Anda di halaman 1dari 182

Seri Buku Pintar BUM Desa

PENYUSUNAN
KELAYAKAN USAHA
& PENGEMBANGAN USAHA

BUM Desa

Hastowiyono
Suharyanto
Australian Community Development and Civil Society
Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II

Seri Buku Pintar BUM Desa

PENYUSUNAN
KELAYAKAN USAHA
& PENGEMBANGAN USAHA

BUM Desa

Hastowiyono
Suharyanto
Australian Community Development and Civil Society
Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II

Seri Buku Pintar BUM Desa


PENYUSUNAN KELAYAKAN USAHA DAN PERENCANAAN
USAHA BUM DESA
Penulis
: Hastowiyono
Suharyanto
Kontributor : Sulfiani, Jaringmas Bantaeng
Penyunting : Sutoro Eko Yunanto
Reviwer
: Rossana Dewi
Penata Letak : Candra Coret
Desain Cover : Candra Coret
llustrasi
: Budi & Erni

Copyleft@Diperkenankan untuk melakukan modifikasi,


penggandaan maupun penyebarluasan buku ini untuk kepentingan
pendidikan dan bukan untuk kepentingan komersial dengan tetap
mencantumkan atribut penulis dan keterangan dokumen ini secara
lengkap.
Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD)
Jl. Karangnangka No. 175 Dusun Demangan
Desa Maguwoharjo Kec. Depok Sleman Yogyakarta
Telp./fax: 0274 4333665, mbl: 0811 250 3790
Email: fppd@indosat.net.id
Website: http//www. forumdesa.org
Cetakan Pertama : Januari 2014
14,5 x 21 cm, xx + 160 Hal
ISBN : 978-602-14772-0-5

KATA PENGANTAR
Direktur Usaha Ekonomi Masyarakat
Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa
Kementerian Dalam Negeri

esa dan desa adat atau yang disebut dengan nama


lain dalam UU No. 6/2014 tentang Desa dinyatakan
sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/
atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Substansi undang-undang ini menegaskan tentang janji pemenuhan
kebutuhan (demand complience scenario) dalam konteks
pembangunan nasional di tingkat desa.
Selanjutnya dalam UU No. 6/2014 tentang Desa juga
menyatakan bahwa Desa dapat mendirikan Badan Usaha
Milik Desa. Pendirian badan usaha tersebut berpedoman
pada peraturan perundang-undangan. Ini merupakan bagi
an penting dan tidak terpisahkan dari keaslian otonomi desa.

Kelayakan Usaha BUM Desa

iii

Sejalan de
ngan dikeluarkannya berbagai kebijakan yang
mengatur BUM Desa, telah banyak pemerintah kabupaten
menginisiasi pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)
yang didasarkan atas kebutuhan dan potensi desa sebagai
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
BUM Desa dibangun atas prakarsa (inisiasi) masyarakat
desa serta berdasar prinsip kooperatif, partisipasi, dan emansi
pasi (user-owned, user-benefited, and user controlled) de
ngan mekanisme member-base dan self-help. Badan ini
di
harapkan dapat menjadi wadah ke
giatan eko
nomi yang
terdapat di desa. Karena itu, pengelolannya harus dilakukan
secara profesional, kooperatif, mandiri dan berkelanjutan.
Secara kelembagaan, permasalahan yang dihadapi
terhadap pendirian BUM Desa pada dasarnya dapat dike
lom
pokkan ke dalam hal-hal yang bersifat internal dan
eks
ternal. Permasalahan internal meliputi keterbatasan
Sumber Daya Manusia (SDM), manajemen yang belum
efektif sehingga kurang efisien, serta keterbatasan modal.
Sedangkan permasalahan eksternal meliputi kemampuan
mo
ni
toring yang belum efektif, kurangnya pengalaman,
serta infrastruktur yang kurang mendukung. Kondisi inilah yang mengakibatkan pelayanan dalam pengembangan
BUM Desa masih belum mampu menjangkau secara luas,
padahal pelayanan dalam pengembangan BUM Desa seca
ra luas akan sangat penting perannya dalam membantu
investasi bagi pelaku usaha mikro di perdesaan.
iv

Kelayakan Usaha BUM Desa

Oleh karena itu, Seri Buku Pintar Penyusunan Kelayakan


Usaha dan Pengembangan Usaha BUM Desa diharapkan
dapat mendukung guna mengatasi berbagai keterbatasan
yang dirasakan selama ini, utamanya di daerah perdesaan.
Salah satunya adalah dengan mendayagunakan potensi
yang telah berdiri selama ini untuk memperluas jangkauan
pelayanan dan sekaligus mengisi kesenjangan permintaan
dan penawaran terutama di wilayah perdesaan. Kebijakan
beserta berbagai strategi pelaksanaannya akan didasarkan
pada pratek-praktek terbaik dan pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai pengalaman yang selama ini berjalan
(best practice). Ketiadaan kebijakan dalam pemberdayaan
usaha ekonomi melalui BUM Desa yang terpadu, bagaimanapun telah membatasi para stakeholders untuk menyelaraskan berbagai upaya mereka untuk menciptakan sebuah
sistem perekonomian yang berkelanjutan.
Dr. Ir. Sapto Supono, M.Si

Kelayakan Usaha BUM Desa

KATA PENGANTAR ACCESS


Kemandirian desa, mendukung demokratisasi desa,
kearifan lokal, partisipasi, keadilan gender,
penanggulangan kemiskinan, dan akuntabilitas
pembangunan desa

Kemampuan desa untuk mengelola pembangunan le


bih mandiri yang didukung oleh semua unsur dan sumber
daya desa sangat penting bagi perbaikan kesejahteraan
masyarakat, terlebih bagi masyarakat miskin di desa. Desa
yang dapat menjalankan pengelolaan pembangunan secara mandiri bukan hanya mampu menggerakkan seluruh
aset sumber daya yang dimiliki desa, tetapi desa juga akan
mampu memperbaiki kebutuhan dasar warga, kebutuhan
penghidupan, memperjuangkan hak warga dan menata
kehidupan secara berkelanjutan.
Hadirnya serial buku pintar tentang kemandirian desa
ini diharapkan dapat menjadi bacaan segar di desa, khususnya bagi para Kepala Desa, Perangkat Desa, Kader Desa
termasuk Kader Posyandu, para pengelola atau pengguna
keuangan desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan

Kelayakan Usaha BUM Desa

vii

juga masyarakat desa-baik laki-laki maupun perempuan,


untuk menata desanya. Buku ini juga menarik untuk dibaca kawan-kawan para pegiat pemberdayaan masyarakat
dan desa, fasilitator desa, dan rekan-rekan Lembaga Swadaya Masyarakat peduli desa. Terlebih dengan lahirnya Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka
kehadiran buku-buku pintar ini diharapkan dapat menjadi
salah satu referensi pemberdayaan desa.
Serial buku pintar meliputi 1) Pengembangan Kewe
nangan (Urusan) Desa, 2) Pengelolaan Aset Desa, 3) Pe
ngem
bangan Regulasi Desa, 4) Badan Permusyawaratan
Desa (BPD) dalam Demokrasi Desa, 5) Perencanaan dan
Penganggaran Desa, 6) Pengelolaan dan Pertanggungjawab
an Keuangan Desa, 7) Pengembangan dan Pengelolaan
BUM Desa, 8) Sistem Administrasi dan Informasi Desa, 9)
Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Desa, dan 10) Repo
sisi Peran Publik Perempuan di Desa. Selain 10 buku pintar
tersebut, disusun pula seri buku pintar yang khusus untuk
Pengembangan BUM Desa meliputi a) Penyusunan Kelayak
an Usaha dan Pengembangan Usaha BUM Desa, b) Rancang Bangun Bisnis dan Pengelolaan BUM Desa, dan c) Pe
lembagaan BUM Desa. Buku-buku pintar tersebut disusun
terutama berdasarkan pengalaman desa dan daerah wilayah
kerja Program ACCESS Tahap II.
ACCESS Tahap II merupakan program pengembangan
kapasitas warga dan organisasi warga yang didukung oleh
viii

Kelayakan Usaha BUM Desa

dana hibah dari Pemerintah Australia. Program ini berupaya


mendukung kerja-kerja pemberdayaan yang menghargai
aspek lokalitas dan menempatkan perempuan, masyarakat
miskin, dan kelompok marginal sebagai subyek pemba
ngunan yang memiliki posisi setara dengan pelaku lainnya.
Akhirnya, kami sampaikan terima kasih sebesar-besar
nya kepada tim Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
(FPPD) yang telah menghimpun serial buku dalam rangka
memberi bahan kepada pelaku dan pejuang di desa dan
daerah untuk membantu mereka mengelola desa dengan
menghargai kearifan lokal serta memanfaatkan peluang
yang diberikan melalui UU Desa menuju desa yang demo
kratis, berkeadilan gender, dan bebas dari kemiskinan berbagai segi. Semoga buku-buku tersebut dapat menambah
khazanah pengetahuan bagi pelaku dan pegiat pemba
ngunan desa di Indonesia.
Paul Boon
Direktur Program ACCESS Tahap II

Kelayakan Usaha BUM Desa

ix

KATA PENGANTAR
Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

adan Usaha Milik Desa yang disingkat BUM Desa


adalah lembaga usaha desa yang dikelola oleh ma
syarakat dan pemerintah desa dalam upaya memper
kuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebu
tuhan masyarakat dan potensi desa. BUM Desa merupakan
bentuk kelembagaan desa yang memiliki kegiatan menja
lankan usaha ekonomi atau bisnis untuk memperoleh manfaat yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat desa. Desa
mendirikan BUM Desa bukanlah semata-mata untuk men
cari keuntungan ekonomis atau laba, akan tetapi meliputi
pula manfaat sosial dan manfaat non ekonomi lainnya. Manfaat ekonomi yang ingin diperoleh dari kegiatan usaha BUM
Desa adalah keuntungan atau laba secara finansial, PADes
bertambah, terbukanya lapangan kerja baru bagi war
ga
desa, dan kegiatan usaha ekonomi desa semakin dinamis.
Manfaat sosial dan non ekonomi lain dari BUM Desa, misal:
memperkuat rasa kebersamaan diantara warga desa, memKelayakan Usaha BUM Desa

xi

perkokoh kegotongroyongan, menumbuhkan kebanggaan


dari warga terhadap desanya, warga menjadi lebih kerasan
tinggal di desa, mendorong tumbuhnya prakarsa dan gerak
an bersama warga untuk membangun desa secara mandiri,
kelestarian lingkungan hidup, semakin baiknya pelayanan
pemerintah desa kepada warga, dan seterusnya.
Dalam Pasal 78 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor
72 Tahun 2005 tentang Desa dinyatakan bahwa Dalam
meningkatkan pendapatan masyarakat dan Desa, Pemerin
tah Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa sesuai
dengan kebutuhan dan potensi Desa. Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada pasal 87 menyebutkan (ayat 1) Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik
Desa yang disebut BUM Desa; (ayat 2) BUM Desa dikelola
dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan;
dan (ayat 3) BUM Desa dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Kata dapat
dalam undang-undang tersebut mengandung pengertian
bahwa desa diberi kesempatan, hak dan kewenangan untuk mendirikan BUM Desa. Oleh karena itu, pendirian BUM
Desa hendaknya dipahami sebagai peluang baru bagi desa
untuk mengembangkan perekonomian desa melalui pendayagunaan potensi desa untuk memenuhi kebutuhan warga desa. Dengan kata lain, unit usaha yang akan dijalankan
BUM Desa hendaknya bertumpu pada potensi dan kebu-

xii

Kelayakan Usaha BUM Desa

tuhan desa. Pendirian BUM Desa merupakan inisiatif desa,


bukan perintah dari pemerintah supra desa, sehingga pe
ngelolaannya harus berdasarkan prinsip kemandirian desa
dan semangat kekeluargaan serta kegotongroyongan.
Pendirian BUM Desa antara lain dimaksudkan untuk me
ngurangi peran para tengkulak yang seringkali menyebab
kan meningkatnya biaya transaksi (transaction cost) antara
harga produk dari produsen kepada konsumen akhir. Melalui
lembaga ini diharapkan setiap produsen di perdesaan dapat
menikmati selisih harga jual produk dengan biaya produksi
yang layak dan konsumen tidak harus menanggung harga
pembelian yang mahal. BUM Desa dapat menjadi distributor
utama untuk memenuhi kebutuhan sembilan bahan pokok
(sembako). Selain itu, BUM Desa berfungsi menumbuh-su
burkan kegiatan pelaku ekonomi di perdesaan1.
Dengan demikian, BUM Desa merupakan pilar kegiat
an ekonomi di desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial
(social institution) dan sekaligus komersial (commercial
institution). BUM Desa sebagai lembaga sosial berpihak
kepada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya
dalam penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai
lembaga komersial bertujuan mencari keuntungan (laba)
dari berbagai usaha/bisnis yang dijalankannya. BUM Desa
sebagai lembaga perekonomian desa hendaknya diseleng1

Lihat http://relawandesa.files.wordpress.com/2008/06/1panduan-BUM Desa.pdf.

Kelayakan Usaha BUM Desa

xiii

garakan dan dikelola secara profesional, inovatif-kreatif, rasional dan mandiri.


BUM Desa sebagai lembaga desa yang menjalankan
usaha ekonomi harus memperhatikan prinsip efisiensi dan
efektifitas serta kehati-hatian dalam menjalankan usaha.
Oleh karena itu sebelum menjalankan suatu kegiatan usaha terlebih dahulu harus dipertimbangkan matang-matang
kelayakan dari jenis usaha yang akan dijalankan itu. Keputusan untuk memilih suatu jenis usaha menjadi bidang
usaha BUM Desa bukanlah persoalan yang mudah. Bidang-bidang usaha yang direncanakan harus layak untuk
dijalankan. Cara yang paling lazim untuk menilai kelayakan
usaha adalah dengan melakukan Kajian Kelayakan Usaha.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang Kajian Kelayakan
Usaha sangat penting, karena dalam memulai suatu usaha
tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman dan insting
(naluri) saja.
Sutoro Eko Yunanto
Ketua Steering Committee

xiv

Kelayakan Usaha BUM Desa

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PMD............................................. iii


KATA PENGANTAR ACCESS....................................... vii
KATA PENGANTAR FPPD........................................... xi
DAFTAR ISI................................................................. xv
DAFTAR SINGKATAN ................................................. xix
Bagian I
PENDAHULUAN.......................................................... 1
Apa Itu Kajian Kelayakan Usaha?.......................... 1
Apa Manfaat dari Kajian Kelayakan Usaha?........... 2
Apa Tujuan Kajian Kelayakan Usaha?.................... 3
Bagaimana Langkah-langkah Penyusunan
Kelayakan Usaha?................................................. 5
Aspek Apa yang Perlu Dikaji untuk Menentukan
Kelayakan Usaha?................................................. 10

Kelayakan Usaha BUM Desa

xv

Bagian II
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN............................... 11
Apa Makna Pasar dan Pemasaran?....................... 11
Apa yang harus dikaji dari segi pasar dan
pemasaran?.......................................................... 14
1. Ketepatan Produk dengan Kebutuhan
Masyarakat. .................................................. 14
2. Daya Beli Masyarakat..................................... 18
3. Jumlah Konsumen ....................................... 20
4. Kecenderungan Permintaan Konsumen ........ 21
5. Kesesuaian Harga Produk.............................. 24
6. Kemudahan Mendapatkan Produk................. 26
7. Kemudahan Mendapatkan Informasi

tentang Produk.............................................. 28
Bagian III
ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI............................. 37
1.
2.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

xvi

Perencanaan Produk...................................... 37
Kualitas Produk.............................................. 38
Perencanaan jumlah Produksi........................ 40
Persediaan bahan baku.................................. 41
Kapasitas Produksi........................................ 42
Pemilihan Teknologi....................................... 43
Penentuan Lokasi Usaha................................ 44
Perencanaan Tata letak (Layout) ................... 48

Kelayakan Usaha BUM Desa

Bagian IV
ASPEK MANAJEMEN DAN SDM................................. 55
Aspek Manajemen ............................................... 55
Aspek Sumber Daya Manusia .................................61
Bagian V
ASPEK KEUANGAN..................................................... 67
Kebutuhan Dana dan Sumbernya ........................ 68
Perkiraan Arus Kas ............................................... 76
Perkiraan Laba-Rugi ............................................ 79
Penilaian Investasi ................................................ 82
Bagian VI
ASPEK SOSIAL BUDAYA, EKONOMI, POLITIK,
LINGKUNGAN USAHA DAN LINGKUNGAN HIDUP..... 93
Aspek Sosial Budaya Setempat ........................... 93
Aspek Perbaikan Ekonomi Desa .......................... 95
Aspek Politik ........................................................ 96
Aspek Lingkungan Usaha .................................... 97
Aspek Lingkungan Hidup .................................... 100
Bagian VII
ASPEK HUKUM (YURIDIS).......................................... 101
1. Bentuk Usaha dan Perijinannya ..................... 102

Kelayakan Usaha BUM Desa

xvii

2. Kesesuaian Usaha BUM Desa dengan



Perencanaan Pembangunan Desa ................. 103
3. Status Kepemilikan Lahan atau Lokasi
Usaha ........................................................... 104
Bagian VIII
PERENCANAAN USAHA............................................. 107
Bagian IX
PENUTUP.................................................................... 117
DAFTAR PUSTAKA...................................................... 121
TENTANG PENULIS ................................................... 123
PROFIL FPPD............................................................. 125
LAMPIRAN
Lampiran 1
Instrumen Bantu Penilaian Kelayakan Usaha............... 127
Lampiran 2
Contoh Perencanaan Usaha (Business Plan)............... 139

xviii

Kelayakan Usaha BUM Desa

DAFTAR SINGKATAN

ACCESS

Australian Community Development and Civil


Society Strengthening Scheme

APBD

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

APBN

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

ATK

Alat Tulis dan Kantor

BEP

Break Even Point

BPD

Badan Permusyawaratan Desa

BUM Desa

Badan Usaha Milik Desa

FPPD

Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

KK

Kepala Keluarga

NPV

Net Present Value

PADes

Pendapatan Asli Desa

PI

Profitability Index

PNPM

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

PP

Payback Period

PT

Perseroan Terbatas

PV

Present Value

RKP Desa

Rencana Kerja Pembangunan Desa

Kelayakan Usaha BUM Desa

xix

RPJM Desa

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa

Saprotan

Sarana Produksi Pertanian

Sembako

Sembilan Bahan Pokok

SDM

Sumber Daya Manusia

TPKU

Tim Penyusun Kelayakan Usaha

xx

Kelayakan Usaha BUM Desa

Bagian I
PENDAHULUAN

Apa Itu Kajian Kelayakan Usaha?


Kajian Kelayakan Usaha adalah kegiatan untuk menilai
sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha (Ibrahim, 2009). Hasil dari
kegiatan kajian kelayakan usaha sangat berguna sebagai
bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, apakah menerima atau menolak suatu gagasan usaha yang
direncanakan. Suatu gagasan usaha dikatakan layak apabila terdapat kemungkinan untuk memperoleh manfaat
atau benefit ketika kegiatan usaha itu benar-benar dijalankan.
Pada dasarnya kajian kelayakan usaha dapat dilaksana
kan untuk mendirikan usaha baru atau dapat pula dalam
rangka pengembangan usaha yang sudah ada (Suherman,
2011). Kajian kelayakan usaha tidak hanya diperlukan pada

Kelayakan Usaha BUM Desa

awal pendirian usaha saja, tetapi perlu juga dilakukan pada


saat BUM Desa hendak melakukan pengembangan usaha.

Apa Manfaat dari Kajian Kelayakan Usaha?


Kajian Kelayakan Usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menggunakan cara yang tepat akan
memberikan kemanfaatan, meliputi:

Kelayakan Usaha BUM Desa

1. Terpilihnya jenis usaha yang dapat menghasilkan ke


manfaatan paling besar atau paling layak untuk dilaksa
nakan.
2. Dapat memperkecil risiko kegagalan usaha atau men
cegah kerugian.
3. Tersedianya data dan informasi tentang kelayakan usa
ha akan memudahkan dalam menyusun perencanaan
usaha (business plan).
4. Meningkatnya kemampuan atau keterampilan warga
desa dalam mengelola usaha ekonomi secara rasional
dan modern.
5. Tersedianya informasi tentang prospek usaha yang
dapat menarik warga desa dan pihak lain untuk mendukung pengembangan usaha. Misalnya, warga desa
atau lembaga keuangan (bank) tertarik menanamkan
modal atau meminjamkan uang untuk mendukung
pengembangan usaha yang dilakukan BUM Desa.

Apa Tujuan Kajian Kelayakan Usaha?


Tujuan dilakukan Kajian Kelayakan Usaha meliputi:
1. Memperhitungkan keadaan internal desa (potensi de
sa dan kebutuhan masyarakat) dan eksternal desa (peluang dan ancaman pengembangan usaha) sebagai
acuan dalam perencanaan usaha ekonomi desa,
2. Memantapkan gagasan usaha ekonomi,
Kelayakan Usaha BUM Desa

3. Merencanakan Sumber Daya Manusia (SDM), terutama untuk menyiapkan orang-orang yang berkualitas
sebagai pengelola unit usaha,
4. Merancang organisasi unit usaha,
5. Memperhitungkan peluang dan risiko usaha,
6. Menentukan jenis usaha yang memungkinkan dan me
nguntungkan untuk dijalankan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

Bagaimana Langkah-langkah Penyusunan Kelayakan Usaha?


Penyusunan kelayakan usaha BUM Desa harus dilakukan secara cermat dengan memperhitungkan banyak hal
yang diperkirakan dapat mempengaruhi jalannya usaha
yang akan dilakukan. Semakin lengkap dan cermat dalam
memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
jalannya usaha diharapkan akan terhindar dari risiko kegagalan usaha karena mengalami kerugian.
Selain lengkap dan cermat dalam memperhitungkan
fak
tor-faktor yang dapat mempengaruhi jalannya usa
ha,
penyusunan kelayakan usaha harus didasarkan pertimbang
an-pertimbangan yang rasional dan realistik. Pertimbangan
rasional artinya, harus memperhitungkan keuntungan atau
kemanfaatan dan kerugian atau dampak negatif yang ke
mungkinan akan terjadi ketika unit usaha tertentu itu nan
tinya benar-benar dijalankan. Pertimbangan yang realistis
maksudnya, jenis usaha yang akan dijalankan harus men
dasarkan diri pada potensi desa, kebutuhan masyarakat,
dan kemampuan nyata atas sumberdaya yang diperlukan
untuk menjalankan usaha.
Penyusunan kelayakan usaha juga harus dilakukan
secara partisipatif dengan melibatkan secara aktif warga
desa, karena unit usaha BUM Desa yang akan dijalankan
pasti akan bersentuhan baik langsung maupun tidak lang-

Kelayakan Usaha BUM Desa

sung dengan kehidupan warga desa. Perlu diingat bahwa


BUM Desa adalah lembaga ekonomi milik desa, bukan
milik pribadi aparat desa maupun pengelolanya, sehingga
dalam pelaksanaan usahanya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada warga desa.
Langkah-langkah penyusunan kelayakan usaha adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan Tim Penyusun Kelayakan Usaha (TPKU).
Pembentukan TPKU sebaiknya ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Desa. TPKU sebaiknya terdiri atas
Kepala Desa dan warga desa yang cukup berpendidikan,
mengenal dengan baik keadaan desa, dan memiliki ko
mitmen (rasa tanggungjawab) untuk memajukan de
sa
nya atau yang sering dikenal sebagai kader-kader
penggerak desa. Akan lebih sempurna apabila diantara
anggota TPKU terdapat orang-orang yang memiliki ke
terampilan dan pengalaman menjalankan usaha eko
nomi dengan baik. Jumlah personil TPKU sebaiknya
tidak terlalu banyak (misal: 5-7 orang). Dalam menentukan anggota TPKU hendaknya memperhitungkan ke
terwakilan perempuan. Keterlibatan perempuan dalam
penyusunan kelayakan usaha dapat mendorong tumbuhnya gerakan kolektif untuk mengembangkan perekonomian desa berda
sarkan spirit kesetaraan jender
(kesetaraan antara laki-laki dan perempuan). Pemben-

Kelayakan Usaha BUM Desa

tukan TPKU ini lebih diutamakan bagi desa yang belum


terbentuk kelembagaan BUM Desa. Bagi desa yang te
lah membentuk kelembagaan BUM Desa, penyusunan
kelayakan usaha dapat dilakukan oleh Pengurus dan
Pengelola Unit Usaha BUM Desa.
2. Menemukan potensi desa yang dapat dikembangkan/
didayagunakan melalui pengelolaan usaha/bisnis. Ke
giatan pada tahap ini dilakukan oleh TPKU. Kegiatan
yang dilakukan adalah mengidentifikasi (mengenali)
dan menginventarisasi (mencatat) potensi yang dimiliki desa. Langkah ini diperlukan untuk menemukan
po
tensi desa yang memungkinkan untuk dijadikan
produk dari unit usaha BUM Desa. Menurut Permenda
gri No. 12/2007 tentang Pedoman Penyusunan dan
Pendayagunaan Data Profil Desa, menjelaskan bahwa
potensi desa adalah keseluruhan sumber daya yang di
miliki atau digunakan oleh desa baik sumber daya manusia, sumber daya alam dan kelembagaan maupun
prasarana dan sarana untuk mendukung percepatan
kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, potensi
desa itu berupa: sumber air bersih, sungai, keindahan
alam, jumlah penduduk, mata pencaharian penduduk,
hasil pertanian/perkebunan/kehutanan, hasil industri/
kerajinan rumahtangga, pasar desa, prasarana jalan,
kesenian daerah, keuangan pemerintah desa dan lain-lain. Salah satu sumber data yang sangat penting

Kelayakan Usaha BUM Desa

untuk mengidentifikasi potensi desa adalah dokumen


profil desa. Semakin baik kualitas penyusunan profil
desa, maka akan sangat membantu dalam mengenali
potensi desa dengan tepat. Cara lain yang dapat dila
kukan untuk mengenali potensi desa adalah dengan
pengamatan langsung terhadap keadaan desa dan
menjaring informasi dari warga desa.
3. Mengenali kebutuhan sebagian besar warga desa maupun masyarakat luas (masyarakat luar desa). Kegiatan
ini dilakukan dengan cara menanyakan langsung kepada warga desa tentang jenis barang atau jasa yang
mereka harapkan dapat dilayani melalui BUM Desa.
Dapat pula dilakukan dengan cara mengamati atau
bertanya kepada pemilik toko dan pedagang di pasar
mengenai jenis barang yang laris terjual. khususnya
barang-barang yang sekiranya dapat diproduksi atau
disediakan oleh BUM Desa. Informasi tentang jenis
kebutuhan masyarakat tersebut kemudian dicatat. Ke
giatan pada tahap ini dilakukan oleh TPKU. Langkah
ini sangat diperlukan untuk memperoleh informasi
tentang kebutuhan warga desa maupun masyarakat
lu
as sebagai dasar untuk menentukan jenis usaha
yang akan dijalankan dan produk (barang dan jasa)
yang akan ditawarkan. Warga desa dan masyarakat
luas merupakan calon konsumen dari produk yang
ditawarkan. Dengan demikian, semakin tepat dalam

Kelayakan Usaha BUM Desa

mengenali kebutuhan calon konsumen, maka produk


yang ditawarkan unit usaha BUM Desa berpeluang besar dapat diterima (dibeli) oleh konsumen.
4. Menggagas bersama warga desa untuk menentukan
pilihan-pilihan jenis usaha yang memungkinkan untuk
dilakukan. Pada tahap ini TPKU terlebih dahulu telah
menyusun rancangan alternatif jenis usaha beser
ta hasil kajian aspek-aspek kelayakan usaha dan kemungkinan pengembangannya. Rancangan alternatif
usaha beserta kajian kelayakan usaha kemudian dita-

Kelayakan Usaha BUM Desa

warkan kepada warga desa untuk dibahas bersama


melalui forum musyawarah desa.
5. Menggalang kesepakatan warga untuk menentukan
unit usaha ekonomi desa yang akan diwadahi BUM
Desa. Kesepakatan bersama warga desa sangat diperlukan untuk memperoleh dukungan dalam menjalankan dan mengembangkan suatu unit usaha BUM
Desa. Ketika warga desa menyepakati pendirian unit
usaha BUM Desa, maka tentunya mereka merasa ikut
memiliki dan bertanggungjawab atas keberlangsung
an usaha. Kesepakatan mendirikan unit usaha BUM
Desa bersama warga desa hendaknya dilakukan melalui forum musyawarah desa.

Aspek Apa yang Perlu Dikaji untuk Menentukan Kelayakan Usaha?


Pada umumnya aspek-aspek yang dikaji dalam menentukan/menilai kelayakan usaha meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

10

Aspek Pasar dan Pemasaran


Aspek Teknis dan Teknologi
Aspek Manajemen dan SDM
Aspek Keuangan
Aspek Ekonomi, Sosial Budaya, Politik, dan Lingkungan
Aspek Hukum (Yuridis)

Kelayakan Usaha BUM Desa

Bagian II
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

Apa Makna Pasar dan Pemasaran?


Pasar, dalam pengertian sempit diartikan sebagai
tempat bertemunya penjual dan pembeli. Sebagai contoh, kita mengenal istilah Pasar Ikan. Istilah ini menunjuk
suatu tempat bertemunya orang yang menawarkan (men
jual) ikan dan orang yang membutuhkan (membeli) ikan.
Dalam pengertian luas, pasar merupakan pertemuan an
tara penjual dan pembeli untuk melakukan tawar-menawar
sehingga terbentuk harga. Pengertian pasar itu tidak se
lalu menunjuk tempat, karena interaksi (pertemuan) an
tara penjual dan pembeli tidak harus bertemu di suatu
tempat tetapi dapat melalui media lain, misalnya melalui
telepon, surat-menyurat, internet, dan lain-lain (Subagyo,
2007). Fungsi penawaran itu dilakukan oleh pihak penju
al, sedang
kan pembeli melakukan fungsi permintaan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

11

Penawaran dan permintaan itu berupa barang dan/atau


jasa. Apabila tawar-menawar antara penjual dan pembeli
menghasilkan kesesuaian harga, maka terjadilah transaksi
jual-beli barang atau jasa. Dengan demikian akan terbentuk pasar apabila: terdapat penjual dan pembeli; terdapat
barang atau jasa yang diperjual-belikan; dan terjadi kese
suaian harga dari hasil tawar-menawar antara penjual dan
pembeli.
Pemasaran adalah sebuah proses dalam memuaskan
kebutuhan dan keinginan manusia. Jadi, segala kegiatan
dalam hubungannya dengan pemberian kepuasan terhadap kebutuhan dan keinginan manusia merupakan bagian dari makna pemasaran. Pemasaran dimulai dengan
pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian tumbuh
menjadi keinginan manusia. Contohnya, setiap orang tentu membutuhkan pakaian. Ketika tersedia kain, maka kain
tersebut dapat dibuat sendiri atau dibawa ke penjahit untuk
dijadikan pakaian sehingga kebutuhan pakaian terpenuhi.
Namun orang tidak hanya ingin memenuhi kebutuhannya,
ia juga ingin memenuhi keinginannya misalnya tersedianya
pakaian jadi dengan model dan corak yang memenuhi
seleranya. Terlebih jika pakaian jadi tersebut harganya
terjangkau, maka orang lebih memilih untuk membeli pakaian jadi daripada membeli kain untuk dibuat pakaian,
karena selain sesuai dengan kebutuhannya (kebutuhan
pakaian) juga sesuai dengan keinginannya (praktis-tinggal

12

Kelayakan Usaha BUM Desa

pakai dan sesuai selera). Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep
pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (barang dan/
atau jasa), penetapan harga, pengiriman barang, dan
mempromosikan barang/jasa.
Pelajaran berharga yang dapat kita peroleh dari makna
pasar dan pemasaran tersebut adalah, rencana kegiatan
usaha BUM Desa tidaklah cukup hanya memusatkan perha
tiannya pada kemampuan memproduksi barang dan/atau
jasa, melainkan harus dipikirkan pula kemampuan me
nentukan pasar dan strategi pemasarannya. Dengan kata
lain, kegiatan usaha BUM Desa berpeluang sukses apabila
kemampuan produksinya tinggi dan disertai kemampuan
penguasaan pasar dan pemasaran produk yang dihasilkan.
Sebaliknya, apabila BUM Desa memiliki kemampuan pro
duksi (barang/jasa) yang tinggi, tetapi tidak ada kejelasan
kepada siapa produk itu hendak dijual, apakah produk itu
dibutuhkan orang banyak dan bagaimana cara pemasaran
nya, maka risikonya banyak produk tidak terjual dan akhir
nya bangkrut. Oleh karena itu, agar rencana kegiat
an
usaha BUM Desa dapat mencapai kesuksesan diperlukan
kajian terhadap kelayakan usaha dari aspek pasar dan pemasaran.

Kelayakan Usaha BUM Desa

13

Apa yang harus dikaji dari segi pasar dan


pemasaran?
Berdasarkan pengertian pasar dan pemasaran, maka
beberapa hal yang harus dikaji dalam menilai kelayakan
usaha sebagai berikut:
1. Ketepatan Produk dengan Kebutuhan Masyarakat.
Hal ini sangat penting
untuk
memastikan
bahwa barang atau
jasa yang akan di
produksi benar-benar
dibutuhkan dan dapat
memenuhi keinginan
masyarakat atau ca
lon konsumen untuk
jang
ka waktu yang
panjang.

Sebelum unit usaha BUM Desa


memproduksi barang atau jasa,
harus diketahui terlebih dahulu
jenis produk (barang/jasa) apa
yang dibutuhkan dan diinginkan
oleh masyarakat. Pastikan pula
bahwa masyarakat atau calon
konsumen akan terus-menerus
membutuhkan produk tersebut
dalam jangka waktu yang lama.

Dalam ilmu ekonomi


dikenal istilah riset pa
sar, yaitu suatu ke
gi
atan penelitian untuk mengetahui produk-produk apa yang
banyak dibutuhkan masyarakat (konsumen), jenisjenis produk apa yang sudah beredar di pasaran, ciriciri konsumen pengguna produk, per
saingan antar
pro
duk di pasar
an, dan se
terusnya. Kegiatan riset
pasar juga perlu dilakukan BUM Desa dalam rangka
14

Kelayakan Usaha BUM Desa

merencanakan suatu kegiatan usaha. Apabila pasar


yang hendak dituju masih dalam batas satu wilayah
desa, riset pasar dapat dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara dengan warga desa atau melalui
diskusi (rembugan) melalui forum-forum pertemuan
warga. Sudah barang tentu wilayah riset pasar akan
semakin luas apabila pasar yang hendak dituju BUM
Desa melampaui batas desa.
Dari hasil riset pasar dapat diperoleh data dan infor
masi jenis produk yang dibutuhkan dan diminati ma
syarakat. Hasil riset pasar ini kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan jenis

Kelayakan Usaha BUM Desa

15

produk yang akan dihasilkan. Sebagai contoh: apabila


sebagian besar warga desa menggeluti pekerjaan sektor pertanian, maka kegiatan usaha yang lebih cocok
adalah pelayanan kebutuhan sarana produksi pertanian (saprotan). Apabila warga masyarakat terkendala
dalam pemenuhan air bersih karena sumber airnya
terletak di tempat yang jauh dari permukiman, maka
kegiatan usaha pelayanan air bersih dengan pemasangan sambungan pipa ke rumah-rumah penduduk
lebih layak untuk dilakukan. Bagi desa non-pertanian
yang terletak cukup jauh dari perkotaan, maka lebih
layak untuk membuka usaha penyediaan/pelayanan
sembako, demikian seterusnya.

16

Kelayakan Usaha BUM Desa

Dalam merencanakan kegiatan usaha BUM Desa


langkah yang lebih tepat dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu jenis produk (barang/jasa) yang
dibutuhkan masyarakat, baru kemudian menentukan
jenis produk yang akan dijual. Bukan sebaliknya, menentukan produk dulu baru kemudian mencari pasar,
karena pasar atau konsumen itu tidak dapat didikte
atau dipaksa oleh produsen (dalam hal ini oleh BUM
Desa).
Perlu pula diperhatikan keadaan lingkungan desa dan
sekitarnya. Apakah sudah ada kegiatan usaha sejenis
yang dilakukan oleh warga atau BUM Desa di desa-desa sekitarnya. Ini berkaitan dengan analisis persaingan
bisnis. Apabila ada warga desa yang sudah melakukan
kegiatan usaha yang menawarkan produk tertentu,
maka tidak layak jika kegiatan usaha BUM Desa menawarkan produk sejenis karena berpotensi menyaingi
dan mematikan usaha milik warga. Namun, bisa saja
kegiatan usaha BUM Desa menawarkan produk seje
nis dengan yang diusahakan warga desa, sepanjang
usaha BUM Desa tersebut untuk mendukung keberlangsungan usaha warga. Misalnya: BUM Desa membuka usaha grosir untuk menyuplai barang dagangan
bagi kegiatan usaha warga. Selain itu, kegiatan usaha
BUM Desa hendaknya menghindari pemilihan produk
yang sejenis dengan yang sudah diusahakan oleh

Kelayakan Usaha BUM Desa

17

BUM Desa di desa tetangga. Sebaiknya produk yang


dipilih adalah produk-produk yang khas/berbeda tetapi tetap merupakan kebutuhan masyarakat. Tindakan
ini dapat memberikan dua keuntungan, yaitu: dapat
menghindari konflik dengan desa tetangga karena bukan menjadi pesaingnya, dan memungkinkan untuk
perluasan pasar karena dapat memasarkan produk ke
desa tetangga.
2. Daya Beli Masyarakat
Perlu diingat bahwa setiap calon konsu
men
belum tentu memiliki
Pastikan bahwa masyarakat
daya beli atau kemamatau calon konsumen mempuan untuk mem
beli.
punyai kemauan dan kemampuan membeli sehingga berMeskipun produk yang
sedia menerima produk yang
ditawarkan unit usaha
ditawarkan oleh unit usaha
BUM Desa sesuai de
BUM Desa dan mereka akan
ngan kebutuhan dan
membelinya.
keinginan masyarakat/
calon konsumen, tetapi kalau tidak disertai kemampuan atau daya beli, maka
produk yang ditawarkan kemungkinan besar tidak laku
jual (kurang/sedikit pembeli).
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu maksud dari
kegiatan usaha BUM Desa itu untuk memperoleh
18

Kelayakan Usaha BUM Desa

keuntungan atau laba usaha. Keuntungan itu dapat


diperoleh apabila banyak konsumen yang bersedia
dan mampu membeli produk yang ditawarkan. Kemampuan masyarakat untuk membeli produk atau
daya beli masyarakat sangat berkaitan dengan tingkat
pendapatan masyarakat.
Untuk mendapatkan gambaran tentang daya beli
masyarakat dapat dilakukan dengan cara melakukan
kajian data pendapatan warga masyarakat desa yang
tercatat dalam dokumen profil desa. Apabila administrasi pemerintahan desa dikelola dengan baik tentunya
pemerintah desa memiliki dokumen profil desa yang
baik, sehingga sangat membantu dalam mengkaji
daya beli masyarakat. Selain melalui kajian data profil desa, gambaran daya beli masyarakat dapat pula
diperoleh melalui pengamatan. Dalam melakukan
pengamatan perlu menggunakan indikator (penanda)
yang dapat menggambarkan tingkat pendapatan alias
daya beli masyarakat. Indikator daya beli itu misalnya:
kualitas bangunan rumah warga, luas lahan, hasil pa
nen, pemilikan alat-alat rumahtangga dan barang-barang berharga (misalnya: hand phone, sepeda motor,
mobil, dan benda-benda berharga lainnya).
Apabila hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat
memiliki daya beli terhadap produk yang direncanakan, maka rencana kegiatan usaha BUM Desa dapat

Kelayakan Usaha BUM Desa

19

dinyatakan layak. Sebaliknya, jika ternyata daya beli


masyarakat rendah dan tidak ada cara untuk menyia
satinya, maka rencana kegiatan usaha BUM Desa tidak
layak dilakukan dan sebaiknya ditunda atau dihentikan
sama sekali.
3. Jumlah Konsumen
Konsumen yang memiliki
ke
mauan dan kemampuan
untuk membeli seringkali
tidak sebanyak yang kita ha
rapkan sehingga kegiatan
usaha tidak memperoleh ke
untungan secara memadai,
atau bahkan mengalami ke
rugian.

Sebelum kegiatan usaha


BUM Desa dijalankan,
pastikan terlebih dahulu
bahwa jumlah calon kon
sumen cukup banyak.

Semakin banyak konsumen yang memiliki kemauan


(berminat) dan daya beli yang cukup/tinggi maka
produk yang ditawarkan BUM Desa dapat laku jual,
sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang
me
madai. Keuntungan yang diperoleh dari kegiat
an usaha itulah yang memungkinkan BUM Desa dapat menjalankan dan mengembangkan usaha secara
ber
kelanjutan. Dengan demikian, apabila jumlah
kon
sumen cukup banyak dan diperkirakan mampu
membeli sebagian besar atau semua produk yang di20

Kelayakan Usaha BUM Desa

tawarkan, maka rencana kegiatan usaha BUM Desa


dapat dinyatakan layak untuk dijalankan.
Bagaimana kalau ternyata jumlah konsumen dari da
lam desa hanya sedikit?

Pertama, mempromosikan barang atau jasa yang


akan ditawarkan oleh BUM Desa untuk menarik
minat warga desa untuk membelinya. Apabila me
lalui promosi tidak mampu meningkatkan jumlah
konsumen dari dalam desa sendiri, maka dapat
diupayakan menambah konsumen dari luar desa
se
hingga mencapai jumlah yang diharapkan.
Apabila upaya ini berhasil, maka rencana kegiatan
usaha dapat menjadi layak untuk dijalankan.
Kedua, apabila upaya menambah konsumen tidak
mungkin dilakukan, maka rencana kegiatan usaha
dihentikan saja karena tidak layak dijalankan.

4. Kecenderungan Permintaan Konsumen


Bagi pengusaha yang cerdik,
kemungkinan pengembang
an sudah mulai dipikirkan
sejak membuat rencana
usa
ha. Meskipun disadari
bahwa pada tahap awal memulai kegiatan usaha masih
memiliki keterbatasan ke-

Pastikan bahwa permin


taan barang/jasa yang di
tawarkan BUM Desa cen
derung akan meningkat
dari waktu ke waktu.

Kelayakan Usaha BUM Desa

21

mampuan dalam memproduksi dan atau menjual


produk, namun bagi pengusaha yang ulet selalu memiliki cita-cita untuk mencapai kesuksesan setinggitingginya di kemudian hari. Untuk menggapai cita-cita
itu, ia akan berupaya agar produk yang dihasilkan dan
atau dijualnya semakin lama banyak diminati oleh
konsumen. Salah satu upaya yang ditempuh adalah
menentukan pilihan produk yang selalu dibutuhkan
banyak orang.
Demikian pula halnya dengan BUM Desa, kegiatan
usahanya akan tumbuh dan berkembang jika permin
taan konsumen terhadap produk yang ditawarkan
cenderung meningkat. Dengan meningkatnya permin
taan produk maka kegiatan usaha BUM Desa dapat
meningkatkan jumlah produksinya. Untuk itu, sejak
merencanakan kegiatan usaha perlu memperhitungkan kemungkinan peningkatan permintaan produk
yang akan dijual.
Peningkatan permintaan produk dapat terjadi karena
dua hal. Pertama, permintaan unit produk setiap konsumen sebenarnya relatif tetap, tetapi jumlah konsumennya bertambah banyak sehingga permintaan
unit produk secara kumulatif (secara keseluruhan) bertambah banyak. Ini dapat terjadi manakala BUM Desa
mampu memperluas wilayah pemasaran produknya.
Dengan demikian, BUM Desa dalam merencanakan
22

Kelayakan Usaha BUM Desa

kegiatan usaha harus memperhitungkan kemungkin


an perluasan pasarnya. Kedua, jumlah konsumen sebenarnya relatif tetap, tetapi permintaan unit produksi
setiap konsumen bertambah sehingga secara kumulatif permintaan unit produk yang ditawarkan BUM
Desa menjadi semakin banyak pula. Ini dapat terjadi
karena adanya peningkatan kebutuhan konsumen
terhadap produk yang ditawarkan BUM Desa dan
didukung terjadinya perbaikan kondisi ekonomi konsumen. Oleh karena itu, dalam merencanakan ke
giatan usaha BUM Desa harus dipikirkan pemilihan
produk secara tepat agar produk yang ditawarkan selalu menjadi kebutuhan konsumen. Selain itu, perlu
pula dibuat perkiraan (proyeksi) tentang kecenderung
an perubahan perekonomian masyarakat (cenderung
meningkat, relatif tetap, atau bahkan menurun). Untuk
membuat perkiraan ini, dapat dilakukan melalui kajian
data profil desa atau dapat pula dengan mengamati
perubahan kondisi ekonomi masyarakat.
Apabila hasil Kajian Kelayakan Usaha menunjukkan
permintaan produk (barang/jasa) cenderung meningkat, maka kegiatan usaha BUM Desa yang direncanakan semakin layak untuk dijalankan. Jika ternyata hasil
kajian kelayakan menunjukkan permintaan produk
cenderung tetap, maka kegiatan usaha yang direnca
nakan dapat dinyatakan cukup layak, tetapi dengan

Kelayakan Usaha BUM Desa

23

risiko BUM Desa akan mengalami kendala dalam


pengembangan usahanya. Sebaliknya, jika hasil kajian
kelayakan menunjukkan permintaan produk di masa
mendatang cenderung menurun, maka sebaiknya
kegiatan usaha yang direncanakan dihentikan saja karena kalau kegiatan usaha tersebut dilaksanakan tidak
akan berumur panjang.
5. Kesesuaian Harga Produk
Kegiatan usaha BUM Desa
dalam menghasilkan produk
sudah barang tentu harus
Dalam menetapkan har
ga, harus dipastikan bah
mengeluarkan sejumlah bia
wa harga produk (barang/
ya dan mengharapkan bagijasa) yang ditawarkan da
an keuntungan (marjin laba)
pat diterima oleh konsu
men dan tidak merugikan
dari produk yang dijual keBUM Desa.
pada konsumen. Di sisi lain,
konsumen bersedia untuk
membeli barang/jasa jika harga yang ditawarkan unit
usaha BUM Desa dapat mereka terima dan sesuai de
ngan kualitas produk yang dibeli. Penentuan harga bukanlah persoalan yang mudah. Seringkali harga tidak
sekedar biaya produksi ditambah marjin laba yang diharapkan. Terdapat faktor psikologi harga yang sering
berpengaruh pada penentuan harga. Sebuah produk
yang ditawarkan produsen/penjual dengan harga mu-

24

Kelayakan Usaha BUM Desa

rah belum tentu diminati oleh konsumennya. Untuk


mengantisipasi hal ini BUM Desa harus mampu meyakinkan konsumen bahwa mereka (konsumen) akan
memperoleh kualitas produk yang sepadan dengan
harga yang dibayar.

Dalam konteks harga, yang lebih penting dipertimbangkan adalah harga yang ditawarkan dapat diterima
masyarakat/konsumen dan tidak merugikan BUM Desa.
Oleh karena itu, meskipun dengan harga tertentu BUM
Desa hanya mendapatkan sedikit laba tetapi unit usaha

Kelayakan Usaha BUM Desa

25

yang akan dijalankan dapat memberikan kemanfaatan


bagi kesejahteraan warga desa, maka suatu unit usaha
dapat dipertimbangkan layak untuk dijalankan. Ini sekaligus untuk menegaskan bahwa pendirian BUM Desa bukan
semata-mata untuk mengejar keuntungan setingi-tingginya, tetapi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Namun demikian, apabila harga yang dapat diterima oleh
konsumen di bawah biaya produksi sehingga merugikan
BUM Desa, maka kegiatan usaha yang direncanakan tidak
perlu dilanjutkan karena tidak layak dilaksanakan.
6. Kemudahan Mendapatkan Produk
Ini menyangkut kua
litas pelayanan BUM
Desa kepada ma
Pastikan bahwa produk (basyarakat/ konsumen.
rang/jasa) yang akan ditawarProduk berupa ba
kan oleh unit usaha BUM Desa
rang atau jasa akan
dapat dengan mudah didapatkan oleh konsumen dan dengan
memiliki peluang le
pelayanan yang memuaskan.
bih besar untuk dibeli
oleh konsumen jika
produk ter
sebut mudah diperoleh. Sebaliknya, apabila untuk memperoleh produk ter
sebut
cukup menyulitkan pembeli, kemungkinan besar
konsumen enggan membeli produk yang ditawarkan

26

Kelayakan Usaha BUM Desa

atau konsumen akan membeli produk yang sama kepada pihak lain yang mampu memberikan kemudahan dalam memperolehnya. Saat ini persaingan bisnis sangat ketat. Ini dapat kita ketahui dari banyaknya
pelaku usaha yang menawarkan produk sejenis. Kualitas pelayanan menjadi salah satu kunci untuk memenangkan dalam persaingan bisnis. Meskipun sebuah
produk ditawarkan dengan harga yang lebih murah
tetapi pelayanannya kurang baik sehingga merepotkan konsumen untuk memperolehnya, kemungkinan
besar tidak banyak konsumen yang mau membeli
produk tersebut.
Uraian di atas ingin menegaskan bahwa cara produsen
atau penjual dalam mendistribusikan/mengantarkan
produk ke konsumen sangat mempengaruhi terjadi
nya transaksi. Dalam dunia usaha sangat dikenal istilah
pembeli adalah raja. Artinya, pembeli akan merasa
senang dan bersedia membeli secara berulang-ulang
(berlangganan) apabila dirinya merasa dipermudah
dalam memperoleh barang/jasa yang dibutuhkan.
Dalam kaitannya dengan BUM Desa, kegiatan usaha
yang direncanakan harus mampu memberikan jaminan kemudahan bagi konsumen untuk memperoleh
produk yang ditawarkan. Misalnya: produk diantar
sampai ke rumah konsumen. Apabila konsumen yang
harus datang ke tempat pelayanan, maka tempat pe-

Kelayakan Usaha BUM Desa

27

layanan harus dipilih yang paling mudah dijangkau


oleh semua konsumen.
7. Kemudahan
Produk

Mendapatkan

Informasi

tentang

Produk berupa barang atau jasa akan


memiliki peluang le
Pastikan bahwa informasi pro
bih besar untuk dibeli
duk (barang/jasa) dari kegiatan
oleh konsumen jika
usaha BUM Desa dapat dengan
konsumen mengetamudah didapatkan oleh konsu
men dan dengan pelayanan
hui informasi tentang
yang memuaskan.
produk tersebut. Cara
produsen/penjual
menginformasikan
produknya (dalam is
ti
lah pemasaran disebut dengan kegiatan promosi)
sangat mempengaruhi terjadinya transaksi. Informasi
yang tersebar luas, rinci, jelas dan jujur mengenai spe
sifikasi barang atau jasa, misalnya: bentuk/jenis, kegunaan, keunggulan, harga, dan informasi tentang cara
mengatasi jika terjadi kendala yang dialami konsumen
atas penggunaan produk, menjadi sangat penting
dalam pemasaran. Promosi produk yang ditawarkan
dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, mi
salnya: dengan membuat leaflet yang dibagikan kepa

28

Kelayakan Usaha BUM Desa

da warga desa dan/atau ditempel di tempat-tempat


strategis, membagikan sticker untuk ditempel di ken
daraan atau di rumah warga, atau dapat juga ditempuh
promosi dari mulut ke mulut (dalam bahasa Jawa:
tutur tinular atau gethok tular). Selain tersedianya media informasi juga diperlukan petugas yang mumpuni
(ramah dan menguasai informasi tentang produk yang
ditawarkan) dan mudah ditemui setiap saat. Ini untuk
meyakinkan konsumen bahwa BUM Desa mampu
memberi pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayan
an yang baik merupakan bentuk promosi yang efektif.

Kelayakan Usaha BUM Desa

29

Kajian terhadap unsur-unsur pemasaran sebagaimana


telah dipaparkan, satu sama lain saling berkaitan sehingga
semakin lengkap unsur yang dikaji akan semakin baik/tepat
hasilnya. Oleh karena itu, analisis hendaknya dilakukan secara cermat, sehingga dapat diketahui apakah kegiatan
usaha yang akan digeluti oleh BUM Desa itu layak atau
tidak layak ditinjau dari aspek pemasaran. Semakin banyak
unsur-unsur yang mendukung pemasaran, maka semakin
layak kegiatan usaha yang direncanakan. Sebaliknya, semakin banyak unsur-unsur yang tidak mendukung pema
saran, maka kurang/tidak layak kegiatan usaha yang direncanakan itu. Jika ide membuka unit usaha BUM Desa dari
aspek pemasaran untuk produk yang direncanakan dinilai
tidak layak, maka perlu dicari alternatif perbaikan agar
aspek pemasaran menjadi layak. Jika memang tidak ada
jalan lain, maka lebih tepat mengambil keputusan untuk
menunda atau bahkan membatalkan rencana usaha tersebut.
Kotak 1 mengilustrasikan praktik kajian aspek pasar
dan pemasaran dalam rangka kajian kelayakan usaha yang
dilakukan oleh BUM Desa di salah satu desa mitra ACCESS
Tahap II, yaitu BUM Desa Ganting di Desa Labbo Kecamat
an Tompobulu Kabupaten Bantaeng.

30

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kotak 1.
BUM Desa GANTING di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu
Kabupaten Bantaeng telah melakukan kajian kelayakan aspek
pasar dan pemasaran untuk Unit Usaha Pengelolaan Air Mi
num, sebagai berikut:
1. Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan air minum
Ketersediaan air minum merupakan salah satu kebutuhan
dasar bagi warga masyarakat. Desa Labbo memiliki sungai
dan sejumlah mata air yang terdapat di puncak bukit yang
dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air
minum sejak dahulu sampai sekarang. Letak sumber air
minum tersebut cukup jauh dari sebagian besar permukim
an penduduk (sekitar 45 km). Program Care dan PNPM
Mandiri Pedesaan telah memberi bantuan pembangunan
bak penampungan air dan sarana perpipaan untuk meman
faatkan sumber air tersebut. Namun demikian, sarana
perpipaan tersebut belum dikelola secara baik sehingga
distribusi air tidak merata, dan menimbulkan konflik antar
warga.
Keadaan tersebut membuktikan bahwa warga masyarakat
sangat membutuhkan pengelolaan air bersih yang dapat
memberi kemudahan dan pemerataan dalam memperoleh
kecukupan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup se-

Kelayakan Usaha BUM Desa

31

hari-hari. Dengan demikian, usaha pengelolaan air minum


dengan perpipaan yang dilengkapi dengan alat meter air
sesuai dengan kebutuhan warga masyarakat.
2. Daya beli masyarakat
Warga Desa Labbo secara umum memiliki pendapatan/
penghasilan yang bersumber dari mata pencaharian yang
ditekuni, sehingga masyarakat memiliki daya beli. Harga
atau biaya satuan penggunaan air minum dapat dimusyawarahkan bersama warga desa, sehingga dapat diperoleh
harga yang sesuai dengan kemampuan (daya beli) masya
rakat. Lagi pula, kegiatan usaha pengelolaan air minum

32

Kelayakan Usaha BUM Desa

dengan menggunakan meteran air dapat membantu ma


syarakat untuk memperhitungkan penggunaan air sesuai
dengan kemampuannya.
3. Target pasar dan jumlah konsumen
Pasar yang akan dibidik adalah warga masyarakat Desa
Labbo yang selama ini telah memanfaatkan sarana perpipaan milik desa. Khususnya warga desa atau rumahtangga
yang bermukim di 5 (lima) dusun terjauh dari sumber air
merupakan target pasar yang utama, jumlahnya sekitar 400

Kelayakan Usaha BUM Desa

33

KK. Untuk sementara waktu jumlah KK inilah yang ditargetkan menjadi konsumen atau pelanggan. Sedangkan jumlah
penduduk Desa Labbo pada tahun ini (2010) sebanyak 883
KK yang terdiri atas 741 KK laki-laki dan 142 KK perempuan.
Dengan demikian, rumahtangga yang dijadikan sebagai kon
sumen jumlahnya baru mencapai separo dari jumlah rumahtangga yang ada. Ke depan, sesuai dengan pertambah
an jumlah penduduk dan perkembangan kemampuan BUM
Desa dapat dipastikan jumlah konsumen akan bertambah
semakin banyak.
4. Kondisi persaingan.
Desa-desa terdekat dengan Desa Labbo tidak ada yang me
lakukan kegiatan usaha pengelolaan air minum, sehingga
dapat dikatakan kegiatan usaha pengelolaan air minum
tidak ada pesaing. Keadaan ini memperbesar peluang untuk memperoleh jumlah pelanggan atau konsumen yang
semakin banyak.
5. Harga langganan air minum
Penentuan harga langganan dapat dimusyawarahkan bersama warga desa berdasarkan prinsip tidak saling memberat
kan. Artinya, harga yang disepakati tidak memberatkan konsumen dan tidak merugikan BUM Desa. Untuk menentukan

34

Kelayakan Usaha BUM Desa

harga langganan dilakukan secara rasional dan transparan


sehingga warga desa dapat menerima ketentuan biaya berlangganan sebagai harga yang wajar. Penentuan harga de
ngan cara musyawarah diyakini akan menarik minat warga
desa untuk menjadi pelanggan.
6. Kemudahan yang diperoleh konsumen.
Kegiatan usaha pengelolaan air minum dilakukan dengan
cara memasang sarana perpipaan dan meteran air sampai
di rumah-rumah penduduk, sehingga konsumen tinggal
membuka kran langsung memperoleh air bersih sesuai yang
dibutuhkan. Selain itu, dengan dipasangnya alat meteran
air akan memudahkan pelanggan untuk mengontrol penggunaan air.
Berdasarkan hasil kajian aspek pasar dan pemasaran,
ternyata seluruh unsur yang dikaji menunjukkan keadaan
yang mendukung pemasaran jasa layanan air bersih. De
ngan demikian, aspek pasar dan pemasaran produk dari
kegiatan usaha pengelolaan air bersih BUM Desa Ganting
dapat dinyatakan layak.

Kelayakan Usaha BUM Desa

35

Bagian III
ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

ajian terhadap aspek teknis dan teknologi merupakan hal penting untuk dilakukan dalam penyusunan
kelayakan usaha. Kajian pada aspek ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah secara teknis suatu unit usa
ha BUM Desa dapat dioperasikan (dijalankan) dan apakah
teknologi yang diperlukan tersedia.
Ada 8 unsur pokok kelayakan usaha yang dinilai dari
aspek teknis dan teknologi, yaitu:
1. Perencanaan Produk
Agar barang atau jasa yang
akan diproduksi laku dijual,
maka pilihan produk yang
akan dijual adalah barang
atau jasa yang dapat meme
nuhi kebutuhan konsumen.

Pastikan bahwa produk


yang dihasilkan sesuai
dengan kebutuhan dan
keinginan konsumen.

Kelayakan Usaha BUM Desa

37

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian kajian aspek pasar, sebelum kegiatan usaha BUM Desa memproduksi barang atau jasa harus dilakukan kegiatan
riset pasar terlebih dahulu. Riset pasar menghasilkan
informasi tentang jenis produk yang dibutuhkan dan
diinginkan oleh calon konsumen. Informasi pasar ini
menjadi bahan masukan utama untuk merencanakan
jenis produk (barang/jasa) yang akan dihasilkan. Informasi pasar yang lengkap dan akurat akan sangat
mendukung ketepatan dalam memilih produk yang
direncanakan. Perencanaan produk yang tepat lebih
menjamin produk yang akan dihasilkan dapat laku dijual.
2. Kualitas Produk
Kualitas produk (barang
atau jasa) merupakan hal
pen
ting bagi konsumen.
Produk yang akan dihasilkan
unit usaha BUM Desa akan
laku jual apabila berkualitas.
Kualitas produk, baik yang
berupa barang maupun jasa,
dapat dinilai berdasarkan beberapa segi.

38

Kelayakan Usaha BUM Desa

Pastikan bahwa produk


yang akan ditawarkan
unit usaha BUM Desa
adalah produk yang me
miliki keunggulan (ber
kualitas).

a. Kualitas produk yang berupa barang dapat dinilai


dari segi:
1) Daya guna, yaitu barang yang ditawarkan
memiliki kegunaan.
2) Kekhasan, yaitu barang yang ditawarkan
memiliki kekhasan jika dibandingkan dengan
barang sejenis yang ada dipasaran.
3) Kehandalan, yaitu barang yang ditawarkan
ketika digunakan dalam periode waktu ter
tentu dapat berfungsi dengan baik.
4) Ketepatan, yaitu spesifikasi barang yang di
tawarkan sesuai dengan yang diinginkan
konsumen. Misalnya, jika konsumen menginginkan gula pasir yang putih bersih dan
dibungkus dengan bobot 1 kg/bungkus, ma
ka gula pasir yang dijual oleh unit usaha BUM
Desa harus sesuai dengan keinginan konsu
men itu dan ukurannya harus tepat.
5) Daya tahan, yaitu masa pakai atau keawetan
barang dapat berumur relatif lama.
6) Estetis, yaitu keindahan atau kerapihan barang. Barang yang dikemas dengan apik (ra
pih, bersih dan indah) lebih menarik konsu
men untuk membelinya.

Kelayakan Usaha BUM Desa

39

b. Kualitas produk yang berupa jasa dapat dinilai


dari segi:
1) Keandalan, yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan janji
yang ditawarkan.
2) Kesigapan, meliputi: kesigapan karyawan
dalam melayani pelanggan, ketepatan karya
wan dalam menangani transaksi, dan pena
nganan keluhan pelanggan.
3) Jaminan kepastian, meliputi: kepastian
waktu, harga, informasi tentang produk, dan
macam-macam pelayanan yang dijanjikan.
4) Perhatian, meliputi: kemudahan untuk meng
hu
bungi BUM Desa, keramahan dan ke
so
panan petugas dalam memberi pelayan
an,
dan upaya untuk memahami keinginan dan
kebutuhan konsumen.
2. Perencanaan jumlah Produksi
Aktivitas produksi hendaknya
direncanakan dengan ba
ik
agar produksi yang diha
sil
kan tidak terlalu banyak atau
terlalu sedikit. Dalam usaha
yang menghasilkan barang,
ada beberapa hal yang perlu

40

Kelayakan Usaha BUM Desa

Pastikan bahwa rencana


jumlah produksi dari
unit usaha BUM Desa
dapat diperhitungkan
dengan tepat.

diperhitungkan dalam merencanakan jumlah produksi, yaitu:


1) Jumlah Permintaan. Perkiraan jumlah permintaan
konsumen dapat diperkirakan melalui survey/riset
pasar.
2) Kapasitas produksi. Jumlah produksi dapat di
perhitungkan berdasarkan kapasitas (kemampu
an) peralatan dan bahan baku yang tersedia.
3) Modal kerja. Kemampuan modal kerja dalam
membiayai proses produksi hendaknya tersedia
sesuai dengan yang diperlukan.
3. Persediaan bahan baku
Persediaan bahan baku digunakan untuk menjaga keberlangsungan proses pro
Pastikan bahwa persedia
duksi dan mengantisipasi
an bahan baku dari unit
permintaan konsumen yang
usaha BUM Desa cukup
tersedia dan dapat di
meningkat secara tajam.
kendalikan dengan baik.
Persediaan bahan baku yang
tidak lancar akan mengura
ngi jumlah barang jadi yang
dapat dihasilkan. Jumlah persediaan bahan baku hendaknya sesuai dengan kebutuhan, yakni jangan terlalu
banyak atau terlalu sedikit. Oleh karena itu diperlukan

Kelayakan Usaha BUM Desa

41

manajemen pengendalian persediaan bahan baku, sehingga bahan baku selalu tersedia dengan cukup.
4. Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi berkaitan
dengan kemampuan unit
produksi untuk menghasilPastikan bahwa kapasi
kan barang atau jasa dalam
tas produksi dari unit
usaha BUM Desa mamwaktu tertentu. Misalnya, me
pu memenuhi kebutuh
sin pompa air memiliki ke
an seluruh konsumen.
mampuan menghasilkan air
sekian meter kubik per jam,
berapa kuintal pupuk yang
dapat disediakan per bulan, berapa juta rupiah dana
yang mampu disediakan per hari atau per minggu untuk usaha simpan-pinjam, dan lain-lain. Dalam hal ini
unit usaha BUM Desa harus dapat menentukan berapa
kapasitas produksi dari usaha yang akan dijalankan.
Kemudian menentukan apakah kapasitas produksinya
dapat memenuhi seluruh kebutuhan konsumen dalam
waktu tertentu. Jika kapasitas produksi tidak mampu
memenuhi kebutuhan konsumen, risikonya adalah konsumen akan kesulitan mendapatkan produk tepat waktu dan tepat jumlah. Jika ini terjadi, besar kemungkinan
unit usaha BUM Desa akan ditinggalkan konsumen dan
pindah ke perusahaan lain.

42

Kelayakan Usaha BUM Desa

5. Pemilihan Teknologi
Teknologi untuk mempro
duksi barang maupun jasa
berkembang terus sesuai
Pastikan bahwa proses
dengan kemajuan jaman.
produksi barang atau
jasa menggunakan tek
Saat ini banyak pilihan tek
nologi yang tepat.
nologi yang tersedia, mulai
dari teknologi yang cukup
sederhana hingga teknologi
yang canggih. Penggunaan
teknologi yang canggih belum tentu menguntungkan jika digunakan dalam proses produksi yang akan
dijalankan. Oleh karena itu, untuk memilih teknologi
yang sesuai (tepat guna) dengan kegiatan usaha yang

Kelayakan Usaha BUM Desa

43

akan dijalankan perlu mempertimbangkan beberapa


hal sebagai berikut:
1) Kemampuan keuangan untuk menggunakan tek
nologi.
2) Kemampuan atau penguasaan tenaga kerja dalam
penggunaan teknologi.
3) Kesesuaian teknologi dengan bahan baku yang
akan digunakan dalam proses produksi.
4) Kemungkinan pengembangan teknologi di masa
yang akan datang.
5) Keberhasilan penggunaan teknologi sejenis di tempat lain2.
6. Penentuan Lokasi Usaha
Lokasi usaha merupakan
faktor yang dapat mempe
ngaruhi kelancaran jalannya
Pastikan bahwa pemilikegiatan usaha karena erat
han lokasi unit usaha
kaitannya dengan pema
BUM Desa sudah tepat
dan sesuai dengan ke
sar
an produk, biaya peng
giatan produksinya
angkutan, dan persediaan
ba
han baku. Faktor lokasi
ha
rus diperhitungkan dan
dipertimbangkan secara tepat dan benar, baik dari segi
2

44

(http://www.academia.edu/2714019/ANALISIS_USAHA_UKM).

Kelayakan Usaha BUM Desa

ekonomisnya maupun dari segi teknis serta kemungkinan pengembangan usaha di masa datang (Ibrahim,
2009). Untuk menentukan lokasi perlu mempertimbangkan jenis kegiatan produksi yang akan dijalankan.
a. Bagi Usaha yang Memproduksi Barang

Pilihan lokasi unit usaha BUM Desa perlu dikaji
dari beberapa faktor.
Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan,
antara lain:
1) Lokasi calon konsumen. Mendirikan usaha di
dekat lokasi konsumen dapat menguntung
kan bagi kedua belah pihak, baik bagi unit
usaha BUM Desa maupun konsumen. Dekat
nya jarak antara lokasi usaha dengan lokasi
konsumen (target pasar) dapat menekan bi
aya yang pada akhirnya akan berpengaruh
pada harga yang lebih murah.
2) Letak bahan baku utama. Mendirikan usaha
dekat dengan pusat bahan baku akan meng
untungkan, karena memudahkan dalam
memperoleh bahan baku dan biayanya lebih
murah.
3) Sumber tenaga kerja. Jika sumber tenaga
kerja dekat dan mudah didapat di sekitar lo
kasi usaha akan sangat membantu dalam
proses pengelolaan tenaga kerja.
Kelayakan Usaha BUM Desa

45

4) Sumber daya seperti air, kondisi udara, dan


tenaga listrik yang tersedia di sekitar lokasi
usaha adalah penting bagi kelancaran pro
ses produksi sehingga faktor-faktor ini perlu
dipertimbangkan secara seksama.
5) Ketersediaan fasilitas transportasi yang memadai untuk memindahkan bahan baku ke
lokasi usaha dan memindahkan hasil pro
duksi dari lokasi usaha ke pasar.
6) Ketersediaan fasilitas untuk usaha, seperti
pengadaan onderdil untuk kendaraan atau
mesin produksi, serta fasilitas untuk karyawan
seperti ruang kerja, tempat untuk istirahat,
tempat peribadatan (misal: musholla), dan
seterusnya.
7) Lingkungan masyarakat sekitar yang akan
mempengaruhi aktivitas usaha baik secara
positif maupun negatif. Oleh karena itu, sebelum usaha didirikan perlu dikaji dampak
positif maupun negatif keberadaan lokasi
usaha bagi lingkungan masyarakat di sekitar
lokasi usaha.
8) Peraturan pemerintah, misalnya dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah perlu diperha
tikan. Jangan sampai terjadi pelanggaran terhadap peraturan pemerintah tersebut.

46

Kelayakan Usaha BUM Desa

b. Bagi Usaha Jasa



Ada dua macam cara yang dapat ditempuh suatu unit usaha dalam berhubungan dengan konsumen, yaitu:
1) Pelanggan datang ke lokasi fasilitas jasa, mi
salnya: nasabah mendatangi kantor pelayan
an jasa simpan-pinjam (perkreditan).
2) Penyedia jasa mendatangi konsumen, seperti
mobil angkutan barang mendatangi lokasi
pengumpulan hasil pertanian/perkebunan
untuk selanjutnya diangkut ke pabrik atau
ke pasar; melakukan layanan langsung ke
rumah konsumen (misal: penyerahan uang
pinjaman konsumen, penarikan setoran uang
pembayaran jasa air atau listrik, dan lain-lain).

Apabila cara pertama yang ditempuh, maka penentuan lokasi fasilitas jasa perlu mempertimbangkan ba
nyak hal, antara lain: mudah dan dapat diakses oleh
konsumen, tempat parkir yang memadai, dapat diperluas, lingkungan yang mendukung usaha (aman dan
nyaman), memiliki keunggulan kompetitif daripada
lokasi pesaing, dan ijin lokasi atau ijin gangguan dari
pihak berwenang.

Kelayakan Usaha BUM Desa

47

7. Perencanaan Tata letak (Layout)


Pengaturan tata letak tempat yang akan digunakan
sebagai basis kegiatan usa
Pastikan bahwa tata letak
ha perlu direncanakan de
tempat atau fasilitas unit
ngan baik. Ketepatan dalam
usaha BUM Desa sudah
mengatur tata letak tempat
tepat.
usaha akan berpengaruh
ter
hadap kelancaran dalam
menjalankan berbagai aktivitas, baik aktivitas produksi maupun pelayanan kepada
konsumen. Dalam hal penataan letak tempat usaha
perlu memperhatikan jenis kegiatan usahanya.
a. Bagi Usaha yang Memproduksi Barang
Bagi unit usaha BUM Desa yang memproduksi
barang, paling tidak ada tiga jenis tempat yang
perlu diatur tata letaknya, yaitu letak pabrik, kantor, dan gudang. Idealnya, ketiga tempat tersebut
dibuat secara terpisah tetapi berada dalam satu
kompleks sehingga memudahkan dalam penge
lolaannya.
b. Bagi Usaha Jasa
Tata letak fasilitas jasa yang tersedia akan berpengaruh pada persepsi konsumen atas kualitas
suatu jasa. Persepsi konsumen terhadap kualitas
suatu jasa dapat dipengaruhi oleh suasana yang
48

Kelayakan Usaha BUM Desa

ditimbulkan oleh penataan luar (eksterior) maupun penataan dalam (interior) dari fasilitas jasa
tersebut. Dengan demikian, keserasian, keasrian/
keindahan, kebersihan, dan ketepatan tata letak
dari lingkungan tempat penyampaian jasa menjadi penting untuk diperhatikan. Penataan tempat
layanan jasa yang nyaman dan aman akan me
nimbulkan rasa senang bagi konsumen.
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis dan tekno
logi dapat diketahui layak atau tidak layak suatu
unit usaha BUM Desa untuk dijalankan. Suatu unit
usaha dikatakan layak apabila unsur-unsur yang
terkandung dalam aspek teknis dan teknologi
men
dukung untuk menjalankan kegiatan usaha
BUM Desa. Jika aspek teknis dan teknologi kurang
atau tidak layak, perlu diupayakan alternatif untuk
mengkondisikan unsur-unsur teknis atau teknologi
agar layak untuk mengoperasikan unit usaha. Mi
salnya, apabila belum tersedianya tenaga terampil
mengoperasikan alat produksi yang akan digunakan maka perlu dilakukan pelatihan terlebih dahu
lu, apabila kapasitas produksinya belum mampu
memenuhi kebutuhan konsumen maka perlu menambah alat produksi, dan sebagainya. Apabila
tidak ada alternatif yang memungkinkan suatu unit
usaha BUM Desa menjadi layak, maka sebaiknya
rencana usaha itu ditunda atau dibatalkan saja.
Kelayakan Usaha BUM Desa

49

Pada Kotak 2 dapat disimak contoh kajian kelayakan


usaha pada aspek teknis dan teknologi yang disarikan dari
kajian kelayakan usaha yang dilakukan BUM Desa GANTING di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten
Bantaeng.

Kotak 2.
Kajian aspek teknis dan teknologi yang dilakukan BUM Desa
GANTING di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten
Bantaeng untuk Unit Usaha Pengelolaan Air Minum, sebagai
berikut:
1. Perencanaan produk
Produk yang akan dihasilkan adalah layanan air minum
yang disalurkan langsung ke rumah pelanggan/konsumen
melalui instalasi perpipaan dan dilengkapi dengan alat me
teran air. Jasa layanan air minum ini sesuai dengan kebu
tuhan warga masyarakat, terutama mereka yang tinggal
di wilayah permukiman yang jauh dari lokasi sumber air
bersih. Dengan adanya layanan air minum tersebut, masya
rakat akan terbantu dalam memenuhi kebutuhan air bersih
dengan mudah.

50

Kelayakan Usaha BUM Desa

2. Kualitas produk
Air yang didistribusikan kepada konsumen langsung ber
asal dari alam (mata air) dengan kualitas yang baik (jernih/
bersih) dan sangat layak dikonsumsi untuk bahan baku
memasak makanan dan minuman. Air yang didistribusikan
kepada pelanggan dapat mengalir terus-menerus sepanjang waktu sehingga di rumah konsumen selalu tersedia air
bersih. Selain itu, BUM Desa Ganting mampu memberikan
pelayanan yang baik kepada konsumen, baik pelayanan
dalam hal teknis (misalnya: pemasangan dan perbaikan
kerusakan instalasi air) maupun pelayanan administrasi
(misalnya: pendaftaran pelanggan, pencatatan volume air
yang digunakan pelanggan, penerimaan/ penagihan biaya
bulanan, dll). Tersedianya tenaga teknis yang berasal dari
dalam desa sendiri, maka setiap ada pengaduan terjadinya
gangguan dapat segera diatasi/diperbaiki.
3. Persediaan bahan baku
Berdasarkan pengalaman sejarah, sejak dahulu sampai de
ngan saat ini sungai dan sejumlah mata air yang berasal dari
hutan desa di pegunungan tidak pernah kering. Dengan demikian bahan baku berupa air bersih selalu tersedia dengan
volume yang cukup memadai untuk menyuplai kebutuhan
seluruh warga desa.

Kelayakan Usaha BUM Desa

51

4. Teknologi yang digunakan dan kapasitas produksi


Teknologi yang digunakan cukup sederhana, yaitu de
ngan teknik gravitasi bumi. Air yang bersumber dari mata
air di puncak gunung dialirkan ke bak penampungan yang
ditempatkan di lokasi yang lebih rendah, kemudian dari
bak penampungan tersebut dipasang pipa-pipa untuk me
nyalurkan air ke rumah-rumah konsumen. Penggunaan
teknologi gravitasi bumi memiliki beberapa keuntungan,
antara lain: hemat biaya karena tidak perlu menggunakan
mesin, pembangunan infrastruktur dan perawatannya mudah sehingga sangat memungkinkan ditangani oleh tenaga
lokal.
Kapasitas produksi dapat disesuaikan dengan kemampuan
BUM Desa untuk membiayai pengadaan sarana perpipaan
dan alat meter air. Kapasitas produksi diukur berdasarkan
kemampuan BUM Desa untuk melayani pemasangan perpipaan yang tersambung di rumah-rumah konsumen. Untuk
sementara kapasitas produksinya sebanyak 400 sambungan
atau 400 pelanggan, di masa mendatang kapasitas produksi ini dapat ditingkatkan lagi sesuai permintaan warga desa
serta kemampuan pembiayaan yang dimiliki BUM Desa.

52

Kelayakan Usaha BUM Desa

5. Lokasi usaha
Kegiatan usaha pengelolaan air minum sepenuhnya berada
di dalam Desa Labbo. Meskipun sumber air bersih terletak
di lokasi yang cukup jauh, sekitar 4-5 km dari permukiman
warga, tetapi hal tersebut dapat mudah diatasi dengan pemasangan perpipaan. BUM Desa Ganting juga telah memiliki kantor yang terletak di pusat pemerintahan Desa Labbo,
dan mudah dijangkau oleh seluruh pelanggan yang memerlukan layanan.
Berdasarkan hasil kajian unsur-unsur yang terkait dengan
aspek teknis dan teknologi, ternyata semuanya menunjuk
kan kegiatan usaha pengelolaan air minum layak dijalan
kan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

53

Bagian IV
ASPEK MANAJEMEN DAN SDM

Aspek Manajemen
Aspek manajemen untuk membangun usaha didasarkan pada pendekatan fungsi manajemen, meliputi:
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Tujuan kajian kelayakaan usaha pada aspek
manajemen adalah untuk mengetahui apakah pembentukan dan pelaksanaan usaha dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan.
1. Perencanaan
Tujuan dari gagasan menjalankan usaha/proyek adalah untuk memperoleh keuntungan atau kemanfaatan.
Untuk mencapai tujuan ini diperlukan suatu perenca
naan secara menyeluruh beserta kebijakan yang di
perlukan. Untuk itu perlu disusun suatu program kerja

Kelayakan Usaha BUM Desa

55

untuk mencapai tujuan yang


telah ditetapkan serta me
nyusun
kegiatan-kegiatan
Pastikan bahwa unit usayang diperlukan (Ibrahim,
ha BUM Desa yang akan
dijalankan/dikembang2009). Perencanaan dalam
kan dapat direncanakan
ang
garan unit usaha BUM
dengan baik.
Desa juga harus dilakukan
dengan sebaik mungkin, mi
salnya membuat anggaran
pembelian, anggaran produksi, anggaran penjualan,
dan anggaran lainnya disesuaikan keperluan usaha
yang akan dijalankan. Dalam merencanakan anggar
an harus detail, misalnya anggaran pembelian bahan,
bahan apa dan berapa jumlahnya yang akan dibeli,
berapa harganya, siapa yang menangani pembelian,
dimana membelinya, dan sebagainya.
Perencanaan dalam pengadaan karyawan disesuaikan
dengan rencana proses produksi, kegiatan yang akan
dilakukan, persyaratan yang diperlukan dan jumlah
karyawan yang dibutuhkan. Demikian pula perencanaan dalam bidang produksi, perlu direncanakan jenis
produk, jumlah produk (untuk barang) dan standar
kualitas produk yang akan dihasilkan, bahan baku
yang diperlukan, peralatan yang akan digunakan, pe
tugas yang menangani proses produksi, dan sebagai
nya. Perencanaan dalam bidang penjualan juga perlu

56

Kelayakan Usaha BUM Desa

dibuat, antara lain: jumlah produk yang akan dijual,


bentuk promosi yang diperlukan, daerah penjualan,
cara mendistribusikan produk, biaya penjualan, penetapan harga, saluran pemasaran, sistem pembayaran,
dan sebagainya.
2. Pengorganisasian
Dalam menilai kelayakan usaha, BUM Desa mengkaji
beberapa hal, seperti:
a. Bagaimana langkah-langkah dalam pengorgani
sasian?

Secara garis besar, langkah-langkah dalam mela
kukan proses pengorganisasian meliputi.:
1) Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksa
nakan untuk mencapai tujuan dari unit usaha
yang akan dijalankan.
2) Membagi beban kerja secara jelas dan pro
porsional sehingga dapat dilakukan oleh se
seorang atau oleh sekelompok orang.
3) Menetapkan mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan anggota organisasi dalam
satu kesatuan yang harmonis, memantau
efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.

Kelayakan Usaha BUM Desa

57

b. Bagaimana asas organisasi yang hendaknya di


pilih?
Asas-asas organisasi merupakan pedoman yang
perlu dilaksanakan agar diperoleh suatu struktur
organisasi yang baik dan aktivitas organisasi dapat berjalan dengan lancar. Asas-asas organisasi
terdiri dari: perumusan tujuan organisasi, penyusunan bagian-bagian organisasi yang diperlukan,
pembagian kerja yang jelas, koordinasi, pelimpah
an wewenang, rentang kendali, jenjang organisasi, kesatuan perintah, dan asas keluwesan dimana
struktur organisasi hendaknya mudah diubah untuk disesuaikan dengan perubahan-perubahan
yang terjadi tanpa mengurangi kelancaran aktivitas yang sedang berjalan. Apabila asas organisasi
tersebut dapat diterapkan dengan baik, maka
akan sangat mendukung kelancaran kegiatan
usaha BUM Desa.
c. Bagaimana struktur organisasi yang dirancang?

Struktur organisasi adalah susunan dan hubungan
antara bagian dan posisi dalam perusahaan. Struktur organisasi menjelaskan pembagian akti
vitas
kerja, serta memperhatikan hubungan fungsi dari
aktivitas tersebut. Struktur organisasi juga menjelaskan hierarki (jenjang atau tingkatan) dan susun
an kewenangan, serta hubungan pertanggungja

58

Kelayakan Usaha BUM Desa

waban (siapa melapor


pada siapa). Hal terpen
ting dalam pe
nyusunan
Unit usaha BUM Desa
yang akan dijalankan
struktur orga
nisasi ini
hendaknya telah memili
adalah rancangan strukki asas dan struktur orga
tur organisasi yang disunisasi yang jelas, efektif
dan efisien.
sun ha
rus fungsional,
efektif, dan efisien. Arti
nya, susunan organisasi
unit usaha BUM Desa itu harus dapat menggambarkan tugas pokok dan fungsi setiap bagian orga
nisasi, hubungan ketugasan antar bagian harus
jelas, dan susunan organisasi disesuaikan dengan
keperluan (tidak terlalu gemuk).
3. Pelaksanaan
Salah satu fungsi manajemen adalah pelaksanaan ke
giatan. Apakah suatu kegiatan usaha dapat dilaksa
nakan, sangat dipengaruhi
oleh kualitas perencanaan,
pengorganisasian, dan kualiSebelum unit usaha
tas sumber daya manusia.
BUM Desa dijalankan,
harus dipastikan bahwa
Oleh karena itu seluruh ke
seluruh kegiatan usaha
giatan usaha harus direnca
yang direncanakan danakan dengan matang dan
pat dilaksanakan dengan
baik.
rinci, serta sistem pengor-

Kelayakan Usaha BUM Desa

59

ganisasian harus baik. Selain itu, diperlukan sumber


daya manusia yang cukup jumlahnya, terampil dan
menguasai bidang tugasnya. Ini semua dimaksukan
agar aktifitas-aktifitas untuk menjalankan unit usaha
BUM Desa dapat dilaksanakan dengan baik.
4. Pengendalian
Pengendalian atau pengawasan di dalam manajemen
memiliki berbagai fungsi
pokok. Fungsi pokok pe
ngendalian tersebut adalah:

Pastikan bahwa fungsi


pengendalian terhadap
unit usaha BUM Desa
yang akan dijalankan
dapat berjalan dengan
efektif.

a. Mencegah
terjadinya
penyimpangan-penyim
pangan atau kesalahan.
Ini dapat dila
kukan de
ngan pengawasan secara rutin disertai adanya ke
tegasan-ketegasan dalam pemberian sangsi terha
dap penyimpangan yang terjadi.
b. Memperbaiki berbagai penyimpangan yang terjadi. Jika penyimpangan telah terjadi, hendaknya
pengawasan/pengendalian dapat menghasilkan
perbaikan.
c. Mendinamisasikan organisasi. Dengan adanya pe
ngawasan diharapkan sedini mungkin dapat dice
gah terjadinya penyimpangan-penyimpangan, se
60

Kelayakan Usaha BUM Desa

hingga setiap unit organisasi selalu dalam keadaan


bekerja secara efektif dan efisien.
d. Mempertebal rasa tanggung jawab. Dengan ada
nya pengendalian/ pengawasan yang rutin, setiap
unit organisasi berikut karyawannya dapat selalu
mengerjakan semua tugas yang diberikan dengan
benar.

Aspek Sumber Daya Manusia


Rencana usaha yang
akan dijalankan melalui
pengembangan BUM Desa
secara rutin memerlukan
kelayakan aspek Sumber
Daya Manusia (SDM). Keberadaan SDM hendaknya
dianalisis untuk menjawab
apakah memiliki SDM
yang diperlukan untuk
menjalankan unit usaha
BUM Desa secara layak?

Untuk menjalankan kegiatan


usaha, harus dipastikan bahwa
tersedia SDM yang berkualitas
dan mampu membangun ke
kompakan serta keselarasan
kerja untuk menjalankan unit
usaha BUM Desa.

Kajiannya dapat dimulai dari merencanakan siapa yang


akan memimpin BUM Desa atau unit usaha BUM Desa dan
siapa yang akan tergabung di dalam timnya. Menganalisis pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan dan siapa

Kelayakan Usaha BUM Desa

61

yang akan melaksanakan. Kesuksesan dalam menjalankan


suatu unit usaha sangat tergantung pada SDM yang solid
antara manajer pelaksana bersama timnya. Dalam membangun sebuah tim yang efektif, pertimbangannya bukan
hanya pada keahlian teknis para manajer dan anggota tim
semata, tetapi juga kemauan mereka untuk bekerja de
ngan baik.

Kotak 3 merupakan contoh kajian aspek manajemen


dan sumberdaya manusia yang dimodifikasi dari hasil
kajian kelayakan usaha yang dilakukan BUM Desa GANTING di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten
Bantaeng.

62

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kotak 3.
Kajian aspek manajemen dan sumberdaya manusia yang dilakukan BUM Desa GANTING di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng untuk Unit Usaha Pengelolaan Air
Minum, sebagai berikut:
1. Perencanaan kegiatan usaha
Penyusunan rencana kegiatan usaha pengelolaan air mi
num dilakukan secara partisipatif, yaitu dengan melibatkan
warga desa dalam suatu forum musyawarah desa. Proses
perencanaan kegiatan usaha diawali dengan penyusunan
rencana operasional yang dilakukan oleh Direktur BUM
Desa GANTING beserta tim. Setelah rencana operasio
nal selesai disusun, kemudian dibahas secara internal Tim
dengan melibatkan Kepala Desa selaku Komisaris BUM
Desa. Rencana operasional tersebut meliputi: rencana pe
ngadaan bahan dan peralatan (pipa, meteran air, semen,
pasir, dll), kegiatan pemasangan peralatan, anggaran biaya
beserta sumbernya, pemasangan sarana perpipaan, aturan
main yang dituangkan dalam bentuk peraturan BUM Desa,
proses perijinan, dan lain-lain.
Setelah rencana operasional selesai disusun oleh Tim, selanjutnya dibawa ke Forum Musyawarah Desa untuk di-

Kelayakan Usaha BUM Desa

63

musyawarahkan dan disepakati bersama warga masyarakat.


Dengan cara demikian ini, warga masyarakat dapat ikut
mendukung kelancaran dari pelaksanaan kegiatan yang
telah direncanakan bersama.
2. Pengorganisasian
Pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan usaha pengelola
an air minum meliputi: pekerjaan manajerial, pekerjaan
teknis, dan pekerjaan administratif. Pekerjaan manajerial
ditangani oleh Direktur BUM Desa dan Kepala Unit Usaha
Pengelolaan Air Minum. Tugas dan kewenangan Direktur
membuat program dan kebijakan BUM Desa, memimpin,
mengkoordinasi, serta melakukan pengawasan terhadap
kinerja Kepala Unit Usaha beserta seksi-seksi. Kepala Unit
Usaha bertugas memimpin, mengkoordinasi, dan mengawasi pelaksanaan tugas seksi-seksi.
Pekerjaan teknis meliputi pemasangan, perawatan, dan
perbaikan instalasi air. Pekerjaan ini ditangani seksi instalasi
dan perawatan. Pekerjaan administratif dibagi menjadi 2,
yaitu: pekerjaan pencatatan meteran air ditangani oleh seksi pencatat meteran, dan pekerjaan administrasi ditangani
seksi pelayanan administrasi.

64

Kelayakan Usaha BUM Desa

3. Pelaksanaan kegiatan usaha


Pelaksanaan kegiatan usaha pengelolaan air minum diyaki
ni dapat berjalan lancar. Ini dikarenakan rencana kegiatan
atau jenis pekerjaan telah dirumuskan dengan jelas, aturan
main juga jelas yaitu dalam bentuk Peraturan BUM Desa
Ganting Nomor: 02/BMDs-GT/LB/KTB/VI/2010 tentang
Pengelolaan Air. Selain itu, tersedianya sumber daya manu
sia yang terampil/ mumpuni dan tersedianya anggaran bia
ya yang cukup memungkinkan kegiatan usaha ini dilaksa
nakan.
4. Pengendalian
Pengendalian dapat dijalankan secara efektif, karena BUM
Desa Ganting telah memiliki mekanisme laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan usaha. Disamping
itu, warga masyarakat juga dapat ikut melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan usaha pengelolaan
air, dan jika terjadi penyimpangan dapat dibawa ke dalam
forum musyawarah desa.
5. Sumber daya manusia
Pengelola BUM Desa Ganting merupakan orang-orang yang
memiliki kompetensi memadai, yaitu: memahami kondisi
masyarakat Desa Labbo, memiliki pengetahuan dan penga

Kelayakan Usaha BUM Desa

65

laman dalam bidang pengelolaan air, dan memiliki pengalaman berorganisasi.


Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil kajian aspek
manajemen dan sumber daya manusia cukup memadai
untuk menjalankan kegiatan usaha BUM Desa. Oleh ka
rena itu, kegiatan usaha pengelolaan air minum dapat
dinyatakan layak untuk dilaksanakan.

66

Kelayakan Usaha BUM Desa

Bagian V
ASPEK KEUANGAN

ajian aspek keuangan dimaksudkan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan
manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan
antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan
dana, biaya modal, kemampuan usaha untuk membayar
kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan
dan menilai apakah usaha akan dapat berlanjut.
Tujuan menganalisis aspek keuangan adalah untuk
mengetahui perkiraan pendanaan dan aliran kas dari renca
na usaha, sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya
suatu unit usaha BUM Desa dijalankan.
Aspek keuangan yang perlu dikaji meliputi:
1)
2)
3)
4)

kebutuhan dana serta sumbernya,


aliran kas,
perkiraan laba-rugi, dan
penilaian investasi rencana usaha.
Kelayakan Usaha BUM Desa

67

Untuk menilai investasi dari rencana usaha dapat dilakukan dengan berbagai metode. Namun untuk keperluan
kajian kelayakan usaha BUM Desa metode yang disajikan
dalam buku ini sengaja dipilih metode yang cukup mudah digunakan. Metode penilaian investasi yang dimaksud
meliputi: Profitability Index, Net Present Value, Pay Back
Period dan Break Even Point.

Kebutuhan Dana dan Sumbernya


Untuk merealisasikan usaha/bisnis dibutuhkan dana
untuk biaya investasi. Biaya investasi diperlukan untuk
membangun/mendirikan usaha, misalnya: pengadaan ta
nah, bangunan, mesin, peralatan, biaya pemasangan, bia
ya kajian kelayakan usaha, pengurusan perijinan, dan lainlain. Barang dan segala sesuatu yang diperoleh dengan
biaya investasi ini disebut harta tetap. Contoh perhitungan
biaya investasi dapat dilihat pada Tabel 1.
Di samping untuk biaya investasi, dana juga dibutuhkan untuk modal kerja. Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan usaha setelah rencana
usaha nantinya siap dijalankan. Setiap jenis kegiatan usaha
yang berbeda tentunya berbeda pula jenis biaya usaha atau
biaya produksinya. Oleh karena itu, macam-macam biaya
yang dikeluarkan untuk modal kerja disesuaikan dengan
jenis kegiatan usahanya. Ini disebabkan oleh perbedaan
68

Kelayakan Usaha BUM Desa

cara, alat, bahan dan kebutuhan lainnya dalam mempro


duksi barang/jasa serta pemasarannya. Sebagai contoh,
Tabel 2 menggambarkan Modal Kerja untuk usaha jasa pe
ngelolaan air BUM Desa GANTING.
Setelah diketahui jumlah dana yang dibutuhkan, yang
perlu diketahui lebih lanjut adalah dari mana sumber dana
itu dapat diperoleh (contoh lihat Tabel 3).
Sumber dana atau permodalan BUM Desa dapat bersumber dari :
a. Kekayaan Desa yang dipisahkan;
b. Tabungan masyarakat;
c. Bantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan
Pemerintah Daerah;
d. Pinjaman; dan/atau
e. Penyertaan modal pihak lain/kerjasama bagi hasil.

Kelayakan Usaha BUM Desa

69

70

Kelayakan Usaha BUM Desa

B.

URAIAN

204
1,600
800
400

2. Pipa type AW

3. Sambungan L

4. Double Neppel

5. Stop kran

TOTAL BIAYA PERALATAN (A)

400

VOLUME

1. Meteran air

BELANJA PERALATAN INSTALASI AIR:

TOTAL INVESTASI TANAH & BANGUNAN

2. Bangunan **)

1. Tanah *)

A. BIAYA INVESTASI TANAH dan BANGUNAN:

NO

buah

buah

buah

batang

buah

SATUAN

35,000

5,000

2,000

15,000

75,000

HARGA
SATUAN

54,260,000

14,000,000

4,000,000

3,200,000

3,060,000

30,000,000

JUMLAH

Tabel 1.
Perhitungan Biaya Investasi (Modal Awal) Unit Usaha Pengelolaan Air Minum
BUM Desa GANTING di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng

Kelayakan Usaha BUM Desa

71

10
6

8. Semen

9. Pasir

3
3
1

13. Kursi

14. Meja

15. Almari arsip

TOTAL BIAYA PERLENGKAPAN KANTOR (C)

BELANJA PERLENGKAPAN KANTOR:

12. Komputer

D.

TOTAL BIAYA BAHAN, PEMASANGAN dan TRANSPORTASI (B)

11. Biaya transportasi

400

10

7. Plester pipa

6. Lem

BELANJA BAHAN, PEMASANGAN dan TRANSPORTASI:

10. Biaya pemasangan (instalasi)

C.

buah

buah

buah

set

kali

buah

m3

zak

buah

buah

500,000

300,000

100,000

5,000,000

200,000

20,000

180,000

40,000

3,000

6,000

6,700,000

500,000

900,000

300,000

5,000,000

10,540,000

1,000,000

8,000,000

1,080,000

400,000

30,000

30,000

72

Kelayakan Usaha BUM Desa

BIAYA LAINNYA:
1

1
paket

paket
1,400,000

2,050,000

76,450,000

3,450,000

1,400,000

2,050,000

: Data studi kelayakan usaha Unit Usaha Pengelolaan Air BUM Desa GANTING dengan modivikasi
dan rekalkulasi.
Keterangan : *)
Biaya investasi tanah tidak diperhitungkan, karena tanah milik desa dan perorangan yang
digunakan untuk membangun bak penampungan dan menanam perpipaan tidak dipungut
biaya.
**) Kantor dan Gudang Unit Usaha Pengelolaan Air BUM Desa Ganting menempati bangunan
milik Pemerintah Desa Labbo diasumsikan sewa per tahun Rp. 1,500,000.

Sumber

TOTAL INVESTASI (A+B+C+D+E)

TOTAL BIAYA LAINNYA (D)

17. Biaya pelatihan peningkatan kapasitas pengelola

16. Biaya rapat-rapat (termasuk Musdes)

E.

Kelayakan Usaha BUM Desa

73

12
12
12
12
12

e. Kepala Unit Usaha

f. Ketua Badan Pengawas

g. Wakil Ketua Badan Pengawas

h. Sekretaris Badan Pengawas

i. Anggota Badan Pengawas (2 org)

TOTAL MODAL KERJA

Lain-lain

12

d. Bendahara

bulan

bulan

bulan

bulan

bulan

bulan

bulan

bulan

bulan

paket

SATUAN

80,000

40,000

40,000

60,000

100,000

80,000

80,000

120,000

60,000

250,000

HARGA
SATUAN

8,170,0000

7,920,000

960,000

480,000

480,000

720,000

1,200,000

960,000

960,000

1,440,000

720,000

250,000

JUMLAH

Sumber : Data studi kelayakan usaha Unit Usaha Pengelolaan Air BUM Desa GANTING dengan modivikasi dan
rekalkulasi.

3.

12

c. Sekretaris

Total Insentif

12

b. Direktur

1
12

Insentif Pengurus/Pengelola:

2.

VOLUME

a. Komisaris

Alat Tulis dan Kantor (ATK)

URAIAN

1.

NO

Tabel 2.
Perhitungan Modal Kerja Unit Usaha Pengelolaan Air Minum BUM Desa GANTING
di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng

74

Kelayakan Usaha BUM Desa

3. Bahan, Pemasangan, Transport

4. Perlengkapan Kantor

5. Biaya lainnya

2. Insentif Pengelola

3. Biaya lainnya

TOTAL MODAL

1. ATK

MODAL KERJA

1,500,000

7,920,000

250,000

3,450,000

6,700,000

10,540,000

54,260,000

Pem. Kab

Pem. Prov

SUMBER dan JUMLAH DANA


Pem. Desa

2. Peralatan

1. Tanah dan Bangunan

INVESTASI

KLASIFIKASI MODAL

Lainnya

84,620,000

7,920,000

250,000

3,450,000

6,700,000

10,540,000

54,260,000

1,500,000

JUMLAH

Sumber : Data studi kelayakan usaha Unit Usaha Pengelolaan Air BUM Desa GANTING dengan modivikasi dan
rekalkulasi.

B.

A.

NO

Jumlah Dana yang diperlukan untuk Investasi dan Modal Kerja Unit Usaha Pengelolaan
Air Minum BUM Desa GANTING di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kabupaten Bantaeng

Tabel 3

Lebih lanjut, perlu dilakukan perhitungan biaya penyu


sutan terhadap investasi yang berbentuk harta tetap, misal
nya: gedung, mesin, komputer, meja-kursi, peralatan, dan
lain-lain. Perhitungan ini diperlukan untuk memperhitung
kan laba/rugi dari kegiatan usaha. Perhitungan biaya penyusutan dapat dilakukan berdasarkan satuan waktu hari,
minggu, bulan dan tahun. Penentuan satuan waktu tersebut disesuaikan keperluan dan sifat dari barang. Sebagai
contoh, Tabel 4 menggambarkan perhitungan biaya pe
nyu
sutan dari investasi kegiatan usaha pengelolaan air
BUM Desa GANTING.
Tabel 4.
Perhitungan Biaya Penyusutan Investasi Unit Usaha Pe
ngelolaan Air Minum BUM Desa GANTING di Desa Labbo
Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng
NO

JENIS HARTA
TETAP

HARGA

UMUR
EKONOMIS

BIAYA PENYUSUTAN/TH

1.

Meteran air

30,000,000

12 tahun

2,500,000

2.

Pipa type AW

3,060,000

12 tahun

255,000

3.

Sambungan L

3,200,000

12 tahun

266,667

4.

Double Neppel

4,000,000

12 tahun

333,333

5.

Stop kran

14,000,000

5 tahun

2,800,000

6.

Komputer

5,000,000

5 tahun

1,000,000

7.

Kursi

300,000

12 tahun

25,000

8.

Meja

900,000

12 tahun

75,000

9.

Almari arsip

500,000

12 tahun

41,667

TOTAL

60,960,000

7,296,667

Sumber : Data studi kelayakan usaha Unit Usaha Pengelolaan Air BUM Desa
GANTING dengan modivikasi dan rekalkulasi.

Kelayakan Usaha BUM Desa

75

Perkiraan Arus Kas


Berkaitan dengan kajian kelayakan usaha, perhitungan
terhadap arus/aliran kas (cash flow) penting dilakukan ka
rena laba dalam pengertian akuntansi tidak sama dengan
kas masuk bersih. Bagi pengelola keuangan, kas bersih
justru lebih penting untuk diketahui, karena hanya dengan
kas bersih ini perusahaan (BUM Desa) dapat melaksanakan
pembayaran kewajiban keuangannya.
Kas pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) macam peristi
wa, yaitu arus kas masuk dan arus kas keluar. Bagian arus
kas masuk mencatat semua penerimaan uang yang ber
asal dari hasil transaksi, misalnya: hasil penjualan tunai
barang, uang persewaan yang diterima, penerimaan uang
cicilan simpan-pinjam, kredit modal kerja kepada pihak
lain, penerimaan bunga simpanan uang dari bank, dan sebagainya. Sedangkan bagian arus kas keluar mencatat semua pengeluaran uang yang digunakan untuk: membayar
pegawai, pengadaan bahan baku, membeli bahan bakar,
membayar pajak, membayar bunga bank, menambah investasi, dan sebagainya.
Penyusunan perkiraan arus kas digambarkan sebagai
mana contoh pada Tabel 5. Contoh tersebut diambil dari
data kajian kelayakan kegiatan usaha pengelolaan air BUM
Desa GANTING yang telah dimodifikasi oleh penulis. Da
ta aslinya, arus kas dihitung dalam satuan waktu bulan dan

76

Kelayakan Usaha BUM Desa

oleh penulis dikonversi ke dalam satuan tahun. Jumlah


pelanggan diproyeksikan (diperkirakan) sebanyak 400 pe
langgan. Harga pemakaian air ditentukan sebesar Rp. 250/
m3 ditambah uang infak per pelanggan sebesar Rp. 500/
bulan. Rata-rata penggunaan air diproyeksikan sebanyak
25 m3/bln/pelanggan. Dengan demikian rata-rata pendapatan kotor per bulan yang diterima oleh BUM Desa GANTING dari seluruh pelanggan air sebesar
= (400 X 25 X Rp. 250) + (400 X Rp. 500)
= Rp. 2.700.000.
Pendapatan kotor per tahun sebesar
= Rp. 2.700.000 X 12 = Rp. 32.400.000.

Kelayakan Usaha BUM Desa

77

78

Kelayakan Usaha BUM Desa

5. Lain-lain

8,170,000

7,920,000

250,000

24,230,000 24,230,000

8,170,000

7,920,000

250,000

4. Pajak

ARUS KAS BERSIH ( A B )

32,400,000 32,400,000

TOTAL ARUS KAS KELUAR (B)

32,400,000 32,400,000

3. Bunga bank

2. Insentif Pengelola

1. ATK

ARUS KAS KELUAR

TOTAL ARUS KAS MASUK (A)

2. Lain-lain

1. Penerimaan infak dan biaya


pemakaian air

ARUS KAS MASUK

URAIAN

24,230,000

8,170,000

7,920,000

250,000

32,400,000

32,400,000

TAHUN KE:
5

8,170,000

7,920,000

250,000

24,230,000 24,230,000

8,170,000

7,920,000

250,000

32,400,000 32,400,000

32,400,000 32,400,000

Catatan: dalam periode 5 tahun jumlah pelanggan, tarif air dan biaya operasional diasumsikan tetap.

B.

A.

NO

Tabel 5.
Perkiraan Arus Kas Unit Usaha Pengelolaan Air Minum BUM Desa GANTING
di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng

Perkiraan Laba-Rugi
Perkiraan atau proyeksi laba-rugi penting dilakukan,
karena salah satu tujuan BUM Desa melakukan kegiatan
usaha adalah mendapatkan keuntungan atau laba usaha.
Apabila dari proyeksi laba-rugi menunjukkan rugi, maka sebaiknya rencana kegiatan usaha perlu dicari alternatif usaha
lain dengan cara memperhitungkan kembali aspek-aspek
keuangan agar mencapai keadaan yang dapat menghasilkan laba. Jika tidak ada alternatif, dan hasil proyeksi tetap
rugi, sebaiknya rencana kegiatan usaha dihentikan saja.
Tabel 6 berikut ini merupakan contoh proyeksi laba-rugi yang disarikan dari data kajian kelayakan usaha penge
lolaan air BUM Desa GANTING.

Kelayakan Usaha BUM Desa

79

80

Kelayakan Usaha BUM Desa

BIAYA USAHA

Total Biaya Usaha

5. Lain-lain

4. Biaya Penyusutan

3. Biaya promosi

2. Gaji/Insentif Pengelola

1. ATK

D.

TAHUN KE

7,296,667

7,920,000

250,000

15,466,667 15,466,667

7,296,667

7,920,000

250,000

15,466,667

7,296,667

7,920,000

250,000

32,400,000 32,400,000 32,400,000

LABA KOTOR ( A B )

3. Biaya Umum Pabrik

C.

1. Bahan Baku

BIAYA POKOK PRODUKSI *)

B.

32,400,000 32,400,000 32,400,000

2. Upah Tenaga Kerja

PENJUALAN

URAIAN

A.

NO

15,466,667

7,296,667

7,920,000

250,000

32,400,000

32,400,000

15,466,667

7,296,667

7,920,000

250,000

32,400,000

32,400,000

Tabel 6.
Proyeksi Laba-Rugi Unit Usaha Pengelolaan Air Minum BUM Desa GANTING
di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng

Kelayakan Usaha BUM Desa

81

BUNGA

LABA SEBELUM PAJAK (E-F )

PAJAK

LABA BERSIH (G H )

F.

G.

H.

I.

16,933,333 16,933,333 16,933,333

16,933,333 16,933,333 16,933,333

16,933,333

16,933,333

16,933,333 16,933,333 16,933,333 16,933,333


-

16,933,333

16,933,333

16,933,333

Keterangan : *) Kebetulan kasus pengelolaan air di Desa Labbo bahan baku air tinggal mengalirkan saja dari sumbernya sehingga tanpa biaya, dan tenaga kerja dirangkap oleh pengelola yang diberi tunjangan
(insentif) bulanan (dimasukkan dalam Biaya Usaha). Untuk kasus lain, harap menyesuaikan de
ngan keadaan setempat.

LABA USAHA (C D)

E.

Penilaian Investasi
Jika dalam periode yang sama terdapat beberapa usul
an rencana usaha yang ternyata layak untuk dijalankan, sedangkan dana yang tersedia tidak mencukupi, maka perlu
dicari jalan keluar. Salah satunya adalah dengan melakukan urutan prioritas terhadap usulan-usulan bisnis itu. Untuk melakukan penilaian investasi serta melakukan analisis
urutan prioritas adalah sebagai berikut.
a. Metode Pay Back Period (Waktu Kembali Modal)
Metode ini sederhana dan sudah dikenal secara umum.
Ketika seorang pemilik modal ditawari untuk mela
kukan investasi (modal) usaha maka ia akan berta
nya Berapa lama modal saya akan kembali? Dalam
manajemen keuangan hal itu dikenal dengan sebutan
payback period, yaitu suatu periode yang diperlukan
untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan
menggunakan aliran kas. Cara perhitungannya sederhana, sbb.:
Rumus:
Pay Back Period
= (Nilai Investasi Awal : Kas Masuk Bersih) X 1
tahun

82

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kriteria penilaian:
Jika Pay Back Period lebih pendek waktunya dari maksimum Pay Back Period yang dapat diterima, maka
usulan investasi dapat diterima. Misalnya kita mensya
ratkan Pay Back Period maksimum yang dapat dite
ri
ma adalah 5 tahun, sedangkan hasil perhitungan
menunjukkan 4 tahun, maka usulan investasi tersebut
DITERIMA
Metode Pay Back Period ini cukup sederhana, namun
mempunyai kelemahan. Kelemahan utamanya yaitu
periode ini tidak memperhatikan perubahan nilai uang
dalam periode mendatang. Selain itu juga tidak memperhatikan aliran kas masuk setelah modal kembali.
Jadi pada umumnya metode ini digunakan sebagai
pendukung metode lain yang lebih baik.
Contoh:
Investasi Awal unit usaha pengelolaan air BUM Desa
GANTING adalah sebesar Rp. 76.450.000,- (lihat
Tabel 1), dan Arus Kas Masuk Bersih sebesar Rp.
24.230.000,-. Berdasarkan data ini, dapat diperhitungkan Pay Back Period-nya sebagai berikut.
Payback Period = (76,450,000 / 24,230,000) X 1 tahun
= 3,16 tahun atau 3 tahun lebih 2 bulan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

83

Hasil perhitungan tersebut diatas menunjukkan bahwa


waktu yang diperlukan untuk kembali modal adalah
selama 3 tahun lebih 2 bulan. Jika batasan periode
waktu kembali modal yang dapat diterima adalah 5
tahun, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan usaha pengelolaan air BUM Desa GANTING dinyatakan
layak untuk direalisasikan, karena modal yang dita
namkan akan kembali dalam waktu yang lebih cepat
dari waktu maksimum yang dapat diterima.
b. Metode Net Present Value (NPV)
Net Present Value (nilai sekarang) yaitu selisih antara
biaya investasi dengan nilai sekarang dengan peneri
maan-penerimaan kas bersih (aliran kas operasional
maupun aliran kas terminal) di masa yang akan da
tang. Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang berlaku.
Rumus:
Keterangan:
AKt = aliran kas per tahun pada periode t
Io = investasi awal pada tahun ke-0
b = suku bunga (discount rate) biasanya suku
bunga sertifikat Bank Indonesia atau bunga deposito digunakan sebagai acuan
84

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kriteria penilaian:
-
-
-

jika NPV > 0, maka usulan rencana usaha diterima


jika NPV < 0, maka usulan rencana usaha ditolak
jika NPV = 0, nilai perusahaan tetap walaupun
usulan rencana usaha diterima ataupun ditolak.

Contoh:
Berikut ini merupakan perhitungan NPV berdasarkan
biaya investasi dan arus kas bersih bagi unit usaha
pengelolaan air BUM Desa GANTING. Total investasi
awal sebesar Rp. 76.450.000,- (lihat Tabel 1). Arus kas
bersih diasumsikan tetap/konstan selama periode 5
tahun, yaitu sebesar Rp. 24.230.000,-/tahun (lihat Tabel 5). Suku bunga bank diasumsikan 7% per tahun
(SBI Tahun 2010).

Kelayakan Usaha BUM Desa

85

Tabel 7.
Perhitungan NPV Arus Kas Bersih untuk Unit Usaha
Pengelolaan Air Minum BUM Desa GANTING
di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng
TH
ke

URAIAN

ALIRAN KAS
-74,950,000

DISCOUNT
RATE
(b=7%)

PRESENT
VALUE

Investasi Awal

Arus kas bersih tahun ke-1

24,230,000

0.93457944

22,644,860

Arus kasbersih tahun ke-2

24,230,000

0.87343873

21,163,420

Arus kasbersih tahun ke-3

24,230,000

0.81629788

19,778,898

Arus kas bersih tahun ke-4

24,230,000

0.76289521

18,484,951

Arus kas bersih tahun ke-5

24,230,000

0.71298618

17,275,655

NPV

1 -74,950,000

22,897,784

Berdasarkan contoh perhitungan NPV tersebut di atas,


maka dapat disimpulkan bahwa rencana kegiatan usaha
pengelolaan air BUM Desa GANTING layak untuk dijalankan, karena NPV = Rp. 22.897.784,-. Berarti NPV> 0
(bernilai positif).
c. Metode Profitability Index (PI)
Profitability Index (indeks untuk dapat untung) me
rupakan metode untuk menghitung perbandingan an
tara nilai arus kas bersih yang akan datang dengan
nilai investasi yang sekarang. Jadi profitability index

86

Kelayakan Usaha BUM Desa

dapat dihitung dengan membandingkan antara Present Value (PV) Kas Masuk dengan PV Kas Keluar.
Rumus:
PI = PV Kas Masuk : PV Kas Keluar
Kriteria Penilaian:
jika PI > 1, maka usulan rencana usaha dikatakan
menguntungkan;
jika PI < 1, maka usulan rencana usaha tidak
menguntungkan.
Contoh :
Dengan menggunakan nilai Present Value yang tercantum pada Tabel 7, kita dapat dengan mudah menghitung Profitability Index.
Caranya: PV untuk arus kas bersih tahun ke-1 sampai
dengan tahun ke-5 dijumlahkan, kemudian hasil penjumlahannya dibagi dengan PV investasi awal. Hasil
perhitungannya adalah sebagai berikut:
PI = Rp 99.347.784,- / Rp 76.450.000,= 1,30

Kelayakan Usaha BUM Desa

87

Kesimpulan:
Kegiatan usaha pengelolaan air BUM Desa GAN
TING jika dijalankan akan memperoleh untung/laba,
karena PI = 1,30. Berarti PI > 1.
d. Break Even Point (Titik Impas)
Analisis break even point atau titik impas digunakan
untuk mengetahui hubungan antara beberapa faktor di
dalam kegiatan perusahaan, seperti luas produksi atau
tingkat produksi yang dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang diterima perusahaan
dari kegiatannya. Pendapatan perusahaan merupakan
penerimaan yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan,
sedangkan biaya operasi merupakan pengeluaran untuk kegiatan perusahaan. Biaya operasi ini terbagi atas
dua bagian, yaitu biaya tetap dan biaya variabel (biaya
tidak tetap).
Biaya tetap adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh
naik atau turunnya produksi yang dihasilkan. Contoh:
gaji pengurus/pengelola BUM Desa, biaya rapat, biaya
penyusutan, bunga bank, dan lain-lain.
Biaya variabel atau biaya tidak tetap adalah biaya yang
jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubah
an
tingkat produksi. Contoh: biaya untuk membeli bahan baku, biaya bahan bakar mesin produksi, biaya

88

Kelayakan Usaha BUM Desa

pemasaran, biaya tenaga kerja langsung, dan sebagainya.


Break Even Point (BEP) merupakan keadaan yang
menunjukkan Total Pendapatan sama dengan Total
Biaya.
Total Pendapatan adalah jumlah unit barang terjual
dikalikan harga satuan barang, sedangkan total biaya
merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya
variabel. Rumus BEP adalah sebagai berikut:
BEP = Biaya Tetap : (Harga Jual per Unit Biaya Varia
bel Rata-Rata)
Contoh 1:
Biaya tetap pengelolaan air BUM Desa GANTING
sebesar Rp. 8.170.000,- per tahun atau Rp. 680.833,per bulan. Biaya tetap ini untuk membayar ATK dan
gaji/tunjangan pengurus dan pengelola. Biaya variabelnya Rp. 0,- karena produksi air tidak menggunakan
mesin (tinggal mengalirkan saja melalui perpipaan)
dan tidak ada biaya tenaga kerja langsung. Jumlah
pelanggannya sebanyak 400 rumahtangga. Berarti Biaya Tetap per pelanggan per bulan = Rp. 680.833,- :
400 = Rp. 1.702. Harga jual per M3 sebesar Rp. 250,-.
Berdasarkan data tersebut BEP dapat dihitung sebagai berikut:

Kelayakan Usaha BUM Desa

89

BEP = Biaya Tetap : (Harga Jual per Unit Biaya


Variabel Rata-Rata)
= 1.702 : (250 0) = 6.81
Makna dari hasil perhitungan tersebut adalah, untuk
mencapai BEP atau titik impas maka volume air yang
harus terjual kepada setiap pelanggan rata-rata 6,81
M3 per bulan, dengan catatan jumlah pelanggan tetap
sebanyak 400 rumahtangga.
Contoh 2 :
Untuk memperjelas perhitungan BEP, berikut ini merupakan contoh dengan permisalan seorang produsen
tempe:
Harga jual tempe per unit sebesar Rp 500,-, biaya
tetap sebesar Rp 10.000,-, dan biaya variabel sebesar Rp 100,-/unit, maka jumlah yang diproduksi agar
mencapai BEP adalah:
BEP = Biaya Tetap : (Harga Jual per Unit Biaya Variabel Rata-Rata)
= 10.000/ (500 100) = 10.000 / 400
= 25 unit

90

Kelayakan Usaha BUM Desa

Jadi jumlah produksi tempe agar mencapai titik impas


adalah 25 unit pada harga Rp 500,-.
Jika biaya tetap dan biaya variabel tidak berubah, dan
harga jual per unit berubah (naik) maka jumlah unit
produksi untuk mecapai BEP akan menjadi lebih kecil.

Kelayakan Usaha BUM Desa

91

Bagian VI
ASPEK SOSIAL BUDAYA, EKONOMI,
POLITIK, LINGKUNGAN USAHA DAN
LINGKUNGAN HIDUP

spek sosial budaya, ekonomi, politik, dan lingkungan


perlu dipertimbangkan dalam menilai kelayakan usaha. Perlu ditegaskan kembali bahwa tujuan usahausaha yang akan dijalankan oleh BUM Desa tidak sematamata untuk mengejar keuntungan materi semata (profit),
tetapi juga bertujuan untuk mendatangkan kemanfaatan
(benefit) bagi seluruh stakeholders desa dan lingkungan
hidup. Oleh karena itu, setiap usaha yang akan dijalankan
oleh BUM Desa harus layak berdasarkan aspek-aspek tersebut.

Aspek Sosial Budaya Setempat


Rencana usaha yang akan dijalankan BUM Desa harus
mempertimbangkan kondisi sosial budaya setempat. Rencana kegiatan usaha yang bertentangan dengan nilai-nilai

Kelayakan Usaha BUM Desa

93

sosial budaya masyarakat


setempat akan menimbul
kan perlawan
an dari ma
Hindari jenis kegiatan usaha yang
syarakat, sehingga rencana
tidak sesuai dengan nilai sosial
budaya setempat, dan kegiatan
usaha itu sulit dilaksanausaha yang akan dilaksanakan
kan. Perlu pula dipertimBUM Desa jangan sampai menbangkan
kemungkinan
imbulkan konflik dalam kehidupan masyarakat.
dampak yang ditimbulkan
oleh kegiatan usaha yang
akan dijalankan. Apabila
kegiatan usaha menimbul
kan dampak negatif pada kehidupan warga desa, maka
perlu diupayakan untuk mengatasi dampak negatif tersebut. Apabila dampak negatif yang akan terjadi berskala besar dan sulit untuk mengatasinya, maka sebaiknya rencana
usaha itu ditunda atau dihentikan sama sekali. Sebaliknya,
apabila rencana usaha itu justru dapat melerai konflik antar
warga desa, maka rencana usaha dapat direalisasikan.
Sebagai contoh, pemanfaatan air bersih di Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng tidak
dikelola dengan baik sehingga menimbulkan konflik antar
warga, karena pembagian air yang tidak merata. Dengan
dikelolanya air oleh BUM Desa GANTING membuat konflik antar warga menjadi reda. Dengan demikian kegiatan
usaha pengelolaan air ini layak dijalankan.

94

Kelayakan Usaha BUM Desa

Aspek Perbaikan Ekonomi Desa


Salah satu tujuan utama
mendirikan unit usaha BUM Desa
adalah untuk memperbaiki atau Usahakan kegiatan usameningkatkan
perekonomian ha yang akan dijalankan
de
sa. Untuk itu, perlu dihindari BUM Desa dapat menye
rap tenaga kerja lokal
pemilihan jenis usaha BUM Desa dan menggairahkan kehi
yang sekiranya justru akan menu dupan ekonomi desa.
run
kan pendapatan masyarakat
setempat. Misalnya, unit usaha
BUM Desa sebaiknya menghindari pemilihan jenis usaha
yang sudah digeluti oleh warga desa.
Sesuai dengan tujuannya, unit usaha BUM Desa yang
akan dijalankan hendaknya berupa kegiatan usaha yang
dapat menyerap tenaga kerja setempat. Akan lebih baik
lagi apabila kegiatan usaha BUM Desa tersebut dapat
melahirkan kegiatan ekonomi baru bagi warga setempat.
Dengan demikian, kehadiran unit usaha BUM Desa dapat memperluas kesempatan kerja baru bagi warga desa.
Dampak lanjutan dari semakin luasnya kesempatan kerja
tersebut, pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan
warga desa sehingga terjadi perbaikan tingkat kesejahtera
an warga desa.
Selain dampak positif dari unit usaha BUM Desa terhadap kehidupan ekonomi warga desa, rencana usaha

Kelayakan Usaha BUM Desa

95

tersebut juga perlu memperhitungkan keuntungan finansial bagi peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes). Kehadiran unit usaha BUM Desa diharapkan mampu me
ningkatkan PADes. Dengan meningkatnya PADes berarti
kemampuan keuangan Pemerintah Desa menjadi semakin
kuat. Peningkatan PADes tersebut lebih lanjut diharapkan
dapat memperkuat kemampuan pembiayaan pembangun
an desa dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Aspek Politik
Aspek politik merupakan hal penting yang harus
dipertimbangkan dalam
Usahakan unit kegiatan usaha
BUM Desa mendapatkan du
merencanakan suatu ke
kungan politik dari berbagai
giatan usaha, karena aspek
pemangku kepentingan desa
politik dapat mendukung
(Kepala Desa, BPD, Tokoh Ma
atau sebaliknya mengga
syarakat,
Lembaga-lembaga
Ke
ma
syarakatan,
Pemerintah
galkan kegiatan usaha
Kabupaten, dll)
yang akan dijalankan. Dari
aspek politik yang perlu di
pertimbangkan antara lain:
apakah warga desa memberi dukungan ataukah menolak
adanya rencana membuka suatu kegiatan usaha BUM
Desa? Apabila masyarakat memberi dukungan atas rencana tersebut, maka kegiatan usaha yang direncanakan dapat

96

Kelayakan Usaha BUM Desa

dilanjutkan. Sebaliknya, jika masyarakat tidak mendukung


atau bahkan menolak, sebaiknya rencana kegiatan usaha
ditunda sambil melakukan pendekatan kepada masyarakat
agar bersedia mendukung. Akan tetapi, jika masyarakat
tetap menolak kehadiran kegiatan usaha yang direncanakan, maka sebaiknya rencana itu dihentikan. Demikian
pula sikap pemerintah desa (Kepala Desa) dan BPD perlu
juga diperhitungkan. Apabila pemerintah desa dan/atau
BPD tidak berkomitmen terhadap rencana kegiatan usaha,
sebaiknya rencana itu ditunda terlebih dahulu. Demikian
juga komitmen Pemerintah Kabupaten sangat penting untuk diperhatikan. Adakah kebijakan Pemerintah Kabupaten
yang mendukung rencana kegiatan usaha? Jika ada, maka
ini merupakan hal baik untuk melanjutkan rencana kegiatan usaha. Berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah seberapa amankah kegiatan usaha yang direncanakan
dari pengaruh politik paska pilkades atau pilkada. Apabila
kegiatan usaha yang direncanakan itu diyakini tidak begitu
terpengaruh terhadap dinamika politik lokal yang bersifat
mengganggu, maka kegiatan usaha yang direncanakan
dapat dilanjutkan/dilaksanakan.

Aspek Lingkungan Usaha


Lingkungan usaha merupakan sekumpulan kegiatan
usaha yang bergerak dalam jenis usaha ekonomi yang
sama. Pendirian BUM Desa harus memperhatikan lingKelayakan Usaha BUM Desa

97

kungan usaha, terutama


masalah persaingan usa
ha sejenis antarperusaha
1. Pilihlah jenis kegiatan usaha
yang tidak menyaingi dan
an (antar BUM Desa) dan
mematikan usaha yang sudah
usaha sejenis yang su
dijalankan oleh warga masya
dah diusahakan oleh ma
rakat setempat.
syarakat. Salah satu pe
2. Perhitungkan secara cermat
kondisi persaingan usaha an
ran BUM Desa adalah
tar BUM Desa dan Perusa
mendorong pertumbuhan
haan lainnya serta kemam
perekonomian masyarakat
puan BUM Desa untuk
menghadapi persaingan.
desa. Oleh karena itu, se
be
lum suatu jenis usaha
dijalankan oleh BUM Desa
maka harus dipastikan bahwa usaha tersebut tidak bersaing dengan usaha sejenis yang dilakukan oleh masyarakat
setempat. Prinsipnya, BUM Desa tidak boleh mematikan
usaha yang sudah dijalankan oleh masyarakat, tetapi justru harus mampu mendukung atau mensinergikan berbagai usaha yang sudah dijalankan oleh masyarakat. Lalu,
bagaimana jika BUM Desa sudah terlanjur mulai menja
lankan jenis usaha yang juga digeluti oleh masyarakat setempat? Tentu saja usaha yang sudah ada tersebut tidak
harus dimatikan, tetapi harus dikembangkan untuk mendukung usaha sejenis yang dikelola masyarakat. Misalnya,
BUM Desa menjalankan usaha perdagangan sembako dan
beberapa warga setempat juga menjalankan usaha yang

98

Kelayakan Usaha BUM Desa

sama, maka sebaiknya BUM Desa berperan sebagai grosirnya dan tidak menjual secara eceran.
Analisis lingkungan usaha secara sederhana dapat dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut
ini:

Bagaimana situasi dan kondisi ancaman bagi BUM


Desa sebagai pendatang baru ke dalam bidang usaha
yang akan dijalankan?
Bagaimana situasi persaingan antarperusahaan dalam
bidang usaha yang akan dijalankan BUM Desa?
Adakah produk pengganti yang beredar di pasaran sehingga menjadi ancaman bagi usaha BUM Desa?.
Bagaimana kekuatan tawar-menawar dari pembeli
(buyers) dan pemasok (suppliers)?
Bagaimana kekuatan pengaruh stakeholder lainnya
(pemerintah, serikat pekerja, lingkungan masyarakat,
kreditor, pemasok, asosiasi dagang, kelompok yang
mempunyai kepentingan lain, dan pemilik modal)?
Apabila jawaban dari setiap pertanyaan tersebut meng
arah pada keadaan yang aman bagi usaha yang akan dija
lankan BUM Desa, maka kegiatan usaha yang direncanakan dapat dilanjutkan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

99

Aspek Lingkungan Hidup


Kualitas lingkungan hidup
merupakan hal penting untuk dijaga kelestariannya demi keberPilihlah jenis kegiatan
langsungan hidup manusia. Oleh
usaha yang ramah ling
kungan, dan diutamakan
karena itu, rencana usaha yang
yang dapat mendukung
akan dijalankan harus memperpelestarian lingkungan
hitungkan dampak lingkungan.
hidup.
Kegiatan usaha BUM Desa jangan
sampai menimbulkan gangguan
atau kerusakan lingkungan hidup. Terutama apabila kegiat
an usahanya itu memproduksi barang yang menimbulkan
limbah, maka harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh penanganan limbahnya agar tidak mencemari lingkungan. Akan lebih baik lagi apabila kegiatan usaha yang
akan dijalankan itu justru dapat memperbaiki atau setidaktidaknya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Misalnya,
usaha yang akan dijalankan berupa kegiatan usaha kehutanan atau perkebunan dengan memanfaatkan lahan gundul. Apabila kegiatan usaha yang direncanakan tidak berdampak negatif (tidak merusak) pada kualitas lingkungan
hidup, maka kegiatan usaha yang direncanakan itu layak
untuk dijalankan.

100

Kelayakan Usaha BUM Desa

Bagian VII
ASPEK HUKUM (YURIDIS)

ajian aspek hukum untuk menilai kelayakan usaha


yang akan diselenggarakan oleh BUM Desa merupakan langkah penting yang harus dilakukan. Hasil kajian aspek hukum ini sangat diperlukan untuk menghindari
terjadinya protes warga dan penutupan/pembekuan usaha
oleh pemerintah karena pelanggaran hukum positif yang
berlaku.

Berdasarkan UU No. 6/2014 tentang Desa pada Pasal


87 (khususnya ayat 1 dan 3) dan Pasal 88, apabila pendirian
BUM Desa itu berdasarkan kesepakatan Musyawarah Desa
dan ditetapkan dengan Peraturan Desa, maka BUM Desa
itu legal atau sah menurut hukum. Namun demikian, khusus untuk unit-unit usaha BUM Desa yang akan ditangani,
perlu memperhatikan aspek hukum sebagai berikut:

Kelayakan Usaha BUM Desa

101

1. Bentuk Usaha dan Perijinannya


Dalam merencanakan suatu
kegiatan usaha perlu mem
per
hatikan bentuk usaha
Sebelum rencana usaha
dilaksanakan, pastikan
beserta perijinannya. Oleh
bahwa status hukum dan
karena itu, sebelum rencana
prosedur perijinan penusaha itu dilaksanakan perlu
dirian unit usaha dapat
dilakukan secara benar.
mem
pelajari peraturan per
undang-undangan yang me
ngatur tentang bidang usaha
yang akan dijalankan. Apabila badan hukum dari unit
usaha BUM Desa yang akan dijalankan itu berbentuk
Perseroan Terbatas (PT), maka pendirian unit usaha
itu harus mengikuti prosedur yang diatur dalam UU
No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Apabila bidang usaha yang akan digeluti itu berupa Lembaga
Keuangan Mikro, maka prosedur pendiriannya harus
menyesuaikan dengan UU No. 1/2013 tentang Lemba
ga Keuangan Mikro dan UU No. 21/2011 tentang Oto
ritas Jasa Keuangan. Apabila skala usahanya terma
suk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) perlu
mengacu UU No. 20/2008 tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah.
Apabila ternyata rencana usaha BUM Desa yang akan
dijalankan itu berskala kecil dan semata-mata merupakan unit usaha yang ber
ope
rasi di wilayah desa
102

Kelayakan Usaha BUM Desa

sendiri serta tidak melibatkan masyarakat luar desa,


maka tidak perlu berbadan hukum. Hal ini sesuai de
ngan yang diatur dalam UU No. 6/2014 khususnya
Penjelasan Pasal 87 ayat (1).
2. Kesesuaian Usaha BUM Desa dengan Perencanaan
Pembangunan Desa
Rencana mendirikan unit
usaha BUM Desa harus me
Pastikan bahwa unit usaru
pakan satu kesatuan de
ha BUM Desa yang akan
ngan perencanaan desa.
dijalankan merupakan
Dengan kata lain, rencana
realisasi dari perencana
usaha yang akan dijalankan
an desa yang termuat
dalam RPJMDesa beserta
BUM Desa harus merupakan
turunannya.
realisasi dari perencanaan
pembangunan desa (RPJM
Desa dan RKP Desa). Artinya, rencana kegiatan usaha
tersebut sudah dimuat dalam RPJM Desa dan RKP
Desa. Jika ternyata rencana usaha tersebut belum ter
muat dalam perencanaan pembangunan desa, maka
harus segera dilakukan review RPJM Desa beserta pe
rencanaan turunannya melalui musyawarah desa.
RPJM Desa merupakan bagian tak terpisahkan dari
Peraturan Desa, sehingga RPJM Desa itu merupakan
bagian dari produk hukum desa. Oleh karena itu, unit
usaha BUM Desa yang dibentuk di luar RPJM Desa
Kelayakan Usaha BUM Desa

103

dapat dikatakan inkonstitusional (cacat hukum), dan


ini tidak boleh terjadi.

3. Status Kepemilikan Lahan atau Lokasi Usaha


Untuk menjalankan suatu ke
giatan usaha pasti me
merlukan lahan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan.
Status pemilikan lahan sebagai lokasi usaha merupa
kan hal sen
sitif, baik dipandang dari aspek hukum
maupun aspek sosial. Ketidak-jelasan status pemilikan
lahan yang diguna
kan sebagai lokasi usa
ha sa
ngat
berisiko terjadinya konflik sosial di kemudian hari. Selain itu, ketidak-jelasan status pemilikan lahan sebagai
lokasi usaha juga akan mempersulit dalam pengurusan
104

Kelayakan Usaha BUM Desa

perijinan usaha. Oleh karena


unit usaha BUM Desa itu miPastikan bahwa ada kelik Pemerintah Desa, maka
jelasan tentang status
lahan yang paling aman unpemilikan dan atau pengtuk digunakan sebagai lokasi
gunaan lahan tempat
usaha sehingga bebas
usa
ha adalah lahan milik
dari sengketa.
desa. Kalaupun lahan tempat
usaha menggunakan sebagian atau seluruhnya milik warga masyarakat, maka harus ada kejelasan status penggunaannya dan perlu dibuat perjanjian secara tertulis di
atas meterai. Ini dimaksudkan agar rencana kegiatan
usaha dapat dijalankan dengan lancar dan terbebas
dari konflik/sengketa.
Berdasarkan hasil kajian hukum ini, apabila rencana
usa
ha yang akan dijalankan berkesesuaian dengan
hukum yang berlaku atau tidak berdampak terhadap
pe
langgaran hukum, maka rencana usaha tersebut
dapat dinyatakan layak untuk dijalankan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

105

Bagian VIII
PERENCANAAN USAHA

encana usaha atau Business Plan pada dasarnya me


rupakan uraian tertulis mengenai masa depan usaha/bisnis, yang menjelaskan tentang: apa, dimana,
oleh siapa, dan bagaimana kegiatan usaha akan dijalankan.
Rencana usaha biasanya digunakan oleh wirausahawan yang
sedang mencari calon investor untuk menyampaikan visi dan
misinya kepada calon investor atau pemodal. Menurut Pinson (2003), ada tiga tujuan utama menyusun rencana usa
ha. Pertama, sebagai panduan dalam menjalankan usaha.
Rencana usaha adalah cetak biru bisnis yang memberi informasi lebih rinci atas seluruh aspek kegiatan usaha di masa
lalu dan masa sekarang, maupun proyeksi beberapa tahun
ke depan. Ini bagi kegiatan usaha yang sudah berjalan. Bagi
kegiatan yang baru, tentu belum memiliki sejarah, sehingga
informasi yang termuat dalam rencana usaha lebih didasarkan proyeksi. Kedua, sebagai dokumentasi pendanaan. Bila
mencari dana, rencana bisnis akan merinci bagaimana dana
Kelayakan Usaha BUM Desa

107

itu dapat memajukan tujuan perusahaan dan meningkatkan


laba. Pemberi pinjaman ingin mengetahui cara mengatur
arus kas dan membayar pinjaman beserta bunganya secara
tepat waktu. Investor ingin tahu apakah investasinya dapat
meningkatkan kekayaan bersih serta memperoleh laba atas
investasinya itu. Ketiga, bila berbisnis secara internasional,
rencana bisnis menjadi alat standar untuk mengevaluasi potensi bisnis di pasar luar negeri. Rencana usaha/bisnis dapat
menunjukkan cara suatu perusahaan dapat bersaing di era
global saat ini.
Rencana usaha perlu dibuat oleh siapapun yang akan
atau bahkan sudah menjalankan suatu kegiatan usaha.
Bagi desa yang hendak menjalankan BUM Desa, terlebih
dahulu perlu membuat rencana usaha agar segala aspek
yang berkenaan dengan kegiatan usaha yang akan dijalankan dapat diperhitungkan dan dipersiapkan sebaik-baik
nya. Demikian pula bagi desa yang sudah menjalankan
unit kegiatan usaha BUM Desa, rencana usaha perlu dibuat
dalam rangka pengembangan kegiatan usahanya.
Rencana usaha pada umumnya berisi gambaran dan
penjelasan mengenai aspek-aspek penting yang sangat
mempengaruhi jalannya kegiatan usaha yang direncanakan. Materi pokok yang biasanya dimuat dalam rencana
usaha meliputi:
1. Tujuan usaha,
2. Strategi yang digunakan untuk mencapainya,
108

Kelayakan Usaha BUM Desa

3. Masalah potensial yang kira-kira akan dihadapi dan


cara mengatasinya,
4. Struktur organisasi (termasuk jabatan dan tanggung
jawab), dan
5. Modal yang diperlukan untuk membiayai perusahaan
dan bagaimana mempertahankannya sampai mencapai break even point (titik impas).
Daya tarik dari suatu rencana usaha sangat tergantung pada kualitas dari cara menulis dan menyusunnya.
Seringkali kita memiliki ide bisnis yang sangat bagus, namun kedodoran dalam mengungkapkannya dalam bentuk
rencana usaha (business plan). Sebuah rencana bisnis
akan baik apabila mengikuti pedoman yang telah disepakati secara umum dalam dunia bisnis, baik dari segi susun
an maupun isi.
Dalam praktek sehari-hari dokumen rencana usaha
dapat disusun berdasarkan hasil kajian kelayakan usaha
untuk memulai usaha atau mengembangkan usaha yang
sudah ada. Rencana usaha itu bukanlah suatu kajian kelayakan usaha, hal ini seringkali disalah-artikan. Kajian ke
layakan usaha lebih bersifat sebagai kegiatan penelitian
untuk mengkaji apakah suatu kegiatan yang direncanakan itu layak atau tidak layak untuk dijalankan. Sedangkan
rencana usaha memiliki fungsi perencanaan yang berisikan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan
Kelayakan Usaha BUM Desa

109

suatu ide menjadi kenyataan. Hasil dari kajian kelayakan


usaha akan menjadi dasar bagi rencana usaha yang mulai
dipersiapkan jika sudah diketahui bahwa suatu alternatif itu
layak untuk dilanjutkan. Rencana usaha berisikan cetak
biru pelaksanaan usaha.
Ada 3 (tiga) bagian utama dari sebuah rencana usaha, yaitu:
1. Konsep Bisnis, yang menjelaskan secara rinci kegiat
an usaha yang digeluti, struktur usaha, produk dan
jasa yang ditawarkan, dan bagaimana rencana untuk
mensukseskan bisnis.
2. Pasar, yang membahas dan menganalisis calon konsumen: siapa dan dimana mereka berada, apa yang
menyebabkan mereka mau membeli, dan lain-lain.
Dalam bagian ini, perlu juga dijelaskan persaingan
yang akan dihadapi dan bagaimana memenangkannya.
3. Finansial, mencakup estimasi atau perkiraan pendapatan dan arus kas, neraca serta alat analisis keuangan
lainnya, misalnya analisis break even point. Untuk ini
mungkin akan memerlukan bantuan seorang akuntan
dan program software spreadsheet yang bagus.

110

Kelayakan Usaha BUM Desa

Ketiga bagian tersebut dapat dibagi-bagi lebih rinci


lagi, menjadi komponen-komponen kunci yang tersusun
menjadi sistematika perencanaan usaha sebagai berikut:

Halaman Judul
Berisi nama BUM Desa, alamat, dan nomor telephon serta
pengelolanya
Daftar Isi
Berisi nomor halaman dari bagian-bagian penting dalam pe
rencanaan usaha
Ringkasan Eksekutif
Berisi penjelasan singkat dari rencana usaha yang akan dijalankan dan dasar yang mendukung usaha tersebut. Perlu diingat bahwa para eksekutif biasanya memiliki kesibukan kerja
yang tinggi, sehingga waktu yang dimiliki untuk membaca dokumen perencanaan usaha sangat sempit. Itu sebabnya, perlu
dibuat Ringkasan Eksekutif dengan maksud agar pejabat atau
pengambil keputusan (eksekutif) dapat dengan cepat memahami inti dari perencanaan usaha tanpa harus membaca urai
an yang panjang.

Kelayakan Usaha BUM Desa

111

Pernyataan Visi dan Misi


Visi menggambarkan secara singkat filosofi/nilai dan cita-cita
yang ingin diraih dari usaha yang akan dijalankan. Untuk me
nyatakan Visi hendaknya diawali dengan kata keadaan, misal
nya: Terwujudnya . , Terbentuknya ., Menjadi ., Menuju.., dan seterusnya. Misi menggambarkan jalan/strategi
yang dikehendaki agar visinya dapat terlaksana. Untuk menya
takan Misi hendaknya diawali dengan kata kerja, W: Meningkatkan, Mengembangkan., Menyempurnakan., dan seterusnya.
Gambaran Perusahaan (BUM Desa)
Menjelaskan bentuk usaha (BUM Desa), nama perusahaan
(BUM Desa), organisasi, tujuan perusahaan (BUM Desa), lokasi usaha, produk yang dihasilkan (barang atau jasa), dan badan
hukum perusahaan.
Perencanaan Produk (Barang dan Jasa)
Menjelaskan tentang keunggulan produk (barang atau jasa)
yang dihasilkan, dan alasan mengapa konsumen menginginkan produk tersebut atau terdapat permintaan di pasar.

112

Kelayakan Usaha BUM Desa

Perencanaan Pemasaran
Menggambarkan siapa yang menjadi konsumen dari produkproduk yang dihasilkan (pasar yang dibidik), kondisi persaing
an yang dihadapi, strategi yang akan dilakukan (strategi harga,
produk, distribusi, dan promosi).
Perencanaan Manajemen
Menggambarkan struktur organisasi beserta tugas dan fungsi
dari setiap bagian dalam struktur organisasi BUM Desa. Menjelaskan kompetensi (penguasaan kemampuan) yang dimiliki
pengelola BUM Desa dan sistem manajemen yang dijalankan.
Perencanaan Pengoperasian
Menjelaskan sistem produksi dan operasi yang digunakan,
fasilitas yang dimiliki, ketersediaan bahan baku atau keterjaminan pemenuhan bahan baku.
Perencanaan Keuangan
Menggambarkan kebutuhan keuangan dan sumber keuangan
yang mungkin dapat digali, memproyeksikan pendapatan, bia
ya dan laba (analisis waktu kembali modal, titik impas dan arus
kas).

Kelayakan Usaha BUM Desa

113

Lampiran Dokumen Pendukung


Berisi data pengelola BUM Desa, copy akte pendirian Unit
Usaha BUM Desa, copy Peraturan Daerah dan Peraturan Desa
tentang BUM Desa.

Panjang atau pendeknya sebuah rencana usaha sa


ngatlah tergantung pada fungsi dari rencana usaha itu
sendiri. Demikian pula jika rencana usaha dimaksudkan
untuk memperoleh dukungan dana jutaan atau bahkan
milyaran rupiah sebagai modal untuk memulai suatu usaha
yang beresiko, maka diperlukan banyak penjelasan untuk
meyakinkan pihak yang dituju. Namun jika rencana usaha
hanya untuk tujuan internal (untuk mengatur bisnis) maka
penyusunan rencana usaha dalam bentuk singkat sudah
cukup memadai.
Contoh penyusunan rencana usaha yang perlu dila
kukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) sebagai
mana Lampiran 2. Contoh tersebut diambil dari praktik pe
nyusunan rancanaan usaha yang dilakukan BUM Desa di

114

Kelayakan Usaha BUM Desa

salah satu desa mitra ACCESS Tahap II, yaitu Unit Usaha
Pengelolaan Air BUM Desa GANTING di Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng.

Kelayakan Usaha BUM Desa

115

Bagian IX
PENUTUP

ada dasarnya hal yang paling esensial dari keberadaan


Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) terletak pada
unit kegiatan usaha yang dijalankan. Ini sesuai de
ngan sebutannya sebagai badan usaha, sehingga kegiat
an utama dari BUM Desa adalah melakukan kegiatan usa
ha ekonomi atau bisnis untuk memperoleh kemanfaatan
ekonomi maupun kemanfaatan lain yang lebih luas. Apabila
ada kelembagaan BUM Desa tetapi tidak memiliki atau tidak
menjalankan kegiatan usaha ekonomi dapat diandaikan sebagai wadah tanpa isi.
Dalam rangka merencanakan suatu unit kegiatan
usaha atau merencanakan pengembangan usaha yang
akan dijalankan BUM Desa, perlu diawali dengan kajian
kelayakan usaha. Menjalankan suatu kegiatan usaha yang
didasarkan coba-coba tanpa perhitungan yang matang
sangat beresiko mengalami kegagalan. Itu sebabnya kajian
kelayakan menjadi penting untuk dilakukan sejak awal.

Kelayakan Usaha BUM Desa

117

Kajian kelayakan usaha merupakan kegiatan untuk


menganalisis berbagai aspek yang terkait dengan kegiatan
bisnis. Aspek-aspek yang perlu dikaji meliputi: aspek pe
masaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen
dan SDM, aspek keuangan, aspek sosial budaya, ekonomi,
politik, lingkungan, dan hukum. Hasil

kajian terhadap berbagai aspek tersebut akan menunjukkan layak atau tidak
layak suatu gagasan/ide dijalankan sebagai suatu jenis ke
giatan usaha tertentu. Pengertian layak dalam kajian ini
adalah kemungkinan dari gagasan usaha/bisnis yang akan
dijalankan BUM Desa memberikan manfaat finansial (pro
fit) maupun manfaat sosial (social benefit). Apabila hasil
kajian dari berbagai aspek menunjukkan layak maka ide/
gagasan usaha BUM Desa dapat direalisasikan. Apabila
sebaliknya, hasil kajian menunjukkan tidak layak, sebaik
nya gagasan usaha ditunda dulu sambil mencari alternatif
usaha lain untuk mengkondisikan aspek-aspek yang tidak
layak menjadi layak, atau gagasan usaha itu tidak perlu dilanjutkan.
Kajian kelayakan usaha perlu dilakukan baik dalam
rangka sedang merencanakan untuk menjalankan kegiat
an usaha yang baru maupun dalam rangka pengembangan
usaha yang sudah ada.
Untuk melakukan kajian kelayakan usaha diperlukan
setidaknya pengetahuan dasar mengenai beberapa disi
plin ilmu, antara lain: manajemen dan organisasi, market118

Kelayakan Usaha BUM Desa

ing, akuntansi, dan pengetahuan teknis. Ini semua untuk


menunjang tercapainya ketepatan dalam menilai berbagai
aspek usaha.
Untuk menilai kelayakan aspek keuangan, khususnya
penilaian terhadap investasi, banyak metode yang dapat
digunakan. Untuk kajian kelayakan usaha BUM Desa yang
skala usahanya masih terbatas (kecil), dipandang cukup
untuk menggunakan metode yang sederhana. Dalam hal
ini, menggunakan perhitungan Periode Kembali Modal
(Pay Back Period) dan Titik Impas (Break Even Point) dirasa sudah cukup memadai.
Akhirnya, kajian kelayakan sebaik apapun belum
cukup menjamin keberhasilan suatu kegiatan usaha yang
akan dijalankan jika dalam pengelolaan usaha nantinya
tidak didukung komitmen yang kuat dari berbagai stakeholders desa, terutama integritas diri dan komitmen pe
mimpin desa beserta pengurus dan pengelola BUM Desa.

Kelayakan Usaha BUM Desa

119

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. 2010. Pedoman


Fasilitasi Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat
melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kementerian Dalam Negeri.
Ibrahim, H.M. Yacob. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Pinson, Linda. 2003. Anatomy of a Business Plan: Panduan
Lengkap Menyusun Proposal dan Rencana Bisnis. Jakarta: Canary.
Subagyo, Ahmad. 2007. Studi Kelayakan: Teori dan Aplikasi.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Suherman, Eman. 2011. Praktik Bisnis Berbasis Enterpreneurship: Panduan Memulai dan Mengembangkan Bisnis
dengan Mudah dan Sukses. Bandung: Alfabeta.
Suparyanto, Wachyu. 2005. Mudah Menyusun Studi Kelayakan
Usaha. Bandung: Alfabeta.

Kelayakan Usaha BUM Desa

121

Internet:
http://www.academia.edu/2714019/ANALISIS_USAHA_UKM.
(Diunduh tgl. 4 Agustus 2013)
http://relawandesa.files.wordpress.com/2008/06/1panduanBUM Desa.pdf. (Diunduh tgl. 15 Oktober 2013)
Peraturan Perundang-undangan:
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan
Daerah.
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2007 Tentang
Pedoman Penyusunan dan Pendayagunaan Data Profil
Desa dan Kelurahan.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010 Tentang
Badan Usaha Milik Desa.

122

Kelayakan Usaha BUM Desa

TENTANG PENULIS

Drs. Hastowiyono, M.S, lahir di Bantul, 21 Maret 1957. Pendidik


an S1 Ilmu Sosiatri Fisipol UGM diselesaikan tahun 1982, dilanjutkan menempuh studi S2 dalam bidang Studi Kependudukan
di UGM diselesaikan tahun 1990. Sebelum masuk UGM, penulis
pernah belajar di Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta. Mulai
tahun 1983 hingga sekarang penulis bekerja sebagai Dosen Ne
geri Kopertis Wilayah V DIY dipekerjakan pada STPMD APMD
Yogyakarta. Jabatan yang pernah diembannya adalah sebagai
Kepala Unit Pelatihan Komputer, Kepala Pusat Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M), dan Pembantu Ketua I
Bidang Akademik STPMD APMD Yogyakarta. Penulis terlibat
dalam tim advokasi RUU Desa dan kegiatan-kegiatan penguat
an kapasitas desa. Saat ini tengah terlibat sebagai katalisator
desa mandiri di Kabupaten Kutai Timur. Beberapa kegiatan lain
yang pernah dilakukan penulis meliputi seminar-seminar ilmiah,
kontributor penulisan buku, dan penelitian-penelitian tentang
masalah perdesaan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

123

Drs. Suharyanto, MM, lahir di Yogyakarta, 6 Mei 1962. Pendi


dikan S-1 Ilmu Sosiatri Fisipol UGM diselesaikan tahun 1987,
dilanjutkan menempuh studi Magister Manajemen SDM di STIE
Mitra Indonesia tahun 1999. Mulai tahun 1989 sekarang seba
gai Dosen tetap di STPMD APMD Yogyakarta. Jabatan yang
pernah diembannya adalah Kepala Bagian Administrasi Akade
mik dan kemaha
siswaan, Pembantu Ketua I Bidang Akademik, Sekretaris Program Pascasarjana dan Sekretaris Program
Studi Ilmu Pemerintahan Program Pascasarjana. Pengalaman
berorganisasi sejak 1985 sd sekarang sebagai Ketua Pra Koperasi Mitra Usaha Kelurahan Pringgokusuman Yogyakarta dan sejak tahun 2001 - sekarang sebagai Pengurus Koperasi Karyawan
(KOPKAR) APMD.

124

Kelayakan Usaha BUM Desa

PROFIL FPPD

Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD) merupakan arena untuk menyemai gagasan dan mendorong gerakan pembaharuan
desa. FPPD sebagai forum terbuka, merupakan arena bagi proses
pembelajaran dan pertukaran pengetahuan, pengalaman multipihak,
yang memungkinkan penyebarluasan gagasan pembaharuan desa,
konsolidasi gerakan dan jaringan, serta kelahiran kebijakan yang res
ponsif terhadap desa.
Visi
Menjadi arena belajar pengembangan pembaharuan desa yang terpercaya untuk mewujudkan masyarakat desa yang otonom dan demokratis
Misi
Meningkatkan keterpaduan gerak antar pihak untuk pembaharuan
desa
Nilai-nilai Dasar
Menghormati keputusan bersama
Solidaritas
Tanggung-gugat
Menghargai perbedaan
Strategi
Konsolidasi gerakan pembaharuan desa

Kelayakan Usaha BUM Desa

125

Lampiran 1.
INSTRUMEN BANTU PENILAIAN KELAYAKAN USAHA

Petunjuk Penggunaan
Instrumen penilaian kelayakan usaha yang berbentuk formulir ini dibuat untuk memudahkan Tim Penyusunan Kelayakan
Usaha BUM Desa dalam menilai kelayakan usaha dari setiap
aspek yang dikaji. Ketepatan penilaian kelayakan usaha sangat
tergantung pada kesesuaian antara hasil kajian lapangan (fact
finding) dengan penentuan skor pada setiap unsur yang dikaji.
Cara menggunakan instrumen ini adalah sebagai berikut:
1.

Berilah tanda silang ( x ) atau dapat juga dengan tanda centrang ( ) pada setiap kolom skor yang sesuai.

2. Skor pada Unsur dari setiap Aspek dijumlahkan dan ditulis


pada kolom TOTAL SKOR. Jumlah Unsur dari setiap Aspek berbeda-beda, sehingga Total Skor minimal dan maksimalnya juga berbeda, yaitu:

No.

TOTAL SKOR
JUMLAH
UNSUR Minimal Maksimal

ASPEK

1.

Pasar dan Pemasaran

40

2.

Teknis dan Teknologi

40

3.

Manajemen dan Sumber Daya Manusia

30

Kelayakan Usaha BUM Desa

127

No.

ASPEK

4.

Keuangan

5.

Aspek Sosial-Budaya, Ekonomi, Politik,


dan Lingkungan

6.

Aspek Hukum (Yuridis)

TOTAL SKOR
JUMLAH
UNSUR Minimal Maksimal

30

15

15

75

35

3. Hitunglah NILAI dari setiap Aspek dengan cara: TOTAL


SKOR dibagi jumlah Unsur. Tulislah hasil perhitungan tersebut pada kolom NILAI.
4. Buatlah kesimpulan berdasarkan NILAI pada setiap Aspek
tersebut dengan cara memberi tanda silang atau cetrang
pada kolom KESIMPULAN, dengan ketentuan:
NILAI > 3 adalah Layak
NILAI = 3 adalah Netral
NILAI < 3 adalah Tidak Layak
5. Buatlah Kesimpulan Akhir Tingkat Kelayakan Usaha berdasarkan persentase dari Aspek yang layak. Rumus perhitungannya adalah sbb:
TK = AL : A x 100%
TK =
AL =
A =

128

Tingkat Kelayakan Usaha


Jumlah Aspek yang Layak
Jumlah seluruh Aspek yang dinilai (6 aspek)

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kriteria Kesimpulan Akhir:


TK lebih dari 80%

= LAYAK

TK antara 60 % - 80%

= MERAGUKAN atau
KURANG LAYAK

TK kurang dari 60%

= TIDAK LAYAK

Contoh:
Jumlah Aspek yang dinyatakan Layak (AL) sebanyak 5 aspek, maka:
TK = AL : A x 100%

= 5 : 6 x 100% = 83,33%
Kesimpulan: kegiatan usaha yang direncanakan layak untuk dijalankan.
CATATAN:
1. Penentuan skor harus didasarkan pada data dan informasi yang diperoleh dari kajian lapangan, laporan/informasi dari warga desa, kajian data sekunder (misal:
data profil desa), dan sebagainya.
2. Penentuan skor harus dilakukan dalam forum rapat
atau musyawarah Tim Penyusunan Kelayakan Usaha
BUM Desa. Ini dimaksudkan agar penentuan skor dapat dilakukan seobyektif mungkin.
3.

Meskipun kegiatan usaha dinyatakan layak tetapi Tingkat Kelayakan Usaha tidak mencapai 100%, maka ada
unsur-unsur yang bermasalah dan perlu dilakukan
upaya perbaikan.
Kelayakan Usaha BUM Desa

129

FORMULIR PENILAIAN KELAYAKAN USAHA


JENIS USAHA

NAMA BUM Desa :


NAMA DESA

STATUS USAHA

I.

BARU

SUDAH BERJALAN

ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

NO.

UNSUR YANG DINILAI

1.

Masyarakat/konsumen sangat membutuhkan


dan menginginkan produk yang akan dihasilkan
dan akan terus membutuhkan dalam jangka
waktu yang lama

2.

Konsumen mempunyai kemampuan membeli


(daya beli) dan bersedia membeli produk yang
ditawarkan

3.

Jumlah konsumen banyak

4.

Permintaan konsumen terhadap produk yang


ditawarkan cenderung akan meningkat di
kemudian hari

5.

Produk (berupa barang atau jasa) sesuai de


ngan kebutuhan konsumen

6.

Harga yang ditawarkan dapat diterima oleh


konsumen

7.

Barang dan/atau jasa yang ditawarkan mudah


didapatkan oleh konsumen

Konsumen mudah mendapatkan informasi


tentang barang/jasa yang ditawarkan

130

Kelayakan Usaha BUM Desa

SKOR *)
1

TOTALSKOR
NILAI
( Total Skor dibagi Jumlah Unsur )
KESIMPULAN:
Nilai > 3 (Layak)
Nilai = 3 (Meragukan)
Nilai < 3 (Tidak Layak)

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

*) Kriteria Skor:
1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Netral 4 = Setuju
5 = Sangat Setuju

II. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI (ASPEK


PRODUKSI)
NO.

UNSUR YANG DINILAI

1.

Produk yang dihasilkan merupakan produk yang


sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen

2.

Produk (barang dan jasa) yang dihasilkan merupakan produk berkualitas.

3.

Memiliki teknologi yang tepat sehingga dapat


dioperasikan untuk menghasilkan produk (barang
atau jasa).

4.

Kapasitas produksi dari usaha BUM Desa dapat


disesuaikan agar mampu memenuhi kebutuhan
konsumen

5.

Pemilihan lokasi usaha BUM Desa sudah tepat

6.

Tata letak fasilitas usaha BUM Desa sudah tepat

7.

Rencana produksi dari usaha BUM Desa dapat


dikelola dengan baik

SKOR *)
1

Kelayakan Usaha BUM Desa

131

8.

Persediaan bahan baku dari usaha BUM Desa


dapat diperhitungkan dan dapat dikendalikan
dengan baik

TOTALSKOR
NILAI
( Total Skor dibagi Jumlah Unsur )
KESIMPULAN:
Nilai > 3 (Layak)
Nilai = 3 (Meragukan)
Nilai < 3 (Tidak Layak)

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

*) Kriteria Skor:
1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Netral 4 = Setuju5 = Sa
ngat Setuju

III. ASPEK MANAJEMEN DAN SUMBER DAYA MANUSIA


NO.

UNSUR YANG DINILAI

1.

Pengembangan usaha BUM Desa dapat direnca


nakan dengan baik

2.

Usaha yang akan dikelola oleh BUM Desa memiliki


asas dan struktur organisasi yang efektif dan
efisien

3.

Usaha yang akan dikelola oleh BUM Desa akan


dipimpin oleh pemimpin yang memiliki jiwa
kepemimpinan dan staf/karyawan yang memiliki
dedikasi (kesetiaan) kepada organisasi

4.

Fungsi-fungsi pengendalian dan pengawasan


terhadap usaha yang akan dikelola oleh BUM Desa
berjalan dengan baik

132

Kelayakan Usaha BUM Desa

SKOR *)
1

3 4 5

5.

Usaha yang akan dikelola BUM Desa didukung


oleh orang-orang yang terampil dan berkompeten
untuk mengelola kegiatan usaha

6.

Seluruh personil pengelola BUM Desa (Pengurus,


Badan Pengawas, Seksi-seksi, dan staf) dapat
bekerjasama dan kompak dalam bekerja

TOTALSKOR
NILAI
( Total Skor dibagi Jumlah Unsur )
KESIMPULAN:
Nilai > 3 (Layak)
Nilai = 3 (Meragukan)
Nilai < 3 (Tidak Layak)

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

*) Kriteria Skor:
1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Netral 4 = Setuju
5 = Sangat Setuju

IV. ASPEK KEUANGAN


NO.

UNSUR YANG DINILAI

1.

Jumlah dana yang dibutuhkan untuk investasi awal


dan modal kerja dalam usaha ini dapat dihitung
dengan mudah

2.

Jumlah dana yang dibutuhkan untuk investasi awal


dan modal kerja dalam usaha ini tidak terlalu besar

3.

Sumber dana untuk menjalankan usaha telah tersedia dan dapat diperoleh

4.

Usaha ini diperkirakan akan menghasilkan keun


tungan yang memadai karena penerimaan lebih
besar daripada pengeluaran

SKOR *)
1

3 4 5

Kelayakan Usaha BUM Desa

133

5.

Usaha ini mempunyai cukup uang untuk membayar tagihan atau membiayai kegiatan usaha, karena
uang yang diperoleh lebih banyak dibandingkan
dengan uang yang dikeluarkan.

6.

Modal yang dikeluarkan untuk usaha ini akan


kembali dalam waktu yang sudah ditentukan (balik
modal)

TOTALSKOR
NILAI
( Total Skor dibagi Jumlah Unsur)
KESIMPULAN:
Nilai > 3 (Layak)
Nilai = 3 (Meragukan)
Nilai < 3 (Tidak Layak)

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

KETERANGAN:
*) Kriteria Skor:
1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Netral 4 = Setuju
5 = Sangat Setuju

Untuk meyakinkan atau membuktikan bahwa kegiatan


usaha BUM Desa memiliki kelayakan dari aspek keuangan,
maka terlebih dahulu perlu dilakukan:
1.

Menghitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk inves


tasi awal (tanah, bangunan, peralatan, dll.)

2.

Menghitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk mo


dal
kerja usaha (membeli bahan baku, membayar upah/tenaga,
membayar tagihan listrik, dll)

134

Kelayakan Usaha BUM Desa

3.

Mengidentifikasi dari mana sumber dana untuk inves


tasi awal dan modal kerja (pemerintah desa, tabungan
masyarakat, bantuan pemerintah (kabupaten/provinsi),
pinjaman, dan/atau penyertaan modal pihak lain atau
kerja sama bagi hasil)

4.

Memperkirakan pos-pos penerimaan usaha dan pengeluaran usaha yang akan digunakan dalam menghitung
laporan rugi laba usaha.

5.

Memperkirakan pos-pos penerimaan kas dan pengeluar


an kas yang akan digunakan dalam menghitung aliran
kas usaha.

6.

Memperkirakan harta, hutang, dan modal usaha untuk


menyusun laporan neraca

7.

Memperkirakan berapa tahun modal akan kembali

V. ASPEK SOSIAL, BUDAYA, EKONOMI, POLITIK,



LINGKUNGAN USAHA Dan LINGKUNGAN HIDUP
NO

UNSUR YANG DINILAI

A.

Aspek Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik:

1.

Banyak warga desa yang akan menerima manfaat


dari kegiatan usaha ini

2.

Usaha ini tidak terpengaruh oleh gejolak sosial dan


politik

SKOR *)
1

Kelayakan Usaha BUM Desa

135

NO

UNSUR YANG DINILAI

3.

Kegiatan usaha ini mendapat dukungan dari


Pemerintah Desa (kepala desa) dan/atau Pemerintah Kabupaten (Bupati)

4.

Usaha ini tidak memiliki dampak negatif bagi kehidupan sosial budaya masyarakat

5.

Kemungkinan kegiatan usaha ini akan diambil alih


oleh pemerintah supra desa (pemerintah di atas
desa) sangat kecil.

6.

Potensi konflik sosial dari usaha ini rendah, atau


adanya kegiatan usaha ini dapat melerai konflik
masyarakat

B.

Kelayakan Usaha dari Aspek Lingkungan Usaha:

7.

Tidak ada pelaku bisnis baru yang masuk ke desa


dan mengancam keberlangsungan usaha BUM
Desa ini?

8.

Tidak ada persaingan yang ketat dalam usaha yang


akan dijalankan

9.

Tidak ada ancaman dari produk pengganti bagi


usaha BUM Desa?

10. Kekuatan tawar-menawar dari pembeli rendah


11. Kekuatan tawar-menawar dari pemasok (suppliers)
rendah
12. Pengaruh kepentingan kelompok lain (pemilik
modal, pelaku usaha lain, dll) di masyarakat terhadap usaha ini rendah
C.

Kelayakan Usaha dari Aspek Lingkungan Hidup

13. Usaha yang akan dijalankan tidak merusak ling


kungan hidup
14. Limbah dari usaha ini dapat dikelola dengan baik

136

Kelayakan Usaha BUM Desa

SKOR *)
1

NO

UNSUR YANG DINILAI

SKOR *)
1

15. Usaha ini akan meningkatkan kualitas lingkungan


hidup
TOTALSKOR
NILAI
( Total Skor dibagi Jumlah Unsur )
KESIMPULAN:
Nilai > 3 (Layak)
Nilai = 3 (Meragukan)
Nilai < 3 (Tidak Layak)

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

*) Kriteria Skor:
1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Netral 4 = Setuju
5 = Sangat Setuju

VI. ASPEK HUKUM (YURIDIS)


NO.

UNSUR YANG DINILAI

1.

Rencana usaha yang akan dijalankan oleh BUM


Desa ini sejalan dengan rencana pembangunan
ekonomi desa (RPJMDes)

2.

Pengurus dan Pengelola usaha berasal dari dalam


desa

3.

Bentuk badan hukum dari kegiatan usaha mudah


diurus

4.

Mudah mendapatkan perijinan atas jenis usaha


yang akan dijalankan karena tidak bertentangan
dengan peraturan yang ada?

5.

Tanah yang digunakan sebagai tempat usaha


merupakan tanah milik desa

SKOR *)
1

Kelayakan Usaha BUM Desa

4 5

137

6.

Status lahan untuk lokasi usaha bebas dari sengketa

7.

Lokasi usaha sesuai dengan rencana tata ruang/


wilayah

TOTALSKOR
NILAI
( Total Skor dibagi Jumlah Unsur)
KESIMPULAN:
Nilai > 3 (Layak)
Nilai = 3 (Meragukan)
Nilai < 3 (Tidak Layak)

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

*) Kriteria Skor:
1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Netral 4 = Setuju
5 = Sangat Setuju

VII. KESIMPULAN AKHIR


Jumlah Aspek yang LAYAK (AL)
JUMLAH ASPEK YANG DINILAI (A)

TINGKAT KELAYAKAN (TK) = AL : A x 100%

KESIMPULAN:
TK > 80% (Layak)
TK 60 % - 80% (Meragukan)
TK <60% (Tidak Layak)

138

Kelayakan Usaha BUM Desa

TIDAK LAYAK
MERAGUKAN
LAYAK

Lampiran 2.
Contoh Perencanaan Usaha (Business Plan)

DAFTAR ISI
Kelayakan Usaha BUM Desa

139

SAMPUL
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF
A. GAMBARAN UMUM DESA LABBO
B. GAMBARAN Tentang BUM Desa GANTING
1. Visi dan Misi.
2. Tujuan
3. Badan Hukum
4. Organisasi
5. Unit Usaha
6. Sumber Keuangan
7. Peluang Pengembangan Usaha
C. UNIT USAHA PENGELOLAAN AIR MINUM
1. Latar Belakang Pemilihan Usaha
2. Perencanaan Produk
3. Perencanaan Pemasaran
4. Perencanaan Manajemen
5. Perencanaan Pengoperasian
6. Perencanaan Keuangan
7. Perencanaan Jadwal Pelaksanaan

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Kelembagaan BUM Desa
Lampiran 2. Foto copy Akte Notaris

140

Kelayakan Usaha BUM Desa

Lampiran 3. Foto copy Peraturan Desa


Lampiran 4. Foto copy SK Kepengurusan
Lampiran 5. Berita Acara Musyawarah Desa
RINGKASAN EKSEKUTIF
Badan Usaha Milik Desa GANTING atau yang sering di
singkat BUM Desa GANTING merupakan lembaga usaha eko
nomi desa milik Pemerintah Desa Labbo Kecamatan Tompobulu
Kabaupaten Bantaeng. BUM Desa GAN
TING didirikan pada
tanggal 31 Desember 2008 melalui forum musyawarah desa yang
dihadiri perwakilan warga masyarakat, Pemerintah Desa, Badan
Permusyawaratan Desa dan lembaga kemasyarakatan lainnya.
BUM Desa GANTING telah memiliki struktur organisasi
kepengurusan yang lengkap dan cukup sederhana (ramping),
yaitu terdiri atas Komisaris, Direktur, Sekretaris, dan Bendahara.
Komisaris dijabat oleh Kepala Desa, Direktur dijabat oleh Saharuddin, S.Ag, Sekretaris dijabat oleh Jamaluddin, S.Pd, dan
Bendahara dijabat oleh Darmiati, Sp. Komisaris beserta seluruh
pengurus lainnya dapat saling bekerjasama sehingga kegiatan
usaha BUM Desa yang sudah ada dapat berjalan dengan baik.
Salah satu unit usaha yang akan dikembangkan BUM Desa
GANTING adalah kegiatan usaha pengelolaan air bersih de
ngan pemasangan sambungan pipa dan meteran air. Muncul
nya ide untuk menjalankan kegiatan usaha tersebut dilatar belakangi oleh keadaan warga desa yang mengalami kesulitan untuk
memperoleh air bersih. Ini disebabkan letak sumber air bersih
yang cukup jauh.

Kelayakan Usaha BUM Desa

141

Kegiatan usaha pengelolaan air bersih ini memiliki prospek yang sangat bagus, baik ditinjau dari segi sosial maupun
dari segi bisnis. Dari segi sosial, dengan adanya kegiatan usaha
tersebut akan sangat membantu warga desa dalam memenuhi
kebutuhan air bersih, sehingga akan mendukung peningkatan
kesehatan masyarakat. Dari segi bisnis, kegiatan usaha pengelolaan air bersih sangat diminati oleh warga desa, sehingga untuk
pemasaran produk sangat mudah karena pasarnya selalu tersedia. Terlebih di Desa Labbo tidak ada pihak-pihak yang membu
ka usaha sejenis, sehingga tidak ada pesaingnya.
Pada tahap awal usaha, target pasarnya adalah 400 rumah
tangga yang ada di Desa Labbo. Jumlah pelanggan diyakini
akan bertambah semakin banyak di masa yang akan datang.
Harga langganan telah diperhitungkan dan dimusyawarahkan
bersama warga desa, yaitu sebesar Rp. 250/m3 ditambah infak
setiap pelanggan Rp. 500/bln. Harga tersebut dirasakan ringan
bagi warga dan BUM Desa tidak rugi.
Untuk merealisasikan rencana kegiatan tersebut tentu memerlukan dana sebagai biaya investasi maupun mo
dal kerja
pada tahap awal usaha. Berdasarkan perhitungan yang cermat,
kebutuhan dana untuk biaya investasi sebesar Rp. 74,950,000,dan modal kerja sebesar Rp. 8,170,000,- sehingga total biaya
yang diperlukan Rp. 83, 120,000,-. Biaya investasi digunakan
untuk pengadaan sarana pipa air, meteran air, bahan-bahan,
biaya transportasi dan biaya pemasangan. Biaya modal kerja
digunakan untuk insentif pengurus/pengelola selama 12 bulan
terhitung sejak kegiatan usaha dapat dioperasionalkan. Total

142

Kelayakan Usaha BUM Desa

modal awal tersebut diharapkan diperoleh dari Pemerintah Kabupaten Bantaeng.


Berdasarkan hasil kajian kelayakan, perhitungan Payback
Period (waktu kembali modal) adalah 3 tahun lebih 1 bulan. Ini
menggambarkan waktu yang diperlukan untuk kembali modal
termasuk pendek, sehingga kegiatan usaha ini dari segi bisnis
tetap menguntungkan. Ini dipertegas lagi dengan perkiraan
Laba-Rugi yang menunjukkan ke
giatan usaha pengelolaan
air bersih akan memperoleh Laba Bersih Rp. 16,933,333,-/th.
Hasil perhitungan Net Present Value (NPV) dari arus kas bersih
menunjukkan positif, yaitu NPV = Rp. 24,397,784,-. Profitabi
lity index (PI) juga menunjukkan positif, yaitu PI=1,33. Dengan
demikian, berdasarkan parameter-parameter akuntansi yang digunakan semuanya mengarahkan pada kesimpulan bahwa kegiatan usaha tersebut layak dan menguntungkan.
Keuntungan yang diperoleh dari usaha pengelolaan air bersih sebagian akan digunakan untuk pengembangan usaha, dan
sebagian sisanya disetorkan ke Pemerintah Desa sebagai tambahan Pendapatan Asli Desa.
Ketersediaan sumber daya manusia untuk mengelola usa
ha, baik secara kualitas maupun kuantitas sangat memadai,
dan kebutuhan SDM dapat dicukupi dari Desa Labbo sendiri se
hingga menguntungkan dari berbagai segi. Ketersediaan SDM
tersebut menjadikan kegiatan usaha pengelolaan air bersih dapat dijalankan dengan baik.
Kegiatan usaha pengelolaan air bersih yang bersumber dari
sungai dan mata air hutan pegunungan sangat mendukung pe

Kelayakan Usaha BUM Desa

143

lestarian lingkungan hidup. Kegiatan usaha tersebut selain tidak


menghasilkan limbah yang merugikan lingkungan, juga dapat
memotivasi warga desa untuk mempertahankan keberadaan
hutan. Dengan demikian kegiatan usaha ini berdampak positif
bagi kelestarian lingkungan hidup.
Dari segi yuridis, BUM Desa GANTING telah memiliki legalitas, karena sudah ditetapkan dengan Peraturan Desa. De
ngan demikian, secara yuridis tidak ada kendala untuk segera
beroperasi.

A. GAMBARAN UMUM DESA LABBO


1. Kondisi Geografis
a. Letak Desa
Desa Labbo adalah salah satu desa yang terletak di
Kecamatan Tompobulu yang berada di bagian utara
Kabupaten Bantaeng. Jarak tempuh wilayah Desa
Labbo dari Ibukota Kabupaten Bantaeng 23 km. Desa
ini memiliki luas wilayah 9.8 km2, dengan potensi lahan yang produktif.
Adapun batas-batas desa sebagai berikut :

144

Sebelah Utara

: Asayya Kelurahan Ereng-ereng dan


Kab. Bulukumba

Sebelah Timur

: Desa Pattaneteang dan Kab. Bulukumba

Kelayakan Usaha BUM Desa

Sebelah Selatan

: Desa Balumbung dan Kelurahan


Ereng-Ereng

Sebelah Barat

: Kelurahan Ereng-Ereng dan Kab.Bulukumba

b. Topografi Desa
Desa Labbo memiliki kondisi daerah yang berbukitbukit, berada di atas gunung dengan ketinggian antara 750 m sampai 1000 m di atas permukaan laut.
Kondisi tanah cukup subur untuk ditanami berbagai
jenis tanaman, baik tanaman jangka pendek maupun
tanaman jangka panjang. Tanaman jangka panjang
adalah kopi, cengkeh serta kakao, sedangkan tanam
an jangka pendek adalah sayur-sayuran.
Daerah pegunungan di Desa Labbo terdapat hutan
yang terpelihara dengan baik. Oleh karena itu mata
air dan sungai hingga saat dapat menyediakan air untuk kebutuhan warga desa. Namun demikian, karena
jauhnya lokasi sumber air tersebut sehingga warga
desa banyak yang mengalami kendala untuk memper
olehnya.
2. Kondisi Demografis
a.

Jumlah Penduduk

Desa Labbo memiliki jumlah penduduk 883 KK (741


KK laki-laki dan 142 KK perempuan) yang terdiri atas
1.529 jiwa laki-laki dan 1.644 jiwa pe
rempuan se

Kelayakan Usaha BUM Desa

145

hingga jumlah penduduk secara keseluruhan sebanyak 3.173 jiwa.


b. Sumber Mata Pencaharian Pokok

Sumber mata pencaharian masyarakat di Desa Labbo meliputi: Petani, Pengusaha/Pedagang, PNS, Tukang Kayu, Tukang Batu, Perbengkelan, Tukang Ojek,
Kerajinan Tangan, Buruh Tani, Buruh Bangunan, dan
beberapa warga merantau keluar daerah untuk mencari nafkah.

3. Administrasi Desa
Pusat pemerintahan Desa Labbo terletak di Dusun Labbo
dan untuk menuju Kantor Desa dapat dijangkau dengan
kendaraan umum atau jalan kaki, karena berada di jalan
poros yang terhubung langsung dengan pusat kota Kabupaten Bantaeng dan telah di-hotmix.
Secara administratif Desa Labbo terbagi atas 4 dusun yaitu:
1) Dusun Pattiro membawahi 2 RW dan 4 RT
2) Dusun Ganting membawahi 2 RW dan 4 RT
3) Dusun Panjang selatan membawahi 2 RW dan 4 RT
4) Dusun Bawa membawahi 2 RW dan 4 RT
5) Dusun Labbo Membawahi 2 RW dan 4 RT
6) Dusun panjang Utara membawahi 2 RW dan 4 RT
Setiap Dusun dipimpin oleh seorang Kepala Dusun dibantu
oleh Ketua RW dan Ketua RT.

146

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kepala Desa pada dasarnya bertanggung jawab kepada


masyarakat desa, dan prosedur pertanggungjawaban di
sampaikan ke Bupati melalui Camat, kemudian dari pada
itu Kepala Desa bersama dengan BPD setiap tahun wajib
memberikan keterangan laporan pertanggungjawaban kepada masyarakatnya.
B. GAMBARAN Tentang BUM Desa GANTING
Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) GANTING Desa Labbo Kec. Tompobulu di bentuk melalui Musyawarah Desa pada
Tanggal 31 Desember 2008.
1. Visi dan Misi
a.

Visi BUM Desa:

Terwujudnya Kemandirian masyarakat menuju ma


syarakat yang sejahtera berlandaskan Iman dan Takwa
Kepada Allah SWT

b. Misi BUM Desa:


1. Mendorong berkembangnya usaha-usaha untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat.
2. Menampung berbagai kegiatan usaha ekonomi
yang ditekuni masyarakat.
3. Mendorong dan memfasilitasi proses penguatan
kelembagaan usaha masyarakat.
4. Menciptakan ruang dan peluang terhadap upaya
pemberdayaan masyarakat miskin untuk mening
katan kesejahteraan.

Kelayakan Usaha BUM Desa

147

5. Meningkatkan kemampuan kelembagaan masya


rakat dalam mengelola kegiatan usaha dan pertanggungjawaban keuangan.
2. Tujuan BUM Desa:
a. Mendorong berkembangnya kegiatan perekonomian
masyarakat desa.
b. Meningkatkan kreativitas dan peluang usaha ekonomi
produktif (berwirausaha anggota masyarakat desa yang
berpenghasilan rendah).
c.

Meningkatkan pendapatan asli desa.

d. Meningkatkan pengolahan potensi desa se


suai de
ngan kebutuhan masyarakat.
3. Badan Hukum

BUM Desa GANTING di Desa Labbo belum berbadan hukum, namun legal karena telah ditetapkan dengan Peratur
an Desa Labbo sehingga pendiriannya telah memiliki alas
hukum. Perdes tentang pendirian BUM Desa GANTING
tersebut telah dicatatkan di Kantor Notaris Eddy Tunggeleng, SH dengan akte notaris Nomor 50.

4. Organisasi

Susunan organisasi kepengurusan BUM Desa GANTING


Desa Labbo terdiri dari :
a.

Komisaris : Kepala Desa Labbo

b. Direktur
c.

: Saharuddin,S.Ag

Sekretaris : Jamaluddin, S.Pd

d. Bendahara : Darmiati,Sp

148

Kelayakan Usaha BUM Desa

5. Unit Usaha
Unit Usaha BUM Desa GANTING meliputi:
a.

Unit Usaha Pengelolaan air minum

b. Unit Usaha Simpan Pinjam


c.

Unit Usaha Peternakan

d. Unit Usaha Pengelola Hutan Desa


6. Sumber keuangan:
a.

Pemerintah Desa Labbo

b. Bantuan APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten


Bantaeng
c.

Bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat

d. Swadaya masyarakat
7. Gambaran Peluang Pengembangan Usaha

Desa Labbo memiliki potensi ekonomi Desa dari sektor per


kebunan, dengan jenis yang dapat dikembangkan adalah kopi
dan cengkeh, kakao dan markisa. Sektor perdagangan adalah adanya pasar desa. Sektor peternakan, yaitu peternakan
sapi, kuda, dan kambing. Sektor jasa yang dapat dikembangkan antara lain: pengelolaan simpan pinjam, pengelolaan air
minum, serta jasa perbengkelan dan pertukangan. Sektor industri rumah tangga juga potensial untuk dikembangkan.

Sektor-sektor perekonomian tersebut selama ini menjadi


mata pencaharian pokok masyarakat Desa Labbo dan miliki peluang pengembangan yang cukup besar untuk me
ningkatkan kesejahteraan penduduk Desa Labbo.

Kelayakan Usaha BUM Desa

149

C. UNIT USAHA PENGELOLAAN AIR MINUM


Pengelolaan sarana air minum dengan sistem meterisasi
yang dikelola secara profesional akan memberikan pelayanan
yang baik kepada masyarakat dalam hal pemerataan pengguna
an air. Di sisi lain akan memberikan tambahan pendapatan asli
desa dalam bentuk sisa hasil usaha yang wajib di setor ke kas
desa setiap tahun. Usaha pengelolaan air minum di Desa Labbo
memiliki peluang pengembangan yang cukup besar dengan
melihat potensi sumber daya alam yang berupa sungai dan
mata air. Sungai dan mata air yang berasal dari hutan di pegunungan yang ada di Desa Labbo memiliki kualitas yang baik,
artinya air tersebut layak/sehat untuk dikonsumsi.
1. Latar Belakang Pemilihan Usaha

150

Desa labbo memiliki potensi sumber daya air yang memadai dengan banyaknya mata air dan sungai yang dimanfaatkan masyarakat untuk menjadi air minum sejak dahulu
sampai sekarang. Pemanfaatan sumber air tersebut ada
yang dikelola secara tradisional, dan ada juga yang telah
mendapatkan pendanaan melalui program Care dan PPK/
PNPM Mandiri perdesaan untuk pengadaan sarana perpipaan. Pengelolaan sarana perpipaan tersebut belum dikelola secara profesional sehingga pengelolaannya belum maksimal dan pemerataan air tidak maksimal, sehingga kadang
menyebabkan masyarakat kekurangan air minum. Di sisi
lain tidak memberikan kontribusi finansial kepada Desa.

Kelayakan Usaha BUM Desa

Berdasar keadaan tersebut, BUM Desa GANTING menjadikan pengelolaan air minum menjadi salah satu unit usa
ha untuk memaksimalkan pengelolaan air di Desa Labbo.

2. Perencanaan Produk

Produk yang akan dihasilkan oleh Unit Usaha Pengelolaan


Air adalah layanan jasa distribusi air melalui perpipaan yang
tersambung langsung ke rumah-rumah pelanggan. Produk
ini sangat dibutuhkan oleh warga desa (konsumen), karena
air bersih yang menjadi kebutuhan dasar warga letak lokasi
sumbernya jauh dari permukiman. Oleh karena itu, dengan
layanan jasa distribusi air bersih tersebut selain warga desa
terpenuhi kebutuhannya, juga terpenuhi keinginannya untuk memperoleh air dengan mudah.

3. Perencanaan Pemasaran

Pasar yang dibidik adalah warga masyarakat Desa Labbo


yang memanfaatkan sarana perpipaan milik Peme
rin
tah
Desa Labbo. Warga desa yang memanfaatkan sarana air
bersih tersebut cukup besar jumlahnya, yaitu sebanyak 400
KK, sehingga ini merupakan potensi pasar cukup besar.
Model pemasaran yang dilakukan adalah menyambung
pipa untuk menyalurkan air dari sumbernya ke rumah konsumen dengan pemasangan meteran air. Dengan pemasangan meteran air, penggunaan air menjadi terkontrol,
dan ini menguntungkan semua pihak. Bagi konsumen,
adanya meteran air dapat mengatur penggunaan air se
efisien mungkin sesuai dengan kebutuhan dan kemam-

Kelayakan Usaha BUM Desa

151

puannya. Bagi BUM Desa alat tersebut sangat membantu


dalam menentukan harga yang harus dibayar oleh setiap
pelanggan setiap bulannya.

Potensi pasar tersebut juga menjadi semakin kuat karena di


Desa Labbo dan sekitarnya tidak ada pihak yang membuka
usaha sejenis. Dengan demikian, kegiatan usaha pengelolaan air tidak ada pesaingnya.

Agar pasar tetap terjaga dengan baik, ada 2 (dua) strategi


yang ditempuh, yaitu:
a.

Strategi harga

Strategi penentuan Biaya pengelolaan air yang dibebankan kepada masyarakat disesuaikan kualitas pelayanan
dengan mengedepankan musyawarah untuk mufakat.

b. Strategi distribusi

Strategi distribusi dilaksanakan dengan memaksimal


kan potensi Sumber Daya Manusia pengurus BUM
Desa dan potensi SDM lainnya dari Desa sendiri de
ngan prinsip pelayanan prima.

4. Perencanaan Manajemen
a. Kompetensi yang dimiliki pengelola dapat dimanfaatkan secara optimal, karena mereka:
1) Memahami kondisi masyarakat Desa Labbo
2) Memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang pengelolaan Air
3) Memiliki pengalaman organisasi

152

Kelayakan Usaha BUM Desa

b. Sistem manajemen yang di jalankan meliputi:


1) Manajemen Pelayanan

Manajemen pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan yang cepat, tepat, senyum dan sapa.

2) Manajemen Pengelolaan

Pengelolaan dilakukan dengan standar manajemen yang profesional yang berbasis kinerja.

3) Manajemen Keuangan

Manajemen Keuangan dikelola dengan stan


dar
akuntansi keuangan yang mengedepankan akun
ta
bilitas dan transparansi berdasarkan prinsipprinsip akutansi.

4) Manajemen Peningkatan Kapasitas SDM


Pengelola Unit Usaha dapat menjalin kerja sama


dengan pihak lain untuk meningkatkan kualitas
pelayanan. Pengelola unit usaha di
ikutsertakan
dalam pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan
tugas pokoknya.

5. Perencanaan Pengoperasian

Untuk mengoperasikan kegiatan usaha pengelolaan air di


lakukan dengan menggunakan teknologi yang ramah ling
kungan, tanpa menggunakan bahan bakar dan mudah
membangunnya. Teknologi yang dimaksud adalah sistem
grafitasi bumi. Untuk menyalurkan air dari sumbernya
menggunakan fasilitas sarana perpipaan sepanjang 7 Km
yang telah dimiliki BUM Desa GANTING Desa Labbo.

Kelayakan Usaha BUM Desa

153

Bahan baku produk yang dijual adalah air bersih yang bersumber dari mata air pegunungan. Mata air ini tak pernah
kering sepanjang masa, sehingga ketersediaan bahan baku
akan tetap terjamin dan biayanya sangat murah.

6. Perencanaan Keuangan
a.

Dana yang diperlukan dan sumbernya

Untuk menjalankan kegiatan usaha pengelolaan air


diperlukan dana sebagai modal awal sebesar Rp.
83,120,000,-. Dana ini digunakan sebagai investasi
sebesar Rp. 74,950,000,- dan Rp. 8,170,000,- sisanya
untuk modal kerja. Kebutuhan dana untuk modal usaha ini bersumber dari APBD Kabupaten Bantaeng.

b. Proyeksi pendapatan.

154

Berdasarkan hasil analisis keuangan dari kajian kela


yakan yang telah dilakukan, pendapatan usaha dapat
diproyeksikan sebagai berikut (lihat Tabel 1):

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kelayakan Usaha BUM Desa

155

ARUS KAS MASUK

URAIAN

ARUS KAS KELUAR

250,000

250,000

8,170,000

7,920,000

250,000

8,170,000

7,920,000

250,000

8,170,000

7,920,000

250,000

8,170,000

7,920,000

24,230,000 24,230,000 24,230,000 24,230,000 24,230,000

8,170,000

5. Lain-lain

7,920,000

4. Pajak

ARUS KAS BERSIH ( A B )

TAHUN KE:

32,400,000 32,400,000 32,400,000 32,400,000 32,400,000

TOTAL ARUS KAS KELUAR (B)

32,400,000 32,400,000 32,400,000 32,400,000 32,400,000

3. Bunga bank

2. Insentif Pengelola

1. ATK

B.

TOTAL ARUS KAS MASUK (A)

2. Lain-lain

1. Penerimaan infak dan biaya pemakaian


air

A.

NO

Tabel 1
Perkiraan Arus Kas Unit Usaha Pengelolaan Air Minum BUM Desa GANTING
di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng

Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa, arus kas bersih


adalah positif. Artinya pendapatan yang diperoleh lebih
besar daripada pengeluaran. Dengan kata lain, kegiatan
usaha ini layak untuk dijalankan, karena potensial mendapatkan keuntungan. Pendapatan yang dapat diterima BUM
Desa ke depan dapat ditingkatkan lagi melalui penambah
an pelanggan.

Proyeksi Laba-Rugi.
Berdasarkan hasil kajian kelayakan yang telah dilakukan,
kegiatan usaha pengelolaan air dalam keadaan laba seperti
yang ditunjukkan data pada Tabel 2 berikut ini.

156

Kelayakan Usaha BUM Desa

Kelayakan Usaha BUM Desa

157

Total Biaya Usaha

5. Lain-lain

4. Biaya Penyusutan

3. Biaya promosi

2. Gaji/Insentif Pengelola

1. ATK

BIAYA USAHA

D.

TAHUN KE
4

250,000

7,296,667

7,920,000

250,000

7,296,667

7,920,000

250,000

7,296,667

7,920,000

15,466,667 15,466,667 15,466,667 15,466,667

7,296,667

7,920,000

250,000

32,400,000 32,400,000 32,400,000 32,400,000

3. Biaya Umum Pabrik

LABA KOTOR ( A B )

2. Upah Tenaga Kerja

C.

BIAYA POKOK PRODUKSI

B.

32,400,000 32,400,000 32,400,000 32,400,000

1. Bahan Baku

PENJUALAN

URAIAN

A.

NO

15,466,667

7,296,667

7,920,000

250,000

32,400,000

32,400,000

Tabel 2
Proyeksi Laba-Rugi Unit Usaha Pengelolaan Air Minum BUM Desa GANTING
di Desa Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng

158

Kelayakan Usaha BUM Desa

LABA USAHA (C D)

BUNGA

LABA SEBELUM PAJAK (E-F )

PAJAK

LABA BERSIH (G H )

E.

F.

G.

H.

I.

16,933,333 16,933,333 16,933,333 16,933,333

16,933,333 16,933,333 16,933,333 16,933,333

16,933,333 16,933,333 16,933,333 16,933,333

16,933,333

16,933,333

16,933,333

Tabel 2 menunjukkan Unit Usaha Pengelolaan Air memperoleh laba bersih sebesar Rp. 16,933,333 setiap tahunnya.
Angka ini tentu bukan merupakan laba yang besar, tetapi
sesuai dengan prinsip usaha yang dianut BUM Desa tidak
untuk mengejar laba yang besar, tetapi lebih mengedepankan kemanfaatan bagi warga desa.
d. Waktu kembali modal (Payback Period)

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, waktu kembali modal adalah 3 tahun 1 bulan. Ini diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

Investasi Awal sebesar Rp. 74,950,000, dan Arus Kas Ma


suk Bersih sebesar Rp. 24,230,000. Berdasarkan data ini,
maka Payback Period-nya adalah sebagai berikut.

Payback Period = (74,950,000 / 24,230,000) X 1 tahun


= 3, 09 tahun atau 3 tahun lebih 1 bulan.

7. Rencana Jadwal Pelaksanaan


Jadwal pembangunan infrastruktur dan pengoperasian ke


giatan usaha pengelolaan air direncanakan mulai Bulan
Juli sampai Nopember 2010.

D. LAMPIRAN DOKUMEN PENDUKUNG


1. Dokumentasi Kelembagaan BUM Desa GANTING
2. Foto copy Akte Notaris
3. Foto copy Peraturan Desa
4. Foto copy SK Kepengurusan
5. Berita Acara Musyawarah Desa
Kelayakan Usaha BUM Desa

159

Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) atau yang disebut dengan
nama lain, merupakan lembaga ekonomi alternatif bagi desa dalam
rangka mendayagunakan potensi desa berbasis kebutuhan masyarakat. Menjalankan kegiatan usaha BUM Desa bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat desa dan meningkatkan PADes. Untuk
itu, kegiatan usaha yang dijalankan harus diupayakan berjalan
lancar dan tidak mengalami kerugian. Kenyataan menunjukkan
pendirian BUM Desa pada umumnya belum dipersiapkan melalui
studi kelayakan maupun perencanaan usaha secara memadai,
sehingga banyak BUM Des yang berdiri tetapi langka kegiatan usaha
yang berjalan secara efektif. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan pelaku BUM Desa untuk
melakukan studi kelayakan usaha.
Buku ini dihadirkan dengan maksud membantu desa dalam melakukan studi kelayakan terhadap kegiatan usaha yang akan dijalankan.
Isi buku ini memaparkan tentang apa itu studi kelayakan dan
rencana usaha, serta mengapa dan bagaimana melaksanakannya.
Jawaban atas pertanyaan itu dibahas dalam buku ini dengan bahasa
yang sederhana supaya mudah dipahami oleh semua kalangan
pembaca. Buku ini dilengkapi contoh praktik studi kelayakan dan
perencanaan usaha yang dilakukan BUM Desa GANTING Desa
Labbo Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng. Instrumen bantu untuk
menilai kelayakan usaha BUM Desa disertakan pula dalam buku ini,
sehingga semakin memudahkan Anda untuk mempratikannya.

Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD)


Jl. Karangnangka No. 175, Dusun Demangan
Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta,
Telp./Fax. 0274-4333665, mbl: 0811 250 3790,
website: //www.forumdesa.org
E-mail: fppd@indosat.net.id
Australian Community Development and Civil Society
Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II
Australian Aid managed by IDSS on behalf of the Australian Government
ISBN 602-14643-3-8

9 786021 464335