Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keadaan masyarakat Indonesia yang beragam sangat dipengaruhi oleh perkembangan
masyarakat dari usia dini.

Pemerintah telah memperhatikan kelangsungan

pekembangan usia dini ini dengan mengoptimalkan berbagai bentuk pengembangan di


usia muda, seperti peningkatan mutu pendidikan, pengembangan pola-pola intelektual,
pola pendidikan moral dan banyak aspek lainnya. Hal ini tentu saja menggembirakan,
meskipun tidak bisa menjadi jaminan bahwa upaya tersebut dapat meningkatkan
kualitas generasi selanjutnya.
Begitu besar perhatian pemerintah kepada generasi muda, dengan harapan akan
membuat bangsa ini menjadi baik. Pemerintah begitu intens memfokuskan
pengembangan dan perbaikan pada anak-anak dan remaja, sesungguhnya melupakan
keberadaan para lansia. Lansia sesungguhnya memiliki hak untuk mendapatkan
apresiasi yang sama dengan usia produktif lainnya. Meskipun telah ada undang-undang
yang difokuskan pada lansia yaitu UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut
Usia, tetap saja para lansia ini menjadi hal yang terabaikan.
Lansia sering dianggap sebagai golongan yang lemah, tetapi sesungguhnya lansia
memiliki peran yang berarti bagi masyarakat. Lansia memiliki penalaran moral yang
bagus untuk generasi dibawahnya. Lansia memiliki semacam gairah yang tinggi karena
secara alami, manusia akan cenderung memanfaatkan masa-masa akhirnya secara
optimal untuk melakukan pewarisan nilai dan norma. Hal ini justru mempermudah kita
untuk membina moral anak-anak.
Namun sebelum kita merasakan keberadaan lansia yang sebenarnya dapat membantu
pembelajaran moral ini, kita senantiasa menganggap bahwa lansia adalah simbol yang
merepotkan dan kurang kontribusi. Hal ini dikarenakan kita sendiri kurang
mengapresiasi para lansia tersebut, sehingga tidak jarang para lansia itu terlantar
meskipun mempunyai keluarga. Banyak keluarga yang karena kesibukannya terkesan
melalaikan orang tua dan memasukkannya ke panti jompo (Hardin and Hudson, 2005).

Masa lanjut usia adalah masa dimana individu dapat merasakan kesatuan, integritas,
dan refleksi dari kehidupannya. Jika tidak, ini akan menimbulkan ketimpangan dan
bahkan dapat mengakibatkan patologis, semacam penyakit kejiwaan (Latifah, 2010).
Jika ini terjadi maka keadaan masyarakat juga terganggu, dimana lansia sebagai
penguat transformator nilai dan norma berkurang, baik secara kualitas dan kuantitas.
Banyak contoh yang terjadi dimasyarakat kita, dimana lansia berlaku yang kurang
sopan atau bahkan kurang beradab sehingga secara tidak langsung akan mengganggu
ketentraman kehidupan bermasyarakat. Lansia di Indonesia, menurut Depkomindo
2010, pada tahun 2008 berjumlah 23 juta orang, sedangkan lansia yang terlantar
mencapai 1,7 juta sampai 2 juta orang.
Dari berbagai kejadian yang ada, kita harusnya sadar bahwa sudah saatnya kita
mengapresiasi para lansia dengan bersikap adil, yang tidak dapat disamakan dengan
perlakuan kita terhadap anak-anak dan para remaja. Kita seharusnya mempunyai
mekanisme untuk memberdayakan lansia sesuai dengan umur mereka, membantunya
melalui tahap perkembangan, dan menyertakannya dalam proses transformasi
pendidikan moral. Dengan demikian mereka tidak merasa terabaikan.
Seiring dengan meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah berusaha merumuskan
berbagai kebijakan untuk usia lanjut tersebut, terutamanya pelayanan dibidang
kesehatan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan
lansia untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.
Wujud dari usaha pemerintah ini adalah dicanangkannya pelayanan bagi lansia melalui
beberapa jenjang yaitu pelayanan kesehatan ditingkat masyarakat adalah Posyandu
Lansia. Pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan
tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.
Dengan demikian, posyandu lansia sangat kita perlukan, dimana posyandu lansia ini
dapat membantu lansia sesuai dengan kebutuhannya dan pada lingkungan yang tepat,
sehingga para lansia tidak merasa lagi terabaikan didalam masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Lanjut Usia (Lansia)
Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, pengertian
lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Keadaan ini dibagi menjadi dua, yaitu Lanjut Usia Potensial dan Lanjut Usia Tidak
Potensial. Lanjut Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan
pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/ jasa, sedangkan
Lanjut Usia Tidak Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
Sedangkan WHO menggolongkan lanjut usia menjadi empat, yaitu
a.
b.
c.
d.

Usia Pertengahan (middle age) : umur 45-59 tahun


Lanjut Usia (elderly) : umur 60-74 tahun
Lanjut Usia Tua (old) : umur 75-90 tahun
Usia Sangat Tua (very old) : umur diatas 90 tahun
Departemen Kesehatan RI menggolongkan lanjut usia menjadi tiga kelompok, yaitu
a. Kelompok Lansia Dini (55-64 tahun), merupakan kelompok yang baru
memasuki lansia
b. Kelompok Lansia (65 tahun ke atas)
c. Kelompok Lansia resiko tinggi yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun
Lansia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan
batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu : aspek biologis, aspek
ekonomi dan aspek sosial (Wijayanti, 2008).
Secara biologis, penduduk yang disebut lansia adalah penduduk yang mengalami
proses penuaan secara terus-menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan
fisik yaitu semakin rentan terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan
kematian. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan dalam struktur sel,
jaringan, serta sistem organ. Secara ekonomi, lansia dipandang sebagai beban dari
pada sebagai sumber daya. Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan masa tua
tidak lagi memberikan manfaat, bahkan ada yang beranggapan bahwa kehidupan
masa tua, seringkali dipersepsikan negatif, sebagai beban keluarga dan masyarakat.
Sedangkan secara sosial, lansia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Dinegara
barat, lansia menempati strata sosial dibawah kaum muda, sedangkan di Indonesia,

lansia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda
(Wijayanti, 2008).
2. Posyandu Lansia
Posyandu Lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut disuatu
wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana
mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan
pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia
yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran
serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam
penyelenggaraannya (Erfandi, 2008).
Posyandu juga merupakan wadah kegiatan berbasis masyarakat untuk bersama-sama
menghimpun seluruh kekuatan dan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan,
memberikan serta memperoleh informasi dan pelayanan sesuai kebutuhan dalam
upaya peningkatan status gizi masyarakat secara umum (Henniwati, 2008).
Menurut Departemen Kesehatan RI (2005), posyandu lansia adalah suatu bentuk
keterpaduan pelayanan kesehatan terhadap lansia ditingkat desa/ kelurahan dalam
masing-masing wilayah kerja puskesmas. Keterpaduan dalam posyandu lansia
berupa keterpaduan pada pelayanan yang dilatar belakangi oleh kriteria lansia yang
memiliki berbagai macam penyakit. Dasar pembentukan posyandu lansia adalah
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama lansia.
B. Tujuan Posyandu Lansia
Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan lansia untuk mencapai masa tua yg bahagia & berdaya
guna dlm kehidupan keluarga dan masyarakat (Matra, 1996)
Tujuan khusus
1.

Meningkatkan kesadaran lansia untuk membina sendiri kesehatannya

2.

Meningkatkan kemampuan & peran serta masy dlm menghayati dan mengatasi
masalah kesehatan lansia secara optimal.

3.

Meningkatkan jangkauan yankes lansia

4.

Meningkatnya jenis dan mutu yankes lansia

Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :


1.

Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga


terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia

2.

Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta


dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat
usia lanjut.

C. Pelaksanaan Sistem Lima Posyandu Lansia


Pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan sistem 5 meja yaitu:
1.

Meja 1: Pendaftaran
Mendaftarkan lansia, kemudian kader mencatat lansia tersebut. Lansia yang sudah
terdaftar di buku register langsung menuju meja selanjutnya.
2.

Meja 2: Kader melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan
darah

3.

Meja 3: Pencatatan (Pengisian Kartu Menuju Sehat)


Kader melakukan pencatatan di KMS lansia meliputi : Indeks Massa Tubuh,
tekanan darah, berat badan, tinggi badan.

4.

Meja 4: Penyuluhan
Penyuluhan kesehatan perorangan berdasarkan KMS dan pemberian makanan
tambahan.

5.

Meja 5: Pelayanan medis


Pelayanan oleh tenaga professional yaitu petugas dari Puskesmas/kesehatan
meliputi kegiatan : pemeriksaan dan pengobatan ringan.

D. Bina Keluarga Lansia (BKL)


1. Bina Keluarga Lansia (BKL)

BKL adalah kelompok kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan


dan keterampilan keluarga yang memiliki lanjut usia dalam pengasuhan, perawatan
dan pemberdayaan lansia agar dapat meningkatkan kesejahteraannya.
2. Tujuan Bina Keluarga Lansia (BKL)
Tujuan Bina Keluarga Lanjut Usia (BKL), untuk meningkatkan kesejahteraan lansia
melalui kepedulian dan peran keluarga dalam mewujudkan lansia yang bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, produktif dan bermanfaat bagi keluarga dan
masyarakat.
3. Sasaran Bina Keluarga Lanjut Usia
a. Sasaran Langsung
Adalah setiap keluarga yang memiliki lansia dan keluarga yang seluruh
anggotanya terdiri dari lanjut usia.
b. Sasaran Tidak Langsung
Perorangan, yaitu pendidik/guru, pemuka agama, pemuka adat, pemimpin
organisasi sosial kemasyarakatan, pemuda, wanita, para ahli dari berbagai bidang
disiplin ilmu yang terkait (dokter, bidan, perawat, psikolog).
4. Manfaat
Manfaat bina keluarga lansia meliputi :
Bagi individu (lansia) sangat bermanfaat bagi kesehatan lansia, pemberdayaan
ekonomi produktif dan masih bisa berbuat kegiatan sosial;
Bagi masyarakat, terlibat partisipasi aktif dalam kelompok lingkungannya di
masyarakat, menjadi konselor/dan panutan di wilayah tempat tinggalnya.
5. Point-point kegiatan dalam BKL :
1. Mengedukasi lansia dan keluarga nya sehingga lansia mampu mandiri
2. Mengedukasi lansia dan keluarga nya sehingga mampu mengerjakan
pekerjaannya yang disesuaikan dengan kondisi lansia sendiri sehingga lansia
tidak mengganggu keluarganya seperti anaknya membimbing lansia untuk ke
kamar mandi sendiri, cara pakai baju sendiri, sehingga lansia memiliki fungsi
yang baik untuk keluarganya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Program BKL merupakan upaya pemberdayaan keluarga agar dapat meningkatkan


kemampuan orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan lansia
secara optimal. Oleh sebab itu kepedulian yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak sangat

menentukan keberhasilan Program BKL. Keberhasilan Program BKL ini diharapkan dapat
meningkatkan kualitas kehidupan lansia di masa tua nya.

Saran
Dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas program Bina Keluarga lansia maka perlu
dilakukan berbagai kegiatan inovatif seperti keterpaduan pelaksanaan program, serta
pengembangan taraf kehidupan dan kreativitas pada lansia.