Anda di halaman 1dari 13

A.

DEFINISI
Pneumonia adalah peradangan alveoli atau pada parenchim paru yang
terjadi pada anak. (Suriadi Yuliani, 2001)
Bronkopneumonia adalah penyakit infeksi saluran pernafasan bawah,
yang melibatkan parenkim paru-paru, termasuk alveoli dan struktur
pendukungnya. (Reves, 2001)
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang
mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di
sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak.
(Smeltzer, 2013)
Jadi bronkopnemonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru
terutama alveoli atau parenkim yang sering menyerang pada anak anak.
B. ANATOMI FISIOLOGI

1. Hidung

Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam rongga hidung.


Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai

vestibulum. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat


kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan
dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam
rongga hidung. Septum nasi memisahkan kedua cavum nasi. Struktur ini
tipis terdiri dari tulang dan tulang rawan, sering membengkok kesatu sisi
atau sisi yang lain, dan dilapisi oleh kedua sisinya dengan membran
mukosa. Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh sebagian maxilla,
palatinus, dan os. Sphenoidale. Tulang lengkung yang halus dan melekat
pada dinding lateral dan menonjol ke cavum nasi adalah : conchae
superior, media, dan inferior. Tulang-tulang ini dilapisi oleh membrane
mukosa.
Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale dan os palatinus
sedangkan atap cavum nasi adalah celah sempit yang dibentuk oleh os
frontale dan os sphenoidale. Membrana mukosa olfaktorius, pada bagian
atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan, mengandung sel saraf
khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat saraf melewati lamina
cribriformis os frontale dan kedalam bulbus olfaktorius nervus cranialis I
olfaktorius.
Sinus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan
melalui lubang kedalam cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membrana
mukosa yang bersambungan dengan cavum nasi. Lubang yang membuka
kedalam cavum nasi :
a. Lubang hidung
b. Sinus Sphenoidalis, diatas concha superior
c. Sinus ethmoidalis, oleh beberapa lubang diantara concha superior
dan media dan diantara concha media dan inferior
d. Sinus frontalis, diantara concha media dan superior
e. Ductus nasolacrimalis, dibawah concha inferior.
Pada bagian belakang, cavum nasi membuka kedalam nasofaring
melalui appertura nasalis posterior.
2. Faring (Tekak)
Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan
dan jalan makanan. Berbentuk pipa berotot yang berjalan dari dasar
tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian
tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinxfaringeal). Orofaring adalah bagian dari faring merrupakan gabungan
sistem respirasi dan pencernaan.

3. Laring (Tenggorok)
Laring

merupakan

saluran

udara

dan

bertindak

sebagai

pembentukan suara. Terletak pada garis tengah bagian depan leher,


sebelah dalam kulit, glandula tyroidea, dan beberapa otot kecila, dan
didepan laringofaring dan bagian atas esopagus.
Laring merupakan struktur yang lengkap terdiri atas:
a. cartilago yaitu cartilago thyroidea, epiglottis, cartilago cricoidea, dan
2 cartilago arytenoidea
b. Membarana yaitu menghubungkan cartilago satu sama lain dan
dengan os. Hyoideum, membrana mukosa, plika vokalis, dan otot
yang bekerja pada plica vokalis
Cartilago tyroidea berbentuk V, dengan V menonjol kedepan
leher sebagai jakun. Ujung batas posterior diatas adalah cornu superior,
penonjolan tempat melekatnya ligamen thyrohyoideum, dan dibawah
adalah cornu yang lebih kecil tempat beratikulasi dengan bagian luar
cartilago cricoidea.
Membrana Tyroide mengubungkan batas atas dan cornu superior
ke os hyoideum.
Membrana cricothyroideum menghubungkan batas bawah dengan
cartilago cricoidea.
4. Epiglotis
Epiglotis merupakan katup yang berfungsi untuk menutup pada
saat proses menelan. Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas
dibelakang dasar lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang V
cartilago thyroideum.
Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping
epiglottis menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk
laring
5. Trachea Atau Batang Tenggorok
Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan
lebar 2,5 cm. trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada
bagian depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir setinggi
angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) atau sampai
kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini
bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 20
lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat

bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah


belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
6. Bronchus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian
kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan
trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu
berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan
lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit
lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang
utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri
lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah
arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang
berjalan kelobus atas dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi
bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan
ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil,
sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara
terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus
terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak
diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos
sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah
sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara
karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat
pertukaran gas paru-paru.
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari
bronkhiolus dan respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara
kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi
oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru,
asinus atau.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5
s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea
sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang
dinamakan pori-pori kohn.
7. Paru-Paru

Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan


kanan. Paru-paru memilki :
a. Apeks, Apeks paru meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas
calvicula
b. Permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding
dada
c. Permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
d. Basis terletak pada diafragma paru-paru juga Dilapisi oleh pleura
yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura
terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikasi. Paru kanan
dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior
sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan
inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang
mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula,
ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa
stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai
permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran
gas.
C. ETIOLOGI
Pneumonia bisa dikatakan sebagai komplikasi dari penyakit yang lain
ataupun sebagai penyakit yang terjadi karena etiologi di bawah ini.
Sebenarnya pada diri manusia sudah ada kuman yang dapat
menimbulkan pneumonia, sedang timbulnya setelah ada faktor- faktor
prsesipitasi yang dapat menyebabkan timbulnya.

1. Bakteri

Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme


gram positif yang menyebabkan pneumonia bakteri adalah steprokokus
pneumonia, streptococcus aerous dan streptococcus pyogenesis. Bakteri
gram negatif seperti haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan
P.Aeruginosa.
2. Virus
Pneumonia virus merupakan tipe pneumonia yang paling umum ini
disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi
droplet. Cytomegalovirus yang merupakan sebagai penyebab utama
pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan oleh jamur seperti histoplasmosis menyebar
melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya
ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya pneumocystis carini pneumonia (CPC).
Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi seperti
pada penderita AIDS. (Reeves, 2001)
D. TANDA DAN GEJALA
Bronkopneumonia secara khas diawali dengan menggigil, demam yang
timbul dengan cepat (39,50c-40,50c), sakit kepala, gelisah, malaise, nafsu
makan berkurang dan nyeri dada yang terasa di tusuk-tusuk. Gejala umum
infeksi saluran pernafasan bawah berupa batuk, ekspektorasi sputum, dengan
takiphnea

sangat

jelas

(25-45x/menit)

disertai

dengan

pernafasan

mendengkur, pernafasan cuping hidung dan penggunaan otot-otot aksesoori


pernafasan, sputum hijau dan purulen, dispnea dan sianosis
Pasien yang mengalami tanda pneumonia berupa retraksi yaitu perkusi
pekak, fremitus melemah, suara nafas melemah, ronkhi dan wheezing.
(Mansjoer, 2000)

E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul dari bronkopneumonia menurut ngastiyah
(2005) dan perhimpunan dokter paru indonesia (2003) yaitu : empiema, otitis
media akut, atelektasis, emfisema, meningitis, efusi pleura, abses paru,
pneumotoraks, gagal nafas dan sepsis.

F. PATOFISIOLOGI
Proses terjadinya bronkopneumonia di mulai dari berhasilnya kuman
patogen masuk ke mukus jalan nafas. Kuman tersebut berkembang biak di
saluran nafas atau sampai di paru-paru. Bila mekanisme pertahanan seperti
sistem transfort mukosilia tidak adekuat, maka kuman berkembang biak
secara cepat sehingga terjadi peradangan di saluran nafas atas, sebagai respon
peradangan akan terjadi hipersekresi mukus dan merangsang batuk.
Mikroorganisme berpindah karena adanya gaya tarik bumi dan dan alveoli
menebal. Pengisian cairan alveoli akan melindungi mikroorganisme dari
fagosit dan membantu penyebaran organisme ke alveoli lain. Keadaan ini
menyebabkan infeksi meluas, aliran darah di paru sebagian meningkat yang
diikuti peradangan vaskular dan penurunan darah kapiler.
Edema karena inflamasi akan mengeraskan paru dan akan mengurangi
kapasitas paru, penurunan produksi cairan susfaktan lebih lanjut, menurunkan
compliance dan menimbulkan atelektasis serta kolaps alveoli. Sebagai
tambahan proses bronkopneumonia menyebabkan gangguan ventilasi okulasi
partial pada bronkhi dan alveoli, menurunkan tekanan oksigen arteri, akhirnya
darah vena yang menuju atrium kiri banyak yang tidak mengandung oksigen
sehingga terjadi hipoksemia arteri.
Efek sistemik akibat infeksi, fagosit melepaskan bahan kimia yang
disebut endogenus pirogen. Bila zat ini terbawa aliran darah hingga sampai
hipotalamus, maka suhu tubuh akan meningkat dan meningkatkan kecepatan
metabolisme. Pengaruh dari meningkatnya metabolisme adalah penyebab
takiphnea dan takhikardia, tekanan darah menurun sebagai akibat dari
vasodilatasi perifer dan penurunan sirkulasi volume darah karena dehidrasi,
panas dan takiphnea meningkat, kehilangan cairan melalui kulit (keringat)
dan saluran pernafasan sehingga menyebabkan dehidrasi. (Price & Wilson,
2005)

Kuman, bakteri, virus dan jamur


Proses peradangan
Hipersekresi mucus
Peningkatan produksi
Sputum

masuk & berkembang


dalam usus
hipersekresi air

kuman berkembang
Biak
kuman sampai di bronkus

Batuk
Bersihan jalan
nafas tidak
efektif

Dan elektrolit
(peningkatan isi
Rongga usus)

Terjadi proses peradangan


di bronkus dan alveoli
Infeksi

diare
Proses inflamasi
dehidrasi
Merangsang hipotalamus
Mukosa bibir kering
Demam
Defisit vol.
cairan

Peningkatan suhu
tubuh

Dinding alveoli meradang


Menekan ujung saraf
Perubahan membran
kapiler alveolar
Gangguan
pertukaran gas

peningkatan kerja otot


pernafasan
kebutuhan o2 dalam otot
meningkat
sesak nafas
kelemahan
Intoleransi
aktivitas

Pola nafas
tidak efektif

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar X : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan
abses luas/infiltrat, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar atau
terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran/perluasan infiltrat nodul (virus).
Pneumonia mikoplasma sinar X dada mungkin bersih.
2. GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang
terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil dengan biopsi
jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan
paru untuk mengatasi organisme penyebab.
4. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya
pneumonia bakterial.
5. Pemeriksaan serologi : titer virus atau legionella, aglutinin dingin.
6. LED : meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru : volume mungkin menurun (kongesti dan
kolaps alveolar), tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain
menurun, hipoksemia.
8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah.
9. Bilirubin : mungkin meningkat.
10. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka : menyatakan intranuklear
tipikaldan keterlibatan sitoplasmik.
H. PENATALAKSANAAN
1. Terapi oksigen jika pasien mengalami pertukaran gas yang tidak adekuat.
Ventilasi mekanikmungkin diperlukan jika nilai normal GDA tidak dapat
dipertahankan.
2. Pada pneumonia aspirasi bersihkan jalan nafas yang tersumbat
3. Perbaiki hipotensi pada pneumonia aspirasi dengan penggantian volume
cairan
4. Terapi antimikrobial berdasarkan kultur dan sensitivitas
5. Supresan batuk jika batuk berdifat nonproduktif
6. Analgetik untuk mengurangi nyeri pleuritik

I. MASALAH DATA KEPERAWATAN DAN DATA PENDUKUNG


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bersihan jalan nafas tidak efektif


Gangguan petukaran gas
Pola nafas tidak efektif
Peningkatan suhu tubuh
Defisit volume cairan
Intoleransi aktivitas

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
sekret di jalan nafas ditandai dengan bunyi nafas tidak normal, sianosis,
penggunaan otot aksesoris.
2. Gangguan petukaran gas berhubungan dengan penumpukan cairan dalam
alveoli ditandai dengan takikardi, hipoksia, sianosis dan pasien terlihat
gelisah.
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan compliance paru
ditandai dengan penggunaan otot aksesoris, perubahan kedalaman nafas,
RR 34x/menit.
4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi ditandai
dengan suhu tubuh pasien 39,00c.
5. Defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan intake
dan output cairan ditandai dengan pasien tampak lemah, mukosa bibir
kering, BAB cair lebih dari 6x/hari, muntah lebih dari 3x/hari.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen.
K. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
sekret di jalan nafas ditandai dengan bunyi nafas tidak normal, sianosis,
penggunaan otot aksesoris.
Tujuan:
Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam jalan nafas
menjadi bersih

Kriteria:
-

Suara nafas bersih tidak ada ronkhi atau krekls, wheezing

Sekret di jalan nafas bersih

Cuping hidung tidak ada

Tidak ada sianosis

Intervensi:
-

Kaji status pernafasan tiap 2 jam meliputi respiratory rate,


penggunaan otot bantu nafas, warna kulit

Posisikan kepala lebih tinggi

Lakukan nebulizer (ventolin amp + NaCl 3 cc)

Lakukan postural drainase

Kolaborasi dengan fisiotherapist untuk melakukan fisiotherapi dada

Jaga humidifire oksigen yang masuk

Gunakan teknik aseptik dalam penghisapan lendir

2. Gangguan petukaran gas berhubungan dengan penumpukan cairan dalam


alveoli ditandai dengan takikardi, hipoksia, sianosis dan pasien terlihat
gelisah.
Tujuan :
Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pertukaran gas
dalam alveoli adekuat.
Kriteria Hasil :
-

Akral hangat

Tidak ada tanda sianosis

Tidak ada hipoksia jaringan

Saturasi oksigen perifer 90%

Inervensi :
-

Pertahankan kepatenan jalan nafas

Keluarkan lendir jika ada dalam jalan nafas

Periksa kelancaran aliran oksigen 5-6 liter per menit

Konsul dokter jaga jika ada tanda hipoksia/ sianosis

Awasi tingkat kesadaran klien

3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan compliance paru


ditandai dengan penggunaan otot aksesoris, perubahan kedalaman nafas,
RR 34x/menit.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
pola nafas kembali normal.
Kriteria Hasil :
-

Frekuensi nafas dan kedalaman dalam rentang normal

Intervensi :

Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada, catat


pernafasan/upaya pernafasan

Auskultasi bunyi nafas dan catat bunyi nafas

Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi

Kolaborasi terapi O2

4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi ditandai


dengan suhu tubuh pasien 39,00c.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
suhu tubuh kembali normal : 36,50c -37,50c.
Kriteria Hasil :
-

Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh

Tidak menggigil

Nadi normal

Intervensi :
-

Obeservasi suhu tubuh (4 jam)

Pantau warna kulit

Kompres menggunakan air hangat

Berikan obat sesuai indikasi : antiseptik (paracetamol)

Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari

5. Defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan intake


dan output cairan ditandai dengan pasien tampak lemah, mukosa bibir
kering, BAB cair lebih dari 6x/hari, muntah lebih dari 3x/hari.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi
kekurangan volume cairan
Kriteria Hasil :
-

Tidak ada tanda dehidrasi

Suhu tubuh normal 36,50C - 37,00C

Kelopak mata tidak cekung

Turgor kulit baik

Akral hangat

Intervensi :
-

Kaji adanya tanda dehidrasi


Jaga kelancaran aliran infus
Periksa adanya tromboplebitis
Pantau tanda vital tiap 6 jam

Lakukan kompres dingin jika terdapat hipertermia suhu diatas

38,00C
Pantau balance cairan
Berikan nutrisi sesuai diit
Awasi turgor kulit

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara


suplai dan kebutuhan oksigen.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
terjadinya peningkatan toleransi aktivitas.
Kriteria Hasil :
-

Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur,


dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan dan TTV
dalam batas normal selama aktivitas.

Intervensi :
-

Evaluasi respon klien terhadap aktivitas


Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung
Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan

perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat


Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur
Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan