Anda di halaman 1dari 10

Tugas Kelompok

Ekonomi Zakat Dan Wakaf

Oleh :
Diah Fithrah H
Juwita Lukitasari
Retno Novita S
Azizah
Elfira Maya A
Putri Prima

040914015
040914003
040914012
040914062
040914065
040914101

Ekonomi syariah
Universitas airlangga
1. ZAKAT dan PEMERINTAH
Pemerintah sebenarnya telah mempunyai UU Zakat yaitu UU no. 38 Tahun 1999 Tentang
Pengelolaan Zakat. Namun UU tersebut belum ideal (kurang sesuai dengan ketentuan syariah)
yakni dengan adanya dualisme pengelola zakat, yaitu pemerintah (BAZ), dan masyarakat (LAZ)
dalam pasal 6 dan pasal 7 UU 38 Tahun 1999 dan penerapan sistem zakat ini belum maksimal
diterapkan karena tidak memungkinkan dilakukannya penerapan Islam yang menyeluruh
(kaffah) di masyarakat Indonesia karena terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama.

2. HUBUNGAN PEMERINTAH dengan ZAKAT


Terdapat 2 peran pemerintah yang menerapkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara dalam pengelolaan zakat yaitu sebagai pelaksana dalam pengelolaan zakat, baik
dalam pemungutan, pengumpulan dan pembagian zakat, dan juga sebagai pemberi sanksi bagi
mereka yang enggan melaksanakan zakat. Namun pemerintah di Indonesia belum berperan
sebagai pemberi sanksi bagi mereka yang enggan melaksanakan zakat.
3. HAKIKAT ZAKAT dan PAJAK
Menurut definisi ahli keuangan, pajak ialah kewajiban yang ditetapkan terhadap wajib
pajak yang harus disetorkan kepada Negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapatkan
prestasi terhadap Negara, dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum dan
fasilitas publik serta untuk merealisir sebagian tujuan ekonomi, social, politik, dan tujuan
lainnya yang nantinya akan dicapai oleh negara.
Zakat dari segi terminologi artinya tumbuh, berkembang, menyucikan/membersihkan.
Pengertian zakat sendiri adalah sejumlah harta tertentu yang sesuai dengan ketentuan nisab dan
haulnya, yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam yang mampu (muzakki) dan
diberikan kepada golongan yang berhak menerima (mustahiq). Zakat merupakan ibadah yang
memiliki dua dimensi, yaitu dimensi vertikal (hubungan antara allah dan makhluk) dan
hubungan horizontal (hubungan sesama makhluk).
Pajak dan zakat merupakan kewajiban mengenai harta yang harus dibayarkan kepada
lembaga yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Zakat memiliki syarat
tertentu yaitu nisab dan haul serta hanya dibayarkan dan diterima oleh orang-orang tertentu saja
sedangkan pajak dibayar oleh seluruh masyarakat wajib pajak.
4. PERSAMAAN antara ZAKAT dan PAJAK
Dari kedua definisi tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan antara pajak dan zakat.
Persamaan tersebut meliputi:
a) Unsur paksaan dan kewajiban yang merupakan cara untuk menghasilkan pajak dan juga
terdapat dalam zakat. Apabila seorang muslim terlambat membayar zakat, karena
keimanan dan keIslamannya belum kuat, disinilah pemerintah Islam akan memaksanya
bahkan memerangi mereka yang enggan membayar zakat.

b) Apabila pajak harus disetorkan kepada lembaga masyarakat, pusat maupun daerah, maka
zakat pun demikian karena pada dasarnya zakat itu harus diserahkan pada pemerintah
sebagai badan yang disebut amil zakat.
c) Diantara ketentuan pajak ialah tidak adanya imbalan tertentu. Para wajib pajak
menyerahkan pajaknya selaku anggota masyarakat. Ia hanya memperoleh berbagai
fasilitas untuk dapat melangsungkan kegiatan usahanya. Zakat juga tidak menjanjikan
imbalan materi di dunia.
d) Sama-sama bertujuan menyelesaikan permasalahan ekonomi dan mengentaskan
kemiskinan. Pajak pada zaman modern ini mempunyai tujuan pemasyarakatan, ekonomi
dan politik disamping tujuan keamanan. Menurut Yusuf Qardhawi zakat mempunyai 3
tujuan, yaitu dari pihak wajib zakat (muzakki), pihak penerima zakat (mustahiq), dan
dari kepentingan sosial.
Bagi muzakki tujuan zakat antara lain:
Mensucikan diri dari sifat kikir, rakus, egoistis, Melatih jiwa untuk bersikap

terpuji dan menumbuhkan kasih sayang pada sesama


Menumbuhkembangkan harta sehingga memberikan

keberkahan

bagi

pemiliknya.
Bagi mustahiq tujuan zakat antara lain:
Untuk memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan primer dan tersucikan hati
dari rasa dengki dan kebencian yang sering menyelimuti hati melihat orang kaya
yang bakhil.
Bagi kepentingan kehidupan sosial tujuan zakat antara lain:

Zakat bernilai ekonomis, merealisasikan fungsi harta sebagai alat perjuangan


untuk menegakkan agama Allah dan mewujudkan keadilan social ekonomi
masyarakat pada umumnya.

Dalam sebuh buku yang berjudul Pajak itu Zakat diterangkan bahwa pajak itu
adalah zakat dan mempunyai ketentuan yang sama dengan zakat.
5. PERBEDAAN antara ZAKAT dan PAJAK
a) Dari segi nama dan etikatnya
Zakat menurut bahasa berarti suci, tumbuh, dan berkah. Bila dikatakan zakat nafsuh
artinya jiwanya bersih. Zakaz-zaruh artinya tanaman itu tumbuh. Zakatil-buqkh

artinya tanah itu berkah. Syariat Islam memilih kata tersebut atau zakat untuk
mengungkapkan arti dari bagian harta yang wajib dikeluarkan untuk fakir miskin dan
para mustahiqnya. Kata tersebut memiliki gambaran yang indah dalam jiwa.
Berbeda dengan gambaran kata pajak, sebab kata pajak diambil dari kata dharaba yang
artinya utang atau upeti yaitu sesuatu yang mesti dibayar, sesuatu yang menjadi beban.
b) Mengenai hakikat dan tujuannya
Segi perbedaan anatara zakat dan pajak ialah bahwa zakat itu ibadah yang diwajibkan
kepada orang muslim sebagai tanda syukur kepada Allah SWT dan mendekatkan diri
kepada-Nya.
Sedangkan pajak adalah kewajiban dari Negara semata-mata yang tak ada hubungannya
dengan ibadah dan pendekatan diri. Oleh karenanya, untuk menunaikan zakat agar
diterima Allah SWT disyaratkan niat. Kemudian zakat karena bersifat ibadah, syiar
agama, dan rukun Islam maka tidak diwajibkan kecuali kepada kaum Muslim.
Sedangkan pajak yang diwajibkan kepada semua orang tanpa terkecuali.
c) Mengenai batas nisab dan ketentuan
Zakat adalah hak yang ditentukan oleh Allah sebagai pembuat syariat, Allah-lah yang
menentukan batas nisab bagi setiap macam benda dan membebaskan kewajiban itu
kepada harta yang kurang dari senisab. Allah juga memberikan ketentuan zakat itu dari
1/5, 1/10, sampai 1/40. Tidak ada yang boleh merubah dan mengganti apa yang telah
ditentukan oleh syariah.
Berbeda dengan pajak yang bergantung pada kebijaksanaan dan kekuatan penguasa baik
mengenai objek, persentase, harga, dan ketentuannya. Bahkan ditetapkan atau
dihapuskannya pajak bergantung pada penguasa.
Selain itu, ketentuan zakat lebih terikat dan rinci. Baik mengenai obyek zakat maupun
penerima zakat.
d) Sasaran Zakat dan Pajak :
a. Yang berhak menerima zakat sesuai QS At-Taubah ayat 60 ada 8 ashnaf, yaitu:
Fakir, Miskin, Amil, Muallaf, Hamba Sahaya, Gharim, Fi Sabilillah, dan Musafir.
b. Alokasi pendapatan negara dari sektor pajak adalah untuk pengeluaran/belanja
pembangunan dan rutin seperti gaji pegawai, belanja barang, bayar bunga utang,
subsidi, dan biaya rutin lainnya.

Dari sasaran yang berbeda di atas jelaslah bahwa zakat tidak bisa digunakan atau bahkan
diniatkan sebagai pembayaran pajak. Dengan melihat sebagian besar penerima zakat
adalah golongan masyarakat yang tidak mampu, sungguh tidak berkaitan, bila kemudian
dikaitkan dengan pajak yang sasarannya lebih makro, misalnya pembangunan jalan,
subsidi BBM/Non BBM yang kenyataannya lebih banyak dinikmati orang-orang kaya,
atau untuk membayar bunga utang luar negeri yang sebagian besar uangnya mengucur ke
kantong para konglomerat. Dengan demikian zakat tidak bisa diniatkan atau diperlakukan
sebagai pajak mengingat sasaran penggunaannya yang berbeda.

6. PEMBAYARAN ZAKAT dan PAJAK


Secara umum zakat merupakan pengurang penghasilan kena pajak. Zakat atas penghasilan
yang secara riil dibayarkan kepada badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan
oleh pemerintah dapat dikurangkan atas penghasilan kena pajak dalam perhitungan pajak
penghasilan orang pribadi maupun lembaga dan badan-badan usaha, dan zakat bukan
merupakan objek pajak bagi si penerima zakat. Zakat yang telah dibayarkan kepada BAZ atau
LAZ akan dikurangkan terhadap laba/pendapatan sisa kena pajak atau juga dapat dikurangkan
atas penghasilan netto dari wajib pajak yang bersangkutan.
Zakat hanya harus dibayarkan oleh muzakki yang hartanya telah memenuhi nisab dan haul
sedangkan pajak harus dibayarkan oleh masyarakat yang merupakan wajib pajak tanpa melihat
dan memandang orang kaya ataupun miskin.
Pajak yang telah diwajibkan menurut Undang-Undang wajib ditunaikan selama itu untuk
kepentingan pembangunan berbagai sektor dan sektor kehidupan yang berhubungan denagn
kepentingan orang banyak.
7. AZAS TEORI WAJIB PAJAK dan ZAKAT
Yang memperjelas syariat zakat ialah teori yang dikemukakan oleh para ahli keuangan
yang pada umumnya mengenai penetapan pajak konvensional dan azas wajib pajak menurut
hukum. Dari perbandingan tersebut semakin jelas bahwa zakat itu sebagai kewajiban dari Allah
SWT dan sebagai pajak suci yang mempunyai cirri-ciri keistimewaan dan falsafah tersendiri.
a) Azas Hukum mengenai wajib pajak
Teori Perjanjian : pada abad ke-19 para filsuf berpendapat bahwa pajak diwajibkan atas
dasar hubungan timbale balik Negara dengan masyarakat. Para pendukung teori ini

memandang bahwa pajak itu dibayar sebagai imbalan jasa yang diperoleh oleh pemilik
harta berupa perlindungan

atas segala kepentingan umum, dengan mewajibkan

mengadakan perjanjian perlindungan wajib antara Negara dengan warganya. Para


pendukung teori timbal balik mengenai perjanjian alamiah yang kokoh antara Negara
dengan pembayar pajak mengemukakan beberapa aliran. Mirabau berkata: pajak adalah
pembayaran dimuka yang dilakukan oleh seseorang terhadap perlindungan sekelompok

manusia. Ini berarti bahwa perjanjian itu berbentuk akad jual beli.
Teori Kedaulatan Negara : teori ini mempunyai pandangan bahwa Negara melakukan
fungsinya untuk melayani kebutuhan masyarakat tidak untruk kepentingan pribadi. Oleh
karena itu, kepentingan umum didahulukan atas kepentingan pribadi serta perlu menjaga
kepentingan nasional untuk generasi masa kini dan generasi yang akan datang. Untuk
melaksanakan fungsinya tersebut Negara memerlukan pembiayaan, oleh karena itu
Negara ounya hak untuk mewajibkan penduduknya atas dasar kedaulatan menanggung
pembiayaan itu sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing.

b) Azas wajib zakat:


Teori Beban Umum : didasarkan pada hak Allah untuk membebankan kepada

hambanya apa yang dikehendakinya baik kewajiban maupun harta.


Teori Khilafah : bahwa harta itu adalah amanat Allah, azas teori ini bahwa harta itu
semua milik Allah SWT dan manusia sebagai pemegang amanat atas harta itu. Allah-lah
yang menciptakan dan membuat harta tersebut. Adapun pekerjaan manusia ialah
mengelolah sesuatu dengan bahan yang diciptakan Allah SWT untuk manusia. Oleh
karenanya ahli ekonomi berkata, yang disebut produksi adalah membuat manfaat, bukan

membuat suatu bahan.


Teori Pembelaan Antara Pribadi dan Masyarakat: manusia tidak dapat hidup sebagai
manusia kecuali dalam satu masyarakat. Seorang individu tidak dapat hidup tanpa
bantuan masyarakat. Masyarakatlah yang memberikan padanya pengetahuan tentang
seluk-beluk kebudayaannya dan mengajarkan kepadanya warisan sosial seperti bahasa,
adat istiadat, sopan santun, dan sebagainya. Masyarakat mempunyai hak atas harta
individu, yaitu hak yang tidak merampas hak miliknya yang telah ditetapkan baginya.
Hak itu berupa bagian bagian tertentu untuk kepentingan umum. Diantara hak masyarakat
terhadap negaranya yang membimbing, dan mengurus kepentingannya adalah setiap
anggota masyarakat mempunyai kewajiban menyerahkan sebagian hartanya yang akan

digunakan untuk memelihara kelangsungan hidupnya, memberantas segala bentuk


kejahatan dan permusuhan serta segala sesuatu untuk kebaikan masyarakat seluruhnya.
8. OBYEK PAJAK DAN ZAKAT
Obyek zakat adalah kekayaan orang-orang muslim antara lain: emas dan perak (mata
uang), barang-barang perniagaan, hasil tanaman (pertanian maupun perkebunan), hasil
tambang, penghasilan profesi (gaji, upah dan honorarium), dan seluruh harta yang dapat
diambil manfaat maupun hasilnya.
Obyek pajak menurut UU perpajakan RI nomor 7 tahun 1983, bab II, pasal 4, ayat I
adalah penghasilan yaitu; setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh wajib pajak; baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri yang dapat
dipakai

untuk

konsumsi

atau

untuk

menambah

kekayaan

wajib

pajak

yang

bersangkutan,dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk di dalamnya.


9. PRINSIP KEADILAN ANTARA ZAKAT DAN PAJAK
Prinsip keadilan antara pajak dan zakat antara lain:
a) Keadilan
1) Sama rata dalam kewajiban pajak
2) Membebaskan harta yang kurang dari nisab
3) Larangan berzakat dua kali
4) Besar zakat sebanding dengan besar tenaga yang dikeluarkan
5) Memperhatikan kondisi dalam pembayaran pajak
6) Keadilan dalam praktik
b) Kepastian, maksudnya adalah pajak hendaklah ditetapkan kepada para subjek pajak
dengan cara yang pasti, tidak tersembunyi, baik mengenai waktu, tata cara, jumlah
setoran, hendaknya terang dan jelas bagi subjek pajak dan bagi siapa pun. Kepatian
ini sangat erat hubungannya dengan kestabilan pajak. Apabila sumber pajak telah
biasa menyerahkan pembayaran pajak tertentu, maka ia pun merasakan adanya
kepastian dalam persoalannya.
c) Kelayakan, maksudnya adalah menjaga perasaan para wajib pajak dan berlaku sopan
terhadap mereka, sehingga dengan sukarela mereka akan menyerahkan pajak itu
tanpa ada rasa ragu dan terpaksa karena suatu perlakuan yang kurang baik.
d) Ekonomis, maksudnya adalah ekonomis dalam biaya pemungutan pajak dan
menjauhi berbagai pemborosan.
10. JAMINAN PAJAK DAN ZAKAT
Jaminan Pembayaran Pajak
Jaminan pembayaran pajak ditujukan untuk memberantas usaha melepaskan diri dari
pajak, meski masih banyak kelemahan dalam memberantas keengganan pajak. Mengenai

harta tertentu yang mungkin disembunyikan dan untuk mengatasi itu semua harus
disertai dengan perbaikan jiwa dan segi undang-undang untuk mempertegas jaminan
pajak. Jaminan pajak dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti memberi
keleluasaan kepada pembayar pajak tentang bukti administrasi, menugaskan pemilik
harta untuk menyampaikan laporan tentang hartanya yang terkena wajib pajak dengan
membawa bukti, memberi hadiah kepada orang yang menyampaikan informasi tentang
subyek pajak yang memebri laporan tidak benar, memotong pajak dari penghasilan
sebelum sampai ke tangan pegawai yang menerimanya, dikenakan denda dan hukuman
atas mereka yang menghindari pajak, dan menetapkan hak istimewa pada kas negara
mengenai harga yang terkena utang pajak.
Jaminan Zakat
Jaminan zakat terutama berkaitan dengan agama dan akhlak. Zakat sebagaimana kita
ketahui memiliki dua keterkaitan, yaitu hablumminallah dan hablumminannas. Akhalak
Islam dalam jiwa seorang muslim merupakan jaminan yang paling kuat untuk
menunaikan zakat menurut semestinya, sehingga ia selalu mencari keridhoan Allah dan
sennag membelankakan hartanya di jalan Allah untuk mendapatkan kebahagian
kehidupan didunia dan diakhirat.
11. KEWAJIBAN PAJAK DISAMPING ZAKAT
Negara Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari berbagai suku, ras dan
agama meski mayoritas merupakan muslim akan tetapi Indonesia bukanlah Negara Islam
sehingga peraturan hukum Islam tidak dapat diterapkan secara umum dan menyeluruh.
Oleh karena itu pemerintah tetap memungut pajak dari masyarakat meski pembayaran
zakat telah dilakukan, kewajiban pajak disini berfungsi untuk menyelenggarakan
penyediaan dan pemeliharaan fasilitas umum yang pada akhirnya akan dinikmati oleh
masyarakat itu sendiri. Meski pajak hanya merupakan kewajiban yang diatur oleh hukum
dan hanya berhubungan dengan kemasyarakatan tanpa ada hubungan dengan agama dan
ketuhanan namun pembayaran pajak ini menjadi penting sebagai sarana penunjang
keberhasilan pembangunan Negara.
Menurut Yusuf Qardawi, ada lima alasan pembolehan kewajiban pajak disamping
pembayaran zakat yang harus dilaksanakan oleh kaum muslimin, yaitu:
a) Jaminan / solidaritas sosial merupakan suatu kewajiban

Pajak merupakan sumber pembiayaan bagi kebutuhan sosial. Oleh karena itu,
apabila dana zakat tidak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan sosial tersebut,
maka dibolehkan adanya pungutan-pungutan di luar zakat seperti pajak. Bahkan,
menurut Yusuf Qardawi, apabila ada keperluan yang perlu ditanggulangi bersama
pungutan tersebut dibenarkan meskipun akan menghabiskan seluruh harta.
b) Sasaran zakat terbatas, sedangkan pembiayaan negara banyak
Sasaran zakat terbatas pada delapan ashnaf yang telah ditentukan oleh Al-Quran.
Dengan demikian, kas penyimpanan dan penyaluran zakat bersifat khusus dan
berdiri sendiri. Zakat harus digunakan pada sasaran yang ditentukan oleh syariah dan
menempati fungsinya yang utama dalam menegakkan solidaritas sosial. Atas dasar
itu, para fuqaha berpendapat bahwa dana zakat tidak boleh dipergunakan untuk
membangun jembatan, perbaikan jalan, pembangunan sekolah, dan sebagainya. Oleh
karena itu, untuk membiayai kepentingan umum dibolehkan adanya ketentuan pajak
bagi kaum muslim karena adanya sebuah kaidah yang mengatakan sesuatu yang
menjadi syarat bagi yang wajib adalah wajib.
c) Kaidah-kaidah hukum syara
Yusuf Qardawi mengatakan bahwa dalam menetapkan suatu kewajiban atau
menetapkan suatu fatwa, disamping berlandaskan nash-nash dalam Al-Quran dan
hadist, juga dilandaskan kepada kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip umum hukum
syara. Dari kaidah-kaidah tersebut timbul berbagai istilah seperti memelihara
kepentingan umum, menolak bahaya didahulukan atas mafaat dari dua hal yang
sama-sama bermanfaat, memilih salah satu yang bahayanya lebih kecil dari dua hal
atau keadaan yang sama-sama berbahaya.
Dengan menggunakan kaidah-kaidah tersebut, pajak bukan hanya dibolehkan, tetapi
juga diwajibkan pemungutannya untuk merealisasikan kepentingan umat dan negara,
apabila sumber penerimaan lain tidak mencukupi, seperti penerimaan negara dari
sektor minyak dan gas bumi. Apabila negara Islam modern dibiarkan tanpa pajak
untuk membiayainya, maka dapat dipastikan bahwa dalam waktu singkat akan
hilang kemampuannya dan lambat laun akan menjadi lemah, apalagi bila muncul
ancaman militer asing terhadap negara tersebut.
d) Jihad atas harta dan tuntutannya yang besar
Islam telah mewajibkan kepada umatnya untuk berjihad dijalan Allah dengan harta
dan jiwa. Salah satu bentuk jihad dengan harta yang diperintahkan adalah kewajiban

lain diluar zakat. Diantara hak pemerintah dari rakyatnya adlah menentukan bagian
tiap orang yang sanggup memikul beban jihad dengan harga.
e) Kerugian dibalas dengan keuntungan
Seperti halnya seseorang yang memperoleh manfaat dan keuntungan dari
masyarakat dengan berbagai kegiatannya sebagian pelaksana dalam negara, maka sebagai
timbal baliknya, ia wajib menyerahkan sejumlah harta tertentu dari pajak dan kewajiban
sebagai penjabaran daripada prinsip yang telah ditetapkan oleh para ulama, yaitu
kerugian dibalas keuntungan (alghurmu bi al-ghurm).
Sedangkan menurut Didin Hafidhuddin, alasan mengapa kita wajib membayar
pajak disamping zakat antara lain sebagai berikut:
a. Surat al Baqoroh :177 menyebutkan dan memberikan harta yang
dicintainya. Imam Al Qurthubi mengemukakan bahwa para ulama tealh
sepakat ,jika kaum muslimin memiliki berbagai kebutuhan dan keperluan yang
harus ditanggulangi, maka wajib mengeluarkan zakat untuk keperluan tersebut.
b. Perintah Ulil Amriwajib ditaati(an Nisaa:59) selama mereka menyuruh kepada
kebaikan dan kemaslahatan bersama.
c. Tolong menolong antar sesama hukumnya wajib(al Maidah :2)
d. Kaidah-kaidah umum hukum syara.

Daftar Pustaka
Hafidhuddin, Didin.2007. Zakat dalam Perekonomian Modern. Gema Insani Pers: Depok
Masudi, Masdar Farid. 2010. Pajak itu Zakat. Mizan: Bandung
Nuruddin. 2006. Zakat Sebagai Instrumen Dalam kebijakan Fiskal. Raja Grafindo: Jakarta
Qardawi, Y. 1999. Hukum Zakat. Pustaka Litera Antarnusa: Jakarta