Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

SISTEM REPRODUKSI
( CARA PERAWATAN BAYI BARU LAHIR )

Di Susun Oleh :
KELOMPOK 9

ANDRI
IWAN FAIZAL
SITI RAHMAH
RITA RAHMAWATI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH SAMARINDA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur Kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa, karena dengan
karuniaNya Kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PERAWATAN BAYI
BARU LAHIR
Dalam penulisan makalah ini, Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam Penulisan makalah ini, Kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang Kami miliki. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat Kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi
kita semua.

Samarinda, 8 April 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa saat pertama kehidupan ekstrauterin adalah waktu yang paling dinamis
dalam seluruh siklus kehidupan. Ketika lahir, bayi baru lahir mengalami perubahan
dari ketergantungan penuh menjadi mandiri secara fisiologus sepanjang masa
transisi- masa yang dimulai ketika bayi keluar dari perut ibu hingga bulan pertama
kehidupan. Walaupun tidak lagi bergantung pada ibu dalam hal fungsi vital, bayi baru
lahir tetap sangat bergantung dalam hal lain.(varney 2009)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai
42 minggu dan berat badan 2500 gram sampai 4000 gram. Asuhan segera pada bayi
baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi pada jam pertama setelah
kelahiran, dilanjutkan sampai 24 jam setelah lahir. Perawatan bayi baru lahir
merupakan tantangan menarik bagi mereka yang bekerja di kebidanan maternal.
(maternitas keperawatan volume 1 2008)
Karena beberapa hari dan beberapa minggu pertama adalah saat yang sangat
kritis, perawatan yang diberikan oleh bidan dan penyuluhan yang di berikan kepada
orang tua menjadi sangat penting. Bidan harus memberikan perawatan seutuhnya saat
merawat bayi baru lahir, dengan menjaga bayi tetap hangat dan melindungi pajanan
cedera,

sambil

melakukan

pemantauan

yang

akurat

dan

mencatat

serta

melaporkannya. Keterampilan komunikasi dan mengajar berperan pada kesejahteraan


bayi baru lahir di masa yang akan datang dengan membantu orang tua membentuk
pemahaman akan kebutuhan bayi baru lahir dan memperoleh kerampilan dalam
perawatan bayi baru lahir.(maternitas keperawatan volume 2 2009)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara Perawataan Selama Masa Transisi?
2. Bagaimana Perawatan segera setelah Bayi Lahir?

3.
4.
5.
6.

Bagaimana Jenis-jenis perawatan bayi baru lahir?


Bagaimana Pengkajian bayi baru lahir?
Bagaimana Tujuan perawatan bayi baru lahir?
Bagaimana perencanaan dan intervensi bayi baru lahir?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara Perawataan Selama Masa Transisi
2. Untuk mengetahui Perawatan segera setelah Bayi Lahir.
3. Untuk mengetahui Jenis-jenis perawatan bayi baru lahir
4. Untuk mengetahui Pengkajian bayi baru lahir.
5. Untuk mengetahui Tujuan perawatan bayi baru lahir.
6. Untuk mengetahui perencanaan dan intervensi bayi baru lahir.
1.4 Manfaat
Hasil penulisan ini di harapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan informasi di
bidang perawatan maternitas tentang asuhan keperawatan pada bayi baru lahir.

BAB II
PEMBAHASAN

a. Perawataan Selama Masa Transisi

Sesaat setelah lahir, perawatan awal diberikan kepada bayi baru lahir. Selama masa
ini, setiap masalah awal diidentifikasi dan dilakukan tindakan untuk mengatasinya.

b. Perawatan segera setelah Bayi Lahir


Penanganan bayi dilakukan sejak kepala mulai keluar dari jalan lahir, yaitu dengan
melakukan pembersihan lendir serta cairan yang berada di sekitar mulut dan hidung dengan
kapas atau kasa steril. Kemudian kelopak matanya dibersihkan dengan kapas atau kasa steril
satu demi satu, dimulai dari dalam ke luar. Sesudah bayi lahir lengkap, saat lahir segera
dicatat dengan jam waktu (stop-watch). Kemudian kedua kaki bayi dipegang dengan satu
tangan, sedangkan tangan yang lain memegang kepala bayi yang lebih rendah daripada kaki
dengan posisinya dalam ekstensi sedikit untuk memungkinkan cairan atau lendir mengalir
keluar dari trakea dan farings. Sementara itu seorang membantu menghisap lendir dan cairan
dengan alat penghisap lendir.
Bayi sehat akan menangis dalam waktu 30 detik; tidak perlu dilakukan apa-apa lagi
oleh karena bayi mulai bernafas dan warna kulitnya kemerah-merahan. Kemudian bayi
diletakkan mendatar kira-kira sama tingginya dengan atau sedikit di bawah introitus vaginae.
Bila mulut bayi masih belum bersih dari cairan dan lendir, pengisapan lendir diteruskan,
mula-mula dari mulut, kemudian dari lubang hidung, supaya jalan nafas bebas dan bayi dapat
bernafas sebaik-baiknya.

B.
1.

JENIS-JENIS PERAWATAN
Ada beberapa jenis perawatan segera pada bayi baru lahir sebagai berikut
Area Perawatan Bayi Baru Lahir
Menyediakan lingkungan yang aman juga mencakup perhatian tentang area dan
perlengkapan yang digunakan dalam perawatan bayi baru lahir. Banyak rumah sakit dan
rumah bidan praktek mandiri menyediakan lebih dari satu lingkungan untuk perawatan bayi
baru lahir. Bayi baru lahir dapat ditempatkan didalam sebuah ruang bayi pusat atau bersama
dengan ruang ibu. Apapun kondisi yang digunakan, perhatian terhadap aspek-aspek
lingkungan perawatan yang aman dan tindakan untuk memastikan keaman bayi baru lahir
adalah sangat penting.

2.

Perawatan Ibu Dan Bayi Baru Lahir

Perhatian terbaru dalam perawatan bayi baru lahir yang berpusat pada keluarga telah
mengarah pada bayi baru lahir sehat yang banyak meluangkan waktu bersama dengan ibu
mereka dan lebih sedikit berada didalam ruang perawatan bayi pusat. Di pusat bersalin
mandiri atau di rumah sakit dengan ruang LDRP, ibu dan bayi baru lahir biasanya tidak
dipisahkan. Ditempat ini, perawatan awal pada bayi baru lahir dilakukan didalam ruang
bersalin dan keluraga dapat pulang dalam beberapa jam setelah bayi lahir. Beberapa rumah
sakit atau bidan praktek mandiri mempergunakan ruang perawatan bayi baru lahir pada saat
masuk keruang bayi, tempat bayi baru lahir mendapatkan perawatan awal dan pengamatan
dalam waktu tertentu dan kemudian masuk keruang ibu sampai pulang. Ini sering kali disebut
dengan rawat gabung. Rawat gabung dapat menjadi pilihan atau keharusan.
Tanpa memerhatikan tempat mereka mendapat perawatan, bayi baru lahir harus
dilindungi dari sumber-sumber infeksi. Prinsip asepsis yang sama yang digunakan diruang
bayi harus dilaksakan bila perawatan bayi baru lahir diberikan diruang ibu rencana perawatan
yang aman pada bayi baru lahir yang rawat gabung bersama ibunya selama masa yang lama
perlu memasukan penyuluhan orang tua mengenai kemungkinan masalah keamanan. Selain
pencegahan infeksi, area lain yang perlu dibahas meliputi penggunaan spuit karet,
memosisikan bayi baru lahir untuk menghindari aspirasi, menaruh bayi baru lahir didalam
tempat tidur bayi dari pda diatas tempat tidur ibu saat bayi tidak digendong dan tidak
meninggalkan bayi baru lahir sendirian didalam ruangan.
3.

Ruang Bayi Pusat


Ruang bayi pusat untuk bayi baru lahir dirancang untuk merawat banyaknya jumlah bayi
baru lahir yang sehat atau normal. Apabila system ini digunakan, bayi baru lahir dibawa ke
ibu mereka pada waktu-waktu tertentu selama waktu menyusui atau waktu kunjungan. Staf
ruang bayi bertanggung jawab untuk sebagian besar perawatan bayi baru lahir. Beberapa tipe
ruang bayi pusat ditemukan disebagian besar dirumah sakit, hanya jika bayi baru lahir
memiliki ibu yang sementara waktu tidak dapat merawat mereka karena belum pulih dari
secsio cecaria atau karena masalah lain. Untuk memastikan perawatan yang aman bagi bayi
baru lahir diruang bayi pusat, rekomendasi tertentu mengenai pencahayaan, perlengkapan
untuk resusitasi darurat, dan jarak antara tempat tidur bayi harus dipenuhi. Fasilitas dan
bahan-bahan untuk mencuci tangan harus siap tersedia. Harus ada staf kebidana atau asisten
dokter kandungan untuk tiap 6-8 bayi (freeman et al., 1992).
Tindakan pencegahan yang sebelumnya telah disebutkan, seperti mencuci tangan,
mengenakan pakaian scrub, dan mematuhi aspek-aspek lain dalam teknik aseptic diruang
anak, memberikan perlindungan tambahan.

4.

Memegang dan memosisikan bayi baru lahir


Walaupun mereka kecil, bayi baru lahir tidak serapuh seperti yang kadang-kadang
terlihat. Mereka harus di tangani dengan lembut, tentu saja, tetapi memegang dengan lembut
dan menatap membantu mereka merasa aman.tidak ada satupun cara yang mutlak benar
dalam membalik, mengangkat, atau memegang bayi baru lahir, tetapi poin-poin berikut harus

a)
b)

diingat:
Kepala dan bokong perlu di sanggah
Bayi baru lahir dapat mengeliat-liat dan dapat mendorong diri mereka sendiri keluar dari

c)

genggaman anda.
Lebih mudah mengambil bayi baru lahir dari posisi terlentang (supine) di bandingkan dari
posisi berbaring miring atau posisi telungkup (prone).
Sebuah cara yang di anjurkan untuk mengangkat bayi baru lahir adalah meletakkan satu
tangan di bawah leher untuk menyangga kepala dan bahu dan tangan lain di letakkan di
bawah bokong untuk memegang paha yang berlawanan. Bayi baru lahir kemudian dapat di
angkat ke posisi di gendong atau di pindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain.
Posisi yang dapat digunakan untuk memegang atau menggendong bayi baru lahir adalah
football hold. Ibu senang belajar mengenai posisi ini karena seperti perawat atau bidan,
mereka sering memiliki waktu saat mereka perlu memegang bayi baru lahir dan satu tangan
tetap dalam keadaan bebas.
Sebuah posisi alternative adalah meletakkan bayi baru lahir dalam posisi terlentang.
Walaupun posisi terlentang tidak memfasilitasi drainase sekresi, studi terbaru menunjukan
bahwa terdapat lebih sedikit bahaya aspirasi jika bayi baru lahir yang sehat tertidur dalam
posisi ini. Memosisikan bayi baru lahir telungkup tidak lagi di anjurkan untuk tidur. Studi
telah mengaitkan posisi tidur telungkup dengan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS:
AAP Task force, 1992).

5.

Mengganti pakaian, Popok, dan Membedong


Kepercayaan diri untuk mengganti dan membuka pakaian bayi baru lahir muncul sering
dengan latihan. Mengganti kemeja atau gaun harus dilakukan dengan lembut. Petunjuk
bantuan bisa berupa membesarkan lubang leher untuk menghindari menarik kain di atas
wajah dan memasukkan jari anda ke lengan baju dari bagian luar saat menarik tangan bayi
agar jari tangan tidak tersangkut.
Mengganti popok cukup mudah dilakukan apabila memakai popok sekali pakai
berperekat. Namun, kekhawatiran mengenai efek kerugian dari popok sekali pakai pada
lingkungan, telah membuat banyak rumah sakit dan orang tua baru menggunakan popok kain.

Popok kain dapat difiksasi dengan peniti atau dengan penutup popok yang memiliki tali
pengikat kancing tempel. Apabila digunakan peniti, peniti harus di tusukkan kearah
punggung bayi baru lahir sehingga bahaya tertusuk peniti jika terbuka lebih kecil bagi bayi
baru lahir. Popok harus dilipat ke depan ke bawah umbilicus untuk memungkinkan sirkulasi
udara ke sekitar kuntung tali pusat, yang membantu proses pengeringan.
Membungkus bayi baru lahir dengan pas di dalam sebuah selimut (membedong)
membuatnya lebih mudah di pegang dan sering kali menenangkan bayi yang rewel.
6.

Mandi dan Higiene


Waktu mandi merupakan kesempatan berharga untuk melakukan pengamatan pada bayi
baru lahir yang dibutuhkan selama periode segera setelah lahir. Seberapa sering mandi
diberikan dan apa bahan-bahan yang digunakan dapat bervariasi antara institusi satu dengan
institusi lain. Karena sebagian besar bayi baru lahir cukup bulan meninggalkan ruang bayi
dalam waktu kurang dari 24 sampai 48 jam, mandi spons awal mungkin merupakan satusatunya mandi yang di dapatkan bayi saat di rumah sakit.
Mandi spons harus diberikan pada bayi baru lahir sampai tali pusat dan sirkumsisi pulih.
Bayi baru lahir dapat dibersihkan secara adekuat dengan metode ini. Ini juga memperkuat
agar tali pusat tidak basah.
Apabila mungkin, orang tua harus memiliki kesempatan untuk mengamati atau
berpartisipasi dalam demonstrasi mandi spons sebelum mereka pulang ke rumah. Apabila
kesempatan mandi yang di saksikan orang tua hanya sekali, bidan dapat menggabungkan
demonstrasi dan demonstrasi ulang dengan terlebih dahulu berdiskusi mengenai mandi
dengan orang tua dan kemudian membiarkan mereka melakukan bagiannya dalam
memandikan, dengan bidan yang akan memberi dorongan moral dan bantuan jika
dibutuhkan.
Prinsip dasar memandikan harus disampaikan kepada orang tua. Namun, mereka tidak
boleh dibuat merasa bahwa ada satu cara memandikan bayi baru lahir. Orang tua membentuk
cara memandikan bayi baru lahir mereka sendiri sesuai dengan kecakapan manual, ukuran,
dan aktivitas bayi baru lahir, serta fasilitas yang tertsedia.
Bidan juga harus mengeksplorasi bersama dengan orang tua mengenai perlengkapan dan
fasilitas apa yang tersedia di rumah dan mengajarkan mereka cara menggunakanya yang
mungkin berbeda dari yang tersedia di rumah sakit. Biasanya kebutuhan dapat terpenuhi
tanpa hambatan atau kesulitan yang berarti. Misalnya, wadah besar atau meja yang dapat
dicuci dan diberi cukup bantalan (dan ketinggiannya nyaman) dapat digunakan sebagai area

mandi. Panci besar atau baskom dapat menjadi ak mandi yang baik di beberapa minggu
pertama; yang harus disimpan hanya untuk bayi baru lahir. Dengan demikian, penheluaran
ekstra untuk perlengkapan khusus dapat diminimalkan. Handuk lembut dan waslap, yang
hanya digunakan oleh bayi baru lahir, dan sebuah sabun lembut juga dibutuhkan,
Beberapa orang tua dan bayi baru lahir menikmati mandi sebagai rutinitas harian, tetapi
orang tua dan bayi baru lahir atau tidak dapat selalu menemukan waktunya. Untuk ini,
bersihkan disekitar wajah, lipatan leher dan area popok dibersihkan sesuai kebutuhan
sehingga mandi dua hari sekali sudah cukup. Mandi spons harus menjadi tipe mandi yang
diberikan sampai kuntung tali pusat terlepas dan umblikus pulih. Setelah ini, bayi baru lahir
dapat diperkenalkan ke mandi rendam secara bertahap. Cara yang baik untuk mulai
memandikan adalah dengan mamandikan atau membasuh wajah dan kepala seperti dalam
mandi spons, menyabuni tubuh, kemudian menggunakan bak mandi untuk membilas.

7.

Perawatan Kulit
Kulit bayi baru lahir sering kali kering dan bersisik dalam beberapa hari setelah lahir.
Kulit kering yang pecah dapat muncul diarea pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
Kadang kala, ini menjadi penyebab kekhwatiran orang tua dan mereka ingin mengoleskan
minyak atau prepat lain pada kulit untuk menghilangkan kekeringan mereka dapat
ditenangkan dengan menjelaskan bahwa kulit bersisik dan pecah-pecah akan menghilang
dalam beberapa hari pertama dan bahwa minyak dan lotion dapat membuat masalah menjadi
lebih buruk karena dapat menyebabkan ruam.
Kulit tipis, lembut, sangat halut dan mudah teriritasi. Karena kulit merupakan lapisan
pelindung, luka dipermukaan kulit dapat menyebabkan infeksi. Luka pada kulit dapat
menjadi ancaman aktual bagi kesehatan bayi yang baru lahir.
Bayi baru lahir biasanya tidak keringat sampai setelah satu bulan pertama. Cuaca atau
pakaian yang berlebihan dapat menyebabkan bayi baru lahir mengalami biang keringat,
suatu ruang dan vesikel yang berukuran sebesar pentul peniti, berkelompok-kelompok secara
rapat, ada diwajah, leher, dan disetiap tempat tersentuhnya permukaan kulit. Pakaian lebih
sedikit dan suhu ruangan lebih rendah dapat membantu meredakan masalah ini.
Kadang kala walaupun perawatan telah baik ruam akibat popok dapat terjadi. Ini biasanya
berupa dermatitis amonia yang disebabkan oleh reaksi bakterial terhadap urean didalam
urine. Pindahkan profilasi yang paling penting adalah menjaga area popok tetap bersih dan

kering. Jelli minyak, sebuah salap pelindung yang lembut, atau salap yang dijual bebas dapat
digunakan untuk melindungi area tersebut. Pasta tidak dianjurkan karena pasta jauh lebih
merekat dibandingkan salap sehingga sulit dibersihkan.
Terapi sederhana yang sering kali efektif dan dapat digunakan baik dirumah sakit atau
pun dirumah adalah memajankan bokong yang kemerahan keudara dan cahaya selama
beberapa kali sehari, dengan hati-hati untuk mempertahankan bagian tubuh bayi yang lain
tetap tertutup.
Bebrapa ibu menemukan bahwa merebus popok merupakan cara efektif karena ini akan
menghancurkan bakteria. Banyak detergen dan conditioner yang digunakan saat ini memiliki
agen anti bakteria didalamnya. Hal ini dapat efektif dalam mencuci popok, walaupun terdapat
bukti bahwa agen cuci non deterjen akan lebih lembut dari kulit bayi baru lahir. Popok harus
dibilas secara menyeluruh karena sisa deterjen atau sabun dapat mengiritasi. Pembersih
popok sangat efektif dalam menstrelisasi popok dan mencegah ruam popok dan merupakan
sebuah solusi yang bagus unruk banyak ibu. Popok sekali pakai juga lebih jarang
menyebabkan ruam popok, tetapi beberapa merek dapat mengandung zat yang menimbulkan
iritasi pada beberapa bayi baru lahir. Gaya penggunaan popok sekali pakai atau pembersih
popok perlu dipertimbangkan saat membuat pilihan.
8.

Perawatan tali pusat


Klem tali pusat dilepaskan jika kuntung tali pusat telah cukup mongering biasanya sekitar
24 jam. Waktu pengerikan yang lebih lama mungkin diperluka pada tali pusat yang dipotong
panjang atau tali pusat yang tebal dan bergelatin. Bergantung perawatan awal pada area,
perawatan umbilicus yang berkelanjutan biasanya terdiri atas membersihkan disekitar taut
antara kuntung tali pusat dengan alcohol setiap penggantian popok untuk mempercepat
pengeringan. Dibeberapa rumah sakit, antibiotic digunakan ketimbang alcohol, tetapi alcohol
tetap direkomendasikan untuk digunakan dirumah sakit. Saat dirumah sakit, ibu harus
diajarkan cara merawat tali pusat sehingga dia akan merasa nyaman dengan prosedur saat dia
kembali pulang ke rumah.
Untuk mempercepat pengeringan tali pusat, bayi baru lahir tidak dimandikan dibak mandi
sampai tali pusat telah terpisah dan umbilicus telah pulih. Balitan pada tali pusat tidak
dibutuhkan karena pajanan keudara akan mempercepat pengeringan tali pusat. Area yang
meradang dan berwarnah merah disekitar kuntung tali pusat atau adanya rabas yang berbau
harus dicatat dilembar laporan dan dilaporkan ke dokter.

Tali pusat biasanya terlepas dari tubuh antara hari kelima dan kedelapan setelah lahir.
Namun, tali pusat mungkin tidak terlepas sampai hari ke empat belas atau lebih. Berhatihatilah untuk mencabut tali pusat sebelum tali pusat terlepas secara kompleks. Apabila tali
pusat telah terlepas, umbilicus harus bebas dari tanda-tanda imflamasi, penggunaan alcohol
secara berkelanjutan disekitar area umbilicus selama beberapa hari dapat membantu menjaga
kebersihan dan kekeringan area sampai penyembuhan sampai komplek. Ibu harus diajarkan
untuk memberitahu dokter jika terjadi imflamasi atau rabas.

C.

PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR


Pengkajian yang akurat penting dilakukan pada bayi baru lahir segera setelah lahir
dan dilanjutkan dengan observasi selama periode kritis. Informasi tentang kondisi dan
respons bayi baru lahir yang didapatkan bidan pada saat ini memberikan nilai data dasar yang
berharga untuk asuhan selanjutnya. Semua pengkajian dan asuhan segera harus
didokumentasikan dengan baik dan dilaporkan kepada orang yang akan memberikan asuhan
kepada bayi baru lahir

1)

Pengkajian Risiko
Pengkajian risiko secara berkelanjutan merupakan aspek penting dalam perawatan bayi
baru lahir. Pengkajian ini memperingatkan profesional kesehatan mengenai kemungkinan
masalah dan memberi mereka waktu untuk mengatasi masalah ini. Metode terencana dalam
pencatatan dan pelaporan informasi faktor risiko untuk masing-masing klien membantu
memastikan bahwa semua informasi disampaikan dari pemberi asuhan kesehatan satu ke
pemberi asuhan kesehatan lain. Format pengkajian risiko yang telah di standardisasi yang
berisi informasi tentang riwayat pranatal dan intrapartum ibu harus dicantumkan dalam
catatan bayi baru lahir untuk meningkatkan kontinuitas asuhan.
Sebagian besar faktor yang menyebabkan ibu diidentifikasi memiliki risiko tinggi juga
memposisikan janin atau bayi baru lahir pada peningkatan risiko. Usia ibu, status
perkawinan, riwayat keluarga, dan riwayat obstetri merupakan faktor umum yang harus

dipertimbangkan. Contoh diberikan mengenai kondisi atau situasi spesifik yang akan
menyadarkan bidan akan perlunya memanggil tim resusitasi khusus atau staf tambahan untuk
membantu resusitasi.
Analgesia atau anestesia yang diberikan kepada ibu selama persalinan kala satu dan dua
dapat menjadi faktor risiko. Seberapa besar medikasi yang telah diberikan dan kapan dapat
memengaruhi respons langsung bayi baru lahir dan respons yang terjadi kemudian. Sebagai
contoh, bayi baru lahir yang ibunya mendapat banyak pengobatan dapat berespons dengan
fungsi yang sangat baik dan nilai Apgar yang optimal saat lahir. Namun, setelah 30 menit
kemudian, bayi ini dapat berada dalam status depresi pernapasan yang sangat membayakan,
membutuhkan asuhan keperawatan tambahan untuk membantu mempertahankan jalan napas
mereka bebas dari lendir.

2)

Sistem Penilaian Apgar


Sistem penilaian Apgar, yang dikembangkan di tahun 1953 oleh Dr. Virginia Apgar,
memberikan indeks untuk untuk pengkajian kondisi bayi saat lahir. Nilai harus ditentukan
pada menit pertama dan kelima setelah kelahiran. Nilai di menit pertama telah terbukti
menjadi nilai yang paling dapat memprediksikan kemampuan bertahan hidup di awal,
sedangkan nilai di menit kelima dapat memberikan prediksi yang lebih baik mengenai
kemampuan bertahan hidup jangka panjang dan kerusakan neurologik (Jepson et al., 1991).
Bidan sering kali melakukan pengkajian karena penilaian harus dilakukan oleh orang lain
selain penolong persalinan. Semua bidan yang bertanggungjawab dalam perawatan bayi baru
lahir harus menguasai metode Apgar dalam pengkajian bayi baru lahir. Metode ini
memberikan cara yang sederhana, akurat, dan aman dalam menilai kondisi bayi baru lahir
secara cepat.

D. TUJUAN PERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR


1.

Menetapakan Tujuan untuk Perawatan Segera


Sebelum setiap pengkajian atau intervensi yang aktual dilakukan, perawat harus
memikirkan tujuan tertentu yang akan bermanfaat untuk membantu bayi baru lahir selama
transisi dari kehidupan intrauteri ke ekstrauteri. Cara pencapaian tujuan bervariasi. Hal
tersebut bergantung pada lingkungan, kebijakan lembaga, harapan orang tua, dan kondisi ibu

dan bayinya.
Tujuan untuk asuhan segera dapat mencakup :
a.
Menetapkan dan mempertahankan jalan napas dan upaya pernapasan.
b. Memberikan kehangatan dan mencegah hipotermia.

c.
d.

Memberikan lingkungan yang aman dan tindakan pencegahan yang rutin.


Meningkatkan hubungan yang lekat antara ibu dan bayi.

2.

Periode pascapartum awal


Mencapai dan mempertahankan jalan nafas dan mendukung pernafasan.
Mempertahankan kehangatan dan mecegah hipotermi
Memastikan keamanan dan mencegah cedera atau infeksi
Megidentifikasi masalah-masalah actual atau potensial yang memerlukan perhatian

a.
b.
c.
d.

segera.
3.
a.

Perawatan Lanjutan
Melanjutkan perlindungan dan cedera atau infeksi dan mngidentifikasi masalah-masalah

actual dan potensial yang memerlukan perhatian.


b. Memfasilitasi terbinanya hubungan dekat orang tua-bayi
c. Memberikan informasi kepada orang tua tentang perawatan bayi baru lahir
d. Membantu orang tua dalam mengembangkan sikap sehat tentng praktik membesarkan anak.
E.

PERENCANAAN DAN INTERVENSI


Selama masa inap bayi baru lahir di rumah sakit atau di rumah bidan praktek mandiri
perawat atau bidan bertanggungjawab untuk membuat perencanaan dan menyediakan
perawatan serta melibatkan ibu sebanyak mungkin untuk membantu mempersiapkannya
mengambil ahli tanggung jawab saat ia pulang kerumah. Ini menjadi sangat mudah jika ibu
dan bayi baru lahir mendapatkan perwatan berama, tetapi tindakan itu juga dapat di atur jika
digunakan ruangan bayi pusat.
Kecendrungan nya adalah masa rawat inap di rumah sakit yang lebih singkat. Baru-baru
ini, terdapat tekanan dari penyedia asuransi dan administrasi rumah sakit untuk memulangkan
ibu dan bayi baru lahir dalam 24-28 jam pertama setelah kelahiran bayi baru lahir atrm
normal per vaginam tanpa komplikasi ini meningkatkan pentingnya perawat atau bidan
mengkaji pengetahuan dan keterampilan ibu dalam merawat bayi baru lahirnya dan
menyusun rencana penyuluhan untuknya. Perencaan harus menyediakan informasi mengenai
prinsip dasar atau prosedur yang terkait dengan perawatan bayi baru lahir guna menyediakan
perawatan yang aman bagi bayi baru lahir dan menyediakan pengetahuan tambahan yang
sebelumnya tidak lengkap atau tidak benar. Perencaan tertulis atau daftar tilik mengenai
kebutuhan belajar ibu dan penyuluhan apa saja yang telah dilakukan akan sangat membantu
dalam menyediakan kontinuitas antara penyedia perawatan kesehatan. Ayah atau anggota
keluarga lain harus dilibatkan sebanyak mungkin. Konsistensi mengenai apa yang di ajarkan
sangat di perlukan guna menghindari membuat bingung orang tua.
Informasi tertulis harus setara dengan tingkat pendidikan orang tua dan dalam bahasa
yang di pahami oleh orang tua. Bidan juga harus peka terhadap budaya dan upayakan

menemukan kebiasaan-kebiasaan perawatan bayi baru lahir yang khusus secara budaya yang
mungkin di praktekkan oleh keluarga

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari semuanya adalah pentingnya perawatan bayi baru lahir melalui
berbagai upaya baik secara promotif maupun secara preventif
3.2 Saran
Semoga semua perawat maternitas bisa melakukan perawatan kepada bayi baru lahir.

Daftar Pustaka
1.

varney 2009

2.

keperawatan volume 1 2008

3.

maternitas keperawatan volume 2 2009

4.

Buku saku keperawatan anak & ibu edisi 5