Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Penelitian


Penelitian dilakukan di Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran
pada tanggal 27 Januari 2015 sampai 20 Februari 2015. Penelitian
dilakukan selama 23 hari. Sampel penelitian sebanyak 50 pasien Malaria
yang masuk kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi, serta
pengambilan sampel mengunakan teknik consecutive sampling. Untuk
memperoleh data dilakukan secara langsung yaitu dengan mengambil
sampel darah dari responden yang telah menyetujui informed consent.
Pada penelitian ini akan disajikan data terkait dengan derajat parasitemia
dengan kadar SGPT, lalu dilakukan analisa data dengan menggunakan
program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi
20.0.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1

Karateristik Responden
Tabel 4.1 Karakteristik responden di Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran
Karakteristik responden
N
%
Jenis kelamin
Laki-laki
33
66
Perempuan
17
34
Usia
1 15 tahun
22
44
16 30 tahun
31 45 tahun
46 - 60 tahun
Jumlah

14
9
5
50

33

28
18
10
100

34

Tabel

4.1

memperlihatkan

bahwa

karakteristik

responden

berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 33 orang (66%), dan


perempuan sebanyak 17 orang (34%). Tabel tersebut juga memperlihatkan
karateristik interval usia pasien 1 15 tahun sebanyak 22 orang (44%), 16
30 tahun sebanyak 14 orang (28%), 31 45 tahun sebanyak 9 orang
(18%) dan 46 60 tahun sebanyak 5 orang (10%).
4.2.2

Analisis Univariat
Tabel 4.2 Derajat Parasitemia pasien malaria di Puskesmas Hanura Kabupaten
Pesawaran
Variabel
N
%
Derajat parasitemia
Ringan
Sedang
Berat
Jumlah

38
10
2
50

76
20
4
100

Tabel diatas menunjukkan bahwa responden yang mengalami


derajat parasitemia ringan sebanyak 38 orang (76%), yang mengalami
derajat parasitemia sedang sebanyak 10 orang (20%), dan yang mengalami
derajat parasitemia berat sebanyak 2 orang (4%). Berikut adalah proporsi
derajat parasitemia yang disajikan dalam bentuk diagram:

35

4%
20%
derajat ringan
derajat sedang
derajat berat
76%

Diagram 4.1 Distribusi frekuensi derajat parasitemia pasien malaria di


Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran

Tabel 4.3 Peningkatan Kadar SGPT pasien malaria di


Kabupaten Pesawaran
Variabel
n
Kadar SGPT
Naik
Tidak Naik
Jumlah

8
42
50

Puskesmas Hanura
%
16
84
100

Tabel diatas memperlihatkan bahwa 8 orang (16%) mengalami


peningkatan kadar SGPT dan 42 orang (84%) tidak mengalami
peningkatan

kadar SGPT. Berikut adalah proporsi penignkatan kadar

SGPT yang disajikan dalam bentuk diagram:

36

45

Tidak Naik; 42

40
35
30
25
20
15
Naik; 8

10
5
0

Naik

Tidak Naik

Diagram 4.2 Distribusi frekuensi peningkatan kadar SGPT pasien malaria di


Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran
Table 4.4 Peningkatan jumlah Kadar SGPT pasien malaria di Puskesmas Hanura
Kabupaten Pesawaran
Variabel
Kadar
SGPT
Naik
Tidak Naik

53,00 22,45
18,12 8,25

Tabel diatas memperlihatkan bahwa kadar rata-rata pasien malaria


yang mengalami peningkatan kadar SGPT adalah 53,00 22,45 U/L dan
kadar rata-rata pasien malaria yang tidak mengalami peningkatan kadar
SGPT adalah 18,12 8,25 U/L.
4.2.3

Analisis Bivariat
Tabel 4.5 Tabulasi silang hubungan derajat parasitemia dengan peningkatan kadar
SGPT di Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran
Kadar SGPT
Total
Tidak
Variabel
Naik
Naik
n
%
N
%
n
%
Derajat Parasitemia Ringan
2
4
36
72
38
76
Sedang
5
10
5
10
10
20
Berat
1
2
1
2
2
4

37

Jumlah

16

42

84

50

10
0

Berdasarkan tabel 4.6 dari 50 sampel pasien malaria, 38 orang


(76%)

pasien malaria dengan derajat ringan terdapat 2 orang (4%)

mengalami peningkatan kadar SGPT dan 36 orang (72%) tidak mengalami


peningkatan kadar SGPT, 10 orang pasien malaria dengan derajat
parasitemia sedang terdapat 5 orang (10%) mengalami peningkatan kadar
SGPT dan 5 orang (10%) tidak mengalami peningkatan kadar SGPT, dan 2
orang pasien malaria dengan derajat berat terdapat 1 orang (2%)
mengalami peningkatan kadar SGPT dan 1 orang (2%) tidak mengalami
peningkatan kadar SGPT.

Tabel 4.6 Kadar SGPT bedasarkan derajat parasitemia di Puskesmas Hanura


Kabupaten Pesawaran
Variabel
Kadar SGPT (U/L)
Derajat Parasitemia Ringan
18,53 9,70
Sedang
34,90 15,34
Berat
66 55,15

Berdasarkan tabel 4.7 pasien malaria dengan derajat ringan


mengalami peningkatan rata-rata kadar SGPT sebesar 18,53 9,70 U/L,
pasien malaria dengan derajat parasitemia sedang mengalami peningkatan
rata-rata kadar SGPT sebesar 34,90 15,34 U/L dan pasien malaria dengan
derajat berat mengalami peningkatan kadar SGPT sebesar 66 55,15 U/L.

Tabel 4.7 Hasil uji korelasi Spearman


Uji statistik
n
Nilai P

Keterangan

38

Spearman

50

0,000

-0,518

Korelasi Lemah

Hasil uji Korelasi Spearman dari 50 sampel pasien malaria,


hubungan antara derajat parasitemia dengan peningkatan kadar SGPT
dengan didapatkan kekuatan korelasi lemah dan arah hubungan negatif (p
= 0,000, dan r = -0,518)

39

4.3 Pembahasan
Derajat parasitemia merupakan presentase individu dalam populasi
yang apusan darahnya memperlihatkan parasit. Pemeriksaan derajat
parasitemia dapat terlihat pada fase eritrositik pada siklus hidup
plasmodium dimana terjadi agregasi parasit kedalam eritrosit. Pada
pemeriksaan terlihat gambaran ringform dari bentuk parasit didalam
eritrosit.11
Enzim SGPT merupakan suatu enzim golongan transferase yang
mengatalisis pemindahan revesibel sebuah gugus amino dari alanine ke ketoglutarat untuk membentuk glutamat dan piruvat, dengan piridoksal
fosfat sebagai kofaktor. Reaksi ini memindahkan nitrogen untuk diekskresi
atau digabungkan kedalam senyawa lain. Enzim ini ditemukan dalam
serum dan jaringan tubuh, terutama pada hati. Aktivitas serum SGPT
sangat meningkat pada penyakit hati dan juga meningkat pada nukleosis
infeksiosa.8
4.3.1 Analisis Univariat
4.3.1.1 Derajat Parasitemia
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data terbesar 38 orang
(76%) merupakan pasien malaria dengan derajat ringan dan data terkecil 2

40

orang (4%) pasien malaria dengan derajat berat, sedangkan pasien malaria
dengan derajat sedang terdapat 10 orang (20%).
Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Ali H. et al dimana dari 76 pasien malaria didapatkan hasil dengan jumlah
terbesar yaitu 31 orang (40,79%) dengan derajat ringan, hasil terkecil 22
orang (28,95%) pasien malaria dengan derajat sedang, dan pasien dengan
derajat berat terdapat 23 orang (30,26). 9
Berdasarkan literatur pemeriksaan

apusan

darah

dengan

menentukan derajat parasit merupakan pemeriksaan standar dalam


mendiagnosis malaria. Dimana dalam pemeriksaan ini melihat gambaran
ringform pada fase eritrositik siklus hidup plasmodium sp. Dan dalam
pemeriksaan ini sampel yang digunakan dapat menggunakan darah tepi
maupun darah vena.7
Plasmodium sp. mempunyai siklus hidup yang lebih kompleks, karena
selain terjadi pergantian generasi seksual dan aseksual juga mengalami
pergantian hospes. Siklus hidup terdiri dari siklus seksual (sporogoni) yang
berlangsung pada nyamuk Anopheles betina, dan siklus aseksual yang
berlangsung pada manusia. Siklus hidup pada manusia terdiri dari fase exoerithrocytic di dalam parenkim sel hepar dan fase erithrocytic schizogoni.11
Fase seksual terjadi didalam tubuh nyamuk dimana terjadi perkawinan
antara mikrogametosit dan makrogametosit yang akan menghasilkan zigot.
Perkawinan ini terjadi didalam lambung nyamuk. Zigot berkembang menjadi
ookinet, kemudian masuk kedinding lambung nyamuk berkembang menjadi
ookista, setelah ookista matang dan pecah, keluar sporozoit yang berpindah ke
kelenjar saliva nyamuk dan siap untuk ditularkan ke manusia. 11

41

Pada fase eksoeritrositik sporozoit masuk aliran darah melalui gigitan


nyamuk. Sporozoit kemudian akan menuju hepar untuk berkembang biak.
Sporozoit-sporozoit ini dengan cepat (beberapa menit) menginvasi sel hepar
kemudian berkembang menjadi skizon eksoeritrositik. Masing-masing skizon
eksoeritrositik 30.000 merozoit. Skizon tersebut akan pecah dan melepaskan
merozoit dewasa ke aliran darah.11
Merozoit yang dilepaskan dari sel hepar akan menginfeksi eritrosit dan
berkembang menjadi ringform, kemudian tropozoit, dan akhirnya akan menjadi
skizon. Eritrosit yang mengandung skizon mengalami ruptur dan melepaskan
merozoit yang siap menginfeksi eritrosit lain. Sebagian besar merozoit masuk
kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina. 11
Pada pemeriksaan mikroskopis malaria, pemeriksaan apusan darah
merupakan salah satu pemeriksaan yang penting, baik pemeriksaan apusan darah
tebal ataupun tipis.4 Pemeriksaan apusan darah dapat

digunakan untuk

menentukan derajat parasitemia yang dilihat dengan menghitung kepadatan


parasit dalam lapang pandang besar (LPB). 5 Kepadatan parasit dapat dilihat
melalui dua cara yaitu semi kuantitatif dan kuantitatif. 5

4.3.1.2 Kadar SGPT


Pada penelitian ini didapatkan pasien malaria dari 50 sampel yang
mengalami peningkatan kadar SGPT sebanyak 8 orang (16%) dan yang
tidak mengalami peningkatan kadar SGPT sebanyak 42 orang (84%).
Kadar rata-rata pasien malaria yang mengalami peningkatan kadar SGPT
adalah 53,00 22,45 U/L dan kadar rata-rata pasien malaria yang tidak
mengalami peningkatan kadar SGPT adalah 18,12 8,25 U/L. Dengan nilai

42

minimum kadar SGPT 7 IU/L dan maksimum 105 IU/L dengan rata-rata
23,70 UI/L dan SD 17,199 IU/L.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ali h. et al pada pasien
malaria peningkatan kadar SGPT ringan sampai sedang dan tidak
signifikan dengan peningkatan derajat parasit. Pasien dengan derajat
parasit berat mengalami peningkatan SGPT 54,13 SD 27,26 IU/L
dibandingkan 39,06 SD 20,32 IU/L.9
Alanine-piruvat aminotransferase (ALT) atau SGPT adalah enzim
yang mengkatalis pemindahan gugus amino ke piruvat (membentuk
alanine). Masing-masing amino-transferase bersifat spesifik untuk satu
pasangan substrat tetapi tidak spesifik untuk pasangan lain. Karena
alanine juga merupakan suatu substrat untuk glutamate aminotransferase,
semua nitrogen amino untuk asam amino yang mengalami transminasi
dapat terkonsentrasi dalam glutamate.12
SGPT merupakan suatu enzim yang ditemukan terutama pada selsel hepar, efektif dalam mendiagnosa kerusakan hepatoseluler. Kadar ALT
dapat tinggi sebelum ikterik terjadi. Pada ikterik dan ALT serum >300
unit, penyebab yang paling mungkin karena gangguan hepar dan tidak
gangguan hemolitik.13
Kadar SGPT merupakan enzim yang dikeluarkan karena adanya
pada jaringan tubuh, ini meningkat pada penyakit janting, otot, ginjal dan
sangat meningkat pada kerusakan hati. Kadar normal enzim ini 4 36
IU/L dan mengalami penigkatan 3 10x pada penderita malaria.8
SGPT adalah enzim yang mengkatalis pemindahan grup amino dari
metabolism oxaloacetic hepar. Aktivitas SGPT dalam serum sekitar 3000

43

kali, dikerusakan atau kematian sel hepar, SGPT dilepaskan dari sel hepar
yang rusak dan meningkatkan aktifitas SGPT didalam serum. SGPT sangat
spesifik ditemukan pada kerusakan sel hepar tetapi juga dapat ditemukan
di ginjal, dan dapat ditemukan dalam jumlah kecil di sel jantung dan sel
otot. SGPT yang dilepaskan kedalam darah merupakan katabolisme di
hepar dengan menghasilkan plasma yang bertahan sekitar 47 10 jam.
Aktifitas SGPT meningkat 45% lebih tinggi di sore hari daripada pagi hari.
20

4.3.2

Analisis Bivariat
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pasien malaria
dengan derajat parasitemia ringan yang mengalami peningkatan kadar
SGPT mencapai 4%, derajat parasitemia sedang yang mengalami
peningkatan kadar SGPT mencapai 10 % dan pasien dengan derajat
parasitemia berat yang mengalami peningkatan kadar SGPT sebesar 2%
dari seluruh responden. Dari hasil uji statistik diperoleh p-value = 0,000
(p-value < ) yang berarti ada hubungan antara derajat parasitemia dengan
peningkatan kadar SGPT pada pasien malaria. Kekuatan korelasi antar
variabel lemah, hal ini dapat dilihat dari hasil uji korelasi Spearman
dengan r = -0,518 dengan arah korelasi negatif.
Pada penelitian yang dilakukan Ali H. et al dalam studi case
control menyebutkan bahwa dari 76 pasien dengan hasil positif
pemeriksaan malaria. 31 pasien (40,79%) dengan derajat parasitemia
ringan, 22 pasien (28,95%) dengan derajat parasitemia sedang dan 23
pasien (30,26%) dengan derajat parasitemia berat dikaitkan dengan
penurunan kesadaran, penyakit kuning atau malaria hepatitis, gagal ginjal

44

akut, DIC, pemeriksaan laboratorium seperti trombositopenia, SGPT,


SGOT dan lain-lain serta kematian sangat kuat keeratannya dengan tingkat
kepadatan parasit (p=0,001). Derajat parasitemia tidak terkait dengan usia,
jenis kelamin dan hepatosplenomegali.9
Menurut penelitian yang dilakukan Onyesom I. dan Onyemakonor
N. menyebutkan bahwa dari 60 pasien malaria yang terdiri dari 30 pasien
positif malaria dan 30 pasien tidak terinfeksi menggunakan stidu control
kasus dikaitkan derajat parasitemia dengan aktifitas liver enzim memiliki
hasil positif (p<0,05).21
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium sp..
Plasmodium sp. pada penderita malaria dapat ditemukan dengan
pemeriksaan apusan darah yang dapat menetukan derajat parasetamia.
Plasmodium sp. yang yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles masuk

melalui air liur, lalu dalam

1
2 1 jam masuk kedalam sel hati. Didalam

sel hati Plasmodium sp. berkembang biak dengan membelah diri. Fase ini
berlangsung beberapa waktu tergantung jenis Plasmodium sp. dan pada
akhir fase ini, sel hati yang mengandung beribu-ribu merozoit
(Plasmodium sp.) pecah, lalu merozoit (Plasmodium sp.) masuk kedalam
peredaran darah.11 Saat sel hati cedera, enzim SGPT banyak ditemukan di
sel parenkim hati akan dilepaskan kedalam peredaran darah sehingga
terjadi peningkatan kadar SGPT dalam darah.15