Anda di halaman 1dari 7

IDUL FITRI DAN KEPEDULAN SOSIAL

(Khutbah Idul Fitri 1433 H)


Oleh : Drs. H. Abdul Hadi, MM

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar


Alhamdulillah, pada pagi hari ini, kita semua memperoleh taufik dari Allah untuk merayakan salah
satu dari dua hari raya umat Islam, yaitu Idul Fitri. Meskipun sifatnya adalah hari raya, hari bersenang-senang, tetapi ia tetap bernilai ibadah karena merupakan perintah dari Allah SWT. Hari
rayabukan sekedar rutinitas, tetapi ia adalah momentum penerapan sunnah-sunnah dan
perwujudan syiar Islam. Ini sekaligus menunjukkan bahwa dalam kondisi apapun, seorang muslim itu
senantiasaingat pada Rabbnya dan sekaligus menaati-NYA, dalam keadaan suka maupun duka,
dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan sehat maupun sakit, pada hari biasa maupun
hari raya, yang kesemuanya itu sebagai bentuk ubudiyah (penyembahan) kepada Allah SWT.
Jadi, pada kesempatan kali ini perlu kita tegaskan pemahaman kita tentang Idul Fitri (hari raya
Fitrah), bahwa Idul Fitri adalah salah satu bentuk ibadah yang disyariatkan Islam. Karena itu di
dalammerayakannya, kita harus sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jangan
sebaliknya, kita
malah membuat tradisi atau kebiasaan yang malah bertentangan dengan contoh Rasulullah SAW.
Karena hal ini akan menyebabkan hari raya kehilangan maknanya. Hari raya merupakan saat
bersenang-senang dan sekaligus mendapat pahala, akan berubah menjadi saat bergelimang dalam
dosa, naudzubillah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ada beberapa amalan yang disunnahkan dalam berhari raya antara lain :
Pertama, melaksanakan shalat hari raya di tanah lapang. Melaksanakan shalat hari raya di
tanahlapang adalah petunjuk yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Saad al-Khudri r.a.
iaberkata,

Rasulullah SAW biasa keluar menuju musholla (tanah lapang) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha,
maka pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat... (HR. Bukhari, Muslim dan An-Nasai).

Rahasia dari pelaksanaan shalat hari raya di tanah lapang adalah sebagai salah satu sarana untuk
menunjukkan syiar, keagungan dan kebesaran Islam dan umatnya. Karena itulah, seluruh umat Islam
untuk keluar ke tanah lapang, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun anak-anak,
bahkan wanita yang sedang haidpun dianjurkan untuk menuju ke tanah lapang, bukan untuk ikut
shalat, tetapi agar bersama-sama dengan umat Islam yang lain ikut meramaikan hari raya.
Kedua,minum atau mencicipi makanan seperti kurma dan sejenisnya sebelum berangkat shalat Idul
Fitri. Ini sebagai simbol dan pertanda bahwa hari tersebut adalah hari berbuka bukan hari puasa.
Sebaliknya, sebelum shalat Idul Adha disunnahkan untuk tidak minum atau mencicipi makanan
terlebih dahulu.
Dari Buraidah, dari ayahnya dia berkata,

Nabi Muhammad SAW, tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebih dahulu, sedangkan
pada hari Idul Adha beliau tidak makan hingga shalat terlebih dahulu. (HR. At-Tarmidzi, Ibnu Majah,
Ahmad, dan ad-Darimi).
Ketiga, memakai pakaian yang paling bagus dari pakaian yang kita miliki. Imam Ibnu Qoyyim berkata
dalamZad al-Maad,
Nabi Muhammad SAW memakai pakaian terbagusnya untuk shalat hari raya. Beliau mempunyai
pakaian khusus untuk shalat Id dan shalat Jumat...
Tetapi hal ini jangan sampai berlebih-lebihan, sehingga seseorang menjadikan penampilan sebagai
sesuatu yang paling asasi di dalam hari raya. Ini cenderung melenceng dari semangat Idul Fitri,
karena hal ini berarti ada rasa pamer di dalam hatinya. Seharusnya orang yang berhari raya adalah
orang yang berhari raya secara lahir dan batin. Indah pakaian fisiknya dan sesuai dengan syari, dan
indah pula batin atau hatinya, artinya semuanya ditujukan dalam rangka menaati Allah serta
berupaya memperoleh keridhoan-NYA. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa kamu dan harta-harta kamu, akan tetapi Dia
melihat hati dan amal-amal kamu. (HR. Muslim).
Keempat, mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan pulang dari shalat hari raya. Dari Jabir bin
Abdillah r.a. berkata,

Rasulullah apabila (berangkat dan pulang) pada hari raya, beliau mengambil jalan yang berbeda.
(HR.Bukhari)
Hal ini untuk semakin menunjukkan banyaknya umat Islam, dan orang berbondong-bondong di atas
agama Tauhid jumlahnya sangat besar.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Kelima, tidak berlebih-lebihan dalam hal makanan dan minuman. Di antara tradisi hari raya adalah
banyaknya makanan dan minuman. Karena memang hari raya adalah pestanya umat Islam, saat
makan dan minum. Tetapi tidak dibenarkan jika hal itu mengarah pada pemborosan dan berlebih

lebihan. Sebab di dalam Alquran Allah menegaskan bahwa diantara ciri hamba Allah yang mulia
adalah apabila membelanjakan hartanya, ia tidak berlebih
berlebih-lebihan,
an, tetapi juga tidak pelit, alias
tengah-tengah.
Allah SWT berfirman,

Dan orang-orang
orang yang apabila membelanjakan ( harta), mereka tidak berlebih-lebihan,
berlebih
dan tidak
(pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah
ditengah-tengah
tengah antara yang demikian. (Al-Furqon 67)
Jamaah shalat Idul Fitri
tri ,yang senantiasa dirahmati Allah
Baru kemarin kita meninggalkan bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan keistimewaan dari
Allah SWT. Bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Bulan yang
kedatangannya senantiasadinanti
senantiasadinanti-nanti oleh
h umat Islam di seluruh dunia. Bulan yang penuh dengan
ampunan dan rahmat dari Allah SWT.
Ramadhan bagi kita umat Islam telah memberikan banyak pelajaran keimanan. Berbagai aktifitas
umat Islam dalam segala aspek-aspeknya
aspeknya yang positif meningkatkan dengan semangat menjalankan
ibadah puasa, kemudian pada malam harinya, mereka sibuk tarawih. Di samping itu, kegiatan
membaca Al-Quran
Quran juga semarak, masjid
masjid-masjid
masjid juga penuh dengan jamaah. Tidak ketinggalan pula,
umat Islam pada bulan Ramadhan menunjukkan kederm
kedermawanannya
awanannya yang sangat besar, baik yang
dimanifestasikan dalam bentuk zakat, sedekah, infak maupun hibah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Orang yang benar-benar
benar menjalankan puasa bulan Ramadhan dengan dilandasi iman dan
mengharap pahala dari Allah,, maka akan tampak padanya salah satu karakter alumni madrasah
Ramadhan, yaitu memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Hal itu diwujudkan terutama
dengan mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya dan untuk orang
orang-orang
orang yang berada di bawah
tangggung jawabnya. Dalam sebuah hadits hasan disebutkan,
Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari
perbuatan yang sia-sia
sia dan kotor dan sebagai pemberian makan bagi orang
orang-orang
orang miskin. Maka
barangsiapa yang mengeluarkan
arkan sebelum shalat Id, maka itulah zakat yang diterima. Dan
barangsiapa yang mengeluarkan setelah shalat Id maka itu termasuk sedekah biasa.(HR.
biasa.(
Abu
Dawud, Ibnu Majah, dan al-Albani
Albani menghasankannya).
Pada hari raya ini, orang Mukmin yang berkecukupan m
memahami
emahami betapa besar karunia Allah yang
diberikan kepada dirinya. Dia bisa menikmati berbagai kenikmatan dengan harta yang dimilikinya.
Sementara, betapa menderitanya orang
orang-orang
orang miskin dengan kemiskinannya. Setiap kali ia memiliki
kebutuhan, tidak selalu dapat ia penuhi. Bahkan tak jarang sekedar untuk makan saja, banyak di
antara mereka yang harus menahan diri. Ada yang makan sehari sekali, dan ada yang makan tapi
makan nasi basi atau nasi aking. Betapa berat orang yang menahan lapar, maka puasa memberikan
memberika
pelajaran kepada orang-orang
orang berkecukupan untuk ikut merasakan betapa berat rasanya haus dan
lapar, sehingga timbul rasa kemanusiaan dan kepedulian sosialnya, khususnya kepada orang-orang
orang
miskin.
Setelah keluar dari madrasah Ramadhan, orang
orang-orang Muslim yang berkecukupan yang memahami
hakikat puasanya tidak akan lagi senang berfoya
berfoya-foya
foya dengan kekayaannya. Ia tidak akan lagi
menggantungkan segala-segalanya
segalanya pada kekayaan dan materi. Ia akan merendah dan tawadhu
tawadhu

kepada Allah dan kepada sesama manusia. Ia aakan mengaggap orang-orang


orang lemah dan miskin yang
ada disekitarnya adalah saudara--saudaranya dan penolongnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Sebelum lebih jauh kita membahas pentingnya kepedulian sosial, khususnya dalam momentum Idul
Fithri ini, maka
ka hendaknya kita pahami te
terlebih
lebih dahulu akar persoalan mengapa terjadi berbagai
bentuk krisis dan ketimpangan sosial, khususnya di tengah bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim
ini. Ada krisis ekonomi yang mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan bahkan berbagai tindak
kriminalitas. Ada krisis akhlak dan moral yang mengakibatkan tidak dipedulikannnya perintah dan
larangan agama, sehingga aurat dipertontonkan dimana
dimana-mana,
mana, berbuat mesum dijalan dianggap
biasa, korupsi dianggap sebagai tradisi, perselingkuha
perselingkuhan
n dianggap trend dan gaya hidup, naudzubillah.
Mengapa krisis, masalah dan musibah dengan berbagai bentuknya seperti bertubi-tubi
bertubi
menimpa kita
sebagai individu maupun bangsa? Mengapa kita sebagai bangsa yang kaya dengan sumber daya
alamnya, tetapi banyak dari rakyatnya yang menderita, seperti dikatakan dalam pepatah, Ayam
mati di lumbung padi? Di sinilah harus kita sadari bahwa akar masalahnya adalah karena
kemaksiatan dan dosa-dosa
dosa kita sebagai individu maupun bangsa. Tidaklah Allah menimpakan
musibah kecuali
ecuali karena kemaksiatan dan dosa ya
yang
ng kita perbuat. Dan Allah tidak akan
mencabutnya kecuali dengan adanya taubat dan istighfar. Adapun berbagai nikmat yang kita terima
adalah semata-mata
mata sebagai rahmat dan karunia Allah kepada kita. Apabila kita suka melakukan
berbagai kemaksiatan dan dosa, suka meninggalkan perintah Allah, maka kita termasuk
ter
penyebab
didatangkannya berbagai
bagai musibah dan krisis tersebut. Naudzubillah.
Kalau bukan karena maksiat, kenapa Ib
Iblis dilaknat oleh Allah? Dijauhkan dari rahmatNya dan diusir
dari SurgaNya, serta dijadikan hina dina? Allah berfirman,

Allah berfirman, Keluarlah dari Surga karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya
kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat. (Al
(Al-Hijr:34-35).
samp
Kalau bukan karena maksiat dan keingkaran mereka kepada Allah, mengapa Allah sampai
menenggelamkan kaum Nabi Nuh
Nuh, membinasakan kaum nabi Hud, menenggelamkan Firaun
Fir
di
dalam laut, serta membenamkan
kan Qarun dan harta bendanya ke dalam bumi? Allah berfirman,

Maka mereka
eka mendustakan (Hud) lalu Kami binasakan mereka karena sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda--tanda
tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan dari mereka tidak
beriman.(Asy-Syuara: 139).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Bila kita sebagai individu maupun sebagai bangsa ingin dibebaskan dari berbagai krisis dan musibah
yang bertubi-tubi
tubi menimpa kita ini, maka hendaknya kita bertaubat dan beristighfar atas segala
kemaksiatan dan dosa kita. Kita harus berusaha menjadi orang
orang-orang
orang beriman sejati
sejat dan selalu
bertakwa kepada Allah. Takwa inilah modal utama yang akan menyelesaikan berbagai
be
persoalan
bangsa secara mendasar. Allah berfirman,

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar, dan Allah akan
memberikannya
annya rizki dari arah yang tidak ia sangka. (Ath
(Ath-Thalaq:2-3).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar


Orang yang bertakwa, -di mana takwa adalah tujuan disyariatkannya ibadah puasa- adalah orang
yang taat sepenuhnya kepada Allah. Dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepadanya kecuali
untuk kebaikan dirinya. Juga tidaklah Allah melarangnya dari sesuatu kecuali untuk
menghindarkannya dari keburukan. Dengan demikian orang yang bertakwa senantiasa ada dalam
kebaikan dan jauh dari keburukan. Dia akan senantiasa ada dalam perlindungan Allah, baik dalam
kehidupannya di dunia maupun di akhirat nanti.
Salah satu karakter seorang Mukmin yang bertakwa adalah dia akan menjaga dirinya dari kemasukan
harta haram. Karena dia sangat takut dengan sabda Nabi SAW yang menyatakan, Rasullulah
bersabda,

Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari hasil harta haram. Sebab, nerakalah yang lebih
layak baginya (HR. Ahmad dari Jabir bin Abdullah).
Sehingga, seorang yang bertakwa tidak akan mau mengambil harta orang lain, tidak akan melakukan
korupsi, tetapi ia sekedar mengambil haknyadan memberikan kepada orang lain juga sesuai dengan
haknya. Marilah kita renungkan, bukankah dengan tidak mengambil hak orang lain, tidak korupsi,
maka seorang yang bertakwa telah menyelesaikan separuh dari masalah bangsa? Sebab saat ini,
masalah krusial di tengah bangsa kita adalah masalah korupsi. Apabila semua pejabat hingga
rakyatnya tidak ada yang korupsi, tidak ada yang berani mengambil harta yang bukan haknya,
bukankah dengan demikian pemerataan akan terjadi dengan sendirinya?
Dan orang yang bertakwa tidak hanya berhenti di situ. Harta yang diamanatkan Allah pada dirinya itu
tidak akan dinikmatinya sendiri. Tetapi ia akan berikan juga kepada orang-orang miskin dan mereka
yang berhak menerimanya. Sebab Allah berfirman,

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang
tidak mendapatkan bahagiaan (yang tidak meminta-minta).(Adz-Dzariyat:19).
Di sinilah Idul Fitri menemukan momentumnya yang tepat. Idul Fitri adalah perayaan kegembiraan
dan suka cita bagi segenap umat Islam, laki-laki maupun wanita, anak-anak maupun orang dewasa,
orang-orang kaya maupun mereka yang hidup susah. Saat ini kita semua berada dalam suasana hati
yang riang dan lapang. Idul Fitri adalah hari kemudahan dan kelapangan, hari buat kaumMuslimin
dalam merealisasikan puncak kebaikan dan kepedulian sosial. Semua menghilangkan sekat-sekat dan
kelas sosial, semua umat Islam, baik yang kaya maupun yang miskin melebur dalam satu suasana
kegembiraan. Dan itu kita wujudkan dengan saling memberi hadiah, saling mengunjungi, dan saling
memaafkan untuk membuka lembaran baru dalam jalinan kehidupan sosial yang harmonis, saling
peduli dan tolong menolong.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Pada bulan Ramadhan, kita melakukan latihan langsung untuk merasakan kepedihan dan rintihan
orang-orang yang lemah dan kurang beruntung. Kita lapar, kita dahaga dan bahkan kita kurang tidur.
Semua itu melatih kita untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap orang-orang yang kurang
beruntung yang ada di sekeliling kita. Allah tidak menghendaki kita menjadi Muslim yang egois, yang
selalu mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Sebaliknya, kita dituntut

menjadi hamba Allah yang peduli terhadap berbagai kekurangan dan kelemahan yang ada,
khususnya di tengah-tengah umat Islam. Untuk itu, puasa yang baru saja kita lakukan, hendaknya
mempertajam jiwa kita yang harus peduli dengan penderitaan umat Islam yang ada disekeliling kita.
Rasulullah mengatakan,

Bukanlah seorang mukmin orang yang kekenyangan sedangkan tetangganya kelaparan.(HR. AthThabrani, Abu Yala, dan lain-lain).
Bagaimana mungkin seseorang dikatakan Mukmin yang sempurna, bila ia serba kelebihan, tetapi
tidak mau peduli dengan penderitaann karyawannya, tetangganya, anak-anak yatim, janda-janda
dan orang-orang yang terlantar? Bahkan tidak peduli terhadap orang-orang yang karena kemiskinan
dan ketidakberdayaannya, sampai menjual dirinya. Karena itu, puasa mengingatkan kita, agar kita
memiliki sense of ulfah (perasaan trenyuh/iba hati) terhadap kemiskinan dan penderitaan orang lain.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Paling tidak, kita bisa menunjukkan kepedulian sosial kita dalam beberapa hal penting:
Pertama, dengan mengeluarkan zakat fitrah untuk diri kita dan orang-orang yang ada dalam
tanggungan kita pada malam hari raya. Zakat fitrah itu sebagaimana fungsinya yang ditegaskan oleh
Nabi, yaitu untuk memberikan makan orang-orang miskin, maka jangan sampai kita berikan zakat
fitrah itu kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Sebab dengan demikian, akan berdampak
pada masih adanya orang miskin yang kekurangan dan bersedih pada saat hari raya.
Kedua, menjadikan masa pengeluaran zakat mal (harta) kita adalah pada bulan Ramadhan, atau
beberapa hari sebelum hari raya. Setiap kita yang memiliki harta harus menghitung dengan cermat
berapa zakat mal yang harus kita keluarkan. Bila kita memiliki harta dan tidak tahu apakah sudah
wajib mengeluarkan zakat atau belum, maka kita harus bertanya kepada ustadz atau alim yang
paham tentang masalah zakat mal. Sungguh, bila setiap umat Islam konsisten mengeluarkan zakat
mal maka hal tersebut akan sangat berperan besar dalam mengurangi kesenjangan sosial di tengah
umat Islam.
Ketiga, merayakan hari raya dengan tetap menjaga hati untuk tidak pamer, riya dan sombong. Dan
hal itu bisa diwujudkan dengan tidak berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal rumah,
kendaraan, pakaian, makanan dan minuman. Semua yang kita miliki adalah titipan dan amanat dari
Allah, juga merupakan rahmat dan bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Maka kita harus
mensyukurinya dan senang untuk berbagi kepada orang lain.
Keempat, menumbuhkan perasaanegaliter dan kesetaraan pada suasana Idul Fitri juga pada harihari lainnya. Hendaknya kita tidak lagi menyimpan perasaan membedakan kepada orang-orang yang
status sosial rendah. Sebaliknya, hendaknya kita merasa tenang dan nyaman berada ditengahtengah mereka. Karena hal itulah yang dicontohkan oleh Nabi. Beliau senang berada di tengahtengah orang miskin, anak-anak yatim dan orang-orang lemah lainnya. Beliau berteman dengan
mereka dan menghadiri undangan-undangan mereka. Pada hari raya ini, kita harus bersilaturahim
kepada tetangga kita, yang kaya maupun yang miskin, dan yang lebih baik adalah yang lebih dahulu
melangkahkan kakinya ke rumah saudaranya. Dengan demikian kita akan hidup dalam suasana hati
yang lapang dan penuh persaudaraan.
Kelima, dengan senantiasa mengingat suasana puasa dan lebih baik lagi dengan menjalankan puasapuasa sunnah pada bulan-bulan selain Ramadhan. Hal ini akan menjadikan kita senantiasa

mengingat betapa beratnya menahan lapar dan haus. Maka sebagaimana kita tidak ingin lapar dan
haus demikian pula halnya dengan orang lain. Dan kita yang mampu, serta yang menyadari beratnya
lapar dan haus, juga beratnya menanggung berbagai beban hidup, khususnya di masa sulit seperti
ini, maka kita akan gampang ringan tangan dalam membantu orang lain.
Keenam, menjadikan kebiasaan menolong orang lain sebagai kesenangan dan hobi, dan semua itu
semata-mata dalam rangka menaati Allah dan RasulNya, bukan untuk mendapatkan imbalan
duniawi. Sebab, senang menolong adalah karakter orang beriman. Allah berfirman,

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong
sebagian yang lain. (At-Taubah:71).
Nabi bersabda,

Barangsiapa yang menghilangkan satu derita dari derita-derita yang dialami oleh seorang Mukmin
di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan satu derita dari derita-derita yang akan di alaminya
pada Hari Kiamat. Dan Allah akan menolong hambaNya selama hamba itu menolong
saudaranya.(HR. Muslim dan lainnya).
Mudah-mudahan mulai saat ini kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang memiliki kepekaan
sosial yang tinggi, yang gemar menolong orang orang yang lemah dan senantiasa menaati Allah dan
RasulNya. Amin.