Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

ANALISIS GEOTEKNIK TERAPAN

STRESS-STRAIN BASED LIQUEFACTION ANALYSIS

Disusun oleh :
Ade Syura Saputra
Angga Setiawan
Danuk Tyastuti
Yusron Dwi Mangestika Wicakso S.

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
STRESS-STRAIN BASED LIQUEFACTION ANALYSIS

Likuifaksi

(liquefaction)

merupakan

suatu

proses

atau

kejadian

berubahnya sifat tanah dari keadaan padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan
oleh beban siklik pada waktu terjadi gempa sehingga tekanan air pori meningkat
mendekati atau melampaui tegangan vertikal. Likuifaksi pada suatu lapisan tanah
pasir jenuh air dapat dievaluasi dengan memakai beberapa metode yang pada
prinsipnya adalah dengan membandingkan antara tegangan geser butir akibat
beban gempa dengan tegangan geser-geser minimum yang akan mengakibatkan
terjadinya likuifaksi.
Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu metode Stress-Strain-Based
Methods yang merupakan gabungan dari metode stress based dan strain based
liquefaction analysis. Dengan demikian untuk menggunakan metode ini
diperlukan parameter-parameter yang didapat dari metode tersebut. Berikut secara
rinci dijelaskan parameter-parameter yang harus didapat untuk bisa menggunakan
metode stress-strain based liquefaction analysis.
A. Tegangan Vertikal Overburden (vo)
Tegangan vertikal overburden merupakan tegangan yang terjadi di dalam
tanah yang dipengaruhi oleh berat jenis butiran tanah tersebut dengan kedalaman
lapisan tanah yang dianalisis dalam keadaan asli (jenuh dan tak jenuh). Seperti
yang telah dijelaskan tegangan vertikal overburden dapat ditentukan sebagai
berikut :
vo = 1.z1 + 2.z2 + ........ + n.zn
Dimana :

vo

= Tegangan Vertikal Overburden

= Berat Jenis Tanah

= Kedalaman Lapisan Butiran Tanah

B. Fines Content (FC) dan Faktor Koreksi Fines Content (FC)

Dasar dari analisis potensial likuifaksi adalah pasir bersih (clean sands)
yang mana kandungan butiran halus (fines) kurang dari 5%. Tidak selamanya
kondisi lapangan dapat menunjukkan clean sands seperti yang dimaksud, karena
kandungan butiran halus di lapangan dapat bervariasi. Oleh karena itu agar
analisis potensial likuifaksi dapat dilakukan maka kondisi riil di lapangan perlu
dikoreksi, diekivalenkan pada kondisi clean sands. Faktor koreksi FC tersebut
adalah (Youd dan Idriss, 2001; Gutierrez dkk, 2002) :
(N1)60cs = + .(N1)60
Sementara itu nilai-nilai dan dipengaruhi oleh persentase fines content
FC.
= 0, = 1,

FC 5%

= exp [1,76 (190 / FC2)],

5% < FC < 35%

= [0,99 (FC1,5 / 1000)],

5% < FC < 35%

= 5, = 1,2

FC 35%

C. Sudut Geser Dalam Efektif ()


Sudut geser dalam efektif ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
= (20.(N1)60)0,5 + 20
Dimana :

= Sudut Geser Dalam Efektif

(N1)60 = N-SPT terkoreksi


D. Nilai Ko
Nilai Ko dapat ditentukan dengan rumus Ko = (1 sin ).
E. Tegangan Vertikal Overburden Efektif (vo)

Tegangan vertikal overburden merupakan tegangan yang terjadi di dalam


tanah yang dipengaruhi oleh berat jenis butiran tanah tersebut dengan kedalaman
lapisan tanah yang dianalisis dalam keadaan asli (jenuh dan tak jenuh). Seperti
yang telah dijelaskan tegangan vertikal overburden dapat ditentukan sebagai
berikut :
'vo = (d1 w) .z1 + (d2 w).z2 + ........ + (d1 w).zn
Dimana :

vo

= Tegangan Vertikal Overburden Efektif

= Berat Jenis Tanah Kering

= Berat Jenis Air

= Kedalaman Lapisan Butiran Tanah

F. Tegangan Maksimum Overburden Efektif (mo)


Nilai ini bisa ditentukan melalui persamaan berikut :
1 2.K o
. 'vo
3

' mo

Dimana :

mo

= Tegangan Maksimum Overburden Efektif

Ko

= Nilai Ketetapan Berdasarkan Sudut Geser Dalam

vo

= Tegangan Vertikal Overburden Efektif

G. Modulus Geser Maksimum (Gmax)


Green (2001), Olson dkk. (2004) menyatakan bahwa modulus geser
maksimum Gmax dapat ditentukan dengan :

1/ 3
1 60

Gmax 440.( N )

Dimana :

Gmax

' 2.K o

.Pa1 . mo
Pa 2

0 , 50

= Modulus Geser Maksimum

(N1)60 = N-SPT Terkoreksi


Pa1

= Normalisasi Tekanan Overburden Pressure

Pa2

= Normalisasi Tekanan Overburden Pressure

mo

= Tegangan Maksimum Overburden Efektif

Ko

= Nilai Ketetapan Berdasarkan Sudut Geser Dalam

H. Nilai G/Gmax
Proses ini menggunakan metode iterasi (pendekatan dan trial error).Dengan
memasukkan nilai G/Gmax berdasarkan coba-coba kemudia di check apakah
nilai G/Gmax tersebut akan kompatibel dengan regangan geser .
I. Damping Ratio (D)
Das (1993) memberikan rumusan yang merupakan hubungan antara
damping ratio maksimum Dmax dengan D melalui suatu hubungan :

G
D Dmax 1
Gmax

Nilai Dmax didapat dari grafik hubungan damping rasio dan regangan geser di
bawah ini.

Grafik Damping Rasio Fungsi Dari Regangan Geser

J. Normalized Energy Demand (NED)

Dengan adanya hubungan

, maka didapat nilai Normalized Energy

Demand dapat dirumuskan seperti:

NED

'mo

2 D

' mo Gmax

0.65

G
max

yb

vo d
g

N eqv

K. Normalized Energy Capacity (NEC)


Green (2001) menentukan batas-batas terjadinya likuifaksi berdasar pada
data kejadian gempa sebelumnya yaitu database dari Liao dan whitman (1986)
dan Fear & McRoberts (1995). Selanjutnya Green (2001) menentukan batas-batas
likuifaksi sendiri sehingga didapat persamaan NEC sebagai berikut :
NEC = 0,0001195.e0,185(N1)60cs
Dimana :

NEC

= Normalized Energy Capacity

(N1)60cs = N-SPT Terkalibrasi Dengan Overburden Pressure


L. Safety Factor (SF)
Faktor keamanan pada metode ini ialah apabila nilai NED < NEC maka
kedalaman lapisan tanah yang ditinjau tidak akan terjadi potensi likuifaksi.
Namun, apabila sebaliknya NED > NEC maka kedalaman lapisan tanah yang
ditinjau berpotensi likuifaksi.
Adapun secara umum metode tersebut dapat disajikan dalam flowchart
sebagai berikut.