Anda di halaman 1dari 42

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

DINAS PEKERJAAN UMUM


Jalan Sutan Syahrir Nomor 5 Telp. (0532) 21034, 22283

PANGKALAN BUN 74112

SPESIFIKASI TEKNIS
K/L/D/I

: Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat

SKPD

: Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten


Kotawaringin Barat

Nama PA

: Ir. AGUS YUWONO, M.Si

Nama KPA/PPK : ERDY SETIAWAN, ST., MT


Kegiatan
Pekerjaan

: Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai


: Bangunan Pengaman Pantai Didesa
Teluk Ranggau Kec. Kumai

Tahun Anggaran
2016

DIVISI I
UMUM
SEKSI 1.1
RINGKASAN PEKERJAAN
1.1.1 CAKUPAN PEKERJAAN

1.1.2

1)

Cakupan pekerjaan dari Kontrak ini meliputi pelaksanaan pekerjaan Prasarana


pengaman pantai

2)

Pekerjaan Pengembalian Kondisi harus dimulai paling lambat 30 hari sejak


tanggal mulai kerja dan dalam periode mobilisasi dan dimaksudkan untuk
mengembalikan jalan lama dan jembatan minor yang ada ke suatu kondisi yang
dapat digunakan, konsisten dengan kebutuhan normal.

3)

Lingkup Kontrak ini juga mengharuskan Penyedia jasa untuk melakukan survey
lapangan yang cukup detil selama periode mobilisasi agar Direksi pekerjaan
dapat melaksanakan revisi minor dan menyelesaikan detil pelaksanaan pekerjaan
sebelum operasi pelaksanaan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dari
Spesifikasi ini.

4)

Penyedia jasa harus melaksanakan semua yang diperlukan untuk memperbaiki


cacat mutu dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pekerjaan dan
harus dapat diselesaikan sebelum tanggal berakhirnya masa kontrak sebagimana
ditentukan dari Syarat-syarat kontrak.

5)

Lingkup pekerjaan termasuk seluruh pekerjaan yang terkait dengan penanganan


kesehatan dan keselamatan kerja (K3) konstruksi serta pengamanan lingkungan
hidup.

1)

KETENTUAN REKAYASA (ENGINEERING)


Umum
Sebelum pekerjaan survei dimulai Penyedia jasa harus mempelajari Gambar
rencana untuk dikonsultasikan dengan Direksi Pekerjaan, dan harus memastikan
dan memperbaiki setiap kesalahan atau perbedaan yang terjadi, terutama yang
berhubungan dengan pekerjaan ini. Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan harus
mencapai kesepakatan dalam menentukan ketepatan setiap perubahan yang dibuat
dalam Gambar ini.
Kuantitas dalam Daftar Kuantitas dan Harga dapat diubah oleh Direksi Pekerjaan
setelah revisi minor terhadap seluruh rancangan telah selesai, dimana revisi minor
ini harus berdasarkan data survei lapangan yang dikumpulkan oleh Penyedia jasa
sebagai bagian dari lingkup perkerjaan dalam Kontrak.

2)

Survei Lapangan oleh Penyedia Jasa


Selama periode mobilisasi pada saat dimulainya Kontrak, Penyedia jasa harus
melaksanakan survei lapangan yang lengkap terhadap kondisi fisik dan struktur
pekerjaan yang akan dilaksanakan. Ketentuan survei lapangan yang lengkap dan
detil.
Setelah pekerjaan survei lapangan ini selesai, Penyedia jasa harus menyiapkan
dan menyerahkan laporan lengkap dan detil dari hasil survei ini kepada Direksi
Pekerjaan.

3)

Revisi oleh Direksi Pekerjaan


Detil pelaksanaan yang lengkap pada setiap mata pekerjaan dalam lingkup
Kontrak ini akan diterbitkan secara bertahap untuk penyedia jasa dan bilamana
detil pelaksanaan ini telah disiapkan, dapat mencakup, tetapi tidak boleh terbatas
pada, revisi minor.

SEKSI 1.2
MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
1.2.1

UMUM
1)

Uraian
Cakupan kegiatan mobilisasi yang diperlukan dalam Kontrak ini akan tergantung
pada jenis dan volume pekerjaan yang harus dilaksanakan, sebagaimana
disyaratkan di bagian-bagian lain dari Dokumen Kontrak, dan secara umum
a)

d)

Ketentuan Mobilisasi untuk semua Kontrak


i)

Penyewaan atau pembelian sebidang lahan yang diperlukan untuk


base camp Penyedia jasa dan kegiatan pelaksanaan.

ii)

Mobilisasi semua personil Penyedia jasa dan pekerja yang


diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan dalam
Kontrak.

iii)

Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan


yang tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat
pekerjaan dimana peralatan tersebut akan digunakan menurut
Kontrak ini.

iv)

Penyediaan dan pemeliharaan base camp Kontraktor, jika perlu


termasuk kantor lapangan, tempat tinggal, bengkel, gudang, dan
sebagainya.

v)

Perkuatan jembatan lama untuk pengangkutan alat-alat berat..

Kegiatan Demobilisasi untuk semua Kontrak


Pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia jasa pada saat akhir Kontrak,
termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari
tanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi
kondisi seperti semula sebelum Pekerjaan dimulai.

2)

Periode Mobilisasi
Mobilisasi dari seluruh mata pekerjaan yang terdaftar, harus diselesaikan dalam
jangka waktu 150 hari terhitung mulai tanggal mulai kerja.
Setiap kegagalan Kontraktor dalam memobilisasi Fasilitas dan Pelayanan
Pengendalian Mutu sebagimana disebutkan diatas, akan membuat Direksi
Pekerjaan melaksanakan pekerjaan semacam ini yang dianggap perlu dan akan
membebankan seluruh biaya tersebut ditambah sepuluh persen pada Penyedia
jasa, dimana biaya tersebut akan dipotongkan dari setiap pembayaran yang akan
dibayarkan kepada Penyedia jasa menurut Kontrak ini.

3)

Pengajuan Kesiapan Kerja


Penyedia jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan suatu program
mobilisasi menurut detil dan waktu yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini.
Bilamana perkuatan jembatan lama atau pembuatan jembatan darurat atau
pembuatan timbunan darurat pada jalan yang berdekatan dengan proyek,
diperlukan untuk memperlancar pengangkutan peralatan, instalasi atau bahan
milik Penyedia jasa, detil pekerjaan darurat ini juga harus diserahkan bersama
dengan program mobilisasi sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini.

1.2.2

PROGRAM MOBILISASI
1)

Dalam waktu 7 hari setelah Penandatangan Kontrak, Penyedia jasa harus Rapat
Pra Pelaksanaan (Pre Construction Meeting) yang dihadiri Pemilik, Direksi
Pekerjaan, Wakil Direksi Pekerjaan (bila ada) dan Penyedia jasa untuk membahas
semua hal baik yang teknis maupun yang non teknis dalam proyek ini.

2)

Dalam waktu 14 hari setelah Rapat Pra Pelaksanaan, Kontraktor harus


menyerahkan Program Mobilisasi (termasuk program perkuatan jembatan, bila
ada) dan Jadwal Kemajuan Pelaksanaan kepada Direksi Pekerjaan untuk

3)

Program mobilisasi harus menetapkan waktu untuk semua kegiatan


mobilisasi yang disyaratkan dan harus mencakup informasi tambahan berikut
a)

Lokasi base camp Penyedia jasa dengan denah lokasi umum dan denah
detil di lapangan yang menunjukkan lokasi kantor Penyedia jasa, bengkel,
gudang, bilamana fasilitas tersebut termasuk dalam cakupan Kontrak.

b)

Jadwal pengiriman peralatan yang menunjukkan lokasi asal dari


semua peralatan yang tercantum dalam Daftar Peralatan yang diusulkan
dalam Penawaran, bersama dengan usulan cara pengangkutan dan jadwal
kedatangan peralatan di lapangan.

c)

Setiap perubahan pada peralatan maupun personil yang diusulkan dalam


Pena- waran harus memperoleh persetujuan dari Direski Pekerjaan.

d)

Suatu daftar detil yang menunjukkan struktur yang memerlukan perkuatan


agar aman dilewati, usulan metodologi pelaksanaan dan jadwal tanggal
mulai dan tanggal selesai untuk perkuatan setiap struktur.

e)

Suatu jadwal kemajuan yang lengkap dalam format bagan balok (bar
chart) yang menunjukkan tiap kegiatan mobilisasi utama dan suatu kurva
kemajuan untuk menyatakan persentase kemajuan mobilisasi.

1.2.3
1)

PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran
Pengukuran kemajuan mobilisasi akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan atas
dasar jadwal kemajuan mobilisasi yang lengkap dan telah disetujui seperti yang
diuraikan dalam Pasal 1.2.2.(2) diatas.

2)

Dasar Pembayaran
Mobilisasi harus dibayar atas dasar lump sum menurut jadwal pembayaran yang
diberikan di bawah, dimana pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh
untuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, dan untuk semua pekerja,
bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang perlu untuk menyelesaikan pekerjaan
yang diuraikan dalam Pasal 1.2.1.(1) dari Spesifikasi ini. Walaupun demikian
Direksi Pekerjaan dapat, setiap saat selama pelaksanaan pekerjaan,
memerintahkan Kontraktor untuk menambah peralatan yang dianggap perlu tanpa
menyebabkan perubahan harga lump sum untuk Mobilisasi.
Pembayaran biaya lump sum ini akan dilakukan dalam tiga angsuran
sebagai berikut :
a)

50 % (lima puluh persen) bila mobilisasi 50 % selesai, dan pelayanan


atau fasilitas pengujian laboratorium telah lengkap dimobilisasi.

b)

20 % (dua puluh persen) bila semua peralatan utama berada di lapangan


dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.

c)

30 % (tiga puluh persen) bila demobilisasi selesai dilaksanakan.

Bilamana Kontraktor tidak menyelesaikan mobilisasi sesuai dengan salah satu


dari kedua batas waktu yang disyaratkan dalam Pasal 1.2.1.(3) maka jumlah yang
disahkan Direksi Pekerjaan untuk pembayaran adalah persentase angsuran penuh
dari harga lump sum Mobilisasi dikurangi sejumlah dari 1 % (satu persen) nilai
angsuran untuk setiap keterlambatan satu hari dalam penyelesaian sampai
maksimum 50 (lima puluh) hari.
Nomor Mata
Pembayaran
1.1

Uraian

Mobilisasi dan Demobilisasi

Satuan
Pengukuran
Lump Sum

SEKSI 1.3
BAHAN DAN PENYIMPANAN
1.3.1

UMUM
1)

Uraian
Bahan yang dipergunakan di dalam Pekerjaan harus :

2)

a)

Memenuhi spesifikasi dan standar yang berlaku.

b)

Memenuhi ukuran, pembuatan, jenis dan mutu yang disyaratkan dalam


Gambar dan Seksi lain dari Spesifikasi ini, atau sebagaimana secara
khusus disetujui tertulis oleh Direksi Pekerjaan.

c)

Semua produk harus baru.

Pengajuan
a)

Sebelum mengadakan pemesanan atau membuka daerah sumber bahan


untuk setiap jenis bahan, maka Kontraktor harus menyerahkan kepada
Direksi Pekerjaan contoh bahan, bersama dengan detil lokasi sumber
bahan dan Pasal ketentuan bahan dalam Spesifikasi yang mungkin dapat
dipenuhi oleh contoh bahan, untuk mendapatkan persetujuan

b)

Penyedia jasa harus melakukan semua pengaturan untuk memilih lokasi,


memilih bahan, dan mengolah bahan alami sesuai dengan Spesifikasi ini,
dan harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan semua informasi
yang berhubungan dengan lokasi sumber bahan paling sedikit 30 hari
sebelum pekerjaan pengolahan bahan dimulai, untuk mendapatkan
persetujuan. Persetujuan Direksi Pekerjaan atas sumber bahan tersebut
tidak dapat diartikan bahwa seluruh bahan yang terdapat di lokasi sumber
bahan telah disetujui untuk dipakai.

c)

Bilamana bahan semen, baja dan bahan-bahan fabrikasi lainnya akan


digunakan, maka sertifikat pabrik (mill certificate) bahan tersebut harus
diserah- kan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan
awal. Direksi Pekerjaan akan memberikan persetujuan tertulis kepada
Penyedia jasa untuk melakukan pemesanan bahan. Selanjutnya bahan
yang
sudah sampai di lapangan harus diuji ulang seperti yang diuraikan
dalam Pasal 1.3.2.(3).(b) di bawah pengawasan Direksi
Pekerjaan
atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

1.3.2

PENGADAAN BAHAN
1)

Sumber Bahan
Lokasi sumber bahan yang mungkin dapat dipergunakan dan pernah
diidentifikasikan serta diberikan dalam Gambar hanya merupakan bahan
informasi bagi Penyedia jasa. Penyedia jasa tetap harus bertanggungjawab untuk
mengidentifikasi dan memeriksa ualang apakah bahan tersebut cocok untuk
dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

2)

Variasi Mutu Bahan


Penyedia jasa harus menentukan sendiri jumlah serta jenis peralatan dan pekerja
yang dibutuhkan untuk menghasilkan bahan yang memenuhi Spesifikasi.
Penyedia jasa harus menyadari bahwa contoh-contoh bahan tersebut tidak
mungkin dapat menentukan batas- batas mutu bahan dengan tepat pada seluruh
deposit, dan variasi mutu bahan harus dipandang sebagai hal yang biasa dan
sudah diperkirakan. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan Penyedia jasa untuk
melakukan pengadaan bahan dari setiap tempat pada suatu deposit dan dapat
menolak tempat-tempat tertentu pada suatu deposit yang tidak dapat diterima.

3)

1.3.3

1)

Persetujuan
a)

Pemesanan bahan tidak boleh dilakukan sebelum mendapat persetujuan


tertulis dari Direksi Pekerjaan sesuai dengan maksud penggunaannya.
Bahan tidak boleh dipergunakan untuk maksud lain selain dari peruntukan
yang telah disetujui.

b)

Jika mutu bahan yang dikirim ke lapangan tidak sesuai dengan mutu
bahan yang sebelumnya telah diperiksa dan diuji, maka bahan tersebut
harus ditolak, dan harus disingkirkan dari lapangan dalam waktu 48 jam,
kecuali terdapat persetujuan lain dari Direksi Pekerjaan.

PENYIMPANAN BAHAN
Umum
Bahan harus disimpan sedemikian rupa sehingga mutunya terjamin dan siap
dipergunakan untuk Pekerjaan. Bahan yang disimpan harus ditempatkan
sedemikian rupa sehingga selalu siap pakai, dan mudah diperiksa oleh Direksi
Pekerjaan. Tanah dan bangunan (property) orang lain tidak boleh dipakai tanpa
ijin tertulis dari pemilik atau penyewanya.

2)

Tempat Penyimpanan di Lapangan


Tempat penyimpanan di lapangan harus bebas dari tanaman dan sampah,
bebas dari genangan air dan permukaannya harus lebih tinggi dari sekitarnya.
Bahan yang langsung ditempatkan diatas tanah tidak boleh digunakan untuk
Pekerjaan, kecuali jika permukaan tanah tersebut telah disiapkan sebelumnya dan
diberi lapis permukaan yang terbuat dari pasir atau kerikil setebal 10 cm
sedemikian hingga diterima oleh Direksi Pekerjaan.

3)

1.3.4

Penumpukan Bahan (Stockpiles)


a)

Bahan harus disimpan sedemikian hingga dapat mencegah terjadinya


segregasi dan menjamin gradasi yang sebagaimana mestinya, serta tidak
terdapat kadar air yang berlebihan. Tinggi maksimum dari penumpukan
bahan harus dibatasi sampai maksimum 5 meter

b)

Penumpukan berbagai jenis agregat yang akan dipergunakan untuk


campuran aspal, burtu atau burda, penetrasi macadam atau beton harus
dilakukan secara terpisah menurut masing-masing ukuran nominal
agregat. Dinding pemisah dari papan dapat digunakan untuk harus
mencegah tercampurnya agregat-agregat tersebut.

c)

Tumpukan agregat untuk untuk lapis pondasi atas dan bawah harus
dilindungi dari hujan untuk mencegah terjadinya kejenuhan agregat yang
akan mengurangi mutu bahan yang dihampar atau paling tidak
mempengaruhi penghamparan bahan.

PEMBAYARAN
1)

Kontraktor harus melakukan semua pengaturan dengan pemilik atau pemakai


lahan untuk memperoleh hak konsesi yang diperlukan sehingga dapat mengambil
bahan yang akan digunakan dalam Pekerjaan. Kontraktor bertanggung jawab atas
semua kompensasi dan restribusi yang harus dibayarkan sehubungan dengan
penggalian bahan atau keperluan lainnya. Tidak ada pembayaran terpisah yang
akan dilakukan untuk kompensasi dan restribusi yang dibayar Kontraktor, dan
seluruh biaya tersebut harus sudah dimasukkan ke dalam Harga Satuan untuk
mata pembayaran yang terkait dalam Daftar Kuantitas dan Harga.

2)

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk membuat jalan masuk, membuang


gundukan tanah dan semua biaya pelaksanaan lainnya yang diperlukan untuk
pengadaan bahan, termasuk pengembalian lapisan humus dan meninggalkan
daerah dan jalan masuk itu dalam kondisi rapi dan dapat diterima. Seluruh biaya
tersebut harus sudah dimasukkan ke dalam Harga Satuan untuk mata pembayaran
yang terkait dalam Daftar Kuantitas dan Harga.

SEKSI 1.4
JADWAL PELAKSANAAN
1.4.1

1)

UMUM
Uraian
Jadwal pelaksanaan diperlukan untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan
sebagaimana mestinya atas pekerjaan. Jadwal tersebut diperlukan untuk
menjelaskan kegiatan-kegiatan pekerjaan setelah kegiatan dalam program
mobilisasi telah selesai.

2)

1.4.2

1)

Pengajuan
a)

Kontraktor harus menyiapkan jadwal pelaksanaan dalam batas waktu 15


hari setelah Surat Penunjukan Pemenang. Jadwal pelaksanaan itu harus
diserahkan dan mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan, dengan detil
yang disyaratkan dalam Pasal 1.12.2 dari Spesifikasi ini, dimana detil
tersebut harus menunjukkan urutan kegiatan yang diusulkan oleh

b)

Setiap akhir setiap bulan Kontraktor harus melengkapi Jadwal Pelaksanaan


untuk menggambarkan secara akurat kemajuan pekerjaan (progress) aktual
sampai tanggal 25 pada bulan tersebut.

c)

Setiap interval mingguan Kontraktor harus menyerahkan pada setiap hari


Senin pagi, jadwal kegiatan mingguan yang menunjukkan lokasi seluruh
operasi dan kegiatan yang akan dilaksanakan selama minggu tersebut.

d)

Jadwal Pelaksanaan untuk Sub Kontraktor harus diserahkan terpisah atau


men- jadi satu dalam seluruh jadwal pelaksanaan.

DETIL JADWAL PELAKSANAAN


Jadwal Kemajuan Keuangan
Penyedia jasa harus membuat Jadwal Kemajuan Keuangan dalam bentuk diagram
balok horisontal dan dilengkapi kurva yang menggambarkan seluruh kemajuan
pekerjaan dengan karakteristik berikut :
a)

Setiap jenis Mata Pembayaran atau kegiatan dari kelompok Mata


Pembayaran yang berkaitan harus digambarkan dalam diagram balok yang
terpisah, dan harus dibentuk sesuai dengan urutan dari masing-masing

b)

Skala waktu dalam arah horisontal harus dinyatakan berdasarkan satuan


bulan.

c)

Setiap diagram balok horisontal harus mempunyai ruangan untuk mencatat


kemajuan aktual dari setiap pekerjaan

d)

Kurva seluruh kemajuan pekerjaan (overall progress) harus dapat


memberikan gambaran tentang kemajuan keuangan rencana pada setiap
akhir bulan terhadap kemajuan keuangan aktual.

d)

Skala dan format dari Jadwal Kemajuan Keuangan harus sedemikian rupa
hingga tersedia ruangan untuk pencatatan, revisi dan pemutakhiran
mendatang. Ukuran lembar kertas minimum adalah A3.

2)

Analisa Jaringan (Network Analysis)

3)

Jika diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, Kontraktor harus menyediakan Analisa


Jaringan yang menunjukkan awal dan akhir setiap tanggal mulainya suatu
kegiatan sehingga dapat diperoleh suatu jadwal jalur kritis (critical path schedule)
dan dapat diperoleh jadwal untuk menentukan jenis-jenis pekerjaan yang kritis
dalam
Jadwal Produksi Untuk Instalasi Pencampur Beton dan Peralatan Pendukung
Penyedia jasa harus menyediakan Jadwal untuk Instalasi Pencampur beton dan
Peralatan Pendukung secara terpisah, disertai dengan suatu perhitungan yang
menunjukkan bahwa hasil produksi Instalasi Pencampur Beton dapat tercapai

4)

Jadwal Penyediaan Bahan


Penyedia jasa harus menyediakan jadwal yang terpisah untuk lokasi semua
sumber bahan, bersama dengan rencana tanggal penyerahan contoh-contoh bahan
dan rencana produksi bahan dan jadwal pengiriman.

5)

Jadwal Pelaksanaan Jembatan


Penyedia jasa harus menyediakan jadwal pelaksanaan setiap jembatan dengan
skala balok horisontal untuk setiap jenis pekerjaan dan pelengkapnya untuk
pencatatan kemajuan pekerjaan (progress) aktual terhadap program untuk setiap
mata pembayaran.

1.4.3

REVISI JADWAL PELAKSANAAN


1)

Waktu

2)

Revisi semua jadwal pelaksanaan yang diuraikan pada Pasal 1.12.2 harus
dilaksanakan bilamana kemajuan keuangan aktual berbeda lebih dari 20 (dua
puluh) persen dari kemajuan keuangan rencana atau bilamana terdapat perubahan
kuantitas yang menyolok setelah diterbitkannya Variasi atau Addendum.
Laporan
Pada saat menyerahkan Revisi Jadwal Pelaksanaan maka Penyedia jasa harus
melengkapi laporan ringkas yang memberikan alasan-alasan timbulnya revisi,
yang harus meliputi :
a)

Uraian revisi, termasuk pengaruh pada seluruh jadwal karena adanya


perubahan cakupan, revisi dalam kuantitas atau perubahan jangka waktu
kegiatan dan perubahan lainnya yang dapat mempengaruhi jadwal.

b)

Pembahasan lokasi-lokasi yang bermasalah, termasuk faktor-faktor


penghambat yang sedang berlangsung maupun yang harus diperkirakan
serta dampaknya.

c)

Tindakan perbaikan yang diambil, diusulkan dan pengaruhnya.

1.4.4

RAPAT PEMBUKTIAN KETERLAMBATAN (Show Cause Meeting)


Pertemuan ini diadakan dalam hal terjadinya keterlambatan progres phisik oleh
Penyedia jasa berdasarkan schedule kontrak (Contract Schedule). Dalam hal
terjadi keterlambatan progres phisik oleh Penyedia jasa, maka prosedur ini harus
diikuti dalam untuk mengambil keputusan :
(i)

Jika terjadinya keterlambatan progres phisik antara 5 % - 7 %, maka


Rapat Pembuktian Keterlambatan (Show Cause Meeting) akan
dilaksanakan antara Pemimpin Proyek, Konsultan Pengawas Lapangan
(Supervisor Engineer) dan Kontraktor.

(ii)

Jika terjadinya keterlambatan progres phisik antara 7 % - 10 %, maka


Rapat Pembuktian Keterlambatan (Show Cause Meeting) akan
dilaksanakan antara Pejabat Pelaksanan Teknis Kegiatan (PPTK),
Pengawas teknis, Konsultan Pengawas, dan Kontraktor.
Jika terjadinya keterlambatan progres phisik lebih besar dari 10 % dan
tidak boleh lebih besar dari 15 %, maka Rapat Pembuktian (Show Cause
Meeting) akan dilaksanakan antara pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK),
Pejabat Pelaksanan Teknis Kegiatan (PPTK), Konsultan Pengawas, dan
Kontraktor untuk mengambil keputusan apakah Penyedia jasa dapat
melanjutkan pekerjaannya/ kontraknya. Bilamana antara ketiga belah pihak
sepakat maka kontraktor dapat melanjutkan pekerjaannya atau bilamana
tidak maka penyedia jasa akan diberhentikan kontraknya.

Semua kegiatan Rapat Pembuktian Keterlambatan (SCM) harus dibuat dalam


Berita Acara Rapat Pembuktian Keterlambatan yang ditandatangani oleh
Pimpinan dari masing- masing pihak sebagai catatan untuk membuat Persetujuan
atas tindakan yang akan dilakukan berikutnya.

SEKSI 1.5
PROSEDUR VARIASI
1.5.1

1)

UMUM
Uraian
Perubahan-perubahan atas pekerjaan dapat terjadi karena diprakarsai baik oleh
Direksi Pekerjaan maupun oleh Penyedia jasa, dan harus disepakati serta
ditandatangani oleh kedua belah pihak yang dituangkan dalam Variasi. Bilamana
dasar pembayaran yang dituang- kan dalam Variasi tersebut mengakibatkan
variasi dalam Struktur Harga Satuan Mata Pembayaran atau variasi dalam Jumlah
Harga Kontrak, maka Variasi tersebut harus dinegosiasi dan dituangkan dalam
Addendum Kontrak.
Variasi dan Addendum Kontrak harus memenuhi ketentuan berikut :
a)

Variasi :
Perintah tertulis yang dibuat oleh Direksi Pekerjaan dan ditandatangani
pula oleh Penyedia jasa, menunjukkan bahwa Penyedia jasa menerima
perubahan-perubahan dalam Pekerjaan atau Dokumen Kontrak,
persetujuan Kontraktor atas dasar pembayaran dan penyesuaian waktu,
jika ada, untuk pelaksanaan atas perubahan- perubahan tersebut. Variasi
harus diterbitkan dalam format standar dan harus mencakup semua
perintah yang dikeluarkan oleh Direksi Pekerjaan yang akan
mempengaruhi perubahan Dokumen Kontrak atau perintah sebelumnya
yang telah dikeluarkan oleh Direksi Pekerjaan.

b)

Addendum :
Perjanjian tertulis antara Pemilik dan Kontraktor, yang memuat
perubahan- perubahan dalam Pekerjaan atau Dokumen Kontrak yang
mengakibatkan variasi dalam struktur Harga Satuan Mata Pembayaran
atau variasi yang diperkirakan dalam Jumlah Harga Kontrak dan telah
dinegosiasi dan disepakati terlebih dahulu dalam Variasi. Addendum juga
harus dibuat pada saat penutupan Kontrak dan semua perubahan
kontraktual atau teknis penting lainnya tanpa memandang apakah terjadi
variasi struktur Harga Satuan atau Jumlah Harga Kontrak

3)

Pengajuan
a)

Pihak Penyedia jasa harus menunjuk secara tertulis salah seorang anggota
dalam perusahaannya untuk menerima variasi dalam Pekerjaan dan
bertanggung jawab untuk memberitahu kepada para pelaksana lainnya
tentang adanya variasi tersebut.

1.5.2

b)

Direksi Pekerjaan akan menunjuk secara tertulis orang yang diberi


wewenang untuk mengurus prosedur Variasi atas nama Pemilik.

c)

Penyedia jasa harus melengkapi perhitungan untuk setiap usulan


pekerjaan yang akan dibayar lump sum, dan untuk setiap Harga Satuan
yang belum ditetapkan sebelumnya dengan data pendukung yang lengkap
sehingga dapat dievaluasi oleh Direksi Pekerjaan.

PROSEDUR AWAL VARIASI


1)

Direksi Pekerjaan dapat memprakarsai Variasi dengan memberitahu secara


tertulis kepada Kontraktor, uraian berikut :
a)

Uraian detil usulan perubahan dan lokasinya dalam proyek.

b)

Gambar dan Spesifikasi tambahan atau revisinya untuk melengkapi detil


usulan perubahan.

c)

Perkiraan jangka waktu yang diperlukan untuk membuat usulan


perubahan.

d)

Baik usulan perubahan dapat dilaksanakan menurut struktur Harga Satuan


Mata Pembayaran yang ada, maupun setiap Harga Satuan baru atau
Jumlah Harga tambahan yang diperlukan harus disepakati terlebih dahulu
untuk kemudian dituangkan ke dalam Addendum Kontrak.

Pemberitahuan yang demikian hanya merupakan informasi, dan bukan sebagai


suatu perintah untuk melakukan perubahan dan juga bukan untuk menghentikan
pekerjaan yang sedang berlangsung.
2)

Penyedia jasa dapat mengajukan permohonan perubahan dengan


memberitahu secara tertu- lis kepada Direksi Pekerjaan, uraian berikut :
a)

Uraian usulan perubahan.

b)

Keterangan tentang alasan untuk mengajukan perubahan.

c)

Keterangan tentang pengaruh terhadap Jadwal Pelaksanaan (bila ada).

d)

Keterangan tentang pengaruh terhadap pekerjaan Sub Kontraktor (bila


ada).

e)

Penjelasan detil baik untuk semua maupun sebagian dari usulan perubahan
akan dilaksanakan menurut struktur Harga Satuan Mata Pembayaran yang
ada, bersama dengan setiap Harga Satuan baru atau Jumlah Harga yang
dipandang Kontraktor memerlukan kesepakatan.

1.5.3

PELAKSANAAN VARIASI
1)

Isi Variasi akan didasarkan pada salah satu dari :


a)

Permintaan Direksi Pekerjaan dan jawaban Penyedia jasa sebagaimana


disepakati bersama antara Direksi Pekerjaan dan Penyedia jasa; atau

b) Permohonan Penyedia jasa atas


diterima oleh Direksi Pekerjaan

suatu

perubahan,

sebagaimana

2)

Direksi Pekerjaan akan menyiapkan Variasi dan memberi nomor urut


Variasi tersebut.

3)

Variasi akan menguraikan perubahan dalam Pekerjaan, baik penambahan


maupun penghapusan, dengan lampiran Dokumen Kontrak yang direvisi
seperlunya untuk menentukan detil perubahan tersebut.

4)

Variasi akan menetapkan dasar pembayaran dan setiap penyesuaian waktu


yang dibutuhkan sebagai akibat adanya perubahan tersebut, dan bilamana
diperlukan, akan menetapkan setiap Harga Satuan baru atau Jumlah Harga
tambahan yang telah dinegosiasi sebelumnya antara Direksi Pekerjaan dan
Penyedia jasa, yang diperlukan untuk dituangkan dalam Addendum.

5)

Direksi Pekerjaan akan menandatangani dan memberi tanggal Variasi tersebut


sebagai perintah supaya Penyedia jasa dapat memulai melaksanaan perubahan.

6)

Penyedia jasa harus menandatangani dan memberi tanggal Variasi tersebut, untuk
menunjukkan bahwa Penyedia jasa sepakat atas detil didalam perubahan tersebut.

1.5.4

PELAKSANAAN ADDENDUM
1)

Isi Addendum akan didasarkan pada salah satu dari hal-hal berikut :
a)

Perintah Pemilik untuk melaksanakan perubahan atas Dokumen


Kontrak, atau;

b)

Karena adanya perubahan kontraktual atau teknis yang penting, atau;

c)

Variasi atau Variasi-variasi yang telah ditandatangani yang berisi Harga


Satuan Mata Pembayaran baru atau Jumlah Harga tambahan, atau;

d)

Karena adanya perubahan perkiraan kuantitas sebagai akibat suatu variasi


dalam Jumlah Harga Kontrak, sebagaimana yang dimasukkan ke dalam
Perjanjian Kontrak atau Addendum sebelumnya, atau;

e)

Perhitungan kuantitas akhir dan Jumlah Harga Kontrak. untuk Addendum


Penutupan pada saat Penutupan Kontrak.

(2)
(3)

Direksi Pekerjaan akan menyiapkan Addendum.


Addendum akan
menguraikan setiap perubahan kontraktual, teknis atau
kuantitas, baik penambahan ataupun
penghapusan mata pembayaran,
dengan
lampiran-lampiran Dokumen Kontrak yang direvisi untuk menentukan
detil perubahan.

(4)

Addendum akan memberikan perhitungan ringkas untuk setiap tambahan atau


penye- suaian Harga Satuan bersama dengan setiap variasi dalam Harga Kontrak
atau penyesuaian Periode Kontrak.

(5)

Pemilik dan Penyedia jasa akan menandatangani Addendum tersebut dan


menyampaikannya kepada Pemilik untuk persetujuan dan tan datangannya.

SEKSI 1.6
PEKERJAAN PEMBERSIHAN
1.6.1

UMUM
1)

Uraian
Selama periode pelaksanaan pekerjaan, Penyedia jasa harus memelihara
Pekerjaan bebas dari akumulasi sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah, yang
diakibatkan oleh operasi pelaksanaan. Pada saat selesainya Pekerjaan, semua sisa
bahan bangunan dan bahan- bahan tak terpakai, sampah, perlengkapan, peralatan
dan mesin-mesin harus disingkirkan, seluruh permukaan terekspos yang nampak
harus dibersihkan dan proyek ditinggal dalam kondisi siap pakai dan diterima
oleh Direksi Pekerjaan.

1. 6.2

PEMBERSIHAN SELAMA PELAKSANAAN


1)

Penyedia jasa harus melakukan pembersihan secara teratur untuk menjamin


bahwa tempat kerja,
struktur, kantor sementara, tempat hunian dipelihara
bebas dari akumulasi sisa bahan bangunan, sampah dan kotoran lainnya yang
diakibatkan oleh operasi-operasi di tempat kerja dan memelihara tempat kerja
dalam kondisi rapi dan bersih setiap saat.

2)

Penyedia jasa harus menjamin bahwa sistem drainase terpelihara dan bebas dari
kotoran dan bahan yang lepas dan berada dalam kondisi operasional pada setiap
saat

3)

Penyedia jasa harus menjamin bahwa rumput yang tumbuh pada bangunan yang
baru dikerjakan dan pada talud samping dipangkas dan dipelihara sedemikian
rupa sehingga ketinggiannya maksimum 3 cm.

4)

Bilamana dianggap perlu, Penyedia jasa harus menyemprot bahan dan sampah
yang kering dengan air untuk mencegah debu atau pasir yang beterbangan.

5)

Penyedia jasa harus menjamin bahwa rambu jalan dan sejenisnya dibersihkan
secara teratur agar bebas dari kotoran dan bahan lainnya.

6)

Penyedia jasa harus menyediakan drum di lapangan untuk menampung sisa


bahan bangunan, kotoran dan sampah sebelum dibuang.

7)

Penyedia jasa harus membuang sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah di
tempat yang telah ditentukan sesuai dengan Peraturan Pusat maupun Daerah
dan Undang-undang Pencemaran Lingkungan yang berlaku.

8)

Penyedia jasa tidak diperkenankan mengubur sampah atau sisa bahan bangunan
di lokasi proyek tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

9)

Penyedia jasa tidak diperkenankan membuang limbah berbahaya, seperti cairan


kimia, minyak atau thiner cat kedalam saluran atau sanitasi yang ada.

10)

Penyedia jasa tidak diperkenankan membuang sisa bahan bangunan ke dalam


pantai, pinggir pantai, sungai atau saluran air.

11)

Penyedia jasa tidak diperkenankan membuang limbah berbahaya, seperti cairan


kimia, minyak atau thiner cat kedalam saluran atau sanitasi yang ada.

12)

Penyedia jasa tidak diperkenankan membuang sisa bahan bangunan ke dalam


pantai, pinggir pantai, sungai atau saluran air.

13)

Bilamana Penyedia jasa menemukan bahwa saluran drainase samping atau


bagian lain dari sistem drainase yang dipakai untuk pembuangan setiap jenis
bahan selain dari pengaliran air permukaan, baik oleh pekerja Penyedia jasa
maupun pihak lain, maka Penyedia jasa harus segera melaporkan kejadian
tersebut kepada Direksi Pekerjaan, dan segera mengambil tindakan sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan untuk mencegah terjadinya pencemaran
lebih lanjut.

1.6.3

1.6.4

PEMBERSIHAN AKHIR
1)

Pada saat penyelesaian Pekerjaan, tempat kerja harus ditinggal dalam keadaan
bersih dan siap untuk dipakai Pemilik. Penyedia jasa juga harus mengembalikan
bagian-bagian dari tempat kerja yang tidak diperuntukkan dalam Dokumen
Kontrak ke kondisi semula.

2)

Pada saat pembersihan akhir, semua perkerasan, kerb, dan struktur harus
diperiksa ulang untuk mengetahui kerusakan fisik yang mungkin ditemukan
sebelum pembersihan akhir. Lokasi yang diperkeras di tempat kerja dan semua
lokasi diperkeras untuk umum yang bersebelahan langsung dengan tempat kerja
harus disikat sampai bersih. Permukaan lainnya harus digaru sampai bersih dan
semua kotoran yang terkumpul harus dibuang.
DASAR PEMBAYARAN
Tidak ada pembayaran terpisah yang akan dibuat untuk operasi pembersihan
yang dilakukan oleh Penyedia jasa sesuai dengan menurut Seksi dari Spesifikasi
ini. Biaya untuk pekerjaan ini dipandang telah dimasukkan ke dalam berbagai
harga penawaran lump sum untuk operasi Pemeliharaan Rutin sebagaimana
disyaratkan dalam Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini.

DIVISI 7
STRUKTUR
SEKSI 7.1
BETON
7.1.1

UMUM
1)

2)

Uraian
a)

Pekerjaan yang disyaratkan dalam Seksi ini harus mencakup pelaksanaan


seluruh struktur beton, termasuk tulangan, struktur pracetak dan komposit,
sesuai dengan Spesifikasi dan sesuai dengan garis, elevasi, kelandaian dan
dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar, dan sebagaimana yang
diperlukan oleh Direksi Pekerjaan.

b)

Pekerjaan ini harus meliputi pula penyiapan tempat kerja untuk


pengecoran beton, pemeliharaan pondasi, pengadaan lantai kerja,
pemompaan atau tindakan lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap
kering.

c)

Mutu beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian dari


pekerjaan dalam Kontrak haruslah seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar atau Seksi lain yang berhubungan dengan Spesifikasi ini, atau
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

d)

Syarat dari PBI NI-2 1971 harus diterapkan sepenuhnya pada semua
pekerjaan beton yang dilaksanakan dalam Kontrak ini, kecuali bila
terdapat pertentangan dengan ketentuan dalam Spesifikasi ini, dalam hal
ini ketentuan dalam Spesi-fikasi ini yang harus dipakai.

Penerbitan Detil Pelaksanaan


Detil pelaksanaan untuk pekerjaan beton yang tidak disertakan dalam Dokumen
Kontrak pada saat pelelangan akan diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan setelah
peninjauan rancangan awal telah selesai dilaksanakan sesuai dengan Seksi 1.9
dari Spesifikasi ini.

3)

Jaminan Mutu
Mutu bahan yang dipasok dari campuran yang dihasilkan dan cara kerja serta
hasil akhir harus dipantau dan dikendalikan seperti yang disyaratkan dalam
Standar Rujukan dalam Pasal 7.1.1.(6) di bawah ini.

4)

Toleransi
a)

Toleransi Dimensi :
+5
mm
+ 15
Panjang keseluruhan lebih dari 6 m
mm
Panjang balok, pelat dek, kolom dinding, atau antara kepala jembatan
kepala jembatan
Panjang keseluruhan sampai dengan 6 m.

b)

Toleransi Bentuk :
10
Persegi (selisih dalam panjang diagonal)
mm
Kelurusan atau lengkungan (penyimpangan dari garis
12
yang dimaksud) untuk panjang s/d 3 m
mm
Kelurusan atau lengkungan untuk panjang 3
15
m-6m
mm
Kelurusan atau lengkungan untuk panjang > 6 20
m
mm

c)

Toleransi Kedudukan (dari titik patokan) :


Kedudukan kolom pra-cetak dari rencana
Kedudukan permukaan horizontal dari
rencana
Kedudukan permukaan vertikal dari
rencana

d)

Toleransi Alinyemen Vertikal :


Penyimpangan ketegakan kolom dan dinding

e)

10
mm
10
mm
20
mm
10
mm

Toleransi Ketinggian (elevasi) :


Puncak lantai kerja di bawah pondasi
Puncak lantai kerja di bawah pelat injak
Puncak kolom, tembok kepala, balok
melintang

10
mm
10
mm
10
mm

f)

Toleransi Alinyemen Horisontal : 10 mm dalam 4 m panjang mendatar.

g)

Toleransi untuk Penutup / Selimut Beton Tulangan :


Selimut beton sampai 3 cm
Selimut beton 3 cm - 5 cm
Selimut beton 5 cm - 10 cm

0 dan + 5
mm
- 0 dan + 10
mm
10 mm

5)

Standar Rujukan
Standar Industri Indonesia (SII) :
SII-13-1977
(AASHTO M85 75)

: Semen Portland.

Standar Nasional Indonesia (SNI) :


PBI 1971
: Peraturan Beton Bertulang Indonesia NI-2.
SK SNI M-02-1994Metode Pengujian Jumlah bahan Dalam
03
: Agregat Yang
(AASHTO T11 - 90)
Lolos Saringan No.200 (0,075 mm).
Metode Pengujian Kotoran Organik Dalam
SNI 03-2816-1992 : Pasir untuk
(AASHTO T21 - 87)
Campuran Mortar dan Beton.
SNI 03-1974-1990 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton.
(AASHTO T22 - 90)
Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji
Pd M-16-1996-03
: Beton di
(AASHTO T23 - 90)
Lapangan.
Metode Pengujian tentang Analisis Saringan
SNI 03-1968-1990 : Agregat Ha(AASHTO T27 - 88)
lus dan Kasar.
Metode Pengujian Keausan Agregat dengan
SNI 03-2417-1991 : Mesin Los
(AASHTO T96 - 87)
Angeles.
Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk
SNI 03-3407-1994 : Agregat Ter(AASHTO T104 hadap Larutan Natrium Sulfat dan Magnesium
86)
Sulfat.
SK SNI M-01-1994Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan
03
: Butir-butir
(AASHTO T112 87)
Mudah Pecah Dalam Agregat.
Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji
SNI 03-2493-1991 : Beton di
(AASHTO T126 90)
Laboratorium.
Metode Pengambilan Contoh Untuk Campuran
SNI 03-2458-1991 : Beton
(AASHTO T141 84)
Segar.
AASHTO :
AASHTO T26 - 79

: Quality of Water to be used in Concrete.

6)

Pengajuan Kesiapan Kerja


a)

Penyedia jasa harus mengirimkan contoh dari seluruh bahan


yang hendak digunakan dengan data pengujian yang memenuhi seluruh
sifat bahan yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.2 dari Spesifikasi ini.

b)

Penyedia jasa harus mengirimkan rancangan campuran untuk masingmasing mutu beton yang diusulkan untuk digunakan 30 hari sebelum
pekerjaan pengecoran beton dimulai.

c)

d)

e)

7)

Penyedia jasa
segera menyerahkan secara tertulis hasil dari
harus
seluruh
peng- ujian pengendalian mutu yang disyaratkan sedemikian
hingga data
tersebut selalu tersedia atau bila diperlukan oleh Direksi Pekerjaan.
Pengujian kuat tekan beton yang harus dilaksanakan minimum
meliputi pengujian kuat tekan beton yang berumur 3 hari, 7 hari, 14 hari, dan 28
hari setelah
tanggal
pencampuran.
Penyedia jasa
mengirim Gambar detil untuk seluruh
harus
perancah yang
akan digunakan, dan harus memperoleh persetujuan dari
Direksi Pekerjaan
sebelum setiap pekerjaan perancah dimulai.
Penyedia jasa harus memberitahu Direksi Pekerjaan secara tertulis paling
sedikit 24 jam sebelum tanggal rencana mulai melakukan pencampuran
atau pengecoran setiap jenis beton, seperti yang disyaratkan dalam Pasal
7.1.4.(1) di bawah.

Penyimpanan dan Perlindungan Bahan


Untuk penyimpanan semen, Penyedia jasa harus menyediakan tempat yang tahan
cuaca yang kedap udara dan mempunyai lantai kayu yang lebih tinggi dari tanah
di sekitarnya dan ditutup dengan lembar polyethylene (plastik). Sepanjang
waktu, tumpukan kantung semen harus ditutup dengan lembar plastik.

8)

Kondisi Tempat Kerja


Penyedia jasa harus menjaga temperatur semua bahan, terutama agregat kasar,
dengan temperatur pada tingkat yang serendah mungkin dan harus dijaga agar
selalu di bawah 30oC sepanjang waktu pengecoran. Sebagai tambahan,
Kontraktor tidak boleh melaku-kan pengecoran bilamana :
a)

Tingkat penguapan melampaui 1,0 kg / m2 / jam.

b)

Lengas nisbi dari udara kurang dari 40 %.

c)

Tidak diijinkan oleh Direksi Pekerjaan, selama turun hujan atau bila udara
penuh debu atau tercemar.

9)

Perbaikan Atas Pekerjaan Beton Yang Tidak Memenuhi Ketentuan


Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi
yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.1.(4), atau yang tidak memiliki
permukaan akhir yang memenuhi ketentuan, atau yang tidak memenuhi
sifat-sifat campuran yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.3.(3), harus
mengikuti petunjuk yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan dapat
meliputi :
i)

Perubahan proporsi campuran beton untuk sisa pekerjaan yang


belum dikerjakan;

ii)

Tambahan perawatan pada bagian struktur yang hasil pengujiannya


gagal;

iii)

Perkuatan atau pembongkaran menyeluruh dan penggantian bagian


pekerjaan yang dipandang tidak memenuhi ketentuan;

b)

Bilamana terjadi perbedaan pendapat dalam mutu pekerjaan beton atau


adanya keraguan dari data pengujian yang ada, Direksi Pekerjaan dapat
meminta Kontraktor melakukan pengujian tambahan yang diperlukan
untuk menjamin bahwa mutu pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat
dinilai dengan adil. Biaya pengujian tambahan tersebut haruslah menjadi
tanggung jawab Kontraktor.

c)

Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser haruslah sesuai
dengan ketentuan dari Pasal 2.2.1.(8).(b) dari Spesifikasi ini.

7.1.2

BAHAN
1)

2)

Semen
a)

Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton haruslah jenis semen


portland yang memenuhi AASHTO M85 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan
IV. Terkecuali diperkenankan oleh Direksi Pekerjaan, bahan tambahan
(aditif) yang dapat menghasilkan gelembung udara dalam campuran tidak
boleh digunakan.

b)

Terkecuali diperkenankan oleh Direksi Pekerjaan, hanya satu merk semen


portland yang dapat digunakan di dalam proyek.

Air
Air yang digunakan dalam campuran, dalam perawatan, atau pemakaian lainnya
harus bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam,
basa, gula atau organik. Air akan diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi
ketentuan dalam AASHTO T26. Air yang diketahui dapat diminum dapat
digunakan tanpa pengujian. Bilamana timbul keragu-raguan atas mutu air yang
diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak dapat dilakukan, maka harus
diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar semen + pasir dengan
memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air suling atau minum. Air
yang diusulkan dapat digunakan bilamana kuat tekan mortar dengan air tersebut
pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan mortar dengan air suling
atau minum pada periode perawatan yang sama.

3)

Ketentuan Gradasi Agregat


a)

Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang


diberikan dalam Tabel 7.1.2.(1), tetapi bahan yang tidak memenuhi
ketentuan gradasi tersebut tidak perlu ditolak bila Kontraktor dapat
menunjukkan dengan pengujian bahwa beton yang dihasilkan memenuhi
sifat-sifat campuran yang yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.3.(3).
Ukuran Ayakan
ASTM
(mm)
2
1 1/2
1
3/4
1/2
3/8
No.4
No.8
No.16
No.50
No.100

Persen Berat Yang Lolos Untuk Agregat


Halus
Kasar

50,8
100
38,1
95 -100
100
25,4
95 - 100
100
19
35 - 70
90 - 100
100
12,7
25 - 60
90 - 100
9,5
100
10 - 30
20 - 55 40 - 70
4,75 95 - 100 0 - 5
0 -10
0 - 10
0 - 15
2,36
0-5
0-5
0-5
1,18
45 - 80
0,300 10 - 30
0,150
2 - 10
Tabel 7.1.2 (1) Ketentuan Gradasi Agregat

b)

4)

Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran partikel terbesar


tidak lebih dari dari jarak minimum antara baja tulanga n atau antara
baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton harus
dicor

Sifat-sifat Agregat
a)

Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari partikel yang bersih,
keras, kuat yang diperoleh dengan pemecahan batu (rock) atau berangkal
(boulder), atau dari pengayakan dan pencucian (jika perlu) dari kerikil
dan pasir sungai.

b)

Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh
pengujian SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya
yang diberikan dalam Tabel 7.1.2.(2) bila contoh-contoh diambil dan
diuji sesuai dengan prosedur SNI/ AASHTO yang berhubungan.
Tabel 7.1.2.(2) Sifat-sifat Agregat

Sifat-sifat

Metode Pengujian

Keausan Agregat dengan Mesin


Los
SNI 03-2417-1991
Angeles pada 500
putaran
Kekekal
terhada
an
Bentuk Batu p
SNI 03-3407-1994
Larutan Natrium Sulfat atau
Magnesium Sulfat setelah 5
siklus
Gumpala Lempu
n
ng
dan Partikel SK SNI M-01-1994-03
yang Mudah
Pecah
Bahan yang Lolos Ayakan
SK SNI M-02-1994No.200
03

5)

Batas Maksimum
yang
diijinkan untuk
Agregat
Halus
Kasar
-

40 %

10 %

12 %

0,5 %

0,25 %

3%

1%

Batu Untuk Beton Siklop


Batu untuk beton siklop harus terdiri dari batu yang disetujui mutunya, keras
dan awet dan bebas dari retak dan rongga serta tidak rusak oleh pengaruh cuaca..
Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak dan bahan-bahan lain
yang mempengaruhi ikatanya dengan beton.

7.1.3

PENCAMPURAN DAN PENAKARAN


1)

Rancangan Campuran
Proporsi bahan dan berat penakaran harus ditentukan dengan menggunakan
metode yang disyaratkan dalam PBI dan sesuai dengan batas-batas yang
diberikan dalam Tabel 7.1.3.(1).

2)

Campuran Percobaan
Kontraktor harus menentukan proporsi campuran serta bahan yang diusulkan
dengan membuat dan menguji campuran percobaan, dengan disaksikan oleh
Direksi Pekerjaan, yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama
seperti yang akan digunakan untuk pekerjaan.
Campuran percobaan tersebut dapat diterima asalkan memenuhi ketentuan
sifat-sifat campuran yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.3.(3) di bawah.
Tabel 7.1.3.(1) Batasan Proporsi Takaran Campuran

3)

Mutu Ukuran Agre-

Rasio Air / Semen


Maks.

Beton gat Maks.(mm)


K600
K500
37
K400
25
19
37
K350
25
19
37
K300
25
19
37
K250
25
19
K175
K125
-

(terhadap berat)
0,375
0,45
0,45
0.45
0,45
0,45
0,45
0,45
0,45
0,45
0,50
0,50
0,50
0,57
0,60

Kadar Semen Min.


(kg/m3 dari
campuran)
450
356
370
400
315
335
365
300
320
350
290
310
340
300
250

Ketentuan Sifat-sifat Campuran


a) Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan
dan "slump" yang dibutuhkan seperti yang disyaratkan dalam Tabel
7.1.3.(2), atau
yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan, bila pengambilan contoh, perawatan
dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-1990 (AASHTO T22), Pd M-16199603 (AASHTO T23), SNI 03-2493-1991 (AASHTO T126), SNI 03-24581991 (AASHTO T141).

Tabel 7.1.3 (2) Ketentuan Sifat Campuran

Mutu
Beton
K600
K500
K400
K350
K300
K250
K225
K175
K125

Kuat Tekan Karakteritik Min.


(kg/cm2)
SLUMP (mm)
Benda Uji Kubus Benda Uji Silinder Digetarkan
Tidak
15 x 15 x 15 cm3 15cm x 30 cm
Digetarkan
7 hari 28 hari
7 hari 28 hari
390
600
325
500
20 - 50
325
500
260
400
20 - 50
285
400
240
330
20 - 50
250
350
210
290
20 - 50
50 - 100
215
300
180
250
20 - 50
50 - 100
180
250
150
210
20 - 50
50 - 100
150
225
125
190
20 - 50
50 - 100
115
175
95
145
30 - 60
50 - 100
80
125
70
105
20 - 50
50 - 100

Catatan : bila menggunakan concrete pump slump bisa berkisar antara 75 + 25


mm
b)

Beton yang tidak memenuhi ketentuan "slump" umumnya tidak boleh


diguna-kan pada pekerjaan, terkecuali bila Direksi Pekerjaan dalam
beberapa hal menyetujui penggunaannya dalam kuantitas kecil untuk
bagian tertentu dengan pembebanan ringan. Kelecakan (workability) dan
tekstur campuran harus sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada
pekerjaan tanpa membentuk rongga atau celah atau gelembung udara atau
gelembung air, dan sedemikian rupa sehingga pada saat pembongkaran
acuan diperoleh permukaan yang rata, halus dan padat.

c)

Bilamana pengujian beton berumur 7 hari menghasilkan kuat beton di


bawah kekuatan yang disyaratkan dalam Tabel 7.1.3.(2), maka Kontraktor
tidak diperkenankan mengecor beton lebih lanjut sampai penyebab dari
hasil yang rendah tersebut dapat diketahui dengan pasti dan sampai telah
diambil tindakan-tindakan yang menjamin bahwa produksi beton
memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi. Kuat tekan
beton berumur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan
harus dipandang tidak sebagai pekerjaan yang tidak dapat diterima dan
pekerjaan tersebut harus diperbaiki sebagaimana disyaratkan dalam Pasal
7.1.1.(10) di atas. Kekuatan beton dianggap lebih kecil dari yang
disyaratkan bilamana hasil pengujian serangkaian benda uji dari suatu
bagian pekerjaan yang dipertanyakan lebih kecil dari kuat tekan
karakteristik yang diperoleh dari rumus yang diuraikan dalam Pasal
7.1.6.(2).(c).

d)

Direksi Pekerjaan dapat pula menghentikan pekerjaan dan/atau


memerintahkan Kontraktor mengambil tindakan perbaikan untuk
meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil pengujian kuat tekan beton
berumur 3 hari. Dalam keadaan demikian, Kontraktor harus segera
menghentikan pengecoran beton yang dipertanyakan tetapi dapat memilih
menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan
beton berumur 7 hari diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan,
pada waktu tersebut Direksi Pekerjaan akan menelaah kedua hasil
pengujian yang berumur 3 hari dan 7 hari, dan dapat segera
memerintahkan tindakan perbaikan yang dipandang perlu.

e)

4)

Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat


mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton tidak boleh
berdasarkan pada hasil pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari saja,
terkecuali bila Kontraktor dan Direksi Pekerjaan keduanya sepakat
dengan perbaikan tersebut.

Penyesuaian Campuran
a)

Penyesuaian Sifat Kelecakan (Workability)


Bilamana sulit memperoleh sifat kelecakan beton dengan proporsi yang
semula dirancang oleh Direksi Pekerjaan, maka Kontraktor akan
melakukan perubahan pada berat agregat sebagaimana diperlukan, asalkan
dalam hal apapun kadar semen yang semula dirancang tidak berubah, juga
rasio air/semen yang telah ditentukan berdasarkan pengujian kuat tekan
yang menghasilkan kuat tekan yang memenuhi, tidak dinaikkan.
Pengadukan kembali beton yang telah dicampur dengan cara menambah
air atau oleh cara lain tidak akan diperkenankan. Bahan tambah (aditif)
untuk mening-katkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila secara khusus
telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

b)

Penyesuaian Kekuatan
Bilamana beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan atau
disetujui, kadar semen harus ditingkatkan sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.

c)

Penyesuaian Untuk Bahan-bahan Baru


Perubahan sumber bahan atau karakteristik bahan tidak boleh dilakukan
tanpa pemberitahuan tertulis kepada Direksi Pekerjaan dan bahan baru
tidak boleh digunakan sampai Direksi Pekerjaan menerima bahan tersebut
secara tertulis dan menetapkan proporsi baru berdasarkan atas hasil
pengujian campuran percobaan baru yang dilakukan oleh Kontraktor.

5)

6)

Penakaran Agregat
a)

Seluruh komponen beton harus ditakar menurut beratnya. Bila digunakan


semen kemasan dalam zak, kuantitas penakaran harus sedemikian
sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan satu
satuan atau kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus diukur
beratnya secara terpisah. Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi
kapasitas alat pencampur.

b)

Sebelum penakaran, agregat harus dibasahi sampai jenuh dan


dipertahankan dalam kondisi lembab, pada kadar yang mendekati keadaan
jenuh-kering permukaan, dengan menyemprot tumpukan agregat dengan
air secara berkala. Pada saat penakaran, agregat harus telah dibasahi
paling sedikit 12 jam sebe-lumnya untuk menjamin pengaliran yang
memadai dari tumpukan agregat.

Pencampuran
a)

Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari
jenis dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin distribusi yang
merata dari seluruh bahan.

b)

Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat
ukur yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang
digunakan dalam setiap penakaran.

c)

Pertama-tama alat pencampur harus diisi dengan agregat dan semen yang
telah ditakar, dan selanjutnya alat pencampur dijalankan sebelum air
ditambahkan.

d)

Waktu pencampuran harus diukur pada saat air mulai dimasukkan ke


dalam campuran bahan kering. Seluruh air yang diperlukan harus
dimasukkan sebelum waktu pencampuran telah berlangsung seperempat
bagian. Waktu pencampuran untuk mesin berkapasitas m 3 atau kurang
haruslah 1,5 menit; untuk mesin yang lebih besar waktu harus
ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5 m3.

e)

Bila tidak memungkinkan penggunaan mesin pencampur, Direksi


Pekerjaan dapat menyetujui pencampuran beton dengan cara manual,
sedekat mungkin dengan tempat pengecoran. Penggunaan pencampuran
beton dengan cara manual harus dibatasi pada beton non-struktural.

7.1.4

PELAKSANAAN PENGECORAN
1)

Penyiapan Tempat Kerja


a)

Kontraktor harus membongkar struktur lama yang akan diganti dengan


beton yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan
pelaksanaan pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran tersebut harus
dilaksanakan sesuai dengan syarat yang disyaratkan dalam Seksi 7.15 dari
Spesifikasi ini.

b)

Kontraktor harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau formasi


untuk pekerjaan beton sesuai dengan garis yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan
sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 3.1 dan 3.2 dari Spesifikasi ini, dan
harus membersihkan dan menggaru tempat di sekeliling pekerjaan beton
yang cukup luas sehingga dapat menjamin dicapainya seluruh sudut
pekerjaan. Jalan kerja yang stabil juga harus disediakan jika diperlukan
untuk menjamin bahwa seluruh sudut pekerjaan dapat diperiksa dengan
mudah dan aman.

c)

Seluruh telapak pondasi, pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus
dijaga agar senatiasa kering dan beton tidak boleh dicor di atas tanah yang
berlumpur atau bersampah atau di dalam air. Atas persetujuan Direksi
beton dapat dicor di dalam air dengan cara dan peralatan khusus untuk
menutup kebocoran seperti pada dasar sumuran atau cofferdam.

d)

Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda


lain yang harus dimasukkan ke dalam beton (seperti pipa atau selongsong)
harus sudah dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat
pengecoran.

e)

Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, bahan landasan


untuk pekerjaan beton harus dihampar sesuai dengan ketentuan dari Seksi
2.4 dari Spesifikasi ini.

f)

Direksi Pekerjaan akan memeriksa seluruh galian yang disiapkan untuk


pondasi sebelum menyetujui pemasangan acuan atau baja tulangan atau
pengecoran beton dan dapat meminta Kontraktor untuk melaksanakan
pengujian penetrasi ke dalaman tanah keras, pengujian kepadatan atau
penyelidikan lainnya untuk memastikan cukup tidaknya daya dukung dari
tanah di bawah pondasi.
Bilamana dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi
ketentuan, Kontraktor dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau
ke dalaman dari pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di
tempat yang lunak, memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan
stabilisasi lainnya sebagai-mana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

2)

3)

Acuan
a)

Acuan dari tanah, bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, harus


dibentuk dari galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas
secara manual sesuai dimensi yang diperlukan. Seluruh kotoran tanah
yang lepas harus dibuang sebelum pengecoran beton.

b)

Acuan yang dibuat dapat dari kayu atau baja dengan sambungan dari
adukan yang kedap dan kaku untuk mempertahankan posisi yang
diperlukan selama pengecoran, pemadatan dan perawatan.

c)

Kayu yang tidak diserut permukaannya dapat digunakan untuk permukaan


akhir struktur yang tidak terekspos, tetapi kayu yang diserut dengan tebal
yang merata harus digunakan untuk permukaan beton yang terekspos.
Seluruh sudut-sudut tajam Acuan harus dibulatkan.

d)

Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak


beton.

Pengecoran
a)

Kontraktor harus memberitahukan Direksi Pekerjaan secara tertulis paling


sedikit 24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan
pengecoran beton bilamana pengecoran beton telah ditunda lebih dari 24
jam. Pemberitahuan harus meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton
dan tanggal serta waktu pencampuran beton.
Direksi Pekerjaan akan memberi tanda terima atas pemberitahuan tersebut
dan akan memeriksa acuan, dan tulangan dan dapat mengeluarkan
persetujuan tertulis maupun tidak untuk memulai pelaksanaan pekerjaan
seperti yang direncanakan. Kontraktor tidak boleh melaksanakan
pengecoran beton tanpa persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan.

b)

Tidak bertentangan dengan diterbitkannya suatu persetujuan untuk


memulai pengecoran, pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan
bilamana Direksi Pekerjaan atau wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan
operasi pencampuran dan pengecoran secara keseluruhan.

c)

Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan


air atau diolesi minyak di sisi dalamnya dengan minyak yang tidak
meninggalkan bekas.

d)

Tidak ada campuran beton yang boleh digunakan bilamana beton tidak
dicor sampai posisi akhir dalam cetakan dalam waktu 1 jam setelah
pencampuran, atau dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana yang
dapat diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan berdasarkan pengamatan
karakteristik waktu pengerasan (setting time) semen yang digunakan,
kecuali diberikan bahan tambah (aditif) untuk memperlambat proses
pengerasan (retarder) yang disetujui oleh Direksi.

e)

Pengecoran beton harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai dengan


sambungan konstruksi (construction joint) yang telah disetujui
sebelumnya atau sampai pekerjaan selesai.

f)

Beton harus dicor sedemikian rupa hingga terhindar dari segregasi


partikel kasar dan halus dari campuran. Beton harus dicor dalam cetakan
sedekat mungkin dengan yang dapat dicapai pada posisi akhir beton untuk
mencegah pengaliran yang tidak boleh melampaui satu meter dari tempat
awal pengecoran.
Bilamana beton dicor ke dalam acuan struktur yang memiliki bentuk yang
rumit dan penulangan yang rapat, maka beton harus dicor dalam lapisanlapisan horisontal dengan tebal tidak melampuai 15 cm. Untuk dinding
beton, tinggi pengecoran dapat 30 cm menerus sepanjang seluruh keliling
struktur.

h)

Beton tidak boleh jatuh bebas ke dalam cetakan dengan ketinggian lebih
dari 150 cm. Beton tidak boleh dicor langsung dalam air.
Bilamana beton dicor di dalam air dan pemompaan tidak dapat dilakukan
dalam waktu 48 jam setelah pengecoran, maka beton harus dicor dengan
metode Tremi atau metode drop-bottom-bucket, dimana bentuk dan jenis
yang khusus digunakan untuk tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu
oleh Direksi Pekerjaan.
Tremi harus kedap air dan mempunyai ukuran yang cukup sehingga
memung-kinkan pengaliran beton. Tremi harus selalu diisi penuh selama
pengecoran. Bilamana aliran beton terhambat maka Tremi harus ditarik
sedikit dan diisi penuh terlebih dahulu sebelum pengecoran dilanjutkan.
Baik Tremi atau Drop-Bottom-Bucket harus mengalirkan campuran beton
di bawah permukaan beton yang telah dicor sebelumnya

4)

i)

Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa hingga


campuran beton yang telah dicor masih plastis sehingga dapat menyatu
dengan campuran beton yang baru.

j)

Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan beton yang akan
dicor, harus terlebih dahulu dikasarkan, dibersihkan dari bahan-bahan
yang lepas dan rapuh dan telah disiram dengan air hingga jenuh. Sesaat
sebelum pengecoran beton baru ini, bidang-bidang kontak beton lama
harus disapu dengan adukan semen dengan campuran yang sesuai dengan
betonnya

k)

Air tidak boleh dialirkan di atas atau dinaikkan ke permukaan pekerjaan


beton dalam waktu 24 jam setelah pengecoran.

Sambungan Konstruksi (Construction Joint)


a)

Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap


jenis struktur yang diusulkan dan Direksi Pekerjaan harus menyetujui
lokasi
sambungan konstruksi pada jadwal tersebut, atau sambungan konstruksi
tersebut harus diletakkan seperti yang ditunjukkan pada Gambar.
Sambungan konstruksi tidak boleh ditempatkan pada pertemuan elemenelemen struktur terkecuali disyaratkan demikian.

5)

b)

Sambungan konstruksi pada tembok sayap harus dihindari. Semua


sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan
pada umumnya harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum.

c)

Bilamana sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus


melewati sambungan sedemikian rupa sehingga membuat struktur tetap
monolit.

d)

Lidah alur harus disediakan pada sambungan konstruksi dengan ke


dalaman paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat dan antara telapak
pondasi dan dinding. Untuk pelat yang terletak di atas permukaan,
sambungan konstruksi harus diletakkan sedemikian sehingga pelat-pelat
mempunyai luas tidak melampaui 40 m2 dengan dimensi yang lebih besar
tidak melampaui 1,2 kali dimensi yang lebih kecil.

e)

Kontraktor harus menyediakan pekerja dan bahan tambahan sebagaimana


yang diperlukan untuk membuat sambungan konstruksi tambahan
bilamana pekerjaan terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau
terhentinya pemasokan beton atau penghentian pekerjaan oleh Direksi
Pekerjaan.

f)

Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, bahan tambah (aditif) dapat


digunakan untuk pelekatan pada sambungan konstruksi, cara
pengerjaannya harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.

g)

Pada air asin atau mengandung garam, sambungan konstruksi tidak


diperkenankan pada tempat-tempat 75 cm di bawah muka air terendah
atau 75 cm di atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam
Gambar.

Konsolidasi
a)

Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari
luar yang telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui
oleh Direksi Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara
manual dengan alat yang cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat
dan memadai. Penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan
campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam cetakan.

b)

Harus dilakukan tindakan hati-hati pada waktu pemadatan untuk


menentukan bahwa semua sudut dan di antara dan sekitar besi tulangan
benar-benar diisi tanpa pemindahan kerangka penulangan, dan setiap
rongga udara dan gelembung udara terisi.

c)

Penggetar harus dibatasi waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan


pema-datan yang diperlukan tanpa menyebabkan terjadinya segregasi
pada agregat.

d)

Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurangkurang-nya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan
boleh diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang
merata.

e)

Alat penggetar mekanis yang digerakkan dari dalam harus dari jenis
pulsating (berdenyut) dan harus mampu menghasilkan sekurangkurangnya 5000 putaran per menit apabila digunakan pada beton yang
mempunyai slump 2,5 cm atau kurang, dengan radius daerah penggetaran
tidak kurang dari 45 cm.

f)

Setiap alat penggetar mekanis dari dalam harus dimasukkan ke dalam


beton basah secara vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi
sampai ke dasar beton yang baru dicor, dan menghasilkan kepadatan pada
seluruh keda-laman pada bagian tersebut. Alat penggetar kemudian harus
ditarik pelan-pelan dan dimasukkan kembali pada posisi lain tidak lebih
dari 45 cm jaraknya. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik
lebih dari 30 detik, juga tidak boleh digunakan untuk memindah
campuran beton ke lokasi lain, serta tidak boleh menyentuh tulangan
beton.

g)

Jumlah minimum alat penggetar mekanis dari dalam diberikan dalam


Tabel 7.1.4.(5).
Tabel 7.1.4.(5) Jumlah Minimum Alat Penggetar Mekanis dari Dalam
Kecepatan Pengecoran Beton (m3 / jam)
4
8
12
16
20

6)

Jumlah Alat
2
3
4
5
6

Beton Siklop
Pengecoran beton siklop yang terdiri dari campuran beton kelas K175 dengan
batu-batu pecah ukuran besar. Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati, tidak
boleh dijatuhkan dari tempat yang tinggi atau ditempatkan secara berlebihan
yang dikhawatirkan akan merusak bentuk acuan atau pasangan-pasangan lain
yang berdekatan. Semua batu-batu pecah harus cukup dibasahi sebelum
ditempatkan. Volume total batu pecah tidak boleh melebihi sepertiga dari total
volume pekerjaan beton siklop.

Untuk dinding-dinding penahan tanah atau pilar yang lebih tebal dari 60 cm
dapat digunakan batu-batu pecah berukuran maksimum 25 cm, tiap batu harus
cukup dilindungi dengan adukan beton setebal 15 cm; batu pecah tidak boleh
lebih dekat dari 30 cm dalam jarak terhadap permukaan atau 15 cm dalam jarak
terhadap permukaan yang akan dilindungi dengan beton penutup (coping).
7.1.5

PENGERJAAN AKHIR
1)

Pembongkaran Acuan
a)

Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang
tipis dan struktur yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran

beton. Cetakan yang ditopang oleh perancah di bawah pelat, balok,


gelegar, atau struktur busur, tidak boleh dibongkar hingga pengujian
menunjukkan bahwa paling sedikit 85 % dari kekuatan rancangan beton
telah dicapai.
b)

2)

Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk


pekerjaan ornamen, sandaran (railing), dinding pemisah (parapet), dan
permukaan vertikal yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling
sedikit 9 jam setelah penge-coran dan tidak lebih dari 30 jam, tergantung
pada keadaan cuaca.

Permukaan (Pengerjaan Akhir Biasa)


a)

Terkecuali diperintahkan lain, permukaan beton harus dikerjakan segera


setelah pembongkaran acuan. Seluruh perangkat kawat atau logam yang
telah diguna-kan untuk memegang cetakan, dan cetakan yang melewati
badan beton, harus dibuang atau dipotong kembali paling sedikit 2,5 cm
di bawah permukaan beton. Tonjolan mortar dan ketidakrataan lainnya
yang disebabkan oleh sambungan cetakan harus dibersihkan.

b)

Direksi Pekerjaan harus memeriksa permukaan beton segera setelah


pembong-karan acuan dan dapat memerintahkan penambalan atas
kekurangsempurnaan minor yang tidak akan mempengaruhi struktur atau
fungsi lain dari pekerjaan beton. Penambalan harus meliputi pengisian
lubang-lubang kecil dan lekukan dengan adukan semen.

c)

Bilaman Direksi Pekerjaan menyetujui pengisian lubang besar akibat


keropos,
pekerjaan harus dipahat sampai ke bagian yang utuh (sound), membentuk
permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan beton. Lubang harus
dibasahi dengan air dan adukan semen acian (semen dan air, tanpa pasir)
harus dioleskan pada permukaan lubang. Lubang harus selanjutnya diisi
dan ditumbuk dengan adukan yang kental yang terdiri dari satu bagian
semen dan dua bagian pasir, yang harus dibuat menyusut sebelumnya
dengan mencampurnya kira-kira 30 menit sebelum dipakai.

3)

Permukaan (Pekerjaan Akhir Khusus)


Permukaan yang terekspos harus diselesaikan dengan pekerjaan akhir berikut
ini, atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan :
a)

Bagian atas pelat, kerb, permukaan trotoar, dan permukaan horisontal


lainnya sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus digaru
dengan mistar bersudut untuk memberikan bentuk serta ketinggian yang
diperlukan segera setelah pengecoran beton dan harus diselesaikan secara
manual sampai halus dan rata dengan menggerakkan perata kayu secara
memanjang dan melintang, atau oleh cara lain yang cocok, sebelum beton
mulai mengeras.

b)

Perataan permukaan horisontal tidak boleh menjadi licin, seperti untuk


trotoar, harus sedikit kasar tetapi merata dengan penyapuan, atau cara lain
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sebelum beton
mulai mengeras.

c)

4)

Permukaan bukan horisontal yang nampak, yang telah ditambal atau yang
masih belum rata harus digosok dengan batu gurinda yang agak kasar
(medium), dengan menempatkan sedikit adukan semen pada
permukaannya. Adukan harus terdiri dari semen dan pasir halus yang
dicampur sesuai dengan proporsi yang digunakan untuk pengerjaan akhir
beton. Penggosokan harus dilaksanakan sampai seluruh tanda bekas
acuan, ketidakrataan, tonjolan hilang, dan seluruh rongga terisi, serta
diperoleh permukaan yang rata. Pasta yang dihasilkan dari penggosokan
ini harus dibiarkan tertinggal di tempat.

Perawatan Dengan Pembasahan


a)

Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini,


tempe-ratur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus
dijaga agar kehilangan kadar air yang terjadi seminimal mungkin dan
diperoleh temperatur yang relatif tetap dalam waktu yang ditentukan
untuk menjamin hidrasi yang sebagaimana mestinya pada semen dan
pengerasan beton.

b)

Beton harus dirawat, sesegera mungkin setelah beton mulai mengeras,


dengan menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air.
Lembaran bahan
penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 3
hari. Semua bahan perawat atau lembaran bahan penyerap air harus
dibebani atau diikat ke bawah untuk mencegah permukaan yang terekspos
dari aliran udara.
Bilamana digunakan acuan kayu, acuan tersebut harus dipertahankan
basah pada setiap saat sampai dibongkar, untuk mencegah terbukanya
sambungan-sam-bungan dan pengeringan beton. Lalu lintas tidak boleh
diperkenankan melewati permukaan beton dalam 7 hari setelah beton
dicor.

5)

c)

Lantai beton sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaannya mulai
mengeras dengan cara ditutup oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm
paling sedikit selama 21 hari.

d)

Beton yang dibuat dengan semen yang mempunyai sifat kekuatan awal
yang tinggi atau beton yang dibuat dengan semen biasa yang ditambah
bahan tambah (aditif), harus dibasahi sampai kekuatanya mencapai 70 %
dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.

Perawatan dengan Uap


a)

Beton dirawat dengan uap untuk maksud mendapatkan kekuatan yang


tinggi pada permulaannya. Bahan tambah (aditif) tidak diperkenankan
untuk dipakai dalam hal ini kecuali atas persetujuan Direksi Pekerjaan.

b)

Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu


dimana beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton
berumur 28 hari. Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti

ketentuan di bawah ini:


i)
Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh
melebihi tekanan di luar.
ii)

Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh


melebihi 380C selama sampai 2 jam sesudah pengecoran selesai,
dan kemudian temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga
mencapai 65 0C dengan kenaikan temperatur maksimum 14 0C / jam
secara ber-sama-sama.

iii)

Beda temperatur yang diukur di antara dua tempat di dalam ruang


uap tidak boleh melampaui 5,5 0C.

iv)

Penurunan temperatur selama pendinginan tidak boleh lebih dari


11 0C per jam.

v)

Temperatur beton pada saat dikeluarkan dari penguapan tidak


boleh 11 0C lebih tinggi dari temperatur udara di luar.

vi)

Setiap saat selama perawatan dengan uap, di dalam ruangan harus


selalu jenuh dengan uap air.

vii) Semua bagian struktural yang mendapat perawatan dengan uap


harus dibasahi selama 4 hari sesudah selesai perawatan uap
tersebut.
Penyedia jasa harus membuktikan bahwa peralatannya bekerja
c) dengan baik
dan temperatur di dalam ruangan perawatan dapat diatur sesuai dengan
ketentuan
dan tidak tergantung dari cuaca
luar.
Pipa uap harus ditempatkan sedemikian atau balok harus dilindungi
d) secukupnya
agar beton tidak terkena langsung semburan uap, yang akan
menyebabkan perbedaan
temperatur pada bagian-bagian
beton.
7.1.6

PENGENDALIAN MUTU DI LAPANGAN


1)

Pengujian Untuk Kelecakan (Workability)


Satu pengujian "slump", atau lebih sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan, harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan, dan
pengujian harus dianggap belum dikerjakan terkecuali disaksikan oleh Direksi
Pekerjaan atau wakilnya.

2)

Pengujian Kuat Tekan


a. Penyedia jasa harus melaksanakan tidak kurang dari satu pengujian kuat
tekan untuk setiap 60 meter kubik beton yang dicor dan dalam segala hal
tidak kurang dari satu pengujian untuk setiap mutu beton dan untuk
komponen struktur yang dicor terpisah pada tiap hari pengujian harus
minimum harus mencakup empat benda uji. Yang pertama harus diuji
pembebanan kuat tekan sesudah 3 hari, yang kedua sesudah 7 hari, dan yang
ketiga sesudah 14 hari dan yang keempat sesudah 28 hari.

b. Bilamana kuantitas total suatu mutu beton dalam Kontrak melebihi 40 meter
kubik dan frekuensi pengujian yang ditetapkan pada butir (a) di atas hanya
menyediakan kurang dari lima pengujian untuk suatu mutu beton tertentu,
maka pengujian harus dilaksanakan dengan mengambil contoh paling sedikit
lima buah dari takaran yang dipilih secara acak (random).
c. Kuat Tekan Karakteristik Beton ( bk) diperoleh dengan rumus berikut ini :

bk = bm - K.S
n
i
i=l

bm =

adalah kuat tekan rata-rata


n
n
(
i
i=l

)2
bm

adalah standar deviasi


n1

n
K

= hasil pengujian masing-masing benda uji


= jumlah benda uji
1,645 untuk 20 sampel rancangan campuran dan
= untuk persetujuan pekerjaan.

d)

Pada pengujian kuat tekan beton tidak boleh lebih dari 1 (satu) harga
diantara 20 harga (5%) hasil pengujian, terjadi kurang dari bk .

e)

Tidak boleh satupun harga pengujian kuat tekan beton rata-rata dari 4
sampel
kubus berturut-turut kurang dari bm,4 (bk + 0.8225 S)

f)

Setelah diperoleh 20 hasil pengujian kuat tekan ( misalnya 4 sampel


kelompok pertama hingga 4 sampel kelompok kelima) dan dihitung harga
rata-rata bm dan standar deviasi S maka harus dipenuhi :
bk (bm + 1.645 S)

g)

Dalam hal pengedalian di lapangan pengujian kuat tekan dapat dibagi


menjadi beberapa kelompok kecil (misal 4 sampel dari 5 kelompok)
dengan menggunakan grafik kontrol (control chart) yang terdiri dari garis
terendah

h)

Dalam hal pengedalian di lapangan pengujian kuat tekan dapat dibagi


menjadi beberapa kelompok kecil (misal 4 sampel dari 5 kelompok)
dengan menggunakan grafik kontrol (control chart) yang terdiri dari garis
terendah.

hingga garis tertinggi berturut-turut adalah garis batas spesifikasi, batas


kontrol dan garis tengah.
Batas Spesifikasi adalah garis yang menunjukkan kuat tekan
karaketeristik yang dipersyaratkan. Batas Kontrol adalah kuat tekan
karakteristik dalam kelompok (bk,n = bk + K.S), sedangkan Garis
Tengah adalah garis yang menunjukkan kuat tekan rata-rata.
bm
Garis
Tengah
0

bm,

bk,
n

Batas
Kontrol
0

bk
1

,8225 S

,8225 S
Batas
Spesifikasi

5
Kelompok

h. Apabila hasil pengujian kuat tekan rata-rata kelompok


bm,n < bk,n (sekali).
maka Penyedia jasa harus melakukan upaya untuk memperbaiki
mutu beton bila hasil pengujian kuat tekan beton kelompok rata-rata
berikutnya bm,n bk,n (kedua kali) maka berarti kontraktor tidak
mampu mencapai bk yang dipersyaratkan, dan pekerjaan beton yang sudah
dilakukan harus ditolak.
3)

Pengujian Tambahan
Penyedia jasa harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk
menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pengujian tambahan tersebut
meliputi :
a)
b)
c)
d)

Pengujian yang tidak merusak menggunakan "sclerometer" atau perangkat


penguji lainnya;
Pengujian pembebanan struktur atau bagian struktur yang dipertanyakan;
Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton;
Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

7.1.7

PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1)

Cara Pengukuran
a)

Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang
digunakan dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada
Gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Tidak ada
pengurangan yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa
dengan garis tengah kurang dari 20 cm atau oleh benda lainnya yang
tertanam seperti "water-stop", baja tulangan, selongsong pipa (conduit)
atau lubang sulingan (weephole).

b)

Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan
untuk cetakan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian
akhir permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya
untuk penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut
telah dianggap termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton.

c)

Tidak ada pengukuran dan pembayaran tambahan yang akan dilakukan


untuk pelat (plate) beton pracetak untuk acuan yang terletak di bawah
lantai (slab)
beton Pekerjaan semacam ini dianggap telah termasuk di dalam harga
penawaran untuk beton sebagai acuan.

2)

d)

Kuantitas bahan untuk landasan, bahan drainase porous, baja tulangan dan
mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan struktur yang telah
selesai dan diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti disyaratkan
dalam pada Seksi lain dalam Spesifikasi ini.

e)

Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai
beton struktur atau beton tidak bertulang. Beton Struktur haruslah beton
yang disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai K250 atau
lebih tinggi dan Beton Tak Bertulang haruslah beton yang disyaratkan
atau disetujui untuk K175 atau K125. Bilamana beton dengan mutu
(kekuatan) yang lebih tinggi diperkenankan untuk digunakan di lokasi
untuk mutu (kekuatan) beton yang lebih rendah, maka volumenya harus
diukur sebagai beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih rendah.

Pengukuran Untuk Pekerjaan Beton Yang Diperbaiki


a)

Bilamana pekerjaan telah diperbaiki menurut Pasal 7.1.1.(10) di atas,


kuantitas yang akan diukur untuk pembayaran haruslah sejumlah yang
harus dibayar bila mana pekerjaan semula telah memenuhi ketentuan.

b)

Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tiap peningkatan


kadar semen atau setiap bahan tambah (aditif), juga tidak untuk tiap
pengujian atau pekerjaan tambahan atau bahan pelengkap lainnya yang
diperlukan untuk mencapai mutu yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.

3)

Dasar Pembayaran
a)

Kuantitas yang diterima dari berbagai mutu beton yang ditentukan


sebagaimana yang disyaratkan di atas, akan dibayar pada Harga Kontrak
untuk Mata Pem-bayaran dan menggunakan satuan pengukuran yang
ditunjukkan di bawah dan dalam Daftar Kuantitas.

b)

Harga dan pembayaran harus merupakan kompensasi penuh untuk


seluruh penyediaan dan pemasangan seluruh bahan yang tidak dibayar
dalam Mata Pembayaran lain, termasuk "water stop", lubang sulingan,
acuan, perancah untuk pencampuran, pengecoran, pekerjaan akhir dan
perawatan beton, dan untuk semua biaya lainnya yang perlu dan lazim
untuk penyelesaian pekerjaan yang sebagaimana mestinya, yang
diuraikan dalam Seksi ini.
Nomor Mata
Pembayaran

AHSP SDA B.07 (a)

Uraian
Pasangan Armor (Kubus Beton)
Uk. 70x70x70 Cm

Satuan
Pengukuran

Buah