Anda di halaman 1dari 6

BAB III

METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan
menggunakan pendekatan studi cross sectional, yaitu jenis penelitian yang
pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya satu kali, pada satu
saat.16
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat penelitian pengambilan data dilakukan di puskesmas Hanura
Kabupaten Pesawaran sedangkan pengolahan data dilakukan di Balai
Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung.
b. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada Januari 2015.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien yang didiagnosa
menderita penyakit malaria. Untuk metode sampling yang dipergunakan
pada penelitian ini adalah non-probability sampling yaitu semua subyek
yang datang secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan
dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang dibutuhkan
terpenuhi (consecutive sampling).16
Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus besar sampel
korelasi, yaitu sebagai berikut :17

[
[

n=

( Z+ Z )

[ ]

1+ r
0,5 ln
1r

( 1,96+1.64 )
n=
1+ 0,5
0,5 ln
10,5

n=46,04=46

Keterangan :
n

: Ukuran sampel

27

+3

+3

28

3.3.1

: Koefisien korelasi (0,5)

: Power Penelitian (95%=1,64)

: Deviat baku normal 0,05 (1,96)

Kriteria Inklusi
a. Bersedia menjadi responden setelah mengisi informed concent,
b. Menderita penyakit malaria setelah terdiagnosis secara klinis dan
melalui pemeriksaan mikroskopis yaitu pemeriksaan apusan darah,

3.3.2

Kriteria Eksklusi
a. Pasien dengan penyakit hati seperti hepatitis, serosis hepatis, dll,
b. Pasien yang meminum OAT atau obat hepatotoksik seperti
parasetamol, atenolol dll,

3.4 Cara Pengumpulan Data


Data yang dipergunakan adalah data sekunder dan data primer. Data
pasien

penyakit malaria

didapatkan dari rekam

medik, sedangkan

pengambilan data derajat parasitemia dan kadar SGPT diambil dari darah
pasien secara langsung dan diuji di laboratorium.
3.5 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel
independen (derajat parasitemia) dan variabel dependen (peningkatan
kadar SGPT).

3.6 Definisi Operasional


No

Variable

Tabel 3.1 Definisi Operasional


Definisi Operasional
Alat Ukur
Cara
Ukur

Hasil Ukur

Skala

29

Derajat
Parasite
mia

Jumlah parasit yang Mikroskop


ditemukan dalam darah
tepi
yang
diukur
menggunakan
teknik
apusan darah

Apusan
darah tepi

Kadar
SGPT

Enzim
hati
yang Spektrofoto Pemeriksa
dikeluarkan
ke metri
an secara
peredaran darah karena
enzimatik
adanya kerusakan sel
hati yang dideteksi
dengan
pemeriksaan
secara enzimatik

0 = derajat
ringan,
parasit <5%
1= derajat
sedang,
parasit 510%
2= derajat
berat,
parasit
>10%
0 = naik,
jika kadar
SGPT >35
IU/L
1= tidak
naik, jika
kadar SGPT
< 35 IU/L

Ordinal

Ordinal

3.7 Alat dan Cara Penelitian


3.7.1 Pemeriksaan Derajat Parasitemia
Alat
1. Kaca obyek dengan permukaan rata, bersih, kering bebas debu
dan lemak.
2. Spreader/penggeser dari bahan gelas atau bahan lainnya dengan

tepi rata dan lebih sempit dari lebar kaca obyek.


3. Mikroskop.
4. Lancet steril.
5. Minyak emersi.18
Cara kerja
Cara pembuatan dilakukan dengan metode two slide yang
menggunakan 2 buah kaca obyek. Satu tetes darah ( 5L)
diletakan pada 1-2 cm dari salah satu ujung kaca obyek,
kemudian spreader diletakan didepan tetesan darah dengan sudut
30 - 40 terhadap kaca obyek. Spreader ditarik kebelakang
sampai menyentuh tetes darah, kemudian ditunggu sampai
menyebar sepanjang spreader. Spreader didorong dengan gerakan
mantap sehingga terbentuk apusan darah sepanjang 3-4 cm.

30

apusan darah dibiarkan mengering diudara.18 Penghitungan


menggunakan rumus sebagai berikut:
n=

3.7.2

jumlah sel darah merah terinfeksi


x 100
total sel darah merah(1000)

Pemeriksaan Kadar SGPT


Tes untuk mendeteksi kadar SGPT:14
Secara automatik:

1.
2.
3.
4.

Ambil darah pasien sebanyak 5cc.


Masukkan kedalam tabung kimia (tabung tanpa antikoagulan).
Beri identitas pasien pada tabung tersebut.
Diamkan selama 15 menit sebelum di Sentrifuge.
5. Kemudian darah yang ada ditabung di Sentrifuge selama 5 menit
dengan kecepatan 3000 rpm, untuk memisahkan serum dengan sel
darah merah.
6. Ambil serum 500 l, masukkan kedalam Cup untuk diperiksa
dengan menggunakan Spektrofotometer.
7. Lalu pilih program tes ALT, dengan panjang gelombang 340 nm,
setelah selesai program akan keluar hasil tes ALT berupa lembar

1.7.3

print out.
Alur Penelitian
Alur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Pasien yang
berobat ke
Puskesmas
Hanura

Terdiagnosis
penyakit
malaria
Kriteria Inklusi

31

Responden
Penelitian

Balai
Laboratorium
Klinik Provinsi
Lampung

Pengambilan
sampel darah
Mendapatkan
hasil penelitian

Kriteria
Eksklusi
Dropout
Balai
Laboratorium
Klinik Provinsi
Lampung

Pengolahan
data

Gambar 3.2 Alur penelitian hubungan derajat parasitemia dengan peningkatan


kadar SGPT pada pasien malaria di Puskesmas Hanura kabupaten pesawaran

3.8 Pengolahan Data


3.8.1 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan data agar terlihat
karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Data katagorik akan
dilihat distribusi frekuensi dengan ukuran proporsi dan persentase lalu
3.8.2

disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau narasi.19


Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara
variabel dependent dengan variabel independent dan untuk menghitung
besar perbedaan antara nilai pengamatan (observed frequencies) dengan
nilai harapan (expected frequencies). Untuk mencari keeratan hubungan
antar variabel maka dari itu penelitian ini menggunakan uji korelasi
Spearman.19
Sangat Kuat
Kuat
Sedang

:r=1
: r > 0,8
: r < 0,79

32

Lemah
: r < 0,59
Sangat lemah : r < 0,4