Anda di halaman 1dari 19

Kolom Pendek

1. Pengertian
Kolom memikul beban aksial dan momen lentur. Pada kenyataannya, tidak ada
kolom yang menerima beban aksial secara sempurna, hal ini disebabkan banyak
faktor seperti penyaluran beban ke kolom yang tidak pada titik pusat kolom,
penampang kolom yang tidak simetris, masalah pada saat konstruksi dan lainlain.
Kondisi pembebanan pada kolom akibat aksial dan lentur, secara garis besar
dapat dikelompokan pada tiga kondisi umum, antara lain,

Kondisi aksial Pn yang besar, kosentrik, momen tidak ada, atau momen
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Kondisi dimana aksial Pn mempunyai jarak eksentrisitas tertentu yang
menyebabkan beton sisi tekan hancur dan tulangan baja sisi tarik leleh.
Kondisi momen besar Mn, aksial Pn kecil, atau aksial Pn diabaikan.

Akibat aksial Pn dan momen lentur, kolom mengalami tekan dan melentur. Pada
saat terbebani momen lentur, kolom cenderung mengalami daerah tertekan
pada satu sisi dan tertarik pada sisi lainnya.

1.1 Kolom Pendek


Kolom pendek adalah kolom yang kemampuannya dipengaruhi
oleh kekuatan material dan bentuk geometri dari potongan melintang dan
tidak dipengaruhi oleh panjang kolom karena defleksi lateral (lendutan ke
samping) yang terjadi sangat kecil (tidak signifikan). Dalam SKSNI 2002,
pada kolom pendek tidak ada bahaya tekuk :

Panjang Kolom < 3x dimensi kolom (b/h)


Menurut peraturan beton bertulang Indonesia : SNI 03-2847-2002,
masalah tekuk dapat diabaikan atau kolom direncanakan sebagai kolom
pendek, jika :

klu
r

34 12

( MM 12 )

dimana :
k = faktor panjang efektif komponen struktur tekan
lu = panjang bentang komponen struktur lentur (balok/pelat) yang diukur
dari pusat ke pusat titik kumpul.
r = jari-jari girasi penampang kolom
M1 = momen ujung terfaktor yang lebih kecil pada kolom.
M2 = momen ujung terfaktor yang lebih besar pada kolom.

( MM 12 )

bernilai positif bila kolom melentur dengan kelengkungan

tunggal.

( MM 12 )

bernilai negatif bila kolom melentur dengan kelengkungan

ganda.

I
A

0.2887 h untuk penampang persegi

1.2 Jenis Kolom


Secara garis besar ada tiga jenis kolom bertulang, seperti yang terlihat
pada Gambar 2.1 :
1. Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan
kolom beton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang,
yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah
lateral sedemikian rupa sehingga penulangan keseluruhan membentuk
kerangka seperti tampak pada Gambar 2.1.a.
2. Kolom dengan menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan
yang pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang
adalah tulangan spiral yang dilililtkan keliling membentuk heliks menerus
di sepanjang kolom seperti pada Gambar 2.1.b.
3. Struktur kolom komposit seperti tampak pada Gambar 2.1.c.
Merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah
memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa
diberi batang tulangan pokok memanjang.

Seperti halnya balok, kekuatan kolom dihitung berdasarkan anggapan


sebagai berikut :
1.
Distribusi regangan linier di seluruh tebal beton.
2.
Tidak ada selip antara beton dan tulangan baja yang berarti
regangan pada baja sama dengan regangan pada beton yang
mengelilinginya.
3. Regangan beton maksimum yang diijinkan pada keadaan runtuh
adalah 0,003.
2. Kolom Berdasarkan Posisi Beban dan Penampangnya
1. Kolom yg mengalami beban sentris, dimana beban aksial (P) bekerja tepat
pada as/sumbu kolom, yang artinya kolom tidak mengalami momen lentur.
2. Kolom yg mengalami beban eksentris, dimana kolom mengalami beban
aksial(P) dan momen lentur (M). Momen ini dapat dikonversikan menjadi satu
beban P yang bekerja dengan suatu eksentrisitas (dapat ex, ey, exy) tertentu
terhadap as/sumbu kolom. Momen lentur ini dapat bersumbu tunggal
(uniaksial) dimana hanya ada ex atau ey, dan dapat dianggap bersumbu
rangkap (biaksial) dimana ada exy (ada ex dan ey bersama2). Momen lentur
dapat bersumbu tunggal (uniaksial) (gambar b) seperti dalam hal kolom
interior dan eksterior yaitu kolom A dan B dan apabila lenturnya terjadi pada
sumbu X dan Y (biaksial) (gambar seperti yang terjadi pada kolom pojok C).

2.1 Kolom dengan Beban Sentris


Kapasitas beban sentris maksimum diperoleh dengan menambah
kontribusi beton yaitu (Ag Ast) 0,85 fc dan kontribusi baja tulangan
yaitu Ast fy, dimana Ag luas penampang bruto dan Ast luas total
tulangan baja. Kapasitas beban sentris maksimum yaitu :
Po = (Ag Ast) 0,85 fc + Ast fy (1)
Pada kenyataannya, beban eksentrisitas sebesar nol sangat sulit
terjadi dalam struktur aktual. Hal tersebut disebabkan karena ketidak
tepatan ukuran kolom, tebal plat yang berbeda dan ketidaksempurnaan
lainnya. Batas eksentrisitas minimal untuk kolom sengkang dalam arah
tegak lurus sumbu lentur adalah 10% dari tebal kolom dan 5% untuk
kolom bulat (E.G Nawy., 1998)
Berdasarkan SNI 03-2847-2002 tentang tata cara perencanaan
beton untuk bangunan gedung, kuat rencana kolom tidak boleh lebih
dari :
a Kolom sengkang (pasal 12.3.(5(1))
Pn = 0,80 (Ag Ast) 0,85 fc + Ast fy . (2)
b Kolom bulat (pasal 12.3.(5(1))
Pn = 0,85 (Ag Ast) 0,85 fc + Ast fy . (3)
Dimana : Ag = luas bruto dari tampang kolom
Ast = total luas tulangan baja memanjang

Dengan faktor reduksi kekuatan untuk kolom sengkang sebesar


0,65 dan untuk kolom bulat 0,70. Persyaratan detail penulangan
kolom bulat antara lain :
a

Luas tulangan longitudinal komponen struktur tekan tidak boleh kurang


dari 0,01 ataupun lebih dari 0,08 kali luas penampang bruto (pasal
12.9(1)).

Jumlah tulangan longitudinal munimum adalah 4 untuk kolom persegi


empat atau lingkaran, 3 untuk kolom sengkang segitiga dan 6 untuk
kolom pengikat spiral (pasal 12.9(2)).
Rasio penulangan spiral untuk fy 400 tidak boleh kurang dari
(pasal 12.9(3)) :

Ag
f 'c
min 0,45
1
Ac
fy
. (4)

Menurut SNI Psl 12.11.4; kolom dan tingkat pd struktur dibedakan


sebagai Tidak bergoyang (Braced) dan Bergoyang (Unbraced).
Kolom atau tingkat pd rangka Tdk bergoyang direncanakan
mengikuti Psl 12.12, sedangkan utk kolom atau tingkat pd rangka
Bergoyang dgn Psl 12.13
Suatu komponen struktur tekan dikatakan Tdk bergoyang bila
terletak di suatu tingkat dimana elemen pengaku lateral (dinding
geser, rangka btg dll-nya) mempunyai kekakuan lateral yg cukup besar
utk menahan defleksi lateral pd tingkat itu shg semua defleksi yg di
hsl-kan tdk ckp besar utk mempengaruhi kuat kolom-nya.

2.1.1 Faktor Panjang Tekuk untuk Kolom Sederhana

Gambar 2.1 koefisien panjang


tekuk

Gambar 2.2 Faktor Panjang


Tekuk
SNI Beton 03-2847-2002 pasal 12.9.1 membatasi ratio tulangan () pada kolom,
ssb
0,01 0,08 dimana

Ast
Ag

Ast = Luas total penampang tulangan


Ag = Luas total penampang kolom (termasuk luas penampang tulangan)
Walaupun max dapat diambil 0,08. Kenyataan ini dilapangan sulit dilaksanakan,
apalagi jika perlu ada sambungan lewatan.
Untuk Indonesia karena harga besi tulangan lebih mahal dibanding bahan beton,
maka besarnya ratio tulangan yang ekonomis berkisar antara 1-4%, tergantung
lokasi daerah.

2.2 Kolom Pendek dengan Beban Eksentris


Kolom yang menahan beban eksentris mengakibatkan baja
pada sisi yang tertarik akan mengalami tarik dengan garis netral
dianggap kurang dari tinggi efektif penampang (d). Apabila angka
kelangsingan
klu/r 22 maka tergolong kolom pendek.
Berdasarkan regangan yang terjadi pada baja tulangan yang

a
b

tertarik, kondisi awal keruntuhan digolongkan menjadi dua


yaitu :
Keruntuhan tarik yang diawali dengan luluhnya tulangan tarik
dimana
Pn < Pnb.
Keruntuhan tekan yang diawali dengan kehancuran beton dimana
Pn > Pnb.
Kondisi balance terjadi saat baja tulangan mengalami luluh
bersamaan dengan regangan beton. Beton mencapai kekuatan
maksimum fc pada saat regangan desak beton maksimal
mencapai 0,003. Perencanaan kolom eksentris diselesaikan
dengan dua cara antara lain :

2.2.1.1 Metode Pendekatan Diagram Pn - Mn


Diagram Pn - Mn yaitu suatu grafik daerah batas yang
menunjukkan ragam kombinasi beban aksial dan momen yang
dapat ditahan oleh kolom secara aman. Diagram interaksi
tersebut dibagi menjadi dua daerah yaitu daerah keruntuhan
tekan dan daerah keruntuhan tarik dengan pembatasnya adalah
titik balance. Tulangan dipasang simetris untuk mempermudah
pelaksanaan, mencegah kekeliruan dalam penempatan tulangan
tarik atau tulangan tekan dan mengantisipasi perubahan
tegangan akibat beban gempa. Analisis kolom dengan diagram Pn
- Mn diperhitungkan pada tiga kondisi yaitu :
a Pada Kondisi Eksentrisitas Kecil
Prinsip-prinsip pada kondisi ini dimana kuat tekan rencana
memiliki nilai sebesar kuat rencana maksimum.
Pn = Pn max = 0,80 (Ag Ast) 0.85 fc + Ast fy . (5)
sehingga
kuat
tekan
kolom
maksimum
yaitu
:

n=

Pu max

. (6)

Pada Kondisi Momen Murni


Momen murni tercapai apabila tulangan tarik belum luluh
sedangkan tulangan tekan telah luluh dimana f s adalah tegangan
tulangan tekan pada kondisi luluh. Pada kondisi momen murni
keruntuhan terjadi saat hancurnya beton (Pn = Pu = 0).
Keseimbangan pada kondisi momen murni yaitu :
ND1 + ND2 = NT .........................(7)
Dimana :
ND1 = 0,85 fc b a .........................(8)
ND2 = fs As .........................(9)
NT = fy As .........................(10)
Selisih akibat perhitungan sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Persamaan yang diperoleh dari segitiga sebangun dengan tinggi
sumbu netral pada c yaitu :

f ' s=E s ' s =Es

0,003 ( c d ' )
c

.............. (11)

Dengan mensubtitusikan persamaan (7) dan (11) akan dihasilkan


persamaan pangkat dua dengan perubah tinggi sumbu netral c.
Momen rencana dapat dihitung sebagai berikut :
Mr = Mn ......................... (12)
Mn = Mn1 + Mn2 = ND1 Z1 + ND2 Z2 ......................... (13)

Pada Kondisi Balance


Kondisi keruntuhan balance tercapai apabila tulangan tarik luluh
dan beton mengalami batas regangan dan mulai hancur.
Persamaan yang diperoleh dari segitiga yang sebangun dengan
persamaan sumbu netral pada kondisi balance (Cb) yaitu :

Cb
=
d

0,003
fy
0,003+
Es

......................... (14)

atau dengan Es = 200000, maka :

Cb =

600 d
600+f y

......................... (15)

Persamaan kesetimbangan pada kondisi balance :


Pb = ND1 + ND2 NT ......................... (16)
Sehingga eksentrisitas balance (eb) dapat ditulis sebagai berikut :
Pb (eb + d/2) = Mnb ......................... (17)
Mrb = Pb eb ......................... (18)
2.2.2 Metode Pendekatan Whitney
Persamaan-persamaan
yang
disarankan
Whitney
dugunakan sebagai solusi alternatif dengan cara coba-coba
walaupun tidak selalu konservatif khususnya apabila beban
rencana terlalu dekat dengan beban balance.
a Kolom Segi Empat
Persamaan-persamaan Whitney pada kondisi keruntuhan tekan
yang disarankan berdasarkan asumsi-asumsi :
1 Tulangan dipasang simetris pada satu lapis sejajar terhadap
sumbu lentur penampang segi empat.
2 Tulangan tekan telah leleh.
3 Luas beton yang ditempati tulangan diabaikan.
4 Tinggi balok tegangan ekivalen dianggap sebesar 0,54d setara
dengan harga a rata-rata kondisi balance pada penampang segi
empat.
5 Keruntuhan tekan menentukan.
Dalam banyak hal, metode Whitney konservatif apabila
eksentrisitas sangat kecil.
Persamaan Whitney untuk hancur tekan menentukan :

P n=

A's f y

e
+0,5
( dd ' )

bh f ' c

( 3dhe )+1,18
2

......................... (19)

Persamaan Whitney untuk hancur tarik menentukan berdasarkan


asumsi-asumsi keruntuhan ditandai dengan luluhnya tulangan
tarik sedangkan tulangan tekan bisa belum luluh.

Pn=0,85 f ' c bd
b

1
2
3
4

] (

h2e
+
2d

h2e 2
1d 2
+2 m
2d
d

.............(20)

Kolom Bulat
Persamaan-persamaan Whitney pada kondisi keruntuhan tekan
yang disarankan berdaarkan asumsi-asumsi :
Transformasi kolom bulat menjadi kolom segi empat akivalen.
Tebal penampang segi empat ekivalen diambil sebesar 0,8h
dimana h adalah diameter kolom bulat.
Lebar kolom segi empat ekivalen diambil sebesar Ag / 0,8h.
Luas total tulangan segi empat ekivalen pada dua lapis yang
sejajar berjarak 2Ds /3 dalam arah lentur dimana Ds adalah
diameter tulangan terluar dari as ke as.
Persamaan Whitney untuk keruntuhan tekan :

Pn=

A st f y

( 3De )+1,0
s

Ag f 'c

9,6 he
+1,8
2
( 0,8 h+ 0,67 Ds )

......................... (21)

Persamaan Whitney untuk keruntuhan tarik :

Pn=0,85 f ' c h 2
(22)
Dimana

g =

A st
Ag

h
Ds
e

[(

2
m Ds 0,85 e
0,85 e
0,38 + g

0,38
h
2,5 h
h

)]

.......

: diameter penampang
: diameter tulangan terluar dari as ke as
: eksentrisitas terhadap pusat plastis

m=

fy
0,85 f ' c

2.2.3 Kolom Langsing


Apabila angka kelangsingan kolom melebihi batas untuk
kolom pendek maka kolom tersebut akan mengalami tekuk
sebelum mencapai batas limit kegagalan material. Kolom
tersebut adalah jenis kolom langsing yang mengalami momen
tambahan akibat efek P dimana P adalah beban aksial dan
adalah defleksi akibat kolom tertekuk pada penampang yang
ditinjau.
a Besarnya k dapat dihitung dengan persamaan-persamaan dari
peraturan ACI (E.G Nawy., 1998) antara lain :
1 Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan berpengaku
diambil dari nilai terkecil antara persamaan berikut:
k = 0,7 + 0,05 (A + B) 1,0
k = 0,85 + 0,05 min 1,0

Dimana A dan B adalah pada ujung kolom dan min adalah


yang terkecil dari kedua harga tersebut.

EI
lu

EI
ln

kolom

balok

......................... (23)
Dimana lu adalah panjang tak tertumpu kolom dan ln adalah
bentang bersih balok.
Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan tanpa
pengaku yang tertahan pada kedua ujungnya diambil sebesar :
Untuk m < 2

20 m
20

1 m
.........................(24)

Untuk

k 0,9 1 m

Diamana m adalah harga rata-rata dari kedua ujung batang


tertekan tersebut.
Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan tanpa
pengaku yang kedua ujungnya sendi diambil sebesar :
k = 2,0 + 0,3
Pengaruh kelangsingan
SNI (1991) mensyaratkan pengaruh kelangsingan boleh diabaikan
apabila :

klu
M
34 12 1b
r
M 2b
1

untuk komponen struktur tekan yang ditahan


terhadap goyangan kesamping.

klu
22
r
2

untuk komponen struktur tekan yang tidak ditahan


terhadap goyang kesamping.
M1b dan M2b adalah momen pada ujung-ujung yang berlawanan
pada kolom dengan M2b adalah momen yang lebih besar dan M1b
adalah momen yang lebih kecil.

Metode pembesaran momen


Pembesaran momen bergantung pada kelangsingan batang,
desain penampang dan kekuatan seluruh rangka portal
bergoyang. Komponen struktur tekan harus direncanakan
menggunakan beban aksial terfaktor dan momen terfaktor yang
diperbesar.

Ms

s M s=
1

Pu
0,75 P c

.........................(25)

Dengan:
Pc = 2EI/(klu)2 .........................(26)

EI =

0,4 Ec I g
1+ d

.........................(27)

Ec =( W c )1,5 0,043 f ' c

.........................(28)

Bila gaya geser Vu lebih besar daripada kuat geser Vc maka


harus disediakan tulangan geser.

Vs

Av f y d
s

Av

75 f ' c bw s
(1200) f y

1 bw s
3 fy

Dimana
tidak boleh kurang dari
dengan
bw dan s dalam milimeter. Kuat geser Vs tidak boleh diambil lebih

2
3

f ' c bw d

dari

1
3

f ' c bw d

Jika Vs >
, maka spasi tulangan geser yang dipasang
tegak lurus terhadap sumbu aksial komponen struktur tidak boleh

lebih

3.

dari

d/2

atau

600

mm.

Jumlah Minimal Batang Tulangan


Jumlah minimum batang tulangan untuk komponen struktur tekan
diatur psl 12.9.2 yaitu:

a.

4 bh batang untuk kolom dgn sengkang pengikat segi empat atau


lingkaran

b.

3 bh batang untuk kolom dgn sengkang pengikat segi-tiga

c.

6 bh batang untuk kolom tul. Spiral

A g f c
- 1
Ac f y

s = 0,45

Rasio tul spiral rs tidak boleh kurang dari:

fy400MPa (kuat leleh tul spiral)


Ketentuan diameter tulangan sengkang dan sengkang ikat untuk
berbagai diameter tulangan longitudinal adalah sebagai berikut:
Ketentuan diameter tulangan sengkang dan sengkang ikat untuk
berbagai diameter tulangan longitudinal adalah sebagai berikut:
N
o

tulan
gan
Longi
tudin
al
(mm)

sen
gka
ng
(m
m)

<D32

10

D36

13

D44

13

D56

13

Ketentuan untuk Kolom Spiral


Tulangan spiral untuk kolom seperti berikut :
a. Spiral harus terdiri dari batang tul yang menerus atau kawat
dengan ukuran yg sedemikian dan dipasang dengan spasi sama.
b. Untuk konstruksi yang dicor ditempat (cast in situ) ukuran batang
spiral tidak kurang dari 10mm
c. Jarak bersih antar tul spiral tdk boleh lebih dari 75mm dan tidak
kurang dari 25mm; ( 25mm s 75mm)
d. Penjangkaran tul spiral atau kawat hrs disediakan dengan
memberikan 1 lilitan ekstra tiap ujung dari spiral
e. Penyambungan spiral harus dilaksanakan dengan cara sambungan
lewatan atau sambungan mekanis dan sambungan las.

Detail Khusus Kolom


Batasan spasi tulangan kolom:
Jarak bersih antar tul longitudinal tdk boleh kurang dari: 1,5d atau
40mm. Jrk bersih ini juga berlaku pada tempat dimana terdapat
sambungan lewatan
Batang tul yg ditekuk pd daerah hub balok kolom harus memenuhi
ketentuan sbb (SNI psl 9.8):
a.

kemiringan dari bagian tekukan pd batang tulangan tersebut


terhadap sumbu kolom tdk boleh melebihi 1:6

b. Bila penyimpangan lateral muka kolom melebihi 80mm maka tul


longitudinal tdk boleh ditekuk, tapi hrs disediakan pasak khusus yg
disambunglewatkan pd tul longitudinal yg berada didekat sisi muka
kolom itu
Gambar Sambungan
Detail Sambungan Pada Sloof meliputi sambungan antara sloof dng
sloof dan sloof dengan kolom

Detail Sambungan Pada Kolom dan Balok

Detail Sambungan Pada Kolom, Balok dan Sloof Tampak Samping

Detail Sambungan dan Pengecoran Balok

Detail Sambungan Antara Kolom Pinggir dengan Balok

Sambungan Precast

(A -A )+A .f ]
g st
st y