Anda di halaman 1dari 3

Peraturan Gempa dan Risiko Bangunan

Oleh Yohanes Laka Suku, S.T, M.T


Dosen Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Flores, Hp 08123796856

Opini ini ditulis untuk memberi pencerahan mengenai dampak peraturan gempa yang baru, Tata
Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non-Gedung, yakni SNI
1726: 2012 menggantikan peraturan lama SNI 1726 03-1726-2002. Peraturan baru ini dibuat
untuk mencegah keruntuhan bangunan gedung akibat gempa yang dahsyat.
Mengapa ada bangunan gedung yang ambruk akibat gempa? Jawabannya, karena tidak
terpenuhinya standar minimal sesuai dengan yang diatur dalam peraturan gempa sebagaimana
disebutkan di atas, seperti: sistem struktur gedung, detailing, kualitas material, dan tidak
konsisten antara desain dan pelaksanaan.
Pada umumnya jika ada peraturan gempa yang baru, perhatian utama dari para akademisi dan
praktisi industri konstruksi bangunan adalah: seberapa banyak perubahan pada persyaratannya
dan seberapa besar terjadi peningkatan level beban gempa rencananya. Mengetahui beban gempa
rencana, secara pasti sangat penting dalam mendesain struktur sebuah gedung agar mempunyai
ketahanan baik terhadap gempa. Oleh karena itu, muncul pertanyaan, apakah ada perbedaan
beban gempa rencana dari kedua peraturan yang disebutkan di atas?
Sudah pasti ada perbedaan konsep antara kedua peraturan tersebut. Secara garis besar,
perbedaan antara peraturan yang baru dan yang lama adalah dari konsep yang mendasari
dikembangkannya kedua peraturan tersebut. Adapun perbedaan konsep yang mendasari kedua
peraturan tersebut sebagai berikut.
Pertama, konsep tujuan. Kedua peraturan tersebut mempunyai konsep tujuan yang agak berbeda.
Konsep yang dikembangkan SNI 1726: 2012 bertujuan agar pada saat terjadi gempa bangunan
dapat melindungi para penghuni dan memastikan kerusakan yang terjadi berada pada batas yang
masih dapat diperbaiki kembali. Konsep yang dikembangkan SNI 03-1726-2002 bertujuan untuk
menjamin agar ketika terjadi gempa struktur bangunan gedung walau mencapai kondisi ambang
keruntuhan, tetapi masih dapat berdiri sehingga dapat mencegah jatuhnya korban jiwa.

Kedua, konsep penentuan, percepatan batuan dasar dan respon spektrum gempa rencana.
Peraturan gempa yang baru, yakni SNI 1726: 2012 disusun berdasarkan periode ulang gempa
2500 tahun (probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun), sedangkan SNI 03-1726-2002 dengan
periode ulang gempa 500 tahun (probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun).
Kita mengetahui bahwa gempa bumi terjadi karena adanya energi yang dilepaskan dan merambat
ke segala arah secara acak melalui batuan-batuan bumi dalam bentuk gelombang-gelombang
sehingga mengakibatkan pergerakan tanah yang menyebabkan bangunan gedung ikut merespons
pergerakan tersebut. Respons bangunan gedung tersebut dalam istilah teknik sipil disebut
respons spektrum. Respons spektrum menunjukkan respons maksimum suatu struktur bangunan
terhadap getaran gempa.
Besar-kecilnya beban gempa atau beban geser dasar (V) yang diterima oleh gedung bergantung
pada hasil perkalian koefisien respons spektrum (Cs) dan berat bangunan (Wt). Akibat perbedaan
kedua konsep di atas akan menyebabkan terjadinya perbedaan besarnya beban geser dasar
nominal akibat gempa dari kedua peraturan tersebut.
Penelitian tentang perbandingan gaya gempa dari kedua peraturan tersebut sudah banyak
dilakukan, antara lain oleh Faizah dan Widodo (2013). Mereka melakukan penelitian tentang
analisis gaya gempa rencana pada model struktur 2 dimensi, dan model struktur ditinjau pada 23
kota besar di Indonesia. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode dinamik respon
spektral.
Mereka menyimpulkan bahwa gaya gempa rencana tahun 2012 (SNI 1726: 2012) tidak selalu
lebih tinggi daripada gaya gempa rencana tahun 2002 (SNI 03-1726-2002), tetapi bergantung
pada percepatan respons spektral dari lokasi bangunan tersebut. Untuk wilayah Flores, dari peta
gempa terbaca bahwa secara umum besarnya nilai percepatan respons spektral yang diatur pada
kedua peraturan tersebut berbeda. Dengan demikian, besarnya nilai gaya gempa juga akan
berbeda.
Penelitian tentang perbandingan besarnya nilai gaya gempa dari kedua peraturan tersebut, juga
telah dilakukan oleh seorang mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Flores yang kami bimbing, yakni Damianus Melky (2014). Penelitian dilakukan
dengan memodelkan struktur gedung 3 dimensi. Dari hasil penelitiannya terhadap beberapa
model struktur, Melky antara lain menyimpulkan bahwa gaya gempa rencana untuk bangunan
gedung di Kota Ende berdasarkan SNI 1726: 2012 selalu lebih tinggi nilainya dibandingkan
dengan gaya gempa rencana berdasarkan SNI 03-1726-2002.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan Melky, akan muncul pertanyaan, apakah
gedung yang sudah terbangun di Kota Ende yang dirancang berdasarkan peraturan sebelumnya,
yakni SNI 03-1726-2002 masih aman dan memenuhi persyaratan SNI 1726: 2012? Untuk

menjawab pertanyaan ini, maka perlu dilakukan penelitian yang lebih saksama terhadap gedunggedung yang sudah dibangun, seperti cakupan semua jenis tanah, variasi model struktur,
implikasi respon struktur, dan lain-lain. Apabila diketahui ada bangunan tidak mampu menahan
gaya gempa rencana sesuai SNI 1726-2012, maka perlu dilakukan perkuatan struktur agar
memenuhi persyaratan SNI 1726-2012. (Flores Pos, Sabtu, 8 Maret 2014).