Anda di halaman 1dari 3

Psikotropika

Definisi :
Psikotropik adalah zat atau obat,baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktifitas mental dan prilaku (Daris, 2008).

Golongan Psikotropik :
Menurut Undang-undang Negara No. 5 tahun 1997 psikotropika digolongkan ke dalam
4 golongan. Psikotropika golongan I dan II kemudian dikelompokan ke dalam narkotika
golongan I menurut Undang-undang No. 35 tahun 2009.
1. Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom
ketergantungan.contoh golongan I adalah brolamfetamin, mekatinona, Etisiklidin, LSD
( Lisirgida )
2.

Psikotropika Golongan II

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom
ketergantungan. Contoh golongan II adalah amfetamin dan sekobarbital.
Klasifikasi amfetamin (FI. III.1979)
Rumus molekul: C8H6NHSO4
Pemerian
: serbuk hablur , putih, tidak berbau, agak pahit, disertai rasa tebal
Kelarutan
: larut dalam 9 bagian air, dalam 515 bagian etanol (95%) P : praktis
tidak larut dalam eter
Identifikasi :
A. larutkan 1g dalam 50ml air, + kan 10ml NaOH p dan 0,5 ml benzoilklorida p.
Kocok, ulangi penambahan benzoilklorida P tiap kali dalam jumlah 0,5ml ad tidak
berbentuk endapan. Hablurkan kembali 2x dengan etanol (50%) p. Suhu lebur hablur
kurang lebih 135.
B. Larutkan 2 mg dalam 4ml air, + 1 ml HCl 1N. 2ml larutan nitranilinadiazotasi p.
4ml NaOH 1N dan 2ml n-butanol p. Kocok. Biarkan memisah, terjadi warna merah
dalam lapisan butanol (perbedaan dari metilanfetamin)
Penetapan kadar timbang saksama 400mg, larutkan dalam 120ml air, tambahkan 2ml
larutan NaOH p. Suling ke dalam 50ml HCL 0,1N. Lanjutkan penyulingan hingga
cairan sisa dalam labu suling tinggal 5ml. Titrasi dengan NaOH 0,1N menggunakan
indikator larutan merah metil p.
Khasiat : simpatomimetikum
Dosis maksimum : sekali 20mg, sehari 40mg.

3.

Psikotropika Golongan III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi sedang mengakibatkan sindrom
ketergantungan. Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini diantaranya amobarbital,
pentazozin, dan pentobarbital.
Klasifikasi pentobarbital :

4.

Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa, dapat terjadi
polimorfisme, stabil diudara, pH larutan jenuhnya kurang lebih 5.
Kelarutan:
- 1 gram dalam 1000 ml air
- 1 gram dalam 10 ml alkohol
- 1 gram dalam 40 ml kloroform
- 1 gram dalam 1 ml eter
Identifikasi secara Kimia :
- Positif terhadap pereaksi parri
- Dengan pereaksi zwikker, membentuk warna violet
- Sampel dalam larutan air + larutan AgNO3, membentuk warna
putih
- Dengan pereaksi merkurium nitrat, membentuk warna hitam
- Sampel + formalin + asam sulfat P, membentuk warna merah
Khasiat : sedative

Psikotropika Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi
dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
sindrom ketergantungan. Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini diantaranya
alprazolam, diazepam, fenobarbital, klobazam, dan klordiazepoksida.

Klasifikasi diazepan ( FI.III.1979)

Rumus molekul : C16H13C1N2O


BM : 284,74
Pemerian : serbuk hablur, putih atau hampir putih, tidak berbau atau hampir tidak
berbau, mula-mula tidak berasa lama kelamaan terasa pahit.
Cara Identifikasi : - Diambil sedikit sampel dimasukan dalam plat tetes
- Ditambahkan sedikit demi sedikit pereaksi marquis
- Jika terbentuk warna ungu positif adanya diazepam
Khasiat : sedativum

Daftar pustaka
1. Daris, Azwar. 2008. Himpunan Peraturan Perundang Undangan Kefarmasian.
Jakarta: ISFI.
2. Presiden RI. 1997. Undang-undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika .
Jakarta: Lembar Negara RI.
3. Presiden RI. 2009. Undang-undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta:
Lembar Negara RI.
4. Farmakope indonesia.III.1979