Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di

dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada
puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.
90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10%
sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang
menuju ke dalam rahim.

[4]

Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona

transisional yang terletak antara epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar.
Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat
penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah
bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan
setiap tahun dijumpai sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan
umumnya terjadi di negara berkembang.
Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan
perilaku sel epitel serviks. Pada saat ini sedang dilakukan penelitian vaksinasi
sebagai upaya pencegahan dan terapi utama penyakit ini di masa mendatang.
Risiko terinfeksi virus HPV dan beberapa kondisi lain seperti perilaku seksual,
kontrasepsi, atau merokok akan mempromosi terjadinya kanker serviks.
Mekanisme timbulnya kanker serviks ini merupakan suatu proses yang kompleks
dan sangat variasi hingga sulit untuk dipahami.
Insiden dan mortalitas kanker serviks di dunia menempati urutan kedua
setelah kanker payudara. sementara itu, di negara berkembang masih menempati
urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker pada usia reproduktif.
Hampir 80% kasus berada di negara berkembang. Sebelum tahun 1930, kanker

servik merupakan penyebab utama kematian wanita dan kasusnya turun secara
drastik semenjak diperkenalkannya teknik skrining pap smear oleh Papanikolau.
Namun, sayang hingga kini program skrining belum lagi memasyarakat di
negara berkembang, hingga mudah dimengerti mengapa insiden kanker serviks
masih tetap tinggi. Hal terpenting menghadapi penderita kanker serviks adalah
menegakkan diagnosis sedini mungkin dan memberikan terapi yang efektif
sekaligus prediksi prognosisnya. Hingga saat ini pilihan terapi masih terbatas pada
operasi, radiasi dan kemoterapi, atau kombinasi dari beberapa modalitas terapi ini.
Namun, tentu saja terapi ini masih berupa simptomatis karena masih belum
menyentuh dasar penyebab kanker yaitu adanya perubahan perilaku sel. Terapi
yang lebih mendasar atau imunoterapi masih dalam tahap penelitian. Saat ini
pilihan terapi sangat tergantung pada luasnya penyebaran penyakit secara
anatomis dan senantiasa berubah seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran.
Penentuan pilihan terapi dan prediksi prognosisnya atau untuk
membandingkan tingkat keberhasilan terapi baru harus berdasarkan pada
perluasan penyakit. Secara universal disetujui penentuan luasnya penyebaran
penyakit melalui sistem stadium.
Oleh karena itu, pada laporan kasus kali ini akan dibahas mengenai kanker
serviks dengan gravid baik dari segi prosedur anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis dan juga penatalaksanaannya.

1.2

Tujuan Penulisan

Mengetahui

prosedur

anamnesis,

pemeriksaan

fisik,

pemeriksaan

penunjang, penegakan diagnosis dan penatalaksanaan kasus ca serviks

dengan gravid.
Mengkaji ketepatan penegakan diagnosis dan penatalakasanaan ca serviks
dengangravid.

BAB 2
LAPORAN KASUS

2.1

Identitas Pasien

Nama

: Ny. DT

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 32 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Swasta

Suku

: Kutai

Alamat

: Tenggarong

Tanggal pemeriksaan : 29 Juni 2016


2.2

Anamnesis (Subjektif)

2.2.1

Keluhan Utama
Nyeri perut bagian bawah yang di sertai perdarahan.

2.2.2

Riwayat PenyakitSekarang
Keluhan nyeri perut bagian bawah bersifat hilang timbul yang dirasakan

semakin berat selama 3 bulan terakhir sebelum masuk rumah sakit, sebelumnya
keluhan ini sudah dirasakan sejak 10 bulan terakhir namun masih lebih ringan
terasa. Pasien juga mengeluh keluar darah berwarna merah segar dari jalan lahir
awalnya pasien mengira adalah keluhan haid biasa tetapi perdarahan semakin
sering dan banyak kemudian pasien juga mengeluhkan adanya nyeri kepala dan
muntah. Pasien juga pernah melakukan kuret pada bulan 9 tahun 2015 dari hasil
PA didapatkan diagnosa ca cervix dan setelah didiagnosis stadium IIIB pasien
sempat memeriksakan diri ke poli kandungan dan sudah melakukan kemoterapi 1
kali pada 17 mei 2016.

2.2.3
1
2
3

Riwayat Penyakit Dahulu

Mempunyai riwayat ca.cervix st.IIIB.


Tidak ada riwayat hipertensi
Tidak ada riwayat Diabetes melitus

2.2.4

Riwayat Penyakit Keluarga


1 Hipertensi

: tidak didapatkan riwayat hipertensi pada

keluarga baik pada ayah maupun ibu


2 Diabetes mellitus
: tidak didapatkan riwayat diabetes
mellitus pada keluarga baik pada ayah maupun ibu
3 Tumor kandungan : tidak didapatkan riwayat tumor
kandungan pada
2.2.5

keluarga

Riwayat Haid

Menarche sejak usia 14 tahun, siklus haid teratur 30 hari, lama haid 7 hari
dengan ganti pembalut 2-3 kali dalam sehari.
2.2.6

Riwayat Pernikahan

Menikah pertama kali pada usia 18 tahun, menikah selama 14 tahun dengan suami
yang sekarang.
2.2.7

Riwayat Kontrasepsi

Terakhir menggunakan KB suntik 3 bulan selama + 10 tahun.


2.2.8
1

Riwayat Obstetri

2002/RS/aterm/SC/dr.Sp,OG/perempuan/BB 3300gr/sehat.

2.3

Pemeriksaan Fisik

2.3.1

Status Generalis

Keadaan umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4V5M6

2.3.2

Tanda vital

Tekanan darah

: 110/80mmHg posisi berbaring supine

Frekuensi nadi

: 80 x/menit, reguler, kuat angkat, isi cukup

Pernafasan

: 19 x/menit, reguler

Suhu

: 36,6oC (per axiller)

2.3.4

Status Gizi

Berat badan

: 50kg

Tinggi badan

: 155 cm

BMI

: cukup

2.3.5

Kepala dan Leher

Mata

Kelopak

Konjungtiva

Sklera

Pupil

: Edema (-/-)
: Anemis (-/-)
: Ikterik (-/-)
:Bulat, isokor 3mm/3mm, refleks cahaya(+/+)

Telinga

Pendengaran normal

Hidung

Pernafasan cuping hidung (-)

Mulut

Bibir pucat (-), sianosis (-)

Leher

Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-), JVP normal

Thorax

Paru
Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan dada simetris, retraksi ICS (-/-)

Palpasi

: fremitus raba (D=S), nyeri (-/-)

Perkusi

: Suara ketok sonor (+/+), nyeri ketok (-/-)

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Batas kanan: parasternal line Dextra


Batas kiri: ICS V 3 jari lateral MCL Sinistra

Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, bising jantung (-), isi cukup


Abdomen
Inspeksi

: Flat (datar)

Palpasi

:Soepel, nyeri tekan (-)

Perkusi

:Timpani

Auskultasi :BU (+) normal


Ekstremitas Atas

Akral dingin, edema (-/-)

Ekstremitas Bawah

Akral dingin, edema (-/-), varises (-/-), refleks patella (+/+) normal

2.4 Status Ginekologi


Abdomen :

Inspeksi : Flat (datar)


Palpasi : Fundus uteri 3 jari di bawah pusat, ballotement (-).

Pemeriksaan Dalam Vagina


vulva/vagina normal, portio arah ke posterior, uterus anteflexi, tidak teraba
massa/tumor, fluksus : darah (+) sedikit, lendir (-)

Pemeriksaan Dalam Rektum


tidak teraba massa, sfingter ani menjepit kuat

2.5

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (Tanggal 29 Juni 2016)

Leukosit
Hb
Hct
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
BT
CT

Hasil Pemeriksaan
3.970
11,2
33,4
82,7
29.0
35,1
266.000
2
9

Nilai Normal
4.000-10.000/mm3
11.0 16.0 gr/dl
37.0 54.0 %
80.0 100.0 fL
27.0 34.0
32.0 36.0 g/dl
150.000 450.000/mm3
1 6 menit
9 15 menit

GDS
Ureum
Creatinin
Berat Jenis Urine
Leu
Erit
pH
HbsAg
Anti HIV

89
25,4
0.5
1.020
+2 /ul
20-40 /ul
6,0
Non Reaktif
Non Reaktif

15 42 mg/dl
0.6 1.4 mg/dl

2.6

Diagnosis Kerja

G3P2A0 gravid 13-14 minggu + Karsinoma serviks stage II B


2.7

Lembar Observasi

2.7.1

Observasi
Tanggal 28 juni 2016

28 juni 2016

Menerima pasien dari poli kandungan dengan nyeri perut


bagian bawah disertai nyeri pinggang.
Diagnosis : Karsinoma serviks uteri stadium III B
Tekanan Darah: 130/90 mmHg
Frekuensi Nadi: 80 kali per menit, reguler, isi cukup
Frekuensi nafas: 18 kali per menit, reguler
Suhu:36,60 C (per axiller)
lab darah : Hb: 11,2 gr/dl
L : 3.970

Ht : 33,4%
Trombosit : 266.000

.
29 juni 2016
S : tidak ada keluhan
O : Td : 120/80 mmHg

n:85 x/menit Rr : 20 x/menit t :

36,6C
A : Karsinoma serviks uteri stadium III B
P : observasi KU, TTV
Hasil Lab : Hb 11,0 L: 3.900 Ht : 30 %, trombosit : 266.000

4.7.3

Hasil Pemeriksaan Patologi

Tanggal Terima

: 26 September 2015

Tanggal Jawab: 30 September 2015


Makroskopis :
Diterima segumpal jaringan ukuran : 4 x 4 x 3 cm putih abu-abu rapuh.
Mikroskopis :
Sediaan jaringan terihat proliferasi sel epitelial squamous yang pleomorfik dengan
kromatin inti kasar, anak inti prominent, membentuk sarang-sarang tanpa keratin,
dengan mitosis dapat ditemukan, infiltratif kedalam stroma, sebagian area lalin
dengan sel pleomorfik yang membentuk pola glandulare.
Kesimpulan :
Cervix uteri, biopsi :
Adenosquamous cell carcinoma cervix uteri.

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
A Pengertian Kanker Serviks
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan kanker
pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Di Indonesia, kanker leher
rahim bahkan menduduki peringkat pertama. Kanker serviks yang sudah masuk ke
stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat.
Kanker serviks uterus adalah keganasan yang paling sering ditemukan dikalangan
wanita. Penyakit ini merupakan proses perubahan dari suatu epithelium yang normal
sampai menjadi Ca invasif yang memberikan gejala dan merupakan proses yang perlahanlahan dan mengambil waktu bertahun-tahun.
Serviks atau leher rahim/mulut rahim merupakan bagian ujung bawah rahim yang
menonjol ke liang sanggama (vagina). Kanker serviks berkembang secara bertahap, tetapi
progresif. Proses terjadinya kanker ini dimulai dengan sel yang mengalami mutasi lalu
berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia.
Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat, dan akhirnya menjadi
karsinoma in-situ (KIS), kemudian berkembang lagi menjadi karsinoma invasif. Tingkat
displasia dan KIS dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker. Dari displasia menjadi
karsinoma in-situ diperlukan waktu 1-7 tahun, sedangkan karsinoma in-situ menjadi
karsinoma invasif berkisar 3-20 tahun.
Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik,
yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki
tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.

B Klasifikasi Kanker Serviks


Ada beberapa klasifikasi tapi yang paling banyak penganutnya adalah yang dibuat
oleh IFGO (International Federation of Ginecology and Obstetrics) yaitu sebagai berikut :
Stage 0
: carcinoma in situ = carcinoma intraepithelial = carcinoma preinvasive.
Stage 1
: Karsinoma terbatas pada serviks.
Stage 1 a
: Disertai invasi dari stoma (preclinical-Ca) yang hanya
diketahui secara histologi.
Stage 1 b
: Semua kasus-kasus lainnya dari stage 1.
Stage 2
: Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai ke panggul, telah
Stage 3
Stage 4

mengenai dinding vagina tapi tidak melebihi 2/3 bagian proximal.


: Sudah sampai dinding panggung dan sepertiga bagian bawah vagina
: Sudah mengenai organ-organ yang lain

C Gejala Klinis Kanker Serviks


Tidak khas pada stadium dini. Sering hanya sebagai fluos dengan sedikit darah,
pendarahan pastkoital atau perdarahan pervagina yang disangka sebagai perpanjangan
waktu haid. Pada stadium lanjut baru terlihat tanda-tanda yang lebih khas, baik berupa
perdarahan yang hebat (terutama dalam bentuk eksofitik), fluor albus yang berbau dan rasa
sakit yang sangat hebat.
Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun,
kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1

Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini
makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan

Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi
perdarahan yang abnormal.

Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.

Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat
bercampur dengan darah.

Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.

Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul.
Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis.
Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.

Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki,
timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum),
terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat
metastasis jauh.

D Faktor Penyebab dan Faktor Resiko Kanker Serviks


1 Faktor Penyebab
HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak. Sebagai
tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai penyebab juga. Wanita perokok

mengandung konsentrat nikotin dan kotinin didalam serviks mereka yang merusak sel.
Laki-laki perokok juga terdapat konsetrat bahan ini pada sekret genitalnya, dan dapat
memenuhi servik selama intercourse.Defisiensi beberapa nutrisional dapat juga
menyebabkan servikal displasia.National Cancer Institute merekomendasikan bahwa
wanita sebaiknya mengkonsumsi lima kali buah-buahan segar dan sayuran setiap hari.
Jika anda tidak dapat melakukan ini, pertimbangkan konsumsi multivitamin dengan
antioksidan seperti vitamin E atau beta karoten setiap hari.
2

Faktor Resiko
a Pola hubungan seksual
Studi epidemiologi mengungkapkan bahwa resiko terjangkit kanker serviks
meningkat seiring meningkatnya jumlah pasangan.aktifitas seksual yang dimulai
pada usia dini, yaitu kurang dari 20 tahun,juga dapat dijadkan sebagai faktor resiko
terjadinya kanker serviks. Hal ini diuga ada hubungannya dengan belum matangnya
daerah transformasi pada usia tesebut bila sering terekspos. Frekuensi hubungna
seksual juga berpengaruh pada lebih tingginya resiko pada usia tersebut, tetapi tidak
pada kelompok usia lebih tua. (Schiffman,1996).
b

Paritas
Kanker serviks sering dijumpai pada wanita yang sering melahirkan.
Semakin sering melahirkan,maka semakin besar resiko terjangkit kanker serviks.
Penelitian di Amerika Latin menunjukkan hubungan antara resiko dengan
multiparitas setelah dikontrol dengan infeksi HPV.

Merokok
Beberapa penelitian menemukan hubungan yang kuat antara merokok
dengan kanker serviks, bahkan setelah dikontrol dengan variabel konfounding
seperti pola hubungan seksual. Penemuan lain memperlihatkan ditemukannya
nikotin pada cairan serviks wanita perokok bahan ini bersifat sebagai kokassnoen
dan bersama-sama dengan karsinogen yang telah ada selanjutnya mendorong
pertumbuhan ke arah kanker.

Kontrasepsi oral
Penelitian secara perspektif yang dilakukan oleh Vessey dkk tahun 1983
(Schiffman,1996) mendapatkan bahwa peningkatan insiden kanker serviks
dipengaruhi oleh lama pemakaian kontrasepsi oral. Penelitian tersebut juga
mendapatkan bahwa semua kejadian kanker serviks invasif terdapat pada pengguna
kontrasepsi oral. Penelitian lain mendapatkan bahwa insiden kanker setelah 10 tahun

pemakaian 4 kali lebih tinggi daripada bukan pengguna kontrasepsi oral. Namun
penelitian serupa yang dilakukan oleh peritz dkk menyimpulkan bahwa aktifitas
seksual merupakan confounding yang erat kaitannya dengan hal tersebut.
WHO meneliti berbagai peneltian yang menghubungkan penggunaan
kontrasepsi oral dengan resiko terjadinya kanker serviks, menyimpulkan bahwa sulit
untuk menginterpretasikan hubungan tersebut mengingat bahwa lama penggunaan
kontrasepsi oral berinteraksi dengan factor lain khususnya pola kebiasaan seksual
dalam mempengaruhi resiko kanker serviks. Selain itu, adanya kemungkinan bahwa
wanita yang menggunakan kontrasepsi oral lain lebih sering melakukan pemeriksaan
smear serviks,sehingga displasia dan karsinoma in situ nampak lebih frekuen pada
kelompok tersebut. Diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan asosiasi
antara lama penggunaan kontrasepsi oral dengan resiko kanker serviks karena
adanya bias dan faktor confounding.
e

Defisiensi gizi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat gizi tertentu seperti
betakaroten dan vitamin A serta asam folat, berhubungan dengan peningkatan resiko
terhadap displasia ringan dan sedang. Namun sampai saat ini tidak ada indikasi
bahwa perbaikan defisensi gizi tersebut akan menurunkan resiko.

Sosial ekonomi
Studi secara deskrptif maupun analitik menunjukkan hubungan yang kuat
antara kejadian kanker serviks dengan tingkat social ekonomi yang rendah. Hal ini
juga diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih prevalen
pada wanita dengan tingkat pendidkan dan pendapatan rendah. Faktor defisiensi
nutrisi, multilaritas dan kebersihan genitalia juga diduga berhubungan dengan
masalah tersebut.

Pasangan seksual
Peranan pasangan seksual dari penderita kanker serviks mulai menjadi
bahan yang menarik untuk diteliti. Penggunaan kondom yang frekuen ternyata
memberi resiko yang rendah terhadap terjadinya kanker serviks. Rendahnya
kebersihan genitalia yang dikaitkan dengan sirkumsisi juga menjadi pembahasan
panjang terhadap kejadian kanker serviks. Jumlah pasangan ganda selain istri juga
merupakan factor resiko yang lain.

E Epidemiologi Kanker Serviks


1 Distribusi Menurut Umur

ringan, sedang, displasia berat dan akhirnya menjadi Karsinoma In-Situ (KIS),
kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia Proses terjadinya
kanker leher rahim dimulai dari sel yang mengalami mutasi lalu berkembang menjadi
sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dimulai dari
displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkatan pra-kanker. Klasifikasi
terbaru menggunakan nama Neoplasma Intraepitel Serviks (NIS). NIS 1 untuk displasia
ringan, NIS 2 untuk displasia sedang dan NIS 3 untuk displasia berat dan karsinoma insitu.
Menurut Snyder (1976), NIS umumnya ditemukan pada usia muda setelah
hubungan seks pertama terjadi. Selang waktu antara hubungan seks pertama dengan
ditemukan NIS adalah 2-33 tahun. Untuk jarak hubungan seks pertama dengan NIS 1
selang waktu rata-rata adalah 12,2 tahun, NIS 1 dengan NIS 2 rata-rata13,9 tahun dan
NIS 2 samppai NIS 3 rata-rata 11,7 tahun. Sedanhkan menurut Cuppleson LW dan
Brown B (1975) menyebutkan bahwa NIS akan berkembang sesuai dengan
pertambahan usia, sehingga NIS pada usia lebih dari 50 tahun sudah sedikit dan kanker
infiltratif meningkat 2 kali.
Dari laporan FIGO (Internasional Federation Of Gynecology and Obstetrics)
tahun 1988, kelompok umur 30-39 tahun dan kelompok umur 60-69 tahun terlihat sama
banyaknya. Secara umum, stadium IA lebih sering ditemukan pada kelompok umur 3039 tahun, sedangkan untuk stadium IB dan II sering ditemukan pada kelompok umur
40-49 tahun, stadium III dan IV sering ditemukan pada kelompok umur 60-69 tahun.
Insiden kanker leher rahim (Age Standarized Cancer Incidence Rate / ASR)
penduduk Kota Semarang, tercatat pada tahun 1980-1981 menunjukkan ASR 27,9 dan
data tahun 1985-1989 ASR 24,4. Dibandingakan dengan berbagai daerah diluar negeri
angka ini sedikit berbeda, seperti di Thailand (Chiang Mai) dilaporkan ASR tahun
1983-1987 adalah 33,2 dan di Korea Selatan 13,2 tahun 1982-1983. India menunjukkan
angka lebih tinggi yaitu 41,7 tahun 1982.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta tahun 1997-1998
ditmukan bahwa stadium IB-IIB sering terdapat pada kelompok umur 35-44 tahun,
sedangkan stadium IIIB sering didapatkan pada kelompok umur 45-54 tahun. Penelitian
yang dilakukan oleh Litaay, dkk dibeberapa Rumah Sakit di Ujung Pandang (19941999) ditemukan bahwa penderita kanker rahim yang terbanyak berada pada kelompok
umur 46-50 tahun yaitu 17,4%.
2

Distribusi Menurut Tempat

Frekwensi kanker rahim terbanyak dijumpai pada negara-negara berkembang


seperti Indonesia, India, Bangladesh, Thailand, Vietnam dan Filipina. Di Amerika Latin
dan Afrika Selatan frekwensi kanker rahim juga merupakan penyakit keganasan
terbanyak dari semua penyakit keganasan yang ada lainnya.
Penelitian yang dilakukan oleh American Cancer Society (2000) membuktikan
bahwa kanker rahim lebih sering terjadi pada kelompok wanita minoritas seperti
imigran Vietnam, Afrika dan wanita India. Hal ini berkaitan dengan anggapan mereka
bahwa wanita yang tidak melakukan gonta-ganti pasangan (promikuitas) tidak perlu
melakukan Pap smear.
Menurut perkiraan Departemen Kesehatan tahun 1988-1994 insidens kanker
leher rahim mencapai 100/100.000 penduduk pertahun, sedangkan proporsi kanker
leher rahim dari semua jenis kanker dibeberapa bagian patologi anatomi pada tahun
2000, seperti Surabaya ditemukan sebesar 24,3%, Yogyakarta 25,7%, Bandung sebesar
25,1%, Surakarta sebesar 28,2% dan Medan sebesar 16,9%.
F Patologi Kanker Serviks
Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi ektoserviks (portio)
dan endoserviks kanalis serviks yang disebut scuamos columnar junction (SCJ). Pada
wanita muda SCJ terletak diluar OUE, sedang pada wanita diatas 35 tahun, didalam
kanalis serviks.
Tumor dapat tumbuh :
1 Eksofitik. Mulai dari SCJ kearah

lumen vagina sebagai massa proliferatif yang

mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.


2 Endofitik. Mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan cenderung

infitratif

membentuk ulkus
3

Ulseratif. Mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan pelvis dengan
melibatkan fornices vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal secara alami
mengalami metaplasi/erosi akibat saling desak kedua jenis epitel yang melapisinya.
Dengan masuknya mutagen, portio yang erosif (metaplasia skuamos) yang semula faali
berubah menjadi patologik (diplatik-diskariotik) melalui tingkatan NIS-I, II, III dan
KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasive. Sekali menjadi mikroinvasive, proses
keganasan akan berjalan terus.

Gambar 1. Lokasi Kanker Leher Rahim

Gambar 2. Progresivitas Kanker Serviks

Gambar 3. Perbandingan Gambaran Serviks yang Normal dan Abnormal


G Penyebaran Kanker Serviks
Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :
a) ke arah fornik dan dinding vagina, b) ke arah korpus uterus, dan c) ke arah parametrium
dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih.

Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel tumor
dapat menyebar ke kelenjar iliaka luar dan kelenjar iliak dalam (hipogastrika). Penyebaran
melalui pembuluh darah (bloodborne metastasis) tidak lazim. Karsinoma serviks
umumnya terbatas pada daerah panggul saja. Tergantung dari kondisi immunologik tubuh
penderita KIS akan berkembang menjadi mikro invasif dengan menembus membrana
basalis dengan kedalaman invasi <1mm dan sel tumor masih belum terlihat dalam
pembuluh limfa atau darah. Jika sel tumor sudah terdapat >1mm dari membrana basalis,
atau <1mm tetapi sudah tampak dalam pembuluh limfa atau darah, maka prosesnya sudah
invasif. Tumor mungkin sudah menginfiltrasi stroma serviks, akan tetapi secara klinis
belum tampak sebagai karsinoma. Tumor yang demikian disebut sebagai ganas praklinik
(tingkat IB-occult). Sesudah tumor menjadi invasif, penyebaran secara limfogen melalui
kelenjar limfa regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju fornices vagina,
korpus uterus, rektum, dan kandung kemih, yang pada tingkat akhir (terminal stage) dapat
menimbulkan fistula rektum atau kandung kemih. Penyebaran limfogen ke parametrium
akan menuju kelenjar limfa regional melalui ligamentum latum, kelenjar-kelenjar iliak,
obturator, hipogastrika, prasakral, praaorta, dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut
melalui trunkus limfatikus di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru-paru, hati ,
ginjal, tulang dan otak.
Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan karena perdarahanperdarahan yang eksesif dan gagal ginjal menahun akibat uremia oleh karena obstruksi
ureter di tempat ureter masuk ke dalam kandung kencing.
Penyebaran karsinoma serviks terjadi melalui 3 jalan yaitu perkontinuitatum ke
dalam vagina, septum rektovaginal dan dasar kandung kemih. Penyebaran secara limfogen
terjadi terutama paraservikal dalam parametrium dan stasiun-stasiun kelenjar di pelvis
minor, baru kemudian mengenai kelenjar para aortae terkena dan baru terjadi penyebaran
hematogen (hepar, tulang).
Secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah:
1 fornices dan dinding vagina
2 korpus uteri
3 parametrium dan dalam tingkatan lebih lanjut menginfiltrasi septum rektovagina dan
kandung kemih.
Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar-kelenjar limfe
regional melalui ligamentum latum, kelenjar iliaka, obturator, hipogastrika, parasakral,
paraaorta, dan seterusnya ke trunkus limfatik di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai
paru, hati, ginjal, tulang serta otak.

H Diagnosis Kanker Serviks


Diagnosis kanker serviks tidak lah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut. Yang
menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks,
dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadap lesi prakanker serviks.
Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertai dengan kemampuan dalam
penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan angka kematian akibat kanker serviks.
1 Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbau busuk
2

akibat infeksi dan nekrosis jaringan.


Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahan timbul
akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin sering terjadi diluar

3
4

senggama.
Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.
Tiga komponen utama yang saling mendukung dalam menegakkan diagnosa

kanker serviks adalah:

Sitologi.
Bila dilakukan dengan baik ketelitian melebihi 90%. Tes Pap sangat bermanfaat untuk
mendeteksi lesi secara dini. Sediaan sitologi harus mengandung komponen ektoserviks
dan endoserviks.

Gambar 4. Pemeriksaan Pap Smear

Gambar 5. Pemeriksaan Pap Smear untuk Deteksi Dini Kanker Leher Rahim
2

Kolposkopi.

Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkop, yaitu suatu alat


seperti mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya di dalamnya. Pemeriksaan
kolposkopi merupakan pemeriksaan standar bila ditemukan pap smear yang abnormal.
Pemeriksaan dengan kolposkopi, merupakan pemeriksaan dengan pembesaran, melihat
kelainan epitel serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Pemeriksaan
kolposkopi tidak hanya terbatas pada serviks, tetapi pemeriksaan meliputi vulva dan
vagina. Tujuan pemeriksaan kolposkopi bukan untuk membuat diagnosa histologik,
tetapi untuk menentukan kapan dan dimana biopsi harus dilakukan.

Gambar 6. Colposcopy Untuk Mengambil Jaringan yang Abnormal


3

Biopsi
Biopsi dilakukan di daerah abnormal di bagian yang telah dilakukan kolposkopi. Jika
kanalis servikalis sulit dinilai, sampel diambil secara konisasi.

Gambar 7. Biopsi Kerucut pada Serviks (Leher Rahim)


I

Pengobatan untuk Kanker Serviks


Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran
tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk
hamil lagi.
1

Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar),
seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui
LEEP. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker
bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear
setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita
tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pada
kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya
(prosedur ini disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita
muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.

Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang
masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi
untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada 2 macam
radioterapi, yaitu :

Radiasi

eksternal

sinar

berasal

dari

sebuah

mesin

besar

Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan

sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.


Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan
langsung

ke

dalam

serviks.

Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit.
Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah :

Iritasi rektum dan vagina


Kerusakan kandung kemih dan rektum
Ovarium berhenti berfungsi.

Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk
menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh selsel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui
mulut. Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan
diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga
pemulihan, begitu seterusnya.

Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan
tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah
menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon,
yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.

Pencegahan dan Penanganan Kanker Serviks


Pengendalian kinder serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier Strategi
kesehatan masyarakat dalam mencegah kematian karena kanker serviks antara lain adalah
dengan pencegahan primer dan pencegahan sekunder.
1

Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan oleh setiap
orang untuk menghindari diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya

kanker serviks. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menekankan perilaku hdup sehat
untuk mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti kawin muda, pasangan
seksual ganda dan lain-lain. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan dengan
imunisasi HPV pada kelompok masyarakat.
2

Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi dini dan
skrining kanker serviks yang bertujuan untuk menemukan kasus-kasus kanker serviks
secara dini sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Perkembangan
kanker serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif ke invasive memerlukan
waktu sekitar 10 tahun atau lebih. Pemeriksaan sitologi merupakan metode sederhana
dan sensitive untuk mendeteksi karsinoma pra invasive. Bila diobati dengan baik,
karsinoma pra invasive mempunyai tingkat penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa
kasus pada fase invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%. Program
skrining dengan pemeriksaan sitologi dikenal dengan Pap smear test dan telah
dilakukan di Negara-negara maju. Pencegahan dengan pap smear terbukti mampu
menurunkan tingkat kematian akibat kanker serviks 50-60% dalam kurun waktu 20
tahun (WHO,1986).
Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker

serviks, yaitu :
1

Pencegahan Tingkat Pertama


a Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya :
1 Kampanye kesadaran masyarakat
2 Program pendidikan kesehatan masyarakat
3 Promosi kesehatan
b Pencegahan khusus, misalnya :
1 Interfensi sumber keterpaparan
2 Kemopreventif

Pencegahan Tingkat Kedua


a Diagnosis dini, misalnya screening
b Pengobatan, misalnya :
1 Kemoterapi
2 Bedah

Pencegahan Tingkat Ketiga


Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker
umumnya ialah secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan radioterapi dan

operasi radikal kurang lebih sama, meskipun sebenarnya sukar untuk dibandingkan
karena umumnya yang dioperasi penderita yang masih muda dan umumnya baik.
Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya. Anda
dapat melakukan banyak tindakan pencegahan sebelum terinfeksi HPV dan akhirnya
menderita kanker serviks. Beberapa cara praktis yang dapat Anda lakukan dalam
kehidupan sehari-hari antara lain :
1

Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk merangsang
sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena, vitamin A, C, dan
E, dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim.

Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat


meningkatkan risiko terkena kanker serviks.

Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun.

Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan
menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.

Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.

Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan
sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.

Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap smear.
Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.

Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV. (16,18)
spesifik.

Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini dapat
dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk
membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.

Manajemen Selama Kehamilan Pada Karsinoma serviks Uteri

Tidak ada perbedaan dalam kelangsungan hidup antara wanita hamil dan tidak hamil
dengan kanker serviks ketika dicocokan berdasarkan usia,staging dan tahun diagnosis.
Seperti wanita hamil, stadium klinis di diagnosis adalah faktor prognostik paling penting
untuk kanker serviks selama kehamilan. Secara keseluruhan kelangsungan hidup sedikit
lebih baik untuk kanker serviks stadium 1 pada kehamilan karena peningkatan proporsi
pada pasien.

Kanker Serviks Uteri Dalam Kehamilan


wanita dengan kanker serviks stadium lanjut didiagnosis sebelum viabilitas janin yang
ditawarkan kemoradiasi utama. Aborsi spontan dari janin cenderung mengikuti seluruh
panggul terapi radiasi. Jika kanker didiagnosis setelah viabilitas janin tercapai dan penundaan
sampai kematangan paru janin, maka sesar dilakukan. Sebuah sayatan sesar meminimalkan
risiko memotong tumor di segmen bawah rahim, yang dapat menyebabkan kehilangan darah
yang serius. Kemoradiasi diberikan setelah involusi uterus. Untuk pasien dengan penyakit
lanjut dan keterlambatan pengobatan, kehamilan dapat menganggu prognosis. Wanita yang
memilih untuk menunda pengobatan, untuk memberikan manfaat terukur ke janin mereka,
harus menerima risiko terdefinisi perkembangan penyakit. (williams gynecology).
Pasien dengan stadium II-VI kanker serviks harus diobati dengan radioterapi. Jika
janin yang layak, dapat dilakukan melalui kelahiran sesar, dan terapi dimulai pasca operasi.
Jika kehamilan di trimester pertama, terapi radiasi eksternal dapat dimulai dengan harapan
bahwa aborsi spontan akan terjadi sebelum pengiriman 4.000 cGy. Pada trimester kedua,
penundaan terapi dapat dihibur untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup janin.
Untuk pasien dengan penyakit lanjut, ada bukti bahwa kehamilan merusak prognosis.
Diagnosis kanker pada periode postpartum dikaitkan dengan stadium klinis yang lebih
maju dan penurunan yang sesuai pada survival. (Berek & Novak gynecology).
Kanker Stadium 1 Pada Kehamilan
wanita dengan microinvasive sel skuamosa karsinoma serviks berukuran 3 mm atau
kurang dan tidak mengandung LVSI dapat melahirkan secara normal dan dievaluasi ulang 6
minggu setelah melahirkan. Selain itu, bagi mereka dengan stadium IA atau IB, studi

menemukan risiko peningkatan pada ibu, jika pengobatan sengaja ditunda untuk
mengoptimalkan kematangan janin terlepas dari trimester di mana kanker didiagnosis.
Mengingat hasil, penundaan perawatan yang direncanakan umumnya diterima bagi
perempuan yang usia kehamilan 20 minggu atau lebih, didiagnosis dengan penyakit stadium I
dan yang ingin melanjutkan kehamilan mereka. Namun, pasien mungkin dapat menunda dari
usia kehamilan sebelumnya jika dia ingin.
Diagnosa
Pap smear dianjurkan untuk semua pasien hamil pada kunjungan prenatal awal. Selain
itu, secara klinis lesi mencurigakan harus langsung dibiopsi. Jika hasil tes pap smear
mengungkapkan hasil atau dicurigai keganasan maka kolposkopi dilakukan dan biopsi
diperoleh. Namun, kuretase endoserviks dikecualikan.
Jika pengujian pap smear menunjukan sel-sel ganas dan biopsi kolposkopi gagal
untuk mongkonfirmasi keganasan, maka konisiasi dianjurkan hanya selama trimester kedua
dan hanya pada pasien dengan temuan kolposkopi tidak memadai dan bukti sitologi kuat ke
arah kanker invasif. Konisiasi ditangguhkan pada trimester pertama, karena operasi ini
dikaitkan dengan tingkat aborsi dari 30%, serta hemoragik dan komplikasi infeksi di bagian
kehamilan.
Diagnosis sering tertunda selama kehamilan karena perdarahan dikaitkan dengan
komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan. Karena konisasi subyek ibu dan janin
komplikasi, itu harus dilakukan hanya pada trimester kedua dan hanya pada pasien dengan
temuan kolposkopi konsisten dengan kanker, kanker serviks microinvasive biopsi, atau bukti
sitologi kuat kanker invasif. Pemeriksaan kolposkopi tidak memadai mungkin ditemui selama
kehamilan pada pasien yang telah menjalani terapi ablatif sebelumnya.
Pasien dengan karsinoma serviks jelas dapat menjalani biopsi serviks dan stadium
klinis mirip dengan pasien tidak hamil setelah konisasi, tampaknya tidak ada salahnya
menunda pengobatan definitif sampai kematangan janin dicapai pada pasien dengan stadium
IA kanker serviks. Tetapi kemungkinan kanker harus diingat. Diagnosis dan manajemen dari
kanker serviks selama kehamilan menyajikan pasien dan dokter dengan banyak tantangan.
Kehamilan tampaknya tidak mempengaruhi prognosis untuk wanita dengan kanker serviks

dan janin tidak terpengaruh oleh penyakit ibu, tapi mungkin menderita morbiditas dari
pengobatan (misalnya kelahiran prematur).
Terapi karsinoma Serviks Uteri Selama Kehamilan
Terapi karsinoma selama kehamilan dipengaruhi oleh tahap penyakit, saat kehamilan
kanker didiagnosis, dan keyakinan dan keinginan pasien dalam hal memulai terapi itu dapat
mengakhiri kehamilan yang bertentangan dengan menunda terapi sampai janin viabilitas
dicapai.
Jika karsinoma didiagnosis pada trimester pertama atau awal trimester kedua
(sebelum 20 minggu), pengobatan dapat dilakukan segera karena kekhawatiran bahwa
penundaan dapat menyebabkan perkembangan tumor atau menyebar. Namun, Duggan dan
rekan memiliki keterlambatan 2 sampai 7 bulan di delapan pasien hamil dengan penyakit
stadium I dan menunjukkan tidak ada efek samping dari penundaan. Jika pasien memiliki
tumor dioperasi (tahap IB atau awal IIA), maka pengobatan yang efektif terdiri dari
histerektomi radikal dan diseksi (kelas III). Prosedur ini biasanya dapat dilakukan tanpa
kesulitan pada wanita hamil.
Peningkatan motilitas uterus dan edema dari jaringan panggul membantu untuk
menyederhanakan prosedur untuk ahli bedah yang berpengalaman, namun kehamilan tidak
meningkatkan risiko kehilangan darah. Untuk tumor stadium tinggi, terapi dimulai dengan
radiasi sinar eksternal (teleterapi), dan biasanya dalam 4 sampai 6 minggu, ini mengarah ke
aborsi spontan. Dosis terapi eksternal ditentukan bervariasi tergantung pada tahap tumor,
tetapi kira-kira 40 sampai 50 Gy diberikan.
Meskipun hasil dari serangkaian diterbitkan tidak tersedia, maka akan muncul lebih
untuk menambah radiasi dengan cisplatin mingguan karena kehamilan dalam hal ini akan
dihentikan. Berikut aborsi, involutes uterus, dan implan (brachytherapy) ditempatkan. Jika
kehamilan tidak spontan membatalkan, dilatasi dan kuretase, pengiriman prostaglandindibantu, atau, jarang, histerekotomi mungkin diperlukan untuk mengosongkan rahim sebelum
brachytherapy. Atau, jika tumor awal adalah kecil dan telah benar-benar menurun,
histerektomi

ekstra

fasia

atau

diubah

histerektomi

radikal

dapat

dilakukan.

Untuk pasien luar 20 minggu kehamilan, terapi sering ditunda sampai viabilitas janin.
Kesehatan dan kematangan janin ditentukan oleh studi USG yang tepat dan analisis
cairan ketuban untuk memastikan kematangan paru janin. Pengiriman biasanya dilakukan
dengan operasi caesar, dan setelah ini, terapi selesai dengan operasi atau radiasi dengan

pertimbangan biasa stadium tumor dan ukuran. Secara keseluruhan, hasil pengobatan pada
pasien hamil adalah sama dengan yang pada pasien tidak hamil, staging untuk staging, barubaru ini dikonfirmasi oleh van der Vange dan rekan kerja.
Pembaca harus menyadari bahwa banyak penelitian yang diterbitkan berurusan
dengan karsinoma serviks pada kehamilan termasuk kasus ditangani selama postpartum 1
tahun, yang mengasumsikan karsinoma yang hadir selama kehamilan. Hacker dan rekan
diringkas hasil 1249 kasus yang dilaporkan dalam berbagai seri dalam literatur. Secara
keseluruhan, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun dari 49,2% tercatat untuk pasien hamil
dibandingkan dengan 51% untuk pasien tidak hamil dirawat selama periode yang sama.
statistik mereka termasuk tidak hanya pasien yang diobati selama kehamilan, tetapi juga
mereka yang dirawat hingga 6 bulan setelah melahirkan, dan kelompok postpartum memiliki
statistik kelangsungan hidup miskin. Survival yang paling erat kaitannya dengan staging,
seperti yang diharapkan, dan orang didiagnosis selama trimester pertama memiliki prognosis
yang lebih baik daripada mereka yang didiagnosis selama trimester ketiga. (comprehensive
gynecology).
Wanita pada usia kehamilan lebih dekat dengan kelangsungan hidup janin atau yang
tidak mau kehilangan bayi dapat memutuskan untuk melanjutkan kehamilan setelah diskusi
mengenai risiko ibu. Pengiriman pada pasien dengan dysplasia serviks dan karsinoma in situ
mungkin melalui rute sampel pap smear pada vagina. Pasien dengan kanker serviks invasif
harus disampaikan dengan operasi caesar untuk menghindari potensi perdarahan serviks dan
penyebaran sel tumor saat melahirkan. Sebuah histerektomi radikal sesar dengan
lymphadenectomy terapi adalah prosedur pilihan untuk pasien dengan stadium penyakit IAIIA

secepat

kematangan

janin

yang

memadai.

Seperti pada pasien tidak hamil, radiasi dengan kemoterapi bersamaan digunakan untuk
pengobatan penyakit yang lebih maju.
Pada trimester pertama, radiasi dapat dilakukan dengan harapan aborsi spontan. Pada
trimester kedua, gangguan kehamilan dengan histerotomi sebelum terapi radiasi lebih disukai,
meskipun beberapa dokter menganjurkan melanjutkan dengan pengobatan radiasi langsung,
lagi menunggu evakuasi spontan rahim. Dalam kasus yang dipilih dengan penyakit lokal
lanjut di mana pasien menurun terminasi kehamilan, pertimbangan dapat diberikan untuk
kemoterapi neoadjuvant dalam upaya untuk mencegah perkembangan penyakit selama waktu
yang dibutuhkan untuk mencapai kematangan janin. Pengiriman harus dengan operasi caesar.
Sebuah lymphadenectomy dapat dilakukan pada waktu yang sama. Postpartum pasien harus
menerima pedoman kemoradiasi berikut didirikan untuk pasien tidak hamil.

BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan
1 Kanker serviks uterus pada kehamilan adalah keganasan yang paling sering
ditemukan dikalangan wanita. Penyakit ini merupakan proses perubahan dari suatu
epithelium yang normal sampai menjadi Ca invasive yang memberikan gejala dan
merupakan proses yang perlahan-lahan dan mengambil waktu bertahun-tahun. Ada
beberapa klasifikasi tapi yang paling banyak penganutnya adalah yang dibuat oleh
IFGO (International Federation of Ginekologi and Obstetrics), yaitu Stage 0, 1, 1 a , 1
b, 2, 3 , dan 4. Gejala klinis kanker serviks pada stadium lanjut baru terlihat tandatanda yang lebih khas, baik berupa perdarahan yang hebat (terutama dalam bentuk
2

eksofitik), fluor albus yang berbau dan rasa sakit yang sangat hebat.
HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak kanker serviks.
Sebagai tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai penyebab juga. Adapun
faktor resikonya, yaitu : Pola hubungan seksual, Paritas, Merokok, Kontrasepsi oral,

Defisiensi gizi, Sosial ekonomi, dan Pasangan seksual.


Dari laporan FIGO (Internasional Federation Of Gynecology and Obstetrics) tahun
1988, kelompok umur 30-39 tahun dan kelompok umur 60-69 tahun terlihat sama
banyaknya. Secara umum, stadium IA lebih sering ditemukan pada kelompok umur
30-39 tahun, sedangkan untuk stadium IB dan II sering ditemukan pada kelompok
umur 40-49 tahun, stadium III dan IV sering ditemukan pada kelompok umur 60-69

tahun. Frekwensi kanker rahim terbanyak dijumpai pada negara-negara berkembang


seperti Indonesia, India, Bangladesh, Thailand, Vietnam dan Filipina. Di Amerika
Latin dan Afrika Selatan frekwensi kanker rahim juga merupakan penyakit keganasan
4

terbanyak dari semua penyakit keganasan yang ada lainnya.


Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi ektoserviks

(portio)

dan endoserviks kanalis serviks yang disebut skuamos kolumnar junction (SCJ). Pada
wanita muda SCJ terletak diluar OUE, sedang pada wanita diatas 35 tahun, di dalam
kanalis serviks. Penyebaran kanker serviks pada umumnya secara limfogen melalui
pembuluh getah bening menuju 3 arah : a) ke arah fornices dan dinding vagina, b) ke
arah korpus uterus, dan c) ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut
menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih. Diagnosis kanker serviks
tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut. Yang menjadi masalah adalah
bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks, dilakukan dengan
5

deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadap lesi prakanker serviks.


Pengobatan kanker serviks yang dapat dilakukan, yiatu : Pembedahan, Terapi
penyinaran, Kemoterapi, dan Terapi biologis. Sedangkan beberapa cara praktis yang
dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah kanker serviks, yaitu :
miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk
merangsang sistem kekebalan tubuh, hindari merokok, hindari seks sebelum menikah
atau di usia sangat muda atau belasan tahun, pemberian vaksin atau vaksinasi HPV
untuk mencegah terinfeksi HPV, melakukan pembersihan organ intim atau dikenal
dengan istilah vagina toilet, hindari berhubungan seks dengan banyak partner, secara
rutin menjalani tes Pap smear secara teratur, dan sebagainya.

B Saran
Berhati-hatilah dengan penyakit kanker serviks, lebih baik mencegah dari pada
mengobati.Ternyata tidak mudah menjadi seorang wanita, tapi bukan berarti sulit untuk
menjalaninya. Penyakit bisa kita hindari asal kita selalu berusaha hidup sehat dan teratur.
Dukungan dari keluarga juga sangat penting untuk kelangsungan hidup pasien ke
depannya dalam pengobatan dan terapi pada kanker serviks uteri ini sendiri dan semangat
secara mental serta keagamaan dapat memberikan kekuatan secara batin terhadap pasien
untuk menjalani kehidupan selanjutnya.

BAB 4
PEMBAHASAN
1

Karsinoma serviks Uteri


1
Diagnosis
Diagnosis pada kasus ini adalah Karsinoma Cervix. Dasar diagnosis
pada kasus ini adalah sebagai berikut;1) keluhan pasien berupa nyeri perut
bawah hingga ke pinggang dan keluhan keluarnya darah segar pada jalan
lahir di luar siklus haid; 2) terdapatnya keluhan mual dan muntah disertai
pusing serta pasien tidak teratur saat haid karena perdarahan yang lebih
sering datang saat beberapa bulan terakhir.

Dari hasil pemeriksaan patologi anatomi yang menunjukkan adanya


adenomasquamous cell carcinoma cervix uteri. Selain itu, secara klinis lesi
mencurigakan harus langsung dibiopsi. Jika hasil tes pap smear
mengungkapkan hasil atau dicurigai keganasan maka kolposkopi dilakukan
dan biopsi diperoleh untuk penanganan dan penatalaksanaan lanjutan pada
2

pasien menurut Williams gynecology.


Penatalaksanaan
Pada pasien ini penatalaksanaan yang dipilih yakni tindakan
kemoterapi sambil di observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital.
Prognosis
Prognosis pada kasus ini tergantung respon tubuh terhadap kemoterapi
dan stadium.

DAFTAR PUSTAKA
1

World Health Organization. International Histological Classification Of tumours 2nd ed.


Histological typing of female genital tract tumours. Geneva, 1994: 41-54.

Benedet JL, Bender H, jones III H, ngan HYS, Pecorelli S. FIGO stagingclassification
and clinical practice guidlines in the management of gynecologic cancer. Int J Gynecol
Obstet 2000; 70(2):209-62.

Krivak TC. Cervical and vaginal cancer. In : Novaks Gynecology 13th ed. Philadelphia,
USA: lippincot William and Wilkin, 2002.p.1199-211.

Alfian Elwin Zai. 2009. Skripsi : Karakteristik Penderita Kanker leher Rahim Yang
Dirawat Inap Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2003-2007.
FKM
Universitas
Sumatera
Utara
Medan.
(http://www.researchgate.net/publication/42356226_Karakteristik_Penderita_Kanker_leh
er_Rahim_Yang_Dirawat_Inap_Di_Rumah_Sakit_Umum_Pusat_Haji_Adam_Malik_Me
dan). Diakses Tanggal 15 Mei 2016.

Alfian Elwin Zai. 2009. Skripsi : Karakteristik Penderita Kanker leher Rahim Yang
Dirawat Inap Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2003-2007.
FKM
Universitas
Sumatera
Utara
Medan.
(http://www.researchgate.net/publication/42356226_Karakteristik_Penderita_Kanker_leh
er_Rahim_Yang_Dirawat_Inap_Di_Rumah_Sakit_Umum_Pusat_Haji_Adam_Malik_Me
dan). Diakses Tanggal 15 Mei 2016.

Ayu
Izza.
2009.
Epidemiologi
Kanker
(http://ayuizza.blogspot.com/2009/12/epidemiologi-kanker-serviks.html).
Tanggal 15 Mei 2016.

Serviks.
Diakses

Satyadeng.
2010.
Kanker
Leher
Rahim
(Kanker Serviks).
(http://drvegan.wordpress.com/2010/01/10/kanker-leher-rahim-kanker-serviks/). Diakses
Tanggal 15 Mei 2016.

Kumpulan info sehat. 2009. Kanker Serviks Pembunuh Banyak Wanita.


(http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/237-kanker-serviksleher-rahim-pembunuh-wanita.html). Diakses Tanggal 15 Mei 2016.