Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Klien. Y DENGAN


KASUS POST SECTIO CAESARE (S.C) HARI KE-2
DI RUANG SAKINAH OBGYN RS SITI KHODIJAH
SEPANJANG - SIDOARJO

Oleh :
Halimatus Sadiah

22024

AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

2003 2004

LEMBAR PENGESAHAN

Kasus ini kami ambil dari ruang UGD di Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya
pada saat mengikuti orientasi praktek keperawatan Akademi Keperawatan Universitas
Muhamadiyah Surabaya mulai tanggal 2 14 Agustus 2004.

Mahasiswa Praktek

Rr. Mia Rahayu M.


220

Mengetahui,
Kepala Ruangan UGD
RS Al-Irsyad Surabaya

Pembimbing Ruangan UGD


RS Al-Irsyad Surabaya

Sri Wahyuni, Amd. Kep

M. Taufiq

Pembimbing Pendidikan
Akper Unmuh Surabaya

Mudzakir, S.Kep

A. KONSEP DASAR
I.

Definisi

Sectio Caesarea adalah merupakan tindakan untuk melahirkan bayi


dengan berat badan diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding
abdomen atau uterus yang masih utuh (Syaifudin, G.B, 2000).

Sectio Caesarea adalah suatu tindakan buatan dimana janin dilahirkan


melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Ilmu Bedah
Kebidanan, 2000).

II.

Etiologi
Tindakan sectio caesarea dilakukan karena adanya suatu indikasi
seperti:
-

Ibu terjadi disproporsi kepala panggul / CPD / FPD

Disfungsi Uterus

Disfungsi jaringan lunak

Placenta Prearea (plasenta yang letaknya abnormal)

Bayi :
-

Terjadi gawat janin

Letak lintang

Janin besar (Syaifudin, G.B, 2000).

III. Jenis-jenis Sectio Caesarea


1. Abdomen (Sectio Caesare Abdominalis)
a. Seksio Caesarea Transperitonealis
-

Seksio Caesarea caesarea klasik atau korporal dengan insisi


memanjang pada korpus uteri.

Seksio Caesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan


insisi pada segmen bawah rahim.

b. Seksio Caesarea ekstraperitonealis


Yaitu tanpa membuka perituneum parietalis dengan demikian tidak
membuka kavum abdominal vagina (Seksio Caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, Seksio Caesarea dapat dilakukan
sebagai berikut :

Sayatan memanjang (longitudinal) menurut kronig

Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr

Sayatan huruf T (T Incision)

2. Seksio Caesarea klasik (korporal)


Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kirakira sepanjang 10 cm.
Kelebihan :
-

Mengeluarkan janin lebih cepat

Tidak mengakibatkan komplikasi kandungan kemih tertarik.

Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan :
-

Infeksi mudah menyebar secara indra abdominal karena tidak ada


neperito nealisasi yang baik

Untuk persallinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri


spontan.

3. Seksio Caesarea ismika (profunda)


Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen
bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
-

Penjahitan luka lebih mudah.

Penutupan luka dengan reperitoneclisasi yang baik

Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan


penyebaran isi uterus ke rongga periteneum.

Perdarahan kurang

Dibandingkan dnegan cara klasik kemungkinan ruptura uteru


spontan kurang / lebih kecil.

Kekurangan :
-

Luka dapat melebar ke kiri, kanan dan bawah sehingga dapat


menyebabkan

arteri,

uterina

putus

sehingga

mengakibatkan

perdarahan yang banyak.


IV. Komplikasi
1. Infeksi puerperal
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa
hari dalam masa nifas : atau bersifat kberat seperti peritonsitis sepsis dan
sebagainya.
2. Perdarahan

Perdarahan banyak bisa timbul waktu pembedahan, jika cabang-cabang


arteri ikut terbuka atau karena etonia uteri dan perdarahan pada plasenta
bed.
3. Luka kandung kencing embolisme paru-paru dan kelainan kandung
kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.
4. Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya bisa terjadi ruptura uteri, kemungkinan peristiwa ini lebih
banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik.
ii. ASUHAN KEPERAWATAN
Merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah, dalam
upaya memperbaiki atau memelihara klien sampai ke tahap optimal melalui suatu
pendekatan yang sistematis untuk mengenal klien dan untuk memenuhi
kebutuhannya.
I.

Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1. Identitas klien
Merupakan langkah awal proses asuhan keperawatan yang meliputi
nama, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, jenis kelamin, tanggal
atau jam MRS dan diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Klien mengeluh ketidaknyamanan / nyeri dari berbagai sumber,
misalnya trauma bedah atau insisi, nyeri penyerta, distensi kandung
kemih, abdomen, efek-efek anastesi, mulut kering.
3. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan lalu


Riwayat kesehatan lalu perlu ditanyakan mengenai kondisi
setelah melahirkan, misalnya : perdarahan, hipertensi, preferm,
partus dan tindakan kelainan letak, infeksi uterus, infeksi saluran
kencing, post s.c dll. Jumlah kehamilan dan persalinan serta saat
nifas perlu dikaji pula mengenai kondisi ibu dan bayinya serta
jarak kelahirannya, tempat melahirkan, cara melahirkan.

Riwayat kesehatan sekarang


Riwayat kesehatan sekarang yang perlu dikaji adalah kehilangan
darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 800 cc,
integritas

ego

yaitu

mengenai

labilitas

emosional

dari

kegembilaan sapai ketakutan, marah atau menarik diri, eliminasi

alvi, perlu dikaji adanya bising usus, terdengar ada / samar atau
tidak ada.
Juga perlu dikaji mengenai nyeri atau ketidak nymanan dari
sumber, misal : trauma bedah / insisi nyeri penyerta. Pada lokasi
pembedahan perlu dikaji apakah ada sedikit darah atau kering
atau banyak perdarahan / basah dan bagaimana respon nyeri
tekan serta adakah eritema oedema pada sekitar insisi.

Riwayat kesehatan keluarga


Riwayat kesehatan keluarga yang perlu ditanyakan adalah
penyakit-penyakit yang sifatnya menurun (DNA, jantung) dan
penyakit menahun (Hipertensi, ginjal) serta penyakit menular
(TBC, Hepatitis).

Riwayat psikososial
Perlu dikaji tentang kelahiran yang sekarang ini termasuk
kelahiran yang diharapkan atau tidak, jenis kelamin anak yang
dilahirkan sesuai dengan yang diinginkan atau tidak juga
mengenai dukungan dari suami atau keluarganya ada atau tidak.

4. Pola-pola fungsi kesehatan


a) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Dalam mengkaji pola persepsi dan tatalasana hidup sehat perlu
menggali bagaimana caranya agar klien dapat mengungkapkan
argumentasi mengenai apa yang ada dalam diri klien, misal :
bagaimana anggapan klien tentang dikaji bagaimana cara
menangani atau merencanakan agar hidup sehat misal : mandi
berapa kali, sikat gigi berapa kali.
b) Pola nutrisi dan metabolisme
Pola nutrisi yang perlu dikaji sesuai dengan kasus sectio sesaria
adalah tentang mutu dari diet yang diberikan meliputi kecukupan
kalori, kecukupan protein cairan serta buah-buahan. Metabolisme
perlu dikaji produksi kelenjar keringat, suhu.
c) Pola eliminasi
Pola eliminasi yang perlu dikaji adalah pola eliminasi uri dan
pola eliminasi diri.
d) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori perlu dikaji megenai lemas dan panca indra yaitu
penglihatan, penghidu, pengecap, pendengaran, perasa adalah

kelainan. Sedangkan kognitif perlu dikaji daya pikir yang


berhubungan dengan kondisi klien.
e) Pola hubungan dan peran
Pola hubungan dan peran perlu ditanyakan bagaimana hubungan
klien dengan keluarga, tetangga, suami dan peran perlu
ditanyakan perannya dirumah, apakah sebagai ibu RT atau
sebagai kepala rumah tangga.
f) Pola persepsi diri
Pola persepsi diri perlu ditanyakan tentang gambaran diri, ideal
diri.
g) Pola tata nilai dan kepercayaan
Yang perlu dikaji pola ini adalah mengenai agama, rutinitas,
pelaksanaan ibdah, percaya pada kitab apa
h) Pola istirahat tidur
Dalam pola istirahat tidur pada post s.c hari I perlu dikaji tentang
pemenuhan terhadap pola istirahatnya, karena klien dengan kasus
ini memerlukan istirahat yang cukup sedikitnya 8 jam, dengan
posisi klien tidur terlentang.
i) Pola seksualitas dan reproduksi
Yang perlu dikaji pada seksualitas adalah kondisi uterus
kontraksi, uterus kuat atau lemah, fundus uteri sesuai atau tidak
dengan hari ke berapa post partum dan juga pada pengeluaran
lochea perlu dikaji karakteristik lochea : berbau busuk atau tidak,
bergumpal-gumpal atau tidak, banyak atau sedikit.
j) Pola aktivitas
Pada post S.C maka perlu dikaji pada pola aktivitas yaitu
kemampuan klien dalam melaksanakan mobilisasi terhadap yang
disesuaikan dengan kondisi.
k) Riwayat keluarga berencana
Perlu dikaji pada klien yang mengikuti atau telah mengikuti KB
antara lain : jenis kontra sepsi yang digunakan, efek samping,
lama pemakaian dan alasan pemberhentian serta rencana
penggunaan kontrasepsi lain.
5. Pemeriksaan
1) Keadaan umum

Yang perlu diperiksa adalah postur tubuh, sikap tubuh, ekspresi


wajah dan kesadaran

2) Tanda vital
Tanda vital yang perlu diukur adalah temperatur, tekanan darah,
denyut nadi temperatur dan pernafasan untuk tanda-tanda vital
perlu diketahui batas-batas normal dan tidaknya. Temperatur
normal adalah 36.50C jika lebih dari 37,oC berarti kemungkinan
infeksi. Untuk tekanan darah normal adalah 110/80 140/90
mmHg dan nadi normal adalah 50-100 /mnt pernafasan normal
adalah 20-24 x/menit.
3) Pengukuran BB dan TB dilakukan untuk mengetahui status gizi
klienn sehubungan dengan proses persalinannya yang tergolong
tidak normal.
4) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan meliputi : inspeksi, palpasi,
auskultasi dan perkusi pemeriksaan fisik meliputi
(1)

Kepala : simetris atau tidak


Rambut : jenis, warna, lebat / jarang, rontok / tidak, ada
ketombe atau tidak, bersih atau kotor

(2)

Muka (mata) : konjungtiva pucat / tidak sklera leterus /


tidak

(3)

Telinga : ada kelainan / tidak termasuk pendengaran normal


/ tidak.

(4)

Hidung : ada kelainan / tidak

(5)

Mulut : bibir pucat / tidak, rongga mulut ada kelainan /


tidak, mulut berbau atau tidak.

(6)

Gigi : berlubang / tidak, gigi palsu ada / tidak

(7)

Leher : ada pembesaran kelenjar tyroid / tidak

(8)

Dada : simetris / tidak

(9)

Payudara : pembesaran simetris / tidak, putting susu bersih/


tidak, menonjol atau tidak, pengeluaran lancar / tidak, gas
nyeri / tidak.

(10) Abdomen : ada bekas operasi / tidak, konsistensi fundus


uteri sesuai / tidak, kontraksi uterus, ada nyeri tekan / tidak,
luka operasi kering / basah.
(11) Vulva : ada kelainan / tidak, bersih / kotor, pengeluaran
lochea sesuai / tidak, bau / tidak.
(12) Perineum : Ada bekas episiotomi, jahitan / luka menutup
baik atau tidak, ada perdarahan / tidak.

(13) Ekstrimitas atas dan bawah : ada varices / tidak, ada


oedema / tidak, simetris atau tidak.
Pemeriksaan palpasi meliputi
(1)

Kepala : ada benjolan / tidak

(2)

Kelopak mata : ada benjolan / tidak

(3)

Leher : ada pembesaran kelenjar tyroid / tidak, pembesaran


kelenjar getah beniing / tidak.

(4)

Abdomen : ada bekas operasi / tidak, tinggi, fundus uteri


sesuai / tidak, luka jahitan keluar pus / tidak.

Pemeriksaan auskultasi meliputi :


(1)

Dada : ada wheezing atau tidak, ada ronchi / tidak

(2)

Ekstrimitas : denyut nadi pada arteri radialis

(3)

Abdomen : bising usus meningkat / tidak

Pemeriksaan perkusi
(1)

Extrimitas bawah : reflek positif / ringan

Diagnosa Keperawatan

Nyeri berhubungan dengan luka operasi

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilisasi

Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan


tentang perawatan luka operasi (personal hygiene).

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


tentang perawatan luka operasi.
-

Intervensi
Diagnosa I : Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan luka
operasi
Tujuan :
-

Nyeri bisa berkurang sampai dengan hilang

Kriteria hasil :
-

Nyeri berkurang

Skala nyeri menurun (2-3)

Klien mampu beradaptasi terhadap nyeri

Klien dapat melaksanakan tehnik relaksasi

Rencana tindakan :
a. Monitor / observasi karakteristik nyeri, catat lokasi dan intensitas
(skala nyeri 0 10).
R/ membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan
keefektifan program.
b. Ajarkan untuk tehnik relaksasi
R/ Untuk meregangkan otot sehingga menghambat impuls yang
meneruskan rasa nyeri ke syaraf ganglia
c. Observasi vital sign sebelum memberikan obat analgetik.
R/ mengantisipasi komplikasi pemberian analgetik.
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi obat.
R/ Untuk mengurangi rasa nyeri / sakit atau mempercepat
kesembuhan.
e. Berikan posisi yang memungkinkan pasien nyaman
R/ Posisi yang sesuai (nyaman) membantu dalam menghilangkan /
menurunkan ketegangan pada daerah operasi.

Diagnosa II : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobiliasai


Tujuan :
-

Klien dapat beraktivitas kembali selama 2 x 24 jam

Kriteria hasil :
-

Pasien dapat melakukan aktivitas sendiri (tanpa bantuan)

Pasien menunjukkan tehnik / perilaku yang memampukan kembali


melakukan aktivitas.

Rencana tindakan :
a. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas, catat peningkatan
kelemahan atau kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan
setelah aktivitas.
R/ Menetapkan kemampuan kebutuhan pasien dan memudahkan
pilihan intervensi
b. Berikan lingkungan tenang dan yaman
R/ menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan
istirahat.
c. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan
rentang gerak sendi positif / aktif.

R/ Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat


terjadi karena keterbatasan aktivitas yang menggangu periode
istirahat.
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi obat.
R/ Untuk mempercepat kesembuhan
-

Implementasi
Implementasi yang dimaksud adalah pengolahan dan perwujudan

dari rencana perawatan meliputi tindakan perawatan yang direncanakan oleh


perawat, melaksanakan advis dokter dan ketentuan Rumah Sakit (Depkes
RI, 1990 : 23)

Evaluasi
Evaluasi juga merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan
yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang
kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan
cara melibatkan pasien dan sesama tenaga kesehatan (Nasrul Effendi, 1995).

DAFTAR PUSTAKA
-

Mansjoer, Arief, dkk. 2001, Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga, FKUI
Jakarta.

Lynda Juall Carpenito, 2000. Nutrisi Diagnosis,EGC Jakarta.

DSOG, Prof. Dr, Hanifa Wiknjosastro. Ilmu Bedah Kebidanan : FKUI Jakarta.