Anda di halaman 1dari 21

ANATOMI FISIOLOGI

1. Anatomi payudara
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus
laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang
lebih 75% ke aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang
sentral dan medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.

2. Fisiologi payudara
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan
pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai
ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron
yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus
berkembang dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari
kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum
menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan
yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi
tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan.
Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar
terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara
menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh
duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh
sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu
1

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. DEFINISI
Kanker payudara merupakan gangguan pertumbuhan sel normal mammae dimana sel
abnormal timbul dari sel sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan
pembuluh darah (Lynda Juall Carpenito, 1995).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh
berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan
kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagianbagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di
atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan
bawah kulit.
Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang
berubah menjadi ganas.

Berdasarkan ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kanker payudara


merupakan sekelompok sel tidak normal pada payudara yang berkembang biak dan
menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah. Kanker ini akan membentuk suatu benjolan
pada payudara, jika tidak segera diambil sel kanker bisa menyebar lebih luas ke jaringanjaringan lain di dalam tubuh.
B. ETIOLOGI
Etiologi kanker payudara belum diketahui secara jelas hingga sekarang, namun ada
beberapa faktor resiko yang dapat menimbulkan terjadinya kanker payudara di antaranya :
2

1. umur > 30 tahun, bertambah besar sampai usia 50 tahun dan setelah menopause
2. tidak kawin/nulipara setelah 35 tahun risikonya 2 kali lebih besar
3. anak pertama lahir setelah usia 35 tahun
4. menarche kurang dari 12 tahun risikonya 1,7-3,4 kali lebih tinggi dari pada wanita dengan
menarche yang datang pada usia normal atau lebih dari 12 tahun.
5. menopause datang terlambat lebih dari 55 tahun, risikonya 2,5-5 kali lebih tinggi
6. pernah mengalami infeksi, trauma atau operasi tumor jinak payudara risikonya 3-9 kali
lebih besar
7. adanya kanker payudara kontralateral, risikonya 3-9 kali lebih besar
8. pernah mengalami operasi ginekologis-tumor ovarium, riskonya 3-4 kali lebih tinggi
9. radiasi dinding dada risikonya 2-3 kali lebih besar
10. riwayat keluarga ada yang menderita kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu,
saudara perempuan, adik/kakak, risikonya 2-3 kali lebih tinggi.
11. kontrasepsi oral pada penderita tumor payudara jinak seperti kelainan fibrokistik yang
ganas akan meningkatkan risiko untuk mendapat kanker payudara 11 kali lebih tinggi.
C. KLASIFIKASI
a) Tumor primer (T)
1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan
2. To : Tidak terbukti adanya tumor primer
3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor
4. T1 : Tumor < 2 cm
T1a : Tumor < 0,5 cm
T1b : Tumor 0,5 1 cm
T1c : Tumor 1 2 cm
1. T2 : Tumor 2 5 cm
2. T3 : Tumor diatas 5 cm
3. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit
T4a : Melekat pada dinding dada
T4b : Edema kulit, ulkus, peau dorange, satelit
T4c : T4a dan T4b
T4d : Mastitis karsinomatosis
3

b) Nodus limfe regional (N)


1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan
2. N0 : Tidak teraba kelenjar axila
3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat.
N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama lain atau
melekat pada jaringan sekitarnya.
N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral
c) Metastas jauh (M)
1. Mx : Metastase jauh tidak dapat ditemukan
2. M0 : Tidak ada metastase jauh
3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula
STADIUM KANKER PAYUDARA :
1. Stadium I :
tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas.
2. Stadium IIa :
tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor
kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN
3. Stadium IIb :
tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa
keterlibatan LN
4. Stadium IIIa :
tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua tumor dengan LN terkena,
tidak ada penyebaran jauh
5. Stadium IIIb :
semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit semua tumor
dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular.
6. Stadium IV :
4

semua tumor dengan metastasis jauh.

D. MANIFESTASI KLINIS
Pasien biasanya datang dengan keluhan benjolan/massa di payudara, rasa sakit, keluar
cairan dari putting susu, timbulnya kelainan kulit (dimpling, kemerahan, ulserasi, peau
dorange), pembesaran kelenjar getah bening, atau tanda metastasis jauh. Setiap kelainan pada
payudara harus dipikirkan ganas sebelum dibuktikan tidak.
Dalam anamnesis juga ditanyakan adanya faktor-faktor resiko pada pasien, dan pengaruh
siklus haid terhadap keluhan atau perubahan ukuran tumor.
Untuk meminimalkan pengaruh hormon estrogen dan progesteron, sebaiknya pemeriksaan
dilakukan kurang lebih 1 minggu dihitung dari hari pertama haid. Teknik pemeriksaan fisik
adalah sebagai berikut:
1.

Posisi duduk
Lakukan inspeksi pada pasien dengan posisi tangan jatuh bebas ke samping dan
pemeriksa berdiri di depan dalam posisi lebih kurang sama tinggi. Perhatikan keadaan
payudara kiri dan kanan, simetris atau tidak, adakah kelainan papilla, letak dan bentuknya,
retraksi putting susu, kelainan kulit berupa peau dorange, dimpling, ulserasi atau tandatanda radang. Lakukan juga dalam keadaan kedua lengan diangkat ke atas untuk melihat
apakah ada bayangan tumor di bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah bagian yang
tertinggal, dimpling dll.

2.

Posisi berbaring
Sebaiknya dengan punggung diganjal bantal, lakukan palpasi mulai dari cranial setinggi iga
ke-2 sampai distal setinggi iga ke-6, serta daerah subareolar dan papilla atau dilakukan
secara sentrifugal, terakhir dilakukan penekanan daerah papilla untuk melihat apakah ada
cairan yang keluar.
Tetapkan keadaan tumornya, yaitu lokasi tumor berdasarkan kuadrannya: ukuran,
konsistensi, batas tegas/tidak, dan mobilitas terhadap kulit, otot pektoralis atau dinding dada.

3.

Pemeriksaan KGB regional di daerah


a.

Aksila, yang ditentukan kelompok kelenjar:


-

Mamaria eksterna di anterior, di bawah tepi otot pektoralis

Subskapularis di posterior aksila


5

Sentral di pusat aksila

Apikal di ujung atas fasia aksilaris

b.

Supra dan infraklavikula, serta KGB leher utama


Organ lain yang diperiksa ketika kanker telah bermetastase jauh:

4.

o Otak

: nyeri kepala, mual, muntah, epilepsi, ataksia, paresis, paralisis

o Paru

: efusi, sesak napas

o Hati

: kadang tanpa gejala, massa ikterus obstruksi

Tulang : nyeri, patah tulang

E. PATOFISIOLOGI
Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan cirriciri: proliferasi sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak
mengikuti pengaruh struktur jaringan sekitarnya. Neoplasma yang
maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang
tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan
menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar
ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara
biokimia terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh
dari suatu sel di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah
menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal.
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:
1.

Fase induksi: 15-30 tahun


Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi
bourgeois lingkungan mungkin memegang peranan besar dalam
terjadinya kanker pada manusia.
Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun
samapi bisa merubah jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini
tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi zat karsinogen tersebut,
tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena, adanya zat-zat
karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu.

2.

fase in situ: 1-5 tahun


pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi precancerous yang bisa ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru6

paru, saluran cerna, kandung kemih, kulit dan akhirnya ditemukan di


payudara.
3.

fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui
membrane sel ke jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta
limfe.Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara beberpa
minggu sampai beberapa tahun.

4.

fase diseminasi: 1-5 tahun


Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke
tempat-tempat lain bertambah.

F. PATWAY
Faktor predisposisi dan resiko tinggi
hyperplasia pada sel mammae

Suplai nutrisi ke
jaringan Ca
Hipermetabolisme
ke jaringan Ca

Suplai nutrisi
jaringan lain

Mendesak
jaringan sekitar

Mendesak sel syaraf


Interupsi sel
syaraf

Menekan jaringan mammae


Konsistensi
mammae

Mammae bengkak

Ukuran
mammae
abnormal

BB
Massa tumor mendesak
ke jaringan luar
Nutrisi kurang
dari kebutuhan
Perfusi jaringan
terganggu

Mammae
asimetrik

Kurangnya informasi
tentang proses
penyakit dan
prosedur tindakan

Merangsang
pelepasan
mediator nyeri
Respon nyeri

nyeri
Kurang
pengetahuan

Mendesak
pembuluh darah
Aliran darah
terhambat
hipoksia
Nekrosis
jaringan
Bakteri
pathogen

Resiko infeksi
Gangguan harga diri
(body image)

cemas

ulkus

Kerusakan
integritas kulit
8

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Mammografi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari


payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker.

2.

Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan


kista.

3.

CT Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada


organ lain

4.

Sistologi biopsi aspirasi jarum halus

5.

Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel


tumor pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah.

H. PENATALAKSANAAN
Pembedahan
1.

Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi
sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang
terkena).

2.

Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar
limfe dilateral otocpectoralis minor.

3.

Mastektomi radikal yang dimodifikasi


Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial
a.

Mastektomi radikal
Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial.

b.

Mastektomi radikal yang diperluas


Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.

Non pembedahan
1. Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut;
pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
2. Kemoterapi
Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.
9

3. Terapi hormon dan endokrin


Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi
adrenalektomi hipofisektomi.
C. Pencegahan
Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di
payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan
dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara agak
membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya
kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama.
Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila
terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke
dokter.
2. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.
3. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi.
4. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah
bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan.
Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada
benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.
5. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba
dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada
tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari
tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke
dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara
sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan.
I. KOMPLIKASI
Komplikasi utama dari kanker payudara adalah metastase jaringan sekitarnya dan juga
melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang sering untuk
metastase jauh adalah paru-paru, pleura, tulang dan hati. Metastase ke tulang kemungkinan
mengakibatkan fraktur patologis, nyeri kronik dan hipercalsemia. Metastase ke paru-paru akan
10

mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru dan metastase ke otak mengalami gangguan
persepsi sensori.
J. PROGNOSIS
-

Prognosa tumor jinak : baik

Untuk ca mamma : ditentukan rata-rata hidup 5 th /

survival rate

Tanpa obat : 5 th meninggal 80%

Dengan obat : 5 th hidup

Stad I : hidup 80%

Stad II : hidup 60%

Stad III : hidup 30%

Stad IV : hidup 5% tak ada yang hidup > 10 th

K. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian keperawatan
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengumpulan
riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta review
catatan sebelumnya.
Langkah-langkah pengkajian yang sistemik adalah pengumpulan data, sumber data,
klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan.
1.

PENGUMPULAN DATA
Adalah bagian dari pengkajian keperawatan yang merupakan landasan proses
keperawatan. Kumpulan data adalah kumpulan informasi yang bertujuan untuk mengenal
masalah klien dalam memberikan asuhan keperawatan.

2. SUMBER DATA
Data dapat diperoleh melalui klien sendiri, keluarga, perawat lain dan petugas kesehatan
lain baik secara wawancara maupun observasi.
Data yang disimpulkan meliputi :
a.

Data biografi /biodata


Meliputi identitas klien dan identitas penanggung antara lain : nama, umur, jenis
kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan dan alamat. Kaji adanya faktor predisposisi.
11

b.

Riwayat keluhan utama.


Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan payudara, adanya
ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak, nyeri, adanya keluhan lain.

c.

Riwayat kesehatan masa lalu


Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama.

d.

Pengkajian fisik meliputi :


1.

Keadaan umum

2.

Tingkah laku

3.

BB dan TB

4.

Pengkajian head to toe

Mencari benjolan Karen aorgan payudara dipengaruhi oelh faktoe hormone antara
lain estrogen dan progesterone, makas ebaiknya pemeriksaan ini dilakukan saat
pengaruh hormonal ini seminimal mungkin/setelah menstruasi + 1 minggi dari hari
akhir menstruasi. Klien duduk dengan tangan jatuh ke samping dan pemeriksa
berdiri didepan dalam posisi yag lebih kurang sama tinggi.
a. Inspeksi

Simetri mamma kiri-kanan

Kelainan papilla. Letak dan bentuk, adakah putting susu, kelainan kulit,
tanda radang, peaue d orange, dimpling, ulserasi dan lain-lain. Inspeksi ini
juga dilakukan dalam keadaan kedua lengan diangkat ke atas untuk melihat
apakah ada bayangan tumor doio bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah
bagian yang tertinggal, dimpling dan lain-lain.

b. Palpasi
Kien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata atas lapangan
dada, jika perlu punggung diganjal bantal kecil.
Konsistensi, banyak, lokasi, infiltasi, besar, batas dan operabilitas.
Pemebesaran kelenjar gerah bening (kelenjar aksila)
Dakah metastase Nudus (regional) atau organ jauh)
Stadium kanker (system TNM UICC, 1987)
e.

Pemeriksaan laboratorium
12

1.

Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun,


leukosit meningkat, trombosit meningkat jika ada penyebaran ureum dan
kreatinin.

2.

Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan


kreatinin meningkat.

3.

Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita


carsinoma mammae adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi, diaphanografi
dan pemeriksaan reseptor hormon.

4.

Pemeriksaan sitologis/patologis
Durante oprasi Vries coupe
Pasca operasi dari specimen operasi
FNA dari tumor
Cairan kista dan pleura effusion
Secret putting susu

f.

Pengkajian pola kebiasaan hidup sehari-hari meliputi :


1. Nutrisi
Kebiasaan makan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan, makanan
yang disukai, banyaknya minum. Dikaji riwayat sebelum dan sesudah masuk RS.
2. Eliminasi
Kebiasaan BAB / BAK, frekuensi, warna, konsistensi, sebelum dan sesudah
masuk RS.
3. Istirahat dan tidur
Kebiasaan tidur, lamanya tidur dalam sehari sebelum dan sesudah sakit.
4. Personal hygiene

Frekuensi mandi dan menggosok gigi dalam sehari

Frekuensi mencuci rambut dalam seminggu

Dikaji sebelum dan pada saat di RS

5. Identifikasi masalah psikologis, sosial dan spritual


Status psikologis
Emosi biasanya cepat tersinggung, marah, cemas, pasien berharap cepat
sembuh, merasa asing tinggal di RS, merasa rendah diri, mekanisme
13

koping yang negatif. Kaji konsep diri klien yang mengalami perubahan
pada tubuhnya.
Status sosial
Merasa terasing dengan akibat klien kurang berinteraksi dengan
masyarakat lain.
Kegiatan keagamaan
Klien mengatakan kegiatan beribadah sudah mulai berkurang, mulai jarang
ke gereja karena sakit yang diderita.
3. KLASIFIKASI DATA
Data pengkajian :

Data subyektif
Data yang diperoleh langsung dari klien dan keluarga, mencakup hal-hal
sebagai berikut :
klien mengatakan nyeri pada payudara, sesak dan batuk, nafsu makan menurun,
kebutuhan sehari-hari dilayani di tempat tidur, harapan klien cepat sembuh, lemah,
riwayat menikah, riwayat keluarga.

Data obyektif
Data yang dilihat langsung atau melalui pengkajian fisik atau penunjang
meliputi : asimetris payudara kiri dan kanan, nyeri tekan pada payudara, hasil
pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.

B. Analisa Data
Merupakan proses intelektual yang merupakan kemampuan pengembangan daya pikir
yang berdasarkan ilmiah, pengetahuan yang sama dengan masalah yang didapat pada klien.
C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terbentuknya ulkus karena proses
metastases sel kanker
3. Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.
14

4. Gangguan harga diri (body image) berhubungan dengan kecacatan bedah


5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan
penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat.
D. Intervensi Keperawatan
Dx 1. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor
DS : Klien mengeluh nyeri pada sekitar payudara sebelah kiri menjalar ke kanan.
DO : Klien nampak meringis, klien nampak sesak, nampak luka di verban pada payudara
sebelah kiri
Tujuan : Nyeri teratasi
Kriteria :
-

Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang

Nyeri tekan tidak ada

Ekspresi wajah tenang

Luka sembuh dengan baik

Intervensi :
1.

Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat


nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh
klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.

2. Beri posisi yang menyenangkan.


Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan
dapat mengurangi nyeri.
3. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar
sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4. Ukur tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
5. Penatalaksanaan pemberian analgetik
15

Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak
dipersepsikan.
Dx 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terbentuknya ulkus karena proses metastase
sel kanker
DS : klien mengatakan gatal di kulit sekitar luka
DO : ulkus (+), pus (+)
Tujuan : integritas jaringan kulit dalam kondisi baik
Kriteria :
1. Penyembuhan luka sesuai waktu
2. Kondisi luka baik
Intervensi :
Tujuan :
- Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
- Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan
1.

Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan
luka.
Rasional : Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi
awal terhadap perubahan integritas kulit.

2.

Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.


Rasional : Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.

3.

Ubah posisi klien secara teratur.


Rasional : Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.
Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa

4.

rekomendasi dokter.
Rasional : Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

Dx 3. Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.


DS :

Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain.

Ekspresi wajah tampak murung.


16

Tidak mau melihat tubuhnya.

DO : klien tampak takut melihat anggota tubuhnya.


Tujuan : Kecemasan dapat berkurang.
Kriteria :
1. Klien tampak tenang
2. Mau berpartisipasi dalam program terapi
Intervensi :
1.

BHSP pada klien


Rasional : dengan BHSP klien dapat lebih kooperatif

2.

Kaji tingkat kecemasan klien


Rasional : tingkat kecemasan yang berbeda, membutuhkan penanganan yang berbeda pula

3.

Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.


Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga pasien dapat
membuat rencana untuk masa depannya.

4.

Diskusikan tanda dan gejala depresi


Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri, takut jaringan
parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh.

5.

Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik.


Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati normal.

Dx 4. Gangguan harga diri (body image) berhubungan dengan kecacatan bedah


DS : klien mengatakan malu dengan keadaan dirinya
DO :

Klien jarang bicara dengan pasien lain

Klien nampak murung.

Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya.


Kriteria :
1.

Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.

2.

Klien dapat menerima efek pembedahan.

Intervensi :
1.

Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap


penyakitnya.
17

Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan


masalah
2. Tinjau ulang efek pembedahan
Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi.
3. Berikan dukungan emosi klien.
Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.
4. Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.
Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.
Dx 5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
DS : Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi.
DO :

Adanya balutan pada luka operasi.

Terpasang drainase

Warna drainase merah muda

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.


Kriteria :
1. Tidak ada tanda tanda infeksi.
2. Luka dapat sembuh dengan sempurna.
Intervensi :
1. Kaji adanya tanda tanda infeksi.
Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda tanda infeksi sehingga dapat segera
diberikan tindakan yang tepat.
2. Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan.
Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.
3. Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.
Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi.
4. Penatalaksanaan pemberian antibiotik.
Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi.
Dx 6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya
berhubungan dengan kurangnya informasi.
18

DS : Klien sering menanyakan tentang penyakitnya.


DO : Ekspresi wajah murung/bingung.
Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya.
Kriteria :
1. Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.
2. Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan pengobatannya.
Intervensi :
1. Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang.
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar, dimana pasien dapat membuat pilihan
berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi.
2. Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan pemasukan cairan yang
adekuat.
Rasional : Memberikan nutrisi yang optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk
mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan.
3. Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat.
Rasional : Mencegah membatasi kelelahan, meningkatkan penyembuhan, dan meningkatkan
perasaan sehat.
4. Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak.
Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan
ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa pantom payudara.
5. Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada. Anjurkan
untuk Mammografi.
Rasional : Mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan
terjadinya/berulangnya tumor baru.
Dx 7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat,
DS :

Klien mengeluh nafsu makan menurun

Klien mengeluh lemah.

DO :

Setengah porsi makan tidak dihabiskan

Klien nampak lemah.


19

Nampak terpasang cairan infus 32 tetes/menit.

Hb 10,7 gr %.

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi


Kriteria :
1. Nafsu makan meningkat
2. Klien tidak lemah
3. Hb normal (12 14 gr/dl)
Intervensi :
1. Kaji pola makan klien
Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan
selanjutnya.
2. Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi
sedikit.
3. Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.
4. Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
5. Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Juall.2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. jakarta : EGC


Doenges M. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta
Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. FKUI. Jakarta
Muchlis Ramli dkk. 2000. Deteksi Dini Kanker. FKUI. Jakarta
Nurarif,Amin Huda.2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Dan
Nanda Nic-Noc.Medi Action.Jogjakarta.
20

Sjamsuhidajat R.1997. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi. EGC. Jakarta
Tapan. 2005. Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer. Elex Media Komputindo. Jakarta
http://www.medianers.com/2010/10/mastektomi-pada-kanker-payudara.html
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-kanker-payudara/

21