Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS

FUNDAMENTAL
A. Analisis Fundamental
Analisis fundamental adalah analisis sekuritas yang menggunakan data-data fundamental
dan faktor-faktor eksternal yang berhubungan dengan perusahaan/ badan usaha tersebut. Data
fundamental yang dimaksud adalah data keuangan, data bangsa pasar, siklus bisnis, dan
sejenisnya. Sementara data faktor eksternal yang berhubungan dengan badan usaha adalah
kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga, inflasi, dan sejenisnya. Dengan
mempertimbangkan data-data seperti tersebut diatas, analisis fundamental menghasilkan
berupa analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan apakah perusahaan tersebut
sahamnya layak dibeli atau tidak. Jika nilainya mahal atau overvalued, saham tersebut
dianggap nilainya lebih tinggi berdasarkan analisis fundamental melalui perbandingan harga
yang berlaku di pasar. Dengan kata lain harganya sudah terlalu mahal jadi lebih baik tidak
dibeli atau dijual jika memiliki sahamnya. Sementara jika yang terjadi sebaliknya, saham itu
layak untuk dibeli dengan alasan harganya murah.
Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi
suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian - kejadian
yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok untuk membuat
keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang.
B. Tahapan Analisis Fundamental
Secara umum untuk menganalisa perusahaan dengan menggunakan analisa fundamental
terdiri dari 4 langkah yaitu:
I.
Analisis Kondisi Ekomomi
Kondisi ekonomi dipelajari untuk memperhitungkan jika kondisi ekonomi secara
keseluruhan baik untuk pasar saham. Apakah tingkat inflasi tinggi atau rendah? Apakah suku
bunga naik atau turun? Apakah konsumen yakin atau ragu-ragu dalam mengeluarkan uang?
Apakah neraca perdagangan untung atau rugi? Apakah supply uang naik atau turun?Ini
adalah sebagianpertanyaan seorang fundamental analis menanyakan untuk
memperhitungkan jika kondisi ekonomi secara keseluruhan baik untuk pasar saham .
Indikator-indikator ekonomi yang sering digunakan dalam analisis fundamental adalah:
a. Gross National Product (GNP)
Gross National Product (GNB) adalah total produksi barang dan jasa yang diproduksi
oleh penduduk negara tersebut baik yang berdomisili di dalam maupun luar negeri dalam
suatu periode tertentu.

b. Gross Domestic Product (GDP)


Gross Domestic Product (GDP) adalah jumlah seluruh barang dan jasa yang diproduksi
oleh suatu negara baik oleh perusahaan dalam negeri maupun oleh perusahaan asing yang
beroperasi di negara tersebut pada suatu periode tertentu, biasanya dirilis setiap kwartal.
GDP terdiri atas empat komponen utama yaitu:
1. Konsumsi.
2. Investasi.
3. Belanja pemerintah.
4. Nilai ekspor bersih.
Ada tiga cara untuk menghitung GDP yaitu:
1. Menjumlah total nilai dari produksi barang dan jasa.
2. Menambahkan jumlah pengeluaran atas barang dan jasa pada saat penjualan.
3. Mendapatkan pendapatan produsen dari penjualan barang dan jasa.
Memang agak sulit untuk mengukur nilai GDP secara tepat. Ini karena setiap negara
memiliki ekonomi yang non-official yang sering disebut sebagai black economy yang
terdiri atas transaksi-transaksi yang tidak dilaporkan pada pemerintah.
c. Inflation
Inflation atau inflasi adalah peningkatan harga secara umum dalam
perekonomian. Tingkat inflasi digunakan sebagai salah satu indikator fundamental
ekonomi karena mencerminkan tingkat GNP dan GDP ke dalam nilai yang sebenarnya
yang merupakan indikator penting dalam membandingkan peluang dan risiko investasi di
mancanegara.Tingkat inflasi dapat diketahui dan dihitung melalui Indeks Harga Produksi
[PPI(Producer Price Index)] dan Indeks Harga Konsumen [CPI(Consumer Price Index)].
Indeks Harga Produksi (PPI) mengukur rata-rata perubahan harga yang diterima
oleh produsen domestik untuk setiap output yang dihasilkan dalam setiap tingkat proses
produksi, yang datanya diperoleh dari berbagai sektor ekonomi, terutama dari sektor
manufaktur, pertambangan dan pertanian.
Indeks Harga Konsumen (CPI) digunakan untuk mengukur rata-rata perubahan
harga eceran dari sekelompok barang dan jasa tertentu. CPI merefleksikan harga pangan,
sandang, papan, bahan bakar, tranportasi, perawatan kesehatan serta barang dan jasa lain
yang dibeli untuk kebutuhan sehari-hari.
CPI dan PPI digunakan oleh seorang trader sebagai indikator untuk mengukur
tingkat inflasi yang terjadi karena menunjukkan indeks kenaikan harga secara umum.
Salah satu cara pemerintah dalam menanggulangi inflasi adalah dengan melakukan
kebijakan menaikkan tingkat suku bunga.
d. Balance of Payment (BOP)

Balance of payment (BOP) adalah catatan dari keseluruhan aktivitas transaksi


perekonomian internasional suatu negara dengan negara lain, baik yang bersifat
komersial maupun financial pada suatu periode tertentu.
Dengan adanya BOP dapat diketahui apakah suatu Negara mengalami surplus atau
deficit.Secara garis besar BOP dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Neraca perdagangan yang merupakan selisih antara total ekspor dan impor barang, jasa,
dan transfer. Dalam perhitungannya, neraca perdagangan ini tidak mencakup transaksitransaksi asset financial dan kewajiban (hutang).
2. Aliran Modal yaitu investasi langsung dan investasi tidak langsung. Pada investasi
langsung, investor dari luar negeri melakukan penanaman modal dalam aset riil dan
biasanya bersifat jangka panjang, misalnya membangun pabrik, gedung perkantoran, dan
lain-lain, sedangkan investasi tidak langsung dapat kita temui dalam investasi instrumen
keuangan.
e. Employment Situation (non-farm payroll)
Tingkat pengangguran menjadi suatu indikator yang dapat memberikan gambaran
tentang kondisi riil berbagai sektor ekonomi. Indikator ini dapat menjadi alat untuk
menganalisis sehat atau tidaknya perekonomian suatu negara.Apabila perekonomian
berada dalam kondisi baik, maka tingkat penganggurannya rendah. Tetapi jika
perekonomian dalam keadaan lesu atau terpuruk, maka tingkat pengangguran pun
meningkat.Employment situation (non-farm payroll) mencerminkan perubahan dari bulan
ke bulan jumlah pekerja yang memperoleh gaji/upah resmi (payroll) di sektor non-farm
(selain pertanian), yaitu sektor bisnis, pegawai pemerintah, dan lembaga-lembaga yang
berorientasi pada profit.
f. Interest Rate
Interest rate atau tingkat suku bunga nominal suatu negara yang naik lebih tinggi
dibanding negara lain membuat para pemodal tertarik untuk berinvestasi di negara
tersebut, meskipun demikian perlu diperhatikan apakah kenaikan suku bunga tersebut
melebihi laju inflasi atau tidak.
g. Kurs Valuta Asing
Kurs valuta asing merupakan perbandingan nilai tukar antara suatu mata uang terhadap
mata uang lainnya. Kurs ini biasanya digunakan sebagai indikator utama untuk melihat
kekuatan ekonomi ataupun tingkat kestabilan perekonomian suatu negara.Jika kurs mata
uang negara tersebut tidak stabil maka dapat dikatakan bahwa perekonomian negara
tersebut tidak baik atau sedang mengalami krisis ekonomi. Karena itu, suatu negara perlu
memiliki mata uang yang stabil agar perekonomiannya dapat berjalan dengan lancar dan
membentuk tren pertumbuhan.
h. Public Sector Net Cash Requirement (PSNCR)

Public Sector Net Cash Requirement atau kebutuhan tunai sektor public adalah jumlah
uang yang harus dipinjam pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya.
Hal ini dibutuhkan karena sering kali pengeluaran pemerintah melebihi pendapatan dari
penerimaan pajak, dan satu-satunya cara untuk menambah kekurangannya adalah dari
hutang.
i. Housing Start/Building Permits
Merupakan jumlah proyek perumahan yang mulai dibangun dalam satu periode umum
dan merupakan indikator kunci bagi ekonomi. Pentingnya sektor perumahan terletak pada
kemampuannya memicu perubahan ekonomi yang menandai perubahan dalam
pertumbuhan.Housing start mempunyai dua kategori, yaitu keluarga tunggal dan keluarga
jamak. Dalam dua hal tersebut, satu unit perumahan dihitung sejak mulainya
pembangunan pondasi.Indikator ini sangat dipengaruhi kenaikan dan penurunan suku
bunga. Kenaikan suku bunga berakibat pada penurunan penjualan rumah yang pada
gilirannya akan menghasilkan penurunan housing start. Sebaliknya, penurunan suku
bunga atau suku bunga yang rendah akan memacu penjualan rumah dan housing start.
j. Personal Income dan Personal Consumtion Expenditure (PCE)
Merupakan pengeluaran perorangan yang menggambarkan perubahan nilai pasar terhadap
barang dan jasa yang dibeli oleh perorangan dan merupakan komponen terbesar dari
GDP.Pendapatan perseorangan (personal income) menggambarkan perubahan dalam
kompensasi yang diterima tiap individu dari semua sumber termasuk upah/gaji,
pendapatan pemilik modal, pendapatan dari sewa, dividen dan bunga, dan lain-lain.
k. Consumer Confidence Index (CCI)
Indeks ini menunjukkan tingkat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi melalui
kegiatan menabung dan membelanjakan uang mereka.Makin tinggi indeks ini berarti
konsumen optimis bahwa ekonomi akan membaik dan ini akan memberi dukungan positif
bagi mata uang.
l. Retail Sales
Retail Sales merupakan indikator sesungguhnya bagi kekuatan pengeluaran konsumen
karena mengukur persentase dari perubahan bulanan total penerimaan dari toko retail,
termasuk durable goods dan non-durable goods. Angka-angka retail sales dibatasi oleh
pengecualian akan jasa dan hal-hal lain seperti asuransi dan pendapatan resmi (legal
fee).Laporan ini dinyatakan dalam bentuk nominal karena tidak memperhitungkan nilai
inflasi.
Dari berbagai indikator diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa factor fundamental
merupakan penggerak harga pasar, meskipun harga tetap terbentuk di pihak pembeli dan
penjual. Oleh Karena itu, pengetahuan mengenai indikator-indikator fundamental dapat

digunakan sebagai pedoman untuk memprediksi sikap pasar dan menjadireferensi


sebelum melakukan transaksi investasi.

II. Analisis Industri


Sukses tidaknya suatu investasi banyak ditentukan juga dari pemilihan sektor industri
yang tepat. Hal ini bisa tergambar dari pergerakan Indeks Harga Saham secara sektoral yang
menunjukkan variasi. Ada sektor industri tertentu yang peningkatannya besar, ada yang
cenderung mendatar (flat) ada juga sektor industri yang cenderung turun. Bisa disimpulkan,
perkembangan (growth) dari investasi kita salah satunya tergantung kepada sektor industri
yang kita pilih.
Sektor industri juga bisa dikelompokkan untuk memudahkan pemilahan sebelum
memilih sektor industri. Misalnya, kelompok sektor industri yang defensif
(stabil, growth rendah):consumer goods, retail; kelompok sektor industri yang menjadi
primadona (volatile, growthcenderung tinggi): perkebunan, telekomunikasi, pertambangan
& energi; dan masih banyak kelompok-kelompok lain yang bisa kita buat.
Dalam menganalisis sektor industri, perlu dipahami juga tentang siklus hidup industri.
Ada empat tahapan yang akan dilewati oleh industri, yaitu: pioneering stage (fase
awal),expansion
stage (fase
perkembangan), stabilization/maturity
stage (fase
stabil/dewasa),deceleration in growth and/or decline stage (fase perlambatan dan/atau
penurunan).
a. Pioneering stage (fase awal)
Pada fase awal ini, pertumbuhan penjualan dan pendapatan cenderung sangat tinggi
dengan resiko tingkat kegagalan yang tinggi pula. Artinya, banyak perusahaan yang
tidak mampu mengembangkan lebih jauh lagi akhirnya bangkrut/tutup. Investor
memiliki potensi untung yang besar dengan mempertaruhkan resiko yang tinggi (high
risk high return).
b. Expansion stage (fase perkembangan)
Setelah melewati fase awal, perusahaan yang bisa bertahan (survive) akan melanjutkan
pertumbuhannya yang masih cukup tinggi tetapi tidak setinggi pada fase awal.
Biasanya, pada fase ini perusahaan mulai memperbaiki produknya dan mungkin
menurunkan harga. Perusahaan mulai bisa mendapatkan pinjaman dalam jumlah yang
signifikan untuk pengembangan lebih lanjut dan banyak investor yang tertarik
menginvestasikan uangnya. Kebijakan finansial perusaan mulai stabil, profit
margin sangat tinggi dan biasanya sudah bisa membagikan deviden.
c. Stabilization/maturity stage (fase stabil/dewasa)
Pada tahap ini, pertumbuhan sudah moderat dan biasanya merupakan fase terlama dalam
siklus hidup industri. Produk sudah standar, minim inovasi, penuh dengan kompetisi,
biaya (costs) stabil. Tantangan utama perusahaan dalam sektor industri yang sudah
dewasa adalah efisiensi, baik efisiensi produksi maupun mengontrol biaya.
Pertumbuhan industri pada fase ini biasanya relatif sama dengan pertumbuhan ekonomi
negara.
d. Deceleration in growth and/or decline stage (tahap perlambatan dan/atau penurunan)

Industri mulai masuk fase ini biasanya pada saat muncul produk baru yang bisa
menggantikan atau arah kebijakan global tidak mendukung. Contoh sektor industri
yang berada pada fase ini adalah industri mesin tik, televisi hitam putih, dan radio
transistor. Pada fase ini, keuntungan perusahaan bisa sangat rendah bahkan rugi.
Pemahaman terhadap siklus hidup industri akan membantu investor dalam memilih
saham yang sesuai untuk portfolio mereka.
Aspek yang lain yang harus dipertimbangkan dalam analisis sektor industri adalah aspek
kualitatif. Aspek kualitatif yang penting adalah:
a. Sejarah performa secara jangka panjang. Investor harus mempertimbangkan data historis
pertumbuhan penjualan dan pendapatan, serta pertumbuhan harga. Meskipun data
tersebut tidak bisa dipastikan mencerminkan performa industri tersebut ke depan, tetapi
data tersebut bisa memberikan gambaran informasi yang berharga.
b. Kompetisi. Kompetisi yang harus dipertimbangkan meliputi 5 faktor kompetisi dasar,
yaitu: kompetitor baru, kekuatan posisi tawar pembeli, persaingan dengan kompetitor
yang sudah ada, potensi adanya produk/jasa yang bisa menggantikan, dan kekuatan posisi
tawar pemasok.
c. Pengaruh Pemerintah. Peraturan dan kebijakan pemerintah bisa sangat signifikan
mempengaruhi industri.
d. Perubahan struktur yang terjadi pada ekonomi. Sebagai gambaran, dewasa ini era
industri bergeser ke arah industri berbasis Teknologi Informasi. Industri yang tidak bisa
menyesuaikan perubahan ini pasti akan menurun dan bahkan pada akhirnya mati.
Aspek kualitatif ini bisa menjadi faktor yang menentukan, bahkan vital untuk meramalkan
prospek industri ke depan.

III. Analisis Fundamental Perusahaan


Setelah menganalisis fundamental ekonomi (negara & dunia), kemudian masuk lebih
dalam ke fundamental sektor industri, tahap selanjutnya melangkah lebih dalam lagi yaitu
menganalisis fundamental perusahaan. Analisis fundamental perusahaan tidak bisa terlepas
dari menganalisis laporan keuangan perusahaan yang meliputi Neraca, Laporan Rugi-Laba,
dan Laporan Arus Kas.
Banyak variabel yang bisa menjadi acuan dalam menganalisis laporan keuangan
perusahaan. Variabel-variabel keuangan dasar bisa memberikan gambaran nilai intrinsik
perusahaan. Termasuk di dalam variabel keuangan dasar antara lain penjualan, profit
margin, depresiasi, pajak, sumber pembiayaan, pemanfaatan aset, dan faktor-faktor yang
lain. Sebagai tambahan, perlu juga diperhatikan posisi perusahaan dalam kompetisi dengan
perusahaan lain dalam satu sektor, ketenagakerjaan, perubahan teknologi, kompetisi dari luar
negeri (jika ada), dan sebagainya. Hasil yang diharapkan setelah melakukan analisis
fundamental perusahaan adalah memahami variabel-variabel keuangan perusahaan, dan
sebuah perhitungan perkiraan nilai perusahaan dan potensinya.
Secara praktis, rasio-rasio keuangan yang perlu diperhatikan dalam laporan keuangan
perusahaan antara lain:
1. Rasio likuiditas

Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
jangka pendeknya. Ada 2 macam rasio likuiditas yaitu dengan menggunakan rasio lancar
(current ratio) dan quick ratio.
a. Current Ratio
Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab hutang saat
ini. Semakin tinggi rasionya, semakin tinggi likuiditas perusahaan tersebut. Sebagai contoh,
rasio 3.0 mempunyai arti bahwa aset saat ini jika dilikuidasi, akan cukup membayar 3 kali
dari hutang saat ini. Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio ini:

Aktiva Lancar
Current Ratio = Hutang Lancar
b. Quick Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid.
Quick Ratio =

Aktiva LancarPersediaan
Hutang Lancar

2. Rasio solvabilitas
Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjang. Rasio solvabilitas dapat menggunakan debt ratio,debt to equity ratio (DER)
dan debt to assets ratio
a. Debt to Equity Ratio (DER)
Rasio ini menunjukan persentase penyedian dana oleh pemegang saham terhadap pemberi
pinjaman. Semakin tingi rasio ini semakin rendah pendanan perusahan yang disediakan
oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka panjang,
semakin rendah rasio ini akan semakin baik kemampuan perusahan dalam membayar
kewajiban jangka panjang. Formulasi yang digunakan untuk menghitung rasio ini:
Debt to Equity Ratio =
b. Debt to Assets Ratio

Total Hutang
Ekuitas Pemegang Saham

x 100 %

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan
jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan
aktiva yang dibelanjai oleh hutang.
Total Hutang
Debt to Assets Ratio = Total Aktiva x 100 %
Rasio ini mengukur seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Sebagai contoh, debt
ratio 40% menunjukkan bahwa 40% dari aset dibiayai oleh hutang. Hutang bisa berarti
buruk bisa juga berarti bagus.
3. Rasio aktivitas
Adalah rasio untuk melihat tingkat aktivitas tertentu dalam kegiatan tertentu. Terdapat
beberapa macam rasio aktivitas diantaranya yaitu rasio rata-rata umur piutang,rasio rata-rata
umur persediaan, rasio perputaran aktiva tetap dan rasio perputaran total aktiva .
a. Rasio rata-rata umur piutang
Rasio ini mengukur efisiensi pengolahan piutang perusahaan, serta menunjukkan berapa
lama waktu yang diperlukan untuk melunasi piutang atau merubah piutang menjadi kas.
Rata-rata umur piutang ini dihitung dengan membandingkan jumlah piutang dengan
penjualan perhari. Dimana penjualan perhari yaitu penjualan dibagi 360 atau 365 hari.
Rata-rata piutang ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rata-rata umur piutang =

Piutang
Penjualan per hari

Piutang x 365
Penjulan

b. Rasio perputaran persediaan (Inventory Turnover)


Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory
berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk
adanya overstock (Riyanto, 2008:334).Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi
pengelolaan persediaan barang dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular
untuk menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen
mengontrol modal yang ada pada persediaan.
Ada dua masalah yang timbul dalam perhitungan dan analisis rasio perputaran
persediaan. Pertama, penjualan dinilai menurut harga pasar (market price), persediaan
dinilai menurut harga pokok penjualan (at Cost), maka sebenarnya rasio perputaran
persediaan (at cost) digunakan untuk mengukur perputaran fisik persediaan. Sedangkan
rasio yang dihitung dengan membagi penjualan dengan persediaan mengukur perputaran
persediaan dalam kas.

Namun banyak lembaga penelitian rasio keuangan yang menggunakan rasio perputaran
persediaan (at market) sehingga bila ingin dibandingkan dengan rasio industri rasio
perputaran persediaan (at market) sebaiknya di gunakan. Kedua, penjualan terjadi
sepanjang tahun sedangkan angka persediaan adalah gambaran keadaan sesaat. Oleh karena
itu, lebih baik menggunakan rata-rata persediaan yaitu persediaan awal ditambah
persediaan akkhir dibagi dua.
Rasio perputaran persediaan dihitung dengan rumus:
Harga Pokok Penjualan
Perputaran persediaan (at cost) = Ratarata persediaan
Perputaran persediaan (at market) =

Penjualan
Persediaan

c.Rasio perputaran aktiva tetap (fixed asets turn over )


Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap. Fixed assets turn
over mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik
dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih
yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap (Sawir, 2003:17).
Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya
secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Kalau perputarannya lambat (rendah),
kemungkinan terdapat kapasitas terlalu besar atau ada banyak aktiva tetap namun kurang
bermanfaat, atau mungkin disebabkan halhal lain seperti investasi pada aktiva tetap yang
berlebihan dibandingkan dengan nilai output yang akan diperoleh. Jadi semakin tinggi rasio
ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut.Perputaran aktiva tetap
dihitung dengan rumus:
Penjualan
Perputaran Aktiva Tetap = Aktiva Tetap
d. Rasio perputaran total aktiva (Total assets turn over )
Total assets turn over merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva
suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva
dalam satu periode tertentu. Total assets turn over merupakan rasio yang menunjukkan
tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume
penjualan tertentu (Syamsuddin, 2009:19).
Total assets turn over merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva diukur
dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik yang berarti bahwa aktiva
dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan
keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain jumlah asset yang
sama dapat memperbesar volume penjualan apabila assets turn overnya ditingkatkan atau
diperbesar.

Total assets turn over ini penting bagi para kreditur dan pemilik perusahaan, tapi akan
lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien
tidaknya penggunaan seluruh aktiva dalam perusahaan.
Total assets turn over dihitung sebagai berikut:
Penjualan
Total asets turn over = Total Aktiva
4. Rasio profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan asset dan modal
saham tertentu. Ada beberapa jenis rasio profitabilitas yaitu, net profit margin (NPV),return
on asset (ROA),return on equity,return on invesment.
a. Net Profit Margin
Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu
dibandingkan dengan volume penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan Rumus yaitu :
Laba setelah pajak
Net Profit Margin =
Penjualanbersih
Rasio ini menunjukan keuntungan bersih dengan total penjualan yang dapat di peroleh
dari setiap rupiah penjualan. Sebagai ilustrasi, apabila profit margin sebuah perusahaan
adalah 30% jumlah keuntungan yang dapat diperoleh dari setiap Rp 1000 adalah Rp 300
b. Return On Assets (ROA)
Rasio ini mengambarkan kemampuan perusahan untuk menghasilkan laba dengan
mengunakan aset yang dimilki. Dengan mengetahui rasio ini dapat dinilai apakah
perusahan efisien dalam memanfatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahan.
Rasio ini juga memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabiltas perusahan karena
menunjukan efektivitas manajemen dalam mengunakan aktiva untuk memperoleh
pendapatan.Formulasi yang digunakan untuk rasio ini :
Laba Bersih
ROA = Total Aset
c.

Return On Equity
Return on Equity (ROE) adalah rasio profitabilitas yang membandingkan antar laba bersih
(net profit) perusahaan dengan aset bersihnya (ekuitas atau modal). Rasio ini mengukur
berapa banyak keuntungan yang dihasilkan oleh Perusahaan dibandingkan dengan modal
yang disetor oleh Pemegang Saham.
Laba bersih
ROE =
Ekuitas

d.

Return On Investment (ROI)


Manajer perusahan mempunyai dua tangung jawab, yaitu tangung jawab untuk
memperoleh dana pembiayan terhadap aktiva, dan tangung jawab untuk mengunakan
aktiva yang dimilki perusahan dalam rangka memperoleh penghasilan. Return On
Invesment mengukur tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahan,
baik dengan mengunakan total aktiva yang dimilki perusahan tersebut maupun dengan
mengunakan dana yang berasal dari pemilk (modal). Return On Invesment sering disebut
dengan istilah Rentabiltas Ekonomi. ROI dapat dihitung dengan mengunakan rumus:
Laba bersih
ROI = Biaya Investasi
Tinggi rendahnya ROI ditentukan oleh dua faktor, yaitu:
a.Profit Margin, yaitu perbandingan antara Net Operating Income dengan NetSales, yang
dinyatakan dalam persentase
NPM =

Net Operating Income


Net Sale

b.Turnover of Operating Asets (tingkat perputaran aktiva usaha), yaitu kecepatan


berputarnya operating asets dalam suatu periode tertentu. Turnover tersebut dapat
ditentukan dengan membagi net sales dengan operating asets.
TOA =

Net Sale
Operating Assets

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa profit margin dimaksudkan untuk


mengetahui efisiensi perusahan dengan melihat kepada besar kecilnya laba usaha dalam
hubunganya dengan sales. Sedangkan operating asets turnover dimaksudkan untuk
mengetahui efisiensi perusahan dengan melihat kepada kecepatan perputaran operating
asets dalam satu periode tertentu. Hasil akhir dari percampuran kedua efisiensi profit
margin dan operating asets turnover menentukan tingi rendahnya ROI, oleh karena itu
makin tingi tingkat profit margin atau operating asets turnover masing-masing atau
kedua-duany akan mengakibatkan naiknya ROI. Naiknya ROI akan mempengaruhi
minat investor untuk memilki saham perusahan tersebut. Meningkatnya permintan
pembelian saham perusahan yang memilki ROI tingi akan berpengaruh terhadap
pergerakan harga saham perusahan.
5. Rasio pasar
Rasio yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku. Ada beberapa rasio pasar
diantaranya yaitu,earning per share (EPS),price earning ratio (PER),dividen payout ratio
(DPR),book value per share (BVS ratio),price to book ratio (PBV ratio).
a. Rasio Laba Terhdap Saham Beredar (EPS)

Earning Per Share (EPS) adalah jumlah laba yang menjadi hak untuk setiap pemegang
satu lembar saham biasa. Earning Per Share (EPS) hanya dihitung untuk saham biasa.
Earning Per Share (EPS) sederhana dihitung dengan cara berikut:
Keuntungan Bersih
EPS = Jumlah Saham Beredar
Pemodal seringkali memusatkan perhatianya pada Earning Per Share (EPS) dalam
melakukan analisis. Hal ini dikarenakan EPS mengambarkan jumlah rupiah yang
diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Para calon investor tertarik dengan EPS yang
besar, karena hal ini merupakan salah satu indicator keberhasilan perusahan. Jumlah EPS
yang besar belum menjamin akan didistribusikan semua kepada pemegang saham, karena
hal ini tergantung dari kebijakan perusahan dalam hal pembayaran deviden. EPS yang
besar menunjukan kemampuan perusahan yang lebih besar dalam menghasilkan
keuntungan bersih dari setiap lembar saham. Peningkatan EPS menandakan bahwa
perusahan berhasil meningkatkan kemakmuran para investor, dan dari hal tersebut akan
mendorong investor untuk menambahjumlah modal yang ditanamkan pada perusahan.
Dan itu akanmengakibatkan kenaikan laba yang pada akhirnya ada kecenderungan
kenaikan harga saham, begitu juga sebaliknya.

b.Rasio harga saham terhadap laba perlembar saham(PER)


Price Earning Ratio adalah rasio yang membandingkan antara harga saham per
lembar saham biasa yang beredar dengan laba per lembar saham.Kegunaan price earning
ratio adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja perusahaan yang
dicerminkan oleh earning per share nya. price earning ratio menunjukkan hubungan antara
pasar saham biasa dengan earning per share. Makin besar price earning ratio suatu saham
maka harga saham tersebut akan semakin mahal terhadap pendapatan bersih per
sahamnya. Angka rasio ini biasanya digunakan investor untuk memprediksi kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba dimasa yang akan datang
Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan tinggi biasanya mempunyai price
earning ratio yang tinggi pula, dan hal ini menunjukkan bahwa pasar mengharapkan
pertumbuhan laba di masa mendatang. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan yang rendah cenderung mempunyai price earning ratio yang rendah pula.
Semakin rendah price earning ratio suatu saham maka semakin baik atau murah harganya
untuk diinvestasikan. price earning ratio menjadi rendah nilainya bisa karena harga saham
cenderung semakin turun atau karena meningkatnya laba bersih perusahaan. Jadi semakin
kecil nilai price earning ratio maka semakin murah saham tersebut untuk dibeli dan
semakin baik pula kinerja per lembar saham dalam menghasilkan laba bagi perusahaan.
Semakin baik kinerja per lembar saham akan mempengaruhi banyak investor untuk
membeli saham tersebut. Rumus yang digunakan untuk mengukur price earning ratio
adalah sebagai berikut

PER =

Harga Saham
EPS

c. Dividend Payout Ratio (DPR)


Dividend Payout Ratio (DPR) adalah perbandingan antara deviden yang dibayarkan dengan
laba bersih yang didapatkan dan biasanya disajikan dalam bentuk persentase. Formula
untuk menghitung Dividend Payout Ratio adalah:
DPR =

Dividen Per Saham


EPS

Terdapat iga kebijakan dalam menentukan kebijakan deviden:


a.Modgliani-Miler berpendapat bahwa kebijakan deviden tidak relevan (Irrelevan
Dividend), hal ini berarti bahwa tidak ada kebijakan deviden yang optimal, karena
kebijakan deviden tidak mempengaruhi nilai perusahanataupun biaya modal.
b. Gordon-Lintner mempunyai pendapat lain, bahwa deviden lebih kecil resikonya
dibanding capital gain, sehinga Gordon-Lintner menyarankan perusahan untuk
menentukan Dividend Payout Ratio atau bagian laba setelah pajak yang dibagikan dalam
bentuk deviden yang tingi dan menawarkan dividend yield yang tingi untuk
meminimumkan biaya modal, teori ni terkenal dengan sebutan The Bird In The Hand
Falacy.
c.Kelompok ketiga berpendapat bahwa karena deviden cenderung dikenakan yang lebih
tingi daripada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih
tingi untuk saham dengan dividend yield yang lebih tingi. Kelompok terakhir ini
menyarankan bahwa perusahan lebih baikmenentukan Dividend Payout Ratio yang
rendah atau bahkan tidak membagikan deviden sama sekali untuk meminimumkan biaya
modal dan memaksimalkan nilai perusahan (Jogiyanto, 200).
Besar kecilnya Dividend Payout Ratio, dipengaruhi beberapa faktor:
a.Faktor Likuiditas
Semakin tingi likuiditas akan meningkatkan Dividend Payout Ratio dan sebaliknya,
semakin rendah likuiditas akan menurunkan Dividend Payout Ratio.
b. Kebutuhan Dana untuk Melunasi Utang
Semakin besar dana untuk melunasi utang baik untuk obligasi, hipotik dalam tahun
tersebut yang diambilkan dari kas maka akan berakibat menurunkan Dividend Payout
Ratio dan sebaliknya.
c.Tingkat Ekspansi yang Direncanakan
Semakin tingi tingkat ekspansi yang direncanakan oleh perusahan berakibat mengurangi
Dividend Payout Ratio karena laba yang diperoleh diprioritaskan untuk penambahan
modal yang dipergunakan untuk pengadan aktiva.
d. Faktor Pengawasan
Semakin terbukanya perusahan atau semakin banyaknya pengawas cenderung akan
memperkuat modal sendiri sehinga mengakibatkan kenaikan Dividend Payout Ratio, dan
sebaliknya semakin tertutupnya perusahan akan menurunkan Dividend Payout Ratio.
e.Ketentuan-ketentuan Dari Pemerintah

Ketentuan-ketentuan dimaksud adalah yang berkaitan dengan laba perusahan maupun


pembayaran deviden.
f. Pajak Kekayan atau Penghasilan dari Pemegang Saham
Apabila para pemegang saham adalah ekonomi lemah yang bebas pajak maka Dividend
Payout Ratio lebih tingi dibandingkan apabila pemegang saham para ekonomi kuat yang
kena pajak (Gitosudarno, 202).
d. Book Value Per Share ( BVS Ratio)
Bok Value per Share (BVS) adalah rasio yang menunjukan jumlah stockholders equity
(modal sendiri) yang berkaitan dengan setiap lembar saham yang beredar. Formula untuk
menghitung Bok Value per Share (BVS) adalah:
Total Ekuitas
BVS = Jumlah Saham
Semakin tingi rasio nilai buku per lembar saham semakin baik hasil yangdiperoleh
perusahan (Fabozi, 200). Beberapa nilai yang berhubungandengan saham antara lain nilai
buku (bok value), nilai pasar (market value),dan nilai intrinsik (intrinsic value). Nilai buku
merupakan nilai sahammenurut pembukuan perusahan emiten. Nilai pasar merupakan nilai
sahamdi pasar dan nilai ntrinsik merupakan nilai sebenarnya dari saham.Dengan
mengetahui nilai buku dan nilai pasar, pertumbuhan perusahan dapat diketahui.
Pertumbuhan perusahan (growth) menunjukan investment oportunity cost set (IOS), atau
set kesempatan di masa yang akan datang.Perusahan yang tumbuh mempunyai rasio lebih
besar dari nilai satu yangberarti pasar percaya bahwa nilai pasar perusahan tersebut lebih
besardaripada nilai bukunya (Jogiyanto, 200).
Cara untuk meningkatkan nilai buku per lembar saham:
a. Perusahan dapat melakukan penahanan laba. Dengan cara ini ekuitaspemilk akan
meningkat, namun tidak terjadi perubahan dalam jumlahlembar saham yang beredar.
Hal ini mengasumsikan laba ditahan dapatdigunakan sefektif ekuitas pemilk
sebelumnya, dengan kata lainpengembalian atas ekuitas pemilk dapat dipertahankan.
b. Membeli kembali saham perusahan pada harga yang lebih rendah daripada nilai buku
per lembar saham.
c. Melakukan merger dapat menghasilkan peningkatan nilai buku per lembar saham bagi
perusahan yang bertahan.
e. Price to Book Value Ratio (PBV Ratio)
Price to Book Value (PBV) juga menunjukan seberapa jauh perusahaan mampu
menciptakan nilai perusahaan. Perusahaan yang berjalan baik umumnya mempunyai PBV
diatas 1, yang menunjukkan nilai pasar lebih tinggi dari nilai bukunya. Semakin tinggi
PBV semakin tinggi pula return saham.Semakin tinggi return saham akan menambah
pendapatan perusahaan sehingga meningkatkan kemampuan perusahaan untuk
membagikan dividen.
Harga Pasar Saham
PBV = Harga Buku Saham

IV. Menilai Saham Perusahaan


Setelah memperhitungkan kondisi ekonomi, industri, dan perusahaan. Seorang
fundamental analis dapat mulai memperhitungkan apakah saham suatu perusahaan
overvalued, undervalued, atau pas harganya. Beberapa model penilaian telah disusun untuk
membantu kita menghitung nilai saham.
Penilaian (valuation) adalah proses penentuan berapa harga yang wajar untuk suatu
saham (Parahita,2008). Dalam penilaian saham dikenal adanya tiga jenis nilai: yaitu nilai
buku, nilai intrinsik dan nilai pasar.Nilai buku adalah nilai saham berdasarkan nilai dalam
pembukuan perusahaan (emiten).Nilai intrinsik (nilai teoritis) adalah nilai saham yang
sebenarnya (seharusnya terjadi).Nilai pasar adalah nilai saham di pasar, ditunjukkan oleh
harga pasar yang berlaku untuk saham. Investor perlu mengetahui ketiga jenis nilai tersebut
untuk membantu dalam pembuatan keputusan membeli, menahan, ataupun menjual
saham.Ada semacam rule of thumb tentang keputusan apa yang sebaiknya diambil investor
berdasarkan informasi nilai intrinsik dan nilai pasar saham. Pedoman yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a) NI> harga pasar saat ini: Undervalued (harga terlalu murah atau rendah)
b) NI < harga pasar saat ini: Overvalued (harga terlalu mahal atau tinggi)
c) NI = harga pasar saat ini: harganya wajar

Pendekatan berbasis analisis fundamental yang bisa dilakukan adalah dengan:


a. Pendekatan nilai sekarang (present value)
Perhitungan nilai saham dilakukan dengan mendiskontokan semua aliran kas yang
diharapkan di masa datang dengan tingkat diskonto sebesar tingkat return yang
disyaratkan investor.Dalam hal ini, nilai intrinsik atau disebut juga nilai teoritis
suatus a h a m n a n t i n y a a k a n s a m a d e n g a n n i l a i d i s k o n t o s e m u a a l i r a n k a s
y a n g a k a n d i t e r i m a investor di masa datang. Seperti telah disebutkan di depan,
nilai suatu saham tergantung dari aliran kas yang diharapkan investor di masa
datang. Dengan demikian, proses penilaian suatu saham akan meliputi:
1. Estimasi aliran kas saham di masa depan. Hal ini dilakukan dengan menentukan
jumlah dan waktu aliran kas yang diharapkan.
2. Estimasi tingkat return yang disyaratkan. Estimasi ini dibuat dengan
mempertimbangkan risiko aliran kas di masa depan dan besarnya return dari
altematif investasi lain akibat pemilihan investasi pada saham, atau
disebut sebagai biaya kesempatan (opportunity cost). T i n g k a t r e t u r n y a n g
d i h a r a p k a n d a r i s e t i a p a l i r a n k a s b i s a b e r s i f a t k o n s t a n sepanjang
waktu atau berubah-ubah.
3. Mendiskontokan setiap aliran kas dengan tingkat diskonto sebesar tingkat
retur yangdi isyaratkan.

4. Nilai sekarang setiap aliran kas tersebut dijumlahkan, sehingga diperoleh


nilai intrinsik saham bersangkutan.
Dalam penentuan nilai teoritis suatu saham, investor perlu
m e n e n t u k a n b e r a p a besarnya tingkat return yang disyaratkan atas saham tersebut
sebagai kompensasi atas risikoyang ditanggung. Tingkat return yang disyaratkan
merupakan tingkat return minimum yangdiharapkan atas pembelian suatu saham.
Artinya, jika investor mempunyai tingkat return yang disyaratkan 25% atas saham
yang akan dibeli, maka return minimum yang diharapkandari saham tersebut adalah 25%.
Tingkat return minimum ini juga menggambarkan besarnya biaya kesempatan
(opportunity cost),yaitu hilangnya kesempatan memperoleh return dari alternatif
Investasi lain akibat keputusan untuk berinvestasi pada saham.Komponen lainnya
dalam penentuan nilai saham dengan pendckatan nilai sekarangadalah aliran
kas (cash flow).
Dalam komponen ini, permasalahannya kemudian adalah: (1)aliran kas dalam bentuk
apa yang akan digunakan dalam penilaian saham, (2) berapa jumlahaliran kas yang
diharapkan, dan (3) kapan aliran kas terscbut diporoleh.Aliran kas yang bisa dipakai
dalam penilaian saham adalahearning perusahaan. Darisudut pandang investor yang
membeli saham, aliran kas yang akan diterima investor adalah earning yang dibagikan
dalam bentuk dividen. Dengan demikian, kita bisa menggunakan komponen
dividen sebagai dasar penilaian saham. Penentuan nilai saham (pendekatan nilai
sekarang)dengan menggunakan komponen dividen bisa dilakukan dengan
menggunakan berbagai model berikut ini.
Model Diskonto Dividen
Model diskonto dividen merupakan model untuk menentukan estimasi harga saham
dengan mendiskontokan semua aliran dividen yang akanditerima di masa datang. Secara
matematis, model ini bisa dirumuskan sebagai berikut:
D1 D2 D3 ........ D
P
0
(1 k) (1 k)2 (1 k)3
(1 k)

Dt
t
t 1 (1 k)

P0

di mana:
Po
= Nilai intrinsik saham dengan model diskonto dividen
D1, D2, ... D= Dividen yang akan diterima di masa datang

k
= t i n g k a t r e t u r n y a n g
d i s i y a r a t k a n
Dalam
persamaan
diatas
bisa
dilihat
bahwa
a l i r a n d i v i d e n y a n g d i t e r i m a i n v e s t o r merupakan aliran dividen yang tidak
terbatas (disimbolkan dengan ) dan konstan. Padahal dalam kenyataannya,
ada kalanya perusahaan membayarkan dividen secara tidak teratur,dividen
dengan jumlah yang tidak konstan atau pemba-yarannya mengalami
pertumbuhan(growth).D a l a m s i t u a s i d i v i d e n k o n s t a n d a n t i d a k m e n g a l a m i
p e r t u m b u h a n k i t a b i s a menggunakan model pertumbuhan nol (zero-growth model).
Untuk kasus aliran dividen yang bertumbuh secara konstan, model yang bisa
dipakai adalah model pertumbuhan konstan (constdut grcrwlli model).Sedangkan
untuk saham yang mengalami pertumbuhan yang tidak konstan, kita bisa menggunakan
model pertumbuhan tidak konstan(nonconstant growth).
Model Pertumbuhan Nol
Model ini berasumsi bahvva dividen yang dibayarkanperusahaan tidak akan
mengalami pertumbuhan. Dengan kata lain, jumlah dividen yangdibayarkan
akan tetap sarna dari waktu ke waktu. Model pertumbuhan nol ini
sebenarnyasarna dengan prinsip perhitungan saham preferens karena dividen yang
dibayarkand i a s u m s i k a n s e l a l u s a t n a d a n t i d a k a k a n m e n g a l a m i p e r u b a h
a n p e r t u m b u h a n s e p a n j a n g waktu. Rumus untuk menilai saham dengan model
ini adalah:
D
P0 = K
d i m a n a , D oa d a l a h d i v i d e n y a n g a k a n d i t e r i m a d a l a m j u m l a h k o n s t a n
s e l a m a p e r i o d e pembayaran dividen di masa datang, dan k adalah tingkat return yang
disyaratkan investor. Contoh: Misalkan saham A menawarkan dividen tetap
sebesar Rp800,00.Tingkat return yang disyaratkan investor adalah 20%. Dari
data di atas, kita bisa meng-hitung nilai saham A sebesar Rp 4.000,00.
800
P0 = 0,2 = Rp. 4.000,00
Model Pertumbuhan Konstan
Model petumbuhan konstan juga disebut sebagai model Gordon, setelah Myron J.
Gordon mengembangkan dan mempopulerkan model ini. Model ini d i p a k a i u n t u k
menentukan nilai saham,jika dividen yang akan dibayarkan
m e n g a l a m i pertumbuhan secara konstan selama waktu tak terbatas, di mana g t+1 = g1
untuk semua waktut. Persamaan model pertumbuhan konstan ini bisa dituliskan sebagai
berikut
D0 (1 g) D0 (1 g)2 D0 (1 g)3
D0 (1 g)

P0

.......
(1 k)
(1 k)2
(1 k)3
(1 k)


P
0

D1
k- g

Model Pertumbuhan Tidak Konstan (Ganda)


Asumsi perusahaan akan membayarkan dividen seeara konstan dalam kenyataannya
kadangkala kurang tepat. Adakalanya,perusahaan mengalami pertumbuhan yang sangat
baik jauh di atas pertumbuhan normal dan sangat menjanjikan selama beberapa tahun,
tetapi lambat laun menurun terus.Kasus seperti i n i b i s a t e r j a d i p a d a p e r u s a h a a n
y a n g m a m p u m e n c i p t a k a n p r o d u k i n o v a s i b a r u y a n g langsung diserap
pasar dan mengakibat kan perusahaan memperoleh pertumbuhan keuntunganyang
fantastis selama beberapa tahun. Pertumbuhan fantastis tersebut mungkin berlangsung
selama beberapa tahun, dan setelah itu bertumbuh seeara mendatar d
an tidak sefantastis
tahun
tahun awal,karena
produk
yang
sebelumn ya 'lads' tersebut, lambat
laun
mulai
memasuki
tahap
kedewasaan (maturity stage),yang ditandai oleh semakin menurunnyapermintaan
akan produk tersebut. Kondisi seperti ini bisa mempengaruhi kemampuan perusa-haan
membayarkan dividen bagi investor, sehingga bisa juga mempengaruhi
pertumbuhantingkat dividen yang akan dibayarkan perusahaan kepada
investor,ceteris paribus. Pada beberapa tahun awal selama masa pertumbuhan fantastis,
perusahaan mungkin akan mampu m e m b a y a r k a n
dividen
dengan
p e r t u m b u h a n d i a t a s n o r m a l , d a n s e t e l a h m e l c w a t i m a s a tersebut
pertumbuhan fantastis ditahun awal tersebut, pertumbuhan tingkat dividen
yangd i b a y a r k a n p e r u s a h a a n m u n g k i n a k a n m e n j a d i l e b i h r e n d a h d a r i
masa sebelumnya danselanjutn ya akan bertumbuh secara tetap. Misal
n y a , s u a t u p e r u s a h a a n y a n g m e n g a l a m i pertumbuhan fantastis selama 5
tahun, mungkin bisa membayarkan tingkat dividen denganpertumbuhan 20%
pertahun (selama lima tahun), dan setelah itu, hanya akan membayarkan
dividen dengan tingkat pertumbuhan hanya 10% per tahun (sampai tahun-tahun
berikutnya).Untuk kasus seperti ini, penentuan nilai saham akan meliputi empat langkah
perhitungan:
1.M e m b a g i a l i r a n d i v i d e n m e n j a d i d u a b a g i a n : ( a ) b a g i a n a w a l y a n g
m e l i p u t i a l i r a n dividen yang tidak konstan, dan (b) aliran dividen ketika dividen
mengalami pertumbuhan yang konstan.
2 Menghitung nilai sekarang dari aliran dividen yang tidak konstan (bagian awal).
3.M e n g h i t u n g n i l a i s e k a r a n g d a r i s e m u a a l i r a n d i v i d e n s e l a m a
p e r i o d e p e r t u m b u h a n konstan (bagian b). Ingat, perhitungan ini dimulai dengan
aliran dividen pada saat akhir periode bagian awal (dividen terakhir dari bagian awal).

4. Menjumlahkan kedua hasil perhitungan nilai sekarang dari kedua bagian


perhitunganaliran dividen (bagian a dan bagian b).
b. Pendekatan Price Earning Ratio
Disamping pendekatan nilai sekarang (model diskonto
d i v i d e n ) , d a l a m m e t o d e penilaian saham berdasaran alisis fundamental
dikenal juga pendekatan lain yang disebut pendekatan Price Earning Ratio
(pendekatan PER).Pendekatan ini merupakan pendekatanyang lebih populer
dipakai di kalangan analis saham dan para praktisi. Dalam pendekatan PER
atau disebut juga pendekatan multiplier, investor akan menghitung berapa kali (multiplier)
nilai earning yang tercermin dalam harga suatu saham. Dengan kata lain,
PER menggambarkan rasio atau perbandingan antara harga saham terhadap
earning perusahaan.Jika misalnya PER suatu sanam sebariyak 3 kali berarti harga saham
tersebut sama dengan 3kali nilai earning perusahaan tersebut. PER ini juga akan
memberikan informasi beraparupiah harga yang harus dibayar investor untuk
memperoleh setiap Rpl,00 earning perusahaan.Rumus untuk menghitung PER suatu
saham adalah dengan membagi harga saham perusahaan terliadap earning per
lembar saham. Secara matematis, rumus untuk menghitungPER adalah sebagai berikut
Harga saham
PER
Earning
perlembarsaham

Contoh: Misaln ya harga saham DX saat ini adalah Rp 10.000,00 per


l e m b a r, d a n tahun ini perusahaan memperoleh earning sebesar 900 juta rupiah.
Jumlah saham beredar saat ini adalah 900 ribu lembar saham. Dari
data tersebut kita bisa menghitung PER dengancara sebagai berikut:
(1) Menghitung earning per lembar saham DX
earning
perusahaan
Rp.900.000.000 Earning
perlembar

jumlahsahamberedar
900.000 lembar

= RP. 1000 lembar per saham

PER

Rp.10.000
10kali.
Rp.1.000
(2). Menghitung PER

Jadi PER saham DX adalah 10 kali. Artinya, untuk memperoleh Rp 1,00 dari earning
perusahaan DX, investor harus membayar Rp 10,00.

Anda mungkin juga menyukai