Anda di halaman 1dari 36

Lab Ilmu KesehatanMasyarakat

KEDOKTERAN KELUARGA

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Gizi Kurang dan Perawakan Sangat Pendek

Disusun oleh :
AZIZAH IRMADARA OKTAVIA

1010015043

Dosen Pembimbing:
dr. Evi Fitriani, M. Kes
Veronika Hinum, S.KM, M.M
dr. Kasiman

Dibawakan dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik pada


Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

PROGRAM PROFESI PENDIDIKAN DOKTER UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN
2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................2
BAB 1 PENDAHULUAN.....................................................................................3
1.1 Latar Belakang...........................................................................................3
1.1. Tujuan........................................................................................................4
BAB 2 LAPORAN KASUS..................................................................................5
2.1 Identitas......................................................................................................5
2.1.1 Identitas Pasien..............................................................................5
2.1.2 Identitas Orang Tua Pasien............................................................5
2.2 ANAMNESIS............................................................................................6
PEMERIKSAAN FISIK...................................................................................9
2.3 DIAGNOSIS KERJA...............................................................................11
2.4 PENATALAKSANAAN..........................................................................12
2.5 Analisis Kedokteran Keluarga.................................................................13
2.5.1 Identitas Kepala Keluarga............................................................13
2.5.2 Identitas Anggota Keluarga Serumah..........................................13
2.5.3 Genogram.....................................................................................14
2.5.4 Status Fisik, Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan..........................14
2.5.5 Pola Hidup Bersih dan Sehat Keluarga........................................17
2.5.6 Resume Faktor Resiko Lingungan Keluarga...............................20
2.5.7 Diagnosa Keluarga (Resume Masalah Kesehatan)......................21
2.5.8 Rencana Penatalaksanaan Masalah Kesehatan............................21
2.5.9 Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah dalam Keluarga.....26
BAB 3 PEMBAHASAN......................................................................................28
LAMPIRAN...........................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................36

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah gizi balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia. Data terkini dari Global Nutrition Report (2014) menunjukkan bahwa
Indonesia mengalami masalah gizi kompleks yang antara lain terjadi karena gizi
kurang atau malnutrisi. Gizi kurang dapat mengakibatkan

terhambatnya pertumbuhan

anak berupa perawakan pendek (stunting) atau perawakan kurus (wasting), bayi rentan
terhadap penyakit terutama penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat
kecerdasan anak.
Gizi atau nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan dan merupakan
penunjang agar proses tumbuh kembang tersebut dapat berjalan dengan
memuaskan. Hal ini berarti, pemberian makanan yang berkualitas dan
kuantitasnya baik menunjang tumbuh kembang, sehingga balita dapat tumbuh
normal dan sehat. Balita yang tidak diberi makanan yang berkualitas dan
berkuantitas baik dapat mengalami gizi kurang, gizi buruk, pendek dan kurus (IDAI,
2011).
Kejadian stunting merupakan akibat dari asupan makan yang tidak adekuat
dalam jangka waktu yang lama, kualitas makan yang tidak baik,
meningkatnyaangka kesakitan atau gabungan dari semua faktor tersebut.
Deteksidini pada anak-anak sangat penting, karena stunting yang terjadi pada masa
anak-anak dapat mempengaruhi pertumbuhan pada saat dewasa, yang berakibat
penurunan kemampuan kerja, dan pada wanita dapat mempengaruhi keturunan
(Dekker, 2010).
Terdapat sekitar 178 juta anak usia dibawah lima tahun di dunia mengalami
perawakan pendek, 167 juta terdapat di negara berkembang. Pada tahun 2020 sekitar
28% anak dibawah 5 tahun akan mengalami perawakan pendek di Asia. Hasil survey
yang dilakukan di 7 provinsi di Indonesia menunjukkan jumlah anak perawakan pendek
mencapai 31,4% dan 9,1% di antaranya mengalami perawakan pendek berat
(Riskesdas, 2010).

Perawakan pendek mengakibatkan meningkatnya risiko penyakit metabolik


seperti diabetes tipe II pada usia remaja. Kondisi ini juga mengganggu perkembangan
kognitif, rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh serta rendahnya pendapatan.
Prevalensi infeksi menjadi meningkat akibat imunitas yang menurun, mengalami defisit
fisik dan fungsional. Perawakan pendek pada masa anak anak akan menetap pada
masa dewasa sehingga dapat menurunkan kapasitas kerja dan kualitas kerja. Perawakan
pendek dan malnutrisi bersama dengan kegagalan tumbuh intrauterin menyebabkan
kematian sebanyak 2,1 juta anak di seluruh dunia yang berusia kurang dari 5 tahun
(Branca & Ferrari, 2002).
1.1. Tujuan
Penyusunan laporan kedokteran keluarga tentang Gizi Kurang dan Perawakan
Sangat Pendek ini bertujuan untuk mengetahui penegakkan dan penatalaksanaan kasus
perawakan pendek yang didapat di lingkungan Puskesmas Palaran dan sebagai bekal
pembelajaran sebagai dokter keluarga.

BAB 2
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas
2.1.1 Identitas Pasien
Nama

: An. RS

Jenis kelamin

: Perempuan

Tanggal Lahir

: 30 Juni 2015

Umur

: 10 bulan

Alamat

: Jl. Pelabuhan Lama Kel.Rawa Makmur Kec. Palaran

Anak ke

: 4 dari 4 bersaudara

2.1.2 Identitas Orang Tua Pasien


Identitas Ayah Kandung
Nama

: Tn. S

Tanggal Lahir

: 14 Desember 1975

Umur

: 41 tahun

Alamat

: Jl. Pelabuhan Lama Kel. Rawa Makmur Kec. Palaran

Pekerjaan

: Tukang Ojek

Pend. Terakhir

: SMA

Identitas Ibu Kandung


Nama

: Ny. D

Tanggal Lahir

: 11 Juni 1976

Umur

: 40 tahun

Alamat

: Jl. Pelabuhan Lama Kel. Rawa Makmur Kec. Palaran

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pend Terakhir

: SMP

Anamnesis dilakukan secara alloanamnesa dan bertahap pada tanggal 10, 17 dan
18 Mei 2016 Februari 2016 dengan ayah dan ibu kandung pasiendi Puskesmas Palaran
danrumah pasien.

2.2 ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Grafik pertumbuhan berat badan terhadap umur berada di bawah garis merah.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien rutin dibawa ke Poli Sayang Ibu Puskesmas Palaran setiap bulan untuk
melakukan pemeriksaan tumbuh kembang dan menerima imunisai sesuai jadwal.
Pemeriksaan tumbuh kembang menunjukkan grafik pasien terus meningkat, namun
selalu berada di bawah garis merah sejak usia pasien 3 bulan.Ibu pasien mengaku bahwa
sejak pasien mulai diberi makanan pendamping ASI, pasien jarang menghabiskan
seporsi bubur yang disiapkan. Pasienhanya memakan1-2 sendok bubur setiap kali
makan. Ibu pasien menyiapkan makanan untuk pasien 3 kali sehari. Ibu telah mendapat
vitamin tambahan dari puskesmas berupa TABURIA yang diberi dengan menaburkan
pada makanan yang dikonsumsi tiap 2 hari sekali. Namun bila makanan pasien
ditaburkan itu, pasien tidak mau memakan makanan nya sama sekali.
Ibu pasien mengaku, pasien lebih suka memakan kue, agar-agar, dan biskuit
dibandingkan memakan bubur. Ibu pasien telah berusaha memberikan pasien buahbuahan seperti pisang, namun pasien tidak suka memakan buah-buahan. Ibu pasien
khawatir bila pasien tidak mendapat asupan gizi yang cukup, sehingga pasien diberi
tambahan susu formula Dancow (3 sendok takar dalam botol 120 ml sebanyak3-5 kali
sehari). Saat ini pasien masih meminum ASI terutama saat sebelum tidur malam hari.
Ibu pasien mengaku pasien hampir tidak pernah sakit sejak lahir. Saat ini juga
tidak ada memiliki keluhan apapun. Pasien anak yang aktif dan saat ini sudah mulai bisa
berkata 1 suku kata, seperti naa..naa. Pasien sudah bisa duduk dengan mandiri dan
mulai belajar berdiri dengan merayap di pinggir meja, kursi dan dinding. Pasien rutin
buang air besar 1 kali sehari dengan konsistensi lunak. Pasien masih menggunakan
popok dan diganti sebanyak 2-4 kali sehari, bila popok telah penuh, saat mandi atau
setelah buang air besar.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah dirawat di RS sebelumnya.Menurut pengakuan ibu pasien,
setiap kali pasien sakit tidak pernah melewati dari dua hari dan sembuh dengan
segera.Ibu pasien menuturkan bahwa pasien juga tidak pernah memiliki riwayat operasi
sebelumnya dan menyangkal adanya riwayat alergi pada anaknya.
6

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien mengaku semua saudara kandung pasien juga memiliki tubuh
yang kecil saat masih kecil. Namun, saudara tertua pasien mengalami pertumbuhan
yang cepat setelah memasuki SMP, hingga kini tinggi badannya mencapai 155 cm. Ibu
pasien memiliki tubuh yang kurus dan tinggi badan 148 cm. Pengakuan dari ibu pasien
bahwa keluarganya memang cenderung memiliki badan yang kecil.
5. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Post Persalinan
Ibu pasien melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas Palaran sebanyak 5
kali selama kehamilan.Ibu pasien berumur 40 tahun saat hamil, selama hamilsering
mengalami mual muntah hingga kehamilan tua. Biasanya muntah dialami sebanyak 2-3
kali sehari. Namun tidak mengalamipermasalahan lain, tekanan darah normal,tidak
adademam dan diabetes, tidak adariwayat trauma, serta tidak ada mengkonsumsi jamu,
alkohol dan rokok.Pasien dirujuk ke RS I.A. Moeis karena ini kehamilan dengan risiko
tinggi dan direncakanan dilakukan kontrasepsi mantap untuk ibu pasien.
Persalinan pasien ditolong oleh bidan, lahir spontan pervaginam, aterm 9 bulan
dengan BB 2600 gram dan langsung menangis kuat, keadaan bayi menjadi biru atau
kuning disangkal. Operasi untuk kontrasepsi mantap dilakukan 10 jam setelah
persalinan. Sejak lahir hingga saat ini, pasien sudah mendapatkan imunisasi lengkap.
Hamil

Kondisi

Jenis

ke
1
2
3
4

saat Lahir
Aterm
Aterm
Aterm
Aterm

(pasien)

Sehat/

Persalinan
Spontan
Spontan
Spontan

Usia

BB/TB

Penolong

13 thn
9 thn
5 thn

Bidan
Bidan
Bidan

Spontan

10 bln

2500 gr/?
3000 gr/?
3100 gr/?
2600 gr/

Tidak
Sehat
Sehat
Sehat

Bidan

Sehat

48 cm

6. Riwayat Makanan & Minuman


Pasien minum ASI sejak lahir hingga saat ini. Pasien mulai diberi susu formula
dan makanan pendamping ASI, seperti bubur susu dan biskuit bayi sejak berumur 6
bulan, lalu tim saring sejak 8 bulan.
7. Riwayat Imunisasi
Imunisasi

Usia saat imunisasi

II

III

IV

Booster I

Booster II

BCG

////////

///////

///////

///////

///////

Polio

Campak

///////

///////

///////

///////

///////

DPT

///////

Hepatitis B

///////

8. Pertumbuhandan perkembangan anak


BB Lahir

: 2600 gram

BB sekarang

:5400gram

PB Lahir

: 48 cm

PB sekarang

: 61cm

Gigi keluar

: 8 bulan

Tersenyum

: 5 bulan

Miring

: 6 bulan

Tengkurap

: 7 bulan

Duduk

: 8 bulan

Merangkak
: 8 bulan
Hasil KPSP usia 9 bulan mendapat 9 jawaban YA. Tahap perkembangan anak
sesuai (S)dengan usianya.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: tampak sehat
Kesadaran
: komposmentis, E4V5M6
Tanda-tanda vital
1. Frekuensi nadi :100x/menit kuat angkat
2. Frekuensi nafas :32x/menit
3. Suhu
:36,4oC
Status Gizi
Berat Badan

: 5,4kg

Panjang Badan

: 61cm

LLA

: 12 cm

PB/U

: < -3 SD (Sangat Pendek)

BB/U

: < -3 SD (Gizi Buruk)

BB/PB

:< -2 SD (Gizi Kurang)

10

Status generalisata
Kepala

Bentuk
: Normal
Lingkar Kepala : 43 cm
Rambut
: hitam,tipis, tidak mudah dicabut
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
pupil isokor, refleks cahaya (-/-)
Hidung
: nafas cuping hidung -|- , sekret (-)
Telinga
: bentuk normal, secret (-)
Mulut
: mukosa basah, tidak pucat, tidak sianosis, faring tidak hiperemis
KGB
: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Thorax

Inspeksi

Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:gerakan dinding dada simetris, retraksi suprasternal (-), retraksi


intercostal (-)
:vokal fremitus sama kanan dan kiri
:sonor di semua lapangan paru
: wheezing (-/-), ronki (-/-), S1S1tunggal reguler, murmur (-)

Abdomen

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: bentuk normal, simetris, datar, scar (-)


:soefl, tidak ada nyeri tekan, organomegali (-)
:timpani
:bising usus normal

Ekstremitas

Superior
Inferior

: akral hangat, CRT <2 detik, tidak edema


:akral hangat, CRT <2 detik, tidak edema

2.3 DIAGNOSIS KERJA

Gizi Kurang dan Perawakan Sangat Pendek

2.4 PENATALAKSANAAN
Farmakologis: Non farmakologis:

11

Edukasi mengenai pola makan bergizi selama masa pemberian MP-ASI yang
sesuai untuk anak usia 10 bulan, yaitu:
Tekstur makanan semi padat, berupa bubur tanpa disaring, makanan
dicincang lembut, atau irisan makanan lunak.
Frekuensi makan 3-4 kali sehari, diselingi makanan ringan 1-2 kali sehari.
Porsi makanan ditakar meningkat bertahap hingga mangkok (setara 125
mL) setiap makan.
Cara pemberian makanan aktif-responsif

Memberikan contoh-contoh sumber makanan yang bervariasi

Edukasi mengenai pentingnya melanjutkan pemberian ASI sesering dan


selama yang diinginkan pasien.

Edukasi pentingnya kebersihan dalam pengolahan dan pemberian makanan

Edukasi keluarga agar tidak serta merta mengikuti keinginan pasien mengenai
kebiasaan makan.

Menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan anak normal dan peran keluarga


dalam proses tumbuh-kembang pasien

Evaluasi pertumbuhan dan perkembangan pasien dan deteksi dini


kemungkinan terjadi gangguan hormonal dengan anjuran untuk kunjungan
rutin ke posyandu terdekat.

12

2.5 Analisis Kedokteran Keluarga


2.5.1 Identitas Kepala Keluarga
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Keterangan
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Agama
Suku Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan

9.

Alamat Lengkap

Kepala Keluarga
Pasangan
Tn. S
Ny. D
41 tahun
40 tahun
Laki-laki
Perempuan
Kawin
Kawin
Islam
Islam
Bugis
Banjar
SMA
SMP
Tukang Ojek
Ibu Rumah Tangga
Jl. Jl. Pelabuhan LamaRT. 32 Kel. Rawa Makmur
Kec. Palaran Samarinda

2.5.2 Identitas Anggota Keluarga Serumah


No

Anggota
Keluarga

Tn. S

Ny. D

An. R

An. N

An.

An. RS

Status

Keluarga

Nikah

Ya

Menikah

Menikah

Pekerjaan

41

Tukang

Ayah

tahun
40

Ojek

Kandung
Ibu

tahun
13
tahun
11
tahun
5
tahun
10
bulan

IRT
Pelajar
Pelajar
-

Serumah

Hub.

Usia

Kandung
Saudara

Belum

Kandung
Saudara

Menikah
Belum

Kandung
Saudara

Menikah
Belum

Kandung

Menikah
Belum

Pasien

Mneikah

Tdk

Kdg

13

2.5.3 Genogram

2.5.4 Status Fisik, Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan


No
1
2
3

Ekonomi Keluarga
Luas tanah
Luas Bangunan
Pembagian ruangan

Keterangan
10x20 meter
6x16 meter
Rumah pasien merupakan rumah

14

bangsalan yang terdiri dari dapur,


ruang tamu,2 buah kamar tidur dan
4
5

1 buah kamar mandi.


600 Watt

Besarnya daya listrik


Tingkat pendapatan keluarga :
Pengeluaran rata-rata/bulan

Rp1.200.000,00

Bahan makanan: Beras, Lauk/ikan, sayur,


air minum, dan lain-lain.
Diluar bahan makanan: kesehatan, listrik,

Rp 300.000,00

air, dan lain-lain.


Penghasilan keluarga/bulan
No

Rp 1.500.000,00
Perilaku Kesehatan

1
2

Pelayanan promotif/preventif
Pemeliharaan kesehatan anggota

Tidak ada
Dokter

keluarga lain
Pelayanan pengobatan

Dokter

Jaminan pemeliharaan kesehatan

Jamkesda

No
1

Pola Makan Keluarga


Pasien dan anggota keluarga

Makan 3 kali sehari (pagi, siang dan


malam). Nasi, tahu, tempe, ikan, daging.
Hanya pasien yang masih memakan bubur.

No
1

Aktivitas Keluarga
Aktivitas fisik
Pasien

Aktivitas seperti bermain, makan, tidur


dilakukan di rumah bersama keluarga.

Ayah

Menjadi tukang ojek di daerah pasar


setempat mulai pukul 06.00-18.00 WITA.
Kegiatan di sela pekerjaan adalah
mengantar jemput istri dan anak.

Ibu

Belanja ke pasar biasanya pukul 08.0009.00 WITA, lalu memasak, membersihkan


15

rumah dan mengurus anak di rumah.


Kakak pertama

Sekolah di MTs Ibtidaiyah Rawa Makmur


mulai pukul 07.30 14.30 WITA.
Selanjutnya, aktivitas dengan anggota
keluarga lainnya di rumah.

Kakak kedua

Sekolah di SD 003 Rawa Makmur mulai


pukul 07.30 14.30 WITA. Selanjutnya,
aktivitas dengan anggota keluarga lainnya
di rumah.

Kakak ketiga
Aktivitas mental

Belum sekolah dan hanya di rumah.


Seluruh anggota keluarga rutin
melaksanakan shalat 5 waktu.

No
1

Lingkungan
Sosial

Hubungan orang rumah dengan lingkungan


sekitar baik. Hubungan pasien di sekitar
rumah dan di sekolah juga cukup baik.

Fisik/Biologik
Perumahan dan fasilitas

Cukup

Luas tanah

10x20 meter

Luas bangunan

6x 16 meter

Jenis dinding terbanyak

Kayu

Jenis lantai terluas

Kayu

Sumber penerangan utama

Lampu listrik

Sarana MCK

Kamar mandi dan WC berada di dalam


rumah. Tempat mencuci piring dan pakaian
berada di dekat dapur.

Sarana Pembuangan Air Limbah

Septic tankberada di belakang rumah dan


digunakan sebagai tempat penampungan
limbah.

16

Sumber air sehari-hari

Air PDAM

Sumber air minum

Air isi ulang

Pembuangan sampah

Sampah dikumpulkan menjadi satu plastik


kemudian dibuang ke TPS terdekat.

2.5.5 Pola Hidup Bersih dan Sehat Keluarga


No

Indikator Pertanyaan

Keterangan

Jawaban
Ya

Tidak

A. Perilaku Sehat
1
Tidak merokok
Ada yang memiliki kebiasaan
2

Ada

merokok
Persalinan
Dimana ibu melakukan persalinan

Bersalin ditolong oleh

bidan di RS IA Moeis
3

Imunisasi
Apakah bayi ibu sudah di

Imunisasi lengkap

imunisasi lengkap

(BCG,DPT 1,2,3,Polio,

Hepatitis, Campak)
4

Balita di timbang
Dimanakah balita ibu sering

Rutin ditimbang di

ditimbang?
Sarapan pagi

puskesmas

Apakah seluruh anggota keluarga

Tidak rutin sarapan pagi

memiliki kebiasaan sarapan pagi?


Dana sehat / Askes
Apakah anda ikut menjadi peserta

Jamkesda

askes?

17

Cuci tangan
Apakah anggota keluarga

Seluruh anggota

mempunyai kebiasaan mencuci

keluarga tidak rutin

tangan menggunakan sabun

mencuci tangan dengan

sebelum makan dan sesudah

sabun sebelum dan

buang air besar ?


Sikat gigi

sesudah BAB

Apakah anggota keluarga

Seluruh anggota

memiliki kebiasaan gosok gigi

keluarga melakukan

menggunakan odol

kebiasaan menggosok

gigi
9

Aktivitas fisik/olahraga
Apakah anggota keluarga

Seluruh anggota

melakukan aktivitas fisik atau

keluarga jarang

olah raga teratur

melakukan olahraga

B. Lingkungan Sehat
1

Jamban
Apakah dirumah tersedia jamban

Ya, tersedia Jamban

dan seluruh keluarga

bentuk leher angsa

menggunakannya?
Air bersih dan bebas jentik
Apakah dirumah tersedia air

Di rumah menggunakan

bersih dengan tempat/tendon air

sumber air berasal dari

tidak ada jentik?

air PDAM dan

ditampung di dalam
drum, tidak ada tempat
penampungan air yang
berjentik
3

Bebas sampah
Apakah dirumah tersedia tempat

Rumah terlihat bersih

sampah? Dan di lingkungan

dan tidak tampak

sekitar rumah tidak ada sampah

sampah berserakan di

berserakan?

daerah sekitar rumah

18

SPAL
Apakah ada/tersedia SPAL

Pembuangan limbah

disekitar rumah?

menggunakan septic

tank
5

Ventilasi
Apakah ada pertukaran udara

Ukuran ventilasi lebih

didalam rumah?

kurang 1/10 luas lantai

untuk tiap ruangan


6

Kepadatan
Apakah ada kesesuaian rumah

Rumah cukup luas untuk

dengan jumlah anggota keluarga?


Lantai

6 orang penghuni

Apakah lantai bukan dari tanah?

Seluruh lantai rumah

dari kayu.
C. Indikator Tambahan
1
ASI Eksklusif
Ya

Apakah dalam 1 minggu terakhir

Tidak semua anggota

anggota keluarga mengkonsumsi

keluarga mengkonsumsi

buah dan sayur?

sayur dan jarang

Apakah ada bayi usia 0-6 bulan


hanya mendapat ASI saja sejak
2

lahir sampai 6 bulan


Konsumsi buah dan sayur

mengkonsumsi buah
Jumlah

14

19

Klasifikasi
SEHAT I : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 1-5 pertanyaan (merah)
SEHAT II : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 6-10 pertanyaan (Kuning)
SEHAT III : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 11-15pertanyaan (Hijau)
SEHAT IV : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 16-18pertanyaan (Biru)
Kesimpulan
Dari 18 indikator yang ada, yang dapat dijawab Ya ada 14 pertanyaan yang
berarti identifikasi keluarga dilihat dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehatnya masuk
dalam klasifikasi SEHAT III.

2.5.6 Resume Faktor Resiko Lingungan Keluarga


Faktor Resiko
Sanitasi lingkungan cukup bersih, MCK cukup bersih, kamar dan dapur
Fisik

Biologi
Psikososio-

kurang rapi.
Tempat tidur (kasur, bantal kapuk, kipas angin berdebu)
Ventilasi cukup dan pertukaran udara baik.
Ibu pasien dan saudara-saudara ibu nya memiliki perawakan pendek.
Memiliki kartu jaminan kesehatan.
Pendapatan keluarga kategori menengah kebawah.

ekonomi
Perilaku
Kesehatan
Gaya
hidup

Higiene pribadi pasienkurang bersih.


Nafsu makan dan pola makan pasien buruk.
Pengetahuan mengenai pemenuhan gizi anak yang kurang.
Prioritas untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan.
Tidak pernah berolahraga.
Pola makan yang kurang bergizi.

2.5.7 Diagnosa Keluarga (Resume Masalah Kesehatan)


Status Kesehatan dan Faktor Resiko (Individu, Keluarga, dan Komunitas)

20

a. Ibu pasien kurang inovatif dalam penyajian menu makandan membuat makanan
untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien.
b. Pengetahuan keluarga mengenai jenis-jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan
gizi pasien terhadap pertumbuhan masih kurang.
Status Upaya Kesehatan (Individu, Keluarga, dan Komunitas)
a. Pendapatan keluarga diprioritaskan untuk sandang dan pangan.
b. Pemeriksaan kesehatan dilakukan di puskesmas dan rumah sakit serta terkadang
dilakukan di praktek dokter spesialis.
c. Pemenuhan gizi seimbang dan sehat khusus bagi pasien dirasa cukup kurang.
d. Memiliki jaminan kesehatan.
e. Semua anggota keluarga memiliki kesempatan yang sama dalam berobat.
Status Lingkungan
a. Kondisi rumah dan lingkungan secara umum baik.
b. Ukuran luas rumah dan halaman cukup memadai untuk ditempati oleh anggota
keluarga yang berjumlah 6 orang serta ventilasi yang cukup.
c. Hubungan dengan tetangga dan lingkungan sekitar cukup baik.
d. Sanitasi lingkungan sekitar rumah kurang bersih.
e. Terdapat tempat sampah baik di dalam rumah.
Diagnosa Keluarga
Sebuah keluarga Tn. S yang terdiri dari 6 orang anggota keluarga inti dengan
salah satu anggota keluarga merupakan pasien yang mengalami gizi kurang dan
perawakan sangat pendek.Secara umum, keluarga ini menempati rumah yang cukup
sehat, sosial ekonomi yang cukup, kebersihan lingkungan yang kurang, kesadaran
PHBS yang kurang baik, dan fungsi keluarga sehat yang baik.

2.5.8 Rencana Penatalaksanaan Masalah Kesehatan

No
1.

Masalah
Kesehatan

Rencana Penatalaksanaan Masalah Kesehatan


Farmakologi

Non Farmakologis

Perbaikan

s
Farmakologis:

Non-farmakologis :

Status Gizi

(-)

Pasien

Edukasi mengenai pola makan bergizi selama


masa pemberian MP-ASI, yaitu mengenai tekstur
makanan, porsi makan, waktu makan, dan cara
pemberian makanan aktif-responsif

Memberikan contoh-contoh sumber makanan yang

21

bervariasi

Edukasi mengenai pentingnya melanjutkan


pemberian ASI

Edukasi pentingnya kebersihan dalam pengolahan


dan pemberian makanan

Menyarankan keluarga memantau berat badan dan


lingkar lengan atas pasien. Apabila semakin turun
segera kembali ke puskesmas.

Edukasi keluarga agar tidak serta merta mengikuti


keinginan pasien mengenai kebiasaan makan.

Menjelaskan peran keluarga dalam roses tumbuhkembang pasien

Edukasi mengenai stimulasi perkembangan yang


dapat diberikan keluarga sesuai usia pasien

2.

Perawakan

Menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan

anak normal.
Perbaikan status gizi untuk mengurangi risiko

pendek

terhambatnya pertumbuhan akibat gizi kurang.

Evaluasi pertumbuhan dan perkembangan pasien


dan deteksi dini kemungkinan terjadi gangguan
hormonal dengan anjuran untuk kunjungan rutin
ke posyandu terdekat.

1.1.1.

Mandala of Health

1.1.2.
1.1.3.

22

2.5.9 Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah dalam Keluarga


1.1.5. Mas
1.1.4.
No

1.1.8.
1.

alah

1.1.6.

Yang

Skor

1.1.7. Upaya Penyelesaian

Dihad
api
1.1.9. Masa
lah

1.1.11. Edukasi mengenai pola makan bergizi yang


dibutuhkan pasien. Pasien memerlukan diet

tinggi kalori dan tinggi protein.

Perbaik

1.1.12.

an

1.1.13. Memberikan contoh-contoh sumber protein

Status

1.1.14.

Gizi

1.1.10.

seperti: putih telur, ikan harwan, daging


sapi, daging ayam, susu, tahu, tempe.

1.1.15. Menyarankan porsi makan sedikit namun


1.1.16.

1.1.17.
4

1.1.18.
1.1.19.

1.1.20.

sering.
Menyarankan keluarga memantau berat
badan dan lingkar kengan atas pasien.
Apabila semakin turun segera kembali ke
puskesmas.
Edukasi keluarga agar tidak serta merta
mengikuti keinginan pasien mengenai
kebiasaan makan.

1.1.21.
1.1.22.
1.1.23.
4
2.

2.1.1. Pera

1.1.24.
2.1.2. Perbaikan status gizi untuk mengurangi
risiko terhambatnya pertumbuhan akibat gizi

wakan

pendek

2.1.3.

2.1.4.

kurang.
Evaluasi pertumbuhan dan perkembangan
pasien dan deteksi dini kemungkinan terjadi

26

gangguan hormonal dengan anjuran untuk

2.1.5.

kunjungan rutin ke posyandu terdekat.

2.1.6.
2.1.7.
2.1.8.
2.1.9. Klasifikasi Skor:
2.1.10. Skor 1

Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada

Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, tidak

partisipasi.

2.1.11. Skor 2

ada sumber (hanya keinginan); penyelesaian masalah dilakukan


sepenuhnyaoleh provider.

2.1.12. Skor 3

: Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber

yang belum dimanfaatkan, penyelesaian masalah dilakukan sebagian


besar provider.

2.1.13. Skor 4

Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya,

masih tergantung pada upaya provider.

2.1.14. Skor 5

Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga.

27

2.5.10
PEMBAHASAN

2.1.15.
2.1.16.

Studi kasus dilakukan pada pasien an. RSusia10 bulan

dengan keluhangrafik pertumbuhan berat badan terhadap umur berada di bawah


garis merah.Penegakkan diagnosis gizi kurang dan perawakan sangat pendek pada
pasien didapatkan dari pengukuran BB/TB, BB/U dan BB/U menggunakan grafik
dari WHO yang dilakukan terhadap pasien. Berdasarkan hasil pengukuran
didapatkan nilai BB/TB < -3 SD (sangat pendek), BB/U < -3 SD (gizi buruk) dan
BB/PB < -2 SD (gizi kurang) (IDAI, 2009; Nelson, 2000).

2.1.17.

Penegakkan diagnosis perawakkan badan dinilai dengan

melihat laju pertumbuhan <5cm/ tahun, mulai umur 3 tahun


pubertas. Namun, laju pertumbuhan ini belum dapat dihitung.
Penilaian lainnya dengan melihat potensi tinggi genetik. Tinggi
badan secara bermakna < potensi tinggi genetik (-2SD mid parental
height)..

2.1.18.

Midparental height

2.1.19.

Laki laki = {(TB Ayah+ TB Ibu - 13) x } +/- 8,5 cm

2.1.20.

TB= {(165+ 148 - 13) x } +/- 8,5 cm

2.1.21.

TB = 150 +/- 8,5 cm

2.1.22.

Potensi tinggi genetik pasien antara 141,5 158,5 cm.

2.1.23.

Faktor yang mempengaruhi rendahnya asupan kalori pada

anak karena pengetahuan gizi yang rendah pada orang tua terutama
ibu. Penelitian oleh Imdad dkk. (2011),menggambarkan terjadi
peningkatan terhadap berat dan tinggi badan anak usia dibawah
5 tahun setelah diberikan makanan tambahan beserta konseling
kepada ibu mengenai nutrisi yang baik untuk anak. Penelitian
yang dilakukan di Indonesia oleh Oktaviasari dan Muniroh (2012),
menunjukkan pada orang tua yang merokok meningkatkan risiko gizi
kurang pada anak karenakemampuan untuk membeli makanan
yang bergizi menjadi berkurang dibandingkan dengan orang tua

28

yang tidak merokok.Faktor sosial ekonomi yang rendah, jumlah


keluarga yang banyak juga berkontribusi terhadap terjadinya
perawakan pendek (Depkes RI, 2014).

2.1.24.

Dari hasil anamnesa didapatkan bahwa pasien sehari makan

3 kali sesuai frekuensi makan keluarga.Namun biasanya hanya mau


memakan 1-2 sendok. Ibu pasien mengaku, pasien lebih suka
memakan kue, agar-agar, dan biskuit dibandingkan memakan bubur.
Ibu pasien telah berusaha memberikan pasien buah-buahan seperti
pisang, namun pasien juga tidak mau memakan buahbuahan.Intervensi mengenai pola makan pasien dapat dimulai dengan
edukasi kepada keluarga mengenai status gizi pasien dan pentingnya
perbaikan status gizi untuk proses pertumbuhan dan perkembangan
pasien.Jika makanan pendamping ASI (MP-ASI)diberikan terlambat
(anak lebih dari 6 bulan) risikonya adalah anak akan terganggu
perkembangan kemampuan makan atau oro-motoriknya sehingga
selanjutnya akan mengalami kesulitan makan yang lebih parah
(WHO, 2010).

2.1.25.

Hasil skrining perkembangan pasien menggunakan

kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) menunjukkan tahap


perkembangan anak sesuai dengan usianya. Penelitian yang
membandingkan gambaran CT Scan pada anak berusia 3 tahun
dengan gizi normal dan anak dengan malnutrisimenunjukkan volume
otakyang lebih kecil. Hal ini bisa diakibatkan salah satu faktor seperti
kesalahan selama masa pemberian MP-ASI (Depkes, 2012).

2.1.26.

Cara pemberian MP-ASI menurut pedoman WHO adalah

dengan metode aktif-responsif. Edukasi bukan hanya sekedar


makanan namun juga cara makan, kapan waktu makan, tempat
makan, dan faktor pemberi makanan sehingga dalam MPASI WHO
ini juga diperhatikan faktor psikososial anak.Karena bayi butuh
waktu untuk belajar cara menangani dan menelan tekstur makanan
dari cair ke padat. Cara pemberian makan aktif-responsif ini antara
lain (WHO, 2010):

29

1. Suapi bayi dan perhatikan anak yang lebih besar serta beri bantuan bila dia
membutuhkan. Beri anak makanan dengan sabar dan penuh perhatian, dorong
anak untuk mau makan namun jangan paksa anak untuk makan.
2. Jika anak menolak makan, coba ganti kombinasi makanan, rasa, tekstur dan
metode makan.
3. Minimalisasi gangguan saat anak makan jika anak tipe yang mudah teralihkan
perhatiannya.
4. Waktu makan adalah saatnya anak untuk belajar dan waktu keluarga
mencurahkan cinta dan saling berkomunikasi sehingga ajak anak untuk
mengobrol dengan kontak mata yang penuh kehangatan.

2.1.27.
2.1.28.

Umur 10 bulan merupakan waktu dimana bayi diharapkan

sudah bisa memakan tekstur makanan MP-ASIsemi-padat (lumpy


solid food) sehingga mulai kenalkan makanan lembek tanpa saring di
umur 9 bulan. Makanan kaya kalori dapatdiperoleh dari sumber
karbohidrat seperti biji-bijian/serealia (beras, jagung, gandum/oat,
sorghum), umbi akar (kentang, ubi, ketela), dan buah dengan
kandungan karbohidrat yang tinggi seperti pisang dan sukun.Jadi
makanan pertama bayi saat MPASI pertama yang harus ibu berikan
adalah sumber karbohidrat sesuai bahan makanan pokok yang
keluarga makan (WHO, 2010).

2.1.29.

Untuk semakin meningkatkan jumlah kalori dalam bubur

yang disajikan maka jangan beri terlalu banyak air dan bisa
ditambahkan minyak nabati (minyak kelapa, minyak sayur, minyak
zaitun, dll) atau margarin. Dengan demikian bayi akan lebih mudah
menelan makanan yang diberikan dan kalori MP-ASI juga lebih
tinggi. Kemudian dapat diberikan contoh-contoh sumber makanan
yang baik untuk meningkatkan status gizi pasien. Berikut contoh
makanan tinggi protein, seperti daging sapi, daging ayam, telur, hati,
susu, ikan, kacang-kacangan (Depkes RI, 2007).

2.1.30.

Bayi lahir sehat cukup bulan dengan berat badan normal

membawa cadangan zat besi di tubuhnya, namun cadangan zat besi


ini akan habis setelah bayi berumur 6 bulan. Pada umur 6 bulan
30

kebutuhan zat besi akan meningkat menjadi 11 mg/hari. Oleh sebab


itu ibu harus memilih bahan makanan yang mengandung banyak zat
besi untuk MP-ASI (WHO, 2010).

2.1.31.

Zat besi bisa didapatkan dari bahan pangan hewani atau

nabati. Zat besi dalam bahan pangan hewani berada dalam bentuk
heme iron, sedangkan dalam sayur-mayur berada dalam bentuk nonheme iron. Non-heme iron ini membutuhkan zat tambahan yang
disebut enhancer supaya bisa diserap oleh tubuh. Enhancer yang
dibutuhkan adalah vitamin C dan (kemungkinan) karoten, sedangkan
vitamin C dan karoten ini mudah rusak dalam proses pengolahan
makanan. Selain alasan di atas, zat besi dari bahan pangan nabati
sukar dicerna karena akan dihambat oleh phytate atau phytic acid (6fosfoinositol), fosfat, oksalat, tannat, karbonat dan polifenol yang
juga banyak terdapat dalam sayur-mayur.Oleh sebab itu, segera
berikan bahan pangan hewani kaya zat besi seperti hati atau daging
merah dalam MP-ASI bayi 6 bulan. Kekurangan zat besi dapat
menyebabkan anemia dan menurunnya daya konsentrasi.
Kekurangan seng dapat menghambat pertumbuhan, menurunnya
kemampuan indera perasa, penciuman, dan kerusakan kulit (Ibeanu
dkk., 2012; WHO, 2010).

2.1.32.

Saat ini pasien masih meminum ASI terutama saat sebelum

tidur malam hari.Ibu pasien khawatir bila pasien tidak mendapat


asupan gizi yang cukup, sehingga pasien diberi tambahan susu
formula Dancow (3 sendok takar dalam botol 120 ml sebanyak3-5
kali sehari). Pemberian ASI pada saat MP-ASI dianjurkan masih
seperti pada saat masa ASI eksklusif yaitu sesering dan selama yang
anak inginkan. Menyusu semau bayi pada masa-masa ini akan tetap
membuatnya masih lapar karena ASI sangat berbeda dari susu
formula dan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan nafsu makan juga
energi bagi bayi (WHO, 2010).

2.1.33.

Pada masa-masa ini bayi sangat rentan terkena diare

sehingga ibu harus memastikan kebersihan makanan, air, alat makan,


31

proses memasak dan tangan (pemberi makan maupun bayi). Cuci


tanganibu dan bayi dengan air serta sabun saat mau memasak, mau
makan dan setelah dari toilet. Penggunaan peralatan makan
disarankan yang mudah dibersihkan seperti cangkir, mangkok dan
sendok, bukan botol-sendok, dot atau pipet (WHO, 2010).

2.1.34.

Evaluasi pertumbuhan dan perkembangan pasien dan

deteksi dini kemungkinan terjadi gangguan hormonal. Tanda-tanda


pubertas dapat dinilai dengan menggunakan pedoman (standard) dari
Tanner.Pemeriksaan laboratorium berupa darah lengkap rutin,
serologi urea dan elektrolit, calcium, fosfatase dan alkali fosfatase,
T4 dan TSH, GH (growth Hormone) atas indikasi. Pemeriksaan lain
denganX-Ray, yaitu melihat umur tulang(Bone Age), tengkorak
kepala/Sella Tursica, bila perlu CT scan atau MRI(IDAI, 2011).

2.1.35.

Penanganan perawakan pendektergantung pada

penyebabnya.Untuk anak-anak dengan perawakan pendek varian


normal, umumnya pengobatan tidak diperlukan.Konseling diperlukan
untuk mencegah rasa rendah diri dan hambatan perkembangan
(IDAI, 2011).
LAMPIRAN

2.1.36.

Lampiran 1 Dokumentasi

2.1.37.
2.1.38.
2.1.39.
2.1.40.
2.1.41.
2.1.42.
2.1.43.

32

2.1.44.
2.1.45.
2.1.46.
2.1.47.

Pasien An. RS

2.1.48.
2.1.49.
2.1.50.
2.1.51.
2.1.52.
2.1.53.
2.1.54.
2.1.55.
2.1.56.

Rumah Pasien Tampak Depan

2.1.57.
2.1.58.
2.1.59.
2.1.60.
2.1.61.
2.1.62.
2.1.63.
2.1.64.
33

2.1.65.
2.1.66.
2.1.67.

Rumah Pasien Tampak Samping

2.1.68.
2.1.69.
2.1.70.
2.1.71.
2.1.72.
2.1.73.
2.1.74.
2.1.75.
2.1.76.
2.1.77.
2.1.78.

TerasRumah Pasien

34

2.1.79.
2.1.80.

Lampiran 2 Kuesioner Praskrining untuk Bayi 9 bulan


2.1.81. Pemeriksaan

2.1.82. YA/

No

TIDAK

2.1.83.
2.1.84. Pada posisi bayi telentang, pegang
1.

kedua tangannya lalu tarik perlahan-lahan ke

2.1.88. Gera

2.1.89. YA

k Kasar

posisi duduk. Dapatkah bayi mempertahankan


lehernya secara kaku seperti gambar di
sebelah kiri ? Jawab TIDAK bila kepala bayi
jatuh kembali seperti gambar sebelah kanan.

2.1.85.
2.1.86.
2.1.87.
2.1.90.
2.1.91. Pernahkah anda melihat bayi
2.

memindahkan mainan atau kue kering dari

2.1.92. Gera

2.1.93. YA

k Halus

satu tangan ke tangan yang lain? Benda-benda


panjang seperti sendok atau kerincingan
bertangkai tidak ikut dinilai.
2.1.94.
2.1.95. Tarik perhatian bayi dengan
3.

memperlihatkan selendang, sapu tangan atau

2.1.96. Gera

2.1.97. YA

k Halus

serbet, kemudian jatuhkan ke lantai. Apakah


bayi mencoba mencarinya? Misalnya mencari
di bawah meja atau di belakang kursi?
2.1.98.
2.1.99. Apakah bayi dapat memungut dua

2.1.100.

4.

Gerak Halus

benda seperti mainan/kue kering, dan masing-

2.1.101.
TIDAK

masing tangan memegang satu benda pada


saat yang sama? Jawab TIDAK bila bayi tidak
pernah melakukan perbuatan ini.

35

2.1.102.
2.1.103.
5.

Jika anda mengangkat bayi

melalui ketiaknya ke posisi berdiri, dapatkah

2.1.104.
Gerak Kasar

2.1.105.
YA

ia menyangga sebagian berat badan dengan


kedua kakinya? Jawab YA bila ia mencoba
berdiri dan sebagian berat badan tertumpu
pada kedua kakinya.
2.1.106.
2.1.107.
6.

Dapatkah bayi memungut

dengan tangannya benda-benda kecil seperti

2.1.112.
Gerak Halus

2.1.113.
YA

kismis, kacang-kacangan, potongan biskuit,


dengan gerakan miring atau menggerapai
seperti gambar ?

2.1.108.
2.1.109.
2.1.110.
2.1.111.
2.1.114.
2.1.115.
7.

Tanpa disangga oleh bantal,

kursi atau dinding, dapatkah bayi duduk

2.1.119.
Gerak Kasar

2.1.120.
YA

sendiri selama 60 detik?

2.1.116.
2.1.117.
2.1.118.
2.1.121.
2.1.122.
8.

kering sendiri?

Apakah bayi dapat makan kue

2.1.123.
Sosialisasi&

2.1.124.
YA

Kemandirian

36

2.1.125.
2.1.126.
9.

Pada waktu bayi bermain

sendiri dan anda diam-diam datang berdiri di


belakangnya, apakah ia menengok ke

2.1.127.
Bicara &

2.1.128.
YA

Bahasa

belakang seperti mendengar kedatangan anda?


Suara keras tidak ikut dihitung. Jawab YA
hanya jika anda melihat reaksinya terhadap
suara yang perlahan atau bisikan.
2.1.129.
2.1.130.

Letakkan suatu mainan yang

2.1.131.

10

dinginkannya di luar jangkauan bayi, apakah

Sosialisasi&

ia mencoba mendapatkannya dengan

Kemandirian

2.1.132.
YA

mengulurkan lengan atau badannya?

2.1.133.
2.1.134.

Hasil Kuesioner Praskrining untuk Bayi 9 bulan

Jawaban YA pada 9 poin pertanyaan.

Jawaban TIDAK pada poin pertanyaan no. 4 yaitu pemeriksaan gerak halus.

2.1.135.

37

DAFTAR PUSTAKA

2.1.136.
2.1.137.
2.1.138.

Behrman R.E, Kliegman R.M and jenson H.B. (2004).Nelson

textbook of pediatrics.17th edition.USA.

2.1.139.

Branca, F., Ferrari, M.. 2002. Impact of micronutrient deficiencies

on growth: the stunting syndrome. Ann Nutr Metab, 46:8-17.

2.1.140.

Dekker, L.H., Mora-Plazas, M., Marin, C., Baylin, A., Villamor, E.

(2010) Stunting associated with poor socioeconomic and maternal nutrition


status and respiratory morbidity in Colombian schoolchildren. Food &
Nutrition Bulletin, 31(2): 242-250.

2.1.141.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Stimulasi,

deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak tingkat pelayanan


kesehatan dasar. Jakarta: Depkes RI.

2.1.142.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Pedoman

pelaksanaan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak


tingkat pelayanan kesehatan dasar. Jakarta: Depkes RI.

2.1.143.

Hay W.W, Hayward A.R, Levin M..J and Sandheimer J.M.

(2003).Current pediatric diagnosis and treatment.16th edition.Lange


medical books/McGraw-hill. North America.

2.1.144.

Ibeanu, Okeke,Onyechi,Ejiofor. 2012. Assessment of

Anthropometric Indices, Iron and Zinc Status of Preschoolers in a periurban Community in South East Nigeria. IJBAS-IJENS. 12:31-37.

2.1.145.

IDAI. 2009. Pedoman Pelayanan Medis. Badan Penerbit Ikatan

DokterAnak Indonesia. URL: http://idai.or.id/downloads/PPM/BukuPPM.pdf.

2.1.146.

IDAI. 2011. Asuhan Nutrisi Pediatrik. UKK Nutrisi dan Penyakit

Metabolik.

2.1.147.

Imdad A., Yakoob, M.Y., Bhutta,Z.A. 2011. Impact maternal

Education About Complementary Feeding and Provision of

38

Complementary Foods on Child Growth in Developing Country. BMC


Public Health 11(Suppl 3):1-14.

2.1.148.

International Food Policy Research Institute. 2014. Global

Nutrition Report 2014: Actions and Accountability to Accelerate the Worlds


Progress on Nutrition. Washington, DC

2.1.149.

KementrianKesehatanRI,Riskesdas,2010.Tersediadalam

http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/buku_laporan/lapnas_riskes
das2010/Laporan_riskesdas_2010.pdf

2.1.150.
2.1.151.

Lee MM. (2006). Idiopathic short stature.Clinical practice. N Engl

J Med. Jun 15 2006;354(24):2576-82

2.1.152.

Oktaviasari Dan Muniroh. 2012. Hubungan antara Besar

Pengeluaran Keluarga untuk Rokok dengan Status Gizi Balita pada


Keluarga Miskin. The Indonesian Journal of Public Health, Vol. 9 No. 1, Juli
2012: 1018

2.1.153.

Rudolph C. D, Rudolph A. M, Hostetter M. K, Lister G and Siegel

N. J. (2002).Rudolphs Pediatrics.21st Edition. McGraw-hill company:


North America.

2.1.154.

39