Anda di halaman 1dari 121

ANALISI SPASIAL KUALITAS EKOSISTEM TERUMBU

KARANG SEBAGAI DASAR PENENTUAN KAWASAN


KONSERVASI LAUT DENGAN METODE CELL BASED
MODELLING DI KARANG LEBAR DAN KARANG
CONGKAK KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

Oleh:
ANGGI AFIF MUZAKI
C64104035

SKRIPSI

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

ANALISI SPASIAL KUALITAS EKOSISTEM TERUMBU KARANG


SEBAGAI DASAR PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI LAUT
DENGAN METODE CELL BASED MODELLING DI KARANG LEBAR
DAN KARANG CONGKAK KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

Adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi
yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan
dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar
Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, November 2008

ANGGI AFIF MUZAKI


C64104035

ii
RINGKASAN

ANGGI AFIF MUZAKI. Analisi Spasial Kualitas Ekosistem Terumbu


Karang Sebagai Dasar Penentuan Kawasan Konservasi Laut dengan Metode
Cell Based Modelling di Karang Lebar Dan Karang Congkak Kepulauan
Seribu, DKI Jakarta. Dibimbing oleh SETYO BUDI SUSILO dan
SYAMSUL BAHRI AGUS.

Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap : pengolahan citra pada bulan April
2008, survey lapang dan pengambilan sampling kualitas air pada tanggal 12- 18
Mei 2008 dan 22 – 26 Juli 2008, dan analisa akhir pada bulan Mei – Agustus
2008 yang dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis , Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penentuan stasiun dilakukan secara acak
dan menyebar di daerah tubir Gugusan Karang Congkak dan Karang Lebar.
Survei lapang bertujuan untuk ground truth citra hasil klasifikasi serta
pengambilan sampel kualitas air dan kondisi ekosistem terumbu karang.
Parameter yang digunakan unruk penentuan kawasan konservasi laut meliputi
jenis substrat dasar perairan, jumlah jenis ikan karang, kelimpahan ikan karang,
kedalaman, jarak dari jalur pelayaran, dan jarak dari lokasi penelitian. Dari semua
parameter yang di dapat kemudian di spasialkan dan dilakukan analisis spasial
berbasis raster.
Penempakan substrat dasar secara maksiaml diterapkan metode penajaman
multiimage yang mengkombinasikan band 2 dan band 3 berdasarkan algoritma
penurunan ”Standard Exponential Attenuation Model”. Setelah mengekstrak
nilai digital band 2 dan band 3 maka didapat nilai koefisien atenuasi perairan
(Ki/Kj) sebersar 0,59289. Dengan demikian, persamaan algoritma yang
digunakan untuk mengekstrak substrat dasar menjadi Y= ln (k1) -0,59289* ln
(K2) (Green et all.,2000). Banyak kelas juga terlihat pada histogram yang
diwakili oleh puncak – puncak piksel yang dominan yaitu dengan sebaran nilai
antara 7,54692 sampai 8,171772. Luasan turunan substrat dasar diantaranya
karang hidup 131,8336 ha, karang mati 102,4704 ha, lamun 316,9920 ha, dan
pasir 316,9920 ha. Hasil uji akurasi citra hasil klasifikasi menunjukkan nilai
akurasi mencapai 90,12 %, ini menandakan bahwa citra sudah terkelaskan dengan
benar.
Analisi spasial pada data raster merupakan dasar dari Cell Based
Modelling, resolusi satelit yang tinggi yaitu 8 x 8 m menambah keakuratan dari
hasil pengolahan citra. Dari hasil analisa spasial daerah yang termasuk dalam
kategori sangat sesuai untuk dijadikan kawasan konservasi laut memiliki luas
118,2976 ha banyak terletak di bagian tubir Karang Lebar dan Karang Congkak.
Daerah dengan kategori sesuai memiliki luas 789,0176 ha banyak berada di reef
flat Karang Lebar dan Karang Congkak, sedangkan daerah tidak sesuai
mempunyai luasan sebesar 462,9760 ha.

iii
ANALISI SPASIAL KUALITAS EKOSISTEM TERUMBU
KARANG SEBAGAI DASAR PENENTUAN KAWASAN
KONSERVASI LAUT DENGAN METODE CELL BASED
MODELLING DI KARANG LEBAR DAN KARANG
CONGKAK KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

Oleh:
Anggi Afif Muzaki
C64104035

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan
pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

iv
SKRIPSI

Judul Penelitian : ANALISI SPASIAL KUALITAS EKOSISTEM


TERUMBU KARANG SEBAGAI DASAR PENENTUAN
KAWASAN KONSERVASI LAUT DENGAN METODE
CELL BASED MODELLING DI KARANG LEBAR DAN
KARANG CONGKAK KEPULAUAN SERIBU, DKI
JAKARTA

Nama Mahasiswa : Anggi Afif Muzaki


Nomor Pokok : C64104035
Departemen : Ilmu dan Teknologi Kelautan

Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr.Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc. Syamsul Bahri Agus, S.Pi, M.Si.
NIP : 131 284 624 NIP : 132 311 312

Mengetahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc


NIP : 131 578 799

Tanggal Lulus : 26 November 2008


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas semua rahmat dan karunia yang telah

diberikan kepada penulis sehingga skripsi dari penelitian ini dapat terselesaikan.

Skripsi ini berjudul Analisi Spasial Kualitas Ekosistem Terumbu Karang Sebagai

Dasar Penentuan Kawasan Konservasi Laut dengan Metode Cell Based Modelling

di Karang Lebar dan Karang Congkak Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar -


besarnya kepada:
1. Orang Tua serta kakak, adik penulis yang telah memberikan kasih sayang,
motivasi, inspirasi, doa dan semangatnya yang tak kunjung henti.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc. dan Bapak Syamsul B. Agus,
S.Pi, M.Si. selaku Komisi Pembimbing yang telah memberikan
pengetahuannya kepada penulis.
3. Bapak Dr. Ir. Vincentius P. Siregar, DEA. yang telah memberikan
bimbingan, saran, dan kritik serta bantuan mengenai penelitian ini.
4. Tim Riset Insentif Dasar 2008 atas bantuan dan kerjasamanya.
5. Fisheries Diving Club atas pengajaran dan pengalamannya selama ini.
6. Roshyana Wahyu N.J. atas dukungan dan bantuan selama pengerjaan
skripsi ini.
7. Seluruh warga Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut
Pertanian Bogor atas kebersamaannya selama masa perkuliahan.
8. Seluruh pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Bogor, November 2008

Anggi Afif Muzaki

vi
DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR TABEL ........................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii

1. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1. Latar belakang .................................................................................... 1
1.2. Tujuan penelitian ................................................................................... 2

2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 3


2.1. Kondisi umum lokasi penelitian .............................................................. 3
2.1.1. Topografi dan geologi ..................................................................... 3
2.1.2. Iklim ............................................................................................... 4
2.1.3. Kondisi hidro-oseanografi ............................................................... 4
2.2. Konservasi .............................................................................................. 5
2.2.1. Sejarah konservasi ........................................................................... 5
2.2.2. Kawasan konservasi Laut ................................................................ 8
2.3. Ekosistem utama wilayah pesisir ............................................................. 9
2.3.1. Ekosistem hutan mangrove ......................................................... 10
2.3.2. Ekosistem padang lamun............................................................... 12
2.3.3. Ekosistem terumbu karang .......................................................... 14
2.4. Lingkungan sosial ekonomi .................................................................. 15
2.5. Penginderaan jauh ................................................................................. 16
2.7. Sistem informasi geografis .................................................................... 19
2.8. Cell based modeling ............................................................................. 22

3. METODE PENELITIAN .......................................................................... 27


3.1. Lokasi dan waktu penelitian ................................................................. 28
3.2. Alat dan bahan ...................................................................................... 28
3.2.1. Alat ............................................................................................... 28
3.2.2. Bahan ............................................................................................ 28
3.3. Motede penelitian ................................................................................. 29
3.4. Pengolahan Citra satelit ........................................................................ 29
3.4.1. Pre-processing ............................................................................. 29
3.4.2. Penajaman citra ............................................................................. 31
3.4.2.1. Penajaman citra untuk karakteristik dasar perairan ................. 31
3.4.2.2. Penajaman citra untuk klorofil perairan .................................. 32
3.4.2.3. Penajaman citra untuk muatan padatan tersuspensi ................. 32
3.4.2.4. Pemetaan kawasan mangrove ................................................. 33
3.4.3. Klasifikasi citra ............................................................................. 34
3.4.4. Penilaian hasil dan analisis ketelitian data ...................................... 34
3.5. Penentuan stasiun pengamatan ............................................................... 35

vii
3.6. Pengukuran faktor fisik lapangan .......................................................... 36
3.5.1. Survei kondisi terumbu karang dan kepadatan ikan Karang ........... 37
3.5.2. Survei kondisi sosial, ekonomi dan budaya .................................... 40
3.7. Metode penentuan kawasan perlindungan laut ........................................... 41
3.8. Matriks kesesuaian untuk penentuan daerah perlindungan laut ................... 43

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 47


4.1. Pendugaan parameter kawasan konservasi laut dengan citra satelit ......... 47
4.1.1. Pengolahan awal citra .................................................................... 47
4.2.2. Substrat dasar perairan dangkal ..................................................... 49
4.1.3. Konsentrasi klorofil ....................................................................... 54
4.1.4. Muatan padatan tersuspensi ........................................................... 55
4.2. Parameter Biofisik kawasan konservasi laut ......................................... 58
4.2.1. Keterlindungan wilayah ................................................................. 58
4.2.2. Suhu .............................................................................................. 60
4.2.3. Salinitas ........................................................................................ 60
4.2.3. pH .............................................................................................. 63
4.2.4. Oksigen terlarut ............................................................................. 63
4.2.5. Kecerahan ..................................................................................... 66
4.2.6. Arus dan pasang surut ................................................................... 68
4.2.7. Batimetri ....................................................................................... 71
4.2.8. Jumlah jenis ikan karang ............................................................... 74
4.2.9. Kelimpahan ikan karang ................................................................ 76
4.3. Parameter Penimbang Daerah Perlindungan Laut ................................ 79
4.3.1. Jarak Pantauan Dari Pemukiman Penduduk Pulau Kecil ................ 79
4.3.2. Jarak Dari Jalur Pelayaran ............................................................ 79
4.3.3. Analisis Zona Konservasi Laut (daerah perlindungan laut ) dengan
Cell Based Modeling ................................................................... 81

5. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 89


5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 89
5.2. Saran ................................................................................................... 90

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 91

LAMPIRAN .................................................................................................. 96

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................... 110

viii
DAFTAR TABEL
Halaman

1. Nilai konstanta kalibrasi dari band thermal (NASA, 2005) .......................... 18

2. Stasiun pengamatan ...................................................................................... 35

3. Kriteria persentase penutupan karang .......................................................... 41

4. Sistem penilaian kesesuaian daerah perlindungan laut .................................. 46

5. Luasan turunan substrat dasar perairan Karang Lebar dan Karang ................. 52

6. Cunfusion matrix ......................................................................................... 54

7. Akurasi untuk sisi user dan producer ......................................................... 55

8. Pasang surut perairan Kepulauan Seribu ....................................................... 71

9. Jumlah sel hasil klasifikasi parameter dengan Cell Based Modelling ............ 88

10. Jumlah sel hasil Weighted overlay .............................................................. 89

ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman

1. Anatomi Terumbu Karang ............................................................................ 14

2. Tampilan Tema / Layer ................................................................................ 20

3. Perbandingan antara data raster dan data vector ............................................ 21

4. Struktur data raster ....................................................................................... 23

5. Ilustrasi operasi piksel .................................................................................. 25

6. Peta lokasi penelitian ..................................................................................... 27

7. Diagram alir penelitian ................................................................................. 30

8. Metode pengambailan data LIT .................................................................... 38

9. Metode Visual Sensus .................................................................................. 39

10. Weigth Overlay untuk Daerah Perlindungan Laut ( DPL) ........................... 42

11. Peta titik GCP lapang ................................................................................. 49

12. Citra komposit RGB 423 (a) dan RGB 123 (b) ........................................... 50

13. Histogram citra hasil penerapan algoritma Lyzenga .................................... 51

14. Peta sebaran substrat dasar Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 53

15. Peta sebaran klorofil – a Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 57

16. Peta sebaran MPT Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu –
Jakarta ........................................................................................................ 58

17. Peta keterlindungan wilayah Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 60

18. Peta sebaran Suhu Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu –
Jakarta ........................................................................................................ 62
19. Peta sebaran Salinitas Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu –
Jakarta ........................................................................................................ 63

x
20. Peta sebaran pH Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu –
Jakarta ........................................................................................................ 65

21. Peta sebaran Oksigen Terlarut Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 66

22. Peta sebaran kecerahan Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 68

23. Grafik Pasang Surut Tunggal Perairan Kepulauan Seribu .......................... 70

24. Peta pola arus permukaan Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 71

25. Peta sebaran Kedalaman Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 73

26. Profil 3D Karang Lebar, Kepulauan Seribu – Jakarta .................................. 74

27. Profil 3D Karang Congkak, Kepulauan Seribu – Jakarta ............................. 74

28. Peta sebaran Jumlah Jenis Ikan Karang Perairan Karang Lebar dan
Congkak, Kep. Seribu – Jakarta .................................................................. 76

29. Histogram Kelimpahan Ikan Karang .......................................................... 77

30. Peta sebaran Jumlah Individu Ikan Karang Perairan Karang Lebar dan
Congkak, Kep. Seribu – Jakarta .................................................................. 79

31. Peta Buffer Kawasan Pemukiman Pulau Kecil Perairan Karang Lebar dan
Congkak, Kep. Seribu – Jakarta .................................................................. 81

32. Peta Buffer Jalur Pelayaran Perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep.
Seribu – Jakarta .......................................................................................... 83
33. Peta keseuaian daerah perlindungan laut Perairan Karang Lebar dan
Congkak, Kep. Seribu – Jakarta .................................................................. 97

xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

1. Data GCP dan RMS report .......................................................................... 97

2. Kalkulasi Koefisien attenuasi perairan (ki/kj) ............................................... 98

3. Peta hasil klasifikasi ulang subsrat dasar dan kedalaman ........................... 100

4. Peta hasil klasifikasi ulang sebaran jumlah ikan karang dan kelimpahan
ikan karang ................................................................................................. 101

5. Parameter fisika kimia perairan pada setiap stasiun pengamatan. ................. 102

6. Komposisi substrat dasar di setian stasiun pengamatan LIT ........................ 103

7. Komposisi substrat dasar di setian stasiun pengamatan RRA ...................... 105

8. Famili ikan dan spesies yang ditemukan untuk menilai komposisi dan
kelimpahan ikan karang .............................................................................. 106

9. Gambar alat penelitian dan lokasi penelitian .............................................. 108

xii
1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir kondisi ekosistem terumbu karang

kita yang rusak meningkat dari 10% menjadi 50% (P2O LIPI, 2006). Kondisi ini

memaksa kita segera bertindak menjaga ekosistem di sekitar kita. Penentuan

kawasan konservasi laut ( KKL) adalah salah satu cara untuk menjaga kelesatarian

suatu ekosistem agar tidak musnah.

Perencanaan kawasan konservasi yang memerlukan banyak parameter akan

memerlukan analisis yang kompleks dan tidak mudah dilakukan. Namun

demikian dengan perkembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan metode

analisis spasial seperti sekarang permasalahan tersebut mendapat jalan keluarnya.

Misalnya dengan diperkenalkannya perangkat analisis Cell Based Modelling yang

secara khusus dapat membantu dalam perencanaan kawasan konservasi laut secara

cepat. Analisis Cell Based Modelling di dalam SIG ini akan sangat membantu

para perencana, tenaga teknis, para pengambil kebijakan dalam mendesain,

mengelola kawasan konservasi laut seperti yang mereka harapkan.

Gugusan pulau Karang Lebar dan Karang Congkak merupakan salah

wilayah yang berada Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Kawasan ini

merupakan ekosistem terumbu karang yang perlu dilindungi. Sumberdaya

terumbu karang dengan berbagai jenisnya perlu mendapatkan perhatian dari

seluruh stakeholder. Penelitian ini akan mencoba menetapkan lokasi mana yang

layak dijadikan kawasan konservasi laut dengan menggunakan aplikasi SIG dan

memperhatikan parameter-parameter lingkungan lainnya.

1
2

1.2. Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji perairan mana dari wilayah

gugusan pulau Karang Lebar dan Karang Congkak yang layak menjadi kawasan

konservasi laut melalui analisis citra, survei lapangan dengan metode Cell Based

Modelling, dan sebagai masukkan kepada stakeholder dalam pengelolaan kawasan

konservasi laut.
3

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kondisi umum lokasi penelitian

Secara geografis, Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau kecil

di perairan laut DKI Jakarta yang terbentang dari Teluk Jakarta di selatan hingga

Pulau Sebira di utara yang merupakan pulau terjauh dengan jarak kurang lebih

150 km dari pantai Jakarta Utara. Kepulauan Seribu terletak pada 106020’00’’ BT

hingga 106057’00’’ BT dan 5010’00’’ LS hingga 5057’00’’ LS. Secara

administratif, berdasarkan UU Nomor 34 Tahun 1999 dan PP Nomor 55 Tahun

2001 Kepulauan Seribu merupakan Kabupaten Adiministratif yang terdiri dari 110

pulau, dimana hanya 11 pulau di antaranya yang berpenghuni (BPS, 2005).

2.1.1 Topografi dan geologi

Hampir seluruh pulau pada Kepulauan Seribu mempunyai topografi yang

landai (kemiringan = 0-5%) dengan ketinggian rata-rata (0-2) m di atas

permukaan laut. Sebagian besar lahan tertutup oleh terumbu karang yang sedang

tumbuh ataupun sudah mati. Terumbu karang yang sudah mati rata-rata berada

pada 100 m dari garis pantai. Sebagian besar pulau di Kepulauan Seribu jarang

terjadi banjir, tanah bersifat anaerobik, dan ketebalan tanah dibawah top soil

adalah 0-4 m.

Kawasan Pulau Seribu, mencakup lautan, pulau karang, gugusan karang dan

gosong. Secara geologis pulau-pulau di kawasan ini terdiri dari batu-batu kapur

(karang), pasir dan sedimen yang berasal dari daratan Pulau Jawa dan dari Laut

Jawa. Penyebaran ketiga jenis batuan menurut kedalaman laut adalah sebagai

berikut (Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI, 2005) :

3
4

 Batuan kapur (karang) : 0 - 10 m

 Batuan pasir dan karang : 10 - 20 m

 Batuan pasir dan sedimen : lebih dari 20 m

2.1.2. Iklim

Iklim di Kawasan Kepulauan Seribu adalah Iklim tropis yang didominasi

dua musim, yaitu musim barat dan musim timur. Musim barat berlangsung mulai

akhir November sampai akhir bulan Febuari. Pada musim ini angin bertiup

kencang disertai arus laut yang kuat bergerak dari barat ke timur disertai hujan

yang cukup deras. Akibat arus yang kuat, kejernihan air laut menjadi berkurang.

Kecepatan arus dapat mencapai 4-5 knot sedangkan tinggi gelombang mencapai 2

meter. Musim timur berlangsung mulai akhir bulan Mei sampai akhir Agustus.

Angin bertiup kencang ke arah barat, demikian juga arus laut yang ada. Hujan

jarang turun dan kejernihan laut bertambah. Di antara kedua musim tersebut

terdapat musim peralihan. Kondisi laut pada saat itu biasanya berubah-ubah,

tetapi relatif tenang (LAPI-ITB, 2001).

2.1.3. Kondisi hidro-oseanografi

Secara umum kondisi perairan di gugusan pulau-pulau di Kepulauan Seribu

memiliki fenomena yang hampir sama, karena terletak pada satu kawasan yang

berdekatan. Perairan Kepulauan seribu mempunyai karakteristik pasang surut

jenis campuran dominan ganda dengan range pasut sampai 80 cm. Jenis pasut

tersebut merupakan tipe umum jenis pasut di Perairan Laut Jawa. Tinggi dan arah

panjalaran gelombang laut di Perairan Kepulauan Seribu dipengaruhi oleh angin.

Tinggi gelombang sangat bervariasi antara 0,5 -1,5 m. Kecepatan arus di


5

Kepulauan Seribu tergolong lemah, kecuali di daerah antar pulau, akibat masa air

melewati bagian yang relatif sempit. Arah arus secara umum dominan dari arah

timur laut sampai tenggara. Hal ini menunjukan bahwa pola arus permukaan di

perairan tersebut diakibatkan oleh pola angin yang terjadi, sebagaimana sifat fisik

arus permukaan di perairan Laut Jawa pada umumnya.

Variasi salinitas horizontal maupun vertikal pada perairan Kepulauan

Seribu relatif kecil. Salinitas rata-rata berkisar 300/00 - 34 0/00. Variasi rata-rata

suhu di perairan Kepulauan Seribu berkisar antara 28,5 0C – 31 0C. Adanya

variasi tersebut disebabkan oleh adanya gugusan pulau-pulau yang tentunya

mempunyai kedalaman yang bervariasi (LAPI-ITB, 2001). Secara umum apabila

kedalaman laut semakin kecil maka temperatur air laut pada siang hari akan

semakin besar, karena adanya pengaruh penetrasi cahaya matahari. Meskipun

demikian mekanisme naik turunnya air pasang surut membuat suhu perairan akan

berkisar pada temperatur normal (28 0C) pada umumnya (Wyrtki,1961).

2.2. Konservasi

2.2.1. Sejarah konsevasi

Pada awalnya konservasi dianggap sebagai suatu upaya perlindungan dan

pelesatarian yang menutup kemungkinan dilakukannya pemanfaatan sumberdaya

alam. Namun demikan bila suatu kawasan itu dilindungi, dirancang dan dikelola

secara tepat, dapat memberikan keuntungan yang lestari bagi masyarakat dan

sebagai sumber devisa negara. Oleh karena itu konservasi memegang peranan

penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi di lingkungan pedesaan dan turut

menyumbangkan ekonomi pusat perkotaan serta meningkatkan kualitas hidup

penghuninya.
6

Strategi konservasi dunia yang disiapkan empat badan konseravsi dunia

terkemuka, yaitu Serikat Pelestari Alam (IUCN), Dana Marga Satwa Dunia

(WWF), Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta program lingkungan

hidup PBB (UNEP) yang ditetapkan pada tahun 1981 menyatakan bahwa

konservasi sumberdaya alam penting artinya bagi pembangunan berkelanjutan dan

dapat dicapai melalui :

1. Menjaga proses penting serta sistem kehidupan yang penting bagi

kelangsungan hidup dan pembangunan

2. Melestarikan keanakaragaman plasma nutfah yan penting bagi program

budidaya, agar dapat melindungi dan memperbaiki sifat-sifat tanaman dan

hewan budidaya.

3. Menjamin kesinambungan pendayagunaan spesies dan ekosistem oleh

manusia, yang mendukung kehidupan jutaan penduduk serta dapat

menopang sejumlah industri.

IUCN (Murni, 2000) menyusun strategi konservasi yang disesuaikan dengan alam

di Indonesia meliputi :

1. Perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan dengan menjamin

terpeliharanya proses ekologi bagi kelangsungan hidup biota dan

ekosistemnya.

2. Pengawetan keanekaragaman sumber plasma nutfah, yaitu menjamin

terpeliharanya sumber genetik dan ekosistemnya bagi kepentingan umat

manusia.

3. Pelestarian didalam cara-cara pemanfaatan baik jenis maupun

ekosistemnya yaitu dengan mengatur dan mengendalikan cara


7

pemanfaatan, sehingga diharapkan dapat diperoleh manfaat yang optimum

dan berkesinambungan.

Menurut UU No. 23 Tahun 1997, konservasi sumberdaya alam adalah

pengelolaan sumberdaya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatan secara

bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan

ketersediaanya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta

keanekaragamannya. Mempertimbangkan bahwa sumberdaya alam harus dikelola

dengan sebaik-baiknya dalam upaya memajukan kesejahteraan umum, diterbitkan

UU No.4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan

Lingkungan Hidup. Pembagian kawasan perlindungan perairan di Indonesia

ditegaskan pada UU no. 5 Tahun 1990, yang menbagi kawasan konservasi ke

dalam : Kawasan Suaka Alam (KSA), terdiri dari Cagar Alam dan Suaka

Margasatwa Laut ; Kawasan Pelesarian alam (KPA) yang terdiri dari Taman

Nasional Laut dan Taman Wisata Laut.

Dalam rencana pengalokasian kawasan konservasi, diperlukan minimal 4

tahapan dalam proses pemilihan lokasi (Agardy dalam Bengen, 2002) :

1. Identifikasi habitat atau lingkungan kritis, distribusi ikan ekologis dan

ekonomis penting dan dilanjutkan dengan memetakan informasi tersebut

dalam menggunakan Sistem Informasi Geografis.

2. Penelitian tingkat pemanfaatan sumberdaya dan identifikasi sumber-

sumber degradasi di kawasan.

3. Penentuan lokasi dimana perlu dilakukan konservasi.

4. Pengkajian kelayakan kawasan konservasi prioritas yang dapat dijadikan

kawasan konservasi, berdasarkan proses perencanaan lokasi.


8

2.2.2. Kawasan konservasi laut (KKL)

Kawasan konservasi laut (Marine Protected Area, MPA) merupakan

kawasan laut yang dilindungi yang bertujuan agar ekosistem beserta sumber daya

kelautan di kawasan tersebut tidak punah. KKL memiliki dua fungsi utama, yaitu

: (1) Melindungi seluruh ekosistem dengan cara mengkonservasi berbagai spesies

dan habitat-habitat utama (critical habitat) seperti daerah pemijahan (spawning

grounds) dan daerah asuhan/pembesaran (nursery grounds), dan (2) Stok ikan

(biota laut lainnya) dalam KKL dapat berfungsi seperti “tabungan“ (bank account)

atau jaminan yang dapat menyangga fluktuasi dan penurunan populasi yang

terjadi di luar KKL akibat kesalahan manajemen maupun fluktuasi alamiah.

Penetapan kawasan konservasi laut haruslah diartikan sebagai salah satu upaya

untuk mewujudkan suatu pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan. Salm et

al. (2000) mengatakan bahwa pemanfaatan yang berkelanjutan terhadap

sumberdaya pesisir mesyaratkan bahwa sebagian wilayah tersebut dipertahankan

kondisinya sealamiah mungkin. Penetapan kawasan lindung dimaksudkan untuk

mengamankan habitat kritis untuk produksi ikan, melestararikan sumberdaya

genetis, menjaga keindahan alam dan warisan alam. Hal ini berarti bahwa

pemanfaatan berkelanjutan mengharuskan adanya pemanfaatan yang bijaksana

(wise use) dan pengelolaan yang berhati-hati (causiusness) terhadap sumber daya

dan ekosistemnya sehingga memberikan peluang pemanfaatan oleh masyarakat

generasi mendatang.

Salm dan Clark (1984) dalam Dinas DKI Jakarta (2005) mengatakan bahwa

walaupun saat ini terdapat tuntutan yang makin kuat untuk menunjukkan manfaat

sosial ekonomis kawasan lindung laut lebih besar dari pada biaya untuk
9

pembuatan dan pemeliharaannya. Namun hal ini memang tidak mudah. Mereka

menyebutkan bahwa adalah sangat sulit untuk menampilkan dalam bentik uang

(moneter) keuntungan kawasan lindung laut dalam hal-hal (variable) seperti

inspirasi, pusaka (heritage) alam dan budaya, atau masalah kebanggaan lokal,

nasional dan bahkan internasional. Hal ini kelihatannya menjadi penyebab masih

sedikitnya suatu kajian tentang manfaat kawasan lindung terhadap kehidupan

sosial ekonomi masyarakat setempat.

Walaupun terdapat kendala-kendala didalam menilai keberadaan KKL,

tetapi penelitian sumberdaya lingkungan KKL sangat diperlukan dengan semakin

meningkatnya pembangunan di berbagai bidang yang dapat mengancam

kelestarian sumberdaya alam kealutan. Sumberdaya alam kelautan tidak

semuanya dapat dinilai secara moneter. Sumberdaya alam kelautan ini selain

mengahasilkan barang dan jasa yang dapat dinilai secara moneter, juga

mempunyai atribut yang tidak dapat dinilai secara moneter. Saat ini telah

berkembang metoda untuk menilai atribut-atribut sumberdaya alam dan

lingkungan yang tidak bisa dinilai secara moneter yang disebut sebagai “non-

market valuation”.

2.3. Ekosistem utama wilayah pesisir

Wilayah pesisir adalah suatu daerah pertemuan antara darat dan laut, dimana

ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun

terendam air yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin

laut dan perembesan air asin, sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup

bagian laut yang masih dipengaruhi proses-proses alami yang terjadi di darat
10

seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan

manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976).

Ekosistem yang terdapat di wilayah pesisir merupakan suatu himpunan

integral dari berbagai komponen hayati atau kumpulan dari organisme hidup dan

kondisi fisik dimana ia hidup yang saling berinteraksi . Hubungan saling

ketergantungan tersebut terangkai diantara rantai makanan, dimana organisme

akan hidup saling tergantung satu dengan yang lain, sehingga bila salah satu

komponen organisme terganggu maka akan mempengaruhi keseluruhan sistem

yang ada. Jenis-jenis ekosistem yang dapat ditemukan di wilayah pesisir antara

lain : ekosistem hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, dune/ bukit

pasir, estuari, laguna, delta, pulau-pilau kecil dan lain-lain (DKP, 2002).

Kepulauan Seribu memilik ekosistem yang lengkap yaitu ekosistem

mangrove, ekositem lamun, dan ekosistem terumbu karang. Sebagaian besar

ekosistem pesisir ini di lindungi oleh negara sebagai kawasan lindung, cagar alam,

suaka margasatwa, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Keseluruhan

ekosistem yang ada sangat menunjang perekonomian masyarakat lokal, terutama

di sektor perikanan, industri, transportasi, pariwisata, perdagangan, dan jasa.

2.3.1. Ekosistem hutan mangrove

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang

didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan

berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komonitas ini umumnya

tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran air,

terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang keras (Bengen,

2002). Mangrove tumbuh pada laguna, rawa, delta dan muara sungai. Mangrove
11

juga tumbuh pada pantai berpasir, pantai yang terdapat terumbu karang dan di

sekitar pulau-pulau. Mangrove tidak mampu tumbuh di pantai yang terjal dan

berombak besar dengan arus pasang surut yang kuat karena hal ini tidak

memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur dan pasir, substrat yang

diperlukan untuk pertumbuhannya (Nontji, 1993).

Vegetasi hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang

tinggi, dengan jumlah jenis sebanyak 202 jenis yang terdiri atas 89 jenis pohon, 5

jenis palem, 10 jenis liana, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas. Hutan mangrove

sering juga disebut hutan bakau walau sebenarnya istilah ini kurang tepat. Hutan

bakau di Indonesia pada umumnya didominasi oleh empat famili, yaitu

Rhizpphoraceae, Avicenniaceae, Meliaceae dan Sonneratia (Bengen, 2002).

Sebagai suatu ekosistem yang khas wilayah pesisir, hutan mangrove

memiliki fungsi ekologis penting. Pengaruh yang menguntungkan dari hutan

mangrove terhadap ekologi laut adalah sebagai dasar dari rantai makanan yang

kompleks, tempat memijah, tempat asuh bagi larva berbagai biota, menyaring

polusi, menjaga kestabilan dari substrat mangrove dan menjaga pantai dari erosi

(Riley, 2001). Selain berfungsi sebagai penyaring bahan nutrien dan penghasil

bahan organik, mangrove juga berfungsi sebagai daerah penyangga antara daratan

dan lautan dan penstabil bagi habitat satwa liar serta sebagai sumber produk

perikanan dan sumber fotosintesis yang besar.

Mangrove di Kepulauan Seribu tumbuh di daerah pasang surut dengan

tanah lumpur berpasir. Walaupun demikian, tidak semua jenis mangrove bisa

tumbuh di pulau. Kalaupun ada, tidak tumbuh dominan di Kepulauan Seribu.

Penyebabnya adalah kondisi pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Walaupun


12

memiliki pantai, pulau-pulau di Kepualuan Seribu tidak memiliki karakteristik

sebagai pantai daratan. Tidak semua mangrove bisa tumbuh pada kondisi yang

berbeda dengan habitat sesungguhnya dari mangrove tersebut. Kondisi pantai

pulau yang miskin hara dan minim lumpur adalah penyebabnya. Mangrove yang

mendominasi adalah Rhizophora stylosa. Sedangkan yang lainnya adalah

Rhizophora mucronata, Sonneratia alba (pedada), Bruguiera exirtata (tancang),

Avicennia marina ( api-api), Pemphis acidula dan Ceriop tagal (Kepulauan

seribu, 2007)

2.3.2. Ekosistem padang lamun

Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya

menyesuaikan diri untuk hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini terdiri dari

rhizoma, daun dan akar (Nontji, 1993). Perairan yang dangkal (2-12 meter) dan

jenih dengan sirkulasi air yang baik serta iklim yang hangat merupakan salah satu

syarat agar lamun berkembang dengan baik.

Lamun pada umumnya berupa padang yang luas di dasar laut yang masih

bisa dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai. Padang lamun dapat

membentuk komunitas tunggal (terdiri dari satu jenis lamun) atau campuran

(disusun dari dua atau lebih jenis lamun). Lamun hidup di perairan laut dangkal,

mulai daerah pasang surut yang dapat terbuka ketika surut terendah sanpai dengan

kedalaman 30 meter. Lamun dapat dijumpai baik di perairan pantai pulau-pulau

utama maupun rataan terumbu dan gobah pulau-pulau karang. Dasar jenis

substrat tempat hidup lamun adalah lumpur, pasir halus, pasir kasar, kerikil, puing

karang mati atau campuran dari substrat tersebut (Kiswara, 1999).


13

Padang lamun dapat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus

dan gelombang sehingga menyebabkan perairan sekitarnya menjadi lebih tenang,

dengan demikian padang lamun bertindak sebagai perangkap sedimen dan

pelindung pantai, pencegah erosi (Nontji, 1993). Padang lamun juga berfungsi

sebagai produsen detritus dan zat hara, serta sebagai tudung pelindung yang

melindungi penghuni padang lamun dari sengatan sinar matahari. Hal ini menarik

perhatian beberapa jenis biota laut seperti ikan, penyu, dugong dan berbagai jenis

biota lainnya untuk mencari makan, tumbuh besar dan memijah di tempat ini.

Padang lamun di Indonesia menyebar di seluruh perairan terutama di

perairan yang dangkal dan jernih, yang terdiri dari tujuh marga lamun. Tiga genus

dari suku Hydrocaritaceae yaitu Enhalus, Thalassia dan Halophila, sedang empat

genus lainnya dari suku Pomagetonaceae yaitu Halodule, Cymodocea,

Syringodium dan Thalassodendron ( Nontji, 1993).

Berdasarkan temuan pihak Taman Nasional Kepulauan Seribu, jenis lamun

yang ditemukan di kawasan Kepulauan Seribu terdiri dari enam jenis yaitu

Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Cymodocea

rotundata, Halophila ovalis dan Syringodium isoetifolium (Kepulauan seribu,

2007). Padang lamun biasa terdapat pada daerah teratas pasang surut, dibatasi

oleh kondisi yang terbuka terhadap kekeringan. Sewaktu surut, biasanya padang

lamun tidak sampai mengalami kekeringan karena masih digenangi oleh air laut

walaupun terlihat dangkal. Pada waktu pasang, air menutup padang lamun,

membentuk daerah yang terendam air pasang.


14

2.3.3. Ekosistem terumbu karang

Terumbu karang adalah suatu ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun

terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khusunya jenis-jenis karang

batu dengan tambahan penting dari alga berkapur dan organisme lain penghasil

kapur (Romimohtarto dan Juwana, 2001 ). Organisme penghasil kapur tersebut

(hewan maupun tumbuhan) mengekstrak karbonat dari perairan sekitarnya untuk

membangun tulang luar, cangkang, spikula dan elemen kapur lainnya di tubuh

mereka (Sorokin, 1995). Penampang melintang terumbu karang dapat dilihat

pada Gambar 1.

Sumber : Veron (2002)


Gambar 1. Anatomi hewan karang (sumber : Veron, 2002)

Terumbu karang merupakan keunikan diantara komunitas lautan, yaitu

seluruhnya dibentuk oleh kegiatan biologis (Nybakken,1992). Struktur fisik dari

terumbu karang diproduksi oleh pertumbuhan dari hewan karang dan alga (Weber

dan Thurman, 1991). Pertumbuhan yang kontinu mengahasilkan lingkungan tiga


15

dimensi yang menjadi rumah bagi ratusan jenis organisme laut dan memiliki

warna yang indah. Ekosistem terumbu karang berada di daerah perairan dangkal

di sekitar daratan daerah tropis. Keberadaannya terbatas di perairan hangat

dimana suhu rata-ratanya tidak kurang dari 18oC pada musim dingin. Lamanya

proses pembentukkan ekosistem ini dan keberadaanya menjadikan ekosistem

terumbu karang dapat dikatakan sebagai salah satu ekosistem tertua di dunia dan

komunitas hewan dan tumbuhan yang paling kompleks didunia setara dengan

hutan hujan tropis.

Setiap terumbu karang memiliki ciri khas tersendiri, tergantung dari

bagaimana lokasi dipengaruhi oleh salinitas, suhu, arus, deposit sedimen, dan

bentuk dasar bawah laut (Wilson dan Wilson, 1985). Menurut bentuk dan

letaknya, terumbu dibedakan menjadi empat tipe yaitu : fringing reef, barrier reef,

pacth reef dan atol.

Kepulauan Seribu berada di pusat kawasan segitiga karang (coral trianglie),

kawasan dengan kekayaan terumbu karang tertinggi di dunia, termasuk di

antaranya Indonesia, Filipina, Papua Nugini , dan Australia Utara. Marga yang

banyak ditemukan di kawasan ini antara lain Montipora, Fungia, Seriatopora,

Acropora, Porites, Galaxea, Lobophyllia, Pachyseris, Echinopora, dan

Hydnophora (Estradivari, 2007). Meskipun memiliki kekayaan terumbu karang

yang tinggi, kawasan ini mengalami berbagai ancaman setiap harinya.

2.4. Lingkungan sosial ekonomi

Kepulauan Seribu termasuk kedalam Kabupaten Administratif Kepulauan

seribu yang tebagi menjadi 2 kecamatan dan 6 kelurahan. Di Kabupaten


16

Kepulauan Seribu kepadatan penduduk pada tahun 2003 tercatat sebesar 2213

jiwa/km2 untuk pulau berpenghuni (BPS, 2005).

Perhitungan persentasi mata pencaharian masyarakat Kepulauan Seribu di

tahun 2002 menunjukkan 69,3% adalah nelayan, 10,4% pedagang, dan sisanya

berbagai jenis pekerjaan (PNS, pemandu wisata, wirausaha, dan polisi).

Masyarakat sangat tergantung pada terumbu karang, terutama nelayan ikan

konsumsi (palele), pelaku budidaya ikan, nelayan ikan dan karang hias, dan

penambang karang. Pemanfaatan sember daya terumbu karang di utara

Kepulauan Seibu lebih intensif ketimbang di bagian Selatan. Kondisi perairan

yang lebih baik membuat nelayan mendapat tangkapan yang lebih. Nelayan di

bagian selatan Kepulauan Seribu lebih memilih menangkap ikan di luar

Kepulauan Seribu karena kondisi perairan yang sangat buruk. Sayang karena

rendahnya tingkat pendapatan memaksa mereka menangkapan dengan cara yang

merusak lingkungan untuk mendapatkan hasil tangkapan lebih (Napitupulu et all.,

2005). Metode penangkapan ikan sepeti penggunaan sianida, muroami, dan

bagan, serta penambangan karang dan pasir yang masih sering dijumpai di

Kepulauan Seribu.

2.5. Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi

tentang objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh tanpa

menyentuh objek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).

Terdapat bebeapa komponen dalam system penginderaan jauh ;

1) Matahari sebagai sumber energi berupa radiasi elektromagnetik.

2) Atmosfer merupakan media lintasan dari energi elektromagnetik.


17

3) Sensor adalah alat yang mendeteksi radiasi gelombang elektromagnetik dari

suatu objek dan mengubahnya kedalam bentuk sinyal yang bisa direkam.

4) Target yaitu objek atau fenomena yang dideteksi oleh sensor.

Satelit Formosat-2 dilucurkan pada awal tahun 2005 yang merupakan

kerjasama antara Taiwan dan Amerika. Setelit ini merupakan satelit multi spectral

pertama kali mempunyai resolusi temporal 1 hari, orbit polar sun-synchronous

pada ketinggian 700 km yang memotong garis khatulistiwa ke arah selatan pada

waktu tetap yaitu pukul 09.30 waktu setempat serta mempunyai sudut inklinasi

72°. (NSPO, 2005).

Formosat merupakan satelit resolusi tinggi dimana reolusi spasialnya

mencapai 2 m (pakromatik) dan 8 m (multi spectral). Karakteristik panjang

gelombang yang dimiliki oleh sensor Formosat-2 diuraikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 . Karakteristik panjang gelombang sensor satelit FORMOSAT-2 (NSPO,


2005).
KANAL SPEKTRUM PANJANG RESOLUSI
GELOMBANG (µm) SPASIAL
1 Sinar tampak Merah 0,63 – 0,69 8m
2 Sinar tampak Hijau 0,52 – 0,60 8m
3 Sinar tampak Violet-Biru 0,45 – 0,52 8m
4 Sinar inframerah dekat 0,79 - 0,90 8m
5 Pankromatik 0.50 – 0.90 2m

Ketika cahaya melakukan penetrasi ke dalam kolom air, intensitasnya akan

berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya kedalaman. Proses yang

dikenal sebagai atenuasi (attenuation) ini memberikan pengaruh yang besar pada

penggunaan data penginderaan jauh dalam lingkungan air. Atenuasi dipengaruhi

oleh panjang gelombang dari gelombang elektromagnetik yang digunakan. Pada

cahaya tampak, bagian cahaya spektrum merah mempunyai atenuasi lebih besar
18

dibandingkan dengan bagian cahaya spektrum biru yang mempunyai panjang

gelombang lebih pendek. Dengan bertambahnya kedalaman, tingkat perbedaan

spektral dari habitat akan berkurang (Green et al., 2000).

Parameter lain yang mempengaruhi kesesuaian kawasan konservasi laut

antara lain material dasar perairan. Untuk dapat memetakan dasar perairan

dangkal dan terumbu karang dapat digunakan kombinasi tiga kanal sinar tampak

yaitu: band 1 (0,63 – 0,73 µm), band 2 ( 0,52 – 0,60 µm ) dan band 3 (0,45 – 0,52

µm) dari citra satelit FORMOSAT – 2. Perkembangan algoritma ini didasarkan

pada Model Pengurangan Eksponensial (Standard Exponential Attenuation

Model) yang merupakan teori dari Lyzenga (1978) dan teori ini merupakan salah

satu cara untuk menonjolkan objek dasar perairan (Siregar, 1995).

Klorofil (Chl) merupakan parameter yang sering digunakan sebagai

indikator penentu kualitas perairan. Hal ini dikarenakan parameter tersebut

merupakan parameter yang aktif secara optis dan cukup dapat mewakili kondisi

kualitas suatu perairan. Untuk melakukan pengukuran kualitas air, Robinson

(1985) membagi perairan menjadi dua kelompok berdasarkan sifat optisnya, yaitu

perairan kasus satu dan kasus dua. Perairan kasus satu adalah perairan yang sifat

optisnya didominasi oleh fitoplankton. Perairan ini biasanya ditemukan di

perairan lepas pantai yang tidak dipengaruhi zona perairan dangkal dan sungai

(Gaol, 1997). Untuk perairan kasus dua lebih banyak didominasi oleh sedimen

teruspensi (suspended sediment) dan substansi kuning (yellow substances).

Dalam penginderaan jauh, nilai pantulan yang diterima oleh sensor satelit

tidaklah murni berasal dari klorofil-a. Hal ini dikarenakan pantulan gelombang

elektromagnetik yang membawa informasi tentang klorofil-a dipengaruhi pula


19

oleh material-material di atmosfer dan konfigurasi permukaan air dimana klorofil-

a berada (Gaol, 1997).

2.6. Sistem informasi geografis ( SIG )

Sistem Informasi Geografis adalah alat untuk mengumpulkan, menyimpan,

menayangkan kembali data spasial dari dunia nyata (real world) untuk

kepentingan-kepentingan tertentu (Prahasta, 2001). Sistem Informasi Geografis

adalah sistem berbasis komputer yang mempunyai 4 kemampuan dalam

menangani data geografis (Aronoff, 1989) : pemasukan data, manajemen data

(penyimpanan dan pencarian data), manipulasi dan analisis, dan keluaran data.

Sistem Informasi Geografis adalah sebuah sistem perangkat keras, perangkat

lunak dan prosedur untuk memudahkan manajemen, manipulasi, analisis,

pemodelan, representasi dan penayangan data geografis untuk menyelesaikan

permasalahan-permasalahan komplek berkaian dengan perencanaan dan

manajemen sumberdaya. Sistem Informasi Geografis adalah sekumpulan

perangkat keras komputer, perangkat lunak dan data geografis untuk menangkap,

mengelola, menganalisa dan menayangkan seluruh bentuk informasi geografis

bereferensi (ESRI, 2002 ).

Dari beragam definisi mengenai SIG seperti yang dikemukakan di atas,

dapat diambil pengertian bahwa SIG adalah sebuah sistem untuk pengelolaan,

penyimpanan, pemrosesan, analisis dan penayangan (display) data yang terkait

dengan permukaan bumi. Sistem tersebut untuk dapat beroperasi membutuhkan

perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) juga manusia yang

mengoperasikannya (brainware). Kemudahan-kemudahan yang diberikan SIG

dalam pengumpulan data, integrasi data hingga kemampuan analisis spasialnya


20

menjadikan SIG lebih unggul dibandingkan cara konvensional. Dengan SIG, saat

ini orang dapat secara cepat memadukan data hasil survey GPS, citra satelit

penginderaan jauh dan data atribut lainya sebagai sumber data sebuah peta

(Gambar 2).

Vegetation

Land Ownership

Roads

Rivers

Special Status Species Locations

All Layer

Sumber : ESRI (2002)


Gambar 2. Tampilan Tema / Layer (sumber : ERSI, 2002)

Dua jenis data yang digunakan dalam SIG yaitu :

1) Data spasial

Data spasial adalah data yang mengacu pada ruangan suatu wilayah

geografis tertentu. Informasi spasial ini bisa juga diartikan sebagai geoinformasi

yang bentuk penyajiannya berupa peta. Setiap data spasial dalam SIG mengacu

ke bentuk lapisan data atau bidang data. Data spasial ini dapat dibagi menjadi dua

yaitu data raster dan data vektor. Perbandingan visualisasi antara data raster dan

vektor dapat dilihat pada Gambar 3.


21

Sumber: Modifikasi dari Meaden dan Tang (1996)


Gambar 3. Perbandingan antara data raster dan data vektor

2) Data non-spasial

Data non-spasial atau lebih dikenal dengan data atribut adalah data yang

melengkapi keterangan dari data spasialnya baik dalam bentuk statistik maupun

deskriptif. Data atribut ini dibedakan menjadi dua: data kualitatif (nama, jenis,

tipe) dan data kuantitatif (angka, bagian/besar jumlah, tingkatan, kelas interval)

yang mempunyai hubungan satu-satu dengan data spasialnya.

Berkaitan dengan perencanaan kawasan konservasi yang memerlukan

banyak parameter, tentu saja memerlukan analisis yang kompleks. Pekerjaan ini

apabila dikerjakan dengan cara konvensional tentu tidak mudah dilakukan.

Namun demikian dengan perkembangan SIG dan metode analisis spasial seperti

sekarang, permasalahan tersebut mendapat jalan keluarnya. Analisis spasial

bedasarkan cell based modelling, secara khusus dapat membantu dalam

perencanaan kawasan konservasi laut yang tepat dan berkelanjutan .


22

2.7. Cell Based Modeling

Salah satu analisis spasial dalam SIG yang dapat digunakan untuk

memodelkan keadaan di alam adalah cell based modelling (ESRI, 2002). Secara

umum suatu model merepresentasikan kekompleksitasan interaksi di alam dengan

suatu penyerdehanaan. Pemodelan tersebut akan membantu kita untuk mengerti,

menggambarkan, dan memprediksikan banyak hal di alam. Ada dua model yang

dikenal dalam analisis spasial, yaitu model yang merepresentasikan objek /

kenampakan di alam (representation models) dan model yang mensimulasikan

proses di alam (process models).

Representation models akan menggambarkan kenampakan di bumi seperti

bangunan, taman atau hutan. Cara untuk menampilkan objek tersebut di dalam

SIG melalui layer-layer, di mana untuk analisis spasial, layer tersebut dapat

berupa raster. Struktur raster dapat dilihat di Gambar 4. Layer raster akan

menampilkan objek-objek kenampakan di bumi dengan bidang bujursangkar yang

saling bertautan atau disebut grid, dan setiap lokasi di raster layer akan berupa

grid cell yang memiliki nilai tertentu.

Process models menggambarkan interaksi dari objek di bumi yang terdapat

di dalam representation models. Process modelling dapat digunakan untuk

menggambarkan suatu proses, tetapi lebih sering digunakan untuk memprediksi

apa yang terjadi pada suatu lokasi tertentu. Salah satu dasar dari anasilis spasial

dalam model ini adalah operasi penambahan dua data raster bersamaan, dan

kemudian konsep ini dapat diterapkan untuk berbagai macam operasi aljabar pada

lebih dari dua data raster.


23

Number of Columns

Cell Size

Number of Rows
Rows

(Xmin, Ymin) Coloms

(0,0)

Sumber : Modifikasi ESRI (2002)


Gambar 4. Struktur data raster

Beberapa tipe dari process models antara lain :

1. Suitability modelling, hampir semua analisis spasial bertujuan untuk

menentukan lokasi yang paling optimum, seperti menemukan lokasi yang

paling sesuai untuk mendirikan tambak mutiara.

2. Distance models, analisis ini bertujuan untuk menentukan jarak yang

paling efisien dari suatu lokasi tambak ke lokasi tambak lain.

3. Hydrologic modelling, salah satu aplikasi analisis ini adalah untuk

menentukan arah aliran air di suatu lokasi.

4. Surface modelling, salah satu aplikasi analisis ini adalah untuk mengkaji

tingkat penyebaran limbah industri perikanan di suatu lokasi.

Keseluruhan model tersebut akan lebih efisien bila dilakukan pada data raster,

selanjutnya analisis spasial pada data raster disebut cell based modelling karena

metode ini bekerja berdasarkan sel atau piksel (ESRI,2002)


24

Operasi piksel pada cell based modelling dibagi menjadi lima kelompok :

1. Local fuction adalah operasi piksel yang hanya melibatkan satu sel. Nilai

piksel output ditentukan oleh satu piksel input.

2. Focal fuction adalah operasi piksel yang hanya melibatkan beberapa sel

terdekat.

3. Zonal fuction adalah operasi piksel yang melibatkan suatu kelompok sel

yang memiliki nilai atau keterangan yang sama.

4. Global fuction yang melibatkan keseluruhan sel dalam data raster dan

gabungan antara keempat kelompok tersebut.

5. Aplication fuction adalah gabungan dari keempat operasi di atas yang

meliputi local fuction, focal fuction, zonal fuction, dan global fuction

( Gambar 5).

Sumber data raster yang digunakan dalam pendekatan cell based modeling salah

satunya adalah dari citra satelit. Pemilihan metode cell based modeling

berdasarkan pada keunggulan metode ini dalam pemodelan kawasan perlindungan

laut yang lebih representatif karena berdasarkan analisis spasial pada data raster.

Menurut Meaden dan Tang (1996); Molenaar (1998), analisis overlay, pembuatan

jarak, dan pengkelasan parameter lebih mudah dilakukan secara cepat dan teratur

pada setiap sel. Keunggulan lain metode ini dibandingkan analisis lainnya adalah

struktur data raster yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dalam pemodelan

dan analisis serta kompatibel dengan data citra satelit serta memiliki variabilitas

spasial yang tinggi dalam merepresentasikan suatu kondisi lapangan.


25

Local function Focal function

Zonal function Global fuction

Sumber : ESRI (2002)


Gambar 5. Ilustrasi operasi piksel

Metode cell based modelling juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya

membutuhkan space computer yang cukup besar dalam pengolahannya, serta

speck computer yang harus mendukung dan secara spasial memiliki tampilan yang

kurang estetis karena berupa data raster yang berbentuk sel.


27

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi dan objek penelitian tentang kawasan konservasi laut berada di

perairan pulau Karang Lebar dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Lokasi penelitian terletak antara 106 0 33’ – 1060 38’ Bujur Timur dan 50 41’ – 50

46’ Lintang Selatan. Daerah penelitian bisa dilihat pada Gambar 6.

K Congkak

K. Lebar

Pramuka
Island

Teluk Jakarta

Gambar 6. Peta lokasi penelitian

Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap : pengolahan citra pada bulan April

2008, survey lapang dan pengambilan sampling kualitas air pada tanggal 12- 18

Mei 2008 dan 22 – 26 Juli 2008, dan analisa akhir pada bulan Mei – Agustus

2008 yang dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi

27
28

Geografis , Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1. Alat

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu :

1. Perangkat lunak image processing

2. GPS (Global Positioning System) , GPS Sounder

3. Scuba set

4. Roll meter

5. Refraktometer

6. Floating Droudge

7. DO-Meter

8. pH tester

9. Termometer

10. Secci disk

3.2.2. Bahan
Bahan dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

1. Citra satelit Formosat-2 Akusisi 29 Agustus 2007.

2. Peta Lingkungan Pantai daerah Perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu

dari Bakosurtanal

3. Data kondisi ekosistem terumbu karang dan kualitas air dari survei lapang

Program Insentif Riset Dasar 2008.


29

3.3. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, dilakukan integrasi data penginderaan jarak jauh dan

Sistem Informasi Geografis (SIG). Alur kegiatan penelitian ini meliputi

pengolahan citra awal, survei lapang, dan analisis penentuan kesesuaian KKL.

Analisi spasial yang digunakan untuk penentuan kawasan potensial

dijadikan KKL berdasarkan metode Cell Based Modelling, baik itu pengkelasan

maupun untuk overlay setiap parameter. Tahapan-tahapan penentuan zona inti,

buffer, dan pemanfaatan dapat dilihat pada Gambar 7 .

3.4. Pengolahan citra satelit

3.4.1. Pre-processing

Citra satelit Formosat-2 yang telah diperoleh tidak sepenuhnya digunakan

dalam analisi, untuk itu perlu adanya pemotongan citra (cropping). Pemotongan

citra ini bertujuan untuk membatasi daerah sesuai lokasi penelitian. Setelah

pemotongan citra dilakukan pemulihan citra yang terdiri atas dua proses yaitu

koreksi radiometrik dan koreksi geometrik.

Koreksi radiometrik dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor yang

menurunkan kualitas citra. Metode koreksi radiometrik yang digunakan adalah

penyesuaian histrogram (histogram adjustment). Nilai bias adalah nilai digital

minimum pada setiap band, nilai bias diasumsikan sama dengan besarnya

pengaruh atmosfer terhadap gelombang cahaya. Pada metode ini ditetapkan

bahwa respon spektral terendah pada setiap band nilainya adalah nol. Oleh karena

itu dilakukan pengurangan nilai digital setiap piksel pada semua band sehingga

nilai minimumnya sama, yaitu nol. Secara matematis, koreksi pengaruh atmosfer

dengan pengaturan histogram dapat dilihat pada persamaan berikut :


30

Data sekunder Survey lapang & Peta Lingkungan


Citra Satelit Dinas Perikanan sampling kualitas Pantai
Transformasi citra

Koreksi radiometrik
Substrat dasar
1. Infrastruktur 1. pH
Y = ln K1 + ki/kj*ln K2 2. pH 2. Salinitas
3. Salinitas 3. Suhu
Koreksi geometrik Klorofil-a 4. Oksigen terlarut
4. Oksigen terlarut
2,41*(KE / K2) + 0,187 5. Kawasan pemukiman pesisir 5. Posisi stasiun
6. Persen cover terumbu
MPT karang
100.6678 + 5.5085*K3 + 0.4563*K2 + 7. Kelimpahan ikan karang
Komposit citra
8. Batimetri
0.9775*K2*K3

Kawasan mangrove Sungai dan muara Keterlindungan lokasi

Re-Interpretasi Konsultasi Pakar


dan editing

Pemodelan spasial berbasis


Tidak diterima Parameter penentu sel
kawasan konservasi laut (Cell Based Modeling)
Basis data spasial Diterima

Zona tentative Kawasan


Konservasi Laut

Gambar 7. Diagram alir penelitian

30
31

DNi,j,k(output terkoreksi) = DNi,j,k(input asli)-bias

Koreksi geometrik bertujuan untuk memperbaiki distorsi posisi atau letak

objek. Distorsi ini dihasilkan oleh faktor seperti variasi tinggi satelit, ketegakkan

dan kecepatan satelit (Lillesand dan Kiefer, 1990). Koreksi geometrik dilakukan

dengan dua langkah, yaitu: transformasi koordinat (transformation geometric) dan

resampling. Transformasi koordinat dilakukan dengan Ground Control Point

(GCP) pad output citra yang baru. GCP harus mempunyai sifat geometrik yang

tetap pada lokasi yang dapat diketahui dengantepat. Proses penerapan alih ragam

geometrik terhadap data asli disebut resampling. Setelah koreksi geometrik

dilakukan maka didapat citra yang sesuai dengan posisi sebenarnya di bumi.

3.4.2. Penajaman citra


Proses penajaman citra merupakan proses penggabungan informasi dari citra

secara spektral melalui band ratioing (menghitung perbandingan nilai digital

piksel setiap band).

3.4.2.1. Penajaman citra untuk karakteristik dasar perairan

Untuk penggambaran karakteristik perairan dangkal digunakan model algoritma

yang berasal dari penurunan persamaan ’Standard Exponential Attenuation

Model’ oleh Green et. all., 2001. Algoritma tersebut menggunakan band 3 dan

band 2 dari citra Formosat-2 . Dasar penggunaan band 3 dan band 2 yaitu karena

kedua band ini memiliki penetrasi yang baik ke dalam kolom air.

Algoritma tersebut yaitu :

Y = ln K1 - ki/kj*ln K2

Keterangan : K1 = Kanal band 3 dari Formosat - 2


K2 = Kanal band 2 dari Formosat - 2
32

Ki/kj = Koefisien attenuasi, yang diperoleh dari :

3.4.2.2. Penajaman citra untuk klorofil perairan

Klorofil merupakan indikator yang baik bagi ketersediaan makanan pada

trofik level yang lebih tinggi, karena konsentrasi klorofil menentukan besarnya

produktivitas primer perairan (Susilo, 2000). Dalam penentuan sebaran spasial

klorofil perairan digunakan kombinasi dari band 3 dan band 4. Algoritma yang

digunakan dalam penentuan konsentrasi klorofil yaitu (Wibowo et al.,1994 in

Susilo, 2000) :

C = 2,41*(K1 / K2) + 0,187

Keterangan : C = Konsentrasi klorofil-a (mg/l)

K1 = Kanal band 1 dari Formosat - 2

K2 = Kanal band 2 dari Formosat - 2

3.4.2.3. Penajaman citra untuk muatan padatan tersuspensi

Informasi sebaran muatan padatan tersuspensi di perairan diperoleh

menggunakan formula Hasyim et al., (1997) yang telah digunakan oleh LAPAN

(2004) dalam pemetaan muatan padatan tersuspensi perairan di Situbondo.

Algoritma ini menggunakan kombinasi dari band 2 dan band 1 Formosat - 2.

Algoritma tersebut yaitu :

MPT(mg/l) = 100.6678 + 5.5085*K3 + 0.4563*K32 + 0.9775*K2*K3


33

Keterangan : MPT(mg/l) = Muatan Padatan Tersuspensi (mg/l)

K3 = Kanal band 1 dari Formosat - 2

K2 = Kanal band 2 dari Formosat - 2

3.4.2.4. Pemetaan kawasan mangrove

Pemetaan kawasan mangrove di daerah perairan pulau Karang Lebar dan

Congkak melalui citra Formosat didasarkan pada sifat penting mangrove yaitu,

mangrove mempunyai zat hijau daun (klorofil) dan mangrove tumbuh dipesisir.

Sifat optik klorofil sangat khas yaitu bahwa klorofil menyerap spectrum sinar

merah dan memantulkan dengan kuat spectrum inframerah (Susilo,2000).

Klasifikasi daerah mangrove pada citra dilakukan melalui training area pada

daerah yang dibuat komposit RGB 423. Metode Maximum Likehood merupakan

salah satu metode klasifikasi digital yang terselia/terbimbing (Supervised).

Penulis menggunakan metode ini karena metode ini merupakan metode yang

terbaik dibandingkan yang lain (Parallepiped dan Minimum Distance). Metode

Maximum Likehood atau peluang maksimum atau kemiripan maksimum

meganalisis fungsi peluang multidimensional untuk menentukan suatu piksel

tertentu lebih berpeluang masuk ke dalam kelas tertentu. Training area atau

daerah contoh untuk setiap kelas ini akan ditentukan nilai-nilai statistiknya,

sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam klasifikasi seluruh daerah yang

ada pada citra. Vegetasi akan terlihat berwarna merah tua pada komposit RGB

423, sehingga dapat dengan mudah di-training dan terbentuklah kelas mangrove

sebagai dasar analisis selanjutnya.


34

3.4.3. Klasifikasi citra

Citra yang telah ditransformasikan dengan algoritma-algoritma tersebut

selanjutnya diklasifikasi. Klasifikasi merupakan suatu proses pengelompokan

nilai reflektansi dari setiap objek ke dalam kelas-kelas tertentu sehingga mudah

dikenali. Dalam penelitian ini klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi

terbimbing (Supervised Classification) dan tak terbimbing (Unsupervised

Classification).

3.4.4. Penilaian hasil dan analisis ketelitian data

Penelitian menggunakan metode dan data tertentu perlu dilakukan uji

ketelitian atau validasi data, karena hasil uji ketelitian mempengaruhi besarnya

tingkat kepercayaan pengguna terhadap setiap jenis data maupun metode

analisisnya. Hal ini juga dilakukan untuk membuktikan kesesuaian antara

klasifikasi citra dengan data lapangan yang didapat. Perhitungan akurasi data

dilakukan dengan membuat matrix kontingensi, yang disebut confusion matrix

yang didapat dengan cara membandingkan perhitungan titik sampel di lapangan

(groundtruth) dengan data hasil klasifikasi citra (jumlah pixelnya). Nilai ketelitian

yang diharapkan nantinya harus memenuhi syarat lebih besar dari 70 % (Purwadhi

2001), sehingga dari nilai yang didapatkan tersebut merupakan pembuktian

terhadap nilai kevalidan data citra.


35

3.5. Penentuan stasiun pengamatan

Penentuan stasiun pengamatan dilakukan secara acak dimana lokasi

menyebar di seluruh perairan pulau Karang Lebar dan Karang Congkak. Jumlah

total stasiun pengamatan adalah 25 buah, dimana 9 stasiun berada di Karang

Congkak, 10 stasiun di Karang Lebaran, dan 6 stasiun menyebar di Pulau

Pramuka dan Panggang (Tabel 2).

Tabel 2. Stasiun Pengamatan

Stasiun Bujur Lintang Keterangan


ST01L 106,5636 -5,7286 LIT
ST02R 106,5694 -5,7252 RRA1
ST03R 106,5807 -5,7219 RRA2
ST04R 106,5929 -5,7177 RRA3
ST05R 106,6003 -5,7156 RRA4
ST06R 106,6136 -5,7239 RRA5
ST07L 106,6067 -5,7276 LIT
ST08R 106,6003 -5,7293 RRA6
ST09R 106,5900 -5,7337 RRA7
ST10R 106,5752 -5,7303 RRA8
ST11L 106,5731 -5,7114 LIT
ST12L 106,5665 -5,7098 RRA9
ST13R 106,5777 -5,7087 RRA10
ST14R 106,5811 -5,6972 RRA11
ST15R 106,5883 -5,6953 RRA12
ST16L 106,5960 -5,6961 LIT
ST17L 106,5846 -5,7138 LIT
ST18R 106,5894 -5,7108 RRA13
ST19R 106,5963 -5,7044 RRA14
ST20L 106,6184 -5,7386 LIT
ST21R 106,6214 -5,7414 RRA15
ST22R 106,6142 -5,7518 RRA16
ST23L 106,5860 -5,7424 LIT
ST24R 106,5944 -5,7475 RRA17
ST25R 106,6100 -5,7346 RRA18
ST26L 106,5625 -5,7134 LIT
ST27L 106,5768 -5,6997 LIT
ST28L 106,5935 -5,7070 LIT
ST29L 106,5884 -5,7200 LIT
ST30L 106,5694 -5,7336 LIT
ST31L 106,6117 -5,7165 LIT
ST32L 106,5959 -5,7312 LIT
ST33L 106,5759 -5,7372 LIT
36

3.6. Pengukuran faktor biofisik lapangan

Pengukuran parameter biofisik perairan di lapangan mutlak dilakukan untuk

mengumpulkan data-data yang dapat diturunkan dari citra satelit. Pengukuran

parameter kualitas perairan dilakukan dengan pengukuran secara insitu dengan

terlebih dahulu menentukan stasiun. Data-data pengukuran lapangan meliputi:

suhu permukaan laut, salinitas, pH , oksigen terlarut (DO), kecerahan, dan

kecepatan arus permukaan.

Seluruh parameter yang diukur disimpan sebagai data atribut masing-

masing stasiun yang direpresentasikan sebagai point. Untuk dapat melihat

sebaran nilai parameter perairan secara spasial dilakukan interpolasi masing-

masing parameter. Metode interpolasi yang digunakan adalah spline. Spline

mengestimasi nilai sel berdasarkan nilai rata-rata pada hampiran antara point data

masing-masing contoh. Metode ini memiliki asumsi bahwa variable yang

dipetakan akan berkurang pengaruhnya ketika menjaui pont sentral. Kelebihan

metode ini yaitu dapat memetakan dengan baik interpolasi beberapa point yang

menyebar serta penggambaran spasial yang lebih halus. (ESRI,2002).

Dalam pemetaan spasial bathimetri, digunakan metode interpolasi natural

neighbors. Metode ini merupakan metode interpolasi yang paling efektif jika sel

input cukup banyak, sehingga akan dihasilkan peta tematik bethimetri yang mirip

dengan keadaan aslinya (natural).

Pada saat melakukan interpolasi luasan masing-masing piksel harus

ditentukan, pada kasus ini luasan piksel sebagai output adalah 8 x 8 m. Pemilihan
37

ukuran piksel 8 x 8 m mengikuti resolusi spasial citra satelit Formosat -2

sehingga pada akhirnya akan memudahkan dalam raster overlay.

3.5.1. Survei kondisi terumbu karang dan kepadatan ikan karang

Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas terdapat di daerah tropis.

Meskipun terumbu karang ditemukan di seluruh perairan dunia, tetapi hanya di

daerah tropis terumbu karang dapat tumbuh dengan baik.

Pegamatan habitat dasar ekosistem terumbu karang yang terdiri atas karang

keras, karang lunak dan berbagai organisme lainnya, menggunakan metode

transek garis menyinggung LIT (Line Intercept Transect) dan RRA (Rapid Reef

Assessment). Untuk metode LIT, transek garis dibentangkan sejajar garis pantai

sepanjang 10 meter menggunakan rol meter. Setiap lokasi pengamatan dilakukan

pengulangan sebanyak tiga kali ulangan dengan interval 10 meter di antara setiap

ulangan, sehingga total transek pengamatan adalah 50 meter. Pengamatan biota

pengisi habitat dasar didasarkan pada bentuk pertumbuhan (lifeform), dengan

keterangan genera (English et al., 1994), biota dan komponen abiotik lain yang

ditemukan sepanjang transek garis (Gambar 8) .

Gambar 8. Metode pengambilan data LIT


38

Pengamatan data ikan karang mencakup visual sensus ikan karang dan

estimasi biomassa ikan target (Gambar 9). Pengambilan data ikan karang

menggunakan transek yang sama dengan transek untuk pengambilan data karang.

Pengamat bergerak sepanjang transek garis dengan kecepatan konstan dan

mencatat spesies ikan sejauh 2.5 meter ke kanan dan 2.5 meter ke kiri. Data yang

diambil untuk data visual sensus meliputi spesies dan jumlah ikan yang teramati.

Gambar 9. Metode Visual Sensus

Untuk metode RRA, transek yang digunakan adalah transek maya dengan

ukuran 10 x 10 m. Penentuan sampel secara random, pengamat mencatat data

karang dan ikan selama kurang lebih 5 - 10 menit. Data karang yang dicatat

merupakan estimasi dari persen cover tutupan karang berdasarkan lifeform,

sedangkan data ikan berupa jumlah dan spesies yang teramati selama 10 menit.
39

Analisis data habitat terumbu karang dan ikan karang

Informasi yang dihasilkan adalah kondisi terkini dari kondisi ekositem

terumbu karang yang diamati dan koloni karang yang mendominasi di perairan

ini, data habitat dasar dan ikan karang yang telah dianalisis lebih lanjut.

Parameter habitat dasar yang dihitung hanya persen penutupan. Sedangkan untuk

ikan karang meliputi jumlah spesies yang ditemukan dan kelimpahan ikan karang.

Persen penutupan habitat dasar

Biota habitat dasar serta panjang transisi penutupan yang ditemukan

sepanjang transek garis, dikelompokkan menurut bentuk pertumbuhannya

(lifeform). Kemudian bentuk pertumbuhan tersebut dihitung nilai penutupannya

berdasarkan rumus berikut (Gomez and Yap, 1988):

ni
Li = x100%
L

Keterangan :

Li = Persentase penutupan biota karang ke-i


ni = Panjang total kelompok biota karang ke-i
L = Panjang total transek garis

Kriteria persentase penutupan karang hidup berdasarkan Gomez and Yap (1988)

dapat dilihat pada Tabel 3.


40

Tabel 3. Kriteria persentase penutupan karang

Persentase Penutupan (%) Kategori/ Kriteria


0 – 24.9 Buruk
25 – 49.9 Sedang
50 -74.9 Baik
75 -100 Sangat Baik

Kelimpahan ikan karang

Informasi yang dihasilkan dari data sensus visual adalah komposisi dan kelimpahan

ikan karang (ind.(100m)-2 ) kemudian dikonversi menjadi Ind.ha-1.

Kelimpahan (Ind.ha-1) = (Jumlah Individu/Luasan Transek)

3.5.2. Survei kondisi sosial, ekonomi dan budaya

Kondisi sosial, ekonomi dan budaya diperlukan untuk mendapatkan data

yang mendukung kelayakan pembentukan KKL di suatu lokasi. Beberapa data

yang diperlukan adalah data demogarfi, kearifan tradisional, aspek hukum dan

kelembagaan, persepsi stakeholder tentang KKL, dan beberapa informasi penting

lainnya.

Kegiatan survey sosial, budaya dan ekonomi dilakukan dengan metode

kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan menggunakan

kuisioner yang telah disusun secara sistematis dalam rangka mendapatkan

parameter-parameter atau kriteria-kriteria sosial, budaya dan ekonomi sebagai

pertimbangan yang mendukung pembentukan dan penetapan KKL baru.

Sedangkan kualitatif menggunakan tehnik-tehnik yang memungkinkan lahirnya

partisipasi masyarakat lokal dan stakeholder lainnya.


41

3.7. Metode penentuan kawasan konservasi laut

Hasil survey baik secara kuantitatif dan kualitatif ditabulasikan berdasarkan

kategori-kategori ekologis, sosial, budaya dan ekonomi. Kategori tersebut

dianalisi secara diskriptif, diinterpretasi dan dibahas. Dalam penelitian kali ini

hanya dari segi ekologis yang akan dibahas.

Analisi yang dilakukan untuk penentuan kawasan konservasi laut

berdasarkan pada metode Cell Based Modelling, baik mengkelaskan maupun

overlay setiap parameter yang diperoleh dari pengukuran lapang maupun ekstraksi

citra satelit. Setelah seluruh parameter dikelaskan sesuai dengan kriteria yang

ditentukan dalam Table 4, kawasan konservasi laut diperoleh dari hasil overlay

seluruh parameter (Gambar 10).

PARAMETER BOBOT RASTER OVERLAY

Substrat dasar X 0.30

Jumlah X 0.20
kelimpahan ikan
karang

Jumlah jenis ikan


X 0.20
karang
KKL

Kedalaman
X 0.10

Jarak dari
X 0.10
pemukiman(panta
uan)

Jarak dari jalur X 0.10


pelayaran (m)

Gambar 10. Weigth Overlay untuk Kawasan konservasi laut ( KKL)


42

Beberapa kriteria sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan KKL yang

baru sebagai berikut :

1. Lokasi KKL bukan merupakan lokasi utama penangkapan ikan oleh

masyarakat setempat maupun nelayan dari lauar wilayah sebab akan

menyulitkan dalam upaya pelarangan penangkapan ikan dilokasi tersebut

nantinya.

2. Tutupan karang sebaiknya dalam kondisi baik. Idealnya, lokasi tersebut

memiliki 50% tutupan karang hidup. Walaupun demikian, lokasi dengan

tutupan karang yang lebih rendah juga masih dapat dijadikan pilihan jika

kriteria lainya memungkinkan ( sangat sesuai ≥ 50%, sesuai >25% dan

≤ 50%, dan tidak sesuai ≤ 25% ).

3. Lokasi KKL seharusnya meliputi habitat terumbu karang, hutan

mangrove, padang lamun, dan habitat penting lainnya ( sangat sesuai :

karang, lamun, mangrove ; sesuai : karang, lamun ; tidak sesuai : tidak

ada ekosistem).

4. Lokasi KKL sebaiknya berada dalam jarak pandang dan pantauan

pemukiman agar dapat diamati dan diawasi oleh masyarakat guna

mengurangi pelanggaran aturan larang ambil secara permanen ( sangat

sesuai < 500 m, sesuai 500-1500 m, tidak sesuai ≥ 1500 m).

5. Ukuran besar atau kecilnya kawasan KKL tidak terlalu penting /

menentukan, akan tetapi ada baiknya lokasi yang ditetapkan mempunyai

luas sekitar 10-20% dari total perkiraan terumbu karang di perairan

pulau Karang Lebar dan Karang Congkak.


43

6. Lokasi KKL seharusnya tidak berada di dekat mulut sungai yang sangat

rawan terhadap sedimentasi dan akibat dari poluso darat.

7. Lokasi KKL merupakan daerah penyelaman atau berpotensi untuk lokasi

penyelaman.

8. Kawasan yang merupakan lokasi biota tertentu atau spesies yang langka

bertelur atau mencari makan juga merupakan lokasi yang ideal bagi

KKL.

9. Sangat berguna untuk menetapkan lokasi dengan bentuk yang mudah

dilihat (seperti persegi, persegi panjang, segitiga, dan lainnya), atau

mengikuti kontur fisik alam dan menempatkan batas berdasarkan letak

geografis alami yang dikenal oleh masyarakat setempat (seperti batas

tanjung, lekukan, tepi karang, batas hutan mangrove, bukit, dan lain-

lain).

3.8. Matriks kesesuaian untuk penentuan kawasan konservasi laut

Penentuan kawasan konservasi laut memerlukan kriteria yang berkorelasi

dengan keadaan lingkungan daerah penelitian. Kriteria yang disusun merupakan

kajian dan modifikasi dari berbagai sumber serta diskusi dengan pakar.

Pembuatan matriks kesesuaian ini dimulai dengan menentukan parameter apa saja

yang berpengaruh terhadap daerah yang berpoetensi dijadikan KKL.

Penyusunan matriks selanjutnya hanya memperhatikan faktor-faktor yang

bervariasi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan perairan Kepulauan

Seribu. Pembobotan setiap parameter berdasarkan pada dominasi pengaruh

parameter tersebut dalam zona KKL. Pemberian scoring dimaksudkan untuk


44

menilai faktor pembatas pada setiap parameter. Parameter yang digunakan dalam

penentuan zona potensial KKL melibatkan faktor biofisik perairan, kawasan

konservasi, aktivitas manusia yang kemungkinan dapat mengganggu ekosistem

dan letak pemukiman yang berhubungan dengan jarak pantauan masyarakat.

Konsep dasar suatu "analisis kesesuaian biofisik lokasi untuk suatu

penggunaan tertentu" atau sering secara singkat disebut sebagai "analisis

kesesuaian", pada prinsipnya adalah melakukan perbandingan antara karakteristik

biofisik lokasi tersebut dengan kondisi biofisik yang seharusnya dipenuhi untuk

suatu ekosistem tertentu agar ekosistem tersebut dapat hidup secara optimal.

Karakteristik biofisik zona ini dinyatakan dalam berbagai parameter yang masing-

masing mempunyai nilai dengan satuan pengukuran tertentu. Kondisi biofisik

yang seharusnya dipenuhi untuk suatu ekosistem tertentu tersebut tidak lain

adalah nilai-nilai berbagai parameter biofisik yang sesuai dengan kebutuhan

ekosistem tersebut. Apabila nilai dari suatu parameter biofisik suatu di lokasi

berada pada kisaran optimum dari nilai yang dibutuhkan oleh suatu ekosistem

tertentu maka untuk parameter tersebut, lokasi tersebut dapat dinilai sebagai

”sangat sesuai”. Sebaliknya, jika di antara kondisi biofisik tersebut ada yang nilai

parameternya berada di luar kisaran nilai optimum, maka secara keseluruhan,

lokasi tersebut dapat dinyatakan sebagai ” sesuai”; atau bahkan ”tidak sesuai”,

tergantung dari seberapa jauh nilai-nilai parameternya memiliki jarak

dibandingkan nilai optimum yang diinginkan untuk suatu ekosistem tertentu.

Pemberian bobot untuk setiap parameter dalam kajian ini adalah 10 – 30 %

dan pemberian nilai (skor) dalam kisaran 1-3. Kriteria matriks kesesuaian untuk
45

penentuan zona potensial kawasan konservasi laut dapat dilihat pada Tabel 4.

Seluruh bobot dan skor pada keseluruhan kriteria konservasi akan diproses

melalui software yang digunakan dan akan dihasilkan klasifikasi zona kawasan

konservasi laut berdasarkan tingkat kesesuaian faktor-faktor konservasi. Nilai

tiap kelas didasarkan pada perhitungan dengan rumus sebagai berikut:

N =∑Bi x Si

Keterangan : N = Total bobot nilai


Bi = Bobot pada tiap kriteria
Si = Skor pada tiap kriteria

Tabel 4. Sistem penilaian kesesuaian kawasan konservasi laut


No Parameter Bobot Sangat Skor Sesuai Skor Tidak Skor
(%) sesuai sesuai

1. Substrat dasar 30 Karang 3 Karang 2 Pasir, 1


hidup mati lamun
2. Jenis Ikan Karang 20 > 20 3 15-20 2 < 15 1
(sp)
3. Jumlah Ikan 20 >300 3 100-300 2 <100 1
Karang (ind)
4. Kedalaman (m) 10 10-25 3 3-<10 2 <3 dan 1
>25
5. Jarak dari jalur 10 .>2000 3 >1000 dan 2 <1000 1
pelayaran (m) <2000
6. Jarak dari 10 ≤ 500 m 500 -1500 2 ≥ 1500 1
pemukiman m m
(pantauan)
Sumber : Modifikasi Bakosurtanal 1996, Gomez dan Alcala dalam Dinas
Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI Jakarta dan PKSPL-IPB, 2001.

Selang tiap-tiap kelas diperoleh dari jumlah perkalian nilai maksimum tiap bobot

dan skor dikurangi jumlah perkalian nilai minimumnya yang kemudian dibagi

menjadi tiga, yang dituliskan dengan rumus sebagai berikut:

Dari perhitungan diperoleh selang kelas sebesar 0,6667, dengan nilai


46

Nminimum sebesar 1 dan Nmaksimum sebesar 3.

Nilai kelas S3 (tidak sesuai) didapatkan dari skor total kelas S3 (1)

ditambah dengan 0,6667. Nilai kelas S2 (sesuai) didapatkan dari selang

maksimum S3 (1,6667) ditambah dengan 0,6667. Nilai kelas S1 (sangat sesuai

didapatkan dari selang maksimum S2 (2.3334) ditambah 0.6667. Masing-masing

kelas dapat ditetapkan selang dari bobot nilainya sebagai berikut:

Kelas sangat sesuai (S1) dengan selang bobot nilai : 2,3335 – 3,0000

Kelas sesuai (S2) dengan selang bobot nilai : 1,6668 – 2,3334

Kelas tidak sesuai (S3) dengan selang bobot nilai : 1,0000 – 1,6667

Masing – masing kelas di atas didefinisikan sebagai berikut (Bakosurtanal, 1996):

(1) Sangat sesuai (S1)

Wilayah perairan ini sangat sesuai untuk zona kawasan konservasi laut.

Tanpa adanya faktor pembatas yang berarti atau tidak memiliki faktor pembatas

yang berpengaruh dan tidak akan menurunkan pengaruh produktivitasnya dalam

menjaga stabilitas lingkungan . Kegiatan konservasi dapat berlangsung tanpa

adanya hambatan.

(2) Sesuai (S2)

Wilayah perairan ini mempunyai faktor pembatas yang berpengaruh

terhadap kegiatan konservasi. Kegiatan konservasi dapat tetap berjalan tetapi

memerlukan perlakuan dan masukan dari pelaku konservasi.

(3) Tidak sesuai (S3)

Wilayah perairan ini mempunyai faktor pembatas yang sangat signifikan

baik permanen maupun tidak permanen. Kegiatan konservasi tidak dapat

berlangsung meskipun diberikan berbagai perlakuan khusus (intensif).


47

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pendugaan parameter kawasan konservasi laut dengan citra satelit

4.1.1. Pengolahan awal citra

Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Formosat -2

akuisisi 29 Agustus 2007 level 2A dimana telah terkoreksi radiometrik dan

geometrik tanpa GCP (Ground Control Point). Citra Formosat dipilih penulis

dalam penentuan model konservasi, karena satelit ini merupakan satelit observasi

bumi yang memiliki resolusi spasial cukup tinggi yaitu sebesar 8 x 8 m untuk

multi spectral dan 2 x 2 m untuk pankromatik sehingga satuan piksel tersebut

cukup merepresentasikan spot - spot zona kawasan konservasi laut sebagai dasar

dari Cell Based Modelling dan resolusi temporal 1 hari yang dapat memonitor

perubahan situasi keseharian dengan cepat .

Citra Formosat-2 yang diperoleh dari Laboratorium Penginderaan Jauh

Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (TISDA) – BPPT, Jakarta. Koreksi

radiometrik dilakukan untuk menghilangkan faktor – faktor yang menurunkan

kualitas citra. Metode koreksi radiometrik yang digunakan adalah penyesuaian

histogram (histogram adjustment) tetapi untuk penelitian kali ini koreksi

radiometrik tidak dilakukan lagi oleh peneliti karena citra Formosat merupakan

citra high resolution satellite dan telah terkoreksi radiometrik.

Setelah melakukan koreksi radiometrik, tahapan selanjutnya adalah

cropping dan koreksi geometrik. Koreksi geometrik dengan acuan data Lapang

yang dilakuakan pada tanggal 12-18 Mei 2008. Koreksi geometrik citra

dilakukan dengan transformasi geometris dan resampling citra dengan beberapa

titik kontrol bumi (Ground Control Point). Titiktitik tersebut diambil pada 28

47
48

tempat yang berbeda yang menyebar di bagian citra (Gambar 11), sehingga pada

akhirnya didapatkan nilai Root Mean Square (RMS) dibawah 0,5 (Lampiran 1).

Gambar 11. Peta titik GCP lapang


49

4.1.2. Substrat dasar perairan dangkal

Informasi substrat dasar perairan Karang Lebar dan Karang Congkak di

turunkan melalui transformasi citra. Tipe substrat dasar merupakan parameter

yang berpengaruh dalam penentuan kawasan konservasi laut, karena merupakan

habitat bagi jenis-jenis ikan karang. Ikan karang lebih suka untuk tinggal di

habitat karang hidup dibandingkan di pasir ataupun di karang mati (rubble).

Pendugaan awal substrat dasar perairan dangkal dapat dilihat dari

penampakan citra dengan menggunakan komposit RGB 423 dan RGB123

(Gambar 12). Dari penampakan kombinasi ketiga band tersebut setelah dilakukan

penajaman histogram (Histogram Enhancement) maka akan terlihat jelas sebaran

terumbu karang yang berada di perairan Karang Lebar dan Karang Congkak,

Kepulauan Seribu. Substrat dasar perairan dangkal pada citra komposit akan

tampak berwarna biru muda (cyan). Pada dasarnya penajaman dengan kedua citra

komposit tersebut hanya sekedar memberikan gambaran awal tentang keberadaan

terumbu karang.

(a) (b)
Gambar 12. Citra komposit RGB 423 (a) dan RGB 123 (b)
50

Untuk mendapatkan penampakan substrat dasar secara maksimal, diterapkan

metode penajaman multiimage yang mengkombinasikan band 2 dan band 3

berdasarkan algoritma penurunan “Standard Exponential Attenuation Model”.

Setelah mengekstrak nilai digital band 2 dan band 3 maka akan didapat nilai

koefisien attenuasi perairan (Ki/Kj) sebesar 0,59289 (contoh perhitungan pada

Lampiran 2). Dengan demikian, persamaan algoritma yang digunakan untuk

mengekstrak substrat dasar menjadi Y = ln (TM1) - 0,59289 *ln (TM2). Sesuai

dengan sebaran nilai digital hasil iterasi pada layar komputer maka terdapat

beberapa komponen dominan pada citra hasil algoritma. Rentangan perbedaan

warna pada citra hasil transformasi algoritma Lyzenga menunjukkan banyaknya

kelas yang ada di substrat perairan. Banyaknya kelas juga terlihat pada histogram

yang diwakili oleh puncak-puncak nilai piksel yang dominan yaitu dengan

sebaran nilai antara 7,54692 sampai 8, 171772 (Gambar 13).

Gambar 13. Histogram citra hasil penerapan algoritma Lyzenga

Pada citra model Lyzengga dapat dibedakan dengan jelas objek pasir ,lamun

(seagrass), karang hidup, dan karang mati. Pada pengolahan menggunakan


51

perangkat lunak ER Mapper 7.0 dengan pallete warna Rainbow, objek pasir

memberikan warna kuning, degradasi warna merah ke kuning menunjukkan

tingkat ketebalan / kerapatan tutupan lamun, sedangkan objek karang mati

berwarna merah dan terumbu karang berwarna cyan. Kemudian berdasarkan

acuan warna tersebut dilakukan klasifikasi terbimbing (supervised).

Pada peta klasifikasi substrat dasar (Gambar 14) terlihat substrat perairan

dangkal menyebar di perairan Karang Lebar dan Karang congkak, Kecamatan

Pulau Panggang . Substrat karang mati yang ditunjukkan oleh warna merah

hampir mendominasi seluruh wilayah kajian. Bentuk morfologi perairan yang

berbentuk seperti kolam (gobah), membuat sebaran karang hidup banyak berada

didalam goba dan luar gosong (pacth reef). Sebaran pasir dan tutupan lamun juga

banyak ditemukan didalam gobah.

Kegiatan aktivitas penduduk sekitar seperti menangkap ikan dengan

potasium / sianida disinyalir yang menyebabakan kerusakan terumbu karang

diperairan Kepulauan Seribu. Substrat dasar karang hidup merupakan area yang

paling ideal untuk kawasan konservasi laut karena wilayah ini merupakan relung

bagi ikan karang yang perlu kita jaga. Luasan masing-masing substrat dasar dapat

dilihat pada Table 5.

Tabel 5. Luasan turunan substrat dasar perairan Karang Lebar dan Karang
Congkak
Substart dasar m2 hektar
Karang hidup 1 318 336 131,8336
Karang mati 1 024 704 102,4704
Lamun / makro alga 3 169 920 316,9920
Pasir 8 357 696 835,7696
52

Gambar 14. Peta sebaran substrat dasar perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
53

Substrat dasar karang hidup merupakan substrat dasar yang paling sesuai sehingga

digolongkan ke dalam kelas sangat sesuai, sedangkan karang mati merupakan

substrat dasar yang sesuai dan substrat pasir dan lamun merupakan kelas yang

paling tidak sesuai. Substrat dasar karang hidup merupakan substrat dasar yang

paling cocok karena karang hidup merupakan tepat yang paling cocok bagi hidup

ikan karang, dimana ikan karang bertelur, berpijah, merawat anak, dan mencari

makan diwilayah ini. Habitat terumbu karang merupakan relung bagi ikan karang.

Uji statistik citra hasil klasifikasi

Perhitungan akurasi citra hasil klasifikasi dilakukan dengan membuat matrik

kontingensi, yang juga disebut confusion matrix . Matrix ini didapat dengan cara

membandingkan antara jumlah pixel hasil klasifikasi supervised citra (Lyzenga)

dengan data lapang (ground truth). Hasilnya didapatkan nilai overall accuracy,

sebesar 90,12 %, producer accuracy sebesar 0,90 dan user accuracy sebesar 0,89.

Hampir seluruh kelas memenuhi toleransi, sehingga proses klasifikasi supervised

yang dilakukan sudah terkelaskan dengan benar (Tabel 6 dan7).

Tabel 6.Confusion matrix

Kelas/ Landcover 1 2 3 4 Total


baris
1 Karang hidup 24 0 2 2 28
2 Karang mati 0 4 0 1 5
3 Lamun 0 0 9 0 9
4 Pasir 2 0 1 36 39
Total kolom 26 4 12 39 54
Keterangan : 1. Karang hidup : penutupan dominan karang hidup
54

2. Karang mati : penutupan dominan karang mati


3. Pasir : penutupan dominan pasir
4. Lamun : penutupan dominan lamun / alga
Total jumlah diagonal : 73
Total jumlah sampel : 81
Akurasi total : (73/81)*100% = 90,12%

Tabel 7. Akurasi untuk sisi user dan producer


User accuracy producer accuracy

Kelas Akurasi Land cover Akurasi


Karang hidup 24/28 0,86 1 24/26 0,92
Karang mati 4/5 0,80 2 4/4 1
Lamun 9/9 1 3 9/12 0,75
Pasir 36/39 0,92 4 36/39 0,92
Rata-rata 0,89 Rata-rata 0,90

Hasil klasifikasi substrat dasar perairan dangkal kemudian dikelaskan

kembali menjadi tiga kelas. Kelas sangat sesuai (S1) terdiri dari karang hidup,

kelas sesuai (S2) terdiri dari karang mati serta kelas tidak sesuai (S3) terdiri dari

pasir dan lamun. (Lampiran 3)

4.1.3. Konsentrasi klorofil

Kadar konsentrasi klorofil diperlukan dalam penentuan kawasan konservasi

laut karena menunjukkan banyaknya plankton yang ada diperairan tersebut

dimana plankton merupakan sumber makanan sebagian besar dari ikan karang
55

(planktivor). Semakin tinggi konsentrasi klorofil – a menandakan bahwa perairan

tersebut subur.

Hasil penerapan algoritma menunjukkan bahwa nilai konsentrasi klorofil-a

berkisar antara 16,7215 – 41,2303 mg/l. Pada Gambar 15 konsentrasi klorofil di

daerah Karang Lebar dan Karang Congkak cukup tinggi yaitu lebih dari 25 mg/l.

Semakin ke laut lepas konsentrasi mulai berkurang hingga < 20mg/l. Tingginya

konsentrasi di daerah gosong Karang Lebar dan Karang Congkak disebabkan

banyaknya proses biologis di daerah tersebut, sedangkan semakin ke laut lepas

semakin rendah karena tidak adanya suplai nutrien secara langsung dari darat.

4.1.4. Muatan padatan tersuspensi

Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) adalah bahan-bahan tersuspensi

(diameter > 1µm) yang tertinggal di cakram fiber kaca setelah difiltrasi. Proses

erosi tanah yang terbawa ke badan air merupakan salah satu penyebab utama

tingginya padatan tersuspensi di perairan. Banyak sedikitnya penetrasi matahari

yang masuk ke perairan sangat ditentukan oleh konsentrasi MPT di badan

perairan.

Histogram penerapan algoritma menunjukkan bahwa kisaran MPT di

perairan Karang Lebar dan Karang Congkak berkisar antara 18,2034 sampai

37,2244. Berdasarkan Gambar 16 terlihat bahwa konsentrasi MPT di perairan

Karang Lebar dan Karang Congkak >20 mg/l dan konsentrasi MPT di laut lepas

< 20 mg/l.
56

Gambar 15. Peta sebaran klorofil – a perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
57

Gambar 16. Peta sebaran MPT perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
58

Konsentrasi MPT di daerah gosong Karang Lebar dan Karang Congkak

cenderung lebih besar dari pada di laut lepas, hal ini disebabkan oleh kondisi

geomorfologi di daerah gosong yang cenderung dangkal sehingga proses

turbulensi akibat adanya arus sangat tinggi.

4.2. Parameter biofisik kawasan konservasi laut

4.2.1. Keterlindungan wilayah

Keterlindungan merupakan parameter yang turut berpengaruh dalam

pembangunan sebuah Marine Protected Area. Agar kondisi ekologi wilayah ini

terlindung dari ancaman faktor oseanografi yang ekstrim seperti arus dan

gelombang, maka lokasi kawasan konservasi laut sebaiknya berada di lokasi

terlindung. Penentuan keterlindungan wilayah dilakukan melalui interpretasi

secara visual dari citra komposit, kemudian lakukan training area berdasarkan

komposit citra. Kelas baru didapat dari klasifikasi supervised area.

Daerah terlindung terdapat pada gosong dan goba. Perairan Kepulauan

Seribu memiliki banyak pulau – pulau kecil dan gosong-gosong karang. Dari peta

keterlindungan lokasi (Gambar 17) dapat dilihat bahwa perairan Karang Lebar

dan Karang Congkak merupakan wilayah yang potensial untuk dijadikan kawasan

lindung. Perairan dalam gosong dan goba secara alamiah akan melindungi lokasi

konservasi dari hempasan gelombang dan arus yang kuat, sehingga keseimbangan

ekosistem tetap terjaga. Perairan lepas pantai sangat tidak sesuai dalam

pembuatan kawasan konservasi laut.


59

Gambar 17. Peta keterlindungan wilayah perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
60

4.2.2. Suhu

Suhu merupakan salah satu parameter biofisik yang menentukan keberadaan

ikan. Ikan karang mempunyai karakter yang menyukai suhu perairan tertentu.

Suhu juga merupakan salah satu factor pembatas bagi keberadaan ekosistem

terumbu karang. Karang akan tumbuh secara optimal pada kisaran suhu rata-rata

tahunan 23-25 °C. Toleransi suhu sampai dengan 36-40 °C . Sebaran suhu

perairan Karang Lebar dan Karang Congkak dapat dilihat pada Gambar 18. Nilai

sebaran suhu permukaan laut berkisar antara 28,6 – 32,49 0C. Kondisi ini ideal

bagi pertumbuhan terumbu karang. Semakin ke laut lepas suhu semakin

berkurang, hal ini disebabkan pengaruh panas dari daratan dimana pada siang hari

darat lebih cepat menerima panas dibandingkan dengan lautan.

4.2.3. Salinitas

Salinitas adalah kadar gram garam yang terkandung dalam 1 kilogram air

laut. Salinitas merupakan salah satu faktor biofisik perairan yang berpengaruh

dalam penentuan zona perlindungan laut, dimana salinitas juga merupakan salah

satu faktor pembatas bagi petumbuhan terumbu karang. Terumbu karang hanya

dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 32-35 ‰.

Sebaran nilai salinitas dapat dilihat pada Gambar 19. Dari gambar tersebut

terlihat bahwa sebaran salinitas di perairan Karang Lebar dan Karang Congkak

secara horizontal cocok untuk pertumbuhan terumbu karang yaitu 32-35‰.

Semakin ke arah laut lepas salinitas meninkat, hal ini disebabkan tidak adanya

masukan air tawar (run off ) dari daratan.


61

Gambar 18. Peta sebaran suhu perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
62

Gambar 19. Peta sebaran salinitas perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
63

4.2.3. pH

Potential of Hydrogen (pH) adalah konsentrasi ion hidrogen di dalam air.

Secara umum, tingkat kemasaman atau kebasaan (pH) perairan Karang Lebar dan

Karang Congkak adalah normal, dengan nilai berkisar 8,3 – 8,6. Sebaran spasial

pH hasil pengukuran dapat dilihat pada Gambar 20. Dari sebaran spasial ini

terlihat bahwa pada daerah tempat terjadinya percampuran antara air laut dan air

tawar pH relative lebih rendah yaitu daerah dekat darat

4.2.4. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen-DO) adalah jumlah oksigen yang

terlarut dalam air, yang diukur dalam unit satuan miligram per liter (mg/l).

Komponen oksigen ini di dalam air sangat kritis untuk kelangsungan hidup ikan

dan organisme laut lainnya, tetapi bila kadarnya berlebihan juga dapat

menyebabkan kematian. Oksigen terlarut menggambarkan besarnya tingkat

produktivitas primer perairan. Semakin tinggi kandungan oksigen yang terlarut di

perairan dapat mengindikasikan tingginya tingkat produktivitas primer.

Produktivitas primer merupakan hasil dari proses fotosintesis.

Sebaran oksigen terlarut diperoleh dari hasil interpolasi dari titik

pengambilan sampel di lapangan sebanyak 25 titik yang menyebar diperairan

Karang Lebar dan Karang Congkak. Berdasarkan Gambar 21 terlihat bahwa

sebaran oksigen terlarut diperairan Karang Lebar dan Karang Congkak berkisar

antara 5,01 – 8,6 mg/l. Kadar oksigen cenderung meningkat kearah laut lepas.
64

Gambar 20. Peta sebaran pH perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
65

Gambar 21. Peta sebaran oksigen terlarut perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
66

4.2.5. Kecerahan

Intensitas cahaya matahari yang menembus ke dalam suatu perairan

mempengaruhi kehidupan sebagian besar organisme perairan. Selain penting,

sinar matahari juga membatasi kehidupan organisme tersebut. Intensitas sinar

(masukan energi) yang mengenai lapisan autotrofik mengendalikan seluruh

ekosistem melalui pengaruhnya pada produksi primer (Odum, 1971). Oleh karena

itu, tingkat kecerahan perairan perlu diketahui untuk mengetahui produktivitas

primer yang dapat terjadi di perairan tersebut. Kecerahan juga salah satu faktor

pembatas bagi pertumbuhan terumbu karang.

Penentuan sebaran kecerahan perairan diperoleh dari hasil interpolasi titik

– titik pengambilan sampel yang menyebar diseluruh perairan. Metode interpolasi

yang digunakan adalah Inverse Distance Weighted (IDW). Nilai kecerahan

perairan Karang Lebar dan Karang Congkak berkisar antara 1,20 – 9 m ( lihat

Gambar 22). Diwilayah gosong Karang Lebar dan Karang Congkak kecerahan

perairan cukup bagus bagi pertumbuhan terumbu karang yaitu antara 4 – 7 m.

Dititik – titik tertentu kecerahan perairan sangat bagus yaitu diwilayah dekat pulau

layar, sebab pengambilan data pada titik itu cuaca sangat mendukung. Nilai

kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan

dan padatan tersusupensi serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran.


67

Gambar 22. Peta sebaran kecerahan perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
68

4.2.6. Arus dan pasang surut

Kecepatan dan arah arus dari suatu badan air sangat berpengaruh terhadap

kemampuan badan air untuk mengeliminasi dan mengangkut bahan pencemar

serta perkiraan pergerakan bahan pencemar mencapai lokasi tertentu, sehingga

kecepatan arus juga mempengaruhi nilai padatan tersuspensi suatu perairan. Arus

juga berperan dalam peyebaran larva ikan karang.

Arus yang terjadi diperairan Karang Lebar dan Karang Congkak

dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pasang surut dan angin. Dalam penelitian kali

ini data arus diperoleh dari pengolahan data pasang surut dengan kedalaman

perairan sehingga didapatkan pola arus permukaan perairan tersebut. Tabel

pasang surut lokasi penelitian dapat dilihat pada Table 8.

Tabel 8. Tabel pasang surut perairan Kepulauan Seribu (Stasiun Tanjung Priok)
pada saat survey lapang tanggal 13-17 Mei 2008

Tipe pasut di perairan Kepulauan Seribu adalah harian tunggal (diurnal) dimana

dalam sehari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut. Grafik pasang surut

dapat dilihat pada Gambar 23. Tinggi pasut bisa berkisar antara 40 – 80 cm.
69

Fluktuasi pasut tertinggi terjadi pada tanggal 17 Mei 2008 dan terendah terjadi

pada tanggal 14 Mei 2008.

Gambar 23 Grafik Pasang Surut Tunggal Perairan Kepulauan Seribu

Arus diperairan Karang Lebar dan Congkak berkisar antara 10.5 cm/s - > 50

cm/s (Gambar 24). Pola arus di perairan Karang Lebar dan Congkak sangat

dipengaruhi oleh kecepatan angin dan pasang surut. Kecepatan arus dominan

tinggi pada bagian timur perairan dimana pada bagian ini perairan langsung

berhubungan dengan laut lepas yaitu laut jawa. Kecepatan arus mulai mengecil

pada wilayah dekat gosong Karang Lebar dan Congkak.


70

Gambar 24. Peta pola arus permukaan perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
71

4.2.7. Batimetri
Data batimetri diperoleh dari sounding batimetri dengan echosounder

pada tanggal 14 -17 Mei 2008. Kemudian dari data tersebut digabunng dengan

data batimetri dari Disidros TNI AL sehingga titik yang digunakan untuk

interpolasi semakin banyak. Tehnik interpolasi yang digunakan adalah natural

neighbors . Fungsi natural neighbor merupakan toolbar dari ekstensi 3D analyst

pada perangkat lunak ArcGIS versi 9.2. Keunggulan metode natural neighbor

adalah dapat menginterpolasi titik-titik yang relatif banyak dan hasil output yang

diperoleh akan lebih mendekati dengan keadaan sesuangguhnya di alam (nature).

Output piksel hasil interpolasi yaitu 8 x 8 m.

Peta batimetri perairan Karang Lebar dan Karang Congkak (Gambar 25)

menunjukkan bahwa daerah gosong memiliki kedalaman yang relative dangkal

yaitu antara 1- 20 m. Didaerah ini banyak ditemukakan terumbu karang.

Semakin menjauhi gosong kedalaman terus bertambah hingga mencapai 100 m.

Dari profil 3D (Gambar 26 dan 27) terlihat bahwa didalam Karang Lebar maupun

Karang Congkak terdapat goba yang kedalamannya bisa mencapai 10 m.

Kedalaman merupakan merupakan faktor yang turut serta berperan dalam

penentuan kawasan konservasi laut karena adanya stratifikasi kedalaman

berpengaruh dengan jumlah ikan karang. Karakteristik perairan daerah

Kepulauan Seribu juga turut serta dalam pembentukkan jenis geomorfologi dari

terumbu karang itu sendiri yaitu fringing reef, barier reef, dan pacth reef.
72

Gambar 25. Peta sebaran kedalaman perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
73

Gambar 26. Profil 3D Karang Lebar, Kepulauan Seribu – Jakarta

Gambar 27. Profil 3D Karang Congkak, Kepulauan Seribu – Jakarta

Dalam penentuan zona perlindungan laut, nilai- nilai kedalaman kemudian

dikelaskan kembali. Kedalaman 10-25 m tergolong kelas sangat sesuai,

kedalaman 3-<10 tergolong kelas sesuai, dan kedalaman <3 m dan >25 tergolong

tidak sesuai. Peta hasil klasifikasi kedalaman dapat dilihat pada lampiran 3.
74

4.2.8. Jumlah jenis ikan karang


Ikan karang merupakan sumber daya hayati yang berada didaerah sekitar

terumbu karang. Banyaknya jenis ikan karang atau keanekaragaman hayati laut

merupakan parameter yang menentukan bagus atau tidaknya kondisi ekosistem

terumbu karang yang berda didaerah tersebut. Artinya bila disuatu lokasi

ditemukakan keanekaragaman hayati tinggi, maka dapat dikatakan bahwa banyak

spesies yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan tersebut.

Hasil peta sebaran jumlah jenis ikan karang (Gambar 28) berasal dari hasil

interpolasi dari titik – titik pengamatan. Metode interpo27lasi yang digunakan

adalah inverse distance weighted (IDW). Dari hasil pengamatan lapangan

ditemukan paling sedikit 13 spesies paling tinggi sebanyak 27 spesies. Dari

Gambar 30 terlihat bahwa rata – rata perairan Karang Lebar dan Karang Congkak

memiliki 21 -23 spesies ikan karang yang tersebar di seluruh wilayah. Jumlah

kisaran spesies ikan karang paling sedikit ditemukan di daerah dekat pulau

Pramuka, hal ini disebabkan adanya faktor antropogenik serta aktifitas manusia di

sekitar Pulau Pramuka.

Dalam penentuan kawasan konservasi laut dilakukan pengkelasan raster

(zonal fuction) dari sebaran jumlah jenis ikan karang. Kelas baru yang dibentuk

yaitu kelas > 20 spesies untuk kelas sangat sesuai, 15 – 20 spesies untuk kelas

sesuai dan kelas < 15 spesies untuk kelas tidak sesuai. Peta hasil klasifikasi ulang

sebaran jumlah jenis ikan karang dapat dilihat pada Lampiran 4.


75

Gambar 28. Peta sebaran jumlah jenis ikan karang perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
76

4.2.9. Kelimpahan ikan karang

Gambar 29 menunjukkan kelimpahan ikan karang disetiap stasiun

pengamantan. Terlihat pada gambar tersebut bahwa stasiun 17 merupakan

stasiun yang memiliki kelimpahan ikan karang tertinggi, sedangkan stasiun 9 dan

10 memiliki kelimpahan ikan karang terendah. Ada beberapa hal yang membuat

kelimpahan kakatua (Scaridae) dan ikan baronang (Siganidae), serta tingginya

kelimpahan ikan tinggi di stasiun 17 , yaitu tingginya kelimpahan ikan target,

terutama ikan ikan betok laut (Pomacentridae) seperti Pomacentrus,

Neopomacentrus dan Crysiptera. Dikaitkan dengan kondisi karang, kelimpahan

ikan pomacentrid yang tinggi dimungkinkan dengan tingginya penutupan karang

batu terutama yang bentuk pertumbuhannya bercabang dan tabular, yang

menyediakan relung dan habitat bagi ikan-ikan tersebut.

Gambar 29. Histogram Kelimpahan Ikan Karang


77

Sebaran Jumlah Ikan karang diperoleh dari interpolasi tiap – tiap stasiun

pengamatan. Metode interpolasi yang digunakan adalah inverse distance

weighted (IDW). Dari gambar 30 terlihat bahwa perairan karang Lebar dan

Congkak memiliki kelimpahan ikan karang yang cukup bervariatif, berkisar antara

42 - > 400 ekor. Kelimpahan terbesar berada di selatan Karang Congkak (stasiun

17) dengan nilai kisaran 256 – 456 ekor.

Hasil sebaran jumlah ikan karang kemudian dikelaskan kembali untuk

penentuan kawasan konservasi laut. Kelimpahan ikan karang > 300 ekor di

kategorikan kelas sangat sesuai, kelimpahan 100 – 300 ekor dikategorikan kelas

sesuai, dan kelimpahan < 100 ekor dikategorikan kelas tidak sesuai. Peta hasil

klasifikasi jumlah ikan karang dapat dilihat pada Lampiran 4.


78

Gambar 30. Peta sebaran jumlah individu ikan karang perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
79

4.3. Parameter penimbang kawasan konservasi laut

4.3.1. Jarak pantauan dari pemukiman penduduk pulau kecil

Kegiatan konservasi laut sangat rentan terhadap aktivitas penangkapan ikan

yang merusak (destrutive fishing) seperti pengeboman, penggunaan jaring pukat,

penggunaan sianida dan sebagainya. Oleh sebab itu pengawasan terhadap

kawasan konservasi laut sangat penting untuk pengoptimal fungsi dari kawasan

konservasi laut. Pelaku pengawasan baik penduduk lokal maupun dari pihak

pemerintah dapat segera menindak jika ada para nelayan yang melakukan

penangkapan secara destructive fishing di area konservasi laut.

Informasi spasial kawasan pemukiman diperoleh dari data Peta Rupa Bumi

Indonesia dan data lapangan. Jarak dari kawasan pemukiman dapat dipetakan

dengan mengasumsikan parameter di atas sebagai poligon. Penentuan jarak

pantauan zona konservasi laut terhadap kawasan pemukiman pesisir dilakukan

pada raster data.

Pembuatan jarak/buffer dari kawasan pemukiman dibagi atas 3 kelas, yaitu

0 – 500 m, 500 – 1500 m, dan lebih dari 1500 m. Untuk Zona konservasi laut

pemantauan idealnya dilakukan pada jarak kurang dari 500 m. Zona sesuai

digolongkan pada kelas lebih besar dari 500 m dan kurang dari 1500 m,

sedangkan zona tidak sesuai digolongkan pada kelas lebih dari 1500m. Peta

buffer dari kawasan pemukiman pesisir dapat dilihat pada Gambar 31.

4.3.2. Jarak dari jalur pelayaran

Transportasi laut merupakan jenis transportasi yang sering digunakan oleh

penduduk Kepulauan Seribu untuk melakukan aktivitas kesehariannya.


80

Gambar 31. Peta buffer kawasan pemukiman pulau kecil perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu -
81

Alat transportasi laut yang digunakan antara lain perahu motor, baik perahu

motor tempel maupun permanen. Alat transportasi ini sering menghasilkan sisa

pembakaran berupa minyak yang dapat mencemari perairan. Sisa minyak ini

yang perlu kita perhitungkan dalam penentuan zona konservasi laut.

Jarak dari jalur pelayaran komersial dan domestik dapat dispasialkan

dengan mengasumsikan parameter di atas sebagai line/garis. Jalur pelayaran

komersial diperoleh melalui track GPS kapal Ojek dari Muara Angke hingga

Pulau Pramuka, sedangkan jalur pelayaran domestik (nelayan ) diperoleh dari

route pelayaran kapal penelitian yang digunakan untuk mengambil titik sampel.

Penentuan jarak zona konservasi laut terhadap jalur pelayaran komersial maupun

domestik dilakukan pada raster data.

Pembuatan jarak/buffer dari jalur pelayaran dibagi atas 3 kelas, yaitu 0 –

1000 m, 1000 – 2000 m, 2000 – 3000 m, dan lebih dari 3000 m. Zona Konservasi

laut ideal dilakukan pada jarak lebih dari 2000 m. Zona sesuai digolongkan pada

kelas lebih besar dari 1000 m dan kurang dari 2000 m, sedangkan zona tidak

sesuai digolongkan pada kelas kurang dari 1000 m. Peta buffer dari jalur

pelayaran komersial dan domestik dapat dilihat pada Gambar 31.

4.3.3. Analisis zona konservasi laut (kawasan konservasi laut ) dengan Cell

Based Modelling

Kawasan konservasi laut (KKL) memiliki dua fungsi utama, yaitu : (1)

Melindungi seluruh ekosistem dengan cara mengkonservasi berbagai spesies dan

habitat-habitat utama (critical habitat) seperti daerah pemijahan (spawning

grounds) dan daerah asuhan/pembesaran (nursery grounds), dan (2) Stok ikan
82

Gambar 32. Peta buffer jalur pelayaran perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
83

(biota laut lainnya) dalam KKL dapat berfungsi seperti “tabungan“ (bank account)

atau jaminan yang dapat menyangga fluktuasi dan penurunan populasi yang

terjadi di luar KKL akibat kesalahan manajemen maupun fluktuasi alamiah.

Analisis zona potensial dilakukan dengan melihat berbagai faktor yang terkait

dengan pengembangan dan kelangsungan kegiatan konservasi laut. Analisis

kawasan konservasi laut mempertimbangkan faktor biofisik perairan,

keanekaragaman hayati laut, faktor konservasi, dan faktor aktivitas manusia.

Faktor biofisik terdiri dari substrat dasar, kedalaman. Keanekaragaman hayati

laut meliputi jumlah jenis ikan karang, dan kelimpahan ikan karang. Faktor

aktivitas manusia meliputi jarak pantauan dari pemukiman penduduk, dan jarak

dari jalur pelayaran.

Analisis spasial pada data raster merupakan dasar dari Cell Based Modelling

karena setiap sel memiliki nilai tertentu sehingga akan memudahkan dalam

analisis spasial. Penentuan zona kawasan konservasi laut memerlukan suatu

model yang dapat mengintegrasikan seluruh parameter yang mempengaruhi

kriteria konservasi laut. Pemodelan zona kawasan konservasi laut dilakukan

dengan menspasialkan setiap parameter.

Setiap parameter (raster) yang telah diturunkan, baik melalui transformasi

citra maupun dengan interpolasi point-point atau line kemudian dikelasifikasi

ulang menjadi kelas-kelas kesesuaian. Pengelompokkan masing-masing

parameter merupakan salah satu bentuk operasi sel dari zonal function. zonal

function merupakan salah satu bentuk operasi sel pada Cell Based Modelling,

karena akan mengelompokkan sel ke dalam kategori tertentu berdasarkan

kesamaan nilai yang dimiliki oleh sel tersebut. Begitu tiap sel dikelompokkan,
84

pengkodean sel dilakukan secara otomatis menurut selang nilai parameter yang

ditentukan, kemudian seluruh informasi spasial siap di overlay. Metode overlay

akan lebih mudah dan efisien bila dilakukan pada data raster dibandingkan pada

data vektor. Overlay yang digunakan dalam penelitian ini adalah overlay dengan

sistem pembobotan (weighted overlay). Weighted overlay merupakan salah satu

terapan dari Cell Based Modelling yang melibatkan seluruh sel dalam suatu data

raster secara bersamaan (global function). Setiap sel pada parameter yang akan

dilakukan proses overlay telah dikelompokkan ke dalam kode/nilai berdasarkan

Tabel 4.

Skor 1 untuk kriteria sangat sesuai, skor 2 untuk kriteria sesuai dan skor 3

untuk kriteria tidak sesuai. Jumlah sel untuk masing-masing kode dalam setiap

parameter merupakan hasil pengkelasan parameter dapat dilihat dalam Tabel 8.

Proses reclassify menggunakan operator ”Add” atau penambahan sehingga

jumlah setiap sel yang memiliki kode yang sama setelah diberi skor akan

dijumlahkan dan akan membentuk suatu zona dengan kriteria tertentu. Proses

overlay setiap layer dengan menggunakan menu “raster calculator”secara

matematis dapat dilihat dibawah ini.

[[Substrat Dasar Perairan] * 0.3 + [Kedalaman] *0.1 + [∑Jenis ikan

karang]*0.2+[∑ ikan karang]*0.2 + [Jarak dari Jalur Pelayaran] * 0.1 + [Jarak dari

Kawasan Pemukiman] * 0.1]


85

Tabel 9. Jumlah sel hasil klasifikasi parameter dengan Cell Based Modelling
Parameter Jumlah Sel

Sangat sesuai (S1) Sesuai (S2) Tidak sesuai (S3)

Substrat dasar 20 599 16 011 180 119

Kedalaman (m) 127 735 186 817 593 360

Jenis Ikan Karang (sp) 206 936 66 199 671

Jumlah Ikan Karang (ind) 2 285 167 397 104 120

Jarak dari jalur pelayaran 1 279 657 628 452 735 841
(m)
Jarak dari pemukiman 48 825 336 651 1 280 717
(pantauan)

Jumlah sel hasil weighted overlay dikelompokkan ke dalam tiga

kelas/zona yaitu kelas S1 (sangat sesuai) = 2,3335 – 3,0000, kelas S2 (sesuai) =

1,6668 – 2,3334 dan kelas S3 (tidak sesuai) = 1,0000 – 1,6667 beserta luasan

terangkum dalam Tabel 10.

Tabel 10. Jumlah sel hasil weighted overlay

Keterangan Jumlah Sel Luas (Ha)

Sangat sesuai (S1) 18 484 118,2976


Sesuai (S2) 123 284 789,0176

Tidak Sesuai (S3) 72 340 462,9760

Peta kawasan konservasi laut di perairan Karang Lebar dan Karang

Congkak, Kepulauan Seribu – Jakarta dapat dilihat pada Gambar 33. Pada

gambar terlihat dengan metode berbasis sel dapat dibentuk spot-spot zona

potensial yang direpresentasikan dengan warna hijau. Masing-masing spot KKL

berukuran 8 x8 m.
86

Gambar 33. Peta keseuaian kawasan konservasi laut perairan Karang Lebar dan Congkak, Kep. Seribu - Jakarta
87

Zona sangat sesuai banyak terdapat di daerah goba, baik di Karang Lebar

maupun Karang Congkak. Wilayah perairan ini sangat sesuai untuk dijadikan

kawasan konservasi laut, dimana faktor- faktor yang dijadikan paramerter

kesesuian sangat mendukung. Zona sangat sesuai ini mempunyai luas sebesar

118,2976 Ha.

Zona sesuai terlihat dominan pada wilayah gosong Karang Lebar dan

Karang Congkak.direpresentasikan dengan warna kuning. Zona ini mempunyai

luasan sebesar 789,0176 Ha. Wilayah ini merupakan zona yang cukup potensial

untuk dijadikan kawasan konservasi laut sebab parameter – parameter kawasan

konservasi laut yang digunakan sebagai faktor pembatas cukup mendukung

Zona tidak sesuai direpresentasikan dengan warna merah, dimana kawasan

ini tidak cocok untuk dijadikan kawasan konservasi laut. Wilayah perairan ini

mempunyai parameter- parameter faktor pembatas yang tidak mendukung.

Kegiatan konservasi tidak dapat berlangsung meskipun diberikan berbagai

perlakuan tambahan seperti pembuatan fish shelter sebab faktor oseanografi dan

biologi tidak mendukung. Zona ini mempunyai luas sebesar 462,9760 Ha.

Visualisasi kelas kesesuaian hasil overlay dengan metode Cell Based

Modelling berupa grid yang setiap grid-nya mempresentasikan spot-spot

potensial kawasan konservasi laut. Resolusi spasial digunakan sebagai alat ukur

akurasi SIG berbasis raster, semakin kecil nilai piksel maka semakin tinggi

akurasi data tersebut begitu pula sebaliknya. Dalam penentuan kawasan

konservasi laut kali ini, spot – spot zona potensial yang digunakan mempunyai

resolusi yang tinggi yaitu 8 x 8 m, sehingga akan tampak jelas.


88

Dari hasil ground check lapangan daerah yang sangat sesuai pada Karang

Congkak antara lain terdapat pada bagian selatan (ST17L) dan utara (ST27L) .

Pada stasiun ST17L kondisi lingkungannya mendukung baik itu dari segi

oseanografi (suhu 29 0C; salinitas 33 ‰; pH 8,9; dan DO 5,9 mg/l) maupun

biologi (persen cover karang hidup di 3 m: 71,77%; 10 m: 50,93%; dan jumlah

individu ikan karang 3m : 509 ind; 10 m:403 ind), dan pada stasiun ST27L

kondisi biologi (persen penutupan karang hidup 3m : 56,73%; 10m : 48,17 %;

dan jumlah individu ikan karang 3m : 164 ind; 10m : 179 ind) juga sangat

mendukung. Untuk daerah Karang Lebar daerah yang sangat sesuai ada pada

bagian utara (ST29L) sebab dilihat kondisi ekosistem terumbu karang juga

mendukung yaitu persen penutupan karang keras di 3m : 80,23% dan 10 m:

50,83% ; jumlah individu ikan karang di 3m : 205 ind dan 10m : 269 ind .
89

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Pembentukan sebuah model konservasi khususnya konservasi laut (DPL)

perlu mengintegrasikan faktor biofisik perairan, jarak dari kawasan konservasi

dan jarak dari aktivitas manusia agar pengoptimalan kegiatan konservasi serta

pengawasan bisa maksimal. Parameter tersebut diantaranya substrat dasar,

kedalaman perairan, jenis ikan karang, kelimpahan ikan karang jarak dari jalur

pelayaran, dan jarak dari pemukiman (pantauan). Parameter lingkungan lain

seperti klorofil, mpt, suhu, salinitas, ph, DO, dan kecepatan arus tidak digunakan

dalam penentuan kawasan konservasi laut karena tidak memberikan hasil yang

berbeda nyata dalam penentuan kawasan ini.

Analisis spasial pada data raster merupakan dasar dari Cell Based Modelling

karena setiap sel memiliki nilai tertentu sehingga akan memudahkan dalam

analisis spasial, terlebih data-data raster dapat diturunkan melalui transformasi

algoritma pada citra satelit. Parameter yang diturunkan dari citra satelit adalah

substrat dasar, padatan tersuspensi, konsentrasi klorofil serta pemetaan kawasan

mangrove. Resolusi satelit yang tinggi yaitu 8 x 8 m menambah keakuratan dari

hasil pengolahan data raster ini.

Dari hasil analisis spasial berdasarkan Cell Based Modelling, daerah yang

termasuk dalam kategori sangat sesuai untuk dijadikan daerah perlindungan luas

118,2976 Ha (1,8 % ) banyak terletak di bagian tubir Karang Lebar dan Karang

Congkak. Daerah dengan kategori sesuai memiliki luas terbesar yaitu 789,0176

Ha (57,6 %) banyak berada di reef flat Karang Lebar dan Karang Congkak.

89
90

Sedangkan kawasan tidak sesuai mempunyai luasan sebesar 462,9760 Ha (33,8

%) yang juga tersebar di wilayah reef flat Karang Lebar dan Congkak.

5.2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan penulis untuk pengembangan kawasan

konservasi laut adalah :

1. Perlu adanya pengkajian lebih lanjut mengenai aspek ekonomi,

sosial,dan politik dalam penentuan kawasan konservasi laut.

2. Adanya kegiatan konservasi pada spot-spot yang telah ditentukan akan

mengefektifkan kegiatan konservasi dalam menjaga kestabilan

ekosistem terumbu karang.


91

VI. DAFTAR PUSTAKA

Aronoff. 1989. Geographic Information System: A Management Perspective.


WDL Publications, Ottawa. Canada.

Bakosurtanal. 1996. Pengembangan Prototipe Wilayah Pesisir dan Marin


KupangNusa Tenggara Timur. Pusat Bina Aplikasi Inderaja dan Sistem
Informasi Geografis. Bogor.

Bengen, D. G. 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta
Prinsip Pengelolaanya. Pusat kajian sumber daya pesisir dan lautan, IPB.
Bogor.

BPS.2005. Provinsi DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik. Jakarta


http://bps.jakarta.go.id/. 29 Agustus 2007.

Departemen Kehutanan. 1997. Pedoman Penetapan Kriteria Baku Kawasan


Konservasi Laut. Proyek Pengembangan Kawasan Pelestarian Laut di
Pusat. Jakarta.

Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelauatan DKI Jakarta. 2005. Analisi


Kesesuaian dan Arahan Lokasi Pembentukan DPL Baru Berbasis
Masyarakat di Pulau Pari,Kepulauan Seribu. Dinas Perikanan DKI Jakarta.

Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelauatan DKI Jakarta. 2001. Laporan Akhir
Pemetaan Lokasi dan Kegiatan Prioritas Kelurahan Pulau Panggang.
PKSPL-IPB. Bogor.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Modul Sosialisasi dan


Orientasi Penataan Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
Departemen Kelautan dan Perikanan, Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil. Jakarta.

English, S.,C. Wilkinson dan V. Baker. 1994. Survey Manual for Tropical Marine
Resources. Australian Institut of Marine Science. Townville.

91
92

Estradivari. 2001. Terumbu Karang Jakarta : Pengamatan Jangka Panjang


Terumbu Karang Kepulauan Seribu (2004-2005). Yayasan TERANGI.
Jakarta.

ESRI. 2002. Using ArcGIS Spatial Analyst. Environmental System Research


Institute, Inc. New York.

Gaol, J. L. 1997. Pengkajian Kualitas Perairan Pantai Utara Jawa dengan


Menggunakan Citra Satelit Landsat-TM : Hubungan Radiansi Spektral
Dengan Konsentrasi Klorofil-a dan Muatan Padatan Tersuspensi. Thesis.
Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Green, Edmund P.; Alasdair J. Edwards dan Peter J. Mumby. 2000. Mapping
Bathymetry. P : 219-233 dalam Edwards, A. J. (ed.) Remote Sensing
Handbook for Tropical Coastal Management. UNESCO Publishing. Paris.

Gomez E D and Yap H T. 1998. Monitoring Reef Condition. in Kenchington R A


and Hudson B E T (ed). Coral Reef Management Hand Book. UNESCO
Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta.

Hendiarti, N. 2003. Investigations on Ocean Color Remote Sensing in Indonesian


Waters Using SeaWIFS. PhD Thesis. The Faculty of Mathematics and
Natural Sciences. Universitat Rostock.

[IUCN] International Union for Conservation of Nature and Natural Resources.


1986. Managing Protected Areas in The Tropics. IUCN. Gland
(Switzerland).

Kiswara W. 1999. Perkembangan Penelitian Ekosistem Padang Lamun di


Indonesia. Dalam Sutomo, K.A dkk. Proseding Seminar Tentang
Oseanologi dan Ilmu Lingkungan Laut, 1999. Puslitbang Oseanologi-LIPI.
Jakarta.

Kepulauan Seribu. 2007. DKI Jakarta.


http://kepulauanseribu.multiply.com/journal/item/23/Mangrove_di_Kepula
uan_Seribu. 22 Agustus 2008
93

LAPAN. 2004. Implementasi dan pembinaan pemanfaatan Penginderaan jauh


untuk budidaya laut (Studi Kasus : Kesesuaian Perairan Budidaya Ikan
Kerapu dengan Menggunakan Karamba Jaring Apung di Kabupaten
Situbondo). Proyek Pemanfaatan Teknologi Dirgantara untuk
Pembangunan Ekonomi /Masyarakat Tahun Anggaran 2004. Jakarta.

LAPI-ITB. 2001. Laporan Akhir Pengelolaan Laut Lestari : Pendataan dan


Pemetaan Potensi Sumberdaya Alam Kepulauan Seribu dan Pesisir Teluk
Jakarta. LAPI-ITB. Bandung

Lyzenga, D.R., 1978, Passive remote sensing techniques for mapping water depth
and bottom features. Applied Optics 17: 379-383.

Meaden, G.J. dan Tang, D.C. 1996. Geographical Information System;


Applications to Marine Fisheries. FAO Fisheries Technical Paper No. 356.
Rome.

Murni, HC. 2000. Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Estuari dengan


Pendekatan Tata Ruang dan Zonasi (Studi Kasus Segaa Anakan
Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah). [Desertasi]. IPB. Bogor.

Napitupulu, D.L., S.N. Hodijah, A. C. Nugroho & K. Anggraini. 2005. Socio-


economic assessment: In the use of reef resources by local community and
other direct stakeholder. Yayasan TERAGI.Jakarata.

Nontji A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

NSPO. 2005. FORMOSAT-2 Images. National Space Program Office,


Distribution Spot Image - Conception and processes. Taiwan.
http://www.spotimage.fr/automne_modules_files/gal/edited/r425_maritim
e_mokpo_1280.jpg. 21 Agustus 2007.

Nybaken J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan ekologis. Cetakan Kedua.


Diterjemahkan oleh H.M. Eidman, Koeseobiono, D. G. Bengen, M.
Hutomo, dan S. Sukardjo. PT. Gramedia. Jakarta. Indonesia.
94

Odum, E. P. 1971. Fundamentals of ecology. W. B. Saunders Co. Toronto.


Canada.

P2O LIPI. 2005. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta


http://p2olipi.go.id/. [14 September 2008]

Prahasta, E. 2001. Konsep-konseo Dasar Sistem Informasi Geografis. Penerbit


Informatika Bandung. Bandung.

Purwadhi, Sri Hardiyanti. 2001. Interpretasi Citra Digital. PT Grasindo, Jakarta.

Riley RW. 2001. Mangrove Replenishment Intitative on Florida Space Coast.


Robinson, I. S. 1985. Satellite Oceanography: An Introduction for
Oceanographers and Remote-Sensing Scientists. Ellis Horwood Limited.
Chichester, England.

Rohmimohtarto K dan Juwana S. 2001. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan tentang


Biologi Laut. Djambatan. Jakarta.

Salm, Rodney V, John R, Clark; and Erkki Siirila. 2000. Marine and Coastal
Protected Areas : A Guide for Planner and Managers. IUCN. Washington
D.C.

Salm RV, J.R Clark, and E. Sirilia. 2000. Marine and Coastal Protected area: A
Guide For Planners and Mangers. Third Edition. International Union for
Conservation of Nature and Natural Resources. Gland, Switzerland.

Siregar, V., 1995. Pemetaan Terumbu Karang dengan Menggunakan Kombinasi


Citra Satelit SPOT-1 Kanal XS1 dan XS2. Aplikasi Karang Congkak dan
Karang Lebar di Kepulauan Seribu Jakarta. Bulletin PSP, Vol.1 No.1.
IPB. Bogor.

Soegiarto A. 1976. Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir. Lembaga


Oseanologi Nasional. Jakarta.
95

Sorokin, Y. I. 1995. Coral Reef Ecology (Edisi kedua). Springer – Verlag Berlin
Heidelberg German.

Susilo, S. B. 2000. Penginderaan Jauh Kelautan Terapan. Jurusan Manajemen


Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Veron J E N. 2002. Coral of Australian and Indopacific. Australian Institute of


Marine Science. Townsville.

Weber HH, Thurman HV. 1991. Marine Biology (Edisi kedua). Harper Collins
Publishers Inc. New York.

Wilson R and Wilson JQ. 1985. Watching Fishes : Life and Behavior on Coral
Reef. Harper and Row, Publishers Inc. New York.

Wyrtki K. 1961. The Physical Oceanography of South East Asian Waters. Naga
Report vol 2. University of California Press. La Jolla. California.

[WWF] World Wide Foundation. 2003. Turtle Distributions, Migratory Routes,


and Target Locations for Turtle Campaign in Indonesia. WWF Indonesia.
Jakarta.
96

Lampiran 1 . Data GCP dan RMS report


GCPs for data set : D:\Sains\GIS\bahan citra\Formosat\Olah
Pseribu\GeoSemakdaun2006_pan.ers

Total number of GCPs : 28


Number turn on : 28
Warp order : 1
GCP corrected map projection detail : Map projection : SUTM48
DATUM : WGS 1984
Rotation : 0

Point On Locked Cell-X Cell-Y To-X To-Y To-Z


1 Yes No 1408.283 3246.544 1.860217 -0.10058 0
2 Yes No 1471.031 3291.831 1.860241 -0.10059 0
3 Yes No 1380.919 3328.305 1.860208 -0.10061 0
4 Yes No 929.238 1722.48 1.860036 -0.10001 0
5 Yes No 915.23 1710.462 1.86003 -0.1 0
6 Yes No 913.084 1723.783 1.86003 -0.10001 0
7 Yes No 902.952 1707.79 1.860026 -0.1 0
8 Yes No 879.306 1737.764 1.860017 -0.10001 0
9 Yes No 827.444 1735.106 1.859998 -0.10001 0
10 Yes No 915.797 1710.402 1.860031 -0.1 0
11 Yes No 657.501 809.517 1.859933 -0.09967 0
12 Yes No 633.083 811.851 1.859924 -0.09967 0
13 Yes No 617.062 833.286 1.859918 -0.09967 0
14 Yes No 645.35 835.853 1.859928 -0.09968 0
15 Yes No 649.915 831.108 1.85993 -0.09967 0
16 Yes No 2363.154 1995.326 1.860567 -0.10011 0
17 Yes No 2290.23 2014.924 1.86054 -0.10011 0
18 Yes No 2280.353 1940.194 1.860536 -0.10009 0
19 Yes No 2288.074 2079.449 1.860539 -0.10014 0
20 Yes No 2244.294 2083.49 1.860523 -0.10014 0
21 Yes No 2337.533 2090.454 1.860557 -0.10014 0
22 Yes No 2654.61 2182.373 1.860675 -0.10018 0
23 Yes No 2654.956 2182.344 1.860675 -0.10018 0
24 Yes No 2850.383 2379.709 1.860748 -0.10025 0
25 Yes No 2872.923 2345.556 1.860756 -0.10024 0
26 Yes No 2949.457 2407.401 1.860784 -0.10026 0
27 Yes No 2869.028 2463.65 1.860755 -0.10028 0
28 Yes No 2840.732 2507.605 1.860744 -0.1003 0
97

Lampiran 1 (lanjutan) RMS error report :

Point Cell-X Cell-Y Cell-X Cell-Y RMS


1 1408.283 3246.544 1407.979 3246.33 0.3712
2 1471.031 3291.831 1470.91 3291.862 0.1245
3 1380.919 3328.305 1381.35 3328.281 0.431
4 929.238 1722.48 929.337 1722.669 0.2129
5 915.23 1710.462 914.791 1710.469 0.4385
6 913.084 1723.783 913.267 1723.991 0.2767
7 902.952 1707.79 903.002 1708.079 0.293
8 879.306 1737.764 879.153 1737.354 0.4377
9 827.444 1735.106 827.213 1735.235 0.2642
10 915.797 1710.402 916.208 1710.528 0.4298
11 657.501 809.517 657.444 809.775 0.2644
12 633.083 811.851 632.869 811.496 0.414
13 617.062 833.286 617.109 833.32 0.0577
14 645.35 835.853 645.429 835.79 0.1012
15 649.915 831.108 650.193 830.759 0.446
16 2363.154 1995.326 2363.533 1995.137 0.4233
17 2290.23 2014.924 2290.162 2015.255 0.3385
18 2280.353 1940.194 2279.896 1940.044 0.4816
19 2288.074 2079.449 2287.76 2079.649 0.3714
20 2244.294 2083.49 2244.275 2083.584 0.0963
21 2337.533 2090.454 2337.74 2090.647 0.2839
22 2654.61 2182.373 2654.416 2182.638 0.3283
23 2654.956 2182.344 2655.365 2182.125 0.4635
24 2850.383 2379.709 2850.282 2380.045 0.3514
25 2872.923 2345.556 2872.756 2345.554 0.167
26 2949.457 2407.401 2949.257 2407.092 0.3685
27 2869.028 2463.65 2869.456 2463.593 0.4316
28 2840.732 2507.605 2840.769 2507.254 0.3533

Average RMS error : 0.322


Total RMS error : 9.022

End of GCP detail


98

Lampiran 2 . Kalkulasi Koefisien attenuasi perairan (ki/kj)


Cla Band1 Band2 Band3 Band4
--- ----- ----- ----- -----
k1 134.106 150.419 150.564 37.374
k10 134.106 147.366 150.059 32.911
k12 134.106 145.407 147.5 32.519
k13 134.106 150.327 150.95 34.327
k14 134.106 146.829 149.943 33.429
k15 134.106 145.621 148.2 33.484
k16 134.106 133.333 141.545 34.424
k17 134.106 143.133 145.667 33.333
k18 134.106 135.571 140.857 33.5
k19 134.106 140.143 145.143 33.4
k2 134.106 145.932 147.435 36.463
k20 134.106 145.621 147.776 34.931
k21 134.106 135.949 142.908 33.449
k22 134.106 137.217 143.362 34.522
k23 134.106 136.806 143.015 36.284
k24 134.106 140.387 145.014 36.697
k25 134.106 144.14 146.675 37.026
k26 134.106 139.45 144.887 33.587
k27 134.106 144.853 148.529 34.529
k28 134.106 143.824 148.147 33.971
k29 134.106 142.429 145.946 35.232
k3 134.106 134.814 141.529 35.294
k30 134.106 148.059 149.529 34.255
k31 134.106 142.986 147.069 33.333
k4 134.106 145.932 146.97 36.985
k5 134.106 143.478 145.5 36.911
k6 134.106 134.931 141.552 35.552
k7 134.106 137.345 141.414 41
k8 134.106 147.151 148.11 35.452
k9 134.557 156.071 154.214 34.386
All 88.328 110.036 133.011 32.565

Var 0.00678 29.65605 11.03732


covar 17.0227
a 0.54688
Ki/kj 0.59289
99

Lampiran 3. Peta hasil klasifikasi ulang subsrat dasar dan kedalaman


100

Lampiran 4. Peta klasifikasi ulang sebaran jumlah jenis ikan karang dan
kelimpahan ikan karang
101

Lampiran 5. Parameter fisika kimia perairan pada setiap stasiun pengamatan.

Stasiun Lokasi Keterangan Suhu Salinitas pH DO Kecerahan Arus


(celcius) (ppm) (mg/l) (m) (cm/s)
Bujur Lintang
ST01L 106.56361 -5.72856 LIT 29.6 35 8.56 8.2 9 17.5
ST02R 106.569389 -5.72519 RRA 1 30.9 34 8.48 8.3 5.2 19
ST03R 106.58072 -5.72189 RRA 2 31.2 32 8.71 7.8 8.25 20
ST04R 106.59289 -5.71767 RRA 3 30.7 33 8.66 6.6 9 30
ST05R 106.60033 -5.71564 RRA 4 30.1 33 8.54 7.2 4 55.5
ST06R 106.613583 -5.72394 RRA 5 30.1 35 8.64 7 5 60
ST07L 106.60667 -5.72756 LIT 30.8 33 8.8 6.9 9 50.8
ST08R 106.600278 -5.72925 RRA 6 29.7 33.3 8.55 6.7 2.4 44.6
ST09R 106.589972 -5.73369 RRA 7 29.6 33 8.43 6.8 3.8 40.6
ST10R 106.57522 -5.73031 RRA 8 29.7 33 8.68 6.8 2.1 10.5
ST11L 106.57311 -5.71141 LIT 30 32.5 8.65 7.3 4.7 11.6
ST12L 106.56648 -5.70976 RRA 9 30.3 33 8.51 7.5 5.5 12.7
ST13R 106.57766 -5.70868 RRA 10 32.5 34 9.09 6.7 1.2 18.5
ST14R 106.58105 -5.69717 RRA 11 30.8 34 8.31 7.4 4 29.5
ST15R 106.58833 -5.69528 RRA 12 30.1 33 8.67 7.3 5.1 30.7
ST16L 106.59601 -5.69612 LIT 30.2 34 8.9 5.6 4 43.2
ST17L 106.58455 -5.71377 LIT 29.6 33 8.9 5.9 5.7 20.7
ST18R 106.58942 -5.71079 RRA 13 30.2 34 8.6 5.7 4 22.5
ST19R 106.59633 -5.70443 RRA 14 31.7 33.5 8.5 5.9 6.1 36.9
ST20L 106.61839 -5.73856 RRA 15 29.7 34 8.9 6.9 2.3 42.4
ST21R 106.62141 -5.74143 LIT 28.6 34 8.5 5 2.8 44.2
ST22R 106.61419 -5.75177 RRA 16 30 34 8.8 7.6 2.5 44.5
ST23L 106.58599 -5.74236 LIT 30.7 33 8.8 8.6 7.5 20.5
ST24R 106.59444 -5.74746 RRA 17 31.3 33 8.5 8 5.5 22.6
ST25R 106.61002 -5.73463 RRA 18 30 33 8.3 7 6 25.3
ST26L 106.5625 -5.71338 LIT - 32 8 - 5.5 13
ST27L 106.576833 -5.69965 LIT - 31 8 - 9.2 30
ST28L 106.593483 -5.70697 LIT - 33 8 - 4.7 20.2
ST29L 106.58835 -5.71998 LIT - 33 8 - 8.2 28.7
ST30L 106.569367 -5.73363 LIT - 33 8 - 4.7 17.6
ST31L 106.6117 -5.71652 LIT - 34 8 - 5.2 58.4
ST32L 106.595883 -5.73123 LIT - 33 8 - 3.1 43.6
ST33L 106.575917 -5.73717 LIT - 32 8 - 7.3 42.1
102

Lampiran 6. Komposisi substrat dasar di setian stasiun pengamatan LIT


ST01L ST07L ST11L ST16L ST17L ST20L ST23L
3m 10 m 3m 5m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m
Hard corals (HC) 43.13 44.23 15.93 36.27 70.13 30.13 51.27 37.53 71.77 50.93 31.57 23.27 63.93 17.97
ACB 5.60 0.00 1.67 12.03 34.23 1.17 6.47 2.87 16.67 3.73 6.17 0.73 38.80 2.33
ACD 1.70 0.00 1.37 2.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.27 0.00 0.00 0.00
ACT 2.87 0.00 1.53 0.00 0.00 0.00 7.37 1.20 15.50 3.27 0.27 0.00 1.10 0.00
CB 3.13 2.27 0.53 0.60 0.00 1.40 9.23 1.80 15.57 3.17 1.03 0.40 6.67 2.17
CE 0.00 0.00 0.00 0.17 0.73 1.67 0.00 1.47 1.90 2.30 0.03 2.63 0.00 0.40
CF 4.10 4.20 7.80 14.67 0.30 6.23 23.43 15.23 7.83 14.97 12.93 8.30 7.60 8.20
CHL 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.63 1.33 0.00 0.00
CM 20.20 24.77 2.17 6.63 4.17 14.70 4.70 12.07 0.67 17.63 9.37 3.07 3.03 4.73
CME 1.57 10.60 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
CMR 0.00 0.00 0.57 0.00 1.37 0.00 0.07 1.63 8.27 1.53 0.00 6.33 4.63 0.00
CS 3.97 2.40 0.30 0.00 29.33 4.97 0.00 1.27 5.37 4.33 0.87 0.47 2.10 0.13
Dead corals (DC+DCA) 16.93 16.17 73.27 36.97 3.90 23.13 34.97 25.10 17.83 20.40 46.53 57.50 14.03 16.13
DC 2.57 0.00 1.40 0.00 0.00 1.57 0.00 0.53 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.47
DCA 14.37 16.17 71.87 36.97 3.90 21.57 34.97 24.57 17.83 20.40 46.53 57.50 14.03 15.67
Abiotik (RB+RCK+S) 20.23 19.60 10.33 24.60 24.60 41.80 12.13 22.83 1.70 17.17 11.63 14.23 17.37 62.90
RB 9.23 17.00 7.37 19.93 15.33 0.00 8.63 12.67 0.63 4.10 7.07 11.47 11.57 4.73
RCK 5.37 0.00 0.00 0.87 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.70 0.00 4.37 0.00
S 5.63 2.60 2.97 3.80 9.27 41.80 3.50 10.17 1.07 13.07 1.87 2.77 1.43 58.17
Other benthics (MA+SC+SP) 13.73 18.60 0.00 2.17 0.70 4.20 0.80 9.13 0.00 4.07 8.67 3.27 1.83 3.00
MA 9.17 6.43 0.00 0.00 0.70 1.53 0.00 0.27 0.00 0.00 4.73 0.00 0.00 1.30
SC 4.13 9.63 0.00 0.47 0.00 0.00 0.00 6.83 0.00 1.87 1.00 0.40 0.00 0.00
SP 0.43 2.53 0.00 1.70 0.00 2.67 0.80 2.03 0.00 2.20 2.93 2.87 1.83 1.70
Other fauna (OT+ZO) 5.97 1.40 0.47 0.00 0.67 0.73 0.83 5.40 8.70 7.43 1.60 1.73 2.83 0.00
OT 0.27 1.40 0.47 0.00 0.67 0.73 0.83 3.13 8.70 7.43 1.60 1.73 2.83 0.00
ZO 5.70 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.27 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
TOTAL COVERAGE 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

102
103

Lampiran 6. (lanjutan)
ST26L ST27L ST28L ST29L ST30L ST31L ST32L ST33L
3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m 3m 10 m
Hard corals (HC) 30.97 28.90 56.73 48.17 34.27 20.20 80.23 50.83 30.17 26.33 18.13 7.17 36.93 48.33 35.23 41.40
ACB 2.00 0.00 43.10 17.73 1.13 0.00 36.43 15.90 2.33 0.00 0.00 1.47 16.23 19.03 7.03 0.00
ACD 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.57 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3.23 0.00
ACE 0.00 0.00 0.00 0.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
ACT 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.60 0.00 3.00 2.37 0.00 3.63 0.00 1.63 0.00 0.00 0.00
CB 13.73 12.40 0.00 1.97 11.80 8.03 0.67 0.90 3.60 1.57 0.37 0.00 8.33 1.97 0.33 3.53
CE 0.00 1.70 0.00 0.00 0.00 0.70 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.83 0.00
CF 0.00 8.23 0.33 9.77 2.83 2.17 39.97 18.63 0.57 8.97 0.00 2.63 0.50 14.57 4.40 16.43
CHL 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
CM 12.83 2.73 4.37 12.73 17.87 1.77 3.17 10.90 20.80 7.87 8.03 0.97 1.97 7.47 16.50 16.87
CME 0.93 0.20 3.23 0.00 0.00 0.00 0.00 0.50 0.00 0.00 0.00 0.00 4.60 3.33 0.90 0.00
CMR 0.17 0.73 2.20 0.00 0.00 1.33 0.00 0.83 0.00 0.00 0.00 0.00 2.30 1.03 0.00 0.53
CS 1.30 2.90 3.50 5.57 0.63 3.03 0.00 0.17 0.50 7.93 5.07 2.10 1.37 0.93 2.00 4.03
Dead corals (DC+DCA) 54.67 34.77 16.97 38.77 48.87 68.50 19.77 41.57 64.03 65.27 32.83 51.87 32.80 31.60 58.83 48.20
DC 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
DCA 54.67 34.77 16.97 38.77 48.87 68.50 19.77 41.57 64.03 65.27 32.83 51.87 32.80 31.60 58.83 48.20
Abiotik (RB+RCK+S) 8.17 23.37 0.00 6.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.40 8.30 0.00 22.50 0.00 0.00 0.00
RB 8.17 8.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8.30 0.00 22.50 0.00 0.00 0.00
RCK 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
S 0.00 15.30 0.00 6.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Other benthics (HA+MA+SC+SP) 1.07 11.33 25.47 6.63 14.70 11.30 0.00 5.83 0.70 1.87 40.73 39.93 1.30 19.10 5.93 8.77
HA 0.00 3.77 3.67 0.00 2.23 0.33 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.30 0.00 0.00 0.00
MA 0.00 0.00 1.03 0.00 1.87 0.00 0.00 0.67 0.00 1.13 32.97 36.83 0.00 0.50 0.00 5.67
SC 1.07 4.60 20.10 5.70 9.77 10.97 0.00 1.70 0.00 0.73 2.03 2.57 0.00 11.43 5.93 1.10
SP 0.00 2.97 0.67 0.93 0.83 0.00 0.00 3.47 0.70 0.00 5.73 0.53 0.00 7.17 0.00 2.00
Other fauna (OT+ZO) 5.13 1.63 0.83 0.40 2.17 0.00 0.00 1.77 5.10 1.13 0.00 1.03 6.47 0.97 0.00 1.63
OT 5.13 1.63 0.83 0.40 2.17 0.00 0.00 1.77 5.10 1.13 0.00 1.03 6.47 0.97 0.00 1.63
ZO 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
TOTAL COVERAGE 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

103
104

Lampiran 7. Komposisi substrat dasar di setian stasiun pengamatan RRA

RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA RRA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
ACB 15 20 25 0 3 5 0 0 3 0 35 0 5 0 1 5 0 0
ACD 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
ACT 30 35 5 5 2 15 5 0 0 0 5 0 0 10 2 5 10 5
CB 15 5 35 15 0 5 0 3 5 0 0 0 10 5 0 5 5 5
CF 5 10 5 4 5 30 0 0 2 0 15 0 0 5 1 0 5 15
CHL 0 0 0 0 0 0 2 0 1 0 5 0 5 0 1 0 0 0
CM 15 15 15 15 10 5 5 15 5 0 10 20 35 35 0 0 45 5
CME 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0
CMR 5 0 0 0 0 3 2 0 2 0 0 0 0 0 0 5 0 0
CS 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 0 0 0 0 0 0
DCA 0 5 10 5 20 5 5 5 0 0 5 15 0 10 20 25 0 0
MA 5 0 0 5 5 0 10 0 0 25 0 35 0 0 50 15 0 0
OT 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 5 0 5 0 0 0 5 0
RB 0 5 0 20 45 10 70 0 5 0 15 15 20 15 15 40 5 40
RCK 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 0
S 5 0 0 30 5 20 1 75 75 75 10 15 15 10 0 0 30
SC 0 5 2 1 3 2 0 0 0 0 0 0 5 5 0 0 0 0
SP 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
ZO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
TOTAL 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

104
104
105

Lampiran 8. . Famili ikan dan spesies yang ditemukan untuk menilai komposisi

dan kelimpahan ikan karang.

No Nama Famili Nama Spesies No Nama Famili Nama Spesies

1 APOGONIDAE Apogon compressus 37 LABRIDAE Thalassoma hardwickei


2 APOGONIDAE Apogon melas 38 LABRIDAE Thalassoma lunare
3 APOGONIDAE Apogon nigrofasciatus 39 LETHRINIDAE Lethrinus olivaceus
4 BLENNIIDAE Blenniella chrysospilos 40 LUTJANIDAE Lutjanus biguttatus
5 BLENNIIDAE Cirripectes filamentosus 41 LUTJANIDAE Lutjanus decussatus
6 CAESIONIDAE Caesio cuning 42 LUTJANIDAE Lutjanus fulviflamma
7 CENTRISCIDAE Aeoliscus strigatus 43 LUTJANIDAE Lutjanus russeli
8 CHAETODONTIDAE Chaetodon octofasciatus 44 LUTJANIDAE Lutjanus vulpinus
9 CHAETODONTIDAE Chelmon rostratus 45 MULLIDAE Parupeneus bifasciatus
10 DASYATIDAE Taeniura lymma 46 NEMIPTERIDAE Nemipterus isacanthus
11 EPHIPPIDAE Platax batavianus 47 NEMIPTERIDAE Pentapodus bifasciatus
12 EPHIPPIDAE Platax teira 48 NEMIPTERIDAE Pentapodus caninus
13 GOBIIDAE Istigobius decoratus 49 NEMIPTERIDAE Pentapodus setosus
14 HAEMULIDAE Plectorhincus polytaenia 50 NEMIPTERIDAE Pentapodus trivittatus
15 HEMIRHAMPHIDAE Hemirhampus far 51 NEMIPTERIDAE Scolopsis bilineatus
Anampses
16 LABRIDAE 52 NEMIPTERIDAE Scolopsis lineatus
caeruleopunctatus
17 LABRIDAE Anampses melanurus 53 NEMIPTERIDAE Scolopsis margaritifer
18 LABRIDAE Bodianus axillaris 54 NEMIPTERIDAE Scolopsis taeniopterus
19 LABRIDAE Bodianus mesothorax 55 NEMIPTERIDAE Scolopsis trilineatus
20 LABRIDAE Cheilinus fasciatus 56 PEMPHERIDAE Pempheris oualensis
21 LABRIDAE Cheilinus trifasciatus 57 PINGUIPEDIDAE Parapercis diplospilus
22 LABRIDAE Choerodon fasciatus 58 PLESIOPIDAE Calloplesiops altivelis
Chaetodontoplus
23 LABRIDAE Gomphosus varius 59 POMACANTHIDAE
mesoleucus
24 LABRIDAE Halichoeres biocellatus 60 POMACENTRIDAE Abudefduf bengalensis
Abudefduf
25 LABRIDAE Halichoeres chloropterus 61 POMACENTRIDAE
septemfasciatus
26 LABRIDAE Halichoeres dussumieri 62 POMACENTRIDAE Abudefduf vaigiensis
Amblyglyphidodon
27 LABRIDAE Halichoeres hortulanus 63 POMACENTRIDAE
batunai
Amblyglyphidodon
28 LABRIDAE Halichoeres leucurus 64 POMACENTRIDAE
curacao
29 LABRIDAE Halichoeres marginatus 65 POMACENTRIDAE Chromis alpha
30 LABRIDAE Halichoeres melanochir 66 POMACENTRIDAE Chromis atripectoralis
31 LABRIDAE Halichoeres melanurus 67 POMACENTRIDAE Chromis elerae
Chromis
32 LABRIDAE Halichoeres ornatissimus 68 POMACENTRIDAE
scotochilopterus
33 LABRIDAE Halichoeres trimaculatus 69 POMACENTRIDAE Chromis viridis
34 LABRIDAE Hemygymnus fasciatus 70 POMACENTRIDAE Chromis xanthura
35 LABRIDAE Labroides dimidiatus 71 POMACENTRIDAE Chrysiptera rollandi
Macropharyongodon
36 LABRIDAE 72 POMACENTRIDAE Chrysiptera springeri
negrosensis
106

Lampiran 8. (lanjutan )

No Nama Famili Nama Spesies No Nama Famili Nama Spesies


73 POMACENTRIDAE Dascyllus trimaculatus
Dischistodus
74 POMACENTRIDAE
chrysopoecilus
75 POMACENTRIDAE Dischistodus melanotus
76 POMACENTRIDAE Dischistodus perspicillatus
Dischistodus
77 POMACENTRIDAE
prosopotaenia
Hemiglyphidodon
78 POMACENTRIDAE
plagiometopon
79 POMACENTRIDAE Neoglyphidodon crossi
80 POMACENTRIDAE Neoglyphidodon melas
Neopomacentrus
81 POMACENTRIDAE
violascens
Plectroglyphidodon
82 POMACENTRIDAE
lacrymatus
Plectroglyphidodon
83 POMACENTRIDAE
nigroris
84 POMACENTRIDAE Pomacentrus alexanderae
85 POMACENTRIDAE Pomacentrus amboinensis
86 POMACENTRIDAE Pomacentrus coelestis
87 POMACENTRIDAE Pomacentrus cyanomos
88 POMACENTRIDAE Pomacentrus melanochir
89 POMACENTRIDAE Pomacentrus moluccensis
Pomacentrus
90 POMACENTRIDAE
nagasakiensis
91 POMACENTRIDAE Stegastes nigricans
92 SCARIDAE Chlorurus sordidus
93 SCARIDAE Scarus flavipectoralis
94 SCARIDAE Scarus globiceps
95 SCARIDAE Scarus niger
96 SCARIDAE Scarus oviceps
97 SCARIDAE Scarus psittacus
98 SCARIDAE Scarus rivulatus
99 SCARIDAE Scarus rubroviolaceus
100 SCORPAENIDAE Pterois volitans
101 SERRANIDAE Cephalopholis boenack
102 SERRANIDAE Cephalopholis microprion
103 SERRANIDAE Cromileptes altivelis
104 SERRANIDAE Epinephelus sexfasciatus
105 SIGANIDAE Siganus puellus
106 SIGANIDAE Siganus vulpinus
107 SYNODONTIDAE Synodus sp.
108 TETRAODONTIDAE Arothron mappa
107

Lampiran 9. Gambar alat penelitian dan lokasi penelitian

Kapal penelitian Floating gauge

DO meter pH meter dan termometer

Secci disk GPS sounder


108

Lampiran 9 . (lanjutan)

Refraktometer

Scuba set dan roll meter

Lokasi ST17L Lokasi ST17L

Lokasi ST27L Lokasi ST27L


109

Lampiran 9 . (lanjutan)

Lokasi ST29L Lokasi ST29L


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kendal pada tanggal 26 November 1986

dari pasangan Bapak Drs. Bambang Iriyanto dan Ibu Nina

Nurkania Susilawati, SH. sebagai anak kedua dari empat

bersaudara. Lulus dari SMU Negeri 1 Kendal pada tahun

2004, penulis melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor

pada Program Studi Ilmu Kelautan, Departemen Ilmudan Teknologi Kelautan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan melalui jalur USMI.

Selama menjalani kuliah di IPB, penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa

Ilmu dan Teknologi Kelautan (HIMITEKA) tahun 2005/2006. Penulis juga aktif

dalam organisasi Fisheries Diving Club (FDC-IPB) pada tahun 2004-2008.

Selain itu, penulis juga aktif menjadi Asisten Praktikum pada mata kuliah Widya

Selam 2006/2007, Oseanografi Fisika 2007/2008, Oseanografi Umum 2007/2008,

Pemetaan Sumber Hayati Laut 206-2008, Sistem Informasi Geografis 2007/2008,

dan Penginderaan Jarak Jauh Kelautan 2006/2007.

Penulis juga turut serta dalam kegiatan monitoring potensi ekosistem

terumbu karang di Taman Nasional Ujung Kulon tahun 2006 (WWF) dan

kegiatan penelitian bersama FDC-IPB dalam Ekspedisi Zooxanthellae VIII di

Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur pada tahun 2006 dan

Ekspedisi Zooxanthellae IX di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada

tahun 2007. Untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Perikanan

di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis menyusun skripsi dengan judul

“Analisi Spasial Kualitas Ekosistem Terumbu Karang Sebagai Dasar Penentuan

Kawasan Konservasi Laut dengan Metode Cell Based Modelling di Karang Lebar

dan Karang Congkak Kepulauan Seribu, DKI Jakarta”.