANG PUTIAH DITINJAU DARI


PERSPEKTIF ISLAM
Oleh
Muhammad Ilham Shiddiq
A. Latar Belakang Masalah
Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2008
tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Berdasarkan Undang-undang
Usaha Mikro Kecil dan Menengah tersebut, kebijakan-kebijakan umum yang
dapat digunakan sebagai pedoman pemberdayaan terhadap Usaha Mikro Kecil
dan Menengah, adalah Penumbuhan kemandirian, kebersamaan dan
kewirausahaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk berkarya dengan
prakarsa sendiri.1
Implikasinya terhadap para pengusaha industri mikro dapat meningkatkan
pertumbuhan

usaha secara mandiri, kebersamaan dan memiliki prakarsa

sendiri. Para pengusaha dituntut untuk mengembangkan usaha secara mandiri


dan mampu meningkatkan kebersamaan serta mampu memperluas lapangan
pekerjaan sebagai peningkatan pertumbuhan perekonomian masyarakat.

1Eriyanto, Membangun Ekonomi Komparatif, (Jakarta, PT. Elex Media Komputindo Kompas
Gramedia, 2007). hal. 182

Dalam konteks Undang-undang Usaha Mikro Kecil dan Menengan,


industri rumahan atau home industry termasuk dalam kelompok Usaha Mikro,
di mana banyak negara mengkatergorikannya ke dalam sektor informal. Hal
ini dikarenakan sebagian industri rumahan belum memiliki status legal
sebagai badan usaha dan sering kali tidak terdaftar dalam mekanisme
perpajakan bisnis. Selain itu, industri rumahan dikelola oleh anggota suatu
keluarga, meski ada pengecualian pada industri rumahan yang sudah
dikategorikan maju dan menerapkan manajemen modern. Industri rumahan
bisa juga berwujud Kelompok Usaha Bersama Ekonomi yang diatur secara
informal, berjaringan dan lentur yang setiap anggotanya bekerja di rumah
masing-masing.2
Kegiatan ekonomi dalam home industry tidak terlepas dari kerjasama. Untuk
itu kerjasama dilakukan di Jorong Kuruak Pekan Ahad Kubang Putiah dengan
pola kerjasama kekeluargaan sebagai bentuk mempermudah pemasaran dan
saling tolong menolong antar sesama masyarakat di Jorong
tersebut. Kerjasama kekeluargaan merupakan kerjasama yang menggunakan
prinsip Ukhuwwah3 dengan saling menjaga amanah antara pelaku home
industry dengan masyarakat sekitar sebagai bentuk pola kerjasama. Pola
2 Eriyanto, Membangun Ekonomi Komparatif, (Jakarta, PT. Elex Media Komputindo
Kompas Gramedia, , 2007). hal.. 183
3 Monzher Kahf, Ekonomi Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1995). hal. 57

kerjasama tersebut sangatlah berpotensi terhadap perekonomian masyarakat


sekitar. Terbukti dengan semakin berkembangnya jenis kuliner dan jumlah
home industry yang berada di Jorong Kuruak Pekan Ahad Kbang Putiah.
Dalam Al-Quran Allah telah menerangkan tentang anjuran untuk saling
bekerjasama dan saling tolong menolong, sebagaimana yang terdapat dalam
surat al-Maidah ayat 2 yang berbunyi :



Artinya :
dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah, 5:2) 4
Teori pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah di kemukakan
oleh Profesor Korten dapat diraih secara realistis dan alokasi anggaran
pemerintah yang didapat dari rakyat akan kembali ke rakyat. Selain itu
pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah juga dilakukan dengan
memelihara lingkungan hidup seperti pengolahan limbah, plastik dan koran
bekas sebagai pemenfaatan pemberdayaan secara maksimal.5
4 Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta, Lembaga Percetakan alQuran Raja Fahd, 1971). hal. 747
5 Marsuki, Pemikiran dan Strategi Memberdayakan Sektor Ekonomi UMKM di Indonesia,
(Jakarta, Mitra Wacana Media, 2006). hal. 76

Berdasarkan pra observasi industri rumahan di Jorong Kuruak Pekan Ahad


Kubang Putiah, alternatif perekonomian masyarakat mendominasi

pada

sektor kuliner. Industri rumahan pada dasarnya menggunakan pola kerjasama


dengan sistem kekeluargaan serta belum terintegrasi dengan undang-undang
tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
Berdasarkan fenomena ini penulis tertarik untuk membahas persoalan
yang berkaitan dengan sistem kekeluargaan yang diterapkan oleh industri
rumah tangga tersebut serta sesuai dengan undang-undang yang diharapkan.
Dalam hal ini akan penulis uraikan lebih jauh pada pembahasan proposal
dengan merumuskan judul; POLA KERJASAMA DALAM

HOME

INDUSTRY DI JORONG KURUAK PEKAN AHAD KUBANG PUTIAH


DITINJAU PERSPEKTIF ISLAM.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di atas, maka
masalah-masalah yang akan di teliti pada penelitian ini, yaitu:
a. Tinjauan perspektif islam mengenai pola kerjasama dalam home industry
di jorong kuruak pekan ahad kubang putiah.
b. Pola kerjasama berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat di Jorong
kuruak Pekan Ahan Kubang Putiah.
C. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
a. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan


masalah adalah : Bagaimana pola kerjasama dalam Home Industry di
Jorong Kuruak Pekan Ahad Kubang Putiah ditinjau dari perspektif islam?

b. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka
penelitian ini dibatasi pada : Pola kerjasama dalam Home Industry di
Jorong Kuruak Pekan Ahad Kubang Putiah Ditinjau dari Perspektif Islam.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa potensial
sistem kerja sama kekeluargaan dalam Home Industry di Jorong Kuruak
Pekan Ahad Kubang Putiah.
b. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
a. Bagi masyarakat luas
Sebagai pembelajaran dan masukan bagi masyarakat dalam
melakukan kegiatan Home Industry.
b. Bagi penulis

Kegunaan dari proposal ini bagi penulis adalah untuk sebagai


salah satu syarat dalam memenuhi tugas mata kuliah metodologi
penelitian.
c. Bagi peneliti lain
Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berguna bagi
peneliti lainnya.
E. Penjelasan Judul
Untuk menghindari kekeliruan dan untuk memperoleh pengertian yang
sama, maka penulis mencoba menjelaskan judul penelitian tentang POLA
KERJASAMA DALAM HOME INDUSTRY DI JORONG KURUAK
PEKAN AHAD KUBANG PUTIAH DITINJAU DARI PERSPEKTIF
ISLAM.
Pola

: Sistem; cara kerja6

Kerjasama: kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang


(lembaga, pemerintahan, dsb) untuk mencapai
tujuan bersama. 7
Home Industry: Pengertian Industri Rumah Tangga Menurut Mulyawan
(2008:3) bahwa industri rumah tangga
6 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, (Jakarta,
Balai Pustaka, 2002) hal. 884
7 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, (Jakarta,
Balai Pustaka, 2002) hal.. 554

adalah suatu unit usaha atau perusahaan


dalam skala kecil yang bergerak dalam
bidang industri tertentu. Home berarti
rumah, tempat tinggal, ataupun kampung
halaman. Sedang Industri, dapat diartikan
sebagai kerajinan, usaha produk barang
dan

ataupun

perusahaan.

Singkatnya,

Home Industry (atau biasanya ditulis/dieja


dengan Home Industri) adalah rumah
usaha produk barang atau juga perusahaan
kecil.

Ditinjau: mengamati secara keseluruhan.


Perspektif Islam

: mazhab yang menganggap bahwa ilmu itu


bersifat relatif yang berdasarkan tuntunan
syariat islam. 9

8 Pengertian Industri Rumah Tangga Menurut Mulyawan (2008:3) dapat


dilihat pada Jurnal Jurnal Sociologie, Vol. 1, No. 4: 336-343
9 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, (Jakarta,
Balai Pustaka, 2002) hal. 864

Jadi, pola kerjasama dalam home industry ditinjau dari perspektif


islam adalah cara kerja dalam sebuah perusahaan atau industri yang dilakukan
beberapa orang anggota atau anggota keluarga itu sendiri yang diamati secara
keseluruhan melalui pandangan syariat islam.
F. Kajian Terdahulu
Penelitian ini sebelumnya belum ada yang meneliti di Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Tetapi, penelitian sebelumnya sudah
dilakukan, diantaranya :
1. Sobirin seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiah Malang tahun
2007 dengan judul, Kerjasama Antar Pengrajin Home Industri
Keramik. Yang mana hasil penelitiannya menunjukan bahwa pelaku
home industry bertukar fikiran atau ide-ide sebagai bentuk kerjasama
yang dilakukan dalam memajukan usahanya.10
2. Yudha Bramantya seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiah
Malang tahun 2009 dengan judul, Pola Kerjasama Antar Pemilik Home
Industry Alat Rumah Tangga di Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan
Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dimana penelitian
yang dilakukan adalah adanya pola kerjasama antar pelaku home industry
yang bersifat simetris, dimana hal ini dilihat melalui sifat kerjasama yang
10 Sobirin, Kerjasama Antar Pengrajin Home Industri Keramik,Universitas
Muhammadiyah Malang : 2007

di lakukan cenderung menguntungkan kedua belah pihak dalam hal ini


antar pemilik home industry.11
3. Chresentia Shinta Meita Sari seorang mahasiswa dari Universitas
Brawijaya Malang tahun 2011 dengan judul, Persepsi Pelaku Industri
Rumahan Mengenai Kerjasama dan Persaingan dan Identifikasi
Struktur Pasar. Dimana hasil penelitian yang

dilakukan adalah

bagaimana identifikasi struktur pasar yang terbentuk di sektor Industri


Rumahan sangkar burung di Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang
Kabupaten Malang. Persaingan dalam usaha industri rumahan sangkar
burung ini adalah persaingan murni tanpa ada kerjasama. Sementara
apabila terkait dengan struktur pasar Jenis pasar industri rumahan sangkar
burung di Desa Kaumrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang
apabila dilihat dari sisi penjual dapat digolongkan sebagai pasar
persaingan monopolistis yang merupakan organisasi pasar di mana tidak
ada hambatan bagi perusahaan untuk memasuki pasar Akan tetapi apabila
dilihat dari segi pembeli atau segi permintaan, jenis pasar yang terbentuk
pada industri rumahan sangkar burung adalah pasar monopsoni, karena
industri rumahan sangkar burung tersebut hanya mempunyai sedikit
pembeli yaitu distributor, dimana para distributor tersebut mempunyai
kekuatan dalam menentukan harga
11

Berdasarkan banyaknya penelitian yang telah dilakukan mengenai


kerjasama yang melibatkan home industry, maka penulis tertarik untuk
meneliti pola kerjasama dalam home industry ditinjau dari perspektif islam.
Penerapan kerjasama dilakukan oleh masyarakat di Jorong Kuruak Pekan
Ahad Kubang Putiah dengan pola kekeluargaan yang ditinjau dari perspektif
islam. Dimana kerjasama tersebut dapat berpengaruh terhadap perekonomian
masyarakat di sekitar Jorong Kuruak Pekan Ahad Kubang Putiah.

G. Landasan Teori
1. Industri RumahTangga (Home Industry)
a. Definisi dan pengertian industry
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan
mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang
memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha
perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri.
Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
b. Pengertian Industri Rumah Tangga Home Industry
Home berarti rumah, tempat tinggal, ataupun kampung
halaman. Sedang Industry, dapat diartikan sebagai kerajinan, usaha
produk barang dan ataupun perusahaan. Singkatnya, Home Industry
(atau biasanya ditulis/dieja dengan Home Industry) adalah rumah

10

usaha produk barang atau juga perusahaan kecil. Dikatakan sebagai


perusahaan kecil karena jenis kegiatan ekonomi ini dipusatkan di
rumah. Pengertian usaha kecil secara jelas tercantum dalam UU No. 9
Tahun 1995, yang menyebutkan bahwa usaha kecil adalah usaha
dengan kekayaan bersih paling banyak Rp200 juta (tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha) dengan hasil penjualan tahunan
paling banyak Rp1.000.000.000.
Kriteria lainnya dalam UU No 9 Tahun 1995 adalah: milik
WNI, berdiri sendiri, berafiliasi langsung atau tidak langsung dengan
usaha menengah atau besar dan berbentuk badan usaha perorangan,
baik berbadan hukum maupun tidak. Home Industri juga dapat berarti
industri rumah tangga, karena termasuk dalam kategori usaha kecil
yang dikelola keluarga.
c. Pelaku Industri Rumah Tangga
Pada umumnya, pelaku kegiatan ekonomi yang berbasis di
rumah ini adalah keluarga itu sendiri ataupun salah satu dari anggota
keluarga yang berdomisili di tempat tinggalnya itu dengan mengajak
beberapa orang di sekitarnya sebagai karyawannya. Meskipun dalam
skala yang tidak terlalu besar, namun kegiatan ekonomi ini secara
tidak langsung membuka lapangan pekerjaan untuk sanak saudara

11

ataupun tetangga di kampung halamannya. Dengan begitu, usaha


perusahaan kecil ini otomatis dapat membantu program pemerintah
dalam upaya mengurangi angka pengangguran. Lagi, jumlah
penduduk miskinpun akan berangsur menurun.
d.

Pusat Kegiatan Industri Rumah Tangga


Sebagaimana nama kegiatan ekonomi ini, Home Industry pada
umumnya memusatkan kegiatan di sebuah rumah keluarga tertentu
dan biasanya para karyawan berdomisili di tempat yang tak jauh dari
rumah produksi tersebut. Karena secara geografis dan psikologis
hubungan mereka sangat dekat (pemilik usaha dan karyawan),
memungkinkan untuk menjalin komunikasi sangat mudah. Dari
kemudahan dalam berkomunikasi ini diharapkan dapat memicu etos
kerja yang tinggi. Karena masing-masing merasa bahwa kegiatan
ekonomi ini adalah milik keluarga, kerabat dan juga warga sekitar.
Merupakan tanggung jawab bersama dalam upaya meningkatkan
perusahaan mereka.

e. Industri Rumah Tangga sebagai Alternatif Penghasilan bagi Keluarga


Bertambahnya jumlah keluarga tentu saja akan menambah
jumlah kebutuhan dalam memenuhi keperluan anggota keluarga itu
sendiri semakin meningkat. Kebutuhan keluarga ini akan terasa ringan

12

terpenuhi jika ada usaha yang mendatangkan income atau penghasilan


keluarga untuk menutupi kebutuhan tersebut. Home Industri yang
pada umumnya berawal dari usaha keluarga yang turun menurun dan
pada akhirnya meluas ini secara otomatis dapat bermanfaat menjadi
mata pencaharian penduduk kampung di sekitarnya. Kegiatan ekonomi
ini biasanya tidak begitu menyita waktu, sehingga memungkinkan
pelaku usaha membagi waktunya untuk keluarga dan pekerjaan tetap
yang diembannya.
2. Sistem Kerjasama (Kemitraan)12
a. Alasan terjadi Kerjasama
Kerjasama usaha haruslah berdasarkan asas sukarela dan suka
sama suka. Dalam kemitraan harus dijauhkan kawin paksa. Oleh
karena itu, pihak-pihak yang bekerjasama harus sudah siap untuk
bermitra, baik kesiapan budaya maupun kesiapan ekonomi. Jika tidak,
maka kerjasama akan berakhir sebagai penguasaan yang besar
terhadap yang kecil atau gagal karena tidak bisa jalan. Artinya,
harapan yang satu terhadap yang lain tidak terpenuhi, maka beberapa
alasan terjadi kerjasama dikemukakan sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Meningkatkan profit atau sales pihak-pihak yang bekerjasama.


Memperbaiki pengetahuan situasi pasar.
Memperoleh tambahan pelanggan atau para pemasok baru.
Meningkatkan pengembangan produk.
Memperbaiki proses produksi .

12 http://sigit-rh.blogspot.com/2011/04/pola-pola-kemitraan-usaha.html di akses 9 Juli 2013

13

6) Memperbaiki kualitas.
7) Meningkatkan akses terhadap teknologi.

b. Analisis Kerjasama
Kerjasama adalah suatu sikap menjalankan bisnis yang diberi
ciri dengan hubungan jangka panjang, suatu kerjasama bertingkat
tinggi, saling percaya, dimana pemasok dan pelanggan berniaga satu
sama lain untuk mencapai tujuan bisnis bersama. Selama ini istilah
kerjasama ini telah dikenal dengan sejumlah nama, diantaranya
strategi kemitraan dengan pelanggan (strategic customer alliance),
strategi kerjasama dengan pemasok (strategic supplier alliance) dan
pemanfaatan sumber daya kemitraan (partnership sourcing). Bertolak
dari hal tersebut maka dapat di analisis kinerja kerjasama sebagai
berikut:
1) Kurang transparasi dalam pelaksanaan Kepres 16.
2) Realisasi gelar kerjasama masih belum memuaskan.
3) Kerjasama tidak berkembang baik.
4) Waralaba dalam negeri belum banyak yang bermunculan.
c. Kendala umum Kerjasama
Kerjasama pada dasarnya menggabungkan aktivitas beberapa
badan usaha bisnis, oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu organisasi
yang memadai. Dengan pendekatan konsep sistem, diketahui bahwa
organisasi pada dasarnya terdiri dari sejumlah unit atau sub unit yang
saling berinteraksi dan interdepedensi. Performansi dan satu unit dapat

14

menyebabkan kerugian pada unit-unit lainnya. Tidak terlepas dari


keterkaitan hal diatas maka akan mengalami beberapa kendala antara
lain:
1) Perbedaan yang masih besar antara Usaha Besar dan Usaha Kecil
2) Kualitas produksi belum terjamin
3) Kerja sama kurang berkembang
4) UB bersifat integrai vertical
5) Belum terjadi alih teknologi dan manajemen dari UB dan UK
6) Belum berkembangnya system dan pola kemitraan dan
belumberkembangnya unsur pendukung
Pada Negara maju, mereka melakukan kerjasama karena
adanya tuntutan pasar, atas dasar tanggung jawab bersama,
mengurangi pengangguran, tumbuhnya Usaha Menengah dan Usaha
Kecil, dan dalam rangka meningkatkan daya saing nasionalnya.
Pola dan system kerjasama dikembangkan oleh suatu
perusahaan hingga menjadi Good Practice. Lima jenis kerjasama yang
dikembangkan di Eropa dan dapat ditiru:
1) Buying and selling yang meliputi kegiatan suppliers dan
subcontracting
2) Positive restructuring yang meliputi outsourcing, spin offs,
management by-outs, community renewal dan trade offs.
3) SME support yang meliputi start-up companies, mentoring,
kerjasama penelitian dan pengembangan (R&D) dan bantuan
ekspor.
4) Training dan education, misalnya untuk supplier dan magang serta
recruitment calon pemitra

15

5) Local

focus

adalah

kegiatan

kemitraan

dengan

tujuan

mengembangkan ekonomi wilayah.


Latihan manajemen dan ketrampilan, magang, studivisit dan
alih teknologi adalah salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangka
memodernisasi UK. Jadi, agar kesenjangan manajemen dan teknologi
antara UB dan UK tidak terlalu jauh ketinggalan, maka pengembangan
SDM harus selalu menjadi agenda kerjasama.
d. Syarat-syarat Kerjasama
Kerjasama usaha bukanlah penguasaan yang satu atas yang
lain, khususnya yang besar atas yang kecil, melainkan menjamin
kemandirian pihak-pihak yang bermitra, karena kerjasama bukanlah
proses merger atau akuisisi. Kerjasama usaha yang kita inginkan
bukanlah kerjasama yang bebas nilai, melainkan kerjasama yang tetap
dilandasi oleh tanggung jawab moral dan etika bisnis yang sehat, yang
sesuai dengan demokrasi ekonomi. Adapun syarat-syarat kerjasama
adalah sebagai berikut:
1) Tujuan umum yang sama.
2) Kesetaraan.
3) Saling menghargai.
4) Saling memberi kontribusi.
5) Ada efek sinergi.
6) Saling menguntungkan.
3. Pandangan Islam mengenai Kerjasama
a. Pengertian kerjasama menurut islam

16

Secara

bahasa

kerjasama

berarti

percampuran

dan

persekutuan13 atau didalam islam dikenal dengan syirkah atau alikhtilath. Yang dimaksud dengan percampuran di sini adalah seseorang
mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehingga sulit untuk
dibedakan.
Adapun

menurut

istilah

ada

beberapa

defenisi

yang

dikemukakan oleh ulama:


1) Menurut Ulama Hanafiah
Akad antara dua orang yang berserikat pada pokok harta (modal)
dan keuntungan.
2) Menurut Ulama Malikiyah
Izin untuk bertindak secara hukum bagi dua orang yang
bekerjasama terhadap harta mereka.
3) Menurut Ulama as-Syiddiqie
Akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk saling tolong
menolong dalam suatu usaha dan membagi keuntungan.

13 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalah, ( Jakarta,
Kencana, 2010) hal. 127

17

Dari tiga defenisi di atas sesungguhnya perbedaan hanya


bersifat redaksional, namun secara esensial prinsipnya sama yaitu
bentuk kerjasama antara dua orang atau lebih dalam sebuah usaha dan
konsekuensi

keuntungan

dan

kerugiannya

ditanggung

secara

bersama.14
b. Syarat Syirkah (kerjasama) dalam Islam
Menurut Hanafiyah, syarat-syarat Syirkah terbagi menjadi
empat bagian:
1) Syarat yang berkaitan dengan semua bentuk syirkah baik harta,
maupun lainnya. Dalam hal ini, terdapat dua syarat: pertama,
berkaitan dengan benda yang diakadkan harus berupa benda yang
dapat diterima sebagai perwakilan. Kedua, berkaitan dengan
keuntungan, pembagiannya harus jelas dan disepakati oleh kedua
belah pihak.
2) Syarat yang berkaitan dengan harta (mal). Ada syarat yang harus
dipenuhi, yaitu pertama modal yang dijadikan objek akad adalah
alat pembayaran yang sah. Kedua, adanya poko harta ketika akad
berlangsung baik jumlahnya sama atau berbeda.

14 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalah, ( Jakarta,
Kencana, 2010) hal. 127

18

3) Syarat yang terkait dengan Syirkah Mufawadhah, yaitu moda yang


sama, orang yang ber-Syirkah, obej akad disyaratkan syirkah
umum, yaitu semua macam jual beli atau perdagangan.

H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini berbentuk kualitatif deskriptif yang menggunakan
pendekatan Field Research15, sedangkan penguraiannya adalah sebagai
berikut :
a. Dalam menganalisa masalah penulis menggunakan tekhnik analisa
deskriptif yaitu menggambarkan permasalahan secara keseluruhan
berdasarkan konsep-konsep yang ada.
b. Pola pikir yang penulis gunakan adalah pola pikir deduktif yaitu cara
menarik kesimpulan dari suatu masalah dengan menggunakan fakta
khusus untuk memperoleh kesimpulan, dan cara berfikir induktif yaitu
menggunakan fakta yang bersifat khusus untuk menganalisa yang
sifatnya umum, sedangkan data yang bersifat komparatif penulis
mengacu pada konsep-konsep penelitian.
15 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, PT. Rhineka Cipta, Jakarta, 1993. hal. 42

19

2. Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian ini dilakukan di Jorong Kuruak Pekan Ahad
Kubang Putiah, pemilihan lokasi ini berdasarkan pada industri rumah
tangga yang berkembang dan menjadi alternatif penghasilan bagi
masyarakat tersebut.
3. Jenis dan Sumber Data
a. Data Primer
Data yang diperoleh langsung dari narasumber tanpa perantara,
dalam penelitian ini penulis berencana mendapatkan data primer ini
langsung dari wawancara pelaku industri rumah tangga dan
masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kerjasama itu sendiri.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh secara tidak langsung hanya didapat dari
literatur buku pustaka baik bacaan maupun jurnal. Dalam penelitian
ini, penulis berencana ingin memperoleh data sekunder ini dari
catatan-catatan dan arsip-arsip jumlah produksi dari pelaku industri
rumah tangga.
4. Tehknik Pengumpulan Data
a. Dokumentasi
Dokumentasi adalah studi yang dilakukan penulis dalam
melakukan

pengumpulan

data

mengenai

sistem

kerja

sama

kekeluargaan dalam home industri di Jorong Kuruak Pekan Ahad


Kubang Putiah yang rencananya akan mengumpulkan data dari arsip-

20

arsip dan catatan-catatan serta pembukuan jumlah produksi dari


industri rumah tangga tersebut.
b. Wawancara
Wawancara adalah menemukan informasi secara lisan dalam
hubungan tatap muka dengan narasumber.16 Metode wawancara ini
merupakan

salah

satu

cara

yang

dilakukan

penulis

untuk

mengumpulkan data. Dalam penelitian ini, penulis berencana akan


melakukan wawancara dengan pelaku industri rumah tangga dan
masyarakat yang terlibat langsung dalam sistem kerja sama tersebut.
5. Teknik Pengelolaan Data
Berdasarkan data yang dibutuhkan telah berhasil dikumpulkan dari
lapangan, lebih lanjut penulis akan mengolah dan menganalisa data
dengan langkah-langkah sebagi berikut :
a. Editing, yaitu proses memeriksa kembali semua data yang telah di
himpun.
b. Koding, yaitu mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari responden
kedalam klas-klas.17
16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, ( Jakarta, PT.
Rhineka Cipta, 2006) cet-ke-13, h. 155
17 Amiral Hadi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung, Pustaka Setia, 1998) hal. 144

21

c. Tabulasi, yaitu pekerjaan untuk membuat tabel-tabel dengan


mengklasifikasikan data-data yang ada serta menghitung ferkwensi
atau presentasenya.18
d. Analisa data menggunakan rumus :

Keterangan :
P

= Persentase

= Frekuensi

= Jumlah Sampel

e. Mengadakan interpretasi dan analisa data dalam bentuk kalimat


sederhana, berdasarkan kreiteria sebagai berikut:
0

: Tidak ada sama sekali

1 %-25 %

: Sedikit Sekali

26 %-49 %

: Sebagian kecil

50 %

: Separuh

18 Amiral Hadi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung, Pustaka Setia, 1998) hal. 148

22

51 %-75 %

: Sebagian bersar

79 %-99 %

: Pada umumnya

100 %

: Seluruhnya

6. Sistematika Penulisan
Agar pembahasan dalam proposal ini tersusun secara sistematis
dan terarah antara satu dengan yang lainnya, maka penulis membuat
sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, identifikasi
masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan
judul, kajian terdahulu, hipotesis, metode penelitian dan sistematika
penulisan.
Bab II landasan teoritis, meliputi Definisi dan pengertian industry,
Pengertian Industri Rumah Tangga Home Industry, Pelaku Industri
Rumah Tangga, Pusat Kegiatan Industri Rumah Tangga, Industri Rumah
Tangga sebagai Alternatif Penghasilan bagi Keluarga, Sistem Kerjasama
(Kemitraan), Alasan terjadi Kerjasama, Analisis Kerjasama, Kendala
umum Kerjasama, Syarat-syarat Kerjasama, Pandangan Islam mengenai
Kerjasama, Pengertian kerjasama menurut islam dan Syarat Syirkah
(kerjasama) dalam Islam.

23

Bab III berisikan hasil penelitian yang terdiri dari pola kerjasama
yang dilakukan dalam home industry ditinjau dari perspektif islam dan
pengaruh kerjasama yang dilakukan terhadap masyarakat di Jorong
Kuruak Pekan Ahad Kubang Putiah.
Bab IV, berisikan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

24

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalah, Kencana,
Jakarta,2010
Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islami Edisi Ketiga, Divisi Buku Perguruan
Tinggi, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007.
Amiral Hadi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung, 1998.
Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahannya, Lembaga Percetakan al-Quran
Raja Fahd, 1971.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keiga, Balai
Pustaka, Jakarta, 2002
Eriyanto, Membangun Ekonomi Komparatif, PT Elex Media Komputindo Kompas
Gramedia, Jakarta, 2011.
Eti Rochaety, Ratih Tresnati, Kamus Istilah Ekonomi, Bumi Aksara, Jakarta, 2005
Harfandi, Asyari, Kewirausahaan, Hayfa Press, 2004
http://sigit-rh.blogspot.com/2011/04/pola-pola-kemitraan-usaha.html
Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, PT. Rhineka Cipta,
Jakarta, 1997.
Marsuki, Pemikiran dan Strategi Memberdayakan Sektor Ekonomi UMKM di
Indonesia, Mitra Wacana Madia, Jakarta, 2006.
Monzher Kahf, Ekonomi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,
1982.
R. Slot, Fadly, Pengantar Ekonomi Perusahaan, PT. Karya Nusantara, Bandung,
1972
Sobirin, Kerjasama Antar Pengrajin Home Industri Keramik ,Universitas
Muhammadiyah Malang : 2007
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, PT. Rhineka Cipta, Jakarta, 1993.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, PT.
Rhineka Cipta, 2006

25

26

KATA PENGANTAR
Puji syukur pemakalah ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nya jualah proposal ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan , dengan judul pola kerja sama dalam home industry di jorong kuruak
pekan ahad kubang putiah ditinjau dari Perspektif islam.
Shalawat beriring salam tidak lupa pemakalah mohonkan kepada Allah SWT,
semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad SAW.
Penulis menyadari bahwa Proposal ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran demi kersempunaan peroposal ini
dimasa yang akan datang.
Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi kita semua Amin...

Bukittinggi, 05 Mei 2016

Muhammad Ilham Shiddiq

27