Anda di halaman 1dari 134

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)

KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

METODOLOGI
PENYUSUNAN RDTR

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-1

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.1

KEDUDUKAN
RDTR DAN
PERATURAN
ZONASI

Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun


2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW
kabupaten/kota

harus

menetapkan

bagian

dari

wilayah

kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah


yang akan disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan
atau kawasan strategis kabupaten/kota. Kawasan strategis
kabupaten/kota dapat disusun RDTR apabila merupakan: kawasan
yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan menjadi kawasan
perkotaan; dan memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan
RDTR yang ditetapkan dalam pedoman ini.
Kedudukan RDTR adalah sebagai salah satu dasar dalam
pengendalian pemanfaatan ruang dan sekaligus menjadi dasar
penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR ditentukan
sebagai zona yang penanganannya diprioritaskan. RDTR disusun
muatan materinya lengkap, termasuk peraturan zonasi jika RTRW
kabupaten/kota membutuhkan acuan lebih detil untu pengendalian
pemanfaatan ruang kabupaten/kota. Jika RTRW kabupaten/kota
tidak memerlukan RDTR, peraturan zonasi dapat disusun untuk
kawasan perkotaan baik yang sudah ada maupun yang
direncanakan pada wilayah kabupaten/kota.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-2

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Kedudukan RDTR Kabupaten dalam sistem perencanaan tata ruang


dan sistem perencanaan pembangunan nasional bersama dengan
RTR Kawasan Strategis Kabupaten adalah merupakan rencana rinci
dari rencana umum tata ruang RTRW Kabupaten. RTRW Kabupaten
sebagai sumber penyusunan RDTR sejajar dengan rencana
pembangunan RPJP Kabupaten/Kota. RDTR yang disusun
merupakan satu kesatuan dengan peraturan zonasi untuk suatu
BWP tertentu. Jika RDTR tidak disusun atau RDTR telah ditetapkan
sebagai
Perda namun belum ada peraturan zonasinya, maka peraturan
zonasi dapat disusun terpisah dan berisikan zoning map dan zoning
text untuk seluruh kawasan perkotaan baik yang sudah ada maupun
yang direncanakan pada wilayah kabupaten. RDTR ditetapkan
dengan Perda. Jika RDTR telah ditetapkan sebagai Perda terpisah
dari peraturan zonasi, maka peraturan zonasi ditetapkan dengan
Perda. Hubungan antara RTRW Kabupaten/Kota, RDTR, dan RTBL
serta Wilayah Perencanaannya adalah sebagai berikut :
1. RTRW Kabupaten/Kota wilayah perencanaannya adalah wilayah
kabupaten/kota, dirincikan lebih lanjut menjadi RDTR dengan
wilayah perencanaan dibagi menjadi BWP.
2. RDTR wilayah perencanaannya adalah BWP, dirincikan lebih
lanjut menjadi RTBL dengan wilayah perencanaan dibagi
menjadi Sub BWP.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-3

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Gambar 8.1
Kedudukan RDTR dalam Sistem Penataan Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Sumber: Pedoman Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota, Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2011

Dalam proses pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan


ruang Peraturan Zonasi memiliki kedudukan sangat penting karena
beberapa alasan sebagai berikut:
1. Peraturan zonasi memiliki tingkat ketelitian yang sama dengan
RDTR, namun mengatur lebih rinci dan lebih lengkap ketentuan
pemanfaatan ruang dengan tetap mengacu pada RTRW
Kabupaten.
2. Perbedaan peran dan fungsi antara RDTR dengan Peraturan
Zonasi dalam sistem penataan ruang adalah:

RDTR merupakan salah satu jenjang rencana tata ruang


kota dengan skala 1 : 5000

Peraturan Zonasi merupakan salah satu perangkat


pengendalian pemanfaatan ruang yang berisi ketentuanketentuan teknis dan administratif pemanfaatan ruang dan
pengembangan tapak. Peraturan Zonasi ini telah banyak
digunakan di negara berkembang, dan dapat melengkapi

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-4

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

aturan pemanfaatan ruang untuk RDTR yang telah


ditetapkan.
3. Peraturan Zonasi adalah peraturan yang menjadi rujukan
perijinan, pengawasan dan penertiban, dalam pengendalian
pemanfaatan ruang yang merujuk pada Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kabupaten yang telah menetapkan fungsi,
intensitas, ketentuan tata masa bangunan, sarana dan
prasarana, serta indikasi program pembangunannya.
4. Peraturan Zonasi juga menjadi landasan untuk manajemen lahan
dan pengembangan tapak.
Gambar 8.2
Gambar. Kedudukan Peraturan Zonasi dalam Sistem Penataan Ruang di Indonesia
PERENCANAAN

PEMANFAATAN

PENGENDALIAN
Undang-undang Manajemen
Lahan

Manajemen Lahan
(Kawasan)
Peraturan, Perijinan,
Pengawasan, Penertiban,
Kelembagaan

Kegiatan Intensitas
Tata Masa Bangunan
Sarana dan Parasarana
Indikasi Program
Land Development (Persil,
Blok, Sektor)

Peraturan Zonasi :
Peraturan dan Peta Kelembagaan dan Administrasi
Sumber: Konsep Dasar Panduan Penyusunan Peraturan Zonasi Wilayah Perkotaan, Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Departemen Pekerjaan Umum Tahun 2006

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-5

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.2

8.2.1.

FUNGSI DAN
MANFAAT RDTR
DAN PERATURAN
ZONASI

FUNGSI DAN MANFAAT RDTR


RDTR dan peraturan zonasi berfungsi sebagai:
a.

Blorai mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota


berdasarkan RTRW;

b.

acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari


kegiatan pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW;

c.

acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;

d.

acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan

e.

acuan dalam penyusunan RTBL.

RDTR dan peraturan zonasi bermanfaat sebagai:


a. penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan
fungsi dan lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu;
b. alat

operasionalisasi

dalam

sistem

pengendalian

dan

pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik kabupaten/kota


yang dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, swasta,
dan/atau masyarakat;
c. ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian
wilayah sesuai dengan fungsinya di dalam struktur ruang
kabupaten/kota secara keseluruhan; dan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-6

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d. ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk


disusun program pengembangan kawasan dan pengendalian
pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP atau Sub BWP.
Sebagaimana dengan kedudukan RDTR dan Peraturan Zonasi,
Fungsi dan Manfaat RDTR dan Peraturan Zonasi sedianya juga
disebutan lebih dulu dalam buku fakta dan analisa untuk penyusunan
RDTR.
8.2.2.

KRITERIA DAN LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN RDTR DAN


PERATURAN ZONASI
Kriteria penyusunan RDTR adalah :
a. RTRW kabupaten/kota dinilai belum efektif sebagai acuan dalam
pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang karena tingkat ketelitian petanya belum mencapai 1:5.000;
dan/atau
b. RTRW kabupaten/kota sudah mengamanatkan bagian dari
wilayahnya yang perlu disusun RDTR-nya.
Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka dapat disusun
peraturan zonasi, tanpa disertai dengan penyusunan RDTR yang
lengkap. Lingkup wilayah perencanaan RDTR mencakup :
a. wilayah administrasi;
b. kawasan fungsional, seperti bagian wilayah kota/subwilayah
kota;
c. bagian dari wilayah kabupaten/kota yang memiliki ciri perkotaan;
d. kawasan strategis kabupaten/kota yang memiliki ciri kawasan
perkotaan; dan/atau
e. bagian dari wilayah kabupaten /kota yang berupa kawasan
pedesaan dan direncanakan menjadi kawasan perkotaan.
Wilayah perencanaan RDTR tersebut kemudian disebut sebagai
BWP. Setiap BWP terdiri atas Sub BWP yang ditetapkan dengan
mempertimbangkan:
a. morfologi BWP;
b. keserasian dan keterpaduan fungsi BWP; dan
c. jangkauan dan batasan pelayanan untuk keseluruhan BWP
dengan memperhatikan rencana struktur ruang dalam RTRW.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-7

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Gambar 8.3
Skema Penyusunan RDTR
LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN ANTARA

Teori Penataan
Wilayah
Pedoman/Peraturan
Tata Ruang Wilayah

Fisik dasar kawasan :


- topografi
- hidrologi
- geologi
- klimatologi
- oceanografi
- tata guna lahan

Metode dan
Persiapan Survey

Substansi RDTR
Substansi Wilayah
Perencanaan
Kebutuhan RDTR
Metodologi Perencanaan
Wilayah

Landasan Hukum
Pengertian Umum
KERANGKA
ACUAN KERJA
( KAK )

Tujuan dan Sasaran

Substansi
PEMAHAMAN
TERHADAP
KAK

Manfaat
Kedudukan Pedoman

Metode Pendataan

Metodologi

Metode Analisa

Tim Penyusun

Metode Perencanaan

Pendahuluan

Kajian Teori

Kajian Teori
Studi Kasus

Studi Kasus
SURVEY AWAL
ORIENTASI

DRAFT LAPORAN
PENDAHULUAN

Gambaran Wil. Perencanaan

Metodologi

Metode Pelaksanaan
Kegiatan Perencanaan

Ruang Lingkup

Pendahuluan

Pembagian Tugas
Dan Kewenangan (Keahlian)

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
PENDAHULUAN

REVISI PRODUK
LAPORAN
PENDAHULUAN

Gambaran Wil. Perencanaan

Metodologi

Grand Concept

Grand Concept

Renc. Pelaksanaan
Kegiatan

Renc. Pelaksanaan
Kegiatan

Metode Pelaksanaan
Pekerjaan

Pembagian Tugas
Dan Kewenangan (Waktu)

Operasional

SURVEY
PENDALAMA
WILAYAH
PERENCANAAN

Kependudukan :
- Jumlah penduduk
- Sebaran penduduk
- Umur penduduk
- Agama
- Pendidikan
- Mata pencaharian

Perekonomian :
- Data investasi
- Perdagangan dan jasa
- Industri
- Pertanian
- Perkebunan
- Perikanan
- Pariwisata
- Pendapatan daerah, dll

ANALISA
WILAYAH
PERENCANAAN
RDTR

Elaborasi penduduk
Elaborasi sektoral

Penggunaan Lahan :
- Luas fungsi lahan
- Sebaran kegiatan
- Permukiman
- Perdagangan dan jasa
- Industri
- Pariwisata
- Pertambangan
- Pertanian
- Kehutanan, dll

Tata Bangunan - Lingk :


- Intensitas bangunan
- Bentuk bangunan
- Arsitektur bangunan
- Fungsi bangunan
- Bangunan khusus
- Wajah lingkungan
- Image of the city
- GSB
- Konservasi

Prasarana - utilitas :
- Jaringan transportasi
- Jaringan air bersih
- Jaringan limbah
- Jaringan drainase
- Jaringan telekomunikasi
- Jaringan gas
- Jaringan persampahan

Analisa Struktur Ruang :


- Analisa penduduk - hunian
- Analisa fungsi-pola ruang
- Analisa jaringan pergerakan

Pembagian ruang dalam karakter zona yang melekat atau yang akan dibentuk
sebagai upaya untuk mempermudah pola investasi, arah perkembangan,
pola pengendalian dan keserasian dan keseimbangan lingkungan.

Analisa Peruntukan Blok :


- Pembagian blok
- Peruntukan/Fungsi lahan

Dasar pertimbangan dalam penetapan unit blok didasarkan atas perencanaan


pembagian lahan dalam kawasan menjadi blok dan jalan, di mana blok terdiri
atas unit lingkungan dengan konfigurasi tertentu.

Analisa Fasilitas Umum :


- Fasos - Fasum
- Kawasan rawan bencana

Distribusi pusat-pusat pelayanan kegiatan dirinci sampai pusat pelayanan


lingkungan permukiman. Setiap kegiatan mamiliki skala pelayanan yang akan
menunjukkan syarat-syarat dan ketentuan teknis dalam ruang kawasan.

Analisa Pras. Transportasi :


- Angkutan jalan raya
- Angkutan kereta api
- Angkutan air
- Angkutan udara

Struktur jaringan pergerakan merupakan komponen perencanaan yang


bertujuan mendistribusikan jenis pelayanan jaringan dan sarana pergerakan ke
seluruh kawasan dan sub kawasan secara berjenjang sesuai dengan struktur
ruang kawasan yang direncanakan sehingga tercipta pergerakan yang mudah,
lancar, aman, nyaman dan terpadu. Pelayanan jaringan pergerakan dirinci
sampai pengukuran pola dan sistem jaringan, kapasitas dan intensitas
pelayanan jaringan pergerakan.

Analisa Utilitas Umum :


- Air minum
- Drainase
- Air limbah
- Persampahan
- Kelistrikan
- Telekomunikasi
- Gas

LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR

Renc. Persebaran Pnddk

Konsep Tujuan Perenc


Tujuan Pengembangan

Konsep Struktur Ruang

Struktur pelayanan jaringan utilitas merupakan komponen perencanaan yang


bertujuan mendistribusikan jenis pelayanan jaringan dan utilitas ke seluruh
kawasan dan sub kawasan secara berjenjang sehingga tercipta kualitas dan
kehidupan yang baik dan produktif. Sistem jaringan utilitas dalam kawasan
disesuaikan dengan sistem jaringan makro sedangkan pada sistem jaringan
distribusi ke konsumen diatur menurut dimensi, kapasitas dan intensitas sesuai
dengan daya dukung penduduk, morfolosi kawasan, kondisi fisik lahan, sosial
ekonomi dan pola jaringan utilitas hingga akhir tahun perencanaan.

Perumusan dan
Ketentuan Teknis RDTR

Konsep Peruntukan Blok


KONSEP
PERENCANAAN
WILAYAH
RDTR

Konsep Fasilitas Umum


Konsep Pras Transportasi

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
ANTARA

Konsep Rencana
Produk RDTR

REVISI PRODUK
LAPORAN
ANTARA

Konsep Utilitas Umum

Analisa Amplop Ruang :


- Koefisien Dasar Bangunan
- Koefisien Lantai Bangunan
- Koefisien Dasar Hijau
- Koefisien Tapak Basement
- Koefisien Wilayah Terbangun
- Kepadatan Bangunan
- Kepadatan Penduduk

Penataan bangunan dan lingkungan atau dikenal dengan nama Amplop ruang
merupakan hasil analisa daya dukung lahan, daya tampung ruang dan
kekuatan investasi serta ekonomi setempat, memuat gambaran dasar penataan
pada lahan kawasan perencanaan yang selanjutnya dijabarkan dalam
pengaturan bangunan, pengaturan antar bangunan dan penataan lingkungan
fungsional sehingga tercipta lingkungan hunian yang harmonis, serasi, seimbang
aman dan nyaman

Analisa Tata Massa Bangunan:


- Garis Sempadan Bangunan
- Garis Sempadan Sungai
- Garis Sempadan Danau
- Tinggi Bangunan
- Selubung Bangunan
- Tampilan Bangunan

Penyelenggaraan baangunan gedung beserta lingkungannya sebagai wujud


pemanfaatan ruang meliputi berbagai aspek termasuk pembentukan citra /
karakter fisik lingkungan, besaran dan konfigurasi dari elemen-elemen : blok
bangunan serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan yang dapat menciptakan
dan mendefinisikan berbagai kualitas ruang yang akomodatif terhadap
keragaman kegiatan yang ada, terutama yang berlangsung dalam ruang publik.

Analisa Kelembagaan dan


Peran serta Masyarakat :
- Aspirasi dan permasalahan
- Perilaku lingkungan masy.
- Perilaku kelembagaan
- Metode dan sistem
pendanaan

mengkaji struktur kelembagaan yang ada, fungsi dan peran lembaga, mekanisme
peran serta masyarakat, termasuk media serta jaringan untuk keterlibatan
masyarakat dalam proses perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian serta
pengawasan. Dalam pelaksanaan peran serta masyarakat dapat dilakukan
secara perseorangan atau dalam bentuk kelompok (organisasi kemasyarakatan /
LSM, organisasi keahlian / profesi, dll).

Draft Raperda RDTR

Konsep Penataan
Bangunan dan Lingkungan
(Amplop Bangunan)

Struktur Ruang

Rencana Struktur Ruang

Rencana Blok

Rencana Fasilitas Umum

Skala Pelayanan Kegtn

Rencana Peruntukan Blok

Renc. Sistem Jaringan

Rencana Penataan
Bangunan dan Lingkungan
(Amplop Bangunan)
Indikasi Program
Pembangunan

Pengertian

Renc. Sistem Jaringan


Pergerakan
Renc. Sistem Jaringan
Utilitas

RAPERDA
KABUPATEN
BLORA
TENTANG
RDTR

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
AKHIR

REVISI PRODUK
LAPORAN
AKHIR

Maksud dan Tujuan


Komponen Yang Diatur

Zonasi
PENGENDALIAN
RDTR

Tujuan Pengendalian
Komponen Pengendalian

Aturan Insentif dan


Disinsentif
Perijinan Dalam
Pemanfaatan Ruang
Pengendalian Pemanfaatan
Ruang Melalui Pengawasan

Manfaat
Prinsip Utama

KELEMBAGAAN
DAN PERAN SERTA
MASYARAKAT

Kelembagaan
Peran Serta Masyarakat

Bentuk Peran Serta Masy


Dalam Pelaksanaan
Penataan Ruang
Bentuk Peran Serta Masy
Dalam Pengendalian
Pemanfaatan Ruang
Tata Cara Peran Serta
Masyarakat Dalam
Pelaksanaan Peraturan
Zonasi

- Survey orientasi
- Pemahaman tata ruang
- Daftar pertanyaan

PERAN SERTA MASYARAKAT

SUMBER
INFORMASI
(STAKEHOLDER)
KAWASAN
PERENCANAAN
RDTR

- Delineasi wilayah perencanaan


- Batasan materi RDTR
- Verifikasi batas wilayah
- Verifikasi data
- Usulan program pembangunan wilayah

- Orientasi wilayah perencanaan


- Gambaran umum wilayah perencanaan
- Potensi dan permasalahan

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 1

- Kesepakatan delineasi wilayah perencanaan


- Revisi batas wilayah perencanaan
- Usulan program pengembangan dan pembangunan
- Revisi dan pengembangan data

- Materi analisis RDTR


- Verifikasi data
- Konsep perencanaan dan pengembangan wilayah
- Verifikasi potensi dan masalah
- Verifikasi program pengembangan dan pembangunan

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 2

- Pengembangan dan pendalaman materi RDTR


- Kesepakatan potensi dan masalah
- Kesepakatan konsep perencanaan dan pengembangan wilayah
- Kesepakatan dan penetapan kawasan prioritas

- Rencana pengembangan wilayah perenaan


- Rencana indikasi program
- Draft Raperda RDTR

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 3

LAPORAN ANTARA
PROSES PENYUSUNAN RDTR
PERSIAPAN

PEMAHAMAN MATERI RDTR, WILAYAH PERENCANAAN


DAN TEORITIK

SURVEY
ORIENTASI

PENYUSUNAN LAPORAN PENDAHULUAN

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN PENDAHULUAN

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

SURVEY PENDALAMAN DAN ELABORASI DATA

PROSES ANALISA

PENYUSUNAN KONSEP PERENCANAAN DAN


PENGEMBANGAN WILAYAH

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN ANTARA

PROSES PENYUSUNAN RENCANA

PROSES PENYUSUNAN ZONASI


DAN DRAFT RAPERDA

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR

8-8

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.3

PROSES
PENYUSUNAN
RDTR

Secara garis besar proses penyusunan Rencana Detil Tata Ruang


Kota terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1. Tahap penyusunan Laporan Pendahuluan.
Tahap penyusunan Laporan pendahuluan meliputi kegiatan :
a. Kerangka Acuan Kerja (KAK) :
Kebutuhan RDTR.
Landasan Hukum.
Pengertian Umum RDTR.
Tujuan dan Sasaran RDTR.
Manfaat RDTR.
Kedudukan Pedoman RDTR.
Ruang Lingkup RDTR.
b. Pemahaman Terhadap KAK :
Pemahaman terhadap Substansi.
o Teori penataan wilayah.
o Pedoman / peraturan tata ruang wilayah.
o Substansi RDTR.
o Substansi wilayah perencanaan.
Pemahaman terhadap Metodologi.
o Metodologi perencanaan wilayah.
o Metode pendataan.
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8-9

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

o Metode analisis.
o Metode perencanaan.
o Metode pelaksanaan kegiatan perencanaan RDTR.
Tim Penyusun RDTR.
o Pembagian tugas dan kewenangan (keahlian).
o Pembagian waktu masa tugas dan kewenangan.
o Operasional.
c. Survey awal (survey orientasi lapangan).
d. Penyusunan laporan pendahuluan :
Pendahuluan.
Kajian teori.
Studi kasus
Gambaran umum wilayah perencanaan.
Metodologi.
Grand concept.
Rencana pelaksanaan kegiatan.
e. Pembahasan materi draft laporan pendahuluan.
Revisi materi menjadi laporan pendahuluan.
Pendahuluan.
Kajian teori.
Studi kasus
Gambaran umum wilayah perencanaan.
Metodologi.
Grand concept.
Rencana pelaksanaan kegiatan
2. Tahap penyusunan Laporan Antara.
Tahap berikutnya adalah tahap penyusunan laporan antara.
Dasar materi penyusunan laporan antara adalah revisi materi
laporan pendahuluan yang ditindaklanjuti dalam menuyusun
metode dan persiapan survey serta metode pelaksanaan
pekerjaan. Di dalam tahap penyusunan laporan antara meliputi
kegiatan sebagai berikut :
a. Survey pendalaman wilayah perencanaan :
Data fisik dasar kawasan :
o Topografi.
o Hidrologi.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 10

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

o Geologi.
o Klimatologi.
o Oceanografi.
o Tata guna lahan.
Kependudukan :
o Jumlah penduduk.
o Sebaran penduduk.
o Umur penduduk.
o Agama.
o Pendidikan.
o Mata pencaharian.
Perekonomian :
o Data investasi.
o Perdagangan dan jasa.
o Industri.
o Pertanian
o Perkebunan
o Perikanan
o Pariwisata
o Pendapatan daerah.
o Dan lain-lain.
Penggunaan lahan :
o Luas fungsi lahan
o Sebaran kegiatan
o Permukiman
o Perdagangan dan jasa.
o Industri.
o Pariwisata.
o Pertambangan
o Pertanian
o Kehutanan.
o Dan lain-lain.
Tata bangunan dan lingkungan :
o Intensitas bangunan
o Bentuk bangunan
o Arsitektur bangunan
o Fungsi bangunan
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 11

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

o Bangunan khusus
o Wajah lingkungan
o Image of the city
o Garis Sempadan Bangunan
o Konservasi.
Prasarana utilitas :
o Jaringan transportasi.
o Jaringan air bersih
o Jaringan limbah
o Jaringan drainase.
o Jaringan telekomunikasi.
o Jaringan gas.
o Jaringan persampahan.
b. Elaborasi data :
Elaborasi data kependudukan :
o Data fisik dasar kawasan.
o Data kependudukan.
o Data perekonomian.
Elaborasi data sektoral :
o Data penggunaan lahan.
o Data tata bangunan dan lingkungan.
o Data prasarana utilitas.
c. Analisa wilayah perencanaan :
Analisa struktur ruang :
o Analisa penduduk (hunian).
o Analisa fungsi dan pola ruang.
o Analisa jaringan pergerakan.
Analisa peruntukan blok :
o Analisa pembagian blok.
o Analisa peruntukan / fungsi lahan.
Analisa fasilitas umum :
o Analisa fasilitas umum dan fasilitas sosial.
o Analisa kawasan rawan bencana.
Analisa prasarana transportasi :
o Analisa angkutan jalan raya.
o Analisa angkutan kereta api.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 12

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

o Analisa angkutan air.


o Analisa angkutan udara.
Analisa utilitas umum :
o Analisa air minum.
o Analisa jaringan drainase.
o Analisa jaringan air limbah.
o Analisa sistem persampahan.
o Analisa jaringan listrik.
o Analisa sistem telekomunikasi.
o Analisa jaringan gas.
Analisa amplop ruang :
o Koefisien Dasar Bangunan (KDB).
o Koefisien Lantai Bangunan (KLB).
o Koefisien Dasar Hijau (KDH).
o Koefisien Tapak Basement (KTB).
o Koefisien Wilayah Terbangun.
o Kepadatan Bangunan.
o Kepadatan Penduduk.
Analisa tata massa bangunan :
o Garis Sempadan Bangunan (GSB).
o Garis Sempadan Sungai.
o Garis Sempadan Danau / Waduk.
o Tinggi Bangunan.
o Selubung Bangunan.
o Tampilan Bangunan.
Analisa kelembagaan dan peran serta masyarakat :
o Aspirasi dan permsalahan sosial.
o Perilaku lingkungan masyarakat.
o Perilaku kelembagaan.
o Metode dan sistem sosial masyarakat dan pendanaan.
d. Konsep perencanaan wilayah RDTR :
Konsep tujuan perencanaan wilayah.
Konsep struktur ruang.
Konsep peruntukan blok.
Konsep fasilitas umum
Konsep prasarana transportasi.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 13

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Konsep utilitas umum.


Konsep penataan bangunan dan lingkungan (amplop
bangunan).
e. Pembahasan Draft laporan antara :
f. Revisi materi menjadi laporan antara :
Perumusan dan ketentuan teknis RDTR.
Draft Raperda RDTR.
3. Tahap penyusunan Laporan Akhir.
Tahap akhir adalah penyusunan rumusan dan rencana serta
ketentuan teknis RDTR, meliputi :
a. Pengembangan konsep rencana.
b. Perencanaan wilayah RDTR.
Tujuan pengembangan wilayah perencanaan.
Rencana struktur ruang.
o Rencana persebaran penduduk.
o Rencana struktur ruang.
o Rencana blok
o Skala pelayanan kegiatan
o Rencana sistem jaringan.
Rencana sistem jaringan pergerakan.
Rencana sistem jaringan utilitas.
Rencana fasilitas umum.
Rencana peruntukan blok.
Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop
bangunan).
o Pengertian tentang amplop bangunan.
o Maksud dan tujuan.
o Komponen yang diatur.
Indikasi program pembangunan.
c. Draft Raperda.
d. Pengendalian RDTR.
Tujuan pengendalian.
Komponen pengendalian :
o Zonasi.
o Aturan insentif dan disinsentif.
o Perijinan dalam pemanfaatan ruang.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 14

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

o Pengendalian

pemanfaatan

ruang

melalui

pengawasan.
e. Kelembagaan dan peran serta masyarakat.
Kelembagaan.
Peran serta masyarakat :
o Manfaat.
o Prinsip utama.
o Bentuk peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
penataan ruang.
o Bentuk peran serta masyarakat dalam pemanfaatan
ruang.
o Tata cara peran serta dalam pelaksanaan peraturan
zonasi.
f. Pembahasan Draft laporan akhir.
g. Revisi materi menjadi laporan akhir.
h. Kelengkapan laporan akhir : album peta, album gambar, draft
Raperda.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 15

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Gambar 2
Skema Penyusunan Tahap Laporan Pendahuluan
LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

Teori Penataan
Wilayah
Pedoman/Peraturan
Tata Ruang Wilayah
Metode dan
Persiapan Survey

Substansi RDTR
Substansi Wilayah
Perencanaan
Kebutuhan RDTR
Metodologi Perencanaan
Wilayah

Landasan Hukum
Pengertian Umum
KERANGKA
ACUAN KERJA
( KAK )

Tujuan dan Sasaran

Substansi
PEMAHAMAN
TERHADAP
KAK

Manfaat
Kedudukan Pedoman

Metode Pendataan

Pendahuluan

Pendahuluan

Kajian Teori

Kajian Teori
Studi Kasus

Studi Kasus
SURVEY AWAL
ORIENTASI

DRAFT LAPORAN
PENDAHULUAN

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
PENDAHULUAN

REVISI PRODUK
LAPORAN
PENDAHULUAN

Metodologi

Metode Analisa

Tim Penyusun

Metode Perencanaan

Metodologi

Metode Pelaksanaan
Kegiatan Perencanaan

Grand Concept

Grand Concept

Renc. Pelaksanaan
Kegiatan

Renc. Pelaksanaan
Kegiatan

Ruang Lingkup
Pembagian Tugas
Dan Kewenangan (Keahlian)

Gambaran Wil. Perencanaan

Gambaran Wil. Perencanaan

Metodologi

Metode Pelaksanaan
Pekerjaan

Pembagian Tugas
Dan Kewenangan (Waktu)

Operasional

- Survey orientasi
- Pemahaman tata ruang
- Daftar pertanyaan

PERAN SERTA MASYARAKAT

PROSES PENYUSUNAN RDTR


PERSIAPAN

PEMAHAMAN MATERI RDTR, WILAYAH PERENCANAAN


DAN TEORITIK

SUMBER
INFORMASI
(STAKEHOLDER)
KAWASAN
PERENCANAAN
RDTR

SURVEY
ORIENTASI

- Orientasi wilayah perencanaan


- Gambaran umum wilayah perencanaan
- Potensi dan permasalahan

PENYUSUNAN LAPORAN PENDAHULUAN

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN PENDAHULUAN
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 16

SURVEY
PENDALAMA
WILAYAH
PERENCANAAN

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.4

8.4.1.

TAHAP
PENYUSUNAN
LAPORAN
PENDAHULUAN

Kerangka Acuab Kerja (KAK).

A. Maksud ,Tujuan Dan Sasaran Penyusunan RDTR


Maksud dari penyusunan RDTR adalah mewujudkan rencana detail
tata ruang yang mendukung terciptanya kawasan strategis maupun
kawasan fungsional secara aman, produktif dan berkelanjutan.
Adapun tujuannya adalah :
1.

Sebagai

arahan

bagi

masyarakat

dalam

pengisian

pembangunan fisik kawasan,


2.

Sebagai pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan


pemberian periijinan kesesuaian pemanfaatan bangunan
dengan peruntukan lahan.

Sasaran dari perencanaan ini adalah untuk


1.

Menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan antar


lingkungan permukiman dalam kawasan.

2.

Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar


kawasan maupun dalam kawasan.

3.

TerBlorainya pembangunan kawasan strategis dan fungsi kota,


baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta.

4.

Mendorongnya investasi masyarakat di dalam kawasan.

5.

Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah


dan masyarakat/swasta.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 17

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

B. Fungsi Perencanaan
Adapun fungsi perencanaan detail ini adalah ;
1.

Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan


program pembangunan daerah,

2.

Menjaga

konsistensi

pembangunan

dan

keserasian

perkembangan kawasan fungsional dengan Rencana Tata


Ruang Wilayah Kota,
3.

Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi


dan efisien dalam perencanaan kawasan,

4.

Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan melalui


pengendalian program-program pembangunan daerah.

C. Kedudukan RDTR Kota


Dalam jenjang perencanaan tata ruang, Rencana Detail Tata Ruang
Kota merupakan produk rencana untuk:
a.

Rencana

operasional

arahan

pembangunan

kawasan

(operasional action plan);


b.

Rencana pengembangan dan peruntukan kawasan ( area


development plan);

c.

Panduan untuk rencana aksi dan panduan rancang bangun


(urban design guidelines).

Rencana, aturan, ketentuan dan mekanisme penyusunan RDTR


Kota harus merujuk pada pranata rencana lebih tinggi, baik pada
lingkup kawasan maupun daerah.
D. Persyaratan
Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah rencana yang disusun dan
ditetapkan Pemerintah Daerah dengan prasyarat perencanaan
sebagai berikut :
1.

RDTR disusun menurut bagian wilayah kota yang telah


ditetapkan fungsi kawasannya dalam struktur ruang RTRW
Kota.

2.

RDTR dapat ditentukan menurut kawasan yang mempunyai


nilai sebagai kawasan yang perlu percepatan pembangunan,
pengendalian pembangunan, mitigasi bencana, dan lainya.

3.

RDTR mempunyai wilayah perencanaan mencakup sebagian


atau seluruh kawasan tertentu yang terdiri dari beberapa unit
lingkungan perencanaan, yang telah terbangunan ataupun
yang akan dibangun.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 18

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

4.

RDTR mempunyai skala perencanaan 1: 5000 atau lebih besar


sesuai dengan kebutuhan tingkat kerincian dan peruntukan
perencanaannya.

5.

RDTR merupakan salah satu pedoman pembangunan daerah


yang memiliki kekuatan hukum berupa Peraturan Daerah
(Perda)

6.

RDTR ini dilakukan dengan memeriksa kesesuaian semua


rencana dan ketentuan sektoral baik horizontal, vertikal,
diagonal seperti UU, PP, Kepres, Kepmen, Perda, KepGub,
KepWal atau KepBup, SKB, NSPM dan pedoman-pedoman
yang menunjang termasuk produk pra desain serta desain
kegiatan sektoral tersebut.

7.

RDTR merupakan pedoman berkekuatan hukum yang


merupakan arahan pembangunan daerah untuk :
1)

Perijinan pemanfaatan ruang

2)

Perijinan letak bangunan dan bukan bangunan,

3)

Kapasitas dan intensitas bangunan dan bukan bangunan

4)

Penyusunan zonasi

5)

Pelaksanaan program pembangunan

Menetapkan dan mengoperasionalisasikan Rencana Detail Tata


Ruang Kota, perlu mempertimbangkan beberapa aspek kebutuhan
pembangunan daerah, baik untuk kepentingan ekonomi, sosial,
budaya, politik dan lingkungan. Oleh karena itu RDTR merupakan
perwujudan Kegiatan yang membentuk suatu kawasan kedalam
ruang, yang terukur baik memenuhi aspek ekonomi, sosial, budaya,
keamanan, kenyamanan, keserasian dan keterpaduan, serta
berkesinambangan. Dengan memperhatikan keterkaitan antar
kegiatan, yaitu tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan
utama, kegiatan penunjang serta pelengkapnya dalam suatu
kawasan.

Kriteria

dan

faktor

perencanaan

yang

dapat

dipertimbangkan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang


Kota sebagai berikut :
1.

Kawasan kota suatu kawasan dengan fungsi yang akan atau


telah menunjukan intensitas pembangunan non pertanian yang
tinggi, dan menjadi urgen/prioritas sebagai upaya percepatan
atau

pengendalian

pembangunannya,

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

seperti

Ibukota

8 - 19

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(Kotamadya), ibukota Kabupaten (Pusat Utama Pertumbuhan),


dan Ibukota Kecamatan (pusat Pertumbuhan).
2.

Kawasan strategis kota; suatu kawasan dengan fungsi yang


dianggap urgen/prioritas dan berdampak luas kepada
kesejateraan masyarakat, kelestarian lingkungan, struktur
ruang wilayah seperti untuk pengembangan ekonomi,
pengembangan dan perlindungan sumber daya alam,
pengembangan permukiman penduduk, mitigasi bencana,
perlindungan setempat, jalan strategis (Arteri Primer, Sekunder,
Kolektor Primer, dan Arteri Sekunder). Di dalam kawasan
tersebut, dapat diklasifikasikan kedalam karakter kawasan yaitu
a.

Kawasan dengan karakter tematis tertentu; seperti


kawasan kota lama, kota baru, kota mandiri, kota industri,
kota pelabuhan, kota wisata, dan kota tepi air (water front
city).

b.

Kawasan dengan karakter campuran; seperti kawasan


campuran

antara

fungsi

hunian,

dengan

fungsi

usaha/niaga, wisata, industri, pertambangan, agropolitan


dan kawasan bersejarah (cultural heritage).
c.

Kawasan dengan karakter khusus; seperti kawasan


berkembang cepat, kawasan terbangun yang memerlukan
penataan/peremajaan, kawasan dilestarikan/konservasi,
kawasan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, termasuk
pula pembangunan permukiman di kawasan rawan
bencana, kawasan perbatasan antar negara, serta
kawasan permukiman pada koridor jalan strategis.

E. Penentuan Kawasan Perencanaan


Kawasan perencanaan mencakup suatu kawasan atau beberapa
kawasan yang di dalamnya terbentuk fungsi-fungsi lingkungan
tertentu yang saling terkait, dengan ketentuan sebagai berikut:
a.

Bagian pusat kegiatan wilayah kota dengan batasannya;

b.

Wilayah kota dengan tema/karakter kawasan fungsional;


(Kawasan Jalan A.Yani)

c.

Suatu kecamatan atau lebih dengan batas administrasinya.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 20

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Delinasi perencanaan dapat bersandarkan kepada :


1.

Batasan fisik dapat berupa petunjuk alam seperti sungai,


danau, dan lain sebagainya; petunjuk binaan seperti jalan,
gang antar bangunan, dan lainnya

2.

Batasan administrasi (seperti batas RW/RK, Kelurahan/Desa,


Kecamatan).

F. Muatan Rencana Detail Tata Ruang Kota


Struktur dan sistematika Rencana Detail Tata Ruang Kota memuat
langkah-langkah penentuan tujuan dan sasaran pembangunan
kawasan

perencanaan,

perumusan

kebijakan

dan

strategi

pengembangan kawasan, identifikasi potensi dan masalah kawasan,


analisis ruang makro dan mikro kawasan, perumusan kebutuhan
pengembangan dan penataan ruang kawasan, perumusan rencana
detail tata ruang kawasan, pengaturan ketentuan amlop ruang, dan
ketentuan

pengendalian

pemanfaatan

ruang,

sebagaimana

digambarkan dalam uraian berikut.


1.

Persiapanan penyusunan RDTR;

2.

Pengumpulan dan pengolahan data;

3.

4.

Inventarisasi

Elaborasi

Analisa kawasan perencanaan

Analisa struktur kawasan perencanaan

Analisa peruntukan blok rencana

Analisa prsarana transportasi

Analisa Fasilitas Umum

Analisa utilitas umum

Analisa amplop ruang

Analisa kelembagaan dan peran serta masyarakat

Perumusan dan ketentuan teknis rencana detail

Konsep rencana

Produk rencana detail tata ruang

Rencana struktur ruang kawasan

Rencana peruntukan blok

Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop


ruang)

Indikasi Program pembangunan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 21

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

5.

Pengendalian rencana detail

Tujuan

Komponen pengendalian

6.

Legalisasi rencana detail tata ruang

Zonasi

Aturan insentif dan dis insentif

Perijinan dalam pemanfaatan ruang

Pengendalian Pemanfaatan Ruang Melalui Pengawasan

Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat :

Peran kelembagaan,

Peran serta masyarakat

G. Format RDTR Kota


Format Rencana Detail Tata Ruang Kota mempertimbangkan faktor
ekonomis dan kebutuhan pembangunan daerah, untuk itu
pengaturan skala perencanaan adalah :
1.

Produk RDTR mempunyai skala perencanaan 1: 5.000

2.

Sedangkan kegiatan yang memerlukan pendetailan yang lebih


rinci, kegiatan analisis dibuat dalam peta kerja 1:1.000., atau
sebaliknya pada fungsi ruang yang ektensif (pertanian,
perkebunan, kehutanan) skala peta dapat lebih kecil 1:25.000

3.

Format peta analisis sekurang-kurang skala 1:5000, untuk


lingkungan yang lebih detail dibuat dalam skala 1:1000.

4.

Peta dasar dapat menggunakan sumber hasil foto udara, citra


satelit, disarankan setiap daerah telah memiliki foto udara pada
kawasan perkotaan, kawasan cepat tumbuh, dan kawasan
strategis kota.

5.

Format laporan disajikan dalam buku berukuran A-4, terkecuali


pada laporan akhir dalam format A-3, dengan album peta A1(full color).

6.

Dokumen RDTR merupakan bagian dari rencana wilayah, yang


ditetapkan serendahnya melalui Keputusan Walikota

H. Masa Berlaku RDTR Kota


Rencana Detail Tata Ruang Kota dilaksanakan dalam rentang waktu
20 (dua puluh) tahun, atau sesuai dengan masa berlaku Rencana
Tata Ruang Wilayah, dan ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 22

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.4.2.

Pemahaman Terhadap KAK

A. Substansi
Substabsi pendukung dalam proses penyusunan RDTR terdiri dari
berbagai sumber, yaitu :
1.

Teori / karya ilmiah.


Teori / karya ilmiah yang digunakan untuk menyusun RDTR
adalah teori yang berkaitan dengan aspek :
a.

Teori tentang bentuk dan perkembangan wilayah / kota.

b.

Teori tentang perumahan dan permukiman.

c.

Teori tentang bangunan dan gedung.

d.

Teori tentang lingkungan.

e.

Teori tentang sistem dan jaringan utilitas.

f.

Teori tentang infrastruktur kawasan perkotaan atau


wilayah.

2.

g.

Teori tentang sosial perkotaan atau wilayah.

h.

Teori tentang perencanaan wilayah atau perkotaan.

Kebijakan, pedoman penyusunan, peraturan yang berkaitan


dengan tata ruang wilayah, bangunan dan lingkungan.
Kebijakan atau peraturan yang bersifat mengikat dan relevan
dalam proses perencanaan RDTR adalah sebagai berikut :
a. Undang Undang No 26 Tahun 2007 tentang tata ruang.
b. Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2011 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan
Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota.
c. Pedoman penyusunan RDTR.
d. Perda atau Kebijakan tata ruang tingkat provinsi (RTRW
Provinsi).
e. Perda atau Kebijakan tata ruang tingkat kabupaten / kota
(RTRW kab/kota).
f.

Perda atau kebijakan tata ruang tingkat kecataman atau


wilayah perkotaan (RDTR).

g. Perda atau peraturan daerah sektoral yang relevan dan


mendukung proses perencanaan RDTR.
3.

Substansi RDTR.
Proses perencanaan RDTR mengikuti pedoman penyusunan
RDTR yang telah di tetapkan di dalam Peraturan Menteri PU
No. 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 23

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota dan


dilengkapi dengan panduan operasional penyusunan RDTR.
4.

Kondisi empiris wilayah perencanaan.


Kondisi empiris kawasan perencanaan adalah kondisi terkini
wilayah perencanaan pada saat dilakukan penyusunan RDTR,
meliputi kondisi umum kabupaten / kota secara keseluruhan
sebagai bagian dari pandangan umum dan kondisi wilayah
kecamatan atau kawasan perkotaan khusus pada wilayah atau
kawasan perencanaan (delineasi perencanaan).

B. Metodologi.
Metodologi adalah menyusun dan menentukan pola pikir dalam
melaksanakan proses perencanaan RDTR. Pola pikir ini akan
menentukan arah dan strategi dalam arah perencanaan dan
penetapan wilayah untuk di kembangkan. Di dalam metodologi
disertai dengan metode (cara) yang tepat dalam rangka mencapai
arah dan tujuan perencanaan. Metodologi meliputi :
1.

Metodologi perencanaan wilayah.

2.

Metode pendataan / survey.

3.

Metode analisa.

4.

Metode perencanaan.

5.

Metode pelaksanaan kegiatan perencanaan.

C. Tim Penyusun.
Tim penyusun kegiatan perencanaan RDTR di sesuaikan dengan
kebutuhan yang telah tercantuk di dalam Kerangka Kerja (KAK).
8.4.3.

Survey Awal (Orientasi).


Survey awal dilakukan setelah mempelajari materi gambaran umum
wilayah perencanaan secara makro dari berbagai sumber. Orientasi
makro ini untuk mendapatkan penjelasan empiris lapangan dan
selanjutnya digunakan untuk melengkapi pandangan dan gambaran
umum wilayah perencanaan.

8.4.4.

Penyusunan Draft Laporan Pendahuluan

A. Pendahuluan.
Materi yang ada di bagian awal adalah pengertian secara umum
terhadap pentingnya dilakukan penyusunan RDTR di dalam wilayah
perencanaan, maksud, tujuan dan sasaran serta manfaat. Selain itu

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 24

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

ada adasar hukum penyusunan RDTR, wilayah perencanaan


(lingkup perencanaan), metodologi penyusunan RDTR dan
sistematika penyusunan RDTR.
B. Kajian Teori.
Materi kajian teori disesuaikan dengan kondisi empiris, potensi dan
masalah wilayah perencanaan dan karakter serta aspek yang
berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan wilayah
perencanaan. Materi kajian teori secara khusus adalah teori yang
berhubungan dengan perkembangan wilayah, tata bangunan dan
tata lingkungan. Kajian teori diperlukan untuk memberikan gambaran
awal arah dalam membangun pola pikir perencanaan dan grand
concept perencanaan.
C. Studi Kasus.
Studi kasus merupakan usaha untuk memberikan gambaran arah
perencanaan. Kasus yang diungkapkan pada bagian awal adalah
kondisi wilayah yang memiliki kesamaan karakter. Konsep
pengembangannya memberikan gambaran serupa terhadap proses
dan bentuk perencanaannya.
D. Gambaran Wilayah Perencanaan.
Materi gambaran umum wilayah perencanaan diperoleh melalui
berbagai sumber informasi tertulis dan gambar pendukung,
dilengkapi dengan keterangan yang diperoleh melalui survey awal
orientasi kondisi empiris. Pada tahap ini, gambaran umum wilayah
perencanaan merupakan pandangan secara umum dan belum
melalui sebuah penilaian untuk memperoleh data potensi dan
masalah secara rinci.
E. Metodologi.
Metodologi yang disusun merupakan pola pikir untuk memberikan
arah perencanaan RDTR. Secara umum, metodologi penyusunan
RDTR berdasarkan pada Undang Undang No 26 Tahun 2007
tentang tata ruang, Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2011
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan
Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota dan Panduan dan Pedoman
penyusunan RDTR. Pengembangan metodologi dapat dilakukan dan
disesuaikan dengan kondisi empiris wilayah perencanaan, sehingga
di dalamnya terjadi inovasi perencanaan RDTR.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 25

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

F. Grand Concept.
Grand concept dapat dilakukan pada tahap awal, merupakan
kolaborasi pemahaman antara data awal (orientasi), metodologi
penyusunan RDTR dan staudi kasus yang di dalamnya terdapat
contoh visual perencanaan. Maka grand concept sangat diperlukan
untuk memberikan gambaran awal proses dan bentuk perencanaan
terhadap wilayah perencanaan.
G. Rencana Pelaksanaan Kegiatan
Untuk mewujudkan proses dan arah perencanaan, maka dilakukan
perencanaan mendalam terhadap langkah-langkah strategis dalam
bentuk rencana pelaksanaan kegiatan berdasarkan rencana waktu,
langkah kegiatan dan pembagian tugas anggota tim perencanaan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 26

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Gambar 3
Skema Penyusunan Tahap Laporan Antara

APORAN PENDAHULUAN

N
AN
N

LAPORAN ANTARA

LAPORAN ANTARA

Fisik dasar kawasan :


- topografi
- hidrologi
- geologi
- klimatologi
- oceanografi
- tata guna lahan

Metode dan
Persiapan Survey

Pendahuluan

Kependudukan :
- Jumlah penduduk
- Sebaran penduduk
- Umur penduduk
- Agama
- Pendidikan
- Mata pencaharian

Perekonomian :
- Data investasi
- Perdagangan dan jasa
- Industri
- Pertanian
- Perkebunan
- Perikanan
- Pariwisata
- Pendapatan daerah, dll

Kajian Teori
Studi Kasus
REVISI PRODUK
LAPORAN
PENDAHULUAN

Gambaran Wil. Perencanaan

Metodologi

SURVEY
PENDALAMA
WILAYAH
PERENCANAAN

ANALISA
WILAYAH
PERENCANAAN
RDTR

Elaborasi penduduk
Elaborasi sektoral

Analisa Struktur Ruang :


- Analisa penduduk - hunian
- Analisa fungsi-pola ruang
- Analisa jaringan pergerakan

Pembagian ruang dalam karakter zona yang melekat atau yang akan dibentuk
sebagai upaya untuk mempermudah pola investasi, arah perkembangan,
pola pengendalian dan keserasian dan keseimbangan lingkungan.

Analisa Peruntukan Blok :


- Pembagian blok
- Peruntukan/Fungsi lahan

Dasar pertimbangan dalam penetapan unit blok didasarkan atas perencanaan


pembagian lahan dalam kawasan menjadi blok dan jalan, di mana blok terdiri
atas unit lingkungan dengan konfigurasi tertentu.

Analisa Fasilitas Umum :


- Fasos - Fasum
- Kawasan rawan bencana

Distribusi pusat-pusat pelayanan kegiatan dirinci sampai pusat pelayanan


lingkungan permukiman. Setiap kegiatan mamiliki skala pelayanan yang akan
menunjukkan syarat-syarat dan ketentuan teknis dalam ruang kawasan.

Analisa Pras. Transportasi :


- Angkutan jalan raya
- Angkutan kereta api
- Angkutan air
- Angkutan udara

Struktur jaringan pergerakan merupakan komponen perencanaan yang


bertujuan mendistribusikan jenis pelayanan jaringan dan sarana pergerakan ke
seluruh kawasan dan sub kawasan secara berjenjang sesuai dengan struktur
ruang kawasan yang direncanakan sehingga tercipta pergerakan yang mudah,
lancar, aman, nyaman dan terpadu. Pelayanan jaringan pergerakan dirinci
sampai pengukuran pola dan sistem jaringan, kapasitas dan intensitas
pelayanan jaringan pergerakan.

Analisa Utilitas Umum :


- Air minum
- Drainase
- Air limbah
- Persampahan
- Kelistrikan
- Telekomunikasi
- Gas

Struktur pelayanan jaringan utilitas merupakan komponen perencanaan yang


bertujuan mendistribusikan jenis pelayanan jaringan dan utilitas ke seluruh
kawasan dan sub kawasan secara berjenjang sehingga tercipta kualitas dan
kehidupan yang baik dan produktif. Sistem jaringan utilitas dalam kawasan
disesuaikan dengan sistem jaringan makro sedangkan pada sistem jaringan
distribusi ke konsumen diatur menurut dimensi, kapasitas dan intensitas sesuai
dengan daya dukung penduduk, morfolosi kawasan, kondisi fisik lahan, sosial
ekonomi dan pola jaringan utilitas hingga akhir tahun perencanaan.

Konsep Tujuan Perenc


Konsep Struktur Ruang

Renc. Pelaksanaan
Kegiatan

Metode Pelaksanaan
Pekerjaan

Tata Bangunan - Lingk :


- Intensitas bangunan
- Bentuk bangunan
- Arsitektur bangunan
- Fungsi bangunan
- Bangunan khusus
- Wajah lingkungan
- Image of the city
- GSB
- Konservasi

Prasarana - utilitas :
- Jaringan transportasi
- Jaringan air bersih
- Jaringan limbah
- Jaringan drainase
- Jaringan telekomunikasi
- Jaringan gas
- Jaringan persampahan

- Delineasi wilayah perencanaan


- Batasan materi RDTR
- Verifikasi batas wilayah
- Verifikasi data
- Usulan program pembangunan wilayah

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 1

Perumusan dan
Ketentuan Teknis RDTR

Konsep Peruntukan Blok


KONSEP
PERENCANAAN
WILAYAH
RDTR

Konsep Fasilitas Umum


Konsep Pras Transportasi

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
ANTARA

REVISI PRODUK
LAPORAN
ANTARA

Konsep Utilitas Umum

Grand Concept
Penggunaan Lahan :
- Luas fungsi lahan
- Sebaran kegiatan
- Permukiman
- Perdagangan dan jasa
- Industri
- Pariwisata
- Pertambangan
- Pertanian
- Kehutanan, dll

LAPORAN AKHIR

Analisa Amplop Ruang :


- Koefisien Dasar Bangunan
- Koefisien Lantai Bangunan
- Koefisien Dasar Hijau
- Koefisien Tapak Basement
- Koefisien Wilayah Terbangun
- Kepadatan Bangunan
- Kepadatan Penduduk

Penataan bangunan dan lingkungan atau dikenal dengan nama Amplop ruang
merupakan hasil analisa daya dukung lahan, daya tampung ruang dan
kekuatan investasi serta ekonomi setempat, memuat gambaran dasar penataan
pada lahan kawasan perencanaan yang selanjutnya dijabarkan dalam
pengaturan bangunan, pengaturan antar bangunan dan penataan lingkungan
fungsional sehingga tercipta lingkungan hunian yang harmonis, serasi, seimbang
aman dan nyaman

Analisa Tata Massa Bangunan:


- Garis Sempadan Bangunan
- Garis Sempadan Sungai
- Garis Sempadan Danau
- Tinggi Bangunan
- Selubung Bangunan
- Tampilan Bangunan

Penyelenggaraan baangunan gedung beserta lingkungannya sebagai wujud


pemanfaatan ruang meliputi berbagai aspek termasuk pembentukan citra /
karakter fisik lingkungan, besaran dan konfigurasi dari elemen-elemen : blok
bangunan serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan yang dapat menciptakan
dan mendefinisikan berbagai kualitas ruang yang akomodatif terhadap
keragaman kegiatan yang ada, terutama yang berlangsung dalam ruang publik.

Analisa Kelembagaan dan


Peran serta Masyarakat :
- Aspirasi dan permasalahan
- Perilaku lingkungan masy.
- Perilaku kelembagaan
- Metode dan sistem
pendanaan

mengkaji struktur kelembagaan yang ada, fungsi dan peran lembaga, mekanisme
peran serta masyarakat, termasuk media serta jaringan untuk keterlibatan
masyarakat dalam proses perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian serta
pengawasan. Dalam pelaksanaan peran serta masyarakat dapat dilakukan
secara perseorangan atau dalam bentuk kelompok (organisasi kemasyarakatan /
LSM, organisasi keahlian / profesi, dll).

- Kesepakatan delineasi wilayah perencanaan


- Revisi batas wilayah perencanaan
- Usulan program pengembangan dan pembangunan
- Revisi dan pengembangan data

Draft Raperda RDTR

Konsep Penataan
Bangunan dan Lingkungan
(Amplop Bangunan)

- Materi analisis RDTR


- Verifikasi data
- Konsep perencanaan dan pengembangan wilayah
- Verifikasi potensi dan masalah
- Verifikasi program pengembangan dan pembangunan

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 2

- Pengembangan dan pendalaman materi RD


- Kesepakatan potensi dan masalah
- Kesepakatan konsep perencanaan dan peng
- Kesepakatan dan penetapan kawasan priorit

LAPORAN ANTARA

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN PENDAHULUAN

SURVEY PENDALAMAN DAN ELABORASI DATA

PROSES ANALISA

PENYUSUNAN KONSEP PERENCANAAN DAN


PENGEMBANGAN WILAYAH

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN ANTARA

AN PENDAHULUAN

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 27

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.5

8.5.1.

TAHAP
PENYUSUNAN
LAPORAN
ANTARA

Persiapan Penyusunan RDTR


Tahap awal penyusunan Rencana Detail Tata Ruang adalah
mempersiapkan seluruh sumber daya dan sumber dana serta
urgensi dari kegiatan RDTR bagi pembangunan daerah. Beberapa
kegiatan persiapan yang dapat dilakukan :
1.

Penetapan lokasi perencanaan; kriteria lokasi perencanaan


mendasarkan kepada arahan/program kegiatan yang telah
dirumuskan dalam RTRW, namun dapat pula didasarkan
kepada urgensi/keterdesakan penanganan kawasan tersebut.

2.

Menyusun kerangka acuan kerja, dengan memberikan pesan


kuat terhadap arahan kebijakan dan strategi pembangunan
ruang, yaitu :

Perumusan Arahan Pengembangan Ruang


o

Perumusan arahan pengembangan ruang diarahkan


agar menjaga keserasian dan keterpaduan antara
rencana RTRW dengan RDTR;

Menjaga keserasian dan keterpaduan antara


kegiatan sektoral;

Pengembangan

ruang

diarahkan

untuk

pengendalian dan perlindungan ruang dan bangunan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 28

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

yang mempunyai nilai historis atau sejarah,


perlindungan setempat, dll;
o

Pengembangan

ruang

diarahkan

pula

untuk

memenuhi standar baku mutu lingkungan kawasan


perencanaan;
o

Pengembangan ruang diarahkan untuk mendorong


secara aktif peran masyarakat dalam perencanaan,
pemanfaatan dan pembanguan ruang.

Perumusan Pengelolaan Pembangunan ruang.


o

Membuat sumber dan pembiayaan kegiatan;

Mobilisasi

sumber

daya

manusia;

dengan

membentuk tim penasehat/pengarah, tim teknis, tim


supervisi sesuai kebutuhan daerah;
o

Menyiapkan kelengkapan administrasi dan kontrak;

Menyiapkan program kerja yang lebih rinci, sebagai


arahan bagi pelaksana untuk menyusun rencana.

8.5.2.

Pengumpulan Dan Pengolahan Data

A. Tujuan
Pelaksanakan

survai

dan

pengolahan

data

adalah

untuk

memperoleh data dan informasi tentang kondisi awal kawasan


perencanaan.
B. Pelaksanaan Kegiatan
Pengumpulan dan pengolahan data dapat dibagi menjadi beberapa
kegiatan, yaitu :
1.

Mempersiapkan tenaga pelaksana survey; terdiri dari tenaga


teknis/surveyor dan tenaga ahli;

2.

Mempersiapkan perlengkapan dan peralatan survey; seperti


kuesioner, checklist data, dan peta dasar, sedangkan peralatan
survey seperti alat tulis, alat hitung, pencatat waktu, kendaraan
bermotor, papan berjalan, dll;

3.

Metode dan program; menyusun jadwal kegiatan pelaksanaan


inventarisasi :
i.

Pengambilan data sekunder yang berasal dari instansi


pemerintah, lembaga formal dan informal, dan literatur;

j.

Pengambilan data primer yang berasal dari pejabat, tokoh


masyarakat, masyarakat umum, masyarakat profesi, dan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 29

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

lainnya dalam bentuk : wawancara, seminar, dan forum


group diskusi (FGD), serta penggunaan media surat kabar
atau

elektronik

(radio,

koran,

majalah,

papan

pengumuman, ruang maket). Hasil informasi dapat berupa


:

kumpulan

keinginan,

masalah,

dan

program

pembangunan;
k.

Identifikasi data lapangan, dengan melakukan pemotretan


situasi dan kondisi kegiatan fungsional di lokasi
perencanaan.

C. Muatan Data dan Informasi


Data dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penyusunan
rencana detail haruslah terukur baik kualitas, kuantitas ataupun
dimensi

masing-masing

objek/komponen

pembentuk

ruang,

diantaranya sebagai berikut :


1.

Fisik dasar kawasan, meliputi informasi dan data : topografi,


hidrologi, geologi, klimatologi, oceonografi, dan tata guna
lahan;

2.

Kependudukan, meliputi jumlah dan persebaran penduduk


menurut ukuran keluarga, umur, agama, pendidikan, dan mata
pencaharian;

3.

Perekonomian; meliputi data investasi, perdagangan, jasa,


industri,

pertanian,

perkebunan,

perikanan,

pariwisata,

pendapatan daerah, dan lain-lain;


4.

Penggunaan lahan, menurut luas dan persebaran kegiatan


yang diataranya meliputi : permukiman, perdagangan dan jasa,
industri, pariwisata, pertambangan, pertanian dan kehutanan
dan lain lian;

5.

Tata bangunan dan lingkungan:


Tata bangunan meliputi : intensitas bangunan (KDB, KLB,
KDH), bentuk bangunan, arsitektur bangunan, pemanfaatan
bangunan, bangunan khusus, wajah lingkungan, daya tarik
lingkungan (node, landmark, dll), garis sempadan (bangunan,
sungai, danau, pantai, SUTT).

6.

Prasarana dan utilitas umum:


a.

Jaringan transportasi :

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 30

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

a)

Jaringan; jalan raya, rel kereta api, jalur pelayaran


(sungai, danau, laut), dan jalur penerbangan
(KKOP);

b)

Fasilitas; (terminal, kargo, stasiun, pelabuhan, dan


bandara);

c)

Kelengkapan jalan; halte, parkir, dan jembatan


penyeberangan;

d)

Pola pergerakan (angkutan penumpang dan


barang).

b.

Air minum (sistem jaringan, bangunan pengolah,


hidran); mencakup kondisi dan jaringan terpasang
menurut pengguna, lokasi bangunan dan hidran, kondisi
air tanah dan sungai, debit terpasang, dll;

c.

Sewarage; air limbah rumah tangga;

d.

Sanitasi (sistem jaringan, bak kontral, bangunan


pengolah); jaringan terpasang, prasarana penunjang
dan kapasitas;

e.

Drainase; sistem jaringan makro dan mikro , dan kolam


penampung;

f.

Jaringan listrik; sistem jaringan (SUTT, SUTM, SUTR),


gardu (induk, distribusi, tiang/beton), sambungan rumah
(domistik, non domistik);

g.

Jaringan komunikasi; jaringan, rumah telepon, stasiun


otamat, jaringan terpasang (rumah tangga, non rumah
tangga, umum);

h.

Gas; sistem jaringan, pabrik, jaringan terpasang (rumah


tangga, non rumah tangga);

i.

Pengolahan sampah;

sistem

penanganan (skala

individual, skala lingkungan, skala daerah), sistem


pengadaan (masyarakat, pemerintah daerah, swasta).
7.

Identifikasi daerah rawan bencana, meliputi lokasi, sumber


bencana, besaran dampak, kondisi lingkungan fisik, kegiatan
bangunan yang ada, fasilitas dan jalur Blorai yang telah ada.

Data dan informasi disusun dan disajikan dalam bentuk peta,


diagram, tabel statistik, termasuk gambar visual kondisi lingkungan
kawasan yang menunjang perencanaan detail tata ruang. Identifikasi

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 31

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

tersebut harus pula tampak secara jelas dalam peta dilengkapi


dengan

wilayah

administrasi

hingga

ke

batas

wilayah

Kelurahan/Desa/RW, baik diterapkan dalam peta dengan skala 1 :


5.000 maupun visualisasi digital (kamera, handycamp).
D. Elaborasi Data
Lingkup pekerjaan elaborasi meliputi :
1.

Elaborasi penduduk

2.

Elaborasi kebutuhan sektoral

Elaborasi penduduk harus memperhitungkan kemampuan lokasi


perencanaan menampung penduduk dalam kawasan perencanaan
yang

bersangkutan,

dan

terdistribusi

menurut

blok-blok

perencanaan. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk


elaborasi penduduk adalah :
a.

Distribusi/kepadatan penduduk existing yang lebih terinci dalam


blok-blok perencanaan;

b.

Pemanfaatan

lahan

dan

kepadatan

bangunan

bukan

perumahan yang terinci dalam blok-blok perencanaan;


c.

Rencana penggunaan lahan RTRW yang telah diklasifikasi


kedalam rencana lebih rinci.

Berdasarkan alokasi penduduk tersebut dapat di elaborasi


kebutuhan-kebutuhan sektoral dengan menggunakan standard yang
berlaku. Selanjutnya dari hasil elaborasi penduduk dan kebutuhan
sektoral

maka secara hipotesis

sudah dapat

dirumuskan

serangkaian permasalahan dan friksi yang akan terjadi dalam lokasi


perencanaan sehubungan dengan penerapan konsep Rancana
Detail Tata Ruang.
8.5.3.

Analisa Kawasan Perencanaan

A. Tujuan dan Manfaat


Pekerjaan analisa dimaksudkan untuk mengkaji daya dukung dan
daya tampung lahan lokasi perencanaan terhadap sasaran-sasaran
yang telah ditetapkan sebagai hasil elaborasi RTRW. Sekaligus
analisa juga dapat dipakai menguji hipotesa yang telah
dikemukakan,

sehingga

dapat

dirumuskan

permasalahan-

permasalahan yang lebih konkrit dalam lokasi perencanaan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 32

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

B. Prinsip Dasar
Metode yang dapat digunakan dalam analisis potensi dan masalah
kawasan perencanaan adalah dengan menggunakan prinsip analisis
SWOT:
1.

Potensi/kekuatan; kekuatan yang dimiliki oleh indikator


perkembangan kawasan perencanaan untuk tumbuh dan
berkembang, sehingga diperlukan suatu kebijakan dan strategi
peningkatan/penambahan nilai (value added) dari indikator
tersebut;

2.

Kelemahan/Permasalahan; kelemahan atau kekurangan yang


dimiliki oleh kawasan perencanaan sehingga menghambat
kawasan perencanaan untuk tumbuh dan berkembang;

3.

Kesempatan/peluang yang lebih luas yang memberikan


dampak tumbuh dan berkembangnya kawasan perencanaan
seperti meningkatnya ekonomi makro, investasi yang tumbuh
cepat, terbuka akses kawasan dengan luar, sehingga
diperlukan kebijakan dan strategi penguatan akses dan
kemudahankemudahan bagi pengembangan kawasan;

4.

Ancaman; indikator eksternal yang dapat menghambat tumbuh


dan

berkembangnya

kawasan

perencanaan,

sehingga

diperlukan kebijakan dan strategi penguatan koordinasi,


kerjasama, dan sikronisasi pembangunan.
Setiap komponen atau variabel SWOT harus terukur secara
kuantitatif, bila kualitatif dapat menunjukan faktor keterkaitan antara
data dan kecenderungannya.
C. Muatan Analisis
C.1. Analisa Struktur Ruang
1.

Prinsip analisa
a.

Ketentuan

analisa

struktur

kawasan

perencanaan

mengikuti kebijakan yang telah digariskan oleh RTRW;


b.

Kedudukan dan skala dari sistem pergerakan, pemusatan


kegiatan, dan peruntukan lahan;

c.

Arah perkembangan pembangunan kawasan;

d.

Memperhatikan karakteristik dan daya-dukung fisik


lingkungan serta dikaitkan dengan tingkat kerawanan
terhadap bencana.

2.

Komponen analisa

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 33

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

a.

Analisa penduduk meliputi :


a)

Tujuan, sebagai subjek pembangunan dalam


mengukur hunian yang layak huni, kebutuhan
pelayanan fasilitas lingkungan, dan klasifikasi
lingkungan.

b)

Komponen analisa;

Pertumbuhan dan perkembangan penduduk;

Analisis sosial budaya; agama, pendidikan,


adat istiadat dan cara hidup.

b.

Analisa fungsi ruang meliputi


a)

Tujuan, membentuk pola kawasan yang terstruktur


dalam peran dan fungsi bagian-bagian kawasan,
yang

memperlihatkan

konsentrasi

dan

skala

kegiatan binaan manusia dan alami.


b)

Komponen analisa;

Perkembangan

pembangunan,

merupakan

kebijakan rencana pembangunan yang telah


ditetapkan oleh pemerintah maupun swasta;

Pusat-pusat kegiatan, dengan melakukan


kajian terhadap pemusatan kegiatan yang ada
atau direncanakan oleh rencana diatasnya;

Kesesuaian dan daya dukung lahan, sebagai


daya tampung dan daya hambat ruang
kawasan dalam berkembang;

Pembagian

fungsi

ruang

pengembangan,

merupakan struktur kawasan yang dibagi


dalam

fungsi

dan

peran

bagian-bagian

kawasan.
c.

Analisa sistem jaringan pergerakan meliputi :


a)

Tujuan, memenuhi kebutuhan tata jenjang jaringan


pergerakan yang menghubungkan bagianbagian
kawasan sesuai dengan fungsi dan perannya.

b)

Komponen analisa;

Analisis

pelayanan

jaringan

jalan

dapat

diklasifikasikan berdasarkan Undang-undang


tentang Jaringan Jalan No.38 Tahun 2004,

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 34

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

termasuk fasilitas terminal penumpang dan


barang;

Analisis pelayanan jaringan angkutan kereta


api, termasuk fasilitas stasiun;
o

Analisis pelayanan jaringan angkutan


udara, termasuk fasilitas bandara, dan
daerah keamanan bandara (KKOP);

Analisis pelayanan jaringan anngkutan air


(laut, sungai, danau), termasuk fasilitas
pelabuhan dan dermaga;

Perkembangan
merupakan

pembangunan,
kebijakan

rencana

pembangunan jaringan jalan, kereta api,


udara dan air yang telah ditetapkan oleh
pemerintah maupun swasta;

Analisis

kebutuhan

interkoneksi

dan

intrakoneksi jaringan, berdasarkan sistem


pembentukan struktur

ruang yang telah

direncanakan, dan hasil analisis point a) dan b)


diatas.
C.2. Analisa Peruntukan Blok
1.

Prinsip analisa
Analisis peruntukan blok kawasan melakukan kajian terhadap
peruntukan dan pola ruang yang ada, dan pergeseran serta
permintaan dikemudian waktu, berdasarkan pertimbangan
distribusi penduduk, tenaga kerja, aksesibilitas, nilai dan harga
lahan, daya dukung lahan, daya dukung lingkungan, daya
dukung prasarana, dan nilai properti lainnya.

2.

Komponen analisa
a.

Pembagian Blok
a) Tujuan; membagi kawasan dalam bentuk atau
ukuran, fungsi serta karakter kegiatan manusia dan
atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blokblok peruntukan lahan, sehingga mudah dalam
alokasi investasi, pengendalian, dan pengawasan
b) Komponen analisa :

Delinasi blok;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 35

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Alokasi lahan;

Rencana sistem prasarana kawasan;

Perangkat kelembagaan untuk mendukung


pengembangan kawasan;

Kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan


terhadap

bencana

alam,

perlindungan

setempat, dan kawasan tertentu/khusus.


Masing-masing blok peruntukkan utama tersebut
selanjutnya akan dibagi menjadi beberapa subblok,
sesuai

pemanfaatan

yang

lebih

spesifik

dan

kekhususannya.
b.

Peruntukan Lahan
a) Tujuan; mengatur distribusi dan ukuran kegiatan
manusia dan atau kegiatan alam, yang dituangkan
dalam blok dan sub blok peruntukan lahan sehingga
tercipta ruang yang produktif dan berkelanjutan.
b) Komponen analisa :

Analisa perumahan :
o

Kebutuhan perumahan menurut struktur


pendapatan

masyarakat

(deret

dan

renggang), dan ukuran rumah tangga


(berdasarkan hasil elaborasi);
o

Kebutuhan

prasarana

dan

sarana

lingkungan.

Analisa industri;
o

Lokasi

perencanaan

pengembangan

industri;
o

Potensi tenaga kerja yang ada;

Lingkungan; untuk kawasan yang telah


berkembang,

agar

diteliti

dampak

terhadap pencemaran lingkungan. Apabila


merupakan
berkembang,

kawasan
agar

yang

diteliti

belum

jenis-jenis

pengembangan industri yang sesuai


dengan lingkungan dan prasarana daerah;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 36

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Multiplier

effect

terhadap

kegiatan

ikutannya, seperti perumahan, fasilitas


sosial ekonomi, ruang terbuka hijau,
prasarana

transportasi

dan

lain

sebagainya.

Analisa perdagangan dan jasa;


o

Pengembangan kegiatan perdagangan


dan jasa sesuai dengan hirarkhi dan
kebutuhan yang ditetapkan dalam RTRW;

Kemungkinan-kemungkinan
pengembangan lokasi sentra tersier yang
belum ditetapkan secara definitive dalam
RTRW, demikian juga dengan sentra
lokal;

Multiplier

effect

terhadap

kegiatan

ikutannya, seperti perumahan, fasilitas


sosial ekonomi, ruang terbuka hijau dan
non hijau, prasarana transportasi dan lain
sebagainya.

Analisa pariwisata;
o

Pengembangan pariwisata, dan kawasan


tersebut merupakan kawasan yang telah
berkembang, agar diteliti kegiatan sekitar
yang akan berdampak pada pencemaran
lingkungan,

dan

kemungkinan-

kemungkinan penanganan nya;


o

Potensi

tenaga

kerja

yang

ada

(berdasarkan hasil elaborasi);


o

Pembangunan kawasan wisata, agar


diteliti

jenis-jenis

pengembangan

pariwisata;
o

Lingkungan;

bila

dimungkinkan

pencampuran kegiatan, dihindari kegiatan


yang akan menimbulkan dampak penting
yang berlebihan;
o

Analisis multiplier effect terhadap kegiatan


ikutannya.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 37

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Pusat pemerintahan,
o

Kegiatan pusat pemerintahan sesuai


dengan hirarkhi dan kebutuhan yang
ditetapkan dalam RTRW;

Lingkungan; mempunyai karakter kuat


dalam tata lingkungan dan bangunan;

Multiplier

effect;

perkantoran

jenis

swasta

kegiatan

yang

akan

dikembangkan, termasuk juga analisis


kegiatan penunjang yang muncul.

Analisa

pusat

pendidikan

dan

penelitian/Teknologi Tinggi;
o

Pengembangan

kegiatan

pusat

pendidikan dan penelitian atau Pusat


Pengembangan Teknologi Tinggi yang
ditetapkan dalam RTRW;
o

Potensi

tenaga

kerja

yang

ada

(berdasarkan hasil elaborasi);


o

Lingkungan;

bila

dimungkinkan

pencampuran kegiatan, dihindari kegiatan


yang akan menimbulkan dampak penting
yang berlebihan.

Analisa fasilitas pertahanan dan keamanan,


o

Pengembangan kegiatan pertahanan dan


keamanan sesuai yang ditetapkan dalam
RTRW;

Potensi

tenaga

kerja

yang

ada

(berdasarkan hasil elaborasi);


o

Kajian

dampak

permukiman;

keamanan

termasuk

juga

terhadap
analisis

kebutuhan kegiatan penunjang, seperti


perumahan, perdagangan dan jasa, ruang
terbuka, zona kedap suara serta zona
pengamanan
prasarana

(udara,
transportasi

laut,
dan

daratan),
utilitas

lingkungan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 38

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

C.3. Analisis Fasilitas Umum


a.

Tujuan; mengatur kebutuhan distribusi, luas`lahan dan ukuran


fasilitas sosial ekonomi, yang diatur dalam struktur zona dan
blok dan sub blok peruntukan sehingga tercipta ruang yang
aman, nyaman, mudah, produktif dan berkelanjutan.

b.

Komponen analisa :
a)

Fasilitas sosial dan umum; meliputi pengembangan


kebutuhan fasilitas:
(a)

Sosial : pendidikan, kesehatan, peribadatan,


rekreasi, lapangan olah raga, dll;

(b)

Umum : pos keamanan, kantor pos, kantor polisi,


taman pemakaman, pos pemadam kebakaran,
dll.

b)

Fasilitas ekonomi, pengembangan kebutuhan fasilitas


ekonomi:
o

Pusat niaga; supermall, mall, grosir, pertokoan,


toko, pasar, warung;

o
c)

Pusat perkantoran.

Fasilitas budaya, pengembangan kebutuhan fasilitas


budaya dikaitkan dengan seni budaya masyarakat dan
cagar budaya, dan peninggalan bersejarah.

d)

Bangunan bersejarah;

Kampung budaya;

Ruang dan bangunan pertujukan.

Ruang terbuka hijau, yaitu meneliti kebutuhan ruang


terbuka hijau dengan memperhatikan daya dukung
penduduk, potensi lahan, tingkat polusi kawasan dan
gangguan lingkungan, tingkat kepadatan bangunan,
serta kemungkinan cara pengadaan, pemanfaatan dan
pengelolaannya.

Kebutuhan

ruang

terbuka

hijau

menurut tingkat dan fungsi pelayanan:


o

Ruang

terbuka

hijau

dengan

binaan

(Pemakaman, Lapangan Olah raga, perkebunan,


pertanian, dll);
o

Ruang terbuka hijau alami (sempadan sungai,


hutan lindung, dll.).

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 39

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

e)

Ruang terbuka non hijau, yaitu meneliti kebutuhan ruang


terbuka non hijau dengan memperhatikan daya dukung
penduduk, potensi lahan, penggunaan lahan sekitar,
tingkat kepadatan bangunan, serta kemungkinan cara
pengadaan,

pemanfaatan

dan

pengelolaannya.

Kebutuhan ruang terbuka non hijau menurut tingkat dan


fungsi pelayanan:
(a)

Skala;

Lingkungan,

kelurahan,

kecamatan,

kabupaten (sesui zona rencana);


(b)

Unsur yang perlu diperhatikan; sosial budaya,


ekologis, arsitektur/estetika, ekonomi;

(c)

Jenis fasilitas; Plasa, parker, lapangan olah raga


(out door), taman bermain, trotoar, median.

c.

Kawasan Mitigasi Bencana,


a.

Tujuan, meniliti dan mengkaji sumber bencana, lingkup


atau luasan dampak, dan kebutuhan pengendalian
bencana, agar tercipta lingkungan permukiman yang
aman, nyaman, dan produktif.

b.

Komponen analisa :
a)

Sumber dan macam bencana;

b)

Frekuensi bencana;

c)

Fasilitas dan jaringan penanggulangan bencana;

d)

Cakupan wilayah terkena dampak;

e)

Daya dukung dan daya hambat alam.

C.4. Analisa Prasarana Transportasi


1.

Prinsip analisa
Analisis transportasi mengatur dan menentukan kebutuhan
jaringan pergerakan dan fasilitas penunjangnya, menurut
struktur zona, blok dan sub blok peruntukan, sehingga tercipta
ruang yang lancar, aman, nyaman, dan terpadu, berdasarkan
pertimbangan distribusi penduduk, tenaga kerja, daya dukung
lahan, daya dukung lingkungan jalan, daya dukung prasarana
yang ada.

2.

Komponen analisa
a.

Angkutan jalan raya;


a)

Tujuan

meneliti

tentang

kemungkinan

pengembangan jaringan jalan dan persimpangan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 40

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

sampai

ke

tingkat

jalan

lokal,

dengan

mempertimbangkan jalan yang telah ada atau


direncanakan oleh rencana diatasnya.
b)

Komponen analisa :

Analisis level of service jalan yang sudah


ada;

Meneliti tingkat bangkitan lalu lintas


penumpang dan barang;

Meneliti titik-titik kemacetan dan trouble


spot lainnya;

Meneliti manajemen lalu lintas;

Meneliti kemungkinan - kemungkinan


dimensi jalan dengan mempertimbangkan
volume lalu lintas dan sirkulasinya;

Selain itu meneliti juga tentang sarana


transportasi seperti parkir;

Trotoar/pedestrian,

jembatan

penyeberangan orang, halte, dan lainnya;

Meneliti kinerja terminal, cargo dan


kebutuhan

pengembangan

dan

penataannya.
b.

Angkutan kereta api;


a)

Tujuan; meneliti tentang kebutuhan pengaturan


dan penataan lingkungan jalan rel, stasiun,
depo/balai yasa, dan keterpaduan dengan sistem
angkutan jalan raya, air dan udara.

b)

Komponen analisa :

Tingkat kecelakaan

Tingkat hambatan perjalanan

Keamanan, dan kenyamanan

Estetika

Sirkulasi lalu lintas pada jalan akses


stasiun

Penata

gunaan

peruntukan

lahan

(Pengaturan rumija, rumaja, ruwasja)

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 41

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c.

Angkutan air;
a)

Tujuan : meneliti tentang kebutuhan pengaturan


dan penataan pelabuhan angkutan laut, sungai,
danau dan penyeberangan, jalur pelayaran, dan
keterpaduan dengan sistem angkutan jalan raya
dan kereta api, yang telah direncanakan oleh
instansi terkait kedalam blok peruntukan.

b)

Komponen analisa meliputi :

Analisis level of service pelayanan


angkutan air;

Meneliti titik-titik rawan pelayaran;

Meneliti sarana transportasi air seperti


parkir, trotoar/pedestrian, rambu lalu lintas
air, pergudangan, bongkar muat, dan
lainnya;

Meneliti kinerja pelabuhan, dermaga, dan


kebutuhan

pengembangan

dan

penataannya;

Penata gunaan peruntukan lahan sekitar


pelabuhan/dermaga.

d.

Angkutan udara;
a)

Tujuan : meneliti tentang kebutuhan pengaturan


dan

penataan

pelabuhan

udara,

jalur

penerbangan, daerah aman penerbangan, dan


keterpaduan dengan sistem angkutan jalan raya
serta kereta api.
b)

Komponen analisa meliputi :

Jalur penerbangan Keamanan (KKOP);

Tingkat kebisingan;

Sirkulasi lalu lintas pada jalan akses ke


bandara;

Penata
(menurut

gunaan

peruntukan

klasifikasi

zona

lahan
kawasan

bandara/KKOP).

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 42

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

C.4. Analisa Utilitas Umum


1.

Prinsip analisa
Analisis pengembangan jaringan utilitas sesuai dengan
kebutuhan yang telah ditetapkan, termasuk sistem makronya.
Meneliti kemungkinan dimensi, lokasi, pemanfaatan ruang jalan
sebagai jalur distribusi, dengan mempertimbangkan topografi,
volume,

debit,

lokasi/lingkungan

perencanaan,

tingkat

pelayanan, dsb.
2.

Komponen analisa
a.

Air Minum:
a)

Tujuan; mengatur dan menentukan kebutuhan


jaringan dan fasilitas air minum, menurut blok
dan sub blok permukiman, sehingga tercipta
ruang ekonomis, sehat, dan produktif.

b)

Komponen analisa :

Sistem pelayanan, yaitu :


Sistem perpipaan yang dikelola

oleh PDAM;
Air tanah terutama melalui sumur

dangkal

dan

sumur

pompa

dangkal.

Komponen analisis:
o

Kebutuhan air domistik;

Kebutuhan non domistik;

Pelayanan

perkotaan

dan

perdesaan;
Sistem pelayanan yang tersedia.

o
b.

Drainase
a)

Tujuan;

pemenuhan

kebutuhan

untuk

mengalirkan air permukaan ke badan air


penerima atau bendungan resapan buatan, agar
terhindar pengikisan aliran hujan terhadap badan
jalan dan genangan air hujan pada kawasan
tertentu
b)

Komponen analisis:

Kebutuhan

pengendalian

banjir

dan

genangan;
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 43

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Sistem jaringan makro dan jaringan


distribusi;

Volume air hujan dan debit aliran;

Kondisi dan kapasitas saluran yang


tersedia.

c.

Air limbah
a)

Tujuan;

pemenuhan

kebutuhan

untuk

mengalirkan air limbah domistik yang berasal dari


perumahan dan non perumahan.
b)

Komponen analisis:

Sistem jaringan : kebutuhan pengendalian


air limbah rumah tangga dan non rumah
tangga;

Sistem pengelolaan : Individual, dan


komunal;

d.

Volume air imbah dan debit aliran;

Sistem pengolahan dan pengangkutan.

Persampahan
a)

Tujuan;

pemenuhan

kebutuhan

untuk

pembuangan limbah non B3 yang berasal dari


perumahan dan non perumahan.
b)

Komponen analisis:

Sistem jaringan dan pengolahan : bak


sampah, TPS, dan TPA;

Skala penanganan: skala individu, skala


lingkungan, dan skala daerah;

Volume

dan

sumber

sampah

perumahan, fasilitas komersial, fasilitas


umum, dan fasilitas sosial.
e.

Kelistrikan
a)

Tujuan; pemenuhan kebutuhan penerangan


melalui

sistem

pelayanan

jaringan,

dan

komponen prasarana kelistrikan.


b)

Komponen analisis:

Skala pelayanan: domistik dan non


domistik;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 44

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Sistem pelayanan : perkotaan dan


perdesaan;

Sistem jaringan : gardu induk, saluran


udara ( SUTT, SUTM, SUTR), gardu tiang
dan sambungan rumah;

f.

Penataan ruang bawah jaringan.

Telekomunikasi
a)

Tujuan; pemenuhan kebutuhan telekomunikasi


melalui sistem pelayanan jaringan telepon, dan
komponen prasarana telepon.

b)

Komponen analisis:

Skala pelayanan:
-

Sambungan telepon rumah tangga;

Sambungan telepon non rumah


tangga;

g.

Sambungan telepon umum.

Sistem jaringan :
-

STO dan rumah kabel;

Penataan sistem jaringan.

Gas
a)

Tujuan; kebutuhan penataan ruang jaringan gas


dan pemenuhan pelayanan jaringan gas, untuk
keamanaan instalasi dan masyarakat sekitar.

b)

Komponen analisis:

Sistem jaringan:
-

Jaringan utama

Jaringan distribusi

Sistem pelayanan:
-

Industri

Komersial

C.5. Analisa Amplop Ruang


1.

Prinsip Analisa
Terciptanya ruang yang akomodatif terhadap berbagai jenis
kegiatan yang direncanakan, dalam mewujudkan keserasian
dan keasrian lingkungan, dengan menetapkan intensitas

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 45

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

pemanfaatan lahan didalam kawasan (image arsitektur,


selubung bangunan, KDB, KLB, KDH, KDNH).
2.

Komponen Analisa :
a.

Intensitas pemanfaatan ruang


a)

Tujuan : Intensitas pemanfaatan ruang adalah


besaran pembangunan yang diperbolehkan
berdasarkan batasan KDB, KLB, KDH atau
kepadatan penduduk.

b)

Komponen analisis:

Koefisien Lantai Bangunan (KDB),


Prosentase berdasarkan perbandingan
antara seluruh luas lantai dasar bangunan
gedung

dengan

luas

lahan/tanah

perpetakan/daerah perencanaan.

Koeffisien Lantai Bangunan (KLB), adalah


angka

perbandingan

antara

jumlah

seluruh luas lantai seluruh bangunan


gedung

terhadap

luas

tanah

perpetakan/daerah perencanaan, dengan


indikator analisis :
o

harga lahan;

ketersediaan

dan

tingkat

pelayanan prasarana (jalan);


o

dampak

atau

kebutuhan

terhadap prasarana tambahan;


o

ekonomi dan pembiayaan.

Koeffisien Dasar Hijau (KDH), adalah


angka prosentase perbandingan antara
luas ruang terbuka di luar bangunan yang
diperuntukkan

bagi

pertamanan/penghijauan
tanah

daerah

dengan

perencanaan,

luas

dengan

indikator analisis :
o

tingkat pengisian/peresapan air


(water recharge);

besar pengaliran air (kapasitas


drainase);

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 46

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

rencana tata ruang (RTH, tipe


zonasi, dll).

Koeffisien Tapak Basement (KTB)


Penetapan

besar

KTB

maksimum

didasarkan pada batas KDH minimum


yang ditetapkan. Contoh : bila KDH
minimum = 25%, maka KTB maksimum =
75%

Koeffisien Wilayah Terbangun (KWT)


Prinsip penetapan KWT sama dengan
penetapan KTB, tetapi dalam unit blok
peruntukan atau tapak (bukan dalam unit
persil).

Kepadatan Bangunan dan Penduduk


Adalah angka prosentase perbandingan
antara jumlah bangunan dengan luas
tanah perpetakan/ daerah perencanaan.
Catatan:

Kepadatan

penduduk

kepadatan bangunan/ha x besar keluarga


rata-rata Standar atau interval KDB dan
KLB dapat merujuk pada aturan yang
berlaku, dan dapat disesuaikan dengan
kondisi di daerah.
b.

Tata massa bangunan


Tata masa bangunan adalah

bentuk, besaran,

peletakan, dan tampilan bangunan pada suatu


persil/tapak yang dikuasai. Pengaturan tata massa
bangunan mencakup antara lain:
a)

Pertimbangan Garis Sempadan Bangunan (GSB)


dan Jarak Bebas Bangunan. GSB minimum
ditetapkan

dengan

keselamatan,

risiko

mempertimbangkan
kebakaran,

kesehatan,

kenyamanan dan estetika. Faktor yang dianalisis


adalah:

Garis sempadan bangunan;

Garis sempadan pagar.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 47

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Garis sempadan samping bangunan

Rumus dasar :

Untuk ruang milik jalan (rumija) < 8m,


GSB minimum = V2 rumija;

Untuk ruang milik jalan >= 8m, GSB


minimum = Y2 rumija + 1 m;

Jarak antara bangunan gedung minimal


setengah tinggi bangunan gedung.

b)

Pertimbangan Garis Sempadan Sungai (GSS)


dan Jarak Bebas Bangunan GSS minimum
ditetapkan

dengan

mempertimbangkan

keselamatan, kenyamanan dan estetika, serta


kesehatan. Dengan mempertimbangkan :

Kedalaman sungai;

Lokasi di/luar kawasan perkotaan;

Daerah cakupan aliran sungai;

Ketersediaan fasilitas pengaman sungai


(tanggul);

Fasilitas

jalan

yang

ada

di

sungai/pemanfaatan lahan.
c)

Pertimbangan Garis Sempadan Danau dan


Waduk

Untuk danau dan waduk, garis sempadan


ditetapkan sekurangkurangnya 50(lima
puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke
arah darat;

Untuk

mata

air,

garis

sempadan

ditetapkan sekurang- kurangnya 200 (dura


ratus) meter di sekitar mata air;

Untuk sungai yang terpengaruh pasang


surut air laut, garis sempadan ditetapkan
sekurangkurangnya 100 (seratus) meter
dari tepi sungai, dan berfungsi sebagai
jalur hijau;

Pemanfaatan lahan sempadan Danau dan


Waduk.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 48

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d)

Pertimbangan tinggi bangunan


Tinggi

bangunan

ditetapkan

mempertimbangkan

dengan

keselamatan,

risiko

kebakaran, teknologi, estetika, dan prasarana.


e)

Pertimbangan Selubung Bangunan


Selubung

bangunan

mempertimbangkan

ditetapkan

GSB,

dengan

tinggi

bangunan

maksimum, dan bukaan langit.


f)

Pertimbangan Tampilan Bangunan


Tampilan bangunan ditetapkan dengan melihat
karakter budaya setempat dan perkembangan
sosial ekonomi masyarakat, seperti penentuan
wajah bangunan, gaya bangunan, keindahan,
dan keserasian dengan lingkungan sekitar. Hasil
analisis

yang

menyimpulkan

diperoleh
pokok

haruslah
persoalan

dapat
dalam

perwujudan ruang kawasan seperti :

Perbaikan kawasan, seperti penataan


lingkungan permukiman kumuh/nelayan
(perbaikan kampung), perbaikan kawasan
pusat

pertumbuhan,

kampong

budaya,

urban
serta

heritage,
pelestarian

kawasan;

Pengembangan kembali kawasan, seperti


peremajaan kawasan, pengembangan
kawasan terpadu, revitalisasi kawasan,
serta rehabilitasi dan konstruksi kawasan
pasca bencana;

Pembangunan baru kawasan, seperti


pembangunan

kawasan

permukiman,

pembangunan kawasan terpadu, kota tepi


air, pembangunan kawasan perbatasan,
pembangunan kawasan industri, dan
pembangunan

kawasan

pengendalian

ketat (jalan sistem primer, daerah aliran


sungai, dll);

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 49

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Pelestarian/pelindungan kawasan, seperti


pengendalian

kawasan

pelestarian,

revitalisasi kawasan, serta pengendalian


kawasan rawan bencana.
Data dan informasi analisis disusun dan disajikan dalam
bentuk peta, diagram, tabel statistik, termasuk gambar
visual kondisi lingkungan kawasan yang menunjang
perencanaan detail tata ruang. Khusus penyajian dalam
bentuk peta, rencana detail tata ruang dibuat dalam peta
kerja berskala 1 : 5000, sedangkan kegiatan yang
memerlukan pendetailan yang lebih rinci dibuat dalam
peta kerja 1 : 1000. Sebaliknya pada ruang bersifat
ektensif seperti kawasan hutan, perkebunan, pertanian
skala kerja dapat menggunakan peta 1.25.000.
C.6. Analisa Kelembagaan dan Peran Serta Masyarakat
1.

Prinsip Analisa
Analisis kelembagaan dan peran serta masyarakat, dengan
mengkaji struktur kelembagaan yang ada, fungsi dan peran
lembaga, meknisme peran serta masyarakat, termasuk media
serta jaringan untuk keterlibatan masyarakat dalam proses
perencanaan,

pemanfaatan,

dan

pengendalian

serta

pengawasan. Dalam pelaksanaan peran serta masyarakat


dapat dilakukan secara perseorangan atau dalam bentuk
kelompok

(organisasi

kemasyarakatan/LSM,

organisasi

keahlian/profesi, dll). Adapun prinsip-prinsip yang harus


dipertimbangkan adalah :
a.

Berdasarkan kesepakatan dan hasil kerjasama antar


stakesholder;

b.

Sesuai dengan aspirasi publik;

c.

Kejelasan tanggung jawab ;


a)

Adanya

sistem

monitoring,

evaluasi

dan

pelaporan yang transparan dan terbuka bagi


publik;
b)

Terbuka

kemungkinan

untuk

mengajukan

keberatan dan gugatan;


c)

Kesempatan yang sama untuk berkontribusi


dalam proses pembangunan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 50

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

2.

Komponen analisa :
a.

Identifikasi aspirasi dan analisis permasalahan;

b.

Analisis perilaku lingkungan: masyarakat perkotaan dan


perdesaan yang memiliki kultur dan tingkat pendidikan
yang berbeda;

c.

Analisis perilaku kelembagaan: perlu dianalisis subtansi


tugas dan tanggungjawab;

d.

Analisis metode dan sistem: perlu dianalisis alat dan


perlengkapan, termasuk pendanaan bila diperlukan
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

8.5.4.

Perumusan Konsep Rencana Detail Tata Ruang Kota


Konsep rencana disusun berdasarkan hasil analisis masalah dan
potensi kawasan, termasuk unit-unit lingkungannya, sehingga
menghasilkan suatu hipotesa awal. Hipotesa awal dirumuskan
berdasarkan kemungkinan deviasi hasil prediksi/proyeksi, pengaruh
ekonomi makro, kebijakan-kebijakan pemerintah, dan ketidakpastian
yang dianggap akan mempengaruhi struktur dan peruntukan ruang
dimasa mendatang.
1.

Tujuan
Menghasilkan ruang hidup yang fleksible dan dinamis, dengan
tetap mempertahankan karakter kawasan, dengan cara ;
a.

Mengarahkan penyusunan karakter dan tema kawasan


rencana;

b.

Mengarahkan intervensi model rancangan lingkungan


agar lebih terukur dan terarah;

c.

Memadukan

komponen-komponen

rencana

yang

berpengaruh;
d.

Pada akhir untuk dapat mengarahkan ouput rencana,


sesuai dengan visi serta karakter kawasan yang hendak
dibentuk.

2.

Materi yang diatur


Struktur ruang kawasan, dan peruntukan lahan zona serta
indikasi-indikasi hirarki pelayanan.

3.

Kedalaman materi yang diatur


Konsep pengembangan struktur ruang kawasan, peruntukan
lahan blok-blok, serta indikasi hirarki pelayanan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 51

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

4.

Kriteria:
a.

Fungsional menyangkut pertimbangan :


a)

Struktur ruang makro;

b)

Pertimbangan lokasi optimum masa depan;

c)

Arah kecenderungan perkembangan ekonomi, dan


investasi infrastruktur.

b.

Fisik menyangkut pertimbangan :


a)

Batas-batas administratif, geografis alamiah, dan


fisik buatan;

b)

Daya dukung dan daya hambat ruang, termasuk


optimasi jarak pelayanan.

c.

Lingkungan menyangkut pertimbangan :


a)

Daya dukung lingkungan;

b)

Daya dukung penduduk;

c)

Indikasi-indikasi hirarki pelayanan;

d)

Skala ruang yang berorientasi pada keseimbangan


lingkungan alami dan binaan, dan kepentingan
orang banyak.

5.

Pengelompokan materi yang diatur


a.

Karakter/Ciri khas kawasan, yaitu tema gambaran spesifik


karakter kawasan di masa mendatang yang akan dicapai
sebagai hasil akhir perencanaan.

b.

Konsep struktur ruang kawasan,

suatu gagasan

perancangan dasar pada skala makro sebagai intervensi


untuk mengintegrasikan seluruh komponen perancangan
kawasan yang ada, menurut fungsi dan peran bagian
bagian blok rencana.
c.

Konsep peruntukan lahan dan unit-unit kegiatan, suatu


gagasan perancangan dasar pada skala mikro sebagai
intervensi dalam pembagian suatu kawasan perencanaan
menjadi

blok,

sub

blok

atau

unit

lingkungan

pengembangan dan telah menunjukan fungsi-fungsi


pemanfaatan lahan (peruntukan, intensitas dan skala
pelayanan).
d.

Konsep program penanganan pembangunan kawasan;


gagasan penanganan dan pengaturan ruang kawasan
menjadi aturan dasar dan aturan anjuran sehingga

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 52

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

strategi dan program pembangunannya dapat lebiih


terarah dan terukur sesuai fungsi ruang yang telah
ditetapkan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 53

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Gambar 4
Skema Penyusunan Tahap Laporan Akhir
LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR

Renc. Persebaran Pnddk

Konsep Tujuan Perenc


Konsep Struktur Ruang
Perumusan dan
Ketentuan Teknis RDTR

Konsep Peruntukan Blok


Konsep Fasilitas Umum

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
ANTARA

Konsep Pras Transportasi

Konsep Rencana
Produk RDTR

REVISI PRODUK
LAPORAN
ANTARA

Konsep Utilitas Umum


Draft Raperda RDTR

Konsep Penataan
Bangunan dan Lingkungan
(Amplop Bangunan)

Tujuan Pengembangan

Struktur Ruang

Rencana Struktur Ruang

Rencana Blok

Rencana Fasilitas Umum

Skala Pelayanan Kegtn

Rencana Peruntukan Blok

Renc. Sistem Jaringan

Rencana Penataan
Bangunan dan Lingkungan
(Amplop Bangunan)
Indikasi Program
Pembangunan

Pengertian

Renc. Sistem Jaringan


Pergerakan
Renc. Sistem Jaringan
Utilitas

RAPERDA
RAPERDA
KABUPATEN
KABUPATEN
KENDAL
KENDAL
TENTANG
TENTANG
RDTR
RDTR

PEMBAHASAN
DRAFT LAPORAN
AKHIR

REVISI PRODUK
LAPORAN
AKHIR

Maksud dan Tujuan


Komponen Yang Diatur

Zonasi
PENGENDALIAN
RDTR

Tujuan Pengendalian
Komponen Pengendalian

Aturan Insentif dan


Disinsentif
Perijinan Dalam
Pemanfaatan Ruang
Pengendalian Pemanfaatan
Ruang Melalui Pengawasan

Manfaat
Prinsip Utama
KELEMBAGAAN
DAN PERAN SERTA
MASYARAKAT

Kelembagaan

Bentuk Peran Serta Masy


Dalam Pelaksanaan
Penataan Ruang

Peran Serta Masyarakat


Bentuk Peran Serta Masy
Dalam Pengendalian
Pemanfaatan Ruang
Tata Cara Peran Serta
Masyarakat Dalam
Pelaksanaan Peraturan
Zonasi

ri analisis RDTR
- Verifikasi data
bangan wilayah
nsi dan masalah
pembangunan

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 2

- Pengembangan dan pendalaman materi RDTR


- Kesepakatan potensi dan masalah
- Kesepakatan konsep perencanaan dan pengembangan wilayah
- Kesepakatan dan penetapan kawasan prioritas

- Rencana pengembangan wilayah perenaan


- Rencana indikasi program
- Draft Raperda RDTR

FOCUS GROUP
DISCUSSION
( FGD )
KE 3

LAPORAN ANTARA

NSEP PERENCANAAN DAN


PENGEMBANGAN WILAYAH

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN ANTARA

PROSES PENYUSUNAN RENCANA

PROSES PENYUSUNAN ZONASI


DAN DRAFT RAPERDA

PEMBAHASAN DAN REVISI


LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 54

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.6

8.6.1.

TAHAP
PENYUSUNAN
LAPORAN AKHIR /
RENCANA

Tujuan Pengembangan
Tujuan pengembangan kota dirumuskan sesuai dengan karakter
kota yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Tujuan juga telah
mempertimbangkan urgensi permasalahan ruang kota yang harus
segera disusun pengendalian pelaksanaan pembangunannya.

8.6.1.1. Rencana Struktur Ruang


a. Rencana Persebaran Penduduk
Muatan rencana persebaran penduduk harus memperhatikan
sifat-sifat ruang, yaitu : ketersediaan lahan, kondisi fisik, besaran
kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan, serta pertumbuhan
penduduk yang direncanakan oleh rencana diatasnya.
1. Tujuan
Menghasilkan ruang hidup yang nyaman, sehat, efisien dan
produktif.
2. Materi Yang Di atur
Jumlah dan kepadatan penduduk sampai dengan akhir tahun
perencanaan yang secara agregrat sesuai dengan rencana
tata ruang diatasnya.
3. Kedalaman materi yang diatur
Rencana jumlah dan kepadatan penduduk kota dirinci dalam
blok-blok peruntukan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 55

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

4. Kriteria arahan penduduk berkaitan dengan indikator :


a. Fungsional menyangkut pertimbangan :
a)

Pola distribusi penduduk;

b)

Tingkat kepadatan penduduk per blok.

b. Fisik menyangkut pertimbangan :


a)

Nilai lahan yang dapat digunakan dalam intensifikasi


daya tampung penduduk;

b)

Skala ruang yang berorientasi pada keseimbangan


lingkungan alami dan binaan, dan kepentingan orang
banyak.

c. Lingkungan menyangkut pertimbangan :


a)

Kesehatan dan kenyamanan tempat hunian.

b)

Keseimbangan antara daya dukung lingkungan


dengan pertumbuhan penduduk.

5. Pengelompokan materi yang diatur


Jumlah penduduk yang menunjukkan pertumbuhan dan
perkembangan penduduk sampai akhir tahun rencana, dan
kepadatan

penduduk

diklasifikasikan

menurut

tingkat

kepadatan.
a. Jumlah penduduk diatur menurut struktur penduduk
menurut ukuran keluarga, umur, pendidikan, agama, dan
mata pencaharian.
b. Bila tidak diatur sebelumnya, kepadatan penduduk dapat
diklasifikasikan kedalam 4 (empat) kelas yaitu :

Kepadatan tinggi :

Kepadatan sedang :

Kepadatan rendah :

Kepadatan sangat rendah : 0 50 jiwa/ha

b. Struktur Ruang
Muatan struktur disusun menurut simpul dan sentra kegiatan dari
fungsi ruang, dan dirinci menurut blok-blok perencanaan. Faktor
pembentuk utama struktur ruang perencanaan dapat berupa :
struktur zona perencanaan, struktur pelayanan kegiatan dan
sistem jaringan pergerakan, dan sistem utilitas. Struktur ruang
perencanaan merupakan jenjang fungsi dan peran ruang yang
melekat pada kawasan atau yang akan dicapai dalam
pengembangan ruang tersebut.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 56

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

1. Tujuan
Struktur

ruang

perencanaan

merupakan

komponen

perencanaan yang bertujuan dalam alokasi penggunaan


lahan/tata guna lahan dan distribusi kegiatan yang ditetapkan
dalam suatu kawasan perencanaan menurut daya dukung
ruang makro dan mikro, sehingga tercipta ruang yang
seimbang, serasi dan terpadu.
2. Materi yang diatur
Struktur fungsi dan peran ruang yang diformat dalam zona
pemanfaatan lahan, sesuai daya dukung dan daya hambat
ruang, tingkat perkembangan bagian ruang.,
3. Kedalaman materi yang diatur
Pembagian ruang dalam karakter zona yang melekat atau
yang akan dibentuk sebagai upaya untuk mempermudah pola
investasi, arah perkembangan, pola pengendalian, dan
keserasian dan keseimbangan lingkungan.
4. Kriteria pengaturan dan penataan kegiatan
a. Fungsional menyangkut pertimbangan :
a)

Keragaman tata guna lahan yang seimbang, saling


menunjang dan terintegrasi;

b)

Pengaturan zoning, yaitu pengaturan distribusi


persentase

peruntukan

lahan

menurut

jenis

pemanfaatan;
c)

Pengaturan intensitas ruang yang sesuai dengan


daya

dukung

dan

karakter

kawasan,

serta

persentase pencampuran peruntukan lahan.


b. Fisik menyangkut pertimbangan :
a)

Daya dukung dan daya tampung ruang;

b)

Skala ruang yang berorientasi pada keseimbangan


lingkungan alami dan binaan, dan kepentingan orang
banyak.

c. Lingkungan menyangkut pertimbangan :


a)

Keseimbangan

kawasan

perencanaan

dengan

kawasan sekitar;
b)

Keseimbangan antara daya dukung lingkungan


dengan peruntukan lahan;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 57

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c)

Pelestarian lingkungan, yaitu peruntukan lahan tetap


menjaga daerah-daerah dengan fungsi konservasi.

5. Pengelompokan materi yang diatur


Pembagian struktur zona perencanaan dapat dipisahkan
dalam pola zona menurut kawasan fungsional, pertama yaitu
pola

pengembangan

kawasan

yang

terkait

dengan

perlindungan setempat, dan kedua pola pengembangan


permukiman.
a. Struktur ruang perencanaan pada kawasan berciri
perlindungan setempat / konservasi / Mitigasi Bencana,
adalah kawasan cagar budaya, kawasan rawan bencana,
kawasan daerah aliran sungai dan lainnya.
a)

Zona

utama;

pemanfaatan

lahan

merupakan

objek/kegiatan utama dari fungsi ruang, yang harus


dilindungi dan dibatasi aktifitas diluar kegiatan utama
(seperti zona konservasi, rawan bencana);
b)

Zona pendukung; pemanfaatan lahan merupakan


kegiatan

yang

menunjang

dan

memperkuat

sekaligus melindungi fungsi kawasan (seperti zona


pembangunan);
c)

Zona pelengkap; Pemanfaatan lahan merupakan


kegiatan

yang

melengkapi

fungsi

kawasan:

permukiman dan pelayanan skala yang lebih luas


(seperti zona pengembangan).
b. Struktur ruang perencanaan pada kawasan berciri
permukiman, adalah kawasan perumahan, perdagangan
dan jasa, kawasan industri, kawasan kota mandiri, dan
lainnya.
a)

Zona

utama;

pemanfaatan

lahan

merupakan

objek/kegiatan utama dari fungsi kawasan, yang


mempunyai intensitas tinggi, dan kegiatan yang
produktif dengan skala pelayanan wilayah, kawasan
atau lebih luas;
b)

Zona pendukung; pemanfaatan lahan merupakan


kegiatan transisi yang menunjang dan mempunyai
intensitas sedang s/d tinggi, dan kegiatan bersifat
campuran;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 58

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c)

Zona pelengkap; pemanfaatan lahan merupakan


kegiatan yang melengkapi fungsi kawasan utama
dengan intensitas rendah sampai sedang, yaitu
kegiatan perumahan, rekreasi, dan skala pelayanan
kegiatan lokal atau lingkungan.

c. Rencana Blok
1. Tujuan
Dasar pertimbangan dalam penetapan unit blok perencanaan
didasarkan atas perencanaan pembagian lahan dalam
kawasan menjadi blok dan jalan, di mana blok terdiri atas unit
lingkungan dengan konfigurasi tertentu.
2. Kriteria Pengaturan blok :
a. Menggambarkan ukuran, fungsi serta karakter kegiatan
manusia dan atau kegiatan alam;
b. Setiap blok memiliki kesamaan fungsi dan karakteristik
yang akan dibentuk;
c. Memiliki homogenitas pemanfaatan ruang dan kesamaan
karakteristik serta kemungkinan pengembangannya (unit
lingkungan);
d. Kebutuhan pemilahan dan strategi pengembangannya;
e. Secara fisik : mengikuti morfologi blok, pola/pattern dan
ukuran blok, kemudahan implementasi dan prioritas
strategi;
f. Pertimbangan lingkungan : keseimbangan dengan daya
dukung lingkungan, dan perwujudan sistem ekologi;
g. Tercipta peningkatan kualitas lingkungan kegiatan yang
aman, nyaman, sehat dan menarik, serta berwawasan
ekologis (ruang terbuka dan tata hijau);
3. Ukuran blok dan sub blok :
a. Ukuran terkecil 100 M X 100 M; dibatasi oleh dua jalan
lokal atau lingkungan.
b. Ukuran sedang 200 M X 100 M; dibatasi oleh dua jalan
lokal.
c. Ukuran besar 500 M X 200 M; dibatasi oleh dua jalan
kolektor.
d. Ukuran sub blok, minimal 50 M X 50 M; dibatasi oleh dua
jalan lingkungan/setapak.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 59

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d. Rencana Skala Pelayanan Kegiatan


Rencana Skala Pelayanan Kegiatan meliputi semua sistem
kegiatan primer, dan sistem kegiatan sekunder; sampai pada
kegiatan lokal dan lingkungan.
1. Tujuan
Struktur

pelayanan

kegiatan

merupakan

komponen

perencanaan yang bertujuan dalam distribusi jenis dan


pelayanan kegiatan yang ditetapkan dalam struktur ruang
kawasan.
2. Materi yang diatur
Tata jenjang kapasitas dan intensitas pelayanan kegiatan
menurut lokasi dan jenis pelayanan kegiatan dalam kawasan.
3. Kedalaman materi yang diatur
Distribusi pusat-pusat pelayanan kegiatan dirinci sampai
pusat pelayanan lingkungan permukiman. Setiap kegiatan
mempunyai skala pelayanan yang akan menunjukan syaratsyarat dan ketentuan teknis dalam ruang kawasan.
4. Kriteria pengaturan dan penataan kegiatan
a. Fungsional menyangkut pertimbangan :
a)

Pola distribusi jenis kegiatan; yaitu pengaturan lokasi


dan intensitas lahan yang dapat dibangun di
berbagai blok dan sub blok;

b)

Pengaturan intensitas kegiatan yang sesuai dengan


daya

dukung

dan

karakter

kawasan,

serta

pencampuran peruntukan lahan;


c)

Pengaturan kegiatan tidak berdiri sendiri, menjadi


kesatuan dengan kegiatan pendukungnya.

5. Kriteria pengaturan dan penataan kegiatan


a. Fungsional menyangkut pertimbangan :
a)

Pola distribusi jenis kegiatan; yaitu pengaturan lokasi


dan intensitas lahan yang dapat dibangun di
berbagai blok dan sub blok;

b)

Pengaturan intensitas kegiatan yang sesuai dengan


daya

dukung

dan

karakter

kawasan,

serta

pencampuran peruntukan lahan;


c)

Pengaturan kegiatan tidak berdiri sendiri, menjadi


kesatuan dengan kegiatan pendukungnya.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 60

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

b. Fisik menyangkut pertimbangan :


a)

Skala ruang yang berorientasi pada keseimbangan


lingkungan alami dan binaan, dan kepentingan orang
banyak;

b)

Penetapan lahan yang cukup dan dinamis melalui


pengaturan intensitas elemen lingkungan yang
mendukung terciptanya berbagai karakter kawasan
sub kawasan/lingkungan.

c. Lingkungan menyangkut pertimbangan :


a)

Keseimbangan,

keterkaitan

dan

keterpaduan

berbagai elemen intensitas pemanfaatan lahan;


b)

Kesesuaian dengan daya dukung lingkungan


setempat;

c)

Berorintasi kepada kepentingan manusia, yaitu


pejalan kaki, kepentingan publik;

d)

Pelestarian lingkungan, yaitu melalui pembatasan


beberapa elemen yang terkait dengan pembentukan
ruang terbuka dan penghijauan (KDH) yang
proposional.

6. Pengelompokan materi yang diatur


Distribusi pusat-pusat pelayanan kegiatan dalam kawasan
sampai pada pusat pelayanan lingkungan permukiman.
a. Kegiatan sentra primer, yaitu sebagai pusat kegiatan
ekonomi berskala regional, pusat kegiatan pemerintahan
dan skala sarana wilayah (daerah) :
a)

Kegiatan perdagangan dan jasa:, terutama melayani


perdagangan besar meliputi grosir, pasar induk,
supermall, pusat perdagangan barang eceran
primer, pergudangan, pusat perkantoran;

b)

Kegiatan pemerintahan: meliputi kantor bupati dan


perkantoran pemerintah setingkat bupati;

c)

Kegiatan fasilitas umum: masjid agung, taman kota,


terminal Kelas A, stasiun KA, bandara udara,
pelabuhan

samudera,

taman

parkir,

kantor

pelayanan umum, Rumah Sakit tipe A dan B, dan


stadion;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 61

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d)

Kegiatan pendidikan: perguruan tinggi, balai latihan


dan penelitian;

e)

Perumahan, wisma susun, ruko, rukan.

b. Kegiatan sentra sekunder, yaitu sebagai pusat kegiatan


ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah skala
sub wilayah, dengan jangkauan pelayanan beberapa
kecamatan. Corak pelayanan mengarah kepada kegiatan
perdagangan eceran, kegiatan jasa pribadi dan jasa
perdagangan :
a)

Kegiatan perdagangan dan jasa: terutama melayani


perdagangan eceran, barang-barang kebutuhan
sekunder, bengkel mobil, pusat onderdil kendaraan,
dan lainnya;

b)

Kegiatan pemerintahan, meliputi kantor camat, dan


lembaga setingkat kecamatan;

c)

Kegiatan fasilitas umum: masjid kecamatan, taman


lingkungan, terminal Kelas B, taman parkir, kantor
pelayanan umum, RS pembantu tipe C, puskesmas,
apotik, laboratorium, lapangan bola;

d)

Kegiatan pendidikan: SLTA, SLTP, dan kursus;

e)

Perumahan: ruko, dan rukan.

c. Kegiatan sentra tersier/lokal, yaitu sebagai pusat kegiatan


ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah berskala
lingkungan, dengan jangkauan pelayanan kelurahan/desa
atau beberapa RW. Corak pelayanan perdagangan
eceran dan kegiatan pribadi:
a)

Kegiatan perdagangan dan jasa: terutama melayani


perdagangan eceran, sepert toko, warung dan
lainnya;

b)

Kegiatan pemerintahan, meliputi kantor kelurahan


atau desa;

c)

Kegiatan fasilitas umum: masjid, taman lingkungan,


balai pengobatan, klinik, puskesmas pembantu, jalur
hijau;

d)

Kegiatan pendidikan: sekolah dasar, taman kanakkanak;

e)

Perumahan: tunggal dan deret.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 62

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.6.1.2. Rencana Sistem Jaringan


a. Rencana Sistem Jaringan Pergerakan
Rencana sistem jaringan pergerakan meliputi materi yang
direncanakan dan materi yang diatur. Materi yang diatur meliputi
sistem jaringan primer dan sekunder, sedangkan materi yang
direncanakan adalah sistem jaringan lokal.
1. Tujuan
Struktur

pelayanan

jaringan

pergerakan

merupakan

komponen perencanaan yang bertujuan mendistribusikan


jenis pelayanan jaringan dan sarana pergerakan ke suluruh
kawasan dan sub kawasan secara berjenjang sesuai dengan
struktur ruang kawasan yang direncanakan, sehingga tercipta
pergerakan yang mudah, lancar, aman, nyaman dan terpadu.
2. Materi yang diatur
Sistem angkutan dan jaringan angkutan jalan raya, angkutan
kereta api, angkutan air, angkutan udara, serta prasarana
penunjang

(terminal,

station,

pelabuhan,

dermaga,

perparkiran, dan bandara udara).


3. Kedalaman materi yang diatur
Pelayanan jaringan pergerakan dirinci sampai pengukuran
pola dan sistem jaringan, kapasitas dan intensitas pelayanan
jaringan pergerakan.
4. Kriteria pengaturan dan penataan kegiatan
a. Secara Fungsional, meliputi:
a)

Sistem sirkulasi, perencanaan sistem sirkulasi yang


jelas dan mudah dipahami tentang sistem kaitan
antara jejaring jalur jalur utama, jalur sekunder, dan
jalur lokal sesuai hirarki/kelas jalan.

b)

Mobilitas publik
(a) Peningkatan kaitan antar sistem sirkulasi pada
kawasan perencanaan dengan sistem sirkulasi
kawasan sekitar;
(b) Penciptaan sistem sirkulasi yang mudah
diakses sebesar-besarnya oleh publik termasuk
penyandang cacat dan lanjut usia (difabel),
sehingga memperkaya karakter dan integrasi
sosial para pemakainya;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 63

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(c) Peningkatan kaitan dan pemisahan yang jelas


di antara berbagai moda sirkulasi;
(d) Peningkatan sistem penghubung yang lebih
berorientasi pada pejalan kaki.
c)

Aksesibilitas
(a) Perencanaan kawasan yang mengintegrasikan
sirkulasi eksternal dan internal dari/ke/di dalam
kawasan/blok atau subblok;
(b) Penciptaan

kawasan

yang

mewadahi

kebutuhan semua orang termasuk masyarakat


difabel.
b. Secara Fisik, meliputi penataan:
a)

Dimensi sirkulasi dan standar aksesibilitas


Perencanaan teknis aksesibilitas lingkungan merujuk
pada Peraturan Menteri PU No. 30/PRT/M/2006
tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas
pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

b)

Estetika,

citra

dan

karakter,

melalui:

(i)

Perencanaan sistem sirkulasi yang mencerminkan


karakter khas setempat; (ii) Perencanaan sistem
sirkulasi secara simultan dengan pengaturan
kendaraan umum
c)

Penetapan desain yang memenuhi kenyamanan


pemakai dengan mempertimbangkan iklim/cuaca
setempat;

keselamatan

pejalan

kaki

dengan

pengolahan elemen pembatas dan pengaman


pejalan kaki (seperti bollards) dan elemen peneduh
yang memberi kenyamanan.
c. Secara Lingkungan, meliputi penataan:
a)

Peningkatan nilai ruang


(a) Peningkatan nilai tanah dan kemampuan lahan;
(b) Peningkatan

hubungan

fungsional

antar

berbagai jenis peruntukan dalam ruang;


(c) Peningkatan modifikasi desain/pengembangan
yang sesuai karakter setempat.
b)

Integrasi blok ruang dan sarana pendukung

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 64

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(a) Pengintegrasian sistem penghubung antar


beberapa lahan kecil;
(b) Integrasi sarana parkir dari beberapa blok yang
berdekatan;
(c) Peningkatan keterpaduan sistem pergerakan
dan penghubung dengan sarana parkir;
(d) Peningkatan

kemungkinan

desain

jalur

penghubung yang menembus bangunan publik.


c)

Kelestarian ekologis ruang;

d)

Integrasi desain ruang yang berorientasi pada


aktivitas transit
(a) Alokasi

dan

rancang

penataan

ruang

dapat

berbagai

elemen

didasarkan

pada

pendekatan desain konsep pergerakan transit,


dengan mempertimbangkan kepadatan, lokasi
dan kualitas pertumbuhan ruang;
(b) Alokasi jarak jangkauan pejalan kaki ideal ke
titik transit lain/daerah.
5. Pengelompokan materi yang diatur
A.

Jalan Raya, terdiri dari:


a. Prinsip
Rencana sistem jaringan pergerakan meliputi materi
yang direncanakan dan materi yang diatur. Materi
yang diatur meliputi sistem jaringan primer dan
sekunder, sedangkan materi yang direncanakan
adalah

sistem

jaringan

lokal

(Kepmen

No.

375/KPTS/2004).
b. Kriteria rencana:
a) Rencana jalan menurut fungsinya : jalan arteri,
kolektor, lokal dan lingkungan;
b) Keterpaduan dengan lingkungannya;
c) Jalan dapat memberikan sumbangan postif
kepada corak lokasinya;
d) Jalan hendaknya memaksimalkan manfaat sosial
dan ekonomi;
e) Jalan hendaknya dapat memperbaiki kualitas
lanskap dan sistem ekologi;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 65

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

f) Penyediaan hubungan yang baik dengan sistem


jalan lokal atau, sehingga keutuhan lingkungan
sekeliling

jalan

yang

didesain

dapat

dipertahankan;
g) Penyediaan persilangan-persilangan yang aman
bagi para pejalan kaki;
h) Penyediaan jalan-jalan setapak yang cukup lebar
dan nyaman bagi para pejalan kaki;
i) Penyediaan jalan-jalan bagi akses lokal dan
untuk memarkir kendaraan;
j) Menyesuaikan letak georafis dan visual dimana
warisan budaya dan lingkungan budaya berada;
k) Mengembangkan cara-cara alternative untuk
melindungi keseluruhan, meliputi lokasi dan
pembentukan

rute,

lanskap,

dan

disain

lingkungan binaan;
l) Memaksimalkan potensi kepariwisataan suatu
daerah warisan budaya atau objek warisan
budaya melalui bentang jalan (streetscape) yang
memperkuat arti penting budaya dari daerah
warisan budaya dan objek warisan budaya.
c. Komponen rencana :
Selanjutnya, unsur lain yang sangat berpengaruh
dalam perencanaan dan penataan jalan daerah atau
kawasan adalah :
a)

Iklim dan estetika


Pada

tahap

disain

pengolahan

lanskap

hendaknya diarahkan kepada mengidentifikasi


corak lingkungan jalan.
b)

Pertimbangan penggunaan Lahan


Perencanaan jalan harus disesuaikan dengan
skala kegiatan penggunaan lahan (nasional,
wilayah, daerah, dan lokal);

c)

Kapasitas dan intensitas jaringan jalan kolektor


sekunder dan jaringan jalan lokal yang berdiri
sendiri atau akses ke sistem primer dan ke
arteri

sekunder

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

(jumlah

lajur,

daerah

8 - 66

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

pengawasan

jalan,

daerah

milik

jalan,

persimpangan utama);
d)

Penataan fasilitas dan perabot jalan pada jalan


arteri, kolektor, dan lokal;

e)

Jaringan trayek angkutan penumpang dan


jaringan lintas angkutan barang.

B.

Fasilitas Jalan Raya, terdiri dari:


a. Trotoar/Pedistrian
Pedoman bagi fasilitas-fasilitas pejalan kaki harus
dapat sama-sama diterapkan pada sistem jalan.
Jadi, pergerakan-pergerakan pejalan kaki yang lazim
berlangsung dalam suatu kawasan yang lebih luas
dari koridor jalan (SNI. 03-2443-1991; Permen PU
No. 30/PRT/M/2006). Dimana sistem pejalan kaki
bersilangan dengan sistem sirkulasi kendaraan
bermotor, ada beberapa cara untuk melindungi para
pejalan kaki:
a)

Dapat

disediakan

tempat

penyeberangan

pejalan kaki, seperti zebra cross;


b)

Dapat

disediakan

tempat

penyeberangan

pejalan kaki yang terintegrasi dengan sistem


lampu lalu lintas;
c)

Tempat perlindungan pejalan kaki;

b. Persimpangan (IHCM 1992)


a)

Persimpangan

dirancang

berdasarkan

pertimbangan teknis :
(a) Tingkat antrian dan tundaan;
(b) Penggunaan lahan;
(c) Manajemen lalu lintas.
b)

Persimpangan

dirancang

berdasarkan

pertimbangan sosial budaya


(a) Sebagai tempat pertemuan sosial;
(b) Keterkaitan

dengan

adapt

istiadat

setempat;
c)

Persimpangan dirancang memperhatikan


unsur estetika/citra kawasan
(a) Jalur hijau;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 67

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(b) Taman.
d)

Persimpangan dirancang menurut bentuk


pengendalian :
(a) Sebidang (sistem rambu, pulau
jalan);
(b) Tak sebidang (jembatan/fly over).

c. Parkir
Pada umumnya beberapa tempat parkir di jalan dan
di luar jalan harus disediakan untuk jalan dalam
banyak tata letak. Penyediaan tempat parkir harus
ditentukan

sebagai

sebuah

komponen

dari

rancangan jalan kendaraan untuk menjamin bahwa


parkir yang akan datang tidak mempunyai dampak
negative tempat - parkir di luar jalan yang diletakkan
baik di belakang atau di pusat suatu tempat dan
tidak di bagian jalan. Meskipun demikian, untuk
keadaan tertentu seperti jalur belanja komersial,
tempat parkir di depan jalan mungkin tidak
terhindarkan. Tempat parkir di depan jalan harus
dimasukkan sebagai komponen dari rancangan jalan
dan merupakan bagian dari tempat masyarakat.
d. Terminal
Meliputi rencana :
a)

Penata lokasian terminal penumpang dan


barang;

b)

Penataan pergerakan kendaraan inter moda di


kawasan terminal; Berdasarkan Keputusan
Menteri Perhubungan No. 31/1995, terminal
penumpang berdasarkan fungsi pelayanannya
dibagi menjadi :
1)

Terminal penumpang tipe A, berfungsi


melayani

kendaraan

angkutan

antarkota

umum
dalam

untuk
propinsi,

angkutan kota dan angkutan pedesaan;


2)

Terminal penumpang tipe B, berfungsi


melayani

kendaraan

angkutan

antarkota

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

umum
dalam

untuk
propinsi,

8 - 68

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

angkutan

kota

dan/atau

angkutan

pedesaan;
3)

Terminal penumpang tipe C, berfungsi


melayani

kendaraan

umum

untuk

angkutan pedesaan. Penentuan lokasi


terminal

penumpang

harus

memperhatikan:
Rencana kebutuhan lokasi simpul
yang merupakan bagian dari rencana
umum jaringan transportasi jalan;
Rencana umum tata ruang;
Kepadatan lalu lintas dan kapasitas
jalan di sekitar terminal.
Keterpaduan moda transportasi : intra
maupun antar moda;
Kondisi topografi, lokasi terminal;
Kelestarian lingkungan.
Persyaratan lokasi pembangunan terminal
1) Luas Terminal Penumpang
Untuk masing-masing type terminal
memiliki luas berbeda, tergantung
wilayah dan type nya dengan
ketentuan ukuran minimal :
Untuk terminal tipe A di Pulau
Jawa dan Sumatera seluas 5 Ha
dan di pulau lainnya seluas 3 Ha;
Untuk terminal penumpang tipe B
di Pulau Jawa 3 Ha dan di pulau
lainnya 2 Ha;
Untuk terminal penumpang tipe C
tergantung kebutuhan.
2) Akses
Akses jalan masuk dari jalan umum ke
terminal berjarak minimal

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 69

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Untuk terminal tipe A di Pulau


Jawa 100 m dan di pulau lainnya
seluas 50 m;
Untuk terminal penumpang tipe B
di Pulau Jawa 50 m dan di pulau
lainnya 30 m;
Untuk terminal penumpang tipe C
sesuai dengan kebutuhan.
C.

Jalan Kereta Api, terdiri dari:


Jaringan

pelayanan

angkutan

kereta

api

diselenggarakan secara terpadu dalam satu kesatuan


yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem
transportasi secara keseluruhan.
a. Prinsip
Di dalam ketentuan ini jalan rel mempunyai skala
dimensi ruang yaitu :
a)

Daerah manfaat jalan kereta api adalah jalan


rel beserta tanah dikiri dan kanannya yang
dipergunakan untuk konstruksi jalan rel;

b)

Daerah milik jalan kereta api yaitu daerah


manfaat jalan kereta api beserta tanah dikiri
dan kanannya yang dipergunakan untuk
pengamanan konstruksi jalan rel;

c)

Daerah pengawasan jalan kereta api yaitu


daerah milik jalan kereta api beserta tanah dikiri
dan kanannya yang dipergunakan untuk
pengamanan dan kelancaran operasional
kereta api;

b. Kriteria
Prasyarat penataan jalan rel yang masuk kedalam
pusat permukiman, adalah dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
a)

Keterpaduan dengan lingkungannya


Jalan rel mempunyai keterikatan dengan lahan
dan pola pengembangan kawasan. Jalan rel
harus jauh dari pusat-pusat keramaian, disisi
lain bila masuk ke pusat permukiman harus

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 70

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

pula terpadu dengan jalan raya dengan


memperhatikan aspek keamanan dan karakter
budaya penduduk dalam bertransportasi.
b)

Jalan rel dapat memberikan sumbangan postif


kepada corak lokasinya
Jalan rel seharusnya dapat menyenangkan
secara estetis, juga menentukan corak lokal
suatu kawasan.

c)

Jalan rel hendaknya dapat memperbaiki


kualitas lanskap dan sistem ekologi.
Ekosistem

harus

dapat

menjadi

kriteria

pembangunan jalan rel, agar ongkos untuk


melaksanakan tindakan-tindakan

perbaikan

setelah konstruksi tidak lebih besar ketimbang


ongkos mengimplementasikan desain yan tepat
dalam tahap konstruksi.
c. Komponen rencana :
a)

Penataan jalan rel


(a) Pengaturan dan penataan peruntukan
lahan pada bagian milik jalan rel;
(b) Penataan fasilitas dan perabot jalan rel;
(c) Sistem jaringan angkutan kereta api,
jaringan jalan raya, angkutan air dan
udara.

b)

Penataan Stasiun
Penataan lokasi stasiun penumpang harus
memperhatikan:
(a) Rencana umum tata ruang;
(b) Berada pada jaringan primer atau arteri
sekunder;
(c) Kepadatan lalu lintas dan kapasitas jalan
di sekitar stasiun;
(d) Keterpaduan moda transportasi baik: intra
maupun antar moda;
(e) Kondisi topografi lokasi terminal;
(f)

Kelestarian lingkungan: fasilitas ruang


terbuka (pedestrian, parkir).

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 71

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

D.

Angkutan air (laut, sungai, danau), terdiri dari:


a. Tujuan
Kegiatan angkutan dengan menggunakan kapal
yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, anjir,
kanal dan terusan untuk mengangkut penumpang,
barang dan/atau hewan, yang diselenggarakan oleh
perusahaan angkutan laut, sungai dan danau.
b. Kriteria
Kriteria perancangan fasilitas dan rute angkutan :
a. Keamanan dan kenyamanan pelabuhan serta
dermaga;
b. Kelengkapan prasarana dan sarana pendukung;
c. Adanya interaksi moda angkutan;
d. Frekuensi dan jadwal pelayaran;
e. Rambu dan petunjuk pelayaran.
c. Komponen yang diatur
Komponen yang diatur dalam angkutan laut, sungai,
danau, waduk, rawa, anjir, kanal dan terusan adalah
a) Penata lokasian pelabuhan dan dermaga;
b) Penata

lokasian

prasarana

dan

sarana

pendukung;
c) Penataan pergerakan kendaraan antar moda di
kawasan pelabuhan atau dermaga;
d) Jalur pelayaran laut, sungai, danau dan
penyeberangan.
E.

Angkutan udara, terdiri dari:


a. Tujuan
Kegiatan angkutan dengan menggunakan pesawat
yang dilakukan di udara untuk mengangkut
penumpang dan barang yang diselenggarakan oleh
perusahaan angkutan udara.
b. Kriteria
Kriteria perancangan fasilitas dan rute angkutan :
a) Keamanan dan kenyamanan bandar udara.
b) Jalur keamanan penerbangan (KKOP).
c) Kelengkapan prasarana dan sarana pendukung
(parkir, bongkar muat, gudang, dll).

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 72

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d) Adanya interaksi moda angkutan.


e) Frekuensi dan jadwal pelayaran.
f) Rambu dan petunjuk penerbangan
c. Komponen yang diatur :
Komponen yang diatur dalam angkutan udara
adalah :
a) Penata lokasian bandar udara.
b) Penata

lokasian

prasarana

dan

sarana

pendukung.
c) Penataan pergerakan kendaraan antar moda di
kawasan bandar udara, termasuk jalan akses.
d) Pengaturan jalur penerbangan.
e) Parkir
8.6.1.3. Rencana Sistem Jaringan Utilitas
Rencana sistem jaringan utilitas meliputi materi yang direncanakan
dan materi yang diatur. Materi yang diatur meliputi semua sistem
jaringan makro/pengumpul, dan sistem jaringan sekunder (jalur
distribusi); sedangkan materi yang direncanakan meliputi jaringan
distribusi ke konsumen/blok peruntukan. (SNI. 03-2850-1992).
1. Tujuan
Struktur pelayanan jaringan utilitas merupakan komponen
perencanaan yang bertujuan mendistribusikan jenis pelayanan
jaringan dan sarana utilitas ke suluruh kawasan dan sub
kawasan secara berjenjang, sehingga tercipta kualitas hunian
dan kehidupan yang baik dan produktif.
2. Materi yang diatur
Sistem jaringan utilitas dalam kawasan disesuaikan dengan
sistem jaringan makro, sedangkan pada sistem jaringan distribusi
ke konsumen diatur menurut dimensi, kapasitas dan intensitas
sesuai dengan daya dukung penduduk, morfologi kawasan,
kondisi fisik lahan, sosial ekonomi, dan pola jaringan utilitas
hingga akhir tahun perencanaan.
3. Kedalaman materi yang diatur
Pelayanan jaringan utilitas dirinci sampai pengukuran pola dan
sistem jaringan, kapasitas dan intensitas pelayanan jaringan
utilitas yang meliputi :

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 73

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

a. Sistem jaringan air minum (hingga jaringan distribusi


sekunder/per blok peruntukan);
b. Sistem jaringan listrik (tegangan menengah hingga gardu
distribusi);
c. Sistem jaringan gas;
d. Sistem jaringan drainase;
e. Sistem jaringan air limbah;
f. Sistem jaringan persampahan (hingga TPS komunal).
4. Kriteria materi yang diatur
Prinsip-prinsip penataan sistem prasarana dan utilitas lingkungan
yang diatur :
a. Secara Fungsional, meliputi:
a)

Kebutuhan
Penetapan sistem prasarana dan utilitas yang tepat
sesuai dengan tipe penataan lingkungan

yang

ditetapkan pada kawasan perencanaan.


b)

Kualitas dan taraf hidup masyarakat


Penetapan sistem yang dapat mencapai kualitas
lingkungan yang layak huni baik dari segi keamanan,
keselamatan maupun kesehatan (higienitas), sekaligus
dapat mendorong penciptaan kualitas hidup dan
kenyamanan warga.

c)

Keterpaduan antar komponen


(a) Integrasi berbagai elemen utilitas dalam satu ruang
kontrol secara bersamaan akan memudahkan
pembangunan dan pengontrolan;
(b) Penciptaan suatu sistem yang terpadu dan terkait
dengan

sistem

dan

kapasitas

prasarana/

infrastruktur wilayah/ kawasan secara lebih luas.


b. Secara Fisik, meliputi:
a)

Penataan elemen prasarana dan utilitas diselesaikan


dengan mempertimbangkan aspek estetika baik pada
bagian dari perabot jalan, public art, maupun elemen
lansekap.

b)

Penempatan elemen utilitas yang terlihat dari ruang luar


atau di muka tanah diupayakan menjadi bagian dari

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 74

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

elemen wajah kawasan atau wajah jalan dan dikaitkan


dengan pembentukan karakter khas.
c. Secara Lingkungan, meliputi:
a)

Lingkungan yang berlanjut


Penetapan sistem yang sekaligus menerapkan proses
daur ulang untuk mewujudkan keberlanjutan sistem
ekologis, khususnya pada sistem persampahan dan air
limbah.

b)

Keseimbangan jangka waktu pembangunan


Penetapan

sistem

pelaksanaan

konstruksi/pembangunan yang berimbang dan bertahap.


c)

Keseimbangan daya dukung lingkungan


Penetapan keseimbangan antara kebutuhan dan daya
dukung lingkungan secara lebih luas.

5. Pengelompokan materi yang diatur


A. Kegiatan Penyediaan dan Pengelolaan Air Minum
a.

Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan air minum penduduk dalam
mencapai ruang hidup yang sehat dan produktif.

b.

Prinsip :
Kebutuhan air minum suatu kawasan/desa, didasarkan
pada besamya jumlah penduduk yang akan dilayani
dikalikan dengan tingkat kebutuhan air per kapita. (UU
No.7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air; PP No.16
Tahun 2005 Tentang Pengembangan SPAM). Untuk
daerah perkotaan/kawasan tertentu kebutuhan air bersih
harus

mempertimbangkan

kebutuhan

domestik

(pemukiman) non-domestik (kawasan fungsional non


pemukiman), seperti untuk : sosial, komersial, industri,
dan sektor lain serta kehilangan air. Standar kebutuhan
per orang per hari di Indonesia adalah 60 liter, 90 liter,
120 liter. Asumsi kebutuhan untuk domestik sebesar lO
% dan non domestik 20% dan kepasitas kebutuhan
suatu daerah/kota, tingkat kebocoran 20%. Tingkat
pelayanan = 10% -100%. Perencanaan kebutuhan air
minum meliputi kegiatan penyediaan air minum
perkotaan dan penyediaan air minum perdesaan dapat

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 75

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

disediakan oleh Pemerintah Daerah melalui PDAM, dan


swasta atau swadaya masyarakat ( SNI : AB-K/RERI/TC/011/98

AB-K/RE-RI/TC/008/98.

AB-

K/RERI/TC/010/98).
c.

Komponen yang diatur:


(a) Kegiatan Penyediaan Air Minum Perkotaan
Kegiatan penyediaan dan pengelolaan air minum
di daerah perkotaan , meliputi beberapa hal yaitu :
(b) Peningkatan dan perluasan prasarana air bersih
dengan sistem perpipaan dan sistem non
perpipaan;
(c) Peningkatan pemanfaatan kapasitas produksi yang
telah terpasang, melalui perluasan :
-

Jaringan distribusi

Sambungan rumah

Hidran umum

Terminal

Peningkatan

kapasitas

produksi

sistem

terpasang, dan
-

Pengembangan sistem distribusi baru


(a) Peningkatan efisiensi pengelolaan dan
penguasaan PDAM;
(b) Penataan lokasi bangunan pengelolaan
dan distribusi;
(c) Pengembangan sistem perpipaan bagi
kawasan.

(d) Kegiatan Penyediaan dan Pengelolaan Air Minum


Perdesaan
(a) Peningkatan penyediaan jumlah sarana
produksi dan mengoptimalkan pemantaatan
sarana produksi yang sudah ada;
(b) Pengembangan

sistem

perpipaan

bagi

wilayah perdesaan;
(c) Pengembangan penerapan teknologi tepat
guna termasuk pemanfaatan tenaga air,
surya dan angin.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 76

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(d) Peningkatan swadaya masyarakat desa


dalam penyediaan dan pengelolaan air
bersih.
(e) Pengupayaan penyediaan secara komunal
untuk menjaga kualitas air tanah.
(f)

Peningkatan penyuluhan tentang pentingnya


air bersih bagi kesehatan masyarakat.

(e) Pengendalian Sistem Penyediaan Air Minum


(a) Sistem Penyediaan Air Minum, adalah suatu
sistem supplai air bersih yang meliputi sistem
-

Pengambilan air baku,

Proses pengolahan air baku,

Reservoir,

Transmisi air baku,

Transmisi dan distribusi air bersih, serta

Pelayanan

pelanggan

(sambungan

rumah dan hidran umum).


Sistem penyediaan air minum terdiri dari : unit
produksi, unit perpipaan, dan pelayanan
kepada pelanggan, di tata dan dirancang.
(b) Unit Produksi adalah unit bangunan yang
mengolah jenis-jenis sumber air menjadi air
bersih,

teknik

pengolahan

disesuaikan

dengan jenis-jenis sumber air yang ada.


Teknik pengolahan sendiri ada 2 (dua), yaitu
pengolahan tidak lengkap dan pengolahan
lengkap.
Mata Air :
Sistem pengolahan tidak lengkap dengan
cara Filtrasi dan pembubuhan disinfektan.
Sumur Dangkal/dalam
Sistem pengolahan tidak lengkap , yaitu :
pengolahan besi, mangan dan pembubuhan
disinfektan.
Air Sungai :
Sistem

pengolahan

lengkap,

umumnya

dengan cara proses koagulasi, flokulasi,

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 77

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

sedimentasi,

aerasi,

penyaringan

dan

pembubuhan desinfektan.
Air Danau/Telaga :
Pengolahan lengkap bila kekeruhan-nya > 50
NTU, dan pengolahan tidak lengkap bila
kekeruhannya < 50 NTU.
(c) Unit Perpipaan
Terdiri dari jaringan pipa transmisi dan
distribusi termasuk perlengkapannya, antara
lain : kutub, jembatan, pipa, sambungan
pelayanan, meteran, distribusi termasuk
perpompaannya.
B. Prasarana Drainase
a. Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan sistem prasarana yanq
berfungsi rnenqalirkan air permukaan ke badan air
penerima atau bendungan resapan buatan, dalam
mencapai ruang hidup yang sehat dan produktif.
b. Prinsip
a)

Drainase Perkotaan. adalah drainase di wilayah


kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air
permukaan,

sehingga

tidak

mengganggu

masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi


kegiatan kehidupan manusia;
b)

Sistem Drainase Utama, adalah sistem drainase


perkotaan yang melayani kepentingan sebagian
besar warga masyarakat perkotaan yang melayani
kepentingannya yang berfungsi menerima aliran
drainase sistem lokal untuk dibawa ke badan air
penerima.

c. Komponen yang diatur :


Penanganan pada sistem drainase ini (SNI : 02-24061991,SNI: 03-3424-1994) :
a)

Sistem Drainase Lokal, adalah sistem drainase


perkotaan yang melayani kepentingan sebagian
kecil warga masyarakat atau yang melayani
kepentingan sebagian kecil masyarakat atau

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 78

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

jaringan saluran dan perlengkapannya yang


berfungsi mengumpulkan air hujan yang jatuh pada
suatu kawasan/areal tertentu (daerah permukiman,
perdagangan, industri, dll) yang akan dibawa ke
sistem utama;
b)

Sistem Drainase Terpisah, adalah sistem drainase


yang mempunyai jaringan saluran pembuangan
yang terpisah dengan air permukaan atau air
limbah;

c)

Sistem Drainase

Gabungan,

adalah sistem

drainase yang mempunyai jaringan saluran


pembuangan

yang

sama,

baik

untuk

air

permukaan maupun air limbah yang diolah.


Penanganan pada sistem jaringan drainase ini:
Saluran primer, melalui program kali bersih,
normalisasi dan perawatan lainnya;
Saluran sekunder, saluran teknis dengan
berbagai dimensi yang mengikuti sistem
jaringan jalan baik on atau off run;
Waduk

penampungan,

dapat

berupa

waduk/pond pengumpulan untuk pengendalian


kawasan padat, kawasan pembangunan baru;
juga dapat berupa sumur resapan untuk skala
lingkungan dan perumahan.
C. Prasarana Air Limbah
a. Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan sistem prasarana yanq
berfungsi rnenqalirkan adalah air limbah domestik (air
limbah rumah tangga) yang berasal dari perumahan dan
permukiman, dalam mencapai ruang hidup yang sehat
dan produktif.
b. Prinsip
Untuk mengembangkan pengelolaan air limbah sesuai
dengan kondisi wilayah diperlukan :
-

Perangkat

Lunak,

seperti

periundang-undangan,

pedoman, petunjuk teknis dan standar-standar;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 79

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Kelembagaan. yaitu keberadaan lembaga pengelolaan


lengkap dengan sumberdaya manusia yang trampil;

Perangkat Keras, yaitu peralatan dan bangunan,


seperti:

Truk

tinja

(Vacuum

Truck),

Instansi

Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), saluran air limbah,


dan Instansi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
c. Kriteria
a) Integral (menyeluruh dan terpadu) ;
b) Efektif (mangkus, tepat guna) ;
c) Efisien (sangkil, berdaya guna) ;
d) Affordable (terjangkau oleh masyarakat) ;
e) Sustainable (berkelanjutan, beroperasi secara terus
menerus);
f) Partnership (kemitraan antara pemerintah dengan
masyarakat, swasta dan dunia usaha).
d. Komponen yang diatur
Air limbah domestik ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
jenis, yaitu :
a) Black Water, yaitu air limbah manusia (human waste)
yang berasal dari toilet/jamban;
b) Gray Water, yaitu air buangan rumah tangga yang
berasal dari kamar mandi, dapur, dan tempat cuci
(sullage).
Penanganan air limbah di perumahan dan permukiman
pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat
sendiri, sedangkan sarana penunjangnya dapat dibantu
atau disediakan oleh pemerintah daerah, baik dengan
atau tanpa bantuan pemerintah pusat maupun kerja sama
dengan sektor swasta.
a) Teknologi/Sistem Sanitasi
Secara teknis ada beberapa jenis pembuangan limbah
domestik ini. Secara umum sistem pembuangan ini
dapat digolongkan menjadi, setempat (on-site) atau
bukan setempat (off-site), basah atau kering. Sistem
setempat membuang limbah pada lokasi rurnah.
Sistem bukan setempat mencakup pengumpulan oleh
truk, pipa, atau saluran untuk pengelolaan dan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 80

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

pembuangan

di

tempat

lain.

Sistem

basah

memerlukan air untuk pengeluaran, sistem kering tidak


perlu air (lihat SNI 19-6410-2000 ; SIN 03-6368-2000.
b) Pembuangan Air Limbah Sistem Setempat
Pembuangan air limbah sistem setempat. (on-site).
dalam praktek sehari-hari dapat dilakukan dengan :
(a) Individual oleh masinq-masing keluarga pada
setiap rumah;
(b) Komunal. secara bersarna-sama oleh beberapa
keluarga, yang biasanya berupa jamban jamak,
MCK, atau tangki septik komunal.
D. Prasarana Persampahan
a. Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan sistem prasarana yanq
berfungsi rnenqalirkan adalah air limbah domestik (air
limbah rumah tangga) yang berasal dari perumahan dan
permukiman, dalam mencapai ruang hidup yang sehat
dan produktif.
b. Prinsip
Sampah dapat dibagi dalam kategori, yaitu (1) Sampan
perkotaan adalah sampah non B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun), (2) Sistem pengolahan sampah adalah suatu
kegiatan penanganan sampah yang ditinjau dari beberapa
aspek terkait seperti : institusi, teknik operasional,
pembiayaan, pengaturan dan peran serta masyarakat, (3)
lingkup program peningkatan pengelolaan sampah adalah
peningkatan

manajemen,

peningkatan

pengelolaan

sampah (3 R : Reduce, Reuse, Recycle) dan peningkatan


kualitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (SNI 03-32411994, SNI 03-3242-1994, SNI 19-2454-2002, SNI 193983-1995 ).
c. Kriteria
Kriteria Skala Penanganan Sampah
a) Skala individu
-

Pewadahan (bin plastik 40 liter, kantong plastik);

Pemisahan sampah disumber;

Pengolahan setempat (comoster, vermi compost).

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 81

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

b) Skala lingkungan/kawasan
-

Pewadahan;

Pengumpulan (gerobak/TPS);

Pemindahan (Transfer depo);

UDKP (kompos & daur ulang, kapasitas 15


m3/hari);

Incenerator (kapasitas 250 kg/jam);

Vermi compost.

d. Komponen yang diatur


Kegiatan yang diatur :
a) Perumahan (mewah, menengah, rendah/kumuh);
b) Fasilitas komersial (toko, hotel, pasar bioskop,
restoran dll);
c) Fasilitas umum (kantor pos, pos polisi, dll);
d) Fasilitas sosial (masjid, gereja, sekolah, fasilitas
kesehatan dll).
E. Prasarana Kelistrikan
a. Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan sistem prasarana yanq
berfungsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam kaitannya
dengan kegiatan pengembangan/ pembangunan daerah.
b. Prinsip
Dalam perannya sebagai penyedia kebutuhan energi
listrik didukung dengan suatu sistem penyediaan dan
pendistribusian listrik yang meliputi : tenaga pembangkit,
sistem jaringan, dan komponen prasarana kelistrikan.
c. Kriteria
Sistem jaringan listrik dibagi menjadi :
1)

Kelompok jaringan listrik dengan kategori bangunan


gedung, banyak (superblok), yang kawasan niaga,
kawasan industry umumnya padat beban, yaitu 20
MVA setiap 5 Ha;

2)

Kelompok jaringan listrik yang meliputi perumahan


tidak bertingkat termasuk daerah periksaan dengan
padat beban 5.000 W tiap 600 m2 Komponen

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 82

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

prasarana listrik meliputi bangunan pembangkit


sampai pada komponen rumah (SR) yang terdiri dari
-

Gardu Induk Tegangan Tinggi 170/70 KV;

Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM);

Gardu Distribusi -Saluran Udara Tegangan


Rendah (SUTR);

Gardu Tiang/Beton -Sambungan Rumah (SR).

d. Komponen yang diatur


Untuk mengetahui kebutuhan listrik di masa mendatang di
suatu kawasan diperlukan asumsi-asumsi sebagai dasar
perkiraan. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai
berikut :
(a) Katagori Domestik (daerah perumahan);
(b) Katagori

Non-Domestik

(industri,

perkantoran,

penerangan jalan umum, dan fungsional lainnya);


Kebutuhan (awal/standar) domestik, akan dibedakan
menurut tipe rumah, yaitu sebagai berikut:
-

Tipe rumah mewah 1 bagian (diasumsikan 220 VA);

Tipe rumah menengah 3 bagian (diasumsikan 1300


VA);

Tipe rumah sederhana 6 bagian dan pemukiman


yang sudah ada 1 bagian (diasumsikan 900 VA dan
450 VA).

F. Prasarana Telekomunikasi
a. Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan sistem prasarana komunikais
yanq berfungsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam
kaitannya

dengan

kegiatan

pengembangan/

pembangunan daerah.
b. Prinsip
1)

Prioritaskan pada pengembangan jaringan telepon


yang sudah ada;

2)

Rencana pengembangan diarahkan ke kawasan


perkotaan;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 83

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

3)

Lokasi penempatan telepon umum diarahkan pada


pusat-pusat

lingkungan,

pusat-pusat

bagian

kawasan serta di pusat kawasan;


4)

Disesuaikan dengan asumsi jumlah penduduk serta


kebutuhan,

sedangkan

pemasangan

jaringan

telepon, sebaiknya mengikuti jaringan jalan;


5)

Diperlukan sistem perencanaan jaringan telepon


yang terintegrasi atau terpadu.

c. Kriteria
Di

dalam

rencana

dan

pengembangan

sistem

telekomunikasi akan menggunakan kriteria, standar, dan


asumsi-asumsi dalam

setiap perhitungan (analisis

kuantitatif) kebutuhan pelayanan telekomunikasi.


d. Komponen yang diatur
1)

Pembangunan Telepon
Pembangunan atau pun pengembangan prasarana
komunikasi meliputi pengaturan dan penataan :

2)

Satuan sambungan terpasang rumah tangga

Satuan sambungan terpasang industri

Satuan sambungan terpasang komersial

Jaringan

Pembangunan Menara Telekomunikasi


Pola penyebaran titik lokasi menara telekomunikasi
dibagi dalam kawasan berdasarkan pola sifat
lingkungan, kepadatan bangunan dan bangunbangunan serta kepadatan jasa telekomunikasi yang
lokasi persebarannya ditetapkan dengan keputusan
Gubernur.

Dilarang

membangun

menara

telekomunikasi pada:

Lokasi

pada

peruntukkan

tanah

spesifik

perumahan kecuali pada peruntukkan tanah


perumahan renggang dengan ketentuan harus
dilengkapi

dengan

persyaratan

tidak

berkeberatan dari tetangga di sekitar menara dan


diketahui oleh lurah setempat;

Bangunan bertingkat yang menyediakan fasilitas


helipad;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 84

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Bangunan bersejarah dan cagar budaya.

G. Prasarana Gas
a. Tujuan
Memenuhi kebutuhan akan sistem prasarana gas yanq
berfungsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam kaitannya
dengan kegiatan pengembangan/ pembangunan daerah.
b. Prinsip
Tingkat pelayanan gas di suatu derah akan sangat
tergantung dari kemampuan penyediaan prasarana gas
yang di dalamnya mencakup sistem jaringan, komponen
prasarana,

dan

rencana/pengembangannya.

Dalam

merencanakan kebutuhan akan pelanggan gas maka


dapat menggunakan perkiraan yang telah dilakukan oleh
PT.

Pertamina

baik

untuk

memenuhi

kebutuhan

pelanggan domestik maupun non domestik. Lokasi


penempatan Pemasangan jaringan gas sebaiknya
dilakukan dengan mengikuti jaringan jalan utama untuk
memudahkan penyambungan.
c. Komponen yang diatur
a)

Sistem Jaringan Gas


Sistem jaringan gas dibagi menjadi 2 (dua) kelompok
sistem jaringan adalah :
a. Primer, yaitu : sistem jaringan utama yang
menghubungkan pabrik dengan depo-depo gas
b. Sekunder yaitu suatu sistem jaringan yang
menghubungkan

antara

depo

dengan

perumahan
b)

Komponen Prasarana Gas


Komponen

prasarana

gasadalah

komponen

bangunan fisik dalam sistem gas mulai dari


bangunan utama-rumah pusat distribusi pelanggan.
c)

Rencana Pengembangan
Di dalam rencana dan pengembangan sistem gas
akan menggunakan kriteria, standar, dan asumsiasumsi dalam setiap perhitungan (analisis kuantitatif)
kebutuhan pelayanan gas.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 85

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d)

Rencana Sistem Jaringan Gas


Untuk

rencana

sistem

jaringan

gas

harus

memprioritaskan pada pengembangan jaringan gas


yang sudah ada. Hal tersebut akan memudahkan
dalam mempredeksi sistem jaringan dan pola
pelayanan yang ada pada suatu kawasan.

8.6.1.4. Rencana Fasilitas Umum


a. Tujuan; mengatur kebutuhan distribusi, luas`lahan dan ukuran
fasilitas sosial ekonomi, yang diatur dalam struktur zona dan blok
dan sub blok peruntukan sehingga tercipta ruang yang aman,
nyaman, mudah, produktif dan berkelanjutan.
b. Materi yang diatur :
a)

Fasilitas sosial dan umum; meliputi pengembangan


kebutuhan fasilitas:
1)

Sosial : pendidikan, kesehatan, peribadatan, rekreasi,


lapangan olah raga, dll;

2)

Umum : pos keamanan, kantor pos, kantor polisi,


taman pemakaman, pos pemadam

3)
b)

kebakaran, dll.

Fasilitas ekonomi, pengembangan kebutuhan fasilitas


ekonomi:
1)

Pusat niaga; supermall, mall, grosir, pertokoan, toko,


pasar, warung;Pusat perkantoran.

2)

Fasilitas budaya, pengembangan kebutuhan fasilitas


budaya dikaitkan dengan seni budaya masyarakat dan
cagar budaya, dan peninggalan bersejarah.

c)

d)

Bangunan bersejarah;
1)

Kampung budaya;

2)

Ruang dan bangunan pertujukan.

Ruang terbuka hijau, yaitu meneliti kebutuhan ruang


terbuka hijau dengan memperhatikan daya dukung
penduduk, potensi lahan, tingkat polusi kawasan dan
gangguan lingkungan, tingkat kepadatan bangunan, serta
kemungkinan

cara

pengadaan,

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

pemanfaatan

dan

8 - 86

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

pengelolaannya. Kebutuhan ruang terbuka hijau menurut


tingkat dan fungsi pelayanan:
1)

Ruang terbuka hijau dengan binaan (Pemakaman,


Lapangan Olah raga, perkebunan, pertanian, dll);

2)

Ruang terbuka hijau alami (sempadan sungai, hutan


lindung, dll.).

e)

Ruang terbuka non hijau, yaitu meneliti kebutuhan ruang


terbuka non hijau dengan memperhatikan daya dukung
penduduk, potensi lahan, penggunaan lahan sekitar, tingkat
kepadatan bangunan, serta kemungkinan cara pengadaan,
pemanfaatan dan pengelolaannya. Kebutuhan ruang
terbuka non hijau menurut tingkat dan fungsi pelayanan:
1)

Skala; Lingkungan, kelurahan, kecamatan, kabupaten


(sesui zona rencana);

2)

Unsur yang perlu diperhatikan; sosial budaya,


ekologis, arsitektur/estetika, ekonomi;

3)

Jenis fasilitas; Plasa, parker, lapangan olah raga (out


door), taman bermain, trotoar, median.

c. Kedalaman
Pelayanan fasilitas umum dirinci sampai pemenuhan kebutuhan
dan daya jangkau maksimal dalam pelayanan fasilitas umum
sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya.

Sistem pelayanan fasilitas umum

Maksimal jangkauan terhadap fasilitas umum

d. Kriteria yang diatur


Prinsip-prinsip penataan fasilitas umum yang diatur :
1)

Secara Fungsional, meliputi:


a)

Kebutuhan
Penetapan sistem layanan yang tepat sesuai dengan
tipe penataan lingkungan yang ditetapkan pada
kawasan perencanaan.

b)

Kualitas dan taraf hidup masyarakat


Penetapan sistem layanan fasilitas umum yang dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat,layak huni baik dari
segi keamanan, keselamatan maupun kesehatan
(higienitas), sekaligus dapat mendorong penciptaan
kualitas hidup dan kenyamanan warga.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 87

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c)

Keterpaduan antar komponen

d)

Integrasi berbagai elemen fasilitas umum dalam satu


ruang kontrol secara bersamaan akan memudahkan
pembangunan dan pengontrolan;

e)

Penciptaan suatu sistem yang terpadu dan terkait


dengan sistem dan kapasitas kebutuhan fasilitas
umum secara lebih luas.

2)

Secara Fisik, meliputi:


a)

Penataan elemen fasilitas umum diselesaikan dengan


mempertimbangkan aspek estetika baik pada bagian
dari perabot jalan, public art, maupun elemen
lansekap.

b)

Penempatan elemen fasilitas umum yang menjadi


bagian dari elemen wajah kawasan.

3)

Secara Lingkungan, meliputi:


a)

Lingkungan yang berlanjut


Penetapan sistem yang sekaligus menerapkan proses
layanan terhadap kebutuhan fasilitas umum.

b)

jangka waktu pembangunan


Penetapan

sistem

konstruksi/pembangunan

yang

pelaksanaan
berimbang

dan

bertahap.
c)

Keseimbangan daya dukung lingkungan


Penetapan keseimbangan antara kebutuhan dan daya
dukung lingkungan secara lebih luas.

8.6.1.5. Rencana Peruntukan Blok


Muatan peruntukan blok dituangkan dalam bentuk rencana
peruntukan, dan dirinci menurut blok-blok perencanaan. Rencana
peruntukan tersebut merupakan peruntukan umum, oleh karena itu
disebut sebagai zoning plan (rencana kegiatan fungsional).
1. Tujuan
Mengatur komponen kegiatan ruang dalam kesatuan unit-unit
lingkungan, secara serasi, hormonis, seimbang, aman, nyaman
lagi produktif.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 88

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

2. Materi yang diatur


Pengaturan kegiatan fungsional dalam kawasan fungsional
binaan dan kawasan fungsional alami/perlindungan setempat
baik yang terletak dalam zona utama, zona pendukung, atau
zona pelengkap, termasuk penataan serta pengaturan kegiatan
fungsional pada kawasan transisi antara kawasan utama dan
pendukung, kawasan pendukung dan pelengkap, atau kawasan
utama dengan kawasan pelengkap (mengikuti konsep struktur
ruangnya).
3. Kedalaman materi yang diatur
Mengatur intensitas dan luas lahan kegiatan sosial, ekonomi,
prasarana dan sarana umum dalam kawasan fungsional binaan,
dan kegiatan ruang terbuka dalam kawasan fungsional alami
yang terdistribusi secara rinci dalam blok-blok peruntukan.
4. Kriteria materi yang diatur
Pengaturan komponen kegiatan ruang dalam suatu unit
lingkungan atau blok perencanaan mengikuti kaidah-kaidah
sebagai berikut :
a. Fungsional, adalah:
a)

Terukur dan rinci; bertujuan untuk memudahkan


implementasi secara nyata.

b)

Spesifik; panduan detail perancangan tiap blok


pengembangan yang spesifik dan tepat.

c)

Menyeluruh;

yang mencakup seluruh komponen

rancangan kawasan
d)

Berkelanjutan (sustainable); penetapan panduan detail


yang dapat mendorong perwujudan kawasan yang
berlangsung secara berkelanjutan (sustainable).

b. Fisik, adalah:
a)

Estetika, karakter, dan citra kawasan

b)

Skala ruang yang manusiawi dan berorientasi pada


pejalan kaki serta aktivitas yang diwadahi

c. Lingkungan, adalah:
a)

Membentuk/memperkuat karakter dan identitas suatu


tempat;

b)

Mengaitkan dengan struktur ruang makro;

c)

Kemudahan pengendalian dan pengelolaan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 89

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d)

Kelestarian ekologis kawasan

5. Pengelompokan materi yang diatur


Pengaturan kelompok materi pola ruang terdiri kawasan
fungsional binaan meliputi : kawasan fungsional perumahan,
kawasan fungsional industri, kawasan fungsional pusat
pemerintahan, kawasan fungsional perdagangan dan jasa,
kawasan

fungsional

pertambangan,

kawasan

fungsional

pariwisata, sedangkan kawasan fungsional alami/perlindungan :


kawasan perlindungan setempat (Sempadan pantai, sungai,
waduk/danau, hutan kota), dan kawasan cagar alam (Cagar
budaya, Ilmu pengetahuan/Teknologi Tinggi).
A.

Kegiatan Perumahan
Lingkungan binaan yang berfungsi utama sebagai
lingkungan perumahan, yang dilengkapi berbagai sarana
dan prasarana daerah.
a. Tujuan penetapan peruntukan lahan perumahan
adalah :
a)

Menyediakan lahan untuk pengembangan hunian


dengan kepadatan yang bervariasi;

b)

Mengakomodasi bermacam tipe hunian dalam


rangka mendorong penyediaan hunian bagi semua
lapisan masyarakat;

c)

Merefleksikan pola-pola pengembangan yang


diingini masyarakat pada lingkungan-lingkungan
hunian yang ada dan untuk masa yang akan
datang.

b. Kriteria pengaturan :
a)

Pemanfaatan ruang pada lahan berskala besar di


kawasan perumahan (minimal 10 ha) dengan
penggunaan campuran (bangunan, prasarana dan
ruang terbuka) harus mengikuti ketentuan ruang
yang berlaku di kawasan perumahan.

b)

Pengembangan kawasan perumahan dibatasi


sesuai dengan standar dan kebutuhan ruang
perumahan;

c)

Komposisi kawasan perumahan dapat mengikuti


peraturan lokal, dalam hal tertentu nilai lahan dapat

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 90

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

mengecualikan pengelompokan perumahan dalam


kawasan.
d)

Luas kapling dan komposisi pemanfaatan lahan


kawasan perumahan, yaitu :
(a) Perumahan tipe besar, luas kapling minimal
400 M2. Komposisi penggunaan lahan
77,5%:5%:17,5%.
(b) Perumahan

tipe

sedang,

luas

kavling

menimal 200 M2. Komposisi penggunaan


lahan 73,5%:9%:17,5%.
(c) Perumahan tipe kecil, luas kavling menimal
90

M2.

Komposisi

penggunaan

lahan

69%:13,5%:17,5%.
c. Komponen yang diatur :
Tipe perumahan:
a)

Rumah renggang : Peruntukan lahan rumah


renggang ditujukan untuk pemanfaatan ruang unitunit perumahan tunggal dengan mengakomodasi
berbagai ukuran perpetakan serta mengupayakan
peningkatan kualitas lingkungan hunian;

b)

Rumah deret : Peruntukan lahan rumah deret


bertujuan menyediakan pembangunan perumahan
unit deret dalam perpetakan sedang dan kecil
dengan akses jalan lingkungan.

c)

Rumah susun : Peruntukan tanah wisma susun


bertujuan menyediakan pembangunan unit multihunian dengan kepadatan yang bervariasi.

Klasifikasi perancangan kawasan perumahan terbagi


atas 2 (dua) tipe, yaitu :
a)

Kawasan perumahan perkotaan;


(a) Memiliki kepadatan sangat tinggi sampai
rendah;
(b) Memiliki aksesibilitas lengkap (jaringan sistem
primer, tol, sekunder, dan lokal);
(c) Mempunyai hubungan fungsional yang erat
dengan prasarana dan sarana lingkungan;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 91

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(d) Tidak

menimbulkan

kualitas

negative

terhadap kualitas lingkungan dan kualitas


sumber daya air (alam sekitar);
(e) Memiliki pencahayaan matahari yang cukup
antar bangunan (sistem sirkulasi);
(f)

Harus terciptanya suasana hunian yang


aman, nyaman, sehat, dan produktif.

b)

Kawasan perumahan perdesaan;


(a) Memiliki

kawasan

perumahan

dengan

kepadatan bangunan rendah sampai sedang;


(b) Memiliki aksesibilitas cukup baik;
(c) Mempunyai hubungan fungsional yang erat
dengan prasarana dan sarana daerah,
(khususnya

dengan

kegiatan

pertanian,

perikanan, perkebunan,dll);
(d) Tidak

menimbulkan

kualitas

negative

terhadap kualitas lingkungan dan kualitas


sumber daya air;
(e) Harus terciptanya suasana hunian yang
aman, nyaman, sehat, dan produktif.
B.

Kegiatan Perdagangan dan Jasa :


Adalah peruntukan tanah yang merupakan bagian dari
kawasan budidaya difungsikan untuk pengembangan
kegiatan pelayanan pemerintahan, fasilitas umum, tempat
bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi.
a.

Tujuan:
a) Menyediakan lahan untuk menampung tenaga
kerja,

dalam

pertokoan,

wadah

jasa,

berupa

rekreasi

dan

perkantoran,
pelayanan

masyarakat, termasuk kebutuhan sektor informal;


b) Menyediakan ruang yang cukup bagi penempatan
kelengkapan dasar fisik berupa saranasarana
penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan
dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial,
dan

budaya

dapat

berfungsi

sebagaimana

mestinya;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 92

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c) Menyediakan ruang yang cukup bagi saranasarana

umum,

terutama

untuk

melayani

kegiatankegiatan produksi dan distribusi, yang


diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi daerah.
b.

Kriteria
a) Pengaturan kapling dengan ukuran minimum 75
M2 (untuk komersial) dan 1.000 M2 (untuk
bangunan pemerintahan).
b) Kepadatan bangunan untuk komersial maksimum
80 unit/ha, dan minimum 7 unit/ha untuk bangunan
pemerintah.
c) Menyediakan lahan parkir dengan minimum 10 %
dari luas kapling atau kawasan.
d) Menyediakan ruang terbuka hijau minimum 10 %
dari luas kawasan.
e) Menyediakan ruang terbuka non hijau; baik
berfungsi untuk kepentingan publik maupun
kepentingan

ekonomi

(seperti

perdagangan

informal;
f) Menyediakan jalur pejalan kaki dengan lebar
minimum 1,5 m.
g) Menyediakan ruang bagi sektor informal
c.

Komponen yang diatur


Penjabaran peruntukan lahan dasar perdagangan dan
jasa meliputi perkantoran, perdagangan dan jasa
tunggal / renggang, perdagangan dan jasa deret :
a) Penjabaran

peruntukan

perkantoran

meliputi

perkantoran pemerintah dan kantor swasta;


b) Penjabaran peruntukan lahan perdagangan dan
jasa tunggal meliputi perdagangan dan jasa
tunggal kecil, perdagangan dan jasa tunggal
sedang dan perdagangan dan jasa tunggal besar;
c) Penjabaran keterpaduan lokasi antara usaha
besar, sedang dan kecil, atau pengaturan lokasi
usaha

modern

dan

tradisional,

termasuk

didalamnya sektor informal;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 93

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d) Penjabaran usaha bagi sektor informal dapat


dialokasikan secara khusus seperti penggunaan
lahan bersama antara sektor informal dan sektor
formal pada penggunaan ruang publik dengan
pengaturan waktu yaitu siang penggunaan publik
sektor formal dan dimalam hari penggunaan ruang
untuk sektor informal
e) Penjabaran usaha tersebut (c) kedalam daya
dukung

penduduk,

daya

dukung

ekonomi

setempat, dan daya dukung lingkungan (termasuk


memiliki IPAL);
f) Penjabaran usaha perdagangan dan jasa kedalam
pengaturan tata bangunan dan lingkungan untuk
menciptakan

keserasian,

kenyamanan

dan

pembentukan karakter kawasan.


C.

Kegiatan Industri dan Pergudangan :


Adalah

peruntukan

tanah

yang

difungsikan

untuk

pengembangan kegiatan yang berhubungan dengan proses


produksi dan tempat penyimpanan bahan mentah dan
barang hasil produksi
a.

Tujuan:
a)

Menyediakan ruangan bagi kegiatan-kegiatan


produksi suatu barang yang mempunyai nilai
lebih untuk penggunaannya;

b)

Memberikan kemudahan pertumbuhan industri


baru dengan mengendalikan pemanfaatan ruang
lainnya, agar terBlorainya kualitas lingkungan.

b.

Kriteria:
a)

Pemanfaatan ruang pada lahan berskala besar di


kawasan industri (minimal 20 ha) dengan
penggunaan campuran (bangunan, prasarana
dan ruang terbuka) harus mengikuti ketentuan
ruang yang berlaku di kawasan industry;

b)

Komposisi penggunaan lahan untuk kawasan


industri adalah 70% untuk industri, 10% untuk
jaringan jalan, 10% fasilitas dan utilitas umum,
dan 10% ruang terbuka hijau;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 94

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c)

Kepadatan bagunan rendah, dengan maksimal


penggunaan lahan untuk industri : di dalam
kawasan (KDB) 50 %, dan di luar kawasan (KDB)
40% dari luas kawasan;

d)

Tinggi maksimum bangunan 4 lantai;

e)

Pengaturan kavling dengan ukuran minimum 900


M2;

f)

Memperbanyak jumlah tanaman di sekitar


kawasan industri untuk mengurangi gangguan
polusi udara;

g)

Jalan yang dibangun harus dapat menampung


beban dari muatan kendaraan berat (klasifikasi
jalan kelas A);

h)

Tersedianya ruang parkir yang cukup untuk


menaruh berbagai macam kendaraan;

i)

Tersedianya ruang untuk penyediaan fasilitas


(asrama, perumahan karyawan, dsb) bagi tenaga
kerja industri;

j)

Pengembangan

kawasan

industri

dibatasi

dengan ketentuan :
(a) Lokasi : industri dalam kawasan dan dan
diluar kawasan;
(b) Memberikan

dampak

perkembangan

terhadap lingkungan setempat;


(c) Memiliki akses yang tinggi dengan jaringan
jalan regional atau sekitar jalan regional
untuk menampung angkutan berat;
(d) Di luar kawasan perumahan penduduk dan
hutan lindung;
(e) Antara kawasan industri dengan kawasan
perumahan perlu dikembangkan suatu
kawasan penyangga (buffer zone);
(f)

Tidak

menimbulkan

dampak

negative

terhadap kualitas sumberdaya air;


(g) Memperhatikan frekuensi tiupan angin,
untuk menjaga dampak polusi udara tidak
menuju kawasan perumahan;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 95

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(h) Berdampak terhadap zero transportasi,


dengan menyediakan atau bekerjasama
untuk pengembangan perumahan bagi
pekerja;
(i)

Pengembangan industri terpadu dengan


pengembangan
dengan

permukiman

standar-standar

industri,
lingkungan,

prasarana, sarana outlet, dan sebagainya.


c.

Komponen yang diatur :


Penjabaran

peruntukan

lahan

industri

dan

pergudangan di atur sebagai berikut :


a)

Penjabaran peruntukan lahan industri meliputi


industri kecil, industri sedang dan industri besar

b)

Penjabaran peruntukan lahan pergudangan


meliputi pergudangan terbuka dan pergudangan
tertutup

c)

Penjabaran kegiatan industri dan pergudangan


sesuai, daya dukung ekonomi (sumber alam,
atau

pasar),

dan

fasilitas

pendukung

(aksessibilitas, air, tenaga kerja, perumahan,


pengolahan limbah).
d)

Penjabaran kegiatan industri dan pergudangan


sesuai

dengan

keamanan,

standar

kenyamanan

baku
dengan

lingkungan,
kegiatan

sekitarnya.
D.

Kegiatan Pariwisata
a. Jenis wisata
Kawasan wisata dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis
yaitu :
a) Kawasan Wisata Alam
Wisata alam adalah wisata yang lebih menonjolkan
panorama alam dan dilengkapi dengan penyediaan
jasa pelayanan, serta akomodasi. Wisata alam
dibedakan lagi menjadi dua macam yaitu wisata
pegunungan dan wisata bahari. Contoh:
(a) Tamana Nasional
(b) Taman Hutan Raya

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 96

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(c) Taman Wisata Alam


(d) Pantai dan terumbu karang
b) Kawasan Buatan
Wisata buatan dibedakan menjadi 2 (dua) macam
yaitu :
(a) Wisata sejarah dan budaya, adalah usaha yang
menyediakan

tempat

yang

mengandung

hiburan, pendidikan, dan kebudayaan, serta


dilengkapi dengan sarana dan prasarana
penunjang.
(b) Taman rekreasi, adalah suatau usaha yang
menyediakan tempat dan berbagai jenis
fasilitas untuk memberikan kesegaran jasmani
dan

rohani

yang

mengandung

hiburan

pendidikan, dan kebudayaan.


b. Kriteria :
a) Tidak konflik dengan kegiatan lain (perumahan
nelayan, petani rumput laut, dll)
b) Kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, dapat
menunjang kegiatan wisata setempat.
c) Ketersediaan infrastruktur yang cukup memadai.
d) Keterkaitan belakang dan depan (backward and
forward linkages) dari industri pariwisata.
e) Penyediaan perumahan dan pertunjukan atraksi
wisata.
f) Penyebaran ruang terbuka dan tata hijau.
g) Mempunyai ciri bangunan dan khas lingkungan.
h) Membatasi dengan ketat ketinggian bangunan dan
masa masiv bangunan.
i) Pengaturan kepadatan bagunan : wisata hutan
maksimal (KDB) 20 %, dan wisata lain (KDB)
maksimum 40% .
j) Tinggi maksimum bangunan 1 lantai, terkecuali pada
zona publik
k) Pengaturan kavling dengan ukuran sedang sampai
besar.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 97

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

l) Memperbanyak jumlah tanaman dan ruang terbuka


di sekitar kawasan wisata, dengan menyediakan
lahan minimal sebesar 20% dari luas kawasan.
m) Tersedia sistem jaringan yang lengkap, untuk
memenuhi jaringan wisata dan jaringan objek wisata.
n) Tersedianya ruang parkir yang cukup untuk menaruh
berbagai macam kendaraan.
c. Komponen yang diatur :
a) Zona Publik
Zona publik diperuntukkan bagi pengembangan
kegiatan wisata umum. Adapun kegiatan wisata
yang masuk adalah :
(a) Usaha sarana dan jasa wisata umum, seperti
akomodasi, restauran, balai budaya, studio
foto, wartel, internet, supermarket dan lain
sebagainya.
(b) Pengembangan

transportasi,

seperti

pengembangan tempat parkir dan jalur pejalan


kaki.
(c) Pengembangan aktivitas wisata bahari baik
aktivitas pantai maupun laut.
b) Zona Semi Publik
Zona

semi

publik

merupakan

zona

yang

diperuntukkan bagi kalangan tertentu, seperti


permukiman penduduk yang ada disekitar obyek
wisata.
c) Zona Privat
Zona privat umumnya merupakan suatu kawasan
yang

dikelola

oleh

pihak

tertentu,

dimana

pengembangan dalam zona ini diserahkan kepada


pengelola dengan memperhatikan peraturan yang
ada. Adapun kegiatan wisata yang ada di zona ini
dibagi menjadi dua, yaitu :
(a) Usaha sarana dan jasa wisata yang umumnya
meliputi

akomodasi

eksklusif,

restoran,

lapangan olahraga dan lainnya.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 98

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(b) Pengembangan aktivitas wisata bahari baik


aktivitas wisata pantai maupun laut, dimana
fasilitas penunjang setiap aktivitas disediakan
oleh pengelola.
d) Zona Penyangga
Zona penyangga setiap obyek wisata berfungsi
untuk menjaga kawasan wisata agar tetap alami dan
tidak mengalami kerusakan. Perubahan fungsi zona
ini bagi pembangunan usaha sarana dan jasa wisata
tidak diperbolehkan.
e) Zona Perbatasan
Zona perbatasan berada pada kawasan wisata yang
didalamnya terdapat obyek-obyek wisata yang
masuk dalam wilayah administrasi yang berbeda.
E.

Ruang Terbuka Hijau


a. Tujuan
Tujuan

untuk

meningkatkan
pengaman

mengembangkan
mutu

RTH

lingkungan

lingkungan

perkotaan,

ini

hidup,

untuk
sarana

menciptakan

keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan.


a) Penyediaan fasilitas fasilitas lingkungan yang
berkaitan dengan ruang terbuka;
b) Melestarikan/melindungi

lahan-lahan

sarana

daerah/lingkungan yang digunakan rekreasi di luar


bangunan;
c) Preservasi dan perlindungan lahan-lahan yang
rawan lingkungan hidup;
d) Pengamanan jaringan prasarana dan penyekatanpenyekatan

(buffer)

antara

fungsi-fungsi

pemanfaatan lahan yang saling mengganggu;


e) Pemanfaatan nilai ekonominya sebagai sarana
budidaya pertanian;
f) Memperbaiki iklim mikro dan pengatur tata air.
b. Prinsip-prinsip:
a) Memelihara keseimbangan ekosistem yang ada
dengan presentase ruang terbangun dan tidak
terbangun secara proposional;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 99

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

b) Pemeliharaan fungsi sosial dan rekreasi;


c) Pemeliharaan kualitas lingkungan secara estetis;
d) Menjaga keberadaan ruang terbuka dengan fungsi
konservasi bagi kawasan cagar budaya dan
kawasan lindung lainnya (sepanjang aliran sungai );
e) Memperbaiki kualitas ruang terbuka baik dari segi
estetis maupun fungsi lainnya sepanjang aliran
sungai/danau/pantai.
c. Kriteria
a) Pengembangan ruang terbuka hijau dalam petunjuk
operasional ini berdasarkan pada kriteria instruksi
Menteri Dalam Negeri No. 14/1998;
b) Kriteria umum untuk menciptakan ruang terbuka
hijau harus mengaitkan peruntukan fungsi dengan
kriteria vegetasi;
c) Kriteria peruntukan lahan ruang terbuka di atur
menurut unit lingkungan sebagai berikut :
(a) Tingkat lingkungan : perumahan, jalan, daerah
aliran sungai, pantai, dsb;
(b) Tingkat kawasan, lapangan olah raga, taman,
makam, dll;
(c) Tingkat daerah, lapangan olah raga, taman,
hutan, makam, dll.
d. Komponen yang diatur
Fasilitas lahan ruang terbuka meliputi ruang terbuka
binaan dan ruang terbuka alami :
a) Penjabaran peruntukan lahan ruang terbuka binaan
meliputi ruang terbuka olah raga dan rekreasi, ruang
terbuka taman dan ruang terbuka bermain (fasilitas);
b) Penjabaran peruntukan lahan ruang terbuka alami
meliputi ruang terbuka pertanian, ruang terbuka
sempadan

(pengaman)

dan

kebutuhan

ruang

ruang

terbuka

konservasi;
c) Penjabaran

terbuka

hijau

didasarkan pada daya dukung penduduk, kerapatan


bangunan, volume lalu lintas/tingkat polusi, dampak
penting, beserta coverage areanya;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 100

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d) Penjabaran

kebutuhan

ruang

terbuka

hijau

didasarkan pada daya dukung penduduk, kerapatan


bangunan, volume lalu lintas/tingkat polusi, dan
dampak penting.
F.

Ruang Terbuka Non Hijau


a. Tujuan
Tujuan untuk mengembangkan RTNH ini untuk
meningkatkan

mutu

menggambarkan

lingkungan

ekspresi

budaya

hidup,

yang

lokal,

media

komunikasi warga, tempat rekreasi, dan wadah dan


objek pendidikan, penelitian, pelatihan dalam mepelajari
alam.
b. Kriteria
a)

Ekologis
(a) Sistem sirkulasi udara dan air secara alami
dapat berlangsung lancar;
(b) Penyerap air hujan, sehingga mampu ikut
membantu mengatasi permasalahan banjir
dan kekeringan.

b)

Arsitektural/estetika
(a) Meningkatkan

kenyamanan,

dan

memperindah lingkungan;
(b) Menstimulasi kreativitas dan produktivitas
warga;
(c) Pembentukan faktor keindahan arsitektural;
(d) Menciptakan suasana serasi dan seimbang
antara area terbangun dan tidak terbangun.
c)

Ekonomis
(a) Memiliki nilai jual dari lahan yang tersedia.
(b) Ruan terbuka non hijau dapat diatur secara
dinamis

dan

ekonomis,

artinya

ada

pengaturan fungsi menurut waktu misalnya


pagi berfungsi untuk kepentingan publik, dan
sore dapat digunakan untuk usaha informal.
c. Komponen yang diatur
a)

Pada pekarangn bangunan


(a) Linkungan bangunan rumah

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 101

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Pekarangan besar (> 500 m2); ruang


terbuka non hijau maksimum didasarkan
pada perhitungan luas lahan (m2),
dikurangi luas dasar bangunan (m2)
sesuai KDB yang berlaku, dikurangi dasar
hijau (m2) sesuai KDH yang berlaku;

Pekarangan sedang (500m2 - 200 m2);


ruang terbuka non hijau maksimum
didasarkan pada perhitungan luas lahan
(m2), dikurangi luas dasar bangunan (m2)
sesuai KDB yang berlaku, dikurangi dasar
hijau (m2) sesuai KDH yang berlaku;

Pekarangan kecil (< 200 m2); ruang


terbuka non hijau maksimum didasarkan
pada perhitungan luas lahan (m2),
dikurangi luas dasar bangunan (m2)
sesuai KDB yang berlaku, dikurangi dasar
hijau (m2) sesuai KDH yang berlaku.

(b) Bangunan hunian bukan rumah


-

Seperti : Hotel, motel, apartemen, rusun,


maisonnette;

RTNH meliputi : parkir, sarana olah raga


(out door), sarana bermain, sarana
berkumpul.

(c) Bangunan pemerintahan, komersial, sosial


budaya, pendidikan, olah raga Berdasarkan
SNI No. 03-1733 tahun 2004 tentang Tata
Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di
Perkotaan.
b)

Pada skala lingkungan


(a) Rukun tetangga (RT)
Luas taman 1 m2 per penduduk RT, luas
minimal 250 m2, radius pelayanan 300 m.
(b) Rukun warga (RW)
Luas taman minimal 0,5 m2 per penduduk
RW, luas minimal 1.250 m2, radius pelayanan
1.000 m.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 102

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(c) Kelurahan
Luas taman minimal 0,5 m2 per penduduk
RW, luas minimal 1.250 m2, radius pelayanan
1.000 m.
(d) Kecamatan
Luas taman minimal 0,2 m2 per penduduk
kecamatan, luas minimal 24.000 m2, berada
menyatu

dengan

pusat

perkantoran

kecamatan.
(e) Kabupaten
-

Alun alun (Hall Plaza); diarahkan pada


pusat

komplek

pemerintahan

yang

memiliki fungsi utama untuk lapangan


upacara dan kegiatan massal seperti hari
proklamasi, acara rakyat, dan lain lain.
-

Plasa bangunan ibadah

Berdasarkan SNI No. 03-1733 tahun 2004


tentang

Tata

Cara

Perencanaan

Lingkungan Perumahan di Perkotaan.


-

Plasa monumen

Mempunyai
luasan

fungsi

dapat

arsitektur/estetika,

disesuaikan

dengan

kebutuhan setempat.
-

Bawah jalan layang/jembatan

Ruang perkerasan yang berfungsi sebagai


arsitektur/estetika,

dan

keamanan,

dengan luas dapat diatur setempat.


(f)

Fungsi tertentu
-

Pemakaman; tempat parkir dan jalur


sirkulasi, dengan luas dapat diatur
minimal 20% luas TPU.

Pembuangan sampah

Berdasarkan SNI No. 03-1733 tahun 2004 tentang


Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di
Perkotaan.
Lingkungan RW, 6 m2;
Kelurahan 8 m2;
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 103

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Kecamatan 12,5 m2.


8.6.1.6. Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan (Amplop Ruang)
a. Pengertian
Penataan Bangunan dan Lingkungan atau dikenal istilah Amplop
Ruang, merupakan hasil analisis daya dukung lahan, daya
tampung ruang dan kekuatan investasi serta ekonomi setempat,
memuat gambaran dasar penataan pada lahan kawasan
perencanaan yang selanjutnya dijabarkan dalam pengaturan
bangunan,

pengaturan

antar

bangunan,

dan

penataan

lingkungan fungsional, sehingga tercipta lingkungan hunian yang


harmonis, serasi, seimbang, aman dan nyaman.
b. Maksud dan Tujuan
a. Memberikan arahan pengaturan rancangan lingkungan
sehingga berdampak baik, terarah dan terukur terhadap suatu
kawasan yang direncanakan;
b. Mengintegrasikan

elemen-elemen

lingkungan

yang

berpengaruh pada suatu perencanaan kawasan;


c. Penguatan elemen-elemen lingkungan yang berkarakter dan
pelestarian setempat.
c. Komponen Yang Diatur
A. Tata kualitas lingkungan
a. Tujuan
Penataan Kualitas Lingkungan merujuk pada upaya
rekayasa elemen-elemen kawasan yang sedemikian rupa
sehingga tercipta suatu kawasan atau subarea dengan
sistem lingkungan yang informatif, berkarakter khas, dan
memiliki orientasi tertentu.
b. Komponen Penataan
a) Keseimbangan kawasan dengan linkungan sekitar;
b) Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan;
c) Pelestarian ekologis.
c. Kriteria Yang Diatur
a) Keseimbangan kawasan perencanaan dengan wilayah
sekitar;
b) Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan
melalui:
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 104

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(a) Penentuan

kepadatan

khusus

pada

kawasan/kondisi lingkungan tertentu seperti:


daerah bantaran sungai, daerah khusus resapan,
daerah konservasi hijau, atau pun daerah yang
memiliki kemiringan lahan lebih dari 25%;
(b) Penentuan kepadatan kawasan perencanaan
dengan

mempertimbangkan

daya

dukung

lingkungan, pelestarian ekosistem, namun tetap


dapat memperkuat karakter kawasan.
c) Pelestarian ekologis kawasan melalui:
(a) Penetapan ambang Intensitas Pemanfaatan
lahan secara merata (terutama KLB rata-rata)
dapat memakai sistem deposit, yaitu lebih rendah
daripada kapasitas maksimumnya berdasarkan
pertimbangan ekologis;
(b) Pembatasan besaran beberapa elemen yang
terkait dengan pembentukan ruang terbuka dan
penghijauan, seperti KDB dan KDH yang tepat,
untuk membatasi luas lahan yang terbangun atau
tertutup perkerasan sebagai upaya melestarikan
ekosistem;
(c) Penetapan

distribusi

daerah

hijau

yang

menyeluruh, termasuk dan tidak terkecuali,


bangunan-bangunan berlantai sedang atau pun
tinggi dalam hal penyediaan ruang terbuka hijau
pada daerah podium atau daerah atap bangunan
tersebut;
B. Tata Bangunan;
a. Tujuan
Penyelenggaraan

bangunan

gedung

beserta

lingkungannya sebagai wujud pemanfaatan ruang,


meliputi

berbagai

aspek

termasuk

pembentukan

citra/karakter fisik lingkungan, besaran, dan konfigurasi


dari elemen-elemen : blok bangunan, serta ketinggian dan
elevasi lantai bangunan, yang dapat menciptakan dan
mendefinisikan berbagai kualitas ruang yang akomodatif

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 105

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

terhadap keragaman kegiatan yang ada, terutama yang


berlangsung dalam ruang-ruang publik.
b. Komponen Penataan
a)

Pengaturan kavling dalam blok peruntukan;

b)

Pengaturan
pengaturan

bangunan,
massa

yaitu

bangunan

perencanaan
dalam

blok.

Pengaturan ini terdiri atas:


(a) Pengelompokan bangunan;
(b) Ekspresi arsitektur bangunan.
c)

Penetapan kepadatan kelompok bangunan dalam


kawasan perencanaan melalui pengaturan besaran
berbagai elemen Intensitas Pemanfaatan Lahan
yang ada (seperti KDB, KLB, dan KDH) yang
mendukung terciptanya berbagai karakter khas dari
berbagai blok atau sub blok;

d)

Pengaturan ketinggian dan elevasi lantai bangunan,


yaitu perencanaan pengaturan ketinggian dan
elevasi bangunan, baik pada skala bangunan
tunggal

maupun

kelompok

bangunan

pada

lingkungan yang lebih makro (blok/kawasan).


Pengaturan ini terdiri atas:
(a) Ketinggian Bangunan;
(b) Komposisi Garis Langit Bangunan;
(c) Ketinggian Lantai Bangunan.
c. Kriteria yang datur
a)

Arahan Bentuk dan Ukuran Kaveling


(a) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan
petak klasifikasi I (diatas 2500 m2);
(b) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan
petak klasifikasi II (1000 2500 m2);
(c) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan
petak klasifikasi III (600 1000 m2);
(d) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan
petak klasifikasi IV (250 600 m2);
(e) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan
petak klasifikasi V (100 250 m2);

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 106

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(f)

Blok peruntukan dan penggal jalan dengan


petak klasifikasi VI (50 100 m2);

(g) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan


petak klasifikasi VII (dibawah 50 m2);
(h) Blok peruntukan dan penggal jalan dengan
petak klasifikasi VIII (rumah susun/flat).
b)

Arahan Intensitas Bangunan


(a) Kepadatan Bangunan (KDB)
Perbandingan

luas

lahan

yang

tertutup

bangunan dan bangunan-bangunan dalam tiap


petak peruntukan dibandingkan dengan luas
petak peruntukan.
-

Blok peruntukan dengan koefisien dasar


bangunan (KDB) sangat tinggi (lebih
besar dari 75 %);

Blok peruntukan dengan koefisien dasar


bangunan (KDB) menengah (20 % - 75
%);

Blok peruntukan dengan koefisien dasar


bangunan (KDB) rendah (5 % - 20 %);

Blok peruntukan dengan koefisen dasar


bangunan (KDB) sangat rendah ( < 5 %).

(b) Luas Lantai Bangunan (KLB)


Rencana

ketinggian

maksimum

atau

maksimum dan minimum bangunan untuk


setiap

blok

peruntukan

(koefisien

lantai

bangunan):
-

Blok peruntukan ketinggian bangunan


sangat rendah adalah blok dengan tidak
bertingkat dan bertingkat maksimum dua
lantai (KLB maksimum = 2 x KDB) dengan
tinggi puncak bangunan maksimum 12 m
dari lantai dasar;

Blok peruntukan ketinggian bangunan


rendah adalah blok dengan bangunan
bertingkat maksimum 4 lantai ( KLB
maksimum = 4 x KDB) dengan tinggi

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 107

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

puncak bangunan maksimum 20 m dan


minimum 12 m dari lantai dasar;
-

Blok peruntukan ketinggian bangunan


sedang adalah blok dengan bangunan
bertingkat maksimum 8 lantai (KLB
maksimum = 8 x KBD) dengan tinggi
puncak bangunan maksimum 36 m dan
minimum 24 m dari lantai dasar;

Blok peruntukan ketinggian bangunan


tinggi bangunan tinggi adalah blok dengan
bangunan bertingkat minimum 9 lantai
(KLB maksimum = 9 x KDB) dengan tinggi
puncak bangunan minimum 40 m dari
lantai dasar;

Blok peruntukan ketinggian bangunan


sangat

tinggi

adalah

blok

dengan

bangunan bertingkat minimum 20 lantai


(KLB maksimum = 20 x KDB) dengan
tinggi puncak bangunan minimum 80 m
dari lantai dasar.
(c) Koefisien Dasar Hijau (KDH)
-

Koefisien dasar hijau (KDH) ditetapkan


sesuai

dengan

peruntukkan

dalam

rencana tata ruang wilayah yang telah


ditetapkan. KDH minimal 10% pada
daerah

sangat

padat/padat.

KDH

ditetapkan meningkat setara dengan


naiknya

ketinggian

bangunan

dan

berkurangnya kepadatan wilayah;


-

Untuk perhitungan KDH secara umum,


digunakan rumus : 100 % - (KDB + 20%
KDB)

Ruang Terbuka Hijau yang termasuk


dalam

KDH

diperuntukkan

sebanyak

mungkin
bagi

penghijauan/penanaman di atas tanah.


Dengan demikian area parkir dengan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 108

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

lantai perkerasan masih tergolong RTH


sejauh ditanami pohon peneduh yang
ditanam di atas tanah, tidak di dalam
wadah/container kedap air;
-

KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk


tiap-tiap

klas

kawasankawasan

bangunan

dalam

bangunan,

dimana

terdapat beberapa klas bangunan dan


kawasan campuran.
C. Arahan Garis Sempadan
a. Tujuan
Mengatur Jarak antara as jalan dengan bangunan
maupun dengan pagar halaman, dan jaringan bangunan
dengan batas persil, agar tercipta ruang yang aman,
nyaman dan sehat.
b. Komponen Penataan
a)

Sempadan bangunan;

b)

Sempadan sungai;

c)

Sempadan pantai.

c. Kriteria
a)

Garis Sempadan Bangunan


Garis maya pada persil atau tapak sebagai batas
minimum diperkenankannya didirikan bangunan,
dihitung dari garis sempadan jalan atau garis
sempadan pagar atau batas persil atau tapak. GSB
minimum ditetapkan dengan mempertimbangkan
keselamatan,

risiko

kebakaran,

kesehatan,

kenyamanan dan estetika.


(a) Sempadan muka bangunan
-

Letak garis sempadan bangunan gedung


terluar, untuk daerah di sepanjang jalan
bilamana tidak ditentukan lain adalah
separuh lebar daerah milik jalan (damija)
dihitung dari tepi batas persil/kavling;

Letak garis sempadan bangunan gedung


terluar, untuk daerah tepi sungai, bilamana
tidak ditentukan lain adalah:

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 109

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

100 m dari tepi sungai sungai besar, dan


50 m dari tepi an ak sungai yang berada
di luar permukiman;
10 m dari tepi sungai yang berada di
kawasan permukiman;
Letak

garis

sempadan

bangunan

gedung terluar, untuk daerah pantai,


bilamana tidak ditentukan lain adalah
100 meter dari garis pasang tertinggi
pada pantai yang bersangkutan;
Letak

garis

sempadan

bangunan

gedung, untuk daerah di tepi jalan


kereta api dan jaringan tegangan tinggi
mengikuti ketentuan yang ditetapkan
oleh instansi yang berwenang;
Garis sempadan untuk bangunan yang
dibangun di bawah permukaan tanah
maksimum

berimpit

dengan

garis

sempadan

pagar,

dan

tidak

diperbolehkan

melewati

batas

persil/kavling.
(b) Sempadan samping bangunan
-

Jarak

antara

bangunan

gedung

sebagaimana, apabila tidak ditentukan lain


minimal adalah setengah tinggi bangunan
gedung;
-

Ketentuan besarnya jarak bebas bangunan


gedung

dapat

pertimbangan

diperbaharui

keselamatan,

dengan
kesehatan,

perkembangan daerah, kepentingan umum,


keserasian dengan lingkungan.
(c) Garis Sempadan Sungai
(a) Garis sempadan sungai bertanggul diukur
dari sisi terluar kaki tanggul;

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 110

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

(b) Garis

sempadang

sungai

bertanggual

diukur dari tepi sungai pada waktu


ditetapkan;
(c) Untuk sungai di kawasan permukman
berupa sempadan sungai diperkirakan
cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara
10 15 m.
b)

Garis Sempadan Pantai Kabupaten merupakan


daratan

sepanjang

tepian

yang

lebarnya

proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai.


8.6.1.7. Fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM)
1. Tujuan
Pemenuhan kebutuhan terhadap tuntutan masyarakat moder,
dimana ATM ini sangat perlu disiapkan di setiap pusat pusat
Fasilitas umum, maupun di tempat tempat tertentu yang kiranya
mempunyai nilai strategis terhadap pelayanan masyarakat.
2. Kriteria
a. Program

yang

dikelola

pemerintah,

kegiatan

yang

menyangkut pengelolaan sumber daya keuangan yang


dikelola langsung oleh berbankan (masing masing Bank/ATM
bersama)
b. Program yang dikerjasamakan, kegiatan yang menyangkut
pengelolaan fasilitas public dengan bantuan pengelolaan
pengamanannya.
c. Program yang dipihak swasta, kegiatan yang bersifat mencari
keuntungan, khususnya bagi pemerintah daerah adalah
berkonstribusi kepada APBD.
3. Pengelompokan materi yang diatur
Bangunan/jaringan/lingkungan baru yang akan dibangun;
kebutuhan

pembangunan

permintaan/peningkatan

jumlah

karena
penduduk

adanya
atau

kegiatan

ekonomi.
a) Lokasi
b) Jumlah fasilitas/ATM
c) Waktu,
d) Pembiayaan di kelola bersama.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 111

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.6.1.8. Indikasi Program Pembangunan


1. Tujuan
Penanganan prasarana lingkungan yang akan dilaksanakan
dalam

kawasan,

baik

kebutuhan

akan

konservasi,

pengembangan baru pemugaran atau penanganan khusus.


2. Kriteria
a. Program

yang

dikelola

pemerintah,

kegiatan

yang

menyangkut pengelolaan sumber daya alam.


b. Program yang dikerjasamakan, kegiatan yang menyangkut
pengelolaan fasilitas publik.
c. Program yang dipihak ketigakan/swasta, kegiatan yang
bersifat mencari keuntungan, khususnya bagi pemerintah
daerah adalah berkonstribusi kepada APBD.
d. Sistem pembiayaan :
a)

APBD Kota, APBD Propinsi, dan APBN.

b)

Program yang dipihak ketigakan/swasta, kegiatan yang


bersifat

mencari

keuntungan,

khususnya

bagi

pemerintah daerah adalah berkonstribusi kepada APBD.


c)

Sistem pembiayaan :
(a) APBD Kota, APBD Propinsi, dan APBN.
(b) BOT (Build, Operate and Transfer), artinya
dibangun swasta, dioperasikan swasta dan pada
suatu saat diserahkan kepada pemerintah.
(c) BOO (Build, Own, Operate), yaitu suatu cara
penyertaan swasta.
(d) Modifikasi.

3. Pengelompokan materi yang diatur


a. Bangunan/jaringan/lingkungan baru yang akan dibangun;
kebutuhan

pembangunan

karena

adanya

permintaan/peningkatan jumlah penduduk atau kegiatan


ekonomi.
a)

Lokasi

b)

Jumlah fasilitas

c)

Waktu,

d)

Pembiayaan

b. Bangunan/jaringan/lingkungan
program

kebutuhan

yang

pembangunan,

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

akan

ditingkatkan;

karena

kondisi

8 - 112

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

bangunan/jaringan

yang

ada

sudah

tidak

memadai/penurunan fungsi/dibawah kapasitas, dan perlu


dikembangkan.
a) Lokasi
b) Jumlah fasilitas
c) Waktu,
e) Pembiayaan
c. Bangunan/jaringan/lingkungan yang akan diperbaiki; program
kebutuhan

perbaikan/rehabilitasi,

karena

kondisi

bangunan/jaringan sebagian telah mengalami kerusakan :


a) Lokasi
b) Jumlah fasilitas
c) Waktu,
d) Pembiayaan
d. Bangunan/jaringan/lingkungan

yang

akan

diperbaharui;

program kebutuhan perbaikan/rehabilitasi, karena kondisi


bangunan/jaringan telah mengalami kerusakan berat :
a) Lokasi
b) Jumlah fasilitas
c) Waktu,
d) Pembiayaan
e. Bangunan/jaringan yang akan dipugar; program kebutuhan
pengambalian fungsi bangunan/jaringan seperti semula :
a) Lokasi
b) Jumlah fasilitas
c) Waktu,
d) Pembiayaan
f. Bangunan/jaringan/lingkungan yang akan dilindungi; program
kebutuhan

konservasi

bangunan/jaringan

dengan

membangunan fasilitas pendukung agar tidak terkena


dampak penting :
a) Lokasi
b) Jumlah fasilitas
c) Waktu,
d) Pembiayaan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 113

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.6.1.9. Legalisasi Rencana Detail Tata Ruang


Rencana Detail Tata Ruang Kota perlu adanya suatu upaya
penetapan rencana tata ruang dalam bentuk PERDA, dengan
mepersiapkan hal-hal sebagai berikut :
1. Tim

pengarah

bersama-sama

dengan

Tim

Pelaksana

menyarikan bagian-bagian esensial dari RDTR Kabupaten untuk


menjadi materi RAPERDA.
2. Tim Pengarah dibantu oleh bagian Hukum Kantor Sekretariat
Daerah Kota menyusun konsep REPERDA.
3. Tim Pengarah dibantu oleh Tim Pelaksana melakukan uji publik,
melalui sosialisasi kepada masyarakat yang terkena dampak,
maupun kepada investor.
4. RAPERDA RDTR diajukan kepada Gubernur untuk persetujuan,
sebelum diserahkan kepada DPRD.
5. DPRD melakukan uji materi REPERDA RDTR, untuk disahkan
sebagai Rancangan Peraturan Daerah.
6. Rencana Detail Tata Ruang Kota yang bersangkutan ditetapkan
dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah.
8.6.1.10. Pengendalian Rencana Detail Tata Ruang Kota
a. Tujuan Pengendalian
Pengendalian pemanfaatan ruang RDTR diselenggarakan
melalui kegiatan pengawasan dan penertiban

terhadap

pemanfaatan

perijinan,

ruang

berdasarkan

mekanisme

pemberian insentif dan disinsentif, pemberian kompensasi,


mekanisme pelaporan, mekanisme pemantauan, mekanisme
evaluasi dan mekanisme pengenaan sanksi.
b. Komponen Pengendalian
c. Zonasi
A.

Pengertian
Klasifikasi zonasi adalah jenis dan hirarki zona yang
disusun berdasarkan kajian teoritis, kajian perbandingan,
maupun kajian empirik untuk digunakan di daerah yang
disusun Peraturan Zonasinya.

B.

Tujuan
Tujuan penyusunan klasifikasi zonasi adalah untuk :

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 114

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

1. Menetapkan zonasi yang akan dikembangkan pada


suatu bagian wilayah/kawasan;
2. Menyusun

hirarki

zonasi

berdasarkan

tingkat

gangguannya.
C.

Ketentuan Peruntukan Ruang


Rencana pengembangan blok dan sub blok kawasan
perencanaan akan ditentukan oleh klasifikasi kegiatannya,
yang dapat dipisahkan dalam 3 (tiga) kawasan yaitu :
1. Peruntukan lahan dasar
2. Peruntukan lahan spesifik
3. Peruntukan lahan teknis
Peruntukan lahan dasar merupakan pokok kegiatan
permukiman yang melandasi aturan pemanfaatan lahan.
Sedangkan peruntukan lahan spesifik adalah kegiatan yang
menunjukan penggunaan ruang yang diperbolehkan dalam
pemanfaatan lahannya. Aturan teknis yang menunjukkan
dimensi serta pola dari kegiatan spesifik diatur dalam
pedoman teknis pemanfaatan antar ruang. Selanjutnya
pengaturan blok dan sub blok perencanaan dengan
memberlakuan aturan dasar yang meliputi aturan wajib,
aturan anjuran utama dan aturan anjuran, dalam konsep
penataan

kawasan,

serta

mempermudah

dalam

pengontrolan implementasi atas aturan dasar tersebut.


1. Aturan wajib
Merupakan aturan yang disusun atas peraturan
peruntukan ruang, penataan bangunan serta lingkungan
dalam blok perencanaan secara mengikat sesuai
dengan fungsi dan peran ruang yang telah ditetapkan.
Aturan ini bersifat mengikat dan wajib ditaati/diikuti.
Aturan wajib meliputi :
a. Peruntukan ruang
b. Intensitas ruang
c. Kepadatan penduduk
d. Pemecahan blok dan sub blok
e. Kebutuhan sarana dan prasarana kawasan
f. Kualitas lingkungan

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 115

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

2. Aturan Anjuran
Merupakan aturan yang disusun untuk melengkapi
aturan wajib yang telah disepakati bersama pemegang
hak atas tanah, dan pihak regulasi sehingga dapat
ditaati atau diikuti. Aturan ini meliputi :
a. Kualitas lingkungan
b. Arahan bentuk, dimensi, gubahan dan perletakan
dari suatu bangunan atau komposisi bangunan
c. Sirkulasi kendaraan
d. Sirkulasi pejalan kaki
e. Pedestrian dan Pedagang Kaki Lima
f. Ruang terbuka hijau dengan fasilitas dan tidak
berfasilitas
g. Utilitas bangunan dan lingkungan
h. Wajah Arsitektur
3. Aturan Khusus
Aturan khusus diberlakukan sebagai aturan tambahan
pada kawasan yang memerlukan penanganan khusus.
Contoh aturan kawasan khusus meliputi:
-

Aturan untuk Kawasan Keselamatan Operasi


Penerbangan (KKOP)

Aturan untuk kawasan cagar budaya

Aturan untuk kawasan rawan bencana

4. Kode Zonasi
Ketentuan penamaan kode zonasi adalah sebagai
berikut: Setiap zonasi diberi kode yang mencerminkan
fungsi zonasi yang dimaksud. Nama kode zonasi dapat
disesuaikan dengan RTRW yang berlaku di daerah
masing-masing. Nama kode zonasi diupayakan bersifat
umum, yaitu mewakili karakter / sifat dari zona yang
bersangkutan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 116

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

8.6.1.11. Kode Dan Klasifikasi Zonasi


a. Kode dan Klasifikasi Zonasi Defini dan Tujuan Penetapan
Zonasi
a)

(R) Perumahan Definisi :


Zona Perumahan adalah peruntukkan tanah yang terdiri
dari kelompok rumah tinggal yang mewadahi perikehidupan
dan penghidupan masyarakat yang dilengkapi dengan
fasilitasnya.
-

Tujuan Penetapan :
Menyediakan lahan untuk pengembangan hunian
dengan kepadatan yang bervariasi;
Mengakomodasi bermacam tipe hunian dalam
rangka mendorong penyediaan hunian bagi semua
lapisan masyarakat;
Merefleksikan

pola-pola

pengembangan

yang

diinginkan masyarakat pada lingkungan-lingkungan


hunian yang ada dan untuk masa yang akan dating.
b)

(K) Perdagangan & Jasa


Zona perdagangan dan jasa adalah peruntukkan tanah
yang merupakan bagian dari kawasan budidaya difungsikan
untuk pengembangan kegiatan pelayanan pemerintahan,
sarana umum produksi dan distribusi, tempat bekerja,
tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi.
-

Tujuan Penetapan :
Menyediakan lahan untuk menampung tenaga kerja
dalam wadah berupa perkantoran, pertokoan, jasa,
rekreasi dan pelayanan masyarakat;
Menyediakan ruang yang cukup bagi penempatan
kelengkapan dasar fisik berupa sarana-sarana
penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan
dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan
budaya dapat berfungsi sebagaimana mestinya;
Menyediakan ruang yang cukup bagi sarana-sarana
umu, terutama untuk melayani kegiatan-kegiatan
produksi dan distribusi yang diharapkan dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 117

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c)

(SU) Sarana Umum:


Zona sarana umum dalah kelompok kegiatan yang berupa
sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan,
sarana social, sarana olahraga dan rekreasi, sarana
pelayanan umum, sarana perbelanjaan/niaga, dan sarana
transportasi dengan skala pelayanan yang ditetapkan dalam
rencana kota.
-

Tujuan Penetapan :
Menyediakan lahan untuk pengembangan sarana
sosial dan umum dengan kebutuhan dan daya
dukung

untuk

menjamin

pelayanan

pada

masyarakat;
Mengakomodasi bermacam tipe fasilitas sosial dan
umum untuk mendorong penyediaan pelayanan bagi
semua lapisan masyarakat;
Merefleksikan

pola-pola

pengembangan

yang

diingini masyarakat pada lingkungan hunian yang


ada dan untuk masa yang akan datang.
d)

(IG) Industri & Pergudangan


Zona Industri dan Pergudangan adalah peruntukkan tanah
yang difungsikan untuk pengembangan kegiatan yang
berhubungan dengan proses produksi dan tempat
penyimpanan bahan mentah dan barang hasil produksi.
-

Tujuan Penetapan :
Menyediakan ruang bagi kegiatan-kegiatan produksi
suatu barang yang mempunyai nilai lebih untuk
penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun
dan perekayasaan yang berkaitan dengan lapangan
kerja perekonomian lainnya.
Memberikan kemudahan pertumbuhan industri baru
dengan mengendalikan pemanfaatan ruang lainnya
untuk menjaga keserasian lingkungan sehingga
mobilitas

antar

ruang

tetap

terjamin

serta

terBlorainya kualitas lingkungan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 118

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

e)

(RT) Ruang Terbuka Hijau


Zona ruang terbuka hijau adalah pengembangan ruang
terbuka yang mempunyai makna historis, estetika, median
ruang, keseimbangan ekologis, sebagai fungsi penghubung
aktivitas-aktivitas

kota

yang

berbeda

dan

tempat

bersosialisasi yang potensial dikembangkan. Salah satu


pengembangan ruang terbuka (open source) yang sangat
penting di daerah perkotaan adalah pengembangan ruang
terbuka hijau untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup,
sarana pengaman lingkungan perkotaan, menciptakan
keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan.
Keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan ini difungsikan
sebagai perlindungan ekosistem, menciptakan K3, rekreasi,
pengaman lingkungan hidup, penelitian dan pendidikan,
perlindungan plasma nutfah, memperbaiki iklim mikro dan
pengatur tata air.
-

Tujuan Penetapan :
Penyediaan

fasilitas-fasilitas

lingkungan

yang

berkaitan dengan ruang terbuka;


Melestarikan/melindungi

lahan-lahan

sarana

kota/lingkungan yang digunakan rekreasi di luar


bangunan, sebagai sarana pendidikan, dan untuk
dinikmati nilai-nilai keindahan visualnya;
Preservasi dan perlindungan lahan-lahan yang
rawan lingkungan hidup;
Pengamanan jaringan prasarana dan penyekatanpenyekatan

(buffer)

antara

fungsi-fungsi

pemanfaatan lahan yang saling mengganggu;


Pemanfaatan nilai ekonominya sebagai sarana
budidaya pertanian.
f)

(KS) Khusus:
Zona fungsi khusus adalah peruntukkan tanah yang
difungsikan untuk menampung kegiatan yang sifatnya
khusus.
-

Tujuan Penetapan :

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 119

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Menyediakan ruang bagi kegiatan-kegiatan tertentu


yang karena sifatanya mempunyai kekhususan di
luar ketentuan-ketentuan yang ditetapkan pada zona
perumahan, zona perdagangan dan jasa, zona
sarana umum, zona industry dan pergudangan, dan
zona ruang terbuka hijau, misalnya menyangkut
keamanan Negara, tingkat resiko atau dampak yang
beat

terhadap

lingkungan

hidup

sehingga

memerlukan penanganan operasional, desain dan


spesifikasi yang khusus.
b. Nomor Blok
Untuk memberikan kemudahan referensi (georeference), maka
blok peruntukan perlu diberi nomor blok. Untuk memudahkan
penomoran blok dan mengintegrasikannya dengan daerah
administrasi, maka nomor blok peruntukan dapat didasarkan
pada kode pos (berdasarkan kelurahan/desa) atau kode batas
wilayah administrasi yang telah ada diikuti dengan 2 atau 3 digit
nomor blok. Nomor blok dapat ditambahkan huruf bila blok
tersebut dipecah menjadi beberapa subblok.
Nomor blok = [kode pos / batas wilayah administrasi ]-[2
atau 3 digit angka].[huruf]
Contoh nomor blok berdasarkan wilayah administrasi :
Blok 07.01.001, ... Blok 07.01.001a... , dst.
c. Aturan Kegiatan dan Penggunaan Lahan
a. Definisi
Aturan kegiatan dan penggunaan lahan adalah aturan yang
berisi kegiatan yang diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat,
diperbolehkan terbatas atau dilarang pada suatu zona.
b. Klasifikasi Kegiatan
Aturan kegiatan dan penggunaan lahan pada suatu zonasi
penggunaan lahan dinyatakan dengan klasifikasi sebagai
berikut:
I = Pemanfaatan diizinkan (P, permitted)
"T" = Pemanfaatan diizinkan secara terbatas (R,
restricted)
Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 120

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

"B" = Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan


bersyarat (C,conditional)
"X" = pemanfaatan yang tidak diijinkan (not permitted)
Penjelasan klasifikasi
" |" = Pemanfaatan diizinkan
Karena sifatnya sesuai dengan peruntukan tanah yang
direncanakan. Hal ini berarti tidak akan ada peninjauan
atau pembahasan atau tindakan lain dari pemerintah
kabupaten terhadap pemanfaatan tersebut.
T " = Pemanfaatan diizinkan secara terbatas
Pembatasan dilakukan melalui penentuan standar
pembangunan minimum, pembatasan pengoperasian,
atau peraturan tambahan lainnya yang berlaku di wilayah
kabupaten/ yang bersangkutan.
" B " = Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan
bersyarat
Izin ini sehubungan dengan usaha menanggulangi
dampak pembangunan di sekitarnya (menginternalisasi
dampak); dapat berupa AMDAL, RKL dan RPL.
X" = Pemanfaatan yang tidak diijinkan
Karena sifatnya tidak sesuai dengan peruntukan lahan
yang direncanakan dan dapat menimbulkan dampak yang
cukup besar bagi lingkungan di sekitarnya.
d. Penyusunan Peta Zonasi
a. Definisi
Peta zonasi adalah peta yang berisi kode zonasi di atas
blok dan subblok yang telah didelineasikan sebelumnya
dengan skala 1:5000 dan atau yang setara dengan
RDTRK.
Subblok peruntukan adalah pembagian peruntukan
dalam satu blok peruntukan berdasarkan perbedaan
fungsi yang akan dikenakan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 121

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

b. Pertimbangan
Pertimbangan penetapan kode zonasi di atas peta batas
blok/subblok yang dibuat berdasarkan ketentuan pada
Subbab 2.4 dapat didasarkan pada :
a)

Kesamaan karakter blok peruntukan, berdasarkan


pilihan: Mempertahankan dominasi penggunaan lahan
yang ada (eksisting);

b)

Menetapkan fungsi baru sesuai dengan arahan fungsi


pada RTRW;

c)

Menetapkan karakter khusus kawasan yang diinginkan;

d)

Menetapkan

tipologi

lingkungan/kawasan

yang

diinginkan;
e)

Menetapkan jenis pemanfaatan ruang/lahan tertentu;

f)

Menetapkan

batas

ukuran

tapak/persil

maksimum/minimum;
g)

Menetapkan batas intensitas bangunan / bangunbangunan maksimum/minimum;

h)

Mengembangkan jenis kegiatan tertentu;

i)

Menetapkan batas kepadatan penduduk/bangunan yang


diinginkan;

j)

Menetapkan penggunaan dan batas intensitas sesuai


dengan daya dukung prasarana (misalnya: jalan) yang
tersedia;

k)

Kesesuaian dengan ketentuan khusus yang sudah ada


(KKOP, pelabuhan, terminal, dll);

l)

Karakteristik lingkungan (batasan fisik) dan administrasi.

m) Subblok Peruntukan. Bila suatu blok peruntukan akan


ditetapkan menjadi beberapa kode zonasi, maka blok
peruntukan tersebut dapat dipecah menjadi beberapa
subblok peruntukan.
c. Pembagian subblok peruntukan dapat dilakukan berdasarkan
pertimbangan :
a)

Kesamaan (homogenitas) karakteristik pemanfaatan


ruang/lahan.

b)

Batasan fisik seperti jalan, gang, sungai, brandgang


atau batas persil.

c)

Orientasi Bangunan.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 122

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

d)

Lapis bangunan.

d. Penomoran Sub Blok


Subblok peruntukan diberi nomor blok dengan memberikan
tambahan huruf (a, b, dan seterusnya) pada kode blok.
Contoh:
Blok 40132-023 dipecah menjadi Subblok 40132-023.a dan
40132-023.b.
e. Aturan Insentif dam Disinsentif
a) Dasar pertimbangan
(a) Pergeseran

tatanan

menyebabkan

ruang

dampak

yang

terjadi

tidak

yang

merugikan

bagi

boleh

mengurangi

hak

pembangunan ;
(b) Pada

hakekatnya

tidak

masyarakat sebagai warga negara, dimana masyarakat


mempunyai hak dan dan martabat yang sama untuk
memperoleh dan mempertahankan hidupnya;
(c) Tetap memperhatikan partisipasi masyarakat di dalam
proses pemanfaatan ruang untuk pembangunan oleh
masyarakat.
b) Kriteria Pengenaan
(a) Insentif:
Mendorong/merangsang pembangunan yang sejalan
dengan rencana tata ruang;
Mendorong

pembangunan

yang

memberikan

manfaat yang besar kepada masyarakat;


Mendorong partisipasi masyarakat dan pengembang
dalam pelaksanaan pembangunan;
(b) Disinsentif:
Menghambat/membatasi pembangunan yang tidak
sesuai dengan rencana tata ruang;
Menimbulkan dampak yang cukup besar bagi
masyarakat di sekitarnya.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 123

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c) Jenis dan Kategori Pengenaan


Pengenaan insentif dan disinsentif dapat dikelompokkan
berdasarkan :
a) Perangkat/mekanismenya, misalnya regulasi, keuangan
dan kepemilikan;
b) Obyek pengenaannya, misalnya guna lahan, pelayanan
umum dan prasarana.
d) Contoh Bentuk - Bentuk Insentif
Alternatif bentuk insentif yang dapat diberikan antara lain:
(a) Kemudahan izin;
(b) Penghargaan;
(c) keringanan pajak
(d) kompensasi
(e) imbalan
(f) pola pengelolaan
(g) subsidi prasarana
(h) bonus / insentif
(i) TDR (transfer of development right / pengalihan hak
membangun)
(j) ketentuan teknis lainnya.
e) Contoh bentuk bentuk disinsentif
Alternatif bentuk disinsentif yang dapat diberikan antara lain:
(a) Perpanjang prosedur;
(b) Perketat/tambah syarat;
(c) Pajak tinggi;
(d) Retribusi tinggi;
(e) Denda / charge
(f) Pembatasan prasarana dan lain lain
f. Perijinan Dalam Pemanfaatan Ruang
Prinsip penerapan ijin
a) Kegiatan yang berpeluang menimbulkan gangguan pada
dasarnya dilarang kecuali dengan ijin.
b) Setiap kegiatan dan pembangunan harus memohon ijin dari
pemerintah setempat yang akan memeriksa kesesuaiannya
dengan rencana, serta standar administrasi legal.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 124

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

c) Kegiatan yang berpeluang menimbulkan gangguan pada


dasarnya dilarang kecuali dengan ijin.
d) Setiap kegiatan dan pembangunan harus memohon ijin dari
pemerintah setempat yang akan memeriksa kesesuaiannya
dengan rencana, serta standar administrasi legal.
Tujuan penerapan ijin
a. Melindungi kepentingan umum (public interest).
b. Menghindari eksternalitas negatif, dan;
c. Menjamin pembangunan sesuai dengan rencana, serta
standar dan kualitas minimum yang ditetapkan.
Kewenangan :
a. Sebagian besar ijin menjadi kewenangan daerah;
b. Pelaksanaan kegiatan dan pembangunan wajib memiliki ijin;
c. Pemberi

ijin

wajib

mengawasi

dan

menertibkan

penyimpangan pelaksanaannya;
d. Penerima ijin wajib melaksanakan ketentuan dalam perijinan.
8.6.1.12. Jenis-jenis Perijinan dan Mekanisme
a. Ijin kegiatan (sektoral)
Persetujuan pengembangan aktivitas/sarana/prasarana yang
menyatakan bahwa aktivitas budidaya yang akan mendominasi
kawasan memang sesuai atau masih dibutuhkan atau
merupakan bidang yang terbuka di wilayah tempat kawasan itu
terletak. Ijin ini diterbitkan instansi pembina/pengelola sektor
terkait dengan kegiatan dominan tadi. Tingkatan instansi
ditetapkan sesuai aturan di departemen/lembaga terkait.
b. Ijin Prinsip
Persetujuan pendahuluan yang dipakai sebagai kelengkapan
persyaratan teknis permohonan ijin Lokasi. Bagi perusahaan
PMDN/PMA, surat persetujuan penanaman modal (SPPM) untuk
PMDN dari Meninves/Ketua BKPM atau surat pemberitahuan
persetujuan Presiden untuk PMA, digunakan sebagai Ijin Prinsip.
c. Ijin Tetap
Persetujuan akhir setelah Ijin Lokasi diperoleh. Ijin lokasi menjadi
persyaratan, mengingat sebelum memberikan persetujuan final
tentang pengembangan kegiatan budidaya, lokasi kawasan yang
dimohon bagi pengembangan aktivitas tersebut juga telah sesuai

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 125

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

dan malah tingkat perolehan tanahnya telah memperoleh


kemajuan berarti (misalnya untuk kawasan industri 60 %,
sebelum PAKTO 1993). Selain itu kelayakan pengembangan
kegiatan dari segi lingkungan hidup harus telah diketahui melalui
hasil studi AMDAL. Dengan diperoleh ijin Tetap bagi kawasan
budidaya, selanjutnya tiap jenis usaha rinci yang akan mengisi
kawasan secara individual perlu memperoleh Ijin Usaha sesuai
karakteristik tiap kegiatan usaha rinci. SIPD (Surat Ijin
Penambangan Daerah) dan SIPA (Surat Ijin Pengambilan Air)
dapat dikelompokkan dalam kategori Ijin Usaha selain yang
sudah dikenal (SIUP, SIUPP, dll).
d. Ijin Pertanahan
a)

Ijin Lokasi
Persetujuan lokasi bagi pengembangan aktivitas/sarana/
prasarana yang menyatakan kawasan yang dimohon pihak
pelaksana pembangunan atau pemohon sesuai untuk
dimanfaatkan

bagi

aktivitas

dominan

yang

telah

memperoleh Ijin Prinsip. Ijin Lokasi akan dipakai sebagai


dasar dalam melaksanakan perolehan tanah melalui
pengadaan tertentu dan dasar bagi pengurusan hak atas
tanah. Acuan dari Ijin Lokasi ini antara lain adalah:
sesuaian

lokasi

bagi

pembukaan/pengembangan

aktivitas dilihat dari:


-

Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detail


Tata Ruang;

Keadaaan pemanfaatn ruang eksisting.

bagi lokasi dikawasan tertentu, suatu kajian khusus


mengenai dampak lingkungan pengembangan aktivitas
budidaya dominan terhadap kualitas ruang yang ada,
hendaknya menjadi pertimbangan dini. Persyaratan
tambahan yang dibutuhkan, adalah :
-

Surat Persetujuan Prinsip;

Surat Pernyataan Kesanggupan akan memberi ganti


rugi atau penyediaan tempat penampungan bagi
Pemilik yang berhak atas tanah yang dimohon.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 126

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

b)

Hak atas tanah


Walaupun sebenarnya bukan merupakan perijinan namun
dapat dianggap sebagai persetujuan kepada pihak
pelaksana pembangunan untuk mengembangkan kegiatan
budidaya di atas lahan yang telah diperoleh. Macam hak
yang diperoleh sesuai dengan sifat pihak pelaksana dan
sifat kegiatan budidaya dominan yang kan dikembangkan.
Pada tingkat kawasan, hak yang diberikan umumnya
bersifat kolektif (misalnya dikenal HGB Induk). Tergantung
sifat aktivitas budidayanya, hak kepemilikan individual dapat
dikembangkan dari hak kolektif.

c)

Ijin perencanaan dan bangunan


(a) Ijin Peruntukkan Penggunaan Tanah
Ijin Perencanaan dan/atau rekomendasi perencanaan
bagi penggunaa tanah yang didasarkan pada Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) dan/atau Rencana Teknik Ruang Kota
(RTRK). Ijin Peruntukkan Penggunaan Tanah terdiri
atas:
Ijin perencanaan
Ijin

Penggunaan

Tanah

untuk

keperluan

mendirikan bangunan atau bangun-bangunan


(tower dan reklame) dan site plan dengan
kewenangan pengendalian Rencana Detail Tata
Ruang Kota melalui tindakan korektif/penerapan
sanksi. Ijin pemanfaatan ruang yang sebenarnya
karena ijin lokasi menyatakan kesesuaian lokasi
bagi pengembangan aktivitas budidaya dominan.
Ijin

Perencanaan

menyatakan

persetujuan

terhadap aktivitas budidaya rinci yang akan


dikembangkan
aktivitas

dalam

budidaya

kawasan.
rinci

Pengenalan

dilakukan

melalui

penelaahan Rencana Tata Ruang (RTR) Rinci


Kawasan internal. Kelengkapan sarana dan
prasarana

yang

akan

mendukung

aktivitas

budidaya rinci dan ketepatan pola alokasi

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 127

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

pemanfaatan ruangnya dalam internal kawasan


atau sub kawasan menjadi perhatian utama.
Rekomendasi Perencanaan
Rekomendasi

penggunaan

tanah/lahan yang

didasarkan pada Rencana Detail Tata Ruang Kota


untuk keperluan pelayanan informasi rencana
daerah.
(b) Ijin Lingkungan
Ijin

Lingkungan

pada

dasarnya

merupakan

persetujuan yang menyatakan aktivitas budidaya rinci


yang terdapat dalam kawasan yang dimohon layak
dari segi lingkungan hidup. Dikenal dua macam Ijin
Lingkungan seperti dijelaskan pada bagian berikut:
Ijin HO
Ijin HO/Undang-undang Gangguan, terutama untuk
kegiatan usaha yang tidak mempunyai dampak
penting terhadap lingkungan hidup (bukan obyek
AMDAL). Ijin ini diterbitkan Walikota melalui
Sekwilda di daerah kota/kotamadya.
Persetujuan RKL dan RPL
Persetujuan RKL dan RPL, untuk kawasan yang
sifat kegiatan budidaya rinci yang berada di
dalamnya secara sendiri-sendiri maupun bersamasama berdampak penting terhadap lingkungan
hidup. Acuan yang digunakan dengan demikian
adalah dokumen AMDAL yang pada bagian
akhirnya menjelaskan RKL (Rencana Pengelolaan
Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemanfaatan
Lingkungan), pada tingkatan kegiatan budidaya
rinci (jika dibutuhkan) dan pada tingkat kawasan.
Persetujuan RKL dan RPL diterbitkan oleh Menteri
Lingkungan Hidup (Kawasan terpadu), dan Menteri
terkait atau Walikota tergantung karakteristik
kawasan yang dimohon setelah melalui komisi
AMDAL terkait.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 128

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

e. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Melalui Pengawasan


a. Pengertian
Pengawasan merupakan upaya-upaya untuk menjaga
kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang
ditetapkan dalam rencana tata ruang. Obyek pengawasannya
adalah

perubahan

pemanfaatan

ruang

(kegiatan

pembangunan fisik) yang terjadi, baik yang sesuai maupun


yang tidak sesuai dengan rencana beserta besaran-besaran
perubahannya.
b. Pelaporan
Upaya memberikan informasi secara obyektif mengenai
pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun tidak sesuai
dengan rencana tata ruang. Obyek pelaporan adalah
perubahan pemanfaatan ruang dalam persil/kawasaan dan
tata ruang wilayah blok peruntukan. Perubahan pemanfaatan
ruang tingkat persil meliputi perubahan fungsi kegiatan dan
perubahan teknis bangunan yang ada di dalam persil.
Akumulasi perubahan persil merupakan perubahan blok
peruntukan, sedangkan perubahan peruntukan merupakan
perubahan kawasan dan seterusnya menjadi perubahan
wilayah yang lebih luas. Hasil dari proses pelaporan ini
berupa tipologi penyimpangan pemanfaatan ruang, yaitu:
a)

Besaran penyimpangan (luasan, panjang, lebar).

b)

Bentuk dan jenis penyimpangan (fungsi, intensitas,


atau teknis).

c)

Arah penyimpangan atau pergeseran pemanfaatan


ruang.

c. Pemantauan
Pemantauan dilakukan dengan cara pemeriksaaan yang
melibatkan pelaku pelanggaran (dengan memeriksa lebih
jauh

dokumen

perijinan

yang

dimilikinya).

Tahapan

pelaksanaan pemantauan adalah sebagai berikut;


a)

Penyidikan

lapangan,

dilakukan

setelah

tahap

kegiatan pelaporan yang kemudian diperoleh indikasi


penyimpangan pemanfaaatan ruang persil (baik lokasi
maupun

tipologi

penyimpangannya).

Kemudian

dibentuk tim penyidik yang terdiri atas beberapa dinas

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 129

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

terkait di daerah dan rencana kerja penyidikan


penyimpangan pemanfaatan ruang ke lapangan.
Penyidikan ini dilakukan untuk memperoleh klarifikasi
bukti pelanggaran yang telah ada pada Tim Penyidik
dengan yang ada pada penguasa lahan atau
bangunan untuk dilihat dan diketahui penyebab
pelanggaran.
b)

Pembahasan dan perumusan terbukti tidaknya secara


teknis administrasif penyimpangan atau pelanggaran
yang

telah

diindikasikan

sebelumnya.

Tahap

berikutnya adalah mengklasifikasikan bentuk-bentuk


pelanggaran,

akibat

pelanggaran

dan

penanggungjawab pelanggaran pemanfaatan ruang.


c)

Laporan dan pemberitahuan. Rumusan penyimpangan


dan pelanggaran tersebut kemudian disusun laporan
dan pemberitahuan kepada berbagai pihak yang
berkepentingan.
(a)

Laporan hasil pemantauan diserahkan kepada


kepala daerah untuk dievaluasi dan dibahas
untuk merumuskan bentuk-bentuk penertiban.

(b)

Laporan hasil pemantauan diserahkan kepada


instansi terkait untuk mempersiapkan kegiatan
evaluasi

terhadap

penyimpangan

pelanggaran

pemanfaatan

ruang

dan
untuk

mendukung penetapan penertiban yang perlu


diambil.
(c)

Pemberitahuan hasil pemantauan kepada


pelaku pelanggaran untuk mempersiapkan
pertanggungjawaban

pelanggaran

pemanfaaatan ruang yang telah dilakukan.


8.6.1.13. Kelembagaan Dan Peran Masyarakat
Dalam

rangka

mewujudkan

penataan

ruang

yang

dapat

mengakomodasi kebutuhan ruang bagi masyarakat yang sesuai


dengan kondisi, kaakteristik dan daya dukung kawasan kota yang
terus berkembang, maka proses penyusunan rencana tata ruang
kawasan perkotaan dan kawasan fungsional lain, harus bersifat

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 130

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

partisipatif dan dinamis seperti yang telah digambarkan dalam


diagram bagan alir penyusunan RDTR Kota. Lembaga formal
pemerintah yang terlibat dalam penataan ruang adalah Pemerintah
Daerah dalam rangka pengaturan, pembinaan,pelaksanaan dan
pengawasan penataan ruang, serta koordinasi penyelenggaraan
penataan ruang lintas sektor, lintas wilayah dan lintas pemangku
kepentingan.

Pelaksanaan

penyusunan

RDTR

Kabupaten

dilaksanakan oleh lembaga formal pemerintah kabupaten dibawah


koordinasi BAPEDA Kota (BAPPEKO) dan didukung oleh
dinas/instansi terkait.
Sebagai langkah langkah koordinasi dalam penanganan penataan
ruang, pembinaan dan pengembangan kebijakan tata ruang wilayah
dan lintas sektor, sektor, koordinasi diselenggarakan dalam suatu
badan koordinasi daerah skala kabupaten seperti BKPRD (Badan
Koordinasi Penataan Ruang Daerah) sebagai lembaga fungsional
yang berfungsi :
a.

Mengkoordinasikan pelaksanaan Rencana Detail Tata Ruang


Kota secara terpadu sebagai dasar bagi penentuan perijinan
dalam penataan kawasan kota yang dijabarkan dalam program
pembangunan kawasan kota.

b.

Merumuskan pelaksanaan dan mengkoordinasikan masalah


masalah yang timbul dalam penyelenggaraan penataan ruang
di kawasan kota, dan memberikan arahan dan pemecahannya.

c.

Mengkoordinasikan penyusunan peraturan perundang undagan


di bidang penataan ruang.

d.

Memaduserasikan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007


terntang Penataan Ruang dan penyusunan peraturan
pelaksanaannya dengan Undang Undang Nomor 22 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah.

e.

Memaduserasikan penatagunaan tanah dan penatagunaan


sumber daya lam lainnya dengan Rencana Detail Tata Ruang.

f.

Melakukan

pemantauan

(monitoring)

tersebut

untuk

penyempurnaan rencana detail tata ruang kota..


g.

Menyelenggaraan pembinaan penataan ruang kawasan Kota


dengan mensinkronkan Recana Tata Ruang Wilayah Nasional,

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 131

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Rencana Tata Ruang


Wilayah Kota serta Rencana Detail Tata Ruang Kota.
h.

Mengembangkan dan menetapkan prosedur pengelolaan tata


ruang.

i.

Membina

kelembagaan

dan

sumber

daya

manusia

penyelenggaraan penataan ruang.


j.

Menyelenggarakan pembinaan dan standarisasi perpetaan tata


ruang.

k.

Dalam perencanaan Rencana Detail Tata Ruang Kota BKTRD


memiliki peran penting dalam koordinasi penataan ruang lintas
kawasan administrasi, atau lintas kawasan perencanaan.

Penyusunan RDTR Kota harus dapat menyeimbangkan peran antara


pemerintah,

masyarakat

atau

pelaku

kepentingan,

atau

kelembagaan lain yang merupakan bentuk perwakilan masyarakat


dalam proses penyusunan RDTR Kota.
8.6.1.14. Peran Serta Masyarakat
a. Manfaat
1

Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat


akan hak, kewajiban, dan peranannya dalam proses
peruntukan dan pembanguan ruang, sehingga tumbuh rasa
memiliki dan tanggungjawab yang kuat terhadap hasilhasilnya.

Meningkatkan hasil guna penataan dan pembangunan


kawasan serta lingkungan, karena adanya percayaan publik
terhadap perencanaan tata ruang itu sendiri.

Dengan demikian, meningkatkan kepastian hukum dalam


berinvestasi pada kawasan perencanaan.

b. Prinsip Utama
1.

Pemerintah Daerah melakukan sosialisasi perencanaan


detail tata ruang, mulai dari proses penyusunan maupun
sampai pada pengeluaran produk rencana.

2.

Pemerintah Daerah sebelum melakukan pengesahan


produk rencana, terlebih dahulu melakukan uji materi
rencana melalui publik hearing (dapat menggunakan media

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 132

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

tertentu), dengan tetap membuka kemungkinan adanya


kritisi, perubahan sampai pada penolakan.
3.

Efisiensi dan efektfitas; keputusan harus diambil secara


efisen dan efektif, dengan mengedepankan kemampuan
masyarakat,

kepentingan

umum,

guna

tercapainya

kesejahteraan masyarakat secara luas.


4.

Produk rencana merupakan hasil dan kesepakan bersama,


hasil dari dialog serta negosiasi berbagai pihak yang terlibat
ataupun yang pihak terkena dampak perencanaan.

5.

Produk rencana yang telah disepakati bersama tersebut,


menjadi konsekuensi bersama dan isi rencana mengikat
melalui pengesahan Peraturan Pemerintah Daerah.

6.

Jika terjadi peruntukan

7.

Pengaturan teknis yang tidak diatur dalam Perencanaan


Detail Tata Ruang, harus mengikuti kaidah teknis,
lingkungan, dan tidak menimbulkan dampak penting yang
luas.

8.

Adanya sistem monitoring, evaluasi dan pelaporan yang


transparan dan terbuka bagi publik.

8.6.1.15. Bentuk Peran Serta Masyarakat Dalam Pelaksanaan Penataan


Ruang
1. Bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan
pelaksanaan Penataan Ruang
2. Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana
tata ruang dan program pembangunan .
3. Bantuan teknik dan pengolahan dalam pemanfaatan ruang
dan/atau
4. Kegiatan menjaga, memelihara dan meningkatkan kelestarian
fungsi lingkungan hidup.
8.6.1.16. Bentuk

Peran

Serta

Masyarakat

Dalam

Pengendalian

Pemanfaatan Ruang
1. Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang skala daerah,
kecamatan dan kawasan, termasuk pemberian informasi atau
laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan dimaksud
dan/atau sumberdaya tanah, air, udara dan sumberdaya lainnya.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 133

PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)


KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016

2. Memberikan masukan/laporan tentang masalah yang berkaitan


dengan perubahan/ penyimpangan pemanfaatan ruang dari
peraturan yang telah disepakati
3. Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan
penertiban pemanfaatan ruang.
4. Mengajukan keberatan dan gugatan melalui instansi yang
berwenang menangani gugatan kepada pemilik, pengelola,
dan/atau pengguna atas penyelenggaraan peruntukan ruang,
bangunan dalam kawasan dan lingkungannya.
8.6.1.17. Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Pelaksanaan
Peraturan Zonasi
Disesuaikan dengan jangka waktu pelaksanaan prosesnya sendiri:
1. Bersifat periodik, jangka menengah, dapat dibuat panitia khusus
yang sifatnya ad-hoc atau tidak permanen. Panitia khusus ini
dibentuk melalui Surat Keputusan Walikota.
2. Bersifat sepanjang waktu atau sewaktu-waktu karena berbasis
pada kasus-kasus yang terjadi dapat dibentuk komite
perencanaan yang mempunyai tugas pokok dan fungsi khusus di
bidang perencanaan dan bersifat independen serta mempunyai
kewenangan legal formal untuk menindaklanjuti persoalanpersoalan penataan ruang.

Usulan teknis BAB 8 metodologi penyusunan RDTR

8 - 134