Anda di halaman 1dari 10

Semua tentang Kapal

Sun, Jan 12, 2014

Sistem Penggerak Kapal


Pada awalnya sistem penggerak kapal adalah mesin uap. Namun saat ini paling tidak ada tiga jenis tipe
mesin yang digunakan oleh kapal :
1.

Mesin Diesel (Slow Speed, Medium Speed dan High Speed). Biasanya berukuran besar sehingga
perbaikannnya akan memakan biaya yang besar juga. Namun jenis mesin ini sangat dapat
diandalkan dan ekonomis.

2.

Mesin Diesel-Electric

3.

Gas Turbin.

Secara umum kapal kapal yang bergerak dengan kekuatan sistem penggerak sendiri (self propelled) akan
lebih aman dan mudah diarahkan dalam menghadapi cuaca buruk dibandingkan dengan kapal layar,
tongkang, dan kapal kapal lain yang tidak memiliki mesin penggerak sendiri.
Sertifikat dan Dokumen yang harus berada diatas kapal berbendera Indonesia ( berdasarkan
SV.1935 )
1.

Surat Tanda Kebangsaan berupa Pas Tahunan

2.

Surat Ukur untuk kapal diatas 7 GT

3.

Sertifikat Keselamatan ( Sesuai SV. 1935 Pasal 5 Ayat (6) )

4.

Surat Ijin Berlayar dari Syahbandar.

Untuk kapal Layar Motor ( KLM ) dengan isi Kotor lebih besar dari 35 GT s/d 150 GT :
1.

Surat Tanda Kebangsaan berupa Pas Tahunan

2.

Surat Ukur

3.

Sertifikat Keselamatan ( sesuai SK. DIRJEN HUBLA No. DKP.46/1/1-83 tanggal 11 Januari 1983 )

4.

Sertifikat Radio

5.

Surat Ijin Berlayar dari Syahbandar

Kapal layar Motor ( KLM ) dengan isi kotor lebih besar dari 150 GT s/d 500 GT :
1.

Surat Tanda Kebangsaan berupa Pas Tahunan ( untuk Isi Kotor sampai dengan 175 GT ), atau
berupa Surat Laut ( untuk Isi kotor lebih besar dari 175 GT )

2.

Surat Ukur

3.

Sertifikasi Keselamatan ( sesuai SK. Dirjen Hubla No. PY. 66 / 1 / 2 /-02 tanggal 7 februari 2002 )

4.

Sertifikat Radio

5.

Surat Ijin Berlayar dari Syahbandar.

Kapal Motor isi Kotor 7 GT s/d kurang dari 35 GT


1.

Surat Tanda Kebangsaan berupa Pas Tahunan

2.

Surat Ukur

3.

Sertifikat Keselamatan ( sesuai SV.1935 pasal 5 ayat (5) )

4.

Sertifikat garis Muat ( untuk kapal dengan ukuran panjang lebih dari 24 Meter )

5.

Sertifikat Radio

6.

Surat Ijin Berlayar dari Syahbandar

Kapal Motor Isi Kotor 35 GT ke atas :


1.

Surat Tanda Kebangsaan berupa Surat Laut

2.

Surat Ukur

3.

Sertifikat Keselamatan

4.

Sertifikat garis Muat

5.

Sertifikat radio

6.

Sertifikat Klasifikasi ( untuk kapal Isi kotor lebih dari 35 GT dan atau yang menggunakan mesin
lebih dari 100 PK )

7.

Sertifikat Pencegahan Pencemaran: Untuk kapal dengan isi kotor 100 GT s/d 399 GT dan atau yang
menggunakan mesin lebih dari 200 PK, berupa Sertifikat Nasional Pencegahan Pencemaran ( SNPP )
Untuk Kapal dengan isi kotor lebih dari 399 GT, berupa Sertifikat International Oil Polution
Prevention ( IOPP )

8.

Surat Ijin Berlayar ( SIB ) dari Syahbandar

Kapal Motor Nelayan Tradisional Isi kotor s/d 35 GT :


1.

Surat Tanda Kebangsaan berupa Pas Tahunan

2.

Surat Ukur ( untuk kapal dengan isi kotor lebih dari 7 GT )

3.

Sertifikat Keselamatan ( sesuai SV.1935 Pasal 5 Ayat (6) )

4.

Surat Ijin Berlayar ( SIB ) dari Syahbandar

Kapal Penangkap Ikan


1.

Surat Tanda Kebangsaan

2.

Sertifikat Kelaikan dan Pengawakan kapal Penangkap Ikan

3.

Surat Ukur

4.

Surat Ijin Berlayar ( SIB ) dari Syahbandar

5.

SIPI ( Surat Ijin Penangkapan Ikan )

Kapal Penyeberangan
1.

Surat Tanda Kebangsaan

2.

Sertifikat Keselamatan Kapal Penyeberangan

3.

Surat Ukur

4.

IOPP Sertifikat (International Oil Polution Prevention)

5.

Sertifikat Klas

6.

Surat Ijin Berlayar ( SIB ) dari Syahbandar

Kapal Kecepatan Tinggi


1.

Surat Tanda Kebangsaan

2.

Sertifikat Keselamatan Kapal Kecepatan Tinggi

3.

Surat Ijin Pengoperasian Kapal Kecepatan Tinggi

4.

Surat ukur

5.

IOPP Sertifikat (International Oil Polution Prevention)

6.

Sertifikat Klas

7.

Surat Ijin Berlayar ( SIB ) dari Syahbandar

8.

Brevet A / Brevet B bagi Nakhoda dan Perwira Kapal Sertifikat tersebut diatas mempunyai masa
laku paling lama berlaku 12 bulan kecuali Surat ukur dan Surat laut berlaku untuk selamanya.
Apabila sertifikat sertifikat tesebut habis masa berlakunya dapat diperpanjang atau diperbaharui
sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku

SERTIFIKAT DAN DOKUMEN KAPAL MENURUT KONVENSI INTERNASIONAL SOLAS 74


1.

International Tonnage certificate (1969)

2.

International Load Line Certificate

3.

International Load Line Exemption Certificate

4.

Intact Stability Booklet

5.

Damage Control Booklets

6.

Minimum Safe Manning Document

7.

Certificates for Master. Officers or ratings

8.

International Oil Pollution Prevention Certificate

9.

Oil Record Book

10. Ship Oil Pollution Emergency Plan


11. Garbage Management Plan
12. Garbage Record Book
13. Cargo Securing Manual
14. Document Of Compliance
15. Safety Management Certificate
16. Passenger Ship Safety Certificate
17. Exemption Certificate
18. Special Trade Passenger Ships
19. Special Trade Passenger Ships Space Certificate
20. Search and rescue Co operation Plan
21. List Of Operational Limitations
22. Decision Support System for Master

23. Cargo Ship Safety Construction Certificate


24. Cargo Ship Safety Equipment Certificate

Tonnage of Vessel
Yang dimaksud dengan Tonnage disini bukan ukuran berat tapi merupakan ukuran volume. Yang menjadi
acuan untuk tonnage kapal adalah GT (Gross Tonnage) yang merupakan volume kotor kapal dan NT (Nett
Tonnage) merupakan volume bersih kapal.
Gross Tonnage adalah total volume kapal. Termasuk di dalamnya ruangan untuk kepentingan bahan bakar,
awak kapal dan mesin kapal. Nett Tonnage adalah total volume yang bisa dimuati kargo sehingga
merupakan bagian yang dapat menghasilkan uang tambang. Itu juga sebabnya mengapa hampir semua
perhitungan uang tambang selalu berhubungan dengan Gross atau Nett Tonnage.
Kapal yang memiliki tonnage kecil relatif akan beresiko tinggi dalam menghadapi cuaca buruk dan bahaya
laut lain ketika berlayar dibandingkan dengan kapal yang memiliki tonnage yang cukup besar.
Pengertian Klasifikasi Kapal
Yang dimaksud dengan kapal yang di klasifikasi adalah kapal yang dimaksud telah didaftar pada salah satu
Biro Klasifikasi di dunia. Sedangkan kapal yang tidak diklasifikasi adalah kapal yang tidak didaftarkan pada
Biro Klasifikasi. Biasanya kapal ini hanya didaftarkan pada Syahbandar.
Dapat dikatakan biro klasifikasi pada awalnya lahir untuk menjawab kebutuhan underwriter Asuransi.
Underwriter membutuhkan pendapat yang independen tentang kondisi kapal yang akan diasuransikan. Pada
akhirnya biro klasifikasi berkembang menjadi badan hukum independen yang mengeluarkan sertifikat untuk
hampir semua aspek yang berkaitan dengan bangunan kapal dan objek-objek marine lainnya.
Di Indonesia, sesuai dengan peraturan Menteri Perhubungan No.20 tahun 2006 maka setiap kapal yang
berbendera Indonesia berukuran S100 GRT keatas atau 250 HP keatas atau panjang 20 M ke atas harus
diklas-kan pada Biro Klasifikasi Indonesia. Selain menerbitkan sertifikat yang berkaitan dengan kualitas
kapal, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) juga diberi juga wewenang oleh Pemerintah Indonesia untuk
mengeluarkan sertifikat garis muat internasional atas nama Indonesia.
Tongkang atau Barge merupakan sarana atau alat angkutan laut yang umumnya banyak digunakan untuk
mengangkut barang, baik barang padat (kayu log, mesin mesin), curah (batubara), ataupun cair (minyak
mentah/crude oil). Selain untuk alat angkutan laut, tongkang yang telah direkonstruksi atau dimodifikasi
banyak digunakan sebagai kapal akomodasi, hotel terapung, dan keperluan lainnya di lokasi proyek di
perairan dan laut.
Dari berbagai fungsi tongkang tersebut maka berikut ini beberapa istilah tongkang berdasarkan
kegunaannya :

I. Work Barge: tongkang yang digunakan sebagai tempat atau pangkalan untuk melakukan pekerjaan di
laut.
II. Pilling Barge: tongkang yang dilengkapi alat pemancang yang digunakan untuk mengerjakan
pemancangan di laut.

III. Landing Craft


Tank / Landing Craft
Machine
Kapal jenis ini selalu
dipakai untuk mengangkut
alat-alat berat seperti
bulldozer, excavator,
crane, dump truck dan
lain-lain. Kapal sering
dipakai untuk memasuki
daerah-daerah pedalaman
yang tidak memiliki
sarana pelabuhan yang
cukup memadai. Dalam
beberapa kasus
tenggelam, sumber
penyebab kejadian adalah
pengikatan (lashing)
muatan yang tidak
memadai. Pada saat kapal
dihantam ombak dalam
perjalanannya, ikatan
(lashing) muatan dapat
terlepas dan muatan
bergeser, akibatnya
stabilitas kapal berubah dan dapat mengakibatkan kapal terbalik.
Penting untuk memastikan bahwa seluruh Heavy Equipment atau kendaraan yang diangkut terikat kuat dan
tali ikatan dikaitkan ke badan kapal. Pada beberapa keadaan, kendaraan berat tersebut di las ke badan
kapal.
IV. Dredger Barge: tongkang yang digunakan untuk pengerukan laut
V. Split Barge: tongkang yang digunakan untuk menampung lumpur dan dibongkar dengan cara
pembelahan lambung kiri dan kanan

VI. Hopper Barge: tongkang yang dipergunakan untuk menampung lumpur dan dibongkar melalui pintu
alas yang dapat dibuka.

VII. Modu (Mobile


Offshore Drilling Unit)
Barge: tongkang yang
dilengkapi alat bor untuk
offshore drilling

kapal diatas selain disebut MODU, juga disebut SEDU: Self Elevating Drilling Unit.
VIII. Kapal LPGs/LNGs Tanker
Jenis Kapal Tanker biasanya menggunakan mesin diesel low speed. Kapal pengangkut liquified petroleum
gas (LPG) dan liqufied natural gas (LNG) merupakan kapal khusus yang didesain untuk membawa gas yang
telah dicairkan. Gas dicairkan melalui pendingin dan penambahan tekanan.
Kapal tipe ini tinggi nilainya karena dibangun dengan konstruksi yang khusus. Material kapal harus sanggup
mencegah kerusakan badan dan palka kapal terhadap perubahan temperatur gas yang dibawanya. Secara
umum kapal tipe ini akan dirawat dengan sangat baik oleh pemiliknya. Akan tetapi bahaya akan timbulnya
ledakan merupakan risiko terbesar yang mungkin timbul. Karena kapal memiliki konstruksi yang khusus
maka perbaikan kapal tipe ini sangat mahal.
IX. Kapal General Cargo

Merupakan jenis kapal pengangkut bermacam-macam tipe barang dan dalam berbagai bentuk kemasan
(packing). Kapal kapal jenis umumnya berlayar tidak memiliki rute khusus (trampers)
Kapal ini secara garis besar dibagi menjadi beberapa ruangan. Ruangan cargo lazimnya disebutpalka. Palka
harus memiliki ventilasi yang baik dengan system Gooseneck atau dengan menggunakan kompressor.
Dalam ketentuan BKI kapal ini diharuskan memiliki alas dek ganda (double bottom plate). Dek dengan tipe
ini akan menguntungkan karena bila kapal kandas maka kargo akan tetap selamat. Fungsi lain dek ini
adalah untuk tempat menyimpan bahan bakar serta ballast tidak tetap.
X. Kapal Cepat
Kapal dapat bergerak cepat karena panduan antara sudut dan bentuk baling baling dengan kecepatan
putar baling baling. Itu sebabnya maka pada kapal cepat kerusakan pada sistem pendingin kapal (dapat
berupa air atau oli) akan sering dijumpai.
Kapal cepat khususnya dengan propulsi water jet sangat beresiko terhadap terbelitnya impellerpompa
dengan tali. Kapal jenis ini harus sebaiknya beroperasi pada perairan perairan yang bersih saja.
Konstruksi kapal cepat yang seringkali terbuat dari Aluminium atau Fibreglass membuat kapal ini rentan
terhadap tabrakan dengan potongan potongan kayu log yang mengambang bebas di laut.
XI. Ro Ro Ferry (Roll On-Roll Off)
Masalah utama risiko yang mungkin terjadi pada kapal tipe ini adalah masuknya air laut melalui bow visor di
haluan yang jaraknya dengan permukaan air tidak terlalu tinggi.
Karena ombak tinggi banyak air yang masuk ke main dek, seharusnya air tersebut dapat dibuang dengan
sendirinya melalui lubang buangan di sisi-sisi kapal (freeing port) tetapi karena air yang masuk terlalu
banyak maka karena adanya efek free surface, air akan berkumpul di sisi kapal, sehingga dapat
mengganggu stabilitas kapal. Selain itu klaim banyak terjadi bersifat partial lossyang bersumber dari
kerusakan mesin.
Beberapa kasus terakhir yang menyangkut kapal Ro-Ro menunjukkan bahwa pergeseran muatanHeavy
Equipment yang dibawa sangat mempengaruhi stabilitas kapal. Dalam banyak kesempatan Heavy
Equipment yang dibawa tidak diikat dengan baik ke cincin-cincin yang biasanya ada pada dek kapal.
XII. Accomodation Barge: tongkang untuk akomodasi.

XIII. Crane
Barge: tongkang yang
dilengkapi dengan alat
angkat /crane

XIV. Pontoon: tongkang yang mempunyai


geladak yang rata (flat deck) sehingga
dapat dipergunakan untuk muatan di
geladak

XV. Oil Barge: tongkang yang digunakan untuk mengangkut minyak

XVI. Tug Boat menarik Tongkang Batubara


Seperti namanya maka fungsi utama Tug Boat adalah sebagai kapal penarik (towing) atau sebagai kapal
pendorong (pusher), karenanya maka Tug Boat selalu dijumpai berpasang-pasangan dengan tongkang
(barge).
Tug Boat banyak
digunakan sebagai kapal
tunda di pelabuhan,
sebagai kapal patroli, dan
satu fungsinya yang paling
penting sebagai kapal
pencari dan penyelamat
(salvage operation).
Secara umum Tug Boat
banyak digunakan di
wilayah perairan pantai,
seperti perairan sungai dan pelabuhan. Tug Boat sering diklasifikasikan bukan dari volume / dimensinya tapi
kekuatannya (horse power). Tug Boat dengan Gross Tonnage 100 bisa saja memiliki tenaga ribuan HP.