Anda di halaman 1dari 10

Penyalahgunaan zat adalah suatu perilaku mengonsumsi

ataumenggunakan zat-zat tertentu yang dapat mengakibatkan bahaya


pada dirisendiri maupun orang lain. Menurut DSM, peyalahgunaan zat
melibatkan pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi
yang merusak.
Konsekuensi yang merusak bisa termasuk kegagalan untuk
memenuhitanggung jawab utama seseorang (misalnya: sebagai pelajar,
sebagai pekerja, atau sebagai orang tua), menempatkan diri dalam situasi
di mana penggunaan zat secara fisik berbahaya (contoh mencampur
minuman dan penggunaan obat), berhadapan dengan masalah hukum
berulang kali yangmeningkat karena penggunaan obat. Memiliki masalah
sosial atauinterpersonal yang kerap muncul karena pengunaan zat
(contoh: berkelahikarena mabuk) (1).
Dalam DSM-IV-TR ketergantungan dan penyalahgunaan
merupakanmanifestasi fisik dan psikologis dari penyakit akibat
penggunaan obat-obatan yang menyebabkan ketergantungan atau
disalahgunakan. Kedua haltersebut merupakan masalah perilaku.
Dengan kata lain, masalahnya bukan terletak pada obat-obatan tersebut, tapi pada
cara orang yang memakai obat-obatan tersebut.Bahan-bahan yang digunakan dapat
disalahgunakan atau menyebabkanketergantungan, jika bahan tersebut menjadi masalah
dalam hidupnya.Seseorang dapat dikategorikan mengalami substance dependence
/ketergantungan obat-obatan jika memenuhi 3 kriteria dari 7 kriteria berikutini (2):Suatu pola
pengguanaan zat yang maladaptif mengarah pada gangguan atau penderitaan yang bermakna
klinis, bermanifestasi sebagai 3 (tiga) atau lebih hal-hal berikut yang terjadi pada tiap saat
dalam periode 12 bulan:
1.Toleransi yang didefinisikan sebagai berikut:
a. peningkatan nyata jumlah kebutuhan zat untuk mendapatkan efek yangdidamba atau
mencapai intoksikasi.
b.Penurunan efek yang nyata dengan penggunaan kontinyu jumlah yangsama dari zat.
2. Withdrawal, bermanifestasi sebagai salah satu dari:
a. sindroma withdarwal khas untuk zat penyebab ( kriteria A dan B darigejala withdrawal
zat).
b. Zat yang sama atau sejenis digunakan untuk menghilangkan ataumenghindari gejala-gejala
withdrawal.
3. Zat yang dimaksud sering digunakan dalam jumlah yang besar atau melewati batas
pemakaiannya.

4. Adanya hasrat menetap atau ketidakberhasilan mengurangi ataumengendalikan pemakaian


zat.
5. Adanya aktifitas yang menyita waktu untuk mendapatkan zat (mis. mendatangi berbagai
dokter atau sampai melakukan perjalan jauh), untuk menggunakan zat(merokok tiada sela)
atau untuk pulih dari efek-efeknya.
6. Kegiatan-kegiatan sosial yang penting, pekerjaan atau rekreasi dilalaikan atau

Santrock (1999) menyebutkan jenis ketergantungan menjadi 2


jenis,meliputi (3):
a.
Ketergantungan psikologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandaidengan stimulasi
kognitif dan afektif yang mendorong konatif (perilaku).Stimulasi kognitif tampak pada
individu yang selalu membanyangkan,memikirkan dan merencanakan untuk dapat menikmati
zat tertentu. Stimulasiafektif adalah rangsangan emosi yang mengarahkan individu
untuk merasakan kepuasan yang pernah dialami sebelumnya. Kondisi konatif merupakan
hasil kombinasi dari stimulasi kognitif dan afektif. Dengandemikian ketergantungan
psikologis ditandai dengan ketergantungan padaaspek-aspek kognitif dan afektif.
b.
Katergantungan fisiologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandaidengan
kecenderungan putus zat. Kondisi ini seringkali tidak mampudihambat atau dihalangi
pecandu mau tidak mau harus memenuhinya.Dengan demikian orang yang mengalami
ketergantungan secara fisiologisakan sulit dihentikan atau dilarang untuk mengkonsumsinya.
Os termasuk dalam tipe ketergantungan ini, saat tidak mengonsumsi dekstro Os akanmerasa
mual, muntah dan gejala putus zat lainnya
Penyalahgunaan zat terbagi menjadi coba-coba, rekreasional, situasional
danketergantungan. Pada awalnya Os masuk ke dalam kategori coba-coba
saatdirinya diajak oleh teman kerjanya. Kemudian Os masuk ke dalam
tingkatansituasional, Os hanya menggunakan deksto pada saat akan
bekerja.Penggunaannya pun tidak dilakukan setiap hari. Setelah beberapa
lama akhirnyaOs masuk ke dalam tingkatan ketergantungan. Kriteria DSMIV TR danPPDSGJ III yang terpenuhi untuk menegakkan diagnosis
ketergantungan adala

Dekstrometorfan adalah kandungan aktif yang biasa ditemukan padaobatobat batuk. Obat ini sering disalahgunakan karena efek disosiatif
yangdimilikinya. Obat ini hampir tidak memiliki efek psikoaktif pada dosis
yangdirekomendasikan. Saat digunakan melewati dosis terapeutiknya zat
ini akanmemiliki efek disosiatif yang kuat (4). Dekstrometorfan biasa
diformulasikandengan parasetamol untuk menghilangkan nyeri dan
mencegah penyalahgunaannya di pasaran. Namun dosis maksimal
parasetamol (4000 mg)sering dilewati oleh para pecandu semata-mata
untuk mendapatkan efek disosiatif dekstrometorfan. Hal ini berpotensi
mengakibatkan kerusakan hepar akut atau kronis sehingga
penyalahgunaan produk yang mengandungdektrometorfan dan
parasetamol dapat berakibat fatal (5)

Pada dosis tinggi dekstrometorfan diklasifikasikan ke dalam agenanestetik


disosiatif dan halusinogen seperti ketamin dan pensiklidin
(6).Dekstrometorfan termasuk ke dalam antagonis reseptor NMDA (N metil
Daspartat). Pada dosis tinggi dekstrometorfan akan mengakibatkan efek
euforia, peningkkatan mood, disosiasi pikiran dari tubuh dan peningkatan
sensasi taktil(7,8). Umumnya dekstrometorfan tidak menimbulkan gejala
putus zat, tetapi penurunan mendadak dosis dekstrometorfan pada kasus
ketergantungan akanmenimbulkan gejala fisiologis dan psikologis. Efek
yang ditimbulkan serupadengan efek withdrawal SSRI yaitu depresi,
iritabilitas, sakit pada otot, perasaantidak nyaman di perut serta kejang
(9,10)
Ketika digunakan pada dosis rendah (100-200 mg)
dekstrometorfanmenimbulkan efek euforia. Jika dosis ditingkatkan (sekitar
400 mg) euforia akan semakin meningkat disertai halusinasi. Pada dosis
tinggi (600 mg) penurunankesadaran dapat muncul disertai gejala psikotik
sementara dan penurunan responsensoris (11,12)
William E White dalam
The DXM FAQ
menglasifikasikan efek dosistinggi dektrometorfan ke dalam 4 atau 5 plateu. Setiap plateu
memiliki kisarandosis (mg/kgbb) tertentu. Pembagian efeknya adalah sebagai berikut
(13):Plateu pertama : 1,5-2,5 mg/kgBB menimbulkan efek tidak mudah capek,meningkatnya
detak jantung, suhu tubuh, emosi, euforia dan hilangnyakeseimbangan tubuh.
Plateu kedua : 2,5-7,5 mg/kgBB menimbulkan efek yang sama dengan
plateu pertama namun disertai intoksikasi, penurunan kesadaran,
perasaan terlepas daridunia dan halusinasi.Plateu ketiga : 7,5-15,0
mg/kgBB menimbulkan penurunan fungsi sensoris,kesulitan mengenali
orang atau objek, kebutaan sementara, kesulitan memahami bahasa,

halusinasi abstrak, penurunan waktu reaksi, kehilangan koordinasimotorik,


gangguan memori jangka pendek dan perasaan terlahir kembali.Plateu
keempat : 15,0 mg/kgBB atau lebih menimbulkan hilangnya
kontrolterhadap tubuh, delusi, peningkatan denyut jantung, kebutaan total
dan gejala plateu ketiga yang lebih berat
Plateau Sigma: 2.5-7.5 mg/kgBB setiap 3 jam selama 9-12 jam. Gejala
psikotik disertai halusinasi visual dan akustik. Halusinasi biasanya bersifat
tidak menyenangkan dan memaksa pecandu mengikuti perintah
halusinasi tersebut.Penyalahgunaan alkohol merupakan gangguan terkait
zat yang palingumum terjadi (14). Penyalahgunaan alkohol (alkoholisme)
mengakibatkan berbagai manifestasi klinis, psikiatrik dan sosial.
Manifestasi psikiatrik yang biasa timbul adalah (15)

Depresi : semua bentuk depresi dapat dicetuskan oleh alkohol. Sebaliknyadepresi juga dapat
memicu seseorang untuk mengonsumsi alkohol untuk mengurangi gejala-gejala depresi.

Ansietas : ansietas merupakan gejala mengonsumsi alkohol berlebihansebagai usaha


mengurangi gejala.

Perubahan kepribadian : penurunan standar kepekaan sosial dan perawatandiri.

Disfungsi seksual : impotensi dan masalah ejakulasi.

Halusinasi : dapat berupa auditorik maupun visual, umumnya terjadi padakeadaaan putus zat
Menurut Jellinek progresifitas alkoholisme terbagi dalam 3 fase (16):1.
1. Fase dini ditandai dengan bertambahnya toleransi terhadap alkohol,
amnesia,timbulnya rasa bersalah karena mengonsumsi alkohol dan terhadap
perilakuyang diakibatkannya
2. Fase krusial ditandai dengan hilangnya kendali terhadap kebiasaanmengonsumsi
alkohol, perubahan kepribadian, kehilangan teman dan pekerjaan.3.
3. Fase kronis ditandai kebiasaan mengonsumsi alkohol di pagi hari, tremor serta
halusinasi
Berbagai kondisi yang mandasari gangguan penggunaan NAPZA
akanmempengaruhi jenis pengobatan yang akan diberikan kepada pasien,
kebijakanuntuk merawat dan memulangkan pasien, hasil yang

diharapkan, sumber dayamanusia yang akan memberikan pelayanan, dan


sikap terhadap perilaku pasien.Dibawah ini akan diuraikan beberapa
model yang popular dilaksanakan padamasalah Gangguan penggunaan
NAPZA (17)
1.
Therapeutic Community -TC Model,
model ini merujuk pada keyakinan bahwa Gangguan penggunaan NAPZA adalah gangguan
pada seseorangsecara menyeluruh. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan
secaranyata dan ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memberikan reward dan sangsi
yang spesifik secara langsung untuk mengembangkankemampuan mengontrol diri dan
sosial/komunitas. Pendekatan yangdilakukan meliputi terapi individual dan kelompok, sesi
encounter yangintensif dengan kelompok sebaya dan partisipasi dari lingkungan
terapeutik dengan peran yang hirarki, diberikan juga keistimewaan (privileges) dantanggung
jawab. Pendekatan lain dalam program termasuk tutorial, pendidikan formal dan
pekerjaan sehari-hari. TC model biasanya merupakan perawatan inap dengan
periode perawatan dari dua belas sampai delapan belas bulan yang diikuti dengan program
aftercare jangka pendek.
2.
Model Medik,
model ini berbasis pada biologik dan genetik atau fisiologik sebagai penyebab adiksi yang
membutuhkan pengobatan dokter danmemerlukan farmakoterapi untuk menurunkan gejalagejala serta perubahan perilaku. Program ini dirancang berbasis rumah sakit dengan program
rawatinap sampai kondisi bebas dari rawat inap atau kembali ke fasilitas dimasyarakat
3.
Model Minnesota,
model ini dikembangkan dari Hazelden Foundation danJohnson Institute. Model ini fokus
pada abstinen atau bebas NAPZA sebagaitujuan utama pengobatan. Model Minessota
menggunakan program spesifik yang berlangsung selama tiga sampai enam minggu rawat
inap denganlanjutan aftercare, termasuk mengikuti program self help group
(AlcoholAnonymous atau Narcotics Anonymous) serta layanan lain sesuai dengankebutuhan
pasien secara individu. Fase perawatan rawat inap termasuk ;terapi kelompok, terapi keluarga
untuk kebaikan pasien dan anggotakeluarga lain, pendidikan adiksi, pemulihan dan program
12 langkah.Diperlukan pula staf profesional seperti dokter, psikolog, pekerja sosial,mantan
pengguna sebagai addict counselor
4.
Model Eklektik,
model ini menerapkan pendekatan secara holistik dalam program rehabilitasi. Pendekatan
spiritual dan kognitif melalui penerapan program 12 langkah merupakan pelengkap program
TC yang menggunakan

pendekatan perilaku, hal ini sesuai dengan jumlah dan variasi masalah yangada pada setiap
pasien adiksi.5.
Model Multi Disiplin,
program ini merupakan pendekatan yang lebihkomprehensif dengan menggunakan
komponen disiplin yang terkaittermasuk reintegrasi dan kolaborasi dengan keluarga dan
pasien6.
Model Tradisional,
tergantung pada kondisi setempat dan terinpirasi darihal-hal praktis dan keyakinan yang
selama ini sudah dijalankan. Program bersifat jangka pendek dengan aftercare singkat atau
tidak sama sekali.Komponen dasar terdiri dari : medikasi, pengobatan alternatif, ritual
dankeyakinan yang dimiliki oleh sistem lokal contoh : pondok pesantren, pengobatan
tradisional atau herbal.7.
Faith Based Model,
sama dengan model tradisional hanya pengobatan tidak menggunakan farmakoterapi
Berdasarkan Kepmenkes RI No 420 tentang Pedoman Layanan Terapidan
Rehabilitasi Komprehensif pada Gangguan Penggunaan NAPZA
BerbasisRumah Sakit, tindakan penanganan pada pasien dengan
penyalahgunaan zatmeliputi Gawat darurat NAPZA Detoksifikasi
Rehabilitasi Rawat jalan/Rumatan. Apabila kondisi pasien
memungkinkan, pasien penyalahgunaan NAPZA dapat langsung menjalani
rawat jalan/rumatan (17)
Pada fase gawat darurat NAPZA, hal yang umumnya dilakukan
adalah penanganan intoksikasi opioid, benzodiazepin dan amfetamin.
Terkadang pasiendatang dengan gejala intoksikasi alkohol dan
halusinogen. Pada fase ini diberikan terapi suportif pada pasien hingga
keadaanya stabil. Untuk intoksikasi NAPZA lain seperti dekstrometorfan,
fase gawat darurat NAPZA bertujuanuntuk menangani kondisi akut
termasuk gaduh gelisah.
Pasien yang telah menunjukkan perbaikan setelah ditangani di unit
gawatdarurat dapat dilanjutkan dengan parawatan rawat inap atau
detoksifikasi untuk kasus putus NAPZA atau berobat jalan untuk kondisi
yang sudahmemungkinkan untuk pulang.
Pada fase rawat jalan, terapi yang digunakan umumnya berfungsi
untuk penanganan simptomatis. Pada fase detoksifikasi, terapi
simptomatis dilakukandi rumah sakit rawat inap. Detoksifikasi bertujuan
untuk menghilangkan gejala putus zat. Lama fase ini berkisar 1-3 minggu
tergantung jenis zat dan gejala pasien. Khusus untuk detoksifikasi heroin
(opioida) selain simtomatis juga adayang mempunyai pengalaman
tapering off dengan metadon dan buprenorfin

Pada kasus ini Os mendapatkan terapi kalxetin (fluoxetin) 10 mg 2x1cap.


Kalxetin termasuk dalam antidepresan golongan SSRI. Pemberian
SSRIakan meningkatkan kadar serotonin dalam otak sehingga dapat
menurunkankecemasan dan kegelisahan Os. Selain itu penggunaan SSRI
dapat mengurangigejala putus zat pada Os karena diduga
dekstrometorfan memiliki efek sepertiSSRI di otak. Penghentian
dekstrometorfan mendadak akan menimbulkan gejalaseperti mual,
muntah, rasa tersengat listrik dan rasa sakit di otot yang serupadengan
gejala putus zat SSRI
Clozaril (clozapin) termasuk dalam golongan antipsikotik atipikal. Obatini
diberikan karena pada penggunaan dekstrometorfan jangka panjang
dapatmuncul gejala psikotik seperti halusinasi akustik dan visual.Pada
fase rehabilitasi dilakukan penyesuaian perilaku pasien agar tidak kembali
menggunakan NAPZA. Fase rehabilitasi diawali dengan program jangka
pendek (1-3bulan) dengan fokus penanganan masalah medis,
psikologisdan perubahan perilaku. Apabila program ini sukses, fase
rehabilitasi dilanjutkandengan program jangka panjang (6 bulan-lebih)
yang dilanjutkan denganaftercare dengan terapi berbasis komunitas (17)

DAFTAR PUSTAKA
1. Nevid, Jeffreys, Rhatus, Sphencer dan Greene, 2002. Psikologi Abnormal,Jakarta:
penerbit Erlangga.2.
2. American Association, 2000. Diagnostic and statistical manual of mentaldisorders
DSM-IV-TR. New York: American Psychiatric Pub3.
3. John W. Santrock, 1999. Psychology: Paperback, Student Edition of Textbook.
Philadelphia: Mc Graw Hill4.
4. DEA, Drugs and Chemicals of Concern: Dextromethorphan. Retrieved May 9, 2013,
at http://www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/summary.htm5.
5. Cigna, acetaminophen and dextromethorphan. Retrieved May 9, 2013
athttp://www.cigna.com/individualandfamilies/health-and-wellbeing/hw/medications/acetaminophen-and-dextromethorphan-d03378a1.html6.
6. Anonymous. Dextromethorphan. Retrieved May 9, 2013.
Athttp://www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/dextro_m.htm7.
7. Wrigley, H. 2006. Former Minot Man And Internet Chemical CompanySentenced For
Selling Designer And Misbranded Drugs And ViolatingFederal Customs Laws.
Dakota : US Attorney8.
8. Erowld. DXM Effect. Retrieved May 9, 2013.
Athttp://www.erowid.org/chemicals/dxm/dxm_effects.shtml9.
9. Anonymous. DXM addiction, abuse and treatment. Retrieved May 9,2013. At
http://www.drugabusehelp.com/drugs/dxm/10.
10. Anonymous. DXM abuse and addiction. Retrieved may 9, 2013. Athttp://www.infodrug-rehab.com/dxm.html11.
11. Bornstein, S; Czermak, M; Postel, J., (1968). "Apropos of a case of voluntary
medicinal intoxication with dextromethorphan hydrobromide".Annales MedicoPsychologiques 1 (3): 447451. PMID 5670018
12. Dodds A, Revai E (1967). "Toxic psychosis due to dextromethorphan".Med J Aust 2:
231. Bornstein, S; Czermak, M; Postel, J., (1968). "Aproposof a case of voluntary
medicinal intoxication with dextromethorphanhydrobromide". Annales MedicoPsychologiques 1 (3): 447451. PMID5670018.13.
13. White E.W. DXM FAQ. Retreived may 9, 2013 at
http://www.erowid.org/chemicals/dxm/faq/dxm_experience.shtml14.
14. Sadock BJ, 2007. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry 10th ed..Philadelpia:
Lippincott Williams and Wilkins15.

15. Daives T dan Craig TKJ. 2009. ABC of Mental Health. Jakarta: EGC.16.
16. Joewana, Satya. 2005. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat PenggunaanZat
Psikoaktif. Jakarta: EGC.17.
17. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian KesehatanRepublik
Indonesia, 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik.Indonesia Nomor
420/Menkes/Sk/Iii/2010 Tentang Pedoman LayananTerapi dan Rehabilitasi
Komprehensif pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit

Anda mungkin juga menyukai