Anda di halaman 1dari 9

Nama Wahana : RSUD dr.

Soeratno Gemolong
TOPIK : Kasus Psikiatri
Tanggal (kasus) : 24 November 2014
Nama Pasien
: An F
No. RM : 038024
Tanggal Presentasi : 10 Maret 2015
Pendamping : dr. Endah Sri Puji Hastuti,
M. Kes
Tempat Presentasi : RSUD dr. Soeratno Gemolong
OBJEKTIF PRESENTASI
Keilmuan
o Keterampilan
o Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
o Manajemen
o Masalah
o Istimewa
o Neonatus
o Bayi
Anak
o Remaja
o Dewasa
o Lansia o Bumil
o Deskripsi :
Pasien dating bersama dengan guru kelas dan ibunya pasca dipukuli orang tidak dikenal di
dekat rumahnya. Ketika ditanya sakitnya, pasien hanya diam saja tidak mau menjawab.
o Tujuan:
1. Mengetahui penegakkan diagnosis Reaksi Stres Akut
2. Mengetahui penanganan Reaksi Stres Akut
Bahan Bahasan Tinjauan Pustaka o Riset
Kasus
o Audit
Cara Membahas o Diskusi
Presentasi
o E-mail
o Pos
dan Diskusi
DATA PASIEN
Nama : An F
No Registrasi :038024
Nama klinik : RSUD dr. Telp : Terdaftar sejak : 24 November
Soeratno Gemolong
2015
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis : Reaksi Stres Akut
2. Gambaran Klinis :
Keluhan utama : tidak mau bicara
Riwayat penyakit sekarang : Anamnesis diperoleh melalui alloanamnesis terhadap ibu
pasien dan guru pasien. Anamnesis dilakukan pada tanggal 24 November 2014 di
Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soeratno Gemolong dan didukung dengan catatan
medis.
Pasien datang bersama dengan guru kelas dan ibunya. Ketika ditanya sakitnya, pasien
hanya diam saja tidak mau menjawab. Menurut ibu pasien, + 1 jam SMRS, pasien pamit
untuk bermain di lapangan dekat rumahnya. Sekitar jam SMRS pasien ditemukan
gurunya dalam keadaan pingsan, sesaat kemudian pasien sadar, tapi hanya diam saja.
Ketika ditanya gurunya lebih lanjut, pasien bercerita bahwa saat itu pasien sedang
berada sendirian di lapangan, kemudian beberapa saat kemudian pasien dipukuli oleh
orang yang tidak dikenal. Kemudian orang tidak dikenal itu langsung kabur ketika
terpergok oleh warga sekitar. Menurut guru dan warga sekitar, orang tidak dikenal
tersebut merupakan orang yang sedang mengalami gangguan jiwa dan meresahkan
masyarakat. Ketika ditanya lebih lanjut apa yang dirasakan, pasien hanya diam saja dan
tidak mau menjawab pertanyaan. Kadang pasien menangis tapi tetap tidak mau
menceritakan kejadian yang dialaminya.
3. Riwayat Pengobatan : Pasien belum dibawa berobat. Langsung dibawa ke IGD RSUD
Gemolong
4. Riwayat Kehidupan Pribadi :
Riwayat Prenatal dan Perinatal : Pasien anak ke 1 dari 2 bersaudara. Masa kehamilan
serta kelahiran pasien normal cukup bulan dibantu oleh bidan di desa.
Riwayat Masa Anak Awal ( 0 3 tahun ) : Pertumbuhan dan perkembangan seperti
anak-anak lain. Diasuh oleh ayah dan ibu kandungnya. Pasien tumbuh normal dan tidak
pernah sakit berat.

Riwayat Masa Anak Pertengahan ( 4 11 tahun ) : Pasien merupakan anak yang cukup
pandai bergaul. Prestasi pasien di sekolah biasa saja dan tidak pernah tinggal kelas.
Berteman cukup baik dengan teman sekolahnya.
5. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : pasien tinggal dengan orang tua yang bekerja
sebagai petani, dan seorang adik umur 1 tahun. Ibu pasien mengaku tidak memiliki
musuh atau masalah dengan tetangga sekitar. Lingkungan sekitar pasien akhir-akhir ini
memang sedang tidak aman karena adanya kehadiran orang yang tidak dikenal yang
mengalami gangguan jiwa, akhir akhir ini sering berkeliaran di lingkungan sekitar.
6. Status Mentalis
6.1
Deskripsi umum:
a. Penampilan : anak laki-laki, 9 tahun, sesuai umur, rambut hitam lurus, tubuh
sedang berisi, kulit sawo matang, perawatan diri baik. Masih memakai
seragam sekolah.
b. Perilaku dan aktifitas motorik : Hipoaktif, lesu, mutisme
c. Sikap terhadap pemeriksa : Tidak kooperatif, kontak mata tidak ada
6.2
Kesadaran
a. Kualitatif : Tidak dapat dievaluasi
b. Kuantitatif : composmentis GCS E4V5M6
6.3
Pembicaraan
Ketika ditanya pemeriksa, pasien tidak kooperatif, tidak mau menjawab atau
merespon semua pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa. Hanya tiduran dan
tidak mau membuka mata. Kadang menangis.
6.4 Alam Perasaan
Mood
: sedih
Afek
: datar
Keserasian
: apropriate
6.5
Proses Pikiran
Bentuk
: autistik
Arus
: mutisme
Isi
: tidak dapat dievaluasi
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : tampak apatis, GCS E4V5M6, gizi kesan cukup
b. Tanda vital :
N : 92x/ menit (nadi kaki kuat)
RR : 26x/menit
T : 36,8 0C
BB : 28 kg
c. Kulit : Warna coklat, turgor menurun (-), hiperpigmentasi (-), kering (-)
d. Kepala : Bentuk mesocephal, rambut warna hitam tidak mudah dicabut, luka (-).
e. Mata : Konjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan subkonjugtiva (-/-),
pupil isokor dengan diameter (3 mm / 3 mm), reflek cahaya (+/+), edema palpebra
(-/-), strabismus (-/-), mata cekung (-/-),
f. Telinga : Membran timpani intak, sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri
tekan tragus (-)
g. Hidung : Napas cuping hidung (-/-), sekret (-), epistaksis (-), fungsi penghidu sulit
dinilai, sianosis (-/-)
h. Mulut : Sianosis (-), gusi berdarah (-), bibir kering (-), pucat (-), lidah tifoid (-), papil
lidah atrofi (-), stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-)
i. Leher : JVP R+2cm (tidak meningkat), trakea di tengah, simetris, pembesaran
kelenjar tiroid (-), pembesaran limfonodi cervical (-), distensi vena-vena leher (-)
j. Thorax : Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal (-), spider nevi (-), sela iga
melebar (-), pembesaran KGB axilla (-/-).

k. Cor :
I : IC tidak tampak
P : IC tidak kuat angkat, IC teraba di SIC IV LMCS
P : batas jantung dalam batas normal
A : BJ I II N, bising (-), gallop (-)
l. Pulmo :
I : Simetris, pengembangan dada kanan = kiri, retraksi (-)
P : fremitus raba kanan = kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+), ST (-/-)
m. Abdomen :
I : dinding perut sejajar dinding dada
A : bising usus (+) normal
P : timpani
P : supel, nyeri tekan (-), liver span + 6 cm, lien tidak teraba.
n. Ekstremitas:
Akral dingin (-/-), oedem (-/-)
o.
Status lokalis :
Luka eskoriasi : di periorbita sinistra 2x1cm dan di cubiti sinistra ukuran 3x2cm.
Nyeri tekan (-), nyeri gerak (-).
8. Pemeriksaan Status Neurologis
Pemeriksaan
Gerakan
Kekuatan
Refleks Fisiologis
Refleks Patologis
Trofi
Tonus
Klonus

Superior
Bebas/Bebas
5/5
Normal/Normal
-/Normal/Normal
Normal/Normal
-/-

Inferior
Bebas/Bebas
5/5
Normal/Normal
-/Normal/Normal
Normal/Normal
-/-

9. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
Hb
HCT
RBC
WBC
AT
MCV
MCH
MCHC

13,5
25,7
4,55
8,9
339
93,1
29.3
33,5

Satuan
g/dl

10 6 /l
10 3 /l
10 3 /l
/um
Pg
g/dL

Rujukan
13-16
40-48
4.5-5.5
5-10
150-400
80.0-96.0
28.0-33.0
33.0-36.0

DAFTAR PUSTAKA:
1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 1997. Sinopsis Psikiatri Edisi Ketujuh, Jilid 2. Alih
Bahasa oleh Widjaja Kusuma. Jakarta : Binarupa Aksara.
2. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. 1993. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI.
3. Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa cetakan kesembilan. Airlangga

University Press : Surabaya


4. Nevid, J.S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid I.Edisi 5. Penerbit Erlangga : Jakarta
5. Tomb, D. A. 2004.Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. EGC : Jakarta

HASIL PEMBELAJARAN:
1. Definisi dan Etiologi Reaksi Stres Akut
2. Kriteria Diagnostik dan Respon Tubuh terhadap Reaksi Stres Akut
3. Penatalaksanaan Reaksi Stres Akut

Rangkuman hasil pembelajaran Portofolio


1. SUBYEKTIF
Pasien datang bersama dengan guru kelas dan ibunya. Ketika ditanya sakitnya, pasien
hanya diam saja tidak mau menjawab. Menurut ibu pasien, + 1 jam SMRS, pasien pamit
untuk bermain di lapangan dekat rumahnya. Sekitar jam SMRS pasien ditemukan gurunya
dalam keadaan pingsan, sesaat kemudian pasien sadar, tapi hanya diam saja. Ketika ditanya
gurunya lebih lanjut, pasien bercerita bahwa saat itu pasien sedang berada sendirian di
lapangan, kemudian beberapa saat kemudian pasien dipukuli oleh orang yang tidak dikenal.
Kemudian orang tidak dikenal itu langsung kabur ketika terpergok oleh warga sekitar.
Menurut guru dan warga sekitar, orang tidak dikenal tersebut merupakan orang yang sedang
mengalami gangguan jiwa dan meresahkan masyarakat. Ketika ditanya lebih lanjut apa yang
dirasakan, pasien hanya diam saja dan tidak mau menjawab pertanyaan. Kadang pasien
menangis tapi tetap tidak mau menceritakan kejadian yang dialaminya.
2. OBYEKTIF
Dari pemeriksaan status mentalis, pemeriksaan fisik dan penunjang, diperoleh
abnormalitas sebagai berikut :
a. Status mentalis :
Perilaku dan aktifitas motorik : Hipoaktif, lesu, mutisme
Sikap terhadap pemeriksa : Tidak kooperatif, kontak mata tidak ada
Kesadaran
Kualitatif : Tidak dapatdievaluasi
Kuantitatif : composmentis GCS E4V5M6
Pembicaraan : Ketika ditanya pemeriksa, pasien tidak kooperatif, tidak
mau menjawab atau merespon semua pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa.
Hanya tiduran dan tidak mau membuka mata.
Alam Perasaan
Mood
: sedih
Afek
: datar
Keserasian
: apropriate
Proses Pikiran
Bentuk
: autistik
Arus
: mutisme
Isi
: tidak dapat dievaluasi
b. Keadaan umum : tampak apatis
c. Pemeriksaan fisik : luka eskoriasi di pelipis kiri ukuran 2x1cm dan di siku kiri
ukuran 3x2cm.

3. ASSESMENT

axis I : F 43.0 Gangguan Stres Akut


axis II : belum ada diagnosa
axis III : vulnus eskoriasi regio periorbita sinistra dan cubiti sinistra
axis IV : masalah berkaitan dengan lingkungan
axis V : GAF 80

REAKSI STRES AKUT


( ACUTE REACTION STRESS DISORDER )

1. Definisi
Reaksi stres akut dikenal juga dengan istilah gangguan stres akut, shock psikologis
atau mental shock. Reaksi stres akut merupakan suatu keadaan yang berhubungan dengan
keadaan psikis seseorang yang merupakan akibat langsung dari suatu pengalaman
traumatis yang berat. Pengalaman traumatis yang terjadi berhubungan dengan
pengalaman-pengalaman fisik maupun psikis individu. Gangguan ini merupakan sebuah
kondisi psikologis yang timbul sebagai tanggapan atau reaksi terhadap peristiwa yang
mengerikan.
Reaksi stres akut adalah gangguan yang dianggap sebagai suatu respon maladaptif
terhadap stres berat atau stres yang berkelanjutan dimana mekanisme penyesuaian tidak
bisa mengatasinya sehingga menimbulkan problem dalam kehidupan sosialnya.
Reaksi stres akut menyebabkan seseorang mengalami ketakutan yang luar biasa
ketika diberikan stimulus yang berkaitan dengan kejadian yang dialaminya. Individu akan
mengalami penurunan respon emosional dan biasanya reaksi stres akut terjadi setelah
adanya kejadian traumatik. Keadaan ini ditandai dengan suasana perasaan yang murung,
sedih, kurangnya semangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari maupun kegiatankegiatan yang menimbulkan kesenangan dan apabila sudah dalam keadaan yang berat,
akan menimbulkan gangguan dalam fungsi peran dalam kehidupan sosial.
2. Etiologi
Ada beberapa kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan terjadinya gangguan stres
akut yaitu :
a. Pengalaman Traumatis
Pengalaman-pengalaman buruk yang baru saja terjadi menjadi penyebab munculnya
gangguan reaksi stres akut pada seorang individu. Kekerasan, baik itu kekerasan
secara fisik maupun kekerasan psikis, peperangan, bencana alam, dan kecelakaan
akan membawa trauma bagi seorang individu. Pengalaman buruk tersebut akan
memunculkan respon-respon pada diri invidu, baik itu respon fisik maupun respon
psikologis apabila lingkungan memberikan stresor.
b. Terjadinya Perubahan Hidup Penuh Stres Yang Baru Terjadi
Perubahan dalam hidup yang baru terjadi ikut berperan menimbulkan stres.
Misalnya, seorang individu yang kehilangan orang yang dicintai, kemudian ada
stresor yang memungkinkan individu tersebut mengingat kembali orang yang ia
cintai, secara spontan memicu reaksi atau respon yang muncul dari dalam dirinya
secara tiba-tiba.
c. Adanya Konflik Dalam Diri
Konflik dalam diri berkaitan erat dengan ketidakmampuan seseorang untuk memilih
dua atau lebih macam-macam kebutuhan, keinginan serta tujuan. Stres akan muncul
akibat hilangnya kesempatan untuk menikmati alternatif yang tidak diambil

d. Tipe kepribadian Individu Yang Rentan Terhadap Gangguan Stres Akut


Tipe-tipe kepribadian pada manusia memungkinkan seseorang mengalami gangguan
stres akut. Orang yang dengan tipe kepribadian ambisius, agresif, kurang sabar,
mudah tegang, mudah tersinggung dan mudah marah memiliki tingkat prevalensi
yang tinggi mengalami gangguan ini.
3. Kriteria Diagnostik
Harus ada kaitan waktu kejadina yang jelas antara terjadinya pengalaman stressor luar biasa
(fisik atau mental) dengan onset dari gejala, biasanya setelah beberapa menit atau segera setelah
kejadian.
Selain itu ditemukan gelaja-gejala :
a. terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala
permulaan berupa keadaan terpaku (daze), semua hal berikut dapat terlihat:
depresi, anxietas, kemarahan, kecewa, overaktif dan penarikan diri
b. pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dari lingkup stressor-nya, gejala-gejala
dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal ini dimana stress
menjadi berkelanjutan atau tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru
mereda setelah 24-48 jam dan biasanya hampir menghilang setelah 3 hari.
c. Diagnosis ini tidak boleh digunakan untuk keadaan kambuhan mendadak dari
gejala individu yang sudah menunjukkan ganggua psikiatri lainnya
d. Kerentanan individual dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan
dalam terjadinya atau beratnya reaksi stres akut.
4. Reaksi Fisiologis dan Psikologis Dari Reaksi Stres Akut
4.1 Reaksi Fisiologis
a. Jantung berdebar atau ritmenya tidak normal bahkan kacau.
b. Sering berkeringat dingin, bahkan telapak tangan selalu berkeringat.
c. Mengalami gangguan pernafasan yaitu sesak nafas atau nafas pendek.
d. Sering buang air kecil dan tiba-tiba sakit kepala tanpa penyebab yang jelas.
e. Perut sering terasa mual, ingin muntah dan kadang-kadang disertai dengan diare.
f. Sulit tidur dan mengalami mimpi buruk.
g. Nafsu makan berubah.
h. Libido menurun
i. Jika tidak segera ditangani, dapat meningkat menjadi depresi.
4.2 Reaksi psikologis
a. Mengalami keletihan psikologis, kemurungan, kelesuhan, dan tidak bersemangat.
b. Gelisah, cemas, takut berlebihan dan secara terus-menerus merasa terancam.
c. Sering marah tanpa sebab yang jelas.
d. Muncul kekecewaan dan kesedihan yang berkepanjangan.
e. Pesimis, mudah lupa, daya ingat menurun dan sulit berkonsentrasi.
f. Tidak mampu mengambil keputusan.
5. Penatalaksanaan
5.1 Psikoterapi
a. Pendekatan perilaku
Pendekatan perilaku dilakukan dengan mengubah perilaku yang menimbulkan
stress akut, toleransi atau adaptabilitas terhadap stress akut yang dialami,
menyeimbangkan antara aktivitas fisik dan nutrisi, serta manajemen perencanaan,
organisasi dan waktu.
b. Pendekatan Kognitif
Pendekatan kognitif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengubah pola
pikir individu agar berpikir positif dan sikap yang positif, membekali diri dengan
pengetahuan tentang stres, serta menyeimbangkan antara aktivitas otak kiri dan

kanan. Pendekatan kognitif bisa juga dilakukan dengan menggunakan metode


hipnoterapi.
c. Metode Coping Stres Menggunakan Teknik Relaksasi
Relaksasi dilakukan dengan tujuan untuk melepaskan semua keteganganketegangan yang selama ini dialami oleh individu. Relaksasi yang dilakukan bisa
berupa relaksasi otot-otot, relaksasi kesadaran indra dan relaksasi pikiran-pikiran.
Semua pendekatan-pendekatan yang dilakukan bertujuan untuk merubah pola pikir
serta tingkah laku yang muncul akibat sebagai reaksi stres akut. Pendekatan yang
dilakukan bertujuan untuk merubah serta mengembalikan individu ke keadaan semula
atau keadaan yang normal. Selain itu penanganan dini terhadap reaksi stres akut
mengurangi kemungkinan seorang individu mengalami Pasca- Traumatic Stres
Disorder.
5.2 Farmakologi
Terapi farmakologi digunakan jika psikoterapi berorientasi krisis atau terapi
kelompok tidak efektif dan jika individu itu berbahaya, sangat agitatif atau psikotik
a. Benzodiazepin : efektif dan cepat mengurangi ansietas dan ketegangan serta
memperbaiki tidur. Penggunaan jangka pendek. Alternatif untuk insomnia :
trazodon dan amitriptilin dosis rendah. Diazepam 5-10 mg malam hari
b. Anti andrenergik : berguna untuk mengatasi keterjagaan berlebihan, agresifitas,
irritabililitas, memori yang intrusif dan insomnia. Hati-hati pada penyakit
kardiovaskuler dan diabetes.contoh : klonidin dan propanolol
c. SSRI : Untuk pengingatan kembali, penghindaran, keterjagaan berlebihan dan
depresi. Berguna untuk mengontrol anxietas dan iritabilitas. Mulai dengan dosis
kecil, tingkatkan perlahan, hati-hati kemungkinan terjadi anxietas, agitasi,
psikosis atau mania. Misalnya: sertralin 25 mg atau fluoxetin 10 mg sekali sehari,
dapat dinaikkan perlahan

4. PLAN
a. Diagnosis
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis pasien ini adalah reaksi stres
akut
b.

Pengobatan
Observasi di IGD, jika sudah membaik boleh pulang
Medikasi luka
02 nasal kanul 3 lpm
Paracetamol 3x1
Diazepam 2mg (malam hari)

c.

Pendidikan
Perlu dijelaskan kepada orang tua pasien bahwa pasien mengalami reaksi stres akut
yang terjadi pasca pemukulan oleh orang tidak dikenal. Gejala baru mereda setelah 24-48
jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari. Orang tua diharapkan berperan aktif dalam
proses penyembuhan pasien. Orang tua secara perlahan-lahan mengajak anak untuk
membicarakan kejadian yang terjadi pada pasien, memberi penjelasan tentang respon
fisik terhadap peristiwa traumatik tersebut dan tindakan yang dapat dilakukan, serta
menjelaskan bahwa reaksi stres akut kemungkinan besar akan mereda dalam waktu
singkat.
Semua pendekatan-pendekatan yang dilakukan bertujuan untuk mengubah pola pikir
serta tingkah laku yang muncul akibat reaksi stres akut dan dapat mengembalikan pasien
ke keadaan semula atau keadaan yang normal.

d. Konsultasi
Apabila gejala tidak mereda setelah lebih dari 1 minggu, atau pasien semakin mengalami
stress yang berkepanjangan, orang tua pasien perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis
sebagai upaya agar penyakit dapat ditangani dengan tepat.
e.

Monitoring
Kegiatan
Mengobservasi klinis
pasien serta keadaan
psikologis pasien

Periode
Selama di rumah

Hasil yang diharapkan


Klinis pasien baik
Keadaan psikologis pasien baik