Anda di halaman 1dari 7

Makan Telur Balado, 21 Orang Keracunan di Depok

TEMPO.CO,

Depok - Sebanyak

21

warga

keracunan

setelah

mengkonsumsi telur balado yang dibagikan seusai acara wisuda siswa


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nurul Iman di Kelurahan Ratujaya,
Cipayung, Depok, Selasa, 9 Juni 2015. Mereka sakit perut dan muntahmuntah beberapa jam setelah mengkonsumsi telur tersebut, sehingga
dilarikan ke rumah sakit.
Lurah Ratujaya Achmad Subandi mengatakan warga di lingkungannya
mendapat makanan itu dari PAUD Nurul Iman. Sebagian warga langsung
memakan makanan sisa acara wisuda itu, sebagian menyimpannya.
"Ternyata hampir semua yang makan telur itu mengalami keracunan
dengan gejala mules-mules, kram perut, diare, mual sampai muntah yang
diikuti dengan demam. Korban mencapai 21 orang," kata Subandi, Kamis,
11 Juni 2015.
Menurut Subandi, korban keracunan telur balado itu anak-anak hingga
orang dewasa. Sebagian korban dirawat di Rumah Sakit Hasanah Graha
Afiah. Ia mengatakan sudah mendatangi para korban dan meminta
keterangan ihwal penyebab keracunan. "Saat ini barang bukti sudah ada
di Dinas Kesehatan Kota Depok," ucapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Lies Karmawati mengatakan telah
mengambil

sampel

makanan

yang

ditengarai

sebagai

penyebab

keracunan pada Rabu malam, 10 Juni 2015. "Sudah diambil. Tapi hasil tes
belum diketahui," ujarnya.
Lies menduga makanan tersebut basi atau mengandung bakteri yang
menyebabkan keracunan. Dia mengimbau warga lebih selektif dalam
membeli

makanan

di

pasar.

"Jangan

membeli

makanan

yang

kedaluwarsa," ucapnya.
Menurut dia, tahun lalu ada kejadian serupa di Sawangan. Waktu itu
seorang anak, Chalifa Adeline Fahira, 5 tahun, keracunan setelah

memakan sate usus. Anak tersebut mengalami muntah-muntah dan diare.


Setelah dirawat tiga hari, Fahira meninggal.
Lies mengatakan total korban keracunan sate usus saat itu 27 orang. Lies
mengimbau masyarakat tidak sembarang membeli makanan. Terutama
makanan yang terlihat tidak sehat.
Ihwal kepastian penyebab keracunan warga Ratujaya, Fahira mengatakan
telur yang mereka konsumsi sudah dibawa ke laboratorium. "Tunggu
sampai tiga minggu, baru ketahuan ada bakteri atau tidak," ucapnya.
Lies menjelaskan, kebanyakan korban keracunan memakan telur tersebut
pada Selasa malam, dan baru merasakan sakit pada Rabu pagi. "Dugaan
pertama, makanannya basi. Atau mungkin ada bakteri, karena esoknya
baru sakit, kan?" katanya.
Hingga saat ini, ada empat korban yang dirawat di Rumah Sakit Citama.
Beberapa dirujuk ke Rumah Sakit Cibinong. "Korban dirawat di empat
rumah sakit," ujar Lies.
Teori Simpul

Perjalanan Penyakit Secara Umum ada 4 Tahapan atau 4 Simpul

SIMPUL
1

SIMPUL
2

SIMPUL
3

SIMPUL
4

Sumber :

Polutan
Mencema
ri
Lingkung
an :

Biomark
er :

Dampak :

Kemunkin
an Bakteri
Salmonell
a sp.

Darah
Feces
Urine

Sakit/kram
perut
diare
Muntahmuntah

Analisis Berdasarkan Teori Simpul


1. Simpul 1 (Sumber Penyakit)
Berdasarkan gejala penyakit yang ditemukan, kemungkinan bakteri
penyebab keracunan adalah Salmonella sp. Bakteri Salmonella genus
bakteri dengan ciri-ciri berbentuk batang. Salmonella banyak ditemukan
pada daging yang terinfeksi, unggas, susu mentah, telur dan hasil olahan
telur.
Gejala keracunan dimulai sekitar 12 - 72 jam setelah makan makanan
yang

terkontaminasi

oleh

bakteri

salmonella.

Biasanya

gejala

keracunannya berupa demam, yang berlangsung sekitar dua sampai lima


hari.
2. Simpul 2 (media perantara)
Media perantara pada kasus keracunan makanan ini kemungkinan besar
berasal dari telur balado yang dibagikan seusai acara wisuda siswa
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nurul Iman di Kelurahan Ratujaya,
Cipayung, Depok.

Karena

beberapa

saat

ketika

warga

yang

mengkonsumsi telur tersebut, terjadi gejala sakit perut dan muntah.


Telur tersebut mungkin saja memang sudah basi atau terkontaminasi
bakteri dapat juga disebabkan karena pengolahan makanan yang tidak
sesuai dengan hygiene sanitasi, baik dari cara penyimpanan, pengolahan
sampai penyajian nya yang tidak dilakukan dengan hygiene sanitasi yang
baik.
3. Simpul 3 (Biomarker)
Biomarker adalah hasil laboratorium menjelaskan secara rinci gangguan
yang terjadi pada tubuh sehingga bisa ditentukan bentuk treatment yang
akan dilakukan. Dalam kasus keracunan makanan ini biomarkernya
dengan melakukan pemeriksaan lab pada darah dan feses dan urine
korban keracunan makanan, untuk menemukan kepastian penyakit
sehingga dapat memudahkan untuk dilakukan tindakan pengendalian.
4. Simpul 4 (Dampak)

Seseorang yang mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi


tersebut mengalami gejala awal seperti sakit perut, diare, mual, muntah
pusing sampai demam.
Gangguan saluran pencernaan seperti diare biasanya mulai timbul dalam
waktu 12-48 jam setelah terinfeksi bakteri Salmonella. Gejala awalnya
adalah mual dan nyeri perut kram yang segera diikuti oleh diare, demam,
dan terkadang muntah. Biasanya diare sangat encer, tetapi kadang bisa
berupa tinja setengah padat. Gangguan ini biasanya bersifat ringan dan
berlangsung 1-4 hari, tetapi bisa berlangsung lebih lama lagi.
Pemutusan Rantai Penularan
Pemutusan rantai penularan pada kasus keracunan makanan di sini
dilakukan dengan mengintervensi masing-masing simpul yang ada pada
kejadian keracunan makanan.
1. Simpul 1
Bakteri ini menular melalui kontak langsung maupun tak langsung dengan
tinja atau melalui urin pada pasien penderita namun hal tersebut jarang
ditemukan. Media penularan Salmonella yang sering dilaporkan dapat
melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh bakteri tersebut
terutama susu, produk susu, daging, telur, ikan, bisa juga tercemar
melalui

tangan

kotor

ataupun

lalat

yang

mungkin

menyebabkan

kontaminasi. Penularan yang berhubungan dengan ketersediaan air telah


juga pernah dilaporkan.
Oleh karena itu pemutusan penularan dapat dilakukan dengan pemilihan
bahan makanan dari sumber yang baik dan terpercaya. Memastikan
bahan makanan tidak basi dan belum kedaluwarsa. Penerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) juga di perlukan karena dapat berperan
mengkontaminasi makanan.
Pencemaran makanan juga dapat berasal dari lalat yang berperan sebagai
vector pembawa bakteri Salmonella atau bakteri pathogen lainnya. Perlu
dilakukan pengendalian vektor, yakni perbaikan sanitasi lingkungan dan
pemberantasan

vektor

secara

langsung.

Perbaikan sanitasi seperti menjaga kebersihan kandang hewan, buang air


besar di jamban yang sehat, pengelolaan sampah yang baik, dan
sebagainya diharapkan mampu mengurangi tempat perindukan lalat.
2. Simpul 2
Simpul 2 diisi oleh makanan yang terkontaminasi (telur balado). Cara
penanganan makanan yang higienis diperlukan untuk menghilangkan
bahaya biologis di dalam makanan. Oleh karena itu, memasak makanan
dan minuman secara sempurna harus dilakukan. Demikian juga perilaku
penjamah makanan yang terlibat dalam proses penyajian dan persiapan
makanan. Dia harus mengetahui di titik-titik mana saja dia harus
menganalisis bahaya pada makanan dan langkah apa yang harus dia
ambil. Promosi kesehatan tentang HACCP (Hazard Analysis Critical Control
Point) perlu dilakukan kepada masyarakat.
3. Simpul 3
4. Simpul 4
Walaupun dengan dosis infektif yang amat kecil, pasien yang terinfeksi
dilarang menjamah makanan atau menjaga anak atau merawat pasien
sampai hasil sampel tinja atau suap dubur negatif selama 2 kali berturutturut (diambil 24 jam secara terpisah dan tidak lebih cepat dari 48 jam
setelah pemberian dosis antibiotik yang terakhir). Penggantian cairan dan
elektrolit penting jika diare cair atau adanya tanda dehidrasi.
Sebenarnya tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan racun
di dalam usus lewat frekuensi buang air besar yang meningkat. Oleh
karena itu, diperlukan penjagaan terhadap status gizi pasien dengan
mengkonsumsi

makanan

yang

cukup

dan

bergizi.

Pasien

harus

mendapatkan konsumsi makanan dengan asupan nutrisi yang adekuat


dan cairan elektrolit yang memadai. Istirahat yang cukup juga sangat
penting untuk
tubuh dalam
meningkatkan
Pemutusan
Rantai
Penularan pertahanan tubuh.

Sumber :
SIMPUL
1

Kemunkin
an Bakteri
Salmonell
a sp.

Polutan
Mencema
ri
Lingkung
an :

SIMPUL
2

SIMPUL
3

Biomark
er :
-

-Pemilihan
bahan
makanan dari
sumber
yg
baik
-PHBS
-Pengendalian
vector
-Perbaikan

S
A

-Menerapkan
prinsip Hygiene
Sanitasi
Makanan
-Memasak
makanan
sampai matang
- Memastikan
makanan tidak

I
T

Darah
Feces
Urine

S
A
Penjagaan

status gizi.
Makan

Sakit/kr

cukup

am

bergizi
Istirahat

cukup
Meminum

Dampak
:
SIMPUL
4

perut
diare
Muntah
-

obat

dan

Daftar Pustaka
http://www.blogster.com/tegarrezavie/peny-berbasis-lingk-di
http://metro.tempo.co/read/news/2015/06/11/083674186/makan-telurbalado-21-orang-keracunan-di-depok