Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Penyakit Demam dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD)

adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang merupakan
vector borne disease atau ditularkan melalui vektor, yaitu nyamuk aedes aegepty.
Penyakit ini dapat menyerang semua golongan umur dan menyebabkan kematian
terutama pada anak-anak. Namun dalam beberapa dekade terakhir ini terlihat
adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita DBD pada orang dewasa.
Gejalanya antara lain demam tinggi mendadak disertai ataupun tidak disertai
perdarahan, dan kebocoran plasma yang beresiko menimbulkan syok.
WHO memperkirakan tiap tahunnya 500.000 pasien DBD membutuhkan
perawatan di rumah sakit dimana sebagian besar pasiennya anak-anak. Tanpa
perawatan yang tepat case fatality rate DBD dapat saja melampaui 20 %.
Tingginya angka kasus maupun kematian yang disebabkan penyakit DD dan DBD
tersebut dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti keadaan
lingkungan, ketersediaan pelayanan kesehatan dan faktor perilaku penduduk yang
bertempat tinggal di daerah tersebut 1
Beberapa peneliti juga menyebutkan faktor-faktor lain yang terlibat
sehubungan masih tingginya angka kejadian dan kematian akibat DBD. Pertama ,
faktor virus dengue yang akhir-akhir ini potensial mengalami mutasi genetik
kearah yang lebih virulen yang menyebabkan tingkat keseriusan penderita DBD
dewasa semakin berat. Kedua, vektor nyamuk aedes aegepty potensial mengalami
perubahan siklus hidup yang cenderung menjadi lebih ramah lingkungan. Ketiga,
perubahan dalam sistem kekebalan alamiah dan kekebalan didapat dalam
memberikan respon terhadap virus dengue. 1
. Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember, tercatat penderita
DBD di 34 propinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang dan 641 diantaranya
meninggal dunia Sedangkan sepanjang Januari 2016 direktorat pengendalian

penyakit tular vektor dan zoonosis kementerian kesehatan mencatat 3298 kasus
DBD dengan jumlah kematian sebanyak 50 kasus di Indonesia. Di kabupaten
Jember pada bulan Januari 2016 tercatat 61 pasien menderita DBD dan satu
meninggal dunia.Pada periode Januari sampai dengan Desember 2015 ditemukan
30 kasus demam dengue dan 70 kasus demam Demam Berdarah Dengue di
wilayah kerja Puskesmas Tanggul.
Salah satu cara pencegahan penyakit DBD adalah Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN). Keberhasilan kegiatan PSN tersebut dapat diukur dengan Angka
Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95 % diharapkan
penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu

permasalahan yaitu berapakah presentase Angka Bebas Jentik (ABJ) di RW7 RT


1, 2 dan 3 Dusun Krajan, Desa Tanggul Kulon Kecamatan Tanggul
1.3

Tujuan
Mengetahui persentase Angka Bebas Jentik (ABJ) di RW 7 RT 1,

2dan 3, dusun Krajan, Desa Tanggul Kulon Kecamatan Tanggul


1.4

Manfaat Penelitian
a. Sebagai sumber informasi untuk mengetahui Angka Bebas Jentik di RW 7
RT 1,2 dan 3 Dusun Krajan Desa Tanggul Kulon Kecamatan Tanggul
b. Sebagai bahan masukan dalam upaya pemberantasan penyakit Demam
Berdarah Dengue

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
2.1.1 Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah demam 2 - 7 hari disertai dengan
manifestasi perdarahan, Jumlah trombosit < 100.000 /mm3, adanya tanda tanda
kebocoran plasma (peningkatan hematokrit 20 % dari nilai normal, dan/atau
efusi pleura, dan/atau ascites, dan/atau hypoproteinemia/ albuminemia) dan atau
hasil pemeriksaan serologis pada penderita tersangka DBD menunjukkan hasil
positif atau terjadi peninggian (positif) IgG saja atau IgM dan IgG pada
pemeriksaan dengue rapid test (diagnosis laboratoris).4
Sindrom Syok Dengue (SSD) ialah kasus DBD yang masuk dalam derajat
III dan IV dimana terjadi kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi
yang cepat dan lemah, menyempitnya tekanan nadi ( 20 mmHg) atau hipotensi
yang ditandai dengan kulit dingin dan lembab serta pasien menjadi gelisah sampai
terjadi syok berat (tidak terabanya denyut nadi maupun tekanan darah).4
2.1.2

Etiologi
Penyebab penyakit Dengue adalah Arthrophod borne virus, family

Flaviviridae, Genus flavivirus. Virus berukuran kecil (50 nm) ini memiliki single
standard RNA. Virion-nya terdiri dari nucleocapsid dengan bentuk kubus simetris
dan terbungkus dalam amplop lipoprotein.Genome (rangkaian kromosom) virus
Dengue berukuran panjang sekitar 11.000 dan terbentuk dari tiga gen protein
struktural yaitu nucleocapsid atau protein core (C), membrane-associated protein
(M) dan suatu protein envelope (E) serta gen protein non struktural (NS). Terdapat
empat serotipe virus yang disebut DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Ke empat
serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian

di Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD


berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh Dengue2, Dengue-1 dan Dengue -4. Terinfeksinya seseorang dengan salah satu serotipe
tersebut diatas, akan menyebabkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe
virus yang bersangkutan. Meskipun keempat serotipe virus tersebut mempunyai
daya antigenis yang sama namun mereka berbeda dalam menimbulkan proteksi
silang meski baru beberapa bulan terjadi infeksi dengan salah satu dari mereka.5

Gambar 1. Virus Dengue


2.1.3

Penularan dan Inkubasi


Vektor DBD Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan

nyamuk Aedes (Ae). Ae aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama,
namun spesies lain seperti Ae.albopictus, Ae.polynesiensis dan Ae. Niveus Juga
dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Ae.aegypti semuanya mempunyai
daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka
merupakan host yang sangat baik untuk virus dengue, biasanya mereka
merupakan vektor epidemi yang kurang efisien dibanding Ae.aegypti Nyamuk
penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di
tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat dia
menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia)
yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi
infektif 8-12 hari sesudah mengisap darah penderita yang sedang viremia (periode

inkubasi ekstrinsik) dan tetap infektif selama hidupnya Setelah melalui periode
inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi
dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan
mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah
masa inkubasi di tubuh manusia selama 3 - 4 hari (rata-rata selama 4-6 hari)
timbul gejala awal penyakit secara mendadak, yang ditandai demam, pusing,
myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala
lainnya.6

Gambar 2. Nyamuk Aedes aegepty


Viremia biasanya muncul pada saat atau sebelum gejala awal penyakit
tampak dan berlangsung selama kurang lebih lima hari. Saat-saat tersebut
penderita dalam masa sangat infektif untuk vektor nyamuk yang berperan dalam
siklus penularan, jika penderita tidak terlindung terhadap kemungkinan digigit
nyamuk. Hal tersebut merupakan bukti pola penularan virus secara vertikal dari
nyamuk-nyamuk betina yang terinfeksi ke generasi berikutnya.
Infeksi Dengue mempunyai masa inkubasi antara 2 sampai 14 hari,
biasanya 4-7 hari. Virus dengue menginfeksi manusia dan beberapa spesies dari
primate rendah. Tubuh manusia adalah reservoir utama bagi virus tersebut,
meskipun studi yang dilakukan di Malaysia dan Afrika menunjukkan bahwa
monyet dapat terinfeksi oleh virus dengue sehingga dapat berfungsi sebagai host
reservoir.4
2.1.4 Patogenesis
Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah teori secondary
heterologous infection dan immune enhancement. Hipotesis ini menyatakan bahwa
5

pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue
yang heterolog mempunyai resiko yang lebih besar untuk menderita DBD.
Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang
akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang
kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari sel leukosit terutama makrofag. Oleh
karena antibodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga
akan bebas melakukan

replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga

mengenai antibody dependent enhancement (ADE) , suatu proses yang akan


meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuclear.
Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif
yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah,
sehingga mengakibatkan terjadinya hipovolemia dan syok.7

Gambar 3. Patogenesis Demam Berdarah Dengue


Patogenesis terjadinya syok berdasarkan teori secondary heterologous
infection dapat dilihat pada gambar 3. Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe
virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respon antibodi yang akan
terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi
limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibodi igG anti dengue. Disamping itu,
replikasi virus dengue terjadi juga di dalam limfosit yang bertransformasi dengan

akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan
terbentuknya

virus

kompleks

antigen-antibodi

yang

selanjutnyaakan

mengakibatkan aktivasi system komplemen. Aktivasi tersebut akan menyebabkan


peningkatan permeabilitas dindinng pembuluh darah dan merembesnya plasma
dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular.
Hipotesis kedua menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus lain
dapat mengalami perubahan genetic akibat tekanan sewaktu virus mengadakan
replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk Ekspresi fenotipik
dari perubahan genetik dalam genom virus dapat menyebabkan peningkatan
replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi dan potensi untuk menimbulkan
wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk
menimbulkan wabah yang besar.7
2.1.5 Gejala, Tanda dan Diagnosis
Pada Demam berdarah Dengue (DBD) memiliki beberapa gejala yang
hampir sama dengan demam dengue. Adanya tanda perembesan plasma
membedakan antara kedua penyakit tersebut yang dapat diketahui secara mudah
dengan adanya peningkatan hematokrit. Gejala atau tanda utama DBD antara lain
demam tinggi, adanya tanda perdarahan, hepatomegali, kegagalan sirkulasi,
trombositopenia dan peningkatan hematokrit.
Demam tinggi yang mendadak, terus menerus, berlangsung 2-7 hari.
Akhir fase demam merupakan fase kritis pada Demam Berdarah Dengue.
Peningkatan kewaspadaan pada saat fase demam cenderung menurun karena dapat
merupakan awal kejadian syok. Hari ketiga sampai kelima adalah fase kritis yang
harus selalu dicermati. 7
Perdarahan pada Demam Berdarah Dengue dapat disebabkan karena
vaskulopati, trombositopenia, gangguan fungsi trombosit serta koagulasi
intravascular menyeluruh. Jenis perdarahan yang terbanyak adalah perdarahan
kulit seperti uji tourniquet atau uji bending positif. Hasil uji bending dinyatakan
positif jika terdapat sepuluh atau lebih petekie di lengan bawah bagian depan yang
sudah diberi tanda lingkaran seluas 1 inci persegi. Tanda perdarahan lain yaitu
epistaksis, perdarahan gusi, melena ataupun hematemesis.
Pembesaran hati atau hepatomegali pada umumnya dapat ditemukan pada
permulaan penyakit. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya
7

penyakit, namun nyeri tekan pada daerah tepi hati berhubungan dengan adanya
perdarahan. Pada sebagian kecil kasus dapat dijumpai ikterus.
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang
setelah demam turun. Demam turun disertai dengan keluarnya keringat, perubahan
pada denyut nadi dan tekanan darah, ekstremitas teraba dingin. Perubahan ini
memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi sebagai akibat dari perembesan plasma
yang bersifat sementara. Pasien biasanya sembuh spontan setelah pemberian
cairan dan elektrolit. Pada kasus berat, keadaan umum pasien mendadak menjadi
buruk setelah beberapa hari demam.
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis
dapat digunakan untuk mendiagnosis demam dengue dan demam berdarah
dengue. Pemeriksaan laboratorium yang sering digunakan yaitu pemeriksaan
darah lengkap antara lain hb, leukosit, trombosit dan hematokrit.
Trombositopenia dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu
ditemukan pada DBD. Penurunan jumlah trombosit < 100.000 biasa ditemukan
pada hari ke-3 sampai ke-8 sakit, sering terjadi sebelum atau bersamaan dengan
perubahan nilai hematokrit. Hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran
plasma dinilai dari peningkatan hematokrit. Penurunan nilai trombosit yang
disertai atau segera disusul dengan peningkatan nilai hematokritsangat unik untuk
DBD. Kedua hal tersebut biasanya terjadi pada saat suhu turun atau sebelum syok
terjadi. Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh pemberian
cairan atau perdarahan. Leukopenia maupun leukositosis, limfositosis relatif
dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat sebelum suhu turun ataupun
syok. Hipoproteinemi akibat kebocoran plasma biasa ditemukan. Asidosis
metabolik dan peningkatan BUN ditemukan pada syok berat.7
Sindrom Syok Dengue (SSD) biasa terjadi pada saat atau segera setelah
suhu turun, antara hari ke-3 sampai hari sakit ke-7. Pasien mula-mula terlihat
letargi atau gelisah kemudian jatuh ke dalam syok yang ditandai dengan kulit
dingin lembab, sianosis sekitar mulut, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi < 20
mgHg dan hipotensi. Kebanyakan pasien masih tetap sadar sekalipun sudah
mendekati stadium akhir. Dengan diagnosis dini dan penggantian cairan yang
adekuat syok biasanya teratasi dengan segera. Namun bila terlambat diketahui
atau pengobatan tidak adekuat, syok dapat menjadi syok berat dengan berbagai
penyulitnyaseperti asidosis metabolik, perdarahan hebat saluran cerna, sehingga
8

memperburuk prognosis. Pada masa penyembuhan yang biasanya terjadi dalam 23 hari kadang ditemukan sinus bradikardia dan timbul ruam pada kulit. Tanda
prognosis baik apabila pengeluaran urin cukup dan kembalinya nafsu makan.
Beberapa penyulit SSD antara lain infeksi, adanya ensefalopati dan gagal hati
maupun terlalu banyak cairan atau over hidrasi.
2.1.6 Tatalaksana
Patofisiologi utama DBD adalah kebocoran plasma karena adanya
peningkatan permeabilitas kapiler. Maka kunci tatalaksana DBD terletak pada
deteksi secara dini fase kritis yaitu saat suhu turun (the time of defervescence)
yang merupakan fase awal terjadinya kegagalan sirkulasi, dengan melakukan
observasi klinis disertai pemantauan kebocoran plasma dan gangguan hemostasis.
Prognosis DBD terletak pada pengenalan tanda-tanda bahaya secara awal dan
pemberian cairan Larutan garam isotonik atau kristaloid sebagai cairan awal
pengganti volume plasma sesuai dengan berat ringan penyakit. Perhatian khusus
pada kasus dengan peningkatan hematokrit yang terus menerus dan penurunan
jumlah trombosit yang cepat. Secara umum pasien DBD dapat dirawat di
puskesmas perawatan atau rumah sakit.8
Tatalaksana DBD fase demam tidak berbeda dengan tatalaksana DD,
bersifat simtomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah
dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena tidak mau minum,
muntah atau nyeri perut yang berlebihan, maka cairan intravena rumatan perlu
diberikan. Antipiretik kadang-kadang diperlukan, tetapi perlu diperhatikan bahwa
antipiretik tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD.
Periode kritis adalah waktu transisi, yaitu saat suhu turun pada umumnya
hari ke 3-5 fase demam. Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok yang
mungkin terjadi. Pemeriksaan kadar hematokrit berkala merupakan pemeriksaan
laboratorium yang terbaik untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu
menggambarkan derajat kebocoran plasma dan pedoman kebutuhan cairan
intravena. Hemokonsentrasi pada umumnya terjadi sebelum dijumpai perubahan
tekanan darah dan tekanan nadi. Hematokrit harus diperiksa minimal satu kali
sejak hari sakit ketiga sampai suhu normal kembali. Bila sarana pemeriksaan
hematokrit tidak tersedia, pemeriksaan hemoglobin dapat dipergunakan sebagai
alternatif walaupun tidak terlalu sensitif. 7
9

Dasar patogenesis DBD adalah perembesan plasma, yang terjadi pada fase
penurunan suhu (fase afebris, fase krisis, fase syok) maka dasar pengobatannya
adalah penggantian volume plasma yang hilang. Walaupun demikian, penggantian
cairan harus diberikan dengan bijaksana dan berhati-hati. Kebutuhan cairan awal
dihitung untuk 2-3 jam pertama, sedangkan pada kasus syok mungkin lebih sering
(setiap 30-60 menit). Tetesan berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda
vital, kadar hematokrit, dan jumlah volume urin. Secara umum volume yang
dibutuhkan adalah jumlah cairan rumatan ditambah 5-8 %. Pada saat pasien
datang, berikan cairan kristaloid/ NaCI 0,9% atau dekstrosa 5% dalam ringer
laktat/NaCI 0,9%, 6-7 ml/kgBB/jam. Monitor tanda vital, diuresis setiap jam dan
hematokrit serta trombosit setiap 6 jam. Selanjutnya evaluasi 12-24 jam. Apabila
selama observasi keadaan umum membaik yaitu anak nampak tenang, tekanan
nadi kuat, tekanan darah stabil, dieresis cukup, dan kadar Ht cenderung turun
minimal dalam 2 kali pemeriksaan berturut-turut, maka tetesan dikurangi menjadi
5 ml/kgBB/jam. Apabila dalam observasi selanjutnya tanda vital tetap stabil,
tetesan dikurangi menjadi 3 ml/kgBB/jam dan akhirnya cairan dihentikan setelah
24-48 jam.8
Pada fase penyembuhan, ruam konvalesen akan muncul pada daerah
esktremitas. Perembesan plasma berhenti ketika memasuki fase penyembuhan,
saat terjadi reabsorbsi cairan ekstravaskular kembali ke dalam intravaskuler.
Apabila pada saat itu cairan tidak dikurangi, akan menyebabkan edema palpebra,
edema paru dan distres pernafasan
Syok merupakan keadaan kegawatan. Cairan pengganti adalah pengobatan
yang utama, berguna untuk memperbaiki kekurangan volume plasma. Pasien anak
cepat mengalami syok dan sembuh kembali bila diobati segera dalam 48 jam.
Pasien harus dirawat dan segera diobati bila dijumpai tanda-tanda syok yaitu
gelisah, letargi/lemah, ekstrimitas dingin, bibir sianosis, oliguri, dan nadi lemah,
tekanan nadi menyempit ( 20 mmHg) atau hipotensi, dan peningkatan mendadak
dari kadar hematokrit atau kadar hematokrit meningkat terus menerus walaupun
telah diberi cairan intravena. Pada penderita SSD dengan tensi tak terukur dan
tekanan nadi 20 mm Hg segera berikan cairan kristaloid sebanyak 20 ml/kg BB
selama 30 menit, bila syok teratasi turunkan menjadi 10 ml/kgBB/jam.8

10

2.2 Surveilans dan Pengendalian Vektor DBD


2.2.1

Surveilans kasus DBD


Menurut WHO surveillans adalah proses pengumpulan, pengolahan,

analisis, dan interpretasi data, serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara


program, instansi pihak terkait secara sistematis dan terus menerus serta
penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil
tindakan.

Surveilans

Demam

Berdarah

Dengue

(DBD)

adalah

proses

pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data, serta penyebarluasan


informasi ke penyelenggara program, instansi dan pihak terkait secara sistematis
dan terus menerus tentang situasi DBD dan kondisi yang mempengaruhi
terjadinya peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat dilakukan
tindakan pengendalian secara efisien dan efektif.
Surveilans epidemiologis demam berdarah dengue (DBD) di puskesmas
meliputi kegiatan pengumpulan dan pencatatan data tersangka DBD untuk
melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Pengolahan dan penyajian data
penderita DBD untuk pemantauan KLB berdasarkan; laporan mingguan KLB
(W2-DBD), laporan bulanan kasus/ kematian DBD dan program pemberantasan,
data dasar perorangan penderita suspek/infeksi dengue DD, DBD, SSD (DPDBD), penentuan stratifikasi (endemisitas) desa/kelurahan, distribusi kasus DBD
per RW/dusun, penentuan musim penularan, dan kecenderungan DBD.
Secara khusus tujuan surveilans DBD adalah untuk memantau
kecenderungan penyakit DBD mendeteksi dan memprediksi terjadinya KLB DBD
serta penanggulangannya, menindaklanjuti laporan kasus DBD dengan melakukan
penyelidikan epidemiologi, serta melakukan penanggulangan seperlunya, dan
untuk memantau kemajuan program pengendalian DBD.
2.2.2 Surveilans vektor DBD
Surveilans Vektor DBD meliputi proses pengumpulan, pencatatan,
pengolahan, analisis dan interpretasi data vektor serta penyebarluasan informasi
ke penyelenggara program dan pihak instansi terkait secara sistematis dan terusmenerus. Sebagai dasar untuk melakukan surveilans vektor terlebih dahulu harus

11

memahami tentang pengertian dan tujuan surveilans vektor DBD, metode


surveilans vektor DBD (Penentuan lokasi surveilans, Waktu pengamatan, cara
pengamatan/ pengukuran vektor DBD dan Peralatan surveilans) serta Morfologi,
Identifikasi dan Bio-ekologi vektor DBD (perilaku, distribusi dan hubungannya
dengan iklim, sosial budaya dan bersifat lokal spesifik, yang mempengaruhi
terjadinya peningkatan dan penularan penyakit DBD.
Surveilans vektor merupakan unsur penting dalam pelaksanaan program
pengendalian penyakit DBD antara lain dalam pengambilan keputusan / kebijakan
dan menentukan tindak lanjut dari data yang diperoleh dalam rangka menentukan
tindakan pengendalian vektor secara efisien dan efektif.
Sebelum melakukan survei vektor DBD diperlukan penentuan lokasi
surveilans/ pengamatan, waktu pengamatan, cara pengamatan/ pengukuran vektor
DBD, persiapan peralatan dan bahan surveilans vektor DBD, pengumpulan,
pencatatan dan analisa data hasil surveilans/pengamatan. Dalam metode
Surveilans Vektor DBD yang ingin kita peroleh antara lain adalah data-data
kepadatan vektor. Untuk memperoleh data-data tersebut tentulah diperlukan
kegiatan survei, ada beberapa metode survei yang kita ketahui, meliputi metode
survei terhadap nyamuk, jentik dan survei perangkap telur (ovitrap).
Survei vektor yang sering dipakai dengan alasan kemudahan dan
penggunaan biaya yang minimal adalah metode survei jentik. metode ini dapat
dilakukan dengan cara visual maupun dengan cara single larva. Metode single
larva dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang
ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut. Sedangkan Metode visual
dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air
tanpa mengambil jentiknya. Biasanya dalam program DBD mengunakan cara
visual. Metode yang sering digunakan adalah metode visual.
Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk
Aedes aegepty antara lain :
1. Angka bebas jentik (ABJ) :
jumla h ruma h yang tidak ditemukan jentik
jumla h bangunan yang diperiksa

x 100 %

2. House Index (HI) :

12

Jumlah rumah yang ditemukan jentik


jumlah rumah ya ng diperiksa

x 100 %

3. Container Index (CI) :


Jumlah container dengan jentik
Jumlah container diperiksa

x 100%

4. Brateau Index (BI) :


jumlah container dengan jentik dalam 100 rumah

Pemeriksaan jentik yang dilakukan oleh kader/PKK/Jumantik harus


dilakukan monitoring dan evaluasi oleh petugas Puskesmas secara berkala
minimal 3 bulan sekali. Rekapitulasi hasil PJB dilaksanakan oleh puskesmas
setiap 3 bulan dengan melakukan pencatatan hasil pemeriksaan jentik di
pemukiman (rumah) dan tempat-tempat umum pada formulir PJB-1 dan
dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2.2.3

Metode pengendalian vektor


Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan

oleh vektor dengan meminimalkan habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan


kepadatan dan umur vektor, mengurangi kontak antara vektor dengan manusia
serta memutus rantai penularan penyakit. Metode pengendalian vektor DBD
bersifat spesifik lokal, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan fisik
(cuaca/iklim, permukiman, habitat perkembangbiakan), lingkungan sosial-budaya
(Pengetahuan Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor.
Pada dasarnya metode pengendalian vektor DBD yang paling efektif
adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat (PSM). Sehingga berbagai
metode pengendalian vektor cara lain merupakan upaya pelengkap untuk secara
cepat memutus rantai penularan. Berbagai metode pengendalian vektor antara
lain secara kimiawi, biologi, manajemen lingkungan dan pengendalian vektor
terpadu.
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida
merupakan salah satu metode pengendalian yang lebih populer di masyarakat
dibanding dengan cara pengendalian lain. Sasaran insektisida adalah stadium

13

dewasa dan pra-dewasa. Karena insektisida adalah racun, maka penggunaannya


harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan organisme bukan
sasaran termasuk mamalia. Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan
metode aplikasi merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam kebijakan
pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang berulang di satuan ekosistem akan
menimbulkan terjadinya resistensi serangga sasaran
Pengendalian

vektor

biologi

menggunakan

agent

biologi

seperti

predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra dewasa


vektor DBD. Jenis predator yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang,
tampalo, gabus, guppy, dll), sedangkan larva Capung Toxorrhyncites, mesocyclops
dapat juga berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode yang lazim
untuk pengendalian vektor DBD.
Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana-prasarana penyediaan air,
vegetasi

dan

musim

sangat

berpengaruh

terhadap

tersedianya

habitat

perkembangbiakan dan pertumbuhan vektor DBD. Nyamuk Aedes aegypti


sebagai nyamuk pemukiman mempunyai habitat utama di kontainer buatan yang
berada di daerah pemukiman. Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan
lingkungan sehingga tidak kondusif sebagai habitat perkembangbiakan atau
dikenal sebagai source reduction seperti 3M plus (menguras, menutup dan
memanfaatkan barang bekas, dan plus: menyemprot, memelihara ikan predator,
menabur larvasida dll); dan menghambat pertumbuhan vektor (menjaga
kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempat-tempat yang gelap dan lembab
di lingkungan rumah dll). Maka dari itu Manajemen lingkungan merupakan salah
satu cara yang penting untuk mengendalikan vektor DBD.
Pengendalian Vektor DBD yang paling efisien dan efektif adalah dengan
memutus rantai penularan melalui pemberantasan jentik. Pelaksanaannya di
masyarakat dilakukan melalui upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam
Berdarah Dengue (PSN-DBD) dalam bentuk kegiatan 3 M plus. Untuk
mendapatkan hasil yang diharapkan, kegiatan 3 M Plus ini harus dilakukan secara
luas/serempak dan terus menerus/berkesinambungan. Tingkat pengetahuan, sikap
dan perilaku yang sangat beragam sering menghambat suksesnya gerakan ini.
Untuk itu sosialisasi kepada masyarakat/ individu untuk melakukan kegiatan ini

14

secara rutin serta penguatan peran tokoh masyarakat untuk mau secara terus
menerus menggerakkan masyarakat harus dilakukan melalui kegiatan promosi
kesehatan, penyuluhan di media masa, serta penghargaan bagi yang berhasil
melaksanakannya.
PSN DBD dilakukan dengan cara 3M-Plus 3M yang dimaksud yaitu:
Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc,
drum, dan lain-lain seminggu sekali (M1), Menutup rapat-rapat tempat
penampungan air, seperti gentong air/tempayan, dan lain-lain (M2) serta
memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung
air hujan (M3). Selain itu ditambah (plus) dengan cara lainnya, seperti: Mengganti
air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat lainnya yang sejenis
seminggu sekali. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain (dengan
tanah, dan lain-lain) Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat
yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air. Keberhasilan kegiatan PSN DBD
antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau
sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
Pemberantasan vektor terpadu (IVM) merupakan konsep pengendalian
vektor yang diusulkan oleh WHO untuk mengefektifkan berbagai kegiatan
pemberantasan vektor oleh berbagai institusi. IVM dalam pengendalian vektor
DBD saat ini lebih difokuskan pada peningkatan peran serta sektor lain melalui
kegiatan Pokjanal DBD, Kegiatan PSN anak sekolah dll. Puskesmas sebagai
ujung tombak pelayanan kesehatan bertugas menjaga kesinambungan kegiatan
Pemberantasan vektor oleh masyarakat di wilayahnya, menggerakkan peran serta
masyarakat melalui kader, tokoh masyarakat, serta melakukan kegiatan
Pemberantasan vektor secara langsung di masyarakat.
Pada saat KLB, maka pengendalian vektor harus dilakukan secara cepat,
tepat dan sesuai sasaran untuk mencegah peningkatan kasus dan meluasnya
penularan. Langkah yang dilakukan harus direncanakan berdasarkan data KLB,
dengan tiga intervensi utama secara terpadu yaitu pengabutan dengan
fogging/ULV, PSN dengan 3 M plus, larvasidasi dan penyuluhan penggerakan
masyarakat untuk meningkatkan peran sertanya.

15

Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang tepat, maka perlu dilakukan survei
pendahuluan untuk membandingkan dengan kondisi pasca intervensi. Evaluasi
hasil pengendalian vektor terdiri dari : Efektifitas untuk menilai dampak
keberhasilan kegiatan pengendalian vector , yang diukur dengan survei jentik
seperti yang dijelaskan sebelumnya, yaitu menggunakan indikator Index Larva
antara lain House Index (HI), Container Index (CI) dan Breateu Index (BI) serta
Angka Bebas Jentik (ABJ). Survei Jentik ini lazimnya dikombinasi dengan survei
PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku).
Upaya pemberantasan DBD hanya dapat berhasil apabila seluruh
masyarakat berperan secara aktif dalam PSN DBD. Gerakan PSN DBD
merupakan bagian yang paling penting dari keseluruhan upaya pemberantasan
DBD oleh keluarga/ masyarakat. Pengalaman beberapa negara menunjukkan
bahwa pemberantasan jentik melalui kegiatan PSN DBD dapat mengendalikan
populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga penularan DBD dapat dicegah atau
dikurangi. Bentuk pelaksanaan kegiatan PSN DBD disesuaikan dengan situasi dan
kondisi masing-masing daerah (kearifan loka

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif
3.2 Tempat dan Waktu penelitian

16

Penelitian ini dilaksanakan di RW 7 RT 1, 2,3 Dusun Krajan Desa Tanggul


Kulon Kecamatan Tanggul pada tanggal 2 April dan 9 April 2016
3.3 Sampel penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah warga Desa Tanggul Kulon Dusun Krajan
Kecamatan Tanggul RW 7 RT 1, 2, 3.
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah bubuk abate dan senter
3.5 Metode Pengumpulan data
1. Data primer
Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi Angka Bebas
Jentik yang diperoleh dari Pemantauan Jentik Berkala.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Tanggul yaitu data mengenai
demografi penduduk, gambaran umum mengenai Kecamatan Tanggul serta
prevalensi DBD di wilayah kerja Puskesmas Tanggul

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Komunitas Umum Tanggul 2015
4.1.1 Data Geografis
Puskesmas Tanggul terletak di Kecamatan Tanggul dengan batas-batas
wilayah sebagai berikut

17

Puskesmas Pustu/Posy 1 / 9
Penduduk6384
KK1877
LuasWil15.26

Puskesmas Pustu/Posy1 / 11
Penduduk11066
KK3292
LuasWil
19.4

Puskesmas Polindes/Posy1 / 14 Penduduk 10425

KK3006
LuasWil11.11

Puskesmas1
Pustu / Posy- / 15
Penduduk12697
KK3653
LuasWil8.16

Puskesmas Pustu/Posy1 / 17
Penduduk16252
KK4371
LuasWil7.91

Gambar. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanggul

Puskesmas Tanggul terletak di Kecamatan Tanggul, dengan batas-batas


wilayah sebagai berikut :
Sebelah Selatan : Daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah Puskesmas
Semboro KecamatanSemboro.

18

Sebelah Utara

: Daerah pegunungan atau dataran tinggi berbatasan dengan


wilayah KabupatenProbolinggo

Sebelah Barat

: Daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah Puskesmas


Semboro yaitu desa Pondok dalem, kebarat menuju Surabaya.

Sebelah Timur

: Daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah Puskesmas


Klatakan Kecamatan Tanggul, ketimur menuju Kabupaten
Jember.

Tabel 1. Data Geografis Puskesmas Tanggul


Luas
Nama Desa

wilayah

Tanggul Kulon
Tanggul Wetan
Patemon
Kramat Suko
Manggisan

km-2
8.16
7.91
11.11
15.26
19.49
61.93

4.1.2

Jarak
ke Pusk
2
4
5
8
7

Waktu
tempuh
/menit
10
15
20
45
30

Juml.

Juml.

Juml.

RT/RW

rumah

KK

61/20
81/28
63/6
42/6
62/31
309/91

1882
2687
1695
1547
2023
9834

3653
4371
3006
1877
3292
16199

Data Demografis

Jumlah Penduduk Kecamatan Tanggul Tahun 2015 dari data proyeksi


penduduk Kabupaten Jember oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember
sejumlah 57.702 jiwa.

4.2.

Hasil penelitian dan pembahasan

Pemantauan jentik dilakukan dua kali dengan jarak satu minggu.


Pemantauan tersebut dengan cara mengunjungi rumah-rumah penduduk dan
memeriksa tempat penampungan air sekaligus memberikan edukasi untuk
membersihkan tempat penampungan air maksimal satu minggu sekali dan
memberikan bubuk abate di setiap rumah yang dikunjungi. Pada pemantauan
pertama dan kedua dilakukan pencatatan jika ditemukan jentik pada setiap rumah.

19

Setelah data didapatkan, kemudian dilakukan penghitungan angka bebas jentik


sesuai dengan rumus yang ada.
Distribusi keberadaan jentik RT 1, RT 2 dan RT 3 RW 7 Dusun Krajan
Tanggul Kulon dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut

Tabel 2. Distribusi keberadaan jentik RT 1, RT 2, RT 3 Dusun Krajan

No

RT

1
RT 1
2
RT 2
3
RT 3
Jumlah

rumah
yang
diperiksa
20
20
20
60

Pemeriksaan Jentik
Minggu I
Minggu II
Rumah
Rumah
(+)
(-)
(+)
(-)
5
15
2
18
4
16
1
19
5
15
3
17
14
46
6
54

Tabel 2 memperlihatkan jumlah jentik yang ditemukan pada saat


pemeriksaan I dan pemeriksaan II satu minggu setelahnya. Di RT 1 dari 20 rumah
yang diperiksa terdapat 5 rumah positif terdapat jentik kemudian menurun
menjadi 2 rumah yang ditemukan jentik pada minggu kedua. Sedangkan pada RT
2 dari 20 rumah ditemukan 4 rumah positif terdapat jentik pada pemeriksaan
pertama dan ditemukan 1 rumah positif jentik pada pemeriksaan kedua.
Pemeriksaan jentik di RT 3 ditemukan 5 dari 20 rumah positif jentik pada minggu
pertama dan ditemukan 3 rumah terdapat jentik pada saat pemeriksaan seminggu
setelahnya. Persentase angka bebas jentik dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Persentase Angka Bebas Jentik tiap R

No
1
2
3

RT

RT 1
RT 2
RT 3
Jumlah

rumah
yang
diperiksa
20
20
20
60

Agka Bebas Jentik DBD


Minggu I
Minggu II
Rumah
ABJ
Rumah
bebas jentik
%
bebas jentik
15
75
18
16
80
19
15
75
17
46
54

ABJ
%
90
95
85

20

Dari tabel 3 tersebut persentase angka bebas jentik di masing-masing RT


yang diperiksa. RT 3 memiliki persentase 75 % pada pemeriksaan pertama dan 85
% pada pemeriksaan kedua. Sedangkan RT 2 sebanyak 80 % meningkat menjadi
95 % pada minggu kedua. RT 1 juga terjadi peningkatan angka bebas jentik
menjadi 90 % dari 75 %. Angka bebas jentik secara keseluruhan dari RT 1 sampai
dengan RT 3 dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Persentase Angka Bebas Jentik total


Pemeriksaan Jentik
Minggu I
Minggu II

%
1
Bebas jentik
46
76,7
54
90
2
Tidak bebas jentik
14
23,3
6
10
Jumlah
60
60
Pelaksanaan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk merupakan kegiatan
yang paling berpengaruh terhadap keberadaan jentik nyamuk di tempat
penampungan air. Jika smua pihak baik dari petugas puskesmas, kader maupun
masyarakat melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dengan benar,
maka keberadaan jentik nyamuk di tempat penampungan air dapat berkurang
bahkan hilang. Seseorang melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk
berarti telah melaksanakan kegiatan pencegahan yang merupakan aspek dari
perilaku pemeliharaan kesehatan.
No

Status

Salah satu metode pemberantasan sarang nyamuk aalah dengan abatisasi


atau pemberian bubuk abate. Abatisasi termasuk salah satu cara untuk memutus
siklus kehidupan atau mata rantai nyamuk Aedes aegepty. Abate sendiri
merupakan suatu larvasida yang memiliki zat aktif yang akan menempel di
dinding penampungan air, berfungsi membunuh telur dan jentik-jentik nyamuk
serta menonaktifkan telur yang menempel pada dinding penampungan air. Abate
dengan berat 10 gram biasanya untuk 100 liter air. Zat aktif abate akan bertahan
selama 3-4 bulan, jika penampungan air akan dikuras dalam waktu kurang dari 3
bula, maka dinding bak jangan disikat terlebih dahulu.
Dari penelitian survei Angka Bebas Jentik (ABJ) memang terjadi
peningkatan ABJ akan tetapi peningkatan angka bebas jentik baik di masingmasing RT maupun secara keseluruhan tersebut belum mencapai target angka
bebas jentik nasional yaitu lebih 95 %. Maka dari itu butuh keterlibatan semua
pihak baik dari pemerintah, petugas kesehatan, kader maupun masyarakat sendiri
untuk tetap konsisten bekerja bersam-sama dalam upaya penanggulangan penyakit
Demam Berdarah Dengue tersebut.
21

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Hasil penelitian diatas menunjukan adanya peningkatan Angka Bebas
Jentik di RW 7 RT 1, 2 dan 3 Dusun Krajan Desa Tanggul Kulon dari 76,7 %
menjadi 90 %. Walaupun terjadi peningkatan presentase Angka Bebas Jentik,

22

tetapi belum mencapai target Angka Bebas Jentik nasional yaitu lebih dari sama
dengan 95 %.

5.2 Saran
1. Untuk masyarakat agar tetap rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk
DBD yaitu dengan 3M plus secara mandiri sebagai langkah pencegahan untuk
penularan penyakit DBD tersebut
2. Melakukan pelatihan Jumantik supaya dapat meningkatkan Angka Bebas Jentik
(ABJ) di seluruh wilayah Puskesmas Tanggul

DAFTAR PUSTAKA

23

1. Lestari K., 2009, Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue


(DBD) Di Indonnesia. Farmaka;Vol 5 No. 3 : hal. 12-29
2. Kusriastuti R. 2010. Data Kasus Demam Berdarah Dengue di Indonesia tahun
2009 dan Tahun 2008. Jakarta: Ditjen PP & PL Depkes RI;
3. Ratna Kartika. 2015. Prevalensi Kasus Demam Berdarah di Wilayah Kerja
Puskesmas Tanggul Periode Januari-April 2015. Jember
4. Depkes RI. 2011. Modul Pengendalian DBD, Direktorat Jendral Pengendalian
Penyakit & Penyehatan Lingkungan. Jakarta
5. Depkes RI. 2007. Buku Pedoman Jumantik. Subdit Arbovirus. Jakarta
6. Depkes RI. 2005. Buku Pencegahan & Pemberantasan DBD, Subdit
Arbovirosis Dit PPBB ditjen PP & PL. Jakarta
7. WHO. 2009. Dengue Guideline for Diagnosis, Treatment, Prevention and
Control WHO
8. WHO. 2011. Comprehensive Guideline for Prevention & Control ; WHO
9. Wirahjanto A., 2014, Soegijanto S. Epidemilogi Demam Berdarah Dengue,
dalam Demam Berdarah Dengue Edisi 2. Surabaya: Airlangga University
Press. Hal 1-10.; 2014
10.Depkes RI. 2004. Buku Modul Surveilans, Direktorat jendral Pemberantasan
Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan, Jakarta
11.Depkes RI. 2005. Buku Pencegahan & Pemberantasan DBD, Subdit
Arbovirosis Dit PPBB ditjen PP & PL. Jakarta

24

25