Anda di halaman 1dari 2

REPOSISI POROS PERJUANGAN MAHASISWA, MENJAWAB TANTANGAN

ZAMAN
Oleh : Ahmad Maulana*
Kita anti penjajahan, karena kita sudah mengalami hidup dalam alam
penjajahan. Dan tidak bisa terbentuk mayarakat adil dan Makmur dalam
penjajahan. Kita ingin agar senantiasa ada perdamaian didunia ini, ingin agar
seluruh hidup manusia dalam ketenangan. Tidak ada satu Bangsa
mengeksploitir Bangsa lain, tidak ada orang lain menghisap orang lain
Kutipan diatas diungkapkan oleh salah satu tokoh yang menurut Prof Yudi Latief
merupakan salah satu tokoh intelektual muslim generasi ketiga yaitu Prof. Lafran Pane,
ungkapan pendiri organisasi Mahasiswa Tertua di Indonesia (red: Himpunan Mahasiswa
Islam/HMI) ini rasanya sangat relevan menjadi cambuk bagi mahasiswa untuk
mengembalikan Khittah Perjuangannya dalam merespon tantangan agenda zaman era ini.
Dalam perjuangan pergerakan Bangsa Indonesia dari masa Sebelum Merdeka sampai
Mengisi Kemerdekaan saat ini telah banyak hal yang dilakukan oleh Mahasiswa mewakili
kaum muda dan Cendikia. Pergerakan mulai sejak tahun 1908, 1928, 1945, 1866 sampai
pada Pergerakan era 1998 telah mengukuhkan peran Mahasiswa dalam merespon dan
menjawab tantangan pada zamannya.
Timbul pertanyaan mendasar, bagaimana posisi mahasiswa dalam merespon permasalah
Indonesia saat ini ?. Melalui tulisan ini penulis coba mengkaji bagaimana keadaan
pergerakan mahasiswa saat ini dan peran strategis apa yang dapat dilakukan oleh
mahasiswa memalui pergerakannya.
Pertama kita mengkaji Indonesia yang saat ini,dalam masa globalisasi. Merespon
globalisasi Indonesia masuk dalam ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (Komunitas
Ekonomi ASEAN) atau kita sering mengatakan dengan istilah MEA yang mulai berlaku
tahun ini. MEA dapat saja menimbulkan Cultural Shock yang dialami oleh masyarakat
Indonesia. Cultural Shock yang dimaksud adalah masa dimana transisisi yang timbul dalam
diri masyarakat karena memasuki suatu kebuadayaan baru. Efeknya adalah ketidaksiapan
masyarakat akan masukya budaya baru sehingga terjadilah penolakan terhadap unsur
budaya baru yang masuk tersebut.
Hal diatas sangat mungkin terjadi di Indonesia, karena hingga saat ini MEA dikatakan
berlaku di Indonesia pemerintah belum juga menyiapkan Insfrastuktur yang memadai
dalam menghadapai MEA, contohnya saja belum belum terlihat jelas bagaimana
Pemerintah melindungi tenaga kerja Indonesia dari serbuan tenaga ahli asing. Selain itu
Pemerintah juga belum dapat menimbulkan iklim usaha yang stabil dan dikatakan
mendorong masyarakat dapat berkompetisi dengan pasar global dilingkup ASEAN
sehingga masyarakat dapat mamanfaatkan MEA sebagai Peluang. Jika kondisi ini terus
berlanjut maka kedepan sangat memungkinkan pengangguran di Indonesia terdiri dari para
lulusan perguruan tinggi yang artinya Penggangguran Terdidik dalam usia produktif di
Indonesia akan semakin besar, hal ini akan terus bertambah karena Indonesia akan
memasuki bonus Demografi dalam tahun-tahun mendatang.
Merespon masa akan datang sudah saatnya mahasiswa kembali menegaskan fase
perjuangannya dalam generasi ini. Karena kedepan permasalahan bumi pertiwi bukan lagi
permasalahan agresi meliter bangsa asing, bukan pula korupsi yang makin merajalela,
tetapi juga bagaimana kaum cendikia/mahasiswa sebagai potensi pemuda Indonesia dapat
memenangkan kompetisi dengan asing dan mengisi kemerdekaan Indonesia saat ini dalam
rangka mewujudkan Masyarakat adil dan Makmur.
69 HMI, Mampukah Menjawab Tantangan Agenda Zaman
Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi Mahasiswa tertua diIndonesia harus dapat
mempersiapkan potensi para kadernya yang tersebar di lebih 200 Cabang untuk merespon
segala permasalah bangsa. Dalam usia 69 tahun (5 Februari 1947 5 Februari 2016) HMI
harus sudah menegaskan diri sebagai organisasi modern yang tidak hanya bernostalgia
dalam kejayaan para seniornya terdahulu tatapi mampu membina kader masa akan
datang.
HMI sebagai organisasi mahasiswa yang besar harus mampu menjadi prototype dalam
pergerakan dan perjuangan mahasiswa saat ini. maka dari itu HMI saat ini harus berada
dalam garda terdepan dalam menyiapkan generasi ummat masa depan. Dengan Wawasan
Kebangsaan dan keIslamanan yang diusungnya HMI dianggap mampu melahirkan

generasi kader ummat yang mapan secara Intelektual dan Spiritual, bukan hanya cerdas
tatapi dilandasi oleh akhlak yang baik, bukan hanya berbicara Islam tetapi juga fokus dalam
wawasan kebangsaannya.
Selain itu untuk menjawab tantangan agenda zaman kedepan HMI dan Koprs alumninya
(KAHMI) yang sebebar diseluruh dari kalangan akademisi, profesional, politisi, ekonom,
budayawan dan lain-lain harus dapat bersinergi dalam rangka merealisasikan tujuan HMI
yakni Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernasafkan Islam, dan
bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di Ridho`I Allah SWT.
Menurut saya HMI dan KAHMI harus berbagi peran, Peran HMI mencetak kader ummat
dan kader bangsa dengan kualitas insan cita akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam. Dan peran KAHMI fokus dalam mengamalkan tujuan Akhir HMI yakni
Mewujudkan Masyakakat Adil dan Makmur untuk Indonesia tercinta.
Bagaimanapun seperti yang dikatakan oleh Lafran Pane bahwa HMI lahir untuk
kepentingan Nasional dan kepentingan Islam, HMI juga merupakan manifestasi dari
kepedulian mahasiswa saat itu untuk ikut berperan dalam menegakkan Republik Indonesia
sekaligus mempertahankan dan menyiarkan Islam. Hal tersebut bisa dibuktikan dari kiprah
HMI dalam setiap perjalanan Bangsa Indonesia, juga harus dibuktikan kembali dalam
diera ini.

*Penulis saat ini menjabat sebagai Ketua Umum HMI Cabang Depok