Anda di halaman 1dari 32

DIAGNOSIS KEDOKTERAN KELUARGA

BBLR
(BAYI BERAT LAHIR RENDAH)

Disusun Oleh:
Andi Amalia Nefyanti
1410029033
PEMBIMBING:
dr. Khairul Nuryanto, M.Kes
Veronika Hinum, SKM, MM
dr. Kasiman

Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Puskesmas Palaran Samarinda
2016
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi (Wong,2007). BBLR mungkin disebabkan
oleh dua penyebab yaitu retardasi pertumbuhan dan disebabkan oleh umur kehamilan
yang kurang (preterm) atau dapat pula kombinasi dari keduanya. BBLR selalu
dikaitkan dengan status nutrisi, sosial ekonomi, infeksi intrauterin ketika bayi
preterm dilahirkan. (Sebayang, et.al, 2013)
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosioekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di
negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi
dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Kematian neonatus di Indonesia yang
disebabkan oleh BBLR sebesar 38,85%. Tahun 2010 prevalensi BBLR di Indonesia
mencapai 9-11%. (Sebayang, et.al, 2013; Depkes RI, 2008) BBLR termasuk faktor
utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan
anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa
depan.
BBLR merupakan bayi yang termasuk dalam bayi dengan resiko tinggi.
(Wong, et.al, 2002) Lahir dengan berat yang kurang, BBLR dapat mengalami
berbagai masalah seperti resiko infeksi, kesulitan bernafas, hipotermi dan reflek
menyusu yang kurang atau dapat terjadi gangguan nutrisi.(Elizabeth, et.al, 2013)
BBLR mudah sekali mengalami resiko infeksi karena cadangan imunoglobulin
maternal yang menurun sehingga kemampuan membuat antibodi rusak atau dapat
disebabkan oleh jaringan kulit yang masih tipis, ini juga yang menyebabkan BBLR
mudah sekali mengalami hipotermi. BBLR mengalami imaturitas organ-organ
tubuhnya seperti organ paru-paru sehingga BBLR mudah mengalami kesulitan
bernafas, fungsi kardiovaskuler yang menurun dan belum matur, fungsi ginjal yang
belum matur, fungsi hati dan pencernaan yang masih lemah. BBLR juga dapat
mengalami gangguan nutrisi karena reflek menelan dan mengisap bayi yang masih

lemah, kapasitas perutnya pun kecil sehingga cadangan nutrisi terbatas. (Bobak,
2004; Elizabeth et.al, 2013)
Keluarga khususnya ibu memiliki peran penting dalam merawat dan
mengasuh bayinya dengan baik. Bang, et al (2005) menyatakan bahwa perawatan ibu
pada bayi BBLR sangat berdampak pada kualitas dan pertahanan hidup BBLR dan
bila ibu tidak melakukan perawatan dengan baik maka akan berdampak pada angka
kejadian infeksi malnutrisi dan kematian pada bayi BBLR. masih banyak para ibu
yang belum bisa merawat bayinya dengan baik, sehingga banyak bayi BBLR yang
tidak terselamatkan disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang perawatan
bayi BBLR. Penatalaksanaan bayi BBLR perlu di dukung dengan pengetahuan yang
baik, dari pengetahuan ini akan menunjang terhadap pemberian penatalaksanaan yang
berkualitas dan aman terhadap bayi BBLR. (Girsang, 2009).

1.2.

Tujuan
Penyusunan laporan kedokteran keluarga tentang BBLR ini bertujuan untuk

mengetahui penatalaksanaan kasus BBLR agar pertumbuhan bayi normal,


pertambahan berat badan sesuai usia, terhindar dari infeksi dan hipotermi sebagai
bekal pembelajaran sebagai dokter keluarga.

BAB 2
LAPORAN KASUS
3

2.1 Identitas
2.1.1 Identitas Pasien
Nama

: By. Suci Ramadani

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tanggal lahir

: 17 Juni 2016

Umur

: 10 hari

Alamat

: Jl. Mangkujenang RT 21 No 27, Simpang Pasir

Status keluarga

: Anak ke 2 dari 2 bersaudara

2.1.2 Identitas Orang Tua Pasien


Identitas Ayah Kandung
Nama

: Tn. TA

Umur

: 31 tahun

Alamat

: Jl. Mangkujenang RT 21 No 27, Simpang Pasir

Pekerjaan

: Nelayan

Pend. Terakhir

: SMP

Identitas Ibu Kandung


Nama

: Ny. SR

Umur

: 30 tahun

Alamat

: Jl. Mangkujenang RT 21 No 27, Simpang Pasir

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pend. Terakhir

: SD

Anamnesis dilakukan pada tanggal 27 Juni 2016 Februari 2016 dengan ayah
dan ibu kandung pasien di Puskesmas Palaran dan rumah pasien.

2.2 Anamnesis

Keluhan Utama
Berat badan lahir rendah
Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu membawa bayinya ke puskesmas untuk kontrol. Bayi lahir 10 hari yang
lalu dengan berat badan 1.500 gr. Bayi lahir di atas kapal ditolong oleh suami.
Setelah lahir, bayi menangis kuat namun setelah terkena cipratan air diatas kapal, bayi
menjadi biru dan tangisannya hanya seperti merintih. Ayah pasien menepi dan
membawa bayi ke bidan terdekat lalu dilakukan pemotongan tali pusat, setelah itu
bayi dirujuk ke RS karna biru dan tangisannya tidak kuat. Bayi dirawat di RSUD
AWS selama 5 hari lalu diperbolehkan pulang. Selama 10 hari berat bayi bertambah
100 gr. Dalam sehari bayi hanya meminum ASI 3 sampai 4 kali. Ibu hanya
memberikan susu ketika bayi menangis, jika bayi tidur ibu tidak tega untuk
membangunkan bayi dan memberikan ASI. Saat membawa pasien ke posyandu ibu
tidak memakaikan penutup kepala maupun sarung tangan pada bayinya. Ibu mengaku
belum dapat penjelasan dan belum mengetahui cara merawat bayinya dengan baik
dan benar.
Riwayat Kehamilan Ibu
Kehamilan ini adalah kehamilan ke dua ibu, selama hamil ibu hanya
memeriksakan kehamilannya sebanyak 1 kali. Ibu tidak pernah di USG saat hamil.
Ibu tidak rutin mengkonsumsi vitamin dan obat penambah darah. Ibu tidak
mengkonsumsi obat-obatan lain selain yang diberikan bidan. Ibu tidak menderita
penyakit saat kehamilan. Mual (-), muntah (-), riwayat trauma (-). Ibu makan 3x
sehari selama hamil. Berat badan ibu selama hamil bertambah 7 kg. Ibu berhubungan
seksual dengan suaminya 3 hari sebelum melahirkan.

Riwayat Persalinan Sekarang


Bayi lahir pada tanggal 17 Juni 2016 pukul 18.30 pada usia kehamilan ibu 3132 minggu, jenis kelamin perempuan. Ibu berangkat berlayar dengan suaminya
menggunakan kapal karena perkiraan persalinannya masih bulan Agustus 2016.
Namun, saat dikapal ibu merasakan perutnya kencang-kencang dan

ingin

melahirkan. Proses melahirkan ditolong oleh suami dan 30 menit setelahnya tali pusat
dipotong oleh bidan. Air ketuban tidak diketahui warnanya karena kondisi di kapal
yang gelap.

Hamil
ke

Kondisi

Jenis

Jenis

saat

Kelamin

Persalin

Usia

BB/TB

Laki-laki

an
Spontan

6 thn

2400 gr/?

10

1500 gr/ 47

hari

cm

Lahir
Aterm

Penolo
ng
Dukun

(2009)
2

Preterm

(2016)

Perempu
an

Spontan

Suami

Riwayat Penyakit Keluarga :


Kakak pasien lahir dengan berat badan lahir rendah dan ditolong oleh dukun
Pola kebiasaan sehari-hari :
-

Pola nutrisi : Ibu memberikan ASI 3-4x sehari ketika bayi lapar
Pola istirahat : Bayi selalu tidur dan hanya bangun ketika lapar
Personal hygiene : Ibu memandikan bayi setiap pagi dan sore menggunakan air
dingin

Kesimpulan klasifikasi bayi menurut Lubchenco : Neonatus kurang bulan (KB) sesuai
masa kehamilan (SMK)
PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 27 Juni 2016
Tanda Vital

Frekuensi nadi

Frekuensi napas

Temperatur

: 36,3o C per axila

Berat badan

: 1600 gram

Panjang Badan

: 47 cm

Lingkar kepala

: 28 cm

Lingkar dada

: 126 x/menit, isi cukup, reguler


: 45 x/menit

: 25 cm

1. Kulit
o Kulit terlihat tipis dan jaringan lemak dibawah kulit
tipis

o Tidak sianosis
2. Kepala
o Ubun ubun teraba dan tidak cekung
o Tidak ada tanda trauma kelahiran
o Tidak ada kelainan kongenital
3. Wajah
o Simetris
o Tidak ada kelainan wajah yang khas
o Tidak ada kelainan wajah akibat trauma lahir
4. Mata
o Anemis (-/-)
o Ikterik (-/-)
o Jumlahnya 2 sepasang
o Kornea tidak keruh
o Tidak didapatkan trauma
5. Telinga
o Sekret (-)
o Jumlahnya 2
o Daun telinga elastis
6. Hidung
o Tidak terdapat sekret
o Tidak ada pernafasan cuping hidung
7. Mulut
o Sianosis (-)
o Bibir simetris
o Langit langit utuh
8. Leher
o Trakea teraba ditengah
o Tidak ada pembesaran KGB
9. Dada
o Pergerakan dinding dada bersama dinding perut saat
bernafas
o Retraksi (-)
10. Payudara
o Tampak areola berbintil kecil
o Tidak ada tanda peradangan
11. Paru
o Rhonki (-/-)
o Wheezing (-/-)
o Fekuensi nafas 45x/menit
12. Kardiovaskular

o Frekuensi denyut jantung 126x/menit


13. Abdomen
o Dinding perut lebih datar, tidak kembung
o Tali pusat sudah lepas
14. Genitalia eksterna
o Labia mayora belum menutup labia minora dengan
sempurna
15. Anus
o Terdapat anus
16. Ekstremitas
o Akral hangat

2.3 Diagnosis Kerja


BBLR dengan kehamilan preterm
2.4 Penatalaksanaan
Farmakologis : Non farmakologis :
Edukasi
o

Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum.

Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh


bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care.

Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin.

Ukur suhu tubuh dengan berkala.

2.5 Analisis Kedokteran Keluarga


2.5.1 Identitas Kepala Keluarga
No
1
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama
Umur
Jenis kelamin
Status perkawinan
Agama
Suku bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat lengkap

I. KEPALA KELUARGA II. PASANGAN


Tn. TA
Ny. SR
31 tahun
30 tahun
Laki-laki
Perempuan
Menikah
Menikah
Islam
Islam
Bugis
Bugis
SMP
SD
Nelayan
IRT
Jl. Mangkujenang RT 21 No 27, Simpang Pasir

2.5.2 Anggota Keluarga Tinggal Serumah


Usia

Pekerjaan

1
2

Anggota
Keluarga
Tn. TA
Ny. SR

31 thn
30 thn

Nelayan
IRT

Hub.
Klrg
Ayah
Ibu

Tn. AR

25 thn

Ojek

Paman

Ny. B

65 thn

IRT

Nenek

An. J

6 thn

Pelajar

Anak

An. SR
(Pasien)

10
hari

Anak

No

Stt.
Nikah
Menikah
Menikah
Belum
Menikah
Menikah
Belum
Menikah
Belum
Menikah

Serumah
Ya
Tdk Kdg
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

Ya

2.5.3 Genogram

10

Keterangan:
Laki-laki hidup
Perempuan hidup
Laki-laki meninggal
Perempuan meninggal
Pasien
Tinggal serumah
2.5.4 Status Fisik, Sosial, Ekonomi, Keluarga Dan Lingkungan
No

Ekonomi Keluarga

Keterangan

1
2
3

Luas tanah
Luas Bangunan
Pembagian ruangan

4
5

Besarnya daya listrik


Tingkat pendapatan keluarga :
Pengeluaran
rata-rata

7 x 15 meter
4 x 12 meter
Rumah
berupa
rumah
kontrakan, terdiri dari 1 lantai,
3 kamar tidur, 1 dapur, 1 ruang
tamu, 1 WC
450 watt

perbulan
Bahan
makanan:

Beras,

Lauk/ikan, sayur, air minum, Rp. 1.200.000


dan lain-lain.
Diluar

bahan

makanan:

kesehatan, listrik, air, dan Rp. 300.000


lain-lain.
Penghasilan keluarga/bulan
Rp. 1.500.000
No

Perilaku Kesehatan

1
2

Pelayanan promotif/preventif
Puskesmas
Pemeliharaan kesehatan anggota Puskesmas
keluarga lain
Pelayanan pengobatan
Puskesmas

11

4
No

Jaminan pemeliharaan kesehatan


Pola Makan Keluarga

Jamkesda

Anggota keluarga

2.
No

Pasien
Aktivitas Keluarga

Makan 3 kali sehari (pagi,


siang dan malam). Nasi, tahu,
tempe, ikan/telur/ayam, sayur.
Asi eksklusif

Aktivitas fisik
a. Ayah

Bekerja

sebagai

nelayan.

Biasanya pergi meninggalkan


rumah selama 7-10 hari dan
tinggal di rumah atas laut.
b. Ibu

Mencuci baju, memasak, dan


membersihkan rumah

c. Anak ke 1

Aktivitas mental

No

Lingkungan

Sosial

Fisik/Biologik
Perumahan dan fasilitas
Luas tanah
Luas bangunan
Jenis dinding
Jenis lantai
Sumber penerangan utama
Sarana MCK

Sumber air sehari-hari


Sumber air minum
Pembuangan sampah

Bersekolah dan bermain


Seluruh anggota keluarga rutin
melaksanakan shalat 5 waktu
Hubungan dengan lingkungan
sekitar baik
Kurang
7 x 15 meter
4 x 12 meter
Kayu
Kayu
Lampu listrik
Kamar mandi menjadi satu
dengan WC berada di sebelah
tempat cuci piring dan dapur.
Air sungai
Air keran yang dimasak
Sampah dikumpulkan menjadi
satu plastik kemudian dibuang
ke TPS terdekat

12

2.5.5 Penilaian Apgar Keluarga


Kriteria

Pernyataan

Hampir
Selalu (2)

Saya puas dengan keluarga


saya karena masing-masing
anggota keluarga sudah
menjalankan sesuai dengan
seharusnya
Kemitraan
Saya puas dengan keluarga
saya
karena
dapat
membantu
memberikan
solusi
terhadap
permasalahan yang dihadapi
Pertumbuhan Saya
puas
dengan
kebebasan yang diberikan
keluarga
saya
untuk
mengembangkan
kemampuan yang saya
miliki
Kasih sayang Saya
puas
dengan
kehangatan
dan
kasih
sayang yang diberikan
keluarga saya
Kebersamaa Saya puas dengan waktu
n
yang disediakan keluarga
untuk
menjalin
kebersamaan
Total

Kadang
Kadang
(1)

Hampir
tidak
pernah (0)

Adaptasi

10

Keterangan :
Total skor 8-10 = Fungsi keluarga sehat
Total skor 6-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
Total skor 5= Fungsi keluarga sakit
Kesimpulan : Nilai skor keluarga ini adalah 10, artinya keluarga ini menunjukan
fungsi keluarga sehat

13

2.5.6 Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Keluarga


No

Indikator Pertanyaan

A. Perilaku Sehat
1
Tidak merokok
Ada
yang
memiliki
kebiasaan merokok
2
Persalinan
Dimana ibu melakukan
persalinan
3
Imunisasi
Apakah bayi ibu sudah di
imunisasi lengkap
4
Balita di timbang
Apakah balita ibu sering
ditimbang? Dimana?
5
Sarapan pagi
Apakah seluruh anggota
keluarga
memiliki
kebiasaan sarapan pagi?
6
7

Dana sehat / Askes


Apakah anda ikut menjadi
peserta askes
Cuci tangan
Apakah anggota keluarga
mempunyai
kebiasaan
mencuci
tangan
menggunakan
sabun
sebelum
makan
dan
sesudah buang air besar ?

Jawaban
Ya
Tidak

Keterangan

Ayah pasien merokok


Ditolong oleh suami

Pasien
diimunisasi

belum

Penimbangan
posyandu

di

Makanan yang biasa


dikonsumsi setiap hari
adalah nasi dan laukpauk

Jamkesda, saat ini


sudah tidak berlaku
Seluruh keluarga tidak
mempunyai kebiasaan
mencuci
tangan
dengan air dan sabun
hingga bersih sebelum
makan dan mengolah
makanan

Sikat gigi
Apakah anggota keluarga Seluruh
anggota
memiliki kebiasaan gosok keluarga melakukan
gigi menggunakan odol
kebiasaan menggosok
gigi
9
Aktivitas fisik/olahraga
Apakah anggota keluarga Seluruh
anggota
melakukan aktivitas fisik keluarga
jarang
atau olah raga teratur
melakukan olahraga
B. Lingkungan Sehat
1
Jamban

14

Apakah dirumah tersedia


jamban
dan
seluruh
keluarga menggunakannya
Air bersih dan bebas
jentik
Apakah dirumah tersedia
air
bersih
dengan
tempat/tendon air tidak ada
jentik ?
Bebas sampah
Apakah dirumah tersedia
tempat sampah? Dan di
lingkungan sekitar rumah
tidak
ada
sampah
berserakan?
SPAL
Apakah ada/tersedia SPAL
disekitar rumah

Rumah memiliki
buah kloset (WC)

Terdapat
banyak
jentik-jentik di tempat
penampungan
air
pasien

Rumah
terlihat
bersih/bebas sampah
dan tersedia tempat
sampah
didalam/diluar rumah

Lingkungan
yang
bersih tidak ada air
limbah
yang
menggenang

Ventilasi
Apakah ada pertukaran Ukuran ventilasi lebih
udara didalam rumah
kurang 1/10 luas
lantai
untuk
tiap
ruangan
6
Kepadatan
Apakah ada kesesuaian Pengukuran
rumah dengan jumlah kepadatan dimana 1
anggota keluarga?
orang
penghuni
membutuhkan 2x2x2
meter
7
Lantai
Apakah lantai bukan dari Seluruh lantai rumah
tanah?
terbuat dari kayu
C. Indikator tambahan
1
ASI Eksklusif
Apakah ada bayi usia 0-6 Hingga saat ini bayi
bulan hanya mendapat ASI masih mendapat ASI
saja sejak lahir sampai 6 ekslusif
bulan
2
Konsumsi buah
dan
sayur
Semua
anggota
Apakah dalam 1 minggu keluarga
terakhir anggota keluarga mengkonsumsi buah

15

mengkonsumsi buah dan dan sayur


sayur?
Jumlah

12

Klasifikasi
SEHAT I : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 1-5 pertanyaan (merah)
SEHAT II : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 6-10 pertanyaan (Kuning)
SEHAT III : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 11-15pertanyaan (Hijau)
SEHAT IV : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 16-18pertanyaan (Biru)
Kesimpulan
Dari 18 indikator yang ada, yang dapat dijawab Ya ada 12 pertanyaan yang
berarti identifikasi keluarga dilihat dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehatnya masuk
dalam klasifikasi SEHAT III.
2.5.7 Resume Faktor Risiko Lingkungan Keluarga
Faktor Resiko

Biologi

Ibu pasien memiliki riwayat melahirkan anak


dengan

BBLR

pada

persalinannya

yang

pertama

Psiko-sosioekonomi

Perilaku Kesehatan

Pengetahuan tentang perawatan bayi BBLR kurang

Pendapatan keluarga menengah kebawah

Tidak memiliki jaminan kesehatan


Hanya memberikan ASI 3-4x sehari
Tidak membiasakan mencuci tangan sebelum dan

sesudah memegang bayi


Memandikan bayi 2 kali sehari dengan air dingin dan
sering tidak memakaikan topi dan sarung tangan pada
bayi

Ayah pasien perokok aktif dan merokok dirumah


Gaya hidup
2.5.8 Diagnosa Keluarga (Resume Masalah Kesehatan)
Status kesehatan dan faktor risiko (Individu, keluarga dan komunitas)

Status fungsi keluarga sehat baik.

16

Pengetahuan keluarga mengenai BBLR belum memadai.

Status upaya kesehatan (Individu, keluarga dan komunitas)

Pendapatan keluarga untuk prioritas pemenuhan sandang dan pangan.

Pemeriksaan kesehatan ke puskesmas dan rumah sakit.

Tidak memiliki jaminan kesehatan.

Status lingkungan

Kondisi rumah dan lingkungan secara umum baik.


Ukuran luas rumah dan halaman cukup memadai untuk ditempati oleh

anggota keluarga yang berjumlah 6 orang serta ventilasi yang cukup.


Hubungan dengan tetangga dan lingkungan sekitar cukup baik.
Sanitasi lingkungan sekitar rumah baik.

Diagnosa keluarga
Sebuah keluarga Tn. TA terdiri dari 4 orang anggota keluarga inti dengan 1
anggota keluarga menderita BBLR dengan kelahiran preterm. Secara umum,
keluarga ini menempati rumah memiliki kesadaran PHBS yang baik, dan fungsi
keluarga sehat yang baik.

2.5.9 Rencana Penatalaksanaan Masalah Kesehatan


No

Masalah
Kesehatan

Pengobatan

Tindakan Medis

BBLR

Farmakologis:

Non-farmakologis :
17

(-)

Untuk

kehamilan

selanjutnya

disarankan

untuk

melakukan

pemeriksaan

kehamilan

secara rutin, dan edukasi


mengenai gizi saat hamil,
perawatan

diri

selama

kehamilan dan pentingnya


persalinan
-

ditolong

oleh

tenaga kesehatan
Edukasi mengenai kondisi
bayi

BBLR

komplikasi
jangka

dan

meliputi
masalah

panjang

yang

mungkin timbul pada bayi


-

BBLR
Edukasi

mengenai

ASI

meliputi manfaat pemberian


ASI, cara pemberian, waktu
pemberian
-

dan

tanda

kecukupan pemberian ASI


Edukasi
mengenai
pentingnya
mempertahankan

suhu

tubuh bayi pada bayi BBLR


dan
-

bagaimana

cara

melakukannya
Menyarankan ibu

untuk

rutin memantau berat badan


-

bayi
Edukasi mengenai tanda-

18

tanda

dan

pencegahan

infeksi

19

Mandala of Health
Mandala of Health
2.5.10 Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah Dalam KeluargaGAYA HIDUP

No

Ayah pasien perokok aktif dan sering merokok di dalam rumah


Skor
Upaya Penyelesaian
Awal
BIOLOGI
Bayi lahir dengan berat badan 1500 gr
LINGK. PSIKO-SOSIO-EKONOMI
Bayi lahir pada usia kehamilan 31-32 minggu
Pengetahuan tentang perawatan bayi BB
Pendapatan keluarga menengah kebawa

Masalah Yang
Dihadapi

PASIEN
Bayi lahir dengan berat badan 1.500 gr
Lahir pada usia kehamilan 31-32 mg
Riwayat asfiksia (+)
Risiko mengalami hipotermia, hipoglikemia, gangguan cairan dan elektrolit, hiperbilirubinemia, sindroma gawat nafas dan inf

PERILAKU KESEHATAN
PELAYANAN KES.
-Hanya memberikan ASI 3-4x sehar
Jarak rumah-pusat pelayanan kesehatan: 15 menit, ditempuh dengan kendaraan roda 2
-Tidak
membiasakan
mencuci tangan sebelum dan sesu
Jaminan kesehatan pasien : Tidak ada
- Memandikan bayi 2 kali sehari dengan air dingin dan sering tidak memak

20

1.

BBLR

Edukasi mengenai mempertahankan suhu


tubuh bayi dengan membungkus bayi dan
menjaga lingkungan bayi tetap bersih dan
kering dengan cara mengganti popok atau
pakaian jika basah

Melakukan perawatan metode kangguru


(PMK)

dengan

cara

meletakkan

bayi

telanjang dada di dada ibu (skin to skin),


memfiksasi dengan selendang kemudian
memakai baju longgar sehingga ibu dan
bayi dalam satu pakaian
5

Berikan ASI minimal 3 jam sekali

Rutin memeriksakan berat badan bayi untuk


mengetahui kenaikan berat badan

Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak


dengan bayi

Edukasikan ayah untuk berhenti merokok


dan jelaskan mengenai dampak buruk pada
bayinya sekarang dan akan datang

Segera periksakan bila bayi sesak, demam,

21

Klasifikasi Skor:
Skor 1 : Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi.
Skor 2 : Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, tidak ada sumber (hanya keinginan); penyelesaian masalah dilakukan
sepenuhnyaoleh provider.
Skor 3 : Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang belum dimanfaatkan, penyelesaian masalah dilakukan
sebagian besar provider.
Skor 4 : Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih tergantung pada upaya provider.
Skor 5 :Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga.

22

PEMBAHASAN
Studi kasus dilakukan pada pasien By. SR 10 hari dengan keluhan berat badan lahir rendah. Bayi lahir dengan berat
badan 1500 gr dan selama 10 hari bertambah menjadi 1600 gr. Bayi lahir prematur pada usia kehamilan 31-32 minggu. Lahir
ditolong oleh ayahnya. Pada saat lahir bayi terpapar air dan udara dingin sehingga menjadi biru dan tangisannya hanya seperti
merintih. Bayi telah dirawat di RSUD AWS selama 5 hari dan telah diperbolehkan pulang. Ibu mengaku hanya memberikan ASI
3 - 4x sehari dan ibu belum mengerti tentang bayi BBLR dan cara perawatannya. BBLR bisa disebabkan oleh faktor ibu, faktor
janin maupun faktor lingkungan. Faktor ibu antara lain penyakit yang diderita ibu (malaria, anemia, TORCH), komplikasi
kehamilan (perdarahan antepartum, pre-eklampsia, eklampsia, kelahiran preterm), usia, paritas, kebiasaan seperti merokok,
konsumsi alkohol dan penggunaan narkotika. Faktor janin seperti kehamilan ganda, hidramnion dan kelainan kromosom. Faktor
lingkungan seperti sosio ekonomi yang rendah dan paparan zat-zat racun (Kosim,2008). Penyebab utama kejadian BBLR pada
pasien ini adalah karena kelahirannya yang prematur. Penyebab kelahiran prematur pada pasien ini tidak diketahui secara pasti.
Salah satu penyebabnya adalah ibu pasien tidak rutin melakukan ANC selama kehamilannya sehingga tidak diketahui adanya
penyakit sistemik-infeksi ibu hamil.
Diagnosis BBLR dengan kelahiran preterm ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Pada By SR, diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat berat badan saat lahir yaitu 1500 gr. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan tanda prematur yaitu kulit yang tipis, lemak dibawah kulit yang tipis dan labia mayor belum menutupi labia minor.
Bayi BBLR rentan mengalami hipotermia, hipoglikemia, gangguan cairan dan elektrolit, hiperbilirubinemia, sindroma gawat
nafas, infeksi dan anemia sehingga perlu dilakukan penatalaksanaan yang tepat agar pertumbuhan bayi normal (Azis,2006).

23

Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi
demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau pipet.
Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan
yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada puting. Bayi BBLR sebaiknya diberikan ASI dengan porsi
kecil tetapi sering, tujuannya agar bayi dapat memperoleh asupan yang cukup yaitu setiap 3 jam sekali. Perhatikan cara
pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap. Tanda ASI sudah cukup yaitu BAK minimal 6 kali/ 24 jam, bayi tidur
lelap setelah pemberian ASI dan BB naik pada 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari. Selain itu hal yang penting untuk dilakukan
adalah mempertahankan suhu tubuh normal Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi,
seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care. Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin.
Memandikan bayi BBLR harus dilakukan dengan cepat, segera dikeringkan lalu memakaikan pakaian dan topi. Anjurkan ibu
untuk ukur suhu tubuh secara berkala. Untuk pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan membiasakan diri mencuci tangan
sebelum memegang bayi (Poesponegoro,2005). Ayah pasien harus diedukasikan untuk berhenti merokok karena asap rokok
dapat melemahkan daya tahan tubuh bayi sehingga mudah untuk terserang penyakit. Polusi asap rokok sendiri merupakan faktor
risiko kejadian ISPA khususnya pneumonia. Edukasikan ibu untuk segera periksakan bila bayi sesak, demam, sulit minum ASI
dan kuning.
Antibodi pada bayi prematur tingkatnya lebih rendah, sehingga sangat penting bagi mereka untuk menerima vaksinasi.
Beberapa laporan menyebutkan ditemuinya kadar serokonversi yang lebih rendah pada bayi berat lahir rendah yang diimunisasi
segera setelah lahir dibandingkan dengan bayi prematur yang diimunisasi lebih lambat. Pemberian imunisasi HB pada bayi
prematur yang lahir dari ibu HBsAG negatif dan berat badan <2 kg, ditunda sampai anak keluar dari rumah sakit, yaitu sampai
berat badan anak 2 kg atau umur anak 2 bulan, diberikan bersamaan dengan imunisasi lain. Sedangkan untuk BCG, pada

24

bayi lahir dengan usia gestasi 34 minggu atau lebih dapat menerima vaksin sesaat setelah dia lahir. Bayi lahir sebelum usia
gestasi 34 minggu harus ditunda dalam pemberian BCG sampai usia gestasi mencapai 34 minggu (AAP,1997; Siregar,2001)
Ibu pasien juga memiliki riwayat persalinan BBLR sebelumnya. Ibu tidak rutin memeriksakan dirinya saat hamil dan
tidak rutin mengkonsumsi vitamin. Kedua persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan sehingga pengetahuan ibu tentang
kehamilan persalinan memang kurang. Untuk mencegah terjadinya BBLR selanjutnya maka perlu dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu
perlu di edukasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan, perawatan
diri dan perbaikan gizi selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik.
Perlu juga dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi
keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases. Recommended childhood immunization schedule-United
States, January-December 1997. Pediatrics 1997; 99:136-7.
Azis, Abdul Latief. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Kesehatan Anak, edisi III. RSU Dokter Sutomo. Surabaya

25

Bang AT, Bang RA. 2005. Low Birth Weight and Preterm Neonatus: Can they managed at home by mother and a trained village
health

worker.

Journal

of

Perinatology,

S72-S81.

Avalaible

online

at:

http://www.

Nature.com/jp/journal25/n1s/pdf/7211276a.pdf (diakses 28 Juni 2016).


Bobak. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas (Maternity Nursing) Edisi 4. Jakarta: EGC; hal. 205, 888-899.
Depkes RI. (2008). Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Metode Kanguru. Jakarta: Health Technology
Assessment Indonesia. Depkes RI
Departemen Kesehatan. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan, RI.
Elizabeth NL, Christopher OG, Patrick K. (2013). Determining an anthropometric surrogate measure for identifying low birth
weight babies in Uganda: a hospital-based cross sectional study. BMC Pediatric. 13-54.
Girsang, M. 2009. Pola Perawatan bayi berat lahir rendah di rumah sakit dan di rumah dan hal-hal yang mempengaruhinya. FIK
UI. Thesis. Available online at http://digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id= 124600& lokasi=lokal (diakses 02
Januari 2012).
Kosim, Sholeh. 2008. Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta
Poesponegoro, Hardiono, dr. Sp.A(K). 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
Sebayang SK. Dibley MJ. Kelly PJ. Shankar AV. Shankar AH. (2013). Determinants of low birthweight, small-for-gestationalage and preterm birth in Lombok, Indonesia: analyses of the birthweight cohort of the SUMMIT trial. Tropical Medicine and
Internasional Health. 2013 August; 17 (8): 938-950.
Siregar SP. Imunisasi pada kelompok berisiko. Dalam:Ranuh IGN, Soeyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita C, penyunting.
Buku Imunisasi Di Indonesia, edisi pertama. 2001. Jakara: Satgas Imunisasi IDAI, 2001.h. 49-56.

26

Wong DL, Perry SE & Hockenberry MJ. (2002). Maternal Child Nursing Care 1. United State: Mosby; Hal. 610.

27

DOKUMENTASI

Pasien By. SR
Rumah Pasien Tampak Depan

28

Kondisi ruang keluarga

29

Dapur

Kamar Mandi

30

Tempat cuci piring

31

Kamar Tidur Pasien

32