Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN PERSALINAN NORMAL

A. Defenisi
Persalinan menurut Sarwono Prawirohardjo, 2005 adalah proses membuka dan
menipisnya serviks, dan dimana janin dan ketuban turun ke dalam jalan lahir dan didorong
keluar melalui jalan lahir.
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
Menurut tuanya kehamilan :
1. Abortus
Pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22 minggu atau bayi dengan berat
badan kurang dari 500 gr.
2. Partus immaturus
Pengeluaran buah kehamilan antara 22 minggu dan 28 minggu atau bayi dengan berat
badan antara 500 gr dan 999 gr.
3. Partus trematurus
Pengeluaran buah kehamilan antara 28 minggu dan 37 minggu atau bayi dengan berat
badan antara 1000 gr dan 2499 gr
4. Partus maturus atau partus aterm
Pengeluaran buah kehamilan antara 37 minggu dan 42 minggu atau bayi dengan berat
badan 2500 gram atau lebih
5. Partus postmaturus atau partus serotinus
Pengeluaran buah kehamilan adalah kehamila 42 minggu
Menurut cara persalinan
1. Partus spontan/Biasa
Persalinan yang berlangsung, dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir
2. Partus buatan
Persalinan yang dibantu dengan tenaga dari luar, misalnya ekstraksi vakum dan sectio
caesarea (SC)

3. Partus anjuran
Persalinan bila bayi sudah cukup besar untuk hidup diluar, tetapi menimbulkan kesulitan
dalam persalinan dan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah
pemecahan ketuban, pemberian pitocin atau prostaglandin
B. Etiologi (Penyebab) Persalinan
Yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui dengan jelas, tetapi banyak
fakta yang memegang peranan dan bekerja sama sehingga terjadi persalinan. Mulanya berupa
kombinasi dari faktor hormon dan faktor mekanis.
Beberapa teori yang dikemukakan ialah :
1. Teori penurunan kadar progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim sedangkan estrogen meninggikan
kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar
progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron
menurun sehingga timbul his.
2. Teori oxytocin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah, oleh karena itu, timbul kontraksi otototot rahim.
3. Keregangan otot-otot rahim
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang karena
isinya maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan tinja. Demikian pula dengan rahim,
maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot rahim sehingga otot-otot
makin rentan.
4. Pengaruh janin
Hypofisis dan kelanjar suprenal janin ternyata memegang peranan juga, selain itu, di
belakang serviks terletak ganglion servikale. Bila ganglion ini digeser dan ditekan, oleh
kepala janin, maka akan timbul kontraksi uterus
5. Teori prostagladin
Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan prostagladin dari F2 atau E2 yang diberikan
secara intravena dan extra abdominal menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap
umur kehamilan.

Proses Persalinan Normal


Proses persalinan menurut Sarwono Prawirohardjo 2005 terdiri dari 4 kala yaitu ;
1. Kala I atau kala pembukaan
Dimulai dari his persalinan yang pertama sampai pembukaan serviks menjadi lengkap
(10 cm)
2. Kala II atau kala pengeluaran
Dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi
3. Kala III atau kala uri
Dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta
4. Kala IV atau kala pengawasan
Dimulai setelah placenta lahir dean berakhir 2 jam setelah selesai kala III persalinan
Kala I (kala pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah (bloody show), karena serviks
mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effecement) kala I dibagi dalam 2 fase yaitu :
a. fase laten
berlangsung dalam 7-8 jam pembukaan berlangsung lambat pembukaan 3 cm.
b. Fase aktif
Berlangsung dalam 6 jam dan dibagi menjadi 3 fase :
1) Fase akselerasi
Dalam waktu 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm
2) Fase dilatasi maksimal
Dalam waktu 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm
3) Fase deselerasi
Dalam waktu 2 jam, pembukaan berlangsung lambat menjadi 10 cm atau lengkap
( Sarwono Prawirohardjp, 2005).
Kala II (kala pengeluaran)
Pada kala pengeluaran janin, his menjadi kuat dan lebih cepat kira-kira 2-3 menit sekali,
karena kepala janin sudah masuk keruang panggaul, sehingga pada his dirasakan tekanan
pada otot-otot dasar panggul yang secara reflekstoris menimbulkan rasa mengedan.

Karena ada tekanan pada rektum, ibu juga merasa ingin buang air besar (BAB) dengan tanda
anus terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan dalam vulva yang membuka dan
perineum meregang. Dengan his dan kekuatan mengedan yang terpimpin, maka lahirlah
kepala yang diikuti oleh seluruh badan janin. Pada primigravida, kala II berlangsung rata-rata
1,5 2 jam dan pada multigravida - 1 jam.
Kala III (kala pengeluaran uri)
Setelah bayi lahir, uterus keras dengan fundus uteri setinggi pusat. Beberapa saat kemudian,
uterus berkontraksi lagi untuk pelepasan dan pengeluaran uri. Seluruh proses biasanya
berlangsung 20-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran placenta disertai dengan
pengeluaran darah.
Kala IV (kala pengawasan)
Merupakan kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi dan uri lahir. Kala IV sangat
bermanfaat karena berguna untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya
perdarahan postpartum.
C. Gejala (Tanda-tanda Persalinan)
1. Tanda-tanda permulaan terjadinya persalinan
a. Turunnya kepala masuk pintu atas panggul pada primigravida minggu ke- 36.
b. Timbul perasaan sesak dibagian bawah, di atas simpisis pubis dan sering-sering ingin
kencing atau susah kencing (oliguria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian
terbawah janin.
c. Parut kelihatan lebih melebar karena fundus uteri turun.
d. Terjadinya perasaan sakit di daerah perut dan pinggang karena kontraksi ringan otot
rahim dan tertekannya fleksus yang terletak disekitar serviks (tanda persalinan palsu
fase labour).
e. Terjadinya perlukaan serviks yang mulai mendatar dan sekresinya bila bertambah
bercampur darah (bloody show).

2. Tanda-tanda inpartu
a. Rasa sakit karena adanya his yang menjadi lebih kuat, sering teratur.
b. Pengeluaran lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena
robekan-robekan kecil pada serviks.
c. Dapat disertai pecahnya ketuban dengan sendirinya.
d. Pada pemeriksaan dalam serviks mengalami perubahan dengan terjadi perlukaan
serviks, pendataran serviks, pembukaan serviks.
Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah :
1. Kekuatan mendorong keluar/power
Power dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Kekuatan primer
Kontraksi uterus involunter yang memadai dari menandai dimulainya persalinan
(his)
His ada 2 yaitu :
1) His pendahuluan/his palsu
Merupakan peningkatan dari kontraksi dari Braxton hicks
2) His persalinan
Merupakan his yang bersifat nyeri yang mungkin disebabkan oleh anoxia dari
sel-sel otot-otot saat kontraksi, tekanan pada ganglia dalam cerviks dan
segmen bawah rahim oleh serabut-serabut otot yang berkontraksi, cerviks
yang meregang lurus atau regangan dan tarikan ada peritoneum saat kontraksi,
kontraksi rahim bersifat berkala dan yang diperhatikan dalam his adalah:
a) Lamanya kontraksi
Kontraksi berlangsung 45 detik sampai 75 detik
b) Kekuatan kontraksi
Menimbulkan naiknya tekanan intrauterin sampai 35 mmHg kekuatan
kontraksi secara klinis ditentukan dengan mencoba apakah jari kita dapat
menekan dinding rahim ke dalam

c) Interval antara dua kontraksi


Pada permulaan his timbul sekali dalam 10 menit dan pada kala
pengeluaran sekali dalam 2 menit
Menurut faalnya, his dapat dibagi dalam :
1) His pembukaan
His yang menimbulkan pembukaan dari serviks
2) His pengeluaran
His yang mendorong anak keluar dan biasanya disertai dengan keinginan
mengejan
3) His pelepasan uri
His yang melepaskan uri
(Sarwono Prawirohardjo,2005).
b. Kekuatan sekunder
Apabila serviks berdilatasi, maka dimulai untuk mendorong yang memperbesar
kekuatan kontraksi involunter (tenaga mengejan). Tenaga mengejan merupakan
tenaga yang mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh
kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan
intraabdominal. Tenaga mengejan ini hanya efektif jika pembukaan sudah lengkap
dan paling efektif sewaktu kontraksi rahim.
2. Faktor Janin/Kondisi Janin/Passenger
Janin bergerak disepanjang lahir merupakan akibat interalis beberapa faktor yaitu
ukuran kepala janin, persentasi, letak, sikap, posisi janin.
3. Faktor Jalan Lahir
Pada waktu partus akan terjadi perubahan-perubahan pada uterus, serviks, vagina dari
dasar panggul.

D. Penatalaksanaan
1. Kala I
Pengkajian awal
a. Lihat
1) Tanda-tanda perdarahan, mekoneum atau bagian organ yang lahir
2) Warna kulit ibu yang kuning dan kepucatan
b. Tanya
1) Kapan tanggal perkiraan kelahiran
2) Menentukan ibu sudah waktunya melahirkan atau belum
c. Periksa
1) Tanda-tanda penting untuk hipertensi
2) Detak jantung janin untuk bradikardi
Penanganan kala I menurut Sarwono Parwirohardjo 2005
a. Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga
pasien/teman dekat.
Dukungan yang diberikan:
1) Mengusap keringat
2) Menemani jalan-jalan (mobilisasi)
3) Memberikan minum
4) Merubah posisi
5) Memijat/menggosok pinggang
b. Mengatur aktivitas dan posisi ibu
1) Ibu boleh melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya
2) Posisi sesuai dengan keinginan ibu tapi tidak dianjurkan posisi tidur terlentang
c. Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his
Ibu diminta menarik nafas panjang, tahan nafas sebentar kemudian dilepaskan dengan
cara meniup sewaktu his
d. Menjaga privasi ibu
Menggunakan penutup/tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan
seizin pasien.

e. Penjelasan tentang kemajuan persalinan


Menjelaskan perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu, serta prosedur yang akan
dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan
f. Menjaga kebersihan diri
Membolehkan ibu untuk mandi, menganjurkan ibu untuk basuh sekitar kemaluannya
setelah BAB dan BAK
g. Mengetahui rasa panas
1) Menggunakan kipas angin/AC dalam kamar
2) Menggunakan kipas biasa
3) Menganjurkan ibu untuk mandi
h. Massase
Jika ibu suka, lakukan massase pada pinggang atau mengusap perut dengan lembut
i. Pemberian cukup minum
Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi
j. Mempertahankan kandung kemih
Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin
k. Sentuhan
Disesuaikan dengan keinginan ibu, memberikan sentuhan pada salah satu bagian
tubuh yang bertujuan untuk menguraikan rasa kesendirian ibu selama proses
persalinan.
2. Kala II
Selama kala II, petugas kesehatan harus terus memantau :
a. Tenaga atau usaha mengedan dan kontraksi uterus
b. Janin yang penurunan presentasinya dan kembali normal detak jantung bayi setelah
kontraksi
c. Kondisi ibu
Penanganan kala II menurut Sarwono Prawirohardjo 2005
a. Memberikan dukungan terus menerus
1) Mendampingi ibu agar merasa nyaman oleh keluarga
2) Menawarkan minum, mengipasi dan memijat

b. Menjaga kebersihan diri


1) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi
2) Bila ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan
c. Mengipasi dan massase
Menambah kenyamanan bagi ibu
d. Memberikan dukungan mental
Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu, dengan cara :
1) Menjaga privasi ibu
2) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan
3) Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu
e. Mengatur posisi ibu
Dalam memimpin mengedan dapat dilihat posisi sebagai berikut :
1) Jongkok
2) Menungging
3) Tidur miring
4) Setengah duduk
Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan,
kurangnya trauma vagina dan perineum, dan infeksi
f. Menjaga kandung kemih tetap kososng
Anjurkan ibu untuk BAK sesering mungkin, kandung kemih yang penuh dapat
menghalangi turunnya kepala dalam rongga panggul
g. Memberikan cukup minum
Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi
h. Memimpin mengedan
Pemimpin ibu mengedan selama his, anjurkan pada ibu untuk mengambil nafas
i. Bernafas selama persalinan
Meminta ibu bernafas lagi selagi kontraksi ketika kepala akan lahir, untuk menjaga
agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala dan mencegah
robekan.

j. Pemantauan DJJ
Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami
brakikardi (< 120). Selama mengedan yang lama, akan terjadi pengurangan aliran
darah yang mengandung oksigen ke janin
k. Melahirkan bayi
1) Menolong kelahiran kepala
2) Periksa tali pusat
3) Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya
l. Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh
Setelah bayi lahir, segera dikeringkan dan diselimuti dengan menggunakan handuk
atau sejenisnya, letakkan pada perut ibu dan berikan bayi untuk disusui
m. Merangsang bayi
1) Biasakan dengan melakukan pengeringan, cukup memberikan bayi rangsangan
2) Dilakukan dengan cara mengusap-usap pada bagian punggung atau menepuk
telapak kaki bayi.
3.

Kala III

Pengkajian awal menurut Sarwono Prawirohardjo 2005


a. Palpasi uterus menentukan apakah ada bayi yang kedua, jika ada, tunggu sampai bayi
kedua lahir
b. Menilai apakah BBL dalam keadaan stabil, jika tidak bayi segera dirawat
Penanganan kala III
a. Jepit dan gunting tali pusat sedini mungkin
Dengan menjepit tali pusat sedini mungkin akan memulai pelepasan plasenta
b. Memberi oksitosin
Oksitosin merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta
:
1) Oksitosin 10 U IM yang diberikan ketika kelahiran bahu depan bayi jika petugas
lebih dari satu dan pasti hanya ada bayi tunggal

2) Oksitosin 10 U IM diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran jika hanya satu


orang petugas dan hanya ada bayi tunggal
3) Oksitosin 10 U IM dapat diulangi/diberi lagi 15 menit jika belum lahir
4) Jika oksitosin tidak tersedia, lakukan dengan rangsangan puting payudara ibu atau
berikan ASI pada bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah.
c. Melakukan peregangan tali pusat terkendali atau PTT (Controlled Cord Traction)
PTT mempercepat kelahiran plasenta, begitu sudah terlepas :
1) Satu tangan diletakkan pada corpus uteri tepat di atas simpisis pubis. Selama
kontraksi, tangan mendorong uteri dengan gerakan dorsokranial ke arah belakang
dan ke arah kepala ibu
2) Tangan yang satu meregang tali pusat dekat pembukaan vagina dan melakukan
tarikan tali pusat yang terus-menerus dalam tegangan yang sama dengan tangan
ke uterus selama kontraksi
3) Saat mulai berkontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat menjulur) tegangkan
tali pusat ke arah bawah,lakukan tekanan dorso-kranial hingga tali pusat makin
menjulur dan korpus uteri bergerak keatas yang menandakan plasenta telah lepas
dan dapat dilahirkan.
PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Tangan pada uterus merasakan
kontraksi, ibu dapat juga memberitahu petugas ketika ia merasakan kontraksi.
d. Massase fundus
Segera setelah placenta dan selaputnya dilahirkan, massase fundus agar menimbulkan
kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan
post partum
4. Kala IV
Penanganan kala IV menurut Sarwono Prawirohardjo 2005
a. Ikat tali pusat
Jika petugas sendirian dan sedang melakukan management aktif kala III, tali pusat
diklem, lalu digunting dan memberkan oksitosin segera setelah plasenta dan
selaputnya lahir, lakukan massase fundus agar berkontraksi, baru tali pusat diikat dan
klem dilepas.

b. Pemeriksaan fundus dan massase


Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam
kedua
c. Nutrisi dan hidrasi
Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi, tawarkan ibu makan-makanan
dan minuman yang disukai
d. Bersihkan ibu
Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering
e. Istirahat
Biarkan ibu beristirahat karena telah bekerja keras melahirkan bayinya. Bantu ibu
pada posisi yang nyaman
f. Peningkatan hubungan ibu dan bayi
Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu bayi, sebagai
permulaan dengan menyusui bayinya
g. Memulai menyusui
Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. Hal ini sangat tepat untuk memulai
memberikan ASI, menyusui juga membantu uterus berkontraksi
h. Menolong ibu ke kamar mandi
Ibu boleh bangun ke kamar mandi, pastikan ibu dibantu dan selamat karena ibu masih
dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan. Pastikan ibu sudah BAK dalam
3 jam post partum
i. Mengajari ibu dan anggota keluarga
Ajari ibu atau anggota keluarga tentang :
1) Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi
2) Tanda tanda bahaya bagi ibu dan bayi