Anda di halaman 1dari 5

DILEMA ETIKA KEPERAWATAN JIWA

I.

GANGGUAN JIWA
A. Pengertian
Keadaan sakit mental merupakan gangguan hebat
dalam pemikiran, keadaan jiwa, persepsi, daya ingatan
atau kognisi. Gangguan ini akan menyebabkan sekurangkurangnya satu dari fungsi berikut ini:
1. Pertimbangan.
2. Perilaku.
3. Pengujian kenyataan
4. Menghadapi tuntutan-tuntutan hidup yang luar biasa.
Gangguan jiwa atau disebut juga gangguan mental
atau gangguan psikiatrik adalah seseorang dengan
proses psikologik atau mentalnya dalam arti kata luas
yang
tidak
berfungsi
dengan
baik
sehingga
mengganggunya dalam kehidupan sehari-hari dan oleh
karenanya menyulitkan diri sendiri dan orang lain di
sekitarnya (Maramis, WE. 1997)
Sedangkan dalam PPDGJ II (Pedoman Penggolongan
Diagnosa Gangguan Jiwa) yang menunjuk kepada DSM III
(Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder)
dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah sindroma atau
pola perilaku atau psikologik seseorang yang secara
klinis cukup bermakna dan yang secara khas berkaitan
dengan
suatu gejala
penderitaan (distress)
atau
hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau
lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai
tambahan
disimpulkan bahwa
disfungsi itu
adalah
disfungsi dalam segi pola perilaku, psikogenik atau
biologik dan gangguan itu tidak semata-mata terletak
dalam hubungan antara orang itu dengan masyarakat
Seseorang apabila mengalami sakit mental dapat
ditahan di rumah sakit meskipun hal itu berlawanan
dengan kemauannya. Kriteria yang diamanahkan oleh
hukum apabila seseorang dipaksa diopname apabila:
1. Kehadiran keadaan penyakit mental.
2. Resiko bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
3. Ketidakmampuan mengurus atau menyediakan kebutuhankebutuhan pribadi yang mendasar.
B. Pencegahan
Primer,
Sekunder
Dan
Tertier
Dalam
Keperawatan Jiwa
Perawat
jiwa
memberikan
perawatan
sepanjang
rentang asuhan, Perawatan ini termasuk intervensi yang
berhubungan dengan pencegahan primer, sekunder dan
tertier.
1.
Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah intervensi biologi, sosial
atau
psikologi
yang
bertujuan
meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan atau menentukan angka
kesakitan di komunitas dengan mengubah faktorfaktor penyebab sebelum membahayakan. Intervensi
keperawatan yang spesifik dalam pencegahan primer
meliputi
penyuluhan
kesehatan,
pengubahan
lingkungan
dan
dukungan
sistem
sosial.
Dalam
pencegahan
primer
perawat
harus
mengevaluasi
intervensi prevensi primer atau program kemanjuran,
1

keefektifan, efisiensi, jangka waktu, akibat yang


membahayakan,
program
skrining,
kemungkinan
kelompok resiko tinggi dan analisa ekonomi.
2.
Pencegahan sekunder
Pencegahan
sekunder
termasuk
menurunkan
angka
kelainan. Aktivitas pencegahan sekunder meliputi
penemuan kasus dini, skrining dan tindakan efektif
yang cepat. Intervensi krisis merupakan modalitas
tindakan pencegahan sekunder yang penting.
Menurut
Stuart
dan
Sundeen
(1995)
pengkajian
spesifik yang harus dilakukan perawat tentang sifat
dari
krisis
dan
pengaruhnya
antara
lain;
identifikasi
peristiwa
pemicu,
identifikasi
persepsi individu terhadap kejadian, identifikasi
sifat dan kekuatan sistem pendukung individu dan
sumber koping, serta identifikasi kekuatan dan
mekanisme koping yang lalu.
3.
Pencegahan tertier
Aktivitas
pencegahan
tertier
mencoba
untuk
mengurangi keparahan kelainan dan ketidakmampuan
yang berkaitan, misalnya melalui rehabilitasi yaitu
suatu proses yang memungkinkan individu untuk
kembali pada tingkat yang setinggi mungkin.
C. Penanganan Pasien Gangguan Jiwa
Selain intervensi dalam tahap pencegahan, menurut
Stuart & Sundeen (1997) perawat juga mengidentifikasi
empat kemungkinan tahap penanganan meliputi:
1.
Tahap Penanganan Krisis
Tujuan dari penanganan krisis adalah pasien stabil.
Pengkajian pasien berfokus pada faktor resiko yang
mengancam kesehatan dan keamanan pasien. Intervensi
keperawatan
ditujukan
pada
lingkungan
untuk
menyediakan
lingkungan
yang
aman.
Hasil
yang
diharapkan dari asuhan keperawatan adalah tidak
adanya bahaya pada pasien dan orang lain.
2.
Tahap Penanganan Akut
Tujuan keperawatan dalam tahap ini adalah meredakan
penyakit
pasien.
Fokus
pengkajian
keperawatan
difokuskan pada gejala pasien dan respon koping
maladaptif. Intervensi keperawatan ditujukan pada
perencanaan penanganan dengan pasien dan memberikan
contoh dan pengajaran mengenai respon koping yang
adaptif. Hasil yang diharapkan dari asuhan adalah
gejala hilang
3.
Tahap
Penanganan
Pemeliharaan
Tujuan
keperawatan
dalam
tahap
ini
adalah
kembalinya kondisi pasien (sembuh). Fokus dari
pengkajian pada tahap ini adalah kemampuan fungsi
dari pasien. Intervensi keperawatan diarahkan pada
penguatan dan sokongan pada respon koping adaptif.
Hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang
diberikan adalah meningkatkan fungsi dari pasien.
4.
Tahap
Penanganan
Pemeliharaan Kesehatan
Tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikan
adalah
untuk
mencapai
tingkat
kesehatan
yang
2

optimal. Fokus pengkajian dari keperawatan adalah


kualitas hidup pasien dan kesehatan/kesejahteraan.
Intervensi keperawatan ditujukan pada munculnya
ide-ide
baru
dan
melaksanakannya.
Hasil
yang
diharapkan dari asuhan keperawatan adalah bahwa
pasien akan mencapai kualitas hidup yang optimal.
II.

ETIK.
A. Pengertian
Etik
bersal
dari
kata
etos
yang
berarti
kebiasaan, perilaku, atau karakter. Etik merupakan
interprestasi individu tentang falsafah moral dari
kehidupan yang merupakan internal yang didasarkan pada
nilai-nilai moral. Dengan dilandasi etik, seseorang
akan bertingkah laku sesuai dengan dorongan internal
atau hati nuraninya.
Etik atau etika adalah segala hal yang dilakukan
dengan memperhatikan kebaikan dan menghindari yang
buruk. Sesuatu yang kita persepsikan baik, belum tentu
baik untuk orang lain, dan sesuatu yang kita
persepsikan bahaya, belum tentu merupakan bahaya bagi
orang lain. Jadi antara baik dan buruk itu adalah
sesuatu hal yang relatif bukan absolut.

B. Teori etik
1. Utilitarianisme
adalah
tindakan
baik
selalu
dikorelasikan/
mempertimbangkan
dengan
prinsip
kebahagian atau kebaikan orang lain.
2. Deontologi adalah kebenaran atau kesalahan dari
tindakan yang tergantung pada kepentingan moral.
C. Prinsip Etika
1. Justice (keadilan).
2. Autonomy (otonomi/wewenang).
3. Beneficence (ada manfaat).
4. Veracity (Kejujuran).
D. Bioetika
Pendekatan etik yang digunakan untuk menyelesaikan
masalah-masalah dalam pelayannan keasehatan.
KeperAwatan yang merupakan bagian dari sistem
pelayanan kesehatan tidak terlepas dari kewajiban
untuk menjalankan etika keperawatan.
E. Tujuan Etika Keperawatan
1. Merupakan dasar untuk mengatur hubungan antara
perawat, pasien, teman sekerja, masayarakat dan
profesi.
2. Merupakan dasar standar untuk mengeluarkan praktisi
keperawatan yang tidak mengindahkan moral dan untuk
mempertahankan praktisi yang dituduh dengan tidak
adil.
3. Merupakan dasar untuk kurikulum profesi dan untuk
mengorientasikan
lulusan
baru
terhadap
praktek
keperawatan profesional.
4. Membantu
masyarakat
dalm
memahami
perilaku
keperawatan profesional.

F. Dilema Etik Dalam Keperawatan


Kebanyakan
dilema
etik
yang
timbul
dalam
keperawatan bersumber dari:
Konflik perawat dengan pasien.
Konflik perawat dengan keluarga pasien.
Konflik perawat dengan tenaga kesehatan lain.
Konflik perawat dengan institusi.
Dan masalah etika keperawatan yang biasanya muncul
adalah:
1. Quantity VS Quality of life (Kuantitas VS Kualitas
hidup).
2. Individual Freedom VS Control and Prevention of Harm
(Kebebasan individu VS Penanganan dan pencegahan
bahaya).
3. Trust Telling VS Deception or lying (Jujur VS
Bohong).
4. Knowledge VS Religious, Political, Economic, and
idiological
interests
(Pengetahuan
bertentangan
dengan
falsapah
agamaa,
politik,
ekonomi,
dan
idiologi).
5. Convensional,
scientifically
based
therapy
VS
alternative,
Nonscientifically
therapies
(Terapi
ilmiah, konvensional VS terapi alternatif, dan terapi
tidak ilmiah).

KASUS
YA POKOKE SENG KAYA WINGI KAE YA!
PENYELESAIAN DILEMA ETIK
1.

Analisis Kasus
Perawat ingin pasien yang sudah dalam tahapan maintenance
dan peningkatan kesehatan diberikan kebebasan untuk keluar
dari lingkungan bangsal perawatannya.

2.

Sumber Konflik
Pada kasus diatas Konflik terjadi antara Perawat dengan
pasien yaitu: Induvidual Freedom VS Control and prevention
of harm (Kebebasan individu VS Penanganan dan pencegahan
bahaya).

3.

Hal- hal yang perlu digali:


Sistem Nilai :
Hak Pasien:
- Pasien berhak mendapatkan kebebasan dalam melakukan
aktivitas yang dia mampu (bener kagak ya?).
- Hak pasien dan keluarga untuk mendapatkan infomasi
sebelum dilakukan tindakan keperawatan.
- Hak pasien untuk menerima atau menolak pengobatan dan
tindakan keperawatan.
- Hak keluarga untuk memilih cara pengobatan.
- Hak untuk mendapatkan ganti rugi.
Hak Perawat:

Hak Perawat mengambil keputusan yang berhubungan dengan


kebutuhan pasien.
Melaksanakan kewajibannya dengan dilandasi rasa tulus
ikhlas sesuai dengan harkat dan martabat serta tradisi
luhur keperawatan.
Yang laen gue kagak inget.

4.

Prinsip Etika
a. Autonomy (otonomi):
Perawat harus menghargai harkat dan martabat manusia
sebagai individu yang dapat memutuskan yang terbaik
bagi dirinya. Perawat juga harus melibatkan pasien
dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan asuhan
keperawatan pasien tersebut.
b. Beneficience (manfaat).
Melakukan hal yang baik dan tidak menimbulkan bahaya
bagi diri pasien sendiri dan orang lain, perawat secara
moral berkewajiban membantu pasien melakukan sesuatu
yang menguntungkan dan mencegah timbulnya bahaya.

5.

Konsep/teori Etika.
Deontologi yaitu Kesalahan atau kebenaran suatu tindakan
tergantung pada yang tidak bisa dipisahkan dalam moral
tindakan. Pada kasus diatas tindakan dipertimbangkan atas
keselamatan pada diri pasien dan orang lain tetapi juga
atas
pertimbangan
kebebasan
pasien
dalam
melakukan
aktivitas sehari-hari.

6.

Pembahasan
Perawat dengan pasien.
a. Perawat dalam hal ini bisa melakukan tindakan untuk
memberikan kebebasan kepada pasien untuk keluar dari
bangsal perawatan di ruang sekitar tempat perawatan
dengan pengawasan, tetapi hal ini bisa dilakukan pada
pasien dengan kategori maintenance dan peningkatan
kesehatan, inipun dilakukan dengan pengawasan yang
ketat dari petugas dan perawat.
b. Karena dapat menimbulkan bahaya bagi pasien sendiri dan
orang lain perawat dapat saja memasukkan kembali pasien
ke bangsal perawatan jika diperlukan.
c. Keterbatasan petugas dan ruangan untuk memberikan
kebebasan pada pasien untuk bisa keluar dari bangsal
perawatan
menjadi
kendala
untuk
permasalahan
ini
sehingga bisa menjadi bahan pemikiran bersama untuk
mengatasinya.
d. Tentang terapi lingkungan gimana ya teorinya, enyong ra
nduwe

7.

Implikasinya pada keperawatan jiwa


Mengko disit ya ngisine barenk-barenk wae, enyong keburu
kencot.