Anda di halaman 1dari 44

1. Apa diagnosis kasus pertama ?

G4P2A1 gravid 26 27 minggu, janin tunggal hidup intrauterine letak kepala+


polihidramnion
2. Bagaimana cara menegakkan diagnosis polihidramnion pada pasien pertama?
Tanda dan gejala
a. Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan seharusnya
b. Peningkatan jumlah cairan amnion (Amniotic fluid index AFI > 24 25 cm)
c. Sesak nafas
d. Edema pada ekstremitas bawah dan vulva
e. Persalinan premature
f. Kesulitan dalam melakukan palpasi bagian tubuh janin atau mendengar denyut
jantung janin (Netter, 2010)
3. Bagaimana cara membedakan polihidramnion dengan mola hidatidosa?
Tanda dan gejala

Amenorhea
Perdarahan pervaginam
Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan
Tidak ditemukan tanda pasti kehamilan
Mual dan muntah yang lebih hebat dari kehamilan biasa (Hadijanto, 2010)

4. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan obstetri?


Pemeriksaan obstetri merupakan bagian dari asuhan antenatal. Hal pertama yang
dilakukan pada pemeriksaan obstetri adalah mengetahui haid terakhir pasien. Perlu
ditanyakan hari pertama haid terakhir pada pasien, kemudian menentukan usia kehamilan
dan taksiran persalinan. Pemeriksa juga harus mengetahui riwayat kehamilan, persalinan
dan masa nifas pasien. Riwayat kehamilan dalam keluarga dsb.
Pemeriksaan fisik
Leopold I
Leopold I bertujuan untuk mengetahui tinggi fundus uteri dengan cara, meletakan sisi
lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uterus untuk menentukan tinggi fundus. Pada
pemeriksaan ini diharapkan agar jari tidak mendorong uterus kebawah, jika diperlukan,
fiksasi uterus bawah dengan meletakan ibu jari dan telunjuk tangan kanan dibagian lateral
depan kanan dan kiri setinggi tepi atas simfisis. Pengukuran Tinggi Fundus Uteri
dilakukan saat uterus tidak berkontraksi. Ibu berada pada posisi setengah duduk. Meteran
ditempelkan dari tepi atas simfisis pubis kemudian rentangkan meteran mengikuti linea
mediana dindi ng depan abdomen hingga ke puncak fundus. Pada usia kehamilan diatas
24 minggu, dapat digunakan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan
berdasarkan TFU dalam cm dan taksiran berat badan janin.
Leopold I juga bertujuan untuk mengenali bagian yang berada pada daerah tersebut,
dengan cara meletakan ujung telapak tangan kanan dan kiri pada fundus uteri dan
merasakan bagina bayi yang ada pada bagian tersebut dengan jalan menekan secara
lembut dan menggeser telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian.

Leopold II
Leopold II bertujuan untuk menentukan letak punggung janin, menentukan kepala janin
(pada letak lintang). Cara pemeriksaannya adalah dengan meletakan telapak tangan kiri
pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri
secara sejajar pada ketinggian yang sama. Mulai dari bagian atas, tekan secara bergantian
atau simultan telapak tangan kiri dan kanan kemudian geser kea rah bawah dan rasakan
adanya bagian yang rata dan memanjang. Bagian itu adalah punggung, atau bagian yang
kecil kecil. Bagian itu adalah ekstremitas.
Leopold III
Pemeriksaan leopold III bertujuan menetapkan bagian janin yang berada diatas simfisis
pubis. Cara pemeriksaannya adalah dengan meletakan ibu jari dan telunjuk tepat diatas
simfisis pubis untuk meraba bagian terbawah bayi. Kepala akan teraba bulat dan keras,
sedangkan bokong teraba massa yang dapat bergerak / mobile.
Leopold IV
Leopold IV bertujuan untuk menentukan bagian terbawah janin dan seberapa jauh janin
sudah masuk pintu atas panggul. Pada pemeriksaan leopold IV, pemeriksa harus merubah
posisi badan, menghadap ke kaki ibu. Letakan ujung telapak tangan kanan dan kiri pada
lateral kanan dan kiri uterus bawah. Ujung ujung jari tangan kanan dan kiri berada pada
tepi atas simfisis. Tekan secara lembut dan bersamaan / bergantian untuk menentukan
bagian terbawah janin (bagian keras bulat dan homogen adalah kepala, sedangkan
tonjolan lunak dan tidak simetris adalah bokong). Temukan kedua ibu jari kanan dan kiri,
kemudian rapatkan semua jari jari tangan yang meraba dinding uterus. Perhatikan sudut
yang dibentuk oleh jari jari kanan dan kiri, apakah konvergen atau divergen.
Pemeriksaan auskultasi
Pemeriksaan auskultasi pada pemeriksaan obstetri bertujuan untuk menentukan denyut
jantung janin. Ada dua cara, yaitu dengan menggunakan stetoskop leaneac dan dengan
menggunakan Doppler. Cara pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop leaneac adalah
Ambil stetoskop leaneac dan letakan pada dinding perut ibu, sesuai dengan posisi
punggung bayi, tempelkan telinga pemeriksa pada stetoskop leaneac dan lepaskan
tangan yang memegang stetoskop tersebut, sehingga yang menahan stetoskop
leaneac pada perut ibu adalah teling pemeriksa. Apabila dinding perut cukup tebal
sehingga sult untuk mendengarkan bunyi jantung janin, pindahkan ujung
stetoskop pada dinding perut yang relative sempit, yaitu sekitar 3 sentimeter di
bawah pusat (sub umbilicus). Dengarkan denyut jantung janin sambil memegang
nadi ibu, bertujuan untuk membedakan dengan denyut jantung ibu. Dapat dihitung
selama 1 menit penuh atau dihitung 5 detik pertama, istirahat 5 detik, lalu
dengarkan lagi 5 detik dan istirahat lagi selama 5 detik dan dengarkan lagi selama
5 detik. Jumlah nadi yang didengar selama pemeriksaan dijumlahkan dan
dikalikan dengan 4. Merupakan denyut jantung janin selama 1 menit.

Doppler
Pemeriksaan dengan Doppler hampir menyerupai pemeriksaan denyut jantung
bayi dengan stetoskop leaneac. Pemeriksa meletakan alat Doppler pada dinding
perut bayi, sesuai dengan posisi punggung, dengarkan denyut jantung janin dan
bedakan dengan bising usus atau denyut aorta ibu. Jika diperoleh denyut jantung
janin, hitung denyut jantung janin selama 1 menit penuh.
5. Indikasi pemeriksaan dalam pada kasus obstetri
Indikasi vaginal toucher pada kasus kehamilan atau persalinan:
a. Sebagai bagian didalam menegakkan diagnosis kehamilan muda.
b. Pada primigravida usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan untuk melakukan
evaluasi kapasitas panggul (pelvimetri klinik ) dan menentukan apakah ada kelainan
pada jalan lahir yang diperkirakan akan dapat mengganggu jalannya proses persalinan
pervaginam.
c. Pada saat masuk kamar bersalin, dilakukan untuk menentukan fase persalinan dan
diagnosis letak janin
d. Pada saat inpartu di gunakan untuk menilai apakah kemajuan proses persalinan sesuai
dengan yang diharapkan
e. Pada saat ketuban pecah, digunakan untuk menentukan ada tidaknya prolapsus bagian
kecil janin atau tali pusat.
f. Pada saat inpartu, ibu nampak ingin meneran dan digunakan untuk memastikan
apakah fase persalinan sudah masuk pada persalinan kala II (Andalas, 2013)
6. Indikasi pemeriksaan dalam pada kasus ginekologi
a. Pemeriksaan bentuk, arah, besar dan konsistensi uterus
b. Pemeriksaan adneksa dan parametrium
c. Pemeriksaan ballotemen
d. Konfirmasi kehamilan intra dan ekstrauterin
e. Konfirmasi peradangan atua infeksi
f. Pemeriksaan flour albus, perdarahan, tumor pelvik.
7. Apa saja yang dinilai pada pemeriksaan dalam obstetric dan ginekologi?
(Winkjosastro, Ilmu Kandungan, 2009)
Obstetri
-

Vulva/vagina : apakah terdapat lesi herpes, varises vulva yang besar, kondiloma.
Palpasi serviks/porsio :
Konsistensi : lunak/kenyal/tebal/tipis
Pendataran serviks
Pembukaan : antara 0-10 cm
Bagian Terdepan janin
Presentasi kepala : teraba sutura pada tulang kepala (UUK), teraba bagian keras.
Presentasi lain : bokong, kaki, muka, tangan
Ketuban : +/Penurunan janin : hodge I, II, III, IV
Menentukan lokasi ubun-ubun kecil
Mengukur luas panggul

Pengeluaran : lendir/darah

Ginekologi
Vagina : apakah introitus vagina sempit, dinding vagina, teraba polip dan tumor di vagina,
benda asing, fistula
Serviks : arah dan posisi serviks, bentuknya bulat/terbelah melintang, besar dan
konsistensinya, apakah kanalis servilkalis dapat dilalui oleh jari.
Palpasi Uterus

Letak : anteversi, antefleksi, retroversi, retrofleksi


Bentuk : agak bulay dengan fundus uteri lebih besar dibandingkan bagian bawah. Pada
mioma uteri bentuk uterus bervariasi dari bulat, lonjong sampai tidak teratur.
Ukuran : uterus perempuan dewasa sebesar telur ayam
Konsistensi : kenyal
Permukaan : uterus biasanya rata. Permukaan yang tidak rata dan berbenjol-benjol
menunjukkan kea rah mioma uteri
Pergerakan : uterus dapat dengan mudah digerakkan ke segala arah.

Palpasi adneksa

Adneksa kiri, kanan : pembesaran => besar, ukuran, bentuk, konsistensi, mobilitas,
sensitivitas. Parametrium dan tuba normal tidak teraba. Ovarium normal hanya dapat
diraba pada perempuan kurus dengan dinding perut lunak; besarnya seperti ujung jari
atau ujung ibu jari dan konsistensi kenyal. Jika parametrium dan tuba dapat diraba, itu
merupakan suatu kelainan.

Pemeriksaan rektal touche

Nilai : sfingter ani, mukosa usus, massa hemoroid


8. Anatomi Vulva dan vagina

Vulva atau pudendum adalah sebutan untuk menilai genitalia eksterna. Terdiri dari mons
pubis, labia mayora, labia minora, dan vestibulum. Sedangkan vagina adalah daerah
yang membatasi serviks. Vagina menghubungkan geniltalia eksterna dengan genitalia
interna. Introitus vagina tertutup selatup dara (hymen)
9. Parametrium
parametrium adalah jaringan ikat dan lemak yang berada disekitar uterus dan
memisahkan bagian supravaginal servik dengan vesika urinaria.
Parametrium terdiri dari tuba fallopi, ovarium, arteri, vena dan ligament (Rachimhadhi,
2010)

Uterus sesungguhnya terapung apung dalam rongga pelvis, tetapi terfiksasi dengan baik
oleh jaringan ikat dan ligamentum yang menyokongnya. Ligamentum yang memfiksasi
uterus adalah sebagai berikut :
Ligamentum kardinal (mackenrodt) kiri dan kanan, yakni ligamentum yang mencegah
uterus agar tidak turun. Terdiri dari jaringan ikat terbal yang berjalan dari serviks dan
puncak vagina kea rah lateral dinding pelvis. Didalamnya ditemukan banyak pembuluh
darah, antara lain vena dan arteri uterine.
Ligamentum sakro uterine kiri dan kanan, yakni ligamentum yang menahan uterus agar
tidak banyak bergerak. Berjalan dari serviks bagian belakang kiri dan kanan kea rah os
sacrum kiri dan kanan
Ligamentum rotundum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang menahan uterus dalam
antefleksi. Berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan, kedaerah inguinal kiri dan
kanan. Pada kehamilan kadang kadang terasa sakit didaerah inguinal waktu berdiri
cepat, karena uterus berkontraksi kuat dan ligamentum rotundum menjadi kencang serta
mengadakan tarikan pada daerah inguinal. Pada persalinan pun teraba kencang dan terasa
sakit bila dipegang.
Ligamentum latum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang meliputi tuba. Berjalan dari
uterus kea rah lateral. Tidak banyak mengandung jaringan ikat. Ligamentum latum
merupakan bagian dari peritoneum viserale yang meliputi uterus dan kedua tuba yang
terbentuk sebagai lipatan. Di bagian dorsal ligamentum ini ditemukan indung telur.
Ligamentum latum tidak terlalu memiliki arti untuk memfiksasi uterus.
Ligamentum infudibulo-pelvikum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang menahan tuba
fallopi. Berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Didalamnya ditemukan sarah,
saluran limfe, arteri dan vena.
10. Apa yang disebut sebagai perut bawah?
Dinding perut pada umumnya di bagi menjadi 4 regio, yaitu regio kanan atas, kiri atas,
kanan bawah dan kiri bawah. Pembagian ini bertujuan untuk organ apa yang terdapat
dibawahnya, sehingga jika timbul manifestasi pada daerah tersebut, dapat diketahui organ
apa yang kemungkinan terkena.
Beberapa sumber lain, juga membagi dinding perut dalam 9 regio, pembagian ini
berdasarkan garis midklavikula kiri dan kanan, garis subcostal dan garis intraspinosus.
Garis garis ini membagi abdomen menjadi 9 regio yaitu regio epigastrium,
hipokondrium kanan dan kiri, region umbilkus, regio lumbar kiri dan kanan, region
hipogastrik (suprapubik), region inguinal kanan dan kiri.
Perut bagian bawah adalah daerah yang berada pada region hipogastrik dan regio inguinal
kanan dan kiri.

11. Apa itu obstetri dan ginecologi


Ginecologi (ilmu tentang wanita) adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus
mempelajari penyakit penyakit sistem reproduksi wanita (Rahim, vagina dan ovarium)
dan payudara.
Obstetik adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari cara memperlakukan ibu dan
bayi selama masa kehamilan, proses persalinan dan masa nifas.
12. Apa diagnosis pasien kedua?
Pasien kedua didiagnosis dengan tumor adnexa suspek kista ovarium
13. Bagaimana cara membedakan tumor adnexa dengan tumor intrauterine
Tumor adneksa digunakan apabila pembesaran atau massa terdapat di sebelah uterus dan
tidak diketahui apakahitu berasal dari tuba atau ovarium.
Tumor adneksa

Tumor intrauterine

Palpasi

Teraba tumor pada sisi Tumor berada di uterus


sebelah uterus

Pemeriksaan dalam

Saat tumor digoyang portio Saat tumor digoyang portio


tidak ikut bergerak
ikut bergerak

Nyeri

Nyeri dirasakan di sisi Nyeri dirasakan di sekitar


sebelah uterus
uterus

14. Apa itu perdarahan uterus abnormal


Definisi PUA
Perdarahan uterus abnormal yang terjadi tanpa kelainan pada saluran reproduksi,
penyakit medis tertentu atau kehamilan. (Hestiantoro & Wiweko, Panduan Tata
Laksana Perdarahan Uterus Disfungsional, 2007)
Perdarahan uterus disfungsional adalah perdarahan uterus abnormal (lamanya,
frekuensinya, jumlah) tanpa ditemukan kelainan organik dan hematologi
melainkan hanya akibat gangguan fungsi mekanisme kerja poros hipotalamus
hipofisis ovarium dan target organnya dalam hal ini endometrium. (Palisuri &
Budi, 1999)
15. Jenis jenis perdarahan uterus abnormal (Hestiantoro , 2007)
PALM COEIN
Kelompok PALM merupakan kelompok kelainan struktur penyebab PUA yang dapat
dinilai dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi.
Kelompok COEIN merupakan kelompok kelainan non struktural penyebab PUA yang
tidak dapat dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi.
Klasifikasi
a. Polip
Polip adalah pertumbuhan endometrium berlebih yang bersifat lokal mungkin tunggal
atau ganda, berukuran mulai dari beberapa millimeter sampai sentimeter. Polip
endometrium terdiri dari kelenjar, stroma dan pembuluh darah endometrium.
b. Adenomiosis
Merupakan invasi endometrium kedalam lapisan myometrium, menyebabkan uterus
membesar, difus dan secara mikroskopik tampak sebagai endometrium ektopik, non
neoplastic, kelenjar endometrium dan stroma yang dikelilingi oleh jaringan
myometrium yang mengalami hipertrofi dan hyperplasia.
c. Leimioma
Leimioma adalah tumor jinak fibromuskular pada permukaan myometrium.
Leimioma dapat menimbulkan perdarahan. Leimioma uteri umumnya tidak
memberikan gejala dan biasanya bukan penyebab tunggal PUA.
d. Malignancy and hyperplasia
Hyperplasia endometrium adalah pertumbuhan abnormal berlebihdan dari kelenjar
endometrium.
e. Coagulopathy
Koagulopati digunakan untuk merujuk kelainan hemostasis sistemik yang
mengakibatkan PUA.
f. Ovulatory dysfunction
Kegagalan terjadinya ovulasi, menyebabkan ketidakseimbangan hormonal yang dapat
menyebabkan terjadinya perdarahan uterus abnormal
g. Endometrial
Perdarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan dengan siklus haid teratur
akibat gangguan hemostasis lokal endometrium.

h. Iatrogenic
Perdarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan penggunaan obat obatan
hormonal ataupun non hormonal maupun alat kontrasepsi dalam rahim.
i. Not yet classified
Kategori yang belum diketahui asal mulanya.
16. Bagaimana cara melakukan tindakan kuretase
a. Informed consent
b. Persiapan pasien dalam posisi litotomi lalu dilakukan general anestesi
c. Disinfeksi dengan antiseptic pada vulva, vagina dan sekitarnya
d. Memasang duk steril pada bagian bawah bokong pasien
e. Pasang speculum sims sampai pada posisinya, minta bantuan asisten untuk
memegang speculum sims dengan tangan kanan dan menahan fundus uteri dengan
tangan kiri.
f. Jepit serviks dengan tenakulum pada posisi jam 11 atau jam 1, yang merupakan
daerah dengan pembuluh darah paling sedikit.
g. Lakukan businasi pada mulut serviks yang belum terbuka untuk dilatasi serviks
h. Lakukan sondease dengan menggunakan sonde uterus untuk mengukur panjang
uterus dan tentukan posisi uterus
i. Bersihkan jaringan yang tertahan pada kanalis servikalis dan kavum uteri dengan
abota tang
j. Masukan sendok kuret sampai ada tahanan pada fundus uteri, kemudiankerok dengan
menarik sendok kuret kea rah ostium
k. Lakukan pengorokan dinding uterus menggunakan sendok kuret tumpul, kemudian
lanjutkan dengan sendok kutret tajam
l. Tentukan apakah sudah bersih, ditandai dengan keluarnya darah dan busa
m. Lepaskan jepitan cuman pada serviks dan juga speculum sims
n. Kontrol perdarahn dan bersihkan sisa darah pada vulva.
17. Indikasi kuretase (Saifuddin, Ilmu Bedah Kebidanan, 2009)
Indikasi diagnostik
Metroragia
Perdarahan uterus disfungsional
Polip uteri
Karsinoma endometrium
Perdarahan paska mola
Infertilitas
Amenore sekunder
Indikasi terapetik
Abortus insipient, abortus inkomplut dan mussed abortion
Sisa plasenta
Mola hidatidosa
18. Apa indikasi sectio saecaria ? (Winkjosastro, 2009)
Indikasi Ibu :
Ibu dengan penyakit jantung dan paru

Infeksi
Oedema jalan lahir
Perdarahan
Preeklampsia dan eklampsia
Lingkaran retraksi patologis
Maternal Exhaution

Indikasi Janin :

Tali pusat menumbung


Mekoneum pada letak kepala
Denyut jantung memburuk

Indikasi Profilaksis

Panggul sempit
Partus lama
Primigravida tua

Indikasi Sosial
Bayi mahal
19. Apa itu bayi mahal ?
Bayi mahal adalah sebutan untuk anak yang diperoleh dari hasil bayi tabung. Disebut
mahal karena pasangan suami istri harus membayar sejumlah uang agar dapat dilakukan
inseminasi buatan agar memperoleh uang. Bayi mahal juga sebutan untuk bayi anak
pertama dari seorang perempuan berusia lebih dari 35 tahun dan sudah 10 tahun menikah.
20. Sebutkan lapisan dinding abdomen lapis demi lapis

Lapisan dinding abdomen dari luar ke dalam (Netter, 2010)


Kulit
Subkutis
Fascia camfer
Fascia scarpa
Musculus oblikus eksternus
Musculus oblikus internus
Muscular rektus abdominis
Muskulus transversalis
Muskulus piramidalis
Fascia transversalis
peritoneum

21. Perbedaan plasenta previa dan solusio plasenta? (Chalik, 2010)


No

Klinis
Perdarahan dengan nyeri
Perdarahan berulang
Warna darah
Anemia/renjatan
Timbulnya
Terjadinya

Plasenta Previa
Tidak
Ya
Merah segar
Sesuai darah yang keluar
Perlahan
Sewaktu kehamilan

Solusio Plasenta
Ya
Tidak
Merah tua/coklat
Tidak sesuai
Tiba-tiba
Sewaktu kehamilan, saat

His
Palpasi
DJJ

Biasanya tidak ada


Abdomen biasa
Ada

inpartu
Ada
Abdomen tegang
Ada/tidak adaSP sedang

Jaringan plasenta
Tidak masuk PAP
Mungkin abnormal
Baik

berat
Ketuban tegang
Dapat masuk PAP
Tidak ada hubungan
Mati

Periksa dalam vagina


Penurunan
Presentasi
Kemungkinan hidup janin

22. Mengapa timbul nyeri pada solusio plasenta


Pada solusio plasenta terjadi pelepasan dini plasenta yang menginisiasi perdarahan.
Perdarahan ini masuk ke bagian desidua basalis dan menyebabkan pengumpulan darah
pada pada desidua basalis, disebut sebagai desidua hematom, desidua hematom
menyebabkan perubahan patalogi pada dinding uterus. Terjadi degenerasi dan nekrosis
pada desidua basalis dan plasenta.
Perdarahan pada plasenta disertai nyeri karena perdarahan yang banyak terkumpul
di rongga abdomen, sehingga merangsang persarafan di daerah diafragma. Pada plasenta
previa perdarahan berulang karena perdarahan dapat berhenti dengan sendirinya,
kemudian perdarahan terjadi tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu
kemudian. Perdarahan pada solusio plasenta berwarna merah kecoklatan karena telah
terjadi proses oksidasi. Anemia dan syok lebih berat dan tidak sesuai dengan perdarahan
yang terlihat terjadi pada solusio plasenta karena perdarahan yang terjadi intraabdomen,
sehingga mengecohkan pemeriksa. Berdasarkan timbulnya perdarahan, pada plasenta
previa timbulnya perlahan karena darah yang dihasilkan lebih sedikit dari solusio
plasenta. Solusia plasenta dapat terjadi pada saat inpartu, misalnya pada keadaan
regangan yang berlebih pada uterus saat inpartu. His pada solutio plasenta terjadi karena
adanya nyeri yang menyerupai his partus premature, pada palpasi teraba tegang karena
darah yang terkumpul dalam kavum abdomen menyebabkan terbentuknya refleks defans
muskuler. DJJ pada janin dengan ibu yang mengalami solusio plasenta bisa tidak
terdengar, hal ini disebabkan berkurangnya atau bahkan terputusnya sirkulasi antara ibu
dan janin akibat pelepasan plasenta, sehingga menyebabkan angka keselamatan janin

rendah. Bagian terendah janin pada plasenta previa sering belum turun ke PAP karena
terhalang oleh jaringan plasenta yang menempati bagian bawah rahim.
23. Bagaimana cara pengambilan sediaan pap smear
MENYIAPKAN PASIEN
1. Sapalah pasien atau keluarganya dengan ramah dan perkenalkan diri, serta tanyakan
keadaannya, kemudian pasien dipersilakan duduk.
2. Berikan informasi umum pada pasien atau keluarganya tentang pengambilan Pap
Smear, tujuan dan manfaat untuk keadaan pasien.
3. Berikan jaminan tentang keamanan atas tindakan yang anda lakukan serta jaminan
tentang kerahasiaan yang diperlukan pasien kepada pasien atau keluarganya.
4. Mintalah kesediaan pasien untuk pengambilan Pap Smear, namun barengi dengan
penjelasan tentang hak-hak pasien atau keluarganya, misalnya tentang hak menolak
tindakan pengambilan Pap Smear tanpa kehilangan hak akan pelayanan lain.
5. Minta pasien untuk mengosongkan kandung kemih dan melepas pakaian dalam.
6. Persilahkan pasien untuk berbaring di ranjang ginekologi dan mengatur pasien pada
posisi litotomi.
7. Hidupkan lampu sorot, arahkan dengan benar pada bagian yang akan diperiksa.
PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMBUATAN PAP SMEAR
1. Siapkan peralatan dan bahan.
2. Cuci tangan aseptik
3. Pasang sarung tangan steril.
4. Pemeriksa duduk pada kursi yang telah disediakan, menghadap ke aspekus genitalis.
5. Lakukan periksa pandang (inspeksi) pada daerah vulva dan perineum.
6. Ambil spekulum dengan tangan kanan, masukkan ujung telunjuk kiri pada introitus
vagina (agar terbuka), masukkan ujung spekulum dengan arah sejajar introitus (yakinkan
bahwa tidak ada bagian yang terjepit) dan dorong bilah spekulum ke dalam lumen vagina.
7. Setelah masuk setengah panjang bilah, putar spekulum 90 derajat hingga tangkainya ke
arah bawah. Atur bilah atas dan bawah dengan membuka kunci pengatur bilah atas bawah
(hingga masing-masing bila menyentuh dinding atas dan bawah vagina).
8. Tekan pengungkit bilah sehingga lumen vagina dan serviks tampak jelas (perhatikan
ukuran dan wama porsio, dinding dan sekret vagina dan forniks).
9. Jika sekret vagina ditemukan banyak, bersihkan secara hati-hati (supaya pengambilan
epitel tidak terganggu).
10. Pengambilan sampel pertama kali dilakukan pada porsio diusahakan di daerah
squamo-columnair junction. Sampel diambil dengan menggunakan spatula Ayre yang
diputar 360.
11. Oleskan sampel pada gelas objek diusahakan tidak terlalu tebal/terlalu tipis.
12. Sampel segera difiksasi sebelum mengering. Fiksasi ini dapat menggunakan spray
yang disemprotkan dari jarak 20-25 cm, atau dengan merendam pada wadah yang
mengandung etil alkohol 95% selama 15 menit yang kemudian dibiarkan mengering
kemudian diberi label. Pembuatan Sediaan Apusan
13. Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan pengungkit dan pengatur jarak bilah, kemudian
keluarkan spekulum.

14. Letakkan spekulum pada tempat yang telah disediakan. Beritahukan pada ibu bahwa
pemeriksaan sudah selesal dan persilahkan ibu untuk mengambil tempat duduk.
15. Masukkan tangan yang masih bersarung tangan kedalam baskom berisi larutan klorin
0,5%, gosokkan kedua tangan untuk membersihkan bercak-bercak darah yang menempel
pada sarung tangan.
Bahan pemeriksaan Pap smear
Bahan pemeriksaan pap smear terdiri atas sekret vagina, sekret servikal (ektoserviks),
sekret endoserviks, sekret endometrial dan forniks posterior. Setiap sekret mempunyai
manffa penggunaan yang khas, dimana untuk pemeriksaan tertentu sediaan pap smear
yang dibaca harus berasal dari lokasi tertentu pula. Pada pap smear sekret yang diambil
adalah sekret endoservikal, yang diambil dengan menghapus permukaan mukosa
endoserviks dan daerah squamocolumnar junction. Kegunaan dengan memeriksa sekret
ini adalah

24. Hormon yang dihasilkan oleh hipofisis anterior dan posterior (Sherwood, 2001)
Hipofisis posterior
a. Vasopresin.
Vasopressin merupakan hormon antidiuretic. Hormon ini memiliki dua fungsi
utama yaitu untuk meningkatkan retensi air oleh ginjal dan menyebabkan
kontraksi otot polos arteriol. Efek pertama memiliki makna fisiologis yang lebih
besar. Pada keadaan normal, vasopressin adalah faktor endokrin utama yang
mengatur pengeluaran air melalui urin dan keseimbangan air pada seluruh tubuh.
Sebaliknya, vasopressin dengan kadar normal tidak bergitu berperan dalam
mengatur tekanan darah melalui efek presor hormon.
b. Oksitosin
Oksitosin merangsang kontraksi otot polos uterus untuk membantu pengeluaran
bayi salaam proses persalinan dan hormon ini juga mendorong pengeluaran susu
dari kelenjar payudara salaam menyusui. Sekresi oksitosisn ditingkatkan oleh
reflek reflek yang berasal dari jalan lahir sewaktu persalinan dan oleh reflek
reflek yang dipicu oleh tindakan bayi menghisap putting susu.
Hipofisis anterior
a. Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)
Hormon utama yang bertanggung jawab mengatur pertumbuhan tubuh secara
keseluruhan dan juga penting dalam metabolism perantara.
b. Hormon tiroksin (Thyroid stimulating hormone)
Hormon yang bertugas merangsang sekresi hormon tiroid dan pertumbuhan kelenjar
tiroid.
c. Hormon adrenokortikotropik
Hormon yang bertugas merangsang sekresi kortisol oleh korteks adrenal dan
meningkatkan pertumbuhan korteks adrenal.
d. Hormon FSH (Follicle stimulating hormone)

Pada wanita hormon ini merangsang pertumbuhan dan perkembangan folikel ovarium,
tempat berkembangnya ovum atau telur, FSH mendorong sekresi hormon estrogen oleh
ovarium. Sedangkan untuk pria, FSH berperan untuk menghasilkan sperma.
e. Hormon LH (Leteinizing Hormone)
Pada wanita hormon LH bertanggung jawab untuk ovulasi, luteinisasi (pembentukan
korpus luteum paska ovulasi yang menghasilkan hormin diovarium). Dan pengaturan
sekresi hormon seks wanita, estrogen dan progesterone, oleh ovarium. Pada pria, hormon
ini merangsang sel interstisium leydig di testis untuk mengeluarkan hormon seks pria,
testosterone.
f. Prolactin
Meningkatkan perkembangan payudara dan pembentukan susu pada wanita.

II
1. Apa indikasi sectio saecaria ? (Saifuddin, Ilmu Bedah Kebidanan, 2009)
Indikasi Ibu :
Ibu dengan penyakit jantung dan paru
Infeksi
Oedema jalan lahir
Perdarahan
Preeklampsia dan eklampsia
Lingkaran retraksi patologis
Maternal Exhaution
Indikasi Janin :

Tali pusat menumbung


Mekoneum pada letak kepala
Denyut jantung memburuk

Indikasi Profilaksis

Panggul sempit
Partus lama
Primigravida tua

Indikasi Sosial

Bayi mahal

2. Apa indikasi induksi ? (Saifuddin, Ilmu Bedah Kebidanan, 2009)

Indikasi Janin :

Hamil lewat bulan


Ketuban Pecah Dini
Janin mati

Indikasi Ibu :

Ibu dengan DM
Ibu dengan Hipertensi

3. Apa penyebab kematian ibu ? (Saifuddin, Ilmu Kebidanan, 2009)


Perdarahan
Infeksi
Preklampsia/Eklampsi
Partus macet
4. Berapa macam perdarahan dalam obstetric ? (Saifuddin, Ilmu Kebidanan, 2009)
Perdarahan hamil muda

Abortus
Kehamilan Ektopik Terganggu
Mola hidatidosa
Perdarahan Ante Partum

Plasenta Previa
Solusio Plasenta
Vasa Previa
Perdarahan Post Partum

Tonus : Atonia uteri


Trauma : Laserasi jalan lahir
Tissue : Retensio plasenta, sisa jaringan plasenta
Trombin : Faktor Koagulasi darah

5. Apa yang dimaksud dengan trias klasik ? (Saifuddin, Ilmu Kebidanan, 2009)
Trias klasik adalah trias pada Kehamilan Ektopik Terganggu, yaitu :
Perdarahan pervaginam
Amenorhe
Nyeri abdomen bagian bawah
6. Apa diagnosa banding dari KET ? (Wiknjosastro, 2009)
Abortus Imminens
Kista Ovarium Terpuntir

Pelvic Inflamatory Disease (PID)


Appendicitis Akut

7. Apakah gejala klinis mola hidatidosa ? (Wirakusumah & Martaadisoebrata, 2005)


Amenorhea
Perdarahan pervaginam
Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan
Tidak ditemukan tanda pasti kehamilan
Mual dan muntah yang lebih hebat dari kehamilan biasa
8. Apa diagnosis banding perdarahan antepartum ? (Saifuddin, Ilmu Kebidanan, 2009)
Plasenta previa
Solusia plasenta
Vasa previa
9. Sebutkan lima benang merah APN ? (Hamidah, 2009)
Membuat keputusan klinis
Asuhan saying ibu dan saying anak
Mencegah infeksi
Pencatatan rekam medis
Rujukan
10. Dalam sistem rujukan apa yang dimaksud dengan BAKSOKU ? (Hamidah, 2009)
B (Bidan)
Pastikan ibu/ bayi/ klien didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan memiliki

kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan


A (Alat)
Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan seperti spuit, infus set, tensimeter

dan stetoskop
K (keluarga)
Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan alasan mengapa ia dirujuk.

Suami dan anggota keluarga yang lain harus menerima ibu (klien) ke tempat rujukan.
S (Surat)
Beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu (klien), alasan rujukan, uraian

hasil rujuka, asuhan atau obat-obat yang telah diterima ibu


O (Obat)
Bawa obat-obat esensial yang diperlukan selama perjalanan merujuk

K (Kendaraan)
Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan ibu (klien) dalam kondisi yang
nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu cepat.

U (Uang)
Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat
dan bahan kesehatan yang diperlukan di tempar rujukan

11. Bagaimana cara melahirkan bayi sungsang ? (Saifuddin, Ilmu Bedah Kebidanan, 2009;
Bratakoesoema, 2005)
a. Persalinan Pervaginam
Berdasarkan tenaga yang dipakal dalam melahirkan janin pervaginam, persalinan
pervaginam dibagi menjadi 3, yaitu:
1) Persalinan spontan (spontaneous breech), janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu
sendiri. Cara ini lazim disebut cara Bracht
2) Manual aid (partial breech extraction; assisted breech delivery), janin dilahirkan sebagian
menggunakan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong.
3) Ekstraksi sungsang (total breech extraction), janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai
tenaga, penolong.
b. Persalinan perabdominal (seksio sesaria)
Prosedur pertolongan persalinan spontan
Tahapan :
1.

Tahap pertama

: fase lambat, yaitu mulai melahirkan bokong sampai pusat (skapula

depan).
2.

Tahap kedua

: fase cepat, yaitu mulai dari lahirnya pusat sampai lahirnya mulut.

Disebut fase cepat karena pada fase ini kepala mulai masuk ke PAP, sehingga kemungkinan
tali pusat terjepit. Oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat segera
dilonggarkan.
3.

Tahap ketiga

: fase lambat, yaitu mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala lahir.

Teknik :
1. Ibu dalam posisi litotomi, sedang penolong berada didepan vulva.

2. Ketika timbul his ibu disuruh mengejan dan merangkul kedua pangkal paha. Pada saat
bokong mulai membuka vulva (crowning) disuntikan 2-5 unit oksitosin intramuskuler.
3. Episiotomi dikerjakan saat bokong membuka vulva. Segera setelah bokong lahir, bokong
dicengkram secara Bracht, yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha,
sedangkan jari-jari lain memegang panggul.
4. Pada setiap his, ibu disuruh mengejan. Pada waktu tali pusat lahir dan tampak teregang, tali
pusat dikendorkan. Kemudian penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin guna
mengikuti gerakan rotasi anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke punggung ibu.
Penolong hanya mengikuti gerakan ini tanpa melakukan tarikan, sehingga gerakan tersebut
disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan dilakukannya
hiperlordossis, seorang asisten melakukan ekspresi Kristeller pada fundus uteri sesuai
dengan sumbu panggul. Dengan gerakan hiperlordossis ini berturut-turut lahir pusar, perut,
badan lengan, dagu,mulut dan akhirnya kepala.
5. Janin yang baru lahir segera diletakan diperut ibu. Bersihkan jalan nafas dan rawat tali
pusat.
6. Keuntungan
Dapat mengurangi terjadinya bahaya infeksi oleh karena tangan penolong tidak ikut masuk
ke dalam jalan lahir. Dan juga cara ini yang paling mendekati persalinan fisiologik,
sehingga mengurangi trauma pada janin.
7. Kerugian
Dapat mengalami kegagalan sehingga tidak semua persalinan letak sungsang dapat
dipimpin secara Bracht. Terutama terjadi peda keadaan panggul sempit, janin besar, jalan
lahir kaku seperti pada primigravida, adanya lengan menjungkit atau menunjuk.
Prosedur Manual Aid
Tahapan :
1. Tahap pertama : lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga
ibu sendiri.
2.

Tahap kedua

: lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong. Cara/teknik

untuk melahirkan bahu dan lengan ialah secara :


a)

Klasik (Deventer)
Prinsip

Melahirkan bahu dan lengan secara klasik ini melahirkan lengan belakang lebih dulu
karena lengan belakang berada di ruang yang luas (sacrum), kemudian melahirkan lengan

depan yang berada di bawaah simpisis.


Kedua kaki janin dipegang dengan tangan kanan penolong pada pergelangan kakinya dan
dielevasi ke atas sejauh mungkin sehingga perut janin mendekati perut ibu. Bersamaan
dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir dan dengan jari tengah
dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai pada fossa kubiti kemudian lengan bawah

dilahirkan dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka janin.


Untuk melahirkan lengan depan, pergelangan kaki janin diganti dengan tangan kanan
penolong dan ditarik curam ke bawah sehingga punggung janin mendekati punggung ibu.

Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.


Keuntungan
Umumnya dapat dilakukan pada semua persalinan letak sungsang tetapi kerugiannya
lengan janin relativ tinggi didalam panggul sehingga jari penolong harus masuk ke dalam
jalan lahir yang dapat menimbulkan infeksi.

b)

Mueller
Prinsip melahirkan bahu dan lengan secara Mueller ialah melahirkan bahu dan lengan
depan lebih dulu dengan ekstraksi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang.
Bokong janin dipegang dengan femuropelvik yaitu kedua ibu jari penolong diletakkan
sejajar spina sakralis media dan jari telunjuk pada krisat iliaka dan jari-jari lain
mencengkram bagian depan. Kemudian badan ditarik ke curam ke bawah sejauh mungkin
sampai bahu depan tampak di bawah simpisis dan lengan depan dilahirkan dengan mengait
lengan bawahnya. Setelah bahu depan dan lengan lahir, tarik badan janin ke atas sampai
bahu belakang lahir. Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir sehingga
mengurangi infeksi.

c)

Lovset
Prinsip melahirkan persalinan secara Lovset ialah memutar badan janin dalam setengah
lingkaran bolak-balik sambil dilakukan traksi curam ke bawah sehingga bahu yang
sebelumnya berada di belakang akhirnya lahir dibawah simpisis dan lengan dapat
dilahirkan. Keuntungannya yaitu sederhana dan jarang gagal, dapat dilakukan pada semua
letak sungsang, minimal bahay infeksi. Cara lovset tidak dianjurkan dilakukan pada
sungsang dengan primigravida, janin besar, panggul sempit.

d)

Bickenbach
Prinsip melahirkan ini merupakan kombinasi antara cara Mueller dengan cara klasik. Tahap
ketiga dengan melahirkan kepala yang menyusul (after coming head).

3. Tahap ketiga yaitu lahirnya kepala, dapat dengan cara :


a)

Mauriceau (Veit-Smellie)
Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalan lahir. Jari
tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk dan jari keempat mencengkeram fossa
kanina, sedang jari lain mencengkeram leher. Badan anak diletakkan diatas lengan bawah
penolong seolah-olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ketiga penolong yang
lain mencengkeram leher janin dari punggung. Kedua tangan penolong menarik kepala
janin curam ke bawah sambil seorang asisten melakukan ekspresi kristeller. Tenaga tarikan
terutama dilakukan oleh penolong yang mencengkeram leher janin dari arah punggung.
Bila suboksiput tampak dibawah simpisis, kepala dielevasi keatas dengan suboksiput
sebagai hipomoklion sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata dahi, ubunubun besar dan akhirnya lahirnya seluruh kepala janin.

b)

Najouks
Teknik ini dilakukan apabila kepala masih tinggi sehingga jari penolong tidak dimasukkan
ke dalam mulut janin. Kedua tangan penolong yang mencengkeram leher janin menarik
bahu curam kebawah dan bersamaan dengan itu seorang asisten mendorong kepala janin
kearah bawah. Cara ini tidak dianjurkan lagi karena menimbulkan trauma yang berat.

c)

Wigand Martin-Winckel

d)

Parague terbalik
Teknik ini dipakai bila oksiput dengan ubun-ubun kecil berada di belakang dekat sacrum
dan muka janin menghadap simpisis. Satu tangan penolong mencengkeram leher dari
bawah dan punggung janin diletakkan pada telapak tangan penolong. Tangan penolong
yang lain memegang kedua pergelangan kaki, kemudian ditarik keatas bersamaan dengan
tarikan pada bahu janin sehingga perut janin mendekati perut ibu. Dengan laring sebagai
hipomoklion, kepala janin dapat dilahirkan.

e)

Cunam piper
Seorang asisten memegang badan janin pada kedua kaki dan kedua lengan janin diletakkan
dipunggung janin. Kemudian badan janin dielevasi ke atas sehingga punggung janin

mendekati punggung ibu. Pemasangan cunam piper sama prinsipnya dengan pemasangan
pada letak belakang kepala. Hanya saja cunam dimasukkan dari arah bawah sejajar dengan
pelipatan paha belakang. Setelah oksiput tampak dibawah simpisis, cunam dielevasi ke atas
dan dengan suboksiput sebagai hipomoklion berturut-turut lahir dagu, mulut, muka, dahi
dan akhirnya seluruh kepala lahir.

Prosedur Ekstraksi Sungsang


Teknik ekstraksi kaki
1. Tangan dimasukkan ke dalam jalan lahir mencari kaki depan dengan menelusuri bokong,
pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin
sehingga kaki bawah menjadi fleksi.
2. Tangan yang diluar mendorong fundus uterus ke bawah. Setelah kaki bawah fleksi
pergelangan kaki dipegang oleh jari kedua dan jari ketiga dan dituntun keluar dari vagina
sampai batas lutut.
3. Kedua tangan memegang betis janin, kaki ditarik curam kebawah sampai pangkal paha
lahir.
4. Pangkal paha dipegang kemudian tarik curam ke bawah trokhanter depan lahir. Kemudian
pangkal paha dengan pegangan yang sama dielevasi keatas sehingga trokhanter belakang
lahir dan bokong pun lahir.
5. Setelah bokong lahir maka untuk melahirkan janin selanjutnya dipakai teknik pegangan
femuro-pelviks, badan janin ditarik curam kebawah sampai pusat lahir. Selanjutnya untuk
melahirkan badan janin yang lainnya dilakukan cara persalinan yang sama seperti pada
manual aid.
Teknik ekstraksi bokong
1. Jari telunjuk tangan penolong yang searah bagian kecil janin dimasukkan ke dalam jalan
lahir dan diletakkan di pelipatan paha depan. Dengan jari telunjuk ini pelipatan paha dikait
dan ditarik curam kebawah, sehingga trokhanter tampak dibawah simpisis, maka jari
telunjuk penolong yang lain segera mengait pelipatan paha ditarik curam kebawah sampai
bokong lahir.
2. Setelah bokong lahir, bokong dipegang secara femuro-pelviks kemudian janin dapat
dilahirkan dengan cara manual aid.

12. Apakah indikasi kuretase ? (Saifuddin, Ilmu Bedah Kebidanan, 2009)


Indikasi diagnostik
Metroragia
Perdarahan uterus disfungsional
Polip uteri
Karsinoma endometrium
Perdarahan pasca molar (kemungkinan koriokarsinoma)
Infertilitas
Amenore sekunder
Indikasi terapetik
Abortus insipien, abortus inkomplit, missed abortion
Sisa plasenta
Mola hidatidosa
13. Apakah yang dimaksud distosia ? (Bratakoesoema, 2005)
Yang dimaksud distosia adalah persalinan yang sulit ditandai adanya hambatan kemajuan
persalinan.
14. Apa yang dimaksud dengan tumor uterus ? (Wiknjosastro, 2009)
Tumor uterus adalah tumor alat genital yang bersifat neoplasma jinak yang terdapat pada
ektoservis maupun endoserviks-endometrium atau suatu tumor jinak yang berbatas tegas,
tidak berkapsul yang berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous.
15. Sebutkan contoh tumor uterus ! (Wiknjosastro, 2009)
Tumor Jinak Uterus
- Ektoserviks
o Kista sisa jaringan embrional
o Kista endometriosis
o Folikel atau Kista Nabothi
o Papiloma
o Hemangioma
- Endoserviks
o Polip
o Endometrium
o Polip
o Adenoma-Adenofibroma
o Mioma Submukosum
o Polip Plasenta
- Miometrium
o Fibromioma
o Leiomioma
o Fibroid

Tumor Ganas Uterus


- Serviks Uterus
o Karsinoma Serviks Uterus
- Korpus Uterus
o Sarkoma Uterus
o Leiomiosarkoma
o Sarkoma Endometrium
o Karsinoma Sarkoma
o Khoriokarsinoma
16. Apa penyebab dari Tumor uterus ? (Wiknjosastro, 2009)
Wanita dengan nullypara ( wanita kurang subur ). Etiologi secara pasti tidak diketahui
Tetapi ada korelasi antara pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogenprogesteron pada jaringan mioma uteri dan juga dipengaruhi oleh hormone pertumbuhan.
faktor genetic Resiko tinggi wanita dengan umur diatas 35 tahun.
17. Apa yang dimaksud dengan PUD ? (Palisuri & Budi, 1999)
Perdarahan uterus disfungsional adalah perdarahan uterus

abnormal

(lamanya,

frekuensinya, jumlah) tanpa ditemukan kelainan organik dan hematologi melainkan hanya
akibat gangguan fungsi mekanisme kerja poros hipotalamus hipofisis ovarium dan
target organnya dalam hal ini endometrium.

18. Ada berapa penyebab PUD ? (Palisuri & Budi, 1999; Wiknjosastro, 2009)
- Perdarahan Anovulatori
Rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopause dan masa reproduksi. Hal ini karena
tidak terjadi ovulasi, sehingga kadar hormone estrogen berlebihan sedangkan hormone
progesterone rendah. Akibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami penebalan
berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya pembuluh darah dan kelenjar) yan
gmemadai. Kondisi inilah penyebab terjadinya perdarahan rahim karena dinding rahim
yang rapuh.
- Perdarahan Ovulatori
Perdarahan Rahim yang biasa terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan
dengan waktu menstruasi. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormone
estrogen, sementara hormone progesterone tetap terbentuk.
19. Definisi primitua sekunder?

Ibu hamil dengan usia lebih dari 35 tahun dengan persalinan terakhir lebih dari 10 tahun
yang lalu.
20. Apa yang dimaksud dengan panggul sempit?
Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul
dapa menyebabkan distosia saat persalinan. Panggul disebut sempit apabila ukurannya 2
cm kurang dari ukuran yang nomal. Kesempitan panggul bisa pada pintu atas panggul,
ruang tengah panggul, pintu bawah panggul atau kombinasi dari ketiganya. Panggul
sempit dapat diketahui sejak antepartum. (Muchtar R., 2002)
21. Sebutkan apa saja macam-macam abortus?
Abortus imminens
Abortus insipiens
Abortus inkomplit
Abortus komplit
Missed abortion
Abortus habitualis
Abortus infeksiosa
Abortus septik (Hadijanto, 2010)
22. Apa saja contoh abortus medisinalis?
Kehamilan ektopik
Mola hidatidosa
Penyakit ibu : Penyakit jantung bawaan, penyakit ginjal kronik, TB paru aktif,penyakit
metabolic misalnya DM tidak terkontrol disertai komplikasi vaskuler, hipertiroid,
hipertensi pulmonal, penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker
serviks atau jika dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit
keganasan lainnya pada tubuh, seperti kanker payudara, sindroma penyakit vaskuler
primer ( primary vascular disease ), atau emboli paru berulang, sindroma marfan,
kelainan jiwa ber bat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri.
23. Sebutkan trias KET?
Trias klasik
Perdarahan pervaginam
Amenorhe
Nyeri abdomen bagian bawah (Hadijanto, 2010)
24. Sebutkan tanda dan gejala mola hidatidosa?

Amenorhea

Perdarahan pervaginam
Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan
Tidak ditemukan tanda pasti kehamilan
Mual dan muntah yang lebih hebat dari kehamilan biasa (Hadijanto, 2010)

25. Pemeriksaan penunjang pada mola hidatidosa yang dapat dilakukan di perifer?
Bagaimana cara melakukannya?
Uji sonde hanifa
Sonde dimasukkan tanpa tahanan dan dapat diputar 360 dengan deviasi sonde
kurang dari 10. Sonde dimasukkan secara perlahan-lahan kedalam kanalis
servikalis kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar, setelah itu ditarik
sedikit. Bila tetap tidak ada tahanan berarti kemungkinan mola. (Sujiyatini, 2009)
26. Apa yang dimaksud perdarahan post partum dan dimulai sejak kapan?
Perdarahan pasca salin adalah perdarahan 500 cc atau lebih sesudah kelahiran
bayi.

Perdarahan pasca persalinan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam

pertama sesudah bayi lahir.


Perdarahan pasca persalinan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24
jam persalinan. (Karkata, 2010)

27. Masa nifas dimulai sejak kapan ?


Masa nifas dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42
hari) setelah itu. (Hadijono, 2010)
28. Syarat tubektomi?
Usia > 26 tahun
Paritas > 2
Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
Kehamilan akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius
Pasca persalinan atau pasca keguguran
Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini. (Saifuddin A. , 2010)
29. Apa definisi infertilitas?
American Fertility Society (AFC)
Ketidak mampuan pasutri untuk menghasilkan kehamilan setelah 1 tahun kawin dengan
hubungan teratur dan tanpa alat kontrasepsi.
WHO

Ketidak mampuan pasutri untuk menghasilkan kehamilan setelah 2 tahun kawin dengan
hubungan teratur dan tanpa alat kontrasepsi.
30. Penyebab infertilitas?
Faktor pria : Infeksi, kel. kongenital, gangguan hormonal, autoimun, varikokel
Masalah vagina : sumbatan, vaginitis
Masalah serviks : sumbatan kanalis servikalis, lendir serviks yang abnormal,
malposisi dari serviks, kelainan anatomi serviks seperti, cacat bawaan (atresia),
polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan (servisitis menahun) dan

inseminasi yang tidak adekuat.


Masalah uterus : distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma atau polip;

peradangan endometrium dan gangguan kontraksi uterus.


Masalah tuba : tuba yang tersumbat, salpingitis, perlengkatan perituba dan

periovarium, endometriosis.
Masalah ovarium : gangguan ovulasi akibat hiperprolaktinemia, hipotiroid,

hipertiroid, faktor stress, berat badan, penyakit ovarium polikistik.


Masalah peritoneum. (Sumapraja, 2009)
31. Apa yang dimaksud dengan distosia bahu?
Suatu keadaan diperlukannya tambahan manuver obstetrik oleh karena dengan
tarikan biasa ke arah belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan

bayi. (Siswihanto, 2010)


Suatu keadaan dimana setelah kepala dilahirkan, bahu anterior tidak dapat lewat

di bawah simfisi pubis. (WHO, 2013)


Ketidakmampuan melahirkan bahu pada persalinan normal.

32. Bagaimana cara menolong distosia bahu?


Tindakan pada distosia bahu : ALARMER
Ask for help
Lift
- the buttocks
- The legs
Mc Roberts Maneuver
Anterior disimpaction of shoulder
-

Suprapubic pressure (Massanti)


Rotate to oblique (Rubin)

Rotation of the posterior shoulder

Woodscrew maneuver

Manual removal of posterior arm (Schwartz)


Episiotomy
Roll over onto 2-4 or knee chest (Gaskin)
Manuver McRobert
Minta ibu melipat kedua paha sehingga kedua lutut berada sedekat mungkin dengan dada.
Gunakan kedua tangan untuk membatu fleksi maksimal paha. (Siswihanto, 2010)

Anterior disimpaction of shoulder


Manuver Massanti (penekanan pada daerah suprapubik)
-

Tidak boleh melakukan tekanan pada daerah fundus


Dilakukan dengan pendekatan abdominal : penekanan daerah suprapubik bertujuan
untuk menekan bahu anterior ke arah bawah. (Siswihanto, 2010)

Manuver Rubin

Dilakukan melalui pendekatan vaginal dengan cara melakukan penekanan pada aspek
posterior dari bahu anterior sehingga bahu anterior mengalami adduksi. (Siswihanto,
2010)

Rotation of the posterior shoulder (Manuver Woodscrew)


-

Manuver ini dilakukan dengan menggunakan dua jari tangan yang diletakkan
dibagian depan bahu posterior. Bahu posterior lalu dirotasi 180 sehingga dengan

demikian bahu posterior menjadi bahu anterior.


Dapat dilakukan bersamaan dengan anterior disimpaction. (Siswihanto, 2010)

Manual removal of posterior arm (Schwartz)


-

Fleksikan lengan pada siku dengan menekan fossa antecubital


Letakkan lengan bayi pada dada bayi
Genggam tangan atau pergelangan tangan bayi dan kemudian keluarkan dengan arah
menuju muka dan membasuh muka. (Siswihanto, 2010)

Episiotomi

Episiotomi dipertimbangkan untuk memberikan ruang yang lebih luas untuk


melahirkan bahu. (Siswihanto, 2010)

Roll over (manuver gaskin)


-

Posisikan ibu dalam posisi menungging/merangkak. (Siswihanto, 2010)

Tindakan terakhir
-

Buat fraktur klavikula


Cephalic replacement (manuver Zavenelli)
Simfisiotomi. (Siswihanto, 2010)

Hindari 4P : Panic, pulling (pada kepala), pushing (pada fundus), pivoting (memutar kepala
secara tajam dengan koksigis sebagai tumpuan). (Siswihanto, 2010)
33. Ada berapa jenis panggul?
Dalam obstetric dikenal 4 jenis panggul (pembagian Cadwell dan Molloy 1933) yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Panggul ginekoid : diameter anteroposterior = diameter transversal
- Panggul android : diameter anteroposterior = diameter transversal tetapi menyempit
-

pada bagian depan ( bentuk pintu atas panggul hamper segitiga)


Panggul anthropoid : diameter anteroposterior > diameter transversal
Panggul platipeloid : diameter anteroposterior < diameter transversal. (Aflah, 2009)

34. Berapa nilai konjugata vera yang normal?


Konjugata vera merupakan panjang jarak dari pinggir atas simfisis ke
promontorium lebih kurang 11 cm. Cara mengukur konjugata vera ialah dengan jari
tengah dan telunjuk dimasukkan ke dalam vagina untuk meraba promontorium. Jarak
bagian bawah simfisis sampai ke promontorium dikenal sebagai konjugata diagonalis.
Secara statistic diketahui bahwa konjugata vera sama dengan konjugata diagonalis
dikurangi 1,5 cm. Kalau jarak ujung jari kita sampai ke batas pinggir bawah simfisis
adalah 13 cm, maka berarti konjugata vera 13 cm- 1,5 cm = 11,5 cm. (Rachimhadhi,
2010)
35. Apa yang dimaksud dengan preeklampsia dan bagaimana penatalaksanaannya?

Preeklampsia Ringan
Definisi
Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya
perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel.
(Angsar, 2010)
Diagnosis
Diagnosis preeklampsia ringan ditegakkan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai
proteinuria dan/atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
-

Hipertensi: sistolik/diastolik 140/90 mmHg. Kenaikan sistolik 30 mmHg dan

kenaikan diastolik 15 mmHg tidak dipakai lagi sebagai kriteria preeklampsia.


Proteinuria: 300 mg/24 jam atau 1 + dipstik.
Edema: edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali edema pada
lengan, muka dan perut, edema generalisata. (Angsar, 2010)

Rawat jalan (ambulatoir)


Ibu hamil dengan preeklampsia ringan dapat dirawat secara rawat jalan. Dianiurkan ibu
hamil banyak istirahat (berbaring/tidur miring), tetapi tidak harus mutlak selalu tirah baring.
Diet yang mengandung 2g natrium atau 4-6 g NaCl (garam dapur) adalah cukup.
Kehamilan sendiri lebih banyak membuang garam lewat ginjal, tetapi pertumbuhan janin justeru
membutuhkan,lebih banyak konsumsi garam. Bila konsumsi garam hendak dibatasi, hendaknya
diimbangi dengan konsumsi cairan yang banyak, berupa susu atau air buah. Diet diberikan cukup
protein, rendah karbohidrat, lemak, garam secukupnya, dan roboransia pranatal. Tidak diberikan
obat-obat diuretik, antihipertensi, dan sedative. Dilakukan pemeriksaan laboratorium Hb,
hemarokrit. fungsi hati, urin lengkap dan fungsi ginjal. (Angsar, 2010)
Rawat inap (dirawat di rumah sakit)
Pada keadaan tertentu ibu.hamil dengan preeklampsia ringan perlu dirawat di rumah
sakit. Kriteria preeklampsia ringan dirawat di rumah sakit ialah (a) bila tidak ada perbaikan :
tekanan darah, kadar proteinuria selama 2 minggu ; (b) adanya satu atau lebih gejala dan tandatanda preeklampsia berat. (Angsar, 2010)

Perawatan obstetrik yaitu sikap terhadap kehamilannya


Menurut williams, kehamilan preterm ialah kehamilan antara 22 minggu sampai 37
minggu. Pada kehamilan preterm. (< 37 minggu), bila tekanan darah mencapai normotensive
selama perawatan, persalinannya ditunggu sampai aterm. Sementara itu, pada kehamilan aterm
(>37 minggu), persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk
melakukan induksi persalinan pada taksiran tanggal persalinan. Persalinan dapat dilakukan
secara spontan; bila perlu memperpendek kala II. (Angsar, 2010)
Preeklampsia Berat
Definisi
Preeklampsia berat ialah,preeklampsia dengan tekanan darah sistolik 160 mmhg dan
tekanan darah diastolk 110 nmHg disertai proteinuria lebih 5g/24 jam. (Angsar, 2010)
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasar kriteria preekrampsia berat sebagaimana tercantum di bawah ini.
Preeklampsia digolongkan preeklampsia berat bila ditemukan satu arau lebih gejala sebagai
berikut :
-

Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolik 110 mmHg. Tekanan
darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah

menjalani tirah baring.


Proteinuria lebih 5 g/24 jam atau 4 + dalam pemeriksaan kualitatif.
Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam.
Kenaikan kadar kreatinin plasma.
Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma dan

pandangan kabur.
Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya

kapsula Glisson).
Edema paru-paru dan sianosis.
Hemolisis mikroangiopatik.
Trombositopenia berat: < 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dengan cepat.
Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular): peningkatan kadar alanin dan aspartate

aminotransferase
Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat.
Sindrom HELLP.

Pembagian preeklampsia berat


Preeklampsia berat dibagi menjadi (a) preeklampsia berat tanpa impending eklampsia dan
(b) preeklampsia berat dengan impending eklampsia. Disebut impending eklampsia bila
preeklampsia berat disertai gejala-gejala subjektif bempa nyeri kepala hebat, gangguan visus,
muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan darah. (Angsar, 2010)
Perawatan dan pengobatan preeklampsia berat
Pengelolaan preeklampsia dan eklampsia mencakup pencegahan kejang, pengobatan
hipertensi, pengelolaan cairan, pelayanan supportif terhadap penyulit organ yang terlibat, dan
saat yang tepat untuk persalinan. (Angsar, 2010)
Perawatan preeklampsia berat sama halnya dengan perawatan preeklampsia ringan,
dibagi menjadi dua unsur yakni sikap terhadap penyakitnya, yaitu pemberian obat-obat atau
terapi medisinalis dan sikap terhadap kehamilannya ialah manajemen agresif, kehamilan diakhiri
(terminasi) setiap saat bila keadaan hemodinamika sudah stabil. (Angsar, 2010)
Penderita preeklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan
dianjurkan tirah baring miring ke satu sisi (kiri). Perawatan yang penting pada preeklampsia
berat ialah pengelolaan cairan karena penderita preeklampsia dan eklampsia mempunyai resiko
tinggi untuk terjadinya edema paru dan oligouria. Artinya harus dilakukan pengukuran secara
tepat berapa jumlah cairan yang dimasukkan dan dikeluarkan melalui urin. Bila terjadi tanda
tanda edema paru, segera dilakukan tindakan koreksi. Cairan yang diberikan dapat berupa a) 5%
ringer dextrose atau cairan garam faal jumlah tetesan:<125cc/jam atau b) infuse dekstrose 5%
yang tiap 1 liternya diselingi dengan infuse ringer laktat (60-125 cc/jam) 500 cc. (Angsar, 2010)
Di pasang foley kateter untuk mengukur pengeluaran urin. Oligouria terjadi bila produksi
urin < 30 cc/jam dalam 2-3 jam atau < 500 cc/24 jam. Diberikan antasida untuk menetralisir
asam lambung sehingga bila mendadak kejang, dapat menghindari resiko aspirasi asam lambung
yang sangat asam. Diet yang cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam. (Angsar,
2010)
Magnesium sulfat sampai saat ini tetap menjadi pilihan pertama untuk antikejang pada
preeklampsia atau eklampsia.
Cara pemberian MgSO4

Loading dose : initial dose 4 gram MgSO 4: intravena, (40 % dalam 10 cc) selama 15
menit

Maintenance dose : Diberikan infuse 6 gram dalam larutan ringer/6 jam; atau
diberikan 4 atau 5 gram i.m. Selanjutnya maintenance dose diberikan 4 gram im tiap
4-6 jam

Syarat-syarat pemberian MgSO4


-

Harus tersedia antidotum MgSO4, bila terjadi intoksikasi yaitu kalsium glukonas 10%
= 1 gram (10% dalam 10 cc) diberikan iv 3 menit

Refleks patella (+) kuat

Frekuensi pernafasan > 16x/menit, tidak ada tanda tanda distress nafas

Dosis terapeutik dan toksis MgSO4


-

Dosis terapeutik : 4-7 mEq/liter atau 4,8-8,4 mg/dl

Hilangnya reflex tendon 10 mEq/liter atau 12 mg/dl

Terhentinya pernafasan 15 mEq/liter atau 18 mg/dl

Terhentinya jantung >30 mEq/liter atau > 36 mg/dl

Contoh obat-obat lain yang dipakai untuk antikejang yaitu diazepam atau fenitoin
(difenilhidantoin), thiopental sodium dan sodium amobarbital. Fenitoin sodium mempunyai
khasiat stabilisasi membran neuron, cepat masuk jaringan otak dan efek antikejang terjadi 3
menit setelah injeksi intravena. Fenitoin sodium diberikan dalam dosis 15 mg/kg berat badan
dengan pemberian intravena 50 mg/menit. Hasilnya tidak lebih baik dari magnesium sulfat.
Pengalaman pemakaian fenitoin di beberapa senter di dunia masih sedikit. (Angsar, 2010)
Masih banyak pendapat dari beberapa negara tentang penentuan batas tekanan darah,
untuk pemberian antihipertensi. Misalnya Belfort mengusulkan cut off yang dipakai adalah
160/110 mmhg dan MAP 126 mmHg. (Angsar, 2010)
Antihipertensi lini pertama
-

Nifedipin. Dosis 10-20 mg/oral, diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24
jam

Antihipertensi lini kedua


-

Sodium nitroprussida : 0,25g iv/kg/menit, infuse ditingkatkan 0,25g iv/kg/5 menit.

Diazokside : 30-60 mg iv/5 menit; atau iv infuse 10 mg/menit/dititrasi.

Pemberian glukokortikoid untuk pematangan paru janin tidak merugikan ibu. Diberikan
pada kehamilan 32-34 minggu, 2x 24 jam. Obat ini juga diberikan pada sindrom HELLP.
Berdasar William obstetrics, ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejalagejala preeklampsia berat selama perawatan, maka sikap terhadap kehamilannya dibagi
menjadi:
1

Aktif : berarti kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian


medikamentosa.

Konservatif (ekspektatif): berarti kehamilan tetap dipertahankan bersamaan dengan


pemberian medikamentosa.
Indikasi perawatan konservatif ialah bila kehamilan preterm 37 minggu tanpa disertai

tanda tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik. Diberi pengobatan yang sama
dengan pengobatan medikamentosa pada pengelolaan secara aktif. Selama perawatan
konservatif, sikap terhadap kehamilannya ialah hanya observasi dan evaluasi sama seperti
perawatan aktif, kehamilan tidak diakhiri. Magnesium sulfat dihentikan bila ibu sudah
mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan, selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. Bila
setelah 24 jam tidak ada perbaikan keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan
medikamentosa dan harus diterminasi. Penderita boleh dipulangkan bila penderita kembali ke
gejala-gejala atau tanda tanda preeklampsia ringan. (Angsar, 2010)
Indikasi perawatan aktif bila didapatkan satu atau lebih keadaan di bawah ini, yaitu:
Ibu
1

Umur kehamilan 37 minggu

Adanya tanda-tanda/gejala-gejala impending eklampsia

Kegagalan terapi pada perawatan konservatif, yaitu: keadaan klinik dan laboratorik
memburuk

Diduga terjadi solusio plasenta

Timbul onset persalinan, ketuban pecah atau perdarahan

Janin
1

Adanya tanda-tanda fetal distress

Adanya tanda-tanda intra uterine growth restriction

NST nonreaktif dengan profil biofisik abnormal

Terjadinya oligohidramnion

Laboratorik
1

Adanya tanda-tanda sindroma HELLP khususnya menurunnya trombosit dengan cepat.


Cara mengakhiri kehamilan (terminasi kehamilan) dilakukan berdasar keadaan obstetrik

pada waktu itu, apakah sudah inpartu atau belum. (Angsar, 2010)

36. Apa yang dimaksud dengan eklampsia dan bagaimana penatalaksanannya?


Eklampsia
Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai
dengan timbulnya kejang atau koma (Angsar, 2010)
Perawatan eklampsia
Perawatan dasar eklampsia yang utama ialah terapi suportif untuk stabilisasi fungsi vital
yang harus selalu diingat Airway, Breathing, Circulation (ABC), mengatasi dan mencegah
kejang, mengatasi hipoksemia dan asidemia mencegah trauma pada pasien pada waktu kejang,
mengendalikan tekanan darah, khususnya pada waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada
waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat. Perawatan medikamentosa dan perawatan suportif
eklampsia, merupakan perawatan yang sangat penting. Tujuan utama pengobatan medikamentosa
eklampsia ialah mencegah dan menghentikan kejang, mencegahh dan mengatasi penyulit,
khususnya hipertensi krisis, mencapai stabilisasi ibu seoptimal mungkin sehingga dapat
melahirkan janin pada saat dan dengan cara yang tepat. (Angsar, 2010)
Pengobatan medikamentosa
Obat anti kejang
Obat antikejang yang menjadi pilihan pertama ialah magnesium sulfat. Bila dengan jenis
obat ini kejang masih sukar diatasi, dapat dipakai obat jenis lain, misalnya tiopental. Diazepam
dapat dipakai sebagai alternatif pilihan, namun mengingat dosis yang diperlukan sangat tinggi,
pemberian diazepam hanya dilakukan oleh mereka yang telah berpengalaman. Pemberian
diuretikum hendaknya selalu disertai dengan memonitor plasma elektrolit. Obat kardiotonika
ataupun obat-obat anti hipertensi hendaknya selalu disiapkan dan diberikan benar-benar atas
indikasi. (Angsar, 2010)

Magnesium sulfat (MgSO4)


Pemberian magnesium sulfat pada dasarnya sama seperti pemberian magnesium sulfat
pada preeklampsia berat. Pengobaran suportif terutama ditujukan untuk gangguan fungsi organorgan penting, misainya tindakan-tindakan untuk memperbaiki asidosis, mempertahankan
ventilasi paru-paru, mengatur tekanan darah, mencegah dekompensasi kordis. Pada penderita
yang mengalami kejang dan koma, nursing care sangat penting misalnya meliputi cara-cara
perawatan penderita dalam suatu kamar isolasi, mencegah aspirasi, mengatur infus penderita dan
monitoring produksi urin. (Angsar, 2010)
Perawatan pada waktu kejang
Pada penderita yang mengalami kejang, tuiuan pertama pertolongan ialah mencegah
penderita mengalami trauma akibat kejang-kejang tersebut. Dirawat di kamar isolasi cukup
terang, tidak di kamar gelap, agar bila terjadi sianosis segera dapat diketahui. Penderita
dibaringkan di tempat tidur yang lebar dengan rail tempat tidur harus dipasang dan dikunci
dengan kuat. Selanjutnya masukkan sudap lidah ke dalam mulut penderita dan jangan mencoba
melepas sudap lidah yang sedang tergigit karena dapat mematahkan gigi. Kepala direndahkan
dan daerah orofaring diisap. Hendaknya dijaga agar kepala dan ekstremitas penderita yang
kejang tidak terlalu kuat menghentak-hentak benda keras di sekitarnya. Fiksasi badan pada
tempat tidur harus cukup kendor, guna menghindari fraktur. Bila penderita selesai kejang-kejang,
segera beri oksigenasi. (Angsar, 2010)
Perawatan koma
Perlu diingat bahwa penderita koma tidak dapat bereaksi atau mempertahankan diri
terhadap suhu yang ekstrem, posisi tubuh yang menimbulkan nyeri dan aspirasi, karena
hilangnya refleks muntah. Bahaya terbesar yang mengancam penderita koma, ialah terbuntunya
jalan napas atas. Setiap penderita eklampsia yang jatuh dalam koma harus dianggap bahwa jalan
napas atas terbuntu, kecuali dibuktikan lain. Oleh karena itu, tindakan pertama-tama pada
penderita yang jatuh koma (tidak sadar), ialah menjaga dan mengusahakan agar jalan napas atas
tetap terbuka. Untuk menghindari terbuntunya jalan napas atas oleh pangkal lidah dan epiglottis
dilakukan tindakan sebagai berikut. Cara yang sederhana dan cukup efektif dalam menjaga

terbukanya jalan napas atas, ialah dengan manuver head tilt-neck lift, yaitu kepala direndahkan
dan leher dalam posisi ekstensi ke belakang atau head tily-chain lift, dengan kepala direndahkan
dan dagu ditarik ke atas, atau jaw-thrust, yaitu mandibula kiri kanan diekstensikan ke atas sarnbil
mengangkat kepala ke belakang. Tindakan ini kemudian dapat dilanjutkan dengan pemasangan
oropharyngeal airway. (Angsar, 2010)
Hal penting kedua yang perlu diperhatikan ialah bahwa penderita koma akan kehilangan
refleks muntah sehingga kemungkinan terjadinya aspirasi bahan lambung sangat besar. Lambung
ibu hamil harus selalu dianggap sebagai lambung penuh. Oleh karena itu, semua benda yang ada
dalam rongga mulut dan tenggorokan, baik berupa lendir maupun sisa makanan, harus segera
diisap secara intermiten. Penderita ditidurkan dalam posisi stabil untuk drainase lendir.
Monitoring kesadaran dan dalamnya koma memakai Glasgow Coma Scale. Pada perawatan
korna perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita. Pada koma yang lama,
bila nutrisi tidak mungkin dapat diberikan melalui Naso Gastric Tube (NGT). (Angsar, 2010)
Pengobatan obstetrik
Sikap terhadap kehamilan ialah semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri, tanpa
memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Persalinan diakhiri bila sudah mencapai
stabilisasi (pemulihan) hemodinamika dan metabolisme ibu. Pada perawatan pascapersalinan,
bila persalinan terjadi pervaginam, monitoring tanda-tanda vital dilakukan sebagaimana
lazimnya. (Angsar, 2010)
37. Apa yang dimaksud dengan HELLP syndrome?
Definisi klinik
Sindroma HELLP ialah preeklampsia-eklampsia disertai timbulnya hemolisis, peningkatan
enzim hepar, disfungsi hepar, dan trombositopenia. (Angsar, 2010)
Diagnosis
-

Didahului tanda dan gejala yang tidak khas malaise, lemah, nyeri kepala, mual, muntah

(semuanya ini mirip tanda dan gejala infeksi virus)


Adanya tanda dan gejala preeklampsia
Tanda-tanda hemolisis intravaskular, khususnya kenaikan LDH, AST, dan bilirubin
indirek

Tanda kerusakan/disfungsi sel hepatosit hepar : kenaikan ALT, AST, LDH


Trombositopenia : trombosit < 150.000/ml

Semua perempuan hamil dengan keluhan nyeri pada kuadran atas abdomen, tanpa memandang
ada tidaknya tanda dan gejala preeklampsia, harus dipertimbangkan sindroma HELLP. (Angsar,
2010)
Klasifikasi sindroma HELLP menurut klasifikasi Mississippi
Berdasar kadar trombosit darah, maka sindroma HELLP diklasifikasi dengan nama
"Klasifikasi Mississippi".
- Klas 1: Kadar trombosit : 50.000/ml, LDH 600 IU/I, AST dan/atau ALT 40IU/l
- Klas 2: Kadar trombosit > 50.000 100.000/ml, LDH 600 IU/l, AST dan/atau ALT
40IU/l
- Klas 3: Kadar trombosit > 100.000 150.000/ml, LDH 600 IU/l, AST dan/atau ALT
40 IU/l . (Angsar, 2010)
38. Apa saja penyebab KPD?
Belum diketahui dengan pasti.
Beberapa faktor yg mempermudah terjadinya KPD :
1. Infeksi, contoh : korioamnionitis.
2. Trauma, contoh : amniosentesis, pemeriksaan panggul atau koitus.
3. Inkompeten serviks.
4. Kelainan letak atau presentasi janin.
5. Peningkatan tekanan intrauterina, contoh : kehamilan ganda dan hydramnion. (Soewarto,
2010)
39. Bagaimana penanganan KPD?
Konservatif
Rawat dirumah sakit, berikan antibiotic (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila
tidak tahan ampisilin dan metronidazole 2x500 mg selama 7 hari). Jika umur kehamilan
<32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak
lagi keluar. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri
deksametason, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi pada
kehamilan 37 minggu. Jika usia kehamila 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi,
berikan tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam. Jika usia
kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi beri antibiotik dan lakukan induksi, nilai tanda-

tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra uterin). Pada usia kehamilan 32-37
minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin. Dosis betametason 12 mg
sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason I.M 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
(Soewarto, 2010)
Aktif
Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin. Bila gagal seksio sesarea.
Dapat pula diberikan misoprostol 25g -50g intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotic dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

Bila skor pelvik <5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil,
akhiri persalinan dengan seksio sesarea.
Bila skor pelvik >5, induksi persalinan. (Soewarto, 2010)

40. Apa saja yang perlu dipantau saat setelah operasi SC? (Saifuddin, 2009)
Perawatan awal
Cek tanda vital dan suhu tubuh setiap 15 menit selama jam pertama, kemudian tiap

30 menit pada jam selanjutnya


Periksa tingkat kesadaran setiap 15 menit sampai sadar
Cek kontraksi uterus jangan sampai lembek
Perawatan lanjutan
Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital tiap 4 jam, kontraksi uterus, dan perdarahan
Mobilisasi : dapat duduk 8-12 jam post operasi, berdiri 24 jam post operasi
Fungsi Gastrointestinal : biasanya kembali normal dalam 12 jam
Pembalutan dan perawatan luka
Kateter dapat dilepas 8 jam pasca bedah jika urin jernih

41. Apa saja jenis IUD? (Manjoer, 2002)


1. Un-Medicated AKDR (AKDR yang tidak mengandung obat)
Lippes Loop diperkenalkan pada awal 1960 an, dan dianggap sebagai AKDR standard,
terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik). Ada empat macam AKDR
Lippes Loop yaitu:
a) Lippes Loop A: panjang 26,2 mm, lebar 22,2 mm, benang biru.
b) Lippes Loop B : panjang 25,2 mm, lebar 27,4 mm benang hitam.
c) Lippes Loop C : panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm benang kuning.
d) Lippes Loop D : panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm benang putih.

Lippes Loop dapat dibiarkan in-utero untuk selama-lamanya sampai menopause,


sepanjang tidak ada keluhan atau persoalan bagi akseptornya.
2. Medicated AKDR (AKDR yang mengandung obat)
Termasuk jenis ini antara lain copper AKDR dan AKDR yang mengandung hormon.
a) Copper AKDR
(1) Cu T- 200 B : Panjang 36 mm, lebar 32 mm, mengandung 200 mm Cu, ujung
bagian bawah batang AKDR berbentuk bola. Daya kerja : 3 tahun.
(2) ML Cu 250 : luas permukaan kawat Cu 220 mm, benang ekor 2 lembar
berwarna hitam atau tidak berwarna. Daya kerja : 3 tahun. Ada tiga bentuk ML Cu
-250 : standard , short, mini.
(3) ML Cu 375 : 375 mm luas permukaan kawat Cu, benang ekor 2 lembar,
berwarna hitam atau tidak berwarna. Daya kerja : 5 tahun. Ada tiga bentuk ML Cu
375 : standard, short, SL.
(4) Cu T-380 A = Para Gard : Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 314 mm kawat Cu
pada batang vertikal, 2 selubung Cu seluas masing-masing 33 mm pada masingmasing lengan horisontal. Daya kerja : 8 tahun (FDA : 10 tahun ).
(5) Nova T = Novagard: Panjang 32 mm, lebar 32 mm, 200 mm luas permukaan
Cu dengan inti Ag di dalam kawat Cu- nya. Daya kerja : 5 tahun.

b) AKDR yang mengandung hormon


AKDR yang mengandung hormon yaitu progestasert-T = Alza T, yang memiliki
panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam. Progestasert-T
= Alza T mengandung 38 mg progesterone dan barium sulfat, melepaskan 65 mcg
progesterone per hari. Daya kerja : 18 bulan.

42. Apa perbedaan sitotec dan oksitosin? (Muarif, 2002)


Oksitosin secara luas digunakan sebagai stimulant uterus. Penggunaan secara
umum untuk induksi persalinan atau perbaikan uterus dan perdarahan postpartum.

Keuntungan pemberian melalui infuse intravena adalah dimana dosis pemberian


dapat diketahui dengan jelas dan jika terjadi penyuli dapat dihentikan setiap waktu.
Misoprostol merupakan prostaglandin sintetik, dapat memberikan efek
immunosupresif, menyebabkan vasodilatasi dan dapat bertindak sebagai uterotonika.
Selain itu juga digunakan untuk pematangan serviks dan induksi persalinan dan
pengelolaan perdarahan postpartum karena atonia uteri dan retensio plasenta.
43. Apa saja syarat-syarat amniotomi? (Saifuddin, 2009)
Ibu Tidak ada kelainan jantung
Bishop score >5
Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD)
Tidak ada kelainan letak
Tafsiran berat janin <4000 gram
Tidak ada gawat janin
44. Apa saja interpretasi NST?
Normal
Suspicious
Patologis
45.
Lamanya kehamilan
22-28
28-37
37-42
>42

Istilah
Partus imatur
Partus prematur
Partus matur
Partus posmatur (serotinous)

46. Ada berapa macam tubektomi? (Cunningham, 2006)


Teknik Madlener (1919), caranya :
a. Buat loop tuba sekitar 3 cm
b. Tuba dikrus beberapa kali sehingga kanalisnya mengalami kerusakan
c. Ikat dengan benang sutra yang tidak diserap
d. Selanjutnya tuba tidak dipotong, tuba yang sudah dikrus (dilunakkan) ditanamkan
dimesosalping
Teknik Irving (1925), caranya :
a. Tuba dipotong 2 cm disekitar isthmus
b. Bagian proksimal ditanamkan pada dinding uterus, bagian distal ditanamkan pada
mesosalping
c. Perdarahan dirawat, dinding abdomen ditutup
Teknik Pomeroy (1930), teknik ini dianggap sebagai golden standard karena mudah
dan angka kegagalannya kecil :
a. Buat loop tuba sekitar 3 cm

b. Ikat dengan catgut plain


c. Potong di atas jahitan dan biarkan, dinding abdomen ditutup
Teknik Aldridge
Peritoneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersamasama dengan fimbriae ditanam ke dalam ligamentum latum
Teknik

Uchida

(1960)

a. Buat edema artificial dengan saline + epinefrin sehingga tuba tampak putih
b. Tuba

dikeluarkan,

dipotong

dan

diikat

di

dua

tempat

c. Bagian proksimal ditanam di bawah mesosalping, bagian distal dibiakan kearah


peritoneum,

mesosalping

dijahit

kembali

dan

perdarahan

dirawat

Teknik Kroener (1960) dilakukan dengan cara memotong fimbriae, sehingga


kemampuan untuk ovum pick up tidak ada, ujung ligamentum infundibulo pelvikum
dijahit sehingga tidak terjadi perdarahan.