Anda di halaman 1dari 21

KESEHATAN KERJA SEKTOR INFORMAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Program Kesehatan Kerja


Dosen Pengampu : Drs. Herry Koesyanto, MS
Disusun oleh :
Kharisul Anam
Aditya Dwi Saputra
Indri Karolina
Izzatun Nisa
Tika Sri Purwaningtyas M
Zulfa Kamalia Amin
Dinaravony Krismeandari
Riawan Rahayu Anggraeni
Novia Wulandari
Dwi Ratna Sari
Elyana Kartikawati N
Irsyad Ilhami
Inna Ayunda Roziah
Hayvani Natika Nur

6411411003
6411411014
6411411024
6411411042
6411411058
6411411069
6411411087
6411411137
6411411182
6411411189
6411411202
6411411214
6411411230
6411411247

Rombel : 1

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2014BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang semakin bertambah pesat
menyebabkan kebutuhan akan lapangan pekerjaan menjadi semakin meningkat.
Urbanisasi yang dilakukan oleh penduduk di daerah pedesaan berpindah ke
perkotaan dalam mencari pekerjaan sebagai upaya meningkatkan perekonomian
dan kesejahteraan keluarganya. Kondisi demikian akan meningkatkan jumlah
tenaga kerja di suatu wilayah dan membutuhkan berbagai banyak lapangan
pekerjaan yang dapat menampung para pekerja.
Keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada Februari 2012 menunjukkan
adanya perbaikan yang digambarkan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja
maupun jumlah penduduk bekerja dan penurunan tingkat pengangguran. Jumlah
angkatan kerja pada Februari 2012 bertambah sebesar 3,0 juta orang dibanding
keadaan Agustus 2011 dan bertambah 1,0 juta orang dibanding keadan Februari
2011.
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2012 mencapai 118,0
juta orang. Selama setahun terakhir (Agustus 2011Agustus 2012), jumlah
penduduk yang bekerja mengalami kenaikan terutama di Sektor Industri sekitar
830 ribu orang (5,71 persen), serta Sektor Jasa Kemasyarakatan sebesar 450 ribu
orang (2,70 persen). Sedangkan sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah
Sektor Pertanian sebesar 450 ribu orang (1,14 persen), Sektor Perdagangan
sebesar 250 ribu orang (1,07 persen), dan Sektor Transportasi, Pergudangan, dan
Komunikasi sebesar 80 ribu orang (1,57 persen). Agustus 2012 terdapat sekitar
44,2 juta orang (39,86 persen) bekerja pada sektor formal dan 66,6 juta orang
(60,14 persen) bekerja pada sektor informal. (BPS 2012)
Namun demikian, lapangan pekerjaan di sektor formal tidaklah mampu
menampung seluruh masyarakat yang ingin bekerja di tempatnya. Kemudian

banyak dari masyarakat yang berusaha membangun lapangan pekerjaan sendiri


atau yang disebut dengan sektor usaha informal. Beberapa jenis usaha di sektor
informal yaitu home industry, seperti pengrajin kayu, pengrajin rotan, pengrajin
sepatu sandal dan tas, bengkel las motor dan mobil, penjahit pakaian, restoran
atau warung makan dan lain sebagainya. Adanya lapangan pekerjaan baru yang
telah dibangun oleh masyarakat itu sendiri memberikan aset yang bagus untuk
Negara sebagai peningkatan perekonomian. Akan tetapi

kecenderungan dari

tenaga kerja dan atau pemilik usaha itu sendiri di sektor usaha informal adalah
masyarakat yang memiliki jenjang pendidikan tidak terlalu tinggi. Kebanyakan
adalah masyarakat yang berlatarbelakang pendidikan akhir Sekolah Dasar (SD),
SMP dan SMA. Hal ini dibuktikan data BPS tahun 2012 pada Agustus 2012,
penduduk bekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap
mendominasi yaitu sebesar 53,9 juta orang (48,63persen), sedangkan penduduk
bekerja dengan pendidikan diploma sekitar 3,0 juta orang (2,68 persen) dan
penduduk bekerja dengan pendidikan universitas hanya sebesar 7,0 juta orang
(6,30persen).
Bahaya di tempat kerja merupakan penyebab atau pemberi kontribusi bagi
kematian dini dari jutaan orang di seluruh dunia dan mengakibatkan penyakit
serta kecacatan bagi lebih dari ratusan orang tiap tahunnya. Laporan kesehatan
dunia 2002 menempatkan risiko kerja pada urutan ke 10 penyebab terjadinya
penyakit dan kematian. WHO melaporkan bahwa faktor risiko kerja memberikan
kontribusi pada beberapa penyakit antara lain penyakit punggung (37%),
kehilangan kemampuan pendengaran (16%), penyakit paru obstruktif kronis
(13%), asma (11%), kecelakaan (10%), kanker paru (9%), leukemia (2%).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu
perlindungan tenaga kerja di segala jenis kegiatan usaha, baik formal maupun
informal. Kegiatan dan penerapan K3 terhadap tenaga kerja di sector formal, pada
umumnya sudah diterapkan dengan baik. Sedangkan penerapan di sector informal
belum diketahui dengan baik. Kegiatan pekerjaan dan tempat kerja sektor

informal sangat banyak dan belum diklasifikasikan atas jenis usaha , jenis
pekerjaan, dan tempat kerja Bila ditinjau dari ketiganya, nampaknya tidak jauh
berbeda. Namun bila dilihat kondisi tempat kerja dan K3 nya sangat berbeda.
Secara langsung maupun tidak langsung aktivitas kerja secara manual apabila
tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkan kecelakaan kerja.
Sektor usaha informal dengan kecenderungan tersebut menyebabkan
sistem manajemen keselamatan kerja tidak bisa diterapkan karena kurangnya
pengetahuan dari pihak pengelola usaha informal itu sendiri. Sedangkan
kebanyakan sektor usaha informal memiliki jam kerja yang lebih panjang dan
tidak teratur dibandingkan dengan usaha informal, akibatnya adalah terjadi
kelelahan kerja pada tenaga kerjanya dan menimbulkan kecelakaan kerja
sehingga produktivitas kerja di sektor usaha informal menjadi menurun.
Umumnya pekerja di sektor informal memiliki beban dan waktu kerja
berlebihan. Sementara upah yang diterima pekerja jauh dibawah standar.
Pengusaha sektor informal pada umumnya kurang memperhatikan kaidah
keamanan dan kesehatan kerja (Icohis, 2009). Hasil penelitian Departemen
Kesehatan (Depkes) menunjukkan, sekitar 74% pekerja hingga saat ini belum
terjangkau layanan kesehatan kerja yang memadai. Menurut penelitian terakhir
yang dilakukan tahun 2006, baru sekitar 26 persen pekerja di sektor formal yang
memiliki jangkauan layanan kesehatan kerja yang memadai. Cakupan pelayanan
kesehatan kerja di sektor informal hanya mencakup 1% pekerja. Hal ini terjadi
karena di sektor informal tidak memiliki sistem pembiayaan kesehatan
(Anonimous, 2009).
Permasalahan yang terjadi di sektor usaha informal adalah kesehatan dan
keselamatan kerja pada para tenaga kerja. Tingginya kecelakaan kerja serta
penyakit akibat kerja di sektor usaha informal perlu mendapatkan perhatian
khusus bagi pemerintah maupun swasta. Sebagai upaya pencegahan dalam
kecelakaan kerja serta penyakit akibat kerja, Pemerintah telah berupaya membuat

Program Kesehatan Kerja diantaranya adalah pemberian Jaminan Sosial Tenaga


Kerja (Jamsostek), dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Akan tetapi,
Program Kesehatan Kerja dari Pemerintah belum mencakup keseluruhan pada
sektor usaha informal.
Menyadari pentingnya K3 bagi semua orang di manapun berada maupun
bekerja, serta adanya persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan di
era globalisasi ini maka mau tidak mau upaya untuk meningkatkan kesehatan dan
keselamatan kerja harus menjadi prioritas dan komitmen semua pihak baik
pemerintah maupun swasta dari tingkat pimpinan sampai ke seluruh karyawan
dalam manajemen perusahaan. Dengan tingkat kesehatan dan keselamatan kerja
yang baik jelas mangkir kerja karena sakit akan menurun, biaya pengobatan dan
perawatan akan menurun, kerugian akibat kecelakaan akan berkurang, tenaga
kerja akan mampu bekerja dengan produktivitas yang lebih tinggi, keuntungan
akan meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan karyawan maupun pemberi
kerja akan meningkat.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat ditarik rumusan masalah
sebagai berikut:
1) Apa definisi dan jenis usaha sektor informal?
2) Apa yang dimaksud dengan tenaga kerja?
3) Gambaran kecelakaan kerja dan penyakit apa saja yang dapat timbul akibat
pekerjaan?
4) Apa definisi keselamatan dan kesehatan kerja?
5) Upaya apa saja yang dilakukan dalam meningkatkan keselamatan dan

kesehatan kerja?
1.3.
Tujuan
1) Mengetahui definisi dan jenis usaha sektor informal
2) Mengetahui apa yang dimaksud dengan tenaga kerja
3) Mengetahui gambaran kecelakaan kerja dan penyakit apa saja yang dapat
timbul akibat pekerjaan
4) Mengetahui definisi keselamatan dan kesehatan kerja

5) Mengetahui upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keselamatan dan


kesehatan kerja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Sektor Informal
Usaha sektor informal adalah suatu sektor perekonomian masyarakat
yang penghasilannya tidak besar dan umumnya tidak memiliki izin resmi dari
pemerintah. (Alam S :2007).
Definisi lainnya adalah segala jenis pekerjaan yang tidak menghasilkan
pendapatan yang tetap, tempat pekerjaan yang tidak terdapat keamanan kerja (job
security), tempat bekerja yang tidak ada status permanen atas pekerjaan tersebut
dan unit usaha atau lembaga yang tidak berbadan hokum.
Ciri-ciri usaha informal adalah sebagai berikut:
a. Tidak memerlukan modal besar
b. mudah masuk, artinya setiap orang dapat kapan saja masuk ke jenis usaha
informal ini
c. Biasanya usaha milik keluarga, operasi dalam skala kecil, padat karya,
d. Keterampilan diperoleh dari luar sistem formal sekolah
e. Pola kegiatan tidak teratur, baik dalam waktu kerja, permodalan mauapun
penerimaannya
f. Kebanyakan tidak memiliki izin usaha dari pemerintah
g. Umumnya tidak memiliki tempat atau bangunan yang permanen yang
terpisah dari tempat tinggalnya.
h. Peralatan yang digunakan dalam menjalankan usahanya masih sederhana
i. Umumnya dilakukan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah,
dengan modal kecil dari lingkungan sendiri
j. Tidak membutuhkan keahlian khusus sehingga dapat menyerap tenaga kerja
dengan bermacam tingkat pendidikan.
k. Tiap-tiap satuan usaha hanya mempekerjakan tenaga kerja sedikit yang
berasal dari lingkungan keluarga atau daerah yang sama.
l. Tidak membayar pajak
m. Barang-barang yang dihasilkan relatif murah
n. Administrasi atau pembukuannya masih sederhana.

Menurut Departemen Kesehatan RI (2002), sektor informal adalah


kegiatan ekonomi tradisional yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pola kegiatannya tidak teratur, baik dalam arti waktu, permodalan, maupun
penerimaanya.
b. Pada umumnya tidak tersentuh oleh peraturan dan ketentuan yang diterapkan
oleh pemerintah.
c. Modal, peraturan dan perlengkapan maupun pemasukan biasanya kecil dan
diusahakan atas dasar hitungan harian.
d. Pada umumnya tidak mempunyai tempat usaha yang permanen dan tidak
terpisah dengan tempat tinggal.
e. Tidak mempunyai keterikatan dengan usaha lain yang besar.
f. Pada umumnya dilakukan oleh golongan masyarakat yang berpendapatan
rendah.
g. Tidak selalu membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, sehingga
secara luwes dapat menyerap tenaga kerja dengan bermacam-macam tingkat
pendidikan.
Timbulnya sektor informal adalah akibat dari meluapnya atau
membengkaknya angkatan kerja disatu pihak dan menyempitnya lapangan kerja
dipihak yang lain. Hal ini berarti bahwa lapangan kerja yang tersedia tidak cukup
menampung angkatan kerja yang ada. Permasalahan ini menimbulkan banyaknya
penganggur dan setengan penganggur. Oleh karenanya, secara naluri masyarakat
ini berusaha kecil-kecilan sesuai dengan kebiasaan mereka. Inilah yang
memunculkan usaha sektor informal (DepKes RI, 1994).
Usaha sektor informal memang cenderung dilakukan oleh masyarakat
yang berpendidikan tidak terlalu tinggi, sehingga jenis usahanya juga merupakan
jenis usaha yang tidak begitu besar, berbeda halnya dengan perindustrian dan
perkantoran yang memiliki izin usaha dari Pemerintah Daerah.
Beberapa jenis usaha sektor informal diantaranya adalah home industry,
pengrajin kayu atau meubel kayu, pengrajin aksesoris, pengrajin tas, sepatu atau
sandal, penjahit baju, warung makan, kedai, toko kelontong, toko pakaian,
pedagang pasar dan lain sebagainya.

2.2 Tenaga Kerja


Berdasarkan UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang
dimaksud dengan Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan
tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Sedangkan
yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan
pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi
kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Tenaga Kerja sektor informal adalah tenaga kerja yang bekerja pada
segala jenis pekerjaan tanpa ada perlindungan negara dan atas usaha tersebut
tidak dikenakan pajak.
Tenaga kerja dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja. Penduduk yang termasuk angkatan kerja terdiri atas orang
yang bekerja dan menganggur. Jika ada saudara kalian yang sedang mencari
pekerjaan, maka ia termasuk dalam angkatan kerja. Sedangkan golongan bukan
angkatan kerja terdiri atas anak sekolah, ibu rumah tangga, dan pensiunan.
Golongan bukan angkatan kerja ini jika mereka mendapatkan pekerjaan maka
termasuk angkatan kerja. Sehingga golongan bukan angkatan kerja disebut juga
angkatan kerja potensial.
Tenaga kerja berdasarkan keahliannya, dibagi menjadi:
a. Tenaga Kerja Terdidik / Tenaga Ahli / Tenaga Mahir
Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang mendapatkan suatu
keahlian atau kemahiran pada suatu bidang karena sekolah atau
pendidikan formal dan non formal.
b. Tenaga Kerja Terlatih
Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam
bidang tertentu yang didapat melalui pengalaman kerja. Keahlian terlatih
ini tidak memerlukan pendidikan karena yang dibutuhkan adalah latihan

dan melakukannya berulang-ulang sampai bisa dan menguasai pekerjaan


tersebut.
c. Tenaga Kerja Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih
Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja kasar
yang hanya mengandalkan tenaga saja.

2.3 Gambaran kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja


Pelaksanaan K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan
lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja serta bebas pencemaran lingkungan menuju peningkatan
produktivitas sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja. Seperti kita ketahui bahwa kecelakaan kerja
bukan hanya menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material bagi pekerja
dan pengusaha tetapi dapat juga mengganggu proses produksi secara menyeluruh
dan merusak lingkungan yang akhirnya berdampak kepada masyarakat luas.
Karena itu perlu dilakukan upaya yang nyata untuk mencegah dan mengurangi
risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara maksimal.
Meluasnya fenomena sektor informal dan informalisasi tenaga kerja di
Indonesia merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Hal ini dipandang positif
dalam kerangka perekonomian sebagai unsur dinamis yang patut dipelihara dan
ditumbuhkembangkan. Struktur relasi buruh-majikan informal yang diwarnai
oleh perjanjian lisan, kualitas sumber daya yang rendah, telah memunculkan
karakter sektor ekonomi informal yang tidak menguntungkan bagi perlindungan
sosial-ekonomi buruhnya. Hal tersebut dapat diukur dari pertukaran sumber daya
antar buruh dan majikan melalui besarnya pengupahan, jam kerja, kondisi
kesehatan kerja, dan penyediaan jaminan sosial (Safira dkk, 2003).
Pemberian waktu istirahat dapat meningkatkan produktivitas. Ini berarti
pengurangan kelelahan bagi para pekerja. Waktu istirahat merupakan hal yang
mutlak yang perlu diberikan pada para pekerja, agar dapat mempertahankan
kemampuan atau kapasitas kerja. Pada sektor infoormal, para pekerja memiliki

atau menerima beban kerja yang dapat digambarkan seperti: terjadi


keanekaragaman jam kerja, umumnya pekerja sektor informal bekerja lebih dari
7 jam/hari. Jika kurang dari 7 jam/hari dan atau kurang dari 7 hari seminggu,
umumnya para pekerja sektor informal memiliki pekerjaan tambahan atau
sampingan (Depkes RI, 1994).
Akibat beban kerja yang terlalu berat ataupun kemampuan fisik yang
terlalu lemah dapat mengakibatkan seseorang pekerja menderita gangguan
kesehatan atau penyakit akibat kerja. Kondisi lingkungan kerja (misalnya: dingin,
lembab, bising, dan lain-lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap
pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri maupun bersamasama dapat menimbulkan gangguan

kesehatan atau penyakit akibat kerja

(Depkes RI, 1994).


Faktor penyebab penyakit akibat kerja dapat digolongkan menjadi 5,
antara lain sebagai berikut:
1. Golongan fisik
(bising, radiasi, suhu ekstrem, tekanan udara, vibrasi, penerangan)
2. Golongan kimiawi
(semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut)
3. Golongan biologik
(bakteri, virus, jamur, dll)
4. Golongan fisiologik/ergonomik
(desain tempat kerja, beban kerja)
5. Golongan psikososial
(stress psikis, monotomi kerja, tuntutan pekerjaan dll)
Kecelakaan kerja masih sering terjadi dan angka kecelakaan yang ada
hanya data kecelakaan sektor formal. Sedangkan data kecelakaan kerja untuk
sektor informal masih sangat minim. Padahal didalam UU Ketenagakerjaan RI
No. 25 Tahun 1997 Bab XI Mengenai Tenaga Kerja di Dalam Hubungan Kerja
Sektor Informal dan di Luar Hubungan Kerja Pasal 158-160 menyatakan bahwa
adanya jaminan sosial dan keselamatan kerja serta pembinaan dari pemerintah
bagi pekerja sektor informal.
Namun kenyataannya pekerja sektor informal masih banyak yang tidak
mengetahui pentingnya K3 dan kurangnya perhatian dari pemerintah terutama
masalah keselamatan kerja. Kalaupun ada, pembinaan dilakukan untuk hal-hal

yang lebih terkait masalah produktivitas bukan keselamatan kerja. Untuk itu
pemerintah seharusnya menggalakkan penerapan K3 sebagai gerakan nasional
yang merupakan upaya penting dalam dunia ketenagakerjaan. Hal ini mutlak
dilakukan untuk melindungi para pekerja baik sektor formal maupun sektor
informal sehingga terbebas dari musibah dan kecelakaan akibat kerja.

2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan
yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi
masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
Keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk mencegah
setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat, yang dapat mengakibatkan
kecelakaan.
Hal ini tercermin dalam pokok-pokok pikiran dan pertimbangan
dikeluarkannya UU nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yaitu bahwa
tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dalam melakukan
pekerjaan dan setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin
pula keselamatannya. Hak atas jaminan keselamatan ini membutuhkan prasyarat
adanya lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi tenaga kerja dan masyarakat
di sekitarnya.
Di dalam UU no 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pada pasal 86
menyatakan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh
perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral kesusilaan dan
perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama. Hak-hak tersebut salah satunya adalah penyelenggaraan keselamatan dan
kesehatan kerja diberikan untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna
mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. Dengan demikian, setiap

perusahaan wajib meoptierapkan system manajemen keselamatan dan kesehatan


kerja yang terintegrasi dengan system manajemen perusahaan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja, bahwa keselamatan kerja diperuntukkan bagi seluruh pekerja yang bekerja
di segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam
air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik
Indonesia. Jadi pada dasarnya, setiap pekerja di Indonesia berhak atas jaminan
keselamatan dan kesehatan kerja. Kaitannya tenaga kerja dengan keselamatan
kerja maka di dalam pasal 12 UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, kewajiban dan hak tenaga kerja adalah sebagai berikut :
a) Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas atau
ahli keselamatan kerja
b) Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan Memenuhi dan
mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan yang diwajibkan
c) Meminta pada Pengurus agas dilaksanakan semua syarat keselamatan dan
kesehatan yang diwajibkan
d) Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan dan
kesehatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan
olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas
dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung-jawabkan.
Keselamatan kerja sangatlah penting diterapkan oleh setiap sektor usaha
baik formal maupun informal supaya kesehatan para tenaga kerja tetap baik dan
tidak ada suatu kejadian buruk seperti kecelakaan kerja di tempat kerja. Apabila
terjadi kecelakaan kerja, maka selain tenaga kerja yang menjadi korban
kecelakaan kerja mengalami kerugian pihak dari pengusaha juga akan mengalami
kerugian karena tenaga kerjanya tidak bisa produktif lagi dan mengakibatkan
produksi usaha tersebut menurun hingga pendapatan juga ikut menurun. Namun
hal tersebut tidak pernah disadari oleh pihak pengusaha, terutama usaha sektor
informal. Pemilik usaha hanya mementingkan besarnya pemasukan dari hasil

produksinya saja tanpa memperhatikan keselamatan para tenaga kerjanya.


Kurangnya kepedulian akan keselamatan dan kesehatan kerja menyebabkan
peristiwa kecelakaan kerja tetap ada.
Sudah semestinya setiap usaha sektor informal menerapkan sistem
manajemen keselamatan kerja di tempat kerja sebagai pemenuhan hak bagi
tenaga kerjanya selain untuk menjaga kualitas usahanya. Meskipun usaha sektor
informal tidak memiliki izin usaha dari Pemerintah tidak dikecualikan untuk
menerapkan sistem manajemen keselamatan atau pengadaan suatu program
untuk meningktakan keselamatan dan kesehatan kerja.
Kapsitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga
komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi
antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik
dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi
kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seseorang
pekerja dapat melakukan pekerjaannya secara baik.
Dengan peraturan perundangan Aspek Hukum Keselamatan kerja (UU No
1 Thn 1970) pasal 3 ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja, yaitu:
a)
b)
c)
d)

Mencegah dan mengurangi kecelakaan.


Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.
Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran

atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.


e) Memberi pertolongan pada kecelakaan.
f) Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
g) Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya

suhu,

kelembaban debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau
radiasi, suara dan getaran.
h) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik
i)
j)
k)
l)

maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan.


Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.
Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

m) Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya.
n) Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman
atau barang.
o) Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
p) Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan
penyimpanan barang.
q) Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
r) Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang
bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
2.5 Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja memang harus diadakan
sebagai suatu upaya menurunkan kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja. Program ini diperuntukkan bagi tenaga kerja yang bekerja di mana saja dan
dapat dilaksanakan melalui sistem manajemen keselamatan di suatu perusahaan
baik sektor formal maupun informal.
Pada tahun 2012 telah terbit Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012
tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Namun
sangat disayangkan didalam Peraturan Pemerintah ini pun masih terdapat
kesalahan yang sama dimana hanya terdapat kewajiban bagi pengusaha dan
perusahaan saja yang harus menjalankan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan

Kerja.

Hal

ini

tertulis

dalam

Pasal

ayat

(2)

bahwa

pengusaha/perusahaan yang telah mempekerjakan tenaga kerja diatas 100 orang


atau yang memiliki pekerjaan dengan potensi bahaya yang tinggi wajib
menjalankan SMK3. Dengan kata lain apabila tidak termasuk kedalam kriteria
tersebut belumlah terikat dengan kewajiban menjalankan SMK3, dan tentu saja
belum ada keharusan secara hukum bagi para pemilik proyek pembangunan
rumah tinggal informal untuk turut menjalankan SMK3 ini.

Oleh karena itu diperlukan sebuah usaha yang konkrit dalam


mengimplementasikan K3 pada sektor informal. Masih kurangnya kepedulian
baik dari sisi pemberi kerja maupun buruh rumah tinggal itu sendiri terhadap
keselamatan kerja adalah hal yang sangat berbahaya apabila tidak segera dicari
solusinya. Kurangnya perhatian dan gerakan nyata dari pemerintah dalam
mengurus K3 pada sektor informal baik itu dalam bentuk regulasi maupun
kebijakan adalah hal yang sangat disayangkan. Sampai saat ini penerapan K3
disektor informal yang silakukan pemerintah masih bersifat preventif edukatif
dalam bentuk sosialisasi, pembinaan, dan pemberian buku pedoman K3.
Pemerintah Indonesia memberikan berbagai upaya untuk menjamin
kesehatan tenaga kerja Indonesia diantaranya melalui pengadaan program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS). Akan tetapi berbagai program Pemerintah tersebut belum sepenuhnya
mencakup pada sektor informal, hal ini disebabkan oleh kemampuan financial
pekerja informal terhadap program jamsostek atau sejenisnya.
2.5.1

Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)


Dalam UU no. 3 Tahun 1992 pasal 1 dan 3 tentang Jaminan Sosial

Tenaga Kerta, Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi
tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian
dan penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat
peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan
kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.
Untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja diselenggarakan
program jaminan social tenaga kerja yang pengelolaannya dapat dilaksanakan
dengan mekanisme asuransi. Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan social
tenaga kerja.

Merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi


Nomor 24 Tahun 2006 tentang Program Jaminan Sosial bagi Tenaga kerja di
Luar Hubungan Kerja, ada sebuah program Jamsostek yang bisa diikuti secara
mandiri oleh para buruh rumah tinggal ini yaitu Jamsostek sektor informal
yang dapat diikuti oleh tenaga kerja diluar hubungan kerja secara
perseorangan. Jamsostek sektor informal ini memiliki program-program yang
dapat melindungi para pekerja seperti tukang cuci, pedagang, buruh tani, supir
taksi, tukang ojek, termasuk didalamnya buruh harian lepas seperti buruh
rumah tinggal. Didalam Jaminan Kecelakaan Kerja Jamsostek terdapat
beberapa manfaat seperti ditanggungnya biaya pengangkutan tenaga kerja
yang mengalami kecelakaan kerja, biaya perawatan medis, biaya rehabilitasi,
penggantian upah Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), santunan cacat
tetap sebagian, santunan cacat total tetap, santunan kematian (sesuai label),
biaya pemakaman, santunan berkala bagi yang meninggal dunia dan cacat
total tetap.
2.5.2

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


Dalam UU no 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS


adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program
jaminan sosial. Jaminan Sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial
untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya yang layak. Dana Jaminan Sosial adalah dana amanat milik seluruh
peserta yang merupakan himpunan iuran beserta hasil pengembangannya yang
dikelola oleh BPJS untuk pembayaran manfaat kepada peserta dan
pembiayaan operasional penyelenggaraan program Jaminan Sosial. Peserta
adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6
(enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Usaha sektor informal adalah suatu sektor perekonomian masyarakat
yang penghasilannya tidak besar dan umumnya tidak memiliki izin resmi dari
pemerintah. (Alam S :2007).
Definisi lainnya adalah segala jenis pekerjaan yang tidak menghasilkan
pendapatan yang tetap, tempat pekerjaan yang tidak terdapat keamanan kerja (job
security), tempat bekerja yang tidak ada status permanen atas pekerjaan tersebut
dan unit usaha atau lembaga yang tidak berbadan hokum.
Bahaya di tempat kerja merupakan penyebab atau pemberi kontribusi
bagi kematian dini dari jutaan orang di seluruh dunia dan mengakibatkan
penyakit serta kecacatan bagi lebih dari ratusan orang tiap tahunnya. Laporan
kesehatan dunia 2002 menempatkan risiko kerja pada urutan ke 10 penyebab
terjadinya penyakit dan kematian.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu
perlindungan tenaga kerja di segala jenis kegiatan usaha, baik formal maupun
informal.
Namun kenyataannya pekerja sektor informal masih banyak yang tidak
mengetahui pentingnya K3, belum menerapkan K3 dengan baik dan kurangnya
perhatian dari pemerintah terutama masalah keselamatan kerja. Kalaupun ada,
pembinaan dilakukan untuk hal-hal yang lebih terkait masalah produktivitas
bukan keselamatan kerja. Untuk itu pemerintah seharusnya menggalakkan
penerapan K3 sebagai gerakan nasional yang merupakan upaya penting dalam
dunia ketenagakerjaan. Hal ini mutlak dilakukan untuk melindungi para pekerja
baik sektor formal maupun sektor informal sehingga terbebas dari musibah dan
kecelakaan akibat kerja.

Saran
1. Kepada semua para pekerja khusus nya di sektor informal
Kesadaran diri sendiri akan pentingnya kesehatan dan keselamatan

kerja
Para pekerja di sektor informal harus mengetahui pentingnya

penerapan K3 di tempat kerjanya


Penggunaan alat pelindung perorangan sesuai dengan kebutuhan
pekerja merupakan alternatif lain untuk melindungi pekerja dari

bahaya-bahaya kesehatan
Membatasi waktu selama pekerjaan guna menurunkan resiko terkena
bahaya kesehatan di lingkungan kerja

2. Kepada Petugas kesehatan


Perlu adanya penyuluhan kesehatan secara individu/pendekatan
pribadi yang tidak bersifat formal tentang pentingnya penggunaan
APD sebelum melakukan pekerjaan.
3. Kepada Pemerintah
Lebih memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerja di sektor

informal
Menggalakkan penerapan K3 di semua sektor baik formal maupun
informal yang bertujuan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja

dan penyakit akibat kerja


Memberikan jaminan sosial kepada para pekerja di sektor informal
seperti Jamsostek.

DAFTAR PUSTAKA
Alam S, 2007, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XII Jilid 3, Jakarta : Esis
Gilarso, T., 2004 , Pengantar Ilmu Ekonomi Makro, Yogyakarta: Kanisius
Presiden

Republik

Indonesia,

2003,

Undang-undang

Nomor

13

Tentang

Ketenagakerjaan, Jakarta
Presiden Republik Indonesia, 1970, Undang-undang nomor 01 Tentang Keselamatan
Kerja, Jakarta
Presiden Republik Indonesia, 1992, Undang-undang Nomor 3 Tentang Jaminan
Sosial Tenaga Kerja
Presiden Republik Indonesia, 2011, Undang-undang Nomor 24

Tentang Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial


Suardi, Rudi. 2007. Sistem manajemen dan kesehatan dan Keselamatan Kerja.Jakarta
: PPM
Sumber : Berita Resmi Statistik No. 33/05/Th. XV, 7 Mei 2012
http://data.tnp2k.go.id/?q=content/keadaan-ketenagakerjaan-februari-2012-bag2
Diakses pada tanggal 30/04/2014 pukul 18.00 WIB
http://www.depkes.go.id Diakses pada tanggal 02 Mei 2014 pukul 12.00 WIB
http://www.jamsosindonesia.com Diakses pada tanggal 02 Mei 2014 pukul 12.00
WIB