Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

CADANGAN BATUPASIR KUARSA DI DAERAH PENELITIAN

IV.1. Mineral Kuarsa


Pasir kuarsa (quartz sands) merupakan pelapukan dari batuan beku asam seperti
batu granit, gneiss atau batu beku lainnya yang mengandung mineral utama kuarsa.
Hasil pelapukan ini kemudian mengalami proses sedimentasi, terbawa air atau angin
kemudian diendapkan di tepi-tepi sungai, danau atau pantai. Karena jumlahnya yang
cukup besar dan terlihat memutih di sepanjang tepi sungai, danau atau pantai tersebut,
maka di Indonesia lebih dikenal dengan nama pasir putih.
Kualitas pasir kuarsa di Indonesia cukup bervariasi, tergantung pada proses
genesa dan pengaruh mineral pengotor yang ikut terbentuk saat proses sedimentasi.
Material pengotor ini bersifat sebagai pemberi warna pada pasir kuarsa, dan dari
warna tersebut prosentase derajat kemurnian dapat diperkirakan. Butiran yang
mengandung banyak senyawa oksida besi akan terlihat berwarna kuning, kandungan
unsur aluminium dan titan secara visual akan lebih jernih, dan kandungan unsur
kalsium, magnesium dan kalium cenderung membentuk warna kemerahan.
Di Alam, pasir kuarsa ditemukan dengan ukuran butir, mulai fraksi yang halus (<
0,06 mm) apabila terdapat jauh dari batuan induk, sedangkan ukuran kasar (> 2mm)
terletak tidak jauh dari batuan induk.
IV.2. Manfaat Batupasir Kuarsa
Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang meluas,
baik langsung sebagai bahan baku utama maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku
utama, misalnya digunakan dalam industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik,
bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting).
Sedangkan sebagai bahan ikutan, misal dalam industri cor, industri perminyakan dan
per-tambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain sebagainya.

IV.2.1. Industri Pertambangan dan Perminyakan


Pemanfaatan pasir kuarsa pada industri pertambangan dan perminyakan
(pemboran) adalah sebagai filter yang lebih dikenal dengan istilah gravel pack sand
(GPS). Ukuran kekuatan pasir kuarsa ditentukan oleh uji resistansi parameter kekuatan
yang ditentukan berdasarkan kedalaman pemboran dan tekanan yang akan diderita
oleh pasirkuarsa tersebut. Persyaratan ukuran pasir kuarsa yang memenuhi standar
untuk dipakai sebagai GPS.
Persyaratan lain yang dibutuhkan untuk GPS adalah Sphericity dan Roundnes.
Secara umum, apabila bentuk butir pasir kuarsa mendekati bulat dan tidak memiliki
sudut harga pasir kuarsa tersebut semakin tinggi. GPS pada Industri Penambangan
dan Perminyakan dimanfaatkan sebagai penahan material-material yang dapat
menyumbat alat saring yang dipasang pada selubung atau pipa pemboran.
Disamping itu, GPS berfungsi untuk memperbesar permeabelitas formasi,
sehingga aliran air atau minyak dari formasi yang semula berbentuk radial bertekanan
tinggi menjadi linier yang bertekanan rendah . GPS ini ditempatkan antara alat saring
dengan dinding sumur.
IV.2.2. Industri Semen
Pasir kuarsa pada pembuatan semen berfungsi sebagai pelengkap kandungan
silika dalam semen yang dihasilkan. Kandungan silika untuk pabrik semen berkisar
21,3% SiO2. Apabila komposisi SiO2 belum tercapai ditambahkan pasir kuarsa.
Pemakain pasir kuarsa di industri ini bervariasi tergantung kandungan silika bahan baku
lainnya, biasanya berkisar antara 6 - 7 %.
IV.2.3. Industri Keramik
Pada industri keramik, pasir kuarsa merupakan pembentuk badan keramik
bersama dengan bahan baku lain, seperti kaolin, lempung, felspar, dan bahan pewarna.
Pasir kuarsa ini umumnya pembentuk sifat glazur pada badan keramik, sehingga
berbentuk licin dan mudah untuk dibersihkan. Selain itu, pasir kuarsa mempunyai sifat
sebagai

bahan

pengurus

yang

dapat

mempermudah

proses

pengeringan,

pengontrolan, penyusutan, dan memberi kerangka pada badan keramik. Bahan keramik
terdiri atas bahan anorganik bukan logam berfasa kristalin dan campuran logam yang
proses produksinya memerlukan adanya pemanasan suhu tinggi. Berdasarkan fungsi
dan strukturnya, keramik yang dihasilkan dibagi menjadi dua tipe, yaitu cara
konvensional dan modern.
Secara umum, cara konvensional menggunakan bahan-bahan alam dari fasa
amorf setelah pengolahan dan ada juga tanpa pengolahan. Ada dua golongan industri
yang termasuk keramik konvensional, yaitu lndustri keramik berat yang terdiri atas
industri semen, mortar, refraktori, abrasif, dan industri khusus dan lndustri keramik
halus, yaitu gerabah/keramik hias, ubin lantai dan dinding, saniter, peralatan makanminum (table ware), isolator listrik, alat dapur, keramik teknik, lampu pijar, botol dan
gelas.
Industri keramik maju biasanya menggunakan bahan baku artifisial murni yang
mempunyai fasa kristalin. Produk keramik maju yang dipasarkan di dunia, antara lain
jenis zirkonia dan sialon di industri otomotif (blok mesin, gear), mata pisau dan gunting,
barium titanat pada industri elek-tronika (kapasitor, resistor), keramik nir-oksida (zirkon
nitrida, magnesium nitrida, silikon karbida, silikon nitrida) digunakan untuk high
technology kiln furniture, cutting tools, komponen mesin, alat ekstraksi dan pengolahan
logam dan fibre optic di industri telekomunikasi, gedung pencakar langit, penerangan,
dan tenaga surya.
Secara umum, bagian badan keramik terdiri atas dua bagian, yaitu badan yang
memberi bentuk kekuatan, dan sebagai penutup badan (glazuur) sehingga tampak lebih
indah dan, menarik, serta mudah dibersihkan. Pasir kuarsa merupakan bagian yang
membentuk glazuur.
Persentase penggunaan pasir kuarsa dalam keramik tergantung dari jenis dan
kegunaan produktannya. Pasir kuarsa memiliki peran penting sebagai pembentuk
badan keramik karena mempunyai fungsi sebagai pengontrol pada saat proses
sebelum dan sesudah pembakaran. Sebagai fungsi kontrol, pasir kuarsa harus
memenuhi persyaratan standar.

IV.2.4. Industri Gelas dan Kaca


Proses akhir pengolahan pasir kuarsa menjadi gelas dan kaca, yaitu dengan
jalan meleburkannya bersama bahan-bahan lain seperti soda dan kapur dalam tungku
peleburan. Sebagai bahan pembentuk gelas kontribusi silica (SiO2) sangat dominan.
Unsur lain seperti soda (Na2O) dimanfaatkan dalam proses pencairan, sedangkan
kapur (CaO dan MgO) berfungsi sebagai stabilisator ketika proses pencairan dan
pembentukan kembali gelas dan kaca tersebut. Biasanya, pada saat pengolahan
ditambahkan belerang untuk membantu pelunakan gelas ketika dicairkan. Untuk proses
pembuatan gelas yang berkualitas tinggi perlu ditambahkan aluminium oksida (Al2O3)
dan B2O3 untuk menambah ketahanan gelas.
Sebagai bahan pewarna, pada saat pengolahan ditambahkan juga dengan
oksida-oksida lain seperti besi, kobal, khrom, tembaga dan nikel.
Persyaratan pasir kuarsa untuk industri gelas dan kaca mutlak diperlukan terutama
komposisi kimia dan distribusi ukuran butir. Komposisi kimia tersebut tergantung dari
jenis gelas yang akan dibuat serta harus dapat menjamin syarat kemurnian minimum,
juga pembatasan pada pengotor yang mempengaruhi kandungan pasir kuarsa yang
akan dipakai, karena pengotor yang tidak diinginkan akan mengganggu proses
pengolahannya. misalnya ketika yang diinginkan adalah kaca atau gelas yang bening,
maka besarnya oksida besi akan mengganggu terbentuknya warna bening dari hasil
produksinya. Oleh karena itu untuk mendapatkan kaca putih dan bening, dibutuhkan
kandungan oksida logam yang rendah dan kemurnian silika yang tinggi.
Persyaratan dan standar umum yang biasa digunakan perusahaan gelas dan
kaca untuk membeli pasir kuarsa diperlihatkan.
Beberapa perusahaan industri gelas membuat klasifikasi pasir kuarsa menjadi dua jenis
komposisi yaitu pasir putih dan pasir kuning dengan komposisi.
Proses peleburan pasir kuarsa merupakan proses perubahan berbagai bahan baku
menjadi adonan cair yang homogen, sehingga ukuran fraksi menjadi sangat penting.
Persyaratan British Standard Screens untuk pasir putih adalah mesh +28 maksimal 2%,
+35 maksimal 10% dan -150 maksimal 1%. Sementara pasir kuning adalah mesh +25
maksimal 2%, +36 maksimal 10% dan -150 maksimal 1%.

Khusus bidang arsitektur bangunan, penggunaan kaca sebagai pelengkap utama


dalam menata disain interior dan eksterior sudah sangat meluas, yaitu kaca bangunan,
kaca balok, kaca gelombang, keperluan kombinasi sinar laser dan difusi, gelas fiber
pengatur sound systems pada gedung pertunjukan, binokuler (melihat jelas objek
pandang), kaca mata dan lain sebagainya. Untuk menghasilkan kaca berkualitas
diperlukan pengolahan yang berteknologi tinggi.
Berdasarkan bentuk dan kegunaan, kaca lembaran dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu jenis polos atau bening dan jenis berpola.
Sekarang, kedua jenis ini sudah dikembangkan dengan teknologi maju karena
banyak permintaan di pasaran. Jenis kaca polos dilakukan dengan proses
pengambangan cairan kaca di atas cairan logam. Sifat istimewa kaca polos memiliki
permukaan yang rata di dua sisi, sejajar sempurna, dan bebas distorsi, baik untuk
bayangan langsung maupun pantul, benda yang ada dibalik kaca akan terlihat terang
dan jernih karena kaca ini bersifat transparansi dan transmitansi tinggi, permukaan lebih
berkilau daripada kaca plat poles karena dipoles dengan api, tebal kaca dapat sampai
19 mm dengan dimensi lebih besar sehingga memudahkan perencanaan dinding kaca
yang besar. Biasanya, kaca polos dipakai dalam pekerjaan disain interior dan eksterior
rumah, pusat perbelanjaan, perkantoran, etalase took dan lain sebagainya.
Kaca berpola merupakan kaca yang proses pembuatannya dilakukan dengan
membubuhkan zat warna berupa senyawa oksida logam ke dalam cairan kaca yang
sedang diproses. Keuntungan penggunaan kaca berpola ini dapat mengurangi panas
dan cahaya yang menyilaukan, serta mempunyai daya tembus pandang rendah sekali
yang memberi rasa nyaman bagi yang ada di dalam ruangan. Kaca jenis ini sangat
bermanfaat untuk disain interior dan eksterior rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan
dan lain sebagainya.
Selain itu, beberapa jenis kaca dibuat secara khusus, seperti kaca tanpa pantul
yang bisanya digunakan untuk industri optikal dan laboratorium, kaca tahan kimia untuk
industri kemasan botol dan obat-obatan, dan berbagai jenis kaca yang diproses
berteknologi tinggi seperti untuk industri pesawat terbang, pemotongan optis dan lain
sebagainya.

IV.2.5. Industri Pengecoran dan Bata Tahan Api


Pemanfaatan pasir kuarsa dalam industri pengecoran, karena memiliki titik leleh
lebih tinggi dari logam. Fungsi pasir kuarsa di industri ini adalah sebagai pasir cetak dan
foundry. Kondisi pasir kuarsa untuk pasir cetak perlu kriteria khusus, seperti
penyebaran dan kehalusan butir, bentuk butir, bulk density, base permeability dan titik
mensinter, kadar lempung, tempering water, kuat tekan, kuat geser, dan permeabilitas.
Pasir kuarsa pada industri bata tahan api dipakai untuk pembentuk konstruksi bata.
lndustri manufaktur Lainnya
Pemakaian pasir kuarsa pada industri lainnya, yaitu sebagai bahan pengeras
pada pengolahan karet, bahan pengisi (industri cat), bahan ampelas (industri gerinda),
bahan penghilang karat (industri logam), bahan penyaring (industri penjernihan air),
bahan baku dalam pembuatan ferro silicon carbide, dan lainnya, seperti dalam indutri
microchip (elektronika).
IV.3. Perhitungan Cadangan Dengan Metode Cross Section Profilling
Perhitungan cadangan metode penampang (cross section) merupakan metode
perhitungan cadangan yang perinsipnya adalah dengan membagi tubuh endapan
batubara kedalam blok-blok dengan konstruksi penampang geologi pada interval
sepanjang garis melintang atau level yang bebeda.
IV.3.1. Prosedur Kerja
Langkah-langkah untuk menentukan cadangan batupasir kuarsa dengan metode
cross section profilling adalah :
1. Pada zona satuan batupasir tentukan beberapa garis penampang geologi di peta
hingga mencakup keseluruhan zona satuan batupasir.
2. Buat penampang geologi untuk setiap garis penampang tersebut.
3. Tentukan luas batupasir pada masing-masing penampang ( jika pada
penampang satuannya masih berupa cm, ubah ke m dengan cara
mengalikannya dengan jarak sebenarnya.
4. Jika terdapat sumbu antiklin pada satuan batupasir tersebut, maka penampang
harus dibagi 2 untuk menentukan luasnya, lalu keduanya dijumlahkan untuk
mengetahui luas penampang secara keseluruhan.

5. Setelah seluruh penampang dibuat, hitung volume batupasir diantara dua


penampang (misalnya volume antara A1 dengan A2, Volume antara A2 dengan
A3, dan seterusnya)
6. Jumlahkan semua hasil volume batupasir antara dua penampang tersebut untuk
mengetahui volume batupasir secara keseluruhan.
IV.3.2. Rumus-Rumus yang Digunakan
1. Merubah luas pada peta ke luas sebenarnya :
Luas

Penampang

sebenarnya(m)

Luas

Pada

Peta(cm)

Jarak

sebenarnya(m)
2. Menghitung luas suatu penampang yang terbagi karena sumbu antiklin :
LA1 (m) = A1.1 (m) + A1.2 (m)
Ket : LA1
A1.1
A1.2

: Luas seluruh penampang (A1 = Nama suatu penampang)


: Luas penampang A1 di sebelah kiri antiklin
: Luas penampang A1 di sebelah kanan antiklin

3. Menghitung volume batupasir antara dua penampang :


LA (m) : (
Ket : LA

LA 1 ( m2 ) + LA 2(m2 )
2

) x jarak antar penampang(m)

: Volume batupasir antara dua penampang

LA1

: Luas seluruh penampang A1

LA2

: Luas seluruh penampang A2

4. Menghitung seluruh volume batupasir :


Volume batupasir kuarsa di daerah penelitian (m) = LA + LB + LC + .
Ket : LA / LB / LC

: Volume batupasir antara dua penampang

IV.3.3. Hasil Perhitungan Cadangan Batupasir Kuarsa di Daerah Penelitian


1. Luas Penampang A1, A2, A3, A4, A5, A6, dan A7 :

A1.1
60 m

A1.2
18,75 m

LA1
78,75 m

Tabel . Luas Penampang A1

A2.1
206,25 m

A2.2
72,50 m

LA2
278,75 m

Tabel . Luas Penampang A2

A3.1
285 m

A3.2
105 m

LA3
390 m

Tabel . Luas Penampang A3

A4.1
225 m

A4.2
168,75 m

LA4
393,75 m

Tabel . Luas Penampang A4

A5.1
227,50 m
Tabel . Luas Penampang A5

A6.1
150 m

A5.2
100 m

LA5
327,50 m

A6.2
75 m

LA6
225 m

Tabel . Luas Penampang A6

A7.1
50 m

A7.2
37,50 m

LA7
87,50 m

. Luas Penampang A7
2. Volume batupasir kuarsa antar dua penampang ( LA, LB, LC, LD, LE, LF ) :

LA

44.687,50 m

LB

83.593,75 m

LC

97.968,75 m

LD

90.156,25 m

LE

69.062,50 m

LF

39.062,50 m

3. Maka volume cadangan batupasir kuarsa di daerah penelitian adalah :


= LA + LB + LC + LC + LD + LE + LF
= 44.687,50 + 83.593,75 + 97.968,75 + 90.156,25 + 69.062,50 + 39.062,50
= 424.531,25 m

Tabel

Foto . Peta Geologi Garis Penampang Untuk Menentukan Cadangan Batupasir Kuarsa
di Daerah Penelitian

Gambar . Penampang Geologi A1

Gambar Penampang Geologi A2

Gambar Penampang A3

Gambar Penampang A4

Gambar penampang A5

Gambar Penampang A6

Gambar Penampang A7