Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

(TINJAUAN PUSTAKA)
DISPLASIAPAYUDARA
PERIODE 6 JULI 2015 1 AGUSTUS 2015

Diajukan Guna Mlengkapi Tugas Kepaniteraan Klinik Bidang Radiologi


RSUD RAA SOEWONDO PATI

Oleh :
Siti Chanifah (01.211.6529)
Ana Shofiana

Pembimbing :
Dr. Rochmat Widiatama Sp. Rad
FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
Nama

: Siti Chanifah
Ana Shofianan

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: universitas Islam Sultan Agung Semarang

Tingkat

: Program Pnedidikan Profesi Dokter

Bidang Pendidikan

: Radiologi

Periode Kepaniteraan Klinik : 6 Juli 2015-1 Agustus 2015


Judul Makalah

: Displasia Payudara

Dijukan

: Juli 2015

Pembimbing

: Dr. Rochmat Widiatama Sp. Rad

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL :...........................................................

Mengetahui
Pembimbing Kepaniteraan Klinik Radiologi
RSUD RAA SOEWONDO PATI

Dr. Rochmat Widiatama Sp.RAD

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yag telah memberikan
rahmat dan karuniaNya sehingga makalah dengan judul Displasia Payudara ini dapat
selesai dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi
syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan
Agung Semarang di RSUD RAA SOEWONDO PATI periode 6 Juli- 1 Agustus 2015
Disamping itu, makalah ini ditujukan untuk menambah pengatahuan dan wawan bagi kita
semua mengenai Displasia Payudara khususnya penegakanan diagnosis dalam bidang
radiologi.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih ats bantuan
dan kerjasama yang telah diberikan selama penyusunan makalah ini, kepada :
1. Dr. Suworo Nurcahyono, M.Kes., selaku direktur Rumah Sakit Umum Daerah RAA
Soewondo Pati
2. Dr. Rochmat Widiatama,Sp.RAD, selaku Pembimbing Kepaniteraan Klinik Radiolgi
Rumah Sakit Umum Daerah RAA Soewondo Pati
3. Rekan-rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Radiologi Rumah Sakit Umum
Daerah RAA Soewondo Pati
Penulis menyadari masih banyak kekurangan, karena itu penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari semua pihak supaya makalah ini menjadi lebih baik, dan
berguna bagi semua yang membacanya. Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
masih banyak kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini

Semarang, 21 Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI
JUDUL.............................................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................. vi
KATA PENGANTAR....................................................................................... vi
DAFTAR ISI..................................................................................................... vi
BAB I

PENDAHULUAN............................................................................ 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 5
2.1 PAYUDARA............................................................................. 5
2.1.1Anatomi dan Histologi Payudara........................................ 5
2.1.2Perubahan Normal Payudara............................................... 5
2.1.3Faktor yang mempengaruhi perubahan normal Payudara. 8
2.2DISPLASIA PAYUDARA......................................................... 15
2.2.1Definisi dan Etiologi Displasia Payudara............................
2.2.2Etiologi Displasia Payudara.................................................
2.2.3Pemeriksaan fisik.................................................................
2.2.4Pemeriksaan Penunjang.......................................................

15
16
17
17

2.2.4.1 USG..................................................................... 32
2.2.4.2 Mamografi.......................................................... 32
2.2.4.3 MRI...................................................................... 33
2.2.5Terapi .................................................................................. 17
BAB III PENUTUP........................................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 42
LAMPIRAN ................................................................................................... 46

PENDAHULUAN

Penyakit displasia payudara atau dikenal juga sebagai penyakit fibrokistik payudara
adalah keadaan yang ditandai dengan adanya benjolan pada payudara akibat penambahan
jaringan fribrosa dan kelenjar payudara. Keadaan ini sering dialami oleh sebagian besar
wanita dekade 2-4. Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Keadaan ini umumnya
dipengaruhi oleh periode mesntruasi dan hormonal.
Pemeriksan klinis beserta pemeriksaan penunjang dapat dijadikan dasar untuk
membedakan kelainan payudara jinak atau ganas. Dalam dua dasawarsa terakhir penggunaan
ultrasonografi mengalami peningkatan dengan cepat di seluruh dunia. Ultrasonografi tidak
dapat dipisahkan dari praktek sehari-hari para dokter karena sangat bermanfaat dalam
pelayanan & mempunyai ketepatan diagnostik yang dapat diandalkan serta mampu
dioperasikan dengan mudah, murah dan cepat, tanpa efek samping yang dapat menimbulkan
pengaruh terhadap organ yang diperiksa (non radiasi) serta tidak menimbulkan rasa sakit (non
traumatik) selama melakukan persiapan pemeriksaan sampai selesai pemeriksaan. Selain itu
utrasonographi merupakan salah satu modalitas imaging untuk pemeriksaan organ-organ
tubuh, dimana kita dapat mempelajari bentuk, ukuran anatomis, gerakan dan hubungan
dengan jaringan di sekitarnya. Berbagai kompleksitas pemeriksaan bisa dilakukan, antara lain
abdomen, small part, jantung, thorax, obstetri dan ginekology.
Ultrasonografi payudara (Breast Ultrasound)- termasuk dalam kategori pemeriksaan
small part -sering digunakan untuk mengevaluasi ketidaknormalan payudara yang ditemukan
pada hasil mammography screening atau mammography diagnostic atau uji klinis payudara.
Selain itu dapat pula digunakan MRI untuk mendiagnosis kelainan payudara ini.
Pada makalah ini, penulis membahas mengenai kelainan payudara yaitu displasia
payudara dan pemeriksaan radiologi sebagai pemeriksaan penunjang yang dapat memastikan
diagnosis kelainan tersebut

TINJAUAN PUSTAKA

2.1...............................................................................................PAYUDARA
2.1.1 Anatomi dan Histologi Payudara
Setiap kelenjar payudara terdiri dari 1520 lobus dari jenis tubuloalveolar
kompleks, yang berfungsi menyekresi air susu bagi neonatus. Setiap lobus, yang
dipisahkan satu sama lain oleh jaringan ikat padat dan banyak jaringan
lemak, sesungguhnya merupakan suatu kelenjar sendiri dengan ductus ekskretorius
lactiferus-nya sendiri. Ductus ini bermuara pada papilla mammae. Struktur
histologi kelenjar mammae bervariasi sesuai dengan jenis kelamin, usia dan
status fisiologis ( Junqueira & Carneiro, 2007).
Sebelum pubertas, kelenjar payudara terdiri atas sinus laktiferus dan
beberapa cabang sinus ini, yaitu duktus laktiferus. Struktur khas kelenjar dan
lobus pada wanita dewasa berkembang pada ujung duktus terkecil. Sebuah lobus
terdiri atas sejumlah duktus yang bermuara ke dalam satu duktus terminal
dan terdapat dalam jaringan ikat longgar. Duktus laktiferus menjadi lebar dan
membentuk sinus laktiferus di dekat papilla mammae. Sinus laktiferus dilapisi
epitel berlapis gepeng pada muara luarnya yang kemudian berubah menjadi
epitel berlapis silindris atau berlapis kuboid. Lapisan duktus laktiferus dan
duktus terminal merupakan epitel selapis kuboid dan dibungkus sel mioepitel
yang berhimpitan ( Junqueira & Carneiro, 2007).
2.1.2 Perubahan Normal Payudara
Payudara mulai berkembang saat usia pubertas. Perkembangan ini distimulasi
oleh estrogen yang berasal dari siklus seksual wanita bulanan. Estrogen
merangsang pertumbuhan kelenjarpayudara ditambah dengan deposit lemak
untuk memberi massa payudara. Selain itu, pertumbuhan yang jauh lebih besar
terjadi selama keadaan kadar estrogen yang tinggi pada kehamilan dan hanya
jaringan kelenjar saja yang berkembang sempurna untuk pembentukan air susu
(Guyton & Hall, 2008).Payudara pada wanita yang tidak hamil terutama terdiri
dari jaringan lemak dan duktus rudimenter. Jaringan lemak menentukan ukuran
payudara dan tidak ada kaitannya dengan kemampuan
Payudara

yang

menghasilkan

susu.

mampu menghasilkan susu terdiri dari jaringan duktus yang

bercabang dari puting payudara dan berakhir di lobulus-lobulus. Setiap lobulus


terdiri atas sekelompok alveolus berlapis epitel dan mirip kantung yang
membentuk kelenjar penghasil susu. Susu yang

dibentuk

sel-sel

epitel

disekresikan ke lumen alveolus, lalu mengalir melalui duktus pengumpul susu


ke permukaan puting payudara (Sherwood, 2001)
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi perubahan normal Payudara
Mammae

mulai

berkembang

saat

pubertas

dan

perkembangannya

distimulasi oleh estrogen yang berasal dari siklus seksual wanita bulanan. Estrogen
merangsang pertumbuhan kelenjar mammaria payudara ditambah dengan deposit
lemak untuk memberi massa payudara. Selain itu, pertumbuhan yang lebih
besar terjadi selama kadar estrogen yang tinggi pada kehamilan dan hanya
jaringan kelenjar saja yang berkembang sempurna untuk pembentukan air susu.
Terdapat 2 hormon yang berperan dalam proses perkembangan payudara antara
lain :
a) Peranan Estrogen (Pertumbuhan sistem duktus)
Selama kehamilan, sejumlah besar estrogen disekresikan oleh plasenta
sehingga sistem duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan,
stroma payudara juga bertambah besar dan sejumlah besar lemak terdapat dalam
stroma. Sedikitnya ada 4 hormon lain yang penting dalam pertumbuhan
sistem duktus diantaranya hormon pertumbuhan, prolaktin, glukokortikoid
adrenal dan insulin. Masing masing hormo tersebut diketahui memainkan paling
sedikit beberapa peranan dalam metabolisme protein.
b) Peranan Progesteron (Perkembangan sistem lobulus-alveolus)
Perkembangan akhir payudara menjadi organ yang menyekresi air susu juga
memerlukan progesteron. Sekali sistem duktus telah berkembang, progesteron
bekerja secara sinergistik dengan estrogen, juga dengan semua hormonhormon lain yang disebutkan di atas menyebabkan pertumbuhan lobulus
payudara, dengan pertunasan alveolus dan perkembangan sifat-sifat sekresi
dari sel-sel alveoli
Perubahan perubahan ini analog dengan efek sekresi progesteron pada
endometrium uterus selama pertengahan akhir siklus seksual wanita.Walaupun
estrogen dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar payudara
selama

kehamilan,

namun

hormon

ini

mempunyai pengaruh untuk tidak

menyebabkan alveoli menyekresi air susu. Air susu disekresi hanya sesudah
payudara yang siap dirangsang lebih lanjut oleh prolaktin dari kelenjar
hipofisis anterior. Konsentrasi hormon prolaktin
dalam darah ibu meningkat secara tetap dari minggu kelima kehamilan
sampai kelahiran bayi.
2.3 DISPLASIA PAYUDARA

2.3.1

Definisi Displasia Payudara


Displasia payudara ini di sebut juga mastitis kronis kistik, hiperplasia kistik,
Kelainan fibrokistik mastopatia kistik, dan banyak nama lainnya. Istilah yang
bermacam-macam ini menunjukkan proses epitelial jinak yang terjadi amat
beragam dengan gambaran histopatologis maupun klinis yang bermacam-macam
pula
Scanlon mendefinisikan panyakit fibrokistik sebagai Suatu keadaaan di mana
di temukan adanya benjolan yang teraba pada payudara yang umumnya
berhubungan dengan rasa nyeri yang berubah-ubah karena pengaruh siklus
menstruasi dan menjadi memburuk sampai saat menopause

2.3.2

Etiologi Displasia Payudara


Etiologi pasti keadaan ini tidak diketahui, meskipun jelas ada hubungannya
dengan

kadarhormon ,

mengingat

bahwa

keadaan

ini

mereda

setelah menopause dan terkait dengan siklus menstruasi.


Penyakit ini merupakan proses kumulatif yang sebagian disebabkan oleh
perubahan

hormonal

bulanan.

Hormon

adalah estrogen, progesterone dan prolaktin.

terkait
Hormon

yang
ini

paling

berkaitan

penting
langsung

dengan jaringan payudara karena menyebabkan pertumbuhan dan multiplikasi sel.


Sejumlah

hormon

lain

, TSH, insulin, growth

hormone dan

faktor

pertumbuhan seperti TGF-beta bekerja langsung dan tidak langsung untuk


memperkuat dan mengatur pertumbuhan sel Hormon.
Fluktuasi hormon ang berlangsung berulang kali selama bertahun-tahun
menyebabkan terbentuknya kista kecil dan atau pembentukan daerah padat atau
jaringan fibrotik.
Perubahan

fibrokistik

dibagi

menjadi

perubahan nonproliferatif

dan

perubahan proliferatif, bermanifestasi dalam beberapa bentuk yang biasanya


melibatkan

kombinasi

dari

respon

jaringan

dasar, proliferasi epitel

(proliferatif), fibrosis dan pertumbuhan kista (nonproliferatif). Proliferasi sel-sel

epitel menyebabkan adenosis. Pada kasus-kasus lain fibrosis lebih dominan dan
kelainan proliferasi epitel kurang tampak (Berek, 2005)

2.3.3

Gejala Klinis dan Pemeriksaan fisik


Penyakit ditandai dengan

adanya jaringan

fibrous dan

benjolan,

tekstur cobblestone dalam payudara. Benjolan rata dengan batas tegas dan tidak
melekat pada jaringan sekitarnya. Benjolan sering ditemukan dibagian atas dan luar
(mendekati pelipatan lengan ). Penderita sering mengalami rasa tak nyaman secara
menetap atau berkala , payudara kerasyang terkait dengan siklus haid. Payudara
dan puting susu keras atau gatal.Keluhan mengikuti kecenderungan periodik yang
terkait dengan siklus menstruasi . Keluhan mencapai puncaknya menjelang akhir
siklus haid dan setelah itu mereda. Tidak ada komplikasi yang berkaitan
dengan laktasi
Beberapa bentuk kelainan fibrokistik mengandung risiko untuk berkembang
menjadi kanker payudara, tetapi umumnya tidak demikian. Bila ada keraguan,
terutama bila pada benjolan tersebut teraba bagian yang kepadatannya berbeda,
perlu dilakukan biopsi (operasi pengangkatan seluruh atau hanya sebagian
benjolan). Nyeri yang hebat dan berulang atau penderita khawatir, dapat pula
menjadi indikasi operasi untuk memastikan diagnosis.
Love, Gelmen dan Silen menyatakan bahwa mastodinia atau nyeri pada
payudara bukanlah suatu manifestasi penyakit tetapi lebih mungkin merupakan
suatu respon fisiologis terhadap variasi hormonal yang sesuai dengan gambaran
histologis suatu kelainan fibrokistik (5)
2.3.4

Pemeriksaan Penunjang
2.2.4.1 USG
Gambaran USG pada struktur jaringan utama payudara :
1. Kulit :
Jaringan kulit akan tampak sebagai garis yang ekogenik dengan ketebalan
antara 0,5 2mm
2. Papila :
Daerah papilla terdiri dari banyak jaringan ikat sehingga dapat memberikan
gambaran bayangan akustik.Pada daerah papilla dan areolar dapat dijumpai
adanya duktus lactiferous, dengan diameter 2 8 mm.
Daerah Kulit dan papilla disebut sebagai Premammary Zone
3. Lemak subkutaneus

Jaringan lemak ini terltak di bawah kulit dan banyaknya jaringan lemak ini
bervariasi tergantung pada umur dan jumlah paritas. Jaringan lemak ini
akan tampak sebagai struktur hipoekoik oval dan sering terlihat dibatasi
oleh simpai ekogenik yang mewakili ligamentum cooperi.
4. Lapisan fibroglandular
Jaringan parenkim ini terletak di bawah jaringan lemak subkutan, terlihat
sebagai suatu struktur yang mempunyai ekogenitas di atas jaringan lemak
Lemak subkutan dan lapisan fibroglandular di sebut sebagai mammary
zone
5. Otot pektoralis
Struktur ini terlihat sebagai suatu pita hipo- ekoik yang terletak diatas
bayangan iga dan berjalan sejajar dengan kulit.
6. Iga
Sebagian besar dinding toraks bagian lateral terdiri dari tulang tulang iga
oleh karena itu akan tampak ekogenik dengan bayangan akustik posterior
sedangkan bagian medial terdiri dari jaringan rawan iga yang akan tampak
hipo-ekoik oval dengan eko internal yang homogen.
Otot pektoralis dan iga disebut sebagai Retromamary zone

Gambar 1. Anatomi payudara. Sumber : Imaging anatomi ultrasound, edit by Enil


T Ahuja, 2007

Gambar 2 : Zona anatomi pada payudara. Sumber : Imaging anatomi ultrasound,


edit by Enil T Ahuja, 2007

Gambar 3. Sono- anatomi payudara normal, wanita umur 21 tahun. FG = fibro


glandular, C = iga, OP= otot pektoralis
Sumber : Atlas ultrasonografi dan mammografi, Daniel Makes

Gambar 4 . duktus lactiferous terlihat sebagai struktur hipoekhoik tubuler yang


menuju papilla
Sumber : Atlas ultrasonografi dan mammografi, Daniel Makes

Berikut adalah teknik pengambilan pencitraan pada USG :


1. Pemeriksaan dilakukan dengan posisi penderita terlentang dengan ganjal pada
bahu sisi payudara yang akan diperiksa, lengan ipsilateral ditaruh di belakang
kepala dengan maksud agar daerah payudara yang akan diperiksa menjadi lebih
luas dan jelas
2. Dilakukan skening sistematis, dimulai dari daerah kuadran superior ke daerah
kuadran inferior kemudian dari kuadran lateral kearah medial.

Gambar 5 . Skening pada daerah lateral superior. Sumber : Sumber : Imaging


anatomi ultrasound, edit by Enil T Ahuja, 2007

Gambar 6 : skening daerah medial superior


Sumber : Imaging anatomi ultrasound, edit by Enil T Ahuja, 2007
3. Daerah selanjutnya, skening daerah retro papilla

Gambar 7 . Skening pada daerah retro papila


Sumber : Imaging anatomi ultrasound, edit by Enil T Ahuja, 2007
4. Dilakukan pemeriksaan pada daerah aksila, untuk mengetahui adanya pembesaran
pada kelenjar getah bening ( Lymp Node )

Gambar 8. Scan daerah axilla.

Sumber : Imaging anatomi ultrasound, edit by Enil T Ahuja, 2007


5. Dilakukan pada kedua payudara secara bergantian.

Gambar 9.Sumber : matkul USG Payudara, Dra Gando Sari


Tehnik lainnya :
Dilakukan searah dengan putaran jam

Gambar 10.Sumber : Mata kuliah USG, dosen : Dra. Hj Gando Sari

Gambar 11. Dua cara menilai lokasi lesi pada payudara. Pada payudara kanan jam
4 ada pada Lower inner Quadran ( LIQ ) , sedangkan pada payudara kiri ada pada
Lower Outer Quadran ( LOQ )
Sumber : Mammografi examination, Lange Q&A
Ultrasonografi payudara dapat menghasilkan gambaran payudara dari berbagai
orientasi arah karena fleksibilitas alat yang digerakkan tangan untuk memeriksa
seluruh bagian payudara. Ultrasonografi payudara bila dibandingkan dengan
mammografi memiliki resolusi kontras yang lebih baik sehingga dapat dengan
mudah membedakan area normal dengan area cairan seperti gambaran kista namun
ultrasonografi tidak memiliki resolusi spatial sebaik mammografi sehingga tidak
dapat memberikan gambaran sedetail mammografi.

Ultrasonografi payudara juga tidak dapat digunakan untuk mencitrakan suatu


proses pengerasan (mikro kalsifikasi) dan deposit kalsium yang merupakan tanda
awal dari kanker payudara. Tetapi pemeriksaan ultrasonografi merupakan
pemeriksaan yang sangat penting untuk menilai stuktur lesi, lesi solid atau lesi
kistik dapat dengan mudah di-identifikasi dengan ultrasonografi payudara. Selain
itu ukuran lesi dapat lebih akurat dengan ultrasonografi

Gambaran USG pada kelainan fibrokistik dapat tergantung struktur mana yang
dominan, struktur kistik,atau struktur jaringan penunjang. Jadi gambaran dapat
berupa lesi hipoekoik multiple yang mewakili kista kecil atau suatu lesi hiper-ekoik
linier yang mewakili fibrosis serta adanya pelebaran duktus laktiferus.
2.2.4.2 Mamografi
Merupakan pemeriksaan radiografi untuk memperlihatkan stuktur anatomis
payudara dengan film khusus, dengan menggunakan media kontras ataupun tidak.
Pemeriksaan ini memerlukan seperangkat pesawat sinar-X yang mempunyai
komponen khusus, karena organ yang diperiksa mempunya struktur berupa soft
tissue atau jaringan lunak. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi secara dini semua
kelainan yang ada pada payudara bahkan sampai ada kemungkinan untuk
membedakan tumor yang bersifat ganas dan tidak ganas ( Pearce, 1999)
Kelemahan mammografi, kurang sensitif pada struktur payudara wanita muda
yang padat dan yang belum melahirkan. mammografi juga tidak sensitif untuk
membedakan lesi cair dan padat. Untuk menambah akurasi, lakukan juga
pemeriksaan Usg. Dengan pemeriksaan tambahan ini, sensitivitas bisa meningkat
sampai 95%
Kelainan yang paling sering ditemukan meliputi separuh dari semua operasi
payudara disebabkan perubahan siklus payudara melebihi yang normal terjadi pada

siklus haid. Dikenal dengan hiperplasi kistis (mammary dysplasia, fibrocystis


disease)
Gambaran penting yang ditemukan yaitu:
1)

Fibrosis (mazoplasia)

Tampak pertumbuhan stroma yang berlebihan tanpa hiperplasi epitel.


2)

Kelainan kistik (boodgoods disease, schimmel buschs disease, blue

dome cyst)
Merupakan jenis mammary dysplasia dengan ciri-ciri hiperplasia epitel dan
stroma serta pembentukan kista. Kista mempunyai sifat yang berbeda. Sering
terjadi kista menghilang atau berubah ukurannya. Pada umumya kista tersebut
mudah bergerak, mirip fibroadenoma. Bentuknya bulat dan berbatas tegas.
3) Adenosis (hiperplasi duktus, papillomatosis duktus, sclerosing adenosis,
adenomatosis)
Sering ditemukan pada usia 35-45 tahun, lebih dominasi dari pada
hiperplasi epitel, juga ditemukan fibrosis dan kelainan kistik
Pemeriksaan mammografi dilakukan apabila :
1)

Screening test, pemeriksaan penyaring terutama pada wanita yang berumur di

atas 35 tahun.
2)

Tiap kelainan benjolan pada payudara kemungkinan dapat dibedakan ganas

atau tidak.
3)

Keluhan rasa tidak enak.

4)

Keluhan kelenjar getah bening axial.

5)

Mempunyai riwayat keganasan.

6)

Pada pasien-pasien pasca operasi (mastektomi) payudara yang kemungkinan

kambuh atau keganasan.


7)

Diagnosa klinik Paget Disease of The Nipple.

Persiapan yang diperlukan oleh radiografer pada pemeriksaan mammografi dengan


kasus fobrocystic yaitu :
-

Memberikan informasi tentang tata pelaksanaan pemeriksaan kepada pasien

terlebih dahulu sebelum pemeriksaan dimulai.


Memberi tahu pada pasien supaya melepas pakaian dan berganti dengan baju
pasien.

Meminta pasien supaya bersedia melepas perhiasan di sekitar payudara.


Komunikasi yang baik antara radiografer dengan pasien selama pemeriksaan
berlangsung.

Contoh tambahan amperah untuk pemeriksaan mammografi


TGL;
NAMA PASIEN;
Bersedia/ tidak dilakukan pemeriksaan Mammografi
Dengan menggunakan silicon/tidak
Menstrurasi terakhir:
Sedang menyusui/tidak
Teknik Radiography Mammography
a)

Proyeksi Supero Inferior (Cranio Caudal)

Untuk memperlihatkan struktur jaringan payudara dengan jelas dilihat dari


pandangan superior inferior.

Posisi pasien : Duduk di atas kursi atau dapat juga berdiri

Posisi obyek

- Mammae diletakkan di atas kaset.


- Film diatur horizontal
- Tangan sebelah mammae yang difoto manekan kaset ke arah dalam (posterior),
tangan lain di belakang tubuh.
- Sebaiknya dengan sistem kompresi (mengurangi ketebalan mammae agar rata
dan tipis)
- Kepala menoreh ke arah yang berlawanan

Arah sinar

: Vertical tegak lurus film

Titik bidik

: Pertengahan mammae

FFD

: 35-40 cm

Kriteria gambar: Tampak semua jaringan payudara termasuk pada bagian


sentral, subareola, dan bagian tengah dari payudara ( terkadang otot otot dada
masuk dalam gambaran.

a)

Proyeksi Medio Lateral

Bertujuan memperlihatkan jaringan payudara terutama daerah lateral.

Posisi pasien :
-Tidur atau berdiri miring, sedikit obliq ke posterior.
- Bagian mammae yang difoto terletak didekat kaset.

Posisi obyek

- Mammae diletakkan di atas kaset dengan posisi horizontal.


- Lengan posisi yang difoto diletakkan di atas sebagai ganjal kepala.
- Lengan lain menarik mammae yang tidak difoto ke arah medio lateral
agar tidak superposisi dengan lobus lain.
Arah sinar

: Tegak lurus mammae arah medio lateral

Titik bidik

: Pertengahan mammae

FFD

: Sedekat mungkin (konuc menempel mammae) bila perlu

kontak.
Kriteria gambar: Tampak jaringan payudara dari arah lateral masuk daerah
axilla dan otot-otot dada.

a)

Proyeksi Axila

Bertujuan untuk melihat penyebaran tumor di bagian kelenjar axial.

Posisi pasien : Berdiri dari posisi AP tubuh yang tidak difoto dirotasikan
anterior 150-300 sehingga sedikit oblik.

Posisi obyek

- Obyek diatur di tengah film


- Film vertical pada tepi posterior
- Batas atas film yaitu iga 11-12
- Lengan sisi yang difoto diangkat ke atas dan fleksi denagn tangan di belakang
kepala, lengan yang tidak difoto diletakkan di samping tubuh.

Arah sinar

: Horizontal tegak lurus film

Titik bidik

: 5 cm di bawah axila

FFD

Kriteria gambar: Tampak jaringan payudara dibagian aksila. Tampak otot-

: 35 50 cm

otot dada, central payudara dan jaringan subareola.


b)

Proyeksi Obliq

Memperlihatkan struktrur payudara dari pandangan medio lateral.

Posisi pasien : Duduk atau berdiri menghadap pesawat.

Posisi obyek

- Payudara yang diperiksa ditarik ke depan dan diletakkan diatas kaset.


- Kaset membentuk sudut 450 dari horizontal, terletak pada tepi lateral
bawah dari payudara yang diperiksa.
- Dilakukan kompresi.
- Bidang tranversal payudara sejajar dengan kaset.

Arah sinar

Titik bidik

: 450medio lateral tegak lurus kaset.


: Menembus axis payudara yang berbatasan dengan

dinding dada.

FFD

: 35 50 cm

Kriteria gambar: Tampak jaringan payudara dari otototot dada

sampai nipple Tampak inframammary fold (IML) dan payudara tidak boleh
dalam keadan droop (kendor).
Tujuan dari proteksi radiasi pada pemeriksaan mammografi antara lain :
Menghindari dosis yang diterima pasien melampaui batas yang diijinkan.
Menghindari kerusakan organ tubuh lain yang peka terhadap radiasi.
Macam-macam tindakan proteksi radiasi pada pemeriksaan mammografi
meliputi :
Dilakukan hanya bila ada perintah dari dokter.
Luas lapangan pemeriksaan seminimal mungkin.
Bekerja seteliti mungkin dan mempergunakan efisiensi waktu dengan baik.
Pada gambaran mammografi dysplasia

payudara berupa densitas

fibroglandular yang padat, ultrasonografi akan memberikan tambahan informasi


dalam mengevaluasi struktur payudara. Oleh karena itu pemeriksaan mammografi
dan ultrasonografi payudara bersifat saling melengkapi untuk mendapatkan
diagnosis yang optimal pada kelainan payudara.
2.2.4.3 MRI
MRI

dianjurkan

dilakukan

bersama

pemeriksaan

mamografi

tahunan.MRI umumnya tidak direkomendasikan sebagai alat skrining yang


berdiri sendiri, karena meskipun sensitif, masih ada kemungkinan bahwa
beberapa jenis kanker tidak terdeteksi pada pemeriksaan ini. MRI juga
dapat digunakan untuk menentukan ukuran kanker pada pasien yang telah
didiagnosa menderita kanker. Pada pemeriksaan ini menggunakan bahan

kontras (gadolinium) yang disuntikkan ke pembuluh darah kecil di lengan


sebelum dan selama pemeriksaan. Hal ini meningkatkan kejelasan jaringan
payudara. Pemeriksaan ini dapat memakan waktu lama (kira kira 1 jam).
Pasien harus berbaring dalam tabun yang sempit dan mendengung keras.
Meskipun MRI lebih sensitif mendeteksi kanker daripada mammografi, tapi
juga memiliki tingkat false positis yang lebih tinggi, untuk itu tidak
disarankan untuk tes skrining, kekurangan lainnya adalah biaya yang mahal.
MRI dapat dilakukan pada
(1) pasien usia muda, karena gambaran mamografi yang kurang jelas pada
payudara wanita muda;
(2) untuk mendeteksi adanya rekurensi pasca BCT;
(3) mendeteksi adanya rekurensi dini keganasan payudara yang dari
pemeriksaan fisik dan penunjang lainnya kurang jelas.
2.2.4.4. Sonogram
Alat ini mampu memberikan hasil berupa gambar payudara lengkap
secara tiga dimensi dan komprehensif yang pemeriksaannya dilakukan
dalam waktu relatif singkat. pencitraan yang dihasilkan mencakup seluruh
anatomi payudara sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap,
struktur

anatomi,

dan

arsitektur

jaringan

normal

serta

kelainan

payudara.hasilnya terekam sehingga dapat diproduksi/rekonstruksi kembali


bila diperlukan. memberikan banyak image/gambar dengan beberapa view
dengan irisan tipis atau tebal dengan ketipisan sampai 0,5-1 mm

dapat memperlihatkan beberapa Standardized views (AP, Lateral,

Medial)
yang tidak dapat diperlihatkan oleh UsG manual 2d
Waktu dan biaya yang efektif
Reproducible dilengkapi dengan coronal plane yang dapat membantu
dokter dalam mengobservasi area breast, dapat direkonstuksi dari beberapa
arah pada workstation.
Keuntungan-keuntungan untuk pasien:
(1) Waktu pemeriksaan relatif singkat 10 Foto 1 sampai 5 merupakan
gambaran yang ditampilkan pada pemeriksaan USG 3D Sonomammogram
dengan beragam bentuk benjolan serta kecurigaan menit.
(2) pemeriksaan tanpa radiasi pengion. aman untuk wanita muda/hamil.

(3) tidak perlu menahan napas saat pemeriksaan.


(4) pemeriksaan dilakukan dengan pasien berbaring.
(5) minimal kompresi untuk kenyamanan/kurang nyeri.
(6) dapat digunakan untuk pasien wanita dengan payudara besar.
(7) dan, memberi informasi yang baik untuk wanita yang memiliki dense
breast (padat).

Walaupun mammografi adalah gold standar dari breast imaging karena dapat
memperlihatkan mikrokalsifikasi yang merupakan bibit perkembangan kanker,
tetapi sebanyak 10% dari kasus kanker wanita dengan dense breast tidak
terlihat.UsG 3djuga dapat menjadi pendahulu tindakan screening payudara.
diharapkan, pemeriksaan ini dapat membantu pendeteksian kelainan payudara
sehingga semakin besar peluang untuk keberhasilan penyembuhannya.
2.3.5 Terapi
Sebagian besar penderita penyakit firbokistik tanpa keluhan tidak memerlukan
terapi namun dianjurkan untuk diamati secara ketat. Terapi medikamentosa :
mengatasi nyeri siklis pada kelainan ini, jika perlu dilakukan pembedahan.

PENUTUP
Penyakit displasia payudara atau dikenal juga sebagai penyakit fibrokistik payudara
adalah keadaan yang ditandai dengan adanya benjolan pada payudara akibat penambahan
jaringan fribrosa dan kelenjar payudara. Keadaan ini sering dialami oleh sebagian besar
wanita dekade 2-4. Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Keadaan ini umumnya
dipengaruhi oleh periode mesntruasi dan hormonal. Perlu dilakukan anamnesis yang
mendalam mengenai identitaf dan faktor resiko yang dapat mempengaruhi terjadinya
kelainan ini, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang untuk
memeastikam diagnosis.
Pemeriksaan penunjang pada kelainan ini salah satu nya adalah radiologi, dimana
dalam cabang ilmu ini terdapat beberapa pencitraan yang dapat membantu menegakkan
diagnosis penyakit displasia payudara ini, yaitu USG, MRI, Mammografi dan Sonogram. Ke
empat alat tersebut mempunyai kelebihan,kekurangan serta cara pencitraan yang berbeda
beda. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan fisik dan anamnesis yang akurat sehingga
pemeriksaan penunjang yang tepat lah yang digunakan untuk membantu penegakan diagnosis