Anda di halaman 1dari 15

Bab 1

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Di Indonesia, etika bisnis dalam berbisnis kurang begitu diterapkan oleh para pelaku
bisnis. Hal ini disebabkan karena keinginan cepat mendapatkan keuntungan yang banyak
sehingga etika dan moralitas berbisnis sangat mudah diabaikan. Dengan pengabaian etika
bisnis oleh para pelaku bisnis menyebabkan banyak pihak yang merasa dirugikan terutama
konsumen.
Telah berlakunya pasar bebas 2015, menuntut para pengusaha agar lebih kreatif dalam
berbisnis. Namun pada kenyataannya, dewasa ini media sering menghadirkan tayangan
tentang praktek dunia bisnis yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan. Hal ini menandakan
bahwa telah terjadi pelanggaran etika bisnis. Hal tersebut dapat menggambarkan betapa
lemahnya daya saing berbisnis para pengusaha di Indonesia. Padahal pasar bebas belum
terelisasi. Setiap tindakan yang diambil para pelaku bisnis ada dasarnya sendiri. Dasar
tindakan tersebut yang menjadikan kelemahan dalam berbisnis yang kemudian menjadi
kendala dalam melakukan bisnis yang beretika. Bahkan, kini bermunculan lembaga-lembaga
sosial yang secara spesifik menangani persoalan etika, seperti etika bisnis dan etika profesi.
Fenomena ini menandai adanya suatu pelanggaran etika dalam suatu kegiatan profesi.1
Namun ada juga pebisnis lebih memahami etika bisnis sebagai ketaatan padaundangundang dan peraturan serta mekanisme pasar.bisnis adalah sebuah bagian penting dalam
perusahaan dalam mengelola keuangan bagian ini bias disebut jantung perusahaan yang
menetukan jalan nya perusahaan tersebut. karena tidaknya perkembangan sebuah perusahaan
ditentukan dari output data akuntansi perusahaan.Oleh karena itu banyak pihak yang
terkadang ingin memamfaatkanya untuk melakukannya hal yang tidak baik demi kepentingan
sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan pembahasan
dengan judul etika bisnis.

http://helloprimata.blogspot.com/2014/06/makalah-etika-bisnis-di-indonesia.html

1.2. Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud etika, hukum,bisnis dan etika bisnis ?


Bagaimana kaitan etika dan hukum dalam praktek berbisnis ?
Pelanggaran etika bisnis seperti apa yang telah terjadi di Indonesia ?
Apa saja keuntungan dalam bisnis beretika itu ?
Masalah apa saja yang ada dalam etika bisnis dan bagaimana cara menanganinya?
Bagaimana tata cara mempertahankan standar etika bisnis ?
Apa saja macam macam tanggung jawab perusahaan terhadap pemilik kepentingan?

1.3. Tujuan dan Manfaat


1. Sebagai penambah wawasan pengetahuan perkembangan etika bisnis.
2. Memberikan pengetahuan baru bagi pembaca, tentang pentingnya etika dan hukum
3.
4.
5.
6.
7.
8.

dalam praktek berbisnis di Indonesia.


Untuk menjelaskan fungsi etika dan hukum terhadap berbisnis di Indonesia.
Untuk mengetahui pelanggaran etika bisnis
Untuk mengetahui keuntungan-keuntungan dalam bisnis beretika.
Untuk memenuhi tugas kelompok Kewirausahaan dan Manajemen Inovasi.
Untuk dijadikan bahan dalam kegiatan diskusi
Untuk mengetahui pentingnya etika didalam berbisnis dan kewirausahaan

Bab 2
Pembahasan

Pengertian Etika, Hukum dan Etika Bisnis


2

Pengertian Etika
Menurut bahasa Yunani Kuno, etika berasal dari kata ethikos yang berarti timbul dari

kebiasaan. Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang
menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.2
Jadi kesimpulan menurut kami Etika Merupakan bagian dari moral dari dasar moral
yaitu nilai-nilai tentang apa yang baik dan apa yang buruk terhadap suatu tidakan.
Etika memiliki tujuan yaitu untuk Menilai praktek menusiawi dengan menggunakan
standar moral dan juga untuk Memberikan pandangan tentang bagaimana bertindak secara
moral pada situasi tertentu atau memberi nasehat untuk perbaikan.

Pengertian Hukum
Hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat

tetapi juga hakim. Undang-undang adalah sesuatu yang berbeda dari bentuk dan isi
konstitusi; karena kedudukan itulah undang-undang mengawasi hakim dalam melaksanakan
jabatannya dalam menghukum orang-orang yang bersalah. (aristoteles)3
Konsep Hukum :
a. Hukum adalah asas-asas kebenaran yang bersifat kodrati dan berlaku universal.
b. Hukum adalah norma-norma positif di dalam system per-UU hukum nasional.
c. Hukum adalah apa yang diputuskan oleh hakim in concreto, dan tersistemasi sebagai
judge-made-law.
d. Hukum adalah pola-pola perilaku sosial yang terlembagakan, eksis sebagai variable
sosial yang empirik.4
Jadi Hukum menurut kami merupakan aturan-aturan formal dan tegas yang mengikat
semua kalangan yang memiliki sangsi yang jelas dan tegas didasar kan perundingan dan
kesepakatan bersama atau perwakilan masyarakat besar.

Definisi Bisnis

2 https://nicolashadi.wordpress.com/2013/01/19/etika-dan-hukum/
3 https://nicolashadi.wordpress.com/2013/01/19/etika-dan-hukum/
4 https://nicolashadi.wordpress.com/2013/01/19/etika-dan-hukum/
3

Ada banyak definisi yang telah ada hingga saat ini. Berikut ini ada beberapa pengertian bisnis
menurut para ahli :
1. Musselman dan jackson (1992)

Bisnis adalah jumlah seluruh kegiatan yang diorganisir orang-orang yang


berkecimpung dalam bidang perniagaan dan industry yag menyediakan barang atau
jasa ontuk mempertahankan dan memperbaiki standard serta kualitas hidup mereka.
2. Boone dan kurtz (2002;8)

Bisnis adalah semua aktivitas aktivitas yang bertujuan memcari laba dan perusahyaan
yag meghasilkan barag serta jasa yang dibutuhkan oleh sebuah sistem ekonomi.
3. Hughes dan kapoor dalam alma (1889;21)

Bisnis adalah suatu kegiatan individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan
menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat.

Pengertian Etika Bisnis


Menurut Zimmerer (1996:20), etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha

berdasarkan nilai nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan
dan memecahkan persoalan.
Menurut Ronald J. Ebert dan Ricky M. Griffin (200:80), etika bisnis adalah istilah
yang sering digunakan untuk menunjukkan perilaku dari etika seseorang manajer atau
karyawan suatu organisasi.
Etika bisnis merupakan dasar moral, yaitu nilai-nilai mengenai apa yang baik dan
buruk serta berhubungan dengan hak dan kewajiban moral dalam berbisnis. Seperti yang
dikatakan Velasquez pada tahun 2005 dimana, etika bisnis merupakan studi yang
dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar
moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis.
Dalam etika bisnis berlaku prinsip-prinsip yang seharusnya dipatuhi oleh para pelaku
bisnis untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku

yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja
atau operasi perusahaan.
Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut:
1. Prinsip Otonomi
Kemampuan mengambil keputusan bertindak dan bertanggung jawab berdasarkan
kesadaran diri sendiri tentang apa yang baik dilakukan atas keputusan yang diambil.
2. Prinsip Kejujuran
Bisnis tidak akan bertahan lama apabila tidak berlandaskan kejujuran karena
kejujuran merupakan kunci keberhasilan suatu bisnis (misal, kejujuran dalam pelaksanaan
kontrak, kejujuran terhadap konsumen, kejujuran dalam hubungan kerja dan lain-lain).
3. Prinsip Keadilan
Bahwa tiap orang dalam berbisnis harus mendapat perlakuan yang sesuai dengan
haknya masing-masing, artinya tidak ada yang boleh dirugikan haknya atau diperlakukan
berbeda.
4. Prinsip Saling Menguntungkan
Menekankan agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan, baik untuk
konsumen maupun untuk produsennya. Demikian pula dalam berbisnis yang kompetitif.
5. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini merupakan motivasi dalam berbisnis dimana para pelaku bisnis dalam
menjalankan usaha bisnis mereka harus menjaga nama baik perusahaan agar tetap dipercaya
dan merupakan perusahaan terbaik.
Kesemuanya ini mencakup bagaimana menjalankan bisnis secara adil sesuai dengan
hukum yang berlaku, dan tidak bergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di
masyarakat. Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan
merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena
dalam bisinis seringkali ditemukan wilayah yang tidak diatur oleh hukum.

Cara cara mempertahankan standar etika :

1. Ciptakan kepercayaan perusahaan. Kepercayaan perusahaan dalam menetapkan


nilai nilai perusahaan yang mendasari tanggung jawab etika bagi pemilik
kepentingan.
2. Kembangkan kode etik. Kode etik merupakan suatu catatan tentang standar
tingkah laku dan prinsip prinsip etika yang diharapkan perusahaan dari karyawan.
3. Jalankan kode etik secara adil dan konsisten. Manajer harus mengambil
tindakan apabila mereka melanggar etika. Bila karyawan mengetahui bahwa yang
melnggar etika tidak dihukum, maka kode etik menjadi tidak berarti apa apa.
4. Lindungi hak perorangan. Akhir dari semua keputusan setiap etika sangat
begantung pada individu. Melindungi seseorang dengan kekuatan prinsip moral dan
nilainya merupakan jaminan terbaik untuk menghindari penyimpangan etika.
5. Adakan pelatihan etika. Workshop merupakan alat untuk meningkatkan kesadaran
para karyawan.
6. Lakukan audit etika secara periodic. Audit merupakan cara terbaik untuk
mengevaluasi efektivitas system etika.
7. Pertahankan standar tinggi tentang tingkah laku, tidak hanya aturan. Standar
tingkahb laku sangat penting untuk menekankan betapa pentingnya etika dalam
organisasi.
8. Hindari contoh etika yang tercela setiap saat dan etika diawali dari atasan.
Atasan harus memberi contoh dan menaruh kepercayaan kepada bawahannya.
9. Ciptakan budaya yang menekankan komunikasi dua arah. Komunikasi dua
arah sangat penting, yaitu untuk menginformasikan barang dan jasa yang kita
hasilkan dan menerima aspirasi untuk perbaikan perusahaan.
10. Libatkan karyawan dalam mempertahankan standar etika. Para karyawan
diberi kesempatan untuk memberikan umpan balik tentang bagaiman standar etika
dipertahankan.

Tanggung Jawab Perusahaan


Menurut Zimmerer, ada beberapa macam pertanggungjawaban perusahaan, yaitu:
1. Tanggung jawab terhadap lingkungan. Perusahaan harus ramah lingkungan,
artinya perusahaan harus memerhatikan, melestarikan, dan menjaga lingkungan,
6

misalnya tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan, berusaha mendaur


ulang limbah yang merusak lingkungan, dan menjalin komunikasi dengan kelompok
masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.
2. Tanggung jawab terhadap karyawan. Tanggung jawab perusahaan terhadap
karyawan dapat diakukan dengan cara:
a. Mendengarkan dan menghormati pendapat karyawan
b. Meminta input kepada karyawan
c. Memberikan umpan balik positif maupun negative
d. Selalu menekankan tentang kepercayaan kepada karyawan
e. Membiarkan karyawan mengetahui apa yang sebenarnya mereka harapkan
f. Memberikan imbalan kepada karyawan yang bekerja dengan baik
g. Memberi kepercayaan kepada karyawan
3. Tanggung jawab terhadap pelanggan. Tanggung jawab sosisal perusahaan juga
termasuk melindungi hak hak pelanggan yaitu:
a. Hak mendapatkan produk yang aman
b. Hak mendapatkan informasi segala aspek produk
c. Hak untuk didengar
d. Hak memilih apa yang akan dibeli
Sedangkan menurut Zimmerer(1996), hak hak pelanggan yang harus dilindungi
meliputi:
a. Hak keamanan. Barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan harus
berkualitas dan memberikan rasa aman, demikian juga kemasannnya
b. Hak mengetahui. Konsumen berhak untuk mengetahui barang dan jasa yang
mereka beli, termasuk perusahaan yang menghasilkan barang tersebut.
c. Hak untuk didengar. Komunikasi dua arahh harus dibentuk, yaitu untuk
menyalurkan keluhan produk dan jasa dari konsumen dan untuk
menyampaikan berbagai informasi barang dan jasa dari perusahaan.
d. Hak atas pendidikan. Pelanggan berhak atas pendidikan, misalnya
pendidikan tentang bagaimana menggunakan dan memelihara produk
e. Hak untuk memilih. Tanggung jawab social perusahaan adaalah tidak
mengganggu persaingan dan mengabaikan undang undang antimonopili
(antitrust)
4. Tanggung jawab terhadap investor. Tanggung jawabnya yaitu menyediakan
pengembalian investasi yang menarik, seperti memaksimumkan laba dan juga
melaporkan kinerja keuangan seakurat dan setepat mungkin.
5. Tanggung jawab terhadap masyarakat. Perusahaan harus bertanggung jawab
terhadap masyarakat sekitarnya, misalnya menyediakan pekerjaan dan menciptakan
kesehatan serta kontribusi terhadap masyarakat.

Lemahnya penegakan hukum di indonesia membuat banyak orang yang sudah divonis
bersalah di pengadilan bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku jabatannya di
pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk memotivasi pelaku bisnis menegakkan
norma-norma etika dan juga Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah
membuat Banyak di antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan
menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis,
seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang yang kadaluwarsa, dan
memanipulasi laporan keuangan.

Masalah-Masalah Praktis Etika Bisnis


1. Banyak sudah terjadi kejahatan ekonomi dan kecurangan bisnis yang dilakukan oleh
banyak korporasi atau pelaku bisnis dan ekonomi yang telah merugikan warga Negara,
setidaknya dalam segi keuntungan financial (pajak) dan kepercayaan public terhadap
peranan Negara (pemerintah) dalam mengawasi dinamika ekonomi, khususnya prosr
produksi, eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber kekayaan alam dan pelestarian
lingkunganhidup.
Fenomena ini terjadi karena banyak korporasi, terutama para pemimpinnya tidak
memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas kejahatan bisnis. Penyelewengan,
penyalahgunaan

otiritas,

korupsi

dan

kolusi

juga

sulit

diatasi.

Penipuan

sistematis terhada masyarakat yang dilakukan beberapa pebisnis juga sering


terjadi.
2. Masih saja terjadi persaingan tidak sehat dan monpoli terhadap sektor-sektor ekonomi
dengan menggunakan teori konspirasi dimana-mana. Dalam skala global, hal tersebut
terjadi di beberapa Negara. Keadilan dan demokrasi ekonomi acap dipaktekan dengan
mendapat sokongan justru dari penguasa Negara. Kasus-kasus actual, misalnya
pemebebasan tanah utuk bisnis property.
3. Kejahatan perbankan, keuangan (pasar modal) dan perpajakan juga sering dilakukan oleh
banyak orang. Penggelapan pajak, penipuan dengan kartu kredit atau kejahatan maya
(cyber crime), penyalahgunaan kredit, dan penggelapa pajak sangat sulit diatasi, sebab
selain masih rendahya penegakan hokum, etika bisnis dan perilaku juga mengalami
distorsi luar biasa.

4. Mekanisme pengawasan dan penegakan hukum terhadap kegiatan bisnis bersekala besar
acap kali diabaikan oleh pemerintah, bahkan trlihat banyak oknum aparat pemerintah
melakukan konspirasi dan kolusi. Fenomena ini dapat dirasakan pada kasus-ksus
perbankan dan banyak kasus mega proyek. Sedikit LSM yang menaruh perhatian penuh
dalam mengawasi tindak kejahatan bisnis.
5. Control lembaga legislatif (parlemen) juga sangat lemah, sebab ada juga anggota
parlemen tingkat pusat dan tingkat daerah yang ikut melakukan kejahatan bisnis, atau
sengaja membiarka terjadi tanpa ada upaya melaporkannya. Sebagian aparatur
pemerintah juga melakukan hal yang sama. Para penegak hukum (beberapa hakim,
jaksa,polisi dan pengacara) juga terlibat dalam kejahatan bisnis/ekonomi.
6. Masih banyak pelaku bisnis yang tidak memiliki etika bisnis, dan oknum pemerintah
banyak yang tidak memiliki etika dalam pembangunan ekonomi, perdagangan dan
korporasi. Prinsip-prinsip good corporate govermance juga belum diterapkan secara pasti
dan berkelanjutan, begitu pula supremasi hukum melalui law enforcement. Teknolog
pemantauan dan penangan kejahatan bisnis juga beum memadai. Budaya malu dan hidup
berkecukupan atau berlebihan secara jujur dan bersih masih sedikit dimiliki oleh banyak
orang.

Beberapa Solusi Permasalah Etika Bisnis


1. Untuk mengatasi kejahatan bisnis/ ekonomi yang terjadi seiring dengan perkembangan
ilmu dan teknologi yang telah melahirkan revolusi industri perdagangan, perbankan dan
khususnya korporasi, dalam skala global, sebaliknya semua negara memperkuat
komitmen politiknya untuk lebih memartabatkan kegiatan ekonomi dan bisnis. Dengan
begitu, kemakmuran dan kesejahteraan dapat terwujud. Selain itu perlu juga diperkuat
komitmen moralnya untuk tetap konsisten menjalankan sebuah misi penting, yaitu
mewujudkan keadilan, kebenaran, kejujuran, penegakan hukum, penegakan etika dan
peningkatan rasa berkompetisi secara fair, rasional dan berkemanusiaan.
2. Pemerintah

harus

merancang

sebuah

pemikiran

strategik

mengenal

politik

penanggulangan kesejahteraan bisnis secara rasional. LSM (NGO) yang menaruh


perhatian pernuh terhadap upaya penccegahan dan pemberantasan korupsi harus tetap
menekan pemerintah, terutama aparat penegak hukum untuk mengukum siapapun
seberat-beratnya bila mengganggu stabilitas ekonomi. Tindaka reprsif sesungguhnya
9

harus ditempuh untuk mengganjar para pelaku kejahatan bisnis/ekonomi dalam skala
besar.
3. Untuk mecegah sekaligus memberantas kejahatan bisnis/ekonomi, sesuatu hal yang
signifikan, strategik dan fundamental harus diambil, yaitu dengan lebih dahulu
membenahi organisasi kekuasaan kehakiman, kejaksaan dan kepolisian sebagai
stakeholders utama dalam penegak hukum. Integritas moral, spiritual dan mental para
penegak hukum harus teruji. Tingkat kesejahteraan dan kelangsungan hidup komunitas
ini harus diperhatikan.
4. Integritas

moral

pemerintah

dan

parlemen

juga

harus

lebih baik, agar tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam
berbuat kejahatan bisnis/ekonomi. Etika kekuasaan dan berpemerintahan harus
dimiliki pemerintah dan parlemen. Etika politik anggota-anggota DPR juga
haruslah teruji untuk tidak tergoda dengan menggunakan jabatan politik untik
mem-backing pelaku kejahatan bisnis.
5. Etika bisnis harus dikampanyekan (disosialisasikan) oleh pemerintah dan LSM (NGO)
secara berkelanjutan. Etika bisnis juga harus diberikan sebagai kurikulum (mata ajaran)
wajib pada sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang mendalami ilmu ekonomi,
manajemen, perdagangan, korporasi, perbankan dan keuangan, dan hal-hal yang
berrkaitan dengan itu.
6. Pinsip-prinsip good corporate governance harus diterapkan pada semua korporasi, baik
milik asing, pemerintah, maupun swasta lokal. Para pelaku bisnis/ekonomi hendaknya
menyadari, bahwa di tangan mereka martabat dan kemajuan bangsa dipertaruhkan.

Dari kendala-kendala dalam melaksanakan bisnis yang beretik tadi, menyebabkan


terjadinya pelanggaran etika bisnis terhadap hukum di Indonesia.5
Studi Kasus
Kasus ini di ambil dari situs intermet, mengenai PHK tanpa pesangon oleh sebuah perusahaan
di daerah sukoharjo. Berikut adalah kasusnya :
Bekerja 11 Tahun, Singgih Di-PHK Sepihak Tanpa Pesangon
5

http://helloprimata.blogspot.com/2014/06/makalah-etika-bisnis-di-indonesia.html

10

Selasa, 11/09/2012 06:00 WIB - Muhammad Ismail


Aksi kesewenag-wenangan perusahaan terhadap karyawan di Sukoharjo kembali
terjadi. Kali ini dialami Singgih Susilo, warga Kecamatan Pasar Kliwon Solo. Ia yang sudah
bekerja selama 11 tahun, mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak oleh
perusahaan Dimasari Teknik, Telukan, Grogol tanpa mendapatkan pesangon sepersen pun.
Saya menjadi korban PHK sepihak oleh perusahaan tanpa adanya alasan yang jelas dan
tidak mendapatkan pesangon. Padahal saya sudah bekerja selama 11 tahun ujar Singgih saat
ditemui di DPRD Sukoharjo, Senin(10/9). Dituturkannya, masalah bermula saat ia
memperjuangkan delapan karyawan yang belum digaji sesuai UMK 2011 ke perusahaan.
Namun respons yang diharapkan justru di luar dugaan. Sebab, perusahaan langsung memutasi
Singgih dari sebelumnya bekerja sebagai office boy (OB) ke bagian divisi di luar perusahaan.
Setelah itu, ia dua kali dimutasi ke bagian yang tidak sesuai dengan keahliannya.
Lalu pada 30 Juni ia di-PHK secara sepihak tanpa ada alasan apapun, dan tanpa mendapatkan
pesangon. Ia pun lantas mengajukan keberatan dan melaporkan kasus ini ke Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sukoharjo. Disnaker sudah memanggil saya dan
perusahaan untuk mediasi. Hasilnya, Disnaker menyarankan saya untuk tetap bekerja di sana
namun, perusahaan sudah tidak mau tahu, katanya. Ia pun melaporkan kasus ini ke Disnaker
Semarang dan hasilnya juga tanpa ada kepastian penyelesaian masalah. Kini kasus ini sudah
sekali disidangkan di Pengadilan Hubungan Industrial Semarang (PHI), jelasnya.
Ia pun mempertanyakan kredibilitas Disnaker yang dinilainya tidak bisa menyelesaikan
masalah ini. Kasus ini juga saya sampaikan ke DPRD melalui surat agar ikut membantu
dalam menangani kasus ini. Kepala Disnakertras Adi Putranto membenarkan kasus ini sudah
masuk ke Disnakertrans dan sudah dilakukan tiga kali mediasi. Namun mengenai keputusan
benar atau salah siapa, bukan lagi kewajiban dinas karena menurut UU setiap permasalahan
antara karyawan dan perusahaan, Disnaker daerah sifatnya hanya melakukan mediasi dan
anjuran, jelas adi saat dikonfirmasi.6
Muhammad Ismail
Analisa dan Solusi penyelesain masalah
Kasus diatas menurut pandangan saya merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika
bisnis terhadap hukum dan adanya ketidakadilan dari perusahaan,dimana PT melakukan
6

http://joglosemar.co/berita/bekerja-11-tahun-singgih-di-phk-sepihak-tanpa-pesangon-95615.html

11

PHK tanpa memberikan pesangon kepada para karyawan. Dalam UU No. 13/2003 tentang
Ketenagakerjaan. Disebutkan bahwa :
Pasa l1 bahwa Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena
suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja/buruh
dan pengusaha. Jadi hal tersebut merupakan kesepakatan dua belah pihak yang sejak awal
telah disepakati dalam kontrak kerja / PKWT, yang diatur dalam bab IX Pasal 50 mengenai
hubungan kerja. Yaitu :
Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan
pekerja/buruh. Yang hanya dapat berakhir apabila waktu yang ditentukan berakhur masanya,
atau pekerja telah meninggal dunia.
Selain itu dalam pemutusan hubungan kerja ada baiknya jika suatu perusahaan
memberikan kebijakan berupa pesangon dan telah membayar seluruh kewajibannya dalam
hal membayar upah karyawannya, yang merupakan hak mutlak yang harus mereka terima
( Pengupahan Pasal 88) Yaitu setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Sedangkan dalam pemutusan hubungan kerja yang diatur dalam Pasal 150 tentang
PHK yaitu; Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja dalam undang-undang ini
meliputi pemutusan hubungan kerja yang terjadi di badan usaha yang berbadan hukum atau
tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan atau milik badan hukum, baik milik
swasta maupun milik negara, maupun usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang
mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan
dalam bentuk lain.
Dan pemberian pesangon telah di tetapkan pemerintah dalam Pasal 156 yaitu;
(1) Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan membayar uang
pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya
diterima.
(2) Perhitungan uang pesangon sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Kasus diatas dapat diselesaikan dengan beberapa cara, salah satunya melalui proses
mediasi antara pihak manajemen perusahaan dengan pihak pekerja. Dimana yang menjadi
mediator adalah pemerintah, hal ini diwakili oleh dinas ketenegakerjaan. Cara seperti ini
sesuai dengan ketentuan UU no.13 tahun 2003. Namun hasil mufakat yang dihasilkan harus
memenuhi prinsip keadilan, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Mufakat yang
12

dihasilkan harus di patuhi dan dijalankan sesuai kesepakatan bersama antara pihak
perusahaan dan pekerja. Apabila hasil mufakat tidak dapat tercapai maka masalah ini
diangkat dipengadilan hubungan industrial.
Jika seorang wirausahawan menerapkan langkah-langkah diatas dalam berbisnis,
maka manfaat daripada etika bisnis dapat dirasakan , diantaranya :
1.

Jika jujur dalam berbisnis, maka bisnisnya akan maju

2.

Timbulnya kepercayaan

3.

Kemajuan terjaga, jika perilaku etis terjaga

4.

Perolehan laba akan meningkat

5.

Bisnis akan terjaga eksistensi dan kesinambungannya.7

Bab 3
Penutup

Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah kami paparkan maka kami dapat menarik kesimpulan
bahwa banyaknya terjadi pelanggaran Etika bisnis itu karena lemah dan tidak tegas nya
hukum yang berlaku yang mengawasi perusahaan atauvbisnis-bisnis itu sendiri. Melakukan
pelanggaran dalam etika bisnis merupakan hal yang sangat merugikan banyak pihak. Bukan
saja dari seorang karyawan tetapi menyangkut citra yang tergambar dari suatu perusahaan
dan pihak-pihak yang bersangkutan dalam perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut
melakukan tindakan yang fatal pun dapat berpengaruh pada aspek ekonomi dan aspek
lainnya. Jadi, ada baiknya perusahaan melakukan tindakan yang baik demi pencitraan yang
baik dikalangan masyarakat dan dunia. Dan hal tersebut baiknya menjalankan etika bisnis
sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada. Oleh karena itu etika bisnis harus diterapkan oleh
setiap perusahaan dan menjalankan dengan baik sesuai dengan prinsip prinsip etika bisnis.
7

http://helloprimata.blogspot.com/2014/06/makalah-etika-bisnis-di-indonesia.html

13

Saran
Agar pembaca dapat memahami dan memperoleh pengetahuan yang lebih luas maka
saran kami pembaca dapat melakukan :
1. Memperbanyak lagi membaca dan memahami etika berbisnis terhadap hukum
2. Mengaplikasikan keahlian sebagai tambahan ilmu dalam praktek pendidikan yang di jalani.

DAFTAR PUSTAKA
http://helloprimata.blogspot.com/2014/06/makalah-etika-bisnis-di-indonesia.html
https://nicolashadi.wordpress.com/2013/01/19/etika-dan-hukum/
http://joglosemar.co/berita/bekerja-11-tahun-singgih-di-phk-sepihak-tanpa-pesangon-95615.html

http://www.slideshare.net/ahmadfajarjabrik/etika-bisnis-2-42573206

14

15