Anda di halaman 1dari 36

LEMBAR PENGESAHAN

Nama

: Bella Rarantica
Bilal Teguh Prabowo
M. Akhsanil Auladi

Materi

: Hidrolisa Pati

Kelompok

: Kelompok 11 / Selasa

NIM : 21030113120102
NIM : 21030113130151
NIM : 21030113130158

Semarang, Oktober 2015


Mengesahkan,

Asisten Pengampu
Ihdina S.

RINGKASAN
Pati dan juga produk turunannya merupakan bahan yang multiguna dan banyak
digunakan pada berbagai industri antara lain pada minuman, makanan yang diproses, kertas,
makanan ternak, farmasi dan bahan kimia serta industri nonpangan seperti tekstil, detergent,
kemasan dan sebagainya.Tujuan dari praktikum ini yaitu mempelajari pengaruh variabel
suhu terhadap reaksi hidrolisa pati, menghitung konstanta kecepatan reaksi dan menganalisa
pengaruh variabel suhu terhadap konstanta kecepatan reaksi.
Hidrolisa merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu senyawa.
Gugus OH dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis
murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, hidrolisis gabungan alkali dengan air
dan hidrolisis dengan katalis enzim. Sedangkan berdaasarkan fase reaksi yang terjadi
diklasifikasikan menjadi hidrolisis fase cair dan hidrolisis fase uap. Hidrolisis pati terjadi
antara suatu reaktan pati dengan reaktan air.
Variabel yang digunakan pada praktikum ini adalah variabel suhu. Prosedur
praktikum hidrolisa yaitu melakukan perhitungan densitas pati, densitas H 2SO4 dan membuat
glukosa stnadar. Kemudian melakukan standarisasi larutan fehling untuk mendapatkan data
F. Kemudian membuat 2 campuran 39,149 gram tepung terigu, 0,653 ml, dan 421,263 ml
aquadest dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan dipanaskan dengan suhu 70 oC selama 1
jam dan kemudian dianalisa kadar glukosanya dan didapat data M sebagai kadar pati awal.
Kemudian mencampur kembali tepung terigu, H2SO4, dan aquadest dengan komposisi yang
sama, kemudian dihidrolisa selama 20 menit dan tiap 5 menit diambil 20ml, diencerkan dan
dianalisa kadar glukosanya. Analisa yang dilakukan yaitu dengan mencampur sampel+5ml
fehling A+5 ml fehling B dan +15 ml glukosa standart, dipanaskan hingga mendidih,
kemudian ditambahkan indikator methylen blue kemudian dititrasi hingga merah bata.
Hasil praktikum yang didapat yaitu semakin tinggi konsentrasi katalis maka konversi
reaksi hidrolisa pati semakin meningkat karena konversi pati menjadi glukosa semakin
banyak. Begitu juga dengan konstanta laju reaksi, semakin tinggi konsentrasi katalis maka
konstanta laju reaksi semakin meningkat, dimana hal ini sesuai dengan persamaan Arhenius.
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu semakin tinggi konsentrasi maka konversi reaksi
hidrolisa pati semakin meningkat, dan juga semakin konsentrasi suhu maka konstanta laju
reaksi juga semakin meningkat. Saran dari praktikum ini yaitu sebaiknya saluran air
diperbaiki dan perlu adanya pengarahan lebih lanjut mengenai warna TAT.

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyusun Laporan Praktikum Proses Kimia dengan
materi Hidrolisa Pati.
Penyusunan laporan ini merupakan hasil usaha dan bimbingan dari berbagai pihak
yang membantu dalam menyusun proposal laporan ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Dr. Siswo Sumardiono, ST. MT., selaku dosen pembimbing materi Hidrolisa
Pati
2. Laboran Laboratorium Proses Kimia
3. Asisten Laboratorium Proses Kimia
4. Serta teman-teman yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini
Laporan ini berisi tentang proses hidrolisa pati dengan variabel konsentrasi katalis
H2SO4 yaitu 0,05 N dan 0,15 N. Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui pengaruh
variabel suhu terhadap konversi reaksi dan pengaruh variabel suhu terhadap konstanta laju
reaksi.
Penulis menyakini bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan. Mohon maaf apabila
terdapat kekurangan bahkan kesalahan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak berkaitan dengan laporan ini.

Semarang, 25 September 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..............................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................................ii
RINGKASAN........................................................................................................................iii
PRAKATA..............................................................................................................................iv
DAFTAR ISI..........................................................................................................................v
DAFTARGAMBAR..............................................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................................A-1
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................1
1.1. Latar Belakang................................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................................1
1.2. Tujuan Percobaan............................................................................................................1
1.3. Manfaat Percobaan..........................................................................................................2
BAB II TINJAUANPUSTAKA.............................................................................................3
2.1.Pengertian Pati.................................................................................................................3
2.2.Hidrolisa Pati....................................................................................................................3
2.3. Modifikasi Pati................................................................................................................4
2.4. Variabel yang berpengaruh..............................................................................................5
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM..............................................................................7
3.1. Rancangan Praktikum.....................................................................................................7
3.1.1. Skema Rancangan Percobaan......................................................................................7
3.1.2. Variabel Operasi...........................................................................................................7
3.2. Bahan dan Alat................................................................................................................7
3.3. Gambar Alat Utama........................................................................................................8
3.4.Prosedur Percobaan..........................................................................................................8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................................11
4.1. Pengaruh Variabel Konsentrasi Katalis Terhadap Reaksi Hidrolisa Pati........................12
4.2. Pengaruh Variabel Konsentrasi Katalis Terhadap Konstanta Kecepatan Reaksi............13
4.3. Mekanisme Katalis..........................................................................................................13

4.4. Mekanisme Titrasi...........................................................................................................14


BAB V PENUTUP.................................................................................................................16
5.1. Kesimpulan.....................................................................................................................16
5.2. Saran................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................17

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Rangkaian Alat Hidrolisis.................................................................................5


Gambar 4.1. Grafik Hubungan Konsentrasi Katalis dengan Reaksi Hidrolisa Pati...............11
Gambar 4.2. Grafik Hubungan Konsentrasi Katalis dengan Konstanta Kecepatan Reaksi...12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pati dan juga produk turunannya merupakan bahan yang multiguna dan banyak digunakan
pada berbagai industri antara lain pada minuman, makanan yang diproses, kertas, makanan
ternak, farmasi dan bahan kimia serta industri nonpangan seperti tekstil, detergent, kemasan
dan sebagainya. Dalam industri makanan pembentuk gel dan encapsulating agent. Dalam
industri kertas digunakan sebagai zat aadtive seperti wet-end untuk surface size dan coating
binder, bahan perekat, dan glass fiber sizing. (Chiu & Solarek, 2009)
Berbagai varian pati didasarkan pada perbedaan struktural, kandungan amilosa,
amilopketin, protein dan lipid. Secara umum kandungan pati yang utama yaitu polimer
anhidroglukosa meliputi amilosa dan amilopketin, keduanya diikat dengan ikatan (1,4) dalam
segmen linear; serta ikatan (1,6) di titik percabangan. Amilopektin merupakan kandungan
utama pati, berkisar 70-80% dan berpengaruh pada physiochemical serta cita rasa pati (Dona,
Pages, & Kuchel, 2010)
Pada reaksi hidrolisa biasanya dilakukan dengan menggunakan katalisator asam seperti
HCl (asam klorida). Bahan yang digunakan untuk proses hidrolisis adalah pati. Di
indonesiabanyakdijumpaitanamanyangmenghasilkanpati.Tanaman-tanamanitu seperti seperti
padi, jagung, ketela pohon, umbi-umbian, aren dan sebagainya.
1.2. Rumusan Masalah
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel suhu terhadap reaksi
hidrolisa pati. Pada praktikum ini akan didapatkan konversi reaksi hidrolisa pati dan konstanta
laju reaksi sehingga dapat diketahui apa pengaruh variabel tersebut.
1.3. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari pengaruh variabel konsentrasi katalis H2SO4 terhadap reaksi hidrolisa
pati.
2. Menghitung konstanta kecepatan reaksi dan menganalisa pengaruh variabel
konsentrasi katalis H2SO4 terhadap konstanta kecepatan reaksi.

1.4. Manfaat Percobaan


1. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh variabel terhadap reaksi hidrolisa pati.
2. Mahasiswa dapat menghitung konstanta kecepatan reaksi dan menganalisa pengaruh
variabel terhadap konstanta kecepatan reaksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pati
Pati termasuk dalam polisakaridayang merupakan polimer glukosa, yang terdiri atas
amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan bagian polimer linier dengan ikatan -(1,4) unit
glukosa yang meruapakan rantai linear . Derajat polimerisasi (DP) amilosa berkisar antara5006.000unitglukosa, bergantung pada sumbernya. Adapunamilopektin merupakan polimer (1,4) unit glukosa dengan rantai samping -(1,6) unit glukosa. Ikatan -(1,6) unit glukosa ini
jumlahnya sangat sedikit dalam suatu molekul pati, berkisar antara4-5%. Namun, jumlah
molekul dengan rantai cabang, yaitu amilopektin, sangat banyak dengan DP berkisar antara
105dan 3x106unit glukosa dan merupakan komponen utama yang dapat mempengaruhi
physiochemical dan cita rasa dari pati.
2.2. Hidrolisa Pati
Hidrolisa merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu senyawa.
Gugus OH dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis
murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, hidrolisis gabungan alkali dengan air dan
hidrolisis dengan katalis enzim. Sedangkan berdasarkan fase reaksi yang terjadi
diklasifikasikan menjadi hidrolisis fase cair dan hidrolisis fase uap.
Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi ini adalah
orde satu, karena reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat
diabaikan. Reaksi hidrolisis pati dapat dilakukan menggunakan katalisator H+ yang dapat
diambil dari asam. Reaksi yang terjadi pada hidrolisis pati adalah sebagai berikut :
(C6H10O5)x+ H2O xC6H12O6
Berdasarkan teori kecepatan reaksi :
-rA=k. C pati. C air

...(1)

karena volume air cukup besar, maka dapat dianggap konsentrasi air selama perubahan reaksi
sama dengan k', dengan besarnya k' :
k'= k . Cair

...(2)

sehingga persamaan 1 dapat ditulis sebagai berikut rA = k'. Cpati dari persamaan kecepatan
reaksi ini, reaksi hidroisis merupakan reaksi orde satu. Jika harga -rA= - dCA/dt maka
persamaan 2 menjadi :
...(3)
(4)
Apabila CA = CA0 (1-xA) dan diselesaikan dengan integral dan batas kondisi t1, CA0 dan t2: CA
akan diperoleh persamaan :
(5)
(6)
...(7)
Dimana xA = konversi reaksi setelah satu detik.
Persamaan 7 dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan regresi y = mx + c,
dengandanx = t2.
2.3. Modifikasi Pati
Pati asli pada umumnya memiliki struktur granular, tidak larut air, dan dalam bentuk
ini digunakan hanya dalam beberapa aplikasi spesifik yang terbatas. Modifikasi adalah pati
yang gugus hidroksinya telah mengalami perubahan. Pati memiliki sifat tidak dapat digunakan
secara langsung dan oleh karena itu harus dimodifikasi secara kimia atau fisik untuk
meningkatkan sifat positif dan mengurangi sifat yang tidak diinginkan. Pati biasanya
digunakan untuk produk makanan, bahan perekat dan glass fiber sizing. Selain itu juga
ditambahkan dalam plastik untuk mempercepat proses degradasi. Modifikasi secara kimia
umunya meliputi esterifikasi, etherifikasi, hidrolisis, oksidasi dan cross-linking (Chiu &
Solarek, 2009). Pati yang telah termodifikasiakan mengalami perubahan sifat yang dapat
disesuaikan untuk keperluan-keperluan tertentu. Akan tetapi sama seperti pati alami, pati
termodifikasi bersifat tidak larut dalam air dingin (Koswara, 2009).

2.4. Variabel yang Berpengaruh


Variabel - variabel yang berpengaruh dalam reaksi hidrolisa pati meliputi
1. Katalisator
Hampir sama semua reaksi hidrolisa membutuhkan katalisator untuk mempercepat
jalannya reaksi. Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam karena
kinerjanya lebih cepat. Asam yang dipakai beraneka jenisnya mulai dari HCl (Agra
dkk, 1973; Stout & Rydberg Jr, 1939), H 2SO4sampai HNO3. Yang mempengaruhi
kecapatan reaksi adalah konsentrasi ion H+, bukan jenis asamnya. Meskipun demikian,
di dalam industri umumnya dipakai asam klorida (HCl). Pemilihan ini didasarkan atas
sifat garam yang terbentuk pada penetralan tidak menimbulkan gangguan apa-apa
selain rasa asin jika konsentrasinya tinggi. Oleh karena itu, konsentrasi asam dalam air
penghidrolisa ditekan sekecil mungkin. Umumnya dipergunakan larutan asam yang
mempunya konsentrasi asam yang lebih tinggi daripada pembuatan sirup. Hidrolisa
pada tekanan 1 atm memerlukan asam yang jauh lebih pekat.
2. Suhu dan Tekanan
Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi mengikuti persamaan Arrhenius, dimana
semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju reaksinya. Untuk mencapai konversi
tertentu, diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk menghidrolisa pati ketela rambat pada
suhu 100 C. Tetapi jika suhunya dinaikkan hingga 135 C, konversi yang sama dapat
dicapai dalam waktu 40 menit (Agra dkk, 1973). Hidrolisis pati gandum dan jagung
dengan katalisator H2SO4 memerlukan suhu 160 C. Karena panas reaksi mendekati
nol dan reaksi berjalan dalam fase cair maka suhu dan tekanan tidak banyak
mempengaruhi keseimbangan.
3. Pencampuran (pengadukan)
Supaya zat pereaksi dapat saling bertumbukan dengan sebaik-baiknya perlu adanya
pencampuran. Untuk proses Batch, hal ini dapat dicapai dengan bantuan pengaduk
atau alat pengocok (Agra dkk, 1973). Apabila prosesnya berupa proses alir (kontinyu),
maka pecampuran dilakukan dengan cara mengatur aliran didalam reaktor supaya
terbentuk olakan.
4. Perbandingan zat pereaksi

Jika salah satu zat pereaksi dibuat berlebihan jumlahnya maka keseimbangan dapat
bergeser kearah kanan dengan baik. Oleh karena itu, suspensi pati yang kadarnya
rendah memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang kadarnya tinggi. Bila
kadar suspensi pati diturunkan dari 40% menjadi 20% atau 1% maka konversi akan
bertambah dari 80% menjadi 87 atau 99 % (Groggis, 1958). Pada permukaan, kadar
suspensi pati yang tinggi sehingga molekul-molekul zat pereaksi akan sulit bergerak.
Untuk menghasilkan glukosa biasanya dipergunakan suspensi pati sekitar 20%.

BAB III
METODOLOG1 PERCOBAAN

0
2
b
k
u
h
g
n
M
T
j
1
m
e
p
l
o
d
H
s
a
r
t
i
5
3.1. Rancangan Praktikum

3.1.1. Skema Rancangan Percobaan

3.1.2. Variabel Operasi

Variabel berubah

: Konsentrasi Katalis H2SO4


C1 = 0,05 N; C2 = 0,15oC

Variabel tetap

: Perbandingan pati : air = 1:16


Basis campuran = 450 ml
Suhu = 700C

Waktu hidrolisa = 20 menit, interval waktu = 5 menit

3.2. Bahan dan Alat yang digunakan


Bahan

1.Glukosa anhidrit

5.Indikator MB

2.Tepung terigu

6.Fehling A

3.NaOH

7.Fehling B

4. H2SO4

8.Aquades

Alat

1.Gelas ukur

2.Termometer
3.Erlenmeyer

4.Statif dan klem


5.Buret

6.Labu leher tiga


7.Labu takar

3.3. Gambar Rangkaian Alat Utama


Keterangan:
1. Magnetic stirer + heater
2. Waterbath
3. Labu leher tiga
4. Termometer
5. Pendingin balik
6. Klem
7. Statif
3.4.

Prosedur Praktikum
1.

Persiapan awal
a.Menghitung densitas pati
Ke

dalam

dimasukkan

gelas
1,115

ukur, 5 ml
gram

aquades

pati,

catat

penambahan volume.

b. Menghitung densitas HCl


Timbang berat picnometer kosong (m1), masukkan H2SO4 ke dalam
picnometer yang telah diketahui volumenya (v), timbang beratnya (m2),
hitung densitas H2SO4

c.Membuat glukosa standar


Glukosa anhidrit sebanyak 2 gram dilarutkan dalam 1000 ml aquades.
2. Penentuan kadar pati
a. Standarisasi larutan fehling
5ml Fehling A + 5ml Fehling B + 15 ml glukosa standar, dipanaskan sampai
mendidih. Setelah mendidih ditambahkan 2 tetes MB, kemudian larutan
dititrasi dengan glukosa standard hingga warna berubah menjadi merah bata.

Catat volume titran (F) yang diperlukan, proses titrasi dilakukan dalam
keadaan mendidih (di atas kompor).
b. Penentuan kadar pati awal
Untuk variabel 1, sebanyak 39,142 gram pati, 0,653 ml katalis H2SO4 dan
421,263 ml aquadest dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan dipanaskan
hingga suhu 70oC, selama1 jam. Setelah itu larutan didinginkan, diencerkan
dengan aquadest sampai 500 ml lalu diambil 5 ml dan dinetralkan dengan
NaOH (PH=7). Larutan diambil 5 ml diencerkan sampai 100 ml, diambil 5 ml.
Ke dalam Erlenmeyer dimasukkan 5 ml larutan + 5 ml Fehling A + 5 ml
fehling B + 15 ml glukosa standard, kemudian dipanaskan sampai mendidih.
Lalu ditambahkan 2 tetes indikator MB. Kemudian larutan dititrasi dengan
glukosa standard sehingga berubah warna menjadi warna merah bata. Catat
volume titran yang dibutuhkan (M). Yang perlu diperhatikan, proses titrasi
dilakukan dalam keadaan mendidih di atas kompor. Lakukan hal yang sama
untuk variabel lain.
c. Hidrolisa pati
Sebanyak 39,142 gram pati, 0,653 ml katalis H2SO4 dan 421,263 ml aquadest
o
dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan dipanaskan hingga suhu 70 C,

anggap sebagai t0 diambil sampel sebanyak 5 ml. Kemudian sampel


dinetralkan dengan NaOH (PH = 7). Larutan diambil 5 ml diencerkan sampai
100 ml, diambil 5 ml. Ke dalam Erlenmeyer dimasukkan 5 ml larutan + 5 ml
Fehling A + 5 ml fehling B + 15 ml glukosa standard, kemudian dipanaskan
sampai mendidih. Lalu ditambahkan 2 tetes indikator MB. Kemudian larutan
dititrasi dengan glukosa standard sehingga berubah warna menjadi warna
merah bata. Catat V titran yang dibutuhkan (M). Yang perlu diperhatikan,
proses titrasi dilakukan dalam keadaan mendidih di atas kompor. Pengambilan
sampel dilakukan setiap selang waktu 5 menit sebanyak 5 kali yaitu 20 menit.
(t0=menit ke-0 ,t1=menit ke-5, t2=menit ke-10, t3=menit ke-15, t4=menit ke20). Lakukan hal yang sama untuk variabel 2
Rumus penentuan kadar pati awal

Dimana N =0,002 gr/ml


W=berat pati
Perhitungan kebutuhan reagen
a)Menghitung kebutuhan H2SO4

Dimana:
kadar H2SO4 =

0,97 untuk 97%

grek H2SO4 = 2
b)Menghitung kebutuhan pati

Dimana:

Prosedur titrasi
5 ml fehling A + 5 ml fehling B + 5 ml glukosa standar
(jika ada hasil hidrolisa, prosedur diatas ditambah 5 ml sampel hasil hidrolisa)

Dipanaskan sampai mendidih

100 detik dari mendidih ditambah 2 tetes indikator MB

2 menit kemudian dititrasi dengan glukosa standar, catat volume titran (titrasi
dijalankan maks 1menit)
Catatan : titrasi dilakukan di atas kompor dalam keadaan mendidi

10

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. HASIL PERCOBAAN
1) Standarisasi Larutan Fehling
Volume titran (F) = 20 ml
2) Hidrolisa Pati
Tabel 4.1 Hidrolisa Pati variabel H2SO4 0,05 N
t

M (ml)

Xa

-ln(1-

(me

Xa

nit)
0

12,2

0,54848

)
0,7951

11,5

0,59767

4
0,9104

10

10,0

0,70314

8
1,2144

11

15

7,0

0,91408

9
2,4543

20

6,0

0,98439

4
2,0776
3

Tabel 4.2 Hidrolisa Pati variabel H2SO4 0,15 N


t

M (ml)

Xa

(me

Xa

nit)
0

-ln(1-

11,8

0,55661

)
0,8133

11,2

0,59734

1
0,9096

10

6,9

0,88925

6
2,2004

15

5,5

0,98425

8
4,1509

6,5

0,91640

1
2,4817

20

4.1. Pengaruh Variabel Konsentrasi Katalis terhadap Konversi Reaksi Hidrolisa Pati

12

1.2
1

Xa

f(x)
f(x) =
= 0.11x
0.12x +
+ 0.46
0.39
R
=
0.79
0.8 R = 0.95
H2SO4 0,05 N
0.6

Linear (H2SO4 0,05 N)

H2SO4 0,15 N

0.4
0.2
Linear (H2SO4 0,15 N)
0
0
5

10

15

20

Waktu

Gambar 4.1. Grafik Hubungan Konsentrasi Katalis H2SO4 dengan Reaksi Hidrolisa Pati
Berdasarkan gambar 4.1, konversi pati pada variabel II (konsentrasi katalis H2SO4 0,15
N) menghasilkan konversi yang lebih besar daripada variabel I (konsentrasi katalis H2SO4
0,05 N), hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi katalisator yang digunakan maka
glukosa yang dihasilkan meningkat seiring dengan waktu hidrolisis yang bertambah cepat.
Penambahan katalisator bertujuan untuk memperbesar kecepatan reaksi. Jadi semakin banyak
jumlah katalisator yang ditambahkan maka semakin cepat reaksi hidrolisis (Mastuti,2010).
Laju proses hidrolisis akan semakin bertambah oleh konsentasi asam yang tinggi.
Pada variabel II (konsentrasi katalis H2SO4 0,15 N) menghasilkan konversi yang lebih
besar daripada variabel I (konsentrasi katalis H2SO4 0,05 N), sesuai dengan persamaan,
dimana persamaan Arhenius yaitu :
k = A.e-Ea/RT
Persamaan ini menunjukkan bahwa konsentrasi katalisator mempengaruhi energi aktivasi,
apabila konsentrasi semakin besar maka energi aktivasi semakin kecil. Energi aktivasi reaksi
merupakan banyaknya energi minimum yang dibutuhkan oleh reaksi agar reaksi dapat
berlangsung. Semakin kecil energi aktivasi, semakin mudah suatu reaksi terjadi dan konstanta
kecepatan reaksi semakin besar.
Jadi semakin besar konsentrasi katalisator akan memperkecil energi aktivasi, sehingga
konstanta kecepatan reaksi semakin besar (Artanti, Enny Kriswiyanti dan Andik P.A. 2006).

13

4.2. Pengaruh Variabel Konsentrasi Katalis terhadap Konstanta Kecepatan Reaksi


4.5
4
3.5
f(x) = 0.82x - 0.51
3
H2SO4 0,05 N R = 0.67
Linear (H2SO4 0,05 N)
2.5
-ln(1-Xa)
2 f(x) = 0.57x - 0.38
R = 0.86
1.5
1
0.5
Linear (H2SO4 0,15 N)
0
0
5
10

H2SO4 0,15 N

15

20

Waktu (menit)

Gambar 4.2. Grafik Hubungan konsentrasi katalis H2SO4 dengan konstanta kecepatan reaksi
Berdasarkan gambar 4.2, dapat dilihat bahwa konstanta laju reaksi konsentrasi H2SO4
0,15 N lebih besar daripada konstanta laju reaksi konsentrasi H 2SO4 0,05. Konstanta laju
reaksi pada konsentrasi H2SO4 0,15 yaitu 0,0342, nilai ini didapat dari pendekatan linieritas
antara data ln(1-Xa) terhadap waktu, dimana nilai konstanta merupakan slope dari garis linier
tersebut. (Bej, et al, 2008). Nilai konstanta laju reaksi pada konsentrasi H2SO4 0,15 lebih besar
daripada konsentrasi H2SO4 0,15 karena semakin tinggi normalitas katalis yang digunakan
maka akan meningkatkan konstanta laju reaksi, karena konstanta bertujuan mempercepat laju
reaksi. Ini sesuai dengan persamaan Arhenius, yaitu k=A.e -Ea/RT, dimana nilai k akan
bertambah besar apabila energi aktivasi semakin kecil, sedangkan energi aktivasi dapat
diturunkan dengan bertambahnya konsentrasi (Lubis, 2012).
4.3. Mekanisme Katalis pada Hidrolisa Pati
Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan
cara memperkecil energi aktivasi suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru.
Dengan menurunnya energi aktivasi maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung
lebih cepat. Katalis akan mempercepat reaksi karena katalis akan mencari jalan dengan energi
aktivasi yang lebih rendah sehingga reaksinya akan berlangsung lebih cepat (Indra, 2010).
Selain itu prinsip kerja katalis adalah katalis tetap ikut dalam jalannya reaksi, tetapi pada
kondisi akhir, katalis akan keluar lagi dalam bentuk yang sama. Sifat-sifat kimia katalis akan

14

sama sebelum dan sesudah mengkatalis suatu reaksi. Berikut adalah mekanisme kerja katalis
pada hidrolisa pati.

4.4. Mekanisme Titrasi pada Hidrolisa Pati


Pada saat titrasi analisis kadar glukosa digunakan larutan Fehling A dan Fehling B.
Glukosa merupakan gula pereduksi golongan aldehid yang adalah reduktor kuat sehingga
dapat mereduksi oksidator-oksidator lemah seperti larutan Fehling. Gugus aldehid yang
terdapat pada glukosa teroksidasi oleh CuO(aq) yang berasal dari pereaksi Fehling untuk
membentuk gugus karboksilat, sedangkan CuO(aq) sendiri mengalami reduksi menjadi Cu2O(s)
yang membentuk endapan merah bata.
Cu2+ berasal dari Fehling A yang berwarna biru dibuat dengan cara melarutkan 34,65
gram CuSO4.5H2O dalam 500 ml aquadest. Sedangkan OH- berasal dari Fehling B yang dibuat
dari campuran 173 gram NaOH dan 125 K Na tartrat dalam 500 ml aquadest. Dalam pereaksi
Fehling, ion Cu2+ sebagai ion kompleks. Pereaksi Fehling dapat dianggap sebagai larutan
CuO.
Didalam analisa selain ditambahkan pereaksi Fehling, juga ditambahkan larutan glukosa
standar. Hal ini dimaksudkan agar terbentuk endapan merah bata. Apabila konsentrasi glukosa
15

di dalam larutan terlalu kecil (<1%), maka endapan yang terjadi adalah endapan berwarna
hijau kekuningan. Selain itu, larutan yang akan ditirasi harus dinetralkan terlebih dahulu. Hal
ini disebabkan karena larutan hasil hidrolisa bersifat asam kuat, sedangkan reaksi
pembentukan endapan merah bata harus dalam suasana basa. Suasana basa nantinya berasal
dari pereaksi Fehling B yang mengandung NaOH. Selain itu, untuk membentuk endapan
merah bata juga diperlukan adanya pemanasan. Adanya pemanasan diperlukan sebagai katalis
yang akan mempercepat pembentukan endapan Cu2O berwarna merah bata. Berikut reaksi
yang terjadi :
2 Cu2+ + OH-

dipanaskan

Cu2O (endapan merah bata) + H2O

Indikator yang digunakan adalah MB yang merupakan indikator pada reaksi reduksioksidasi. MB akan berperan mereduksi oksigen dan mengoksidasi glukosa. Penentuan titik
akhir titrasi pada saat terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah bata. Berikut
reaksinya:
Glukosa + Cu2+ + OH-

asam glukonat + Cu2O(g) + H2O

(Ariani, Nita. 2015)

BAB V

16

PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. Semakin besar variabel konsentrasi katalis H2SO4 maka konversi reaksi pati menjadi
glukosa akan semakin meningkat.
2. Semakin besar variabel konsentrasi katalis H2SO4 maka konstanta laju reaksi hidrolisa
pati akan semakin meningkat.
5.2. Saran
1. Untuk kedepannya sebaiknya peralatan hidrolisa pati lebih baik lagi dan saluran air
diperbaiki lagi.
2. Sebaiknya diberi pengarahan yang tepat untuk pengamatan warna TAT agar tidak
terjadi kesalahan karena pada metode ini kesalahan pengamatan TAT seringkali terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Khalaf, A.M., "Chemical Engineering Education", 28 (1), 48. 1994
17

Amsar dan Isbani.2012.Proses Pembuatan Tepung Tapioca dari Singkong (Ubi Kayu) di
PT.Sinar Karya Usaha. Kec. Paloh, Kab. Sambas. Laporan PKL. Malang: Fakultas
Teknik, Universitas Trihuwana Tunggadewi.
Bej, Barnali, R.K. Basu and S.N. Ash.2008.Journal of Scientific & Indusrtial Research
"Kinetic Studies On Acid Catalysed Hydrolysis Of Starch".Departement of Chemical
Engineering.University of Calcutta.
Charles,E.R,Harold,SMandThomasK.S.,"Applied Mathematics in Chemical Engineering" 2nd
end.,Mc. Graw Hill Book Ltd. 1987, New York
Chiu, C.-w., & Solarek, D. 2009. Modification of starch. Starch: Chemistry and Technology,
Third Edition ISBN: 978-0-12-746275-2.
Dinarsari, Astrinia Aurora dan Alfiana Adhitasari. 2013. Proses Hidrolisa Pati Talas Sente
(Alocasia macrorrhiza) Menjadi Glukosa : Studi Kinetika Reaksi. Jurnal Teknologi Kimia
dan Industri, Vol 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman 253-260.
Dona, A. C., Pages, G., & Kuchel, P. W. 2010. Digestion of starch:In vivo andin vitro kinetic
models used to characterise. Carbohydrate Polymers 80 (2010) 599-617.
Hill, G.C., "An Introduction to Chemical Engineering Kinetika and Reactor Design". 2nd
ed,John Willey, New York, N.Y, 1977
Jacobs, H. and J.A. Delcour. 1998. Hydrothermal modifications of granular starch, with
retention of the granular structure: a review. J. Agric. Food Chem. 46(8): 2895-2905.
Koswara, S. 2009. Teknologi Modifikasi Pati. ebookpangan.com.
Levenspiel. O.,"Chemical Reaction Engineering" 2nd ed, Mc. Graw Hill Book Kogakusha
Ltd, Tokyo, 1970
Rusgiyono, Agus, dll. 2013. Pemetaan Produksi dan Komposisi Garam. Prosiding Seminar
Nasional Statistika Universitas Diponegoro 2013.
Wei, Benzi., et al. 2013. Effect on pHs on Dispersity of Maize Starch Nanocrystals in Aqueous
Medium. The State Key Laboratory of Food Science and Technology. China.

18

DAFTAR LAMPIRAN

1. Laporan Sementara
2. Lembar perhitungan
3. Refferensi

A-1

LEMBAR PERHITUNGAN
Densitas Pati
Massa pati = 1,115 gram
V = 0,8 ml
pati=

massa pati 1,115 gr


=
=1,394 gr /ml
V
0,8 ml

Densitas H2SO4
Massa picnometer kosong (m1) = 22,340 gr
Massa picnometer + H2SO4 (m2) = 65,828 gr
Volume picnometer (V) = 25 ml
H 2 SO 4=

m2m1 ( 65,82822,340 ) gr
=
=1,740 gr /ml
V
25 ml

Penentuan Volume H2SO4 0,05 N


NH2SO4 = 0,05 N
BM H2SO4 = 98 gr/mol
V H 2 SO 4=

N H 2 SO 4 BM H 2 SO 4 V larutan
H 2 SO 4 Kadar H 2 SO 4 1000 grek

V H 2 SO 4=

0,05 98 450
=0,653 ml
1,740 0,97 1000 2

Kebutuhan Pati
Volume Pati : Volume Air = 1:16
Volume pati=

1
( 4500,653 ) ml=28,084 ml
15

W pati =(V ) pati


( 28,084 1,394 )=39,149 gram
Kebutuhan Air
VolumeAir=

15
( 4500,653 ) ml=421,263 ml
16

Penentuan Volume H2SO4 0,15 N


NH2SO4 = 0,15 N
BM H2SO4 = 98 gr/mol
V H 2 SO 4=

N H 2 SO 4 BM H 2 SO 4 V larutan
H 2 SO 4 Kadar H 2 SO 4 1000 grek

V H 2 SO 4=

0,15 98 450
=1,96 ml
1,740 0,97 1000 2

Kebutuhan Pati
Volume Pati : Volume Air = 1:16
Volume pati=

1
( 4501,96 ) ml=28,0025 ml
16

W pati =(V ) pati


( 28,0025 1,394 ) =39,028 gram
Kebutuhan Air
VolumeAir=

15
( 4501,96 ) ml=420,0375 ml
16

Kadar Pati Awal


F = 20 ml

( FM ) xNglukosax
X po=

500 100
x
x 0,9
450 5

Variabel I ( Konsentrasi H2SO4 0,05 N)


M = 12,2 ml

500 100
x
x 0,9
450 5
=0,013078
39,149

( 207,2 ) x 0,002 x
X po=

Variabel II ( Konsentrasi H2SO4 0,15 N)


M= 6,7 ml
500 100
x
x 0,9
450 5
=0,013589
39,149

( 206,7 ) x 0,002 x
X po=

Hidrolisa Pati
Perhitungan Pati terhidrolisa

( FM ) xNglukosax
X p=

100
x 0,9
5

W
Xa=

Xp
Xp0

Harga Konstanta Laju Reaksi


-rA = k.CA
d C A
=k ' C A
dt
CA

t1

dC
dt A = k ' dt
C
t
AO

ln
dengan CA = CAo (1 - XA), maka :
ln

1
=kt+ c
( 1x A )

C A0
=k ( t 2t 1 )
CA

y=ln

1
( 1x A )

kt+c = mx+c
k=m
Variabel I (Konsentrasi H2SO4 0,05 N)
F = 20 ml
N glukosa = 0,002 g/ml
W pati = 39,149 gram
XPo = 0,013078

Xp untuk 0 menit

( 2012,2 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,149

=0,0071726

Xp
=0,54848
Xp0
Xp untuk 5 menit

( 2011,5 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,149

=0,0078163

Xp
=0,59767
Xp0
Xp untuk 10 menit

( 2010 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,149

=0,0091956

Xp
=0,70314
Xp0
Xp untuk 15 menit

( 207,0 ) x 0,002 x
X p=

39,149

100
x 0,9
5

=0,0119543

Xa=

Xp
=0,91408
Xp0

Xp untuk 20 menit

( 206,0 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,149

=0,0128739

Xp
=0,98439
Xp0
t (menit)
0

M (ml)
12,2

11,5

0,59767

0,91048

10

10,0

0,70314

1,21449

15

7,0

0,91408

2,45434

20

6,0

0,98439

2,07763

Variabel II (Konsentrasi H2SO4 0,15 N)


F = 20 ml
N glukosa = 0,002 g/ml
W pati = 39,39 gram
XPo = 0,013589

Xp untuk 0 menit

( 2011,8 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,028

=0,0075638

Xp
=0,55661
Xp0
Xp untuk 5 menit

( 2011,2 ) x 0,002 x
X p=

39,028

100
x 0,9
5

=0,0081172

Xa
0,54848

-ln(1-Xa)
0,79514

Xa=

Xp
=0,59734
Xp0
Xp untuk 10 menit

( 206,9 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,028

=0,012084

Xp
=0,88925
Xp0
Xp untuk 15 menit

( 205,5 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,028

=0,013375

Xp
=0,98425
Xp0
Xp untuk 20 menit

( 206,5 ) x 0,002 x
X p=
Xa=

100
x 0,9
5

39,028

=0,012453

Xp
=0,91640
Xp0

t (menit)
0

M (ml)
11,8

Xa
0,55661

-ln(1-Xa)
0,81331

11,2

0,59734

0,90966

10

6,9

0,88925

2,20048

15

5,5

0,98425

4,15091

20

6,5

0,91640

2,48171

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-9575-1405100039-Proceeding.pdf