Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Gangguan somatisasi adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
( sebagai fisik(sebagaicontohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup
serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau
gangguan pada kemampuan pasien unt untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau
pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi
bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan
durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura- pura yang
disadari atau gangguan buatan.1
Ganguan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang
bermacam- macam dan hampir mengenai semua sistem tubuh. Keluhan ini biasanya
sudah berlangsung lama dan biasanya keluhannya berulang-ulang namun berganti-ganti
tempat. Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter ( doctor
shopping ). Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi namun hasilnya
negatif. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ
gastrointestinal ( perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah ) dan keluhan
pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih.
Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh,
misalnya nyeri kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat
berhubungan badan. Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan
haid.
Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Biasanya bermula
sebelum usia 30an dan telah berlangsung beberapa tahun. Pasien biasanya tidak mau
menerima pendapat dokter bahwa mungkin ada dasar psikologis yang mendasari
gejalanya.k berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.

B. Tujuan
Makalah ini disusun dengan harapan, setiap pembaca khususnya kalangan
medis, lebih mengetahui bagaimana cirri-ciri gangguan somatisasi yang nantinya akan
mudah untuk mendiagnosa secara pati gangguan ini, sehingga pengobatan dapat
diberikan secara maksimal dan tepat, yang nantinya memberikan efek postif atau
kesembuhan yang diharapkan. Dan juga untuk memberikan informasi tentang
bagaimana cara penanganan dari gangguan somatisasi ini.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi

Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunanisoma, yang berarti tubuh.
Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada
gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan
penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda denganmalingering, atau kepura-puraan
simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga
berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh
pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas.
Selain itu gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe
gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom medis.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki
gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk
menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada
kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu
diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor
psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala.
Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau
gangguan buatan.
B. Epidemiologi
Penyakit ini sering didapatkan , berkisar antara 2-20 dari 1000 penduduk. Lebih
banyak pada wanita. Pasien pada umumnya mempunyai riwayat keluhan fisik yang
banyak. Biasanya dimulai sebelum berumur 30 tahun. Sebelumnya pasien telah banyak

mendapat diagnosis, makan banyak obat, dan banyak menderita alegi. Pasien ini terus
mencari penerangan medis untuk gejala yang dideritanya dan bersedia untuk melakukan
berbagai test medis, pembedahan, uji klinik, walaupun dia tahu hal tersebut jarang yang
memberikan hasil, biasanya hasilnya adalah normal, atau ada
gangguan kecil.
Fenomena ini dapat berupa spectrum yang ringan yang akan memperberat
gangguan somatisasi, pasien yang benar benar masuk kriteria biasanya telah hidup dengan
didominasi dengan pengalaman medik dan mungkin telah mengalami gangguan hubungan
interpersonal. Riwayat keluarga biasanya menunjukkan hal yang sama terutama pada
wanita, dan riwayat anti sosial pada pria.
C. Klasifikasi
Adapun bentuk gangguan tersebut adalah sebagai berikut :
1.Gangguan konversi
Merupakan bentuk perubahan yang mengakibatkan adanya perubahan fungsi
fisik yang tidak dapat dilacak secara medis. gangguan ini muncul dalam konflik atau
pengalaman traumatik yang memberikan keyakinan akan adanya penyebab
psikologis.
2. Hipokondriasis
Terpaku pada keyakinan bahwa dirinya menderita penyakit yang serius. Ketakutan
akan adanya penyakit terus ada meskipun secara medis telah diyakinkan. Sensasi atau
nyeri fisik biasa sering diasosiasikan dengan gejala penyakit kronis tertentu.
3. Gangguan Somatisasi
Keluhan fisik yang muncul berulang mengenai simtom fisik yang tidak ada
dasar organis yang jelas. Gangguan ini menyebabkan seseorang untuk melakukan
kunjungan medis berkali-kali atau menyebabkan hendaya yang signifikan dalam
fungsi.

4. Gangguan Dismorfik Tubuh


Terpaku pada kerusakan fisk yang dibayangkan atau berlebih-lebihan.
Menganggap orang tidak memperhatikannya karena kerusakan tubuh yang
dimilikinya (dipersepsikannya). Gangguan ini akan membawa seseorang pada
perilaku kompulsif . seperti berulang-ulang berdandan. dll. Ditandai oleh kepercayaan
palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
5. Gangguan nyeri
Ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor
psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. DSM-IV juga
memiliki dua criteria diagnostic residual untuk gangguan somatoform
Kriteria Diagnostik
Kriteria diagnostik untuk gangguan somatisasi :
A.Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi
selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan
gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi
pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat
tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,
anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau
selama miksi)
2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain
nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau
intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain
dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi
tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).

4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang
mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan
setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin,
halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian,
kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
C. Salah satu (1)atau (2):
1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat
penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan
atau pura- pura).
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau
sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena
awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor
lain.
C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau
sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.

E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan
pemeriksaan medis.
F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi
semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan
dengan lebih baik olehgangguan mental lain. Sebutkan tipe gejala atau defisit:
-Dengan gejata atau defisit motorik
-Dengan gejala atau defisit sensorik
-Dengan kejang atau konvulsi
-Dengan gambaran campuran
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis :
A.Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu
penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap
gejalagejala tubuh.
B. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan
penentraman.
C.Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan
delusional tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan
(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
E.Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh :

A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit


anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain
(misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri :


A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan
cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan,
eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau
gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
- Gangguan somatisasi adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
( sebagai fisik(sebagaicontohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat3
-Klasifikasi gangguan somatisasi adalah: gangguan konversi, gangguan
hipokondriasis,
gangguan somatisasi, gangguan dismorfik body, gangguan nyeri.5
- DSM-IV menyederhanakan kriteria diagnostik yang diajukan di dalam DSM-III-R.
Untuk
diagnosis gangguan somatoform, DSM-IV mengharuskan onset usia sebelum 30
tahun. Selama

perjalanan penyakit, pasien harus telah mengeluhkan sekurangnya empat gejala nyeri,
dua gejala gastrointestinal, satu gejala seksual, dan satu gejala neurologis semu, yang
semuanya tidak ada yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui pemeriksaan fisik atau
laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
1. PardameanE, Somatoform, di unduh dari
http://www.idijakbar.com/prosidim/gangguan- somatisasi.htm di akses Oktober
2007
2. . Medika G, Gangguan Somatoform,
http://chanantha.wordpress.com/2009/09/28/gangguan- somatisasi di akses Maret 2008
3.

Hartati

N,

Gangguan

Disosiatif

dan

Somatoform,

di

unduh

dari

hhtp://catatankuliah.wordpres.com/2008/11/08.gangguan-disosiatif-dan-somatisasi// di
aksesNovember 2008
4.Iskandar Yul, Somatoform, di unduh dari http
://www.dryuliskandar.Multyply.com/journal//item//53 diakses Juli 2008
5. Wirawan H, Somatoform, di unduh dari

http://Hilman2007.wordpress.com/2009/07/03/gangguan-somatisasi// di akses Juli 2009


6. Dewi, Somatisasi Psikologi Abnormal, di unduh dari
http://dewipsikolog.blogspot.com/2009-03-01//arcvie.html di akses Maret 2009