Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENELITIAN

ANALISIS KEGIATAN PENGEMBANGAN MOTORIK HALUS


ANAK MELALUI KEGIATAN KREATIVITAS ANAK DALAM
PERMAINAN BALOK PADA TPA IBUNDA
DESA LEBO KECAMATAN GRINGSING
KABUPATEN BATANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Analisis Kegiatan Pengembangan PAUD di Unit Program Belajar Jarak
Jauh (UPBJJ) UT Semarang Pokjar Banyuputih Tahun 2015

Disusun oleh:
Nama
:
NIM
:
Program Studi :

TIEN RETNASARI
821921719
S1 PG PAUD

PROGRAM S1 PAUD
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH (UPBJJ) SEMARANG
POKJAR LIMPUNG BATANG
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


TPA Ibunda beralamat di Desa Lebo Kecamatan Lebo Kabupaten
Batang. Pendirian TPA Ibunda merupakan realisasi dari program pendidikan
anak usia dini yang menggalakan TPA sebagai salah satu bentuk pelayanan
pendidikan anak usia dini dan masyarakat.
Pengurus TPA Ibunda mempunyai perhatian besar terhadap
pendidikan anak usia dini sehingga mempunyai inisiatif untuk mendirikan
Taman Penitipan Anak. Selain dengan menggunakan menu generik,
pemenuhan gizi anak dan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan untuk anak PAUD sangat penting, karena pada usia itu
merupakan usia emas (golden age), dimana usia anak tersebut merupakan
masa yang paling optimal untuk berkembang. Pada masa ini anak mempunyai
rasa ingin tahu yang sangat besar untuk melakukan apapun untuk memenuhi
rasa ingin tahunya.
Dengan

aktivitasnya

tersebut

anak

memenuhi

kebutuhan

perkembangan dan belajarnya. Kegiatan di TPA Ibunda menggunakan


pendekatan sentra bermain dan lingkaran dengan menggunakan 4 pijakan
(scaffolding) antara lain: pijakan lingkaran main, pijakan sebelum main,
pijakan selama main dan pijakan setelah main. Untuk memenuhi pertumbuhan
dan perkembangan, maka disusun suatu rencana yang disesuaikan dengan
indikator yang ada pada kurikulum. Agar anak merasa tidak bosan maka
kegiatan dibuat bervariasi dan selalu menggunakan prinsip belajar sambil
bermain. Dalam pengembangan tersebut khususnya pengembangan fisik
motorik dapat diberikan berbagai kegiatan, contohnya menyusun balok-balok.
Seperti yang ada pada TK Ibunda, anak-anak sangat senang dengan
kegiatan bermain. Ketika anak-anak berada di sentra balok, anak-anak merasa
enjoy, sangat senang. Namun guru harus ekstra dalam pengawasan. Karena

pada saat anak asyik bermain ada anak yang berebut untuk mengambil balok,
ada anak yang tidak mau bergantian bermain balok.
Untuk mengatasi masalah tersebut guru hendaknya mempersiapkan
alat permainan khususnya balok di tempat yang luas dan memberikan
kesepakatan aturan bermain di area balok tersebut, sehingga tidak ada
pertengkaran terhadap sesama teman.
Program S1 PAUD Universitas Terbuka menargetkan lulusan menjadi
pendidik yang professional yaitu dapat mengembangkan program Analisis
Kegiatan Pengembangan PAUD. Dalam rangka memenuhi tugas tersebut,
maka saya melakukan penelitian di TPA Ibunda. Penelitian ini bertujuan
untuk mengumpulkan data mengenai kegiatan-kegiatan anak yang dianggap
perlu untuk diteliti dan dianalisis lebih lanjut melalui bidang pengembangan
fisik motorik yaitu menyusun balok-balok.
Dengan diadakannya penelitian di TPA Ibunda semoga dapat
memberikan sumbang saran pada dunia pendidikan pada umumnya dan
pendidikan di PAUD pada khususnya.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah kegiatan pengembangan aspek motorik
halus permainan balok dalam rangka meningkatkan kreativitas anak.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengumpulkan data
2. Membuat analisis
3. Menyusun laporan
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat:
1. Manfaat bagi anak didik
a. Meningkatkan kreatifitas dan imajinatif anak

b. Meningkatkan dan menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam


kegiatan bermain menyusun balok.
2. Manfaat bagi peneliti
a. Melatih peneliti melakukan penelitian kelas dan menganalisis kegiatan
menyusun balok di TPA Ibunda
b. Meningkatkan peneliti agar lebih kreatif, dapat berfikir kritis dan lebih
professional.
c. Sebagai studi banding untuk kemajuan dalam pendidikan di TPA.
3. Manfaat bagi sekolah
a. Memberi masukan terhadap kegiatan pengembangan anak di TPA
Ibunda Desa Lebo.
b. Meningkatkan kualitas serta mutu sekolah.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kreativitas Anak Usia Dini
Kreativitas

merupakan

dimensi

kemampuan

anak

dalam

mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kebermaknaan


kreativitas terletak pada hakikat dan peranannya sebagai dimensi yang
memberi ciri keunggulan bagi pertumbuhan diri peserta didik yang sehat,
produktif, dan inovatif. Pernyataan ini sesuai dengan teori dari Suratno
(2005:24), kreativitas adalah suatu aktivitas imajinatif yang memanifestasikan
kecerdikan dari pikiran yang berdaya untuk menyelesaikan suatu persoalan
dengan caranya sendiri.
Menurut Yeni dan Euis (2005: 14), kreativitas merupakan suatu
proses mental individu yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun
produk baru yang efektif yang bersifat imajinatif, estetis, fleksibel, integrasi,
suksesi, diskontinuitas, dan diferensiasi yang berdaya guna dalam berbagai
bidang untuk pemecahan suatu masalah.
Rodhes (dalam Munandar 1999: 20), mengutarakan bahwa kreativitas
adalah pribadi (person) kreatif yang melibatkan diri dalam proses (process)
kreatif, dan dengan dorongan dan dukungan (press) dari lingkungan,
menghasilkan produk (product) kreatif.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
kreativitas merupakan suatu aktivitas imajinatif yang melahirkan gagasan,
proses, metode ataupun produk baru untuk menyelesaikan suatu masalah
dengan caranya sendiri.
Menurut Suratno (2005:39-43), kreativitas anak dapat dikembangkan
melalui pendekatan 4 P, antara lain:
1. Pribadi
Kreativitas

adalah

lingkungannya.

keunikan

individu

dalam

berinteraksi

dengan

2. Press atau pendorong


Kreativitas dapat diwujudkan jika didukung oleh lingkungan dan kemauan
dari dalam dirinya yang kuat melalui faktor dari dalam maupun luar.
3. Proses
Pemunculan

kreativitas

anak

diperlukan

proses

melalui

pemberian

kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif yang tidak dapat diwujudkan
secara instan.

4. Produk
Kondisi pribadi dan lingkungan erat kaitannya dengan proses kreatif yang
dihasilkan oleh seseorang.
Secara umum, kreativitas akan terbentuk jika dibangkitkan melalui
lima perilaku kreatif Parnes (dalam Yeni dan Euis, 2005: 14-15) sebagai
berikut:
1. Fluency (kelancaran), yaitu kemampuan mengemukakan ide-ide yang
serupa untuk memecahkan suatu masalah.
2. Flexibility (keluwesan), yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai
macam ideguna memecahkan suatu masalah di luar kategori yang biasa.
3. Originality (keaslian), yaitu kemampuan memberikan respon yang unik
dan luar biasa.
4. Elaboration (keterperincian), yaitu kemampuan menyatakan pengarahan
ide secara terperinci untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan.
5. Sensitivity (kepekaan), yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan
masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.
Hurlock (1999:11), mengemukakan beberapa faktor pendorong yang
dapat meningkatkan kreativitas, yaitu:
1. Waktu
Untuk menjadi kreatif, kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian
rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka untuk bermain
dengan gagasan, konsep, dan mencobanya dalam bentuk baru dan original.
2. Kesempatan menyendiri

Hanya apabila tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial, anak dapat
menjadi kreatif.
3. Dorongan
Terlepas dari seberapa jauh prestasi anak memenuhi standar orang dewasa.
Untuk menjadi kreatif harus terbebas dari ejekan dan kritik yang sering
kali dilontarkan pada anak yang tidak kreatif.
4. Sarana
Sarana untuk bermain dan kelak sarana lainnya harus disediakan untuk
merangsang dorongan eksperimentasi dan eksplorasi, yang merupakan
unsur penting dari semua kreativitas.
5. Lingkungan yang merangsang
Lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas. Ini harus
dilakukan sedini mungkin sejak masa bayi, suatu pengalaman yang
menyenangkan dan dihargai secara sosial.
6. Hubungan anak dan orang tua yang tidak posesif
Orang tua yang tidak terlalu melindungi atau terlalu posesif terhadap anak,
mendorong anak untuk mandiri.
7. Cara mendidik anak
Mendidik anak secara demokratis di rumah dan sekolah meningkatkan
kreativitas, sedangkan cara mendidik otoriter memadamkannya.
8. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan
Kreativitas tidak muncul dalam kehampaan. Makin banyak pengetahuan
yang diperoleh anak semakin baik dasar-dasar untuk mencapai hasil yang
kreatif.
Menurut Munandar (dalam Yeni dan Euis, 2005:36-37) kreativitas
penting dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak:
1. Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri
merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia.
2. Kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat
bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah

merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat
perhatian dalam pendidikan.
3. Bersibuk diri dalam kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan
lingkungan, tetapi terlebih juga memberikan kepuasan kepada individu
4. Kreativitas

yang

memungkinkan

manusia

meningkatkan

kualitas

hidupnya. Dalam era pembangunan ini, kesejahteraan dan kejayaan


masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide
baru, penemuan baru, dan teknologi baru, untuk mencapai hal ini , sikap,
pemikiran, dan perilaku kreatif harus dipupuk sejak dini.
B. Pengertian Balok
Balok adalah bangun-bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh
tiga pasang persegi atau persegi panjang, dengan paling tidak atau satu pasang
diantaranya berukuran berbeda. Balok memiliki 6 sisi, 12 rusuk dan 8 titik
sudut (https://secure.wikimedia.org/wikimedia/id/wiki/Balok)
Mainan edukatif (Alat Permainan Edukatif / APE) seperti building
block yang terdiri dari balok-balok dengan beberapa bentuk seperti segitiga,
segi empat, persegi panjang, setengah lingkaran bisa memacu kreatifitas dan
konsentrasi anak. (http://www.educativetoys.com/).
Alat permainan balok mudah dibongkar pasang, mengembangkan
daya fantasi dan kreasi serta tidak berbahaya (Zulkifli, 1987 : 59). Adapun
keunggulan bermain balok, antara lain:
1. Manfaat Fisik
Main balok memperkuat genggaman jari dan tangan anak, meningkatkan
koordinasi mata dan tangan.
2. Manfaat Sosial
Bermain

balok

mendorong

anak

untuk

berteman,

bekerjasama,

berinteraksi dan berimajinasi. Imajinasi anak segera terwujud ketika


bermain balok. Keatifitas yang dikombinasikan dengan aksi sangat penting
dalam kehidupan sosial.
3. Manfaat Intelektual

Anak dapat mengembangkan kata-kata mereka ketika bermain balok. Anak


mengembangkan kemampuan matematika melalui

mengelompokkan,

penambahan, pengurangan. Dengan bermain balok anak akan mengerti


jika balok tidak seimbang bisa jatuh, dengan sendirinya anak telah belajar
tentang keseimbangan dan grafitasi. Belajar geometri dengan bermain
balok akan meningkatkan stimulasi intelektual anak.
4. Manfaat Kreatif
Mainan balok dapat memicu stimulasi kreatifitas, karena anak akan
membuat desain sendiri dengan balok. Plato seorang Philosofi Yunani
(428-348 SM) menulis bahwa arsitek masa depan adalah anak yang
maiannya membuat bangunan.(http://www.omochatoys.com)
Dalam penelitian ini untuk mengembangkan kreatifitas dipilih media
balok sesuai dengan alat permainan edukatif / APE. Balok kayu yang dipilih
dalam penelitian ini adalah balok dengan bermacam-macam bentuk antara
lain:
1. Bermacam-macam bentuk segi empat
a. Bujur sangkar / persegi
b. Persegi panjang
2. Bentuk-bentuk segitiga
a. Segitiga sama sisi
b. Segitiga lancip
c. Segitiga sama kaki
3. Bermacam-macam ukuran lingkaran
a. Setengah lingkaran
b. Lingkaran penuh
c. Seperempat lingkaran
C. Tahap-tahap Perkembangan dalam Penggunaan Balok
1. Membawa Balok (Bermain Fungsional)
Anak kecil yang belum pernah bermain dengan balok sebelumnya
akan membawa balok berkeliling atau memuatnya ke dalam truk mainan
dan membawa balok berkeliling dengan truk tersebut. Pada saat ini anak

10

tertarik untuk belajar tentang balok seberapa beratnya balok tersebut


seperti balok yang diangkatnya di truk mainan tersebut.
2. Menumpuk balok dan meletakkannya di lantai
Pada tahap ini anak masih meneruskan bermain sifat-sifat balok.
Mereka menemukan bagaimana caranya membuat menara dengan
menumpuk balok dan bagaimana kelihatannya jika disusun di lantai.
3. Menghubungkan balok untuk membentuk bangunan
Pada tahap ini anak akan mengembangkan kegiatan bermain
dengan membuat lingkaran tertutup, bentuk jembatan, desainnya.
4. Membuat bangunan yang jelas terlihat (bermain dramatik)
Pada tahap ini anak akan memulai keahliannya dalam membuat
susunan yang kompleks dan tidak mencontoh karya orang lain (asli buatan
sendiri). Sedangkan tahapan perkembangan bermain balok yang
bersumber dari data dinding di sentra balok di TPA Ibunda sebagai
berikut:
a. Tidak ada bangunan
b. Susunan garis lurus keatas
c. Vertikal menyusun garis lurus kesamping
d. Susunan daerah lurus keatas
e. Susunan daerah lurus mendatar
f. Ruang tertutup keatas
g. Ruang tertutup mendatar
h. Menggunakan balok untuk membangun bangunan 3 dimensi
i. Ruang tertutup 3 dimensi
j. Menggabungkan atau mengkombinasikan beberapa bentuk bangunan
k. Mulai memberi nama
l. Satu bangunan satu nama
m. Bentuk-bentuk balok diberi nama
n. Memberi nama obyek yang terpisah
o. Merepresentasikan ruang dalam
p. Obyek-obyek didalam ditempatkan diluar

11

q. Representasi ruang dalam dan luar secara tepat


r. Bangunan dibangun sesuai skala
s. Bangunan yang terdiri dari banyak bagian
D. Hubungan Permainan Balok dengan Kreativitas Anak
Balok dapat berfungsi untuk mengimplementasikan kurikulum Anak
Usia Dini yang kreatif. Balok yang digunakan di Pendidikan Anak Usia Dini
yang ideal adalah balok yang berongga (hallow block). Balok dapat diubah
menjadi bentuk boneka rumah, kandang hewan,kendaraan dll. Dengan
bermain balok dapat mengembangkan konsep matematika, ilmu pengetahuan,
bentuk geometri dan studi sosial.
Anak-anak senang mengeksplorasi ciri-ciri fisik balok dengan
menyentuhnya dan memukul-mukulnya untuk mengetahui bagaimana
bunyinya.
Balok kayu adalah alat bermain yang bebas dimainkan sesuai dengan
keinginan anak. Anak dapat berkreasi apapun, yang diinginkan, kadangkadang anak-anak mulai dengan sebuah ide yang ingin dia buat kemudian
bentuk tiga dimensi, yang telah dibuat anak dengan balok berkembang disaat
anak meletakkan balok lainnya, baik secara acak maupun mengikuti bentuk
tertentu. Keuntungan bermain balok bagi anak usia dini, antara lain:
1. Ketrampilan berhubungan dengan teman sebaya
2. Kemampuan berkomunikasi
3. Kekuatan dan koordinasi motorik halus dan kasar
4. Konsep matematika dan geometri
5. Mengembangkan pemikiran simbolik
6. Pengetahuan pemetaan
7. Ketrampilan membedakan penglihatan

BAB III

12

METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah anak-anak yang bersekolah di TPA
Ibunda. Selain itu, penggalian informasi juga dilakukan kepada guru.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 Maret 2015 di TPA Ibunda Desa
Lebo, Kecamatan Lebo, Kabupaten Batang.
TPA Ibunda beralamat di Desa Lebo Kecamatan Lebo Kabupaten
Batang dengan kondisi ekonomi orangtua yaitu menengah ke bawah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang tingkat perkembangan
kreativitas anak pada TPA Ibunda
B. Metode Penelitian
Penelitian

ini

menggunakan

metode

interpretatif

yaitu

menginterpretasikan data mengenai fenomena atau gejala yang diteliti di


lapangan. Metode penelitian yang peneliti gunakan melalui kegiatan
observasi, wawancara dan pengumpulan data.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai
berikut:
1. Observasi
Observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian di
mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian (Kusumah,
2010:66). Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek
ditempat

terjadi

atau

berlangsungnya

peristiwa

sehingga

observer/pengamat berada bersama objek yang diselidiki disebut observasi


langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan dan
pencatatan yang dilakukan tidak pada saat peristiwa tersebut berlangsung.
Teknik observasi dibagi menjadi 2 macam yaitu teknik observasi terbuka
dan teknik observasi tertutup.
a. Observasi Terbuka

13

Observasi terbuka adalah bentuk observasi yang ideal dan


paling dapat dipertanggungjawabkan. Pada teknik ini, peneliti
melakukan

observasi

secara

terang-terangan

dan

dengan

mengungkapkan identitas pribadi maupun institusi yang diwakilinya


secara jelas. Selain itu, orang yang akan diobservasi tidak merasa
dikecoh/ditipu hal ini merupakan keunggulan observasi terbuka.
b. Observasi Tertutup
Observasi tertutup dilakukan secara diam-diam dan peneliti
tidak mengungkapkan identitas pribadi maupun institusinya bahkan
dirahasiakan.
Adapun langkah-langkah dalam membuat observasi adalah
sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan atau aspek yang akan di observasi.
b. Mempertimbangkan dan menetapkan objeknya.
c. Menetapkan lama waktu.
d. Membuat instrumen pengamatan berupa pedoman observasi.
e. Sebelum digunakan pedoman observasi telah dahulu diujicobakan
pada calon-calon pengamat agat setiap aspek tingkah laku yang akan
diamati dapat dipahami.
2. Wawancara
Secara umum wawancara adalah proses tanya jawab antara
pewawancara dengan orang yang diwawancarai. Menurut Riduwan (2003:13),
wawancara ialah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk
memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Sedangkan menurut
Nasution (2007:113), interview atau wawancara yaitu suatu bentuk
komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperoleh
informasi.
Hal yang perlu dilakukan ketika wawancara, yaitu sebagai berikut:
1. Pewawancara menyiapkan kebutuhan seperti (1) nama-nama yang harus
diwawancarai, (2) lembar pertanyaan, (3) alat perekam, (4) tempat yang
tepat untuk mewawancarai.

14

2. Jika itu semua sudah disiapkan lalu pewawancara mulai dapat


mewawancarai responden.
3. Diawali dengan menyapa yang akan diwawancarai lalu menyebutkan
nama dan keperluan wawancara, maksud mengapa pewawancara
mewawancarai responden serta jangan lupa menyebutkan instansi yang
mengirimkan pewawancara.
4. Beritahukan berapa lama waktu yang kira-kira diperlukan untuk
mewawancarai responden.
5. Mulai mewawancarai.
6. Pewawancara mewawancarai secara bertahap menggunakan pertanyaanpertanyaan yang telah disusun atau dibuat.
7. Setelah semua pertanyaan dijawab pewawancara dapat menyudahi atau
menyelesaikan wawancara tersebut.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, bisa
berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang
(Sugiyono,

2010:329).

Seorang

peneliti

menggunakan

alasan-alasan

dokumentasi agar dapat dipertanggungjawabkan dalam penelitiannya adalah


sebagai berikut:
a. Dokumen merupakan sumber yang stabil.
b.

Berguna

sebagai

bukti

untuk pengujian.
c.

Sesuai untuk penelitian


kualitatif karena sifatnya yang alami.

d.

Tidak reaktif

sehingga

tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.


e.

Hasil pengkajian isi akan


membuka kesempatan untuk lebih memperluas tumbuh pengetahuan
terhadap suatu yang diselidiki.
Secara garis besar, evaluasi kegiatan non tes dokumentasi hal ini

dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:


a. Menentukan aspek perkembangan/kegiatan apa yang akan dinilai.

15

b. Mengumpulkan data asli dan dokumen yang berhubungan langsung


dengan masalah penelitian.
c. Menyusun data-data yang sudah terkumpul sesuai kebutuhan evaluuasi.
d. Menganalisis dengan mengamati dan meneliti setiap data yang sudah
terkumpul untuk mencari hubungan antara data yang satu dengan data
yang lain berkenaan dengan masalah yang akan dievaluasi.
e. Membuat kesimpulan atas hasil analisis terhadap keseluruhan data.

16

BAB IV
ANALISIS DATA
A. Tabulasi Data
Untuk memudahkan analisis data, maka data hasil penelitian dibuat
tabulasi sebagai berikut:
Tabel 4.1. Hasil Tabulasi Data
Nama TPA

: Ibunda

Hari/Tanggal : Senin, 9 Maret 2015

TPA Ibunda

Wawancara dengan
Guru
TPA Ibunda

Wawancara dengan
Pimpinan PAUD
Model pembelajaran

Dalam kegiatan

menggunakan

menggunakan model

di TPA dapat

menyusun balok-

model sentra

sentra dalam

memaksimalkan

balok sarana

dalam

pembelajaran karena

proses pembelajaran

mencukupi sesuai

pembelajaran

sarana dan prasarana

yang berpedoman

dengan SKH

Di dalam

cukup memadai
Belajar dan bermain

pada kurikulum
Dengan mengajak

Anak dalam

kegiatan

merupakan

anak untuk bertepuk

mengikuti

pembelajaran,

kesenangan bagi

dan bernyanyi

pembelajaran

guru mengajak

anak. Guru dalam

membuat anak

dengan senang

anak untuk

menyampaikan

senang dalam

dan tertib

bertepuk,

pembelajaran dibuat

pembelajaran

bernyanyi kadang

suasana yang

posisi duduk dan

menyenangkan

berdiri
Dalam kegiatan

Dalam pembelajaran

Dalam pembelajaran

SKH guru selama

menyusun balok

sentra, anak

sentra, anak

4 hari dalam

anak pindah dari

dikondisikan untuk

dikondisikan untuk

kegiatan sama.

sentra seni ke

memasuki sentra

memasuki sentra

Anak rolling

sentra balok

yang dibuka dan

yang dibuka dan

memasuki sentra

dengan

kegiatannya rolling

kegiatannya rolling

Observasi

Dokumentasi

17

pembimbing yang selama 4 hari

selama 4 hari

berbeda
Hasil kegiatan

Anak lebih tertarik

Dengan

Berbagai macam

menyusun balok

dan kreatif dalam

menggunakan balok,

warna dan ukuran

menggunakan

menciptakan bentuk-

dapat kreativitas anak

balok yang ada di

berbagai macam

bentuk bangunan

juga lebih tertarik

sentra balok

warna dan

dari balok-balok.

dalam mengikuti

ukuuran dan

Anak berebut balok

pembelajaran. Anak

masih ada anak

karena usia anak

berebut balok karena

yang berebut

memang masih

usia anak memang

balok

egosentris, anak

masih egosentris,

perlu dilatih rasa

anak perlu dilatih

sosial

rasa sosial

B. Analisis Kritis
Berdasarkan data tersebut di atas, dapat disimpulkan di TPA Ibunda
menggunakan model sentra dalam pembelajaran karena sarana dan prasarana
cukup memadai dan di dalam kegiatan pembelajaran, dengan cara belajar dan
bermain dan guru dalam menyampaikan pembelajaran dapat menciptakan
suasana yang menyenangkan bagi anak sehingga anak lebih tertarik dan
kreatif dalam menciptakan bentuk-bentuk bangunan dari balok-balok seperti
membuat menara, dapat mengelompokkan balok berdasarkan warna dan
bentuk dan dapat menciptakan kreasi tersendiri sehingga dapat menciptakan
suatu bentuk, namun kelemahan dalam permainan balok ini di TPA Ibunda
Desa Lebo, anak-anak masih berebut balok karena usia anak memang masih
egosentris sehingga pihak sekolah baik guru maupun kepala TPA terus melatih
sehingga mempunyai rasa sosial yang tinggi sehingga mau berbagi kepada
teman-temannya.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan pendapat Yeni dan Euis (2005:
14), kreativitas merupakan suatu proses mental individu yang melahirkan
gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang efektif yang bersifat

18

imajinatif, estetis, fleksibel, integrasi, suksesi, diskontinuitas, dan diferensiasi


yang berdaya guna dalam berbagai bidang untuk pemecahan suatu masalah.

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan

19

Dari tabulasi dan analisis data yang ada, peneliti dapat disimpulkan
bahwa:
1. Di TPA Ibunda Desa Lebo, kegiatan pembelajaran disajikan dalam bentuk
sentra yaitu sentra bermain peran, sentra bahasa, sentra balok dan
kontruksi, sentra kreasi dan seni.
2. Di TPA Ibunda Desa Lebo, kegiatan bermain dengan menyusun balokbalok dapat meningkatkan kreativitas anak, hal ini terbukti anak dapat
membuat menara, dapat mengelompokkan balok berdasarkan warna dan
bentuk dan dapat menciptakan kreasi tersendiri sehingga dapat
menciptakan suatu bentuk, namun kelemahan dalam permainan balok ini
di TPA Ibunda Desa Lebo, anak-anak masih berebut balok karena usia
anak memang masih egosentris.
B. Saran
1. Guru sebaiknya selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya baik
lewat pendidikan maupun seminar atau penataran-penataran.
2. Agar kegiatan pembelajaran lebih fokus sebaiknya guru menggunakan
media yang menarik dan bervariasi.
3. Agar dalam bermain khususnya menyusun balok anak tidak berebut,
sebaiknya dikondisikan ada aturan main. Ada pembimbingan dalam
menyusun balok baik individu maupun klasikal.

DAFTAR PUSTAKA
16
Moeslihatoen. 2004. Metode Pengajaran di TK. Jakarta: Rineka Cipta.
http://www.educativetoys.com/

20

http://www.omochatoys.com/index.php?option=com.content&
view=article&id=432
Widarmi D Wijana, dkk. (2010). Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Luluk Asmawati, dkk. (2011). Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia
Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.
Winda Gunarti,dkk. (2008). Metode Pengembangan Pendidikan dan Kemampuan
Dasar Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.
Siti Aisyah, dkk. (2010).. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak
Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.
htpp://bidanku.com/index.php?perkembangan-motorik-halus-anak