Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PENGELOLAAN LABORATORIUM

AKUNTABILITAS PROGRAM PENDIDIKAN

Disusun Oleh:
Kelompok 1 (B)
1. Erwina Dwi Larasati
2. Rani Nur Aini
3. Chanifatin Nidia

(13050404041)
(13050404032)
(13050404035)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS TEKNIK
PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
S1 PENDIDIKAN TATA BUSANA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap kegiatan

pendidikan

memiliki

strategi,

yaitu

pertimbangan-

pertimbangan, perbandingan dengan kegiatan lain, kebijakan yang perlu dilakukan,


dan pendekatan yang terbaik agar tujuan yang diinginkan tepat dan bisa dicapai.
Begitu pula halnya dengan kegiatan perencanaan pendidikan membutuhkan strategi
sebelum perencanaan itu dikembangkan lebih lanjut secara operasional. (Pidarta,
2005, hal. 64)
Strategi ini menyangkut tujuan yang ingin dicapai oleh perencana. Tujuan itu
tidak pernah terlepas dari kebijaksanaan pendidikan secara umum. Dengan kata lain
tujuan

selalu

sinkrum

dengan

kebijakan

umum

tersebut.

Pendidikan dianggap sebagai suatu investasi yang paling berharga dalam bentuk
peningkatan kualitas sumber daya insan untuk pembangunan suatu bangsa. Seringkali
kebesaran suatu bangsa diukur dari sejauh mana masyarakatnya mengenyam
pendidikan. Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, maka
semakin majulah bangsa tersebut. Kualitas pendidikan tidak saja dilihat dari
kemegahan fasilitas pendidikan yang dimiliki, tetapi sejauh mana output (lulusan)
suatu pendidikan dapat membangun sebagai manusia yang paripurna sebagaimana
tahapan pendidikan tersebut. (Indonesia, 2011, hal. 287).
Akuntabilitas memiliki peran penting dalam perencanaan strategis dalam
organisasi terutama dalam perencanaan pendidikan. Akuntabilitas memiliki sejarah
dalam perjalanannya. Secara historis, konsep akuntabilitas publik memiliki hubungan
yang erat dengan akuntansi. Akuntabilitas berasal dari konsep pembukuan
(bookkeeping). Tahun 1085, William I mewajibkan seluruh pemilik properti di
wilayah kerajaannya untuk membuat sebuah perhitungan (a count) mengenai apa
sajayang mereka miliki. Selanjutnya Kepemilikan tersebut untuk kemudian dinilai dan
dicatat oleh lembaga kerajaan dan disebut sebagai buku catatan harian rumah
(domesday book). Sensus ini dilakukan bukan hanya sekedar untuk urusan pajak,
tetapi juga dilakukan sebagai bentuk dasar dari tata kelola pemerintahan kerajaan.
Pada awal abad keduabelas, sistem pencatatan ini berkembang menjadi administrasi
kerajaan yang sangat tersentralisasi dan diatur melalui audit yang tersentralisasi serta
penyampaian account semi tahunan (semi annual account giving). Konsep ini

kemudian berkembang dalam berbagai bentuk dan ukuran dan melebihi dari sekedar
pembukuan dan menjadi simbol bagi adanya good governance.
Konsep akuntabilitas yang berkembang tidak sekedar menghitung dan
mencatat apa yang dimiliki oleh organisasi pada masa saat ini menjadi suatu kegiatan
yang wajib dilaksanakan pada tiap organisasi. Akuntabilitas yang baik akan membawa
transparansi dari kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai aturan hukum yang diikuti
oleh pegawai dan publik yang merasakan. Pelaksanaan akuntabilitas bahkan di
organisasi pemerintahan wajib dilaksanakan laporan akuntabilitas kinerja.
Dalam akuntabilitas, perencanaan strategis merupakan langkah awal yang
harus dilakukan oleh instansi agar mampu menjawab tuntutan lingkungan strategis
lokal, nasional dan global, dan tetap berada dalam tatanan peraturan yang telah ada.
Dengan pendekatan perencanaan strategisnya yang jelas dan sinergis, organisasi lebih
dapat menyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang, dan kendala yang
dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas. Akuntabilitas membutuhkan aturan,
ukuran atau

kriteria, sebagai indikator keberhasilan suatu pekerjaan atau

perencanaan. Dengan demikian, maka akuntabilitas adalah suatu keadaan performan


para petugas yang mampu bekerja dan dapat memberikan hasil kerja sesuai dengan
kriteria yang telah di tentukan bersama sehingga memberikan rasa puas pihak lain
yang berkepentingan. Akuntabilitas dalam pendidikan adalah kemampuan sekolah
mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang telah
dilaksanakan. Sebagai perencana pendidikan maka sangat penting mengetahui prinsip
akuntabilitas dalam sekolah agar untuk dapat mendeskripsikan tanggung jawab apa
yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut maka pemakalah akan mengangkat
tema tentang pengertian akuntabilitas serta kondisi dan hal yang dibutuhkan dalam
akuntabilitas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian, dasar, dan tuntutan akuntabilitas?
2. Apa indikator akuntabilitas program pendidikan?
3. Apa penanggung jawab program pendidikan?
4. Bagaimana pelaksanaan KBM terkait dengan pengelolaan laboratorium?
5. Apa tujuan SMK?
6. Bagaimana organisasi kurikulum SMK?
7. Bagaimana program mata pelajaran kelompok produktif?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui mengenai pengertian, dasar, dan tuntutan akuntabilitas.
2. Untuk mengetahui mengenai indikator akuntabilitas program pendidikan.
3. Untuk mengetahui mengenai penanggung jawab program pendidikan.

4. Untuk

mendiskripsikan

pelaksanaan

KBM

terkait

dengan

pengelolaan

laboratorium.
5. Untuk menjelaskan tujuan SMK.
6. Untuk mendiskripsikan organisasi kurikulum SMK.
7. Untuk mendiskripsikan program mata pelajaran kelompok produktif.
D. Manfaat
a. Memiliki keterampilan serta pengalaman kerja nyata yang dapat dipergunakan
sebagai bekal dalam pengajaran.
b. Dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh di bangku
perkuliahan sekaligus menambah wawasan dan pengalaman.
c. Mampu bertanggung jawab , disiplin, beretika yang baik serta dapat
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan bekerja secara professional.
d. Menambah dan meningkatkan keterampilan serta keahlian dibidang boga.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Akuntabilitas Program Pendidikan
a. Pengertian Akuntabilitas Program Pendidikan
Akuntabilitas adalah sesuatu yang dapat dipandang sebagai alat kontrol dalam
pekerjaan pendidikan pada umumnya dan dalam perencanaan pendidikan
khususnya. Bila tanggung jawab merupakan usaha agar apa yang dibebankan
kepada kita bisa diselesaikan sebagaimana mestinya dan dalam waktu yang tepat
pula, maka akuntabilitas harus melebihi dari kewajiban. Akuntabilitas berkaitan
dengan perasaan puas semua pihak yang menaruh perhatian kepada pendidikan.
Secara sederhana akuntabilitas diartikan dengan pertanggungjawaban.
Menurut Robin akuntabilitas adalah suatu peningkatan dari rasa tanggung jawab,
suatu yang lebih tinggi mutunya dari suatu tanggung jawab sehingga memuaskan
atasan. Mc Kiisey dan Howar dalam Akdon mendefinisikan akuntabilitas sebagai
suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki dan menggunakan suatu
kewenangan tertentu diharapkan dapat dikendalikan dan pada kenyataannya
memang terbatasi ruang lingkup kekuasaan dan kewenangannya itu oleh
instrumen pengendalian eksternal. (Syah, 2010, hal. 187).
Penjelasan lebih mendetail dikemukakan oleh Elliot yang mengatakan bahwa
akuntabilitas adalah (1) cocok atau sesuai (fittingin) dengan peranan yang
diharapkan oleh orang lain dan (2) menjelaskan dan mempertimbangkan kepada
orang lain tentang keputusan dan tindakan yang diambilnya. (Pidarta, 2005, hal.
164).
Berdasarkan pengertian akuntabilitas tersebut dapat disimpulkan bahwa
akuntabilitas merupakan keadaan seseorang yang mendapat penilaian orang lain
karena kualitas peformasinya dalam menyelesaikan tugas dan tujuan yang
menjadi tanggung jawab dan kewajibannya. Akuntabilitas Perecana Pendidikan
Akuntabilitas di bidang perencanaan pendidikan terutama ditujukan kepada para
perencana pendidikan yang meliputi: (1) guru/ dosen, (2) administrator/ manajer
pendidikan (Kepala Sekolah, Kepala Kantor, Kepala Dinas, Ketua Jurusan,
Dekan, dan Rektor; (3) orang tua/ wali siswa; (4) pihak luar (konselor, dokter,
supervisor, nara sumber pendidikan).
Guru dan dosen merupakan urutan pertama yang harus melaksanakan
akuntabilitas dalam perencanaan pendidikan karena guru dan dosenlah yang
paling banyak terlibat langsung serta yang mengarahkan dan memberikan

pengalaman belajar kepada siswa/ mahasiswa sebagai objek didik atau subjek
yang dikembangkan. Tuntutan akuntabilitas kepada para administrator pendidikan
karena di tangan merekalah pengaturan seluruh lembaga pendidikan. Orang tua
juga dituntut memiliki akuntabilitas, dalam bentuk kerjasama dengan pihak
lembaga

pendidikan.

Pihak-pihak

luar

dituntut

akuntabilitasnya

dalam

perencanaan pendidikan, karena pihak-pihak luar merupakan orang-orang yang


ikut serta dalam memengaruhi prestasi belajar siswa/ mahasiswa. (Syah, 2010,
hal. 189-190)
b. Dasar-dasar Akuntabilitas Program Pendidikan
Dimensi akuntabilitas dapat dibedakan dapat dibedakan dari dimensi vertikal
dan dimensi horizontal. Perbedaan antara kedua dimensi dapat dideskripsikan sebagai
berikut:
Vertikal
Menyangkut hubungan antara

Horisontal
pengelola Menyangkut hubungan antara sesama warga

sekolah dengan masyarakat, sekolah dan sekolah, antar kepala sekolah dengan komite,
orang tua siswa. Antara sekolah dan instansi dan antara kepala sekolah dan guru.
di atasnya (Dinas Pendidikan)
Jika dicermati dari dimensinya dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas
ditentukan oleh proses interaksi sosial yang terjadi antara individu-individu yang
secara personality memiliki perbedaan karakter, sehingga hasil dari proses interaksi
sosial tersebut dapat menimbulkan efek sosial yang cenderung tidak sama.
Disamping itu, dalam kontek sosial ada kecenderungan bahwa akuntabilitas juga
dikaitkan dengan aspek organisasional yang menekankan pada hubungan vertikal
baik di dalam struktur kelembagaan maupun antara kelembagaan.
Perbedaan dalam proses interaksi sosial sebagai bentuk dasar terbangunnya
aktivitas sosial akan berdampak pada proses membangun akuntabilitas baik secara
personal maupun insitusional. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dapat
dianalisis akuntabilitas, baik secara horisontal maupun vertikal. Ke dua bentuk
hubungan tersebut sangat menentukan dinamika dalam membangun akuntabilitas
sekolah dalam memperbaiki mutu sekolah.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dipahami bahwa kemampuan orang dalam


membangun akuntabilitas perlu memiliki kemampuan dalam membangun hubungan
sosial. Dalam hal ini individu yang memiliki akuntabilitas harus memiliki
responsibiltas yang kuat. Jika dikaitkan dengan konsep pendidikan, maka sekolah
yang dinilai memiliki akuntabilitas adalah sekolah yang mampu mengembangkan
responbilitas pada setiap individu yang dalam realitasnya dihadapkan pada
kepribadian dan karakter yang cenderung beragam di dalam setiap sekolah. Oleh
karena itu akuntabilitas yang dibangun oleh sekolah ditentukan oleh kemampuan
sekolah dalam mengembangkan dimensi responbilitas pada setiap warga sekolah
dengan menciptakan norma sosial yang disepakati bersama dalam membentuk sikap
dan perilaku yang akuntabel.
Untuk menentukan akuntabilitas dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Tentukan tujuan program yang dikerjakan
2. Program dioperasikan sehingga menimbulkan tujuan-tujuan yang spesifik.
3. Kondisi tempat bekerja ditentukan
4. Otoritas atau kewenangan setiap tugas pendidikan ditentukan
5. Kriteria performance pelaksana yang dikontrak itu dibuat sejelas mungkin

6. Tentukan pengukur yang bersifat bebas, yaitu orang-orang yang tidak terlibat
dalam pelaksanaan program/ tugas tersebut.
7. Pengukuran dilakukan sesuai dengan syarat pengukuran umum yang berlaku,
yaitu secara insidental, berkala, dan terakhir.
8. Hasil pengukuran dilaporkan kepada orang-orang yang berkaitan akan
pendidikan/ pengontrak/ stakeholder
c. Pemanfaatan Akuntabilitas dalam Evaluasi Perencanaan Pendidikan
Pemanfaatan akuntabilitas dalam evaluasi perencanaan pendidikan meliputi:
a)

Memberikan jaminan keutuhan akan tujuan program agar dapat

dioperasionalkan dengan tujuan-tujuan spesifik.


b) Memberikan acuan kriteria performan para petugas pendidikan dan pada
pelaksana implementasi, serta merangsang inisiatif dan kreativitas para perencana
pendidikan.
c)

Melakukan pemeriksaan secara tepat tentang proses pendidikan dan

implementasi perencanaan serta hasil-hasil yang dicapai sesuai dengan rencana


semula perlu diadakan.
d) Menjaga mutu dan kuantitas pendidikan lembaga pendidikan termasuk
perencana pendidikan agar tidak sampai merosot, malah sedapat mungkin
ditingkatkan
e)

Memberikan batasan insentif yang pantas diberikan untuk membayar tenaga

pemikir , para pelaksana pendidikan sera para perencana. (Syah, 2010, hal. 192194)
Pemanfaatan gerakan akuntabilitas dalam perencanaan pendidikan meningkatkan
sifat operasional perencana itu, sebab bukan saja programnya yang dioperasikan
beserta tujuannya yang spesifik, melainkan juga performan para petugas
implementasinya.
d. Prinsip-prinsip akuntabilitas
1. Mengontrak performan artinya performan para petugas pendidikan dikontrak
oleh orang-orang yang
berkepentingan dalam pendidikan. Kriteria performan yang sudah disepakati
bersama harus dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Memiliki kunci pembentuk arah. Dengan biaya tertentu dan performan dengan
kriteria yang sudah dikontrakan itu diharapkan pendidikan dapat mencapai tujuan
secara tepat.

3. Ada unsur pemeriksaan. Pemerikasaan harus dilakukan oleh orang-orang yang


bebas yang tidak terlibat dalam kegiatan pendidikan.Para pengontrak adalah
merupakan unsur pengontrol dalam kegiatan pendidikan.
4. Ada jaminan pendidikan.Mutu pendidika terjamin karena sudah memakai
kriteria/ukuran tertentu.
5. Pemberian insisiatif sebagai imbalan terhadap jerih payah guru dibuatlah
insentif.
e. Penanggung Jawab Akuntabilitas Program Pendidikan
Dalam perencanaan partisipatori yang perencanaan yang menekankan sifat
lokal atau desentralisasi, yang bersifat mikro, dan yang anggotanya terdiri dari
beberapa warga lembaga dan tokoh-tokoh masyarakat/ orang tua, akuntabilitas
dituntut pada personalia dengan urutan sebagai berikut:
1. Ketua perencana, adalah orang daerah itu sendiri mungkin kepala sekolah atau
dekan.
2. Manajer/ administrator/ ketua lembaga, diminta memiliki akuntabilitas ialah
karena fungsinya sebagai manajer.
3. Para anggota perencana, dituntut memiliki akuntabilitas, karena merekalah yang
bekerja mewujudkan konsep perencanaan dan mengendalikan implementasinya di
lapangan
4. Konsultan dari pemerintah pusat, mempunyai kewajiban untuk memberi petunjukpetunjuk kepada para perencana di daerah, terutama daerah/ lembaga baru saja
belajar melaksanakan perencanaan.
5. Para pemberi data, performen pemberi data yang akuntabel ialah performen yang
rela membantu memberi data, memberi informasi tentang keadaan yang
sebenarnya secara lengkap, dan selalu siap membantu para pengambil data.
(Pidarta, 2005, hal. 172-173)
f. Pelaksanaan KBM terkait Pengelolaan Laboratorium
Manajemen mutu pendidikan belum optimal. Bahkan manajemen berbasis
sekolah yang dipilih sebagai model dalam pengelolaan pendidikan belum berhasil
dalam mengahasilkan proses yang akuntabel yang mampu menghasilkan lulusan
yang berkualitas. Pelaksanaan KBM akan berjalan sesuai dengan kurikulum yang
disesuaikan dengan kebutuhan pengajaran. Penggunaan laboratorium dapat
disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum tersebut. Laboratorium yang baik harus
dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium
dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum

(utilities) dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat
digunakan oleh semua pemakai laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air,
bak cuci (sinks), aliran listrik, gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair,
contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat,
lemari bahan, dan ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam
kebakaran dll.
Pembuatan perencanaan
Merencanakan penempatan alat atau perlengkapan dalam bentuk gambar,
sering kali kita mencoret dan menghapusnya kembali, sehingga bukan saja gambar
terlihat kotor tapi juga akan memakan waktu. Berikut saran yang dapat membantu
dalam merencanakan dengan cepat dan mudah:
a. Merencanakan atau membuat sktsa pada kertas garis skala, untuk
memisahkan penempatan peralatan.
b. Dengan menggunakan model-model yang sesuai dengan bendanya
sehinggadengan mudah digeser pada kertas yang direncanakan.
c. Tentukan letak sumber arus untuk motor-motornya.
d. Tentukan luas ukuran ruang, apa sudah sesuai atau belum.
e. Perlu tidak penambahan penerangan untuk perlengkapan atau mesin.
f. Tentukan pula tempat-tempatsaluran daya atau gas bila ada. Dan lain-lain.
B. Tema-Tema Kurikulum SMK
a. Tujuan SMK
Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat dirangkum sbb.
1. Menyiapkan siswa agar memiliki kepribadian yang bermoral dan beretika
sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan memiliki keahlian yang
andal di bidangnya ( terutama di bidang akomodasi perhotelan, usaha jasa
pariwisata dan boga ).
2. Menyiapkan siswa agar mampu menguasai dan mengikuti perkembangan
teknologi
3. Menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja yang terampil produktif untuk dapat
mengisi lowongan kerja yang ada dan mampu menciptakan lapangan kerja
terutama dibidang akomodasi perhotelan, usaha jasa pariwisata dan boga
4. Memberikan peluang masa depan lebih baik, jika tidak bisa melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi
b. Program Mata Pelajaran Kelompok Produktif
Mata pelajaran produktif adalah pembelajaran kejuruan yang merupakan
kemampuan khusus yang diberikan kepada siswa sesuai dengan program keahlian

yang dipilihnya. Pembelajaran produktif diberikan di Laboratorium/instalasi


masing-masing jurusan. Untuk mengefektifkan proses pembelajatan produktif,
dilakukan secara sistem ganda (PSG: Pendidikan Sistem Ganda).
Pembelajaran sistem ganda adalah proses belajar yang dilakukan antara
pihak sekolah dengan dunia usaha atau industri. Dengan menggunakan
pembelajaran sistem ganda diharapkan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
yang ada di lingkungan dunia usaha/industri dan menerapkanya pada proses
belajar mengajar di sekolah.
Penerapan Pendidikan

Sistem

Ganda

(PSG)

dilakukan

dengan

menggunakan sistem 1 2 3. Artinya, 1 jam untuk pembelajaran teori, 2 jam


pelajaran praktik dan 3 jam praktik industri. Dengan demikian aktivitas praktik
akan lebih dominan daripada pembelajaran teori. Tujuanya tentu saja diharapkan
dapat meningkatkan kemampuan keterampilan dan kompetensi siswa pada
keahlian tertentu agar dapat digunakan untuk bersaing di dunia usaha dan industri.
d.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Beberapa simpulan yang menarik untuk didiskusikan antara lain adalah
akuntabilitas

sekolah

masih

perlu

disosialisasikan

untuk

pembangunan

pendidikan, khususnya dalam upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan.


Akuntabilitas sekolah adalah hasil kerja antara aspek individual dan kelembagaan
yang secara sinergis mempunyai motivasi yang kuat untuk mempertanggung
jawabkan

kinerja

kepada

publik

dalam

pengelolaan

pendidikan

untuk

menghasilkan siswa yang berprestasi, unggul, dan berkarakter.


Akuntabilitas sekolah dalam prosesnya masih menghadapi kendala baik yang
bersifat struktural dan kultural sehingga dibutuhkan pemecahan masalah yang
bersifat sistemik dan tidak parsial agar hasilnya benar-benar optimal. Oleh karena
itu, komponen-komponen yang terkait dengan proses pengembangan akuntabilitas
sekolah harus dipenuhi sesuai dengan dinamika yang terjadi di sekolah.
B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun berhadap dapat bermanfaat bagi
masyarakat umum, khususnya bagi calon pendidik untuk melaksanakan
pembelajaran di laboratorium agar tujuan pembelajaran di laboratorium dapat
berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan tujuan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
http://blog.unsri.ac.id/download2/29377.pdf diunduh tanggal 15 februari 2016
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.%20%20Siti%20Irene%20Astuti
%20D,%20M.Si./ISU-ISU%20AKUNTABILITAS%20SEKOLAH%20DAN
%20PENGEMBANGANNYA.pdf diunduh tanggal 15 februari 2016