Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

DROWNING

Disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Madya


SMF Bedah RSD.dr.Soebandi Jember

Oleh:

Afrian Danny Santoso


092011101070

Pembimbing:
dr.Soeparimbo S, Sp. OT

SMF BEDAH RSD.dr.SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2013
BAB 1
PENDAHULUAN

Drowning atau tenggelam adalah terhambatnya respirasi akibat adanya


obstruksi pada mulut dan hidung oleh cairan (biasanya air). 1 Drowning tidak
terbatas di dalam air seperti sungai, danau atau kolam renang tetapi mungkin juga
terbenam dalam kubangan atau selokan dengan hanya muka yang berada di bawah
permukaan air.3
Diseluruh dunia, kasus tenggelam adalah kasus kematian yang
menyumbang cukup besar dalam persentase semua kasus kematian akibat
kecelakaan, yaitu sekitar 9% dan setengah dari persentase tersebut terjadi pada
anak usia 0-14 tahun. Insiden terjadinya kasus tenggelam pada anak-anak ini
berbeda-beda tingkatan pada tiap-tiap negara. Di China tenggelam merupakan
kasus yang sering terjadi pada anak usia kurang dari 14 tahun dengan persentase
sebanyak 40% dari total kejadian kematian akibat kecelakaan. 2
Tenggelam merupakan salah satu kecelakaan yang dapat berujung pada
kematian jika terlambat mendapat pertolongan. Badan Kesehatan Dunia (WHO),
memperkirakan ada 388,000 kejadian tenggelam setiap tahunnya. Artinya, angka
ini menempati urutan kedua setelah kecelakaan lalu lintas.2
Setiap tahun angka kejadian tenggelam di seluruh dunia mencapai 1,5 juta,
angka ini bisa lebih dari kenyataan mengingat masih banyaknya kasus yang belum
dilaporkan. Insiden paling banyak terjadi pada negara berkembang, terutama pada
anak-anak kurang dari 5 tahun dan orang dewasa umur 15-24 tahun. 2
Oleh karena itu referat ini dibuat agar kita dapat mengenali kematian
akibat tenggelam dan dapat mengetahui hasil pemeriksaan luar dan dalam yang
dapat ditemukan pada korban tenggelam.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi

Drowning atau tenggelam adalah terhambatnya respirasi akibat


adanya obstruksi pada mulut dan hidung oleh cairan (biasanya air).
Sebenarnya istilah tenggelam harus pula mencakup proses yang terjadi akibat
terbenamnya korban korban dalam air yang menyebabkan kehilangan
kesadaran dan mengancam jiwa. Konsep yang utama pada kasus tenggelam
adalah terjadinya asfiksia hingga menyebabkan berbagai komplikasi yang
menyebabkan seseorang meninggal. 1, 3
2.2 Insiden
Tenggelam merupakan salah satu masalah besar. Sekitar 4000 orang
tenggelam tiap tahunnya dan 1400 diantaranya adalah anak-anak. Kasus
tenggelam diperkirakan jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang ada
dalam data. Beberapa data menyebutkan kasus tenggelam berada di peringkat
kedua penyebab kematian pada usia muda setelah kecelakaan lalu lintas.
Berdasarkan klasifikasi Federal Centers for Disease Control and Prevention
di Atlanta, 10-15% korban masuk dalam kategori dry drowning.2
Badan Kesehatan Dunia (WHO), mencatat tahun 2000 di seluruh
dunia ada 400.000 kejadian tenggelam tidak sengaja. Artinya, angka ini
menempati urutan kedua setelah kecelakaan lalu lintas. Bahkan Global
Burden of Disease (GBD) menyatakan bahwa angka tersebut sebenarnya
lebih kecil dibanding seluruh kematian akibat tenggelam yang disebabkan
oleh banjir, kecelakaan angkutan air dan bencana lainnya.2
Diperkirakan, selama tahun 2000, 10% kematian di seluruh dunia
adalah akibat kecelakaan, dan 8% akibat tenggelam tidak disengaja
(unintentional) yang sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang.
Dry drowning dikatakan terjadi pada 10-15% dari semua tenggelam.2
Rata-rata angka kematian tenggelam di Afrika adalah 8 kali lebih
tinggi dibanding Amerika dan Australia. Di kedua negara maju tersebut, ratarata kematian akibat tenggelam lebih tinggi pada penduduk pribumi daripada
penduduk kulit putih. Sementara itu, di Cina dan India rerata kematian akibat
tenggelam sangat tinggi, yaitu 43% dari seluruh kasus di dunia.2

Dari catatan itu, Afrika menempati posisi terbanyak kasus tenggelam


di dunia. Dan lebih dari sepertiga kasus terjadi di kawasan Pasifik.
Sementara, Amerika merupakan kawasan yang mengalami kasus tenggelam
terendah. Kejadian di negara berkembang lebih tinggi dibanding negara maju.
Tapi di negara berkembang, seperti Indonesia angka kejadiannya belum dapat
diketahui.2
2.3 Faktor resiko tenggelam2,4,6
Faktor risiko yang mengakibatkan tenggelam di antaranya termasuk:
1. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air
2. Kurangnya pengawasan terhadap anak (terutama anak berusia 5 tahun ke
bawah)
3. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat, air yang sangat
dalam, terperosok sewaktu berjalan di atas es, ombak besar, dan pusaran
air
4. Terperangkap misalnya setelah peristiwa kapal karam, kecelakaan mobil
yang mengakibatkan mobil tenggelam, serta tubuh yang terbelenggu
pakaian atau perlengkapan
5. Terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan dan
minuman beralkohol
6. Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan
7. Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang, termasuk di
antaranya: infark miokard, epilepsi, atau strok.
8. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan tujuan membunuh,
kekerasan antar anak sebaya, atau permainan di luar batas kewajaran.
2.4 Patofisiologi Tenggelam 5,6
Korban tenggelam dengan spontan akan berusaha menyelamatkan diri
secara panik disertai berhentinya pernapasan (breath holding). 10 sampai 12%
korban tenggelam dapat langsung meninggal, dikenal sebagai dry drowing
karena tidak dijumpai aspirasi air di dalam paru. Mereka meninggal akibat
asfiksia waktu tenggelam yang disebabkan spasme laring. Spasme laring
3

tersebut akan diikuti asfiksia and penurunan kesadaran serta secara pasif air
masuk ke jalan napas dan paru. Akibatnya, terjadilah henti jantung dan
kematian yang disertai aspirasi cairan dan dikenal sebagai wet drowning.
Kasus seperti ini lebih banyak terjadi, yakni 80 sampai 90%. Perubahan
patofisiologi yang diakibatkan oleh tenggelam, tergantung pada jumlah dan
sifat cairan yang terhisap serta lamanya hipoksemia terjadi. Setiap jaringan
pada tubuh mempunyai respons yang berbeda-beda terhadap hipoksemia dan
kepekaan jaringan otak merupakan organ yang dominan mengalami disfungsi
sistem organ pada tubuh terhadap hipoksia.
Terhadap air laut atau air tawar akan mengurangi perkembangan paru,
karena air laut bersifat hipertonik sehingga cairan akan bergeser dari plasma
ke alveoli. Tetapi, alveoli yang dipenuhi cairan masih bisa menjalankan fungsi
perfusinya sehingga menyebabkan shunt intra pulmonary yang luas.
Sedangkan air tawar bersifat hipotonik sehingga dengan cepat diserap ke
dalam sirkulasi dan segera didistribusikan. Air tawar juga bisa mengubah
tekanan permukaan surfaktan paru sehingga ventilasi alveoli menjadi buruk
sementara perfusi tetap berjalan. Ini menyebabkan shunt intrapulmonary dan
meningkatkan hipoksia. Di samping itu, aspirasi air tawar atau air laut juga
menyebabkan

oedem

paru

yang

berpengaruh

terhadap

atelektasis,

bronchospasme, dan infeksi paru..


Perubahan kardiovaskuler yang terjadi pada korban hampir tenggelam
terutama akibat dari perubahan tekanan parsial (PaO2) dan keseimbangan
asam basa. Sedangkan faktor lain yang juga berpengaruh adalah perubahan
volume darah dan konsentrasi elektrolit serum. Korban hampir tenggelam
kadang-kadang telah mengalami bradikardi dan vasokonstriksi perifer yang
intensif sebelumnya. Oleh sebab itu, sulit memastikan pada waktu kejadian
apakah aktivitas mekanik jantung terjadi. Bradikardi bisa timbul akibat refleks
diving fisiologis pada air dingin, sedangkan vasokonstriksi perifer bisa juga
terjadi akibat hipotermi atau peninggian kadar katekolamin. Aspirasi air yang
masuk ke paru dapat menyebabkan vagotonia, vasokonstriksi paru dan
hipertensi. Air segar dapat menembus membran alveolus dengan menghambat
kerja surfaktan.
4

Hipoksia dan iskemia selama tenggelam akan terus berlanjut sampai


ventilasi, oksigenasi, dan perfusi diperbaiki. Sedangkan iskemia yang
berlangsung lama bisa menimbulkan trauma sekunder meskipun telah
dilakukan resusitasi jantung paru yang adekuat. Oedem cerebri yang difus

sering terjadi akibat trauma sitotoksik yang disebabkan oleh anoksia dan
iskemia susunan syaraf pusat yang menyeluruh. Kesadaran yang hilang
bervariasi waktunya, biasanya setelah 2 sampai 3 menit terjadi apnoe dan
hipoksia. Kerusakan otak yang irreversible mulai terjadi setelah 4 sampai 10
menit anoksia. Ini memberikan gambaran bahwa hipoksia mulai terjadi dalam
beberapa detik setelah orang tenggelam, diikuti oleh berhentinya perfusi
dalam 2 sampai 6 menit. Otak dalam suhu normal tidak akan kembali
berfungsi setelah 8 sampai 10 menit anoksia walaupun telah dilakukan
tindakan resusitasi. Anoksia dan iskemia serebri yang berat akan mengurangi
aktivitas metabolik akibat peninggian tekanan intrakranial serta perfusi serebri
yang memburuk. Ini dipercayai menjadi trauma susunan saraf pusat sekunder.
Hampir sebagian besar korban tenggelam memiliki konsentrasi
elektrolit serum normal atau mendekati normal ketika masuk rumah sakit.
Hiperkalemia bisa terjadi karena kerusakan jaringan akibat hipoksemia yang

menyeluruh. Pasien hampir tenggelam setelah dilakukan resusitasi biasanya


fungsi ginjal seperti albuminuria, Hb uria, oliguria, dan anuria kemudian bisa
menjadi nekrosis tubular akut.

2.5 Klasifikasi Tenggelam4


Tenggelam dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Typical drowning (wet drowning)
Pada typical drowning ditandai dengan adanya hambatan pada
saluran napas dan paru karena adanya cairan yang masuk ke dalam tubuh.
Pada keadaan ini cairan masuk ke dalam saluran pernapasan setelah
korban tenggelam.
Pada kasus wet drowning ada tiga penyebab kematian yang terjadi,
yaitu akibat asfiksia, fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam di air tawar,
dan edema paru pada kasus tenggelam di air asin.
Tanda yang ditemukan pada typical drowning berupa busa halus
pada saluran napas, emphysema aquosum (emphysema hydroaerique),
adanya benda asing di saluran napas, paru atau lambung, perdarahan di
liang telinga, perdarahan konjungtiva, dan kongesti pembuluh darah vena.
2. Atypical drowning
Pada atypical drowning ditandai dengan sedikitnya atau bahkan
tidak adanya cairan dalam saluran napas. Karena tidak khasnya tanda
otopsi pada korban atypical drowning maka untuk menegakkan diagnosis
kematian selain tetap melakukan pemeriksaan luar juga dilakukan
penelusuran keadaan korban sebelum meninggal dan riwayat penyakit
dahulu.
Atypical drowning dibedakan menjadi :
a. Dry drowning
Pada keadaan ini cairan tidak masuk ke dalam saluran
pernapasan, akibat spasme laring.
Dry drowning dapat terjadi secara klinis, atau karena penyakit
atau kecelakaan atau karena cedera berulang seperti pada olahraga
selancar.
Mekanisme yang dapat menyebabkan dry drowning antara lain:

1) Paralisis otot
2) Luka tusuk pada torso yang mempengaruhi kemampuan diafragma
untuk melakukan gerakan respirasi
3) Perubahan pada jaringan yang mengabsorbsi oksigen
4) Spasme laring yang persisten pada saat terbenam di air
5) Menghirup udara selain oksigen yang tidak membunuh secara
langsung seperti helium
6) Kelebihan cairan dalam tubuh yang menyebabkan penurunan
kadar sodium dalam darah yang kemudian menyebabkan edema
otak
Menurut teori adalah bahwa ketika sedikit air memasuki laring
atau trakea, tiba-tiba terjadi spasme laring yang dipicu oleh vagal
refleks. lendir tebal, busa, dan buih dapat terbentuk, menghasilkan
plug fisik pada saat ini. Dengan demikian, air tidak pernah memasuki
paru-paru. Volume darah sirkulasi meningkat pada daerah paru akibat
penarikan semua darah dari abdomen, kepala, dan ekstremitas yang
ditimbulkan oleh tekanan negatif yang meningkat pada paru. Terjadi
pula perubahan vaskular pada daerah paru. Pembuluh darah yang
membawa daerah yang kaya oksigen menjadi sangat sempit dan hanya
cukup satu sel darah merah yang dapat melewati pembuluh darah
tersebut. Dinding pembuluh darah juga menjadi tipis yang
memungkinkan oksigen masuk ke dalam darah dan karbondioksida
dikeluarkan dari darah. Pada kasus dry drowning tidak terjadi
pertukaran gas karena tidak adanya oksigen dalam paru. Sedangkan
tekanan negatif yang muncul menyebabkan tertariknya cairan dari
pembuluh darah ke dalam paru sehingga menyebabkan edema paru
dan pasien tenggelam karena cairan tubuhnya sendiri. Pada saat yang
sama, sistem saraf simpatik merespon kondisi spasme pada laring.
Sistem

ini

menyebabkan

vasokonstriksi

yang

mengakibatkan

peningkatan tekanan darah yang akhirnya memperburuk proses edema


paru yang sudah ada.
b. Immersion syndrome (vagal inhibition)

Terjadi dengan tiba-tiba pada korban tenggelam di air yang


sangat dingin (< 20oC atau 68oF) akibat reflek vagal yang menginduksi
disaritmia yang menyebabkan asistol dan fibrilasi ventrikel sehingga
menyebabkan kematian.
Umumnya korban berusia muda dan mengkonsumsi alkohol.
Reflek ini dapat juga timbul pada korban yang masuk ke air dengan
kaki terlebih dahulu (duck diving) yang menyebabkan air masuk ke
hidung, atau teknik menyelam yang salah dengan masuk air dalam
posisi horizontal sehingga menekan perut. Tidak akan ditemukan
tanda-tanda khas dari tenggelam diagnosis ditegakkan dengan
menelusuri riwayat korban sebelum meninggal.
c. Subemersion of the unconscious
Bisa terjadi pada korban yang memang menderita epilepsi atau
menderita penyakit jantung khususnya coronary atheroma atau
hipertensi atau peminum yang mengalami trauma kepala saat masuk ke
air atau dapat pula pecahnya aneurisma serebral dan muncul cerebral
haemorrage yang terjadi tiba-tiba.
d. Delayed death (near drowning and secondary drowning)
Pada jenis ini, korban yang sudah ditolong dari dalam air tampak
sadar dan bisa bernapas sendiri tetapi secara tiba-tiba kondisinya
memburuk. Pada kasus ini terjadi perubahan kimia dan biologi paru
yang menyebabkan kematian terjadi lebih dari 24 jam setelah
tenggelam di dalam air. Kematian terjadi karena kombinasi pengaruh
edema paru, aspiration pneumonitis, gangguan elektrolit (asidosis
metabolik).
2.6 Perbedaan tenggelam di air tawar dan asin3,5,6
1. Tenggelam di Air Tawar
Sejumlah besar air masuk ke dalam saluran pernapasan hingga ke
paru-paru, mengakibatkan perpindahan air secara cepat melalui dinding
alveoli karena tekanan osmotik yang besar dari plasma darah yang
hipertonis. Kemudian diabsorbsi ke dalam sirkulasi dalam waktu yang

sangat singkat dan menyebabkan peningkatan volume darah hingga 30%


dalam menit pertama. Akibatnya sangat besar dan menyebabkan gagal
jantung akut karena jantung tidak dapat berkompensasi dengan cepat
terhadap volume darah yang sangat besar (untuk meningkatkan cardiac
output dengan cukup). Akibat hipotonisitas plasma darah yang
mengalami dilusi, ruptur sel darah merah (hemolisis), pengeluaran kalium
ke dalam plasma (menyebabkan anoksia miokardium yang hebat).
Mekanisme dasar kematian kematian yang berlangsung cepat diakibatkan
oleh serangan jantung yang sering kali berlansung dalam 2-3 menit.
2. Tenggelam di air laut
Pada kasus tenggelam di air laut, cairan yang memasuki paru-paru
memiliki kelarutan sekitar 3% dan bersifat hipertonis. Walaupun terjadi
perpindahan garamgaram, khususnya natrium dan magnesium melalui
membran pulmonum, tetapi tidak terjadi perpindahan cairan yang masif
Kematian timbul umumnya lebih lambat, terjadi sekitar 8-9 menit setelah
tenggelam. Faktor asfiksia memegang peranan lebih penting, dengan
waktu survival yang lebih panjang.
2.7 Tatalaksana2,5,6,8,9,10
Banyak usaha yang dilakukan dalam mengembangkan protokol yang dapat
memperbaharui hasil penatalaksanaan pasien-pasien tenggelam. Namun, belum
ada pengobatan klinis yang lebih unggul dari penanganan supportif yang
konvensional. Belum ada pengobatan klinis yang unggul pada keadaan hipoksia
selain tindakan pencegahan dan resusitasi segera.
Resusitasi awal di rumah sakit ataupun di luar rumah sakit korban
tenggelam harus difokuskan kepada menjamin oksigenasi, ventilasi, sirkulasi yang
adekuat, tekanan gasa darah arteri, keadaan asam basa, serta saluran napas harus
bebas dari bahan muntah dan benda asing yang dapat mengakibatkan abstruksi
dan aspirasi. Penekanan perut tidak boleh dilakukan secara rutin untuk
mengeluarkan cairan di paru apabila tidak terbukti efektif karena bisa

10

meningkatkan risiko regurgitasi, aspirasi, dan kehilangan kontrol akan


memperberat trauma spinal. Kecepatan dan efektivitas dalam melaksanakan
resusitasi ini sangat menentukan kelangsungan hidup neuron-neuron korteks,
khususnya pada pasien-pasien yang sangat kritis. Transfer oksigen yang tidak
efektif akibat fungsi paru yang memburuk bisa mengakibatkan hipoksia yang
lebih berat dan berlanjut karena kerusakan organ yang multipel.
Otak adalah organ yang dituju dalam pengobatan. Pencegahan trauma otak
pada korban dilakukan dengan mengangkat korban dari air secepatnya dan
resusitasi jantung paru dasar harus dilakukan. Ini perlu segera dilakukan karena
hipoksia dengan cepat berkembang dalam beberapa detik ke keadaan apnoe. Oleh
karena itu, apabila tidak mungkin mengangkat korban dari air, secepatnya
ventilasi mulut ke mulut harus dilakukan segera setelah penolong menarik korban.
Kemudian harus segera diberikan oksigen inspirsi yang tinggi. Dukungan oksigen
harus diberikan tanpa memandang keadaan pasien. Apabila korban dicurigai
mengalami trauma leher maka harus dibuat posisi netral dan melindunginya
dengan gips cervical (cervical colar).
Prinsip pertolongan di air :
a.
b.
c.
d.

Raih (dengan atau tanpa alat).


Lempar (alat apung).
Dayung (atau menggunakan perahu mendekati penderita).
Renang (upaya terakhir harus terlatih dan menggunakan alat
apung).

Penanganan Korban :
a. Pindahkan penderita secepat mungkin dari air dengan cara teraman.
b. Bila ada kecurigaan cedera spinal satu penolong mempertahankan
posisi kepala, leher dan tulang punggung dalam satu garis lurus.
Pertimbangkan untuk menggunakan papan spinal dalam air, atau
bila tidak memungkinkan pasanglah sebelum menaikan penderita
ke darat.

10

11

c. Buka jalan nafas penderita, periksa nafas. Bila tidak ada maka
upayakan untuk memberikan nafas awal secepat mungkin dan
berikan bantuan nafas sepanjang perjalanan.
d. Upayakan wajah penderita menghadap ke atas.
e. Sampai di darat atau perahu lakukan penilaian dini dan RJP bila
perlu.
f. Berikan oksigen bila ada.
g. Jagalah kehangatan tubuh penderita, ganti pakaian basah dan
selimuti.
h. Lakukan pemeriksaan fisik, rawat cedera yang ada.
i. Segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Metode Resusitasi Jantung Paru
Dalam menangani korban tenggelam, penolong harus mengutamakan jalan
napas dan oksigenasi buatan. RJP yang harus dilakukan adalah RJP konvensional
(A-B-C) sebanyak 5 siklus (sekitar 2 menit) sebelum mengaktivasi sistem respons
darurat.
I.

Basic Life Support


Adapun bentuk bantuan hidup dasar yang bisa diberikan dibagi menjadi dua
jenis, yaitu untuk korban sadar dan korban tidak sadar
A. Korban Sadar
1. Penolong tidak boleh langsung terjun ke air untuk melakukan
pertolongan, karena korban dalam keadaan panik dan sangat berbahaya
bagi penolong. Sedapat mungkin, penolong untuk selalu memberikan
respon suara kepada korban dan sambil mencari kayu atau tali atau
mungkin juga pelampung dan benda lain yang bisa mengapung
disekitar lokasi kejadian yang bisa digunakan untuk menarik korban ke
tepian atau setidaknya membuat korban bisa bertahan di atas
permukaan air.

11

12

2. Aktifkan sistem penanganan gawat darurat terpadu (SPGDT).


Bersamaan dengan tindakan pertama di atas, penolong harus segera
mengaktifkan SPGDT, untuk memperoleh bantuan atau bisa juga
dengan mengajak orang-orang yang ada disekitar tempat kejadian untuk
memberikan pertolongan.
3. Jika memang ditempat kejadian ada peralatan atau sesuatu yang bisa
menarik korban ketepian dengan korban yang dalam keadaan sadar,
maka segera berikan kepada korban, seperti kayu atau tali, dan
usahakan menarik korban secepat mungkin sebelum terjadi hal yang
lebih tidak diinginkan. Setelah korban sampai ditepian segeralah
lakukan pemeriksaan fisik dengan terus memperhatikan ABC untuk
memeriksa apakah ada cedera atau hal lain yang dapat mengancam
keselamatan jiwa korban dan segera lakukan pertolongan pertama
kemudian kirim ke pusat kesehatan guna mendapat pertolongan lebih
lanjut.
4. Jika tidak ada peralatan atau sesuatu yang bisa menarik korban, maka
penolong bisa segera terjun ke air untuk menghampiri korban. Tapi

12

13

harus diingat, penolong memiliki kemampuan berenang yang baik dan


menghampiri korban dari posisi belakang korban.
5. Jika korban masih dalam keadaan sadar dan bisa ditenangkan, maka
segera tarik (evakuasi) korban dengan cara melingkarkan salah satu
tangan penolong pada tubuh korban melewati kedua ketiak korban atau
bisa juga dengan menarik krah baju korban (tapi ingat, hal ini harus
dilakukan hati-hati karena bisa membuat korban tercekik atau
mengalami gangguan pernafasan) dan segera berenang mencapai tepian.
Barulah lakukan Pertolongan Pertama seperti pada no. 3 di atas.
6. Jika Korban dalam keadaan tidak tenang dan terus berusaha menggapai
atau memegang penolong, maka segera lumpuhkan korban. Hal ini
dilakukan untuk mempermudah evakuasi, kemudian lakukan tindakan
seperti no 5 dan kemudian no. 3 di atas.

B. Korban tidak sadar


Seperti halnya dalam memberikan Pertolongan Pertama untuk
korban tenggelam dalam keadaan sadar, maka untuk korban tidak sadar
sipenolong juga harus memiliki kemampuan dan keahlian

untuk

melakukan evakuasi korban dari dalam air agar baik penolong maupun
korban dapat selamat.
Adapun tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Segera hampiri korban, namun tetap perhatikan keadaan sekitar untuk
menghindari hal yang tidak diingin terhadap diri penolong. Lakukan
evakuasi dengan melingkarkan tangan penolong ditubuh korban
seperti yang dilakukan pada no. 3 untuk korban sadar.
2. Untuk korban yang dijumpai dengan kondisi wajah berada di bawah
permukaan air (tertelungkup), maka segera balikkan badan korban dan

13

14

tahan tubuh korban dengan salah satu tangan penolong. Jika penolong
telah terlatih dan bisa melakukan pemeriksaan nadi dan nafas saat
menemukan korban, maka segera periksa nafas dan nadi korban.
Kalau nafas tidak ada maka segera buka jalan nafas dengan cara
menggerakkan rahang korban dengan tetap menopang tubuh korban
dan berikan nafas buatan dengan cara ini. Dan jika sudah ada nafas
maka segera evakuasi korban ke darat dengan tetap memperhatikan
nafas korban.
3. Ketika penolong dan korban telah sampai ditempat yang aman (di
darat), maka segera lakukan penilaian dan pemeriksaan fisik yang
selalu berpedoman pada ABC. Berikan respon kepada korban untuk
menyadarkannya.
4. Ketika respon ada dan korban mulai sadar, maka segera lakukan
pemeriksaan fisik lainnya untuk mengetahui apakah ada cedera lain
yang dapat membahayakan nyawa korban. Jika tidak ada cedera dan
korban kemudian sadar, berikan pertolongan sesuai dengan yang
diperlukan korban, atau bisa juga dengan mengevakuasi korban ke
fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan secara medis.
5. Jika tidak ada respon dan tidak ada nafas, segera buka jalan nafas
dengan cara ini, periksa jalan nafas dengan cara look, listen, feel
selama 3-5 detik. Jika tidak ada nafas maka segera berikan bantuan
pernafasan (bantuan hidup dasar) dengan cara ini lalu periksa nadi
karotis. Apabila nadi ada, maka berikan bantuan nafas buatan sesuai
dengan kelompok umur korban hingga adanya nafas spontan dari
korban (biasanya nafas spontan ini disertai dengan keluarnya air yang
mungkin menyumbat saluran pernafasan korban ketika tenggelam),
lalu posisikan korban dengan posisi pemulihan. Terus awasi jalan
nafas korban sambil penolong berupaya untuk menyadarkan seperti

14

15

tindakan no. 4 di atas atau mencari bantuan lain untuk segera


mengevakuasi korban.
6. Jika korban bernapas tetapi tidak sadar, mereka harus dimiringkan
untuk mencegah aspirasi jika suatu saat muntah tiba-tiba terjadi.
7. Ketika tindakan no.5 tidak berhasil (tidak ada respon, tidak nafas dan
tidak ada nadi), maka segera lakukan Resusitasi Jantung Paru.
II.Advanced Life Support
D (Drugs) : pemberian obat-obatan.
Pemberian obat-obatan ada yang bersifat penting seperti adrenalin,
natrium bicarbonat, sulfas atropin dan berguna seperti k

tikosteroid. Obat-

obatan ini berguna untuk mengatasi keadaan darurat dan mencegah komplikasi
lebih lanjut. Selain obat, terapi cairan juga merupakan langkah penting dalam
penanganan korban tenggelam. Pemberian cairan pada pasien yang tenggelam
di air asin tentu berbeda dengan yang tenggelam di air tawar, karena perbedaan
dari sifat masing-masing jenis air tersebut. Air laut mempunyai sifat hipertonik
sehingga

menarik

cairan

dari

ekstrasel

ke

intrasel,

dan

terjadilah

hemokonsentrasi, maka dapat diberikan jenis cairan koloid. Sedangkan yang


terjadi pada air tawar adalah sebaliknya yaitu hemodilusi, sehingga harus diberi
cairan yang bersifat hipotonis seperti NaCl 0,45%
E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis untuk mengetahui adanya fibrilasi
ventrikel dan monitoring
F (Fibrillation Treatment) : berupa DC Shock untuk menghilangkan fibrilasi

15

16

16

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Piette, M. H. A., and De Letter, E. A. Drowning: Still a difficult autopsy
diagnosis. Journal Forensic Science International. 2005.
2. WHO. Fact about Injuries: Drowning. 2005
3. Di Maio D and Di Maio V. Drowning In: Forensic Pathology. New York:
CRC Press; 2004. P 356-365
4. Hoediyanto dan Hariadi A. 2010. Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Surabaya: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal FK UNAIR.
5. Harrisons. Principles of Internal Medicine 18th Edition. 2010. U.S.: The
McGraw-Hill Companies.
6. Papadakis, M. A dan S. J. McPhee. 2013. Current Medical Diagnosis and
Treatment 2013. U.S.: The McGraw-Hill Companies.
7. Quan, L. dan P. Cumming. Characteristic of Drowning by Different Age
Groups. Journal Injury Prevention. 2003.
8. Branche, C. dan Steward M. S. Lifeguard Efectiveness: A Report of the
Working Group. Atlanta: Center for Disease Control and Prevention,
National Center for Injury Prevention and Control. 2001.
9. Wedro, B. dan Melissa C. S. 2013. Drowning. Diakses dari:
http://www.medicinet.com [11 Desember 2013]
10. Heller,
L.
J.
2013.
Drowning
Rescue.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/medlineplus.html

Diakses
[11

dari:

Desember

2013]

17