Anda di halaman 1dari 71

HUBUNGAN RUMAH TIDAK SEHAT DENGAN

KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA


DI DESA SAWIJI KECAMATAN JOGOROTO
KABUPATEN JOMBANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut UNICEF dan WHO tahun 2006. Pneumonia merupakan
salah satu masalah kesehatan dan penyumbang terbesar penyebab
kematian anak usia di bawah lima tahun (anak-balita). Pneumonia
membunuh anak lebih banyak daripada penyakit lain apapun,
mencakup hampir 1 dari 5 kematian anak-balita, membunuh lebih dari
2 juta anak-balita setiap tahun yang sebagian besar terjadi di negara
berkembang. Oleh karena itu pneumonia disebut sebagai pembunuh
anak no 1 (the number one killer of children). Di negara berkembang
pneumonia merupakan penyakit yang terabaikan (the neglegted
disease) atau penyakit yang terlupakan (the forgotten disease)
karena begitu banyak anak yang meninggal karena pneumonia namun
sangat sedikit perhatian yang diberikan kepada masalah pneumonia.
Menurut data dari WHO tahun 2008 menyatakan bahwa Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering
terjadi

pada

anak.

Insidens

menurut

kelompok

umur

Balita

diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di Negara berkembang dan


0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Ini menunjukkan bahwa

10

terdapat 156 juta episode baru di dunia per tahun dimana 151 juta
episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus terbanyak
terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10 juta) dan
Bangladesh, Indonesia, Nigeria masing-masing 6 juta episode.
Pneumonia merupakan salah satu penyebab dari 4 juta kematian
pada balita di negara berkembang, khususnya pada bayi. Kejadian
pneumonia pada bayi dan balita di Indonesia diperkirakan antara 1020% per tahun. Program pemberantasan penyakit ISPA yang telah
dilaksanakan beberapa waktu yang lalu menetapkan angka 10% balita
sebagai target penemuan penderita pneumonia balita pada suatu
wilayah kerja. Secara teoritis diperkirakan bahwa 10% dari pneumonia
akan meninggal bila tidak diberi pengobatan. Perkiraan angka
kematian pneumonia secara nasional adalah 6 per 1000 balita atau
150.000 balita per tahun (Maryunani, 2010).
Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia merupakan penyebab
kematian nomor dua pada balita (13,2%) setelah diare (17,2%). Sejak
tahun 2007 sampai 2011, angka cakupan penemuan pneumonia balita
berkisar antara 23%-28%. Cakupan penemuan pneumonia balita
sejak tahun 2007 hingga tahun 2010 cenderung menurun. Pada tahun
2011 mengalami sedikit peningkatan dari 23% menjadi sebesar
23,98% (Profil Kesehatan Indonesia, 2011).
Dari hasil pencatatan dan pelaporan tahun 2012, cakupan
penemuan penderita pneumonia balita di Jawa Timur sebesar 27,08%
dengan jumlah penderita yang dilaporkan oleh kabupaten/kota adalah

11

84.392 orang dan penemuan pneumonia balita di Jawa Timur sebesar


2,22 persen. Hal ini berarti persentase balita yang terkena pneumonia
disetiap kabupaten/kota di Jawa Timur umumnya berada dalam
kisaran 2 persen dengan nilai terendah dan tertinggi pneumonia
balitanya adalah 0,04 dan 8,31 persen (Profil Dinkes Kesehatan Jawa
Timur, 2012).
Meningkatnya kejadian pneumonia balita di Kabupaten Jombang
dan kejadian pneumonia pada balita terbesar berada pada wilayah
kerja Puskesmas Pulorejo di Kecamatan Ngoro sebesar 1518 balita
dengan presentase 35,9% (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten
Jombang, 2012).
Berdasarkan data dari DINKES Kab. Jombang tahun 2013 jumlah
penderita pneumonia adalah 1.229 balita dengan jumlah penemuan
penderita laki-laki lebih banyak 779 (12,82%) dari pada penderita
perempuan 450 (7,30%), dan angka kejadian pneumonia balita
tertinggi terletak pada wilayah kerja Puskesmas Mayangan sebesar
228 penderita dengan jumlah penemuan penderita laki-laki lebih
banyak 139 (65,41%) dari pada perempuan 89 (41,2%), di Wilayah
kerja Puskesmas Mayangan pneumonia balita terbesar terletak di
Desa Sawiji dengan jumlah penderita 42 (19,81%).
Berdasarkan penelitian Karim tahun 2012 di Kecamatan Marisa
Kabupaten Pohuwato, Gorontalo didapatkan hasil kejadian ISPA
sebagai berikut :
Tabel 1.1 : Hasil Penelitian di Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato,
Gorontalo, tahun 2012

12

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Aspek Yang diteliti


Ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat
Ventilasi rumah yang memenuhi syarat kejadian ISPA
Pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat
Pencahayaan rumah yang memenuhi syarat kejadian ISPA
Suhu udara rumah yang tidak memenuhi syarat
Suhu udara rumah yang memenuhi syarat
Kepadatan penghuni rumah yang tidak memenuhi syarat
Kepadatan penghuni rumah yang memenuhi syarat
Pencemaran udara oleh asap rokok dalam rumah yang
tidak memenuhi syarat
10. Pencemaran udara oleh asap rokok dalam rumah yang
memenuhi syarat
11. Pencemaran udara oleh asap obat anti nyamuk asap obat
anti nyamuk dalam rumah yang tidak memenuhi syarat
12. Pencemaran udara oleh asap obat anti nyamuk asap obat
anti nyamuk dalam rumah yang memenuhi syarat
13. Pencemaran udara oleh asap bahan bakar untuk memasak
didalam rumah yang tidak memenuhi syarat
14. Pencemaran udara oleh asap bahan bakar untuk memasak
didalam rumah yang memenuhi syarat
Sumber : Jurnal Penelitian oleh Karim tahun 2012

Menurut

Kartasasmita

tahun

2010

dalam

buletin

%
58.2
31.3
52.9
43.5
42.5
46.8
53.4
40.0
55.0
38.2
52.8
39.7
49.7
34.9

jendela

epedemiologi volume 3. Berbagai faktor risiko yang meningkatkan


kejadian, beratnya penyakit dan kematian karena pneumonia, yaitu
status gizi (gizi kurang dan gizi buruk memperbesar risiko), pemberian
ASI (ASI eksklusif mengurangi risiko), suplementasi vitamin A
(mengurangi risiko), suplementasi zinc (mengurangi risiko), bayi berat
badan lahir rendah (meningkatkan risiko), vaksinasi (mengurangi
risiko), dan polusi udara dalam kamar terutama asap rokok dan asap
bakaran dari dapur (meningkatkan risiko).
Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat
kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai jenis
penyakit. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan
Tuberkulosis yang erat kaitannya dengan kondisi sanitasi perumahan,
berturut-turut merupakan penyebab kematian nomer 2 dan 3 di

13

Indonesia (SKRT, 1995) dalam Departemen Kesehatan Provinsi Jawa


Timur, 2012.
Menurut

WHO

tahun

2008

rumah

disamping

merupakan

lingkungan fisik manusia sebagai tempat tinggal, juga dapat


merupakan tempat yang menyebabkan penyakit, hal ini akan terjadi
bila kriteria rumah sehat belum terpenuhi. Menurut angka statistik
kematian dan kesakitan paling tinggi terjadi pada orang orang yang
menempati rumah yang tidak memenuhi syarat dan terletak pada
tempat yang tidak sanitar. Bila kondisi lingkungan buruk, derajat
kesehatan akan rendah demikian sebaliknya. Oleh karena itu kondisi
lingkungan pemukiman harus mampu mendukung tingkat kesehatan
penghuninya.
Pneumonia merupakan suatu penyakit yang memberikan angka
morbiditas dan angka mortalitas tinggi pada anak, anak yang
terserang penyakit ini bisa jatuh pada keadaan seperti tidak dapat
minum, terjadinya serangan hebat, kondisi mengantuk yang tak
normal atau sulit untuk bangun tidur, gizi buruk hebat, berjalan dengan
langkah yang panjang pada anak yang kalem (Masriroh, 2014).
Pneumonia yang tidak diberi penanganan maka akan menimbulkan
komplikasi

seperti

empiema

torasis,

perikarditis

purulenta,

pneumothoraks, atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis


purulenta (Said, 2010).
Berbagai banyaknya faktor yang mempengaruhi pneumonia, maka
dewasa ini terus dilakukan penelitian cara pencegahan pneumonia

14

yang efektif dan spesifik. Secara umum dapat dikatakan bahwa cara
pencegahan adalah dengan hidup sehat, cukup gizi, menghindari
polusi udara dan pemberian imunisasi lengkap (Maryunani, 2010).
Menurut Madjanis Said dalam buletin jendela epidemiologi,
volume 3 tahun 2010, banyak kegiatan yang dapat dilakukan dalam
mencegah

terjadinya

pneumonia

balita

misalnya

pendidikan

kesehatan kepada berbagai komponen masyarakat, terutama pada


ibu

anak-balita

tentang

besarnya

masalah

pneumonia

dan

pengaruhnya terhadap kematian anak. Perilaku preventif sederhana


misalnya kebiasaan mencuci tangan dan hidup bersih, perbaikan gizi
dengan pola makan yang sehat. Penurunan faktor risiko lain seperti
mencegah berat badan lahir rendah, menerapkan ASI eksklusif,
mencegah polusi udara dalam ruang yang berasal dari bahan bakar
rumah tangga dan perokok pasif di lingkungan rumah .
Dari latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti
hubungan rumah sehat dengan kejadian pneumonia pada balita.

1.2 Identifikasi Masalah


a. Jumlah penderita pneumonia di Kabupaten Jombang pada tahun
2013 adalah 1.229 balita dengan jumlah penemuan penderita lakilaki lebih banyak 779 (12,82%) dari pada penderita perempuan 450
(7,30%), dan angka kejadian pneumonia balita tertinggi terletak
pada wilayah kerja Puskesmas Mayangan sebesar 228 penderita
dengan jumlah penemuan penderita laki-laki lebih banyak 139

15

(65,41%) dari pada perempuan 89 (41,2%), di Wilayah kerja


Puskesmas Mayangan pneumonia balita terbesar terletak di Desa
Sawiji dengan jumlah penderita 42 (19,81%).
b. Akibat dari pneumonia pada balita yaitu tidak dapat minum,
terjadinya serangan hebat, kondisi mengantuk yang tak normal atau
sulit untuk bangun tidur, gizi buruk hebat, berjalan dengan langkah
yang panjang pada anak yang kalem serta pneumonia yang tidak
diberi penanganan maka akan menimbulkan komplikasi seperti
empiema torasis, perikarditis purulenta, pneumothoraks, atau
infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta.
c. Angka morbiditas pneumonia di Indonesia adalah 6 per 1000 balita
atau 150.000 balita per tahun, sedangkan angka mortalitas
pneumonia di Jawa Timur sebanyak 84.392 balita.

1.3 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada
hubungan rumah tidak sehat dengan kejadian pneumonia pada balita
di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang?.

1.4 Batasan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini hanya dibatasi
pada rumah tidak sehat dengan balita yang terkena penyakit
pneumonia.

16

1.5 Tujuan Penelitian


1.5.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan rumah tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto
Kabupaten Jombang.
1.5.2 Tujuan Khusus
1.5.2.1Mengidentifikasi

rumah

tidak

sehat

di

Desa

Sawiji

Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.


1.5.2.2Mengidentifikasi Pneumonia pada balita di Desa Sawiji
Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.
1.5.2.3Menganalisis hubungan rumah tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto
Kabupaten Jombang.

1.6 Manfaat Penelitian


1.6.1 Manfaat Teoritis
1.6.1.1Bagi Peneliti
Sebagai nilai tambah kepustakaan institusi dan dapat
dikembangkan lebih luas lagi untuk penelitian selanjutnya.
1.6.2 Manfaat Praktis
1.6.2.1Bagi Petugas Kesehatan Di Puskesmas

17

Dapat menjadi masukan bagi tempat penelitian khususnya


dibidang kesehatan balita dan dapat digunakan sebagai
acuan untuk melakukan penyuluhan agar dapat mengurangi
angka kejadian pneumonia balita.
1.6.2.2Bagi Profesi
Dapat menjadi acuan untuk meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan dan di harapkan akan terus meningkatkan
kualitas serta memberikan pelayanan kesehatan yang
terbaik kepada masyarakat di Kabupaten Jombang.
1.6.2.3Bagi Responden
Menumbuhkan

kesadaran

responden

untuk

menjaga

kesehatan rumah sehingga anak dapat terhindar dari


pneumonia.

18

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Rumah


2.1.1 Pengertian
Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi
atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh
positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimal pula.
Ruang

lingkup

kesehatan

lingkungan

tersebut

antara

lain

mencakup : perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja),


penyediaan air bersih pembuangan sampah, pembuangan air kotor
(air limbah), rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya
(Notoatmodjo, 2011).
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia,
disamping kebutuhan sandang dan pangan. Rumah berfungsi pula
sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk berlindung dari
gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya. Selain itu rumah juga
merupakan pengembangan kehidupan dan tempat berkumpulnya
anggota keluarga untuk menghabiskan waktunya dirumah. Rumah
sehat dan nyaman merupakan sumber inspirasi penghuninya untuk
berkarya, sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya (Depkes,
2012).
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan
manusia (Notoatmodjo, 2011). Rumah selain berfungsi sebagai

19

tempat tinggal juga memiliki arti sosial yang sangat menonjol.


Bentuk dan keadaan serta letak rumah dapat menentukan status
sosial bagi pemiliknya (Mubarak, 2009). Rumah ideal adalah rumah
yang layak dihuni oleh anggota rumah tangga dan memenuhi
syarat-syaratnya. Misalnya rumah yang layak dipandang dari segi
teknis, sosial, lingkungan, dan kesehatan. Persyaratan utama dari
segi teknis adalah setiap rumah dapat menjamin penghuninya dari
bencana alam maupun ketahanan yang diperlukan agar rumah
tidak gampang rusak. Dari segi sosial, perumahan yang layak
adalah perumahan yang tidak melanggar penataan pemerintah.
Dari segi lingkungan, perumahan harus menjamin lingkungan yang
baik

dan teratur. Dari segi kesehatan sekitar, perumahan yang

layak harus terjaga kesehatannya (Mubarak, 2009).


Faktor-faktor resiko lingkungan pada bangunan rumah yang
dapat mempengaruhi kejadian penyakit maupun kecelakaan antara
lain ventilasi, pencahayaan, kepadatan hunian

ruang tidur,

kelembaban ruang, kualitas udara ruang, binatang penular


penyakit, air bersih, limbah rumah tangga, sampah serta perilaku
penghuni dalam rumah. Upaya pengendalian faktor resiko yang
mempengaruhi timbulnya ancaman dan melindungi keluarga dari
dampak kualitas lingkungan perumahan dan rumah tinggal yang
tidak sehat, telah diatur dalam (Kepmenkes) Keputusan Menteri
Kesehatan RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan (Depkes, 2012).

20

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun


sebuah rumah yaitu:
Faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, biologis maupun
lingkungan sosial. Maksudnya, membangun sebuah rumah harus
memperhatikan tempat di mana rumah itu di dirikan.
Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat, rumah dibangun
berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, untuk itu maka
bahan-bahan setempat misalnya dari bambu, kayu atap rumbia,
dan sebagainya, merupakan bahan-bahan pokok pembuatan
rumah. Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat, dewasa ini
teknologi perumahan sudah begitu maju dan begitu modern. Akan
tetapi, teknologi modern itu sangat mahal dan bahkan kadangkadang tidak dimengerti masyarakat. Rakyat pedesaan sudah
mempunyai teknologi perumahan sendiri yang dipunyai turuntemurun. Oleh karena itu, penerapan teknologi yang tepat guna
harus dipertahankan sedangkan kekurangan-kekurangan yang
dimodifikasi, sehingga dapat memenuhi persyaratan rumah sehat
yang telah ditetapkan (Notoatmodjo, 2011).

2.1.2 Syarat Syarat Rumah Sehat


Menurut Notoatmodjo, syarat-syarat rumah sehat yaitu;
1. Bahan bangunan
a. Lantai : ubin atau semen adalah baik, namun tidak cocok
untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering

21

terdapat pada rumah-rumah orang mampu di pedesaan.


Untuk lantai di pedesaan cukuplah tanah biasa yang
dipadatkan. Syarat yang terpenting adalah tidak berdebu
pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan.
b. Dinding tembok sangat baik, namun disamping mahal,
tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis,
lebih-lebih bila ventilasi tidak cukup. Dinding rumah di
daerah tropis khususnya di pedesaan, lebih baik dinding
atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka
lubang-lubang pada

dinding atau papan tersebut dapat

merupakan ventilasi, dan dapat menambah penerangan


alamiah.
c.

Atap genteng umum dipakai baik daerah perkotaan,


maupun pedesaan. Di samping atap genteng adalah cocok
untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat
dan bahkan mayarakat dapat membuatnya sendiri. Banyak
masyarakat pedesaan tidak mampu untuk itu, maka atap
daun rumbia atau daun kelapa pun dapat dipertahankan.

d. Atap seng tidak cocok untuk rumah dipedesaan, di samping


mahal juga menimbulkan suhu panas di dalam rumah.
e. Lain-lain (tiang, kaso, dan reng). Kayu untuk tiang, bamboo
untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut
pengalaman bahan-bahan ini tahan lama.
2. Ventilasi

22

Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama


adalah untuk menjaga agar aliran udara dalam rumah tetap
sejuk, keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah
tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan
kurangnya O2 dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang
bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Di
samping itu, tidak cukupnya ventilasi kan menyebabkan
kelembaban udara dalam ruangan naik karena terjadi proses
penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembapan ini
akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri,
pathogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).
Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan
udara ruanagan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri pathogen,
karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus.
Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi
lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap
dalam kelembapan (humidity) yang optimum. Ada dua macam
ventilasi, yakni :
a. Ventilasi alamiah, dimana aliran udara dalam ruangan
tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu,
lubang angin, lubang-lubang pada dinding, dan sebagainya.
Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan,
karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan
serangga lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada

23

usaha-usaha lain untuk melindungi dari gigitan nyamuk


tersebut.
b. Ventilasi buatan, yaitu dengan menggunakan alat-alat
khusus untuk mengalirkan udara tersebut, misalnya kipas
angin, dan mesin penghisap udara. Tetapi alat ini tidak
cocok dengan kondisi rumah di pedesaan.
3.

Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak
kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang
masuk ke dalam rumah, terutama cahaya matahari, disamping
kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik
untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit. Sebaliknya
terlalu banyak cahaya dalam rumah akan menyebabkan silau,
dan akhirnya dapat merusak mata. Cahaya dapat dibedakan
menjadi dua, yakni :
a. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat
penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri pathogen
dalam rumah, misalnya basil TBC. Oleh karena itu, rumah
yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang
cukup. Seyogianya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya
sekurang-kurangnya 15% sampai 20 % dari luas lantai
yang terdapat dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan
dalam membuat jendela diusahakan agar sinar matahari
dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang

24

oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini , disamping


sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuknya cahaya.
Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan
diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai
(bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu
harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok).
Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan
genteng kaca.
b. Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang
bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, dan
sebagainya.

4. Luas bangunan rumah


Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk
penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut
harus

disesuaikan

dengan

jumlah

penghuninya.

Luas

bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya


akan menyebabkan berjubel (overcrowded). Hal ini tidak sehat,
disebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu
anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah
menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan
yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 x 3m
untuk setiap orang (setiap anggota keluarga)

25

5. Fasilitas-fasilitas dalam rumah sehat


Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas
sebagai berikut :
a) Penyediaan air bersih yang cukup
b) Pembuangan tinja
c) Pembuangan air limbah (air bekas)
d) Pembuangan sampah
e) Fasilitas dapur
f)

Ruang berkumpul keluarga


Untuk rumah dipedesaan lebih cocok adanya serambi

(serambi muka atau belakang). Di samping fasilitas-fasilitas


tersebut, ada fasilitas lain yang perlu diadakan tersendiri untuk
rumah

pedesaan,

yakni

gudang

dan

kandang

ternak

(Notoatmodjo, 2011)
Berdasarkan hasil rumusan yang dikeluarkan oleh APHA
(American Public Health Association) di Amerika, syarat rumah
sehat harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a) Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan,
penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari
kebisingan yang mengganggu.
b) Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang
cukup, komuniasi yang sehat antara anggota keluarga dan
penghuni rumah.

26

c) Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit


antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih,
pengelola tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor
penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan,
cukup sinar matahari pagi, terlindungnnya makanan dan
minuman dari pencemaran, disamping penchayaan dan
penghawaan yang cukup
d) Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan
baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam
rumah antara lain persyaratan garis sepadan jalan,
konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar,
dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tegelincir
(DepKes, 2012).
Keadaan

perumahan

yang

layak

dengan

konstruksi

bangunan yang tidak membahayakan penghuninya, akan


menjamin keselamatan, kesehatan penghuninya. Misalnya
ventilasi dan pencahayaan yang cukup, tidak penuh sesak,
cukup leluasa bagi anak untuk bermain, bebas polusi, maka
akn menjamin tumbuh kembang anak.
Kebersihan,

baik

perorangan

maupun

kebersihan

lingkungan memegang peranan penting pada tumbuh kembang


anak. Kebersihan perorangan yang kurang, akan memudahkan
terjadinya penyakit-penyakit kulit dan saluran pencernaan:
diare, cacing dll. Sedangkan kebersihan lingkungan erat

27

hubungannya dengan penyakit saluran pernafasan, saluran


pencernaan, serta penyakit akibat nyamuk sebagai vectornya
seperti: malaria dan demam berdarah (Setjiningsih, 2013).

2.2 Konsep Pneumonia


2.2.1 Pengertian Pneumonia
Pneumonia adalah suatu radang paru-paru yang hebat,
seringkali

timbul

sebagai

komplikasi

dari

pilek,

radang

tenggorokann atau bronkhitis, tetapi dapat juga timbul tanpa ada


sesuatu yang sakit sebelumnya. Anak yang terserang pneumonia
terlihat sakit keras, sesak nafas, batuk-batuk, panas dingin,
hidungnya kembang kempis. Biasanya dada sakit, ludahnya
kadangkala berwarna merah coklat. Suhu badannya tinggi
sehingga adakalanya anak dapat kejang-kejang. Bila anak
menunjukkan gejala-gejala di atas, janganlah ragu lagi untuk ke
dokter. Pneumonia atau radang paru-paru adalah infeksi yang
ditandai dengan mengumpulnya cairan dalam kantong udara,
sehingga pergantian udara terganggu (Sutawijaya, 2010).
Pneumonia adalah suatu inflamasi pada parenkim paru. Pada
umumnya pneumonia pada masa anak digambarkan sebagai
bronkho-pneumonia yang mana merupakan suatu kombinasi dari
penyebaran pneumonia lobular (adanya infiltrate pada sebagian
area pada kedua lapangan/bidang paru dan sekitar bronchi) dan
pneumonia interstesiel (difusi bronkhiolitis dengan eksudat yang

28

jernih di dalam dinding alveolar tetapi bukan di ruang alveolar).


Bacterial pneumonia lebih sering mengenal lobular dan sering juga
terjadi

konsolidasi

lobular,

sedangkan

viral

pneumonia

menyebabkan inflamasi pada jaringan interstesiel (Maryunani,


2010).
Merupakan keradangan pada parenkim paru yang terjadi pada
masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini
timbul sebagai penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit
komplikasi (Hidayat, 2008).
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paruparu (alveoli) dan mempunyai gejala batuk, sesak nafas, ronkhi,
dan infiltrat pada foto rontgen. Terjadinya pneumonia pada anak
sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada
bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan P2
ISPA

semua

bentuk

pneumonia

(baik

pneumonia

maupun

bronkopneumonia) disebut pneumonia saja (Depkes RI, 2009).


2.2.2 Etiologi Pneumonia
Usia pasien meruopakan faktor yang memegang peranan
penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama
dalam spektrum etiologi, gambaran klinis, dan strategi pengobatan.
Spektrum mikroorganisme penyebab pada neonatus dan bayi kecil
berbeda dengan anak yang lebih besar. Etiologi pneumonia pada
neonatus dan bayi kecil berbeda dengan anak yang lebih besar.
Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi

29

streptococus group B dan bakteri Gram negatif seperti E. Coli,


Pseudomonas sp, atau klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar
dan anak balita, pneumonia sering disebabkan oleh infeksi
streptococus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B, dan
Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar
dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi
Mycoplasma pneumonia (Said, 2010).
Disamping disebabkan oleh lebih dari 300 jenis kuman, baik
berupa bakteri, virus maupun rickettsia. Penyebab pneumonia pada
balita di negara berkembang adalah bakteri, yaitu Streptococcus
Pneumonia dan Haemophylus Influenzae (Maryunani, 2010).
2.2.3 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung
pada berat ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai
berikut:
a.

Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah,


malaise, penurunan napsu makan, keluhan gastrointestinal
seperti mual, muntah atau diare; kadang-kadang ditemukan
gejala infeksi ekstrapulmoner (Said, 2010).

b.

Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi


dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan
sianosis (Said, 2010).
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti

pekak perkusi, suara napas melemah, dan ronkhi. Akan tetapi pada

30

neonatus dan bayi kecil, gejala dan tanda pneumonia lebih


beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi dan auskultasi
paru umumnya tidak ditemukan kelainan (Said, 2010).
Gambaran Klinis Pneumonia Bakterial, Viral, dan Mikoplasma
(Sowden, 2009)
1. Pneumonia Bakterial
Chlamydia

trachomatis,

Chlamydia

pneumoniae,

stafilokokus, streptokokus (90% dari kasus bakterial), dan


pneumonia pneumokokus terjadi paling sering.
a. Gejala awal
a) Rinitis ringan
b) Anoreksia
c) Lesu
b. Berkembang ke arah awitan yang tiba-tiba
a) Awitan demam tinggi akut
b) Gambaran toksik
c) Batuk produktif, penurunan bunyi panas, bising pada
saat auskultasi
d) Pernapasan

cepat

dan

dangkal

(50

sampai

80

kali/menit), dyspnea
e) Napas cuping hidung, retraksi, mengorok saat ekspirasi
f)

Peningkatan hitung sel darah putih

g) Usia kurang dari 2 tahun muntah dan diare ringan

31

h) Usia lebih dri 5 tahun sakit kepala dan menggigil,


sering mengeluh nyeri dada dan abdomen
i)

Temuan

radiografi

dada

menunjukkan

pneumonia

lobaris.
2. Pneumonia Viral
Virus-virus penyebab meliputi respiratory syncytial virus
(RSV; biasanya pada bayi yang berusia 2 sampai 5 bulan),
virus parainfluenza, adenovirus, dan enterovirus.
a. Gejala awal
a) Batuk, biasanya tidak produktif
b) Rinitis
b. Berkembang ke arah awitan yang tidak jelas tetapi
membahayakan atau tiba-tiba
a) Rentang gejala demam ringan, sedikit batuk, dan
malaise sampai demam tinggi, batuk berat, dan
kelemahan
b) Takipnea, walaupun bayi dengan infeksi RSV mungkin
mengalami apnea
c) Bising tersebar, ronki, mengi
d) Perubahan hitung sel darah putih normal atau sedikit
e) Temuan radiografi dada dari infiltrasi lobaris sementara
3. Pneumonia Mikoplasma (Jenis Ini Paling Sering Terjadi pada
Anak yang Berusia Lebih dari 5 Tahun)
a. Gejala awal

32

a) Demam derajat rendah


b) Menggigil
c) Faringitis
d) Sakit kepala dan malaise
e) Anoreksia
b. Berkembang menjadi
a) Batuk persisten, nonproduktif, biasanya 3 sampai 4
minggu
b) Batuk kering, pendek sputum berbecak darah
c) Rinitis
d) Bising, napas cepat, dan mengi
e) Temuan radiografi dada bervariasi, infiltrat interstisial
f)

Keletihan

2.2.4 Klasifikasi Pneumonia


Berdasarkan pedoman MTBS (2010), pneumonia dapat
diklasifikasikan secara sederhana berdasarkan gejala yang ada.
Klasifikasi ini bukanlah merupakan diagnose medis dan hanya
bertujuan untuk membantu para petugas kesehatan yang berada di
lapangan untuk menentukan tindakan yang perlu diambil, sehingga
anak tidak terlambat penanganan. Klasifikasi tersebut adalah:

1. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat


gejala :

33

a. Ada tanda bahaya umum, seperti anak tidak bisa minum


atau menetek, selalu memuntahkan semuanya, kejang
atau anak letargis/tidak sadar.
b. Terdapat tarikan dinding dada ke dalam.
c.

Terdapat stridor ( suara napas bunyi grok-grok saat


inspirasi )

2. Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat, batasan nafas


cepat adalah :
a. Anak usia 2 12 bulan apabila frekuensi napas 50 x/menit
atau lebih.
b. Anak Usia 1 5 tahun apabila frekuensi napas 40 x/menit
atau lebih.
3. Batuk bukan Pneumonia, apabila tidak ada tanda tanda atau
penyakit sangat berat.
2.2.5 Diagnosis Pneumonia
Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis
dan/atau serologi merupakan dasar terapi yang optimal. Akan tetapi
penemuan

bakteri

penyebab

tidak

selalu

mudah

karena

memerlukan laboratorium penunjang yang memadai. Oleh karena


itu, pneumonia pada anak umumnya didiagnosis berdasarkan
gambaran klinis yang menunjukkan keterlibatan sistem respiratori,
serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya pneumonia
adalah demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori

34

sebagai berikut : takipnea, batuk, napas cuping hidung, retraksi,


rhonki, dan suara napas melemah (Said, 2010).
2.2.6 Penatalaksanaan Pneumonia
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap.
Indikasi perawatan terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit,
misalnya toksis, distres pernapasan, tidak mau makan atau minum,
atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi, dan terutama
mempertimbangkan usia pasien . neonatus dan bayi kecil dengan
kemungkinan

klinis

pneumonia

harus

dirawat

inap.

Dasar

tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal


dengan antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan
suportif meliputi pemberian cairan intravena, terapi oksigen, koreksi
terhadap gangguan keseimbangan asam basa, elektrolit, dan gula
darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik.
Suplementasi vitamin A tidak terbukti efektif. Penyakit penyerta
harus ditanggulangi dengan adekuat, komplikasi yang mungkin
terjadi harus dipantau dan diatasi (Said, 2010).
2.2.7 Komplikasi
1) Pneumonia interstisial kronis
2) Atelektasis segmental atau lobaris kronis
3) Rusaknya jalan napas
4) Efusi pleura
5) Klasifikasi paru
6) Fibrosis paru

35

7) Bronkitis obliteratif dan bronkiolitis


8) Atelektasis persisten
(Sowden, 2009).
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pneumonia
Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor risiko terjadinya Pneumonia
yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku.
2.3.1 Faktor Lingkungan
a) Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk
memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme
pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA.
Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya
kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan
kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini
lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama
berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis
pencemaran tentunya akan lebih tinggi (Maryunani, 2010).
Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA
dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan risiko bronchitis,
pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih
terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan
dan 6-10 tahun (Maryunani, 2010).
b) Ventilasi rumah

36

Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan


udara ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara
mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.

Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung


kadar oksigen yang optimum bagi pernapasan.

b.

Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap


ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara
pengenceran udara.

c.

Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.

d.

Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan


bangunan.

e.

Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan


oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan
eksternal.

f.

Mendisfungsikan suhu udara secara merata.

c) Kepadatan hunian rumah


Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan
menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang
persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati
luas rumah 8m2.Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat
mencegah penularan penyakit dan melancarkan akivitas
(Maryunani, 2010).
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan
faktor

polusi

dalam

rumah

yang

telah

ada.Penelitian

37

menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan


kematian dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan
bahwa polusi udara, tingkat sosial, dan pendidikan memberi
korelasi yang tinggi pada faktor ini (Maryunani, 2010).

2.3.2 Faktor Individu Anak


1. Umur anak
Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden
penyakit pernapasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia
dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA
tertinggi pada umur 6-12 bulan (Maryunani, 2010).
2. Berat badan lahir
Berat

badan

lahir

menentukan

pertumbuhan

dan

perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan


berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian
yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir
normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena
pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga
lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan
sakit saluran pernapasan lainnya (Maryunani, 2010).
Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500
gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat

38

infeksi saluran pernapasan dan hubungan ini menetap setelah


dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan dan
pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan
riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih
tinggi terhadap penyakit saluran pernapasan, tetapi mengalami
lebih berat infeksinya (Maryunani, 2010).

3. Status gizi
Masukan

zat-zat

gizi

yang

diperoleh

pada

tahap

pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh: umur,


keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis
pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari anak
itu sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain
berdasarkan antopometri: berat badan lahir, panjang badan,
tinggi badan dan lingkar lengan atas (Maryunani, 2010).
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang
penting untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah
membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan
infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering
mendapat pneumonia. Di samping itu adanya hubungan antara
gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya
serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi
(Maryunani, 2010).

39

Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang


ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor
daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan
menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan
mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang,
balita lebih mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya
lebih lama (Maryunani, 2010).
4. Vitamin A
Sejak

tahun

1985

setiap

enam

bulan

Posyandu

memberikan kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur


satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat
vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak
pernah mendapatkannya adalah sebagai risiko terjadinya suatu
penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada
kelompok control (Maryunani, 2010).
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan
imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang
spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup
tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan
bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, niscaya
dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit
penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu
singkat.Karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan
imunisasi secara berkala terhadap anak-anak prasekolah

40

seharusnya tidak dilihat sebagi dua kegiatan terpisah.Keduanya


haruslah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh, yaitu
meningkatkan daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap
anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang
dan berangkat dewasa dalam keadaan yang sebaik-baiknya
(Maryunani, 2010).
5. Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat
akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai
komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal
dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi seperti: difteri, pertusis, campak,
maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar
dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor
yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi
lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi
lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkn perkembangan
penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat (Maryunani, 2010).
Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan
pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan
imunisasi

campak

yang

efektif

sekitar

11%

kematian

pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis


(DPT) 6% kematian pneumonia dapat dicegah (Maryunani,
2010).

41

Secara umum dapat dikatakan bahwa kegemukan adalah


dampak dari konsumsi energy yang berlebihan, dimana energy
yang berlebihan tersebut dapat disimpan didalam tubuh
sebagai lemak, sehingga akibatnya dari waktu ke waktu badan
akan bertambah berat disamping faktor kelebihan konsumsi
energi,

faktor

keturunan

juga

mempunyai

andil

dalam

kegemukan (Muchatadi, 2001).

2.3.3 Faktor Perilaku


Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan
penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek
penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun
anggota keluarga lainnya.Keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah
tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi.
Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai
masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota
keluarga lainnya (Maryunani, 2010).
Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA
sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang
ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga.Hal ini perlu
mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini
banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga
yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil

42

menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit (Maryunani,


2010).
Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan
dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada
sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak
menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan
dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan
dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek
penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan
berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi
bertambah berat (Maryunani, 2010).
Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya
dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) ktegori yaitu: perawatan
penunjang oleh itu balita; tindakan yang segera dan pengamatan
tentang perkembangan penyakit balita; pencarian pertolongan pada
pelayanan kesehatan (Maryunani, 2010).

2.4 Konsep Balita


2.4.1 Pengertian Balita
Balita adalah anak dengan usia di bawah 5 tahun dengan
karakteristik pertumbuhan yakni pertumbuhan cepat pada usia 0-1
tahun dimana umur 5 bulan beratbadan naik 2x berat badan lahir,
dan 3x berat badan lahir pada umur 1 tahun dan menjadi 4x pada
umur 2 tahun. Pertumbuhan mulai lambat pada masa prasekolah

43

dengan kenaikan berat badan kurang lebih 2 kg pertahun,


kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir.Anak balita adalah
anak yang telah menginjak usia di atas 1 tahun atau lebih populer
dengan pengertian anak di bawah 5 tahun (Septiari 2012).
Balita merupakan kelompok anak yang berada dalam proses
pertumbuhan, dan perkembangan fisik contohnya koordinasi
motorik halus dan motorik kasar juga kecerdasan yang sesuai
dengan tingkat pertumbuhan, dan masa awal anak-anak. Pada
ketiga tahap tersebut terjadi perubahan, baik fisik maupun
psikologis yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Pembagian menurut tahapan tersebut sangat bergantung pada
faktor sosial yaitu tuntutan, dan harapan untuk menguasai proses
perkembangan yang harus dilampaui anak dari lingkungannya
(Septiari 2012).
Balita merupakan masa pertumbuhan tubuh dan otak yang
sangat pesat dalam pencapaian keoptimalan fungsinya. Periode
tumbuh kembang anak adalah masa balita, karenapada masa ini
pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan

kemampuan bebahasa,

kreatifitas,

kesadaran

sosial, emosional dan itelegensia berjalan sangat cepat dan


merupakan landasan perkembangan berikutnya (Supartini, 2004).
2.4.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Balita
Pada Masa ini, pertumbuhan fisik anak relatif lebih lambat
dibandingkan dengan masa bayi, tetapi perkembangan motoriknya

44

berjalan lebih cepat. Perhatian anak terhadap lingkungan menjadi


lebih besar dibanding dengan masa sebelumnya di mana lebih
banyak berinteraksi dengan keluarganya. Menurut teori Erikson
pada usia 1-3 tahun anak berada pada fase mandiri vs malu/raguragu, dan pada usia 3-5 tahun anak berada pada fase inisiatif vs
bersalah, sedangkan menurut teori Sigmund Freud, anak berada
pada fase phalik di mana anak mulai mengenal perbedaan jenis
kelamin perempuan dan laki-laki, selain itu anak juga mulai
mengenal cita-cita, belajar menggambar, menulis, dan mengenal
angka serta bentuk atau warna benda (Septiari 2012).

2.5 Hubungan Rumah Tidak Sehat dengan Pneumonia Balita


Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat
kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai jenis
penyakit. Penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan
pneumonia erat kaitannya dengan kondisi sanitasi perumahan
berturut turut merupakan penyebab kematian nomor 2 dan 3 di
Indonesia (SKRT, 1995) dalam Departemen Kesehatan Provinsi
Jawa Timur, 2012.
Menurut penelitian Yunihasto (2007) di Kecamatan Sukamajaya
Kota Depok Propinsi Jawa Barat didapatkan,17 rumah yang
jendelanya tidak memenuhi persyaratan menyebabkan pertukaran
udara tidak dapat berlangsung dengan baik, akibatnya asap dapur
dan asap rokok dapat terkumpul dalam rumah, bayi dan anak yang

45

sering menghisap asap tersebut di dalam rumah lebih mudah


terserang pneumonia. Rumah yang lembab dan basah karena
banyak air yang terserap di dinding tembok dan cahaya matahari
pagi yang sulit masuk dalam rumah juga memudahkan anak-anak
terserang pneumonia. Berdasarkan hasil penelitian Nindya dan
Sulistyorini,

diketahui

bahwa

rumah

yang

ventilasinya

tidak

memenuhi syarat kesehatan 74% berpotensi terhadap kejadian


pneumonia pada balita. Rumah yang sehat harusnya memenuhi
syarat syarat antara lain kebutuhan fisiologis, kebutuhan psikologis,
terhindar

dari

penyakit

menular

dan

terhindar

dari

kecelakaankecelakaan. Rumah yang tidak memenuhi syarat akan


menimbulkan

penularan

penyakit

antara

anggota

keluarga.

Pneumonia ditularkan melalui udara dimana droplet penderita yang


sedang batuk dan bersin terbawa masuk ke dalam saluran
pernafasan orangorang di sekitar penderita. Oleh karena itu kondisi
rumah yang padat hunian, sirkulasi udara serta pencahayaannya
tidak memadai akan mudah terjangkit infeksi saluran nafas terutama
pneumonia.

2.6 Teori Model Keperawatan (Teori Florence Nightingale)


Menekankan pengaruh lingkungan terhadap klien yang dikenal
dengan istilah environmental model. Model konsep Florence
menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan
perawat

berupaya

memberikan

asuhan

keperawatan

berupa

46

pemberian udara yang bersih dan segar, penerangan yang tepat,


kenyamanan lingkungan, mengatur kebersihan, keamanan dan
keselamatan.

Serta

pemberian

nutrisi

yang

adekuat,

yang

pelaksanaannya diupayakan secara mandiri tanpa bergantung pada


profesi lain.
Kesehatan dilihat dari fungsi interaksi antara keperawatan,
manusia, dan lingkungan. Misalnya, lingkungan yang kotor tidak baik
untuk

kesehatan,

sedangkan

lingkungan

yang

bersih

dapat

mengurangi penyakit. Keperawatan mempunyai kontribusi baik


secara langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan
kesehatan manusia melalui manajemen manusia lingkungan.
Penjelasan skema/Model konsep
Perawat

Klien

Lingkungan

Fokus asuhan keperawatan

1. Pemberian
udara
2. Lampu
3. Kenyamanan
linkungan
4. Kebersihan
5. Ketenangan
6. Nutrisi

Gambar 2.2 Model Konsep dan Teori Keperawatan Florence


Nightingale
Sumber : Mubarak dan Cayatin, 2011, Ilmu Keperawatan
Komunitas Pengantar dan Teori, hal 57
1) Keperawatan
Nightingale

memandang

keperawatan

sebagai

ilmu

kesehatan dan menguraikan bahwa keperawatan diarahkan


untuk peningkatan dan pengelolaan lingkungan fisik sehingga

47

diharapkan alam akan membantu proses kesembuhan orang


sakit. Nightingale mengatakan bahwa kegiatan keperawatan
meliputi memberikan pendidikan tentang kebersihan lingkungan
di rumah tangga untuk membantu wanita menciptakan atau
membuat lingkungan yang sehat bagi keluarganya komunitas
yang pada dasarnya bertujuan untuk mencegah penyakit.
2) Manusia
Manusia terdiri komponen fisik, intelektual, emosional,
sosial, dan spiritual. Walaupun pada kenyataannya teori
Nightingale lebih difokuskan pada aspek fisik lingkungan saja,
tetapi pendapat dari Nightingale yang menyatakan bahwa
orang yang sakit mempunyai semangat untuk hidup yang lebih
besar dari mereka yang sehat, sebenarnya hal itu sudah terkait
dengan dimensi psikologik dari pasien.
3) Kesehatan
Nightingale mendefinisikan kesehatan sebagai kondisi yang
baik dan membuat semangat untuk tetap bertahan hidup dalam
hidupnya. Dia melihat proses sehat dan sakit sebagai proses
yang alami yang terjadi dalam kehidupan sepanjang manusia
hidup. Menurut Nightingale keadaan sehat dapat dicapai
melalui pendidikan dan perbaikan kondisi lingkungan. Oleh
karena itu Nightingale menyatakan bahwa kesehatan jangan
hanya berorientasi pada lingkungan di rumah saja tetapi juga
tetap memperhatikan lingkungan komunitas sekitar.

48

4) Lingkungan
Lingkungan menurut Nightingale merujuk pada lingkungan
fisik eksternal yang mempengaruhi proses penyembuhan dan
kesehatan yang meliputi 5 komponen lingkungan terpenting
dalam mempertahankan kesehatan individu yang meliputi :
udara yang bersih, air yang bersih, pemeliharaan lingkungan
yang efisien,

kebersihan

serta

penerangan/pencahayaan.

Nightingale lebih menekankan pada lingkungan fisik daripada


lingkungan

sosial

dan

psikologis.

Penekanannya

pada

lingkungan sangat terlihat jelas dari pernyataan Nightingale


bahwa jika ingin melihat kesehatan seseorang, maka kita harus
mengkaji keadaan rumahnya, kebersihan rumahnya, kondisi
dan cara hidup seseorang daripada mengkaji fisiknya.

49

2.7 Kerangka Konseptual


Kerangka konsep adalah merupakan modal konseptual yang berkaitan
dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan
secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat,
2009).

Faktor-faktor resiko lingkungan pada bangunan rumah


yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit antara
lain :
a. Ventilasi
b. Pencahayaan
c. Kepadatan hunian ruang tidur
d. Kelembaban ruang
e. Kualitas udara ruang
f. Binatang penular penyakit
g. Air bersih
h. Limbah rumah tangga
i. Sampah
j. Perilaku penghuni dalam rumah.

Rumah Tidak Sehat

TEORI FLORENCE NIGHTINGALE

Pneumonia Balita

1. Pneumonia Berat
2. Pneumonia
3. Batuk Bukan Pneumonia

Keterangan :
3 = diteliti = Diteliti
4

= Tidak diteliti

Gambar 2.3 Kerangka hubungan rumah tidak sehat dengan kejadian pneumonia
pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.

1.9 Hipotesa

50

Hipotesis adalah suatu asumsi dari pernyataan tentang hubungan antara


dua variabel atau lebih, variabel yang diharapkan dapat menjawab suatu
pertanyaan dalam penelitian (Arikunto, 2008). Hipotesis dalam penelitian ini
adalah:
H1 : Ada hubungan rumah tidak sehat dengan kejadian pneumonia pada balita
di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.

BAB III
METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu


pengetahuan atau pemecahan masalah (Notoatmodjo, 2010 : 19). Metode yang digunakan
dalam proses penelitian ini meliputi desain penelitian, kerangka kerja, populasi, sampel,
penelitian besar sampel, identifikasi variabel, definisi operasional, pengumpulan data,
analisa data, etika penelitian dan keterbatasan.

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian, yang mungkin
memaksimalkan suatu control beberapa faktor yang bisa mempengaruhi vitalitas suatu
hasil. Desain penelitian sebagai petunjuk penelitian dalam merencanakan dan
pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau jawaban pertanyaan
(Nursalam, 2011).
Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasi.
Penelitian korelasi adalah penelitian hubungan antara dua variabel pada suatu situasi

51
atau kelompok subjek. Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan variabel
lain tersebut diusahakan dengan mengidentifikasi variabel yang ada pada suatu objek,
kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama dan dilihat
apakah ada hubungan antara keduanya. Rancangan penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah cross sectional yaitu rancangan penelitian dengan melakukan
pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) antara kedua
variabel (Nursalam, 2011).
3.2 Kerangka Kerja
Kerangka kerja merupakan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian
yang ditulis dalam bentuk kerangka atau alur penelitian meliputi siapa yang akan diteliti
(subjek penelitian), variabel yang akan diteliti, dan variabel yang mempengaruhi dalam
penelitian (Hidayat, 2011).
Kerangka kerja pada penelitian ini adalah:
Desain penelitian
Analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional

Populasi
Balita yang terdiagnosa pneumonia di Desa Sawiji sebanyak 42 balita

Sampel
Sebagian balita yang berada di Desa Sawiji yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi sebanyak 38 balita

Sampling
Cluster Random Sampling

52

Pengumpulan data
Pengumpulan data untuk kejadian pneumonia dengan melihat catatan medik
klien dan untuk rumah sehat dengan observasi

Pengolahan dan analisa data


Editing,Coding, Tabulating, Uji Spearman Rank

Penarikan Kesimpulan

Gambar 3.1

Kerangka kerja penelitian tentang hubungan rumah tidak sehat dengan


kejadian pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto
Kabupaten Jombang.

3.3 Populasi, Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi adalah objek penelitian atau objek yang akan diteliti (Notoatmodjo,
2010). Populasi dalam penelitian ini adalah Balita yang terdiagnosa pneumonia di
Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang sebanyak 42 balita.
3.3.2 Sampel

53
Jika besar populasi 1000, maka sampel bisa diambil 20-30%, sedangkan jika
populasi <1000, dihitung dengan menggunakan rumus:

Rumus: n

N
1 N d 2

Keterangan:
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat signifikan (0,05) (Nursalam, 2008)
Maka diperoleh besar sampel adalah sebagai berikut:

N
1 N d 2

42
1 42 0,05 2

42
1 420,0025

42
1 0,105

42
= 38
1,105

Jadi besar sampel pada penelitian ini sebanyak 38 balita yang terdiagnosa
pneumonia.
3.3.3 Kriteria inklusi

54
Adalah karateristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang
terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2011). Pada penelitian ini kriteria inklusinya:
1. Orang tua balita bersedia menjadi responden dalam penelitian.
2. Anak yang terkena pneumonia dan berusia 1- 5 tahun.
3. Keluarga yang menerima dan kooperatif menjadi responden.
3.3.4

Kriteria eksklusi
Adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria
inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2011). Kriteria eksklusi dalam
penelitian ini adalah :
1. Orang tua balita menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian
2. Rumah yang sudah direnovasi

3.3.5

Sampling
Dalam mengambil sampel penelitian digunakan cara atau teknik-teknik tertentu,
sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik ini
biasanya disebut metode sampling atau teknik sampling (Notoatmodjo, 2010).
Sampling adalah proses penyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili
populasi. Teknik sampling adalah cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan
sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan
subyek penelitian (Nursalam, 2011).
Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan Probability sampling dengan
jenis Cluster yaitu pengelompokan sampel berdasarkan wilayah atau lokasi populasi
(Nursalam, 2011).
1. Dusun Kemiri Galih

: 11
42

x 38

= 10

2. Dusun Sawi

: 14
42

x 38

= 12

3. Dusun Beji

: 15
42

x 38

= 14

55
4. Dusun Gendingan

: 2

x 38

=2

42

Total jumlah Responden yang diambil adalah 38 responden


3.4 Identifikasi Variabel
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang
dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian
tertentu (Notoatmodjo, 2010).
3.4.1 Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain
(Nursalam, 2011). Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah kejadian
pneumonia.
3.4.2 Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang nilainya menentukan variabel lain
(Nursalam, 2011).
Dalam

penelitian

ini

variabel

independennya

adalah

rumah tidak sehat.

3.5 Definisi Operasional


Definisi Operasional adalah uraian tentang batasan variable yang dimaksud, atau
tentang apa yang di ukur oleh variable yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2010).
Tabel 3.1 Definisi operasional penelitian hubungan rumah tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang.

56
No

Variabel

Definisi
Operasion
al

1.

Variabel
Independe
n:

Bangunan
tempat
tinggal
untuk
berlindung
yang tidak
memenuhi
syarat
kesehatan

Rumah
Tidak
Sehat

Parameter

Bentuk
penilaian
rumah
sehat:
1. Kompone
n rumah
2. Sarana
sanitasi
3. Perilaku
penghuni

Alat ukur

Skal
a

Score

Observasi
dengan
check list

Ruma
h
sehat:
1.0681.200
=0

Penilaian
rumah
sehat

O
M
I
N
A
L

2.

Variabel
Dependen
: Kejadian
Pneumoni
a
pada
balita

Anak usia
di bawah
lima tahun
yang
menderita
sakit
peradanga
n pada
sistem
saluran
pernafasa
n yaitu
pada
paru-paru

Pemeriksaa
n
berdasarka
n MTBS

Diagnosa
berdasar

kan MTBS
dari
Pneumonia catatan
Berat : ada medik di
tanda
Puskesma
bahaya
s
umun atau
tarikan
dinding
dada
ke
dalam,
stridor
Pneumonia
:
nafas
cepat
Bukan
Pneumonia
: tidak ada
tanda-tanda
pneumonia
atau
penyakit
sangat
berat

O
R
D

Ruma
h tidak
sehat:
<
1.068
=1
Pneu
monia
Berat :
2

I
N
A

Pneu
monia:
1

L
Batuk
Bukan
pneu
monia:
0

57

3.6 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada 24 Juni 26 Juni 2014 di Desa Sawiji Kecamatan
Jogoroto Kabupaten Jombang.

3.7 Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian


3.7.1 Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses
pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam,
2010). Alur perijinan pada penelitian ini adalah:
1. Peneliti mengajukan surat rekomendasi penelitian kepada institusi pendidikan
Stikes Pemkab Jombang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang,
2. Meminta ijin kepada Kepala Puskesmas Mayangan Kabupaten Jombang
3. Mengelompokkan semua jumlah populasi responden berdasarkan dusun tempat
tinggal pasien yang sudah terdiagnosa pneumonia berdasarkan penilaian MTBS.
4. Mengundi pasien sesuai cluster yang sudah dihitung.
5. Mengarahkan teman tentang alur penelitian dan mengajari tentang penilaian
rumah sehat.
6. Mencari atau mendatangi alamat responden.
7. Melakukan pendekatan pada responden untuk menjelaskan maksud dan tujuan
serta memberikan informed consent.
8. Memastikan responden telah menandatangani informed consent.
9. Melakukan obsevasi keadaan rumah responden.
10. Setelah observasi keadaan rumah, peneliti mengumpulkan lembar observasi.

58
11. Mengumpulkan data dari lembar observasi
12. Melakukan analisa data dengan uji statistik.
13. Menyimpulkan hasil.
3.7.2 Instrumen penelitian
Instrumen adalah alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data (Hidayat,
2011). Pada penelitian ini variabel dependen (kejadian pneumonia) menggunakan
catatan medik berdasarkan diagnosa dari MTBS dari catatan medik di Puskesmas,
variabel independen (rumah tidak sehat) dengan observasi cheklist penilaian rumah
sehat.

3.8 Teknik dan Analisa Data


3.8.1 Teknik analisis data
Data yang telah terkumpul dari hasil penelitian, kemudian diolah dengan cara :
a. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau
dikumpulkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengedit data yaitu :
1. Mengecek kelengkapan pengisian identitas.
2. Mengecek kelengkapan data tentang rumah sehat, apabila ternyata ada
penilaian yang belum di nilai oleh peneliti dan teman.
3. Mengecek kembali data diagnosa berdasarkan MTBS dari catatan medik
Puskesmas yang menunjukkan pneumonia atau pneumonia berat.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numeril (angka) terhadap data yang
terdiri atas beberapa katagori. Pemberian kode ini sangat penting bisa pengolahan
dari analisis data menggunakan komputer. Biasanya satu buku (code book) untuk

59
memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel (Hidayat,
2011).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa kode pada bagian-bagian
tertentu untuk mempermudah waktu pentabulasian dan analisa data. Kode yang
digunakan yaitu:
a. Responden
Responden 1

= R1

Responden 2

= R2

Responden 3

= R3

Responden 4

= R4

b. Usia Balita
Usia 1-3 tahun

= U1

Usia 4-5 tahun

= U2

c. Pekerjaan Ibu
Bekerja

= B1

Tidak bekerja

= B2

d. Kejadian Pneumonia
Pneumonia Berat

= P1

Pneumonia

= P2

Batuk Bukan Pneumonia

= P3

e. Keadaan Rumah

60
Sehat

= Kr 1

Tidak Sehat

= Kr 2

c. Scoring
Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item yang perlu diberikan
penilaian atau scor (Setiawan, 2010).
d. Tabulating
Tabulating yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian yang
diinginkan oleh peneliti (Notoatmodjo, 2010).

3.8.2 Analisa data


1. Univariate
Analisis univariate dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian.
Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan prosentase
dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010) yaitu variabel rumah tidak sehat dan
variabel

kejadian

pneumonia

Hal ini diinterpresetasikan dengan skala :


a. 0%

: Tidak ada

b. 1% - 25%

: Sebagian kecil

c. 26% - 49%

: Hampir setengahnya

d. 50%

: Setengahnya

e. 51% -75%

: Sebagian besar

f.

: Hampir seluruhnya

76% - 99%

g. 100%
: Seluruhnya
(Arikunto, 2010)

pada

balita.

61
2. Bivariat
Analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau
berkorelasi (Notoatmodjo, 2010).
Setelah data terkumpul, untuk mengetahui hubungan rumah tidak sehat
dengan kejadian pneumonia balita dilakukan uji statistic spearman rank
correlation menggunakan SPSS dengan tingkat signifikan 0,05 jika (rho) hitung
> tabel terdapat kesesuaian yang signifikan/nyata (Sugiyono, 2013). Artinya
ada hubungan antara rumah tidak sehat dengan kejadian pneumonia pada
balita.
Korelasi Spearman Rank merupakan uji statistik yang digunakan untuk
menguji hipotesis asosiatif dua variabel bila datanya berskala ordinal (ranking).
Nilai korelasi ini disimbolkan dengan (Rho). Karena digunakan pada data
berskala ordinal, untuk itu sebelum dilakukan pengolahan data, data kuantitatif
yang akan dianalisis perlu disusun dalam bentuk ranking.
Rumus Uji Spearman Rank :

6 bi 2
1
n(n 2 1)

Keterangan :

Koefisien Korelasi Spearman Rank

bi 2 =

Total kuadrat Selisih antara ranking

Jumlah Sampel Penelitian

62
Tabel 3.3 Interpretasi korelasi
Interval koefisien

Tingkat hubungan

0,00 0,199

Sangat rendah

0,20 0,399

Rendah

0,40 0,599

Sedang

0,60 0,799

Kuat

0,80 1,000

Sangat kuat

(Sugiyono, 2013)
3.9 Etika Penelitian
Peneliti dalam melaksanakan seluruh kegiatan penelitian harus memegang teguh
sikap ilmiah (scientific attitude) serta menggunakan prinsip-prinsip etika penelitian.
Meskipun tidak memiliki resiko yang dapat merugikan atau membahayakan subyek
penelitian, namun peneliti perlu mempertimbangkan aspek sosioetika dan menjunjung
tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
Pada penelitian ini peneliti mengajukan permohonan izin pada pihak terkait, setelah
mendapat persetujuan barulah kuesioner disebarkan pada responden yang akan diteliti
dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
3.9.1

Informed consent (Lembar persetujuan)


Yaitu bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan
mengguakan

kuesioner

lembar

persetujuan,

dengan

tujuan

agar

subyek

mengertimaksut dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika subyek


bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden
tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak responden (Hidayat, 2011).
3.9.2

Anonimity (Tanpa nama)

63
Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak
memberikan nama responden pada lembar alat ukur hanya menuliskan kode pada
lembar pengumpulan data. Masalah etik kebidanan merupakan masalah yang
memberikan jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya
menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan
disajikan (Hidayat, 2011).
3.9.3

Confidentiality (Kerahasiaan)
Masalah ini merupakan masalah etik dengan memberikan jaminan kerahasiaan
hasil penelitian, baik informasi atau masalah-masalah lainya. Semua informasi yang
telah dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu
yang akan dilaporkan pada hasil riset (Hidayat, 2011).

3.10 Keterbatasan
Adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitin (Nursalam, 2010). Adapun
keterbatasan yang ada dalam penelitian ini meliputi:

3.10.1 Keterbatasan Sampel


Dalam penelitian ini sampel yang digunakan hanya terbatas pada balita yang
terkena pneumonia saja.
3.10.2 Keterbatasan Instrumen, Pengumpulan data
Dalam penelitian ini pengumpulan data untuk kejadian pneumonia hanya dengan
melihat diagnosa berdasarkan MTBS dari catatan medik Puskesmas.

64

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi
Hubungan Rumah Tidak Sehat Dengan Kejadian Pneumonia Di Desa Sawiji
Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 24
Juni 26 Juni 2014. Data hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi (prosentase) dan diberikan uraian-uraian secara singkat yang
berhubungan dengan penelitian.
4.1 Hasil Penelitian
Pada hasil penelitian ini yang akan disajikan adalah pengumpulan data dari
observasi status gizi dan kejadian pneumonia. Pengolahan data menggunakan
prosentase, hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel.
Penyajian data yang ditampilkan meliputi data umum dan data khusus. Data
umum berisi tentang gambaran tempat penelitian, umur balita, pekerjaan ibu.
Data khusus berisi tentang keadaan rumah, kejadian pneumonia, dan
pembahasan antar variabel di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang.
4.1.1 Data Geografi
Desa Sawiji terletak di Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang
Provinsi Jawa Timur. Desa Sawiji memiliki 4 Dusun yang terdiri dari 22 RT
dan 6 RW yaitu Dusun: Beji, Kemirigalih, Sawi, dan Gendingan. Dengan Luas
wilayah 2,16 KM2 dan batas wilayahnya adalah :
1) Utara : Desa Ngumpul
2) Timur : Desa Alang-alang Caruban dan Desa Sukosari
3) Selatan : Desa Jogoroto
54

65

4) Barat : Desa Mayangan dan Desa Ngumpul


4.1.2 Data Demografi
Jumlah semua balita di Desa Sawiji adalah 212 balita dengan jumlah
balita perempuan 116 dan jumlah balita laki-laki 96.
4.1.3 Data Umum
1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Balita
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Balita di
Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.
No.
1
2

Umur
1-3 tahun
4-5 tahun
Total

Frekuensi
28
10
38

Presentase
73,7
26,3
100 %

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.1 diketahui dari umur responden menunjukkan
bahwa hampir setengahnya (73,7%) di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto
Kabupaten Jombang berumur 1-3.
2. Distribusi Frekuensi Ibu Balita Berdasarkan Pekerjaan Ibu
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Ibu Balita Berdasarkan Pekerjaan
di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.
No.
1
2

Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak Bekerja
Total

Frekuensi
8
30
38

Presentase
21,1 %
78,9 %
100%

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.2 diketahui dari pekerjaan ibu menunjukkan
bahwa hampir seluruhnya (78,9%) di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto
Kabupaten Jombang adalah ibu balita tidak bekerja.

4.1.4 Data Khusus


1. Distribusi Responden Berdasarkan Keadaan Rumah

66

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Keadaan Rumah di


Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.
No.
1
2

Keadaan Rumah
Sehat
Tidak Sehat
Total

Frekuensi
9
29
38

Presentase
23,7%
76,3%
100%

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.3 diketahui hampir seluruhnya (76,3%) keadaan
rumahnya tidak sehat.
2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Pneumonia
Tabel

No.
1
2
3

4.4

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian


Pneumonia di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang.

Kejadian Pneumonia
Pneumonia
Pneumonia Berat
Batuk Bukan Pneumonia
Total

Frekuensi
34
4
0
38

Presentase
89,5 %
10,5 %
0%
100%

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.4 diketahui sebagian besar (89,5%) balita di
Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang mengalami
pneumonia.
Tabel 4.5 Tabulasi Silang antara Usia dengan Kejadian Pneumonia pada
balita di Desa Sawiji Kabupaten Jombang.
Usia
1-3 tahun
4-5 tahun

Kejadian Pnumonia
Pneumonia
Pneumonia
Berat

%
3
10,7
25
89,3
1

10,0

90,0

Total

28

%
100

10

100

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.5. diketahui hampir seluruhnya (89,3%) balita
yang berusia 1-3 tahun mengalami pneumonia.

67

Tabel 4.6 Tabulasi Silang antara Pekerjaan Ibu dengan Kejadian


Pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kabupaten Jombang.
Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak Bekerja

Kejadian Pnumonia
Pneumonia
Pneumonia
Berat

%
1
12,5
7
87,5
3

10,0

27

90,0

Total

%
100

30

100

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.6. diketahui hampir seluruhnya (90,0%) balita
yang memiliki ibu bekerja mengalami pneumonia.
3. Tabulasi Silang antara Rumah Tidak Sehat dengan Kejadian Pneumonia
Tabel 4.7

Tabulasi Silang antara Rumah Tidak Sehat dengan Kejadian


Pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kabupaten Jombang.

Rumah Tidak
Sehat
Sehat
Tidak Sehat

Kejadian Pnumonia
Pneumonia
Pneumonia
Berat

%
3
33,3
6
66,7
1

3,4

28

96,6

Total

%
100

29

100

Sumber : Data Primer 2014


Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa hampir seluruhnya (96,6%)
balita yang memiliki rumah tidak sehat mengalami pneumonia.

68

4.1.5 Hasil Analisa Data Uji Statistic Spearman Rank


Tabel 4.8 Hasil Uji Statistic Spearman Rank.
Correlations
Keadaan
Rumah
Spearma
n's rho

Keadaan
Rumah

Kejadian
Pneumonia

Correlation
Coefficient
Sig. (2tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2tailed)
N

Kejadian
Pneumonia

1.000

.414**

.010

38

38

**

1.000

.010

38

38

.414

Berdasarkan tabel 4.8 diatas, hasil uji analisa data dengan uji spearman
rank. Hasil uji statistik pada Sig (2-tailed)-nya sebesar 0,010 yang berarti lebih
kecil dari dengan tingkat signifikan ( = 0,05), maka H1 diterima dan H0
ditolak yang artinya ada hubungan antara rumah tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang. Nilai r hitung sebesar 0,414 karena berada antara 0,40-0,599
artinya ada hubungan yang sedang antara rumah tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Rumah Tidak Sehat
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui hampir seluruhnya (76,3%) keadaan
rumahnya tidak sehat.
Lingkungan menurut Nightingale merujuk pada lingkungan fisik eksternal
yang mempengaruhi proses penyembuhan dan kesehatan yang meliputi 5

69

komponen lingkungan terpenting dalam mempertahankan kesehatan individu


yang meliputi : udara yang bersih, air yang bersih, pemeliharaan lingkungan
yang efisien, kebersihan serta penerangan/pencahayaan. Nightingale lebih
menekankan pada lingkungan fisik daripada lingkungan sosial dan psikologis.
Penekanannya pada lingkungan sangat terlihat jelas dari pernyataan
Nightingale bahwa jika ingin melihat kesehatan seseorang, maka kita harus
mengkaji keadaan rumahnya, kebersihan rumahnya, kondisi dan cara hidup
seseorang daripada mengkaji fisiknya.
Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau
keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap
terwujudnya status kesehatan yang optimal pula. Ruang lingkup kesehatan
lingkungan tersebut antara lain mencakup: perumahan, pembuangan kotoran
manusia (tinja), penyediaan air bersih pembuangan sampah, pembuangan air
kotor

(air

limbah),

rumah

hewan

ternak

(kandang)

dan

sebagainya

(Notoatmodjo, 2011).
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui dari umur responden menunjukkan
bahwa hampir setengahnya (73,7%) di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto
Kabupaten Jombang berumur 1-3.
Pada usia anak balita adalah usia dimana anak mulai mengenal
lingkungan terutama di sekitar rumahnya, maka tak heran jika pada usia ini
anak akan lebih mudah terserang penyakit terutama pneumonia, apalagi jika
orang tua terutama ibu tidak memperhatikan kesehatan anak dan tempat
tinggalnya. Kesehatan rumah bukan hanya di lihat dari besar dan mewahnya
suatu rumah tetapi rumah sehat juga memiliki persyaratan seperti: bahan
bangunan, ventilasi, cahaya, luas bangunan rumah, penyediaan air bersih,

70

pembuangan tinja, pembuangan air limbah, pembuangan sampah, fasilitas


dapur, ruang berkumpul keluarga (Notoatmojo, 2011).
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui dari pekerjaan ibu menunjukkan bahwa
hampir seluruhnya (78,9%) di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang adalah ibu balita tidak bekerja.
Ibu bekerja adalah ibu yang melakukan suatu kegiatan di luar rumah
dengan tujuan untuk mencari nafkah untuk keluarga. Selain itu salah satu
tujuan ibu bekerja adalah suatu bentuk aktualisasi diri guna menerapkan ilmu
yang telah dimiliki ibu dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain dalam
bidang pekerjaan yang dipilihnya. Ibu yang tidak bekerja memiliki tanggung
jawab untuk mengatur rumah tangga. Dalam konteks inilah peran seorang ibu
berlaku, yaitu mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak
anaknya, dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya (Santrock, 2007).
Rumah merupakan tempat berlindung bagi keluarga, rumah yang nyaman
dan sehat akan memberikan kenyamanan dan kesehatan pula bagi pemiliknya,
dengan rumh sehat maka kesehatan penghuninya juga akan menjadi baik atau
bisa terhindar dari penyakit terutama pneumonia tetapi apabila kondisi rumh
tidak sehat maka bakteri akan cepat berkembang sehingga anak mudah
terserang penyakit, rumah sehat dapat dicermati melalui syarat yang sudah
dijelaskan pada teori. Oleh sebab itu peran orang tua dalam menciptakan
lingkungan yang nyaman dan sehat sangat diperlukan, dalam penelitian ini usia
anak dan ibu yang bekerja sangat mempegaruhi kesehatan rumah, seperti
pada usia balita 1-3 tahun masih sangat diperlukan pengawasan orang tua. Ibu
bekerja juga mempengaruhi kondisi rumah di mana ketika ibu bekerja maka

71

waktunya akan habis di pekerjaannya, dan akan terlalu lelah, maka waktu
untuk mengurusi rumah akan berkurang bahkan tidak ada.

4.2.2 Kejadian Pneumonia


Berdasarkan

tabel 4.4 diketahui sebagian besar balita di Desa Sawiji

Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang mengalami Pneumonia (89,5%).


Pneumonia adalah suatu inflamasi pada parenkim paru. Pada umumnya
pneumonia pada masa anak digambarkan sebagai bronkho-pneumonia yang
mana merupakan suatu kombinasi dari penyebaran pneumonia lobular (adanya
infiltrate pada sebagian area pada kedua lapangan/bidang paru dan sekitar
bronchi) dan pneumonia interstesiel (difusi bronkhiolitis dengan eksudat yang
jernih di dalam dinding alveolar tetapi bukan di ruang alveolar). Bacterial
pneumonia lebih sering mengenal lobular dan sering juga terjadi konsolidasi
lobular, sedangkan viral pneumonia menyebabkan inflamasi pada jaringan
interstesiel (Maryunani, 2010).
Pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi yang menyumbangkan
angka kematian dan kesakitan terbesar bagi anak, karena pada anak daya
tahan tubuh terhadap suatu penyakit belum terbentuk sempurna, serta sifat
alamiah anak yaitu rasa ingin tahu yang besar terhadap lingkungan sekitar
menjadikan penyakit ini senang menetap pada anak.
Kejadian Pneumonia tidak hanya disebabkan oleh faktor kondisi rumah
yang tidak sehat tetapi juga ada beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya pneumonia adalah usia dan status bekerja atau tidak bekerja ibu.
Berdasarkan tabel 4.5 diketahui hampir seluruhnya (89,3%) balita yang
berusia 1-3 tahun mengalami pneumonia.

72

Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit


pernapasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap
menurun terhadap usia (Maryunani, 2010).
Balita atau anak yang usianya dibawah lima tahun sangat membutuhkan
perhatian yang khusus oleh orang tuanya, karena pada usia ini anak masih
sangat rentan terhadap suatu penyakit, usia yang masih dini ini juga
menjadikan daya tahan tubuh anak masih lemah.
Berdasarkan tabel 4.6 diketahui hampir seluruhnya (90,0%) balita yang
memiliki ibu bekerja mengalami pneumonia.
Bertambah luasnya lapangan kerja semakin mendorong banyaknya kaum
wanita yang bekerja terutama disektor swasta. Di satu sisi lain berdampak
positif bagi peningkatan pendapatan namun di sisi lai berdampak negatif
terhadap pembinaan atau pemeliharaan anak, sehingga berpengaruh buruk
terhadap tumbuh kembang anak dan perkembangan otak dan juga dapat
mempengaruhi kesehatan anak (Saidin dkk, 2008).

Dewasa ini fenomena ibu bekerja untuk mencari nafkah memang sangat
banyak, tidak heran ketika seorang ibu yang bekerja maka kebutuhan anak
akan pangan, kasih sayang sangatlah kurang, maka dengan kondisi yang
seperti itu anak juga akan rentan terserang penyakit, namun pada penelitian ini
berbeda karena hampir seluruh ibu yang tidak bekerja anaknya terkena
penyakit pneumonia, hal ini karena begitu banyak faktor penyebab pneumonia
selain pekerjaan ibu.

4.2.3 Hubungan Rumah Tidak Sehat dengan Kejadian Pneumonia.

73

Berdasarkan tabel 4.8 diatas, hasil uji analisa data dengan uji spearman
rank. Hasil uji statistik pada Sig (2-tailed)-nya sebesar 0,010 yang berarti lebih
kecil dari dengan tingkat signifikan ( = 0,05), maka H1 diterima dan H0
ditolak yang artinya ada hubungan antara rumah tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang. Nilai r hitung sebesar 0,414 karena berada antara 0,40-0,599 artinya
ada hubungan yang sedang antara rumat tidak sehat dengan kejadian
pneumonia pada balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten
Jombang.
Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa dari 38 responden di Desa Sawiji
Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang, hampir seluruhnya yaitu 34 (89,5%)
mengalami pneumonia, dimana terdapat 28 (73,7%) responden memiliki rumah
tidak sehat.
Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai jenis penyakit. Penyakit
infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan pneumonia erat kaitannya dengan
kondisi sanitasi perumahan berturut turut merupakan penyebab kematian
nomor 2 dan 3 di Indonesia (SKRT, 1995) dalam Departemen Kesehatan
Provinsi Jawa Timur, 2012.
Rumah tidak sehat dapat menjadikan anak mudah terserang penyakit
infeksi, rumah tidak sehat ini bisa dilihat dari bangunan, sarana pebuangan,
kebersihan, ventilasi, dan pencahayaan, karena dengan rumah yang tidak
sehat kuman dan virus akan menetap, sehingga menjadikan balita sangat
rentan terserang penyakit infeksi terutama pneumonia, oleh sebab itu sebagai

74

orang tua harusnya mampu memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi


anak terhadap penyakit infeksi, sehingga anak tidak mudah sakit.

75
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab 4, maka dapat ditarik suatu
kesimpulan yang menjawab pertanyaan dan tujuan dari penelitian.

5.1.

Kesimpulan
Simpulan yang diperoleh dari penelitian berdasarkan identifikasinya, diperoleh bahwa:
1. Keadaan rumah di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang
sebagian besar adalah rumah tidak sehat.
2. Kejadian Pneumonia di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang
pada balita hampir seluruhnya mengalami pneumonia.
3. Ada hubungan sedang antara rumah tidak sehat dengan kejadian pneumonia pada
balita di Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.

5.2 Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Agar menjadi masukan dalam penelitian selanjutnya dan diharapkan untuk
mengembangkan metode atau pendekatan penelitian yang berbeda serta faktorfaktor lain yang dapat mempengaruhi pneumonia pada balita.

2. Bagi Responden

65

76
Agar responden dapat menjaga kesehatan rumah seperti menjaga kebersihan,
membuka jendela setiap hari, membuang sampah pada tempatnya serta perilaku
positif yang mendukung kesehatan rumah sehingga anak dapat terhindar dari
pneumonia.
3. Bagi Petugas Kesehatan Di Puskesmas
Agar lebih meningkatkan kegiatan di Desa dan memberikan penyuluhan kepada ibu
balita tentang pentingnya kesehatan rumah dan pencegahan pneumonia.
4. Bagi Profesi
Agar lebih meningkatkan lagi mutu pelayanan yang dapat diwujudkan dengan cara
melakukan kunjungan rumah sekali dalam sebulan, serta memberikan pelatihan
kepada kader setiap dusun untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rumah lebih
sering lagi.

77

Daftar Pustaka
Ambarwati, R dan Nina Nasution. 2012. Buku Pintar Asuhan Keperawatan Bayi dan Balita.
Yogyakarta : Cakrawala Ilmu.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka
Cipta.

Depkes RI. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia Balita.

. 2010. Manajemen Terpadu Balita Sakit.

Depkes Provinsi Jawa Timur. 2012. Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Jombang.

. 2013. Profil Kesehatan Kabupaten Jombang.

Hidayat, A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika.

. 2011. Metodologi Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta :


Salemba Medika.

Karim, L. 2012. Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di wilayah
Kerja Puskesmas Marisa Kecamatan Marisa Kabupaten Pohuwato.

Maryunani, A. 2010. Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan. Jakarta : Trans Info Media.

Masriroh, S. 2014. Keperawatan Pediatrik. Yogyakarta : Imperium.

78
Mubarak, W I dan Nurul C. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas I. Jakarta : Salemba Medika.

Mubarak, W I dan Nurul C. 2011. Ilmu Keperawatan Komunitas I. Jakarta : Salemba Medika.

Notoadmojo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Nursalam. 2010. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.

. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.


Jakarta : Salemba Medika.
Oktaviani D, Nur A dan Imelda G. 2010. Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Perilaku
Keluarga Terhadap Kejadian Ispa Pada Balita Di Kelurahan Cambai Kota Prabumulih.
Jurnal Pembangunan Manusia. IV (12) : 3

Said, M. 2010. Buku Ajar Respiratologi Anak. Jakarta : FKUI.

Septiari, B. 2012. Mencetak Balita Cerdas dan Pola Asuh Orang Tua. Yogyakarrta :Nuha
Medika.

Sowden. 2009. Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.

Supartini, Y. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

Suriadi dan Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV Sagung Seto.

Sutawijaya, R. 2010. Mencegah Mendeteksi dan Mengenal Berbagai Penyakit Anak. Sleman
: Luna Publisher..

79