Anda di halaman 1dari 7

RESUME

TEKHNIK INSTRUMENTASI EXPLORASI


LAPARATOMI
DUODENODUODENOSTOMI
PADA PASIEN DENGAN ATRESIA DUODENUM

Oleh :
EMY JAMILAH

INSTALASI BEDAH SENTRAL


RSSA MALANG
Tahun 2015

TEKHNIK INSTRUMENTASI EXPLORASI LAPARATOMI


DUODENODUODENSTOMI
Pada By Ny N dengan diagnosa Atresia Duodenum

A. PENGERTIAN
Explorasi laparatomi adalah prosedur pembedahan membuka abomen
untuk mencari kalainan pada area abdomen.(www.kamus kedokteran.co.id)
Atresin adalah tidak terbentuknya atau tersumbatnya suatu saluran dari
organ-organ.
Atresia duodenum adalah kondisi dimana duodenum (bagian pertama
dari usu halus) tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak berupa saluran
terbuka dari lambung yang tidak memungkinkan perjalanan makanan dari
lambung ke usus.
B. ETIOLOGI
Penyebab dari atresi duodenum merupakan kelainan bawaan yang
penyebabnya belum diketahui secara jelas. Namaun kerusakan dapa
duodenum terjadi karena seplai darah yang rendah pada masa kehamilan
sehingga duodenum mengalami penyempitan dan menjadi obstruksi. Akan
tetapi dilihat dari jenis kelainan,atresi duodenial ini merupakan kelainan
pengenbangan embrionik saat masa kehamilan.
C. PATOFISIOLOGI
Gangguan perkembangan duodenum terjadi akibat proliferasi indodermal
yang tidak adekuat ( elongasi saluran cerna melebihi proliferasinya ) atau
kegagalan rekanalisasi pita pada epitelial ( kegagalan proses vakuolisasi ).
Proses selanjutnya yang dinamakan vukualisasi terjadi saat duodenum
padat mengalami rekanalisasi vakuolisasi dipercaya terjadi melalui proses
apoptosis

atau

kematian

sel

terprogram,

yang

timbul

selama

perkembangan normal diatara limen duodenum. Kadang-kadang atresi


duodenum berkaitan dengan pangkreas anular ( jaringan pankreatik yang
mengelilingi sekeliling duodenum ). Hal ini sepertinya akibat gangguan

perkembangan duodenial dari pada suatu perkembangan dan atau


berlebihan dari pancreatik buds. Pada tingkat seluler, trakus digestivus
perkembangan dari embriogenik gut, yang tersusun atas epitel yang
merupakan perkembangan dari endoderm, dikelilingi sel yang berasal dari
mosodrem. Pensinyalan sel antar kedua lapisan embrionik ini tampaknya
memainkan sangan penting dalam menggkordinasikan pembentukan pola
dan organogenesis dari duodenum.
D. KONTRA INDIKASI
1. Perforasi
2. Obstruksi
3. Diare derat
E. PERSIAPAN LINGKUNGAN
1. Mengatur dan mengecek fungsi mesin suction, couter, lampu operasi, meja
operasi, meja instrument, meja mayo.
2. Memasang perlak / underpad steril dan doek pada meja operasi, sarung
meja mayo, mempersiapkan linen steril dan instrument yang akan
digunakan.
3. Menempatkan tempat sampah pada tempat yang sesuai sehingga mudah
digunakan.
F.

PERSIAPAN PASIEN
1. Pasien dipersiapkan dalam kondisi bersih dan mengenakan pakaian khusus
masuk kamar operasi.
2. Keluarga / orang tua pasien telah memberikan inform consent.
3. Mengatur posisi supine (terlentang) di meja operasi.

G. PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN


Alat on steril
1) Meja operasi
:1
2) Meja instrument
:1
3) Meja mayo
:1
4) Standart waskom
:1
5) Lampu operasi
:1
6) Mesin suction
:1
7) Mesin couter
:1
8) Plat diatermi
:1
9) Standart infus
:1
10) Tempat sampah medis/non medis : 1
11) Gunting verban
:1

Alat steril
1) Doek besar
2) Doek sedang
3) Doek kecil
4) Skhort steril
5) Sarung meja mayo
6) Handuk steril
7) Selang suction
8) Kabel couter
9) Bengkok
10) Kom / cucing

:4
:2
:4
:5
:1
:5
:1
:1
:2
:2/2

Alat di meja mayo


1) Desinfeksi klem
:1
2) Doek klem
:5
3) Pinset chirurgis
:2
4) Pinset anatomis
:2
5) Pinset bayonet anatomis : 1
6) Pinset anatomis manis
:1
7) Gunting kasar bengkok : 1
8) Gunting metzemboum
:1
9) Handle mess no.3
:1
10) Mosquito klem
:4
11) Klem kockher
:5
12) Kockher lurus
:2
13) Nald voeder
:2
14) Gunting kasar lurus
:1
15) Hak abdomen
:2
16) Pyelum hak
:2
17) U hak
:2
18) Hak seinmiller
:2
19) Timann
:2
20) Canule suction + kondom : 1
Bahan habis pakai
1) Hand schoen steril
2) Mess no 15
3) NS 0,9% 500 cc hangat
4) NGT no 3
5) Urobag
6) Spuit 1 / 10 / 50cc LP
7) Buvanest 0,5 %
8) Ns 0,9 %
9) Vicril 3.0 / 4.0
10) Mersilk 3.0 round
11) Monosyn 4.0
12) Sofratulle

: sesuai kebutuhan
:1
:1
:1
:1
:1/1/1
: cc
: 2 cc
:2/3
:1
:1
:1

13) Soft band 10 cm


14) Op site sedang
15) Kassa dan deppers
16) Woches
17) Bethadine

:1
:1
: 20 lembar / 10 buah
: secukupnya
: secukupnya

18) Hypafix

: secukupnya

H. TEKHNIK INSTRUMENTASI
1.

Pasien masuk kamar operasi melakukan SIGN IN.

2.

Setelah pasien diberikan general anastesi dan diposisikan supinasi,


kemudian pasang ground couter dibokong.

3.

Pemasangan kateter pada pasien (NGT 3 ).

4.

Perawat sirkuler membebatkan softband pada kedua tangan dan kaki


pasien.

5.

Perawat instrument melakukan scrubing, gowning dan gloving kemudian


membantu operator dan asisten untuk mengenakan gown dan handscoen.

6.

Berikan desinfeksi klem, deppres dan povidon iodine 10% dalam cucing
pada asisten untuk melakukan desinfeksi pada lapangan operasi.

7.

Lakukan drapping dengan memberikan :


a.

Duk kecil untuk bagian bawah punggung kiri dan kanan

b.

Duk besar untuk bagian bawah badan

c.

Duk sedang untuk bagian atas

d.

Duk kecil untuk bagian kanan/kiri

e.

Duk besar untuk bagian bawah

f.

Fiksasi keempat sudut dengan duk klem

g.

Berikan opsite sedang dan kassa kering pada operator untuk menutup
area operasi.

8.

Dekatkan meja mayo dan meja instrument lalu pasang kabel couter
dan selang suction lalu fiksasi duk klem

TIME OUT
9.

Berikan pinset anatomis dan betadin untuk menandai area operasi.

10. Berikan handle mess no 3 dan mess no 15 pada operator untuk melakukan
insisi pada abdomen.

11. Berikan kassa lembab Ns 0,9 %, klem pean dan pinset cirurgis pada asisten
operator untuk merawat perdahan.
12. Berikan couter dan pinset cirurgis pada operator untuk memperdalam
insisi.
13. Setelah mencapai peritonium,berikan 2 kochker lurus untuk memegang
peritonium.
14. Berikan gunting metzemboum untuk membuka peritonium.
15. Berikan kochker 4 untuk memegang tepi peritonium yang dibuka.
16. Berikan timan atau hak abdomen dan kassa basah pada asisten untuk
membuka lapang operasi.
17. Berikan 2 pinset anatomis pada operator untuk menemukan duodenum.
18. Jika terjadi perdarahan dapat dihentikan dengan couter.
19. Setelah bagian duodenum proximal ditemukan kemudian di bebaskan
begitu juga dengan yang distal setelah proximal dan distal longgar
kemudian beri couter pada operator untuk menyayat bagian duodenum
proximal dengan sayatan melintang kemudian bagian distal dengan
sayatan membujur.
20. Kemudian berikan nald voeder dan vicril 4.0 pada operator untuk menutup
duodenum dengan kimora prosedur dan tekhnik diamond.
21. Berikan gunting benang pada asisten.
22. Jika selesai Cuci bagian dalam abdomen yang dioperasi dengan NS 0,9%
hangat.
SIGN OUT
Inventaris instrumen dan kasa sebelum peritonium ditutup.
23. Berikan nald voeder dan vicril 3.0 pada operator untuk menjahit
peritomium, otot, fasia dan fat lapis demi lapis.
24. Sebelum menjahit kulit, berikan spuit 10 cc jarum diganti spuit 1 cc berisi
larutan Buvanest 0,5% sebanyal cc ditambah Ns 0,9% 2 cc untuk
infiltrasi secara sub cutis.
25. Berikan nald voeder dan Monosyn 4.0 pada operator untuk menjahit kulit.
26. Setelah proses penjahit selesai, berikan kasa basah untuk membersihkan
sisa/ bekas darah dan terakhir kasa kering.

27. Kemudian tutup dengan sofratule, kassa kering dan fiksasi dengan hypafix
28. Operasi selesai, alat-alat dibersihkan.
I.DAFTAR PUSTAKA
(www.kamus kedokteran.co.id)
Ffyemah.dlogspot.com/2010/16/atresia-duodenum-dan-atresiaesophagus.html?m=1
Ilmugreen.blogspot.com/2012/05/atresia-duodenum.html?

Pembimbing OK 2 ( Bedah Anak )

( Karyono )